Breakable Heart (Chap 11)

breakable heart

                   Gemerisik tirai yang dibuka adalah hal pertama yang ia dengar, berikutnya aroma terapi perlahan menyergap penciumannya. Jung Hyo Rim enggan membuka mata, tadi adalah tidur paling nyaman yang pernah ia alami. Bahkan Hyo Rim kini mulai menghitung dalam hati berharap kantuk akan mendatanginya kembali.

 

“Bagaimana keadaannya?”

 

Dihitungan ke dua puluh lima suara itu memecah konsentrasi Hyo Rim.

 

Hwang Mi Young batin Hyo Rim mengenali pemilik suara tadi.

 

“Tinggal menunggu ia bangun, ia kehilangan banyak tenaga setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya”

 

“Apa yang dokter katakan?”

 

“Sianida.” Bisik Kyuhyun.

 

Hyo Rim menegang dalam tidurnya. Racun Sianida bukan kata asing baginya. Hyo Rim mengetahui Sianida melalui buku-buku misteri yang ia baca. Salah satu racun pembunuh nomor satu di dunia, keberadaannya sulit untuk dideteksi, target pertama yang Sianida serang adalah organ pernafasan. Dalam benaknya terputar kembali ingatan sebelum ia kehilangan kesadaran. Hyo Rim mengingat jelas setelah Kyuhyun membanting pintu kamar hotel, ia beranjak bangun meninggalkan tempat tidur dan meraih botol sampanye. Sesak nafas, seolah-olah seluruh udara di sekitarnya tercerabut begitu saja, dan hal terakhir yang Hyo Rim ingat hanyalah derit pintu dan derap kaki yang mendekat.

 

“Ya Tuhan, seandainya kau telat datang beberapa detik saja,” Pekik Mi Young,

 

“Aku tak ingin membayangkan hal itu sama sekali.”

 

“Tapi siapa yang tega mencampur racun dalam gelas sampanye itu? Ia pasti memiliki dendam yang besar sehingga berani melakukan tindakan keji.”

 

“Polisi masih menyelidikinya, dugaan sementara ini tindakan sasaeng fans Choi Siwon.” Sejenak Kyuhyun berhenti menjelaskan karena pekikan tertahan Mi Young, “Rekaman CCTV hotel menguatkan dugaan itu. Seorang gadis remaja terekam mengendap-endap memasuki kamar kami satu jam sebelum kami pulang. Dan kalau kau melihat SNS Hyo Rim yang dipenuhi hujatan serta cacian yang mereka tujukan bagi Hyo Rim, dugaan ini semakin kuat.”

 

“Aku tak percaya, sangat tak masuk akal! Mereka berani menjadi pembunuh hanya karena skandal itu! Ya Tuhan….apa mereka tak berpikir mungkin saja mereka salah sasaran, bisa saja yang menggunakan gelas itu bukan Hyo Rim, tapi—“ Mi Young membiarkan kalimatnya menggantung di udara,

 

“Justru itu yang kuharapkan terjadi, seandainya akulah yang meminum racun itu dan bukan Hyo Rim.” Lirih Kyuhyun,

 

Hyo Rim merasa seseorang menggenggam jemarinya, ingin sekali Hyo Rim membuka mata dan memastikan dugaanya bahwa Kyuhyun-lah yang tengah menggenggam tangannya kini dan air mata Kyuhyun yang membasahi punggung tangannya. Tapi matanya tetap menutup, tak dapat diajak kompromi.

 

“Mi Young-ah, aku takut. Aku takut sedetik saja aku terlambat, Hyo Rim akan pergi meninggalkanku.” Isak Kyuhyun teredam punggung tangan Hyo Rim.

 

“Tenanglah, bukankah racun itu sudah dibersihkan? Sekarang kita hanya perlu tenang dan menunggu Hyo Rim sadar.”

 

Kyuhyun menggeleng, “Aku menyesal, seandainya saja aku tak pergi dan meninggalkannya sendirian atau setidaknya aku tak membawa Hyo Rim berlibur semua ini tak akan terjadi.”

