[Episode 7] We Got Married! by slmnabil

we-got-married-request-slmnabil

[7th Episode]

Way Back

2015 © slmnabil

poster belongs to junnieart

Jadi kronologisnya begini. Penemuan buku harian, perdebatan batin, menelanjangi tumpahan perasaan Sooyeon dalam pena, dan mendekati dengan identitas perempuan. Jika ditarik benang merahnya sejak awal Do Kyungsoo sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi seorang pria untuk Kim Sooyeon dan bukannya ingin menyingkirkan posisi Park Chanyeol yang memiliki semacam konsistensi tersendiri untuk sang pemilik sampul merah.

Awalnya Chanyeol sama sekali tidak mengerti, tingkat pemahaman nol persen. Kyungsoo yang dipaksanya bicara pribadi jadi kesal juga, tanpa menunggu benang semerawut di isi kepala pemuda jangkung itu menemukan ujung-ujungnya tahu-tahu Kyungsoo main pergi saja.

Chanyeol perlu melakukan kalkulasi, menghubungkan ini-itu, mengaitkan keterlibatan yang berakhir pada satu kesimpulan : Oh, suka-sukaan mereka bukan suka yang seperti itu. Mungkin kurang lebih begitu bila digoretkan dalam alfabet. Tanpa sadar cekungan kurva mengembang di bibirnya. Retina menghujam langsung refleksi nyata Kim Sooyeon yang hanya berjarak beberapa ubin darinya, tengah mencoba memulai perbincangan dengan yang lain dibantu Baekhyun di sampingnya.

Sooyeon selalu seceria itu. Sooyeon selalu mudah bergaul. Ia hanya mempersulitnya saja belakangan, tapi sekarang tidak ada yang membebaninya lagi. Jadi dia tertawa sebanyak yang diinginkan. Well, menyenangkan untuk dilihat.

“Wow kau bisa suka lagi padanya jika melihat seperti itu, Hyung.”

Ini kata Sehun. Di saat tujuh yang lain berusaha lebih dekat dengan Kim Sooyeon dirinya lebih tertarik untuk menjahili Chanyeol yang mencermati gadis itu sampai-sampai matanya bisa ke luar.

“Beritahu aku, kalian masih pacaran bukan?”

Chanyeol melempar pandangan kesal. “Sudah berapa kali kubilang kalau tidak ada apa-apa lagi. Yah mungkin berbeda jika dia masih naksir aku.”

Sehun berjengit. “Darimana belajar bicara menjijikan seperti itu? Percaya dirimu terlalu tinggi.”

“Darimu,” pemuda jangkung itu mengerling, “Ayo banyak perabot yang harus dipindahkan hari ini!” ia mengomando sembari melangkah menjauhi Sehun.

“Dia jagonya bikin kesal.”

Tak sulit bagi Chanyeol memusatkan atensi kepadanya tentu saja, sembilan manusia ini biasanya paling tidak mendengarkan apabila Suho yang bicara. Lain hal dengan Park Chanyeol, mendapatkan perhatian adalah hal yang paling mudah di dunia.

“Oke, ada tiga ruangan yang harus kita bereskan. Ruang tengah, kamar, dan dapur. Kupikir lebih efesien jika kita bagi jadi tiga kelompok saja yang akan mempunyai tanggung jawab untuk masing-masing satu ruangan.”

“Sudah jelas kita jadi babu.”

“Dia sedikit meraja sekarang karena punya acara sendiri.”

“Untung, aku suka kau Hyung.”

Oke, meski banyak bicara toh akhirnya mereka mendengarkan Chanyeol juga. Masing-masing sudah punya ruangan yang harus dibereskan. Suho, Kai, Xiumin, dan Lay ditugasi mengatur tata letak ruang tengah. Kyungsoo, Chen, Sehun untuk dapurnya. Khusus kamar Chanyeol bilang sih dia dan Sooyeon yang harus melakukannya, masalah privasi katanya. Tapi Baekhyun punya setumpuk cara untuk membuat dirinya berada di antara keduanya. Sebut saja ini dekor rumah berdarah.

Terkecuali ranjang, Sooyeon banyak membantu di sana-sini. Meski Baekhyun tak henti-hentinya mengatakan kalau perempuan ya melihat saja, tidak perlu terlihat kuat dalam segala hal.

“Oh, kau berpengalaman ya?” goda Sooyeon.

“Dia cuma cari perhatian, abaikan saja Baekhyun.”

“Wah kelihatannya tidak bisa. Tidak tahukah kau jika istrimu ini suka aku?”

Menanggapinya Sooyeon malah tersenyum, entah kenapa membuatnya berpikiran kalau Byun Baekhyun akan menculik Kim Sooyeon seharian penuh. Sooyeon menggeser meja lebih ke sudut, Baekhyun ikut-ikutan. Memasang jam dinding, Baekhyun jadi ambil alih meski tidak tinggi-tinggi amat. Memasang seprai saja, pengganggu itu senang-senang saja membantu.

