Silently

silently copy2

Author: Windbeee

Cast: Oh Sehun |Ahn Hyejin (OC)|Other casts || Rating: Pg-15+ || Genre: Angst,Romance || Length: One shoots

Note: Confusing as always, I assume? plus it’s a cliché one. 

 

***

Sejak pertama kali Sehun berkenalan dengan Hyejin, Sehun sudah sangat menyukai Hyejin.

‘Hyejin tidak seperti anak perempuan yang ada didalam kelasnya yang selalu ribut dan akan berteriak keras saat menangis hingga membuat telinga Sehun seperti ingin berdarah’ pikir Sehun.

.

.

.

.

Saat mereka berdua menginjak kelas dua sekolah dasar, Sehun semakin menyukai Hyejin, karena Hyejin selalu membagi makan siang yang dia bawa dengan Sehun.

Dan akan selalu memberi Sehun potongan ayam yang ada didalamnya.

Walaupun sesekali akan dipaksa untuk memakan wortel dan brokoli yang ada didalamnya, tapi tetap saja Sehun masih tetap menyukai Hyejin.

.

.

.

.

Setelah mereka berdua tidak bisa lagi pergi kesekolah yang sama. Sehun harus menangis setiap pagi saat dia melihat mobil yang membawa Hyejin berjalan kearah yang berlawan arah dengan sekolahnya. Dan akan terus menggerutu tanpa henti.

Tapi semuanya terhenti saat Hyejin akan datang kerumahnya dan membawa game pokemon kesukaan Sehun dengan sekotak cookies ditangannya yang lain.

Membuat Sehun akan tersenyum dan membiarkan Sehun menghabiskan semua cookies yang dia bawa, tanpa memarahi Sehun.

Dan Sehun sangat menyukai Hyejin karena hal itu.

.

.

.

.

Begitu Sehun menginjak kelas lima sekolah dasar, untuk pertama kalinya Sehun bisa mengerti gerakan tangan yang selalu Hyejin gunakan setiap kali dengan ibunya.

Dan Sehun masih menyukai Hyejin, yang tidak akan berteriak memanggil-manggil namanya lalu memberikan Sehun sepucuk surat yang akan selalu Sehun buang.

.

.

.

.

Berada di sekolah menengah atas, sesekali Sehun akan memanggil Hyejin untuk datang kerumahnya dan membantu Sehun mengerjakan PR matematika dan Sains-nya.

Atau sesekali Hyejin akan datang untuk menginap dikamar Sehun seperti yang selalu dia lakukan saat mereka masih sekolah dasar.

Bukankah dia sudah cukup dewasa?

Saat itu juga Sehun langsung menyuruh Hyejin untuk berhenti menginap dirumahnya. Karena Sehun mulai merasa tak nyaman. Dan Sehun mulai tidak menyukainya.

Dan keinginan Sehun dibalas oleh anggukan kecil milik Hyejin.

Seperti yang selalu dia lakukan.

.

.

.

.

Sore itu, Sehun harus berlari dengan cepat kerumah Hyejin dan masuk begitu saja kedalam kamarnya. Saat Sehun membuka kamar Hyejin, dia mendapati Hyejin terlihat mencoba seragam sekolah menengah atas  dimana Sehun bersekolah.

Dapat Sehun lihat bagaimana senyuman lebar milik Hyejin saat dia menunjukkan kearah Sehun.

Menatap Sehun penuh rasa senang.

Berbanding terbalik dengan Sehun yang justru menatapnya ragu. Sebelum akhirnya menutup pintu kamar Hyejin begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.

Sehun rasa, dia tidak menyukai ide ini sama sekali.

.

.

.

.

Dia mulai tidak menyukai Hyejin yang tidak bisa mengucapkan kata sepatah pun.

Sehun ingin menarik semua apa yang terjadi.

Dia menyesal bertemu, dan berteman dengan Ahn Hyejin.

.

.

.

.

Sehun berjalan dengan tenang melewati gerbang sekolah seperti yang selalu dia lakukan. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celana dan sesekali akan tersenyum menyapa orang-orang yang lebih dulu menyapanya.

Saat pandangannya melewati pohon oak, yang tidak jauh dari ruangan kantor guru, Sehun langsung melangkahkan kakinya dengan cepat.

Sekalipun dia tidak melirik Hyejin yang melambaikan tangannya kearah Sehun. Berharap Sehun melihatnya dan bisa berjalan bersama atau paling tidak mengantarkan Hyejin kekelasnya, karena dia tidak terlalu tentang denah sekolah.

Hari ini adalah hari pertama Hyejin bersekolah, di public school setelah beberapa tahun harus mengikuti private school atau home schooling, yang membuat Hyejin tidak bisa berkomunikasi. Sekaligus membuat Sehun satu-satunya sahabat yang dia punya.

.

.

.

.

Jika Sehun masih mau menjadi sahabatnya…

.

.

.

.

