YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 15) – JONGSESA

You are My Eufrosine poster 6

Author : JONGSESA | Tittle : You’re My Eufrosine | Main Cast : Lu Sera (OC), Kim Jongin/Kai (EXO) | Other Cast : Oh Sehun (EXO), Lu Han (EXO), Park Hayoung (OC), Oh Cheonsa/Lu Cheonsa (OC), And find by Yourself. | Genre : Family, Romance, Sad, Angst. | Rating : PG-15 | Length : Chaptered

Disclaimer : fanfic asli hasil murni imajinasi sendiri. Plagiat ? Siders ? BYE !

***

Eufrosine, putri Zeus dan Eurinome, yang melambangkan dewi kegembiraan dan kebahagiaan. Lu Sera, gadis dengan kesempurnaan yang dimilikinya, dan dianggap sebagai Eufrosine karena selalu membawa kebahagiaan untuk orang disekitarnya. Namun, bagaimana jadinya, jika hidup Eufrosine sendiri tidak bahagia ?

***

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 |Chapter 7 | Special Chapter | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13  | Chapter 14

***

Dua jam sudah Sera dan Kai berada dalam pesawat di temani dengan keheningan diantara keduanya. Kai selalu melirik kearah Sera yang setia menatap kosong kearah jendela yang ada disampingnya. Kai terus membujuk Sera untuk makan, karena ia tau saat di cafeteria bandara tadi Sera hanya memesan latte dan tidak memakan apapun. Namun, Sera selalu menolak untuk makan dan hanya memesan coklat hangat saat ini.

Keadaan pesawat sudah mulai hening sejak tadi, dan banyak diantaranya lebih memilih untuk tidur karena perjalanan menuju Korea cukup memakan waktu. Kai mencoba untuk tidur namun hatinya tidak tenang dan berkali-kali ia melirik kearah Sera yang masih tetap diam menatap ke jendela.

Kai menegakkan posisi duduknya dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan gadis disampingnya itu.

“apa ada yang mengganggu pikiranmu, hm ?”

“…” Sera tetap bergeming bahkan ia sama sekali tidak menoleh kearah Kai.

“Sera..” kali ini Kai memanggil nama sambil mengusap lembuat tangan Sera. Seketika gadis itu terkesiap dan menoleh kearahnya.

“nde ?” ucapnya.

“kau kenapa ? kau sakit ?” ucap Kai dengan nada khawatirnya.

“aniyo. Aku baik-baik saja oppa.”

“jangan berbohong Sera. Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu.” Balas Kai yang menatap lurus kedalam mata Sera.

Sera membenarkan posisi duduknya dan  kini juga membalas tatapan Kai.

“ini tentang oppa dan-“

“kubilang jangan membahas itu lagi, Sera. Aku muak-“

“kenapa oppa berfikir kalau Suho oppa yang menjadi akibat kematian Yujin ?” Sera memotong perkataan Kai yang sebelumnya juga menyela ucapannya tadi.

Ia sebenarnya tau apa jawaban dari pertanyaannya tersebut. Namun, ia ingin mendengar langsung dari mulut Kai.

Kai terdiam menatap lurus ke depan. Bahkan tangannya yang semula menggenggam tangan Sera, kini ia lepaskan.

“orangtuaku dan si brengsek itu, terlalu sibuk dengan urusan mereka. Yujin memang tidak pernah mengeluh kalau dia kesepian, bahkan mungkin aku yang lebih sering mengeluh tentang itu. Tapi aku tau, dia juga merasakan kesepian.” Kai memberi jeda untuk melanjutkan ceritanya lagi. “karena sibuknya mereka, saat Yujin benar-benar membutuhkan pun mereka tidak bisa datang. Aku yang melihat dengan jelas bagaimana adikku tertabrak dan harus kehilangan banyak darah. Aku yang melihat bagaimana Yujin menangis untuk terakhir kalinya dan menghembuskan nafas terakhirnya.”

“apa hanya karena itu oppa menyalahkan mereka ?” Tanya Sera dengan nada seriusnya.

“…” Kai terdiam dan kembali menatap Sera. Dilihatnya mata Sera yang mulai digenangi airmata dan siap untuk keluar dari tempatnya.

“apa oppa pernah tau rasanya dibenci karena melakukan hal yang sebenarnya tidak pernah mau kau lakukan ?”

“Sera, kau-“

“apa oppa pernah mendengar penjelasan yang sebenarnya dari Suho oppa ?”

“Sera..”

Perlahan air mata itu jatuh juga dan membasahi pipi Sera. Ia seolah mengatakan hal itu pada Lu Han, namun dengan wujud Kai.

Kai langsung membawa Sera kedalam dekapannya. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Sera tiba-tiba bertanya tentang hal itu dan menangis seperti ini.

“katakan padaku, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan Sera ?” ucap Kai sambil mengusap kepala Sera.

“aku merasakannya oppa. Aku tau bagaimana perasaan Suho oppa saat kau mengucapkan kata kasar seperti itu.” Balas Sera dengan isakannya yang tak bisa ia hindari. “kenapa tidak ada yang mengerti kalau kematian seseorang itu adalah takdir Tuhan. Kenapa harus aku, ge ?”

Kai membelalakkan matanya saat mendengar Sera menyebutnya dengan ‘ge’.

Apa mungkin gegenya mengatakan hal ini padanya. Batin Kai.

