THE SUN [Chapter 13: I Need You] -by ByeonieB

the-sun

THE SUN

ByeonieB Present

Main Cast::

Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun

OC/You/Readers as Han Minjoo

Additional Cast::

Bora of Sistar as Yoon Bora

Sehun of EXO as Oh Sehun

Gikwang of Beast as Lee Gikwang

And many more

Genre:: Romance, Life, Drama, Marriage-Life

Length:: Chapter

Rate:: PG-14 – PG-17

Summary::

“You are like the sun.

 The sun that rises in every morning.

The sun that comes after the dark.

Yes, you are just like that.

You are the sun that rise on my life.”

 

before: [Chapter 12]

Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

[Chapter 13: I Need You.]

H A P P   R E A D I N G

Baekhyun menuruni anak tangga sambil melihat ke arah dapur rumahnya, kegiatan yang seperti biasanya ia lakukan sehabis ia bersiap untuk berangkat kerja. Melihat istrinya berutak-atik dengan perkakas untuk membuat makanan tersebut.

Wajahnya berseri setelah mendapati Minjoo benar-benar berada disana dan memang sedang melakukan rutinitas pagi harinya yang berkutik dengan perkakas yang baru saja Baekhyun sebutkan tadi.

“Minjoo-ya..”

Minjoo memutar tubuhnya setelah mendengar suara itu. melihat ke arah Baekhyun dan senyum pun perlahan terukir di bibir tipisnya.

“Selamat pagi Baekhyun—“

“Oppa!!”

Dan saat itu lah kedua belah pihak saling memudarkan senyuman mereka masing-masing.

Bora menuruni tangga dengan cepat lalu setelah sampai di hadapan Baekhyun gadis itu memeluk Baekhyun dari belakang dengan erat.

“Selamat pagi..” Bora memunculkan kepalanya dari balik punggung Baekhyun menatap pria itu, “Apa kau tidur dengan nyenyak?”

Minjoo hanya bisa tersenyum meringis melihat kejadian tersebut. Dua hari sudah lamanya Bora, kekasih Baekhyun, tinggal di kediaman mereka ini. Mengacaukan segala aktivitas yang biasanya mereka berdua lakukan yang pada akhirnya posisi tersebut di gantikan oleh Bora.

Minjoo tahu, tak seharusnya ia merasa sakit hati seperti ini. Ia seharusnya tak pernah boleh lupa jika Baekhyun telah memiliki kekasih.

Minjoo tak pernah boleh lupa bahwa statusnya hanyalah istri di mata negara. Bukan di mata Tuhan maupun di hati Baekhyun.

Baekhyun melihat ke arah Minjoo yang tersenyum kepadanya. Ia bisa melihat kesedihan yang terpancar dari matanya.

Membuat hatinya ikut merasakan apa yang Minjoo rasakan saat ini juga.

“Bora-ya..” Baekhyun perlahan melepaskan eratan pelukan Bora di perutnya. “Se-lamat pagi juga.. ya.. tidurku nyenyak malam ini..” Baekhyun tersenyum kecut pada Bora yang namun di anggap Minjoo merupakan garam yang di taburkan di luka hatinya saat ini juga.

“Oh, Han Minjoo?” Bora melihat ke arah Minjoo yang masih berdiri disana sambil melihat ke arah mereka berdua. “Kau sudah bangun?”

Minjoo menganggukan kepalanya, “Selamat pagi, Bora-ssi..” lalu kemudian tersenyum dengan sangat ramah dari sana. Satu hal yang membuat Bora kagum pada gadis itu..

“Oh iya, aku sudah membuatkan sarapan untuk kalian semua. Silakan duduk..”

Bora pun mengikuti perintah Minjoo sambil tersenyum ceria disana dan mendudukan tubuhnya di salah satu kursi makan. Baekhyun pun melakukan hal yang sama seperti Bora namun minus dengan senyuman ceria gadis itu.

“Oppa.. kau tidak menanyakan apakah aku tidur dengan nyenyak atau tidak?” tanya Bora dengan manja.

Baekhyun melihat ke arah Minjoo yang sedang membawa piring berisi makanan ke arah meja mereka dengan cemas di wajahnya.

Minjoo mendengarkan jelas apa yang Bora katakan dan sedang bersusah payah menahan sakit di hatinya kembali.

“Apa kau.. tidur dengan.. nyenyak, Bora-ya?”

Kau bodoh, Byun Baekhyun.

“Aku tidak Oppa..” Minjoo telah mendudukan tubuhnya di salah satu kursi di antara mereka dan mendengarkan percakapan mereka walaupun acuh tak acuh.

“Aku tidak bisa tidur jika kau tidak berada di sampingku..”

Minjoo bisa merasakan hatinya benar-benar jatuh lalu hancur seketika setelah menubruk dasar.

Minjoo tahu, secara tidak langsung Bora mengatakan bahwa gadis itu ingin tidur bersama Baekhyun.

Mengusir Minjoo dari kamar mereka.

“Bora-ya.. aku tidak—“

“Kau bisa pindah ke kamar kami, Bora-ssi.”

Dan Baekhyun merasakan apa yang sebelumnya Minjoo rasakan. Hatinya jatuh lalu hancur seketika setelah menubruk dasarnya.

“Kau akan tidur dengan Baekhyun dan aku.. akan tidur di kamar tamu.” Ucapnya seraya menyunggingkan senyuman pahit disana.

Baekhyun menggenggam sendoknya dengan erat hingga urat tangannya bernampakan di kulitnya yang putih itu.

Bisa-bisanya Minjoo membuat keputusan itu tanpa seizinnya terlebih dahulu.

Baekhyun adalah kepala keluarga di dalam rumah ini dan seharusnya yang membuat keputusan adalah Baekhyun.