Saat Sehun berjalan ke lokernya, dapat dia dengar bagaimana orang-orang mulai membicarakan Hyejin sepanjang perjalanan.

Dia bisa mendengar suara tawa saat salah satu temannya memberikan lelucon tentang Hyejin.

Tentang Hyejin yang tidak bisa berbicara.

Tentang kekurangan Hyejin.

.

.

.

.

Sehun tidak menemui Hyejin di hari pertama bersekolahnya…

.

.

.

.

Dihari pertama, Hyejin pulang kerumahnya dengan pakaian basah dan telur busuk yang melumuri setiap inci badannya.

Saat ibunya bertanya, maka Hyejin akan menjawab jika teman-temannya memberikan Hyejin pesta kejutan untuk hari pertamanya.

Dengan kedua tangannya dia berbicara. Dengan senyuman dibibirnya, dia meyakinkan.

Jika dirinya memang baik-baik saja.

.

.

.

.

Tiga bulan, bersekolah hampir seluruh badan Hyejin dipenuhi luka lecet.

Tapi Hyejin masih tetap tersenyum dan mengatakan jika dia baik-baik saja.

.

.

.

.

Sehun tidak pernah menemui Hyejin, sejak hari pertama sekolah. Bahkan, saat ujian kenaikan kelas sudah berlalu, dan sekarang hanya menunggu liburan musim panas untuk datang.

Dan tentu saja Hyejin mengerti.

Hyejin selalu mengerti ego seorang Oh Sehun.

Untuk itulah, hanya dirinya saja yang selalu berusaha.

.

.

.

.

Malam itu, Hyejin tidak datang kerumahnya seperti biasa.

Sehun ingat bagaimana Ibu Hyejin, datang kerumahnya dan mengetuk pintu rumahnya tanpa henti sebelum akhirnya Ibu Sehun membukakannya.

Dan siapapun bisa melihat jika ketakutan seperti mengambil alih seluruh badannya yang tak henti-hentinya bergetar hebat.

‘Hyejin, belum pulang… dia tidak pernah seperti ini… dia tidak pernah pulang selarut ini…’

Mendengar semua ucapan Ibu Hyejin langsung membuat rasa panik seperti langsung memenuhi seisi badan Sheun. Dengan cepat Sehun bergegas keluar, menggunakan mobil milik ayahnya tanpa mengatakan atau bertanya dan langsung menginjak pedal mobil.

Untuk menuju sekolahnya.

.

.

.

.

Saat Sehun melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam lebih, yang hanya membuat Sehun menancap gasnya.

Begitu sampai didepan gerbang sekolahnya, dengan cepat Sehun memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam sekolahnya. Mengindahkan teriakan satpam sekolah yang memanggilnya.

Sehun semakin mempercepat langkahnya, meneriaki nama Hyejin berharap, bisa mendengarnya karena dia tau sekali jika Hyejin sangat takut akan kegelapan.

Mengusap rambutnya kasar, Sehun pun berlari sepanjang lorong sekolah.

Suaranya bergema, ditambah dengan suara detuk sepatunya. Wajah Sehun terlihat semakin keruh saat, sudah lebih dari 30 menit dia mengelilingi gedung sekolah dan masih belum bisa melihat tanda-tanda Hyejin.

Namun dari kejauhan, Sehun bisa mendengar suara besi yang dipukul dengan pelan. Memperpelan langkah kakinya Sehun mencoba memperjelas perndengarannya dan mulai mengikuti suara pukulan yang semakin menit hanya semakin samar.

Dengan keras Sehun berusaha mendengarnya, berusaha mencari asal suara, yang sekarang membawanya kearah ruang loker putri yang berada dikamar ganti.

Masih dengan perasaan awasnya, Sehun mendekati deretan loker, yang membawanya kearah loker yang terletak paling ujung. Saat Sehun semakin mendekat, dapat Sehun lihat tag nama pemilik loker, yang membuat rasa panik langsung naik ditubuh Sehun. Nama ‘Ahn Hyejin’ tertulis jelas diloker tersebut.

Suara pukulan besinya pun berasal dari dalam loker semakin detik berlalu hanya semakin melemah.

“Hyejin-ah” ucap Sehun pelan, dan mendapat respon dengan pukulan loker yang sedikit lebih keras dari sebelumnya.

“Hyejin-ah, tenanglah okey? Aku akan mencari bantuan sehingga aku bisa membuka pintu lokermu, okey?” lanjut Sehun dan untuk sekali lagi mendapat pukulan pelan dari dalam loker.

Dengan cepat Sehun langsung berlari keluar, mencoba mencari satpam yang tadi berada didepan gerbang sekolah.

Baru Sehun berbelok diujung lorong, dia sudah melihat paman Jun yang berjalan kearahnya. Dengan cepat Sehun berlari kearah Paman Jun, yang membuat pria yang setengah paruh baya tersebut semakin menatapnya penuh tanda tanya dan kebingungan.