“bagaimana mungkin aku menginginkan eomma pergi, sedangkan aku selalu ingin merasakan kasih sayang eommaku sendiri. Lu-ge beruntung bisa merasakan kasih sayang eomma, sedangkan aku hiks..”

“Sera kumohon..” ucap Kai mencoba menenangkan sambil mengusap punggung Sera yang bergetar.

“eomma..hiks..” Sera hanya bisa terisak. Mulutnya sulit untuk berkata-kata karena menangis sesenggukan.

Kai pun hanya bisa memberi ketenangan dengan mengusap punggung Sera.

“kalau aku bisa, lebih baik aku ikut dengan eomma daripada harus dibenci olehmu ge hiks..” Sera kembali berucap dengan suara seraknya.

Kai melepaskan pelukannya dan menatap Sera dalam. Ia kesal dengan perkataan gadis itu.

“jangan pernah berkata seperti itu, Sera. Kau tidak salah apa-apa dengan kematian eommamu, dia hanya-“

“terpukul karena kehilangan ?” Tanya Sera memotong perkataan Kai. “apa itu yang ingin kau katakan oppa ?”

“…” Kai terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan gadis didepannya ini.

“lalu apa bedanya kau dengan Lu-ge ?” ia berucap dengan suaranya yang serak dan mencoba menenangkan dirinya untuk tidak kembali menangis.

Sera menghapus airmatanya kasar dan menunjukkan senyum palsunya pada Kai. “sudahlah oppa, mungkin kau benar sepertinya aku sedang sakit sekarang. Aku ingin istirahat. Istirahatlah oppa.” Ucapnya dan kembali duduk mencari posisi yang nyaman untuk mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya.

Tidak ada jawaban apapun dari Kai. Pria itu hanya menatap kosong kearah Sera. Ia masih mencoba untuk mencerna pembicaraan mereka yang singkat namun mampu membuat semua pikirannya hanya tertuju pada satu hal.

Benarkah ia sejahat itu ?

***

Lu’s Apartment, Germany

Malam itu German seakan berkali-kali lebih dingin dari biasanya. Ya, mungkin itu lah yang dirasakan pria yang sejak tadi hanya merebahkan dirinya disamping sang istri yang sudah lebih dulu terlelap. Ia tidur memunggungi sang istri dan menatap kosong kearah jendela kamarnya.

Pria itu –Lu Han- tidak menyangka akan serunyam ini jadinya. Tidak pernah terpikir olehnya kalau akan mengatakan hal semenyakitkan itu pada adiknya –Sera.

Kristal bening yang sejak tadi sudah tergenang dalam kelopak matanya, perlahan keluar seiring memejamkan matanya.

Entahlah jiwa dan raganya sudah lama lelah dengan beban hidupnya selama ini.

Seorang anak laki-laki berumur 5 tahun tengah berlari menuruni anak tangganya riang dengan senyum polosnya.

“eomma..”ucapnya saat mencoba mencari keberadaan eommanya.

Ia berlari ke kamar orangtuanya, namun tidak ada seorang pun disana. Ia berlalu ke dapur dan hanya menemukan beberapa pelayannya.

“bi, dimana eomma ?” Tanya si anak pada salah satu pelayannya yang sedang membersihkan dapur.

“eo, tuan muda.” Ucap si pelayan sambil tersenyum pada anak majikannya itu. “nyonya sedang di taman belakang, tuan.” Jawabnya.

“apa…bersama baba ?” tanyanya sedikit ragu.

“ne, tuan. Perlu bibi antar ?”

“tidak usah bi, biar aku sendiri saja.” Ucapnya dan setelah itu berlari menuju taman belakang dimana ada orangtuanya.

Ia menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan yang tak jauh dari tempatnya berada. Eomma dan babanya tengah menghabiskan waktu berdua mereka. Eommanya yang sedang duduk di rumput dan babanya yang tengah mengelus perut buncit eommanya dan sesekali menciumnya.

Ia tampak ragu untuk menghampiri orangtuanya. Tidak ia hanya ragu karena ada babanya, yang memang tidak terlalu dekat dengannya.

Beberapa saat ia ragu, namun akhirnya ia meyakinkan untuk menghampiri keduanya. Tak lupa dengan wajah riangnya sambil sesekali melihat apa yang ia bawa ditangannya.

“eomma..baba..” ujarnya saat sudah di belakang orangtuanya.

Orangtuanya pun menoleh dan mendapati anak sulungnya sudah ada di belakang mereka.

“Lu..kemarilah.” ucap sang eomma menyuruh anaknya –Lu Han- untuk mendekat.

Baru beberapa langkah Lu Han mendekat, sang baba menjauhkan tubuhnya dari istri dan anaknya.

“chagiya, aku ke ruanganku sebentar ne. kau disini dulu bersama Lu Han.” Ucapnya dan langsung berlalu masuk ke dalam rumah.

Lu Han menatap kepergian babanya dengan tatapan sedihnya. Ia menundukkan kepalanya dan hampir menangis kalau saja..

“Lu..kemarilah nak.” Suara lembut eommanya menyadarkannya. Seketika ia mendongakkan kepalanya dan mendapati eommanya tengah tersenyum padanya.

Lu Han pun menghampiri eommanya masih dengan wajah sedihnya. Ia mendudukkan dirinya dipangkuan sang eomma dan langsung mendapat pelukan hangat dari wanita yang telah melahirkannya itu.

“baba hanya sebentar, sayang. Setelah itu, baba pasti akan menghampiri kita disini.” Ucap sang eomma sambil menciumi pucuk kepala anaknya.