 

Mi Young menggigit bibir bawahnya, sedikit banyak Mi Young juga merasa bersalah. Mi Young-lah yang memberikan paket bulan madu ini tempo hari di villa Kyuhyun, namun sungguh ia tak pernah mengira bencana ini akan terjadi, Mi Young hanya ingin mempermudah jalan bagi Kyuhyun dan Hyo Rim bersama. Mi Young membetulkan posisi duduknya di samping Kyuhyun. Kyuhyun kembali menjadi seorang remaja pria yang lima tahun lalu duduk melingkar di dalam sofa kamarnya. Anak lelaki yang menolak untuk bicara dan mengabaikan setiap makanan yang ia bawa. Hari itu, Han Yoo Jeong meninggal dan Kyuhyun bersikeras untuk tak menghadiri upacara pemakaman ibunya sendiri. Hari ini, sekali lagi Kyuhyun melihat malaikat maut mengunjungi perempuan yang ia sayangi.

 

“Sudah makan?” Tanya Mi Young mencoba mencairkan suasana

 

Kyuhyun bergeming,

 

“Pergi ke kantin dan makanlah dulu, kurasa Hyo Rim akan khawatir melihat keadaanmu saat bangun nanti.” Bujuk Mi Young, lalu melanjutkan, “Nick dalam perjalanan, ia akan bersamaku menjaga Hyo Rim sementara kau makan.”

 

Hening sejenak, Mi Young kembali menepuk pundak Kyuhyun hingga akhirnya Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap tajam Mi Young, “Aku akan tetap di sini.”

 

Setelah itu, Kyuhyun berjalan menuju toilet dan membiarkan Mi Young yang masih tak sanggup menutup mulutnya karena terkejut dengan respon kejam Kyuhyun.

000ooo000

 

“Ayahmu bukan pria yang baik, ia menghancurkan hatiku, selalu-sejak dulu ia hanya menghancurkan perasaanku.”Han Yoo Jeong mengeluarkan sebungkus permen dari balik saku kemeja, lalu membungkuk dan memberikannya pada Kyuhyun, “Kyuhyun-ah, kau menyayangiku kan? Kau tak akan seperti ayahmu, kan?”

 

                Mata Kyuhyun kecil berbinar menatap permen jeruk kesukaannya dan tanpa berpikir ia menggeleng keras mengikuti permintaan ibunya. Yoo Jeong tersenyum, lalu menggenggam tangan Kyuhyun berjalan bersama kembali ke dalam rumah. Mereka dalam perjalanan pulang dari taman bermain, matahari bersinar terang siang itu namun masih ada awan putih yang cukup melindungi mereka dari sengatan cuaca musim panas. Waktu yang tepat untuk bercengkrama bersama orang yang dikasihi. Maka, ketika tiba di pekarangan rumah dan melihat mobil ayahnya terparkir rapi, Kyuhyun berjingkrak kegirangan. Akhirnya Kyuhyun kecil dapat seperti teman-temannya di taman kanak-kanak yang sering berenang bersama ayah mereka di kolam renang untuk umum di hari minggu. Hari ini ayahnya pulang dari dinasnya di Daegu, dan besok hari minggu. Kyuhyun kecil bertekad ia harus membujuk ayahnya kali ini, hanya berenang di kolam renang umum, tidak lebih.

 

                Memasuki ruang keluarga, senyum Kyuhyun semakin merekah melihat punggung ayahnya. Pria tegap itu membelakangi pintu masuk, nampak sibuk dengan pesawat telepon yang terpasang di dinding.

 

                “Persiapkan sekolah dasar terbaik di Seoul, aku ingin Yesung bersekolah di tempat nomor satu di Korea Selatan.”

 

                Yesung? Kyuhyun baru mendengar nama itu. Siapa Yesung yang ayahnya bicarakan? Dan kenapa ayah begitu perhatian pada anak bernama Yesung itu?

 

                Belum sempat pertanyaan Kyuhyun terjawab, bertambah lagi pertanyaan baru karena genggaman ibunya yang semakin erat di tangan Kyuhyun membuat anak itu meringis kesakitan.

 

                “Ibu,”Panggil Kyuhyun sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Yoo Jeong.