“Oh Sehun-shi apa yang kau lakukan di sekolah saat lebih dari tengah malam seperti ini?” tanya Paman Jun saat Sehun sudah berada didepannya. Tak mengindahkannya, Sehun justru menarik Paman Jun untuk ikut bersamanya ke loker ganti putri.

“Tolonglah aku kali ini paman”

Saat sudah berada diujung loker Hyejin, Sehun sedikit memukul loker tersebut bahkan setelah menunggu beberapa saat dia tidak mendapatkan jawaban.

“Hyejin-ah, Hyejin-ah!” Sehun memukul pelan loker tersebut beberapa kali, sebelum akhirnya tangan Paman Jun yang berada dipundaknya membuat Sehun tersadar.

“Bisakah kau membuka loker ini paman? aku memohon kepadamu” ucap Sehun dengan memelas, suaranya sudah terdengar putus asa dan keadaan Sehun yang terlihat cukup berantakan sudah cukup membuat Paman Jun mengeluarkan buku catatan yang berisikan password dari semua loker yang ada.

“Aku benar-benar tidak tau tentang urusan apa yang membuatmu datang kemari dijam seperti ini” ucap Paman Jun sambil menelusuri daftar password loker, hingga akhirnya gerakan matanya terhenti.

Saat sudah menemukanya dengan cepat dia memasukkan kembali buku catatannya lalu menaruh password milik loker yang atas nama Ahn Hyejin.

Begitu berhasil, dengan cepat Sehun membuka loker tersebut dan tubuh Hyejin yang hampir terjatuh langsung dia tangkap dengan cepat.

Mengambil gumpalan kain yang memenuhi mulut Hyejin, Sehun langsung melepaskan ikatan tangan maupun kaki Hyejin yang dibawa kearah belakang tubuhnya.

Beberapa luka memar bisa Sehun lihat tercetak diwajah milik Hyejin.

Saat Sehun menyentuh luka memar tersebut, dapat dia rasakan tubuh Hyejin bereaksi, dan matanya sedikit terbuka saat Sehun mulai mengangkat Hyejin keatas punggungnya untuk dia bawa. Menandakan jika dia masih memiliki sedikit kesadaran.

Bahkan tanpa mengucapkan apa-apa Sehun langsung berlari menjauh dari tempat tersebut. Meninggalkan Paman Jun yang menatap Sehun dengan tatapan tak percaya.

Dari semua murid yang bersekolah disini, tentu saja Jun KiSop tau siapa Sehun. Dia adalah salah satu anak kesayangan milik murid maupun guru disekolah ini. Catatan bersih milik Sehun hanya membuat orang-orang tidak pernah memiliki pandangan negatif terhadapnya.

Namun melihat Oh Sehun bersama salah satu murid yang selalu pulang dengan pakaian basah atau selalu terkena telur busuk merupakan hal yang sangat baru.

.

.

.

.

Dengan pelan, Hyejin membuka matanya. Dan hal pertama yang menyambut pandangannya adalah seseorang yang berbaring didepannya. Mengerjapkan matanya beberapa kali, Hyejin mencoba menyesuaikan pandangannya didalam ruang kamarnya yang cukup remang.

Melihat jam dinding yang ada diruangannya, sekarang baru menunjukkan pukul setengah lima dini hari.

Menghembuskan nafasnya pelan, Hyejin kembali menatap orang yang kini berbaring didepannya, saat dia mengambil posisi miring.

Dia tau betul, orang yang tertidur pulas didepannya tidak lain adalah Sehun.

Cara Sehun yang tertidur seperti fetus sama sepertinya membuat Hyejin bisa mengenalinya.

Mengangkat tangannya, Hyejin mengangkat anak rambut yang jatuh diatas kelopak mata Sehun yang tertutup.

Menarik kembali tangannya, Hyejin hanya memandangi Sehun dalam diam. ‘Sudah lama sekali’ pikirnya. Dia tidak ingat kapan terakhir mereka seperti ini. Berbicara dengan satu sama lain dengan tangan mereka dalam kamarnya yang hanya diterangi oleh lampu tidurnya.

Mengingatnya, senyuman getir muncul dibibir Hyejin. Jika dia bisa berbicara, mungkin saja mereka tidak akan berada disituasi seperti ini.

Tapi mendapatkan kesempatan untuk bisa bermimpi seperti ini mungkin sudah lebih dari cukup untuknya.

.

.

.

.

Mata Hyejin mulai terbuka saat dia merasakan sinar matahari menerpa wajahnya. Mencoba melihat sekitarnya, Hyejin langsung panik, dia harus pergi kesekolah. Namun gerakannya terhenti saat dia merasakan tangan seseorang berada dilengannya dan seperti menahannya.

Saat pandangannya lebih baik, baru dia bisa melihat Sehun berbaring disampingnya. Ditempat yang sama seperti yang dia mimpikan tadi malam.

“Kita berdua akan bolos hari ini” ucap Sehun dan disusul dengan tawa kecilnya. Seolah meyakinkan Hyejin jika dia sedang tidak bermimpi sekarang.