“Oppa! Apa aku benar bisa melakukan itu?” Bora tersenyum cerah pada Baekhyun.

Minjoo mengalihkan pandangannya menatap makanannya dan mencoba memakannya walaupun sudah tak terasa lagi rasanya di lidahnya.

Baekhyun tak mengerti dengan apa yang Minjoo sedang lakukan saat ini. Membuat keputusan sesulit itu dan mengatakannya secara gamblang pada Bora.

Baekhyun tahu Minjoo menyukainya.

Yang berarti kehadiran Bora merupakan masalah besar untuk Han Minjoo.

Tapi mengapa, gadis itu bertingkah layaknya tidak ada masalah besar yang menimpanya saat ini.

“Jika Minjoo mengizinkan. Maka aku ikut mengizinkan.” Baekhyun pun perlahan meredakan amarahnya lalu mengalihkan pandangannya sama seperti apa yang Minjoo lakukan.

“Kau bisa tidur denganku mulai malam ini.”

Minjoo pun hanya bisa menahan air matanya disana sambil terus mencoba memfokuskan pandangannya pada makanan yang sedang ia coba untuk makan.

Baekhyun benar-benar menghancurkan hatinya saat ini.

Bora pun tersenyum menang disana dan melihat ke arah Minjoo yang sedang tidak melihat ke arahnya.

“Dasar gadis bodoh.. aku tahu sebenarnya kau merasakan sakit disana..” gumam Bora dalam hatinya.

Bora tahu jika sebenarnya Minjoo menyukai Baekhyun.

Dan Bora juga tahu tanpa sepengetahuan pria itu jika Baekhyun juga sebenarnya telah jatuh hati pada Minjoo.

Itulah mengapa Bora memulai rencana yang sangat licik ini, dimulai dari ketika ia menculik gadis itu melalui mantan kekasih yang masih sangat menyayanginya, Kim Junmyeon.

“Kau ternyata membuatnya semakin mudah Han Minjoo..“

Tuan Byun tak henti-hentinya memijati keningnya dengan gusar dan wajah yang amat kusut.

Dalam hatinya pun tak pernah berhenti untuk mengucapi sumpah serapah pada apa yang istri kesayangannya itu lakukan.

Tok tok.

“Masuklah.”

Setelah mendapatkan panggilan untuk menghadap tuan Byun pada siang tadi, asisten Kim langsung melesatkan dirinya ke kediaman tuan Byun dan segera menemui Ayah dari Baekhyun tersebut.

“Tuan.. apa yang bisa saya bantu?”

Tuan Byun menegakkan posisi duduknya dan bersandar pada sandaran kursi kerja tersebut.

“Istriku berulah lagi Kim-ah…”

Asisten Kim mengerutkan keningnya kebingungan, “Maksud tuan..?”

Tuan Byun mencoba untuk menahan amarahnya dengan menarik satu napas perlahan.

“Ia mengizinkan mantan kekasih Baekhyun untuk tinggal bersama Baekhyun dan Minjoo dirumahnya.”

Pada dua malam yang lalu, asisten Kim memberi informasi pada tuan Byun bahwa Bora telah pindah untuk tinggal di rumah Baekhyun bersama Minjoo. Hal itu tentu membuat tuan Byun merasa geram karena, sungguh, tuan Byun tidak menyukai mantan kekasih Baekhyun yang bernama Bora sama sekali.

Tuan Byun tahu, ulah itu terjadi pasti karena campur tangan istrinya. Maka dari itu, baru saja tadi siang tuan Byun bertengkar dengan istrinya mengenai hal tersebut hingga tuan Byun ingin memecahkan kepala rasanya.

“Perempuan itu membawa pengaruh yang buruk untuk anakku Kim-ah. Aku takut terjadi sesuatu dengan rumah tangga mereka yang sudah semakin membaik sekarang ini.”

Dan salah satu alasannya adalah itu. tuan Byun sudah tahu jika hubungan Minjoo dan Baekhyun semakin membaik sekarang ini.

Tanpa sepengetahuan mereka, tuan Byun telah memasang mata-mata yang tak lain Ahn ahjumma untuk memantau mereka dari kejauhan. Ahn ahjumma memberi tahu segala informasi yang menurut tuan Byun sangat penting, seperti pada awal pernikahan mereka yang tampak seperti sepasang lawan tinggal dalam satu rumah.

Hingga sekarang ini yang tampak layaknya sepasang kekasih tinggal satu rumah.

“Lalu apa yang tuan ingin aku lakukan…?”

Tuan Byun pun menatap asisten Kim dengan serius.

“Awasi gerakan gadis itu. laporkan padaku jika terjadi sesuatu yang buruk pada Baekhyun dan Minjoo.” Tuan Byun memotong perkataannya lalu melanjutkannya kembali. “Pasti gadis itu merencanakan sesuatu yang buruk untuk anakku dan Minjoo. Aku sangat yakin itu.”

Asisten Kim mengangguk sekali. Mengiyakan perkataan tuan Byun.

“Baiklah tuan. Mulai sekarang aku akan mengawasi gerak-gerik gadis itu.”

Minjoo melangkahkan kakinya dengan berat menuju kelasnya.

Semenjak Bora tinggal di rumahnya beberapa hari ini, dirinya selalu murung. Perasaan takut itu selalu menyerang tubuhnya.

Ia terlalu amat menyukai Baekhyun. salah, terlalu mencintai Baekhyun maksudnya. Perkataan Yubi mengenai Minjoo yang terlalu “mengagung-agung” kan Baekhyun adalah benar adanya.

Minjoo terlalu menyayangi Baekhyun.

Dan perasaan takut kehilangan Baekhyun menghantuinya selama ini.

“Han Minjoo!”

Minjoo tidak menggubris panggilan itu.

Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Untuk memikirkan dirinya sendiri pun tak pernah ia lakukan. Apalagi untuk memikirkan hal-hal yang lainnya.

“Kenapa dia..” Gikwang yang merasa ada sesuatu hal aneh yang terjadi pada Minjoo pun lantas mengikuti langkah gadis itu di belakangnya.

Minjoo yang tak menyadari hal itu pun terus melangkahkan kakinya menuju entah kemana. Yang pasti ia benar-benar sedang tidak dalam kondisi yang baik.

Ia terus melangkahkan kakinya hingga pada akhirnya ia menemukan zebra cross di hadapannya. Ia menghentikan langkahnya dan berpikir sementara.

Ia pun memutuskan untuk menyebrangi jalan itu.

Pikirannya yang masih kacau itulah yang membuatnya tak sadar jika ada sebuah mobil dengan kecepatan yang amat tinggi datang menghampirinya.

Mobil itu benar-benar akan menghantamnya jika saja Gikwang yang sedari tadi berada di belakangnya tak menariknya.

Minjoo pun terjatuh lagi di dekapan Gikwang. Pikirannya pun langsung tersadar kembali setelah menyadari kecerobohannya itu.

“Han Minjoo.”

Gikwang perlahan melepaskan eratan tangannya pada tubuh Minjoo dan melihat sekujur tubuh gadis itu apakah ada yang terluka atau tidak.

“Apakah kau tidak bisa memerhatikan jalanan dengan benar, huh?”

Minjoo pun menatap Gikwang dengan dalam.

Lalu entah mendapat dorongan darimana, air matanya pun keluar dari matanya.

Melihat kejadian tersebut pun, raut wajah Gikwang berubah menjadi panik.

“E-eh, Minjoo-ya.. kenapa kau menangis? Maaf aku tidak bermaksud untuk mema..rahimu..”

Minjoo pun menjatuhkan air matanya lagi dan lagi. Entahlah, saat ini hanya itu saja yang bisa menjelaskan kondisinya saat ini.

“Min-minjoo-ya.. kumohon maafkan aku hm..?” Gikwang pun merasa kikuk karena kali ini orang-orang mulai memperhatikan mereka dan lebih tepatnya melihat ke arah Gikwang dengan tatapan menghakim.

Minjoo menggelengkan kepalanya, “Kau tidak bersalah, Gikwang-ah..hiks..hiks..”

“Lalu.. mengapa kau.. menangis Minjoo-ya??”

Ditanya seperti itu, Minjoo malah mengeluarkan suara tangisnya semakin keras hingga benar-benar mencuri perhatian seluruh pejalan kaki pada mereka. Membuat Gikwang semakin panik atas situasi ini.

“Minjoo-ya kumohon hentikan suara tangismu…”

Minjoo pun tidak menuruti perkataan Gikwang dengan tetap menangis kencang disana.

Gikwang yang mendapatkan tatapan menghakimi dari orang-orang pun merasa semakin panik. Pada akhirnya pria itu pun dengan segera menarik Minjoo dari sana dan membawanya ke sebuah tempat.

.

.

Minjoo menghapus sisa-sisa air mata yang masih tertera di sudut matanya menggunakan kain pemberian Gikwang.

Jangan tanyakan Minjoo kemana pria itu sekarang, karena ketika Gikwang membawanya kesini pun ia tidak ingat sama sekali.

“Ini.”

Sebuah kaleng soda berada di hadapannya kali ini. Minjoo pun menaikkan pandangannya untuk melihat siapa yang memberinya kaleng soda ini.

“Minumlah. Mungkin ini bisa membuatmu sedikit tenang.”

Minjoo terus menatap Gikwang cukup lama sampai pada akhirnya ia pun mengambil kaleng soda tersebut. setelahnya Gikwang memposisikan dirinya duduk di sebelah Minjoo.

“Mau bercerita kepadaku mengapa kau menangis tadi?”

Minjoo pun menghentikan aktivitasnya yang sedang membuka kaleng soda.

Ia sendiri tak tahu mengapa ia tiba-tiba menangis seperti tadi ini.

Yang ia tahu, hatinya terasa sangat berat dan mendorong matanya untuk menjatuhkan kristal berharga itu dari pelupuk matanya.

“Maafkan aku karena membuatmu malu tadi, Gikwang-ssi.”

Gikwang pun menatap Minjoo dalam dari sisi. Mencoba menerka isi pikiran gadis ini.

“Aku tidak bermaksud untuk membuatmu malu, sungguh.”

Gikwang tahu, pasti ada sesuatu yang tidak benar dengan gadis ini. Pasti gadis ini sedang mengalami suatu masalah yang cukup sulit hingga membuatnya menangis seperti tadi.

“Aku tidak mempermasalahkan perihal itu, Minjoo-ssi. Hanya saja aku bingung kau menangis karena aku memarahimu tadi atau karena masalah lain..”

Minjoo tersenyum menatap Gikwang, “Ah aku lupa mengucapkan terima kasih karena telah menolongku tadi. Mungkin jika tidak ada kau, aku bisa saja tertabrak oleh mobil tadi.”

Minjoo pun memutar tubuhnya menghadap Gikwang lalu menyunggingkan senyum dengan mata yang masih sembab dari sana.

“Terimakasih, Gikwang-ssi.”

Deg. deg.

Gikwang bisa merasakan hatinya berdenyut seketika melihat gadis itu tersenyum padanya. Walaupun dengan wajahnya yang masih sembab seperti itu pun, senyuman gadis itu sangat terlihat manis bagi Gikwang.

Astaga, Gikwang. Kau tidak boleh jatuh hati pada Han Minjoo.

“Kurasa, aku harus pulang sekarang juga.”

