[5th Chapter] ILLUSION by arin yessy

illusion4

arin yessy present

illusion part 5

read 1st | 2nd | 3rd | 4th

starring : Irene RV, Kim Myungsoo, Daniel Henney, Oc

rate/genre : hurt, psychology, romance, family

disclaimer : This is my original fic! do not copy!

sorry for typos, and happy reading ~

.

Hai.. namaku Irene Braun, puteri tunggal pemilik Braun Enterprise, umurku 20 tahun. Hari ini aku bertemu dengan seorang teman baru. Namanya ussoo, lucu sekali kan? Ah ya, dia sepertinya laki-laki yang baik, dia bahkan mentraktirku makan siang walaupun yeahh dia dengan sok tahunya mengatakan bahwa aku menderita alergi seafood. Tapi apapun itu, aku senang akhirnya aku memiliki orang lain yang bisa kuajak mengobrol selain Finnick. Semoga kami dapat bertemu lagi di lain waktu

.

 .

Aku memasuki gerbang rumah yang terbuka dengan langkah senormal mungkin, seolah tak terjadi apa-apa. Sedikit heran kenapa rumah sebesar ini terlihat sangat lengang? Bahkan beberapa penjaga Nampak tak berada di tempat dimana seharusnya mereka memposisikan diri.

Oke, entah kenapa kali ini perasaanku mengatakan bahwa bayang-bayang itu benar. Bahwa ayah mungkin telah mengayunkan tongkat baseballnya ke segala arah, memecahkan barang apapun yang bisa pecah, dan memarahi semua penghuni rumah akibat kelalaian mereka dalam menjagaku.

Kacau!

Aku mempercepat langkahku. Kaki-kaki letihku menapaki satu persatu anak tangga dengan terburu-buru hingga tepat berhenti di depan sebuah pintu : ruang kerja ayahku.

Kubuka pintu kayu itu perlahan dan kulongokkan sedikit kepalaku untuk membuktikan apakah kekhawatiranku terbukti atau tidak. Dan oh… ayahku ada di sana. Tampak menelepon dengan raut wajah murka luar biasa. Namun syukurlah, setidaknya ruangannya masih rapi dan tak ada satu bendapun yang melayang di udara. Bahkan pajangan tongkat baseball peraknya masih terpajang indah bersama dengan sejumlah koleksi senapan angin di lemari kaca.

“kreekk…” sengaja aku membuat sedikit suara dengan gerakan pintu, hingga ayah terlihat melirik tajam ke arahku. Sedikit takut-takut aku masuk ke dalam ruangannya. Oke, aku menyadari kesalahanku dan aku terima jika setelah ini ia akan menghukumku.

Namun ekspektasiku kembali meleset. Kulihat ayah menghampiriku dan memelukku dengan sangat erat. Bahkan entah aku tak dapat menemukan dimana larinya handphone yang semula ia genggam.

“Irene.. darimana saja kau sayang??

“Ayah sangat khawatir padamu.” Ayah mengeratkan dekapannya, membuat wangi parfum Gucci guilty mahal miliknya terpendar sangat jelas menusuk indera penciumanku.

“maafkan aku yah, aku hanya berjalan-jalan keluar saja.”

“kenapa lama sekali? Oh Ya Ampun!! Ayah takut sekali jika harus kehilanganmu sayang.” Ayah membingkai wajahku dan mengelus pelan rambut pirangku. Kedua manik matanya yang berwarna cokelat tampak berkaca-kaca. Tampaknya ayah benar-benar takut kehilanganku. Dan sungguh aku benar-benar menyesal membuatnya menjadi sangat khawatir.

“maafkan aku ayah..”

“kau tidak apa-apa kan?”

“aku baik-baik saja, lihat kan?” Aku memutar tubuhku dengan ekspresi ceria, benar-benar seperti seorang anak-anak. Dan itu cukup membuat ayahku tersenyum senang.

“syukurlah,, pergi jalan-jalan kemana saja anak ayah ini? Apakah kau ingat jalan pulang ke rumah?”

