Ambition [Chapter 8] – by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny – Freddie

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5] Lie [6] I Got You [7]

GoodBye Rain [Now]

.
.

-Ambition-

burj khalifa

Lidah api menyapa Burj Khalifa. Pola zig-zag terlihat lantas menghasilkan luminositas cahaya dalam waktu kurang dari satu detik. Berikutnya, suara gemuruh terdengar hingga bumi bergetar karena suaranya. Tak lama, air bening turun mengguyur padang pasir yang sudah bertransformasi menjadi kota mewah itu. Dan Sehun hanya bisa menatap iba pada ribuan titik air yang jatuh terbuang percuma. Di matanya, air hujan terlihat bening bak bayi tanpa dosa, namun siapa sangka di dalam satu tetesnya menyimpan ribuan bakteri merugikan seperti manusia penuh dosa. Alam dan kehidupan memang pelik, penuh misteri, dan lika-liku yang sulit dipahami. Dan Hanna adalah salah satunya.

Netra Sehun tertutup perlahan, tangannya menggenggam erat kusen jendela kaca besar di depannya. Ia merasa seperti hujan yang dibuang percuma oleh awan yang sibuk melepas kutub positif dan negatif. Sehun ingin kembali, namun apa daya? Dia sudah kotor oleh udara bumi yang penuh dengan polusi. Ia ragu untuk mengejar, meskipun masalah antar sahabat telah diselesaikan secara jantan hingga wajahnya penuh memar. Terlebih semua panggilannya diabaikan oleh gadis itu dan saat Sehun menghampiri, Hanna sudah tidak ada di kamarnya. Gadis itu mengambil jadwal penerbangan ke New York tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk Kai.

Sehun menghela napas pelan namun berat. Netranya bergilir menatap kedua sahabatnya yang mengambil tempat duduk di atas ranjang. Kondisi keduanya sama saja, penuh memar sama sepertinya. Entah apa yang dipikirkan sampai melakukan hal bodoh dengan mengambil tempat di atas gedung untuk menyelesaikan masalah. Hingga aksi saling pukul melepas emosi karena kecemburuan satu sama lain terjadi. Beruntung akal sehat masih ada hingga hubungan yang telah terjalin tak rusak seperti wajah mereka kini. Masalah mereka terselesaikan begitu saja dengan cara yang sedikit ekstrim. Dan selama mereka ‘bermusyawarah’, Hanna sudah terbang ke New York.

“Sekarang apa?” pertanyaan Freddie terdengar putus asa. Sehun hanya bisa menatapnya teduh—tak bisa menjawab.

“Aku akan meminta Daddy untuk membatalkan rencana pertunanganku dengan, Hanna.” Skandar menjawab dengan helaan napas lemah. Rencana keluarganya untuk mengikat Hanna membuatnya harus rela merasakan bogem mentah dari Freddie beberapa menit lalu. Salahkan saja mulutnya yang terlampau polos, sampai-sampai mengatakan hal itu di saat suasana memanas. Freddie bahkan berteriak di depan wajahnya dengan intonasi penuh penekanan, “Jadi itu alasan mengapa kau memintaku untuk menghubungi Sehun dan memintanya untuk membawa Hanna. Kau ingin aku merebut kembali calon tunanganmu itu, begitu?” Ah, sudahlah, Skandar tak ingin mengingat kemarahan Freddie lagi. Fokusnya lantas berpendar, tatapan tak terbaca pun ia lihat dari kedua temannya.

“Kita sudah sepakat untuk tidak membawa nama keluarga, bukan?” lanjutnya, kikuk.

Sehun beralih, tak lagi menatap Skandar. Rintik hujan di luar jendela pun kembali menjadi titik fokusnya. Tunangan? Sedikit menyakitkan untuknya. Sehun sama sekali tidak tahu hubungan Hanna dan Skandar akan melangkah sejauh itu. Pantas Hanna sampai mabuk lantaran masalah pendekatan antar kedua keluarga besar tersebut. Dari situ, Sehun bisa menarik kesimpulan bahwa Hanna tak menginginkan pendekatan yang amat sakral itu terjadi.

“Aku mundur saja!”

“Apa?” Skandar menatap -tak percaya- Freddie yang duduk di sampingnya, pun dengan Sehun yang berdiri dua meter darinya.

