Stuck In Romance #2 – Growing Pains

sir soo

STUCK IN ROMANCE – #2 Growing Pains

By luvelylu

Cast : Yoon Jisoon (OC) | Baek Sooyeon (OC) | Kang Minrae (OC) |

Oh Sehun (EXO) | Yook Sungjae (BTOB) | Kang Minhyuk (CNBlue)

Happy Reading ^^

___

Prev : Prolog | #1-The Story Begin | #2-Growing Pains

.

“Apa harus sebanyak ini?”

“Ya, kau tahu bagaimana eomma ku Jisoon-ah.”

Saat ini dua muda-mudi tengah berdiri di depan meja kasir sebuah restoran. Sang gadis tampak bosan mengetuk-ngetukkan flat shoesnya. Tangannya mengambil dua kantong plastik besar berlogo restoran tersebut kemudian tersenyum membalas ucapan terima kasih yang di ucapkan penjaga kasir.

“Bisa kau melangkah lebih lambat?” protes gadis tadi.

Sehun –pemuda yang pergi bersamanya- menoleh setelah sampai di pintu restoran. Ia hanya menatap Jisoon yang kini ikut berhenti di sampingnya. Gadis itu mendongak.

“Mengapa berhenti?”

“Aku menunggumu.” Singkat Sehun.

“Aku sudah sampai. Cepat jalan. Kau menghalangi pintu Sehun-ssi.” ucap Jisoon, sedetik kemudian ia mendorong bahu Sehun ke kanan –supaya pemuda itu menyingkir dari pintu. Kemudian gadis itu memberi kode bahwa ada pengunjung yang memang terganggu dengan keberadaan mereka yang menutup salah satu akses restoran itu.

“Ayo cepatlah.” ucap Sehun kembali melangkah keluar dengan langkah lebar-lebarnya.

“Huh. Mengapa dia menyebalkan sekali?”

.

___

.

Sehun memelankan laju mobilnya ketika ia sudah sampai di depan rumah besar berpagar coklat tua milik orang tuanya. Perlahan mobilnya terparkir rapi berjajar dengan dua mobil yang sudah berada di halaman rumahnya yang luas.

“Keluar.”

“Hmm.”

Jisoon mendengus malas namun tetap menuruti perintah Sehun si menyebalkan itu.

Langkahnya terhenti ketika matanya menemukan mobil yang sangat familiar terparkir tepat di samping kiri mobil Sehun.

“Itu mobil—”

“Keluargamu disini. Apa itu aneh?” Sehun berucap datar. Jisoon menoleh, bibirnya mencebik kesal.

“Apa mereka akan menginap?”tanya Jisoon sembari melangkah mengimbangi langkah lebar Sehun. Pemuda itu hanya memandangnya sekilas kemudian mengangkat bahu tak acuh.

“Aku tidak mau menginap. Ada makhluk menyebalkan di dalam rumah ini.” gumam Jisoon namun lebih terdengar keras dari gumaman biasanya.

Sehun berhenti di depan pintu besar yang menjulang di depan mereka. Ia menoleh menatap Jisoon sebelum membuka pintu itu, “Maka pulanglah. Aku tidak berharap kau menginap.”

Jisoon melongo hebat mendengar penuturan Sehun yang datar namun menusuk itu.

‘Sehun itu anak yang baik hati dan cerdas. Dia juga tampan. Gadis beruntung mana yang akan mendapatkannya?’

“Begitu yang Appa bilang anak baik hati?” desis Jisoon sembari melangkah kesal memasuki rumah bercat putih gading itu.

.

___

.

“Dekorasi di gerbang utama masih satu konsep dengan hiasan di panggung. Di depan di beri satu meja yang didesain seperti loket untuk pengunjung yang akan masuk. Kemudian di sisi kiri jalan menuju panggung utama, di stand-stand yang ada akan diberi hiasan dengan lampu-lampu elektrik yang menyala otomatis. Di beberapa stand juga mempunyai mascot yang dibuat dengan kreativitas mahasiswa lainnya.”

Beberapa kepala dari orang-orang yang berada di ruangan rapat itu mengangguk paham mendengar penjelasan salah satu anggota seksi dekorasi dan dokumentasi itu.

Suasana hening sejenak sampai sang ketua dari kumpulan anak muda tersebut bersuara, “Selanjutnya untuk seksi acara di mohon untuk melaporkan kinerjanya sampai detik ini. Silahkan Minhyuk, Seungri atau Minrae.”

Tiga orang yang disebut tadi tampak bergeser ke depan. Minrae—satu-satunya anggota perempuan di seksi itu berada di tengah dengan membawa selembar kertas.

“Kami—”

“Sejujurnya kami belum menyusun acara secara keseluruhan.”

Suara itu menghentikan Minrae yang sebelumnya berniat menjelaskan susunan acara mereka. Hal itu membuat Minrae menoleh ke arah pemilik suara itu.

“Sudah Seunghyun sunbaenim. Aku kemarin—”

“Kau tidak mengajakku berunding Minrae-ya.” protes pemilik suara tadi –lagi.

“Diamlah Kang Minhyuk!” pekik Minrae kesal.

“Lanjutkan Minrae.” Perintah Seunghyun datar namun tegas. Minrae mengangguk kemudian mulai berceloteh panjang lebar.

“Jadi untuk acara indoor akan di adakan terlebih dahulu sebagai pembukaan, karena di acara itu juga akan diadakan pemotongan pita sebagai tanda bahwa festival tahunan ini dibuka. Dan selanjutnya diadakan sambutan seluruh wakil direksi berturut-turut.”

