Yes!! We’re Married (Chapter 3)

Yes!! We're Married

Tittle          : Yes!! We’re Married (Chapter 3)

Author       : @mskim22

Length       : Chaptered

Genre        : Marriage life, Romance, Comedy (a little)

Rating        : PG-15

Main cast :

–          Kim Jongin (EXO)

–          Kim Jinni (OC/You)

–         Kim Taehyung (BTS)

–         Son Aeyong (OC)

–         Son Sungdeuk (OC)

–         Yoon Jaejoon (OC)

–         Yoon Jooyoung (OC)

 

Disclaimer: cerita ini murni bikinanku sendiri, cast diambil dari beberapa tokoh yang udah di sesuaikan 😉 harap jangan copas, karena bikin cerita itu butuh banyak jeri payah untuk merangkainya. Hargailah orang lain kalau kau mau dihargai 😉

 

Edisi sebelumnya: Prolog, Chapter 1, Chapter 2

 

Selamat membaca!! 😉

 

 

~”~”~”~

 

Terima kasih. Hanya itu.

 

~”~”~”~

 

Hampir 2 jam kami terkurung dalam lorong panjang ini. Jongin dan yang lain masih menunggu polisi dan petugas pemadam kebakaran untuk membantu memecahkan tembok. Karena tak ada yang bisa kami lakukan, akhirnya kami menghabiskan waktu dengan berbagi cerita tentang satu sama lain. Taehyung punya darah seni yang kuat meskipun bukan keturunan asli keluarga Kim. Dia sudah hampir setahun menjadi seorang trainer di satu agensi. Grupnya beraliran hip hop dan grup itu juga yang menaungi Hoseok. Aku tak tahu harus berterima kasih atau tidak karena aku bisa mendapatkan banyak informasi tentang Hoseok darinya. Rasanya itu… membahagiakan.

“… Hoseok Hyung yang paling sensitif diantara kami. Tapi dia tetap seorang lelaki. Banyak hoobae yang mengidolakannya.” jelasnya diakhir cerita.

Kau pasti tak percaya betapa lebarnya senyumku sepanjang ia menceritakan soal Hoseok. Aku sedikit bersyukur Jongin tidak bisa mendengar percakapan kami, karena kalau sampai ia dengar, mungkin ia akan memukul dinding dibelakangku sampai hancur.

“Yaaa… apa kau tahu apa yang akan Jongin lakukan kalau sampai ia mendengar perbincangan kita?”

“Wae? Apa Hyung akan membawa Noona pulang?”

“Hahaha tentu saja. Tapi sebelum itu mungkin ia akan merobohkan tembok ini sebelum petugas pemadam kebakaran datang hahaha…”

“Yaa aku tidak tahu kalau Hyung orang yang seperti itu…” ujarnya setengah tak percaya. Tentu saja tidak akan ada orang yang percaya karena itu adalah sifat yang jauh berkebalikan dengan sifat Jongin selama ini.

“Orang-orang pasti berpikir aku melalui hidup dengan rumit karena suamiku adalah orang yang dingin. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dia adalah… lelaki yang baik…” jelasku sambil menunduk mengusap-usap perutku. Tentu saja tidak ada yang tahu bagaimana Jongin akan berubah menjadi seorang lelaki yang baik ketika menyayangi kami. Meskipun dia sibuk, kami selalu menjadi yang nomor satu dalam prioritasnya.

“Noona…”

“Eung?”

“Apa kau… tidak pernah menyesali kehidupanmu sekarang? Maksudku… siapapun tahu bagaimana perasaanmu pada Hoseok Hyung, tapi pada akhirnya kau harus hidup bersama Jongin Hyung. Aku hanya… merasa sedih melihat hubunganmu dan Hoseok Hyung. Kalian berdua sama-sama masih saling mencari…” untuk pertama kalinya Taehyung berbicara serius denganku. Membicarakan soal perasaan yang sampai saat ini masih menempatkanku pada posisi yang sulit.

“Apa yang akan kau lakukan saat Aeyong menyukaimu dan kau tahu Jooyoung juga menyukai Aeyong?” jawabku balik bertanya. Seketika matanya membulat mendengar pertanyaanku. “Kurasa keadaanku sama sepertimu…” sambungku sambil tersenyum hambar.

Kami sama-sama membuang wajah dan terdiam untuk beberapa saat. Meresapi keadaan kami yang sama-sama membingungkan.

“Aku adalah tipe lelaki yang akan memberikan segalanya untuk orang yang kucintai. Aku tahu aku menyakiti Jooyoung, tapi aku akan membayarnya dengan memperlakukan orang yang ia cintai dengan sebaik-baiknya…” ia menoleh lagi padaku bersamaan denganku yang juga kembali menatapnya. “Memberikan sebanyak yang aku bisa…” sambungnya dengan senyuman manis yang membuatku terenyuh. Lihatlah kakak beradik ini. Mereka sama-sama punya kepribadian yang baik soal cinta. Beruntunglah wanita yang mendapatkan mereka berdua.

“Aku juga sama sepertimu. Aku hanya seorang yatim piatu yang hidup tanpa kasih sayang. Ketika Tuhan mengirimkanku pada seorang lelaki yang sangat mencintaiku, aku juga akan menyerahkan seluruh yang kupunya untuk membalasnya, bukan begitu?” kami sama-sama tertawa.

Tidak pernah kusangka terjebak disini membawa banyak kebaikan untukku. Lelaki yang sangat ingin kukenali, akhirnya membuka diri dan berbagi banyak hal denganku. Kami sama-sama anak angkat, karena itu kami bisa mengerti perasaan satu sama lain.

Sreekkk

Eh… mwoya? Mendadak kami terdiam. Ada suara aneh yang datang dari salah satu dinding lorong.

“K-kau dengar suara itu?” tanyaku berbisik pada Taehyung.