“Hanna meminta kita untuk mencari wanita lain, bukan? Kita terlihat menyedihkan jika memperebutkan wanita yang sama. Dan … Hanna …,” Freddie menjilat bibirnya yang kering. Rasa amis darah bekas luka hadiah dari kepalan tangan Sehun pun menyapa lidahnya. Tangan kanannya refleks menyentuh luka dengan ringisan nyeri di bibir. Sehun merasa bersalah melihat hasil lukisan tangannya di sana, tetapi tulang pipi dan bibirnya pun lebam karena ulah pria itu. Kondisi mereka sama, tak usah merasa bersalah. Pikirnya mencoba menepis.

“Aku mencoba untuk mendapatkannya kembali setelah melepasnya selama satu tahun terakhir. Tetapi Hanna tak pernah bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan penjelasanku, dan ketika waktu itu ada untukku … Hanna secara terang menolakku. Kalian tahu kenapa?”

Sehun dan Skandar hanya diam. Mereka menunggu sekaligus mencoba untuk mengerti perasaan sahabatnya itu. Freddie yang mengerti arti dari tatapan tersebut hanya bisa menunduk. “—karena hatinya bukan untukku lagi!” lanjutnya lemah. Skandar mengerti dengan baik tanpa perlu penjelasan lebih. Namun, hatinya memberontak untuk ikut melakukan hal yang sama.

“Aku mencintainya, sangat! Tapi melihatnya menemukan pria yang tepat … aku merasa lega, entah mengapa.” Freddie mengangkat wajah. Sehun menjadi objek obsidian birunya yang memukau. Senyum kecil terbentuk kaku hingga angin hangat menerpa ruangan persegi itu. Ia ingat bagaimana bengisnya Sehun saat menduduki tubuhnya yang tergeletak lemas di atas atap, lantas berteriak lantang di depan wajahnya dengan pancaran ketulusan nyata, “Aku mencintai Hanna dan kalian adalah sahabatku, bagaimana bisa aku memilih salah satu? Aku tak peduli jika kau akan menghancurkanku setelah ini, Die! Asal kau tahu, Hanna sudah menjadi kekasihku sejak tiga jam lalu.” itu yang membuat Freddie yakin Sehun lebih baik darinya.

“Tapi Hanna sudah mengakhirinya!” Skandar memecah kehangatan. Hati Sehun mencelos seolah kehilangan harapan. Ia merasa ini karma untuknya lantaran terlampau sering mempermainkan wanita dari anak rekan bisnisnya dulu. Tak jarang Sehun mengakhiri hubungan tak pasti itu dalam hitungan jam setelah kesepakatan bisnis ditanda tangani. Kini, Sehun sadar bahwasanya Tuhan tengah menghukumnya dengan cara yang sama. Lihatlah, Tuhan bahkan mengingatkannya dengan cara yang sangat bijaksana sehingga ia tahu bagaimana rasanya dicampakan.

“Ya. Dan sudah seharusnya kita memberikannya kesempatan untuk mendapatkan cintanya kembali. Bukankah kita sahabat? Aku rasa saling mengerti untuk masalah ini akan mempererat hubungan.” Freddie tersenyum dengan keyakinan penuh ke arah Skandar hingga pria itu melunak dan mengangguk. Freddie hanya mengikuti cara berpikir Hanna jika sudah menyangkut harga diri. Dan di sini, ia bersama kedua temannya adalah orang-orang terpelajar dari kalangan atas, akan sangat memalukan jika mereka terus bertengkar memperebutkan satu wanita. Lupakan soal aksi saling pukul itu karena justru berkat hal itu otak mereka yang semulanya bergeser menjadi waras kembali.

“Tapi ingat, kegagalanmu berarti kesempatan untuk kami.” Skandar memberikan syarat itu dengan alis terangkat satu. Wajahnya sungguh menantang hingga Sehun sadar Skandar sangat menginginkan gadisnya.

“Aku mengerti!”—itu suara pertama Sehun setelah hanya membisu setibanya di kamar hotel milik Hanna yang sudah ditinggal pergi. “Gadis itu akan berdiri di sampingku sebagai jawaban.” lanjutnya, yakin.

“Aku harap begitu, coba kau lihat aku! satu kali membuat Hanna kecewa, lalu satu tahun lebih kuhabiskan untuk mengejarnya kembali namun penolakan yang kudapat.” Freddie mengingatkan bahwa Hanna bukanlah gadis yang mudah melunak setelah dibuat kecewa. Sehun yang baru menyadari hal itu hanya bisa memejamkan mata, lemah. Ia tahu, setelah ini, semuanya akan dimulai dari awal.