Tapi oh, emosi Chanyeol menjadi tidak stabil karenanya. Lho, bagaimana ceritanya rencana untuk keren-kerenan di depannya Sooyeon hari ini malah menjadi acara yang seakan bertajuk Bersama Baekhyun Hari Ini. Dia kesal sekali karenanya.

Chanyeol cenderung tidak mau bicara ataupun bergerak jika sedang marah. Jelas sekali karena sejak tadi yang dilakukannya hanyalah duduk di sofa samping nakas, menjadi patung. Ya meski harap-harap cemas Sooyeon akan sekedar meliriknya sedikit.

Mungkin gadis itu sadar diperhatikan atau bagaimana, suara pikiran Chanyeol seakan diperdengarkan stereo di telinganya. Setelah hampir satu jam Chanyeol dianggurkan olehnya, satu menit berikut ia merasa ada yang aneh karena tidak ada yang mengatainya pendek atau sekedar mengingatkan untuk tidak tergores.

Baekhyun sedang menata karangan bunga di vas saat Sooyeon akhirnya menghampiri Chanyeol, membuat emosinya melambung-lambung tak karuan.

“Apakah obrolan soal Kyungsoo yang perempuan membuatmu kehabisan akal, Chan?”

Ini awalan yang buruk untuk sebuah percakapan, Sooyeon tahu betul.

“Aku lebih kehabisan kesabaran untuk menghadapi setan seperti dia,” katanya sembari menunjuk Baekhyun dengan dagu.

“Setan yang menyenangkan,” Sooyeon duduk di sampingnya.

“Oh, jangan mulai. Aku sudah cukup kesal karena dia menculikmu selama seratus duapuluh menit.”

“Ayolah ini masih pukul 11 pagi, 13 jam tersedia kalau-kalau kau berniat menyanderaku.”

Apakah ini yang orang sering bualkan soal kode-mengode? Senyum Chanyeol mengembang kemudian menarik pergelangan tangan Sooyeon dan ke luar ruangan bersamanya.

“Kalau begitu dimulai dari sekarang.”

Sooyeon merasa lebih nyaman, keadaan hatinya mungkin akan sama sekali berbeda kalau tadi Chanyeol hanya membiarkannya terjatuh. Ia terkesan saja kalau ternyata pemuda itu masih peduli. Bagi Sooyeon memperdulikan seseorang yang peduli padamu adalah suatu bentuk keharusan, itu prinsip.

“Kita mau apa?” Yang ditanyakan Sooyeon saat Chanyeol menuntunnya ke arah dapur.

“Tidak lihat mereka sudah jadi ikan yang mabuk udara di sana? Banyak makanan yang harus kita sediakan.”

“Tuan rumah yang baik.”

“Tuan rumah yang baik,” ulang Chanyeol.

chan4

Q : Kalian terlihat lebih akur akhir-akhir ini. Apakah sesuatu terjadi ketika kau mematikan kamera untuk kedua kalinya?

“Wow, aku terkejut kalian tidak membahasnya lebih awal. Bisa dibilang kami punya diskusi pribadi waktu itu, tentang perubahan konsep. Dulu mungkin kami saling menganggu dan bertengkar, namun kalau dipikir lagi itu sama sekali tidak ada manfaatnya untuk pemirsa. Jangan salah lho, pertengkaran kami bukan akting itu sungguhan.

Jadi kami ingin mengubah bentukan baru reality show yang meninggalkan pesan moral untuk pasangan yang berkeluarga bahwa meski sering bertengkar kalian akan menemukan kebahagiaan kembali, kurang lebih seperti itu. Sooyeon bilang sih itu mimpinya tapi tidak kunjung terwujud. Lebih baik tidak menyiarkan yang seperti ini bukan?”

Q : Tadi kau menyinggung sedikit soal pertengkaran yang bukan akting. Lalu kenapa sejak awal kesan satu sama lain seburuk itu?

“Oh, itu bukan wilayahku. Aku sih tidak masalah, tapi penulis kalian punya semacam keanehan. Tanyakan sendiri saja padanya, nanti aku ditonjoki.”

kim4

Q : Chanyeol bilang kau punya keanehan.

“Sialan, ini sindrom bukan keanehan garis bawahi. Dia sering sekali mengataiku mutan hanya karena tidak menaruh minat pada musik. Tapi ini cuma seperti seseorang yang alergi udang, bisa dapat masalah kalau dilanggar bukan? Aku tidak ingin buka-bukaan tapi sepertinya penonton akan salah paham. Ibuku seorang pemain biola, aku suka yang Ibu suka. Tapi kemudian dia pergi, kurasa meski aku cinta biola sekarang bayang-bayang soal Ibu enggan meninggalkan bersamanya. Chanyeol tidak tahu saja, jadi dia bicara aneh-aneh.”

Q : Mungkin itu tanda kenapa kalian harus lebih sering bicara, tidak dengan emosi tapi kepala dingin.