“entahlah kupikir aku hanya berkeliling di sekitar sini. Aku tersesat sih…” aku menggantung kalimatku karena kulihat ekspresi kaget mulai mendominasi raut wajah ayah. “tapi.. tapi aku bertemu dengan orang baik tadi, dia mengantarku pulang ke rumah.”

“Oh ya, siapa orang baik itu?” aku menggigit bibirku. Aku tak mungkin menceritakan semuanya pada ayah. Masih terbayang dalam benakku bagaimana ayah menghajar laki-laki itu tempo hari. Aku benar-benar tak bisa berpikir apa yang akan ayah lakukan jika siang ini aku menghabiskan waktu dengannya, walaupun yeah pertemuan itu benar-benar tidak disengaja. Tapi jelas ini pertanda buruk. Ayah tampak benar-benar tak menyukai Myungsoo, dan aku tak ingin membuat teman baruku mendapat masalah hanya karena sikap ayah yang sangat arogan. Bisa-bisa ia tidak ingin menjadi temanku lagi, oh no! temanku hanya finnick dan dia. Aku tak akan sanggup jika hanya mengobrol bersama Finnnick sepanjang sisa umurku, terlebih lagi kekasihku itu adalah laki-laki yang sangat sibuk.

“hmmm.. entah. Aku lupa menanyakan namanya.”

“lalu?”

“lalu… hmmm.. aku hanya berkata bahwa aku ini anak pemilik Braun enterprise  dan untunglah dia mau mengantarku pulang.” Nada bicaraku kubuat senormal mungkin.

Kulihat ayah mengangkat sebelah alisnya. Tak biasanya ada seseorang yang tanpa pamrih mau menolong anggota keluarga konglomerat seperti keluarga kami. Karena seharusnya si penolong itu akan langsung menghubungi kantor ayah dan meminta sejumlah imbalan. Tak ada yang gratis di dunia ini. Dan jika itu berkaitan denganku, ayah akan melakukan apapun. Maksudku APAPUN itu!

“Ya sudah.. kita lupakan saja semua ini. Yang penting puteri kesayangan ayah sudah kembali ke pelukan ayah.”

“he’em.. aku setuju.” Aku menyembunyikan ekspresi kikukku dengan menghambur kembali ke dalam pelukannya. Oh Tuhan, aku hanya berharap bahwa aktingku cukup bagus kali ini.

“Ya sudah.. kalau begitu kau mau temani ayah makan siang? Kau sudah makan siang?”

Aku mengelengkan kepalaku dengan antusias. Oke, kali ini tentu saja aku berakting lagi karena kenyataannya aku sudah menghabiskan waktu makan siang bersama Usso. Tapi tak apalah, setidaknya aku tak diwajibkan memakan seluruh hidangan karena memang aku adalah gadis dengan nafsu makan yang amat payah.

Ayah membimbingku menuruni tangga. Ah tidak! Lebih tepatnya aku yang bergelayutan manja padanya. Bayangkan saja, aku menghabiskan seumur hidupku bersama ayah dan juga para penjaga yang jumlahnya yeah tidak bisa dibilang sedikit, bahkan aku sampai tak hafal raut wajah apalagi nama mereka satu per satu. Dan jangan lupakan fakta bahwa ibuku sudah tiada, entahlah aku tak pernah bertemu dengannya. Ibu hanya ada dalam gambaran ilusi-ilusi yang sengaja kuciptakan di dalam otakku sendiri.

Yang ada hanya ayahku, kurasa itu lebih dari cukup.

contemporary-dining-room

Pria paruh baya yang akan memasuki usia empat puluh limaan itu mendudukkan dirinya di kursi yang posisinya paling dekat dengan tempat dudukku. Berbagai sajian telah terhidang di meja makan. Kelihatan sangat lezat, namun karena selera makanku yang payah tak ada satupun yang membuatku cukup bersemangat untuk sekedar mencicipi rasanya.

“Sayang, kau tak makan?”

“aku sedang… hmmm.. diet.”