“Eoh, sepertinya dari dinding sebelah sana. Biar kulihat…”

Sreeek sreeeeeeeek

“Ah andwae! Jangan tinggalkan aku!” keluhku setengah gemetaran. Suaranya terlalu dekat dengan tempat kami duduk. Aku mencengkram pergelangan tangan Taehyung kuat-kuat. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki sekarang.

Taehyung mengangkat ponselnya. Ia mengarahkan senternya ke bagian dinding yang mengeluarkan suara-suara aneh itu dengan perlahan. Aku ingin melarangnya tapi kami tidak akan tahu apa itu kalau kami tidak melihatnya.

BAAAA!!

“Ahhh…” kukira suara apa itu. Ternyata suara salah satu Ahjussi yang menggores-goreskan sesuatu ke papan tulis.

Eh… apa? Bagaimana aku bisa melihatnya?

“Papan tulisnya transparan…” ucap Taehyung menjawab pertanyaanku. Ia beranjak menggiringku menghampiri kotak seukuran dengan papan tulis itu. Setelah kami menyentuhnya ternyata itu semacam kaca.

“Mwoya… apa ini semacam ruang pengintaian? Untuk apa ada papan tulis transparan seperti ini?” tebakku dengan alis berkerut.

Kuakui sekarang aku jadi penasaran dengan apa yang ada di ujung lorong sana. Ujung lorong yang sangat gelap dan tak tahu dimana ujungnya. Tidak ada juga yang tahu apa kami benar-benar hanya berdua di lorong gelap ini. Baiklah… memikirkan kemungkinan itu membuat bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Bagaimana kalau tiba-tiba ada makhluk yang keluar dari kegelapan sana. Ah andwae! Andwaeee!!

“Hyung? Hyung?” hampir aku terlonjak kalau dibelakangku tidak ada dinding. Taehyung tiba-tiba berteriak di depan speaker ponselnya. Ia terlihat kaget dan aku semakin paranoid. Apa dia baru saja melihat sesuatu? “Hyung coba pecahkan papan tulis yang sedang ditulisi Ahjussi diruangan ini. Ahjussi berjaket putih… palli!” desak Taehyung semakin membuatku mulas.

Apa kita harus berlari sebentar lagi? Sial! Kakiku sobek dan aku tidak diperbolehkan berlari dalam keadaan hamil begini. Apa ia akan meninggalkanku dan mati disini?

“Aisssh!” keluhnya mengetuk-ngetuk layar ponselnya brutal.

“T-taehyung-ah…” panggilku masih menatap ke arah ujung lorong sana. Masih berusaha mencari apa yang membuat Taehyung tiba-tiba panik. “A-apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba jadi panik?” tanyaku dengan tenggorokan tercekat. Aku tidak bisa bernafas.

“Baterai ponselku hampir habis. Sekarang kita tidak bisa menghubungi siapapun karena mode ponselku tidak sanggup menyambungkan ke jaringan dengan sisa baterai yang sedikit…”

Mwo? Apa itu artinya kita akan kehilangan sumber pencahayaan? Andwae!! Aku tidak akan bisa memastikan apa-apa dari sudut lorong. Eottokhaji?

Prakkk-prakkkk

“Apa itu?”

 

~”~”~”~

 

“… Hyung coba pecahkan papan tulis yang sedang ditulisi Ahjussi diruangan ini. Ahjussi berjaket putih… pal… pip” sambungan terputus tiba-tiba. Jongin mendadak panik mendengar suara adiknya yang terdengar terdesak itu.

“Sukjin Hyung dimana? Sukjin Hyung! Ada jalan menuju ke sana…” teriak Jongin berlarian di sepanjang koridor mencari ruangan yang baru saja dimaksud adiknya. Satu-satunya Ahjussi berjaket putih hanya Sukjin.

“Jinjja?” seru Jaejoon menyusul langkah Jongin menuju satu ruangan yang tengah dipakai meeting untuk memecahkan rangkaian dinding bangunan tua ini.

“… kalau begitu kita mulai dari titik ini…”

“Hyung hah hah hah…” potong Jongin tepat ketika langkahnya sampai di ruangan yang ditujunya. Matanya tak berhenti di satu titik. Ia justru berkeliling mencari benda yang bisa ia gunakan untuk memecahkan papan tulis yang baru saja selesai ditulisi bermacam-macam denah.

“Kau mau apa? Jongin!” para Ahjussi berusaha menahan tubuh Jongin yang sudah gelap mata ingin menghancurkan papan tulis itu.

Tapi Jongin tak peduli, dalam pikirannya hanya ada suara adiknya yang meminta tolong padanya dengan suara panik. Bayangan-bayangan buruk menghantui pikirannya. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan Jinni sekarang. Tapi satu yang ia rasakan. Sebuah perasaan yang meledak-ledak membuatnya geram. Rasa bersalah.

“ANDWAEEE!” jerit seorang gadis kecil tiba-tiba menghentikan gerakan semua orang. Jongin melempar tatapannya pada Minki. Gadis kecil yang sedari tadi duduk di kursi sambil dipegangi Ayahnya itu tiba-tiba mengamuk dengan mata merah.

Melihat itu justru Jongin semakin merasa tertantang. Ia yakin papan tulis itu satu-satunya jalan menuju istri dan adiknya. Ia melemparkan bangku di ruangan itu lebih kuat.

PRAAAAKK PRAAAAKK PRAAAANGG

Seketika lapisan yang berwujud papan tulis itu retak. Semua orang tampak terkejut melihat papan yang mereka pikir terbuat dari kayu itu bisa retak seperti kaca setelah dilempar bangku.

“ANDWAEEEEEE!” Minki semakin mengamuk. Ia meronta-ronta meminta Ayahnya untuk melepaskannya, tapi itu tidak akan terjadi karena semua orang menahannya bersama-sama.