-Ambition-

khaza

Jo Khaza hanya bisa mengerutkan alis kala melihat putri kesayangannya pulang ke Maryland, istrinya pun demikian mengingat Hanna yang tak mengatakan apa pun sebelum berkunjung. Bahkan hanya ciuman di pipi yang mereka dapat sebelum Hanna berlalu ke kamarnya. “Bidadari kecil kita lebih dingin dari biasanya, coba kau cari tahu, sayang!” Jo menutup majalah dengan label Forbes di tangannya. Sang istri hanya mengangguk lantas berlalu.

hanna

Kamar mewah berkarpet permadani bulu angsa tak lagi menjadi tempat yang Hanna rindukan. Tungkainya diseret ke dalam bersamaan dengan tangannya yang membuka ponsel. Detik berikutnya, suara pecahan kaca terdengar hingga sang Ibu yang berada di luar mengurungkan niat untuk memutar handle pintu. “Hanna?” panggilnya pelan, rasa khawatir menyapa. Pertanyaan ada apa dan mengapa pun berlalu lalang.

Sementara Hanna hanya menghembuskan napas kasar melihat cermin berlapis berlian yang didesain khusus untuknya itu berakhir mengenaskan. “It’s nothing, Mom! The mirror was so bad, I want to replace it.” ujarnya santai, seolah uang 60.000 Dolar yang ia keluarkan untuk cermin itu bukan masalah. Hanna bahkan berlalu begitu saja menuju kamar mandi menghampiri sebuah bath-up di sana. Tangannya lantas lincah mengatur suhu dalam air, sebelum beralih melucuti semua pakaiannya. “Urus saja bisnismu itu, Tuan Bertelsmann!” Hanna menghentak bajunya kesal lantas melemparnya asal. Sementara di luar sana, ponselnya kembali berkelip menampilkan ID caller yang sama. Dan jika gadis itu kembali melihatnya, mungkin ponsel dengan brand iPhone tersebut akan dibuangnya dengan alasan lecet.

Dan sang Ibu tetaplah seorang Ibu. Rasa khawatirnya kuat hingga mendorongnya untuk lancang memasuki kamar anak gadis. Tangan halusnya refleks membungkam mulut ketika melihat serpihan kaca yang tercecer hingga ke kaki ranjang. Kelipan ponsel dalam mode silent pun dilihatnya di antara serpihan kaca. Tanpa ragu dengan naluri Ibu; ponsel itu diraihnya namun dengan fokus yang berpendar mencari keberadaan anak semata wayang.

Sehun.

Nama itu yang terbaca sebelum kelipan itu redup dan menampilkan notif ke-71 panggilan tak terjawab. Astaga! batinnya lembut. Tak perlu dijelaskan pun sang Ibu sudah tahu siapa kiranya anak lelaki yang tak henti menghubungi putrinya tersebut.

“Apa yang terjadi?” wajah Jo mengernyit melihat ulah putrinya.

“Tidak tahu, tapi sepertinya putrimu itu sedang bertengkar dengan kekasih barunya,” jelas wanita manis dengan tatanan anggun itu. Setahunya, putrinya itu memang belum menjalin kasih lagi setelah hubungannya dengan Freddie kandas. Dan menurutnya, lelaki bernama Sehun itu adalah kekasih baru putrinya.

Jo Khaza lagi-lagi mengernyitkan alis. “Kekasih?” tanyanya tak mengerti. Namun dalam waktu kurang dari satu detik, ponsel di depan wajahnya kembali berkelip menampilkan ID yang sama hingga Jo mengerti. “Haruskah aku mengangkatnya?”

“Jika kau ingin didiamkan selama berbulan-bulan oleh putrimu, angkat saja!” Istrinya tersenyum mengingatkan. Hanna pernah puasa tak berbicara pada Ayahnya lantaran ikut campur dalam masalahnya dan Freddie, padahal saat itu, Jo hanya mendengarkan penjelasan Freddie mengenai kandasnya hubungan mereka. Setelahnya, Jo menasehati putrinya agar ikut mendengarkan sebelum mengambil keputusan. Sayang, reaksi Hanna begitu keras hingga bungkam seribu bahasa sampai dua bulan lamanya. Hanna hanya tak ingin menjadi anak durhaka, diam ketika merasa kesal terhadap orang tua jauh lebih baik daripada menimpali ucapan mereka. Itu gayanya, tak ayal Ayahnya frustasi.

