Affairs of the Heart [Chapter 11]

Affair of the Heart(9)

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myeon

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Previous Chapter :

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4] [Chapter 5] [Teaser Chapter 6] [Chapter 6] [Chapter 7] [Chapter 8] [Chapter 9] [Chapter 10]

C H A P T E R  E L E V E N

 

Seona merasa seperti tidak bisa bernafas ketika semua orang bertepuk tangan mendengar kabar Hyera. Bahkan ia menatap cara Hyera berpegangan pada lengan Baekhyun.

Baekhyun . . . sudah menikah? Selama ini, ia berada di dalam rumah ini dan tidak menyadari siapa suami Hyera? Bagaimana bisa ia tidak tahu?

Sekarang Baekhyun akan menjadi seorang ayah!

Brengsek!

Seona ingin sekali keluar dari sini dan menghirup udara segar di balkon yang kosong. Ia tahu itu karena para pelayan telah mengatakan pada semua orang yang berada di luar untuk masuk ke dalam karena Hyera ingin mengatakan sesuatu.

Tidak peduli apa yang Joon Myeon pikirkan dan lakukan, Seona pergi dari pelukan Joon Myeon dan dengan penuh kekalutan ia berjalan melewati banyak orang yang sedang menepuk tangan mereka. Bagaimana bisa mereka sangat senang ketika ia begitu sangat sengsara!

Joon Myeon mengerutkan keningnya ketika istrinya pergi dari pelukannya. Ia baru saja ingin mengikutinya ketika Dongwook meraih lengannya.

“Ayo kita memberi selamat!” saran Dongwook dan tanpa menunggu jawaban, Dongwook mulai menarik Joon Myeon bersamanya, jauh dari dimana Seona pergi.

Dahae mengikuti mereka, melirik ke arah punggung Seona. Ia mengerti apa yang Dongwook ingin lakukan.

Seona butuh sendirian setelah mengetahui kabar yang sangat mengejutkan.

.

.

.

Kepala Baekhyun tertoleh sekejap untuk menatap istrinya yang tersenyum kepadanya. “Apa?!” tanya Baekhyun dengan suara paraunya, tidak memercayai apa yang sedang terjadi.

“Aku hamil, Baekhyun.”

Baekhyun melihat ke arah dimana Seona berada, hanya melihat Seona yang berjalan melewati kerumunan menuju balkon rumahnya dan Joon Myeon yang mencoba untuk mengikuti Seona tetapi ditarik oleh Dongwook.

Joon Myeon dan Seona . . .

Baekhyun mengepalkan kedua tangannya, tiba-tiba merasa marah. Ia menarik lengannya dari genggaman Hyera dan berjalan menuruni beberapa anak tangga. Baekhyun menghiraukan semua orang yang mencoba untuk memberi selamat kepadanya ketika ia melewati kerumunan, hampir saja mendorong orang-orang agar tidak menghalangi jalannya untuk mengikuti Seona.

Baekhyun menatap marah kepada siapapun yang tidak memberinya jalan, melampiaskan amarahnya kepada tamu-tamunya.

.

Nafas Seona sedikit terengah-engah. Ia nyaris kehabisan nafas saat ia meraih pegangan balkon dan menggenggamnya, seperti membutuhkan bantuannya untuk menahan tubuhnya.

Ini seharusnya hanya sebuah pesta. Tidak ada yang dramatis. Benar-benar hanya sebuah pesta.

Seona tahu ia menangis. Ia dapat merasakan cairan hangat yang membasahi pipinya. Ia meremas pagar balkon ketika sebuah isakan keluar dari bibirnya.

Ia mendengar seseorang mendatanginya dari belakang dan membentak, “Kau berbohong padaku.”

Si brengsek yang berbohong berada di belakangnya.

Seona berdiri tegak sejenak sebelum membalikkan tubuhnya dan menampar Baekhyun. Kepala Baekhyun tertoleh ke salah satu sisi saat Seona menatap marah pada Baekhyun.

“Kau yang berbohong padaku,” desis Seona. Ia berjalan untuk menjauhi Baekhyun dan hanya membutuhkan dua langkah sebelum Baekhyun meraih dan membalikkan tubuh Seona agar berhadapan dengannya.

“Kaulah yang bersama dengan suami sialan!“

“Dan kaulah yang bersama dengan istri sialan!” Seona tertawa renyah. “Tidak, biarkan aku mengubahnya. You’re the one with the damn pregnant wife!”

“Aku tidak tahu ternyata dia hamil!”

“Itu tidak masalah kalau kau mengetahui atau tidak! Intinya kau seorang pria yang telah menikah dan akan menjadi seorang ayah!” Seona mencoba untuk melepaskan lengannya dari cengkraman Baekhyun tetapi Baekhyun semakin mempereratnya. “Lepaskan aku, anak wanita ja–“

“Jangan coba-coba memanggilku seperti itu karna kau melakukah hal yang sama padaku!”

“Siapa yang peduli?! Kau berbohong! Aku mempercayaimu dan kau justru berbohong!”