“Hey, jangan menatapku seperti itu. Apa kau sangat merindukanku?” tanya Sehun dengan nada jenaka dan dibalas dengan anggukan oleh Hyejin, yang membuat suasana ruangan langsung menjadi sedikit gloomy.

“Apa kau menungguku?” tanya Sehun untuk sekali, dan untuk sekali lagi dibalas dengan anggukan polos milik Hyejin.

“Maafkan aku, karena meninggalkanmu, lari dari mu Hyejin-ah” lanjut Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari Hyejin.

Entah sudah berapa lama dia tidak memandangi Hyejin seperti ini. Yang mungkin membuatnya sedikit melupakan seberapa gelap warna coklat mata milik Hyejin.

“Maafkan aku” ucap Sehun sekali lagi.

Dengan pelan Hyejin mulai menggerakkan tangannya.

‘Tentu saja, Hyejin selalu memaafkan Sehun’ jawabnya, yang hanya mendapatkan senyuman sedih dari Sehun.

.

.

.

.

Liburan panas milik Hyejin kali ini merupakan musim panas yang paling berat untuknya. Bullying yang dia dapatkan, persahabatannya dengan Sehun yang semakin renggang walaupun hubungan mereka sempat membaik hanya untuk beberapa minggu. Ditambah dengan ibunya tidak bersamanya karena harus pergi keluar kota selama beberapa minggu. Yang mengharuskan Hyejin harus melewati musim panasnya sendirian didalam rumah.

Saat bullying yang terjadi padanya hanya menjadi semakin parah, membuat Hyejin semakin jarang keluar. Ditambah dengan ibunya yang juga melarang membuat Hyejin hanya bisa menghabiskan waktunya dengan membaca buku, menonton film atau anime.

Namun saat telepon rumahnya berbunyi, Hyejin langsung mengangkatnya.

“Selamat siang, apa ini dengan keluarga Ahn Hwayoung?”

“…”

“Selamat siang, apa ini dengan kelurga Ahn Hwayoung?”

“…”

Dengan cepat Hyejin menaruh teleponnya tanpa mematikannya, lalu berlari keluar rumah mengarah kediaman keluarga Oh. Saat dia baru sampai didepan gerbangnya, baru dia ingat jika tak satupun orang ada didalam rumah karena liburan.

Lalu Hyejin bergegas berlari kearah rumah yang berada didepan keluarga Oh. Rumah Bibi Xi.

Hyejin langsung mengetuk pintu rumah dengan cepat yang langsung dibukakan oleh Bibi Xi yang nampak menggunakan apron-nya. Tak pikir panjang, Hyejin langsung meraih tangan Bibi Xi, dan menariknya kedalam rumah. Memberikan telepon rumahnya, mengerti Bibi Xi langsung mengambilnya.

Namun saat Bibi Xi menjawabnya, panggilan sudah lama terputus.

“Apa mereka menyebutkan namanya tadi?” tanya Bibi Xi sambil menaruh telepon rumah Hyejin ketempatnya.

Menggelengkan kepalanya ringan, Hyejin pun mengambil sticky note kuning dan pulpen yang ada diatas meja tidak jauh darinya.

‘Tapi dia menyebutkan nama lengkap ibu’ tulisnya.

Bertetangga cukup lama, mungkin membuat Bibi Xi cukup mengerti akan keadaan Hyejin tanpa memandang Hyejin rendah seperti orang-orang kebanyakan.

“Baiklah, lebih baik kita tunggu untuk beberapa saat, mungkin saja nanti dia akan menelpon kembali.” ucap Bibi Xi sambil berjalan kearah sofa ruang tamu, dan diekori oleh Hyejin.

“Jadi bagaimana liburan musim panasmu?” tanya Bibi Xi membuka pembicaraan dan dibalas dengan senyuman kecil oleh Hyejin, sebelum mulai menulis di note kecilnya.

.

.

.

.

Tiga puluh menit, mereka berdua berbicara dengan satu sama lain. Telepon rumah kembali berbunyi, yang membuat Hyejin maupun Bibi Xi langsung bangkit dari tempat duduk mereka. Hyejin langsung meraih telepon dan memberikannya kepada Bibi Xi.

Setelah beberapa lama Bibi Xi hanya menjawab pertanyaan kecil yang mungkin ditanyakan, sebelum akhirnya expresi-nya berubah 180 derajat.

Hyejin bisa melihat bagaimana pucatnya wajah Bibi Xi setelah menutup teleponnya.

Menulis sesuatu, Hyejin langsung memperlihatkannya kearah Bibi Xi, ‘apa yang dikatakannya tadi?’ tak dijawab Hyejin kembali menulis, ‘apa ada sesuatu yang terjadi?’ tanya-nya sekali lagi dan justru dibalas dengan pandangan berat milik Bibi Xi.

“Hyejin-ah…” suara Bibi Xi bergetar saat dia menyebutkan nama Hyejin.