Jongin dibantu Jooyoung dan Jaejoon sama-sama bergerak melempar papan tulis pengintai itu dengan bangku.

PRAAAAAANGGG

Seketika lapisan kaca itu pecah berkeping-keping. Menghubungkan mereka pada lorong gelap yang tak pernah terjamah oleh siapapun. Bagi mereka yang tidak tahu menahu soal bangunan tua itu, sama sekali tak berarti apapun. Tapi bagi mereka, warga yang sudah tinggal disekitar bangunan tua itu selama bertahun-tahun tentu lorong itu memberi mereka sebuah pencerahan atas kasus yang pernah terjadi di sekolah itu bertahun-tahun yang lalu.

“J-jongin…” panggil seorang gadis yang terduduk cukup jauh dari lubang itu. Ia meringkuk memegangi kakinya yang diikat dengan sobekan baju.

Jongin yang mendengar suara itu segera berlari melompati lubang yang dipenuhi pecahan kaca. Ia tak memikirkan apapun selain wanita itu. Wanita yang sudah membuatnya gila selama 2 jam.

“Gwaenchanayo? Apa kau terluka? Apa ada yang menyerangmu? Huh?” tanyanya beruntun. Matanya sibuk mencari luka yang mungkin sudah membuat mata gadis itu berubah sembab. Tanpa ia sadari, ia melupakan seorang lagi yang harusnya juga ada disana bersama Jinni.

“Taehyung… dia menemukan sesuatu disana…” gadis itu malah menjawab hal lain. Tangannya menunjuk kearah sudut lorong yang lebih gelap. Tak ada satupun tanda-tanda kehidupan disana sampai para Ahjussi menyusuri ujung lorong dan menemukan sebuah makam besar. Jawaban atas misteri yang tak kunjung terungkap dari bangunan tua itu.

 

~”~”~”~

 

“Jadi apa yang terjadi?” tanyaku ditengah perjalanan kami menuju rumah Hoseok.

Langit sudah tak sekelam saat kami pergi bermain ke bangunan tua itu. Matahari sebentar lagi terbit. Keadaan sudah lebih tenang dari sebelumnya. Sangat tenang karena hanya ada suara desiran ombak disini. Dan aku sengaja meminta Jongin untuk menggendongku. Membawaku berjalan-jalan ke sekitaran pantai sebelum pulang. Ia harus bertanggung jawab karena sudah menempatkanku pada situasi yang berbahaya. Meskipun aku tahu itu tidak sepenuhnya kesalahannya.

“Sekolah itu ditutup sekitar 15 tahun yang lalu. Awalnya sekolah itu adalah sekolah yang bagus. Sekolah paling favorite di desa ini. Tapi 15 tahun yang lalu kejadian-kejadian aneh mulai terjadi. Termasuk hilangnya seorang suster yang biasanya berjaga di ruang kesehatan. Pembunuh suster itu ditemukan, tapi misterinya belum terungkap sampai sekarang karena pembunuh itu bunuh diri setelah ditangkap dan ditahan semalaman di kantor polisi.” jelas Jongin panjang lebar.

“Apa suster yang kau maksud adalah mayat yang dikubur di ujung lorong tadi?”

Ia berhenti di pinggir pantai. Menurunkanku lalu mendudukkanku di atas bebatuan. Wajahnya tampak sangat lelah setelah menggendongku cukup jauh.

“Ya, itu suster yang hilang selama 15 tahun. Dan kau jatuh tepat di atas jebakan yang membawa suster itu memasuki lorong. Ia terjebak disana bersama si pembunuh sampai mati.” ia ikut duduk di sebelahku. Tangannya yang memerah ia regangkan. Aku tahu ia lelah, tapi ia sama sekali tidak mengeluh padaku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Bagaimanapun menyusahkannya adalah salah satu hobiku hahaha.

Wahh… kejadian yang luar biasa. Hari itu saat peristiwa mengerikan terjadi di ruang kesehatan sekolah kami, Jongin berhasil menangkap pelaku penculikan yang sudah menjadi buronan selama berminggu-minggu. Dan kali ini, kami memecahkan misteri hilangnya suster di sekolah tua. Bukankah kami hebat? Mungkin kami semacam pasangan pembawa keberuntungan. Atau semua itu terjadi karena Jongin kecil? Anni… kami adalah keluarga luar biasa.

“Aku khawatir anakku akan tumbuh sepertimu. Mungkin aku akan lebih cepat tua setelah ia lahir nanti.” ucapnya ditengah keheningan yang sedikit demi sedikit memperbaiki perasaanku.

Aku mengalihkan pandanganku padanya. “Wae?” tanyaku tak mengerti.

Ia menatapku. Dibawah pancaran sinar kekuningan yang indah itu ia menatapku. “Karena kau selalu baik-baik saja setelah melalui masa-masa buruk seperti kecelakaan itu. Kau sedang mengandung, tapi kau sama sekali tak merasa terganggu. Itu membuatku khawatir.” jawabnya dengan wajah serius.

“Hahaha… wae? Bukankah itu semua itu sudah berlalu? Untuk apa aku terus memikirkannya?” jawabku menertawakan pikirannya yang terlalu serius.

“Kau bisa menangis sekarang dan berhenti teringat-ingat akan kejadian itu nanti daripada kau baik-baik saja sekarang dan kejadian itu akan terus menghantuimu kapanpun kau melihat ruangan yang sama.” jawabnya masih dengan wajah serius yang tidak terubah sedikitpun oleh tawaku. Nada bicaranya yang datar membuatku menyadari betapa khawatirnya ia padaku. Berapa dalam ia memikirkanku.

Tawaku memudar. Suara desiran ombak mengantarkanku pada sebuah perasaan yang menyakitkan. Ia tahu aku terpukul. Ia tahu aku menderita. Tapi ia juga harusnya tahu aku tidak bisa membuatnya ikut menderita bersamaku.