“Apa itu tidak terlalu merepotkan? Lebih baik rektor dan perwakilan direksi yang lain datang di ruang pertunjukkan utama saja. Dengan sambutan dua atau tiga penari tradisional yang menemani dari pintu masuk menuju panggung sebelum mereka melakukan sambutan. Dan dari beberapa sambutan lebih baik di selingi hiburan dengan tari modern atau acara dengan lelucon di dalamnya. Aku tahu saat sambutan pasti penonton akan bosan dan tertidur mendengarkan pidato mereka. Jadi buat mereka terhibur, jangan sampai mereka bosan sebelum acara inti ditampilkan.” Jelas Minhyuk panjang lebar.

Seunghyun mengangguk.

“Tapi konsepnya sudah seperti ini. Jika konsepnya begitu maka rektor dan yang lain akan berdiri terlalu lama di atas panggung bodoh!” protes Minrae yang sekarang tengah melayangkan tatapan tajamnya pada Minhyuk.

“Kita bisa siapkan kursi, tinggal katakan saja pada seksi perlengkapan.” Jawab Minhyuk enteng.

“Tapi festival tahun kemarin—”

“Kita tidak harus mengikuti konsep lama. Justru akan terlihat membosankan.”

“Tapi ini hanya acara inti saja, untuk hiburan sudah pasti berbeda konsep Minhyuk-ssi!” balas Minrae penuh emosi.

Sebelum Minhyuk kembali berargumen, sebuah deheman keras menginterupsi perdebatan mereka.

“Silahkan kalian rundingkan kembali di luar ! Jangan  berdebat di tempat ini, dan selesaikan tugas kalian dengan cepat.”

Tajam, tegas, dan tidak bisa dibantah. Serentet perintah itu keluar dengan mulus dari mulut Seunghyun yang kini melayangkan tatapan tajam ke arah dua orang yang entah sejak kapan berhadapan itu. Sementara Seungri yang tidak terlibat perdebatan dengan dua rekannya pun bangkit dan segera menarik Minhyuk dan Minrae untuk keluar dari ruangan yang kini beraura tegang itu.

.

___

.

Brak!

Minrae melempar bukunya mulus di atas kursi yang kini didudukinya. Disusul dengan Seungri dan Minhyuk yang duduk di samping kanan kiri Minrae.

“Gara-gara kau!” Minrae menunjuk tepat di depan hidung Minhyuk. Pemuda itu menjengitkan alisnya bingung.

“Apa? Aku benar kan? Aku anggotamu dan kau tidak melibatkanku?” protes Minhyuk.

Minrae menghela nafas kesal, kemudian gadis itu menoleh ke arah Seungri yang masih membisu. “Heuh, setidaknya kau lebih berguna dari si menyebalkan ini Seungri-ya.”

“Tapi Minhyuk benar.” singkat Seungri namun mampu membuat Minrae bungkam dan Minhyuk tersenyum lebar.

Minhyuk segera bangkit dari duduknya. Ia menempatkan bokongnya di atas lantai di antara Minrae dan Seungri. “Jadi bagaimana?”

“Ya. Penyambutan kedatangan pimpinan direksi akan disambut dengan tarian tradisional. Sedikit hiburan di sela-sela sambutan dan di akhiri dengan penampilan tim paduan suara.” Jelas Seungri.

“Itu saja?” tanya Minhyuk sedikit melongok ke arah kertas di tangan Seungri.

“Sudah ku bilang di sana hanya pembukaan acara. Festival sudah jelas berada diluar.” Ucap Minrae masih mempertahankan nada ketusnya.

“Bagaimana dengan bintang tamu?”

“Ya. Mereka bisa datang sekitar pukul delapan malam. Cukup waktunya sampai kita pada penutupan dengan menerbangkan lentera harapan.” jelas Minrae lagi.

“Lentera harapan?”

“Ya.. harapan untuk kemajuan universitas kita.” Minrae tersenyum di akhir kalimatnya.

“Tahun kemarin kembang api.” celetuk Minhyuk.

“Ya, penerbangan lentera dan pertunjukkan kembang api.” sambung Seungri.

“Yak! Bukankah sudah ku bilang acara intinya akan berbeda dengan tahun kemarin.” ucap Minrae dengan nada ketusnya –lagi. Minhyuk menunjukkan cengiran lebarnya kemudian mengangguk paham.

“Ck, hanya itu? tidakkah kau memberi ide? Apa gunanya kau disini?” desis Minrae memandang Minhyuk yang sudah berdiri. Pemuda itu meliriknya.

“Aku menyetujui rencanamu Minrae-ya. Apa aku salah lagi?”

Minrae melirik Minhyuk yang kini sudah kembali duduk di kursi. Pemuda itu melipat satu kakinya di atas satu kakinya yang lain.

“Sekarang kita tinggal menyusun rangkaian acaranya.” Ucap Seungri memutus tatapan sinis Minrae.

“Beast dan AKMU benar-benar akan datang?” tanya Minhyuk lagi.

“Tentu saja.”

Minhyuk mengangguk lagi. “Bagaimana dengan festival makanan?”

“Stand-stand akan menyediakan banyak makanan.” jawab Seungri.

“Fashion show?” tanya Minhyuk lagi.

Minrae dan Seungri diam, hingga deheman Minrae membuka suara. “Ehm, kita bisa menambahkan itu.”

Minhyuk tersenyum lagi, “Ahaha—aku bisa memberi ide bukan? Bahkan hal seumum itu tidak terfikirkan.”