Melihat Hyejin yang semakin bingung. Saat dia ingin menulis Bibis Xi sudah lebih dulu memeluk Hyejin dan bahkan tanpa kehendaknya air mata turun dari matanya lalu disusul dengan sesenggkukannya. Bibi Xi semakin mengeratkan pelukannya kepada Hyejin.

“Hyejin-ah… Bagaimana ini? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Hidup sebatang kara di dunia yang kejam ini Hyejin-ah, eoh? Bagaimana ini?”

Mendengar semua ucapan Bibi Xi, saat itu juga Hyejin tau jika satu-satunya malaikat yang tuhan berikan kepadanya, kini dia ambil kembali.

Ibunya meninggal ditempat, akibat kecelakaan tunggal.

Hyejin sangat ingin menangis sekarang. Namun satu-satunya yang keluar hanyalah suara aneh yang keluar dari bibirnya. Seakan memperjelas diri Hyejin, betapa tak bergunanya dia hidup.

.

.

.

.

Sudah seminggu lebih sejak pemakaman ibunya. Semua keluarga Oh datang saat acara pemakaman. Begitu juga ayahnya yang meninggalkan Hyejin dan ibunya 9 tahun yang lalu. Tapi jangan salahkan dia. Laki-laki itu pergi meninggalkan ibunya karena diri Hyejin yang cacat. Tidak bisa berbicara.

Sesekali Sehun akan datang kerumahnya dan menginap disini. Dan setiap kali mereka bersama, dapat Hyejin rasakan tekanan aneh selalu ada diantara mereka berdua. Hyejin merasa alasan Sehun datang kerumahnya bukanlah karena kehendaknya ingin bersama Hyejin, tapi sebagai kewajiban yang harus Sehun jalani sebagai seorang sahabat.

Memperjelas tembok besar yang sudah berada diantara mereka.

Mungkin Sehun tak mengetahui sejak kapan tembok besar tersebut berada diantara hubungan mereka.

Tapi Hyejin melihat semuanya, bagaimana Sehun mulai menaruh batu satu persatu hingga Hyejin tak bisa melihat diri Sehun lagi. Dan yang Hyejin lakukan hanyalah berdiri mematung disana, tanpa mengucapkan sepatah kata.

.

.

.

.

Hyejin berhenti bersekolah…

Yang dia lakukan hanyalah mengurung diri didalam rumahnya.

Sesekali dia akan keluar untuk membeli hal-hal yang dia inginkan atau perlukan.

Terimakasih kepada ibunya yang sudah memberikan Hyejin tunjangan yang bisa menghidupi anaknya yang tak berguna ini.

.

.

.

.

Hari terakhir Sehun menemuinya, hari dimana Hyejin berteriak didepannya dan mendorong Sehun keluar dari rumahnya. Menjauh dari dirinya.

Mendorong Sehun dari hidupnya… Keluar dari kehidupannya…

.

.

.

.

Saat Hyejin, bangun dari tidurnya dapat dia rasakan dunia seperti berputar dikepalanya. Melihat jam dinding ruangan, sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Sedikit memaksakan, Hyejin bangkit dari tempat tidur dan keluar menuju balkon kamarnya. Mencoba mencari angin segar yang mungkin bisa membantunya mengurangi pikirannya yang semakin hari hanya semakin terasa lelah.

Saat dia menatap kedepan, saat itu juga tubuhnya langsung membeku. Kenapa tadi dia tidak melihat Sehun berdiri dibalkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan balkon kamar milik Hyejin sendiri.

Dapat dia lihat bagaimana rambut Sehun yang tadinya berwarna hitam legam dia rubah menjadi coklat honey yang sama dengan warna Sehun saat diterpa sinar.

Sama dengan dirinya, Sehun juga terlihat cukup terkejut. Mungkin tak menyangka jika mereka berdua akan bertemu seperti ini setelah sekian lama Hyejin memutuskan untuk memperjarak hubungan mereka berdua dengan cara mendorong Sehun menjauh darinya.

Sadar akan pikirannya, Hyejin langsung berbalik dan masuk kedalam kamarnya. Meninggalkan Sehun yang masih menatap pintu yang baru saja dia tutup.

.

.

.

.

Hari yang Hyejin alami hanya semakin terasa memburuk. Rasa sakit kepalanya hanya semakin memburuk, dan insomnia yang dia punya seperti mulai memakan hidup Hyejin sendiri.

.

.

.

.

Untuk pertama kalinya Sehun berani menginjakkan kakinya di depan rumah Hyejin. Setahun lebih mereka berdua tidak pernah melihat satu sama lain selain empat hari yang lalu. Saat Sehun tak sengaja melihat Hyejin keluar dari kamarnya dan menatap Sehun terkejut saat dia menyadari keberadaan Sehun dari blankon kamarnya.

Dan satu hal yang melewati pikiran Sehun saat dia melihat Hyejin. Broken.