“Terkadang bagi seorang wanita… menghabiskan waktu bersama pasangannya dan melupakan semuanya adalah yang terbaik untuk mengobati sebesar apapun luka yang mereka miliki. Begitu juga aku…” sebelah tanganku menangkup wajahnya. Menarik wajahnya dan meresapi hangat nafas yang sudah kulewati 2 malam terakhir ini. “Aku lebih suka sembuh dengan senyumanmu daripada dengan semua kekhawatiranmu. Bisakah kau memberiku satu senyuman saja?” tanyaku tepat ketika ujung matahari menyapa diujung lautan. Sinar kekuningan mewarnai wajah Jongin yang gelap. Hanya satu senyuman, kurasa moment indah ini akan sempurna.

Ia menataku cukup lama. Matanya bergerak mencari kejujuran dalam diriku. Dan setelah ia menemukannya, air wajahnya melembut. “Baiklah…” jawabnya menarik ujung bibirnya membentuk simpul manis yang membuat hatiku bergetar.

Seketika senyumku kembali mengembang. Semua ketakutanku hilang. Semua rasa tertekanku memudar. Sudah kuduga, hanya ia satu-satunya yang bisa membuatku baik-baik saja. Satu hari saja aku tak melihatnya, rasanya aku gila. Satu hari saja aku tak melihat senyumannya, rasanya aku mati.

Ia menghela nafas tepat di depan wajahku. Tangannya yang terbebas menarik pundakku untuk mendekat padanya. Tanpa diminta, aku menutup mataku. Meresapi sentuhan bibirnya yang sehangat matahari pagi di ujung pantai ini. Ditengah terpaan angin pantai yang membuat tulangku ngilu. Tapi itu tidak lama, karena Jongin tiba-tiba menarik bibirnya. Ia melihatku dengan alis berkerut.

“Ayo pulang! Tubuhmu mengigil!” ujarnya kembali bangkit lalu berjongkok di depanku. Tangannya menarik kedua kakiku agar aku buru-buru menaiki punggungnya.

“Arraseo…” jawabku menurutinya. Aku kembali memeluk lehernya sambil memejamkan mata. Baru sekarang aku merasakan ngantukku karena tidak tidur semalaman. “Jongin-ah. Apa yang kau rasakan setelah kehilanganku?” tanyaku setengah tertidur.

Ia diam. Terdiam untuk beberapa saat, entah karena dia berpikir atau dia juga mengantuk sepertiku. “Jangan ingatkan aku soal itu…” jawabnya pelan. Kepalanya menunduk menatap hamparan pasir yang ia pijaki. “Aku hampir membunuh anak psyco itu kalau Sukjin Hyung tidak menahanku…” sambung Jongin kembali menatap ke depan.

Aku tersenyum mendengar jawabannya yang penuh emosi. Bukankah itu artinya aku sudah menjadi bagian terpenting baginya. Jongin bahkan tidak membunuh orang-orang yang pernah mengganggu Hyojin saat mereka masih berpacaran. Tapi ia hampir membunuh seorang anak kecil demi aku. Wahh… berapa besar pentingnya kehadiranku untuknya.

“Kau tahu siapa yang kupanggil saat aku ketakutan didalam lorong tadi? Kau! Setiap aku dalam bahaya, entah mengapa aku langsung memanggilmu. Mungkin karena aku tahu kau pasti akan datang menolongku. Kau tidak akan pernah meninggalkanku…” ucapku setengah sadar. “Saranghae…” tutupku lalu mengecup tengkuknya.

Senyuman dibibirku semakin mengembang dan aku tak bisa menahannya. Hanya berusaha memejamkan mataku, menikmati saat-saat manis ini sebelum kami kembali ke rumah Hoseok dan hidup terpisah. Hah… tapi kalau kami tidak pernah memilih liburan ke sini, mungkin kami tidak akan pernah berbagi perasaan di pantai yang secantik ini. Yokshi… honeymoon memang saat-saat terindah untuk pasangan yang baru menikah. Kata-kata Sunny memang tidak pernah salah.

Nado… saranghae…

 

~”~”~”~

 

Senyum penuh kelegaan terpancar di bibirnya yang tipis. Ia berlari menghampiriku yang tengah terduduk dibawah sebuah pohon. Entah karena apa, tubuhku rasanya lelah sekali sampai tidak sanggup berdiri.

Alisku berkerut melihatnya. Seorang wanita yang usianya terlihat lebih tua dariku beberapa tahun. Ia duduk disebelahku masih dengan tersenyum. Aku yakin belum pernah melihatnya, tapi entah mengapa aku seperti sudah mengenalnya sangat lama.

“Terima kasih…” ucapnya sebelum aku berhasil menggerakkan mulutku. Aku ingin menanyakan siapa dia, tapi mulutku rasanya sulit sekali digerakkan. “Kau punya keberanian yang tidak kumiliki. Dan sebagai gantinya, aku akan memberikan sebuah keberanian yang besar untuk anak dalam pangkuanmu…” ucapnya kemudian mengulurkan tangannya ke arahku.

Aku menunduk untuk melihat ujung tangannya, dan aku terkejut luar biasa melihat perutku yang tidak lagi membuncit. Justru ada seorang bayi tanpa sehelai kain yang tertidur diatas pangkuanku. Tanganku memeluknya, tapi aku tak tahu sejak kapan aku memeluknya. Yang kuingat aku hanya sedang terduduk di bawah pohon.

“B-bayi siapa ini?” tanyaku tiba-tiba bisa bicara. Aku menatap wanita itu lagi, dia masih tersenyum. Wajahnya yang manis terasa menusuk pikiranku, membuat otakku berhasil merekam seluruh titik wajahnya.

