[AMORTENTIA] One || Hello Cockroach – A.S. Ruby

AMORTENTIA

Presented by

A.S. Ruby

 

Main Cast: Jody Chang with Mr Xi and Mr Wu || Other Cast: You’ll find them by yourself later ||Genre: Harry Potter AU, Friendship, Romance, etc || Rated: T/PG-16 (for the language) || Length: Series

 

Disclaimer

 Back to Hogwarts! All things related to Harry Potter are belonged to J.K.Rowling, the master of writing who succeeds finishing her awesome writings. I own nothing except the poster and the-way-simple story line.

  

 

“You’re a girl…”

-Ronald Weasley-

 

“Jaga dirimu, Sayang”

 

“Aku janji, Mum.”

 

“Jangan nakal.”

 

“Oke. Aku juga janji soal itu.”

 

“Jangan ledakkan toilet sekolah dengan mantra,”

 

Mum!”

Jody—Jodilyn—Chang melirik seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun yang berdiri di sisinya. Manik gelap gadis asli Cina itu menilik sosok yang sedang meracau di dekatnya tersebut dengan tatapan aneh; pernahkah mereka bertemu sebelumnya? Apakah dia, er, penyihir juga? Dan…

Apakah dia serius akan meledakkan toilet sekolah?

Oh tidak, lupakan saja. Siapa yang mau peduli jika dia ingin meledakkan toilet, huh?

Sebelumnya, jangan salah paham. Ditilik dari penampilannya, Jody jelas seratus persen kelihatan normal. Gadis empat belas tahun itu tampil santai dengan kaus serta kemeja merah muda yang membungkus tubuhnya, sepasang celana jins yang nyaman dipakai, juga satu set sepatu kets kelabu yang menjadi favoritnya. Hari ini tanggal satu September, Stasiun Kereta Api King’s Cross tampak ramai seperti biasa—namun kali ini, rasanya jumlah pengunjung agak membludak.

Apa penyebabnya?

Well, jawabannya sederhana saja: hari ini kebanyakan penyihir muda akan kembali ke Hogwarts, salah satu sekolah sihir paling terkenal di penjuru dunia.

Jody akan naik ke kelas empat, itu artinya waktu untuk tes OWL akan semakin dekat di kelas lima nanti, belum lagi NEWT yang akan mengejar. Pelajaran jelas akan bertambah jauh lebih sulit dibandingkan sewaktu dirinya duduk di kelas tiga; oke, tidak ada lagi main-main, Jody berbisik kepada dirinya sendiri.

Tetapi, sejak kapan Jody pernah bermain-main? Karena tidak sama sekali—dan ini serius.

Gadis Ravenclaw itu memang pantas tinggal di asramanya—Ravenclaw, tempat para calon penyihir jenius berkembang. Pernah dengar legenda tentang Hermione Granger yang terkenal itu, seorang penyihir wanita hebat yang sudah membantu Sang Terpilih, Harry Potter, memenangkan duel mautnya melawan Voldemort bertahun-tahun yang lalu? Nah, seperti itulah kebanyakan orang yang mengenalnya mendeskripsikan seorang Jodilyn Chang.

Buku, buku, dan buku.

Banyak yang tidak paham kenapa Jody bisa terus berkubang di perpustakaan sementara mendengar Madam Pince, yang bertahun-tahun lamanya menyabet titel penjaga perpustakaan Hogwarts, mengomeli banyak anak lantaran sejumlah masalah kecil mengenai buku-buku yang dikembalikan.

 

Hei, aku tidak memberimu buku cacat!

 

Dia selalu mengatakan yang sama untuk berbagai masalah sepele, misalnya saja satu halaman yang terlipat, terdapat satu titik bekas makanan di halaman pembuka, satu lembar halaman yang menghilang, walaupun tentu saja, dia memang berhak marah ketika salah satu anak meninggalkan bekas permen karet di halaman belakang buku.

Ugh, itu menjijikkan!

Berhenti bicara mengenai Madam Pince beserta seluk-beluk permasalahan bukunya yang rumit. Apabila perpustakaan menjadi tempat favoritnya di Hogwarts, jelas Flourish and Blotts menjadi wahana paling menyenangkan bagi Jody ketika berkunjung ke Diagon Alley. Ada banyak buku berderet di sana, mulai dari yang berkisah mengenai hal-hal tolol, jenius, menarik—bahkan sihir tingkat tertinggi pun ada!

Coba lihat satu tumpukan besar yang ditanggung troli milik Jody saat ini; di sana sudah terdapat satu koper pakaian lengkap untuk satu tahun ke depan, beberapa barang yang diperkirakannya akan dibutuhkan di Hogwarts nanti, satu kardus besar buku-buku baru yang sudah dibelinya, juga Marin, burung hantu seputih saljunya, beserta kandangnya yang Jody sembunyikan dengan kain yang menutupi sebagian besar barang-barang yang diangkut troli kepunyaannya.

Jody tentu masih waras dengan tidak membiarkan para Muggle melihatnya berkeliling membawa koper dengan burung hantu seperti seorang idiot—mereka tidak kenal Hogwarts serta dunia sihir, kan?

Baiklah, bersiap-siaplah, Jody, dia mengingatkan dirinya sendiri ketika akan berlari mendorong trolinya menembus tiang tinggi stasiun, peron sembilan tiga perempat yang akan dilaluinya; dan satu, dua, tiga…
 

“JODY!!!”

 

Astaga, itu James yang kini memanggilnya!

Tetapi jangan salah sangka dulu, seumur hidupnya yang baru menginjak usia empat belas Agustus lalu, Jody tidak pernah berkencan dengan siapa pun. Jadi, perkenalkan, bocah laki-laki berambut hitam dengan mata hijau ini ialah James Chang, saudara sepupunya. Berdasarkan ciri-ciri fisik yang digambarkan, James memang Harry Potter sekali—tetapi sungguh, dia payah.

Anak itu punya darah Cina dari ayahnya, paman dari Jody yang bernama Alexander Chang; bekerja pada Divisi Pengawasan Satwa Liar yang Dilindungi di Kementrian Sihir yang berpusat di Kota London. Ibunya seorang kaukasian, wanita cantik bernama Julianne dari Essex yang kini menjadi bibi dari Jody, “Hai, Jody!”

Nah, itu dia orangnya.

“Halo, Bibi Anne!”

