Breakable Heart Side Story (Yesung’s Story)

gloomy_sunday_by_iizmu

          Benar-salah, semua itu hanya masalah kata. Bagi seseorang kebenaran namun bagi orang lain bisa jadi kesalahan. Hal yang dianggap benar di suatu tempat bisa saja salah di tempat lain. Maka pantaskah seseorang dinyatakan bersalah tanpa melihat latar belakang ia mengambil keputusan yang bagi umum ‘salah’?

Mungkin saja baginya, apa yang ia pilih dan ia lakukan adalah hal benar untuknya. Mungkin itu adalah pilihan satu-satunya yang ia miliki untuk tetap bertahan, atau sesungguhnya sejak kecil hanya ‘kesalahan’ itu yang telah ditanamkan dalam dirinya, dari lingkungan tempatnya tumbuh dan berkembang ia mempelajari nilai-nilai itu. Jadi mungkin saja yang bersalah di sini adalah masyarakat itu sendiri. Karena masyarakat-lah yang mengajarkan pemikiran ‘salah’ itu padanya, membuat ia tak tahu apa yang ‘benar’ yang seharusnya ia lakukan
Lalu, sebenarnya siapakah yang sepantasnya disalahkan?

00ooo00

Anak itu merangkak menggapai-gapai kan tangan menyusuri trotoar, ia mencari kacamatanya yang terjatuh ketika seorang siswa bertubuh besar tak sengaja menubruknya tadi. Hanya kata maaf yang diucapkan sambil lalu yang ia terima. Tak ada yang mau membantu anak itu, semuanya dengan sengaja mengabaikannya, bahkan beberapa tak malu hanya berdiri diam memperhatikan tanpa berniat menolong.

 
Jong Woon akhirnya menemukan kacamatanya, pandangan anak itu kabur tanpa alat bantu. Ia tersenyum sendiri, lega kacamata usang itu tak rusak sedikit pun. Harga kacamata baru cukup mahal baginya, dan Jong Woon tak tega meminta ibu membelikannya yang baru. Tetes hujan pertama jatuh membasahi puncak kepala Jong Woon, dengan segera ia bangkit dan berlari pulang ke rumah. Malam ini ibu pulang cepat hal yang langka terjadi, begitu pesan ibu tadi pagi sebelum Jong Woon berangkat sekolah, karena itu ia hari ini Jong Woon harus lebih cepat lagi tiba di rumah untuk memasak menu makan malam mereka. Meski baru berusia sepuluh tahun, Jong Woon cukup pintar mengolah makanan, hidup berdua dengan ibunya sejak lahir telah membuat Jong Woon mandiri. Dan mala mini khususnya, ia tak boleh membiarkan ibu menunggu lama setelah kelelahan bekerja seharian di luar.

 
Siluet rumahnya yang terletak di ujung gang perlahan muncul, Jong Woon lahir dan besar di wilayah perbukitan, dan rumahnya berdiri tepat di puncak bukit membuat Jong Woon dapat leluasa melihat keseluruhan Daegu dari jendela kamarnya di lantai dua. Keringat yang bercampur dengan air hujan tak menyurutkan langkah Jong Woon, ia malah semakin kencang berlari menyusuri jalan hingga tanpa sadar di balik kelokan Jong Woon menabrak segerombolan anak muda yang usianya beberapa tahun di atasnya.

 

“Maaf! Saya sedang terburu-buru, maaf.” Jong Woon segera membungkuk berkali-kali dan berniat kembali berlari namun salah seorang dari mereka menarik kerah belakang Jong Woon.

 

“Kau mau kabur kemana, anak haram? ”

 

Jong Woon mengepalkan jemarinya mendengar kata terkutuk itu lagi. Meski telah sering mendengar kedua kata itu, Jong Woon tak pernah terbiasa dengan mereka. Tak akan pernah.

 

“Kau pikir bisa pergi begitu saja, hah!” Teriak pria berjaket hitam, ia yang menarik kerah seragam Jong Woon, lalu membanting anak itu hingga punggungnya membentur dinding beton.

 

“Aku sudah meminta maaf.” Jawab Jong Woon dingin, ia tak peduli bagaimana nasibnya nanti.

 

“Lihat, adik kecil kita sudah berani sekarang! Kau benar-benar putra ibumu.” Kata pria lain di sisi kiri Jong Woon, lalu ia menambahkan dengan suara yang lebih pelan namun menusuk, “ Tapi sayangnya, kita tak tahu siapa ayahnya.”

 

“Aku punya ayah.”