 

                Berhasil. Yoo Jeong menoleh dan mengerjap seakan baru menyadari Kyuhyun ada di sana bersamanya. Dengan cepat,Yoo Jeong menyeret Kyuhyun masuk ke dalam kamar dan mengunci anak itu dari luar. Kyuhyun memang tak dapat melihat apa yang terjadi berikutnya namun pintu kamarnya tetap tak dapat membuat Kyuhyun tak mendengar apa yang terjadi di ruang keluarga. Bunyi barang pecah belah berjatuhan, teriakan ayahnya, tangisan ibunya. Pertengkaran pertama kedua orang tuanya, dan karena pertengkaran itu akhirnya Kyuhyun tak pernah memiliki kesempatan bersama ayah pergi ke kolam renang umum.

 

 

 

Kyuhyun tersentak. Ia membuka mata dan menatap nyalang langit-langit kamar rawat yang berwarna putih. Kenangan dua puluh tahun lalu entah kenapa tiba-tiba muncul dalam mimpinya. Sebelum ini, Kyuhyun tak pernah benar-benar mengingat apa alasan yang membuatnya begitu membenci Seunghwan. Kyuhyun hanya tahu ia tak menyukai ayahnya. Seunghwan bukanlah sosok ayah yang baik di mata Kyuhyun, entah karena apa Kyuhyun hanya meyakini dan mempercayai itu. Sama hal nya seperti ia mempercayai bahwa bumi itu bulat dan mawar itu merah.

 

Tapi, sore ini kenangan itu muncul dalam mimpinya. Menegaskan kembali bahwa Seunghwan memang pantas dibenci. Seunghwan dengan sikap dingin yang dimilikinya menyakiti Yoo Jeong tanpa henti, abai terhadap pengabdian Yoo Jeong selama menjadi istri dan putra tunggalnya.

 

“Ibu…”Panggil Kyuhyun pada udara kosong, ia menangkup wajah dengan kedua tangannya lalu terpejam.

 

Dalam mimpi tadi, wajah Yoo Jeong begitu jelas. Seakan ibunya tak pernah pergi meninggalkannya, seperti mengobati rindunya selama lima tahun terakhir. Tapi bukannya terobati, justru Kyuhyun semakin merindukan Yoo Jeong. Merindukan wanita yang melahirkannya, wanita yang selalu membuat Kyuhyun merasa nyaman hanya dengan berada dalam pelukannya, senyaman ketika Kyuhyun bersama dengan Hyo Rim.

 

Kyuhyun bangun hingga duduk di atas sofa, dan mengecek jarum jam. Pukul tiga siang lebih dua belas menit, rasa bersalah menyergap Kyuhyun. Tak seharusnya ia jatuh tertidur, meski kepalanya terasa sangat berat karena tak tidur semalaman tetap saja Kyuhyun merasa ia melakukan kesalahan karena tidur selama satu jam lebih. Bahaya masih mengintai Hyo Rim saat ini, walau polisi mengatakan telah menangkap tersangka utama percobaan pembunuhan, tetap Kyuhyun tak merasa aman.

 

“Selamat Siang, eh-atau selamat sore,”

 

Kyuhyun mengangkat wajah dan melihat Hyo Rim sudah duduk bersandar di tempat tidur. Istrinya tersenyum canggung padanya, wajahnya pucat pasi dan itu membuat perut Kyuhyun bergolak tak enak. Ia tak menyukai melihat Hyo Rim sakit seperti sekarang.

 

“Kau sudah makan? Tadi Mi Young meninggalkan beberapa potong roti dan sekotak susu sebelum pulang. Sayang sekali bukan susu jeruk, kau tak masalah dengan rasa cokelat, bukan?” Celoteh Hyo Rim dengan suara parau.

 

Hyo Rim sedang berusaha mencairkan suasana, percakapan Mi Young dan Kyuhyun ketika ia masih setengah sadar yang membuat Hyo Rim memaksakan diri untuk bersikap seperti ini. Mi Young tak mengatakan apa-apa ketika Hyo Rim sadar satu jam lalu, dan itu membuat Hyo Rim sedikit ragu dengan apa yang ia dengar, hingga Hyo Rim memutuskan tak menganggap percakapan itu tak pernah ada hingga Kyuhyun yang mengatakannya sendiri ketika Hyo Rim sepenuhnya sadar.

 

“Kau mau apa?” Tanya Kyuhyun ketika Hyo Rim menyibak selimutnya dan perlahan turun dari tempat tidur.