Ayah menarik salah satu sudut bibirnya. Rupanya terdengar sangat aneh ketika diriku yang kurus kering kerontang ini mengucapkan sebuah kata ‘diet’.

“Irene sayang, ayah mungkin akan sangat sibuk beberapa pekan kedepan. Jadi, jangan melakukan hal yang nantinya akan merepotkan ayah. Bagaimana jika kau sakit? Siapa yang akan menjagamu?” ayah mengucapkan kalimatnya dengan berbagai penekanan.

“finnick bisa menjagaku yah..”

“cih.. ayah tidak percaya padanya.”

“kenapa begitu?”

“Dengar sayang, kita tak boleh mempercayai siapapun walaupun itu adalah orang terdekat. Ingat, mereka  yang paling dekat denganmu adalah orang-orang yang akan berpotensi sebagai penghianat.” Ayah menyesap teh chamomilenya sebelum memakan makanan pembuka.

“apa maksud ayah mengatakan hal itu padaku?” Jujur, aku tak habis pikir ayah beramsumsi bahwa seolah-olah suatu hari  finnick akan mengkhianatiku. Kupikir mereka berdua cukup dekat, bahkan ayah terlihat tak pernah melayangkan protes akan hubungan kami selama satu tahun ini. Ataukah finnick memang melakukan kesalahan yang telah membuat ayah tak lagi menaruh kepercayaan padanya?

“hanya untuk berjaga-jaga Irene, sejujurnya ayah tak bisa mempercayai siapapun jika  hal itu berkaitan dengan urusan menjaga dirimu, walaupun finnick yang melakukannya.”

“kenapa ayah tidak mempercayai finnick?”

“well,, kita tak tahu apa yang akan direncanakan oleh orang di sekitar kita. Terlebih karena kau adalah puteri ayah.”

“tapi tetap saja….”

“sudahlah Irene, jangan membuat ayah kesal. Ayah hanya ingin makan siang denganmu… Sekarang makanlah sesuatu.”

Aku tak dapat membaca ekspresi ayahku sekarang. Yang jelas perasaan lega yang ia perlihatkan tadi tampak telah sirna dari raut wajahnya. Yang tampak hanya wajahnya yang sedikit tertekuk dengan rahangnya tampak semakin tegas. Dan aku tak ingin membuat ayahku marah, apalagi jika aku membuatnya kehilangan nafsu makan. Sudah cukup beruntung ayah tak murka padaku sewaktu aku keluar rumah tanpa izin tadi. Jadi, aku hanya diam membisu dan memperhatikannya yang sedang focus melahap makanan pembuka yang tersaji di mangkuk keramik miliknya. Sesekali ia melirik ke arahku, tampak menyerah memintaku untuk memakan sesuatu karena pada kenyataannya aku hanya mengaduk-aduk teh chamomile milikku tanpa ingin meminumnya. Sungguh rasa antusiasku telah padam sudah. Untuk pertama  kalinya aku merasa kesal pada ayah. Aku mengatakan hal ini karena jujur aku tak ingat kapan terakhir kali aku merasa se kesal ini padanya. Namun rasanya amat kesal. Oh Ya Tuhan, padahal baru lusa kemarin rasanya aku keluar dari rumah sakit jiwa dan sekarang aku tak dapat mengontrol emosiku sendiri.

Aku menghela nafasku yang terasa amat berat. Kupandangi lagi sejumlah makanan yang tersaji di hadapanku. Hingga tak sengaja manik mata biruku menangkap sebuah hidangan berwarna orange –yang kutahu adalah salmon- yang hampir sama dengan makanan yang tersaji di restoran gothic dimana aku menghabiskan waktu makan siangku bersama usso.

Tanganku terulur untuk mengambilnya, namun secepat kilat ayah tampak berdiri dari kursinya dan mencekal pergelangan tanganku.

“kenapa yah?” aku melayangkan sejuta volt tatapan protes sekaligus merengek ke arahnya.

“jangan membantah.”

“whyyy??”

Ayah tak menanggapi ucap protes yang terucap dari bibir puterinya ini dan segera menyingkirkan piring itu jauh-jauh dari hadapanku.