Minrae meliriknya tajam. “Kau! Eoh, lagipula acara hanya seminggu lagi. Bagaimana kau akan mencari model?”

“Eiy, kau lihat mereka?” Minhyuk menunjuk beberapa mahasiswi yang tengah berkumpul di bangku taman.

“Aku hanya perlu memasang pengumuman pagi ini dan sore nanti aku akan mendapatkan daftar model untuk fashion show nanti.” Minhyuk menaikturunkan alisnya.

“Terserah kau saja.”

“Asal kau tidak cemburu melihatku meladeni mereka saat pendaftaran nanti.” ucap Minhyuk sedikit berbisik.

Minrae menoleh cepat dan langsung melayangkan death glarenya tepat di kedua mata Minhyuk yang masih memandangnya penuh arti.

In your dream!”

.

___

Hari ini gladi bersih para peserta pengisi acara untuk festival yang akan diadakan tiga hari lagi. Suasana di halaman utama dan ruang pertunjukkan tampak ramai. Para panitia juga mulai sibuk mendekorasi dan menata perlengkapan yang dibutuhkan. Stand-stand yang akan dibuat berjajar di sepanjang jalan menuju panggung outdoor juga mulai berdiri.

Di dalam ruang pertunjukkan indoor juga mulai terdengar suara koor yang berasal dari tim paduan suara yang tengah berlatih sejak setengah jam yang lalu. Tidak seperti latihan seminggu yang lalu, kali ini banyak orang yang duduk di bangku penonton. Mulai dari panitia yang sedang beristirahat maupun pengisi acara yang lain. Di atas panggung juga tampak seksi dekorasi tengah memasang beberapa hiasan yang mempercantik panggung megah itu.

“Annyeong Jisoon-ah!”

Sapaan ceria itu terdengar di telinga gadis yang tengah menonton di bangku barisan kedua. Jisoon –yang tidak memiliki kegiatan apa-apa- sengaja menunggu dua sahabatnya yang mulai sibuk karena hari pelaksanaan festival hanya tinggal menghitung hari.

Minrae—gadis yang menyapanya tadi tampak mengusap peluh di dahinya. Tangan kanannya memegang selembar kertas kardus yang ia sobek sembarangan dari kardus minuman gelas.

“Huh panas sekali.” Gumam Minrae sembari mengibas-ngibaskan kertas di tangannya.

Jisoon dengan kebaikan hatinya menyerahkan sebotol air mineral yang masih lumayan dingin ke hadapan Minrae. Minrae tersenyum lebar, “Ahh kau baik sekali Jisoon-ah.” Ucap Minrae sebelum menenggak sepertiga minuman itu.

“Kau sudah selesai?” tanya Jisoon. Minrae menghembuskan nafas keras kemudian menggeleng lemah.

“Aku kabur sebentar.” Bisik Minrae, ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan dengan hati-hati.

“Yak!”

“Huaa.” Pekik Jisoon dan Minrae hampir bersamaan. Mereka menoleh menatap pemuda yang melongokkan kepalanya di antara dua gadis itu.

“Kau disini rupanya.”

“Jam berapa sebenarnya Beast akan datang?” tanya pemuda tadi masih belum memindahkan posisinya. Kepalanya miring menghadap Minrae, namun tidak bertahan lama karena kemudian Minrae mendorong kepalanya untuk menjauh.

“Beast? Kalian mengundang—”

“Sssstt..” kali ini pemuda itu menghadap Jisoon dan mendaratkan telunjuknya tepat di depan bibir tipis gadis itu. Jisoon spontan diam namun masih belum menghilangkan tatapan terkejutnya.

“Yak Kang Minhyuk!” pekik Jisoon karena kini pemuda yang dipanggil Kang Minhyuk itu melompat melewati sandaran kursi penonton dan kini duduk di tengah dua gadis itu. Memaksa Jisoon dan Minrae memberi jarak satu kursi untuk ia duduki.

“Bagaimana?” Minhyuk duduk miring menghadap Minrae.

“Apa?”

“Beast? Kita harus tahu jam berapa mereka bisa datang, susunan acara harus keluar hari ini.” kali ini Minhyuk berkata lirih. Seperti hal ini masih dirahasiakan. Jisoon hanya melirik mereka sesekali.

“Kita buat fleksibel saja. Susunan acara hanya untuk acara inti yang dilaksanakan di ruangan ini. Beast tampil outdoor saja, ruangan ini tidak akan mampu menampung fans-fans mereka yang akan datang.” Jelas Minrae.

“Kita bisa menyesuaikan jumlah tiket masuk dengan kursi yang ada di ruangan ini.” balas Minhyuk lagi.

“Bukankah kita sudah merundingkannya? Jika diluar kita bisa menjual lebih banyak tiket. Kau tahu berapa yang harus kita bayar untuk mengundang mereka?”

Minhyuk menggeleng.

“Mahal !” singkat Minrae di akhiri dengan tatapan meyakinkannya.

“Berapa?”

“Mana aku tahu, tanyakan saja pada bendahara atau seksi hiburan.” Jawab Minrae enteng.

“Yak mengapa kau menatapku begitu?”kesal Minrae karena Minhyuk hanya merespon ucapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Minhyuk hanya mengangkat bahunya acuh, kemudian pemuda itu memindah posisi tubuhnya miring ke arah Jisoon.

“Menurutmu berapa?”

Jisoon melirik dan mengangkat sebelah alisnya. “Mahal. Tapi seorang fangirl pasti berani membayar mahal untuk melihat idola mereka.”