 

“Badanku pegal, aku ingin berjalan-jalan sebentar.”

 

Sigap Kyuhyun menghampiri Hyo Rim dan menahan bahu Hyo Rim, “Kondisimu masih lemah, jangan banyak bergerak.”

 

“Aku baik-baik saja, hanya isi perutku yang dikuras bukan masalah besar.” Hyo Rim bersikeras untuk turun,

 

“HANYA KATAMU? SETELAH MEMBUATKU HAMPIR MATI BERDIRI KAU BILANG ITU HANYA?” Bentak Kyuhyun marah

 

Hyo Rim mengkeret di bawah tekanan Kyuhyun, ia tadi benar-benar asal bicara tak mengira Kyuhyun akan menjadi emosi karena kata-katanya.

 

“Maaf.” Bisik Hyo Rim menunduk memainkan ujung piyama rumah sakit yang ia kenakan, “Maaf, karena telah merepotkanmu.”

 

“Kau tahu apa yang telah kau lakukan semalam?” Desis Kyuhyun,

 

Hyo Rim mengangguk dan membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Kyuhyun tapi sedetik kemudian Kyuhyun mendekap kepalanya erat membuat Hyo Rim kehabisan kata-kata.

 

“Jangan lakukan itu lagi. Kuharap semalam adalah terakhir kalinya kau menakutiku seperti itu. Jangan pernah meninggalkanku lagi, Jung Hyo Rim. Jangan-pernah-berpikir-untuk-meninggalkanku-walau-hanya-satu-detik.”

 

Kyuhyun membenarkan posisi mereka hingga kini Hyo Rim berada dalam pelukan pria itu dan mendengar detak jantung suaminya yang berdentam kencang, seirama dengan detak jantungnya sekarang.

 

“Kyu,” Hyo Rim meronta ingin memastikan sendiri apa yang ia dengar dan melihat wajah Kyuhyun sekarang, namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Jangan melihat wajahku, rasanya wajahku terbakar sekarang.”

 

Hyo Rim mengerjap berkali-kali dan merasakan detak jantung Kyuhyun bertambah lebih cepat dibanding sebelumnya. Apa suaminya terkena kelainan jantung? Hyo Rim menggeleng dalam hati, tidak-tidak- mungkin Kyuhyun sedang gugup sekarang. Hyo Rim kembali menggeleng, itu tak mungkin. Kecil sekali kemungkinan Kyuhyun gugup hanya karena Jung Hyo Rim. Lalu kenapa?

 

“Aku merasa seperti anak belasan tahun sekarang, Hyo. Ini terasa aneh, memalukan tapi menyenangkan-“ Dan menyedihkan karena seharusnya aku tak pernah melakukan ini. Lanjut Kyuhyun dalam hati.

 

Kyuhyun melepaskan dekapannya dan beralih menangkup wajah Hyo Rim, memaksa gadis itu menatap langsung matanya.

 

“Jung Hyo Rim, berjanjilah untuk selalu berada di sampingku-mendampingiku, menua bersamaku hingga maut menjemput. Bahkan jika di kehidupan setelah kematian nanti, berjanjilah untuk tetap menjadi pendampingku.” Kyuhyun melihat mata Hyo Rim berkaca-kaca dan perlahan air mata itu tumpah ketika Kyuhyun mengucapkan kalimat yang telah ia pendam bertahun-tahun, “Aku mencintaimu, Jung Hyo Rim.”

000ooo000

 

“Aneh sekali,”Gumam Kyuhyun teredam pinggang Hyo Rim.

 

Setelah perdebatan kecil, dimana Hyo Rim bersikeras agar Kyuhyun pulang dan istirahat sementara Kyuhyun tak kalah keras kepala untuk tak meninggalkan ruang rawat Hyo Rim walau sebentar akhirnya mereka sepakat untuk tidur di tempat tidur rumah sakit. Memalukan, dua orang dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.

 

“Sudah kukatakan, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir dan pulang ke hotel. Lingkar matamu sungguh menyedihkan, kau tahu.” Omel Hyo Rim menghentikan gerakannya menepuk punggung suaminya.

 

“Eish, bukan itu. Aneh sekali Mi Young meninggalkan roti dan susu untukku, Sama sekali bukan gayanya, biasanya anak itu hanya peduli pada dirinya sendiri, dan pria berambut pirang itu.”

