[Episode 6] We Got Married! by slmnabil

we-got-married-request-slmnabil

[6th Episode]

Home Sweet Home

2015 © slmnabil

poster belongs to junnieart!

Previous Episode :

1st Teaser | 2nd Teaser | Before Filming

#1 Knowing Each Other | #2 Pre Marriage Syndrome | #3 Secretly Beautifully

#4 Sweet Punishment | #5 Accidentally Married | #5.5 Longest Night

Gumpalan bola panas pasti bersinar sangat terik di luar sana. Burung-burung pasti sudah pulih dari cuit-cuit yang menyiksa kerongkongan. Angin pasti sudah menjadi lebih ramah belakangan. Karena aneh saja tiba-tiba Sooyeon merasa sedamai ini.

Setiap kali bias cahaya menelisik, mengendap-endap masuk dalam retinanya terkadang Sooyeon berpikir kalau ia lebih baik tidak bisa berkedip lagi. Karena dengan seperti itu, ia tidak perlu begitu cemas dengan apa yang akan dilakukannya untuk bertahan hidup hari itu. Namun hari ini, kembali bernapas adalah sesuatu yang dirasanya perlu disyukuri. Melakukan siklus oksigen dari ceruk persegi di sisi rumah yang sudah terbuka lebar. Melihat pintu dalam keadaan serupa, Sooyeon berpikir kalau crew membuka kuncinya pagi-pagi sekali. Apakah itu artinya serangkaian kegiatan lain harus dilakukan hari ini? Jujur saja, sedikit menyenangkan untuknya.

Tidak banyak sih yang Sooyeon harapkan hari ini. Maksudnya, Chanyeol tidak akan bersikap manis seperti dulu hanya karena mereka sudah baikan bukan? Ini tidak lagi soal dirinya dan pemuda jangkung yang menyukainya, berjuta nyawa berada di antara keduanya sekarang. Tentu saja Chanyeol harus ekstra hati-hati. Aneh juga sih Sooyeon memikirkan yang seperti ini.

Omong-omong, dimana Park Chanyeol?

Mereka tidak tidur bersama -kalau iya gila namanya, pemuda itu menggelar kasur lain untuk terlelap tadi malam. Setelah pertukaran konversasi panjang, Park Chanyeol membungkusnya dengan ucapan selamat tidur yang membuatnya menyunggingkan senyum simpul.

Sooyeon tidak percaya kalau mereka sudah baikan. Kesalahpahaman yang begitu mengganggunya beberapa tahun terakhir, ternyata bisa selesai dalam waktu tidak sampai dua jam. Bentuk penggambaran sempurna dari kekuatan saling terbuka.

Ia sempat memiliki pikiran bahwa, “Apakah aku cewek gampangan?” Rasanya aneh saja kalau dirinya semudah itu memaafkan, seolah-olah ya kita sama-sama bersalah. Tapi kembali lagi ke perkataan Chanyeol tadi malam yang masih menjejak jelas dalam arsip memorinya, bahwa akan ada banyak hal yang menjadi bahan perdebatan mereka, jadi balas dendam itu masih memungkinkan. Baik itu tempramen Sooyeon yang kelewat edan-edanan, atau Si Jangkung dengan kekonyolan tanpa dasar. Mengingat kepribadian keduanya memang begitu sejak dulu, bodoh ‘kan kalau berpikir perubahan akan dilakukan semalam? Toh ini bukan dunia sihir yang rapalan que sera sera akan bekerja optimal.

“Selamat pagi.”

Bariton menggedor kesadarannya, membuat Sooyeon sepenuhnya merasakan kerja jantungnya yang mulai tak terkendali.

Sial, apa ini? Ia memekik dalam hati.

“Kau baik?” tanya Chanyeol memastikan saat Sooyeon tak kunjung menimpal perkataannya. Bukankah ucapan selamat pagi seharusnya dibalas serupa? Atau tidak? Suka-suka deh.

“Apakah aku melindur tadi malam?”

Oke, ini peralihan topik yang paling aneh. Tidak tahu juga kenapa Sooyeon melakukannya, tapi serius nih jantungnya baru saja berdebar lebih cepat?

“Melindur sih tidak, tapi kurasa kau mendengkur,” timpal Chanyeol jahil-mengulum senyum.

“Begitukah? Itu memalukan.”

“Menurutku jika kau melihat ke cermin sekarang, harga dirimu bisa jatuh sampai ke dasar. Ada air liur, kau ngiler semalam.”

Ini bukan lagi soal adu kemampuan mengejek, pipi Sooyeon sudah merona seperti kepiting rebus. Menghajar Chanyeol sih dia bisa, tapi lain hal jika tinjuannya dibayangi rona merah muda lebih memalukan namanya.

“Bisa bersiap lebih cepat? Produser Lee sudah mengirim komando untuk kembali ke Seoul.”

Netranya bersirobok dengan milik si lawan bicara. “Begitukah? Oke, kuusahakan cepat.”

Chanyeol mengacungkan ibu jari tanda mengerti. Namun derap langkah menjauh berhenti di radius tiga puluh senti.

“Mungkin kau harus mengutamakan sudut-sudut mata. Itu sedikit kacau,” begitu katanya.

Oke, Sooyeon sudah terlalu matang. Mungkin sekarang warnanya kehitaman, terlambat ditiriskan.