“Percaya? Kau ingin membicarakan tentang kepercayaan! Aku memepercayaimu dengan sepenuh hatiku hanya untuk mengetahui, di rumahku, bahwa kau menikah dengan seorang pembohong yang brengsek!”

“Kau lah yang brengsek!” Seona mencoba untuk berhenti menangis tetapi ia tahu bahwa ia gagal melakukannya. Ini menyakitkan. Mengetahui Baekhyun telah menikah semakin menyakitkan lebih dari apa yang ia bayangkan. “Sialan, aku pikir kau orang yang hebat dan dapat dipercaya, dan pantas untuk diperjuangkan! Dan sekarang aku tahu kau sama sekali tidak pantas!”

“Jangan bertingkah seperti kau tidak tahu sama sekali tentang hal ini! Aku memberimu sebuah kesempatan untuk mengatakan padaku ketika pertama kali kita bertemu kalau kau sudah menikah dan kau tidak pernah mengatakan satu katapun! Dan sekarang aku tahu kau tidak hanya telah menikah tetapi suamimu seorang pembohong! Aku memberimu hadiah, aku membawamu ke restoran yang paling mahal, menghabiskan uang untukmu seperti layaknya seorang putri raja karena kupikir kau pantas mendapatkannya, tetapi aku menyesal telah menghabiskan satu sepersenpun untukmu! Aku bahkan membawamu pergi ke Italia!”

“Aku tidak memintamu menghabiskan uangmu untukku! Aku tidak memintamu untuk membawaku kemanapun atau menghujaniku dengan berbagai hadiah. Aku tidak memintamu untuk membawaku ke Italia! Kau yang memutuskan untuk melakukan itu! Itu benar-benar pilihanmu!”

“Pilihan yang sama sekali tidak kau protes ! Pilihan yang semuanya kau terima dengan senang hati!”

Seona mengusap air matanya dengan kasar. Baekhyun tidak pantas untuk ditangisi. Seona menatap marah padanya.

“Apa yang kita lakukan tidak penting karena ternyata itu sama sekali tidak berarti apa-apa!”

“Jelas tidak!“ Baekhyun mengeratkan lengannya pada lengan Seona. “Kalau aku tahu kau seorang wanita yang telah bersuami aku tidak akan berkencan denganmu, bahkan bersetubuh denganmu!”

“Dan kalau aku tahu kau telah pria yang telah beristri aku tidak akan membiarkan kau menyentuhku!”

Seona melepaskan lengannya dari cengkraman Baekhyun. “Kau pengkhianat, dasar pembohong!” bentaknya.

Dengan kilatan amarah di matanya, Baekhyun membentak balik, “Dan kau bukan apa-apa melainkan seorang pelacur murahan.”

Mereka menatap satu sama lain selama-apa yang terasa seperti selamanya-tetapi kenyataannya hanya sejenak saja.

Kemudian Seona membalikkan tubuhnya dan berlari.

Baekhyun menatap punggung Seona yang semakin jauh sebelum barbalik dan memukul pagar balkon, mengucap sumpah serapah baik dengan suara keras ataupun di dalam pikirannya. Kemudian Baekhyun meletakkan kepalanya di atas lengannya, menutup matanya dengan paksa ketika ia mencoba untuk mengontrol amarahnya.

Tidak satupun dari mereka mengatakannya.

Bahwa hubungan mereka telah berakhir.

.

.

.

Chen tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

Ketika semua orang masuk kedalam, ia memutuskan untuk tetap diluar sebentar menunggu Joon Myeon dan istrinya kembali dari luar. Tetapi ketika mereka ternyata tidak kembali, ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam.

Baru saja ketika ia keluar dari tempat persembunyiannya ia tidak hanya melihat istri Joon Myeon yang berjalan keluar, tetapi juga Baekhyun. Karena penasaran, ia semakin mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Wanita itu menangis sementara Baekhyun terlihat sangat marah.

Ia tidak dapat percaya bahwa selama ini. Sementara ia mengejar kekasih Nyonya Kim untuk mendapatkan foto wajahnya, ia bisa saja datang ke kantor Baekhyun dan mengambil foto wajahnya!

Ia ingin bertemu Baekhyun dan bertanya apa yang akan terjadi sekarang, karena tidak hanya istri Joon Myeon yang selingkuh, tapi dengan Byun Baekhyun yang telah menikah!

Itu jelas tidak satupun dari mereka tahu ternyata pasangan mereka telah menikah, jadi sekarang bagaimana dengan rencananya? Apakah ia mengirimkan foto-yang telah ia ambil-ke Joon Myeon dan berkata bahwa istrinya berselingkuh dengan Baekhyun? Semua foto ini hanya memperlihatkan punggung Baekhyun, tetapi Chen tidak ingin mengambil resiko, mengetahui siapa kekasih istrinya ini; Itu berbeda ketika Chen berpikir bahwa kekasih Nyonya Kim adalah seorang pria asing. Mengetahui tidur bersama wanita yang telah menikah membuat semuanya berbahaya dan beresiko.