“Ya, jadi di malam kamera dimatikan lagi banyak yang kami bicarakan. Intinya kami berdamai, aku sepakat kalau kepergian Ibuku, menghindari musik dan soal Chanyeol sama sekali tidak berkaitan.”

Q : Penonton pasti sangat senang mendengar ini.

Kolaborasi antara Kyungsoo dan Jongdae selalu berakhir baik, bisa dibilang kemistri berjalan di antara keduanya. Chanyeol tidak melihat dapur menjadi lebih urakan, perabot diatur dalam posisi yang tepat dan yang terpenting tidak terlalu tinggi. Baguslah untuk Kim Sooyeon.

Dulu sih mereka berdua seringkali mendapat tugas di dapur saat keluarga Sooyeon pindahan, perdebatan selalu enggan meninggalkan keduanya. Soal tata letak seberapa tinggi perabot seharusnya diletakkan. Tapi oh syukurlah, hari ini mereka tidak perlu banyak berdebat.

“Kita mau buat apa?” tanya Sooyeon.

“Tadi aku memasukkan macam-macam bahan yang bisa diolah sebenarnya, tapi kupikir akan memakan waktu yang panjang jika kita masak banyak. Ini tidak seperti ada pesta atau apa.”

“Katakan saja aku harus melakukan apa, aku tidak meminta pendapatmu kok.”

“Kita potong saja buah-buahannya,” komando Chanyeol akhirnya.

Bukan sesuatu yang sebegitu spesialnya sampai pemuda itu gaya-gayaan sebelumnya, Sooyeon juga tidak mengantisipasi terlalu besar sih. Chanyeol memang jago dalam banyak hal, cuma terkadang dia malasnya luar biasa.

Sooyeon hendak meraih pisau di samping kanannya saat Chanyeol menahan lengannya untuk tidak melakukan pergerakan.

“Tak ada kotak P3K yang menjamin keselamatanmu kalau-kalau jarimu tidak sengaja teriris.”

“Wah, kau super perhatian sekarang. Tergores sedikit tidak akan membuat jariku putus, tidak apa-apa aku sudah lebih hati-hati sekarang.”

Sekali tidak boleh artinya seterusnya larangan kalau menuruti gayanya Chanyeol. Jika sudah seperti ini sangat direkomendasikan untuk mengalah saja.

“Kupas saja jeruknya dan tata dengan cantik di piring, secantik kau yang selalu membangga-banggakan jiwa senimu.”

Ini cibiran ya?

“Kurasa penempatan ‘Secantik dirimu’ lebih proposional dibandingkan kata-kata yang menghabiskan tenaga.”

Sooyeon mulai mengupas jeruk sementara Chanyeol melirik gadis itu sejenak dan menghentikan irisannya dengan semangka.

“Aku tidak mau bilang kalau kau cantik.”

Netra keduanya menjadi bersirobok, seakan kilat-kilat tak kasat mata terhujamkan dari iris Sooyeon yang coklat muda.

“Sialan, dulu kau mengatakan aku cantik seribu kali setiap hari,” desisnya dengan suara rendah sebisa mungkin tidak terekam kamera.

Wah ini soalan realita, jadi Chanyeol tidak bisa banyak bicara.

“Jadi kalian tipe pasangan yang labil ya? Sesekali marah, sekali-kali damai. Aku penasaran kapan saja mood bertengkar kalian muncul.”

Ini Baekhyun lagi. Serius apakah pemuda itu bahkan tahu istirahat? Atau tubuhnya bisa melakukan duplikasi? Dia ini mengganggu sekali sih.

“Chanyeol Hyung pasti berpikir kalau yang seperti ini romantis namanya.”

Yang ini Sehun. Biasanya kalau Baekhyun sudah memilih si bungsu untuk jadi rekanan mengejek mereka menjadi tidak bisa dihentikan. Sekali-kali mereka perlu adu argumen dengan Sooyeon.

“Minggir.”

Satu kata saja yang perlu Chanyeol lafalkan untuk membungkus adu sahutan antara keduanya. Ia melewati tubuh Baekhyun dan Sehun dengan dua piring penuh buah-buahan yang sudah ditata rapi di atas keramik horizontal. Sebelum benar-benar pergi ia berbalik, menjadikan Kim Sooyeon sebagai pusat atensi.

“Kau ikut denganku. Aku menyanderamu untuk sisa hari ini.”

.

.

.

Sang raja hari tergelincir, menimbulkan cipratan warna jingga ke sudut-sudut cakrawala. Burung-burung sudah enggan berciut-ciut dan lebih minat untuk kembali ke sangkar. Ini sekitar pukul 7 malam sekarang, tapi bahkan lelah tidak menggerayangi sekelompok pemuda yang tidak ada habis-habisnya mengeluarkan cekikikan.