 

“Katakan siapa kalau kau punya ayah?”

 

Jong Woon terdiam, ia menoleh ke arah barat. Di sana sedang ada pembangunan kompleks apartemen mewah. Beberapa hari lalu, pemilik proyek itu datang mengunjungi lokasi pembangunan dan Jong Woon berdiri di sana dengan ibu. Ibu tak mengatakan sepatah kata pun ketika iring-iringan mobil mewah itu melintas dan berhenti di sana, hanya genggaman tangan ibu pada Jong Woon mengerat.

 

Refleks Ibu menarik Jong Woon untuk berdiri di balik tubuhnya ketika orang besar dari Seoul itu turun. Jong Woon penasaran, ia mencuri pandang dari balik tubuh Ibu dan terkejut ketika melihat orang itu berjalan mendekati mereka. Pantas saja ibu memakaikan Jong Woon pakaiannya yang terbaik dan pagi-pagi sekali membawa Jong Woon kesini ke tempat seharusnya anak-anak tak boleh berkeliaran.

 

Pria itu menunduk dan mengulurkan tangannya meminta Jong Woon mendekat. Malu-malu Jong Woon maju namun genggaman Ibu tak mengendur. Kemudian Jong Woon ingat, pria ini sama dengan pria yang ada dalam album foto Jong Woon ketika bayi.

 

“Ayah.” Panggil Jong Woon ragu.

 

Pria itu tersenyum, dan meraih Jong Woon dalam pelukannya,

 

“Yesung-ah, maafkan aku.”

 

Jong Woon tertegun, Yesung? Ia melirik ibunya namun ibubergeming tak mengatakan apa-apa. Kemudian pria itu membawa Jong Woon menuju rumah sementaranya di Daegu, tanpa Ibu. Untuk pertama kalinya Jong Woon bertemu dengan ayah kandungnya, mereka menghabiskan waktu seharian bersama. Dan selama itu Jong Woon menjadi Yesung untuk ayahnya. Jong Woon tak mengerti kenapa namanya berubah, Jong Woon kecil mengira mungkin Yesung adalah nama kesayangan yang ayah berikan untuknya.

 

Hari itu berlalu seperti hari yang lain, Jong Woon diantar pulang ke rumah. Hingga hari ini, ayah tak pernah berkunjung lagi. Namun satu hal, jelas bagi Jong Woon ia bukan lagi anak tanpa ayah.

 

“Kenapa diam saja? tak dapat menjawab bukan, kau memang anak haram.” Teriak pria di depan Jong Woon membuyarkan lamunan nya. Pria itu mendesak bahu Jong Woon semakin dalam.

 

“Cho Seunghwan” Kata Jong Woon pelan, “Ayahku Cho Seunghwan.”
Ketiga pria itu melongo lalu tertawa keras hinggak mengeluarkan air mata,

 

“Leluconmu lucu sekali! Kalau kau anak Cho Seunghwan maka aku putra pangeran Charles.”

 

Pria berjaket biru mengelus lembut rambut Jong Woon, “Adik kecil, sebagai orang yang lebih tua kunasehati, hati-hati pada khayalanmu. Dengarkan ini baik-baik, kalau kau putra Cho Seunghwan kenapa  nama depan mu Kim, bukan Cho? Lalu bukankah seharusnya kau tinggal di rumah besar di Seoul bukan di tempat sepert ini?”

 

“Jangan belajar membual, sekarang saja kau sudah menyebalkan jangan ditambah dengan jadi pembual!” Tambah yang lain sambil menyurukkan kepala Jong Woon ke belakang.

 

“Aku tak berbohong! Ayahku memang Cho Seunghwan!” Pekik Jong Woon tak terima, ia meronta-ronta matanya memanas.

 

Kenyataan tentang nama depannya, serta kehidupannya sepuluh tahun ini memang selalu menjadi pertanyaan besar baginya sendiri. Terkadang, sore hari setelah hari itu Jong Woon duduk di samping jendela kamar, memandang lurus ujung jalan menantikan sosok ayah yang kembali mengunjunginya. Mengajaknya bermain lagi.

 

Tapi ia tak pernah datang, membuat Jong Woon ragu. Tapi rasanya lebih menyakitkan ketika mendengar kenyataan-kenyataan itu dari mulut orang lain. Jong Woon tak ingin diragukan, karena ia sendiri belum cukup kuat untuk meyakinkan dirinya sendiri.

 

“Aku tak berbohong!” Berkali-kali Jong Woon berteriak sambil meronta meminta dilepaskan, ia tak ingin menangis di depan mereka.