Ia kemudian berteriak memanggil kepala pelayan di rumah kami dengan suara bass yang menggelegar. Akibatnya aku yang terkaget-kaget hanya dapat diam membisu dalam posisi dudukku.

“Natalie!! Sudah berapa kali kukatakan padamu bahwa jangan ada makanan laut di atas meja makanku??! Apakah kau memang sengaja melakukannya agar puteriku sekarat?!”

“PRRAANNGG!!!” Piring berisi salmon itu melayang ke udara dan hancur berkeping-keping begitu mendarat di lantai marmer rumah.

Aku terkejut luar biasa dengan tindakan emosional ayahku, juga kepala pelayan kami yang tampak tak sanggup berkata-kata.

“ma-maaf tuan Daniel.. juru masak kita sedang mengambil cuti selama dua minggu dan hari ini ada juru masak baru yang sementara menggantikannya. Namun Sa-saya saya lupa mengatakan bahwa nona Irene memiliki alergi makanan laut.”

Degh!

Kata-kata kepala pelayan Natalie yang ia ucapkan dalam aksen Britain English yang sangat kental membuat ingatanku melayang kembali menuju beberapa jam kebelakang. Dimana usso melakukan tindakan yang sama persis dengan yang ayah lakukan (well, tidak sama persis sih.. hanya saja usso tidak melakukan tindakan memarahi kepala pelayan dan menerbangkan piring berisi salmon ke udara). Namun konteksnya mereka sama-sama mengisyaratkan dengan jelas bahwa aku mengalami sejenis alergi akut pada makanan laut. Bahkan ayah mengatakan kata ‘sekarat’ untuk menggambarkan bagaimana seriusnya alergi yang kualami. Dan anehnya sungguh aku tak tahu menahu bahwa aku pernah mengalami alergi sejenis itu. Kapan aku pernah mengalaminya? Oh Ya Tuhan, kenapa atmosfer disini terasa sangat aneh.

“Siapa yang menyuruhmu lupa mengatakannya?! Apakah kau seseorang yang bisa kupercaya Natalie??! Bagaimana kau akan menjaga puteriku selama aku tak ada bersamanya jika hal se simple ini saja kau LALAI melakukannya?!” Ayah jelas sangat murka sekarang. Sementara perempuan berusia di penghujung tiga puluh tahunan itu tampak tak mampu berkata-kata. Begitupun denganku yang hanya diam membeku akibat efek suara bass milik ayah yang sangat mengerikan. Maksudku bukan mengerikan seperti monster dalam film=film fiksi ilmiah, namun sebuah suara yang amat tegas dengan kata-kata elegan namun menusuk dengan berbagai penekanan seolah menghujam harga diri sang pelaku.

“Atau…. Kau sengaja melakukannya?”

“Demi Tuhan tuan Daniel, saya sudah bekerja di rumah ini selama dua puluh tahun. Anda sudah banyak menolong saya, saya tak mungkin memiliki niat jahat pada anda dan juga nona Irene.”

“sudahlah ayah..” aku beranjak dari posisi dudukku dengan sedikit membanting sendok teh yang semula ku genggam di atas meja. “Bukankah Bibi Nat sudah meminta maaf? Lagipula tak terjadi apapun padaku.”

Ayah tak berkata apapun padaku. Ia hanya melirikku sekilas dan mendekat kea rah kepala pelayan kami.

“Aku tak ingin ada kesalahan lagi Natalie! Camkan itu baik-baik!”

“Baik tuan.. hal ini tidak akan terjadi lagi. Saya minta maaf.”

Ayah berlalu dari hadapan kami dengan langkah lebar-lebar. Ia bahkan tampak tak berselera untuk melanjutkan makan siangnya dan memilih untuk masuk ke dalam ruang kerja miliknya yang terletak di lantai dua.

Lalu aku? Aku hanya berdiri di posisiku dan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kenapa ayah bisa semarah itu? Apakah memang pada dasarnya ia adalah laki-laki temperamental? Tapi kenapa aku tak dapat mengingat kapan terakhir kali ia marah sehebat ini? Entah ataukah ingatanku yang sangat buruk atau memang hal ini baru terjadi untuk pertama kalinya?