“apa baba tidak menyayangiku ?” tanyanya polos sambil mengusap perut eommanya.

“tentu saja baba menyayangi xiao Lu. Apa xiao Lu lupa, baba selalu membawakan hadiah  setiap baba pulang bekerja hm ?” ucap sang eomma.

Lu Han hanya bisa menghela nafasnya. Ia tau, babanya sering memberikannya hadiah. Tapi, bukan hadiah yang ia harapkan. Ia lebih mengharapkan pelukan hangat sang baba, atau sekedar menemaninya saat bermain.

Lu Han masih setia menundukkan wajahnya yang murung. Sang eomma pun tak tega melihat anak sulungnya ini terus sedih setiap mengingat sikap suaminya yang kurang hangat dengan Lu Han.

“hei..wajahnya kenapa di tekuk seperti itu hm ? mmm…apa itu yang Xiao Lu bawa ?” Tanya eommanya mengalihkan perhatian sang anak.

Benar saja, Lu Han langsung mengangkat wajahnya menampilkan senyum manisnya kepada sang eomma.

“ini eomma..” ucapnya riang sambil membuka kertas dengan gambar khas buatan anak kecil.

“waahh…bagus sekali. Xiao Lu yang menggambarnya ?”

Lu Han mengangguk cepat dengan senyum riangnya. “ne, eomma. Ini baba, aku, adik kecil, dan eomma.” Ucapnya sambil menunjuk gambar hasil buatannya tersebut. Eommanya hanya dapat tersenyum senang terkadang mengusap kepala anaknya sayang.

“mmm..eomma, adik kecil di perut eomma ini laki-laki atau perempuan ?” Tanya Lu Han sambil mengelus perut eommanya.

“memang kenapa Xiao Lu bertanya seperti itu hm ?” bukannya menjawab, eommanya justru bertanya pada Lu Han.

“tidak, eomma. Aku tidak sabar main bersama adik kecil.”

“kalau adik kecil ternyata perempuan, bagaimana ?”

“pasti adik kecil, cantik seperti eomma.” Jawab Lu Han polos sambil tersenyum membayangkan adik kecilnya secantik eommanya.

“apa Xiao Lu mau menjaga dan menyayangi adiknya nanti ?”

“mau eomma. Xiao Lu mau menjaga eomma dan adik. Xiao Lu mau membuat baba, eomma, dan adik bahagia.”

“Lu Han memang anak baba dan eomma yang baik dan pintar.” Ucap sang eomma sambil memeluk sang anaknya.

“gege, ubahlah sikapmu itu.” Ucap sang istri –Choi Hanni.

“entahlah aku sulit dekat dengannya, chagi.” Jawab sang suami –Lu Jinsu.

Saat ini pasangan suami istri itu sedang berada di ruang kerja sang kepala keluarga yang tengah bersandar pada bahu sang istri yang duduk di sofa di ruangan tersebut.

“wae ? apa kau masih merasa, karena kelahiran Lu Han yang tidak sesuai dengan USG saat itu ?” jawab si istri sedikit kesal.

Jinsu menegakkan duduknya dan menatap sedih kearah sang istri.

“gege, bisa kah kau sedikit saja mengerti kalau semuanya tidak bisa sesuai dengan keinginanmu. Dan soal USG, tidak semua dari hasil USG itu selalu akurat.”

“bukan karena USG itu saja, chagiya.” Tatapan Jinsu melembut mencoba menenangkan sang istri. “tapi, aku merasa semuanya tidak sesuai keinginanmu. Aku tau saat itu kau sangat menginginkan anak perempuan. Dan aku selalu merasa bahagia bisa melihat kau begitu semangat menunggu anak kita lahir, dan selalu melihat kau sehat dalam keadaan mengandung saat itu.”

“aku memang mengharapkan anak pertama kita itu perempuan, dan kebetulan hasil USG memang menyatakan saat itu yang akan lahir adalah perempuan. Tapi, semuanya kembali pada takdir ge. Tuhan lebih menginginkan anak pertama kita laki-laki yang bisa menjaga adiknya kelak.”

“tapi-“

“ge, kalau sampai adik Lu Han ternyata perempuan, kumohon kau mau bersikap adil. Jangan sampai Lu Han merasa dia adalah yang tidak di harapkan olehmu.”

“entahlah, aku tidak bisa berjanji.” Ucap Jinsu ragu.

Runtuh sudah pertahanan anak laki-laki yang sedari tadi mengintip pembicaraan kedua orang tuanya. Dia –Lu Han- berniat ingin menyusul eomma dan babanya.

Namun, saat ia melihat eommanya berbicara serius dengan babanya ia mengurungkan niatnya dan justru mendengar kenyataan pahit.

Babanya tidak mengharapkannya. Ya, mungkin itu lah yang ada di pikiran bocah berumur lima tahun itu.

Ia tidak pernah merasakan hangatnya pelukan sang baba. Tapi, ia justru sering melihat babanya menciumi perut eommanya seolah babanya begitu menyayangi calon adiknya itu.

Ia pun bergegas pergi ke kamarnya dengan air mata yang sudah keluar dari kelopak mata indahnya.

“aku tidak pernah memintamu berjanji, ge. Walaupun, jika tidak ada aku nanti disampingmu kau harus bersikap adil pada anak kita.”

“kau jangan bicara yang tidak-tidak Hanni-ya. Kau akan selalu bersamaku, sampai maut yang memisahkan kita.”ucap Tuan Lu sedikit kesal.