Tidak banyak yang mereka lakukan untuk mengisi delapan jam di depan televisi karena plasma yang bersinar-sinar itu bukan satu-satunya pusat atensi. Baekhyun -seperti biasa- banyak bicara, ia bahkan membuat permainan sebagai pengisi agenda. Mereka memang tidak nyeleneh dengan bepergian kemana-mana. Hanya di ruang tengah tapi memiliki caranya sendiri untuk pecicilan.

“Jadi kapan rencananya kau terbang ke Brunei? Berapa lama? Sooyeon pasti sedih ditinggalkan suaminya.”

Chanyeol memincing. “Lusa aku berangkat dan kurasa kau tidak perlu memikirkan soal kami, Kai.”

“Yah, kau ‘kan bermasalahnya dengan dua orang itu. Kenapa aku ikut kecipratan?”

Suasana kembali ramai, enggan meninggalkan keheningan sedetik saja menari dengan lengang.

Mungkin sembilan sudah terbiasa, tapi satu butuh penyesuaian.

Sooyeon sudah tepar duluan, memindahkan perabot pasti melelahkan untuknya mengingat belakangan gadis itu tidak begitu hobi bergerak. Alhasil matanya terpejam dengan tengkorak yang menumpu di bahu Park Chanyeol.

“Kurasa ada baiknya memindahkan Sooyeon ke kamar, dia tidak terlihat nyaman,” usulan Kyungsoo yang sepertinya lebih didahului sorot matanya yang khawatir.

Meski Chanyeol tidak begitu suka tapi ia sependapat. Ditambah fakta bahwa ternyata Kyungsoo tidak naksir Sooyeon ia semakin ingin menyamakan jalan pikiran dengan pemuda itu.

Chanyeol tidak perlu banyak babibu untuk menganggurkan rekanannya dan membopong Sooyeon ke tempat yang lebih nyaman. Ia mengambil langkah menuju nakas yang hanya berjarak beberapa meter sekarang sebelum menindurkan Sooyeon di atasnya.

Dengan lembut ditariknya selimut sampai bahu untuk menghangatkan suhu tubuh Sooyeon yang sepertinya tidak begitu tinggi karena pakaiannya. Chanyeol melepaskan kunciran rambutnya dengan hati-hati seraya merapikan anak-anak rambut yang nakal.

Ia tidak percaya kalau Sooyeon begitu mudah dijangkau sekarang. Chanyeol hanya perlu mengulurkan tangan dan wujud fisik gadis itu dapat terindera. Tidak ada lagi yang membuatnya was-was karena bahkan Kyungsoo yang begitu ia wanti-wantikan tidak merasakan sesuatu yang membuat posisi Chanyeol tergeser.

Tapi, bagaimana dengan gadis ini? Apakah ia mengganggap Kyungsoo sebagaimana pemuda itu memperlakukannya? Chanyeol tidak pernah tahu dan ia benci itu.

Baiklah, cukup untuk hari ini. Ia tidak boleh egois dengan tidak membiarkan Sooyeon terlelap nyenyak. Sekali lagi ia membelai pipi Sooyeon yang merah muda sebelum melakukan niatnya untuk bangkit.

Tapi kemudian alunan namanya menggelitik pendengaran, membuat Chanyeol kembali mengurungkan niatnya. Sooyeon baru saja memanggilnya, ia bersumpah.

Jari-jari panjang keduanya bertautan, dalam penerangan temaram pun keduanya yang bertukar pandangan tidak dapat terelakkan.

“Bolehkah aku menyaderamu seperti kau melakukannya padaku hari ini?”

Sooyeon dengar soal Brunei. Gadis itu tidak tertidur.

.

.

.

Kim Sooyeon perlu menambahkan ini dalam kamusnya, bahwa diam bisa berarti tidak. Sumpah deh, ia menyesali permintaannya soal mencegah Chanyeol pergi. Menurutnya itu konyol, bodoh, memalukan, menjatuhkan harga diri. Dia pasti overdosis nonton film romantis akhir-akhir ini. Toh akhirnya Chanyeol harus pergi juga karena tuntutan pekerjaan.

Terhitung tiga hari sejak ia mengantar Chanyeol ke bandara untuk lepas landas ke Brunei sana. Otomatis syuting acara pernikahan virtual mereka menjadi tertunda dan Sooyeon harus kembali ke rutinitasnya untuk bergelut dengan setumpuk kertas-kertas alfabetis. Lee Yona membuatnya bekerja lagi.

Chanyeol bilang kalau lebih baik ia mengendarai mobil mereka saja untuk bekerja, Sooyeon sih awalnya semangat melakukannya tapi sukses juga membuatnya terlambat berkat traffic jam– nya kota metropolis. Kesimpulannya mobil tidak efesien untuk gadis berantakan jenis Kim Sooyeon.

Pagi yang lain untuknya menahan bobot tumpukan dokumen dengan lengannya, Lee Yona menjadi lebih termpramental akhir-akhir ini. Menyiksa Kim Sooyeon dengan berbagai arahan membuatnya bisa jerit-jerit. Wah, rupa-rupanya dia cukup pendendam. Satu-satunya hiburan yang dapat membantunya melepas penat adalah musik. Kalian harus tahu kalau keduanya -Sooyeon dan musik- menjadi sahabat sekarang. Sooyeon lagi keranjingan Kwon Jiyong belakangan.