Antisipasi penonton akan adegan romantis dalam mobil seperti pasangan-pasangan lain rupanya bisa terealisasikan hari ini. Meski tidak masuk kategori manis yang sampai menimbulkan diabetes, tapi ini cukup membuat iri lho! Bagi Chanyeol dan Sooyeon untuk bertukar kalimat selama perjalanan itu namanya kemajuan bukan? Meski topik yang mereka singgung tidak melulu soal cinta, setidaknya ada sesuatu yang bisa menjadi bahan pembicaraan.

Perkataan Chanyeol saat mengawali pembicaraan misalnya, sesuatu yang sangat bodoh dan konyol untuk ditanyakan.

“Rambutmu bertambah panjang ya?”

Diselidik dari sisi manapun, Sooyeon tak mengerti kenapa pemuda itu melontarkan sesuatu semacam itu. Maksudnya, hei mereka selalu bersama bukan beberapa bulan terakhir? Daripada menyinggung soal perubahan tempramen Sooyeon yang menjadi lebih tenang, Chanyeol memilih perubahan secara fisik. Dan yang lebih anehnya, Sooyeon merasa gugup hanya dengan pertanyaan yang segitu saja. Bagaimana jadinya kalau pemuda ini mengatakan sesuatu yang ekstrim seperti, ada ular di sepatuku macam Woody atau di bagasi kita ada bom lho! Mungkin sirkulasi darah Sooyeon akan berhenti seketika.

“Begitukah? Aku tidak terlalu memperhatikan,” timpalan Sooyeon yang dirasanya luar biasa payah.

“Tapi Sooyeon, apakah kau merasa gugup? Bicaramu canggung sekali. Santai saja.”

Gadis yang tadinya hanya berani menatap lawan bicaranya dengan mencuri lihat dari sudut netra dan refleksi cermin menjadi tertarik untuk mengarahkan visinya ke objek nyata. Sooyeon mengamati Chanyeol sejenak.

“Kau tahu? Yang seharusnya pria lakukan jika menemukan sesuatu yang mungkin saja membuat perempuan malu adalah dengan tidak menyinggungnya.”

Bukan Chanyeol namanya jika tidak memantik amarah. Bukan Chanyeol namanya jika tidak bisa membalikkan perkataan.

“Oh, akhirnya.”

“Akhirnya apa?”

“Kau normal kembali,”ia bilang.

“Memangnya aku berubah menjadi mutan dalam semalam? Tentu saja aku normal.”

Bertepatan dengan lampu yang menyala merah dan mempersilahkan pejalan kaki untuk melintas, Chanyeol mengubah atensi kepada gadis di sampingnya. Menatap dengan pandangan menyelidik.

“Apa?”

“Jalan pikiranmu sedangkal itu ya? Apakah dirimu benar-benar pengarang novel?”

“Wah, sekarang kau menghina.”

Kurva melengkung terpatri di bibir Chanyeol begitu melihat Sooyeon bersilang lengan dan mengamatinya sinis menunggu penjelasan. Terkadang gadis ini bisa bertransformasi dengan tempramen yang sama sekali berbeda dalam waktu singkat. Yang jelas Chanyeol berpikir kalau ini semacam bentukan kepribdian ganda versi Kim Sooyeon, si ekspresi seribu.

“Maksudku, kau tak perlu canggung hanya karena kejadian semalam.”

“Semalam? Memangnya ada apa? Kita ikut pesta zombie? Terbakar karena bawang putih misalnya? Sebanyak apa kita foya-foya?”

“Aku tidak terkejut dengan peralihan topik yang luar biasa aneh.”

“Oh tentu, karena kau lebih aneh.”

Dan tidak ada sahutan lagi. Dalam persepsi orang lain pertengkaran kecil semacam ini bisa saja bentukan komunikasi baru, menunjukkan sisi romantisme dengan cara yang berbeda. Pun dengan Park Chanyeol, ia terkadang merasa cerewetnya Kim Sooyeon alih-alih kesal sebenarnya ia perduli dan menikmati berada di tengah konversasi dengan dirinya.

Tapi tentu tidak sepenuhnya sependapat dengan gadis marga Kim tersebut. Ada sebuah rahasia dibalik arogansi yang acap kali ditunjukkannya. Penulis Kim bisa menjadi galak sewaktu-waktu apabila dirinya merasa canggung dan gugup untuk melakukan pembicaraan. Juga perlu digarisbawahi kalau harga dirinya sangatlah tinggi, jadi ia lebih menghendaki dijuluki gadis tempramental dibanding nerd yang terlihat konyol di pandangan orang lain.

Tentu saja Chanyeol mengerti betul soal ini. Kencan tiga tahun mereka bukanlah melulu soal roman, bisa dikatakan keduanya mengenal baik satu sama lain luar dalam. Itulah alasan mengapa Chanyeol tidak bisa balas menyalak apabila Sooyeon marah-marah.

“Aku mau tidur, bangunkan jika sudah sampai.”

kim4

Q : Apakah tidur bagian dari kegiatan wajib jika kau sedang bepergian? Kau tertidur tiap kali dalam perjalanan.

“Kupikir karena banyak yang harus dilakukan setelahnya, aku hanya memanfaatkan kesempatan untuk beristirahat. Dan sudah cukup lama sejak aku keluar rumah saat libur jadi belum terbiasa lagi untuk banyak bergerak.”