Sementara, Hanna sibuk menenangkan diri dengan berendam. Netranya tertutup rapat, mencoba untuk mencari kenyamanan. Ia tak bodoh untuk menyadari perasaan cintanya pada Sehun yang membuatnya kecewa. Namun, ia tak lebih bodoh untuk menangisi keputusannya mengakhiri hubungan singkat itu. Jika di awal sudah membuatnya kecewa, maka tak menutup kemungkinan Sehun akan kembali membuatnya kecewa. Hanna hanya tak ingin merasakan perasaan memuakkan itu untuk kedua kalinya oleh orang yang sama. Itu juga alasan mengapa Hanna tak ingin kembali pada Freddie, meski banyak kenangan yang telah pria itu ukir.

Gadis ini benar-benar pribadi yang terlampau mengandalkan logika daripada hati karena memang logikanya bekerja untuk melindungi hati. Terdengar mengerikan karena terkesan tak memiliki hati, namun Hanna memang seperti itu. Ia hanya benci merendah dan direndahkan karena baginya, merendah hanya dilakukan oleh mereka yang lemah dan direndahkan hanya akan berlaku pada mereka yang tak mampu bangkit.

-Ambition-

Sehun nyaris gila saat tak menemukan Hanna di Ritz-Carlton Tower, Battery Park. Kai, sekretaris sekaligus sahabat dari kekasihnya pun tidak tahu ke mana perginya Hanna. Kedua orang tuanya telah dihubungi, namun mereka mengatakan Hanna tak ada di sana. Mereka hanya mengatakan, Hanna pergi ke suatu tempat dan tak ingin diganggu. Kai bahkan ikut panik saat surat kuasa pengalihan kepemimpinan Ritz-Carlton Tower diberikan kepadanya. Ia tak siap menjadi CEO sementara. Hanna memang keterlaluan!

Kini, Kai hanya bisa menatap iba pada pria yang tengah menunduk dalam di kursi taman Ritz-Carlton Tower. Entah dorongan dari mana, tangannya bergerak mengelus punggung berjas abu-abu itu.

“Hanna salah mengartikan keterdiamanku,” ungkap Sehun, Kai mengerti. Ia sudah tahu semua ceritanya dari Jenny saat perjalanan pulang dari Dubai.

“Anda sudah mengambil hatinya, Tuan. Wajar jika Nona Hanna cemburu pada keterdiaman Anda. Wanita memang sensitif jika sudah menyangkut masalah prioritas pria.” Kai menguatkan. Sehun benar-benar tulus mencintai sahabatnya—itu yang membuatnya rela Hanna mencintai pria ini, meski ia tahu akhirnya akan seperti ini.

“Seharusnya, aku mengatakan akan mempertemukannya dengan Freddie, tapi aku takut Hanna menolaknya. Sementara masalah tak kasat mata di antara kami bertiga harus diselesaikan agar mereka merelakan Hanna untukku.” Sehun terlihat menyedihkan saat patah hati—itu yang Kai lihat—terlebih wajahnya penuh memar.

“Nona Hanna memang seperti itu saat sedang marah, Tuan. Dia bukan tipe gadis yang akan memaki untuk meluapkan emosi. Tindakan adalah caranya untuk menunjukkan kekecewaan.” Kai masih setia memberikan Sehun kekuatan. “Tak apa, tenanglah! Tunggu sampai Nona reda, setelah itu perjuangkan kembali hingga ia luluh.”

Sehun menghela napas. Tubuhnya kembali menegak. “Akan kulakukan … apa pun akan kulakukan asal dia kembali. Aku sangat mencintainya, Kai. Aku menginginkannya, sangat! Tapi sebelum itu, bisakah kau berhenti memanggilku, Tuan?”

“Apa?”

-Ambition-

David J. Willard Grissen, salah satu Presiden dalam jajaran kepemimpinan Marriott International. Pria berambut langka itu mengoperasikan 3.300 hotel termasuk brand Ritz-Carlton di dalamnya. Wajahnya terlihat sangar, namun tabiatnya sungguh menyenangkan. Cara bicaranya ramah, bahkan tak jarang melempar guyonan. Dan pria itu adalah ayah Skandar.

Hanna mengerjap lembut dalam pencarian wajah Skandar pada ukiran wajah Mr. Willard. Namun nihil, tak ada garis wajah yang diturunkannya untuk Skandar. Wajah Skandar itu murni titisan sang Ibu yang berdarah Lebanon. Skandar sendiri larut memerhatikan wajah tak bersurat di depannya. Sungguh cantik dalam balutan LBD karya Coco Chanel. Warnanya legam hingga begitu meresap dengan kulit putih susunya. Sayang, aktivitasnya mengagumi harus tertangkap basah oleh sang pemilik. Hazel Hanna bergilir hingga menghujam lurus ke arahnya; Skandar seketika berpaling dengan tangan mengusap tengkuk.