Chen penasaran apa yang akan terjadi sekarang. Rencana mereka gagal.

Atau tidak?

Ia harus berbicara dengan Baekhyun mengenai situasinya. Tetapi tidak sekarang.

Mungkin dalam waktu beberapa bulan.

.

.

.

“Chanyeol, apa kau lihat wajah mereka?” bisik Haneul ketika mereka perlahan keluar dari rumah Baekhyun.

“Aku melihatnya. Jelas sekali tidak satupun dari mereka tahu-

“Mereka berdua terlihat sangat sedih.”

“Dan ternyata Hyera sedang hamil.” Chanyeol menggeram. “Aku bilang padanya untuk tidak membuatnya hamil. Dan justru itulah hal yang pertama ia lakukan!”

“Tetapi Hyera bilang Baekhyun tidak tahu. Mungkin Baekhyun membuatnya hamil sebelum kita memperingatinya.”

“Yaa, tapi sekarang ia sedang hamil. . .” Chanyeol menghela nafas. “Matilah Baekhyun. Sekali bayi itu lahir, kita tidak akan pernah tahu kapan mereka akan menyerangnya. Dan kita tidak dapat mengawasinya setiap saat. Kita tidak bisa. Aku tahu ada alasan diadakannya pesta ini. Aku tahu itu!”

Haneul mengusap-usap punggung suaminya. Chanyeol bergetar, jelas terlihat sangat marah. “Aku penasaran apa yang akan terjadi sekarang. Kita harus mengatakan kebenarannya, sayang.”

“Ia tidak akan percaya pada kita. Ia tidak akan pernah percaya pada kita. Ia telah mengetahuinya dengan sendirinya, karena itulah satu-satunya cara ia akan tahu kebenarannya.”

“Tidak ada waktu untuk itu–“

“Haneul-ah, kita tidak bisa melakukan apapun. Terutama sekarang. Ia baru saja mengetahui bahwa ia berselingkuh dengan wanita yang telah menikah, dan juga istrinya yang sedang hamil. Hal terakhir yang ia inginkan adalah mendapat beberapa kabar lebih buruk. Aku mengenalnya, ia hanya akan melupakan apa yang aku katakan tentang Hyera dan mengatakan bahwa kehamilan istrinya merupakan berita bahagia. Ia akan melupakan semua hal buruk di hidupnya dan berfokus pada sesuatu yang baik, seperti bayinya.”

Mereka terdiam selama beberapa menit ketika mereka berjalan menuju mobil mereka. “What a tangled web we weave*,“ bisik Haneul.

When we first try to deceive.*” Chanyeol menyetujuinya.

[*Kutipan dari Sir Walter Scott yang artinya ketika kamu mengatakan kebohongan atau bertingkah dengan cara yang tidak jujur, kamu membuat masalah dan rintangan yang tidak dapat kamu kendalikan]

.

.

.

Joon Myeon membuka pintu depan rumahnya dan memasukinya ketika Dahae dan Dongwook memegang salah satu tangan Seona. Ia membutuhkan bantuan mereka karna malam ini hanya terlalu banyak baginya untuk menangani masalahnya sendirian.

Tetapi ia tahu ia harus.

Gomawo,“ bisik Sona saat ia bediri di depan pintu masuk. Ia melepaskan pegangannya dan memberikan tatapan serius. Suaminya tidak mengerti mengapa mereka awalnya membantunya berjalan masuk ke rumahnya.

Dan ia tidak akan menjelaskannya pada Joon Myeon.

Dongwook dan Dahae tersenyum, tetapi mata mereka terlihat khawatir. Seona meyakinkan mereka dengan senyumannya. “Aku akan menghubungimu nanti.”

“Lakukanlah,“ ucap Dahae. “Besok, paling telat. Aku baru sadar kita belum menghabiskan waktu bersama. Kita harus pergi makan siang bersama kapan-kapan.”

Artinya Dahae ingin mereka untuk pergi bersama dan berbicara mengenai apa yang terjadi semalam. “Mungkin,” jawab Seona. “Aku akan bicara padamu nanti.”

“Sampai jumpa,” ucap mereka bersamaan dan berjalan menjauhi Seona dan Joon Myeon, walaupun Dongwook sedikit lebih lambat karena ia melirik ke belakang bahu Dahae dan sedikit menatap Joon Myeon dengan marah. Seona bingung dan melihat punggung Dongwook yang semakin menjauh.

Seona menutup pintu dan menguncinya. Ia membalikkan tubuhnya dengan sebuah helaan nafas berat.

Ia terdorong ke belakang membentur pintu seraya memekik.

“Aku bilang…” bisik Joon Myeon saat ia memegang leher Seona dan mendorong kepalanya membentur pintu kayu. “…kau berada disampingku sepanjang malam.”