Pintu besi terbuka, meski visi Sooyeon tidak bisa menjangkau tapi denting lift yang duluan masuk ke pendengaran membuatnya mengambil langkah maju. Dia harus bersyukur bahwa pagi itu lift tidak disesaki begitu banyak beban, mungkin hanya dirinya dan seorang pemuda berjarak beberapa jengkal darinya. Sooyeon menjadi suka memperhatikan sekitar belakangan, jadi memicing dengan sudut mata adalah yang dilakukannya sekarang.

Pemuda di sampingnya tidak begitu semampai, mungkin lima senti di atasnya. Pakaiannya santai cuma Sooyeon tahu jelas itu bermerk. Dan wow sepatunya lucu, dia jadi tergelitik untuk bertanya dimana pemuda itu membelinya.

“Sibuk huh, Penulis Kim?”

Kalau boleh ia sudah jerit-jerit. “Do Kyungsoo!”

“Wah, sebahagia itukah kau bertemu denganku? Chanyeol tak akan suka.”

Sooyeon memutar netra. “Yah kau tidak perlu khawatir, dia jauh sekarang.”

“Ini tidak seperti Chanyeol tidak akan pulang lagi, tenang saja dia itu tahan banting.”

Bersamaan dengan denting lift yang kedua seakan menunjukkan sahutan tak langsung Kim Sooyeon. Ini lantaiku, kurang lebih seperti itu. Gadis itu sudah akan ke luar dengan meninggalkan cengiran singkat, namun Kyungsoo cepat-cepat menahannya.

“Sooyeon, kau punya waktu? Bisa kita bicara?”

“Oh?” ia terlihat berpikir sejenak, “Oke, tunggu di kursi di pojokan itu. Aku segera kembali setelah menyerahkan ini.”

Dan ternyata maksud segera dalam kamusnya Kim Sooyeon itu secepat kilat, tidak memakan waktu lama sebelum akhirnya gadis itu sudah berjingkat-jingkat masuk lagi ke retinanya. Dia mengambil napas sejenak, merapikan kunciran mungil di atas kepala pun lengan kemeja kotak-kotak yang mulai turun. Kyungsoo mencermati setiap satu-satunya, mengingat kepribadian gadis ini sama persis dengan kombinasi alfabetnya dalam buku harian.

Kyungsoo merasa ini waktunya. Tidak ada Chanyeol yang mencegah, tidak ada lensa yang merekam dan orang-orang terlalu sibuk dengan tuntutan personalnya. Sebenarnya sih itu memang niatnya untuk datang hari ini, menunjukkan eksistensinya di hadapan gadis yang biasanya hanya melakukan konversasi lewat tulisan. Si Sampul Merah akhirnya hadir di tengah-tengah keduanya, spontan Sooyeon berjengit.

“Bagaimana bisa?”

Dari ribuan pertanyaan yang melintasi benaknya, dua kata itu sepertinya menjadi relawan tentara aksara. Bagaimana-bisa.

“Seharusnya aku mengembalikan ini lebih awal, tapi begitu melihat fotomu dengan Chanyeol aku menjadi penasaran. Apalagi setelah membaca soal keluargamu dan kau tahulah. Aku tidak menuntut agar kau mau mengerti, tapi kuharap pertemanan kita tidak menjadi buruk.”

Oke, ini lebih daripada keterkejutan Woody soal ular di sepatunya atau bom di bagasi. Sooyeon tidak marah kok, sama sekali tidak. Mengetahui ia seakan ditelanjangi tidak lantas membuatnya kesal dan enggan menemui Kyungsoo lagi. Tapi ia ingin menangis, untuk alasan yang sama sekali tidak ia ketahui Sooyeon menangis.

Mungkin selama beberapa menit, keduanya mendapat lirikan manusia yang berlalu-lalang. Tak jarang beberapa mendekati Sooyeon untuk sekedar bertanya apakah ia baik-baik saja. Kyungsoo ‘kan jadi seram sendiri karena dalam anggapan orang ; Wah dia bikin nangis anak orang.

Dia pikir Sooyeon harus di puk-puk seperti anak kecil, diiming-imingi balon atau apa. Tapi oh rasanya ia harus mengurungkannya saja saat Sooyeon mengatakan,

“Kenapa kau mengaku dirimu perempuan? Chanyeol pasti melihatku sangat konyol selama ini karena sombong soal kau.”

Wah, sirkulasi udara Kyungsoo baru saja berhenti.

.

.

.

Konyol ya sakit hanya karena merindukan seseorang? Beberapa orang mengatakan itu ada benarnya, tapi kekonyolan sejati hanya milik pemuda jangkung yang tengah terbaring lemah di atas nakas. Namanya Park Chanyeol, ia baru menjejakkan karet sepatunya dini hari dentang ketiga. Brunei baru saja memuntahkannya, karena rindu yang menggerayangi dirinya belakangan. Wah, eksistensi Kim Sooyeon besar sekali ya pengaruhnya.