“Huh tapi aku juga sudah puas dengan melihat paduan suara saja.” Minrae menyahut dari belakang Minhyuk.

“Lihat itu yang di belakang pojok yang tinggi putih beranbut hitam berantakan itu.” ucap Minrae gemas sembari mengarahkan jari telunjuknya ke atas panggung yang masih berkumpul tim paduan suara.

“Sehun?” Jisoon bersuara. Sementara Minhyuk tidak berkomentar sama sekali.

Minrae mengangguk cepat.

“Yak yak! Kau lihat Sooyeon dan temannya itu, mereka terlihat sangat dekat bukan?” kini Jisoon ikut mengalihkan pandangannya menuju Sooyeon yang berada di barisan depan. Tampak sahabatnya itu tengah tersenyum bersama seorang pemuda yang berdiri di samping kanannya. Jisoon memperhatikan wajah Sooyeon yang sedikit menunduk, sementara temannya itu terlihat tengah melontarkan lelucon dengan wajah konyolnya.

Jisoon mengernyit ketika Sooyeon sedikit mendongak, pipi gadis itu—merona? Sesaat kemudian bibir  Jisoon tersenyum tipis. Kau jatuh cinta Sooyeon-ah? Kau behutang cerita padaku !

Kekehan terdengar dari bibir Jisoon ketika melihat wajah terkejut Sooyeon ketika tangan pemuda tadi merangkul santai di bahunya. Jisoon melihat jelas kegugupan di wajah Sooyeon.

“Bukankah Sooyeon terlihat manis Minrae-ya?” Jisoon melirik ke arah Minrae yang masih menatap lurus ke arah panggung.

“Rae-ya?” Jisoon kembali memanggil Minrae yang menatap panggung tanpa ekspresi. Sementara Minhyuk yang entah sejak kapan sibuk dengan ponselnya kini ikut menoleh menatap Minrae yang membisu.

Perlahan Jisoon dan Minhyuk mengikuti arah pandang Minrae. Minhyuk memutar bola matanya malas ketika memastikan bahwa Minrae masih fokus menatap Sehun yang kini bersandar di sisi panggung.

Sedangkan Jisoon mempertajam pandangannya, Sehun—ia bukan hanya sekedar berdiri disana. Tatapan pemuda itu lurus ke arah depan barisan yang masih terdapat beberapa orang. Entah apa yang mereka lakukan padahal latihan telah dibubarkan beberapa menit lalu.

Sooyeon dan temannya, dan Sehun. Ya, Sehun menatap dua orang itu lurus-lurus tanpa ekspresi.

Jisoon menatap Sooyeon kemudian ke arah Sehun lagi, tetapi pemuda itu kini telah berpaling karena panggilan dari salah satu temannya. Lalu Jisoon teringat Minrae, ia menoleh dan mendapati gadis itu tengah menunduk sebentar, menarik nafas panjang, mendongak, dan tersenyum kembali.

“Baiklah. Kajja Minhyuk-ssi! Kita lanjutkan tugas kita.” ucap Minrae setelah bangkit dari duduknya. Minhyuk mendongak beberapa detik sampai akhirnya Minrae menarik lengannya kasar.

Annyeong Jisoon-ah. Aku akan mengabarimu nanti.” Minrae melambaikan tangannya dan segera pergi tanpa melepas Minhyuk yang tampak sumringah mendapat perlakuan kasar Minrae.

Jisoon kembali menatap lurus ke arah panggung yang mulai sepi. Hanya beberapa panitia yang masih sibuk mendekorasi dan— Sooyeon juga beberapa temannya. Dan mereka juga sudah mulai membubarkan diri. Jisoon tersenyum kecil melihat Sooyeon masih dirangkul mesra oleh teman berambut keemasannya itu.

Tangan Jisoon terangkat bermaksud menyapa Sooyeon yang kini menangkap keberadaannya. Kedua alisnya naik turun menggoda Sooyeon yang merona. Dan sepertinya teman Sooyeon melihatnya juga. Dalam waktu kurang dari satu detik rangkulan itu terlepas. Mereka pasti gugup, batin Jisoon terkekeh geli.

Buk

Jisoon menoleh ketika merasakan seseorang duduk di sebelah kanannya. Alisnya terangkat, “Ada apa?”

Sehun—seseorang tadi meliriknya, “Menunggumu.”

Jisoon memutar bola matanya malas, “Pulanglah. Aku bersama temanku.”

Tidak ada jawaban Sehun. Jisoon mendecak kesal dan kembali menatap Sooyeon yang kini tampak berbicara dengan temannya tadi dan kembali menatapnya. Sooyeon melangkah mendekat. Dan ah—sepertinya teman Sooyeon juga ikut.

“Kau sudah selesai?”

Sooyeon tersenyum kemudian mengangguk. Ia melirik Sehun sebentar lalu kembali melirik Jisoon sembari melayangkan tatapan ‘mengapa ia disini?’

“Kalian akan pulang bersama lagi?” tanya Sooyeon setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi samping kiri Jisoon.

Jisoon belum sempat menjawab, karena Sehun yang menjawabnya cepat dan tidak terduga.

“Ya. Dan itu akan berlaku beberapa hari ke depan, atau lebih lama lagi.”

“Sebenarnya kalian ada hubungan apa?” tanya seseorang lagi. Dia teman Sooyeon.

Eobseo.”jawab Sehun singkat.

“Tapi mengapa kau terus mengantarnya?” tanyanya lagi.

“Itu urusanku Sungjae-ya.”

Ahh—iya. Yook Sungjae, Jisoon kembali mengingat nama orang yang sedari tadi dari hanya ia sebut dengan ‘teman Sooyeon’.