Hanna memiringkan kepala mendapati lebam di sudut bibir Skandar. Pikirnya melayang, mengingat Sehun yang pernah dipukul Freddie di area yang sama. Ia mencoba mengingat kembali kapan peristiwa itu terjadi. Satu hari? Dua hari? Tiga hari? Ah, tidak, tapi sudah satu bulan berlalu sejak Hanna meninggalkan Sehun di Dubai. Itu berarti, sudah satu bulan pula Hanna menetap di Maryland demi menghindari pria itu. Ia bahkan sampai rela membohongi Kai mengenai keberadaannya saat ini. Keterlaluan! Namun, Hanna memang tak memiliki cara lain untuk melenyapkan rasa rindunya pada … Sehun.

Sehun? Hah.. Hembusan napas lemah terdengar. Hanna menutup mata pasrah. Ia sadar belum bisa melupakan Sehun, padahal 520 Park Avenue sudah dilepasnya agar tak lagi berhubungan dengan pria itu.

Dalam ragu, Skandar kembali menjadikan Hanna objek. Sedikit ada rasa bersalah saat kembali melihat wajah itu. Ia kecewa karena tak bisa menepati janji pada Sehun untuk membatalkan rencana Ayahnya. Sekarang saja, Beliau mengajaknya berkunjung ke kediaman Khaza untuk membahas masalah ini. Skandar berharap Hanna sendiri yang menolak agar Sehun tak salah paham terhadapnya. Ia tahu, Sehun sudah hampir gila mencari keberadaan Hanna yang terus menghindar darinya dan Skandar tak ingin menambah bebannya, meski ia sendiri begitu mencintai gadis ini.

“Aku …,” Hanna membuka mata, tiba-tiba menyela kekosongan dalam perbincangan antara Ayahnya dan Mr. Willard. Dentingan sendok dan piring pun terhenti saat fokus hanya terarah padanya. “—aku ingin melanjutkan pendidikan untuk menunjang karirku. Semua pencapaianku saat ini hanya awal, dan aku ingin lebih hingga kepuasan itu ada.”

Mr. Willard mengerti maksud gadis ini, namun keinginannya untuk menjadikan Hanna bagian dari keluarga Marriott terlampau besar. Gadis seperti Hanna di Amerika hanya ada 1 : 1000, akan menjadi kebanggaan tersendiri jika wanita berkelas yang begitu menjunjung tinggi nilai keperawanan itu menjadi menantunya. “Tentu. Tak ada yang melarangmu untuk itu, Nak. Mendapat gelar MBA bukanlah hal sulit untukmu. Aku yakin kau bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari dua tahun, lebih cepat dari Skandar dulu. Dan kau bisa menggapai mimpimu setelah pertunangan kalian selesai dilaksanakan Minggu depan.”

“Maaf Tuan …,” Hanna tersenyum, lembut. “sebuah ikatan hanya akan membuatku kesulitan mengepakkan sayap.”

“Hanna!” Jo membentak halus. Ia tahu anak gadisnya itu tak suka bertele-tele, tapi ini masalah serius. Bagaimana bisa putrinya itu secara terang menolak lamaran dari keluarga Willard? Memang, Jo menguasakan pilihan pada Hanna untuk masalah ini karena ia juga tahu, putrinya itu tak suka dikekang, tapi … sudahlah, tak akan menang melawan bidadari kutub kesayangannya itu.

“Itu yang membuatku sangat ingin menjadikanmu bagian dari keluarga Marriott, Nak. Kau amat polos di balik wajah tak bersurat itu. Kau begitu jujur dalam menyuarakan isi hati. Jika hanya mencari keuntungan, aku tidak akan memilihmu karena keluarga Ritz berada dalam naungan Marriott. Tapi di sini, aku menginginkan yang terbaik untuk putraku.” Senyum ramah penuh kehangatan Hanna lihat dari wajah tua itu. Jo menghembuskan napas lega, beruntung sahabatnya itu tak merasa tersinggung. “Biarkan Skandar membuatmu jatuh cinta agar ketika kembali nanti, kau sudah siap melangkah di altar bersamanya!”