 

“Benarkah? tapi yang kulihat Mi Young sangat menyayangimu. Ia takut kau jatuh sakit, sehingga sengaja kembali lagi hanya untuk mengantarkan makanan untukmu.”

 

“Kau tidak sedang cemburu lagi, kan? Mi Young itu sepupuku, di adikku sendiri.” Ejek Kyuhyun

 

“Bermimpi saja, persediaan cemburuku sudah kuhabiskan malam kemarin.”

 

Kyuhyun tergelak senang, inikah kebahagiaan karena jujur pada perasaannya sendiri? Ia tak pernah mengira rasanya akan seringan ini.

 

“Sudah berhenti bicara, sebelum suster datang kau harus tidur.”

 

“Aku tak mengantuk, dan kalau mereka datang memang kenapa? Apa yang salah? Aku suamimu.”

 

“Ya Tuhan,”Erang Hyo Rim putus asa.

 

Menyenangkan akhirnya mengetahui perasaannya ternyata tak pernah bertepuk sebelah tangan, Kyuhyun akhirnya mengatakan semuanya. Persis seperti yang Seunghwan dan Mi Young jelaskan dulu. Tapi Hyo Rim tak mengira, pengakuan itu akan membuat Kyuhyun menjadi makhluk paling kekanak-kanakan di depannya.

 

“Hyo,”Panggil Kyuhyun setelah beberapa menit mereka menikmati keheningan.

 

“Hum,”Gumam Hyo Rim, Hyo Rim yang menidurkan Kyuhyun tapi kenapa malah Hyo Rim yang mengantuk.

 

“Apa…kita berhasil? Apa racun itu tak berdampak apa-apa, kalau ia sudah ada di sini?”

 

Hyo Rim memutar otak memahami kalimat rancu Kyuhyun, ketika tatapannya tertuju pada gerakan tangan Kyuhyun yang memutari perut Hyo Rim, pipi Hyo Rim bersemu merah. Teringat kembali satu malam sebelum ia meminum racun sialan itu. Malam dimana akhirnya Hyo Rim benar-benar menjadi Nyonya Cho, semuanya terjadi begitu saja. Bahkan Hyo Rim masih sulit percaya itu terjadi, sama seperti yang terjadi hari ini.

 

“Aku tak tahu” Kata Hyo Rim,

 

Sebelum Kyuhyun menanyakan kemungkinan itu, tak pernah terpikir dalam benak Hyo Rim akan ada nyawa lain di dalam tubuhnya. Meski kecil sekali kemungkinan bahwa bisa saja ada calon janin yang sedang berusaha tumbuh dan terhambat karena racun itu, tetap Hyo Rim ingin sekali melihat dan menemui orang yang berniat mencelakainya. Hyo Rim harus mengetahui apa alasan orang itu, dan apa tujuannya, serta apa maksud dari skandalnya dengan Choi Siwon? Sejauh ini, Kyuhyun tak menjelaskan secara rinci tentang proses penyeledikan yang sedang berlangsung, Hyo Rim hanya mendapat penjelasan seorang fan fanatic Choi Siwon yang mengoleskan racun sianida dalam gelas sampanye itu. Hanya karena Hyo Rim yang tertangkap kamera saat makan siang bersama Siwon beberapa hari yang lalu, setelah itu Kyuhyun menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.

 

Tapi, bukan Jung Hyo Rim namanya jika menyerah begitu saja. Sepulang dari rumah sakit ia harus mencari tahu detail kejadiannya. Bagaimanapun ia yang menjadi korban, tak ada yang lebih berhak mengetahui kebenaran itu selain dirinya sendiri.

 

Kyuhyun yang menyadari kediaman Hyo Rim mengangkat kepalanya sejenak, lalu menepuk-nepuk pinggang Hyo Rim.

 

“Jangan terlalu dipikirkan, sudahlah. Maafkan aku, seharusnya aku tak mengatakan hal itu.”

 

Hyo Rim mengangguk dan tersenyum sekilas. Kyuhyun mengeratkan pelukannya dan bergumam, “Setelah dokter mengizinkanmu pulang, bagaimana dengan Maldives? Atau Okinawa?”

 

“Untuk apa?”