Baru saja Jody memikirkannya, Bibi Anne, begitulah Jody biasa memanggilnya sudah muncul sembari mendorong troli milik James (dia anak manja, sungguh). Lamat-lamat, Jody menggulirkan pandangannya terhadap troli James yang—bahkan—tampak jauh lebih besar dari miliknya, padahal sungguh, dia hanya akan menginjak kelas dua tahun ini!

“Kau melihat apa, Jody?” Tahu-tahu saja, James sudah menginterupsi benak Jody kembali. “Eh, ya?”

“A—ada apa?” Jody membalasnya gelagapan, wajahnya bersemu merah lantaran ketahuan mengamati barang-barang milik James yang, oke, kelewat banyak. “Aku cuma bertanya kau sedang melihat apa, Jody. Kebetulan saja aku menangkap basah kau sedang melakukan itu,”

“Apanya yang itu?”

“Jody…”

“Jangan membuatku terkesan seperti seorang gadis mesum, James.” Ujar Jody perlahan, kali ini sembari memutar bola matanya di hadapan James yang terkikik menertawakannya. Dasar bocah ingusan. “Kau dapat sapu baru ya? Kenapa tidak pilih hewan peliharaan yang bisa menggantikan Momo saja, huh?”

Sebagai catatan: Momo itu tikus tanah kesukaan James yang mati karena dimantrai secara tidak sengaja oleh James. Dia memang sudah agak—atau mungkin memang terlalu—tua; Momo sudah sepuluh tahun tinggal di rumah James, dan meskipun mantra itu bukan mantra terlarang dalam dunia sihir yang berbunyi avada kedavra itu (Jody bergidik membayangkannya), tetapi mungkin mantra aneh James pun masih sukses membunuhnya.

Momo lemah, itu ringkasan perihal kematiannya.

Dan kau tahu, dibutuhkan waktu nyaris seminggu bagi James untuk berhenti menangisi kepergian Momo—seolah tikus tanah jantan itu kekasihnya, bodoh betul anak itu.

“Jody, aku diterima di tim Quidditch asramaku!”

Jody masih larut di dalam pikirannya sendiri ketika James yang sudah tumbuh tinggi, agak sedikit melebihinya, kini memukul pundaknya pelan. “Jody, kau dengar aku, kan? Aku diterima, Jody! Kapten Quidditch kami memanggilku menjelang liburan musim panas lalu, katanya dia menganggapku berbakat untuk bermain dengan tim asrama! Wah, wah…”

“Apa, huh?”

“Kau tidak mendengarku?!”

“Maaf.” Jody menggelengkan kepala sejenak, “Tapi aku memang tidak mendengarmu.”

“James…” Terdengar suara lembut Bibi Anne yang berusaha membuyarkan peningkatan atmosfer permusuhan yang terlanjur terbentuk di antara Jody dan James. “Jangan lakukan sesuatu yang aneh lagi kepada Jody,”

Lantas, James menggerung geram, dia mulai berjingkat-jingkat layaknya anak kecil, “Dia hanya tidak tahu siapa Luhan, Mum!”

“Aku tidak peduli.” Pungkas Jody tegas, sama sekali tidak memandang James yang kini berusaha hebat mempelototinya. “Aku tidak mau tahu soal kapten Quidditch di asrama Gryffindor-mu itu karena aku juga punya urusanku sendiri. Siapa yang peduli kepada permainan Quidditch, huh? Menyaksikannya saja aku tidak pernah…”

“Kau hanya tidak tahu apa sesungguhnya makna dari harkat dan martabat asramamu! Semuanya di tangan para pemain Quidditch, Jody!”

“Terserah. Aku tidak mau peduli.”

“Akan kutunjukkan bagaimana hebatnya Luhan itu. Dia kapten Quidditch Gryffindor termuda sepanjang sejarah! Bahkan Harry Potter baru diangkat menjadi kapten ketika dia duduk di kelas enam—dan Luhan sudah jadi kapten saat baru kelas empat, Jodilyn Chang!”

Jenggot merlin, Jody rasa itu tidak penting sama sekali!

“Begini, Mr James Alexander Chang yang terhormat,” kedua lengan Jody sudah melekat rapat di bawah dadanya, “sudah kubilang aku tidak mau peduli kepada kaptenmu itu. Luhan, Luhin, Luhon, atau apa pun itu—aku tidak peduli kepadanya, oke?”

Namun James hanya terdiam, sampai Jody kembali mengulangi, “Kau dengar aku, James?”

“Kau akan menyesali kata-katamu, Jodilyn.”

 

***

 

“Hei, boleh aku duduk di sini?”

Jody terbiasa menghabiskan waktunya dengan duduk di kompartemen kereta sendirian, membiarkan dirinya menikmati waktu dengan tenang  sebelum nyaris seribu anak berteriak kegirangan begitu sampai di Hogwarts. Dia senang membaca, dan melakukan kegiatan itu membuat hatinya tenang—sungguh seorang Ravenclaw sejati, menurut Davis, salah seorang seniornya yang kini diangkat menjadi prefek Ravenclaw.

 

“Kemari! Kelas satu, ayo ganti pakaianmu dengan jubah!”

 

“Halo,”

 

“Astaga, Thomas! Jangan ambil bungkus Cokelat Kodok-ku! Kembalikan!”

 

“Aduh, kenapa kalian berisik sekali?!”

 

“Hei,”

 

“Pencuri! Kau mengambil Kacang Segala Rasa punyaku!”

 

Selalu ada teriakan serta keributan aneh yang diciptakan anak-anak jika sudah berada di dalam kereta api. Suara gedebuk pintu kompartemen yang dibuka-tutup secara asal juga sering terdengar, seiring dengan hebohnya sejumlah murid meneriaki satu sama lain riang. Prefek sering dibuat mengamuk, tetapi menurut pengamatan Jody empat tahun belakangan, perbandingannya adalah hanya satu dari sepuluh prefek yang berhasil mengontrol para murid Hogwarts yang kebanyakan hiperaktif.

“Oi, kau mendengarku, tidak?!”

“A—apa?!”

Jody kontan berdecak kaget, tidak sadar dengan siapa yang kini tengah meneriakinya yang sibuk berpikir sendirian. Suasana kereta api terlalu berisik, bahkan ketika hujan mulai turun deras di luar sana, murid-murid lainnya seolah tidak akan berhenti bicara sampai kiamat datang.