“A–A..“

“Diam!” Joon Myeon mengeratkan cengkramannya di leher Seona, hampir membuat Seona tidak bisa bernafas. “Aku tahu dari awal kau sengaja menaruh speakerphone. Aku mengetahuinya ketika Dongwook menghalangiku untuk mengejarmu. Kakak yang khawatir pasti akan pergi mengejarmu, tetapi ia hanya menarikku pergi. Kau ingin mereka datang. Dan aku punya firasat dia tidak datang mengundang dirinya sendiri. Aku percaya sebelumnya kau mengundang mereka untuk datang lebih awal dan dia berpura-pura mengundang dirinya sendiri.”

Joon Myeon menatap marah pada Seona. “Jangan mengatakan pada kakakmu tentang hal  ini, atau apapun yang aku lakukan padamu. Kalau ada memar yang terlihat, sembunyikan. Kalau tidak, aku akan semakin menyakitimu, mengerti? Aku tidak ingin mengambil resiko untuk membunuhmu, Seona. Dan kau tahu aku mampu melakukannya.”

Mata Joon Myeon memancarkan amarah yang besar, yang mau tidak mau membuat Seona merintih.

“Kumohon,” bisik Seona, mencoba mengambil nafas. “Aku tidak–aku tidak bisa bernafas.”

“Lalu?”

“Kumohon!”

“Kau memohon, Nyonya Kim?” Joon Myeon tersenyum lebar. “Kau hanya memohon ketika kita berada di ranjang.” Kemudian Joon Myeon mengecup pipi Seona sebelum menggigit kecil telinganya.

“Jadi kenapa kita tidak ke kasur saja jadi kau bisa memohon lebih banyak?” bisik Joon Myeon.

Mata Seona membulat. “T–Tidak!” Seona mencoba untuk berteriak namun justru hanya sebuah bisikan. Ia tidak ingin berhubungan seks dengannya. Tidak malam ini!

“Tidak?” Joon Myeon menaikkan sebelah alisnya saat menjauhi tubuhnya untuk menatap wajah Seona yang ketakutan. “Kau benar-benar ingin mengabaikanku, sayang?”

“K–Kumohon…”

“Ah! Masih memohon. Aku akan menganggapnya sebagai pertanda bahwa kau ingin tidur denganku.” Joon Myeon mengeratkan cengkramannya pada leher Seona, mencegah Seona mengatakan apapun, dan perlahan menariknya dari pintu menuju kamar mereka.

.

.

.

Baekhyun meminum segelas tequila saat ia duduk di dapur. Ia tidak mudah mabuk, jadi ia dengan senang hari menunangkan segelas tequila lagi. Itu akan menjadi gelas yang keenam. Baekhyun berhenti sejenak ketika ia mengangkat gelasnya hampir ke bibirnya. Mungkin seharusnya ia tidak meminumnya. Disamping itu, berapa banyak gelas yang sudah ia minum? Ia seharusnya tidak mengambil resiko.

Tapi ia menaikkan bahunya lalu meminumnya.

Ia butuh alkohol.

“Baekhyun!”

Baekhyun mendongak ketika Hyera masuk ke dapur dengan cemberut. “Apa yang kau lakukan?” tanya Hyera, mengambil gelas dari tangan Baekhyun.

“Bukan apa-apa,” ucap Baekhyun. “Hanya ingin mabuk saja.”

“Berhentilah. Ini sudah jam dua pagi. Kau harus tidur.”

Baekhyun menaikkan alisnya. “Bukannya kau seharusnya juga tidur?” Baekhyun menatap dimana anaknya terbentuk dalam tubuh Hyera. “Lagipula, kau akan memiliki anak.” Kemudian Baekhyun menatap Hyera lagi. “Itulah mengapa kau berhenti menggangguku untuk berhubungan seks. Kau mengetahui kau hamil.”

Hyera menghela nafas. “Ya, aku tidak yakin bagaimana mengatakannya padamu.”

“Aku pikir aku mengatakannya dengan jelas bahwa aku belum ingin memiliki anak.”

Hyera ternganga. “A-Aku tahu, tapi ini bukan salahku. Percayalah ketika aku berkata aku tidak hamil dengan sengaja.”

“Kupikir kau masih minum pil kontrasepsi.”

“Tapi itu tidak seratus persen efektif.” Hyera mengerutkan kenaningnnya, tampaknya khawatir. “Apa kau tidak senang aku hamil?”

Tidak. Baekhyun tidak senang. Bagaimana bisa Hyera hamil? Hyera tidak sehaarusnya hamil! Anaknya tidak seharusnya berada di dalam tubuhnya! Ia tidak ingin Hyera memiliki anaknya!

Dan bagaimana bisa Seona berbohong padanya!

Baekhyun mengambil nafas yang dalam. Ia tidak adil. Sekarang ia melampiaskan amarahnya pada Hyera. “Tentu saja aku senang, sayang.” Baekhyun tersenyum dan berdiri, menghampiri Hyera. “Kehamilanmu menjelaskan semuanya.”

“Apa maksudmu?”

“Caramu menjadi gelisah dan sering berteriak padaku. Mood swings, kan?”

Hyera mendongak kepalanya ketika Baekhyun sampai di hadapannya dan mengangguk. “Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.” Baekhyun membawa Hyera ke dalam pelukannya, dan mengusapnya lembut. “Maafkanku juga.”