Aneh.. tiba-tiba aku teringat kembali akan ucapan usso yang seolah sangat yakin bahwa aku memiliki alergi pada makanan laut. Ia mengatakannya seolah-olah ia telah mengenalku dengan cukup baik sebelumnya. Maksudku tak semua orang mengetahui seseorang sedetail itu. Lalu kemudian ucapan ayah dan bibi natalie… kenapa mereka mengatakan hal yang sama tentangku? Ini semua sangat aneh. Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ada apa dengan orang-orang di sekelilingku.

Ayah mengatakan bahwa jangan mudah menaruh kepercayaan kepada orang lain bahkan walaupun ia adalah orang yang paling dekat denganmu. Mungkinkah itu berarti aku juga harus mewaspadai ayahku sendiri? Tapi untuk apa?! Semua hal yang ia lakukan bahkan termasuk kemarahan yang ia lontarkan, semata-mata hanya untuk melindungiku. Kejam sekali jika aku sampai berasumsi bahwa ayah akan mengkhianatiku. Namun melihat caranya mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar tentang finnick… haruskah aku benar-benar mempercayainya serratus persen? Bagaimana jika ternyata itu benar. Bagaimana jika finnick memang pernah melakukan kesalahan sehingga ayah tak begitu menyukainya. lalu siapa yang harus kupercaya di dunia ini? Apa hubungan dari semua hal dan orang-orang yang berada di sekelilingku??!

“nona? Anda tidak apa-apa?” Bibi Natalie mencekal tangan kananku dan menurunkannya secara perlahan hingga dapat kulihat beberapa helai rambut pirang terselip di antara jemari lentik milikku. Wanita paruh baya bersurai hitam itu menatapku khawatir hingga membuatku terkesiap dan menyadari bahwa kedua orang pelayan yang tengah membersihkan pecahan piring itu menatapku terheran-heran.

“apa yang terjadi padaku?”

“anda berteriak dan mulai menjambak rambut anda sendiri nona.. ada apa nona?”

“benarkah? Kenapa aku tak merasa melakukan hal itu?” Mereka yang berada di ruang makan saling berpandangan. Mungkin tak mengerti dengan ucapan dan tindakan tak singkron yang baru saja kulakukan.

“Sudah lanjutkan pekerjaan kalian.” Bibi Natalie beralih untuk membimbingku menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarku yang terletak di ujung lorong lantai dua. “anda harus banyak istirahat nona..”

idyllic-bedroom-balcony-decoration-pictures

Aku hanya membisu ketika kepala pelayan rumah kami membenarkan posisi bantalku sebelum aku berbaring di atas tempat tidurku. Ia tersenyum ramah sambil menyelimuti tubuhku.

“apa ada yang anda butuhkan nona?”

“tidak terimakasih.. hmm.. aku ingin tidur siang, kau bisa keluar sekarang.”

“baiklah nona.. jika anda membutuhkan sesuatu silahkan berteriak saja.”

“hmm..” Bibi Nat menurunkan suhu pendingin ruangan karena memang musim panas kali ini matahari bersinar terang di daratan California. Kemudian ia hendak menutup pintu namun panggilanku membuat langkahnya terhenti.

“Bibi.. bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“silahkan nona..”

“apakah aku memang memiliki alergi terhadap seafood?”

Ia menatapku dengan wajah heran, terlihat dari lengkungan alisnya yang terbentuk secara refleks.

“saya tidak mengerti… “ Ia menghampiriku. “apakah nona tak mengingat peristiwa sewaktu anda masih di taman kanak-kanak?”

Aku bangkit dari posisi tidurku dan menyandarkan tubuhku diantara boneka dan bantal-bantal yang berjejer di tempat tidur queensize milikku.

“aku lupa, bisakah bibi cerita lagi padaku?”

Ia mendekat dan duduk di pinggir ranjangku.