“Itu anakmu…”

 

~”~”~”~

 

Hah… hah… hahh…

Aku buru-buru membuka mataku. Jantungku berdegup sangat cepat dan tubuhku dipenuhi keringat. Mimpi macam apa itu? Aku tidak tahu itu mimpi buruk atau mimpi indah… bagaimana bisa Jongin kecil berada diatas pangkuanku?! Dia… baik-baik saja ‘kan? Kenapa dia tenang sekali? Dan lagi… wanita itu siapa? Kenapa aku merasa pernah melihatnya?

Ahh… aku pasti sangat kelelahan sampai mimpi itu terasa begitu nyata. Sial! Rasanya aku tidak ingin tidur lagi. Aku takut bertemu wanita itu. Lalu bagaimana? Ini baru pukul 2 pagi. Masih terlalu dini untuk memulai hari. Ahh… seandainya ada Jongin di sini.

“…aaaaa…

Suara jeritan tiba-tiba saja terdengar dari arah pantai. Jantungku kembali terhenti mendengar jeritan yang kedengarannya dari seorang pria. Aku terdiam untuk mendengarnya lebih banyak, tapi suara itu tidak terdengar lagi. Tidak ada lanjutannya.

Omo! Suara apa itu? Apa itu suara hantu? Tapi kedengarannya seperti suara jeritan seseorang. Nuguya? Apa masih ada yang bangun di tengah malam seperti ini? Atau jangan-jangan itu suara Minki. Tapi Minki perempuan. Lalu siapa? Kenapa suaranya tidak terdengar lagi?

DEG!

Yaa… aku baru ingat sekarang… bukankah perempuan dalam mimpiku itu… suster yang hilang di bangunan tua tempat aku terjebak kemarin malam? Tapi kenapa harus aku yang ia datangi? Kenapa bukan Taehyung? Yang menemukan makamnya ‘kan Taehyung bukan aku. Aku bahkan sama sekali tidak melihat makamnya. Aku tidak melakukan apa-apa, lalu kenapa dia mendatangiku? Dan kenapa ia harus membawa Jongin kecil ke dalam mimpiku? Maldo andwae… sekarang aku benar-benar tidak tahan lagi. Aku butuh Jongin! Aku harus menceritakan semuanya pada Jongin!

Dengan segenap nyali yang tersisa, aku beranjak meninggalkan Yoonhee dan Aeyong yang masih terlelap dengan alam mimpi mereka masing-masing.

“…AAARRRGH!

Mwoya?! Aku baru saja menutup pintu kamarku ketika suara teriakan itu terdengar lagi. Seketika bulu kudukku berdiri. Sekarang aku benar-benar sudah tidak tahan lagi! Jongin dimana Jongin!

KAU TAHU AKU TIDAK PERNAH MEMBENCIMU HYUNG!

Eh? Lagi-lagi langkahku terhenti. Kali ini teriakan itu terdengar cukup jelas. Itu bukan suara hantu dan aku merasa sangat mengenal suara itu. Bukankah itu…

Aku berlari menuju beranda. Tidak banyak yang dapat kulihat, tapi dari atas sini, aku bisa melihat dengan jelas 2 orang lelaki yang saling berkelahi di pinggir pembatas laut. Tanpa perlu menggunakan teleskop pun aku tahu itu Jongin dan Taehyung. Andwae! Taehyung jago berkelahi, tapi Jongin tidak. Andwae! Jongin bisa mati!

Dengan gelap mata, aku berlari menuruni anak tangga. Membuka pintu dengan asal. Tak peduli suara gebrakannya akan membangunkan siapa. Mereka harus berhenti. Aku harus menyelamatkan Jongin.

“Andwae… andwae Jongin-ah! Kenapa kau melakukannya?!” bisikku ditengah perjalanan menuju ke pembatas laut. Keadaan disekitar masih sangat sepi. Tapi itu memudahkanku untuk menuju ke sana.

Pikiranku melayang memikirkan alasan apa yang membuat mereka harus saling berkelahi. Apa itu karena aku? Maldo andwae! Aku membawa Jongin bertemu dengan Taehyung bukan untuk membuat mereka berkelahi, tapi untuk membuat mereka berdamai. Ahh… Eomma… maafkan aku. Aku gagal memperbaiki hubungan mereka. Issh! Bagaimana kalau tuang Jongin patah? Dia hanya mendapat cuti seminggu dan sekarang hanya tersisa 3 hari lagi. Bagaimana dengan karirnya? Bagaimana dengan impiannya?

Dengan nafas memburu air mataku bercucuran. Tapi langkahku tidak sekencang saat aku baru keluar dari rumah Hoseok. Pemandangan di depanku benar-benar mengejutkan.

“Hahaha…”

Dua orang yang sempat membuat jantungku hampir berhenti. Dua orang yang sudah membuatku berlari dengan perut yang berat ini. Dua orang yang membuatku menangis sampai aku kehilangan nafasku. Mereka saling tertawa dengan wajah babak belur. Taehyung masih menindis Jongin ketika isakanku mengalihkan perhatian mereka.

“Noona?”

“Apa kalian gila? Apa yang sedang kalian lakukan huh? Apa kalian ingin membunuhku? HUH?!”

 

~”~”~”~

 

“Hiks… hiks… huaaaa… hiks… hiks… huaaaa…” dan tangisan bombayku kembali mengalir. Membuat dua orang lelaki yang duduk diantaraku sama-sama terdiam. Sesekali mereka menatapku. Tapi tak ada yang berani menyentuhku karena mereka tahu mungkin aku akan meledak.

Kalau saja aku melihat mereka berkelahi dengan pikiran yang jernih, mungkin aku bisa melihat bagaimana mereka saling tertawa. Melepas perasaan yang menghalangi mereka selama ini. Tapi sayangnya aku baru saja mendapat mimpi buruk dan aku melihat mereka dalam keadaan takut. Yang ada dalam pikiranku hanya hal buruk. Aku sampai melupakan keadaanku hanya untuk mengejar mereka. Tapi kenyataannya mereka sedang melepas perasaan satu sama lain. Perasaan gengsi Jongin yang tidak pernah mau mengakui Taehyung sebagai adiknya dan perasaan muak Taehyung yang selalu disalahkan padahal ia tak pernah membuat kesalahan. Konyol memang, tapi begitulah cara dua lelaki ini melepas tembok yang sudah memisahkan mereka sealma bertahun-tahun.

