MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [VI] DESTINY SONATA

IMG_20150909_065019

MOON THAT EMBRACE OUR LOVE

2015 © SANGHEERA

Cast :: Cheon Sera (Original Character), Luhan as Xiao Luhan and Xiao Luxien, Byun Baekhyun of EXO ||

Support Cast :: Hwang Shiina (OC), Kim Jinhwan of iKON, Zhou Yumin (Vic Zhou) as Xiao Yumin, Ren of NU’EST as Liu Ren, Choi Seunghyun (T.O.P) of BIGBANG, Kim Yoojung (OC), and many more || Genre :: Campus Life, Romance, Fantasy, Comedy, Family, Fluff || Lenght :: Multi Chapter || Rating :: PG 17+

Poster :: Mrs.Kim88 (Thanks for the awesome poster ^^ love it!!)

Read this first :: [0] PROLOG, [I] Man From the Moon, [II] Unbroken Red String, [III] Old Man Under The Moonlight, [IV] MIGIKATA, [V] Let’s Not Fall In Love

Recommended Song :: Jung Dong Ha – Destiny Sonata (OST. Fated To Love You), VIXX LR – Beautiful Liar, John Legend – All Of Me

[VI] DESTINY SONATA

My heart wants you, you who is like destiny

Benang merahnya memendek. Entah bagaimana, benang merah itu terhisap masuk sepanjang beberapa centimeter ke dalam tubuh Luhan dan Sera. Jika ini terjadi setiap malam, tanpa sepengetahuan Luhan dan Sera selama ini, berarti panjang benang merah itu sekarang mungkin tak lebih dari 5 meter atau bahkan mungkin kurang dari itu. Argh, bagaimana Luhan tidak menyadari ini sebelumnya? Walaupun tidak mengukurnya setiap hari, seharusnya ia segera sadar jika jaraknya dan Sera semakin dekat, kan?  Dan yang membuat Luhan bergidik ngeri, jika ini berlangsung terus-menerus, maka kemungkinan dalam beberapa hari ia dan Sera akan…

Tak berjarak?

Jadi, inikah aturan main lainnya yang dimiliki oleh benang merah ini? Hei Luxien, apa kau juga mengetahuinya? Bahwa keajaiban ternyata punya sisi yang mengerikan seperti ini.

Hei, bukankah benang merah ini muncul ketika bulan purnama, dan saat bulan purnama pula lah Luhan dipaksa berteleportasi ke Jeju? Lalu mungkinkah benang merah ini menyusut mengikuti revolusi bentuk bulan? Yang semula bulan purnama penuh, bulat sempurna, lalu menjadi bulan setengah, lalu bulan sabit, dan akhirnya bulan mati. Ya. Ya. Benar sekali, benang merah ini pasti mengikuti pergerakan bulan. Tidak salah lagi! Maka, saat bulan mati nanti, ketika benang merah ini tak membiarkan Luhan dan Sera berjarak, sama seperti bulan yang tak lagi nampak di langit, benang merah ini pun seharusnya menghilang.

Dan Sera bisa terbebas darinya.

Luhan meremas dua liontin yang kini bersisian di dekat dadanya.

Apakah Luhan menginginkan Sera terbebas darinya? Jika benar, tidak usah menunggu sampai bulan mati, Luhan bisa menghancurkan liontin Luxien sekarang juga yang sekaligus juga memutus benang merahnya dengan Sera. Jika Luhan menginginkan Sera terbebas darinya, maka hal seperti ini tak perlu terjadi. Sera tak perlu terluka seperti ini. Tapi kenapa? Apa sebenarnya yang Luhan inginkan? Ia tak tahan memikirkan tentang perpisahan, tapi ia juga tidak ingin Sera bersama dengan dirinya.

Tapi, jika hanya sampai bulan mati… sebentar saja… ia ingin bersama dengan gadis itu sebentar saja. Sedikit lagi. Sebelum mereka berpisah untuk selama-lamanya. Ya…

“Seunghyun…”panggil Luhan pada Seunghyun yang masih berada di sampingnya. Mengamati Luhan dengan raut cemas karena dalam masa seperkian menit Luhan nampak larut dalam pikirannya yang tak bisa Seunghyun tebak. Kondisi tuan mudanya ini terlampau aneh. Terutama masalah benang merah dan teleportasinya ke Jeju. Semuanya masih begitu gelap dalam ruang bayang otaknya.

“Ya, tuan muda,”jawab Seunghyun.

“Apa hukuman yang diberikan Tuhan pada pelaku pencurian?”

“Eh?”

“Aku berniat untuk mencuri sesuatu dari seseorang.”Luhan mendongak menatap Sera yang masih terbaring tak sadarkan diri. “Ah, tidak, ini bukan mencuri namanya jika yang kuambil adalah sesuatu yang memang telah menjadi milikku sejak awal, bukan?”Luhan menggumam. “Dan ini hanya untuk sementara. Aku ingin dia untuk diriku sendiri hanya untuk sementara.”

“Ya.”Seunghyun menjawab lemah. Tidak sepenuhnya paham pada apa yang dimaksud oleh putra dari pemilik Tian-C Group itu. Tapi melihat arah tatapan Luhan dan gumamannya, sepertinya ini berhubungan dengan gadis bernama Cheon Sera itu. Tuan mudanya ingin mencuri Cheon Sera? Dari siapa?

“Bisakah kau mencarikanku rumah di Jeju?”tanya Luhan, sambil beranjak berdiri dari lantai. Pinggangnya lumayan sakit akibat terjatuh dari kursi. Seunghyun dengan sigap memegangi lengannya, walau sebenarnya Luhan bisa bangun sendiri tanpa dibantu. Reflek khas pelayan sekaligus bodyguard.

“Jika anda berkenan, saya memiliki sebuah villa di Phoenix Island, Seogwipo,”jawab Seunghyun sembari membawa Luhan ke sofa terdekat. Ia memastikan tuan mudanya telah duduk dengan nyaman sebelum ia mengambil tempat disampingnya. “Ini bukan moment liburan jadi saya yakin disana cukup sepi. Tempatnya juga sangat dekat dengan pantai jadi pemandangannya sangat indah. Apa tuan muda masih ingin tinggal disini? Kenapa tidak kembali pulang saja ke Beijing dan mengajak Nona Sera sekalian?”

Luhan menggeleng. “Menurutmu apa yang akan dilakukan Baba jika melihatku pulang bersama Sera ke Beijing, Seunghyun-a?”Luhan tidak menunggu jawaban, ia langsung meneruskan dengan tatapan tertuju pada benang merah mengkilat yang merambat di lantai menuju ke kelingking Sera. “Sera tidak memenuhi kualifikasi Baba. Gadis itu terlalu sederhana, naif dan polos. Baba tentu akan melakukan apapun untuk memisahkanku dengan Sera dan memutus benang merah ini. Bahkan meski harus memotong jari kelingking kami.”

Seunghyun menelan ludah. Luhan benar. Ia sudah cukup lama tinggal bersama dengan Luhan dan keluarganya untuk mengenal seperti apa Tuan Besar-nya itu. Xiao Guang Yi adalah orang yang dingin dan kaku. Bahkan pada kedua istri dan ketiga anaknya, pria yang kini berusia 53 tahun itu jarang sekali menunjukkan kelembutan hatinya. Apalagi ketika menjalankan raksasa bisnisnya, Xiao Guangyi terkenal sebagai ‘tangan besi’. Ia mampu berbuat kotor demi melancarkan segala usahanya mendapatkan sesuatu. Bibirnya sinis, tatapannya beku, dan auranya sangat mengintimidasi siapapun. Luhan pasti tidak ingin Sera bertemu dengan ayahnya yang seperti itu. Tidak, jika ia tidak ingin gadis itu terluka.

“Dan kau jelas tahu, aku tinggal di lingkungan keluarga seperti apa. Aku jelas tidak ingin membawa Sera masuk ke istana itu. Dia akan menderita.”Suara Luhan terdengar muram ketika mengatakan hal itu. Seunghyun cukup terkejut, mengingat Luhan jarang memiliki perhatian berlebih pada seseorang. Ia bahkan tidak pernah cukup peduli pada teman-teman yang selama ini menemaninya di Beijing. Seperti saat keluarga Amber Liu, temannya sejak SMA, mengalami kebangkrutan. Luhan tidak cukup bersimpati untuk membantu atau sekedar menjenguk Amber yang dirawat di rumah sakit karena depresi.

Tapi, ketika Luhan menganggap seseorang begitu penting di hatinya. Ia akan melakukan apapun hanya untuk menjaga senyum orang itu. Seperti saat ia dengan berani menolak permintaan Baba-nya hanya karena tidak mau Yumin kecewa. Atau saat Luhan rela berada di pinggir hanya agar Luxien dapat bersinar dengan lebih cemerlang. Atau ketika, Seunghyun—yang hanyalah seorang bodyguard—sakit dan Luhan rela menjaganya semalaman.

Seunghyun merasakan desiran hangat hanya karena mengingat moment kecil namun berarti itu. Luhan boleh saja memasang wajah galak, menguarkan aura permusuhan, atau memasang tembok berduri bagi siapapun yang menyentuhnya. Tapi Seunghyun tahu betapa lembut hati tuan mudanya itu. Betapa dalam lautan kasih sayangnya. Meski semua itu juga membuatnya menjadi lebih mudah terluka.

Dan nampaknya gadis bernama Cheon Sera itu telah berhasil mendapat tempat disana. Di bagian paling istimewa di hati Luhan yang melimpah oleh rasa cinta dan kasih.

“Lalu apa rencana tuan muda? Anda tidak bisa tinggal disini terus-terusan…”

“Ya. Aku memang tidak berniat tinggal disini untuk waktu yang lama. Hanya sampai benang merah ini hilang,”tukas Luhan. Ia bangun dari sofa dan berjalan ke arah tempat tidur Sera. “Aku hanya ingin sebentar saja menikmati kebebasan disini.” Bersamanya.

Jari jemari Luhan membelai lembut rambut Sera yang tergerai di atas bantal. Gerakannya begitu hati-hati, seolah dengan sentuhan yang sembrono sedikit saja akan menghancurkan gadis itu hingga berkeping. Dada Luhan serasa habis dipukul telak setiap kali melihat kondisi Sera yang terluka karena dirinya.