Kulit yang terlihat sangat pucat, pipi yang tirus, kantung mata yang menghitam ditambah pandangan mata Hyejin yang berteriak kearahnya seolah-olah mengatakan jika dia tidak baik-baik saja. Dia sedang menghancurkan dirinya sekarang, dan sedang membutuhkan pertolongan Sehun.

Dan Sehun tidak bisa menghilangkan pikirannya tentang Hyejin.

Dapat dia lihat bagaimana rumput-rumput liar mulai tumbuh memanjang di halaman depan rumah milik Hyejin saat dia melihat sekeliling sebelum mengetuk pintu rumah dengan pelan, menunggu untuk dibukakan.

Tak dibukakan, untuk sekali lagi Sehun mengetuk pintu. Sebelum akhirnya suara kunci yang diputar lalu disusul dengan pintu yang terbuka. Menampakkan Hyejin dengan keadaan yang terlihat semakin memburuk.

Saat pintu rumah akan ditutup oleh Hyejin, dengan cepat Sehun langsung menahannya dan menyelipkan tubuhnya untuk masuk sebelum akhirnya menutup pintu yang sekarang ada dibelakangnya.

Melihat Hyejin berusaha menjauhinya, dengan cepat Sehun meraih tangan Hyejin kuat dan menariknya sehingga membuat Hyejin menjadi lebih dekat dengannya.

Melawan, Hyejin mencoba melepaskan tangannya dari tangan Sehun. Kewalahan Sehun langsung melepaskan tangan Hyejin seebelum akhirnya Hyejin berlari menuju kamar.

Namun langkahnya terhenti, saat Sehun memanggil namanya.

‘Oh kapan terakhir kali seseorang memanggil namanya sesedih itu?’

Menghentikan langkahnya, Hyejin hanya bisa menahan air matanya yang kini mulai merembes dan membasahi kedua pipinya.

Melihat Hyejin yang berhenti dan sekarang hanya diam ditempatnya, Sehun pun melangkahkan kakinya mendekat kearah Hyejin. Baru setengah perjalanan, Hyejin sudah lebih dulu berbalik dan menatapnya dengan kedua matanya yang basah akibat air mata.

Dapat dia lihat bagaimana mulut Hyejin terbuka dan seperti ingin mengucap seseuatu. Namun sekeras apapun Hyejin mencobanya, yang keluar dari mulutnya hanyalah suara aneh yang membuat air mata semakin deras jatuh dari kedua mata Hyejin.

Dan mungkin untuk pertama kalinya Sehun bisa melihat dengan jelas bagaimana Hyejin selalu berusaha untuknya. Tak peduli jika usaha keras yang dia lakukan sudah membuat luka dalam yang mungkin Sehun sendiri tidak bisa menyembuhkannya.

Teriakan frustasi, lolos dari bibir Hyejin saat dia tidak bisa mengucapkannya. Kedua tangannya menutup kedua telinganya rapat. Air mata seperti tak henti-hentinya turun dari matanya. Bibirnya bergetar menahan rasa amarah dan kesalnya yang mungkin saja akan membuat Hyejin harus terluka lebih dalam.

“Hyejin-ah” bisik Sehun pelan, sambil mendekat kearah Hyejin.

Hyejin yang mendengar Sehun memanggilnya langsung menatap Sehun. Dan mulai menggunakan tangannya untuk berbicara.

‘Hyejin selalu berusaha, tapi tetap saja Hyejin tidak bisa melakukannya. Hyejin selalu berusaha melakukannya setiap hari. Berharap bisa mendengar suara Hyejin. Sehingga kita bisa berbicara dengan satu lain dengan normal. Seperti orang normal lainnya.’ Menghentikan gerakan tangannya Hyejin mengalihkan pandangannya dari Sehun dan lebih memilih memandang vas bunga yang diisi oleh bunga mawar kering diatas meja makan disampingnya.

Bahkan bunga mawar tersebut masih terlihat lebih baik darinya.

‘Hyejin ingin menjadi normal’ lanjutnya. Menyelesaikan kalimat yang ingin dia sampaikan.

Sehun yang mendengarnya hanya bisa berdiam diri, tak tau apa yang harus dia katakan.Tenggorokannya seperti terasa terlalu kering, bahkan hanya untuk mengucapkan satu buah kata.

“Jangan… jangan melukai dirimu lagi” lanjut Sehun, dan dibalas gelengan oleh Hyejin.

‘Tidak, Hyejin tidak pernah terluka. Hyejin hanya marah kepada diri Hyejin sendiri, itu saja. Hyejin selalu mengerti kenapa Sehun tidak pernah mau menemui Hyejin sejak tiga tahun yang lalu. Hyejin bukanlah orang yang akan membuat Sehun merasa nyaman ataupun bangga saat Sehun bersama Hyejin. Hyejin hanyalah orang yang akan membuat Sehun merasa malu bukan? Sama seperti ayah Hyejin. Dia meninggalkan Ibu karena Hyejin. Dan sekarang ibu Hyejin pun meninggalkanku.’