 

“Aish!! Anak ini! Diam jangan berteriak!”

 

Namun Jong Woon tak menurut, ia benci disebut pembual dan anak haram. Ia tak berbohong dan ia juga punya ayah. Tingkah Jong Woon akhirnya membuatnya pulang dalam keadaan lebam dengan uang saku selama satu pekan menghilang.

 000ooo000

 

 

Langit Busan berwarna kelabu di hari Jong Woon pertama kali membuka mata di kota itu. Dua tahun kemudian, secara tiba-tiba ibu membawanya pergi dari rumah mereka di Daegu. Sesungguhnya Jong Woon tak setuju harus pindah, ia takut semakin sulit bertemu ayah. Namun dalam perjalanan akhirnya Jong Woon sadar. Ia sudah cukup besar sekarang, jika ayah tak dapat menemukannya maka Jong Woon yang akan mencari. Tak sulit menemukan Cho Seunghwan, semua orang pasti mengenal ayahnya, Jong Woon meyakinkan dirinya sendiri.

 

Jong Woon menarik sandal rumah dari kolong tempat tidur dan membuka pintu kamar, hari ini ia belum bersekolah. Mungkin mulai besok, ibu harus mencari dulu sekolah yang masih membuka penerimaan siswa baru.

 

“Aku sudah pergi seperti yang kau minta. Ia tak mungkin dapat melacak kami di sini. Tolong jangan ganggu kami lagi.”

 

Itu ibu, dahi Jong Woon berkerut. Ia mengintip dari celah pintu kamar ibu yang terbuka. Ibu sedang menggunakan ponsel. Sepagi ini, siapa yang ibu hubungi?

 

“Hentikan, penjualan novel itu. Semua orang dapat mengetahuinya. Kau membongkar aibmu sendiri Yoo Jeong-ssi!”

 

Jeda beberapa saat, Ibu meraih botol kecil di atas meja rias. Jong Woon tak pernah tahu ibu mengkonsumsi obat tertentu.

 

“Dengan menggunakan nama asli serta data-data pribadiku, kau pikir mereka tak akan pernah tahu?”

Kali ini Ibu diam untuk waktu yang cukup lama, ia mengusap dadanya. Jong Woon semakin menajamkan pendengarannya, berharap dapat mendengar apa yang dikatakan orang dalam ponsel.

 

……kesalahanmu.”

 

“Benar, dan aku sudah menebusnya. Tapi ini untuk terakhir kalinya, kumohon hentikan penjualan novelmu. Demi putraku, ia seusia dengan putramu Yoo Joeng-ssi. Aku tak ingin ia tahu, kumohon.” Kata ibu dengan mengiba, ia bahkan tak berniat menyembunyikan isak tangisnya.

 

Jong Woon berjalan mundur dan perlahan berbalik. Tanda tanya besar muncul dalam benak Jong Woon. Siapa yang sedang ibu hindari dan membuat mereka pindah kesini? Lalu kenapa ibu sangat khawatir pada novel karya Yoo Joeng-itu? Apa yang tak boleh ia ketahui. Secepat kilat, Jong Woon kembali bersembunyi di balik selimutnya dan berharap apa yang ia lihat tadi hanya mimpi. Ini pertama kalinya ia melihat ibu sepert itu.

000ooo000

 

“Whoa Daebak! Jong Woon-a lihat!” Desis Siwon sambil memperlihatkan sebuah majalah dewasa tepat di depan wajah Jong Woon.

 

Jong Woon tak terpengaruh, ia menatap sebuah novel di tangannya.
Han Yoo Jeong, nama itu tak asing. Ia meraih novel lain yang telah di buka segelnya. Jantungnya terperosok ke perut begitu melihat sekilas isi novel itu. Tanpa perlu berpikir Jong Woon menuju kassa dan membawa pulang novel itu.

 

Matanya menatap nyalang langit-langit kamar. Sudah pukul dua pagi, tapi Jong Woon masih terjaga karena baru saja menyelesaikan novel Han Yoo Joeng secara marathon. Jadi inilah kisah hidupnya yang sesungguhnya. Sungguh aneh mengetahui kebenaran dari sebuah novel. Pantas saja tempo hari ibu khawatir setengah mati. Siapapun yang mengenal Jong Woon dan ibunya pasti segera menyadari tokoh dalam novel ini mereka. Ini bukan terinspirasi, Han Yoo Jeong memang sengaja membuat  ibu masuk ke dalam cerita buatannya. Tanpa menghilangkan nama asli serta data-data pribadi lainnya, itu bukan ketidaksengajaan.