 

“Kurasa, sementara ini keadaan belum begitu aman. Tetap tinggal disini atau kembali ke Seoul sama berbahaya-nya. Jadi, kita lanjutkan bulan madu di tempat lain saja, ya!” Usul Kyuhyun, ia mengangkat kepala dan menumpukannya pada siku memandang penuh harap Hyo Rim.

 

“Berapa lama?”

 

“Dua minggu-satu bulan juga bukan masalah.”

 

“Harus selama itu?”

 

Kyuhyun mengangguk riang, melanjutkan perjalanan ke tempat lain bukan hanya untuk menghindari kejaran wartawan tapi juga sebagai penebus waktu mereka berbulan-bulan ke belakang. Menebus sikapnya yang dingin pada Hyo Rim. Ya, Kyuhyun akhirnya menyerah. Sebut saja Kyuhyun egois karena akhirnya hanya memikirkan perasaannya sendiri, tapi ia tak ingin benar-benar berubah seperti ayahnya. Kyuhyun tak ingin menjadi seperti Seunghwan yang mengabaikan Yoo Jeong, Kyuhyun tak lagi ingin mengabaikan perasaannya sendiri dan terus menyakiti Hyo Rim.

 

“Kenapa? Kau tak ingin pergi denganku?” Gerutu Kyuhyun segera dijawab Hyo Rim dengan gelengan keras, yang benar saja.

 

“Bukan begitu, tapi minggu depan ulang tahun Ha Myung dan aku berjanji akan datang—“

 

“Ha Myung??”Potong Kyuhyun seketika,

 

Hyo Rim mengangguk, “Kim Ha Myung, ia—“

 

“Sudahlah aku tak peduli apa nama keluarganya, kalau ingin pergi-pergi saja. Lupakan Maldives atau Okinawa.” Lagi-lagi Kyuhyun memotong kalimat Hyo Rim, lalu berbalik memunggungi Hyo Rim. Tempat tidur rumah sakit yang kecil itu akhirnya membuat Kyuhyun terpaksa memeluk lututnya sendiri agar ia tak jatuh dan nampak semakin memalukan di depan Hyo Rim.

 

Hyo Rim sendiri sekuat tenaga menahan diri agar tak tertawa sekarang, ia tahu apa yang sedang terjadi pada Kyuhyun. Kyuhyun tengah cemburu, dan ini pertama kalinya Hyo Rim melihat Kyuhyun terbuka mengenai perasaannya sendiri.

 

“Bagaimana dengan Daegu?” Tanya Hyo Rim sambil mengusap lembut rambut Kyuhyun, Kyuhyun bergerak menghindar dari Hyo Rim, membuatnya lagi-lagi hampir terjatuh.

 

“Orang tua Ha Myung ada di Daegu, dan mereka meminta kita datang ke pesta ulang tahun anaknya.”

 

“Kenapa aku harus ikut? Kau yang ingin bertemu dengan Ha Myung itu.”

 

“Orang tuanya yang memintaku membawaku, mereka juga ingin bertemu denganmu dan aku yakin kau juga ingin bertemu dengan mereka.”

 

“Aku tak peduli, sudahlah aku mengantuk.” Jawab Kyuhyun ketus,

 

“Baiklah, sepertinya Myung So akan sangat kecewa sahabatnya tak datang ke pesta ulang tahun anaknya.” Hyo Rim berhenti sejenak untuk memerhatikan reaksi Kyuhyun, punggung pria itu menegang dan sepertinya ia tanpa sadar menahan nafas karena terkejut, “Ha Myung putra pertama Myung So dan Hae Ri, Cho Kyuhyun.”

 

Kyuhyun segera memutar tubuhnya dan ikut bersandar pada kepala tempat tidur seperti Hyo Rim, “Mereka sudah menikah dan memiliki seorang putra?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan tak percaya

 

“Dua tahun lalu, Myung So dipindahtugaskan ke Daegu satu bulan sebelum pernikahan kita diselenggarakan dan minggu depan ulang tahun pertama Ha Myung.”

 

“Kim Myung So, anak itu! Ia menikah tanpa memberitahuku.”

 

“Kau lupa, kau yang menghilang dulu.”

 

“Ah, benar.” Kyuhyun mengangguk paham dan menarik kembali sumpah serapah yang akan ia berikan pada Myung So.