Q : Tapi sekarang Park Chanyeol yang hiperaktif sudah menjadi suami virtualmu, bukankah itu akan mengubah kebiasaanmu secara bertahap?

“Jika perubahannya menuju ke arah yang lebih baik kenapa tidak?”

Q : Rupanya pernikahan membuat dirimu berubah secepat itu ya?

“Ow, argumen itu membuatku merasa menua lebih awal.”

Chanyeol tak ada di sana ketika kelopak Sooyeon kembali menegang. Meski tidak merasakan pantulan cahaya yang tiba-tiba, suhu udara yang dirasanya meningkat membuatnya terbangun. Oh ini area parkiran, pikirnya. Dan Sooyeon langsung tahu kalau tempat dimana dirinya berada adalah sebuah supermarket. Jadi bisakah seseorang memberitahunya untuk apa Chanyeol membawanya kemari?

Sebenarnya Sooyeon sudah mengeluarkan ponsel pasalnya menduga-duga bukanlah gayanya, ia lebih suka menanyakannya secara langsung tanpa bertele-tele. Seharusnya sih sekarang Sooyeon sudah tahu di mana posisi Chanyeol, tapi mendapati selembar kertas tebal tersampir di dashboard yang begitu dikenalinya membuat Sooyeon mau tak mau berpikir ulang untuk menghubungi pemuda itu.

Hari ini kalian akan berpindah ke rumah pasangan yang baru. Beli beberapa perabot dan atur tata letaknya bersama.

Adalah apa yang tercetak besar-besar di kartu misi. Serius dulu Sooyeon sangat senang jika datang bagian yang seperti ini, mengerjai orang lain bisa menjadi hiburan sesekali. Untuk merasakannya sendiri, ia harus berpikir ulang tentu saja.

Jadi setengah terpaksa, Sooyeon mendorong pintu mobil dan menghilang dalam lautan manusia menuju supermarket. Ia akhirnya tahu alasan mengapa tidak suka berada di tengah keramaian, Sooyeon harus lebih hati-hati dengan langkahnya jika tidak ingin terjatuh.

Menemukan Park Chanyeol diantara rak-rak dan pengunjung setara dengan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat kecil kemungkinannya apalagi mengingat Chanyeol sedikit tidak mau diam. Mungkin saja pemuda itu tengah bermain-main dengan troli, meluncur bebas sana-sini, atau malah meraih segala objek yang menangkap ketertarikannya tanpa perhitungan.

Dulu saat mereka masih berkencan, Ibu Sooyeon seringkali meminta bantuan kepada keduanya untuk membeli beberapa keperluan yang dituliskan pada secarik kertas. Dari semua sudut supermarket Chanyeol itu paling suka berlama-lama di area buah dan sayur, karena itu menyegarkan aktifitas netranya ia bilang.

Sooyeon tahu berpikir kalau Chanyeol mungkin saja berada di sana tidak begitu tepat, karena kebiasaan bisa saja diubah. Namun tetap saja sih disamping itu, kumpulan arsip memori tidak akan berterbangan semudah itu. Yang harus dilakukannya hanyalah mencoba membuktikan dugaannya atau mungkin ia akan menyesali keputusan untuk menunggu dengan cantik di areal parkir.

Oke, Sooyeon tak terkejut. Kenyataan bahwa Park Chanyeol tengah memasukkan beberapa macam sayuran dan buah-buahan ke dalam troli membuktikan kalau hipotesisnya baru saja melahirkan sebuah teori baru. Bahwa kebiasaan memang sulit ditinggalkan. Park Chanyeol mudah sekali ditebak.

“Mau memberi makan orang hutan dengan pisang sebanyak itu? Atau mungkin tertarik menjadikan monyet sebagai peliharaan?”

Chanyeol menoleh kaget, Sooyeon persis berada di balik punggungnya –mungkin dia mencuri lihat. “Wah, kau sudah bangun. Tadi kupikir kau mati.”

“Sudah dua kali kau memprotes kebiasaan tidurku.”

“Aku berbicara tentang hal yang memang menurutku menarik, apa itu salah? Yah sekalipun cakupannya termasuk mengigau, mendengkur, dan ngiler,” katanya sebelum buru-buru mengambil langkah defensif meninggalkan Sooyeon di belakang.

“Park Chanyeol serius, cobalah untuk tidak terbunuh hari ini.”

Sooyeon menjejaki karet sepatu Chanyeol dengan langkah seribu.

Tidak ada yang benar-benar spesial dari apa yang mereka lakukan selanjutnya. Maksudnya, beradu argumen sampai adu fisik ringan sudah biasa untuk keduanya. Persis seperti yang Chanyeol katakan, kalau masih ada setumpuk alasan kenapa mereka akan berkelahi. Sooyeon tak perlu sebegitu khawatir.

Melihat troli yang sudah hampir tidak muat untuk dijejalkan barang lain lagi, mereka memutuskan untuk membayar. Sooyeon tidak terlibat terlalu banyak dalam pemilihan perabot yang akan mereka gunakan bersama, jadilah bibirnya gatal sekali untuk mengomentari selera Chanyeol. Kebanyakan pemuda itu memilih warna-warni, tidak ada unsur keselarasannya sama sekali.

