ILLOGICAL MEETING ?

im

Tittle : ILLOGICAL MEETING ?

Author : Luvelylu

Main cast : Luhan | Shin Ahrin (OC)

Length : ONESHOOT

___

 

“Reuni?”

Aku membanting ponselku ke sisi kanan –masih di atas tempat tidurku. Setelah membaca pesan dari Minjung— teman sekolah dasarku, aku yang awalnya berniat bangun pagi-pagi kini kembali meringkuk di tempat tidur.

Apa salahnya dengan reuni?

Oke—bukan acaranya yang ku permasalahkan, hanya saja seseorang yang pasti juga datang di acara itu. Bukan seseorang yang ku benci sampai aku malas melihatnya, dia hanya seseorang yang akan mengacaukan hari-hariku jika aku bertemu dengannya lagi. Ya, karena aku pasti akan memikirkannya –lagi- sepanjang hari hingga membuatku tidak berkonsentrasi dengan apapun yang sedang aku kerjakan.

Luhan. Apa dia akan datang?

___

“Ayolah Ahrin-ah. Sudah lima tahun sejak kita lulus sekolah dasar, kita tidak pernah bertemu lagi bukan?”

Minjung masih menggelayuti lenganku, sahabat kecilku itu datang ke rumahku karena aku tidak kunjung membalas pesannya. Dan kini ia semakin merengut sebal mendengar jawabanku bahwa aku malas datang ke acara itu.

“Tapi kita masih bisa bertemu dimanapun Minjung-ah. Kita juga masih berstatus pelajar, belum berpencar-pencar. Sebagian besar masih berada di dalam kota.” jawabku mencoba memberi alasan yang logis.

Ya, sekarang angkatanku memang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Masih banyak teman-temanku yang mudah ditemui tanpa perlu diadakan acara reuni.

“Ish, kau menyebalkan !” gerutu Minjung, gadis itu bersedekap dengan wajah kesal.

Aku menghembuskan nafas panjang, “Jika kau mau datang, datanglah! Aku tidur saja di rumah.”

“Tapi Ahrin-ah, sejak kecil kita selalu bersama. Berangkat dan pulang bersama, bahkan kita satu tempat duduk. Jika kau tidak ada, mereka akan menanyakanmu padaku, begitu juga sebaliknya. Kita seperti pinang dibelah dua. Kau ingat bukan?” celoteh Minjung tanpa putus.

Aku mendesis, penjabaran Minjung memang sebagian besar benar, tetapi itu sedikit berlebihan. Sungguh.

Aku melirik Minjung, kini gadis itu memasang puppy eyesnya. “Ku dengar Luhan juga datang.”

Satu kalimat yang berpengaruh besar padaku. Aku melirik Minjung yang kini sedikit menampilkan senyum jahil. Dan aku berusaha menormalkan ekspresiku kembali.

“Lalu?”

“Lalu kau bisa bertemu dengannya, lalu kau bisa melepas rindumu padanya, lalu kau bisa berbicara banyak dengannya, lalu—”

Stop it!

“Ayolah. Aku tahu kau masih menunggunya.”

“Tidak.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Tapi dia sudah benar-benar pulang dari Beijing.”

Aku tak menjawab lagi. Nama pemuda itu memang selalu membuatku bungkam, entahlah.

“Cobalah Ahrin-ah, sampai kapan kalian bersikap tak saling mengenal eoh?” Minjung berkata lembut seolah tidak ingin menyakiti hatiku yang mungkin akan hancur walau hanya tergores sedikit hembusan angin.

“Dia yang memulainya.”

“Maka ini saatnya kau meluruskan semuanya.” Tegas Minjung memberi semangat. Aku menoleh menatapnya dengan tatapan sayu –mungkin.

“Apa yang harus diluruskan? Semuanya memang benar, aku menyukainya, dia mengetahui perasaanku dan menjauhiku.” Lirihku terdengar sedikit bergetar di telingaku.

Tangan Minjung bergerak mengusap punggungku lembut, “Ya. Tapi jika kau sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, ku rasa semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu bersikap normal di hadapannya.”