Minjoo pun mengangkat tubuhnya untuk berdiri lalu ia menunjukkan kaleng soda tadi pada Gikwang yang masih terdiam di sana mencoba menetralisir hatinya.

“Dan terimakasih untuk ini juga. Lain kali aku akan mentraktirmu, Gikwang-ssi.”

Minjoo pun dengan segera membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh dari pandangan Gikwang.

Setelah gadis itu tidak berada pada tatapan Gikwang, pria itu pun langsung tersadar dengan apa yang terjadi padanya.

“Astaga. Apa yang aku pikirkan.” Gikwang pun menepuk-nepuk dadanya, memarahi organ tubuhnya yang bernama jantung itu.

“Ya! kau tak boleh berdetak seperti itu. Aku harus ingat bahwa tujuanku pada gadis itu adalah untuk menyingkirkannya. Iya aku harus ingat itu..”

Gikwang mencoba meneguhkan hati dan pikirannya serta meluruskan kembali jalan pemikirannya yang sempat tergoyah tadi.

“Tapi mengapa… gadis itu tadi menangis? Apa ia sedang bertengkar dengan Baekhyun?” gumam Gikwang pada dirinya sendiri.

“Aku pulang.

Minjoo melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya.

Rumah ini terasa menjadi asing kembali setelah Bora tinggal di dalamnya. Minjoo tahu, Bora tidak bisa di salahkan dalam hal ini, karena sesungguhnya ia lah yang lebih pantas untuk di katakan bersalah.

Ialah yang merebut Baekhyun dari Bora. Bukan Bora yang merebut Baekhyun darinya.

Bahkan untuk mengatakan kepemilikan Baekhyun pada dirinya pun masih terasa tidak sah bagi Minjoo karena ia tahu, dalam situasi ini hanya dirinya lah yang menyukai Baekhyun.

Bukan Baekhyun dan Minjoo yang saling menyukai.

“Dari mana saja kau?”

Minjoo terperangah kaget mendapati suara itu di pendengarannya. Ia pun menegakkan wajahnya yang tertunduk sebelumnya dan menemukan Baekhyun yang terduduk di kursi tamu sambil memerhatikan dirinya.

“Kau… sudah pulang, Baekhyun-ah?” Minjoo mencoba untuk menyapa Baekhyun sebaik mungkin walau ini terasa sangat aneh untuknya.

“Aku bertanya, dari mana saja kau?” Baekhyun melihat ke jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya. “Bukan kah kau selesai kelas pukul 2 siang? Mengapa baru pulang 3 jam setelahnya?”

“A-aku.. ada kelas tambahan tadi.” Bohongnya. Mana mungkin ia bilang bahwa ia tadi menangis selama kurang lebih dua jam di taman. Bisa-bisa Baekhyun menyemburkan pertanyaan yang lainnya.

Untuk menghindari situasi yang sangat canggung ini, Minjoo pun mencoba untuk pergi menuju kamarnya meninggalkan Baekhyun.

“A-aku akan ke kamar dahulu, Baekhyun-ah. Nanti aku akan turun lagi.”

Minjoo pun mencoba melangkahkan kakinya dengan cepat. Tapi sial, Baekhyun dengan sigap menghentikan langkahnya dengan menarik tangan Minjoo.

“Kenapa dengan matamu?”

Deg. Minjoo baru saja melupakan fakta bahwa menangis terlalu lama dapat memberikan efek cukup kuat untuk matanya membengkak.

Minjoo pun memalingkan wajahnya untuk tidak menatap Baekhyun. takut pria itu menyadari jika Minjoo baru saja menangis.

“A-aku tidak apa-apa. Mataku tidak kenapa-kenapa..”

Baekhyun pun mengangkat tangannya dan perlahan menyentuh dagu Minjoo dengan lembut. Membuat wajah gadis itu kembali menatapnya.

“Kau tidak baik-baik saja, Minjoo-ya.”

Baekhyun memperhatikan wajah Minjoo dengan seksama.

Wajah cantik Minjoo tampak menyedihkan.

Matanya yang membengkak serta terdapat sedikit lingkaran hitam di bawah matanya.

Bibirnya yang sebelumnya berwarna pink itu kini berwarna putih dan sedikit mengering.

Menatap wajah Minjoo hanya membuat Baekhyun ingin sekali menghajar dirinya sendiri. Ia telah melukai Minjoo. Dan melukai gadis itu sama saja melukai dirinya.

Dalam hidupnya, Baekhyun belum pernah merasakan menjadi pria sebodoh ini.

“Kau benar-benar tidak baik-baik saja, Han Minjoo.”

Menatap Baekhyun hanya membuat hati Minjoo kembali sakit.

Ia terlalu merindukan Baekhyun.

Ingin sekali Minjoo memeluk Baekhyun saat ini seerat mungkin dan tak membiarkan pria itu untuk kembali pada kekasihnya.

Tapi ia tak bisa memenangkan rasa egoisnya demi kepentingannya sendiri.

Ia tak bisa mengorbankan kebahagiaan Baekhyun demi kebahagiaannya sendiri.

“Aku tidak apa-apa.” Minjoo mencoba tersenyum pada Baekhyun dan perlahan melepaskan tangan Baekhyun dari permukaan kulit wajahnya.

“Sungguh.”

Baekhyun bisa merasakan jika hatinya ikut meretak seketika Minjoo melepaskan tangannya dari wajahnya.

“A-aku akan kembali ke kamarku, Baekhyun-ah. per-misi.”

Minjoo pun melangkahkan kakinya melewati Baekhyun lalu berjalan menjauhi pria itu.

“Minjoo-ya.. mengapa kau terasa sangat jauh sekarang..” gumam Baekhyun.