Apalagi jika ia teringat dengan apa yang telah gadis itu lalui sebelumnya. Sera pernah sakit, hingga harus membuatnya melawan kematian. Gadis yang setiap hari bertengkar dengannya itu, yang hidup sendirian di sebuah rumah atap kecil, yang harus bekerja dan sekaligus juga kuliah… ternyata begitu rapuh luar dalam. Selama ini Luhan tertipu oleh senyumnya. Apakah ada hal lain yang tersembunyi di balik tubuh kurus, tatapan lurus dan senyum manis itu?

Rasa protektif mengembang sedemikian rupa di dalam diri Luhan.

“Aneh sekali. Kenapa aku menginginkan sesuatu tapi sekaligus juga berharap tidak pernah menginginkannya?”Luhan bertanya dengan suara keras. Entah itu untuk Seunghyun atau justru untuk dirinya sendiri.

“Mungkin karena anda tahu apa yang anda inginkan akan membuat seseorang terluka,”balas Seunghyun, pelan.

“Aku akan membuatnya terluka…”gumam Luhan. Jemarinya kini telah berpindah ke pipi pucat Sera. “Kau benar. Dia akan terluka, dan aku masih begitu egois mengikatnya sampai diriku puas. Aku membuatnya terpisah dari orang yang ia cintai. Aku bukan orang baik yang bisa membuatnya selalu tersenyum. Tapi aku menginginkannya, Seunghyun. Aku menginginkannya. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini, aku hanya tahu aku menginginkannya.”

“Tuan muda Han…”

“Seandainya aku punya sedikit saja kebaikan hati Luxien, sudah sejak awal aku melepasnya. Entah bagaimana caranya, meskipun harus memotong jari kelingkingku.”

Luhan memindahkan Sera ke rumah sakit yang ada di Seogwipo. Rumah sakit itu memiliki peralatan yang lebih lengkap dan fasilitas yang lebih bagus, sehingga perawatan Sera akan semakin baik. Dan yang jelas, Seogwipo adalah daerah pesisir pantai yang cukup jauh dari Gyorae. Seunghyun yang mengurus semua administrasinya, dan sebelum Sera lepas dari pengaruh obat bius, gadis itu telah dipindahkan dengan menggunakan ambulans.

Seperti yang Luhan katakan, ia berniat mencuri. Ya, mencuri Sera.

Beberapa kali Baekhyun mengirim pesan pada Sera, dan beberapa kali itu pula Luhan acuhkan. Baekhyun pasti kebingungan dan merasa tidak tenang—terlihat dari bagaimana ia beberapa kali menelepon ke handphone Sera setelah pesannya tidak juga mendapat balasan—karena sejak sore kemarin hingga pagi hari ini ia tidak memperoleh kabar apapun dari Sera. Hal yang tidak biasa mengingat Sera selalu terhubung dengan Baekhyun entah hanya lewat pesan di SNS atau telepon.

Sebenarnya Luhan bisa saja menyuruh Seunghyun untuk membalas pesan-pesan Baekhyun. Berpura-pura menjadi Sera dan meyakinkan bahwa gadis itu baik-baik saja sehingga Baekhyun tak perlu meneleponnya. Tapi hal itu tak Luhan lakukan. Ia tidak mau. Luhan menikmati menyiksa Baekhyun dengan cara seperti itu. Ia bahkan sempat berniat meninggalkan handphone Sera dalam keadaan non-aktif di rumah sakit Gyorae agar Baekhyun tak bisa menghubungi Sera lagi. Tapi bayangan akan betapa murkanya Sera nanti jika gadis itu tahu, membuat Luhan mengurungkan niatnya.

Ia masih harus menghadapi kemurkaan Sera karena telah membawa gadis itu pergi dari Gyorae, dan Luhan tidak mau menambahnya lagi.

“Kau sudah siuman?”Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luhan ketika melihat kelopak mata Sera bergerak-gerak pelan sebelum kemudian membuka. Pemuda itu tak bisa menahan senyum penuh kelegaannya. Ia merunduk ke arah Sera. Memegang puncak kepala gadis itu.

Pandangan mata Sera masih begitu buram. Ia mengerjap beberapa kali. Memperbaiki fokus retina-nya. Rasa pening di kepalanya dan nyeri di beberapa bagian tubuh membuatnya mengerang pelan. Sebelum akhirnya, sosok itu tertangkap jelas oleh inderanya. Mata yang jernih tapi penuh kesedihan. Senyum yang indah tapi begitu muram. Wajah yang tampan bak malaikat tapi terbayang-bayang mendung. Pemuda itu, pemuda yang terikat benang merah dengannya.

“Luhan?”

“Hm? Ya. Aku disini, Cheonse. Apa masih terasa sakit?”Kilatan mata Luhan penuh oleh kekhawatiran.

“Sedikit.”Sera memejam lagi. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya hingga membuatnya sakit seperti ini. Ah iya, kecelakaan itu. “Aku di rumah sakit?”

“Hm. Aku akan memanggil dokter untuk memberitahu kau sudah siuman.”

“Tunggu…”Sera menahan lengan Luhan yang hendak beranjak meninggalkannya. “Bisakah kau tetap disini?”tanya Sera. Matanya yang sayu dan cengkeramannya yang erat di kulit Luhan, membuat pemuda itu mengurungkan niatnya dan kembali duduk di sisi ranjang Sera.

Waeyo? Apa kau baik-baik saja?”

Sera mengangguk kecil. “Aku hanya takut ditinggal sendirian saat di rumah sakit. Aku takut tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang padaku, dan tidak ada yang aku beri ucapan selamat tinggal.”

Napas Luhan tersumpal di tenggorokan. Keningnya mengeryit, tidak suka dengan isi kalimat Sera. “Apa maksudmu? Jangan berkata hal buruk seperti itu, Cheonse.”

“Maaf… ini kebiasaan,”lirih Sera.

Luhan memandangi Sera dengan ekspresi sedih dan bersalah. Ini pasti karena pengalaman sakitnya 5 tahun lalu. Sera pasti sering keluar masuk rumah sakit, dan setiap kali masuk ia terus dihadapkan pada ketakutan bahwa ia akan keluar dengan tubuh tak bernyawa. Ya Tuhan…

“Maafkan aku. Aku yang membuatmu seperti ini…”

Sera mempelajari wajah Luhan. Melihat kejujuran hati yang nampak disana. Wajah sedih dan payah pemuda itu lebih menjelaskan sesuatu daripada ucapan maaf. Luhan menyesal. Sangat menyesal karena saat itu tak sadar telah menarik benang merahnya terlalu kuat hingga menyebabkan Sera jatuh ke jalan raya dan tertabrak mobil.

“Apa aku seharusnya marah padamu?”

Luhan nampak terkejut, tapi kemudian wajahnya berubah lesu dan kemudian ia mengangguk kecil. “Kau seharusnya memakiku saat ini.”

“Hmm, benar.”Gadis itu mengangguk-angguk kecil. Lalu bibirnya menarik sebuah senyuman lemah yang tetap nampak manis. “Tapi bagaimana ya? Aku justru merasa kasihan padamu, Lu. Kau pasti merasa sangat bersalah padaku. Lihat kantung mata menyedihkanmu itu! Aigho… apa semalam kau tidak tidur, eh? Kau menungguiku terus-terusan?”

“Yahh…”

Tentu saja, mana mungkin Luhan bisa tidur? Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sera. Meskipun Seunghyun berkali-kali memohon padanya untuk tidur barang sebentar dan berjanji akan menunggui Sera sebagai gantinya. Tapi setiap kali Luhan memejamkan mata, ia teringat sosok Sera yang tergeletak di aspal dengan kepala berdarah dan sosok Luxien yang tiba-tiba ambruk…

Oh! Mana mungkin Luhan bisa tidur!!

“Aku tidak bisa marah padamu, disaat aku seharusnya marah. Sial!”Sera nyengir lalu tawa kecil meluncur dari bibirnya. Tawa yang otomatis menular pada Luhan. Menerbitkan sebuah senyuman halus di bibir pemuda tampan itu. Tidak biasanya Luhan bersikap begitu lembut. Ia jarang sekali membiarkan orang lain melihat ekspresi hangatnya. Namun tidak kali ini. Bukan karena ia telah menyerahkan perasaannya pada Sera, tapi karena ia memang tidak bisa lagi menutup-nutupi semua itu. Sera dengan caranya sendiri, mampu memanggil sisi terdalam Luhan. Seperti halnya benang merah yang menghubungkan mereka, Sera juga laksana sebuah keajaiban bagi Luhan.

“Keadaanmu seharusnya baik-baik saja, tapi kondisi jantungmu membuat dokter khawatir,”jelas Luhan kemudian sambil tangannya dengan penuh perhatian merapikan rambut-rambut Sera yang menutupi keningnya. Wah, wah, sejak kapan Luhan jadi tak sanggup menahan diri untuk tidak menyentuh Sera seperti ini?

Mata Sera melebar. Lalu manik itu bergerak ke samping. Gelisah. Luhan mengerti arti ekspresi itu.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya? Tentang kondisi jantungmu.”

“Aku sudah dinyatakan sembuh oleh dokter satu tahun yang lalu. Aku tidak mengkonsumsi obat lagi dan tidak perlu check up tiga bulan sekali seperti dulu. Jadi ku pikir hal itu sudah tidak penting lagi…”Sera menghela napas. “Lagipula aku juga tidak ingin mengingat-ingatnya. Yang penting aku hidup dengan sehat selama setahun ini.”

“Baguslah, walaupun kau bodoh dan menyebalkan, setidaknya kau punya mental yang kuat.”

“Yak! Apa maksudmu bodoh dan menyebalkan? Xiao Luhan! Jangan mengajakku bertengkar lagi, okay? Atau aku akan mencubitmu!”

“Silahkan! Tapi aku akan otomatis membalasmu. Kau punya banyak luka yang bisa kumanfaatkan!”Luhan menyeringai dan menyiapkan jarinya untuk menyentil kening Sera yang luka.

“Dasar iblis! Kau masih saja berniat usil padaku meski aku terluka seperti ini, eo! Napeun!”

“Sepertinya kau sudah cukup sehat, melihat kau sudah pintar mengomel seperti biasa.”Tangan Luhan mencubit pipi Sera gemas.

“Ah. AWH!”pekik Sera. Terlalu keras dan nampak begitu kesakitan.