“Sayangnya tidak. Aku tidak tahu mengapa dia terus berada di pikiranku, berputar-putar disana. Membuatku pusing.”

Minjung menarik nafas panjang, “Kapan kau bertemu terakhir kali dengannya?”

“Di restoran china di depan sekolahku. Tapi dia tidak melihatku.” Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga. Jujur saja, mengingat pertemuan-pertemuan tidak terduga itu membuat hatiku menghangat.

“Tapi teman-teman yang lain juga ingin bertemu denganmu. Apa kau di pikiranmu hanya akan ada Luhan disana? C’mon Rin-ah—banyak hal yang bisa kau lakukan untuk mengalihkan pandanganmu darinya. Eoh?” Minjung masih mencoba membujukku yang tengah bernostalgia dalam lamunan.

“Ahrin-ah?”

“Kapan acaranya?”

Minjung tersenyum sumringah mendengar pertanyaanku, “Eum, sabtu malam. Pukul tujuh sampai dengan selesai.”

“Sabtu ini?”

“Ya..”

Aku tidak ada acara. Aku ingin datang—

Aku melirik Minjung lalu tersenyum tipis, “Emm—baiklah. Akan ku pikirkan.”

Minjung tersenyum lalu mengusap rambut hitamku yang tergelung asal. “Oke. Aku menunggumu.”

.

___

.

Author POV

 

Ahrin mengeluarkan dua gaun favoritnya dari dalam lemari pakaiannya. Satu simple dress dengan lengan tigaperempat berwarna peach lima centi di atas lutut. Di bagian bawahnya berbahan jatuh sehingga menimbulkan efek mengembang ketika ia bergerak ataupun ketika terkena angin. Satu dress lagi berwarna coklat tanpa lengan dengan ikat pinggang kecil melingkar di bagian perut.

Kedua dress itu masih ditimang-timang di kedua tangannya. Namun memikirkan ia yang dulunya menolak pergi kini justru terlihat sangat bersemangat membuatnya tersenyum kecil.

Ya. Ahrin akan menghadapi apapun yang terjadi nanti. Ia –sedikit- berharap, Luhan akan melupakan semua masalah di antara mereka –walaupun tidak jelas apa yang membuat hubungan mereka menjadi seperti sekarang ini, terasa jauh dan asing.

Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia tidak berharap lebih. Nyatanya sudah bertahun-tahun ia tidak melihat batang hidung Luhan, tetap saja pemuda itu menghuni hati dan pikirannya.

Cinta saat sekolah dasar? Tidak—dulu Ahrin pikir ia akan menyukai Luhan, ya, hanya sebatas suka ala anak-anak kecil. Dan siapa sangka akan berkembang sebesar ini?

Ahrin menggeleng menghentikan lamunan yang mulai menhanyutkannya. Ia menjatuhkan pilihan pada dress peach pemberian eommanya kemudian berlari menuju toilet untuk mengganti pakaian.

.

___

.

Ahrin mengecek kembali ponsel touchscreennya. Baru saja Minjung memberinya kabar bahwa acaranya berpindah ke sebuah café. Apa mereka menyewa sebuah café?

“Dimana?”

“Aku tidak membawa mobil.”

“Taksi.”

“Pulangnya? Aku bisa minta jemput.”

“Oke. Sampai jumpa.”

Bip.

Ahrin memutuskan sambungannya ketika Minjung sudah pasti berada di café yang dimaksud. Gadis itu cepat-cepat menghentikan  taksi yang melintas dan segera menghubungi Minjung dan teman-temannya yang lain.

___

.

Ahrin melangkah pelan setelah ia keluar dari sebuah taksi. Sepatu highheels lima centinya menapak perlahan memasuki area café yang belum begitu ramai. Senyumnya terbit ketika ia melihat sosok Minjung yang tengah tertawa bersama dua temannya yang lain –Sooyeon dan Chaerin.

“Hai apa kabar?” sapa Ahrin setelah menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi.

“Baik. Kau bagaimana? Ku dengar kau menolak datang.” sambar Sooyeon cepat.

Ahrin hanya menampakkan cengirannya.