Bora memasuki sebuah café untuk menemui seseorang yang telah membuat janji dengannya sebelumnya.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan menemukan seseorang di sudut café sedang menunduk sambil memasang headphone pada telinganya.

Bora pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri pria itu dan lantas melihat foto yang Kim Junmyeon berikan padanya ketika ia mengunjunginya beberapa waktu yang lalu.

“Permisi.”

Merasa ada seseorang yang menghampirinya, pria itu pun mendongakkan wajahnya lalu melepaskan headphone yang terpasang di telinganya.

“Lee Gikwang?” tanya Bora untuk memastikan pria tersebut.

Gikwang pun mengangguk sekali. “Kau Bora, kekasih hyungku bukan?”

Bora mendesis sebal lalu mendudukan dirinya di hadapan Gikwang.

“Mantan kekasih. Ingat itu.”

Gikwang mengangkat bahunya acuh, “Apa tujuanmu datang menemuiku?”

“Aku ingin bertanya, sudah seberapa dekatkah kau dengan Han Minjoo sekarang ini?”

Gikwang mengingat-ingat waktu pertemuannya dengan Minjoo. Yang pertama ketika sebuah motor hendak menabraknya dan yang kedua ketika mobil akan menabraknya serta gadis itu yang tiba-tiba menangis.

Jika di pikir-pikir, semua pertemuan itu merupakan pertemuan yang aneh bukan?

“Kurasa belum sedekat yang kau pikirkan. Aku baru saja bertemu dengannya sebanyak dua kali.”

Bora pun menghela napas pendek, “Kuharap kau cepat-cepat memiliki hubungan dengannya. Aku ingin rencanaku berjalan dengan cepat sebelum Baekhyun menyukai gadis itu lebih dalam lagi.”

Gikwang menatap Bora dengan menuntut, “Kau pikir untuk dekat dengan seseorang itu butuh waktu yang cepat? Tidak semudah itu jika kau ingin dia mempercayaiku.”

Bora melayangkan tatapan kesalnya pada Gikwang, “Terserah denganmu, yang penting jika kau ingin hyung mu cepat pulang dari penjara kau harus melakukannya dengan benar. Jangan sampai membuat kesalahan kembali seperti hyungmu.”

Gikwang ingin sekali menampar wajah gadis ini karena telah menyalahi hyungnya. Wanita itu terlalu menyebalkan. Gikwang tak habis pikir mengapa hyungnya bisa jatuh hati pada wanita sejahat seperti ini.

“Lantas, apa yang sudah kau lakukan, hm? Kau juga harus ikut membantuku jika ingin rencanamu ini berhasil dan berjalan dengan cepat.”

“Aku telah berhasil tinggal di rumah mereka dan mengusir gadis itu dari kamar Baekhyun.” Bora tersenyum puas mengucapkan kalimat tersebut selayaknya itu adalah prestasi terbesar yang ia lakukan.

Sekarang, Gikwang baru mengerti mengapa gadis itu menangis pada tempo hari lalu ketika ia bertemu dengannya.

Gadis itu pasti merasa amat sakit ketika Baekhyun kembali lagi dengan kekasihnya.

“Ah.. jadi itu yang membuatnya menangis..” gumamnya namun dapat tertangkap oleh penginderaan Bora.

“Apa maksudmu?”

“Tidak. Bukan apa-apa.” Gikwang pun meralat omongannya.

“Terserah dengan apa yang kau katakan, yang penting setelah kau berhasil mendekatinya kau harus bisa membuat dirinya jatuh hati padamu dan kita akan melakukan penjebakkan padanya agar Baekhyun berubah menjadi membencinya. Jangan lupakan rencana kita yang satu itu.”

Sejujurnya, Gikwang merasa iba pada Minjoo karena harus menjadi korban dalam rencana buruknya ini bersama mantan kekasih Baekhyun yang menggilai pria itu.

Tak seharusnya Minjoo menjadi korban dalam situasi ini. Tak sepantasnya Minjoo menjadi korban dalam rencana ini.

“Iya. Aku tidak akan lupa dengan rencana tersebut.”

“Sehun-ah, ada apa kau datang kemari?”

Sehun tersenyum lalu setelahnya ia mengangkat kedua kantung keresek yang berada di tangannya ke hadapan Minjoo.

“aku membawakanmu makan Minjoo-ya.”

Sehun sengaja datang hari ini karena ia tahu, Minjoo sedang dalam masa terburuknya saat ini. Tuan Byun sudah bercerita padanya bahwa mantan kekasih Baekhyun telah tinggal di rumah Baekhyun saat ini.

Mengetahui itu, Sehun langsung mengkhawatirkan keadaan Minjoo karena ia tahu, gadis itu teramat menyukai Baekhyun. salah, mencintai Baekhyun. dan pastinya gadis itu merasakan sakit saat ini.

“Untuk apa? Aku tidak menyuruhmu untuk membawakan makanan..”

Sehun pun memasuki tubuhnya ke dalam rumah, “Tidak ada siapa-siapa disini?”

“Baekhyun sedang pergi kerja. Kebetulan saja aku sedang tidak ada jadwal kuliah saat ini.”

Sehun pun mengangguk, mengiyakan perkataan gadis itu. “Baiklah, bagaimana jika kita memakan ini di dalam rumahmu?”

Minjoo berpikir sebentar. Jika Baekhyun mengetahui Sehun mengunjunginya, pasti pria itu akan marah sekali. Namun, jika Minjoo mengusir Sehun, ia akan merasa sangat tidak enak pada Sehun.

“Baiklah. Tapi hanya sampai pukul 4 sore saja, ok?”

“Iya, baiklah..”

.

.

Minjoo terus mengaduk makanannya tanpa berniat untuk menyicipinya sedikit pun. Sehun yang memerhatikan dari samping merasa sebal melihat tingkah Minjoo seperti ini.