“Ya ya terserah kau saja.”balas Sungjae pasrah. Sepertinya pemuda ini sudah terbiasa menghadapi sifat menyebalkan Sehun.

“Ahh iya. Namaku Yook Sungjae, kau Yoon Jisoon. Benar?” kali ini Sungjae mengulurkan tangannya melewati Sooyeon yang duduk di antara ia dan Jisoon.

Jisoon tersenyum kemudian menjabat tangan Sungjae. “Ya. Kita belum berkenalan secara langsung.”

Sungjae mengangguk kemudian kembali menarik tangannya.

“Aku sering melihatmu. Dan aku beruntung ternyata kau teman dekat Sooyeon.” Ucap Sungjae. Sooyeon menatap mereka bergantian sedangkan Sehun melirik Sungjae malas.

“Apanya yang beruntung?” sindir Sehun yang mendapat tatapan tajam dari Sungjae.

“Apa? Kau mau menjadi temanku dan mengorek informasi lebih banyak tentang Sooyeon?” kali ini Jisoon tersenyum menggoda Sooyeon yang menatapnya tajam.

“Hah? Hahaha. Ani—mengenai Sooyeon aku bisa tanya langsung dengannya. Kami sangat dekat.” Jawab Sungjae santai.

Jisoon terkekeh.

“Jisoon-ah, kalian pulang bersama lagi?”

“Bukankah tadi Sehun sudah menjawabnya? Dan sialnya aku harus menurutinya lagi.” Gumam Jisoon malas. Sehun tampak tidak peduli dengan ucapan yang melibatkannya itu.

“Dia hanya mengalihkan pembicaraan. Tenanglah Yeon-ah, kau bersikap seolah-olah kita benar-benar ada sesuatu saja. Hahaha.” ucap Sungjae. Sooyeon hanya meliriknya tajam lalu kembali menghadap Jisoon.

“Aku serius. Kau sudah minta izin pada Minrae?” tanya Sooyeon seolah berbisik, namun pada kenyataannya nada yang ia gunakan masih mampu didengar orang-orang di sekitarnya.

Jisoon terkekeh, “Haha. Iya kau benar. Aku harus melaporkan pada Minrae setiap saat aku pergi denganmu Sehun-ssi.”

Kali ini Sehun menoleh, “Minrae temanmu itu?”

Jisoon dan Sooyeon mengangguk kompak. Sehun menatap keduanya datar, “Kalian pikir aku miliknya?”

“Kami hanya mendukungnya bersamamu.” Jawab Sooyeon enteng. Sehun melengos.

“Apa kalian tidak ada obrolan yang lebih penting lagi? Lebih baik kita pulang sekarang saja Jisoon-ah.” ajak Sehun yang bersiap bangkit dari duduknya.

Jisoon mencebikkan bibirnya namun tetap menuruti kata-kata Sehun.

“Baiklah aku pulang dulu. Emm— Sungjae-ssi, bisa kau antar Sooyeon? Dia tidak bisa menyetir.” pinta Jisoon dengan bisikan di akhir kalimatnya. Sooyeon melotot kearahnya dan dengan cepat sebuah cubitan ringan mendarat di lengan Jisoon.

Sungjae tersenyum kemudian mengacungkan ibu jarinya. “Tenang saja. Lagipula ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengannya.”

“Oh ya?” Jisoon tersenyum lebar lalu menjadi senyum jahil ketika ia menatap Minrae.

“Kau cepatlah pulang. Dasar menyebalkan !” gerutu Sooyeon –berpura-pura- merajuk. Jisoon terkekeh lalu pergi mengikuti Sehun yang telah berjalan beberapa langkah di depannya.

.

___

“Hari ini tidak ada makan siang bersama lagi kan?” tanya Jisoon menatap Sehun yang mulai fokus dengan jalanan yang membentang di hadapannya.

Sehun meliriknya sekilas, “Tidak ada.”

“Huh, syukurlah.”

“Kenapa?”

Jisoon menyandarkan sikunya di jendela, “Tidak. Aku hanya tidak suka berada di tengah-tengah obrolah orang tua. Tidak bisakah mereka mengadakan acara sendiri?”

“Karena itu makan siang keluarga, bukan makan siang orangtua.”jawab Sehun datar. Jisoon meliriknya malas.

“Aku tidak akan protes jika kita memang keluarga besar. Tapi ini?”

“Kau tidak suka berkumpul dengan keluargaku?” tanya Sehun penuh selidik. Jisoon menoleh cepat.

“Aniya. Kau ini selalu menyimpulkan sendiri ucapan orang.” Ucap Jisoon kesal.

“Yasudah jalani saja. Kita harus bersyukur mempunyai keluarga yang mempertahankan tali silaturahmi.” Ucap Sehun santai. Namun Jisoon justru menanggapinya dengan tatapan aneh. Benarkah seorang Oh Sehun yang berkata seperti itu?

Jisoon hanya mengangguk membenarkan ucapan Sehun.

“Lalu mengapa kau mengantarku jika tidak ada acara makan siang atau sejenisnya?”

“Hanya mengantarmu. Just it.” Singkat Sehun.

“Apa maksudnya? Karena bahkan sedekat apapun keluarga kita, kau dan aku tidak pernah sedekat ini.” ujar Jisoon mulai curiga dengan apa yang dilakukan Sehun akhir-akhir ini. Gadis itu memandang Sehun menuntut penjelasan. Dan Jisoon sukses melengos sebal karena keantusiasannya hanya dibalas Sehun dengan mengangkat bahunya acuh.