“Kau pasti tidak tahan ingin bertemu denganku.” Ucap Chaerin dengan senyum penuh percaya dirinya. Ahrin dan Minjung menatapnya malas sementara Sooyeon tertawa keras.

“Mengapa tempat ini sepi sekali?” tanya Ahrin menatap sekeliling.

“Salah satu teman kita menyewa tempat ini. Jadi malam ini khusus untuk acara kita saja.” jelas Chaerin sembari melahap kue kering yang sepertinya sudah sengaja di siapkan di setiap meja.

Ahrin mengangguk paham. Bola matanya melirik ke arah pintu masuk, tampak dua gadis cantik memasuki café dan langsung menyapa mereka berempat.

Semua orang disana larut dalam obrolan mereka. Sementara Ahrin, hatinya selalu gelisah setiap ia merasakan seseorang memasuki café. Ia belum siap—belum siap bertemu Luhan- seseorang yang  sempat menjadi alasannya menolak datang ke acara malam ini.

“Dia pasti datang,  tenang saja.” bisik Minjung membuat Ahrin melotot. Minjung terkekeh lalu kembali larut dalam obrolan bersama teman-teman lamanya itu.

“Menungguku?”

Ahrin mendongak menatap suara berat yang tiba-tiba terdengar di telinganya. Ia  mengernyit menatap seorang pemuda tengah tersenyum manis ke arahnya.

“Tidak sama sekali.” Jawab Ahrin malas setelah berhasil mengingat wajah menyebalkan itu.

“Hahaha. Aku tahu siapa yang kau tunggu.” Lanjut pemuda itu sembari mengacak rambut Ahrin. Hal itu membuat beberapa pasang mata menatap mereka.

“Ishh. Berhentilah menggangguku Byunbaek!” geram Ahrin membenarkan tatanan rambutnya. Sementara Baekhyun—atau yang di sebut Byunbaek oleh Ahrin- tertawa lebar.

“Dia datang.” Singkat Baekhyun sembari melirik ke arah pintu masuk. Dan senggolan Minjung di lengannya semakin meyakinkannya bahwa Luhan benar-benar sudah datang. Apa yang harus ku lakukan?

Ahrin melirik Minjung, ia mencoba rileks dan kembali berceloteh dengan teman-temannya. Ahrin bahkan tidak sanggup melirik Luhan yang mulai ia rasakan keberadaannya. Ia tidak bisa menuruti keinginan hatinya yang sangat merindukan pemuda blasteran Korea-China itu.

“Sebenarnya siapa yang menyewa tempat ini?” tanya Ahrin mencoba membuka sebuah topik pembicaraan.

“Anonymous. Aku hanya disuruh memesan tempat ini atas nama angkatan kita.” Jawab Sooyeon yang disambut tatapan penasaran dari teman-temannya.

“Apa Junmyeon?” celetuk seorang gadis yang duduk di depan Chaerin. Ia menyebut nama salah satu siswa yang merupakan seorang chaebol.

“Bukan. Jika benar Junmyeon maka dia akan menyajikan kita kue brownies bertabur emas dan tisu di toilet terbuat dari dollar.”ucap Minjung datar namun seketika di sambut gelak tawa seluruh penghuni meja berukuran lumayan besar itu. Ia teringat Junmyeon yang seringkali membuat lelucon bertemakan kekayaannya.

“Apa dia datang?” tanya Ahrin lagi.

“Siapa? Luhan? Dia sudah datang Ahrin-ah.” Celetuk Sooyeon dengan nada lumayan keras. Ahrin melotot ke arahnya. Aduh—yang dia maksud adalah Kim Junmyeon, sungguh.

“Maksudku Kim Junmyeon.” lirih Ahrin sembari menunduk malu karena kini beberapa temannya telah berseru senang.

Semenjak sekolah dasar, ia dan Luhan memang sering menjadi bahan ledekan teman-temannya karena kedekatan mereka. Mereka selalu bersama saat ada tugas kelompok, dan Ahrin sering menemani Luhan sepulang sekolah untuk menunggu jemputan Babanya di depan gerbang sekolah mereka.