“S—siapa kau?” Setelah bangkit dari bangku kompartemennya, Jody memandang sosok anak laki-laki itu aneh. Wajahnya familiar namun Jody tidak tahu namanya sama sekali; dia sudah mengenakan jubah Hogwarts dengan dasi khas Gryffindor terlipat rapi di bawah lehernya—dia jelas orang Asia, pikir Jody.

Dia terasa familiar, namun Jody tidak mengenalnya. Betul-betul sesuatu yang ganjil.

“Aku?”

Anehnya, orang yang ditanyai Jody justru balas bertanya. Konyol.

“Iya. Siapa kau? Rasanya aku tak pernah mengenalmu sebelumnya,” sahut Jody jujur, sesekali matanya menelusuri sosok itu perlahan. Tubuhnya tergolong cukup tinggi untuk rata-rata murid laki-laki di Hogwarts, seratus tujuh puluh sembilan senti kurang lebih, posturnya tergolong kurus namun atletis, mungkinkah dia—Jody menelan ludah diam-diam—pemain Quidditch dari Gryffindor juga?

Atau…

Tidak, Jody langsung menggelengkan kepalanya.

“Aku—siapa?”

Anak itu menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk kanannya, seolah mengatakan tidak kenal dirinya sungguh kesalahan paling besar yang pernah diperbuat di Hogwarts.

 

“Aku? Kau tidak kenal aku?!”

 

“Aku—ini aku!”

 

“Bagaimana bisa kau tidak kenal aku?!” dia langsung berseru heboh, membuat Jody semakin mewanti-wanti jika sesungguhnya dia hanya anak gila yang baru saja melarikan diri dari St Mungo; rumah sakit terbesar untuk menangani kerusakan serta penyakit akibat sihir paling besar di Inggris. “Kau tidak kenal aku? Aku?!”

“Jangan berlebihan!”

“Tapi kau tidak kenal aku!”

Jadi, apa? Jody mengerutkan dahi, seolah hanya dengan menunjukkan roman muka kebingungannya sudah membuat anak gila ini mengerti.

Mereka kini saling berpandangan. Anak laki-laki yang kira-kira sebaya dengannya itu menghela napas panjang, jemarinya bergerak memijat dahinya putus asa, “Namaku Luhan. Sekarang kau sudah tahu, huh?”

“Luhan?”

Jody menggeleng, menunjukkan ketidakpahamannya—bohong, Jody berbisik kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau James terus mengungkit namanya sewaktu di stasiun tadi? Tetapi harga diri seorang Jodilyn Chang tetaplah yang nomor satu, itu harga mati.

  

“Kalau namamu Luhan, memangnya apa?”

 

Mendengar jawaban acuh tak acuh yang didaratkan kepadanya lantas membuat anak laki-laki bernama Luhan itu berjingkat kesal. Ini pertama kalinya; betul-betul pertama kalinya dia bertemu dengan gadis tipikal Jodilyn Chang yang belakangan terkenal lantaran kejeniusan otaknya dari asrama Ravenclaw!

Seburuk itukah pergaulan seorang Jodilyn sehingga dia tidak mengenal kapten tim Gryffindor yang paling hebat ini? Seorang keeper paling andal yang bahkan tanpa harus bersusah payah dapat menerjang hantaman Quaffle menuju gawang—gila.

Betul-betul gila perempuan ini!

“Namaku Luhan dan aku kapten Quidditch Gryffindor, Jodilyn.”

“Eh,” Jody tampak terkesiap, dirinya berpikir sejenak sebelum melanjutkan berkata, “kau tahu namaku? Bahkan aku tidak tahu siapa kau sebelumnya…”

Manik cokelat madu milik Jody berpapasan dengan manik kelam anak laki-laki—atau marilah kita berasumsi—pemuda itu. Jangan pikirkan drama yang terlalu berlebihan, karena jantung Jody jelas masih berfungsi seperti biasanya; tidak ada yang berdegup kencang, tidak ada rona merah di wajah, bahkan kupu-kupu yang biasanya berterbangan di dalam perut itu tidak menunjukkan eksistensinya sama sekali.

Mereka hanya, er, sedang memulai menciptakan pertengkaran.

“Jodilyn Chang, kau terkenal karena kejeniusanmu dalam berkubang dengan buku-buku itu. Disebut-sebut sebagai Hermione Granger kedua lantaran sikap kalian yang nyaris sama persis, tetapi bagaimana bisa kau tidak kenal aku?”

“Tidak ada pentingnya bagiku untuk mengenalmu.”

What?!”

“Jangan berlebihan. Aku betul-betul tidak kenal kau sebelumnya.”

Gadis itu memasang wajah datar, sama sekali tidak menggubris Luhan yang kini bahkan tidak mampu mengatupkan mulutnya yang terbuka lebar.

“Jangan bercanda,” dia menggeleng tidak percaya, “kau tidak pernah menyaksikan pertandingan Quidditch sekolah kalau begitu?”

“Untuk apa aku menyaksikannya? Aku tidak tertarik melakukannya—lebih baik membaca buku di perpustakaan,” jemarinya bergerak meraih satu bundel buku besar dari dalam tasnya, Sejarah Sihir Tingkat Empat karya Bathilda Bagshot. “Kalau kau tidak punya urusan lagi denganku sebaiknya kau pergi saja. Aku mau belajar…”

Kali ini, Luhan terpaku.

Hell, empat tahun dia tidak menyaksikan pertandingan Quidditch sekolah? Sungguhkah dia belajar di Hogwarts kalau begitu?

Dasar gadis sinting.

Luhan membungkam seribu bahasa begitu dihadapkan dengan gadis seajaib Jody—yang bahkan tidak tertarik dengan pesonanya yang biasanya dapat menarik hati gadis mana pun—Luhan tidak bermaksud arogan; karena memang seperti itulah kenyataannya! Dia tidak tahu harus bereaksi apa lagi terhadap spesies gadis yang satu ini; yang jelas, hanya satu-satunya ada di dunia.

Gadis kutu buku cantik yang membenci Quidditch, betapa langkanya.

Jodilyn Chang, kan, namanya?

Belum tahu siapa sesungguhnya Luhan dia, ck. Entah Jody yang terlalu menutup diri, atau justru buku-bukulah yang telah meredupkan popularitas Luhan di mata gadis kelewat menyebalkan ini—yang jelas, Luhan harus membuat perhitungan terhadapnya. Harus.

“Akan kuajarkan kau untuk lebih menghormati Quidditch sebagai panji kehormatan setiap asrama di Hogwarts…”

“Aku tidak butuh diajari.”