Wae? Wae? Wae?”Luhan panik. Apa jangan-jangan ada luka yang tersembunyi di rahang Sera? Yang tak terdeteksi sebelumnya? Aish! Sial! Apa yang kau lakukan Luhan! Jangan menyentuh Sera jika kau hanya akan melukainya! Dasar bodoh!

“Pembohong!”Sera menatap Luhan dengan senyum meremehkan. Ekspresi kesakitannya tadi mendadak hilang, berganti dengan ekspresi puas. “Kau tidak akan bisa balas menyakitiku, Xiao Luhan!”

“Kau—”Luhan kehilangan suaranya. Tak menyangka Sera akan mengerjainya dengan cara yang sangat menyebalkan seperti itu. Apa ia tidak tahu kalau Luhan hampir saja terkena serangan jantung tadi?! Sialan! “Kau sungguh menyebalkan, Cheon Sera.”

“Terima kasih atas pujiannya, Xiao Luhan-ssi…”

Luhan mendengus keras. Diiringi tawa kecil Sera. Yaaah, setidaknya Sera sudah bisa kembali ceria, kan? Gadis itu begitu cepat melupakan luka di kepala dan di sekujur tubuhnya. Ia bahkan telah menumbuhkan senyum dan menggelontorkan rasa lega di hati Luhan. Gadis itu baik-baik saja. Ia akan sehat lagi dalam hitungan hari. Luka-lukanya akan mengering dan hilang. Meski harusnya ia segera meminta dokter untuk memeriksa Sera. Agar Luhan memperoleh kepastian itu dari tenaga medis yang lebih paham. Tapi, saat ini gangguan dari kehadiran dokter sepertinya tidak diperlukan…

“Apa yang kau katakan pada Baekhyun, Lu? Kau tidak bilang padanya kalau aku di rumah sakit kan?”

Atau diperlukan? Oh seharusnya Luhan segera memanggil dokter sebelum Sera bertanya lebih jauh, ya kan?

“Ah iya, disini ada telepon. Kita bisa memanggil dokter untuk memeriksamu…”

“Luhan…”Sera setengah merengek. Ia memegangi tangan Luhan yang terjulur untuk meraih gagang telepon yang tertempel di dinding yang ada di atas agak samping kepala Sera. “Baekhyun pasti menghubungiku kan? Kau bilang apa padanya?”

“Aku tidak bilang apapun.”

Waeyo? Mana ponselku? Baekhyun pasti cemas jika tidak mendengar kabarku seharian.”

“Bukankah Baekhyun sedang sibuk dengan kegiatan kampusnya. Dia tidak mungkin sempat menghubungimu,”kilah Luhan.

“Baekhyun tidak pernah seperti itu. Mana ponselku, Luuu?”

Ponsel itu ada di laci terbawah meja samping tempat tidur Sera. Sengaja Luhan letakkan disana dan sengaja juga ia non-aktifkan suaranya. Harapannya, Sera tak akan pernah menemukan ponselnya itu selama-lamanya. Ia kini mulai menyesal tidak mengikuti ide awalnya untuk meninggalkan ponsel Sera di Gyorae.

“Luhan!”

Greeek. Pintu geser ruang rawat itu terbuka, mengalihkan perhatian Sera dan Luhan. Thanks God!! Seunghyun datang di saat yang tepat!

“Kenapa lama sekali?”tanya Luhan pada Seunghyun yang melangkah masuk ke dalam ruangan. Sengaja benar mengubah topik pembicaraan ke arah Seunghyun.

Pria tampan berbadan tegap dan dibalut setelan rapi itu membungkuk hormat pada Luhan terlebih dulu sebelum menjawab. Di kedua tangannya, Seunghyun menenteng plastik belanjaan berisi beberapa potong pakaian dan sarapan untuk Luhan.

“Maaf, tuan muda. Ada yang harus saya lakukan terlebih dulu…”Seunghyun melirik pada Sera sebagai tanda bahwa hanya sampai disitu ia bisa memberikan laporannya mengingat Sera sudah siuman dan hal ini tidak boleh diketahui oleh Sera. Tadi setelah mencarikan baju dan makanan untuk Luhan, ia sempatkan diri untuk mampir ke rumahnya di Seogwipo. Seunghyun merasa perlu mengecek sendiri keadaan rumah sebelum ditempati oleh Luhan, meski semalam ia telah menelepon pengurus rumah untuk membersihkan rumah dan menatanya sebaik mungkin. Sera pasti mengira ia berada di Rumah Sakit Gyorae, melihat betapa tenang raut wajah gadis itu. Semalam Luhan sudah menceritakan pada Seunghyun tentang kekasih Sera bernama Byun Baekhyun. Pria itulah yang melatari keputusan Luhan untuk membawa Sera ke Seogwipo. Untuk memisahkan Sera dengan Baekhyun—meski hanya untuk sementara.

Seunghyun tersenyum pada Sera. Raut wajah pucat gadis itu telah diganti dengan rona pipi dan ekspresi yang lebih bersinar. Gadis yang cantik. Ah, salah, tidak cukup cantik memang jika dibandingkan teman-teman Luhan dan mantan-mantan pacarnya, tapi gadis ini punya sesuatu yang berbeda. Seunghyun yakin, Cheon Sera tidak perlu berdandan bak bidadari untuk mematahkan hati seorang pria. Ia hanya perlu sebuah senyuman dan tatapan lurus dari mata indahnya itu untuk melelehkan hati sekeras granit. Gadis yang istimewa.

“Saya adalah pengawal pribadi Tuan Muda Han, Nona Cheon Sera. Nama saya Choi Seunghyun. Terima kasih telah menjaga Tuan Muda Han selama ini.”

Diperlakukan seformal itu oleh Seunghyun entah mengapa membuat Sera gugup. Ia melirik pada Luhan yang nampak biasa saja mendengar nada hormat yang begitu kental dari seorang pria yang jelas lebih tua dari Luhan. Tentu saja. Xiao Luhan orang kaya, bukan? Sera pernah membayangkan kehidupan Luhan yang mungkin tidak jauh berbeda dengan kehidupan para chaebol yang sering divisualisasikan di drama-drama korea. Tapi melihatnya langsung, tetap saja membuat Sera takjub. Luhan bahkan punya pengawal pribadi yang tak kalah tampannya dengan T.O.P BIGBANG!! Dan pengawalnya adalah orang Korea! Hebat!!

“Akhirnya kau menghubungi keluargamu di Beijing?”

“Hanya Seunghyun. Aku butuh uang untuk membayar rumah sakit.”

Sera mengerutkan dahinya. Lalu ia menoleh pada Seunghyun. “Anda memberitahu keluarga Luhan kalau anda ke Jeju, Seunghyun-ssi?”

“Tidak. Tuan muda tidak mengijinkan saya untuk memberitahu keluarga di rumah. Dan tolong agashi, jangan bicara terlampau formal pada saya.”

“Dan anda menurutinya begitu saja?”tanya Sera sekali lagi, mengabaikan permintaan Seunghyun untuk tidak bicara formal padanya. “Keluarga Luhan berhak tahu, bukan? Ia sudah menghilang selama seminggu!”

Seunghyun tersenyum simpul. “Saya mengerjakan apapun yang diperintahkan tuan muda Luhan.”

Sera ternganga, lalu melirik pada Luhan yang nampak tersenyum puas.

“Seunghyun-ssi, kalau Luhan memintamu berdandan seperti badut lalu bersalto di depannya, apa kau akan menurutinya?”

“Tentu saja, agashi.”Seunghyun menjawab ringan. Tak ada keraguan sedikitpun.

Konyol. Apa memang pekerjaan bodyguard seperti itu? Mengiyakan dan melakukan apapun yang diminta tuan-nya? Sera bahkan merasa yakin Seunghyun akan melakukan apapun perintah Luhan meski ia harus terjun dari Tokyo Tower. Whoah, hebat sekali! Sangat hebat!!

“Wae? Jangan ternganga seperti itu, Cheonse. Seunghyun mendapat bayaran yang cukup besar untuk melakukan itu semua. Jadi jangan pikir semua pelayanan Seunghyun padaku hanya Cuma-Cuma. Dan aku telah memperlakukannya dengan cukup istimewa hingga bisa memperoleh kesetiannya.”

Seunghyun tersenyum simpul. “Itu benar, agashi.

Takjub. Hanya satu hal itu yang ada dipikiran Sera saat melihat Luhan dan Seunghyun yang berdiri bersisian. Luhan yang nampak casual, angkuh, bertubuh ramping, kulit yang pucat, bentuk wajah yang terlalu rupawan hingga cenderung cantik, pas sekali dengan sosok pangeran di negeri dongeng. Sedangkan Seunghyun yang bertubuh jangkung, mengenakan pakaian formal yang rapi, berwajah tegas, bersorot mata tajam bagai elang, nampak pas sekali dengan sosok jenderal yang melindungi sang pangeran. Keren. Benar-benar keren!

Uuh… Sera jadi teringat anime Black Buttler. Apa Seunghyun juga melayani Luhan seperti Sebastian melayani Ciel ya? Membangunkan sang tuan muda di pagi hari, menyiapkan teh dan setangkup kue di meja, menyiapkan air hangat untuk mandi, melepaskan pakaian Luhan, menggosok punggungnya, pftttttt~~ cukup Sera! kau bisa mimisan jika membayangkan yang tidak-tidak!! Stop!! Stoooop!!

Tapi… tapi, mereka cocok sekali. Luhan pasti akan sangat pas berada digendongan Seunghyun. Oh tidak, imajinasi Sera melanglang tak tentu arah. Seandainya Luhan perempuan, ia pasti akan menjadi nona muda yang sangaaat cantik. Dan kisahnya dengan Seunghyun mungkin tidak akan menjadi kisah cinta yang terlarang. Astaga…. sepertinya otak Sera memang sudah konslet.

“Kenapa wajahmu merah seperti itu, Cheonse?”tegur Luhan dengan mata yang menyipit curiga.

“Eh?”Sera merasa malu. Seolah apa yang di dalam otaknya memancar seperti proyektor dan Luhan bisa melihat imajinasi-imajinasi terlarangnya. Padahal itu kan tidak mungkin. Gadis itu menggeleng pelan, tak tahu harus menjawab apa, sambil menarik selimutnya hingga ke dagu.

“Sepertinya aku memang harus memanggil dokter. Ada yang nampak salah denganmu.”