“Kita seharusnya bersyukur mempunyai pita suara yang digunakan untuk berkomunikasi!” sindir Jisoon penuh penekanan di tiap kalimatnya.

Dan Sehun tetaplah seorang Oh Sehun. Pemuda itu hanya melirik Jisoon malas dan kembali fokus pada jalanan Seoul yang sore ini tidak begitu ramai.

“Aku serius Sehun-ssi. Aku tidak enak pada—”

“Tanyakan saja pada orang tuamu.” Potong Sehun cepat. Jisoon menatapnya beberapa detik. Perasaannya tidak enak, sungguh.

“Emm—Sehun-ssi?”

“Hm.”

“Sebenarnya apa hubungan Sungjae dan Sooyeon? Mereka terlihat dekat.” tanya Jisoon mencoba sedikit mengalihkan argumen-argumen tidak penting yang mulai bergelayut di kepalanya.

Molla.”

“Tapi sepertinya mereka—”

“Bisa kau diam saja? Ku pikir kau benar-benar gadis pendiam, tapi ternyata sama saja.”

“Hah?” Jisoon mendecih kesal menanggapi ucapan Sehun yang datar tapi sangat menusuk itu. Aaakk—dia benci Oh Sehun!

.

___

.

“Sebenarnya apa hubungan Jisoon dan Sehun Yeon-ah?”

Sooyeon mendongak menatap Sungjae yang sepulang latihan tadi bersikeras mengantarnya namun ternyata pemuda itu dengan seenaknya mengajak ia mampir untuk makan.

Sooyeon berdehem sebentar, “Aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya keluarga mereka dekat. Itu saja.”

“Mereka saudara?”

“Bukan.”

“Lalu? Mengapa Sehun mengantar Jisoon pulang?” tanya Sungjae lagi antusias.

“Biasanya mereka pulang bersama jika ada acara keluarga.” Jawab Sooyeon. Sungjae mengangguk.

“Apa kau berpikir mereka akan menjalin sebuah hubungan nantinya?”

Sooyeon kembali melirik Sungjae. Oh God, sampai kapan mereka akan terus membicarakan dua orang itu?

“Entahlah. Tapi mungkin tidak karena Jisoon pasti tidak tega dengan Minrae.”

“Kenapa?”

“Minrae menyukai Sehun. Sangat.” Jawab Sooyeon setelah menyedot sepertiga cappucinonya.

“Ck. Anak itu selalu mempunyai hubungan yang seperti itu.” gumam Sungjae yang sukses menarik rasa penasaran Sooyeon.

“Maksudmu?”

“Ya—orang yang dekat dengannya dan orang yang menyukainya selalu dalam lingkungan yang sama. Membuatnya sulit menentukan pilihan. Kasihan sekali bocah itu.” celoteh Sungjae sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bagaimana dengan orang yang disukainya?”

Seungjae meliriknya sebentar kemudian berpikir. “Sehun tidak bercerita tentang itu.”

Sooyeon mengangguk paham. Sedetik kemudian dahinya berkerut bingung menatap Sungjae yang tengah tersenyum penuh arti dengan tatapan yang entah menuju ke arah mana. Yang pasti pemuda itu bukan sedang melihat sesuatu yang ia sukai, tetapi sedang memikirkan sesuatu yang mampu menyebabkan ia tersenyum seperti itu.

“Yeon-ah!”

Sooyeon hampir tersedak ketika tiba-tiba Sungjae menatapnya berbinar.

“Emm—temanmu itu, maksudku Jisoon. Dia cantik dan cara bicaranya—aku suka. Aku—kupikir aku menyukai temanmu itu.”

Sooyeon tersedak—bukan hampir tersedak lagi. Kemudian ia melirik Sungjae yang masih melayangkan tatapannya yang memabukkan itu.

“A-apa?”

“Ya. Aku sudah memikirkannya. Aku sering melihat Jisoon pulang bersamamu. Kali ini aku minta maaf jika aku sedikit memanfaatkanmu untuk bisa lebih dekat dengannya.” Ucap Sungjae diakhiri dengan cengiran lebarnya.

Beberapa detik berlalu, dan Sooyeon masih diam. Gadis itu sedikit menunduk dan matanya bergerak-gerak gelisah.

Sungjae.Menyukai.Jisoon.

Tamparan telak bagi Sooyeon, ia melirik Sungjae yang masih menunggu responnya. Mungkin lain cerita jika Sungjae hanya menatapnya tanpa mengucapkan kata-kata itu. Tapi kenyataannya tidak begitu.

“Yeon-ah?”

“Huh?”

“Tidak perlu terburu-buru. Kau hanya perlu sering-sering mengajaknya saat kita latihan. Untuk urusan pendekatan aku akan melakukannya sendiri.” Ucap Sungjae di akhiri senyum penuh artinya.

Setelah menarik nafas panjang, Sooyeon mendongak, berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya walaupun mungkin tidak seratuspersen berhasil. Terbukti dengan tatapan Sungjae yang berubah khawatir kepadanya.

“Yak Yeon-ah, kau sakit?” tanpa ragu tangan kanan Sungjae menyentuh dahi Sooyeon yang tidak tertutup poni.

“Hanya sedikit pusing.” Jawab Sooyeon memberi alasan. Mungkin mengatakan bahwa ia sakit akan menutupi sedikit kebohongannya. Ia bukan sakit kepala, tapi sakit hati.

“Pulang sekarang?”

Sooyeon menggeleng lemah. “Aku naik taxi saja. Bahkan kau belum meminum minumanmu sama sekali.”