“itu sudah pasti, ge. Hanya maut yang memisahkan. Jadi, kumohon bersikaplah lebih baik pada anak kita nantinya.”

Hari yang ditunggu keluarga Lu pun tiba. Kehadiran malaikat cantik itu pun hadir ditengah keluarga mereka. Lu Han pun tak kalah gembira saat melihat adiknya yang ia tunggu akhirnya lahir kedunia.

Saat ini mereka tengah berkumpul diatas ranjang Nyonya Lu. Dengan Tuan Lu yang menggendong bayinya dan duduk disamping kiri sang istri, dan Lu Han duduk disamping kanan sang eomma.

Senyum bahagia tak pernah pudar dari Lu Jinsu dan sang anak sulungnya –Lu Han- karena sedang asik melihat anggota keluarga baru mereka. Itu cukup membuat hati istrinya –Hanni- tenang, jika memang dirinya harus pergi.

Hanni menatap keduanya dengan tatapan sayu dengan senyum tenangnya.

“Xiao Lu..” serunya memanggil sang anak.

“ne, eomma..” jawab Lu Han.

“apa kau senang memiliki adik ?”

Lu Han mengangguk cepat dan tersenyum melihat kearah adik kecilnya yang berada dalam gendongan sang baba. “ne, eomma. Aku sangat senang.”

“kau sayang pada adikmu ?” tanyanya lagi.

“tentu saja aku sayang pada adik, eomma.”

“Xiao Lu, masih ingat dengan ucapan Xiao Lu waktu itu ?”

Kali ini perhatian Tuan Lu teralihkan dengan perbincangan antara istri dan anaknya.

Lu Han mengangguk lucu. “masih eomma. Aku akan melindungi, menyayangi, dan membuat adik bangga memiliki kakak seperti Xiao Lu.” Ucapnya riang dan lucu khas anak kecil.

“Xiao Lu harus buktikan itu, ne. Xiao Lu dan adik kecil ini..ah..iya, Xiao Lu ingin memberikan nama adik kecil ini ?”

Lu Han terlihat berfikir dengan mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagunya. Lucu sekali.

“eomma, bagaimana kalau nama adik kecil ini Serafina ? Aku pernah mendengar cerita kalau artinya perempuan bersayap surga, eomma.” ucap Lu Han pada akhirnya.

“mmm..eomma suka. tapi, bagaimana kalau kita ambil Sera-nya saja. Jadi Lu Sera, eotte ?”

Lu Han menganggukkan sambil tersenyum kearah adik kecilnya yang masih tertidur dalam gendongan sang baba.

“Sera, cepat besar ne. Gege tidak sabar ingin main bersama Sera. Gege sayang Sera..” setelah mengucapkan kalimat itu, Lu Han pun beringsut duduk disamping baba-nya dan mencium pipi adiknya.

Hanni tak bisa menahan air matanya untuk tumpah dari tempatnya. Dalam hatinya, ia bersyukur anak sulungnya bisa menerima kehadiran adik tanpa harus takut kehilangan kasih sayang dari orangtuanya.

Namun, ada rasa sedih menyelimuti dirinya. Ia sadar, tidak akan bisa melihat keakraban kedua buah hatinya setelah ini. Ia tidak pernah menyesal mengandung anak keduanya walau dalam keadaan sakit parah yang tengah dideritanya. Ia tidak pernah mengeluh didepan orang, jika ia merasakan sakit luar biasa. Ia ingin menjadi wanita yang kuat, dan berharap anak keduanya ini juga menjadi wanita yang kuat kelak.

Tuan Lu, juga tak bisa menampik rasa sakit di hatinya. Seolah hatinya tertusuk jarum-jarum, setiap mendengar ucapan sang anak.

Ia tau, anak sulungnya akan menjadi laki-laki yang kuat dalam segala kondisi apapun. Dan ia berniat akan memulai hubungan yang lebih baik sebagai seorang ayah terhadap Lu Han.

“Xiao Lu..” kini giliran Tuan Lu yang menjadi objek perhatian Lu Han.

Lu Han mengerjapkan matanya lucu. Sungguh, inilah yang selama ini Lu Han inginkan. Baba-nya memanggilnya dengan nada lembut disertai senyuman yang saat ini secara nyata ia dapatkan.

“kita harus menjaga dan melindungi eomma dan adik Sera, ne. Baba dan Xiao Lu harus membuat eomma dan adik Sera bangga pada kita.” Ucap Tuan Lu seolah menyemangati dirinya dan Lu Han.

Lu Han mengepalkan tangannya ke udara dan seolah setuju dengan ucapan baba-nya. “ne, baba. Kita harus membuat eomma dan adik Sera bangga. Fighting!” balas Lu Han tak kalah riang.

Ayah dan anak ini pun akhirnya melakukan high five sambil tertawa riang yang tidak terlalu keras, karena tidak ingin Sera terbangun.

Nyonya Lu merasa inilah saatnya ia pergi. Melihat kedua orang yang begitu penting dalam hidupnya, kini bisa sangat dekat. Terlebih ia tidak perlu khawatir, untuk siapa yang menjaga bayi mungilnya nanti.

Tak lama pintu kamar rawat itu terbuka dan menampilkan dua orang suster yang berjalan kearah mereka.

“maaf tuan, nyonya harus menjalani pemeriksaan lanjut. Dan bayi ini juga harus istirahat tuan.” Ujar salah satu suster.