Dan aku menangis bukan hanya karena menangisi kebodohanku yang sudah berpikiran buruk tentang mereka, tapi aku menangis juga karena bahagia akhirnya mereka bisa berubah. Meski begitu, aku tetap merasa marah pada mereka karena mereka telah melakukan hal konyol yang bisa saja membuat mereka mati. Bagaimana kalau bukan hanya luka memar yang mereka dapatkan dari pukulan itu, tapi patah tulang, atau gegar otak. Lelaki memang bodoh.

“Berhentilah menangis…”

“Aku tidak akan menangis kalau kau tidak melukai wajahmu dengan pukulan Taehyung!” potongku menatap Jongin tajam. Ia dan seluruh luka diwajahnya benar-benar membuatku kesal malam ini. Diantara seluruh kelakuan menyebalkannya, malam ini adalah yang paling menyebalkan.

“Mianhae Noona…”

“Kau bukan lawan yang pantas untuknya! Kau sering berkelahi tapi dia tidak!” kali ini aku marah pada lelaki di sebelah kananku. “Kalian benar-benar tidak mengerti perasaanku… aku tahu kalian sama-sama masih muda dan menyelesaikan masalah dengan berkelahi adalah style kalian, tapi kalian juga harus mengerti kalau aku juga seorang Ibu muda yang sedang mengandung… pikiranku lebih buruk melihat kalian seperti itu…” aku menundukkan wajahku. Menutup wajahku dengan kedua tangan lalu menangis. Meresapi sejuta perasaan yang tercampur aduk dalam hatiku.

Tapi itu tidak berlangsung lama karena isakanku berhasil membuat lelaki disebelah kiriku tak dapat menahan dirinya untuk menyentuhku. Jongin menarik tubuhku kedalam pelukannya. Menyelimuti tubuhku yang hanya berbungkus piyama dengan dekapan kedua tangannya. Dan sialnya semua kemarahanku hilang oleh kehangatannya.

“Mianhae… aku tidak bermaksud membuatmu berpikiran buruk. Aku juga tidak bermaksud membuatmu berlari di tengah malam. Karena aku melakukan semua ini agar membuatmu lega dan tersenyum lebih cerah pagi ini…” jelas Jongin membuat darahku berdesir. “… aku tahu kau sudah bekerja keras untuk memperbaiki hubungan kami meskipun itu tidak ada sangkut pautnya denganmu…” dan tangisanku mengalir semakin deras mendengar pengakuannya yang tulus.

Dia melakukan semua ini hanya untukku? Mendamaikan dirinya dengan adik yang selama ini tidak ingin diakuinya hanya untukku? Untuk membalas kerja kerasku?

“Aku tidak akan bisa menerima Taehyung tanpa pukulan darinya atas semua kesalahanku selama ini… benar ‘kan?” Jongin melempar tatapannya pada Taehyung.

Taehyung yang menatap dengan mata sendu tampak tersenyum sekilas sebelum kembali menunduk dan menjawab, “Tidak Hyung”. Tangan Jongin menyambutnya. Ia mengacak rambut Taehyung lalu saling melempar senyum.

Mereka benar-benar telah berbaikan. Di tengah malam yang membuatku tak ingin tidur lagi, keajaiban ini terjadi begitu saja? Aku tidak sedang bermimpi ‘kan? Bagaimana bisa… hanya karena aku yang belum melakukan apapun selain mengajak Taehyung bicara… mereka telah berbaikan…

“Ah matda! Aku lupa mengembalikan ini pada Noona…” Taehyung merogoh sakunya, mengambil benda tipis yang membuat mataku membulat.

Aku menarik tubuhku dari dada Jongin untuk mengambil benda itu. Benar! Ini benar milikku! “D-darimana kau menemukannya?”

“Ah itu… waktu Noona menanyakan apa yang aku lihat terakhir kali sebelum menelpon Hyung, aku melihat ada cahaya di ujung lorong. Kukira ada seseorang yang bersembunyi disana, jadi aku buru-buru menelpon Hyung lalu berlari mengejarnya. Tapi setelah sampai disana aku tidak menemukan siapapun kecuali sebuah makam dan ponsel yang menyala di bawahnya. Aku menanyakannya pada Hyung, Hyung bilang itu ponsel Noona…”

“Dari pertanyaan itu aku menanyakan soal percakapan kalian di lorong itu lebih jauh” potong Jongin berharap aku akan fokus pada kalimatnya. Mungkin ia sudah tahu aku banyak menanyakan soal Hoseok disana. Tapi aku sama sekali tak ingin membahas itu. Yang sangat mengganggu pikiranku sekarang adalah…

“Suster itu baru saja mendatangiku didalam mimpi. Dia berterima kasih padaku. Aku tidak merasa sudah melakukan sesuatu untuknya, tapi sepertinya… ponsel ini yang membawanya menemuiku…” sahutku seketika membuat mereka terdiam. Mungkin mereka bingung dengan apa yang aku katakan. Tapi itu benar-benar nyata. Dan mungkin suster itu benar-benar sudah memberikan hadiah untuk Jongin kecil. Sebuah keberanian.

Jongin tiba-tiba mengambil ponsel itu. Membuatku mau tak mau harus melihatnya. “Masih ada satu orang lagi yang harus berterima kasih padamu…”

Aku mengerutkan alisku bingung. “Siapa?”

“Aku…” jawabnya sebelum mencuri pandanganku dengan wajahnya yang mendekat. Mengecup bibirku singkat.