“Maafkan aku, Hyejin-ah” jawab Sehun.

Menggelengkan kepalanya Hyejin, kembali mengerakkan tangannya. ‘Maafkan Hyejin yang tidak bisa berbicara dan sudah membebani Sehun.’

Sehun yang melihat jawaban yang Hyejin berikan hanya mematung. “Tidak, jangan seperti ini Hyejin, jangan seperti ini. Maafkan aku, aku terlalu egois. Maafkan aku, jangan seperti ini. Kau melukai dirimu. Aku mohon maafkan aku.”

Dan jawaban yang Sehun dapatkan adalah jawaban yang selalu Hyejin berikan untuknya. Setiap saat, setiap waktu, disetiap luka yang Sehun mungkin selalu berikan untuknya.

‘ Sehun tau jika Hyejin akan selalu memaafkan Sehun.’

Saat itulah, Sehun langsung membawa Hyejin kedalam pelukannya. Memeluk erat Hyejin, seakan takut Hyejin akan kembali mendorongnya menjauh.

Hampir saja Sehun kehilangan bulan yang selalu bersamanya, saat dia terlalu sibuk menghitung bintang dilangit yang lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun mendenguskan nafasnya kasar saat dia mulai merasa jerah. Berdiri tetap, tanpa mengubah posisi selama dua jam penuh bukanlah hal yang cukup menyenangkan dilakukan dihari minggu pagi yang cerah.

Menaruh buku yang ada ditangannya kasar, Sehun langsung berjalan kearah Hyejin yang sekarang menatapnya penuh harap dibalik kanvas putih yang berukuran sedang.

“Tidak bisakah kita pergi keluar, otot-ototku rasanya kaku dan sangat sakit sekarang. Paling tidak belikan aku bubble tea atau ice cream.” rengek Sehun saat dia melihat Hyejin justru bangkit dan meninggalkan Sehun di ruangan lukisnya.

“Ayolah, Hyejin-ah” rengek Sehun sekali lagi, dan mendapatkan putaran bola mata bosan Hyejin.

‘Kau seperti anak kecil’ melepaskan apron penuh cat yang dia kenakan dan menaruhnya diatas kursi ruang tamu, Hyejin pun berjalan kearah Sehun. ‘Anak kecil yang sangat manis’ lanjut Hyejin sebelum mengunakan tangan kanannya untuk menggelitiki dagu milik Sehun yang langsung ditepis oleh Sehun.

“Jangan memujiku atau merayuku sekarang nona, kalau kau hanya akan menyuruhku berdiri disana untuk dua jam kedepan nanti.” Ketus Sehun sambil berjalan keluar, sebelum akhirnya dia merasakan Hyejin melompat keatas punggungnya dan mengalungkan kedua tangannya dileher Sehun.

“Aigoo, lihatlah siapa yang sekarang seperti anak kecil” sahut Sehun dengan senyuman yang muncul dibibirnya.

FIN

A/N:

Hi bees…

Semoga tidak kebingungan. Dan coba tebak hubungan Sehun dan Hyejin di scene terakhir. Bestfriend? couple? maybe? terserah kalian ngekategori-in yang mana. AND finally, bagi yang pernah baca fanfics saya, ini untuk pertama kalinya saya naruh happy ending yang jelas… huhuhu TT__TT

Rasanya kalau saya ng-post pasti rata2 komennya masih menyatakan bingung. Sepertinya cerita yang membingungkan kini menjadi style saya /lol/

But seriously, saya perlu pemandu. kira-kira dari pandangan kalian sebagai seorang reader, cerita yang mudah dipahami dan di-ikuti itu seperti apa? i need to learn a lot!!

Seperti biasa, saran, kritikan, masukan atau apapun yang ingin kalian sampaikan kepada saya, silahkan…

Its always please me to read your comments guys ^^

Okey, i think that’s it. See you…

Wind

Untitled-1

26 responses to “Silently

  1. Keren kok thor! Pada akhirnya sehun udah gak egois lagi
    Tadi awalnya kirain si hyejin bakalan meninggal karena sakit terus si sehun nyesel gitu. Tapi ternyata enggak hahaha
    Keren keren!!

  2. Cerita yg paling banyak diminati itu marriage life atau coba kamu liat aja ff di sini yg commentnya paling banyak jadi kamu tau ff kayak apa yg diminati reader. Ini juga udah bagus kok, feelnya dpt banget, endingnya gak gantung sih cuma bingung knp sehun bisa baikan sama ceweknya. Masih ambigu nih

  3. ya ampuunnn
    ini gaya aku bangeeet seriusaaaannn
    ya ampuuunn,,ini keren2 banget,,ntah aku yg suka cerita ambigu kyak gni,,tpi aku suka banget
    jdi hyejin bisu,awalnya sehun msih kecil jd gk ngerti,tpi sehun malu,baru sadar akhirnya pas dia tau klau hyejin sbnrny cma punya dia yg ad di dunia,yg dbutuhin hyejin
    yaa mapunn,,ini keren bangett,,
    seriusan deh,ini ngena bgt ke hati,,aduh
    benar benar my style,
    seriusan,suka bangett,,dtungguin banget yaa tulisan2 lainyya
    keep writing yaaa