Dan sialnya, pasangan fenomenal itu masih hidup di kepala teman-temannnya. Tanpa mereka tahu apa yang telah terjadi di antara dua anak manusia itu.

“Mengapa kalian tidak berangkat bersama?” tanya seseorang yang nampaknya duduk satu meja dengan Luhan. Nada bicaranya sangat kelas seolah-olah ia sedang bertanya pada semua orang yang berada di tempat itu.

“Apa kita perlu menyiapkan meja untuk pasangan? Dengan dua kursi dan lilin di tengah meja?” celetuk yang lain.

Ahrin ingin melihat ekspresi Luhan saat ini, sungguh. Walaupun saat ini pun ia tidak mampu menunjukkan wajah di depan teman-temannya.

“Ayolah mengapa kalian diam saja?” kali ini Sooyeon yang bersuara. Gadis berkacamata itu menoel pipi Ahrin yang merona merah.

“Tidakkah kalian mengundang band sebagai hiburan?”

Luhan bersuara. Ya, Lu. Alihkan perhatian mereka.

“Apa? Kau ingin menyanyikan lagu untuk Ahrin?”

Uhh— menyebalkan sekali !

.

___

.

Jemari Ahrin memutar-mutar ponselnya di atas meja. Sementara Minjung sudah mendesah lelah setelah berhasil membujuk Minjoon—adiknya- untuk menjemputnya –walaupun dengan perdebatan panjang terlebih dahulu.

“Lalu kau bagaimana? Sudah ada balasan?” Minjung memandang Ahrin yang tampak gelisah menunggu respon dari Appa nya yang tak kunjung membalas pesan yang ia kirim.

“Belum.”

“Chaerin tidak membawa mobil?”

“Dia di jemput.”

“Sooyeon? Baekhyun?”

“Sooyeon membonceng Minhyuk. Baekhyun—” Ahrin memandang sekeliling untuk mencari keberadaan pemuda itu.

“Apa Baekhyun belum pulang?” tanya Minjung pada seseorang yang melewati meja mereka. Ahrin menoleh dan bibirnya terkatup rapat memandang seseorang itu. Luhan !

“Dia di toilet.” Singkat Luhan

“Kau sendiri?” Minjung menunjuk Luhan.

Luhan mengangguk, “Ya, aku juga akan pulang.”

“Kau membawa mobil?”

Luhan mengangguk lagi.

Dan Ahrin, ia mulai mengernyit curiga mendengar pertanyaan terakhir Minjung.

“Bisa kau antar—”

“Ahh—dimana Baekhyun? Toilet? Oh aku akan menunggunya disana saja.” potong Ahrin setelah mengagetkan Minjung karena gadis itu berdiri dari kursinya tiba-tiba.

Ahrin tersenyum canggung kemudian pergi menuju tempat yang ia maksud.

“Kau yang membuatnya begitu.” ucap Minjung setelah mengalihkan pandangan dari Ahrin ke depan pemuda berdarah China itu.

“Aku?”

“Eo. Kau! Mengapa kau menjauhinya setelah kau tahu perasaannya. Aku sedih melihatnya begitu.”jelas Minjung dengan nada pilu di akhir kalimatnya.

“Aku tidak menjauhinya. Aku memang sudah berencana pergi ke Beijing setelah lulus sekolah menengah pertama.” Jawab Luhan tanpa beban.

Minjung menghela nafas panjang, “Tapi kau tidak perlu berpura-pura tidak mengenalnya begitu.”

“Lagipula aku tidak yakin dia memiliki perasaan semacam itu.”

“Yak! Kau ini. Apa aku perlu merekam semua pengakuannya untuk meyakinkanmu?” kesal Minjung. Luhan masih menatapnya datar.

“Kau boleh tidak membalas perasaannya, tapi kurasa caramu salah Lu. Kau semakin menyakitinya.” lirih Minjung seolah-olah mengetahui perasaan Ahrin dengan sangat jelas.

“Ku pikir kita hanya terjebak dalam suasana canggung.” Jawab Luhan mulai melunakkan pandangannya yang semula datar tanpa ekspresi.