Aku hanya bisa mengerjapkan mata. Kejadian itu terlalu singkat, aku bahkan tidak terlalu jelas mendengar ucapannya.

“Aaaish… hentikan itu Hyung! Ayo cepat naik sebelum mataharinya muncul!” gerutu Taehyung sudah berjalan lebih dulu meninggalkan kami.

“M-mau kemana?” tanyaku seperti orang bodoh. Otakku konslet setelah diciumnya.

“Khajja!” ajak Jongin tanpa mempedulikan pertanyaanku. Ia menarikku untuk berdiri lalu menggiringku pergi dengan jaket yang ia letakkan di tubuhku.

Tidak jauh dari sana, ada sebuah kapal yang terparkir tepat di pinggir pembatas laut. Taehyung sudah lebih dulu menaiki kapal berukuran kecil itu. Alisku langsung berkerut. Firasatku buruk. Jongin berhenti mendorong tubuhku ketika kami sampai di pintu kapal. Tinggal selangkah lagi, kami sudah berada diatasnya. Buru-buru aku menahannya. “Kita tidak akan naik kapal ‘kan? Taehyung belum punya ijin berlayar! Dia masih seorang pelajar!”

“Tenang Noona! Aku sudah memiliki izin untuk kapal ini…”

“Tapi itu berbeda!” potongku masih tak terima. Masalahnya hidupku mungkin akan terancam untuk kedua kalinya.

“Kau melewatkan praktikumnya Nyonya Kim. Aku lebih tahu karena aku yang membantunya setiap pagi. Sekarang naiklah! Anggap ini sebagai hadiah atas pernikahan kita…” tidak lagi. Semenjak mereka berbaikan, mereka jadi bekerja sama. Oh tidak! Tidak ada lagi yang akan berpihak padaku ketika bersama mereka.

Dengan segala keraguan akhirnya aku melangkah menaiki kapal itu. Jongin membawaku duduk dibagian depan kapal. Tepat diujung. Aku hanya berharap aku tidak tiba-tiba terserang mabuk laut.

Are you ready? Goooo!” begitulah akhirnya kami berlayar.

Suara mesin kapal dan cipratan air yang mengenai tubuhku kembali membawaku ke dalam suasana yang menegangkan. Dalam hati aku hanya bisa berdoa semoga tidak ada kejadian tak terduga lainnya yang akan terjadi. Sudah cukup 2 kali hidupku terancam. Kali ini kumohon biarkan aku hidup sampai anakku lahir dan besar nanti.

“Buka matamu… kau tidak akan mendapatkan keindahannya dengan mata tertutup!” bisik Jongin setengah berteriak ditelingaku.

“Sirheo!” tolakku menutup mata semakin rapat.

“Tidak ada yang perlu kau takuti. Ada aku disini.” ia masih bersi keras. Biarpun ia ada disisiku, bisa saja kejadian tak terduga terjadi lagi seperti kemarin malam. Aku terjatuh ke dalam lorong padahal ada Jongin di ruangan itu. “Kau bilang kau akan memanggilku ketika kau takut, sekarang panggil aku dan buka matamu…”

Eh…

Refleks aku membuka mataku. Wajahnya sudah tepat berada di depanku. Tapi ada hal lain yang membuatnya tampak berbeda. Sinar kekuningan yang sedikit demi sedikit menyinari wajahnya seperti pagi kemarin. Saat aku katakan bahwa aku akan selalu merasa aman ketika bersamanya.

Ia menunjukkan sesuatu di depan kami sambil tersenyum. Dengan perasaan yang masih melayang-layang, aku menatap apa yang ditunjukkannya. Sebuah lingkaran api besar yang tampak keluar dari persembunyiannya. Menyapaku ditengah hamparan laut yang tenang. Warna biru air berbias kekuningan. Ditambah aroma pagi diatas hamparan laut yang dingin ini. Hadiah yang tidak ternilai harganya.

“Ini…” gumamku kembali menatapnya. Ia tampak tersenyum dengan mata penuh binar. Meskipun bibirnya pecah dan banyak luka memar di wajahnya, ia tetap lelaki paling tampan yang pernah kutemui.

“Terima kasih… sudah datang di hidupku. Memberikanku hidup yang baru. Mengimbangi apa yang tidak aku miliki… dan terima kasih sudah menjaganya untukku…” ucapnya pelan tersapu angin. Tangannya menyentuh permukaan perutku hangat. Memberiku sebuah kenyamanan. Hey! Bukankah ini adalah pertama kalinya ia mengucapkan terima kasih setulus itu padaku?

Aku hanya bisa tersenyum lebar mendengarnya. Dia, lelaki yang selalu membuatku berbunga-bunga setiap kali aku melihatnya. Pagi ini tampak sangat manis dimataku. Beban dan luka yang selalu tersirat dalam lubuk hatinya, sedikit demi sedikit mulai memudar. Dan aku bersyukur karena aku berhasil membantunya. Meskipun aku tak tahu apa saja yang sudah kulakukan untuknya. Tapi mendengar ia berterima kasih padaku, aku merasa sangat berarti untuk hidupnya.

Aku meraih wajahnya. Menarik tengkuknya untuk mencium bibirnya sekilas. Tapi niatanku batal karena Jongin lebih dulu menciumku lekat. Melumat bibirku seiring dengan nafasnya yang berhembus hangat di wajahku.

“Geurae… nikmati waktu kalian, aku tidak akan melihat!” gerutu Taehyung lagi-lagi mengalah. Biarlah. Aku tidak ingin melewatkan pagi yang manis ini begitu saja.

 

-to be continued-

100 responses to “Yes!! We’re Married (Chapter 3)

  1. Aa… Author.. Jadi baper banget deh bacanya. Mendalami banget nihh bacanya. Sampe pengen nangis terharu gimana gituu.. Uuu so sweetnya mereka.. Ditunggu next chapter yah author!