Chanyeol dipulangkan lebih awal. Sebenarnya sih dia hanya demam, namun jenis demam yang menjadi lebih parah dan berkomplikasi ke organ- organ yang lain. Tidak biasanya Chanyeol begini, mungkin keadaan hatinya sedang tidak baik karena perkataan Kim Sooyeon membayangi langkahnya terus-menerus.

“Bolehkah aku menyaderamu seperti kau melakukannya padaku hari ini?”

Gadis itu punya kemampuan untuk menyugesti orang lain sebegitu mudahnya ya? Hebat sih, sampai Chanyeol sakit begini saking ingin pulangnya. Baekhyun sempat menggodanya dengan alasan serupa, tapi oh ia tidak harus mengaku ‘kan ya?

“Aku sudah menghubungi Sooyeon, dia bersama Kyungsoo sekarang. Mereka akan segera ke sini katanya.”

Terkadang yang namanya sahabat itu mengerti tanpa diminta, Chanyeol jadi tidak perlu deh mempermalukan dirinya untuk meminta gadis itu mendatanginya.

“Sebaiknya kau bersih-bersih dulu, Sooyeon pasti mengira zombie baru saja menyerang kota,” imbuh Baekhyun sebelum melenggang santai ke luar kamar. Chanyeol mau saja melempari pemuda itu dengan bantal, tapi serius nih dia terlalu lemas. Tungkainya sulit digerakkan, jemarinya seperti berkedut, pening menyarang di kepalanya entah sejak kapan, bawannya Chanyeol ingin memejamkan mata.

Dan ya, dia benar-benar melakukannya. Tertidur.

.

.

.

“Chanyeol mana?”

“Wow-wow ambil napas dulu, Sayang. Dia tidak mati kok.”

Baekhyun kira Sooyeon bisa diajak bergurau, namun menyadari netra gadis itu berkilat-kilat ia jadinya enggan menggodanya lebih jauh. “Di kamarnya.”

Sooyeon kira Baekhyun perlu menambahkan satu kata setelah ucapan terakhirnya tadi, seharusnya Baekhyun bilang begini : Di kamarnya, tertidur. Jadi ‘kan dia tidak perlu rusuh melihat keadaan Chanyeol cepat-cepat. Kalau kemarin ceritanya Chanyeol yang tidak mau egois, sekarang gilirannya Kim Sooyeon. Dengan berat hati gadis itu memutar tubuhnya dan kembali ke ruangan yang lebih besar.

“Kalian pasti masih saling suka,” Sehun itu tipikal manusia yang bicara sesumbar ya? Kok bisa dia dengan santainya menyimpulkan sesuatu yang bahkan Sooyeon saja masih tidak bisa memastikan? Kalau sudah begini tidak menghiraukannya lebih direkomendasikan.

“Dia sudah minum obat ‘kan?” tanya Sooyeon memastikan pada Baekhyun.

“Belum, Chanyeol tepar duluan sebelum melakukan apa-apa.”

Sontak netra Sooyeon membulat. “Dia sakit-sakitan begitu dan kau tidak memberinya obat? Meski dipaksa seharusnya kau tidak membiarkannya seperti itu.”

“Dia sedang istirahat, tidak perlu segitunya Kim Sooyeon. Chanyeol bukan anak kecil.”

“Kau tidak tahu kalau sudah sakit dia bisa sampai seperti apa.”

“Oh, kau tahu?”

Skakmat, oke Sooyeon tidak bisa jawab. Ini semacam dilema, kalau maju dia terlihat masih naksir Chanyeol dan mundur hanya akan membuatnya dianggap konyol. Masa ia harus mengabaikannya lagi?

“Chanyeol Hyung bangun, kalian terlalu berisik berdebatnya.”

Terpujilah Sehun, Sooyeon sudi deh menarik perkataannya soal pemuda itu yang suka bicara seenaknya. Sooyeon selamat, ia melesat ke kamar Chanyeol dengan langkah seribu meninggalkan Baekhyun dan Sehun yang saling melempar pandangan berarti.

“Mereka masih suka-sukaan.

Refleksi Kim Sooyeon begitu jelas karena bias cahaya yang masih begitu terang menelisik melalui celah-celah jendela. Luar biasa karena kelopak matanya mendadak menegang kembali begitu mendapati gadis itu mengendap-endap memasuki penglihatannya.

“Kau baik?” tanya Sooyeon seraya membinasakan sedikit demi sedikit jarak antara keduanya.

“Lebih baik setelah istirahat kilat,” suara Chanyeol serak.

“Oh maaf karena mengganggumu, tidur lagi saja kalau begitu.”

Sooyeon baru saja hendak berbalik jika lengan kekar Chanyeol tidak melingkari pergelangan tangan gadis itu.