“Tapi kau sakit Yeon-ah.”

“Hanya pusing.” Singkat Sooyeon lagi.

“Yak! Ada apa sebenarnya? Apa aku salah bicara?” kesal Sungjae menatap Sooyeon yang masih menghindari tatapannya.

Gadis itu terdiam membuat Sungjae menghela nafas gusar.

“Kita pulang oke? Aku akan membayar minuman kita dulu.”

Sooyeon –akhirnya- mengangguk. Ia sedikit miris saat melihat perhatian Sungjae yang dengan telaten merangkulnya dan menuntunnya berjalan sampai ke dalam mobilnya.

Sooyeon ingin menangis sekarang juga.

.

.

“Aku pulang dulu. Kau istirahatlah.” Ucap Sungjae dari dalam mobilnya. Sooyeon mengangguk kemudian berbalik melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya.

“Sooyeon-ah.”

Sooyeon menoleh lagi.

“Semoga sakit kepalamu tidak membuatmu lupa pembicaraan kita tadi. Hehe. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Istirahatlah dulu. Bye bye.” Ujar Sungjae di akhiri dengan senyuman manis di bibirnya. Perlahan kaca mobilnya menutup dan mobil Sungjae kembali melaju.

Sooyeon menatap mobil itu sampai menghilang di perempatan jalan. Ia berbalik sembari menahan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Langkahnya terhenti, kemudian gadis cantik itu mendongak.

“Hari ini begitu—”

Ia tidak mampu berucap lagi. Cairan bening itu telah tumpah membasahi pipinya yang putih.

“Jisoon…”lirih Sooyeon begitu memilukan. Ia tersenyum miris kemudian kembali melangkah memasuki rumahnya.

Sooyeon ingin tidur. Dengan harapan hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Yah—semoga saja.

.

___

.

Jisoon berjalan mondar mandir di kamarnya yang luas. Tangannya saling bertautan dan dahinya mengkerut bingung. Sesekali langkahnya berhenti lalu ia menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.

“Apa aku tanyakan saja? tapi aku tidak ingin mendengar kenyataan buruk.” gumam Jisoon pada dirinya sendiri. Kali ini ia telah berdiri dibalik pintu dengan sebelah tangan mulai bergerak membuka handle pintu.

“Jisoon-ah…”

Gadis itu melangkah mendapat panggilan dari wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu. Bibirnya sedikit terangkat ke atas, menunjukkan senyumnya yang manis.

“Ne, eomma.

“Bisa kau bantu eomma berbelanja?”

Jisoon mengernyit mendengar perintah ibunya.

“Berbelanja?”

“Ya. Kau bisa minta tolong Sehun untuk mengantarmu.” lanjut eommanya lagi.

“Sehun lagi?”

Eommanya mengangguk mantap kemudian tersenyum penuh arti.

Jisoon membalas tatapan wanita itu dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia harus segera menanyakan kejanggalan ini segera.

Eomma, jujur saja aku merasa aneh akhir-akhir ini. Ketika Sehun selalu mengajakku pulang bersama dan pergi kesana kemari dengannya. Aku tidak pernah sedekat itu walaupun pada kenyataanya kami satu kampus. Kedekatan ku dengan Sehun saat ini seolah-olah sudah diatur.” tutur Jisoon dengan nada lembut mencoba membuat eommanya mau memberi kejelasan.

“Kau memang perasa yang hebat Jisoon-ah.” wanita itu mengelus rambut panjang Jisoon yang terurai.

“Jelaskan saja eomma.” pinta Jisoon mulai jengah.

“Menurutmu?”

“Aku tidak mau dijodohkan dengan pemuda kutub itu.” ucap Jisoon to the point.

“Bukan dijodohkan, hanya kami ingin kalian mencoba.” jelas eommanya lembut. Jisoon berdecak malas.

“Itu sama saja eomma. Bisa kalian hentikan ini?” rajuk Jisoon menampakkan wajah memelasnya.

Eommanya hanya tersenyum kemudian melangkah melewati Jisoon yang semakin mencebikkan bibirnya.

“Hanya mencoba, Sehun saja sudah menyetujuinya.” ucap wanita itu lagi dari balik punggungnya. Jisoon mengernyit kaget.

“Dia setuju?” tanya Jisoon sembari berjalan cepat menghadap eommanya yang tengah menata lemari es yang tampak setengah kosong.

“Ya. Dia percaya diri sekali saat menyetujuinya.”

Bahu Jisoon merosot. “Itu pasti karena dia yakin tidak akan terjadi apa-apa diantara kami.”

“Lalu mengapa kau ragu? Kau tidak yakin? Kau takut akan jatuh cinta pada Sehun nantinya? Hem?”

Rentetan pertanyaan itu sontak membuat Jisoon menoleh cepat ke arah eomma nya yang kini menatapnya dengan tatapan menggoda. Jisoon mendesis, “Yang benar saja.”

“Maka cobalah.” ucap eomma Jisoon enteng.

Jisoon menghela nafas panjang, “Eo. Eomma puas sekarang?” tanya Jisoon malas. Ia kembali memasang wajah kesal melihat eommanya terkekeh geli menatap anak gadisnya itu.

“Sana pergilah. Hubungi Sehun, dia pasti akan datang.” Perintah eommanya sembari mendorong bahu Jisoon menjauh. Gadis itu mencebik kesal kemudian pergi menuju kamarnya dengan langkah lebar.

Brak!