“Hei, Jodilyn…”

“Aku bisa belajar sendiri. Asramaku mungkin memang tidak terkenal karena Quidditch-nya, olahraga tidak penting itu, tetapi kami punya ratusan murid dengan otak cemerlang. Bukan sekadar mengandalkan otot mereka seperti kau,” tukas Jody dingin, “aku tidak suka dengan orang-orang sok pamer sepertimu. Bagaimana bisa kau menunjukkan kepadaku hal tidak berguna seperti olahraga tolol itu…”

Sepasang kuping Luhan mulai memerah layaknya lobster rebus para peri rumah tatkala mendengar kalimat demi kalimat sinting itu terurai dari bibir seorang Jodilyn Chang yang sok tahu.

“Aku benar-benar akan memberimu pelajaran, Jodilyn!”

Gadis itu menggelengkan kepala, lalu larut ke dalam bacaan Sejarah Sihir karya Bathilda Bagshot miliknya yang entah dari sisi mana bisa dianggap menarik di mata Luhan.

“Perang kita dimulai hari ini.”

“Terserah padamu, Luhan.”

 

“Lihat pembalasanku, Jodilyn!”

 

***

 

Mereka tiba sesuai waktunya, di malam hari dengan jumlah murid membludak yang berusaha keluar secepat mungkin dari kereta api. Sejumlah anak bertubuh pendek yang sekiranya masih kelas satu berjejalan melewati Jody yang berjalan lambat—kepala mereka bahkan masih lebih rendah dari bahu Jody dengan wajah merah luar biasa saat salah satu dari mereka menatapnya, “Hei,”

Jody sedang berusaha bersikap baik, namun anak itu langsung berlari mengikuti temannya, menjauh meninggalkan Jody yang hendak memberitahu kalau di bibir anak itu masih ada sisa Cokelat Kodok.

Seperti biasa, Hagrid yang masih aktif menjadi pengawas di Hogwarts sibuk memanggil anak-anak kelas satu yang masih kikuk. Jody paham betul rasanya. Bagaimana perutmu akan menegang seolah kau tidak pernah makan apa pun seumur hidup, dan inilah kali pertamamu tinggal jauh dari orangtua, sementara kau akan diwajibkan mempelajari ilmu sihir yang luar biasa.

“Kelas satu! Kelas satu, kemari! Kemari semuanya, oke?”

Hagrid yang bertubuh besar serta berewokan sudah siap berdiri menjemput anak-anak, suaranya yang besar masih menggelegar kuat di tengah pekikan serta tawa nyaris seribu anak yang sibuk menertawai satu sama lain.

Jody sungguh kagum kepadanya, usia Hagrid tidak bisa disebut muda lagi—dia hanya beberapa tahun lebih muda dari Voldemort, Jody bersumpah!—namun manusia setengah raksasa itu masih kuat dan begitu setia mengabdikan diri kepada Hogrwarts, tempat di mana dia tinggal semenjak dulu.

Hagrid masih tersenyum kepada setiap wajah polos sekaligus ketakutan anak kelas satu tatkala Jody menatapnya dari kejauhan, dia kemudian berkata, “Sebentar lagi kalian akan melihat Hogwarts untuk pertama kalinya, ayo ikuti aku, eh,”

Udara malam terasa menusuk, namun Jody menemukan kehangatan tersendiri hanya dengan memperhatikan anak-anak itu.

“Semoga berhasil,” lamat-lamat, Jody berbisik lembut; menyampaikan ucapan semoga suksesnya secara tidak langsung kepada para murid kelas satu. Sebelum deru napas seseorang muncul di balik punggungnya, menggelitik leher Jody yang sepenuhnya terbuka, “Kau gadis yang baik hati sekali ya. Kerja bagus, Jodilyn…”

Kapten Quidditich Gryffindor tolol itu tahu-tahu saja sudah muncul, seorang Luhan yang kelewat menyebalkan kini menyeringai memandang Jody yang berbalik menatapnya.

 

Kau lagi?

 

“Hai, Kawan…”

“Enyahlah.”

“Apa maksudmu, Jodilyn?”

Mata bundar itu sejenak memperhatikan Jody; dari ujung sepatunya hingga bagian ujung helai rambut hitam yang mencuat ke atas dari sosok Jody yang masih menatapnya geram. “Kau cantik seperti Madam Rosmerta di The Three Broomsticks,” ujar Luhan perlahan, “namun sayang, kau bahkan lebih galak dari Madam Pince yang kukerjai di perpustakaan.”

Jody tidak menyahutinya sama sekali.

 

Jodilyn Elizabeth Chang, kau tidak akan syok kalau aku tahu nama lengkapmu, kan?”

 

Pemuda bernama Luhan itu kembali melanjutkan kata-katanya, sama sekali tidak mempedulikan Jody yang kini berupaya bersikap mengacuhkan omongannya.

Bedebah, Jody berbisik dari dalam hati, itu semua pasti yang hendak disampaikan bocah arogan itu kepadanya.

“Kudengar kau tidak pernah berkencan,” dia menambahkan, “bahkan tahun lalu, ketika banyak para senior mengajakmu jalan-jalan ke Honeydukes atau The Three Broomsticks, kau justru bilang agak terlalu sibuk untuk pergi ke sana. Bahkan kau menolak Richard Davis, senior tampanmu yang kini menjadi prefek di Ravenclaw! Wah, tak kusangka kau sangat populer di kalangan para pria, Miss Chang!”

“Sudah cukupkah kau menyampaikan hasil investigasi bodohmu tentang aku?”

“Katanya kau mengidolakan Newt Scamander,”

Dasar penguntit.

“Kenapa kau galak sekali, huh?”

“Jika kau tidak berkepentingan, sebaiknya kau enyah saja di sini. Aku sedang sibuk sekarang—dan satu hal lagi, jangan lupa kalau kereta Thestral para murid akan berangkat beberapa menit dari sekarang. Kalau sempat aku terlambat tiba di Aula Besar karena ulahmu,” Jody memberi penekanan pada ujung kalimatnya, menatap Luhan segalak yang dia mampu, “aku tidak akan pernah mengampunimu.

“Aku sudah belajar banyak mantra selama musim panas ini, kau lihat saja—hati-hati kalau saat bangun besok kau sudah punya ekor di bokongmu!”

“Wah, kau mengancamku?”