“waktu itu adalah hari pertama nona masuk ke taman kanak-kanak..” manik mata hijaunya mulai menerawang. “..dan sekolah mengadakan pesta penyambutan dimana banyak sekali makanan korea terhidang di sana. Anda tak sengaja memakan sushi dan melahapnya dalam jumlah yang cukup banyak. Beberapa menit kemudian anda mengalami kejang dan harus di rawat di rumah sakit karena penyempitan saluran pernafasan akibat reaksi alergi yang ditimbulkan.”

Tatapan matanya mengarah ramah ke arahku.

“tuan Daniel sangat menyayangi anda nona.. beliau pernah hampir kehilangan anda. Dan saya sangat mengerti kenapa beliau marah sekali akibat kejadian tadi.” Kepala pelayan itu menghela nafasnya, yang dapat kutangkap ada sedikit kepenatan disana. ”Saya harap nona tidak salah paham dalam mengartikan kemarahan ayah anda. Tuan Daniel hanya ingin melindungi nona, karena anda adalah puteri tunggalnya.”

“Oh begitu rupanya..” aku merebahkan kembali tubuhku dan mulai menerawang langit-langit kamarku yang berwarna putih cemerlang.

“kalau tidak ada yang ingin anda tanyakan lagi, saya permisi nona..”

“hmm terimakasih bibi Nat.”

Sengaja aku menunggu Bibi Natalie menutup pintu kamarku dan berdiam diri sejenak hanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah pergi dari area luar kamarku. Aku memiringkan tubuhku sambil memeluk guling. Manik mataku mengarah menatap jam beker yang diletakkan di sisi kiri tempat tidurku. Jarum pendeknya masih berada di antara angka dua dan tiga, sementara otakku masih memproses apa yang baru saja terjadi padaku.

Wajah laki-laki yang kutemui di restoran waktu jam makan siang tadi masih terlukis jelas dalam anganku. Ia sangat tampan, maksudku dengan tulus kukatakan bahwa ia benar-benar good looking. Namun sikapnya membuatku tak habis-habis memikirkannya. Bagaimana bisa ia tahu bahwa aku memiliki alergi terhadap makanan laut? Dan tatapan itu… oh Ya Tuhan. Walaupun tatapan itu seperti seorang psikopat, namun ada kelembutan di sana. Ya, bayangkan saja, ia menatapku dengan mata tajamnya seolah-olah aku ini adalah mangsa buruannya. Seolah-olah ia belum pernah melihat burua secantik diriku. Oke, ini berlebihan. Karena jujur saja aku tak memiliki kata-kata lain untuk menggambarkan seperti apa dirinya tadi.

Mungkinkah aku pernah bertemu sosok sepertinya sebelum hari ini dan lusa kemarin saat ayah menghajarnya? Bagaimanakah jika ia sebenarnya adalah teman sd, smp, sma, atau bahkan temanku sewaktu di taman kanak-kanak. Ataukah ia seorang teman yang kutemui di sebuah tempat kursus yang pernah ku ikuti?

Aku memejamkan kedua kelopak mataku. Wangi lemon mint bercampur dengan udara dingin dari air conditioner sungguh menenangkan. Dan aku mulai mencoba mengingat kembali apa yang sudah terlewat olehku.

Bagaimana sebenarnya masa laluku? Bagaimana aku menghabiskan masa-masa remajaku? Siapakah cinta pertamaku?

Apa yang terjadi padaku? Semakin aku berusaha mengingatnya, rasanya semakin kelam. Seolah-olah aku terjebak di lorong gelap yang tak berujung. Kemudian kurasakan kepalaku mulai berdenyut-denyut dan rasa pusing jauh lebih mendominasi sekarang. Arghh! Aku menyerah! Aku memang payah, aku tak dapat mengingat apapun dan hal itu jauh membuatku lebih frustasi.

Aku bangkit dari posisi tidurku dan mulai berjalan mondar-mandir di sekitar tempat tidurku.

Ah.. mungkin aku bisa menemukan sesuatu, atau mungkin benda yang bisa mengarahkan ingatanku dengan lebih baik.