 

Jong Woon mengeluarkan robot mainan yang ia simpan di laci meja. Robot Ultraman, mainan itu satu-satunya pemberian ayah untuk Jong Woon. Jong Woon tersenyum miris, pantas saja ia hanya mendapatkan mainan kecil ini dari ayah. Ia hanya anak yang terlahir dari perempuan penggoda, pekerja yang menggoda majikannya. Begitu yang Han Yoo Jeong tulis tentang Jong Woon. Jong Woon membanting robot ultraman hingga menghantam dinding. Bunyi benturan keras terdengar, Jong Woon tak peduli jika robot itu hancur. Tiba-tiba kebencian besar lahir untuk ayah, seandainya dulu ayahnya tak pengecut dan bertanggung jawab pada ibunya, tentu Han Yoo Jeong tak akan berani mengumbar kata tak pantas itu untuk ibu.

 

Ibunya bukan perempuan penggoda, Jong Woon tahu siapa ibu. Ibu bahkan tak mungkin mengeluarkan kata-kata kasar seperti yang Han Yoo Joeng lakukan. Setiap kali ada yang menghina dan menyakiti mereka, tak pernah satu kali pun ibu mengeluarkan kata kasar. Ia tak mempercayai apa yang Han Yoo Jeong tuliskan tentang ibu dalam novelnya, karena seburuk apapun kesalahan ayah dan ibunya dulu. Ibu tak seperti ayah. Ibu bertanggung jawab dengan membesarkan Jong Woon hingga kini.

000ooo000

 

Awan kelabu mengiringi langkah Jong Woon keluar dari rumah kremasi. Ia berjalan di ikuti Siwon di belakang. Hanya Siwon temannya dari sekolah yang menemani Jong Woon mengantar Ibunya ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jong Woon duduk bersandar di salah satu pohon, ia menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana. Ia kini sendirian. Kemarin pagi ibu ditemukan tak bernyawa di atas tempat tidur.

 

Polisi dan dokter menyatakan ibu overdosis obat anti depressan. Karena itu, tak ada penyelidikan lebih lanjut, meski saat itu Jong Woon bersikeras ibunya dibunuh. Sore hari sebelum ibu meninggal, Jong Woon yakin ibunya sehat-sehat saja. Bahkan mereka berencana pergi melihat festival pekan ini. Hanya tengah malam, Jong Woon mendengar ibu berbicara dengan ponselnya lagi. Han Yoo Jeong, entah apa yang ia inginkan kali ini. Sayang Jong Woon tak dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas karena kamar ibu tertutup rapat.

 

Ini pembunuhan, ibunya secara tak langsung telah dibunuh secara psikis dengan tekanan yang Han Yoo Jeong berikan. Ibu tak mungkin mengkonsumsi obat anti depressan jika tak ada yang menekannya. Tapi tak ada yang mau mendengarkannya. Jong Woon mengangkat kepalanya dan menemukan Siwon sudah duduk di sebelahnya.

 

Satu tahun lalu, Choi Siwon hanya anak pemalu yang bahkan takut bertemu orang asing, mereka dekat karena pernah dikurung bersama di toilet oleh senior. Saat itu, Siwon bersumpah akan membalikan keadaan dan menyumpal mulut para senior itu. Lihatlah sekarang, Siwon berubah menjadi siswa popular karena selain pintar dalam akademik ia juga pandai bela diri. Ditambah kini Siwon menjadi artis muda pendatang baru yang tengah naik daun. Tak ada lagi yang berani mengatai Siwon, sumpahnya terbukti. Jong Woon berpikir, ia bisa mengikuti jejak Siwon. Ia dapat membalikan keadaan, dan membuat mereka merasakan apa yang ia rasakan.

000ooo000

“Selamat pagi, saya sekertaris anda yang baru Tuan. Perkenalkan, Kim Jong Woon.” Jong woon membungkuk lalu mengulurkan tangan menjabat atasnya.

Jong Woon mengangkat kepalanya tegak dan meneliti pria di hadapannya. Lebih dari sepuluh tahun berlalu, tak banyak perubahan dalam penampilan pria ini. Hanya beberapa kerutan halus yang muncul ketika ia tersenyum. Ia masih sama seperti pria yang menemani Jong Woon bermain dulu, pria yang membiarkan punggungnya dinaiki Jong Woon untuk bermain kuda-kudaan meski saat itu usia Jong Woon tak lagi pantas untuk bermain seperti itu. Pria yang membelikannya robot ultraman dan berjanji akan mengunjunginya lagi lain kali. Mereka nampak seperti pria yang sama.