Katakanlah ia memilih abu metalik untuk alat-alat makan, coklat untuk piring, dan merah untuk cup minum. Jadi dilihat dari mana jika ingin menyimpulkan semuanya cocok ditempatkan di bidang horinzontal yang sama? Lelaki ini benar-benar sembarang saja memilih sesuai keinginannya.

chan4

Q : Penulis kami sedikit menyebalkan ya?

“Kupikir keputusan tepat jika kalian memecatnya begitu acara ini selesai. Bicaranya terbiasa tidak pilih-pilih.”

Q : Setidaknya akhir-akhir ini itu menjadi daya tarik tersendiri.

“Oh iya, Baekhyun juga pernah mengatakannya. Mungkin orang-orang perlu belajar mengeja lagi. Tentang bagaimana cara bicara yang baik dan melakukan penilaian.”

Q : Kau bisa membuka kelas belajar bicara lagi kalau begitu. Jujur saja, Sooyeon tidak sebegitu menyebalkan bukan? Popularitasnya di dunia maya hebat sekali akhir-akhir ini. Ia dijuluki Si Mulut Terabas.

“Bukankah julukannya terlalu ringan? Kenapa tidak sekalian menyebutnya Mulut Barbar Tidak Tahu Sopan Santun?”

“Oh ya, itu terlalu panjang untuk dijadikan julukan.”

“Wah mereka sedang cari mati dengan kita.”

Kalimat umpatan paling berpotensi mengumpan Produser Lee untuk jerit-jerit hari ini, tapi untung sih wanita itu tidak berada di lokasi. Tampak luar tempat tinggal mereka memang bagus, menarik malah berkat desain minimalis namun tetap cantik. Warna dasarnya putih dengan beberapa bagian yang di cat biru, oke sesuai dengan keduanya. Meski masing-masing ruangan diberi warna berbeda, tapi semuanya terlihat cocok berdampingan.

Tapi masalahnya yang dimaksud menata sebelumnya adalah penataan ulang keseluruhan! Semua perabot berat seakan memiliki titik kumpul tersendiri di ruangan tengah yang paling megah dibandingkan yang lainnya. Memindahkan ke masing-masing spot tepat adalah yang akan menguras tenaga mereka seharian.

Chanyeol dan Sooyeon sama-sama bersilang lengan tak percaya. Pikir mereka jasa tata perabot pasti sedang mengalami rekonstruksi. Teganya orang-orang ini. Sedang Sooyeon masih memikirkan skenario terburuk jika ia harus membereskan segalanya hanya berdua, Chanyeol yang biasanya banyak membual akhirnya sedikit bersikap lebih normal. Saatnya memanggil bala bantuan.

“Hyung, kalian di asrama?”

Menghubungi Kim Minseok adalah yang paling tepat di atas segalanya, mengatakan pemuda itu menjadi yang terkuat di antara sembilan tidak salah lho! Ia memang mampu.
“Ya, kami semua bersantai sekarang. Kenapa? Mau pamer istri barumu?”

Chanyeol lebih memilih menghiraukannya, ini situasi genting. “Datanglah ke alamat yang kukirim lewat pesan sekarang juga. Kalau bisa sih formasi lengkap.”

Sooyeon melirik Chanyeol, boleh dikatakan pembicaraannya terdengar menjanjikan. Ia mengeja tanpa suara : SI-A-PA? Sedang Chanyeol hanya mengibaskan tangannya meminta agar gadis itu tenang saja.
“Oke, tapi tidak ada acara kerja-mengerjai. Awas saja kau!”

Sambungan terputus, Minseok pasti tengah mengabsen kehadiran saat ini.

“Memanggil bala bantuan,” kata Chanyeol menjawab pertanyaan Sooyeon sebelumnya sembari menjejalkan ponselnya kembali ke saku jins. Gadis itu mengangguk tanda mengerti.

Chanyeol menemukan objek di sudut yang begitu menarik sampai ia mengambil langkah cepat ke sana. Sebuah sofa. Ia berbaring. Chanyeol benar-benar bersantai. Sooyeon pikir itu tidak efesien.

“Menurutmu kau bisa bersantai hanya karena bala bantuan segera datang, begitu? Jalan pikiranmu dangkal sekali,” omel Sooyeon.

“Sebagai istri kau ini tipe yang suka menirukan ibu mertua ya? Berisik sekali. Dan satu lagi, kau lupa soal poin harus menurut. Kita sudah saling menghormat di pernikahan.”

Sooyeon memutar netra. “Wah kau jadi semakin menyebalkan saja,” ia menghampiri Chanyeol lalu menarik tungkai panjangnya berusaha melepaskannya dari sofa empuk, “Setidaknya kita harus melakukan yang ringan dulu, ini benar-benar harus beres hari ini Chan!”

“Wow, itu panggilan akrab.”

Sepertinya kata di penghujung lebih menarik bagi Chanyeol dibanting serentet aksara sebelumnya, pemuda itu begitu detil soal yang semacam itu.

“Kau tahu bukan itu yang kutekankan.”

“Tapi aku lebih suka memanggilmu Yeon, dan untuk penyesuaian kenapa kau tidak panggil aku Yeol saja? Agar serasi.”

“Ya ampun kau membuat frustasi saja.”

Sooyeon menyerah, bicara dengan Si Pembual Jangkung tidak akan pernah menemukan akhir. Sesekali ia berpikir kenapa dulu dirinya tahan dengan manusia ajaib seperti ini sampai tiga tahun.