Ya. Ya. Please, call the doctor sebelum Sera semakin jatuh pada kisah boyxboy yang bermunculan di sudut-sudut kepalanya. Sepertinya benturan kemarin terlalu keras merusak otak kanannya. Heol~~

Luhan menelepon ruang jaga perawat yang langsung terhubung setelah Luhan menekan tombol berwarna hijau. Ia berbicara sebentar pada perawat sembari melirik Sera yang sedang mengamati gerak-gerik Seunghyun yang sedang menata baju ganti Luhan di atas meja. Ck, apa sih yang dipikirkan gadis itu? Ia nampak tertarik sekali pada Seunghyun.

Ne. Gamsahamnida. Ne. Kami akan menunggunya.”

Sera beralih menatap Luhan. Ia beradu pandang dengan Luhan sebelum pemuda itu menutup teleponnya.

Waeyo?”

“Lu… please.”

“…..”

“Bisakah kau berikan ponsel-ku? Aku harus menelepon Baekhyun.”

Dammit.

Ternyata Sera masih mengingatnya. Luhan pikir perhatian Sera telah teralih sepenuhnya sehingga masalah ponsel dan Baekhyun akan menjadi topik yang akan terangkat setelah waktu yang cukup lama. Tapi ini… bahkan tak lebih dari 10 menit dan ia harus menghadapi rengekan Sera lagi. Oh, mungkin tidak, jika Luhan segera memberikan ponsel Sera dan membiarkan ia menghubungi Baekhyun.

Oh.

Oh. Mungkin iya, karena Luhan merasa tidak rela jika hal itu terjadi. Tolong jangan tanya kenapa, Luhan sendiri terlalu ngeri untuk sekedar melintaskan pertanyaan itu di otaknya.

Lagi-lagi… suara pintu yang bergeser terbuka menyelamatkan Luhan dari keharusannya berdebat dengan Sera. Thanks God!! Campur tangan Tuhan terasa hebat sekali hingga bisa membuat alam seolah berkonspirasi untuk menunda keinginan Sera berbicara dengan kekasihnya. Luhan tak bisa menahan sudut bibirnya terangkat memikirkan hal itu.

Seorang dokter muda melangkah masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh dua orang suster yang langsung terpana ketika melihat 2 pemuda tampan di ruangan itu. Seunghyun seperti biasa langsung maju menyambut, sedangkan Luhan hanya berdiri dengan senyum samar. Tidak terbiasa beramah tamah dengan orang asing.

Dokter itu maju menghampiri Sera yang terbaring di tempat tidur, lalu berdiri di sisi yang berseberangan dengan Luhan. Saat itu lah tatapannya benar-benar bertemu pandang dengan Luhan. Mata di balik kacamata itu menyipit seperti sedang memastikan apakah ia salah lihat atau tidak.

Reflek, Luhan mengerutkan keningnya karena tatapan aneh itu. Apa ada yang salah dengan wajahnya? 

Sudah berapa kali Baekhyun mengecek ponselnya dan berakhir dengan kening berkerut dan gumaman bernada cemas sekaligus kesal di bibirnya? Entahlah. Ratusan kali mungkin. Sejak semalam, sejak ia tak mendapatkan kabar apapun dari Sera, Baekhyun tak bisa sejenak pun melepaskan pikirannya dari gadis itu. Berlebihan? Mungkin. Ia sudah 3 tahun berpacaran dengan Sera, tapi masih saja tak sanggup bertahan sehari saja tanpa mendengar sapaan halus gadis itu atau sekedar pesan teks manis di handphonenya. Tidak. Ralat. Bukan sehari. Bahkan setengah hari saja, Baekhyun tak sanggup.

Kemana Sera? Kenapa ia tak mengangkat telepon dan membalas pesannya?

Baekhyun posesif. Protektif. Obsesif. Terserah apapun label yang disematkan padanya, Baekhyun tak peduli. Semua sikapnya ini menurutnya bukan tanpa alasan. Ia mencintai Sera. Sangat. Tapi itu hanyalah alasan pertama, masih ada alasan kedua, ketiga dan seterusnya. Baekhyun tahu bagaimana kehidupan gadis itu sebelumnya, terutama betapa menderitanya Sera selama berjuang melawan penyakit jantung dan betapa kesepiannya Sera yang dibesarkan tanpa sosok seorang ibu. Ia melihat kesedihan Sera, air matanya, dan bersumpah untuk menghapus semua itu dan selamanya terus menghadirkan senyuman di bibir Sera. Baekhyun ingin melindungi gadisnya itu. Sebagai balasan karena gadis itu telah percaya pada Baekhyun dan telah memberikan jiwa raganya, Baekhyun memberikan kehidupannya.

Aku akan menjaga Sera selamanya, samchon. Aku bersumpah!” Itu lah janji yang Baekhyun ucapkan di depan altar pemakaman Cheon Sangjoon—Ayah Sera. Janji yang selama 3 tahun ini ia pegang teguh.

Baekhyun kembali melihat layar ponselnya. Tepat saat itu sebuah pesan masuk. Sayangnya bukan dari Sera, melainkan Jinhwan.

From :: Jinhwan

Lampu di rumah noona mati, sepertinya ia tidak pulang semalam, hyung! Bagaimana ini? Apa hyung sudah menghubungi teman-temannya?

Baekhyun mengusap wajahnya. Gusar. Ya Tuhan, Sera. Ada apa sebenarnya? Kau dimana?

Keriuhan yang ada di ruang auditorium tempat diselenggarakannya seminar tak membuat perhatian Baekhyun teralih. Ia duduk di ruang yang ada di belakang panggung. Bersama ke tiga teman panitianya yang berada di sudut lain ruangan dan asyik berdiskusi tentang isi seminar yang sedang berlangsung. Jika bukan karena memikirkan Sera, pasti Baekhyun sekarang juga ada disana. Duduk bersama teman-temannya dan larut dalam diskusi seru karena tema seminar kali ini juga sangat menarik minatnya.

Syukurlah, sebelum Baekhyun terlalu larut dalam kekalutannya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Nama dan foto profil yang tiba-tiba muncul diikuti lagu Death Disco milik Sekai No Owari yang sengaja ‘gadis itu’ pasang sebagai nada panggilan khusus untuknya, membuat Baekhyun tak perlu menunggu sedetik pun untuk segera menggeser tanda hijau.

“SERA?!”Seruan Baekhyun terlontar begitu saja dari bibirnya. Lega sekaligus juga jengkel, bahkan ada sepercik rasa marah disana. Kemana saja gadis ini? Apa dia tidak tahu betapa khawatirnya Baekhyun seharian ini?!

“Kofuuu~”

Suara manis itu seperti lelehan coklat panas yang mencairkan batu es, semua perasaan jengkel dan marah Baekhyun lenyap begitu saja. Hanya ada kelegaan.

“Kau kemana saja, Kiara? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”Suara Baekhyun begitu lembut. Seolah sedang membujuk Sera untuk tidak melakukan hal itu lagi padanya jika tidak ingin melihat Baekhyun kehilangan kewarasan.

Mianhae… ponselku hilang, dan ini baru saja kutemukan.”

“Bagaimana bisa?”

“Uh… Aku menjatuhkannya, untungnya ada orang yang menemukannya dan berbaik hati mengembalikannya padaku.”

“Hhh… syukurlah, aku takut terjadi hal yang buruk padamu, Kiara. Lalu dimana kau sekarang? Jinhwan bilang lampu rumahmu tak menyala semalaman. Kau tidak pulang ke rumah sejak kemarin eh?”

“Aaah… itu… aku pergi ke acara gathering Tobikko di Sehwa. Dan aku lupa tidak memberitahu Ibu Jinhwan.”

“Seogwipo?”

“Ne.”

“Lalu kapan kau pulang?”

“Nanti sore…” Nada suara Sera menggantung. “Mungkin…”

“Bukankah besok kau ingin menonton seminar Kim Jung Ah?”

“Ah! Benar!”

“Jadi sore ini kau harus pulang, chagiya.”

“Ah… iya… iya, aku akan usahakan untuk pulang.”

“Kau sungguh baik-baik saja kan?”

“Iya, Baek. Aku baik-baik saja.”

Jika saja Baekhyun mengesampingkan kelegaannya yang berlebih, ia pasti bisa menangkap ada missing link dari penjelasan Sera. Gadis itu tidak biasanya menjawab dengan kalimat singkat dan seperlunya seperti itu. Lagipula sejak kapan gadis itu pergi tanpa bilang dulu pada Baekhyun. Ia bertemu dengan Sera kemarin pagi kan? Tapi saat itu Sera tidak bilang apa-apa. Gathering dengan Tobikko, dengan teman-teman sesama fans Hey! Say! JUMP tentu akan menjadi agenda yang akan diceritakan terus-terusan pada Baekhyun oleh Sera. Gadis itu bukankah selalu antusias menceritakan kegiatan fangirling-nya meskipun Baekhyun tak pernah menanggapi dengan sama antusias?

Dan seandainya saja Baekhyun kemarin pulang ke rumah, ia pasti akan mendengar cerita pertemuan ayahnya dengan Sera dan Luhan. Bagaimana mereka sempat makan siang bersama dan ayah Baekhyun mengantar Sera ke rumah hanok lamanya. Jadi mana mungkin Sera tiba-tiba ada di Sehwa bahkan tanpa pamit dengan keluarga Kim Jinhwan terlebih dulu.

Sera jelas-jelas membohonginya. Tapi sinyal-sinyal kecurigaan tak pernah berdering di kepala Baekhyun dengan nyaring. Suara samarnya tertelan oleh suara manis Sera yang selalu Baekhyun rindukan. Baekhyun bahkan tidak sadar sedikitpun bahwa Sera mulai melangkah menjauh darinya.

Selangkah demi selangkah.

Ya. Selangkah demi selangkah.

Sera sendiri tak sadar apa yang ia lakukan ini telah membuat langkahnya semakin menjauh dari Baekhyun. Langkah menjauh itu ia buat tepat setelah Luhan berteleportasi ke rumah atapnya dan benang merah mulai mengikat kelingkingnya. Langkah menjauh itu tak sadar telah Sera buat ketika ia memutuskan untuk merahasiakan semua itu pada Baekhyun.

Sera menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam setelah menyudahi pembicaraannya dengan Baekhyun via telepon. Ia membohongi Baekhyun. Lagi.

“Apa yang aku lakukan sebenarnya?”keluhnya pelan.