Tidak, pria yang menjadi ayahnya hanya hidup selama satu hari. Hari-hari sebelum dan hari-hari setelahnya, pria ini bukanlah ayahnya lagi.

“Siapa namamu tadi?” Tanya Seunghwan tak percaya,

“Jong Woon, Kim Jong Woon Sajjang-nim.”

Seunghwan menggeleng, “Aku sudah gila, kukira kau dia.”

Jong Woon tersenyum, ia tahu apa maksud kalimat Seunghwan namun pura-pura tak mengerti, “Maksud anda, saya mirip seseorang?”

“Putraku, mata mu sangat mirip dengan uri-Yesung.”

Perut Jong Woon mencelos, sempat ia mengira Seunghwan mengingat Ibu ketika melihatnya untuk pertama kali. Ia tak mengira, Seunghwan mengenalinya, sebagai Yesung.

“Saya merasa tersanjung. Barangkali akan menyenangkan jika kami bertemu nanti.” Ujar Jong Woon tenang, ia telah belajar acting cukup lama pada Siwon untuk hari ini.

Seunghwan menggeleng, “Seandainya saja, kita dapat bertemu dengannya. Namun sayang, ia meninggal dua belas tahun lalu dalam kebakaran di Daegu.”

FIN

Haiii!! Ini bukan lanjutan nya Breakable Heart. Tapi Side Story nya, dari sisi Yesung. Makanya ga ada roman nya sama sekali. Cuma nyeritain asal-usul kenapa uri Yesung bisa jahat gitu. Sejauh yg aku pelajari dari dunia nyata (ciee belajar ya thor, baru tau hahaha ><) setiap manusia itu punya sisi baik dan sisi jahatnya, nah tinggal kitanya aja yg milih untuk menonjolkan sisi yg mana. Tapi terkadang, kita dibutakan sama kesempatan untuk memilih. Kaya yesung yang merasa kalo balas dendam adalah satu-satunya pilihan yang dia punya. Karena dia sayang banget sama ibunya, jadi kalo ga balas dendam sama aja dia bukan anak yang berbakti.
Yaah…intinya kenapa side story ini dibuat, buat jelasin kalo ga ada orang yg jahat seluruh nya jahat dan setiap orang baik juga pernah buat kesalahan sekecil apapun itu ^^ Buktinya, Han Yoo Jeong, dimata suami, anak, sama fansnya perempuan lemah lembut tapi dibalik itu semua dia bisa jadi peneror kelas kakap, sampe bikin stress orang X_X   Trus, semua terror itu bukan tanpa alasan juga, kalo dulu suaminya ga selingkuh sampe punya anak, Yoo Jeong ga mungkin bisa jadi sadis gitu. Jadi hukum sebab akibat sangat berlaku.
Author juga rada ga enak sama yg biasnya Yesung, miaaan #deep_bow
Author juga suka sama Yesung, ko ^^ suaranya apalagi, tapi tetep nomor 1 nya suami author, hehe :p
Tapi, ini Cuma fiksi ya, tokoh-tokoh dalam cerita hanya karangan ga ada sangkut pautnya sama kisah nyata. Author juga Cuma minjem nama mereka karena author suka banget sama mereka ^^  oia, Breakable Heart sebagian terinspirasi dari drama You Are Surrounded sama I Can Hear You Voice, khusus Yesung Story dari bagian Lee Seung Gi nya di You Are Surrounded. Beberapa adegan juga diambil dari situ dan di reka-reka dikit. Buat yang udah nonton pasti langsung ngeh, aku suka cerita yg gitu tuh, seandainya ada di Indonesia sinetron yang rame nya gitu TT__TT  bisa ngirit kuota internet, kan…. #melasbanget
Kalo yang belom, aku saranin nonton ya ^^
(Terakhir,, author mah berpendapat kalo pembalasan dendam terbaik adalah hidup bahagia dan menunjukan kalo apa yg mereka lakukan tuh ga ‘ngepek’ sama kita ^^ )

2 responses to “Breakable Heart Side Story (Yesung’s Story)

  1. inilah alasan nya akhirnya dendam yesung semakin besar
    yahh dinikmatin aja dech seunghwan ama putranya kyuhyun

  2. ooh ternyata itu tho alasannya yesung dendam bgt sama kyuhyun appa sama kyuhyun. gk salah juga sich si yesung, cuma ya emang agak kejam jadinya.
    keep writing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s