“Ya. lihat makanan itu. kau terus mengaduknya hingga membuatnya terlihat menjijikan saat ini.”

“Aku sedang tidak mood untuk makan, Sehun-ah.”

Beberapa hari ini, selera makan Minjoo selalu menurun dan pada akhirnya membuat gadis itu jarang sekali memasuki asupan makanan ke dalam tubuhnya. Lihatlah tubuhnya yang sudah kecil pun semakin mengecil akibat perilaku yang ia lakukan itu.

Sehun berdecak sebal, “Lalu badanmu mau sekecil apa lagi, hm? Sekecil sebuah sedotan, iya?”

Minjoo melepaskan sendoknya dan membiarkan makanan itu disana. “Tolong Sehun-ah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”

Sehun pun menaruh piring makanannya ke atas meja tamu dan mengambil piring gadis itu. setelahnya Sehun mengambil satu sendok makanan dan menyondorkannya di hadapan Minjoo.

“Setidaknya kau harus menghargaiku karena telah membeli makanan ini. Makanlah walau satu sendok saja, kumohon.”

Minjoo pun merasa tidak enak dengan Sehun. Bagaimana pun juga, Sehun pasti sudah bersusah payah untuk membeli makanan ini untuknya.

Maka dari itu, Minjoo pun langsung melahap satu suapan yang Sehun sodorkan padanya.

“Nah ini baru Minjoo sahabatku.” Sehun pun tersenyum lalu menaruh piring tadi ke atas meja kembali.

Sehun sungguh sangat merasa iba melihat keadaan Minjoo saat ini.

Wajah ceria gadis itu benar-benar menghilang. Tak ada lagi Minjoo yang selalu tersenyum padanya. Tak ada lagi Minjoo yang selalu menyerangnya dengan berbagai pukulan.

Minjoo kini kembali menjadi gadis yang murung, sama seperti Sehun bertemunya tepat ketika ia pindah ke perumahannya dahulu. ketika Minjoo hanya tinggal sendirian dan belum punya siapa-siapa untuk menemaninya.

“Siapa pria itu, Minjoo-ssi?”

Mereka berdua pun terperangah kaget dan melihat ke arah pintu utama secara bersama-sama.

Bora memasuki rumah sambil menatap Sehun dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Apakah dia kekasihmu?”

Minjoo pun langsung mengangkat tubuhnya dan menggelengkan kepalanya.

“D-dia bukan kekasihku Bora-ssi. Dia temanku, sungguh.”

Bora menatap Minjoo dengan melecehkan, “Seharusnya kau tidak membawa teman priamu ke dalam rumah, Minjoo-ssi. Tak ingatkah statusmu apa sekarang? Ah aku lupa, statusmu itu hanya di dalam negara saja, bukan?” tuturnya dengan kekehan kecil di akhir.

Sehun yang tak terima Minjoo di lecehkan seperti itu pun mengepalkan tangannya, “Jaga bicaramu, nona.”

“terserah dengan kalian, aku akan masuk ke dalam. Maaf mengganggu waktu kalian.”

Bora melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan mereka berdua.

“Kau pasti ingin bertanya siapa gadis itu bukan, Sehun-ah?”

Sehun menolehkan wajahnya menatap Minjoo.

“Aku sudah tahu dia siapa.”

Mendengar hal itu, Minjoo lantas menolehkan wajahnya dengan cepat menghadap Sehun.

“Darimana kau tahu?”

“Ahjussi yang memberitahu padaku.”

Minjoo membulatkan matanya, “A-appa, tahu hal ini?”

Sehun mengangguka kepalanya, “Ia yang menyuruhku untuk menemuimu dan mengecek kondisimu, Minjoo-ya. ia takut sesuatu terjadi padamu..”

“Bagaimana Appa bisa tahu hal ini, Sehun-ah?” Minjoo lebih ingin tahu alasan mengapa Tuan Byun mengetahui hal ini ketimbang menjawab penuturan kata Sehun yang sebelumnya.

“Karena Nyonya Byun lah yang memberi izin pada gadis itu agar bisa tinggal disini bersamamu dan Baekhyun, Minjoo-ya..”

Minjoo pun tersenyum kecut. Ia bisa merasakan hatinya retak untuk kesekian kalinya.

Bahkan untuk mendapatkan hati dari Ibu Baekhyun pun tak bisa Minjoo lakukan. Ibu Baekhyun pasti masih sangat membenci dirinya saat ini.

“Ah.. pasti nyonya Byun begitu menyukai Bora untuk bersama Baekhyun, bukan?”

Sehun bisa merasakan kepedihan yang Minjoo rasakan kali ini.

Bagaimana pun juga, Minjoo adalah sahabat baginya dan merupakan salah satu orang yang ia sayang setelah ibunya. Minjoo terluka, maka Sehun pun ikut terluka.

“Minjoo-ya, apakah kau tak bisa untuk tak mencintainya?” Sehun menggenggam tangan Minjoo, “Kumohon, hentikan semua ini. Itu hanya membuat semakin terpuruk, kau tahu?”

Minjoo terseyum pada Sehun, “Aku sudah terlalu mencintainya Sehun-ah. dan aku tidak bisa untuk tidak mencintainya. Maafkan aku.”

Benar, Minjoo terlalu menyayangi Baekhyun. untuk tidak mencintai pria itu adalah hal tersulit yang ia lakukan saat ini.

Perasaannya pada Baekhyun terus menumbuh, enggan untuk berhenti ataupun padam.

Minjoo terlalu mencintai Baekhyun, memang.

Dan jika sudah begini Sehun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Minjoo-ya..”