Dua sudut bibirnya menciptakan satu senyum; oh tidak, tapi satu seringai menyebalkan.

“Jangan macam-macam, Luhan. Aku tidak main-main dengan ucapanku,” Jody menggertak, mulai muak dengan sikap Luhan yang semakin membuat gadis itu ingin mendampratnya.

“Apabila kau masih mau menggunakan otakmu—atau, oke, aku tidak yakin kau punya otak atau tidak, tetapi bisakah kau minggir dari hadapanku sekarang?”

“Hei, Jodilyn,”

“Apa lagi?!”

Luhan memanggilnya, kali ini dengan nada jauh lebih lembut dibandingkan biasanya; tidak, tidak, diam-diam Jody menggelengkan kepalanya, sejak kapan mereka biasa berbicara, huh? Bahkan pertemuan di kompartemen kereta api merupakan momen perdana di mana mereka mengobrol setelah James, sepupu Jody, sibuk mempromosikan monster menyebalkan bernama Luhan itu di Stasiun King’s Cross.

“Jodilyn Elizabeth Chang, kudengar kau punya ikatan darah dengan wanita bernama Cho Chang, ya? Kau tahu tidak, wanita yang satu itu…” dia menghentikan kalimatnya lagi, bahkan kali ini Luhan mendekatkan bibirnya ke telinga Jody, membuat bahu gadis itu gemetar.

“Cho Chang merupakan mantan pacar Auror hebat, Sang Terpilih, bernama Harry Potter, kan? Katanya dia cantik sekali, pantas saja kau cantik sekali seperti ini…”

Jody kali ini menggerung geram, “Dia kerabat jauhku, oke? Dia bibiku, namun dalam hubungan darah yang cukup jauh, sekarang puas kau?!”

Namun Luhan tampaknya masih tetap tenang, dengan seluruh tindakan yang tengah dilakukannya. Jemarinya bahkan kali ini mendarat pada salah satu pundak milik Jody, menyandarkannya selama beberapa lama, merasakan gerak naik-turun teratur dari gadis paling galak yang pernah ditemuinya seumur hidup.

“Brengsek…”

“Pesta tahun ajaran baru akan segera dimulai, Jody. Jangan terlalu cepat marah atau kau tidak bisa menikmati semua acara serta makanan lezat masakan peri rumah itu sepenuhnya.” Dengan gestur paling kalemnya, Luhan menasihatinya dengan kata-kata tolol itu lagi, “Sampai jumpa di Aula Besar kalau begitu.”

“Omong-omong,” dia tersenyum lagi, “kau semakin cantik tiap detik aku melihatmu.”

“Sampai jumpa—Cantik.”

Jody berang sekali, tetapi pemuda aneh yang sudah membuatnya hampir meledak di tempat itu sudah menghilang dari pandangannya—tidak hanya jago dalam bermain Quidditch, pintar juga anak menyebalkan itu berlari—astaga, Jody sama sekali tak bisa percaya.

 

“Dasar kecoak Gryffindor sinting.”

 

***

 

Benar saja, pesta tahun ajaran baru memang menjadi sangat tidak menyenangkan dengan insiden kereta api yang baru saja terjadi. Jody tiba hanya beberapa detik sebelum kereta yang ditarik Thestral—makhluk gaib sejenis kuda dengan tubuh kurus kering yang hanya bisa dilihat oleh orang yang pernah melihat kematian, menurut buku yang pernah dibaca Jody—berangkat menuju Hogwarts.

Dan kini, sementara Topi Seleksi sedang menyanyikan lagu pembukaan pesta terbarunya pun Jody masih tampak tak antusias; bukan seorang Jodilyn Chang yang biasanya. Wajah Jody merah padam saat menghampiri teman-temannya, bahkan ketika Lily Adams, teman dekatnya, menanyai keadaannya pun dia enggan menjawab.

 

Si kecoak kapten Quidditch itu—lihat saja Luhan…

 

Akan kubunuh kau,” Jody bergumam pelan, buku-buku jarinya memutih mengingat apa yang telah dilakukan Luhan kepadanya.

Bagaimana bisa makhluk arogan seperti itu dimasukkan ke dalam Gryffindor; tempat di mana para penyihir tangguh serta berani berkumpul? Tidakkah pemuda itu berbanding terbalik dengan seorang Gryffindor sejati, huh? Arogan, pemalas, hanya berani kepada gadis sepertinya—dia benar-benar…

“Jody!”

Lily menepuk pundaknya, membuat Jody seketika menyadari apa yang baru dikatakannya tadi, “M—maafkan aku, Lily,”

“Kau kenapa, sih? Ada yang mengganggumu? Katakan kepadaku, aku bisa laporkan kepada Davis,” ujar Lily kepadanya cepat, selalu tanggap sebagai seorang sahabat. Well, Jody jarang mengeluh, dan ini merupakan salah satu dari sedikit masalah yang pernah dihadapinya di Hogwarts. Lantas, Jody menggelengkan kepala, “Tidak. Jangan khawatir, Lily. Aku baik-baik saja, mungkin aku hanya kurang istirahat,”

“Dan bagaimana bisa kau jadi ingin membunuh orang hanya karena kurang istirahat?”

Kali ini sahabatnya memberinya pandangan skeptis, membuat Jody membungkam, tak tahu harus menjawab apa.

“Hm,” Jody berdeham pelan, meski sekujur tubuhnya langsung lemas begitu menyadari sesungguhnya Lily telah mencium sesuatu yang aneh darinya. Bau bangkai disamarkan sebaik apa pun juga akan tetap tercium busuknya. “A—akan kuceritakan kepadamu pada waktu yang tepat,”

“Aku hanya sedang punya sedikit masalah, Lil,”

“Dengan siapa?”

Lily memotongnya, sementara Topi Seleksi kini sibuk meneriakkan nama asrama yang cocok kepada sejumlah anak kelas satu yang langsung disambut riuh tepuk tangan oleh ratusan murid lain yang lebih senior. Gadis kaukasian itu menatapnya dalam, Lily Adams kini minta penjelasan lebih lanjut kepadanya—tetapi, apabila dia tahu ini soal Luhan, Jody yakin hidupnya tidak akan baik-baik saja.

Sebaiknya Jody merahasiakan ini sebelum segalanya menjadi lebih buruk lagi.

“Jody…”

Lily memanggil namanya, kali ini seraya melipat lengannya di bawah dada.

“Aku baik-baik saja, Lily.”