“Daddy!” Skandar nyaris membentak. Ayahnya ini memang sangat keras kepala, padahal ia sudah meminta untuk berhenti dan Hanna sendiri sudah menolaknya. Sekarang apa? Sungguh, Skandar hanya tak ingin kehilangan sahabat baiknya karena ini … Ia sadar, mencari sahabat yang tulus itu jauh lebih sulit daripada mencari jodoh. Terdengar konyol, tapi Skandar memang hanya merasa nyaman saat bersama Sehun dan Freddie.

“Itu lebih baik daripada terikat tanpa cinta.” Hanna menanggapi santai hingga Skandar mati kutu. Ingin sekali ia berteriak di depan wajah gadis itu, “HANNA, BAGAIMANA DENGAN SEHUN?” namun apa daya, lidahnya terlanjur kaku. Kepalanya menunduk, lemas. Sehun, maafkan aku! Reaksi Skandar tak bedanya seorang gadis yang dipaksa menikah dengan seorang pria berkepala botak. Berbeda dengan Hanna yang terlihat jauh lebih santai, padahal di sini, dia pihak yang dilamar.

-Ambition-

Senyum kikuk mengawali sebuah sapaan, namun senyum hangat menyambutnya. Tampan, sangat-sangat tampan. Kai akui itu setiap kali melihat Sehun tersenyum, namun ibanya tetap mendominasi. Sudah berminggu-minggu Kai selalu melihat Sehun memasang kedok berlabel baik-baik saja, tapi nyatanya … ? Kai sendiri tidak tahu. Sehun dan Hanna sama saja, sama-sama sulit dibaca. Namun Kai yakin, Sehun terluka karena sahabatnya. Ah, sudahlah! Kai tak ingin membahas itu lebih lanjut. Ia lebih memilih untuk segera mengambil tempat di seberang meja Sehun—seperti biasa.

“Sehun, sudah jam istirahat!” Jenny datang setelah Kai mengambil tempat. Sehun hanya bergumam sebagai jawaban tanpa mengalihkan ketertarikannya pada huruf-huruf di layar laptop. Menyibukkan diri adalah caranya mengesampingkan rasa rindu pada wanita yang telah mencampakannya.

“Hanna menghubungiku tadi pagi,” Kai mengutarakan tujuannya, sadar Sehun tak akan bertanya lebih dulu. Pria dengan rahang sempurna itu seolah kembali pada pribadi lama, sebelum bertemu dengan Hanna.

Sehun sendiri menghentikan ketikan tangannya pada keyboard. Nama itu masih saja sukses mengacaukan kerja syarafnya, meski jelas ia telah dicampakan. Bahkan dua Minggu lalu, Hanna memberikan surat kuasa atas kepemilikan 520 Park Avenue kepadanya melalui Kai. Gadis itu seolah amat muak terhadapnya sampai tak ingin lagi berurusan dengannya. Hati Sehun mencelos menyadari itu. Kemarahan Hanna sungguh membuat sekujur tubuhnya dingin hingga beku dan kaku. “Sehun?” Kai memanggil, menyadari Sehun yang kembali larut dalam penyesalan.

“Aku merindukannya,” aku Sehun, menyerah. Pekerjaan sudah tak menarik lagi jika nama Hanna sudah menjadi topik pembahasan. Jenny menghampiri lantas merangkul sayang sepupunya itu—hanya rangkulan sebelah tangan dengan jemari membelai rahang.

“Hanna ada di Maryland,” Kai melanjutkan.

“Tapi aku sudah mencarinya ke sana, ke rumah kedua orang tuanya!” Sehun terlihat ragu. Ia memang pernah datang langsung ke kediaman Khaza dan disambut ramah oleh Jo Khaza. Bahkan Sehun tak merasa canggung terhadap Ayah dari mantan kekasihnya itu karena memang pembawaan Beliau yang santai. Dan dengan lembutnya Jo mengatakan, “Hanna memang pulang kemari setibanya dari Dubai. Tapi maaf, aku tidak bisa mengatakan di mana dia sekarang.” setelahnya, pria tua yang Sehun anggap calon mertua itu menanyakan banyak hal padanya. Seperti, bagaimana kalian bertemu? Bagaimana kesan pertama Hanna untukmu? Sejak kapan kalian menjalin hubungan? Apa yang membuat Hanna marah? Dan berakhir dengan sebuah pujian, “Oh, putriku sungguh pintar mencari pria. Anggap saja Hanna cemburu pada keterdiamanmu, Sehun. Maafkan putriku, dia memang seperti itu saat sedang marah. Tunggu saja sampai reda,” katanya, begitu menenangkan.