Chanyeol masih meracau tentu saja, tapi demi kesehatan mentalnya Sooyeon memilih untuk menganggapnya radio dari pasar loak yang sedang direparasi. Ada beberapa perabot ringan yang bisa diaturnya, pajangan dinding sebagai contoh. Apalagi palu dan paku sudah tersedia di kotak peralatan yang memudahkannya melakukan pekerjaan.

“Aku menjamin kau tak akan bisa memasangnya cukup tinggi,” ejek Chanyeol masih dengan posisi santai menyatukan kedua telapak tangan sebagai bantalan.

Sooyeon sih pura-pura tidak dengar saja, boleh juga jika ia melemparkan palunya sekarang tapi kemanusiaannya tinggi tentu saja. Lengannya dijulurkan ke atas mencoba mencari letak yang tepat untuk menghujamkan pakunya. Ia memukul pelan bagian atasnya sementara untuk melihat apakah sudah cukup tinggi.

Ugh, terlalu rendah. Dan Chanyeol menertawainya sekarang. Sooyeon melemparkan tatapan kesal kepadanya. Sungguh, lelaki ini terlalu banyak berubah.

Bisa dikatakan keluarga Sooyeon senang nomaden, mereka tidak pernah membeli karena menyewa tempat tinggal lebih menyenangkan. Mudah bosan adalah sifat kompak sebagai satu keluarga, meski tidak mengerti Chanyeol seringkali membantu dalam prosesnya. Setiap kali pindahan, pemuda jangkung selalu dibutuhkan untuk mencapai tempat-tempat tinggi.

Kim Sooyeon terlihat lucu dalam balutan seragam modifikasinya, dia bilang sih ini tren baru dengan memadukan celana olahraga dengan rok. Chanyeol tidak sependapat, tapi serius Sooyeon tidak terlihat aneh-aneh amat.

Harga diri Sooyeon selalu setinggi itu, meski posturnya tidak mendukung. Chanyeol sudah menawarkan untuk membantu meletakkan figura-figura di papan dengan siku-siku sebenarnya, tapi oh gadis itu tidak mendengarkan.

Pemuda itu berjarak beberapa ubin dari Sooyeon yang masih berjingkat-jingkat, bersedekap lengan yang kemejanya sudah dilipat sebatas siku. Ia siaga siapa tahu Sooyeon melakukan kesalahan mengingat gadis itu cerobohnya bukan main.

“Aku sudah bilang kalau tinggiku bertambah dua senti bukan? Jangan remehkan kekuatan kecil semacam itu,” kata Sooyeon megap-megap.

“Persis.”

“Tapi sepertinya pertumbuhanku tidak jadi, Yeol. Ini bukan karena aku tidak tinggi lho!”

“Iya aku mengerti, kau hati-hati saja.”

Chanyeol mengamati Sooyeon dengan berdebar juga sebenarnya. Pergelangan kakinya mungkin saja terkilir, kepalanya mungkin saja terantuk pajangan dinding yang hanya berjarak beberapa jengkal, sikunya mungkin saja menyenggol dinding secara tidak sengaja. Rasanya tak sekalipun Chanyeol tidak khawatir soal kekasihnya, ia harus selalu diawasi gerak-geriknya. Terakhir kali Sooyeon ditinggal sendirian di perpustakaan sekolah, rak buku hampir menindih tubuhnya.

Untuk yang satu ini Chanyeol tidak lengah sedikitpun, jadi menahan bahu Sooyeon yang tertarik gravitasi karena tungkainya yang lemas mampu mengurangi angka kecelakaan Kim Sooyeon minggu ini.

“Ya Tuhan, cobalah untuk tidak terluka hari ini.”

Chanyeol adalah pemuda sejenis itu dulunya, entah apa sih yang mengubahnya sampai bisa berubah macam setan seperti ini. Pandangan Sooyeon berkilat-kilat sementara Chanyeol tak habis-habisnya menertawai. Sebenarnya ada satu teori yang ingin Sooyeon coba, judulnya : Menguji Apakah Chanyeol Masih Punya Sisi Kemanusiaan Atau Tidak. Dan sepertinya keadaan mendukung sekali.

Awalnya ia berpikir untuk menjatuhkan palu ke jari-jari kakinya, tapi oh terlalu beresiko. Berjingkat-jingkat untuk memasang pajangan dinding juga rasanya tidak begitu tepat karena ada ancaman benda itu benar-benar mengenainya. Sejatinya Sooyeon masih seperti dulu, masih ceroboh. Berjalan di media horizontal saja terkadang ia oleng. Akhir-akhir ini ia menguranginya saja secara bertahap, penyesuaian selama beberapa tahun.

Ngomong-ngomong tangga di sudut itu mengarah kemana ya? Kebetulan tidak terlalu tinggi dan kalaupun terjatuh paling Sooyeon hanya memar ringan. Ia memutuskan kalau yang ini patut dicoba.

Masih sadar Chanyeol memperhatikan Sooyeon mengambil langkah menuju anak-anak tangga, berpura-pura seperti pengamat yang tengah melakukan survei menyeluruh. Dan ewww, tidak usah terencana pun ia terjatuh juga di tundakan kedua.

“Kenapa kau masih saja ceroboh?”

Alunan bariton yang sama. Jadi Chanyeol masih ingat kebiasaannya ya? Kalau begitu teori soal kebiasaan yang sukar diubah benar adanya.