Jisoon berlari dan langsung mendaratkan tubuhnya ke atas king size bednya. Bibirnya tersenyum miring mengingat dugaannya atas kedekatan Sehun beberapa hari terakhir ini ternyata adalah sebuah kebenaran. Dan pemuda kutub itu setuju ! Yang benar saja.

Pandangan Jisoon menyapu sekeliling kamarnya, kemudian berhenti saat matanya melihat benda pipih berwarna putih kesayangannya. Ia mengambil ponsel itu di atas nakas dengan sekali gerakan tanpa mengubah posisi rebahannya.

“Apa aku harus menghubungi Sehun sekarang?” jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk dagunya bingung. Bahkan ia tidak yakin nomor Sehun yang telah lama bersarang di ponselnya tanpa pernah ia hubungi sama sekali masih aktif atau tidak.

Ibu jarinya menscroll layar ponselnya di bagian kontak. Mencari kontak Sehun, namun pandangannya terhenti ketika ia melihat nama kontak lain di sana.

Baek Sooyeon

“Aku gatal ingin bercerita.”lirih Jisoon masih memandangi kontak sahabatnya itu.

Ibu jarinya menggantung di atas tombol call yang tertera di layar.

“Ahh—lewat pesan saja.”

To : Baek Sooyeon

Yeon-ah, membuka sesi curhat?

Sent !

Lima detik…

From : Baek Sooyeon

Mian aku sibuk.

Balasan itu sangat cepat dan singkat. Tanpa emoticon seperti yang biasa Sooyeon gunakan. Hal itu membuat dahi Jisoon berkerut dalam.

Jisoon mengangguk mencoba memahami,  mungkin Sooyeon benar-benar sibuk.

Lalu pandangannya kembali berhenti pada kontak bernama ‘Kang Minrae’. Alisnya hampir menyatu.

“Tidak mungkinkan aku bercerita pada Minrae?”gumam Jisoon lagi.

Hahaha. Ya— tidak mungkin. Atau kau akan mendapat masalah Jisoon-ah. Lebih baik kau diam saja. Yah, itu yang terbaik.

Sekarang dia harus bersiap-siap pergi berbelanja sesuai perintah eommanya. Dengan malas ia menghubungi Sehun. Ya—dia akan pergi dengan Oh Sehun –lagi.

.

___

TBC

^^

21 responses to “Stuck In Romance #2 – Growing Pains

  1. oh my monggu kenapa runyam banget yaakk ,, harus ada yang di korbankan kalo giniii…
    isshh kalo gini pasti pihak yang paling paling paliiiing tersakiti itu jisoon *di toyor author //sok tau lu **..feeling doang 😀
    next nya di tunggu yaa

  2. Mulai panas nih :3 Sooyeon udah tau Sungjae suka sama Jisoon dan kayaknya Minrae td liat Sehun merhatiin Sooyeon juga deh :3 waaaah seru seruuu penasaran sm next chapternya. Ditunggu yaaa

  3. Conplicated banget yes! Tapi asli bikin penasaran.. Ga bisa nebak sama sekali jalan ceritanya.. Beda nih dr ff lainnya.. Ditunggu lanjutannya thor.. Keep writing 😉

  4. yeahh konfliknya mulai muncul nihh
    jisoon dijodohin ama sehun walopun katanya masih ‘mencoba’, ditambah lagi sungjae suka sama jisoon. mau diliat dari sudut apapun posisi jisoon serba salah. dia pasti ga enak banget sama dua temennya itu. tapi dua kondisi ini juga bener2 diluar kontrol jisoon, terus jisoon harus gimana supaya ga nyakitin dua sahabatnya. takutnya entar sahabat2nya jauhin jisoon

    kasian jisoon TT

  5. Hah Cinta segitiga yg rumit. 😀 makin penasaran nih kedepanya kerennnnn d tunggu next chaper nya fighting unnie ✊

  6. Minhyuk -> Minrae -> Sehun -> Yeon -> Seungjae -> Jisoon… dan Jisoon belum menyukai siapa pun lalu dijodohkan dengan Sehun.. seperti rantai makanan masa O.o

  7. ruyam banget 😦
    ahh jadi serba salah, emang hati gak bisa di salahin…
    gak bisa nebak kedepan nya gimana??
    tapi aku suka SeJi di sini 🙂

  8. Waaaahh makin greget aja trnyata jisoo dijodohin ma sehun -_-waaadduhh klo minrae tw bisa gwat tuhh, blom sooyeon ptah hti abis dger sungjae ngomong gtu, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!!

  9. Wah udah di post ternyata lanjutannya, author gak ngomong2 nih klo udah dipost 😀

    Haduh..sumpah ini yg bikin ide cerita siapa sih thor? Kok bisa kepikiran serunyam itu ya kisah cintanya,kan bikin penasaran.. :-O ide murni imajinasi atau berdasarkan kehidupan pribadi author niih?? Hehe

    Kalo minhyuk sih sudah jelas suka minrae, sooyeon jg udah jelas suka sungjae, sehun jg udah keliatan suka sooyeon tp masih gengsi gitu deketinnya, sungjae suka jisoon, nah tinggal si jisoon nih bakal suka siapa yaa nantinya ??

    Lah kasihan bgt si sooyeon udah baper gitu malah si sungjae php, tingkah sungjae bikin sooyeon baper ihh. Kasihan sooyeon jadi patah hati gitu kan.. 😦

    Jisoon dijodohin sama sehun? Udah feeling sih bakal gitu..

    Minre jisoon sooyeon disini kasihan semua menurutku, mereka bakal serba salah nantinya.. hmmm

    Keep writing and fighting for author amel 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s