“Hanna sendiri yang mengatakannya padaku di telepon tadi,” jelas Kai. Ia sendiri baru mengetahui keberadaan sahabatnya itu. Hanna melimpahkan kekuasaan begitu saja padanya lantas menghilang tanpa jejak. Ponselnya tak bisa dihubungi dan kedua orang tuanya pun menyembunyikan keberadaannya hingga ia tak bisa membantu Sehun untuk mencari.

Sungguh, Kai sendiri tak mengerti mengapa Hanna sampai seperti itu. Sementara dari penjelasan Sehun mengenai hubungan keduanya, Kai bisa mengambil kesimpulan bahwa Sehun tak salah dalam hal ini. Hanna sungguh egois! Bahkan tanpa diketahui Sehun, gadis itu tak henti memerhatikannya yang saat itu datang berkunjung ke kediaman Khaza dari lantai dua, tanpa membiarkan Sehun sendiri melihat keberadaannya untuk sekedar melepas rindu. Curang!

“Aku akan ke sana!” Sehun bangkit lantas meraih jasnya yang tersampir di kursi. Ia sadar, Kai benar-benar serius.

“Tidak perlu! Malam ini, Hanna akan tiba di Battery Park untuk berkemas. Ia meminta Ayahnya untuk memindah tugaskan dirinya ke tempat lain.” Kai menghentikan kegiatan pria berkemeja merah tersebut.

“Apa?” Sehun lemas seketika. Jenny membelalak tak percaya.

“Kesempatanmu hanya malam ini, Oh Sehun. Dapatkan hatinya kembali dan segeralah seret wanita keras kepala itu untuk mengikat janji!”

-Ambition-


Apartemen ini terasa asing padahal hanya ditinggal satu bulan. Bola mata Hanna bergilir memerhatikan setiap sudut ruang. Sofa panjang di tengah ruangan pun menjadi titik fokusnya kala menangkap seorang pria dengan kemeja putih duduk di sana. Jantungnya kuat memberontak hingga darahnya berdesir hangat. Sayang, pria itu tak menyadari kehadirannya, ia justru sibuk memerhatikan sofa lain yang berada di sana. Senyum manis penuh makna pun Hanna lihat dari pria itu sebelum akhirnya sadar ini hanya ilusi. Namun, Hanna hanya terpaku mengingat kenangan singkat yang begitu membekas itu. Di mana Sehun secara terang melamarnya tanpa memintanya untuk menjadi kekasihnya terlebih dahulu. Gila!

Hanna memejamkan mata sesaat lantas melanjutkan langkah demi menaiki anak tangga. Jujur saja, Hanna merasa kacau akhir-akhir ini. Ia merasa begitu murah sampai jatuh ke dalam pesona Sehun hanya dalam hitungan Minggu, namun tak kunjung mampu melupakan meski sudah satu bulan berlalu, padahal sudah jelas Sehun membuangnya dalam keterdiaman. Ya, meskipun Sehun sudah menjelaskan itu semua di depan Ayahnya, tapi tetap saja Hanna merasa pria itu jauh lebih menyayangi asetnya yang baru merintis di tanah Manhattan.

Hah.. Hanna menghembuskan napas pelan mencoba untuk tetap tenang, sebelum beralih membuka pintu kamar. Queen Size Bed pun langsung menjadi tujuan saat pintu itu sepenuhnya terbuka. Sayang, sebelum tubuhnya sempat merebah; sebuah panggilan masuk dengan ID Kai Kim, menginterupsi.

“….” Hanna mengangkat tanpa bersuara. Ia merasa energinya harus dihemat, meski untuk sekedar berucap. Membenci seorang Oh Sehun saja sudah cukup menguras energi mengingat cinta itu masih ada. Dan Kai banyak bicara, ia harus sabar. Dan sabar membutuhkan energi. Namun, Hanna sudah siap mendengar cacian sahabatnya itu atas tindak-tanduknya yang menghilang tanpa kabar selama satu bulan penuh.

“Lihatlah dari atas, aku di bawah di tepi Sungai Hudson.” Kai sudah sangat hafal kebisuan gadis itu. Tak perlu baginya menunggu sapaan ‘hallo’ dari Hanna untuk mengetahui panggilannya tidak ditolak.