Suara dentingan piring memenuhi ruang makan kediaman Baekhyun saat ini. Minjoo tetap pada pendiriannya seperti sebelumnya, hanya bisa menunduk dan menatap makanannya tanpa mencoba untuk memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

Bora yang duduk di sebrangnya terus mengoceh sesuatu pada Baekhyun yang tapi sayang tak pria itu tangkap sama sekali.

Pria itu terus memfokuskan netra menatap Minjoo yang murung di kursinya.

Lihatlah gadis itu, sudah tubuhnya kurus, ia tidak mau makan pula. Apakah ia ingin menghancurkan tubuhnya?

Baekhyun tidak bisa menyalahkan Minjoo dalam kondisi ini karena ini merupakan kesalahannya juga. Dan karena itu lah, Baekhyun hanya bisa terdiam dan merasakan kepedihan yang sama seperti Minjoo rasakan.

Merasa omongannya tidak di dengar oleh Baekhyun, Bora pun melihat ke arah Minjoo yang baru ia sadari sedari tadi Baekhyun menatap gadis itu.

Bora pun berdeham sebentar lalu mengganti topiknya.

“Ah, Minjoo-ya siapa pria yang mengunjungimu tadi siang ini?”

Mendengar kalimat itu, tubuh Baekhyun memanas seketika.

Sedangkan Minjoo tiba-tiba menegangkan tubuhnya, merasa kali ini ia baru saja ketahuan mencuri oleh seorang polisi.

“Dia.. Sehun.. temanku.”

Nama itu. Nama itu keluar lagi dari mulut Minjoo. Itu sudah sangat cukup bagi Baekhyun untuk menjadi alasan jika saja ia memecahkan piringnya nanti.

Untuk apa pria itu datang kemari?

“Ah temanmu dimana—“

“Untuk apa dia datang kemari, Han Minjoo?”

Bora memalingkan wajahnya menatap Baekhyun. sungguh, Bora bisa melihat jika wajah pria itu sedikit memerah. Menandakan bahwa ia sedang marah saat ini.

Minjoo pun menutup matanya sebentar lalu menguatkan hatinya dan menatap Baekhyun.

“D-dia hanya.. mengunjungiku.. Baekhyun-ah. tidak ada apa-apa lagi—“

“Untuk apa dia mengunjungimu?”

Minjoo tahu, jika sudah mengenai Sehun pasti Baekhyun akan menyemburkan berbagai pertanyaan seperti saat ini.

“Y-ya.. dia hanya ingin.. mengunjungiku.. m-mengapa tidak boleh?”

Ingin rasanya Baekhyun melempar piringnya saat ini. Mengapa tidak boleh? Jelas saja tidak boleh! Dia pikir Sehun bisa mengunjunginya kapanpun yang ia mau sedangkan ia sudah bersuami saat ini?

“Tentu saja tidak boleh! Kau ini sudah—“

“Sayang..” Bora mencoba meredakan amarah Baekhyun dengan menggenggam tangan pria itu.

“Tidak usah marah seperti itu, lagipula dia kan sudah bilang bahwa itu temannya bukan? Jika bukan temanpun kenapa kau harus mempermasalahkannya?”

Jika bukan teman, tentu Baekhyun akan menghabisi Sehun saat ini juga. Minjoo itu miliknya dan tidak boleh ada satupun yang memilikinya selain Baekhyun.

Minjoo pun memundurkan kursinya lalu mengangkat piringnya untuk menghindari amarah Baekhyun yang lebih besar lagi.

“Aku sudah selesai. Aku akan kembali ke kamarku. Permisi.”

Baekhyun yang melihat kepergian Minjoo pun hanya mengepalkan tangannya dengan keras. Ia benar-benar marah saat ini.

.

.

Minjoo baru saja menyelesaikan aktivitasnya memasuki pakaian ke dalam lemarinya setelah hari sebelumnya ia memindahkan sebagian bajunya ke dalam lemarinya. Ia telah pindah ke kamar tamu yang  terletak di sebelah kamar Baekhyun dan Minjoo sebelumnya yang kini menjadi kamar Baekhyun dan Bora.

Baru saja Minjoo hendak memasuki tubuhnya ke kamar mandi sebelum ia mendengar seseorang mengetuk kamarnya dengan cukup kencang.

Tok tok tok.

“Siapa yang mengetuk?”

Minjoo melangkahkan kakinya menuju pintu lalu membuka pintu kamarnya tersebut.

“Siapa—“

Dan Minjoo menemukan Baekhyun disana. Menatapnya dengan tajam.

Minjoo tahu pasti Baekhyun datang untuk membahas permasalah yang terjadi pada makan malam tadi.

Mengenai Sehun yang datang mengunjunginya.

“Ada apa.. Baekhyun-ah—“

“Kau masih bisa menanyakan itu padaku?” Baekhyun terkekeh kecil di akhir. Ia tak habis pikir mengapa Minjoo menjadi seperti ini. “Kau yakin menanyakan hal itu padaku, Han Minjoo?”

“Kumohon pelankan suaramu. Bora-ssi pasti sudah tertidur, bukan?”

Baekhyun pun mengeraskan rahangnya lalu setelahnya menarik Minjoo untuk masuk ke dalam kamar gadis itu.

“Sekarang jelaskan padaku mengapa Sehun datang mengunjungimu hari ini.”

Minjoo menghelakan napasnya, “Sudah kubilang bukan jika Sehun itu sahabatku? Tentu saja ia akan mengunjungiku kapanpun..”

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak menemuinya?!” suara Baekhyun pun meninggi.

Minjoo terkekeh pelan, “Lalu apakah aku menyetujuinya?!” dan ia pun ikut meninggikan suaranya.

Tolong siapapun hentikan mereka saat ini.

“Dengar Baekhyun-ah..” Minjoo mencoba untuk meredakan suaranya dan tidak memicu pertengkaran pada mereka.