Buru-buru aku mengambil ponselku dan mengecek kotak pesan dan aplikasi chatting, namun tak ada satu pesan pun di sana. Seolah-olah ponsel ini benar-benar masih baru. Kemudian jemariku mengarah untuk membuka list kontak yang mungkin saja masih menyimpan nomor teman-teman lamaku. Namun kembali aku harus menelan kekecewaan karena hanya terdapat kontak ayah, finnick, nomor telepon rumah serta nomor telepon kantor ayah. Sisanya hanya beberapa kontak darurat seperti 911, kantor polisi terdekat, beberapa nomor jasa taksi, Oh bahkan nomor beberapa restoran cepat saji. Hell! Apa-apain ini?! Aku memang jarang sekali menggunakan telepon genggam, Semahal dan secanggih apapun fitur-fitur yang ditawarkan. Namun sungguh aku sendiri pun tak habis pikir dengan isi ponselku ini. Aku memutar kedua bola mataku. Lagi.. aku tak dapat menemukan apapun di bagian gallery foto maupun video. Hanya ada dua buah foto yang kuambil bersama finnick. Mungkin foto dua bulan lalu saat kami menghabiskan waktu di taman rumah sakit. Cuaca cukup mendung kala itu, namun kami berdua cukup gila untuk keluar menikmati udara dingin. Dengan rambut pirangku yang berkibar tertiup angin finnick mengarahkan kamera depan ponselku hendak mencium puncak kepalaku, namun fotonya menjadi failed karena ia tampak seperti seorang pria psikopat yang wajahnya dipenuhi oleh rambut kekasihnya.

Hanya itu. Sisanya tak ada satupun foto ataupun video lain.

Arghh! Aku membanting ponselku ke atas ranjang dengan perasaan kesal yang sangat akut. Kepalaku sangat pusing dan aku tak dapat menemukan apa yang ingin kutemukan.

Namun aku tak semudah itu menyerah. Jadi kembali dengan mengabaikan rasa pusing, kutelusuri dengan lebih teliti setiap cabinet dan laci yang ada di dalam kamarku. Hingga tak sengaja kubuka laci meja riasku yang terletak di bagian paling bawah. Terdapat beberapa bingkai foto disana dan hal itu cukup membuatku tercengang. Oh Tuhan..

.

.

TBC

what happen next?

Author’s note :

saya nggak mengingkari janji lho dengan update tgl 27-08-2015 jam 00.01 hihihiw.. Ayo dong, kali ini kasih saran dan kritik serta tanggapannya tentang ff yg saya buat., Kira-kira gimana sih menurut kalian ff yang saya buat ini?terlalu mainstream? (soalnya aku mah tidak bisa bikin ff married life, werewolf, incubus, vampire, yg sekarang lagi kekinian banget *lol*) Atau masukan ide cerita juga boleh karena saya baru bikin dua chapter selanjutnya,, jadi cerita akhir masih mungkin berubah, apalagi wangsit itu rasanya datang silih berganti bikin bingung >___< Okayy akhir kata salam sejahtera semuanya~~ kisshugxoxo

19 responses to “[5th Chapter] ILLUSION by arin yessy

  1. Aku ketinggalan beberapa chapter ternyata 😀
    ato yang kemaren” baca di wp sebelah ya?
    Aku pikir Myungsoo yang jahat ternyata ayahnya ya? ato siapa sih? gatau hihi

    kan curiga juga kalo Irene bukan anak kandung
    tapi sumpah penasaran banget sama Finnick

  2. eonn, aku kesulitan baca chapter ini 😥 halamannya entah kenapa jadi lwbar bangetttt. jadi aku mesti bolak-balik ke kanan & kiri buat nyelesaiin setiap paragrafnya :’3
    eon, hahaa XD lebih baik kamu lupakan ‘semesti kodratnya’ aja lah ya XD aku jadi.. haha /.\ aku jadi kepikiran soal itu masalahnya 😀

    as ussual, rapi, there’s no typo, bahasa tertata, kayaknya ga ada yg perlu aku protes mengenai review cerita, kecuali nagih kelanjutannya o_O aku tunggu eonn..