Terdengar helaan nafas Minjung, “Huh. Terserah kau saja.”

Minjung berniat melangkah pergi, namun seketika ia kembali berbalik menatap Luhan.

“Antar Ahrin pulang, adikku sudah menjemput. Dan jujur saja saat mengobrol denganmu aku melihat Baekhyun berjalan menuju parkiran. Dia sudah pulang !” ucap Minjung panjang.

“Tapi—”

“Terserah. Yang kutahu hanya kau dan Ahrin yang tersisa disini.”

“Semoga kau ingat ini hampir tengah malam dan Ahrin adalah seorang gadis.” Lanjut Minjung enteng kemudian melenggang pergi.

Luhan mendengus lalu dengan kasar menarik satu kursi terdekat dan duduk. Pemuda itu menunduk dengan tangan kanan menyangga kepalanya di kening. Nafasnya memburu. Ia gugup, sungguh.

.

___

.

“Apa benar Baekhyun di toilet? Kenapa lama sekali?”

Ahrin meremas ujung dressnya. Ia berjalan bolak-balik di depan pintu toilet pria. Ia sedikit berjingkit kaget ketika seseorang keluar dari pintu.

“Eoh, permisi ahjussi. Apa masih ada seseorang di dalam?”

“Sudah kosong agashi, baru saja ahjussi bersihkan karena café ini sebentar lagi di tutup.” Jawab pria setengah baya itu ramah.

Ahrin mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih kepada pria yang ternyata petugas kebersihan restoran itu.

“Huh, lalu bagaimana aku pulang? Appa kenapa tidak membalas pesanku?” Ahrin berjalan gontai sembari mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

“Menyebalkan sekali. Tega sekali tidak mengangkat telepon atau membalas pesanku. Appa kau—”

Nafas Ahrin tercekat ketika mata bulatnya menangkap sosok Luhan yang baru saja berdiri dari duduknya. Perlahan bola matanya memandang sekeliling restoran yang kini terlihat lebih sepi. Ia hanya melihat dua pegawai tengah membersihkan meja dan menyapu lantai.

“Minjung?”

“Dia sudah pulang. Ayo pulang.” jawab Luhan datar dan cepat. Namun pendengaran Ahrin masih cukup normal untuk menangkap apa yang di ucapkan pemuda itu.

“Pulang?”

“Ya. Ku antar.” singkat Luhan namun berhasil membuat Ahrin serasa membeku di tempatnya. Luhan telah melangkah keluar, dan Ahrin belum bergerak. Pulang bersama Luhan? Yang benar saja.

“Apa appamu menjemput? Kau menunggunya?” tanya Luhan yang kembali memasuki restoran. Ahrin terkesiap, ia segera tersadar kemudian menggeleng cepat.

Gadis itu melangkah kecil mengikuti langkah Luhan menuju parkiran. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengikuti Luhan memasuki mobil pemuda itu.

“Rumahmu masih sama ‘kan?” tanya Luhan setelah menyalakan mesin mobilnya.

“Ya.”

Dan—hening.

Luhan fokus menyetir dan Ahrin memainkan ponselnya –membuka menu kemudian kembali lagi, membuka kontak, atau galeri foto.

Bip

Mata Ahrin melebar melihat pesan yang baru saja masuk. Seketika ia mendongak, ia mendesah menatap jalanan yang sudah sangat ia kenal. Ini sudah memasuki komplek rumahnya. Dan pesan yang baru saja masuk tadi mengharuskannya berbalik arah.

From : Appa

Appa di rumah halmeoni, dia sakit. Kau kemari saja di rumah tidak ada orang.

Dengan gerakan seperti robot Ahrin menoleh ke arah Luhan. “Emm—Lu. Aku di suruh Appaku pulang ke rumah halmeoni saja. Sekarang rumahku kosong.”

Luhan melirik Ahrin sekilas, dahinya berkerut. Namun kemudian ia memelankan laju mobilnya.

“Rumah halmeonimu juga masih sama ‘kan?” tanya Luhan lagi.