“Wah kalian mendalami sekali ya main nikah-nikahannya?”

Sontak perhatian keduanya teralih bersamaan. Ah benar-benar formasi lengkap. Chanyeol tidak tahu sejak kapan Sooyeon dan Baekhyun mulai dekat, tapi gadis itu langsung menyambut lelaki itu dengan hangatnya begitu jaraknya tidak lagi jauh.

“Bagaimana harimu, Sooyeon?” tanya Baekhyun.

Gadis itu tersenyum. “Pasti akan menyenangkan,” timpalnya sembari mengedarkan visi ke delapan pemuda lain yang mulai tampak akrab. Ah, ada satu orang yang menangkap atensinya lagi. Sooyeon melambaikan tangannya bertepatan dengan netra yang bersirobok dengan milik Do Kyungsoo. Jelas Chanyeol tidak suka ide tentang keduanya yang mulai dekat. Karena ia sepenuhnya mengerti kalau Kyungsoo tahu siapa Sooyeon.

“Bala bantuan datang. Bukankah lebih sopan jika kau membuatkan mereka minuman?” sela Chanyeol. Sebenarnya ia sedikit menyenggol Sooyeon untuk menjauh, membuat gadis itu jengkel setengah mati sebelum menghilang di balik dinding yang disebutnya sebagai dapur.

kim4

Q : Interaksimu dengan orang lain sepertinya mengalami peningkatan. Jadi D.O dan Baekhyun sudah dekat ya denganmu?

Ya begitulah. Waktu itu mereka membuatku nyaman saja, dan aku bertukar nomor telepon dengan Baekhyun. Dia cukup menyenangkan untuk dijadikan teman bicara. Dan khusus untuk D.O aku merasa dekat saja dengannya secara alamiah, karena katanya nama aslinya Kyungsoo. Aku punya teman dekat dengan nama yang sama, itu lucu.”

Q : Itu bagus. Kau menjalin pertemanan sekarang, apakah ada sangkut pautnya dengan Chanyeol?

“Banyak sedikitnya dia memang membantu sih. Aku menjadi lebih banyak bicara akhir-akhir ini karenanya juga, meski dalam bentuk perdebatan tapi aku merasa lebih komunikatif sekarang.”

Q : Pernah dengar soal kepribadian yang sulit berubah? Sepertinya dari dulu kau memang seperti itu.

“Ah, teori yang sama denganku. Aku memang banyak bicara sebelum orangtuaku bercerai, tapi mungkin sedikit berubah sebelum bertemu dengan Chanyeol. Aku merasa berterimakasih.”

“Sama-sama.”

Q : Lain kali kalian harus diwawancarai bersama.

Chanyeol pikir ada yang tidak beres saat Kyungsoo mengikuti Sooyeon ke dapur. Jadi setelah menyampaikan instruksi yang belepotan, ia bergegas menjejaki langkah yang sama dengan dua manusia sebelumnya. Mencuri dengar arah pembicaraan mereka.

“Untuk satu alasan aku nyaman berada di dekatmu, Kyungsoo. Temanku memiliki nama sepertimu. Kebetulan sekali ‘kan?”

Chanyeol menegang, sama halnya dengan Kyungsoo. Sooyeon sih santai saja menuangkan cola ke gelas-gelas yang dicucinya mendadak.

Ada satu hal yang melintasi benak Kyungsoo sebenarnya, kalau mungkin saja ia perlu memberitahu kalau Kyungsoo-nya Sooyeon adalah dirinya. Gadis itu pasti terkejut, tapi terus-terusan berbohong seperti ini juga rasanya tidak benar. Apalagi Chanyeol juga sudah mengetahuinya Kyungsoo merasa kalau pemuda itu akan berusaha menjauhkan keduanya, dan rasanya ia tak ingin untuk beberapa alasan.

“Sooyeon, bagaimana jika Kyungsoo-“

“WAH KALIAN LAMA SEKALI!”

Resonansi yang bariton Chanyeol timbulkan begitu kental rasanya. Dia maunya apa sih? Mungkin Sooyeon berpikir begitu. Tapi jika dilihat-lihat Chanyeol sedang menghalangi Kyungsoo mengatakan kebenaran, tidak tahu juga kenapa ia refleks melompat dari persembunyiannya.

“Mereka butuh bantuanmu katanya,” ia bilang pada Kyungsoo. Mereka saling melempar pandangan sebelumnya ketika akhirnya Kyungsoo mengalah dan meninggalkan dapur.

“Kau itu maunya apa?” ini yang Sooyeon lafalkan begitu Chanyeol mengambil langkah lebih dekat.

“Seberapa sering temanmu mengirim pesan akhir-akhir ini?” tanyanya sengaja menyamarkan –mengingat ada kamera yang mengawasi.

“Apa urusanmu?”

“Jawab saja,” Chanyeol menuntut.

“Cukup sering.”

“Kau menyukainya?”

Oke, ini peralihan topik aneh yang lain. Keduanya sepertinya sudah ahli dalam hal alih-mengalihkan.

“Tentu saja, sangat-sangat menyukainya. Dia perhatian, pendengar yang baik, menolongku kapan saja aku butuh, dia benar-benar sempurna tahu. Tidak seperti seseorang yang aku kenal,” katanya melebih-lebihkan.

“LALU KENAPA TIDAK KENCAN SEKALIAN!”