“Bisakah aku menjadi sanderamu hari ini?”

Jeda. Sooyeon merasa darahnya berdesir lebih cepat.

“Dan kalau bisa jadikan itu sebagai konsistensi. Kembalilah padaku, Kim Sooyeon.”

Kembali? Padanya?

.

.

.

.

|TBC

 

81 responses to “[Episode 7] We Got Married! by slmnabil

  1. Akhiwwwww canyol sama sooyeon masih pada suka sukaan euyy ihik. Canyol mana ngajak balikan pula, uuuhuhh ayolah maulah sooyeon. Mereka lucuu ih emezzz hahaha. Btw author-nim makasi banget buat pw nya hehehe aku jadi bisa baca terusannya kan hehe. Dan beneran deh aku nge fans banget sama tulisan mu, rapi dan uh diksinya ga main main, aku jadi kadang pengen ketawa, terus kesel, eh terus terharu, apa pula lah haha. Pokoknya aku sukaaaa banget ff muuuuu. Semangat terus author-nim! Aku cintaaaaaa! 💘💘

  2. Woaaah kayanya udah pada mulai ngakuin perasaannya nih..
    omygod chanyeol ngajak sooyeon balikan?? Woaah senangnyaaa diriku hahaha
    ditunggu nextnya. Fighting!!^^

  3. cahh sekarang mereka berdua mainnya sandra2an😀 aku penasaran aku penasaran pokoknya ditunggu next chapternya😉

  4. demi apa chanyeol minta balikan??!
    kenapa pula harus Tbc disaat2 seperti ini😥
    level curious jadi meningkat 100% nih:/

    well.. cuma bisa nunggu nextnya, apalah daya ㅠㅠ
    kok agak alay ya komenan aku *garuk pala*

    next project-nya que sera sera kah??

  5. Adudududuh mereka bikin tambah games aja pale kode-kodean segala lagi. Baguslah Kyungsoo gada niatan buat jadi ‘pria’ nya Sooyeon, jadi gada perang diantara mereka. Chanyeol minta di gaplok, sumpah bikin gemes. Udahlah bang jadi sandraan gue aja, yayaya

  6. Makasih pwnya saaall
    Aku suka part ini karena mulai mnunjukan masa depan cerah/?

    Semoga mereka kembali brsama yeeeee

  7. halloooo.. pertama” mau ucapin makasih buat nabill yg udh kasih kepercayaan ngasih pwnyaa. kedua maaf baru sempet komen jaringan ngajak ribut mulu. ketiga pengen dong tau gimana kisah cinta mereka berdua waktu pacaran duluu *pidato komen bu/plak/?
    btw chapter selanjutnya di protect ta??
    bang nyeol segitu cemburunyaa ampun dehh.. baekii jg ga ada kerjaan lg apa selain gangguin pasangan baru ini?!
    kyungsoo akhirnya ngaku jg lu bang nah gitu dong baru kece..
    kyungsoo gondok bgt liat reaksi sooyeon yg bikin garuk pala ampe botak, ngenes jg nasibmu bang.
    ya ampun bang nyeol rindu ampe sakit gituu?? sini biar aku peluk /plak/ *abaikan
    couple yg satu ini meskipun sejenis kucing sama tikus .v tp sumpah bikin ngiri sangat. sweet nya ngena banget meskipun itu sangat sangat jarang terjadi. baperrr lahh. seribu jempol deh buat nabill🙂
    okee.. mulai ga jelas mending di stop aja yaa.. jumpa lg di next chapter. semangat terus nulisnya. good luck nabill🙂

  8. Lo sakit atau kurang belaian sooyeon yeol??’:D dan pada akhirnya mereka akan mulai menyukai satu sama lainn, karna cinta mereka masih ada🙂 akhirnya chan ngajak balikan😀 dan semoga sooyeon mau🙂 senang kalo akhirnya happy ending😀 padahal awalnya kayak tikus anjing😀

  9. Aku baru sempet baca ff ini.. padahal udah dikasih pw udah lma.. hehhe maaf yah..
    Ikh mereka tambah so sweet bgt sih.. dan apa maxud dru kata chanyeol yg terakhir itu?? Ditunggu klnjutannya yah..

  10. aduhhh komen aku yang kemaren gak ada jadi aku komen lagi hehhe gak apa2kan ?

    adeuhhh kalau aku jadi sooyeon aku bakalan langsong borgol chanyeol dikamar pas dia bilang minta disandra hahaha kayak psikopat akuuuu

    thor sebenernya aku mau nanya
    author lahir tahun berapa ? soalnya aku gak enak manggil thor hehhe kayak aneh hehhe

    ada beberapa kata yang aku gak ngerti sih thor ampe aku baca beberapa kali
    tapi gak apa2 justru itu yang bikin aku auka hehhe
    oke ditunggu yahh nextnya

  11. halooo thor , ini ga di protect lgi ya ? ._. wkwk gpp deh , btw makasih ya sudah menanggapi emailku ^^ ini keren aduhhhh makin penasaran bgt sumpah ga boong wkwkkw nextnya pasti keren nihhh wkwkkw chanyeol minta balikannn uuuuuuuu badaiiiiiii , next” !! FIGHTING !!