“Ya.” Jawab Ahrin merasa tak enak hati. Namun ia bersyukur Luhan tidak memasang wajah kesal atau semacamnya. Pemuda itu langsung memahami ucapannya kemudian berbalik memutar arah.

Bagaimana Luhan mengetahui rumah halmeoninya? Ya— kalian tebak saja seberapa dekatnya mereka dulu.

“Apa tidak apa-apa?” tanya Ahrin memberanikan diri menghadap Luhan.

Luhan menoleh kemudian tersenyum tipis. “Ya, tenang saja.”

Ahrin segera mengalihkan pandangannya. Luhan tersenyum ! Ini bukan Luhan kecil yang lucu dan menggemaskan, tapi Luhan dewasa yang tinggi dan tampan. Bagaimana Ahrin menahan senyum bahagianya?

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, berkali-kali ia mengambil nafas panjang. Jemarinya pun tak luput dari efek kegugupannya, ia meremas dressnya sampai kusut.

Huh, seharusnya aku sudah sampai rumah beberapa menit lalu.

Ahrin melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

Tapi kapan  aku bisa bertemu Luhan lagi?

Pertanyaan itu membuatnya menoleh kembali ke arah Luhan. Bibir Ahrin melengkung membentuk senyum tipis ketika melihat wajah rupawan Luhan. Dari samping seperti ini, garis wajahnya nyaris sempurna, hidungnya mancung dipadu dengan rahangnya yang tegas. Uhh— Ahrin bagaimana kau akan melupakannya jika yang kau suka seperti ini bentuknya?

Tapi aku menyukainya sejak gigi depannya ompong dan dia masih cengeng. Jika pada akhirnya dia menjadi tampan, itu berarti bonus untukku.

Ahrin tersenyum kecil menanggapi pemikirannya.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?”

Suara berat itu menghentikan lamunan Ahrin, gadis itu menoleh, “Apa?”

“Apa saja.”

Ahrin menelan ludah susah payah, apa maksud Luhan adalah mengenai perasaannya?

“Setelah lulus kita masih saling berkomunikasi, tapi ku rasa sekarang berbeda cerita.” Luhan mencoba sedikit membuka permasalahan yang terjadi di antara mereka.

“Aku tidak percaya kau memiliki perasaan itu. Sampai kau mengatakannya sendiri.”

Waw, to the point sekali pemuda tampan ini.

Ahrin membisu, namun hatinya merapal doa-doa bagaimana caranya supaya ia bisa kabur dari situasi ini.

“Aku tahu kita sering bertemu tanpa sengaja, bahkan terkesan tidak masuk akal karena terjadi terus menerus.” ucap Luhan lagi. Ia menoleh singkat ke arah Ahrin.

“Maksudmu?”

“Bertemu di restoran China padahal kau tidak suka makanan China, bertemu di toko buku padahal aku tidak suka membaca, berada di baris bangku penonton yang sama ketika berada di bioskop padahal kita berdua tidak suka menonton.”

What? Sesering itu kah?

“Aku—”

“Apa kau lupa? Ahh mungkin hanya aku yang melihatmu.”

“Mengapa kau tidak menyapaku?” tanya Ahrin hati-hati.

“Saat di restoran aku melihatmu di parkiran sedangkan aku masih di kasir. Dan di toko buku aku di telpon Mama menemaninya ke supermarket dan di bioskop aku tidak mungkin mengobrol denganmu bukan?”

Ahrin mengangguk dengan sedikit rasa haru karena mendengar Luhan berbicara banyak padanya lagi.

“Saat di restoran aku hanya menemani temanku, di bioskop aku dipaksa ikut dengan teman-temanku.”

“Dan apa kau pernah berpikir kenapa kita bertemu bahkan di tempat yang jarang kita kunjungi?” Luhan menoleh menatap Ahrin yang memandangnya bingung.

“Kebetulan?”

“Haha. Yah kau benar.” Ucap Luhan dengan nada yang terdengar aneh di telinga Ahrin. Ia segera menatap ke depan ketika merasakan mobil Luhan melambat dan akhirnya berhenti di depan rumah berpagar hijau muda.