“Untuk apa?”

Karna mengkhianatimu. Karna membohongihu. Karna telah dibodohi. Karna menyukai seorang wanita yang bukan apa-apa melainkan seorang pembohong. Karna memercayai Chanyeol. Karna berpikir bahwa ia menyimpan rahasia.

.Hyera sedang hamil. Itu menjelaskan semua tingkahnya.

Chanyeol berkata bahwa Hyera akan memanfaatkan bayinya sebagai cara untuk membunuhnya, tapi itu tidak mungkin bisa benar. Istrinya tidak akan membunuhnya. Hyera mencintainya. Dan Baekhyun mencintainya. Ia akan menjaga Hyera dan bayi mereka, dan melupakan semua yang telah terjadi dalam waktu enam minggu terakhir ini. Ia akan melupakan tentang Seona, tentang Chanyeol dan Haneul, dan hal lain yang buruk baginya. Yang terpenting sekarang adalah masa depan.

“Untuk banyak hal.” Akhirnya Baekhyun menjawab, dan mengecup kening Hyera. “Ayo kita tidur.”

Dan mereka bersama-sama pergi menuju kamar tidur mereka.

.

.

[A/N: Part ini mungkin sedikit membingungkan bagi kalian, jadi kalau ada keterangan ‘Bulan Pertama’ berarti bulan pertama setelah mereka berpisah, begitupun seterusnya.]

(Bulan Pertama)

Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Seona berbaring di atas kasur, telapak tangannya berada di atas perutnya seraya menatap langit-langit ruangan. Ia bersyukur karena Joon Myeon berada di kantornya. Ia butuh sendirian. Ia perlu untuk berpikir.

Ia hamil.

Seona menghadap ke samping, memeluk sebuah bantal. Siapakah ayahnya? Ia ragu. Seona baru saja mengetahui bahwa dirinya hamil kemarin ketika ia pergi ke rumah sakit. Hampir setiap hari ia muntah dan ia ingin tahu apa yang salah dengannya.

Dokternya berkata bahwa usia kandungannya sudah memasuki usia dua bulan, jadi baik Baekhyun ataupun Joon Myeon bisa menjadi ayahnya. Ia tidur dengan salah satu dari mereka, dan kemudian keesokan harinya ia tidur dengan yang lainnya. Yang kedua bukanlah pilihannya, dan yang pertama hanya sebuah kesalahan terbesar.

Memikirkan Baekhyun membuatnya kembali menangis. Bagaimana bisa Baekhyun berbohong padanya? Mengapa ia tidak mengatakan ia telah menikah? Seona akui bahwa ia melakukan hal yang sama, dan ia tidak memiliki hak untuk marah. Tapi rasa telah dikhianati masih ada. Bagaimana bisa ia tidak marah? Baekhyun menyakitinya. Setidaknya ia tidak hamil ketika pertama kali mereka bertemu. Ia telah mencoba untuk tidak berhubungan seks dengan Joon Myeon ketika mereka bersama, tetapi sepertinya Baekhyun juga tidak melakukan hal yang sama sepertinya. Itu terlihat jelas bagaimana cara Hyera mengumumkan kehamilannya satu bulan yang lalu. Bukankah itu membuat Baekhyun lebih buruk darinya?

(Bulan Kedua)

Tidak bisakah Baekhyun pergi ke toko yang lain?

Seona menyibukkan dirinya dengan melihat-lihat baju-baju bayi, menahan keinginannya untuk melihat jika Baekhyun melihatnya juga. Seona berada di toko perlengkapan bayi, mencari barang-barang yang mungkin ia butuhkan untuk bayinya. Joon Myeon acuh tak acuh ketika Seona berkata padanya bahwa ia hamil, dan kadang kala Joon Myeon terlihat seperti ia tidak menginginkan anak. Tetapi setidaknya ia berhenti menyakitinya.

Joon Myeon yakin bahwa ia adalah ayah dari bayi yang dikandungnya, dan Seona tidak ingin meyakinkan sebaliknya.

Seona mendongak, dan ia hampir menangis ketika melihat Baekhyun yang sedang memegang perut Hyera seraya tersenyum saat Baekhyun berbicara pada bayi yang belum lahir. Seona menatap ke perutnya sendiri. Perutnya yang buncit baru saja terlihat, dan tidak seorangpun yang menyadari bayinya.

“Maafkan aku, Aegi–ah,” bisik Seona seraya memegang perutnya. “Setidaknya kau tahu aku selalu disini bersamamu dan aku akan selalu menyayangimu.”

Seona menatap Baekhyun lagi dengan tatapan sedihnya saat Baekhyun mengecup dahi istrinya. Seona mencintainya, dan pada waktu yang bersamaan ia membencinya. Itu tidak adil ketika Baekhyun bahagia justru ia semakin tersiksa.

Ia mengedarkan pandangannya, sesuatu merenggut harinya saat melihat pasangan lainnya yang semuanya tersenyum bahagia, para suami yang memeluk istri mereka yang hamil ketika mereka sedang membeli baju-baju bayi bersama. Seona sendiri hanya satu-satunya orang yang berada di toko itu tanpa seorang suami, tanpa sebuah senyuman. Orang lain memiliki seseorang.