    ohyaa, aku nunggu diksi yang bisa buatku terbang tinggi ke awang xD

  3. eonn, aku kesulitan baca chapter ini 😥 halamannya entah kenapa jadi lebar bangetttt. jadi aku mesti bolak-balik ke kanan & kiri buat nyelesaiin setiap paragrafnya :’3
    eon, hahaa XD lebih baik kamu lupakan ‘semesti kodratnya’ aja lah ya XD aku jadi.. haha /.\ aku jadi kepikiran soal itu masalahnya 😀

    as ussual, rapi, there’s no typo, bahasa tertata, kayaknya ga ada yg perlu aku protes mengenai review cerita, kecuali nagih kelanjutannya o_O aku tunggu eonn..

    ohyaa, aku nunggu diksi yang bisa buatku terbang tinggi ke awang xD

    • Wuahh masak sih kok bisa?? TAT padahal d hpku tampilannya biasa loh.. >__< okayy deh serah qm aja ya hihiw
      Okayy smg besok2 aq bisa bikin diksi yg bikin melayang,, tp agak susah sih skrng soalnya ffnya emg rada aneh, bukan sweet2 begimanahhh yg gampang bikin ngefly /ngeles/

  4. iy nihh agak penasaran jga sma finnick,,
    tp itu ayah nya irene serem jga ya klo marah,smpe sgtu nya..
    jangan” di daniel braun itu cinta lgi sma irene,,bukan cinta sbgai ayah dn anak,tp cnta sbgai laki” ke perempuan..
    tpi ini cma spekulasi qu aja ya..hha…
    bner” penasaran apa yg d temuin sma irene di laci itu,,author ny pinter deh bkin orang penasaran..
    trus buat irene yg gk nyadar dy udh teriak n jambak rambut sndiri itu emng agk aneh ya,kya nya gangguan jiwa nya blm spnuh nya pulih deh…
    d tnggu kelanjutan nya..
    mksh jga udh update cepet,,seneng dehhh ^-^

    • Finnicknya nongol kalau posternya udah jadi ya.. Hihi
      Yah tebakanmu bisa jadi bener bisa juga enggak.. *lah/
      Iyap sama2, thanks jg ya udh read n comment *xoxo* peluk kecup dari myungsoo

  5. yoho aku seneng pas buka SKF muncul ff ini, secara baru pulang sekolah jadi semangat gitu ya bacanya-curhat-. liat fotonya myungsoo “glek” nelen ludah yaallah ganteng bangaet itu orang, ini irene side ya? ussonya, banyakin moment mereka dong aku penge pengen!!!. finnick itu pengaruh gak sih sama cerita di ff ini?, apa ada masalah yg disebapin sama dia apa gak?, dan buat aku visualisasi finnick -LEObermukaTEYEONG- siapa aja boleh asal gak lebih ganteng dari myungsoo, biar gak ada penyesalan-_-”

    ok makasih buat FFnya menghibur aku banget, next chapternya ditunggu banget ^^

    -yehet-

    • Huaa senengnya ada yg nungguin..
      Yap, so pasti finnick berpengaruh banget disini.. Dy bisa d bilang tahu semuanya 😀 visualnya bebas, terserah qm aja deh hihi
      Okayy makasi udah read n comment ya ^^ pelukcium dari myungsoo
      Next chapternya bakal d banyakan irene ussoo momment 😀

  6. kepo banget sama finnick..engga sabar nungguin chapter selanjutnya..
    chapter selanjutnya kira2 di post tanggal berapa dan klo bisa jangan lama2 ya thor.. terus banyakin momen irene sama myungsoo nya biar lebih gimana gituu..
    ^^

  7. aaaiisshh harusnya tak ada aja kata tbcnya hehehe 😀 bikin penasaran aja siapa sih sebenarnya si myungsoo itu,aaiissh udah lupa juga aku sama jalan ceritanya ini -_- tapi tetep lanjutannya jangan lama-lama ya yes 🙂

  8. Pingback: [6th Chapter] ILLUSION | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply to dilut Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s