Jody berusaha mengalihkan pandangannya ke bagian depan Aula Besar, melihat sejumlah guru seperti Profesor Longbottom yang mengajar Herbologi, ada pula Profesor O’keefe—guru Sejarah Sihir baru yang menggantikan Profesor Binns (yang baru-baru ini pensiun dari jabatannya dan menikmati waktu sebagai hantu biasa), Profesor Trelawney yang masih mengajar Ramalan dengan setelan nyentrik serta kacamata khas yang bertengger di ujung hidung bengkoknya, Hagrid yang kembali mengajar kelas Pemeliharaan Satwa Gaib, Profesor McGonagall yang kini menjadi kepala sekolah Hogwarts, dan masih banyak staf pengajar lainnya lagi.

Jodilyn!

Apabila Lily sudah memanggilnya dengan nama lengkap seperti ini, itu tandanya berbahaya. Namun sungguh, Jody sedang tidak ingin diganggu sama sekali—bahkan oleh sahabatnya sendiri—tidakkah Lily mau memahaminya?

Kemudian, dia pun menggeleng, “Tidak bisa, Lily. Ini keputusan penuhku; sudah bulat, oke?”

“Beritahu aku kalau kau sudah siap, setuju?”

Jody mengangguk, kemudian berbisik, “Oke. Aku janji.”

Persis di waktu itu juga, keduanya tak sadar sama sekali bahwa Profesor McGonagall bahkan telah menyelesaikan pidatonya untuk menyambut tahun ajaran baru di Sekolah Sihir Hogwarts. Seperti biasa, setiap anak dilarang untuk pergi ke Hutan Terlarang tanpa pengawasan penyihir dewasa, tidak ada acara keluar di malam hari, tidak boleh masuk ke sejumlah lantai lantaran ditengarai berbahaya; dan masih banyak lagi.

 

Selalu, pada akhirnya, selamat makan!

 

Para murid bersorak, sementara ratusan jenis makanan langsung bermunculan di atas meja keempat asrama, dari udara kosong. Gryffindor, Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin, keempatnya memang tidak bisa disebut akur lantaran memiliki sifat dasar yang berbeda—Gryffindor yang berani, Ravenclaw yang cerdas, Hufflepuff yang tampa pamrih serta setia, dan Slytherin yang cerdik namun agak licik—setiap aspek membuat mereka memang berjauhan. Tetapi soal makanan, ceritanya pasti akan berbeda; setiap anak cinta makanan, tentu saja!

Pai sosis, kaserol daging, ayam panggang, kentang tumbuk, piala-piala yang penuh dengan jus labu, puluhan jenis kue cokelat yang dimasak sedemikian rupa—air liur siapa yang tidak akan tumpah kalau melihatnya secara langsung?

Tetapi kali ini, lantaran kasus yang dihadapinya bersama kecoak brengsek asal Gryffindor itu, Jody menjadi tidak selera makan.

“Kau tidak makan, Jody?”

Davis, yang sejak tadi sibuk menjalani tugasnya sebagai seorang prefek Ravenclaw yang baru kini muncul, duduk persis di bangku sebelah Jody. Manik kelabunya menatap Jody khawatir, seketika membuat gadis itu harus menahan napas sesaat, mengingat kembali saat tahun lalu anak kelas lima itu mengajaknya berkencan, dan Jody menolaknya dengan alasan belajar. Oke, itu memang alasan yang mungkin diterima oleh setiap Ravenclaw—namun tetap saja, Jody merasa tidak enak dengan Davis.

Dia, hanya terlalu baik, itu saja.

“A—aku sedang tidak enak badan, Richard,” Jody menelan ludah—ya, Richard, itu nama panggilan Davis, kemudian melanjutkan sembari tersenyum kecil, “kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Habiskan saja makanan di atas piringmu, kurasa kau kelelahan setelah mengurusi anak-anak kelas satu.”

Entah kenapa, wajah Richard Davis sang prefek bersemu merah mendengarnya bicara begitu. Padahal sungguh, hal itu merupakan sesuatu yang sangat biasa Jody ungkapkan kepada siapa pun temannya—mungkin bagi si kecoak Luhan sebagai pengecualiannya.

 

***

 

“Wu Yifan.”

 

Hampir seluruh anak di kelas mengangkat kepala mereka terkejut saat kelas Ramuan berlangsung, Profesor Gillybeans yang sudah mengajar di Hogwarts selama nyaris satu dekade, menggantikan Profesor Slughorn yang kini pensiun kembali menjadi staf pengajar di Hogwarts, kini tengah memperkenalkan seorang pemuda jangkung bernama Wu Yifan yang berada di asrama yang dikepalainya—Slytherin.

Bukankah hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya di Hogwarts? Banyak anak-anak yang berbisik heran, tetapi tak sedikit pula sejumlah gadis yang heboh memuji—Jody harus mengungkapkannya dengan bahasa apa—tapi, er, teman-teman perempuannya bilang sosok Wu Yifan itu tampan.

“Jadi anak-anak, merupakan suatu kehormatan besar bagi Hogwarts untuk menyambut seorang murid transfer terbaik asal Bulgaria ini kemari…”

Durmstrang. Hanya satu kata itulah yang muncul di benak Jody ketika dia kembali melempar pandangannya kepada pemuda kelewat jangkung itu; bukankah kebanyakan murid Bulgaria belajar ke sana meski Durmstrang justru berada di daerah Norwegia atau Swedia? Tidak ada yang tahu lokasi spesifiknya, kecuali para murid serta pengajar di sana, tentu saja. Lalu, kenapa dia memutuskan pindah kemari?

“Kuharap kalian bisa menyambutnya dengan sama hangatnya dengan teman-teman kalian yang lain. Seolah kalian sudah bersama semenjak kelas satu—kalian paham?”

Profesor Gillybeans melanjutkan, sementara Jody tahu betul kebanyakan anak tidak sedang menaruh atensi mereka terhadap ucapannya, melainkan kepada sosok Yifan yang terus berdiri tegap di depan kelas bawah tanah.

Menurut apa yang Jody perhatikan, Wu Yifan tidak gemar tersenyum, tetapi sesekali mengangguk hormat kepada Profesor Gillybeans yang sibuk memperkenalkan dirinya kepada anak-anak lain dengan antusias.

Dia tidak buruk, diam-diam Jody memberikan opininya sendiri, kemudian kembali memikirkan gambaran Durmstrang menurut apa yang pernah dibacanya, atau sepupunya ceritakan.