Tuan Lu mengerutkan dahinya, seraya memberikan bayi mungilnya yang masih terlelap pada suster tersebut dengan terpaksa. “pemeriksaan lanjut ?” ucapnya sambil menatap sang istri yang kini sudah kembali menitikkan airmatanya.

“mianhae..” ucap Nyonya Lu.

Lu Han pun yang melihat eommanya menangis langsung memeluk eomma-nya dari samping.

“eomma kenapa menangis ? apa ada yang sakit eomma ?” tanyanya yang sudah mulai serak karena ingin menangis.

“aniyo.” Nyonya Lu mengusap kasar air matanya. “tidak ada yang sakit, nak. Xiao Lu..” Nyonya Lu menggangtungkan kalimatnya dan menatap anak sulungnya tersebut. “Xiao Lu, harus membuktikan kata-kata yang Xiao Lu ucapkan tadi ne. Xiao Lu harus jadi laki-laki yang baik, kuat, jujur, dan bisa membanggakan baba, adik Sera, dan orang banyak ne. Jika Xiao Lu dijahati atau ada yang berbuat buruk, Xiao Lu tidak boleh membalasnya dengan kejahatan atau sesuatu yang buruk juga. Xiao Lu harus menurut apa kata baba ne. Arrasseo ?”

Lu Han mengangguk patuh.“ne, eomma. Xiao Lu akan jadi anak yang baik dan menurut pada eomma dan baba.”

Setelah itu, Nyonya Lu menarik tubuh mungil Lu Han agar berada dalam dekapannnya. Lagi-lagi tangisnya pecah seraya memberikan kecupan sayang pada pucuk kepala Lu Han.

“eomma sangat sayang padamu, Lu Han. Sangat sayang, nak.” Maafkan eomma lanjutnya dalam hati.

Tuan Lu merasa ada yang ganjil dengan sikap sang istri yang seperti ini. Namun, ia mencoba menepis hal-hal buruk yang mengganggu pikirannya.

Nyonya Lu melepaskan pelukannya pada Lu Han dan kembali menatap sang anak dengan tatapan teduhnya. “ Xiao Lu, sekarang pergi dengan Park ahjumma dulu ne. Xiao Lu bilang, tadi belum makan `kan ? sekarang Xiao Lu harus makan.”

“ne, eomma.” Lu Han langsung turun dari ranjang dan berlari keluar ruang rawat.

Nyonya Lu yang melihat kepergian Lu Han hanya bisa tersenyum miris masih sambil menatap pintu ruangan yang sudah tertutup.

“apa yang kau sembunyikan dariku, Hanni ?” kali ini Tuan Lu yang angkat bicara.

Tatapannya begitu datar namun ada ke khawatiran didalamnya.

Nyonya Lu membalas tatapan suaminya dengan tatapan teduhnya dan memberikan senyum cantik.

“ge, aku ingin memelukmu..” ucapnya. Tuan Lu semakin dibuat heran dengan tingkah istrinya, walau pada akhirnya ia menuruti keinginan sang istri.

Pasangan suami istri saling berpelukan, dengan rasa yang berbeda. Sang istri merasakan bahwa ini adalah pelukan terakhir yang akan ia terima dan ia berikan pada suami yang begitu dicintainya. Sedangkan, sang suami merasakan ini adalah pelukan yang begitu menyakitkan dan menyesakkan hatinya. Entahlah apa yang ia rasakan, namun pelukan sang istri kali ini begitu berbeda.

“mianhae..” akhirnya Nyonya Lu mengeluarkan suaranya yang begitu sulit ia keluarkan.

Tuan Lu mencoba melepaskan pelukannya. “Hanni-ya..kau-“  

“biarkan seperti ini dulu, ge. Kita sudah lama ‘kan tidak berpelukan seperti ini.” Potong Nyonya Lu.

Tuan Lu makin dibuat bingung dengan tingkah istrinya. Pada akhirnya ia hanya bisa semakin mengeratkan pelukannya.

“aku sangat mencintaimu, ge. Kau tahu itu `kan ? dan…terima kasih selama ini kau selalu memberikan apa pun yang terbaik untukku, dan aku bertekad akan membalas semua yang kau berikan padaku selama ini.” Nyonya Lu tersenyum miris sambil menatap bayi mungilnya yang berada dalam gendongan suster tadi –yang belum keluar dari ruang rawat. “awalnya aku juga sedih karena anak pertama kita, tidak sesuai dengan keinginan kita berdua. Tapi, akhirnya aku mengerti kenapa Tuhan lebih setuju kita memiliki anak sulung seorang laki-laki. Tuhan ingin anak perempuan kita memiliki dua orang laki-laki yang lebih tua darinya untuk menjaganya kelak.”

“…”

“kau tau, ge ? Lu Han sering menangis karena kau acuhkan. Tapi, kurasa dia pandai menutupi itu semua karena sifat turunan  darimu.” Lanjutnya diiringi dengan kekehannya. “aku pernah melihatnya berbicara sendiri di depan cermin sambil memakai setelan tuxedo yang kau belikan saat ulangtahunnya yang ke lima. Dia berbicara ‘perkenalkan aku Lu Han, anak kesayangan dari baba-ku yang bernama Lu Jinsu. Senang bertemu denganmu.’ Sungguh dia menuruni tingkah gugupmu, ge.” Kali ini bukan hanya Nyonya Lu yang terkekeh, Tuan Lu pun ikut terkekeh membayangkan anak sulungnya seperti itu.