Luhan yang duduk di sofa tak jauh dari tempat Sera berada hanya memandangi gadis itu dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. Siapa lagi yang mendorong Sera untuk tidak memberitahu kondisinya saat ini pada Baekhyun jika bukan Luhan? Pemuda itu lah yang menghasut Sera dengan mengatakan bahwa jika Baekhyun tahu Sera kecelakaan dan dirawat di rumah sakit hanya akan menyebabkan keberadaan Luhan terbongkar dan tentu akan membuat Baekhyun kecewa.

Awalnya Sera tentu tidak mau menerima saran Luhan. Ia sudah cukup banyak merahasiakan sesuatu dari Baekhyun, jadi ia tidak mau lagi jika harus berbohong pada pria itu. Tapi ketika suara bernada cemas Baekhyun terdengar, lidah Sera kelu. Bagaimana jika Baekhyun bertemu dengan Luhan? Bagaimana Sera harus menjelaskan situasinya? Bagaimana jika Baekhyun memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan? Bagaimana jika Sera belum siap menjawabnya? Bagaimana, Bagaimana, Bagaimana…. dan banyak lagi bagaimana. Apalagi saat tatapannnya tanpa sengaja bertautan dengan mata Luhan, Sera semakin tidak mampu untuk menyuarakan kondisinya saat ini dan kebohongan tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya.

“Jika saja liontin itu dihancurkan dan benang merah ini putus, aku tidak perlu membohongi Baekhyun lagi.” Gumaman Sera cukup keras untuk sampai ke telinga Luhan. Gadis itu memang sengaja, untuk menggugah Luhan agar mau mempertimbangkan lagi tentang masalah liontin Luxien. Tapi melihat Luhan yang hanya menatapnya tajam tanpa membuka mulutnya semilimeter-pun, sepertinya harapan Sera sia-sia. Pemuda itu tetap tidak membolehkan Sera menghancurkan kalung Luxien.

“Egois!”desis Sera terang-terangan.

Luhan menyipit, sedikit tersinggung. Tapi daripada berkonfrontasi dengan Sera saat ini, Luhan memilih membaringkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya. Semalam ia tidak tidur sama sekali dan kini ia mengantuk.

“Sikapmu benar-benar membuatku gila, Xiao Luhan!”hardik Sera yang dibalas Luhan dengan bergerak memiringkan tubuhnya membelakangi Sera. Sempurna mengacuhkan gadis itu.

Sebuah mobil Jaguar membelah lalu lintas Gong Ti West Road. Gedung-gedung pencakar langit dan kemegahannya yang dingin menjadi pemandangan sehari-hari di Distrik Chaoyang, Beijing. Meski sudah melewati rute jalan ini jutaan kali, Xiao Yumin tak pernah cukup bosan untuk melemparkan pandangan ke luar jendela mobilnya. Sinar matahari sore memantul dari setiap jendela kaca gedung yang ia lewati, memaksa Yumin untuk memejamkan mata karena tak tahan dengan kilaunya.

“Choi Seunghyun menghilang, xiansheng. Menurut cerita dari Nona Kim Yoojung, Seunghyun tiba-tiba saja menariknya keluar dari dalam Angel Club, lalu mengantarnya pulang dengan paksa dan langsung buru-buru pergi. Tidak ada yang tahu kemana Seunghyun setelah itu, handphone-nya juga tidak aktif. Kami sedang mencoba menanyai sekretaris Seunghyun saat ini, tapi wanita itu susah sekali diajak bekerja sama.” Begitu laporan dari sekretaris pribadi Yumin yang duduk di samping sopir. Yumin menyimaknya tapi tetap diam untuk beberapa saat. Tidak perlu berpikir keras untuk tahu kemana Seunghyun pergi, bukan? Pasti ke tempat Luhan.

“Minta kerjasama dari otoritas bandara untuk melacak kemana Seunghyun pergi. Ada kemungkinan dia menggunakan paspor palsu jadi perhatikan juga setiap wajah yang kemarin melakukan penerbangan dari Beijing. Seunghyun punya mata yang tidak biasa, jadi menyamar seperti apapun dia, matanya pasti bisa dengan mudah dikenali. Lagipula, jika benar Seunghyun pergi dalam keadaan buru-buru, ia pasti tidak punya cukup waktu untuk bersiap-siap. Jadi aku yakin kita akan lebih mudah menemukannya.”Yumin menjeda sejenak kalimatnya untuk mengambil napas. “Dan setelah tahu kemana Seunghyun pergi, langsung beritahu aku. Jangan membocorkannya pada siapapun. Sebelum memberitahu keberadaan Luhan pada Baba, sepertinya aku harus menemui anak itu terlebih dulu.”

“Baik, xiansheng.

Mobil yang ditumpangi Yumin berhenti di sebuah restoran eksklusif bernuansa Tionghoa yang kental dan mewah. Sekretaris Yumin—seorang pria awal 30an yang memakai kacamata tebal dan bertubuh pendek—membukakan pintu untuk Yumin dengan terburu-buru. Yumin menggumamkan kata terima kasih dan berjalan mendahului masuk ke dalam restoran. Beberapa orang penting sedang menunggunya disana.

“Maaf saya terlambat.” Yumin memasang raut menyesal ketika melihat empat orang pria paruh baya bersetelan jas mahal yang telah duduk rapi mengitari meja yang penuh berisi makanan-makanan mewah. Ke-empat orang itu lantas berdiri dengan pelan untuk menyambut Yumin. Mereka saling membungkukkan badan dan melemparkan sapaan hangat lalu menempati tempat duduk masing-masing. Ruangan VVIP restoran itu berdesain tradisional dengan tempat duduk di lantai. Orang-orang yang ditemui Yumin ini adalah para petinggi perusahaan Tian-C. Mereka adalah pemegang saham dan sekaligus juga direktur di anak perusahaan Tian-C. Posisi yang begitu penting dan senioritas mereka membuat Yumin merasa tetap harus bersikap hormat meski dia adalah anak sang pemilik perusahaan dan memiliki posisi yang bisa dibilang tinggi di Gedung Pusat Tian-C.

Mereka mengundang Yumin—hanya Yumin, tanpa sepengetahuan Babanya—ke jamuan makan malam ini.

Meski awalnya perbincangan berjalan santai, dengan joke-joke ringan ditemani makanan lezat dan beberapa gelas anggur, tapi Yumin sejak awal sudah memasang mode siaga. Maksudnya, ia bisa menebak ke arah mana nanti pertemuan ini, dan Yumin hanya menunggu sampai ada salah satu yang memicu topik itu ke permukaan.

“Bagaimana kabar Xiao Luhan? Ku dengar ia ‘lagi-lagi’ kabur dari rumah.”

Nah.

“Acara pertunangannya batal, dan lagi-lagi Xiao Luhan menjadi buah bibir dimana-mana, Yumin. Untung saja keluarga Kim tidak murka, kau tahu sendiri apa akibatnya jika perusahaan mereka membatalkan kerja sama dengan pihak kita. Jumlah nominal kerugiannya bukan main!”

“Aku tidak mengerti, ia memiliki gen terbaik dari keluargamu tapi sikapnya sama sekali tidak mencerminkan itu.”

Yumin menyesap teh hijaunya dengan gerakan kalem. Wajahnya masih berusaha ia jaga agar tetap tenang, meski ada rasa tak rela mendengar adiknya dijelek-jelekkan seperti itu. Yumin telah belajar dari pengalaman. Marah pun percuma karena Luhan sendiri memang seolah menunjukkan bahwa ia tidak patut dibela. Pemuda itu tak pernah mau memperbaiki sikapnya agar tidak terus-terusan dicap buruk. Merepotkan.

“Sifat-sifat baik dari Direktur Xiao dan Nyonya Xiao sepertinya tidak menurun ke Luhan melainkan ke putranya yang satu lagi. Sayang sekali ia tidak berumur panjang.”

Mata Yumin memejam. Tahu apa mereka tentang Luhan dan Luxien. Mereka hanya melihat apa yang nampak di permukaan, tapi selalu saja begitu mudah memberi penilaian.

“Apa Xiao Luhan masih tidak bisa menyentuh komputer?”

Yumin mengangguk untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya itu. “Ya, Lao Li.

“Ckckck, hal yang ia bangga-banggakan selama ini akhirnya menjadi sesuatu yang sia-sia. Bagaimana bisa Direktur Xiao tetap bersikeras menyerahkan perusahaan pada Xiao Luhan? Pemuda itu bahkan tidak bisa membaca email atau membalas chatting tanpa bantuan pengawal setianya.”

Kekehan dengan nada mengejek keluar dari 4 mulut di sekitar Yumin. Lagi-lagi Yumin berusaha untuk tetap tenang. Ia hanya tersenyum tipis demi sopan santun.

“Banyak yang menganggap Xiao Luhan tak pantas menjadi penerus Direktur Xiao. Tidak peduli adanya kemungkinan bahwa perusahaan akan kehilangan dukungan dari Keluarga Zhang—keluarga ibu tirimu, tapi perusahaan haruslah dipimpin oleh orang yang bertanggung jawab dan mumpuni. Mengurus perusahaan bukan permainan anak-anak, Xiao Luhan tidak mungkin bisa mengatasinya.”

Orang yang duduk di depan Yumin, menatap Yumin dengan keseriusan yang meyakinkan ketika menambahkan. “Dan orang-orang yang termasuk dalam kategori ‘banyak’ itu akan mengadakan pertemuan untuk menolak pengangkatan Xiao Luhan sebagai pemimpin Tian-C. Kami akan membuat petisi dan melibatkan serikat karyawan dalam hal ini. Tian-C bukan hanya milik Keluarga Xiao tapi juga seluruh karyawan yang bekerja membangunnya, jadi mereka tidak akan membiarkan Tian-C hancur karena dipimpin oleh orang yang salah. Xiao Luhan tidak kompeten, karena itu kami memilih seseorang yang lebih pantas dan kompeten.”

Jeda sejenak. Dan wajah itu kini menampakkan senyumnya di depan Yumin.

“Jadi kami memutuskan untuk memilihmu, Xiao Yumin. Kami memilihmu sebagai penerus Tian-C.”

Ekspresi wajah Yumin tak terbaca. Benar-benar setenang samudra. Ia sudah menduganya. Ya, Yumin sudah menduga hal ini akan terjadi.