“Eum, aku turun dulu. Terima kasih Lu,”

Luhan mengangguk dengan senyuman menghiasi wajahnya. Ahrin balas tersenyum gugup.

“Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.” ucap Luhan yang membuat Ahrin kembali memandang pemuda itu.

Suasana di antara mereka memang –terlihat- telah mencair, namun rasa gugup di hati Ahrin masih saja menggerogoti nyali gadis itu.

“Ya.” Ahrin berucap singkat kemudian membuka pintu.

Aku tidak percaya kau memiliki perasaan itu. Sampai kau mengatakannya sendiri.

Ahrin membeku sebentar mengingat kalimat yang tiba-tiba bergaung di kepalanya. Ia sudah keluar dari mobil namun ia masih memegangi pintu –belum menutupnya kembali. Hal itu membuat Luhan mengernyit heran.

“Apa ada yang tertinggal?”

Ahrin terkesiap, ia kemudian menunduk melihat Luhan yang masih memandangnya.

“Lu!”

Eo?

“Perasaan itu benar, aku—aku menyukaimu!”

Brak !

Luhan melongo mendengar kalimat Ahrin yang bertempo sangat cepat itu. Ia kembali menoleh melihat Ahrin yang kembali membuka pintu, “Terima kasih !”

Dan pintu mobilnya kembali di tutup dengan sedikit bantingan –lagi.

.

___

 

Ahrin berdiri di depan gerbang yang sedikit terbuka itu. Ia melongok ke dalam melihat beberapa orang duduk di teras rumah neneknya–beberapa orang yang ia kenal.

Ini satnight dan ia pulang malam-malam bersama seorang pria. Huh apa kata orang-orang itu?

Eh, tapi bukankah Luhan tidak sempat membuka kaca mobilnya? Ahh— dia bisa mengatakan bahwa yang mengantarnya adalah teman gadisnya. Hahaha.

“Selamat malam semuaaa…”

Dan gadis itu bergabung dengan saudara-saudaranya yang tengah berkumpul itu.

.

___

Five years later

“Shin Ahrin.”

“Yaa..”

Ahrin melangkah dengan santai menuju ruang HRD, ia membawa beberapa map yang di dalamnya berisi berkas-berkas keperluannya melamar pekerjaan. Dengan modal nilai-nilanya yang lumayan ia percaya akan mendapatkan pekerjaan bagus di perusahaan besar ini.

Ahrin duduk dengan anggun di kursi yang letaknya berada tepat di hadapan petugas HRD yang akan mewawancarainya. Ia tersenyum simpul sembari merapalkan doa dalam hati supaya di beri kemudahan nantinya.

“Permisi.”

Suara itu mengganggu doanya. Ahrin membuka matanya, ia mengernyit heran melihat petugas HRD dengan dandanan lumayan tebal di depannya tengah menatap lurus ke arah pintu masuk.

“Aku mau mengambil berkas adikku. Dia baru saja di wawancarai, tapi salah satu berkasnya tertinggal.”

Ahrin menoleh dan matanya langsung bertemu dengan manik mata coklat pemuda berkemeja putih yang masih berdiri di depan pintu. Ekspresi terkejut sangat jelas terlihat di wajah keduanya.

Kontak mata mereka terputus ketika petugas HRD tadi memang menyimpan berkas calon pegawai yang tertinggal tadi.

“Tolong agashi.” Ahrin menoleh, ia menatap map yang disodorkan padanya. Oh ini milik adik Luhan. Tunggu ! bukankah Luhan anak tunggal?

Agashi.

“Eoh, ne..” Ahrin mengambil map itu kemudian menyerahkan dengan gerakan slowmotion ke arah pemuda tadi –yah, Luhan.

“Terima kasih. Permisi Bu— dan Ahrin.”

Bernafas bernafas bernafas.

Ahrin tersenyum setelah berhasil bernafas sesuai dengan dorongan pikirannya tadi. Luhan membungkuk sebentar kemudian keluar.

“Anda sudah siap?”

“Huh?”

Ahrin menunduk sebentar. Uhh— kemana hilangnya rasa percaya dirinya tadi?

Luhan! Kau datang di saat yang tidak tepat. Kau mengacaukan wawancaraku!