Yang semuanya terlihat bahagia. . . dan saling mencintai.

Seona tidak bisa menahannya lagi. Ia menaruh semua baju-baju yang berada di tangannya dengan kasar di rak terdekat. Dengan cepat ia pergi dari toko perlengkapan bayi itu bahkan tanpa melihat kea rah dimana Baekhyun berada.

(Bulan Ketiga)

“Kupikir kau harus menutup Eye Avenue,” ujar Joon Myeon ketika mereka sedang makan malam.

Seona menatap Joon Myeon. “Apa?”

“Eye Avenue. Kupikir kau harus menutupnya.” Joon Myeon menyipitkan matanya. “Secepat mungkin.”

Menutup Eye Avenue? Ia tidak bisa! Seona mencintai toko miliknya itu sampai mati.

“Kenapa?”

“Kau sedang hamil. Kau tidak mungkin bisa menjalankan toko itu ketika kau sedang mengandung bayiku.”

“Tapi aku-”

“Tutup tokomu, Seona,” ucap Joon Myeon sangat pelan yang Seona tahu itu adalah sebuah peringatan.

Eye Avenue merupakan garis hidupnya. Bagaimana bisa ia menutupnya? Itu adalah kebebasannya, satu-satunya waktu yang ia miliki untuk sendirian. Tempat dimana ia bisa melarikan diri dari kenyataan buruk ini.

Seona tidak bisa menutupnya. Rasanya seperti ia akan mati!

“Aku tidak bisa,” bisik Seona. “Orang-orang menyukai toko itu. Banyak orang yang bergantung padaku untuk memperbaiki rumah mereka. Banyak sekali klien-”

“Aku tidak peduli berapa banyak klien yang kau punya. Aku tidak peduli berapa banyak orang yang menyukai toko itu. Tutup Eye Avenue, kalau kau tahu apa yang terbaik untukmu dan bayimu.”

Bayinya? Itu juga bayi milik Joon Myeon. Atau setidaknya itulah apa yang ia katakan pada Joon Myeon dan dirinya. Tapi apa Joon Myeon benar-benar mengancam kehidupan bayinya? Pria mana yang akan melakukan itu?

Joon Myeon. Ia satu-satunya pria yang akan mengancam kehidupan bayinya yang bahkan belum lahir. Dan Seona tidak bisa membahayakan bayinya. Bahkan untuk sebuah toko yang sangat ia cintai. Seona harus meninggalkan Joon Myeon, ia tahu kalau ia harus, tapi ia juga sangat takut. Bagaimana kalau Joon Myeon menemukannya dan tidak hanya membunuhnya tetapi juga bayinya? Rasa ketakutan menahannya untuk bersama Joon Myeon, yang berarti kalau Seona ingin melindungi bayinya, ia harus melakukan apa yang Joon Myeon katakan.

“Baik,” ucap Seona dengan parau. Ia sudah merasakan air mata yang membasahi matanya dan berjatuhan di atas meja.

Di kamarnya, sendirian, ia menangis sekencang-kencangnya. Bagaimana bisa ia terjebak dalam masalah ini? Bagaimana bisa? Seburuk apakah ia sampai ia berhak mendapatkan semua rasa sakit dan penderitaan ini?

Ia membutuhkan Baekhyun. Ia membutuhkannya lebih dari apapun. Ia mencintainya. Baekhyun merupakan satu-satunya orang yang membuatnya merasa aman, tetapi Baekhyun tidak menginginkannya lagi. Baekhyun tidak menginginkannya.

“Maafkan aku telah melukaimu,” bisik Seona pelan dan menangis hingga tertidur.

(Bulan Keempat)

Seona hamil. Baekhyun tahu Seona hamil. Ia sudah melihatnya beberapa kali selama empat bulan terakhir, dan perutnya yang sekarang membesar hampir sebesar Hyera. Apakah ia ayah bayi itu? Ia sudah bertanya hal yang sama berkali-kali tetapi ia tahu itu tidak mungkin. Bayi itu merupakan bayi Joon Myeon yang tumbuh di dalam rahim Seona dan itu membuat Baekhyun muak.

Ia sudah berkali-kali mengutuk wanita itu karena menyakitinya. Seona tidak hanya sudah menikah, tetapi ia menikah dengan seorang pria yang ia benci sejak lama. Baekhyun mengusap tangannya di wajahnya saat ia berbaring di kasurnya.

Baekhyun sudah mencoba untuk move on. Ia benar-benar sudah mencobanya tetapi itu sangat sulit. Seperti yang ia katakan berkali-kali bahwa Seona telah membuat pengaruh di dalam hidupnya=. Dan seseorang yang telah membuat pengaruh yang besar tidak mudah untuk dilupakan.

Baekhyun berpura-pura bahagia, terutama ketika ia sedang bersama Hyera dan bayinya yang belum lahir. Tetapi untuk beberapa alasan, tampaknya ia semakin tertekan.