  2. Yeyeyeye dipost jugaaa hihi i like it :* campur aduk baca ini iiiiih, dapet banget horornya sampe beneran merinding gue eon takut kenapa2 sama jinni nya, terus teriakan mereka dipantai horor banget yeeh wkwwk anjir ngakak pas tau itu suara jongin taehyung wkwk, next chap ditunggu cepet yaaa eon, so sweet2 nya jangan lupaaa dan selipin sedikit problem yaa haha kaya misalnya jongin nya cemburu gitu jinni deket sama cowok wkwwk, oke fighting:**** ❤

  3. akhirnya jinni sma taehyung selamat..
    jongin sma taehyung baikkan…
    jongin makin manis. wahh lengkap sudah..
    dtnggu klnjutannya

    semangat

  4. Ciee jongin sama taehyung udah baikan. Si jongin juga makin romantis lagi sama si jinni. Makin seru, ditunggu ya chap selanjutnya

  5. akhirnya jinni ketemu 🙂 bacanya lumayan deg2an euy..
    kok aku sama sekali ga liat hoseok ya?

    jongin & taehyung baikan, yeay! >_< tapi baikannya tonjok2an XD

    aigooo… aku ga sabar pengen liat jongin kecil yg pemberani :))
    next fighting! 😀

  6. Ah so sweet sekali jonginnya . Apalagi ia sangat melindungi jinni dan anak mereka.
    Eoh mereka sudah berbaikkan. Ah syukurlah.
    Semoga hidul mereka akan harmonis dan bahagia cepat- cepat lahir jongin kecil .
    Next chapternya ya

  7. Akhirnya selamat juga tuh Jinni sama Taehyung padahal detik2 terakhir batre abis =))
    Jongin sama Taehyung udh damai nihh :’D
    Jongin sayang banget ya sama Jinni, deuh so sweet banget T.T
    Next2

  8. Cieee nambah lengket aja jini sm jongin nya semenjak jongin baikan sama taehyung trus Taehyung kasian yak jd obat nyamuk hehehe

  9. oohhh God,,,,,sungguh romantis sekali…..dan aaa akhirnya perjuangan jinni untuk mendamaikan 2 saudara berhasil,,,,dan sampai sekarang ak msh gk paham ma penggambaran sekolahnya itu….
    tp chptr ini sungguh2 bikin ak tersenyum bahagia….
    ak tunggu nxt chptr
    keep writing!!!!

  10. akhirnya tae tae dan jinnie ditemukan juga, merasa lega deh mereka ditemukan dengan kondisi yang selamat

    mungkin dari musibah ini datang sebuah mukjizat untuk hubungan jongin dan tae tae yang sudah merenggang lama itu….aigoooo senengnya kalo dua bersaudara ini sudah baikan lagi….tapi kenapa harus dengan berkelahi sih????gak bisa dengan cara baik”….ckckckck dasar laki” menyelesaikan masalah dengan otot gak dengan otak aja sih. sampai membuat jinni berlarian untuk melerai mereka, kan kasian jinnie kalo terjadi apa” dengan baby kim gimana???jongin dan tae tae mulai sekarang harus dewasa deh…..

    dan keromantisan jongin jinni bener” bikin iri deh…..duh sunggu sweet banget sih perilaku jongin buat jinni, mereka udah saling melengkapi satu sama laennya dan gak bisa dipisahkan oleh apapun lagi.keromantisan mereka gak buat aku iri kayaknya semua orang akan iri deh tapi sadar tempat dong jongin jinni kalo bermesaraan……hihihihihihihi

    ok lah chapter ini membuatku iri dan senang akhirnya semua masalah terselesaikan dan mungkin chapter depan dibuat marah lagi karena melihat kecemburuan jongin…..hahahahaha
    ok deh aku bakalan nungguin lanjutannya dan tetap semangat ya!!!!

  11. kyaa!! itu kenapa bisa ada tulisan -to be continued- sih? btw, kok aneh ya liat abang jongin romantis?
    *krikkrik*
    aa.. pokoknya yang rajin lanjutnya thor. Fighting!!

  12. Akhirnya post nya muncul juga,duh campur aduk perasaan pas baca ff ini ya sedih,kawatir,seneng ampek dibilang gila sm temen gw,min si mpi kasian banget sumpah kasi dia pasangan napa ngenes amat,ditunggu next chapternya ya min \(^^)/

  13. Pingback: Yes!! We’re Married (Chapter 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. jadi pengen cepet cepet nikah (eh) huhuhu tapi bagaimana ini… masi sekolah, juga kim joonmyeon si calon suami saya masi ada kontrak..
    huuuuu baper maksimal ini… pengen punya anak yg imut cimik cimik >,<
    moga aja hongseok gak tiba tiba nongol deh *mogaaja
    bayangin taehyung bw kapal itu– impossible dikit 😀

      • lebih possible lagi kalo pas kapalnya abis kebalik trus.si taehyung nongolnya kayak yoo jaesuk pas adegan abis nyemplung dia air hahhahahaahahhaa kayak monster laut yg baru.muncul.ke permukaan.. rambutnya bagaikan ganggang laut kkk

  15. kasihan jinni.. masa ibu hamil di gituin teruss ada masalah trus ntar kalo jongin kecilnya premarur gimana

  16. Pingback: Yes!! We’re Married (Chapter 5-End) | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. iiii eonni mereka berduaaa romantis sekaliiii 😁😁😁 senyum senyum sendiri ngebacanyaa 😁 aku mau eee punya calon kaya gitu, eonni ceritanyaaa baguuss . Tapi taehyungnyaa kasian iii jadi obat nyamuk. Taehyungnyaa bareng aku aja 😀

  18. Taehyung puk” jauh ya…ngeliat kakakmu yg lagi lovey dovey….aigoo, iri deh rasanya hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s