Bayangan tentang kapal besar yang bisa terbang, ratusan murid laki-laki dengan gaya berjalan mereka yang gagah, para pemain Quidditch mereka yang terkenal ahli bahkan langsung didapuk menjadi tim nasional begitu lulus—tidakkah murid laki-laki di Hogwarts jadi kelihatan payah dengan sosok tegap Wu Yifan yang satu ini?

Dan—asaga—bukankah mereka juga mempelajari sesuatu yang mengarah kepada sihir gelap?

“Jadi, tunggu apa lagi? Silakan duduk, Yifan. Selamat bergabung dengan Hogwarts, semoga beberapa tahunmu menyenangkan di sini!”

Profesor Gillybeans mengakhiri sesi perkenalannya, lantas segera memulai pelajaran seperti biasa. Jody hanya bisa berharap yang terbaik untuk Hogwarts kalau begitu; toh, dirinya juga tidak boleh menghakimi seseorang berdasarkan tampilan luarnya saja, kan?

Lihat saja kecoak busuk bernama Luhan yang sedang tidur di belakang itu—dia kira dia siapa? Putra kepala sekolah bisa berbuat onar sesuka hati dan tidak memperhatikan pelajaran yang disampaikan para guru? Jenggot Merlin, Jody benar-benar berharap suatu hari nanti sekolah akan sadar bahwa si tolol itu sebenarnya sama sekali tidaklah berguna selain bermain olahraga Quidditch itu—sampai tuakah dia akan main Quidditch? Jody tidak yakin sama sekali.

Benar-benar tidak realistis, Luhan Kecoak Gryffindor Busuk itu.

“Terima kasih, Sir.”

Murid-murid Slytherin yang kini juga tengah berada di kelas Ramuan heboh memekik menyambut pemuda bernama Wu Yifan itu antusias, terutama para gadis yang seolah baru saja mendapat pacar baru setelah sekian lama—terkikik seperti kuda, itu kebiasaan mereka; untung saja Jody tidak seperti itu.

Oke, berhenti membicarakan eksistensi Wu Yifan yang langsung menyedot perhatian banyak murid.

Kali ini, Jody sedang berupaya mengiris Empedu Armadillo-nya sebaik mungkin. Mereka sedang belajar menciptakan ramuan penajam otak (cocok betul untuk si kecoak busuk itu), sebelum Profesor Gillybeans menghampirinya, kontan terpaku menatap hasil kerja Jody, “Kau hebat sekali, Nak! Sepuluh poin untuk Ravenclaw! Bagaimana bisa kau melakukan semua ini?”

Jody merasakan aliran darahnya berhenti di sepasang pipinya yang memanas.

“I—itu bukan apa-apa, Profesor,” dia berkata dengan merendah, “ibuku bekerja di St Mungo dalam bidang membuat ramuan untuk mengobati penyakit akibat mantra atau kecelakaan parah dalam sihir. Jadi, sewaktu aku kecil dulu, ibuku mengajariku sedikit banyak soal ini,”

Terdengar helaan napas mengejek yang bersumber jelas dari belakang punggung Jody—dan jelas, Jody tahu betul siapa sosok jahat yang sudah melakukan hal itu kepadanya. Siapa lagi kalau bukan kapten Quidditch arogan yang satu itu?

Ternyata si tolol itu mulai senang dekat-dekat dengannya sekarang.

Well, kurasa kau menuruni bakat ibumu, Nak!”

Seolah tak sedikit pun mendengar helaan napas menghina jahat—ugh, bahkan Jody merasa jijik menyebut namanya, tapi, baiklah—dari Luhan, Profesor Gillybeans kembali melanjutkan kata-katanya, “Ada banyak pekerjaan yang bisa kauambil dengan bakat ramuan seperti ini; mungkin kau bisa menjadi Auror!”

“Sesungguhnya aku agak takut menjadi Auror, Profesor,” tukas Jody perlahan, kontan agak malu dengan pengakuannya sendiri. “Aku sering mendengar banyak hal mengerikan terjadi pada banyak Auror. Bahkan pamanku seorang Auror, dan dia harus kehilangan satu kelingkingnya ketika mengejar satu pencuri yang menggelapkan dana di Gringotts,”

“Tetapi tentu saja,” buru-buru Jody mengklarifikasi, takut Profesor Gillybeans akan salah paham dengan pendapatnya, “menjadi Auror merupakan pekerjaan yang mengagumkan.”

“Apa pun cita-citamu, Nak,” Profesor Gillybeans yang tertubuh bongkok tersenyum kepadanya, senyum paling tulus yang pernah Jody temukan selama empat tahun hidupnya di Hogwarts, “aku selalu berharap kau dapat meraihnya. Karena kau jenius—dirimu brilian!”

 

“Kau akan jadi penyihir paling cemerlang di masamu nanti.”

 

“A—astaga,” gelagapan, Jody berusaha merespon apa yang baru saja dikatakan oleh guru Ramuan tingkat keempatnya itu kepadanya. Semuanya terlalu sulit dibayangkan, dan andai saja memang benar Jody berhasil meraih tingkat itu, Jody jelas akan menjadi penyihir paling bahagia di dunia. “T—terima kasih, Profesor. Merupakan kehormatan bagiku bisa mendengarmu mengucapkan hal sedemikian rupa kepadaku,”

“A—aku benar-benar tersanjung, tetapi aku akan tetap bekerja keras. Terima kasih, Profesor.”

“Ya, Nak. Tentu saja, kau pantas mendapatkannya,” pria berusia sekitar lima puluh tahunan itu kembali tersenyum ramah kepada Jody. “Jadi, Nak, karena aku tahu kau luar biasa brilian dalam pelajaran Ramuan ini, bolehkah aku minta tolong sedikit kepadamu?”

Jody lantas mengangguk sopan, dia bahkan sudah membiarkan pisau iris lipat serta Empedu Armadillo-nya tergeletak di atas meja preparat untuk ramuan, “Ada apa, Profesor?”

“Kau tahu anak yang duduk di belakangmu?”

Bulu roma Jody langsung bangkit menyadarinya; bukan karena sosok yang duduk di belakangnya merupakan monster atau hantu paling mengerikan di dunia—karena Jody sudah terbiasa melihat banyak hal aneh di St Mungo sejak kecil. Seseorang yang bola matanya copot karena kecelakaan pengucapan mantra, pria dengan bisul besar-besar menyelubungi satu tubuhnya, wanita yang berteriak-teriak karena kuku kakinya terus memanjang bahkan hingga nyaris sepanjang satu koridor rumah sakit—tapi Jody bersumpah, sosok ini justru jauh lebih mengerikan!