  4. Idk why aku langsung seneng aja gitu kalo kamu update ff baru ㅋㅋㅋ u r one of my fav writer😍😍😍 aku suka bgt kalo km bikin cerita apalagi yg angst gitchuu wkwkwk since marigold I always waiting for ur new updates🙈🙈 pls bikin terus aja ff yg angst sad gitu wkwkwkwk aku suka bgtt>< ditunggu ff ff selanjutnyaaaa, semangatt💪💪💪💘💘💘

  5. Huaaahhh untunglah mereka baikkan, kesian hyejin…rsanya smpe mw nangis, gr” ego sehun, tpi hyejin baik bgt

  6. sampe nangis bacanya /lagibaper/
    yg ‘sehun tau jika hyejin selalu memaafkan sehun’ ituu feels nya dapet
    ceritanya nggak buat bingung kok seriusan
    pokoknya feels dapet kata2 keren
    bye

  7. kasian hyejin. harus melewati semuanya sendiri. jahat banget sihh temen2 sekolahnya, masa ngebully sampe dia d skap di lokernya trus mulutnya d sumpel sihh, gak punya perasaan banget ya.
    itu hyejin jadinya pacaran sama sehun atau giman??

  8. Ceritanya bagus banget, ngena banget genrenya, suka banget. Awalnya ceritanya ngga ketebak dan bikin emosi, ego nya sehun yang bikin sehun malu buat deket* sama hyejin bener* bikin aku emosi, jahat banget tau ngga sih si sehun, terus pas hyejin dikunciin di loker sehun kan sempet baik ke hyejin, kirain bakalan baik terus, eh gataunya ngga bertahan lama juga, terus pas pemakaman ibunya hyejin sehun kan jagain hyejin, kirain sehun ikhlas, eh gatau nya ngga ikhlas, dan sampe pada akhirnya ada part yang paling aku FAVORITE-in, pas hyejin ngusir sehun dan nyuruh sehun balik kerumahnya itu bener* part klimaksnya, yang hyejin udah ngga kuat sama egonya sehun, dan itu aku bener* setuju banget sama keputusannya hyejin buat menjauh dari sehun, ya sekarang siapa sih yang bakal betah digituin ? Hidup sebatang kara dan punya kekurangan ? Punya sahabat juga ngga pedulian kaya gitu. Tapi untungnya sehun udah sadar dan mau berubah, dan happy endingnya yang bikin seneng juga, untungnya sehun udah balik kaya dulu lagi hehe
    Dan intinya, aku udah jatuh cinta banget sama cerita ini, keren abis tau ngga wkwk
    Okedeh, next story nya aku tunggu banget ya, tetep semangat terus !! ^^ ❤❤❤

  9. ya ampun nangis deh kak
    sedih bgt miris bgt hidupnya Hyejin
    yeyy kyak nya ending nya itu mereka couple aja deh nikah gitu wkwk

  10. i’m a fan of your work but this is the first time i leave a trace, sorry for being a ghostie^^; finally you put a happy ending TT in the beginning i thought this story would have a same heart wrenching ending but hey surprise ToT why you always have that surprising thing in each of your story? ugh makes me wanna meet you and hug you as tightly as possible TT YOUR WORKS ARE MASTERPIECE AND I ADORE THEM♥♥♥ Luvya and keep writing^♥^

  11. kata katanya yang kadang bikin bingung. ide cerita selalu mengesankan cuma tata bahasanya rumit(?) jadi yang baca makin bingung. gapapa laah kak author(?). namanya juga belajar. kak author pinter banget ngebuat angst. bapenya juga dapet.
    cara belajar tata bahasa, nyari referensi dg baca2 tulisan orang lain, nyari ff yang pas gituu
    maaf ya author kritiknya dan sarannya. semoga bermanfaat(:
    makasih udah nulis. semangaat yaaa kakak

  12. Kak ini keren bgt suer deh. Gatau knp aku suka banget sama ff ff angst buatan kakak, yaampun bikin baper tau nggak sih.

    Awal awalnya udh kesel bgt liat sehun yg egois gitu, trus liat hyejin sebatang kara aku hampir mau nangis tau:”” dan syukurlah sehun akhirnya sadar😊😊😊
    Eh iyak bener ini tuh ff kaka yg endingnya paling ‘lumayan jelas’ hahahaha, xD

    Sebenernya aku udh baca cerita2 kaka dr lama, tp yg ini mungkin aku ga ngeliat pas kaka ngepost jadi pas nyari nyari baru baca sekarang😂😂

    Pokoknya windbee FAVORITE banget, de bezz laaa👍 masternya ff angst akuuu💓💓

    Ditunggu karya yg lain yaaa
    Keep writing and fighting^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s