I see myself in the mirror and I ask myself. Will it really make you happy if i let you gi? I’ll throw myself away completely becaude you need quite time to yourself. I haven’t imagined a life without you yet but please be happy. So that at least my lie can shine – VIXX LR, Beautiful Liar

Sera murka.

Ia tak percaya dengan apa yang telah Luhan lakukan padanya.

Sera begitu gembira setelah dokter mengabulkan permohonannya untuk segera pulang hari ini dan menjalani rawat jalan. Keputusan dokter itu diambil setelah melihat hasil CT Scan yang tidak menunjukkan adanya masalah dalam tubuh Sera setelah kecelakaan kemarin dan kondisi jantungnya yang menunjukkan sinyal ‘baik-baik saja’.

Rasa pening di kepalanya langsung terlupakan begitu Sera memikirkan bahwa ia bisa segera pulang dari rumah sakit. Ia juga bisa memenuhi janjinya pada Baekhyun untuk datang ke seminar besok dan bertemu dengan orang itu.

Tapi kegembiraan itu mendadak musnah karena apa yang telah dilakukan pria China brengsek itu padanya.

Awalnya Sera sempat merasa heran mengapa ia sampai harus jauh-jauh dirawat di rumah sakit Seogwipo. Ah, mungkin karena kondisi jantungnya yang sempat mengkhawatirkan dan Gyorae hanya punya rumah sakit kecil yang mungkin tidak punya dokter ahli jantung jadi Sera terpaksa di pindahkan ke Seogwipo untuk perawatan yang lebih baik. Luhan pun menganggukkan kepalanya ketika Sera mengutarakan dugaannya itu.

Tak menyangka bahwa ia telah dibohongi.

Sera mulai menyadari ada yang aneh saat Seunghyun terus melajukan mobilnya ke arah selatan. Padahal seingatnya Gyorae ada di sebelah barat Seogwipo. Tapi Luhan dan Seunghyun tidak bicara apapun dan sikap mereka berdua nampak begitu normal di mata Sera.

Dia masih saja tidak curiga ketika mobil yang membawa dirinya masuk ke area Phoenix Island, salah satu resort megah dan luar biasa indah di Jeju. Sera terlalu terpana menikmati hamparan padang rumput yang menyatu dengan kemewahan area Phoenix Island tanpa sempat memikirkan bahwa ia harusnya bertanya pada Luhan mengapa ia dibawa ke tempat ini dan bukannya ke rumah atap mungilnya di Gyorae.

phoenix

Pertanyaan itu baru bisa Sera utarakan saat ia telah berada di sebuah villa yang—oh sangat indah, suara deburan ombak yang menerjang tebing di bawah sana bahkan samar-samar terdengar dari dalam kamarnya yang ada di lantai 2.

Dan jawaban dari pertanyaan itulah yang membuat Sera murka.

“Kita akan tinggal disini selama 6 hari ke depan.”Luhan begitu tenang menyuarakan jawabannya. Ia menatap keluar melalui jendela besar yang ada di kamar dengan 2 buah tempat tidur kecil itu. Jutaan kubik air memendarkan cahaya bulan setengah dan bintang-bintang. Riaknya membuat pantulan cahaya menjadi kerlap-kerlip yang—seharusnya—indah. Luhan tidak bisa menikmati pemandangan laut itu saat ini, karena meski matanya menatap lurus ke sana, pikirannya tepat tertuju pada gadis yang duduk di pinggir tempat tidur yang ada di belakangnya.

Pada Sera yang saat ini menatapnya nyalang. Penuh amarah.

“Tidak! Aku tidak mau tinggal disini! Antarkan aku pulang sekarang juga atau aku akan pulang sendiri!”ancam Sera. Gadis itu beranjak berdiri bahkan tanpa menunggu balasan dari Luhan. Sera bahkan lupa bahwa ia tidak mungkin bisa pulang jika Luhan tidak ikut bersamanya. Kecuali jika ia meninggalkan kelingkingnya di tempat ini. Euh!

“Tunggu! Kau tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu, eo?”ujar Luhan yang segera menyambar lengan Sera dan menghentikan langkah kaki gadis itu.

“Penjelasan apa yang masuk akal untuk ini, Luhan? Kau ingin mengurungku? Disini? Membuatku tak bisa pulang, ke kampus, dan…”Sera menarik napas. “…bertemu dengan Baekhyun. Jika semua ini hanya karena kau tidak mau menghancurkan kalung itu, maka kau benar-benar jahat dan egois. Kupikir kau akan melunak setelah aku celaka tapi kau…”

“Aku tahu aturan mainnya.”Luhan memotong kalimat Sera. Kupingnya terlalu panas mendengar tuduhan gadis itu dan ia tak tahan untuk tidak melayangkan tatapan tajam pada Sera. Membungkam gadis itu dengan raut kaku dan cengkeraman tangannya yang semakin menguat.

“Ap—”

“Benang merah ini akan menyusut setiap malam dan selama ini kita tidak menyadarinya. Semalam aku sudah mengukur benang merah ini dan sekarang benang merah ini panjangnya tidak lebih dari 3 meter.”

Mata Sera melebar. Bibirnya membuka. Tak percaya dengan kalimat Luhan.

“Jarak kita hanya 3 meter, Cheon Sera. Kau bisa mengukurnya sendiri jika tidak percaya.”

Sera tahu ia tak perlu melakukan itu saat ia menoleh ke bawah, ke arah benang merah yang mengumpul di lantai, dan melihat—benar—panjang benang ini rasanya tidak sepanjang seperti saat pertama kali muncul 8 hari yang lalu.

Astaga!

Jika sekarang benang merah ini tinggal 3 meter panjangnya, maka itu berarti benang merah ini menyusut sepanjang setengah meter setiap malam.

Setengah meter!!

Setiap malam!!!

Dan jika jarak 3 meter ini terus terpangkas setengah meter setiap harinya, maka pada hari keenam ia dan Luhan akan…

“Tidak mungkin!!”seru Sera, panik. Wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak bisa—tidak mau—tidak terima dengan kenyataan ini. Apa yang terjadi pada dirinya nanti jika harus melekat pada Luhan? Itu sangat… sangat… mengerikan. Sera tak sanggup membayangkannya.

Tapi, jika benar begitu, kenapa Luhan justru memutuskan untuk ‘mengurung’ Sera disini, bukannya segera memutus benang ini dan mencegah hal mengerikan itu terjadi. Heiiii~ mereka akan melekat, tak berjarak, apa Luhan pikir itu tidak terlalu abnormal untuk dijalani? Dan semua itu harus dilakukannya bersama Sera, bersama gadis yang bahkan tidak ingin ia temui lagi ketika mereka akhirnya terpisah. Tapi kenapa…

Manik mata Sera menjelajah ke kedalaman mata Luhan. Berusaha mencari jawaban disana. Ia ingin tahu apa yang sedang Luhan pikirkan saat ini. Apa yang sedang ada di benak pria China yang saat ini sedang begitu intens menatapnya.

“Apa kau sebegitunya tidak ingin menghancurkan liontin itu sampai harus mengorbankan dirimu seperti ini?”

Luhan menyipit, lalu 2 detik kemudian ia membuang napas lelah dan menjawab. “Ya.”

Tidak masuk akal! Sera sungguh tidak mengerti akan jalan pikiran Luhan!

“Kau tahu kan apa akibatnya…”

“Aku tahu. Benang merah ini akan membuat kita terikat tanpa jarak.”

Sesaat napas Sera tersumbat saat Luhan mengucapkan kata ‘tanpa jarak’. Ia tidak kuasa untuk mengakui bahwa bayangan dirinya dengan Luhan dalam kondisi tanpa jarak ternyata sungguh mengintimidasi. Bagaimana mungkin ia bisa tahan jika terus berdekatan dalam jarak abnormal dengan pemuda ini? Luhan terbukti pernah beberapa kali mengacaukan ritme jantung dan kinerja otak Sera. Pemuda itu memiliki semua perangkat yang bisa membuat perempuan gila ketika berada di dekatnya, dan mungkin Sera tidak masuk dalam pengecualian meski ia telah memiliki Baekhyun. Sekilas bayangan Luhan yang menciumnya di air terjun dan memeluknya di rumah Bibi Jung muncul di otaknya, dan Sera harus memejamkan mata untuk mengusir bayangan itu.

“Dan kau rela menanggung hal gila itu?”

“Ya.” Luhan berujar pelan tapi mantap. Sedetik pun matanya tak pernah beralih dari wajah Sera. “Karena ini hanya akan berlangsung selama seminggu sebelum akhirnya kita terpisah.”

“6 hari?”

“Ya. 6 hari.”Luhan mengangguk untuk mempertegas jawabannya. “Kau ingat, aku berteleportasi ke rumah atapmu saat bulan purnama bukan? Bulan purnama adalah bentuk tersempurna bulan yang bisa nampak dari bumi. Karena itu, 7 meter adalah panjang tersempurna yang bisa benang merah ini berikan pada kita.”

Sera terkesiap. Mulai mengerti dengan arah pemikiran Luhan.

“Benang merah ini mengikuti bentuk bulan yang selalu berubah setiap malamnya. Karena bulan butuh 14 hari untuk bertranformasi dari bulan purnama menjadi bulan mati, maka benang merah ini juga membutuhkan waktu 14 hari untuk akhirnya…”

“Menghilang…”Sera menggumamkan lanjutan kalimat Luhan dengan mata berbinar. Tapi binar yang muncul karena janji akan kebebasan itu dengan cepat menghilang ketika kata ‘tanpa jarak’ kembali terlintas di pikiran Sera. Menunggu selama 6 hari dengan resiko sebesar itu? Ya Tuhan. “Tapi tetap saja aku tidak setuju, Lu.”

Senyum yang sempat terulas di bibir Luhan ketika melihat binar mata Sera langsung pudar mendengar kalimat Sera. “Kenapa?”

“Aku tidak mau. Kondisi tanpa jarak itu…”Sera menggantung kalimatnya. Pipinya menghangat saat lagi-lagi ia tidak mampu mencegah dirinya membayangkan arti ‘tanpa jarak’ itu.

Tanpa jarak.

Seperti saat dirinya berciuman dengan Luhan. Tubuh mereka melekat erat. Itu ‘tanpa jarak’ bukan? Uh… No way!