Ahrin mendongak,  ia menunjukkan cengirannya. Entah apa yang ia tertawakan.

Pertemuan yang tidak logis? Hahaha. Lucu sekali.

.

;

___

END

 

Gaje? Wkwk.

Jujur ini ada sedikit pengalaman author juga wkwkwk

Semoga ada yang suka yaa..

Gomaweo ^^

19 responses to “ILLOGICAL MEETING ?

  1. Ini realita banget, emang kadang ada ya anak* yang suka ngajakin reuni tapi anak* yang lain masih pada sekota, lucu hiihi
    Suka banget sama karakternya ahrin, pemalu* gimanaaaa gitu, si luhan nya malah agak dingin, tapi perasaannya luhan ke ahrin sebenernya kaya gimana sih ? Suka juga ngga ya, em jadi bikin penasaran, dan ini end nya masih ngegantung banget, sequel dong sequel, hehe
    Okedeh, aku tunggu fanfic*mu yang lainnya ya, tetep semangat terus !! ^^

  2. keren ceritanya juga baguss.
    tapi masih bingung aja sebenernya gimana perasaan luhan ke ahrin? dan bagian akhirnya juga membutuhkan sequel menurutku but if u mind kkk

    ditunggu karyanya yg lain
    fighting!!!!

  3. Bagus sih thor, cma kek ngegantung gitu, atw cman prasaan aku doank kali yh??? Mnurut aku sih ini btuh sequel bgt..

  4. Aku juga pernah ngalamin kayak gini. Tapi aku gak paham sama alur setelah five years nya. Endingnya emg gantung kayak gini yaa??? Gimana kalo dibikin sequelnya???

  5. Yah sayang banget oneshoot ugh, kalo dilanjutin juga pasti bakal seru. hampir true life banget. pas ketemu emang rada canggung ㅠㅠ kisah aku banget

    tapi sayang aku berbeda sama ahrin dia masih terus lanjut suka sama luhan sementara aku ngga. haha memang berbeda

    BAGUS THOR USAHAIN USAHAIN DONG THOR ADA SEASON BARU kkkkk~

  6. Sayang bgt cuma onesoot padahal seru ceritanya..
    suka deh sama karakternya ahrin, yg gagal moveon kkk~
    aku penasaran sama perasaannya luhan ke ahrin deh.. Akankah perasaan ahrin terbalaskan stelah bertahun2???

  7. Haha 😄 kerennnnn percintaan yg ggl move on makin penasaran nih kedepanya kerennnnn d tunggu next chaper nya fighting unnie ✊

  8. aku kira mereka akan pacaran setelah ahrin bilang tentang perasaan dia me luhan.. taunya nggak tooh -___- daan..aahh mereka emang selalu ketemu di saat2 nggak terduga hhihhi..

    keren kak ffnya.. next project ditunggu

  9. ini sih flashback nyata ke zaman elementary school dulu, waktu rasa sayang kita ke seorang teman (lelaki) belum banyak dianggap nyata oleh orang-orang yang lebih dewasa segi fisik serta pemikirannya dari kita yang masih bocah SD 😥 ih sedih. makasih juga ya, sudah mengingatkanku mengenai sweet memories itu ke aku :’ ini juga terjadi beneran ke aku ㅠㅠ

  10. Ini ffnya lucu ^^ bisa gitu yaaa deket bangett sampe rumah neneknya AhRin Luhan tau wkkwwkkw terus itu luhan ngapain ngambil berkas adiknya? Katanya anak tunggal? Atau jangan-jangan dia sengaja mempertemukan sama AhRin ? Wkwkwkwk seru seru …

    Semangat terus yaaa bikin ffnya hihihi ^^

  11. teernyata meeka saling curi pandang……..ddduuuh dah deh kalau ke2an dah seka ngapain hrs jauh2 dan lose komunikasi…m 🙂
    sangat disayangkan,,,,,,
    good kak
    keep writing!!!!

  12. ya memang ‘reuni’ merupakan kondisi paling canggung. apa lagi kalo ketemu ama orang yg kita suka *ngomong apa sich* 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s