Baekhyun mencoba untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak tertekan, bahwa ia benar-benar bahagia. Tapi ia tahu itu semua bohong. Beberapa kali ia melihat Seona, hatinya benar-benar berdebar. Setiap kali ia akan memaki Seona karena berbohong padanya, karna membuatnya tertekan dan kemudian setiap kali ia akan memperbaiki dirinya sendiri dan berkata bahwa ia tidak tertekan

 (Bulan Kelima)

Eye Avenue tutup?

Baekhyun melihat gedung tersebut dengan mengerutkan keningnya saat ia membaca secarik pengumuman di pintu yang tertutup. Di kertas itu tertulis bahwa Eye Avenue tutup karena bangkrut.

“Bagaimana mungkin?” tanya Hyera yang berada di samping Baekhyun, menatapnya dengan  bingung. “Kupikir mereka menghasilkan uang yang banyak.”

“Aku tidak tahu,” gumam Baekhyun. Itu tidak mungkin Eye Avenue tutup. Di koran tertulis bahwa Eye Avenue telah menghasilkan banyak uang.

Tetapi itu telah ditutup.

Baekhyun setengah lega dan setengah kecewa. Istrinya ingin ke sini untuk membeli beberapa bahan yang telah ia pesan beberapa minggu sebelumnya. Hyera berkata bahwa Seona, si perancang interior lah yang telah membeli bahan tersebut. Sebenarnya Baekhyun tidak ingin datang, tetapi Hyera memaksanya.

Dan sekarang, Baekhyun akui bahwa setengah dirinya ingin bertemu dengan Seona,bahkan mungkin berbicara dengannya. Tetapi setengahnya lagi, ia tidak ingin bertemu dengan Seona atau berbicara dengannya. Setengah dirinya itu tidak ingin melakukan apapun dengannya Seona.

“Oh!”

Baekhyun menatap Hyera tajam saat Hyera memegang perutnya.

“Apa? Apa yang terjadi?”

“Bayinya menendang!” Hyera meraih tangan Baekhyun dan meletakkannya diperutnya. Tidak terjadi apa-apa, tapi beberapa saat kemudian sebuah pergerakan terjadi di bawah telapak tangannya. Bayinya sedang menendang.

Baekhyun tersenyum pada Hyera dan Hyerapun membalasnya dengan senyuman.

Baekhyun melirik gedung yang sebelumnya merupakan Eye Avenue, dan penasaran jika saat ini Joon Myeon sedang merasakan tendangan anaknya di perutnya Seona.

(Bulan Keenam)

“Kenapa kau membuatku gila?” bisik Baekhyun saat ia berdiri di sebuah taman. Tempat yang sama dimana ia dan Seona berciuman untuk pertama kalinya. Dimana mereka pertama kalinya bercinta. Dimana mereka bersama-sama melarikan diri dari kenyataan.

Seona membuatnya gila. Ia tidak bisa keluar dari pikirannya. Namanya tidak bisa berhenti terucap di bibirnya. Mata Baekhyun tidak bisa berhenti menangkap bayangan dirinya dimanapun.

Baekhyun mengepalkan tangannya.

Ia membuat dirinya sendiri menjadi gila, karena ia masih menginginkan Seona. Ia sangat menginginkan Seona…

Tapi Seona berbohong padanya. Seona tidak berkata bahwa dirinya masih lajang. Seona memutuskan untuk menyimpannya sendiri bahwa ia adalah wanita yang sudah menikah.

Seperti apa yang telah Baekhyun lakukan.

Sialan, Baekhyun marah hanya karena sesuatu yang sangat bodoh! Ia melakukan hal yang sama persis, tapi ia tidak bisa menahan apa yang ia rasakan. Seona mengkhianatinya, dan Baekhyun tidak bisa mengerti mengapa hal itu terasa sangat menyakitkan.

Baekhyun tidak bisa mengerti mengapa ia masih menginginkan Seona setelah apa yang Seona lakukan!

Baekhyun membalikkan tubuhnya ketika ia mendengar bunyi gemerisik. Wajahnya menjadi pucat.

“Seona?”

Seona menatap Baekhyun, bibirnya sedikit terbuka, tangannya di atas perutnya yang membesar.

Mengapa Seona berada disini?

Baekhyun masih berdiri di tempatnya, tidak melakukan apapun kecuali menatap dimana tangan Seona berada-seakan-akan sedang melindungi bayi yang berada di dalam perutnya.

Itu adalah anak Joon Myeon.

Rasa amarah berputar-putar di dalam tubuhnya hingga meresap ke setiap pori-pori tubuhnya.

Seona pasti telah merasakan amarahnya karena ia memutar balik tubuhnya dan berlari secepat ia bisa sebelum sepatah kata terucap di bibir Baekhyun.

Tiba-tiba, semua amarahnya hilang secepat ketika rasa amarah itu datang. Setiap kali Baekhyun melihat Seona, Baekhyun akan mengingat pengkhianatannya, dan ia akan menjadi marah. Tetapi setelah Seona pergi, semua yang ia rasakan adalah kesedihan. Semua rasa amarahnya pergi seperti sekarang ini.