  12. aawww..chanyeol ngajak balikankaahh ??? aaakkkk seneng… kayaknya udah mau tamat yaa ?? yaaahh bakal kangen deehh..etapi ada next project tuuhh.. kayaknya seru.. bahasanya bagus deeh aku suka banget.. keep writing yaaa

  13. Seneng banget liat chanyeol sama sooyeon udah baikkan, semoga aja sooyeon mau balikan sama chanyeol lagi. Greget banget sumpah, di tunggu next chapnya thor🙂
    itu yang next project chasnya smrookies ? pengen banget liat ffnya smrookies. Hwaiting buat next projectnya thor.

  14. minta pw nya udah lama tp baru bisa baca sekarang.. maap ya kak nabil🙂
    ihh lucunya mereka berdua
    main kode-kodean ciyee hihihi
    lanjutt kakak good luck ya semangat

  15. Holaa👋 maap baru baca sekarang🙏🙏 kalo ga salah ini diprotect ya? Tapi ko pas aku buka engga? Oke
    Tapi sebelumnya makasi udah dikasi pw

    Cie chanyeol-sooyeon masi suka sukaan 😆😆😆 sok atuh balikan 😂😂
    Jadi kyungsoo nyamar jd cewe? Aku kok rada ga mudeng sih?
    Haduh sooyeon mulai perhatiannya sama chanyeol
    Ditunggu kabar baiknya loh 😅

  16. oh jadi si d.o kagak naksir sooyeon ternyata.
    kena sindrom gak mau jauh ternyata si chan…. baru pergi bentar udah sakit ajah. hahaahH
    kapan ada romance moment buat chansoo couple???

  17. Kkk, baek lucu, gangguin chanyeon terus kkk
    Akhirnya chanyeon mulai sandra-sandraan,kode-kodean wkwk
    Next projectnya kayaknya seru..
    Fighting author 😘😘

  18. wait wait..
    “Kembalilah padaku, Kim Sooyeon”
    apa mksdnya ini ?
    chan mminta mreka balikan gtu ?
    kok smua tulisannya nabil bagus2 ya..
    next next ..

  19. Baekhyun & sehun rusuh banget disini :v mau tau aja urusan orang lain..
    Waah akhirnya chanyeol minta balikan, semoga sooyeon terima chanyeol kembali yaa..
    Next🙂

  20. Pertama, maaf ya Nabil aku baru baca+komen, maaf banget,
    Eh beneran, aku kaya lagi baca novel. Spesifiknya novel Sherlock Holmes karya sir Arthur C D. Tapi ini versi romansa greget-nya. Daaan berhubung aku belum baca yang cp. 8 aku mau pamit buat ke cp. 8.
    Untuk review, karena merutku tulisanmu udah well done, aku cuma mau bilang ”wow, Nabil tulisan lu keren sumpah”. Oke sekian dari saya😀
    Semangat Nabil !!

  21. Sebelumnya maaf yw nabil baru bisa baca ff ini.. padahal pw nya udah lama banget dikasihnya.. makasih loh udah ngasih pw nya ke aku🙂 btw chapter ini udah ga diprotect ya?

    chanyeol ngajakin balikan yaa? duuh makin greget aja nih pasangan yg satu ini.. aku tunggu loh project selanjutnya. .. sukses terus ya nabil ^^

  22. Haii kakk/nabil~ (sebenernya aku gatau kamu line berapa, jadi bingung manggilnya hehe)
    Aku bingung, sekarang ff ini udah ga di protect lagi ya? Apa gimana? kok kayanya ini tadinya di protek gitu? Perasaan sekarang aku tinggal langsung baca aja deh’-‘ tapi makasih ya aku jadi ga perlu minta pw dulu hehehe😄😄 dan alhamdulillah aku komen disetiap chap kokkk suer deh✌ jadi kalo ini masih di protect ya aku jg bakal tetep minta pw nya ke kamu hehe

    Btw, chanyeol ama sooyeon makin sering kode kodean ya…. Cieee
    Syukurlah mereka udh bersatu gitu hihi😁
    Tapi aku masih bingung deh perasaan macem apa yg dimaksud canyol tentang kyungsoo ke sooyeon.-. Jadi kyung tuh ngga naksir? Cuman kayak sahabat gitu?

  23. Ya ampun,damai sih udah tapi masih aja debat,
    Baekhyun usilnya gak ketulungan dan tapi ceye juga cemburuan sih
    . Pas si sooyeon gak boleh motong semangka itu lucu…
    Dan akhirnya diungkap tabiat si kyungsoo *heh dan kyungsoo itu cuma pengen temenan aja kan

    dan ya ampun kasia ceye lagi sakit cpt sembuh ya… Jangan manja manja hihi gak kok becanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s