“Aku tidak bisa menerimanya,”gumam Sera—tak sengaja—terdengar gugup. Ia membuang wajahnya. Tak sanggup menatap Luhan.

Seringaian kecil terbit di bibir Luhan. Ada rasa senang melihat pipi Sera memerah. Luhan penasaran. Apa visualisasi ‘tanpa jarak’ yang ada di benak gadis itu saat ini hingga bisa membuatnya memerah seperti ini? Bukankah Sera bilang, apapun yang Luhan lakukan tak akan mampu membuatnya terpengaruh. Lalu apa ini? Hanya membayangkan dirinya tak bisa menjauh dari Luhan seinci pun ternyata mampu membuatnya gugup, eh? Oh iya, tentu saja Luhan punya pengaruh. Ciuman di air terjun itu adalah salah satu buktinya, bukan?

“Atau lebih tepatnya kau tidak bisa menanganinya?”tanya Luhan, sengaja menggoda. Jari-jarinya menyentuh dagu Sera. Memaksa gadis itu untuk mendongak ke arahnya.

“E-eh?”

“Kau takut seminggu berada terlalu dekat denganku akan melunturkan 3 tahun perasaanmu pada—”

“Tidak!”potong Sera cepat sambil menampik tangan Luhan dari wajahnya. “Tentu saja tidak! Kau tak akan mampu… kau tidak boleh… aku tak boleh merasakan apapun padamu. Karena aku tidak boleh memiliki perasaan pada orang yang akan pergi.”Kalimat Sera berantakan. Sama berantakannya dengan apa yang ia rasakan di hatinya saat ini. Ia terkesiap ketika menemukan tatapan Luhan yang… errr… nampak terluka. Kesenduan di mata jernih itu malah justru membuat jantung Sera berdenyut begitu cepat. Semakin cepat. Hingga rasanya sangat sulit untuk bernapas. Pikiran bahwa sorot itu muncul karena apa yang keluar dari mulutnya, entah mengapa membuat Sera mengutuk dirinya sendiri. Sejak kapan ia berubah menjadi cermin? Ikut terluka ketika Luhan terluka.

“Kau benar. Pada akhirnya aku akan kembali ke Beijing…”Luhan berujar sambil kembali mengangkat tangannya untuk menyentuh rambut Sera. Tapi gerakan reflek Sera yang memundurkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan Luhan, membuat tangannya terhenti di udara. “Dan kau akan tetap disini.”

Benar.

Benang merah ini akan—dan harus—putus. Lalu Luhan akan kembali ke Beijing. Dan Sera akan tetap menjalani hidupnya di Jeju. Mereka akan kembali ke kehidupan normal mereka.

Normal?

Kenapa kata itu terasa sangat tak masuk akal?

“Kumohon, Lu. Aku ingin segera mengakhiri semua ini. Tolong, hancurkanlah liontin Luxien,”kata Sera dengan suara bergetar menahan tangis. Matanya mulai terasa panas dan berkabut, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk segera menguasai emosinya dan tidak membiarkan tangisnya pecah di depan Luhan. Ia tidak tahan dengan perasaan ngeri yang terus menggerogoti dadanya. Sera takut, jika ia tidak lepas dari Luhan hari ini… malam ini… detik ini juga, ia akan kehilangan prinsip yang ia pegang kuat-kuat selama ini. Prinsip untuk tidak mengkhianati Baekhyun.

“Tidak…”

Jawaban Luhan bagai petir yang meledakkan bendungan air mata Sera. Satu tetes kristal bening itu jatuh ke pipi. Bersamaan dengan bibir Sera yang ternganga, tak menyangka Luhan begitu keras kepala, egois dan… entahlah. Kenapa ia bersikap sejahat itu tapi matanya bisa nampak seakan juga ikut pecah? Apa yang sebenarnya Luhan inginkan?

Yang Luhan inginkan adalah Sera. Jawabannya begitu sederhana tapi terasa sangat mustahil untuk diutarakan. Luhan menginginkan Sera untuk sesuatu yang tak ia mengerti. Luhan sendiri terkejut ketika merasakan bagaimana hatinya bergetar ketika melihat mata berkaca-kaca gadis itu, tapi ia masih bisa begitu kejam menolak keinginan Sera. Egois. Amat sangat Egois.

“Kalung itu begitu penting?”Suara Sera bergetar.

“Ya.”

“Kenapa? Kenapa begitu penting?”

“Karena itu kalung Luxien…”

Sera menggeleng frustasi. “Tidak. Bukan karena itu. Aku tahu bukan karena itu.”

Luhan menelan ludahnya susah payah. Sejalan dengan udara yang terasa begitu tipis di sekitarnya sehingga ia begitu sulit bernapas. Dadanya sesak. Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangannya agar tidak memeluk Sera dan itu membuatnya sakit. Kau benar, Cheon Sera. Memang bukan karena Luxien tapi karenamu…

“Aku yang tahu alasan sebenarnya, Cheon Sera. Dan sejak awal aku sudah memberitahukannya padamu. Tapi kau masih saja tak percaya.”

“Bagaimana bisa aku percaya? Kalung itu sudah Luxien berikan padaku, seharusnya kau tahu bahwa kalung itu bukan lagi milik Luxien. Selama 9 tahun kalung itu ada padaku dan kau tak pernah mencariku bukan? Jangan bohong kau mencarinya selama ini, Luhan! Kau tidak pernah mencarinya! Tidak pernah! Lalu sekarang, ketika kalung itu ada… ketika kalung itu bisa menyelamatkan kita dari kekangan benang merah sialan ini, kenapa kau justru bersikap seperti ini? Apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa kau tidak tahu benang merah ini bisa merusak hidupku, eo? Benang merah ini bisa menghancurkan hubunganku dengan Baekhyun. Ah benar… benar…”Sera tersenyum masam. “Kau mana peduli dengan hidupku. Kau—”

“Kau juga tidak peduli pada hidupku, Cheon Sera!”sambar Luhan cepat. Rahang pria itu mengeras dan tangan di samping tubuhnya terkepal kuat. “Kau selalu menyalahkan diriku, mengataiku egois, kejam, atau apapun istilah yang kau suka. Damn it!! Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Apa kau cukup peduli untuk mempertimbangkan alasanku melakukan semua ini?! Kau selalu saja memikirkan bagaimana hidupmu, bagaimana Baekhyun, dan bersikap seolah hanya dirimu di dunia ini yang menderita.”

“Aku tidak seperti itu!”

“Ya! Kau seperti itu!”bentak Luhan keras. Napasnya memburu. Dan matanya mulai terasa panas karena amarah. Luhan memejamkan matanya, berusaha keras menekan emosinya ke titik terendah yang ia mampu.  Lalu ketika ia membuka matanya kembali—Oh, shit—Luhan mengutuk dirinya sendiri dalam hati melihat wajah pias dan basah Sera. Pria itu menghembuskan napas berat dan berusaha berbicara dengan lebih lembut. “Apa kau tahu… apa yang kudapatkan setelah benang merah ini mengikatku denganmu, Cheon Sera?”Luhan berhenti sejenak untuk menunggu respons dari Sera. Tapi gadis itu masih tetap menunduk. Enggan menatap Luhan. “Sebuah kebebasan. Kebebasan yang tak pernah bisa aku dapatkan di Beijing. Dan aku hanya ingin menggenggamnya sementara. Ya sementara saja karena aku tahu kebebasan ini tak mungkin bertahan selamanya.”

Sera mengangkat wajahnya, tergerak oleh keinginannya untuk mengetahui tulus tidaknya ucapan pria itu melalui matanya. Dan jawaban yang Sera temukan adalah tulus.

“Aku menjadikanmu sebagai tempat melarikan diri dan untuk saat ini aku masih ingin meminta perlindunganmu.” Tatapan Luhan begitu memelas ketika mengatakan hal itu, membuat Sera lagi-lagi merasakan dadanya teriris. “Ada banyak hal, keburukanku, yang membuatku tak bisa bernapas di rumah itu. Aku membencinya. Membenci semua hal yang berkaitan denganku yang membuatku tak bisa… tak bisa…”Luhan memejamkan matanya. Frustasi karena sulitnya kalimat itu terlontar dari mulutnya. Aku tak bisa menarikmu masuk ke dalam kehidupanku, Sera. “Tentang Luxien, kau benar. Ia tidak berharga, sama halnya dengan kalung ini. Aku hanya menjadikannya sebagai alasan agar bisa tetap mengikatmu bersamaku.”

“Bukan, bukan maksudku seperti itu… Luxien tentu saja berharga, dia saudara kembarmu…”ujar Sera menyesal. “Hanya saja, kau pasti punya banyak benda kenangan lain darinya, jadi…”Ucapan Sera terhenti saat menyadari arah tatapan Luhan yang terasa begitu jauh dan kosong. Sejak awal Sera tahu ada yang tidak beres dengan hubungan Luhan dan Luxien. Lalu pengakuan Luhan waktu itu bahwa dirinya-lah yang telah membunuh Luxien… entah kenapa, Sera tak pernah menganggap itu hanya candaan iseng. Luhan serius saat mengucapkan hal itu. Tapi tak mungkin Luhan benar-benar membunuh saudara kembarnya, kan?

“Apa yang terjadi sebenarnya pada Luxien? Kenapa kau bersikap seolah-oleh dirimu yang bertanggung jawab atas kematiannya dan terus-terusan menghukum dirimu sendiri, Lu?”tanya Sera hati-hati. Sera ingin agar Luhan bisa merasakan bahwa ia juga mengkhawatirkannya, bahwa tuduhan Luhan yang mengatakan Sera hanya memikirkan dirinya sendiri itu tidak benar. Selama ini Sera hanya terlalu takut untuk bertanya. Karena mata itu berusaha begitu keras untuk menyembunyikan refleksi penderitaan pemiliknya. Tapi kini setelah Luhan tak lagi menahan perasaannya, Sera ingin menjadi orang yang bisa menggugahnya untuk sejenak saja melepaskan beban.

Sera ingin melindungi Luhan.

“Luxien tewas karenaku…”

Sera mengangguk. Tapi itu bukan berarti kau yang membunuhnya.