Wah, Chanyeol minta dihajar. Awalnya Sooyeon hanya menatapnya aneh sebelum ia tertawa terpingkal-pingkal. Cukup lama juga sampai Chanyeol merekomendasikan untuk adu jotos lagi.

“Astaga, aku tidak sesinting itu sampai ingin berkencan dengan perempuan.”

Chanyeol merasa dirinya menjadi bodoh sesaat. Ia tidak mengerti. Otaknya tidak bisa melakukan kalkulasi, menghubungkan ini dan itu yang mungkin saja berkaitan. Akalnya tidak berjalan.

“Memangnya aku belum cerita kalau Kyungsoo itu perempuan?”

Hah, Do Kyungsoo sudah kelewat edan.

133 responses to “[Episode 6] We Got Married! by slmnabil

  1. Oh tidak pasangan ini sungguh konyol dan melihat mereka sudah akur itu lebih baik.
    Jadi kapan kyungsoo bisa jujur .
    Ya ampun kalau masalah itu semakin rumit ya .
    Next chapternya ya thor

  2. Wuaaaa….. kangen banget sama pasangan derp ini!!!!
    Hihihi
    Ceye yg konyol banget dan soyeon yg edanedanan? Hahaha….
    Duh… Yeon dan Yeol…. yaaahh serasi…. bukankah itu panggilan sayang mereka di masa lalu??
    Mmmmm…..
    Denger kabar Chanyeol-Sehun kemungkinan bakal ikut WGM…. ini real?? Ah… benarkah.??? Chanyeol dan Soyeon? Gak hanya ada di Fiksi????
    Huuaaaaa…. kalo gini mungkin bakal banyak hati ChanBaek stan remuk!! 💔 haaha
    Ditunggu kelanjutannya Nabiiilll…….
    Posting dikit dikit word gapapa… tapi postingnya sering sering yaaaa… hihi

  3. Huhuhu akhirnya update..
    Jdi gemes dah bacanya..
    Ngakak. D.O kyungsoo perempuan?? Hahahahah :v
    Di protect yahh.. Oke dehh terserah nabil aja.. Aku berusaha nyari pw nya..
    Keep writing..

  4. Sumpah ngakak bacanya
    Gilak si chanyeol cemburu sama perempuan karena dikira kyungsoo (exo)
    Seneng banget mereka udah akur deh walaupun masi sering bertengkar
    Mau diprotect ya? Gapapa deh asal dikasi tau gimana cara ndapetin pwnya
    Aku tunggu kelanjutannya

  5. Lahh inii kenapaa sii sooyeon ngira kyungsoo kawannya itu cewe? emangnya dia punya kawan didunia nyata yg namanya kyungsoo terus cewe? *maapkanakuthor*

    jadii…
    .
    .
    .
    Selama inii aku siders dan aku memutuskan untuk comment di chapter ini! Yeay~ lanjut thorr fighting!

  6. Yeayy akhirnya di next juga,ini ff ngangenin.seneng mereka udh lumayan akur,walau masih ada ribut ributnya sih.yah 3chap lagi udh mau end?WHAT??? Aaaa gak ikhlas masa cepet banget. End chap mau di protect? Boleh deh asal dikasih pwnya.Ok deh walau udh mau end tetep di tunggu nextnya dan di tunggu karya karya selanjutnya. Fighting eon^^

  7. aku mah kangen bgt sama ni ff bukan authornya, canda ding😀 eh btw novelnya udah jadi belum?
    aku kira pas mereka baikan, yeon sama yeol bakalan romance2an tapi ternyata tetep deh ya adu argumen, jotos2an -__-
    jadi d.o tuh selama ini ngakunya jadi cewe? tuh bocah niat banget mau deket sama yeon😀

    keep writing😉

  8. Kkk, chan cemburu 😂😂
    Dio ternyata ngaku jadi cewek, cuma buat deket sama sooyeon so sweet bgtt
    Mereka masih aja ya saling adu argument.. Tp gpp sih malah kesannya lucu Kkk
    Fighting author, ditunggu nextnya

  9. finally… terbit juga dan selesai dibaca.
    huwaaaaaa kyungsoo ngaku jadi cewe.. chanyeol bad timing bgt deh padahal kan kyungsoo mau ngaku. kira2 sooyeon marah ga ya sm kyungsoo? scr dia baca diary nya dan pura pura jadi temennya.. ngaku cewe pula >,<
    yahhhh udah mau ending aja *syedih rencana sequel ga nabil? hahaaha kayaknya kalo lanjut bukan WGM lagi deh.. tp mungkin family apa gitu.. kayak kembalinya superman itu, cuma kalo itu.kan fokus ke bapak-anak nah ini ug whole family.. kkk~~ditunggu chapter 7 nya ^^

  10. Wah satu opini yg terus terusan muter di kepalaku setelah baca author’s notenya itu adalah…..
    ‘baru inget! kak nabil hiatus karena mau nulis novel bro, bukan yg blg mau pergi ke suatu tempat tak bersinyal–“‘
    Ah jadi malu salah ngomong pas minta pw tadi😥