 

“Jadi, bagaimana dengan Daegu?” Ulang Hyo Rim.

 

“Kemanapun, selama denganmu!” Kata Kyuhyun sambil meraih Hyo Rim kembali ke dalam pelukan.

 

Hyo Rim terdiam mendengarkan detak jantung Kyuhyun yang terdengar seperti simfoni di telinganya. Semuanya terasa bagaikan mimpi, terlalu indah bahkan dalam mimpi sekalipun Hyo Rim tak pernah berani membayangkan Kyuhyun akan membalas perasaannya seperti sekarang.

 

“Selama lima tahun itu, apa yang kau lakukan?”Tanya Hyo Rim

 

“Mengawasimu dari jauh.”

 

“Aku serius,”

 

“Memangnya aku tidak?”

 

“Bagaimana mungkin kau tidak tahu pernikahan Myung So dan Hae Ri sementara kau selalu mengawasiku, aku datang ke upacara pernikahan mereka.”

 

Kyuhyun menghela nafas panjang lalu menjelaskan, “Mengawasimu bukan berarti aku berubah menjadi penguntit dan mengetahui apapun yang kau lakukan setiap harinya. Aku hanya berdiri di tepi batas aman yang kubuat dan memastikan Jung Hyo Rim tetap baik-baik saja serta ikut menjadi saksi setiap peristiwa berharga dalam hidupmu.” Kyuhyun berhenti ketika menangkap tanda tanya dalam tatapan Hyo Rim, “Ya, aku datang di upacara kelulusanmu. Dan aku menyesal setelah itu, karena keesokan harinya aku selalu ingin melihatmu setiap hari. Kejadian hari itu hampir membuatku menjadi stalker gila dan mungkin membuatku ditangkap masa.”

 

“Kenapa diam? Apa aku salah bicara?” Tanya Kyuhyun ketika Hyo Rim diam membeku.

 

Hyo Rim mengerjap saat Kyuhyun menggerakkan tangan kirinya di depan wajah Hyo Rim, “Kau tahu, kupikir aku terserang phsycosis hari itu. Kukira aku berhalusinasi.”Cicit Hyo Rim

 

“Benar, aku ingat saat itu kau berlari seperti banteng gila!” Ujar Kyuhyun girang, “Larimu sungguh cepat, aku heran kenapa di sekolah nilai olahragamu selalu jelek—“

 

“Ya-ya!terus saja ejek aku sampai kau puas Tuan Cho!” Potong Hyo Rim sambil meninju bahu Kyuhyun, namun sayang Hyo Rim kalah cepat karena berikutnya Kyuhyun menangkap pergelangan tangan Hyo Rim dan menarik Hyo Rim hingga jarak mereka semakin dekat, bahkan Hyo Rim dapat merasakan embusan nafas Kyuhyun di wajahnya.

“Perintah diterima, aku tak akan pernah melepaskanmu sebelum aku puas, Jung Hyo Rim-ssi!” Desis Kyuhyun.

 

Jarum jam nampaknya lupa untuk bergerak detik itu, karena baik Kyuhyun maupun Hyo Rim tiba-tiba saja terhipnotis pada suasana yang mereka buat sendiri. Mereka tak lagi berada di ruang rawat rumah sakit, tidak dikelilingi barang-barang berbau obat dan lantai putih mengkilap tak ada suara dengungan pembicaraan orang-orang yang melewati pintu kamar. Yang ada hanya degupan jantung masing-masing yang saling bersahutan.

 

Tiba-tiba, seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan sengaja membersihkan tenggorokannya dan menghasilkan suara yang cukup keras hingga membuat Kyuhyun dan Hyo Rim kembali ke dalam kenyataan.

TBC

 

 

 

 

 

7 responses to “Breakable Heart (Chap 11)

  1. sweet bbanget
    akhirnya kyuhyun mau terbuka akan perasaannya kehyo rim
    tapi masalah semakin bertambah dekat dengan jong woon menjadi sekretaris tuan cho

  2. Pingback: Breakable Heart (Chap 13) | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Yuhuuu cie cie akhirnya mreka sling terbuka juga wehh gue harap stlah ini dan stelah rahasianya trbongkar mereka baik” sj
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s