“kau pasti tau, impiannya selama ini adalah menjadi yang terbaik untukmu dan menjadi anak kesayanganmu. Dan aku selalu berharap kau bisa mewujudkan keinginan keduanya ge. Sayangi Lu Han..”

“sekarang kita memiliki dua malaikat tampan dan cantik, seperti harapan kita dulu. Aku ingin kau juga membuktikan ucapanmu yang akan berbuat adil pada kedua anak kita. Lu Han dan Lu Sera…”

Nyonya Lu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah suaminya –Lu Jinsu. Ia menatap cukup lama wajah pria yang begitu dicintainya. Pria yang selalu membuatnya berkali-kali jatuh cinta.

Tuan Lu hanya dapat memberikan senyum kebahagiaan pada istrinya –Lu Hanni. Ia menatap wajah itu seolah tanpa rasa bosan sedikitpun.

“hiduplah dengan baik, perhatikan waktu makan dan istirahatmu, tetaplah menjadi pria kuat yang selalu aku cintai, dan..

Jadilah baba yang terbaik untuk Lu Han dan Lu Sera…”

“hei, tentu aku akan hidup dengan baik, makan dan istirahat teratur, dan menjadi pria kuat jika kau selalu ada disampingku. Dan kita akan membesarkan kedua malaikat kita bersama-sama, sampai maut yang memisahkan kita.” Ucap Tuan Lu cepat memberi keyakinan pada istrinya.

Nyonya Lu mengecup sekilas bibir Tuan Lu, dan memberikan senyum cantiknya yang membuat Tuan Lu seperti kembali jatuh cinta padanya.

“buktikan ucapanmu, apapun yang akan terjadi nanti ne.”

“haah..suster, aku sudah siap untuk pemeriksaan lanjut.” Ucap Nyonya Lu kemudian.

Ia beranjak dari ranjangnya untuk duduk di kursi roda dibantu Tuan Lu dan satu orang suster lainnya.

Setelah duduk dengan nyaman di kursi roda, ia, suaminya dan dua orang suster membawanya keluar dari ruang rawatnya menuju ruang pemeriksaan.

Saat didepan ruang pemeriksaan, Tuan Lu mengernyit melihat ruangan didepannya dengan tulisan ‘Ruang Bedah’.

“bisakah aku menemani istriku selama pemeriksaan ?” Tanya Tuan Lu pada suster yang sudah beralih berdiri dibelakang kursi roda istrinya. “dan sebenarnya ada apa dengan-“

“tidak usah, ge. Biar aku bersama suster ini saja, lebih baik kau tunggu di luar saja. Aku takut, Lu Han kehilangan saat tidak melihatmu.”

“tapi-“

“aku pergi dulu, ge.” Ucapnya dan meminta suster untuk membawanya masuk kedalam ruangan tersebut.

Saat belum terlalu masuk kedalam ruangan, Nyonya Lu menoleh dan menatap sekali lagi pada suaminya dan berucap…

“aku mencintaimu, Lu Jinsu. Mianhae..” dengan aliran airmata yang perlahan membasahi wajah pucatnya.

untuk terakhir kalinya.

DEG

Jantung Tuan Lu berdetak tak karuan mendengar ucapan terakhir istrinya dan..apa itu tadi ? airmata ?

Ia menatap nanar pintu ruangan yang mulai tertutup rapat, dimana ada istrinya didalamnya.

Lima belas menit Tuan Lu duduk terdiam didepan ruangan tersebut, tiba-tiba saja dari arah kirinya beberapa orang dokter dan perawat berjalan cepat memasuki ruangan dimana istrinya berada dengan pakaian khas untuk melakukan tindak operasi.

Seketika ia beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri salah satu perawat.

“suster, ada ap-“

“maaf Tuan, pasien didalam sana sedang dalam keadaan kritis. Saya permisi.” Ucap perawat itu dan berlalu masuk kedalam ruang bedah.

Saat itu juga pertahanan Tuan Lu hancur sudah. Ia jatuh terduduk di lantai seiring dengan airmatanya yang juga ikut tumpah dari kelopak matanya.

Seharusnya ia menyadari ada sesuatu yang di tutup-tutupi istrinya.

“Hanni-ya apa pun yang sekarang terjadi padamu, kumohon bertahan lah sayang…” ucapnya lirih.

Hujan membasahi bumi seolah ikut berduka kehilangan salah satu makhluknya yang memiliki hati serupa malaikat.

Dia –Lu Hanni- kini sudah beristirahat dengan tenang di alamnya yang jauh lebih menenangkan.

Enam tahun menderita anemia yang ia acuhkan, terlebih saat melahirkan anak pertamanya –Lu Han- semakin membuat kekebalan tubuhnya menurun.

Segala pengobatan ia lakukan demi menyembuhkan penyakitnya tersebut, namun apa daya ternyata sudah selama satu tahun belakangan terjadi komplikasi pada system imunnya yang perlahan kian menurun.

Tentang penyakit anemianya, suaminya –Lu Jinsu- tentu tau akan hal itu. Tapi, tidak dengan komplikasinya. Ia hanya tau saat kehamilan keduanya istrinya jauh lebih kurus daripada kehamilan pertamanya, dan istrinya selalu saja bisa meyakinkan kalau itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Namun, yang ia katakan berbalik dari kenyataan. Dokter mengatakan, anemia yang dideritanya kian memburuk dan tentunya komplikasi dari penyakit tersebut kian parah. Tubuh wanita itu selalu terlihat pucat dan semakin kurus.