Baekhyun tidak mengejarnya. Justru menatap tempat dimana sebelumnya Seona berdiri, tidak tahu mengapa hatinya terasa sangat sakit, seperti seseorang merobeknya menjadi dua. Dan hanya satu hal yang terus memenuhi pikirannya.

Ia masih menginginkan Seona . . . Ia masih menginginkannya . . .

“Aku masih menginginkanmu,” bisik Baekhyun, akhirnya mengakui bahwa ia tersiksa tanpa Seona. Ia tidak bisa melupakan Seona.

Dan mungkin ia tidak akan pernah bisa.

to be continue. . .

Ahra’s Note :

Fyi aja, ini bukan hanya satu-satunya klimaks di cerita ini. Mungkin kalian akan merasa tambah jengkel lagi /ketawa nista/ aku tidak tahu kapan update, bisa minggu depan atau dua minggu kemudian. Ditambah lagi aku akan ‘memunculkan’ fic sehun.

Seperti biasa, please reviewed and tell me what you thought!

See ya!

78 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 11]

  1. satu sisi sih lega kedua belah pihak sudah mengetahui kalo sama sama udah menikah. tapi dua dua nya sama sama tertekan. ouhh kedua nya sama sama egois. dan dimana yifan kok ngilang. jelasin semua kalo anak itu bukan anak baek napa. uhhbb sedih jengkel bahagia. campur jafi satu…😥😥 baek ma seona harus bahagia napa. dan anak yang dikandung seona anak siapa. baek kah. 2 bulan. mungkin benar anak baek. #ngomongndiri.
    kkkkk~ eonni/author keep writting and fighting. saya tunggu ff kelanjutannya.🙂

  2. gimana ya, hyera hamil anak kris? seona hamil anak siapa? baekhyun kan??
    seona sama baekhyun gagal moveon, iyalah udah saling cinta yakan? sabar aja mungkin nanti bisa moveon/?
    (gua komentar apa si)

  3. ini ff kayanya bakalan panjangan banget nih…. ceritanya makin rumit makin nyesek wkwkwkwkw… ditunggu ke 12 nya ^^

  4. Aku pikir seona hamil anak baekhyun, terus si hyera hamil anak kris kan? Kris nya kemana? Kok gak muncul2 eon?
    Next🙂

  5. Baek kenapa jadi kaya gitu sih dia kan juga selingkuh kenapa cuma seona doang yang disalahin apa dia gak mikir kalau dia juga ada di posisi yang salah main seenaknya bentak bentak seona aku jadi bingung anak yang dikandung seona itu anaknya joonmyun apa anaknya baekhyun ya joonmyun juga jahat banget masa istrinya hamil dia cuek banget kaya gitu tapi ini makin keren ceritanya

  6. Waah aku ketinggalan ceritanya -_- sebenernya bayi yg ada dikandungan seona anak baekhyun kan? berharapnya sih begitu

  7. mereka sama-sama salah tapi malah saling nyalahin /? semoga aja itu seona hamil anak baekhyun biar mereka punya alasan buat sama-sama lagi dan hyera ketauan bohong terus baekhyun nuntut cerai sama hyera. ayo kris, kamu dibutuhin buat bongkar rahasia hyera..

  8. Entah kenapa disini aku ngerasa Seona lebih tersiksa dibandingkan Baekhyun yang belum tau kelicikan Hyera. Seona disiksa sama suaminya dan dia kesiksa batin juga kasian banget…. terus mereka itu sama-sama merasa dikhianatin padahal mereka ngelakin hal yang sama kan

  9. aduh aku bener2 nyesek bacanya. asumsi aku sih, hyera hamil anak yifan dan seona hamil anak baekhyun. tapi bahkan seona pun ga yakin kalo itu anak baekhyun.
    dan gimana dong sama keselamatannya baekhyun?? apa ga ada lagi yg bisa dilakukan??
    baekseo juga ga bisakah mereka berpikir jernih?? toh mereka impas. mereka sama2 salah dan sama2 saling membutuhkan. bahkan aye avenue pun akhirnya ditutup. itu artinya seona udah putus asa kan.
    dan aku ga bisa bayangin klimaks apa lagi yg mungkin lebih parah dari ini.

  10. 99.99% yakin kalo itu anak Baek haha
    Tapi Junmyeon kelihatan gak bener2 sayang ke Seona, kalo sayang gak mungkin lah diperlakukan kasar.
    Tapi sampe skrg aku masih penasaran sama maksud dri Chanyeol, knpa kalo Hyera melahirkan Baek bakalan dibunuh? Sebenarnya ada apa ini yoooo?

  11. Sebenarnya kenapa mereka marah ya? Mereka sama2 melakukan kesalahan yang sama persis -menutupi status mereka- Artinya mereka marah sama diri mereka sendiri, mereka kecewa kalo impian indah yg mereka buat ternyata tidak sesuai dengan apa yg mereka bayangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s