Dia lebih berbahaya daripada hantu jahil bernama Peeves, lebih kejam dibandingkan Baron Berdarah—lebih parah daripada Nona Kelabu, hantu asrama Jody sendiri.

“Bisakah kau membantu mengajari Luhan untuk membuat ramuan ini, Nak? Aku khawatir dia tidak akan lulus OWL tahun depan kalau rutinitas yang dilakukannya di kelas hanyalah tidur sepanjang aku mengajar.”

Dia kembali melanjutkan, “Kurasa mendapat tutor sebaya lebih efisien dibanding hanya belajar di kelas—aku janji akan memberikanmu dua puluh poin tambahan untuk Ravenclaw! Dan jangan khawatir soal nilaimu; kau akan selalu mendapat nilai Outstanding dariku!”

Profesor Gillybeans menatapnya antusias, sementara Jody mulai menggigit bibir—ini poin untuk asramanya, Ravenclaw harus memenangkan Piala Asrama tahun ini—benar sekali. Selama bertahun-tahun mereka mempertahankannya, dan Gryffindor terus mengancamnya dengan poin mereka yang terus mengejar Ravenclaw…

“Bersediakah kau, Miss Chang?”

Jody menelan ludah, berdoa kepada Tuhan supaya ini menjadi keputusan terbaiknya.

Jika bukan demi asramanya, tidak akan sudi dia mengajari si kecoak busuk itu, “B—baiklah, Profesor…”

 

“APA??!!”

 

Si tolol itu sepertinya baru saja tidur kemudian bangun kembali tatkala Jody mengajukan kesediaannya. Luhan berjingkat dari bangkunya, membuat Empedu Armadillo-nya terlempar ke lantai dengan menyedihkan, sementara bangkunya kini sudah teronggok di sudut kelas bawah tanah.

 

“BAGAIMANA BISA KAU MEMINTAKU DIAJARI OLEH NENEK SIHIR INI, SIR??!!”

 

“Jaga ucapanmu di hadapan Miss Chang!”

 

“Aku. Tidak. Sudi. Diajari. Nenek. Sihir. Sepertinya.”

 

“Detensi, Mr Xi. Malam ini, pukul sepuluh di ruanganku.”

 

“ARGH, BAGAIMANA BISA AKU HARUS BELAJAR DENGAN NONA SOK TAHU ITU?!”

 

 “Potong lima belas poin dari Gryffindor lantaran kau berbicara tidak sopan.”

 

Semua mata kini terpaku menatap mereka, dan tidak ada satu hal pun yang Jody lakukan selain bergeming sembari memperhatikan bagaimana segalanya terjadi. Seperti menyaksikan drama saja. Seharusnya Luhan belajar dari sekarang; kecoak busuk itu harus lebih menghargai orang lain—terutama dirinya, karena di mata guru, seorang Jodilyn Chang jelas permata paling bersinar di antara seluruh murid di angkatannya.

 

Makan itu, Kecoak Busuk.

 

Mati kau. Jody bersorak riang di dalam hati.

 

Fin

September 2nd 2015

 

 

A/N

Hello, it’s been a long time! Mungkin terlalu naif kalau aku berpikir teman-teman reader di sini masih inget aku, karena serius, terakhir kali aku posting tulisan satu bulan yang lalu (buat yang masih ingat) dengan seri dari The Diary of a Daddy. Dan sekali lagi, kesibukan sekolah dan asrama bikin aku tenggelam dan sibuk dengan dunia nyataku; belajar, aktif di klub debat, buat PR yang menggunung, menghafal, dll. Sejujurnya aku kepingin aktif menulis di blog lagi, tapi apa daya, daku tak punya banyak waktu—ceritanya sok puitis kali ini.

Aku ngga tahu entah kapan akan menulis aktif lagi, dan mungkin ya beginilah, aku bisa muncul sekali-kali kaya setan begini, terlalu tiba-tiba. Maaf lho ya kalau kesan author’s note yang satu ini kaya curhat, tapi intinya satu: aku kangen menulis, terutama seri tulisanku di liburan lalu: The Diary of a Daddy.

Aku janji akan balik menulis lagi, entah kapan aku belum bisa bilang persisnya. Selama ada yang mau membaca, aku akan tetap menulis buat kamu yang suka dengan tulisanku yang jauh dari sempurna ini kok. I promise this, truly.

Anyway, have a great day everyone!

 

Love and regards,

A.S. Ruby

 

 

12 responses to “[AMORTENTIA] One || Hello Cockroach – A.S. Ruby

    • Halo, Arisqa! Kangen juga nih, haha :’D
      Aku belum tahu kapan bisa kombek, tapi akan aku usahain secepatnya ya, semoga Chanyeol masih tetap tamvan di TDOAD selanjutnyaaa

    • Yah, begitulah Luhan. Rada-rada mirip James Potter gitu deh, haha.
      Anyway, thank you for commenting 😀 ❤

  1. Keren thor ffx,
    Kngen deh ama harry potter, q potter holic soalx,
    Tpi partx kris dkit nih thor, ap ad rncna bwt swquelx??

    • Hai teman sesama Pottermania! Tanggal 1 September tahun ajaran baru di Hogwarts dimulai lhooo :3
      Ah, aku ngga tau juga sih, semoga ada ya, haha

      Anyway, thank you for commenting Dear! 😀 ❤

  2. KANGEEEEN RIMDUUUU sama kamu dan tulisan mu… ugh ini panjang banget aku Puasssaa 😀
    KEREN KEREN MENARIK BANGET,jadi ini latar waktunya setelah harry kan jdi kaya HP season 2 nih hehehe
    semangat terus ya,karya kamu bakal aku tunggu terus ko 🙂

    • HALOOOOOOO, aku terharu ada yang kangen sama aku dan tulisan absurd-ku :’D
      Ah, thank you ya, aku tahu ini ide paling random di dunia fanfiksi perkoreaan Indonesia (istilah aneh, serius ._.) tapi apa daya, aku nekat buat bikin. Toh aku kenal dunia fanfiction pertamanya dari fanfic Harpot waktu kelas empat atau lima sd dulu.

      Sekali lagi thank you ya 🙂 ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s