Yang memperparah kondisinya adalah saat dimana ia bersikeras ingin melakukan persalinan secara normal. Tentu saja itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan bayinya nanti.

Dokter dan pasiennya tersebut sampai harus beradu argument sampai satu kesepakatan yang begitu sulit untuk dilakukan oleh dokter manapun.

‘izinkan aku melahirkan secara normal dan kumohon cukup selamatkan bayiku.’

Kesepakatan itu ter realisasikan –dengan berat hati- saat ini.

Nisan itu…

Rest In Peace

Choi Hanni

1970, July 4th – 1996 April 14th

menjelaskan semua alasan mengapa begitu banyak orang datang di sore hari ini, untuk menyaksikan sang pemilik nama terbaring dengan damai di per istirahatan terakhirnya.

Selama pemakaman berlangsung, tak sedikit orang merelakan airmata mereka ikut tumpah bersamaan dengan hujan.

Terlihat bocah yang sebenarnya akan menginjak umur ke enamnya, tengah terisak begitu pilu. Bocah itu –Lu Han- sangat terlihat begitu terpukul atas kematian sang eomma. Ia menangis meraung-raung sambil mencoba untuk terlepas dari dekapan sang pelayan untuk bisa sekedar memeluk batu nisan bertuliskan nama sang eomma.

Satu persatu para pelayat meninggalkan pemakaman tersebut dan menyisakan Lu Jinsu, Lu Han, dan dua orang pelayan.

Lu Han sudah mulai tenang, walau masih bisa terdengar isakan kecil dari bibir mungilnya.

Lu Jinsu yang sejak tadi terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, namun tetap menatap nanar batu nisan istrinya.

“baba..”

“…”

“baba..ayo pulang..”

“…”

Tak mendapat respon dari baba-nya, Lu Han mendekat dan berdiri dihadapan sang baba.

“baba, ayo pulang. Kasihan adik Sera, di mobil menunggu kita.” Ucapnya masih dengan sedikit isakan keluar dari bibirnya.

“pulanglah…”

“ayo pulang bersama, baba.”

“kalian saja pulang duluan..”

“tapi-“

Kali ini Tuan Lu menatap datar pada sang anak.

“kubilang pulang saja ! apa kau tidak mendengar, hah ?! kau yang membuat istriku menderita dan harus seperti ini sekarang.” Ucap Tuan Lu dengan nada tinggi.

DEG

Lu Han kembali menangis, kali ini tanpa suara dan itu justru begitu menyayat hati dua orang pelayan yang sedari tadi bersama pasangan ayah-anak tersebut.

“tuan, tolong jangan berkata-“

“kubilang tinggalkan aku sendiri ! kalian bawa anak ini pulang !”

“baba..” ucap Lu Han diiringi isakan pilu.

Tuan Lu kembali menatap pada nisan sang istri dan menulikan suara apapun yang ada disekitarnya.

“Hanni-ya…” ucap Tuan Lu diiringi dengan airmata yang akhirnya luruh membasahi wajahnya.

Dua pelayan itu menghampiri Lu Han dan menggendong tuan muda mereka yang kembali menangis pilu untuk menuju mobil.

Sesampainya di dalam mobil, terdengar dua tangisan pilu yang memenuhi mobil mewah tersebut.

Bayi mungil itu –Lu Sera- seolah mengerti dengan keadaan yang ada. Ia seperti juga merasakan kehilangan seseorang yang rela berjuang demi melahirkan dirinya.

Lu Han yang mendengar tangisan dari arah sampingnya, menatap tajam pada sang adik yang berada dalam gendongan pelayannya.

“aku membencimu, Adikku..”

Ingatannya kembali ke masa dirinya yang begitu membenci adiknya, namun waktu lah yang terkadang bisa merubah pikiran seseorang. Lu Han memnag tidak pernah benar-benar membenci Sera, karena ia sadar Sera adalah kelemahannya sendiri.

“maafkan aku, Adikku..” ucapnya lirih diiringi tetesan-tetesan airmata yang tak ada hentinya keluar dari kelopak matanya.

***

Incheon Airport, South Korean.

Setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam keduanya telah mendarat dengan selamat di Seoul, Korea Selatan. Mereka berjalan beriringan masih dengan keheningan dan hanya akan saling berbicara seperlunya.

Setelah sampai di pintu gerbang kedatangan, Kai tiba-tiba saja meraih pergelangan tangan Sera dan seketika membuat gadis itu berhenti sambil menatap kearah Kai dan tangannya bergantian.

“mianhae..” Kai memulai ucapannya.

Sera mengerutkan dahinya. “untuk ?”

Kai memegang pundak Sera agar tubuh gadis itu seluruhnya menghadap padanya. Ia kembali menggenggam tangan Sera. “semuanya.” Ujarnya.

“aku tidak tahu pemikiranku ini benar atau tidak, tapi aku berjanji akan berubah.”

“sebenarnya apa maksud oppa ? aku tidak mengerti, sungguh..”

“aku akan mencoba untuk kembali menerima apa yang aku punya. Aku akan mencoba untuk bersikap lebih pada kedua orangtuaku dan hyungku.”

Sera hanya tersenyum menanggapi dan melepaskan genggaman tangan Kai. “aku senang mendengarnya oppa. Tapi, jangan berjanji padaku. Eommaku bilang, laki-laki sesungguhnya itu yang tidak mengucap janji tapi langsung membuktikan apa yang ia ucapkan.” Sera menjeda ucapannya, entahlah ia kembali teringat dengan gegenya. “kalua aku boleh tahu, kenapa oppa bisa tiba-tiba mengatakan hal itu ?” lanjutnya.