    Tapi btw kaget juga, loh! pas aku barusan liat ke page slmnabil ternyata banyak juga update-annya.. haik baru ngeh aku.
    Dan juga aku gak nyangka bisa bisanya kelewatan part 6 nya begini… duh antara kamu yg fast update atau aku yg ga nyadar kalo ini udh berjalan 3bulan semenjak kamu bilang ‘itu’..
    AH TAPI APAPUN ITU, yang penting sekarang udh jalan lagi ceritanya udh senennngggg bgt!!! x’D😡😀😀

    Ah aku tadinya mau kasih review yg panjang seperti kamu minta… tapi batre ku low kak… aku gabisa ngetik sambil ngecharge, ribet bgt!! dan ada setetek bengek lain yg ganggu konsentrasi aku, jadi ngapunten ya cuma bisa sedikit review..
    langsung deh CEKIDOT…

    (WAAAA BATRE TINGGAL 6%) o.O

    Oke jadi awalnya pas baca masih suka rada kurang ngeh, tata bahasanya makin mempesona ya setelah sekian hiatus lumayan lama x’D haha jujur aku (aish tinggal 5% lagi–“) aahh tuhkan udh ah ganti lagi.. pokoknya bahasanya makin kece!!

    Nah review yg paling penting(karna waktu mepet ini aja yg bisa aku sampein)
    itu adalah pada saat ending… wah jujur aku krik krik bgt… lah begini? maksudnya…
    aduh tinggal 4% nih ah bete gabisa jelasin yg jelas😥😥

    UDAH 3% AHH LANGSUNG AJA DDEH FIGHTINH YA KAK FF MU MAKIN BAGUS SUMPAH!!

    DAH❤

  11. OMG, jadi kyungsoo ngaku nya cewek? Wkwkwkk kok kocak sih bil.. aku ga kepikiran hahag. Ohiya karena ini update terbaru, aku mau ngasih saran untuk yg kata2 asing. Ada baiknya di italic biil

  12. Huhuhu emezz haha. Ternyata si kyungsoo ngakunya cewek yaa dama sooyeon, biar apa atuh biar apa hahaha. Btw ini makin kesiini makin seru ajaaaa yaaaaaaa jadi gemessss sama author nya hehehe

  13. bacanya bikin senyum senyum gaje nih, suka bgt ma chanyeol dsini walaupun rada rada tpi dia tetep perhatian sma sooyeon. sebenernya chan chan msh suka kan ma si cwe

  14. lohh.. Ini kyungsoo emang ada dua atau kyungsoo itu ngaku cewek.??
    Ahh.. 3 chap end dprotect okedeh. Maaf kakak baru bisa komen, ini dkrenakan kuota internet menipis abis bacanya offline. aaa… Ditungguu karya selanjutnya (y)

  15. ternyata si kyungsoo memalsukan identitas yah,
    lebih baik gini deh si chan sama sooyoung tetep barntem berentem unyu, bakaln aneh jadinya kalo mereka jadi akur
    benerjuga tuh si chan sama sooyong seharusnya diwawancara berdua,

  16. ihhh yg udah baikan manis bgt
    lucu bgt deh mereka ngakak
    eaaa Chanyeol ketahuan deh cemburunya keke
    Kyungsoo mau bilang ap itu?? penasaran
    kakak gue jd cewek?? gak nyangka beneran??😀
    ijin minta pw nya ya di email

  17. APAH??!! jadi kyungsoo itu ngaku-ngaku jadi cewe? aduh itu dia niat banget ya buat temenan ama yeon xD kkk~ kebayang dah gimana ekspresi chanyeol xD

  18. ahahahaha ya ampuun lucu banget sih pasangan ini😀 aku kira bener sahabatnya sooyeon itu d.o.. chanyeol cemburu aja ih wkwkwk xD aku mau baca eopisode seoanjutnya dulu ah.. hwaiting thor^^

  19. huaaaaa….
    akhirnya ada waktu buat baca part ini hehehee
    ngakak pas chanyeol ngira kyungsoo itu cowok, eh ternyata cewek ><
    jadi acara pindah-pindah ini ngingetin yeol akan masa lalunya toh sama Sooyeon, masih inget pula kebiasaan sooyeon yang ceroboh. ckckck belum moveon ternyata abang yeol.
    aku suka gaya penulisannya, kadang-kandang santai, formal, dan unik. Keep writing for next chapter ya…🙂

  20. Oh yaampun mereka berdua tetep aja ya 😏😏dikira pas udh baikan ga bakal gitu lagi, ternyata sama ajaa:3 Tapi kalo ngga berdebat gitu ngga seru juga dih ya, hahaha

    Lah ngakak, ternyata kyungsoo ngaku2 jadi cewek(?) wkwkw yaampun, pantesan si sooyeon nggak nyadar kalo kyungsoonya itu dio hahahah
    Etapi kyung jg baper sama sooyeon ya? Kayaknya dia ngejaga sooyeon banget.-.

  21. Aaaa… sudah tbc lagi. Aku masih blm paham(otakku lambat bgt soalnya) Kyungsoo teman Sooyeon bukan D.O kan. D.O mengenal Sooyeon hanya melalui diarynya, benar ga? Penadaran bgt, mudah2an ga lama-lama. Semangat Nabil! Juga, jgn di protek dong, biasanya aku susah bgt dapat pwnya padahal udah komen. Plisssss

  22. kyungsoo ngaku jadi perempuan??? konyol tapi seru. btw gmn caranya kyungsoo dapet no tlp sooyeon? kalo mereka gk tau mereka masing masing *kecuali si kyungsoo alias d.o

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s