“Kau bilang padaku bahwa aku tidak baik-baik saja bukan pada tempo hari yang lalu? Benar. Aku tidak baik-baik saja. Tapi kau tak perlu khawatir, Sehun telah disini dan ia bisa membantuku. Kau tidak usah mengkhawatirkan keadaanku kembali dan mulailah memfokuskan dirimu untuk kekasihmu.”

Baekhyun bisa merasakan sebuah petir menghantamnya saat ini juga dan menghancurkan tubuhnya berkeping-keping.

“Bukankah sudah kubilang untuk menggantungkan dirimu pada diriku saja?! Kau sudah berjanji, Minjoo-ya!”

Minjoo mencoba menahan air matanya saat ini.

“Aku tahu. Aku minta maaf mengingkari janjimu. Tapi.. ini demi kebaikanmu juga Baekhyun-ah. Ini demi kebaikan kita bersama, Baekhyun-ah.”

Minjoo salah, ini bukan kebaikan untuk mereka bersama. Ini hanyalah keburukan untuk mereka bersama.

Hancur sudah pertahanan tubuh yang Baekhyun dirikan selama ini. Hatinya hancur berkeping-keping, yang membuatnya merasakan sakit di berbagai titik di tubuhnya.

Ini terlalu pedih untuknya. Ini terlalu menyakitkan untuknya.

“Baiklah jika itu yang terbaik untukmu. Maaf jika aku hanya bisa melukaimu selama ini.”

Baekhyun memutar tubuhnya dan berjalan secara goyah menuju pintu kamar Minjoo.

Setelah berada di luar kamar gadis itu, Baekhyun menjatuhkan tubuhnya dan bersandar pada pintu kamar Minjoo.

Air matanya turun dari sana. Merealisasikan betapa sakit hatinya saat ini.

“Tuhan.. mengapa ini begitu menyakitkan..”

Baekhyun pun memegang pintu kamar Minjoo dengan tangan yang lemas.

“Aku membutuhkanmu Minjoo-ya, Aku sangat membutuhkanmu..”

Di balik pintu tersebut, tampak seorang gadis sedang bersandar pada punggung tempat tidur sambil memeluk kakinya.

bahunya bergetar cukup kuat.

Dan hatinya merasakan seperti apa yang Baekhyun rasakan di luar sana.

“Aku.. membutuhkanmu Baekhyun-ah.. Aku sangat membutuhkanmu..”

—TBC—

Annyeong lagi readers-deul.

Aku kembali dengan waktu yang lebih cepat. Gak sampai septemberkan!? Hehe

Maaf untuk kegejaan fict ini dan jika merasa fict ini semakin aneh, kalian boleh kok jadi silent readers doang.

Duh aku udah bingung soalnya ini tuh gak pernah ada di dalam alur aku jadi aku tambah2in gitu.

Mian hamnida ya. aku comeback tapi malah kayak gini ceritanya. Jeongmal mianhayeo T.T

20906180591_4f644a3102_o

백현6 (2)

How can you not love him when he is so lovable like this?💘

-Baek’s sooner to be fiancée again-

269 responses to “THE SUN [Chapter 13: I Need You] -by ByeonieB

  1. ckck oke aku bakal ngejelasin disini.

    Ya seperti yg author tau ini salah keduanya.salah keduanya karna cuman pasrah sama keadaan.

    Minjoo yg cuman iyaiya doang terus patah hati gak perjuangin pendapatnya. Dia ini istri baekhyun. Segitu bego-nya kah dia gak memahamin tingkah baekhyun selama ini ke dia? Heol. She is a fool woman ever. Walaupun istri hanya sebatas surat tapi dia ttep istri dan punya hak buat ngelarang bora buat tinggal dirumahnya. Bagaimanapun dia istri baekhyun lah.

    Dan baekhyun, heol. dia juga bego nya kebangetan cuman bisa ketemu dan marah2in minjoo pas bora gaada. padahal ini juga salah dia sebagai suami gaada ngelindugin istrinya amat. Percuma bersikap manis sama minjoo kalau cuman bisa nyakitin minjoo doang.

    Oke kesimpulannya mmereka sama2 salah. Dan well, gue salut sama author iniiii karna sukses bikin gue kesel setengah mati huhuhuhu😂

    KEEP FIGHTING!

  2. jirrrr kezel sama si bora, cepet2 enyahin deh dia dari situ. yampun kenapa sih si minjoo malah dorong2 baekhyun buat si bora, minjoo itu bodoh atau gmn? dia blm sadar sama perasaan baek? astagaaaa naek darah nih gue

  3. Hanjerrr nangis campur kesel gue bacanya asli 😂😂 dua2nya bego asli bego.. kesel ih masa mau kaya gini terus bek? Itu istri lu bek! peka dikit napa njerrㅠㅠㅠㅠ

  4. huhuhu U.U sedih be-et cinta mereka thor pas di akhir.. duhlaaahhhhhh -_- #abaikan pokoknya keren abis dah part ini bikin baper wkwk

  5. Nyesek bangeeeettt gilaaa,gw jadi ikutan nangis dan nyesek minjoo kasian banget bangeett fighting minjoo😥

  6. Suka maksud emang baekhyun, agak gak suka eh ralat maksudnya sangat gak suka sama karakter Baekhyun disini jadi orang kok egois banget? Jelas” dia yang salah, masih nanya ke si minjoo kenapa minjoo terasa jauh? Seharusnya karna baekhyun udah tau kalo minjoo suka sama dia ya pasti udah bisa peka banget dong.. ih bodoh deh.. maap author emosi soalnya hehe

    Bora gak bakalan jadi paling jahat kalo aja pasangan baek minjoo bukan pasangan bodoh wkwk semoga lu peka ya baek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s