“karena kau merasakan apa yang mereka rasakan, Sera. Aku bisa melihat betapa sakitnya perasaan mereka saat melihatmu. Aku tidak ingin menjadi orang jahat yang menyakiti hati orang yang menyayangiku. Aku tidak ingin menjadi orang jahat untukmu. Aku tidak-“

“berubahlah saat kau ingin berubah, oppa. Aku tidak mau kau berubah hanya karena melihatku. Coba kau salami lagi hatimu, oppa. Aku yakin jauh disana kau selama ini merindukan mereka, tanpa harus bertemu dengan ku sebenarnya.”

Kai hanya mampu terdiam sambil menatap Sera dan mendengarkan dengan baik apa yang gadis itu ucapkan.

Sera menepuk pundak Kai untuk menyemangati. “haah..kajja, aku sudah sangat merindukan Youngie dan Sehun oppa.”

Sera membalikkan tubuhnya untuk kembali melanjutkan langkahnya, namun lagi-lagi ia berhenti saat tangannya ditarik sehingga menimbulkan tubuhnya berbalik dan langsung menubruk dada bidang Kai.

Kai langsung memeluk tubuh Sera erat. “gomawo..”

“…” Sera tak mampu berucap. Ia masih terlalu kaget dengan gerakan tiba-tiba Kai dan ia hanya mampu mengerjapkan matanya. Dan jangan lupakan degup jantungnya yang tak beraturan.

“terima kasih untuk segalanya. Aku menyayangimu, Ra-ya..” lanjutnya. Ia tidak peduli dengan sekitarnya yang menyaksikan dirinya memeluk seorang gadis di tengah keramaian bandara.

Kai melepaskan pelukannya dan kembali menggenggam tangan Sera. “Kajja, kita harus segera bertemu Sehun dan kekasih manjanya itu.” Ucapnya sambil terkekeh dan langsung menarik Sera kearah mobilnya terparkir tanpa peduli dengan wajah Sera yang menatapnya pura-pura kesal.

Mereka berdua berjalan saling menggenggam tangan, tanpa tahu Sepasang mata terus memperhatikan mereka sejak mereka berpelukan. Matanya menatap tajam sarat akan kebencian kearah gadis yang tengah dipeluk oleh sang pria.

“kupastikan kali ini berhasil..” desisnya sambil mengepalkan tangannya.

Ia mengalihkan perhatiannya saat ponselnya bordering tanda panggilan masuk.  Saat melihat siapa yang menghubunginya ia langsung menekan tanda hijau di ponselnya.

“kau dimana ?” Tanya nya langsung.

“dibelakangmu..”

Ia langsung berbalik dan membulatkan matanya saat melihat orang yang ia tunggu sejak tadi akhirnya muncul juga.

Tak lama senyum miring muncul dibibirnya, “lama tak bertemu, Ken.”

Si penelepon –Ken- pun ikut membalas dengan senyum miring pula, “ya, lama tak bertemu sahabatku….Krystal”

TBC

Gimana ? cukup lah ya panjangnya hahaha

Chapter ini isinya emang lebih aku fokusin ke flashback yang jelasin alasan dari kata ‘mengapa?’ dan ‘siapa?’

Maaf untuk keterlambatan yang sangat terlambat ini…terhitung 4 bulan ga update, dan aku yakin udah pada bosen dan males buat baca hahaha

But, aku akan sedikit cerita sedikit disini alasan aku menghilang…

Yang harus di klarifikasi disini adalah, intinya FF ini udah selesai di folder laptopku dengan total 19 chapter. Tapi aku selama 4 bulan ini bener-bener ga sempet untuk update, karena ada project yang menghasilkan aku bisa dapet ilmu dari 2 negara yang aku kunjungi dan juga menghasilkan 2 FF chapter lainnya yang lagi ‘on the way’

Nah untuk itu, aku disini mau minta masukan dari kalian dan mohon respon ya hahaha

Kalian lebih suka FF yang isinya main cast EXO-SM

Atau campuran ( EXO-YG )

Jujur, sebenernya akhir-akhir ini jiwa YGstan kembali muncul efek BIGBANG comeback dan goes to debut iKon jadinya FF yang on the way ini hampir semua castnya anak YG dan EXO hanya beberapa aja.

Nah, tolong respon ya. Supaya sambil selesai update FF ini aku juga bisa sekalian selesain FF lainnya.

Udah ya itu aja hahaha

Regards,

 

JONGSESA

53 responses to “YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 15) – JONGSESA

  1. Kapan hidup sera bisa bahagia dan tenang (?) Sedih liat dia harus nangis mulu, disaat dapet kebahagiaan dg datangnya kai, malah ada ken yg niat buat hancurin kebahagiaan sera…
    Cepet” ngilang deh para pengganggu itu, dan cepet bahagia buat sera

  2. Eonnie?Author? atauapalah!;3wkwk~ aku dari awal liat ini ff-, dududu lalala□ feelnya ngena bgt;V apalagi ada KaiRa momentnya suka senyum2 sendiri;Vwkwk pokoknyaaa akusukaa bangettt ffini!;*{} maaf jarang ninggalin jejak!;Vwkwk. nextChapnya cepetanyoo thor!;*{} fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s