“Aku membencinya karena selalu saja melindungiku. Aku membencinya karena selalu saja mengkhawatirkanku. Aku membencinya karena selalu membuatku merasa lemah. Aku membencinya karena kebaikan hatinya yang memuakkan,”gumam Luhan, kepalanya semakin tertunduk dalam. “ Aku membencinya karena ia mati meninggalkanku. Aku membencinya…”

Ya Tuhan, kau menyayanginya, Lu. Kau menyayangi Luxien sedemikian besar hingga menderita seperti ini. Pantas saat Luhan tak sadar karena alkohol hari itu, ia menangis dengan menyebut nama Luxien. Pantas saja Luhan tak bisa lelap tertidur setiap malam karena ia terus-terusan dibayangi perasaan bersalah yang begitu menyiksa. Kau menyayangi Luxien, Lu…

Sera mengayunkan langkahnya mendekat pada Luhan. Muncul dorongan di dalam dirinya untuk menyentuh Luhan, dan Sera mengikutinya. Ia mengangkat tangannya dan membawa telapak tangan kecilnya ke pipi Luhan. Menghantarkan kelembutan yang mengejutkan Luhan dan membuat pemuda itu mengangkat wajahnya.

Tatapan sendu Luhan bertemu dengan mata basah Sera.

Wo gen ni yiqi hen shufu…”Sera mengucapkan kata yang pernah Luhan ucapkan dulu. “…apa artinya itu?”

Mata Luhan bergerak-gerak. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba Sera menanyakan hal itu. Tapi ia tetap menjawabnya. “Nyaman sekali bersamamu.”

Benteng pertahanan Sera roboh sudah. Prinsip yang telah ia pegang kuat-kuat selama ini akhirnya terjun bebas dari tangannya yang terbuka. Sera mengulurkan tangannya ke leher Luhan lalu menarik pemuda itu ke dalam pelukannya.

Sera menangis.

Ia terisak.

Airmatanya luruh untuk Luhan.

Teringat oleh Sera bagaimana Luhan selalu mengeluhkan banyak hal tapi pada akhirnya ia akan patuh pada apa yang Sera bilang. Bagaimana Luhan begitu sabar mengikutinya kemanapun. Bagaimana Luhan selalu mengalah pada setiap keinginan Sera. Bagaimana Luhan rela mencelupkan dirinya pada kehidupan Sera yang jauh di bawah levelnya. Dan semua itu hanya demi sebuah kebebasan dan rasa nyaman yang bahkan tidak cukup banyak ia terima.

Sera selama ini begitu fokus pada kehidupannya dan menganggap Luhan hanyalah sebuah tambahan tak diharapkan yang akan segera menghilang. Tapi bagi Luhan, Sera adalah tempatnya berlindung. Jika saja Luhan mau, dengan menggunakan kekuasaannya ia bisa mengikat Sera selamanya. Tapi pemuda itu memilih ‘sementara’ karena tidak mau merenggut kehidupan Sera.

“Sera?”Luhan berbisik di sebelah telinga Sera. Bingung melihat gadis itu menangis sambil memeluknya seperti ini. Namun, bukan jawaban yang Luhan dapat, melainkan kaitan lengan yang terasa semakin ketat melingkari lehernya. Kehangatan tubuh Sera bukan sesuatu yang bisa Luhan abaikan. Luhan pada akhirnya larut dan menerima pelukan itu tanpa merasa perlu bertanya lagi. Kepalanya ia rebahkan di bahu kanan gadis itu sedangkan tangannya menekan punggung Sera lembut. Meraup seluruh kenyamanan yang Sera berikan dengan rakus.

Luhan tak ingin melepaskan gadis di pelukannya ini. Jika bisa… ia tidak ingin melepaskannya.

“Wah… wah… pemandangan yang hebat…”

Reflek, Luhan mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Sera yang reflek melonggarkan lengannya.

Seorang gadis cantik berdiri di dekat pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Di belakangnya berdiri Choi Seunghyun yang nampak menyesal karena tak bisa mencegah interupsi tiba-tiba ini. Gadis cantik itu menatap Sera dan Luhan tajam. Bibirnya menyunggingkan seringai mengejek. “Gege…”

“Kim Yoojung.” Bisik Luhan.

Kim Yoojung? Sera mengeryit. Ia memandang Luhan dan gadis bernama Kim Yoojung itu bergantian. Mencoba menebak-nebak apa hubungan keduanya. Dari pakaiannya Sera tahu, Kim Yoojung adalah individu yang sejenis dengan Luhan. Sama-sama orang kaya. Chaebol.

“Jadi benar dugaanku, gege meninggalkanku karena gadis lain.”

Meninggalkanku? Kening Sera mengeryit. Kenapa ia bicara seolah-olah dirinya adalah kekasih Luhanoh! Tunggu dulu, jangan-jangan….

“Darimana kau tahu aku ada disini?”Luhan memilih mengabaikan kalimat Yoojung tadi dan melontarkan pertanyaan. Ia menggeser tubuh Sera ke belakang tubuhnya saat melihat Yoojung berjalan mendekat. Gadis cantik itu menyipit melihat apa yang Luhan lakukan.

“Huh…”Yoojung mendengus kesal. Apa-apaan sikap protektifnya itu? Memangnya aku akan menerkam apa? Batin Yoojung. “Ada salah saeorang teman yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Seogwipo. Ia langsung mengabariku saat melihatmu di rumah sakitnya. Ironis sekali, Seunghyun mati-matian mencarimu ke seluruh China, tapi ternyata kau ada di wilayah negaraku.”Pandangan Yoojung kembali teralih pada Sera. Mengarahkan tatapannya menelusuri penampakan Sera dari bawah ke atas lalu kembali dari atas ke bawah.

Sera bergidik ngeri, sorot mata Yoojung saat ini seolah mampu mengulitinya hidup-hidup.

“Jangan bilang kalau gege meninggalkanku dan membuat acara pertunangan kita batal hanya karena gadis udik ini!”seru Yoojung tak terima.

Luhan mendelik. Merasa tersinggung meskipun yang dicela Yoojung bukan dirinya melainkan Sera. “Kim Yoojung, jaga mu—”

“Pertunangan?”

Gumaman Sera membuat tenggorokan Luhan tersumpal.

“’Pertunangan kita?’”Sera membeo. Mengulangi pilihan kata Yoojung yang membuatnya terkejut. Ia mendongak pada Luhan, menuntut jawaban. “Apa maksudnya itu, Lu?”

Luhan mendesah frustasi sambil mengusap wajahnya. Seunghyun memejamkan matanya, merasa sangat bersalah karena keteledorannya telah membuahkan masalah bagi Luhan. Kim Yoojung mengerutkan keningnya.

“Apa Luhan gege tidak bilang padamu?”Yoojung angkat suara. “Aku ini…”

“Dia calon tunanganku, Cheonse,”sambar Luhan cepat. Ia tidak mau penjelasan itu diucapkan oleh Yoojung terlebih dulu. “Calon tunangan setidaknya sejak beberapa hari yang lalu.”

To be continued….

Fiuh… lap keringet. Frustasi banget bikin chapter ini. Sumpah!! Perasaan Luhan ke Sera itu rumitnyaaaa minta ampun. Apa susahnya sih ngaku kalau elu uda jatuh suka sama Sera, bang?! Baper mulu…. pusing gue nulisnya, Ya Gusti….

Jujur aku nggak punya pengalaman menduakan cowok, jadi untuk bagian Sera aku hampir-hampir hopeless gimana menggambarkan pertentangan batinnya –__– Ini fanfiction kok jadi nggak jelas kayak gini aku juga nggak tahu… pokoknya udah ah apa yang kepikir di otak langsung aku tulis aja.

Jadi intinya gimana, Sera setuju ama rencana Luhan buat menunggu 6 hari atau nggak? Yaaah itu masih misteri yaaa… kalau mau tahu ya silahkan pasang mode ‘wait with more patient’ lagi ^^ Kalian maunya gimana? Tetep nolak atau udah pasrah aja sama keputusan Luhan?

Yowda dehhhh… aku nggak mau cuap-cuap lebih banyak lagi. Ini udah lebih dari 9000 words dan 36 pages soalnya. Hihihi… pegel nggak kalian bacanya. Aiiiih, so so shoriii eh sorry~~ Semoga kalian menikmati alurnya ya, jadi nggak berasa baca sebanyak itu.

Kritik saran hinaan cacian pujian like ditungguuuu… Biggie thanks from me ^^

11252311_395745487277302_1111908785_n 5ba8d1cbjw1enl8lpd2p7j20qo0zkwnf 

5ba8d1cbjw1es2odqab8tj21f01w0hdt tumblr_mqsh95EyBq1sd6kvvo1_500

 

 

 

Seara Sangheera

305 responses to “MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [VI] DESTINY SONATA

  1. Fiuh… lap keringet. Frustasi banget bikin chapter ini. Sumpah!! Perasaan Luhan ke Sera itu rumitnyaaaa minta ampun. Apa susahnya sih ngaku kalau elu uda jatuh suka sama Sera, bang?! Baper mulu…. pusing gue nulisnya, Ya Gusti….
    Reply: NG! AUTO INGIN SELEDING BOLEH NGAAA? YANG BIKIN SIAPA!!! T____T

    HUWAH. SETELAH ISTIRAHAT BEBERAPA JAM LANJUT BACA LAGI HUHU TETEP AJA NANGIS LAGI!
    Serius sih ini beneran complicated tapi greget dan bikin kepo yg terus-terusan.
    Kok kayanya makin kesini alurnya jadi makin ngena ya, entah luhan yg nyimpen kesedihan mendalam atau sera yg sama dgn luhan tapi udh dapet pertolongan sendiri..AH POKOKNYA GREGET BGT! AKU NGA NGERASA PANJANG KOK! MALAH TAUTAU UDH TBC PAS LAGI GREGETNYA T____T

    Aku loh ngebayangin kim yoojung mukanya kaya guan xiao tong WKWK DOI COCOK SAMA KARAKTERNYA KIM YOOJUNG MASA 😭

    Aku juga jadi greget sendiri beneran deh makin kesini alurnya makin gak bisa aku tebak apalagi aku hayalin mau kearah mana berjalannya, apalagi yg tbtb yoojung dtg interupsi HNG ADA HARAPAN DIA JUSTRU SENENG KARNA TERNYATA DIA GAK ADA RASA SAMA LUHAN TRS IKHLAS AJA GITU… Tapi kayanya tiduck mungkin 😥😭

    Hng sdh saatnya menikmati kesakitan story ini, udh bukan waktunya lagi menikmati gemes nya lusera HUWEEEEEEEEE MONANGES!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s