“Ada apa?” tanya Hanna penuh selidik. Tumit beralaskan pump-nya menghentak menuju balkon. Blazer hitam yang tersampir dieratkan saat angin malam menyapa. Beruntung, Hanna menggunakan long dress berwarna putih hingga tajamnya hawa dingin tak begitu menusuk. Sepertinya akan turun hujan, itu kesimpulan pertama yang Hanna ambil saat melihat langit tanpa bintang. Hazelnya lantas berkeliling mencari keberadaan Kai yang berada jauh di bawah sana, namun terkunci saat melihat ribuan tangkai bunga Tulip berwarna merah dan putih di atas Sungai Hudson. Begitu megah, membentuk rangkaian kata. Bahkan terlihat begitu bersinar dengan sorot lampu pendukung di bawahnya.

I’m Sorry

Itu yang Hanna baca dari ribuan tangkai Tulip yang disusun sedemikian rupa tersebut. Di mana, I’m berwarna merah dan Sorry berwarna putih. Sungguh, itu sangat indah! Hanna menyukainya, tapi untuk apa Kai … ?

“Aku mencintaimu, maafkan aku.”

Deg.

Jantung Hanna berhenti berdetak di detik pertama. Suara di seberang telepon sana bukanlah sahabatnya. Ponsel itu sudah berpindah tangan dan Hanna tahu siapa yang memegangnya sekarang.

“Aku tak bermaksud melukaimu, Hanna. Aku bahkan tak pernah berpikir untuk melakukannya, tapi justru keterdiamanku yang membuatmu terluka … maafkan aku!”

“….” yang diajak bicara hanya diam mendengarkan. Hanna mencoba mencari keberadaannya di tepi Sungai Hudson dan berhenti ketika berhasil mendapati seorang pria dengan kemeja putih dikeluarkan berdiri lurus di dekat huruf Y. Hanna menajamkan pengelihatannya hingga yakin bahwa itu Sehun, mantan kekasihnya.

“Kau salah paham, dan aku tidak tahu harus bagaimana. Kau terluka dan penjelasanku tidak akan cukup untuk menyembuhkannya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Hanna.” ungkap Sehun lagi, lembut. Bola matanya lurus menatap ke atas sana, dengan seorang wanita sebagai objeknya.

“….”

“Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Biarkan aku berdiri di sampingmu, memegang tanganmu, dan melihatmu tersenyum untukku. Bunuh aku jika kembali melukaimu!” pintanya, kemudian. Ia harap, Hanna bisa merasakan ketulusannya lantas memaafkannya. Tulip merah pun dipilihnya sebagai simbol cinta sejati, dan Tulip putih sebagai simbol permohonan maafnya yang tulus. Makna kedua warna bunga tersebut begitu dalam jika Hanna mengerti. Bahkan ahli bunga mengatakan, setangkai Tulip putih saja bisa melelehkan amarah seorang wanita berhati lembut. Dan di sini, Sehun memberikan 3.000 tangkai lebih untuk seorang Hanna yang ia tahu berhati es.

“….”

“Hanna, aku mohon maafkan aku … Jangan pergi lagi, tetaplah di sana!” mohon Sehun pada seorang wanita untuk pertama kalinya dalam hidup. Hanna terlampau berarti baginya sampai harga diri pun dikesampingkan. Jantungnya tak henti merusak ketenangan hati, kerjanya terlampau cepat sampai Sehun bisa mendengar detak jantungnya sendiri tanpa menyentuh dada kiri. Ia merasa bicara dengan seorang wanita bisu karena tak henti membuatnya gemas. Ayolah, Sehun hanya ingin mendengar suaranya. Ia amat rindu suara lembut penuh penekanan milik gadisnya itu.

Sementara, Hanna kalut dalam diam. Hati dan logikanya bekerja bertentangan. Di mana hati terus mendorongnya untuk segera turun menghampiri pria itu, lantas memeluknya demi melepas rindu dan memberikannya kecupan bertubi sebagai ungkapan terima kasih atas perlakuan manisnya. Namun, logikanya menghalangi bahkan menghardiknya bodoh jika sampai kembali pada pria yang sudah menyakiti harga dirinya itu.

“Hanna … aku merindukanmu, jangan seperti ini! Aku mohon!” Lagi-lagi, Sehun memohon. Nada lembutnya begitu menyentuh bahkan mampu membuat Hanna semakin kewalahan menenangkan jantungnya. Kebiasaan menggigit kuku jemari kala kalut pun kembali, sebelum akhirnya sadar lantas beralih mencengkram penjaga besi.

“Sehun,” Hanna menyerah, suara lembutnya memanggil. Hal itu sukses membuat jantung Sehun semakin tak tenang lantaran senang. Ya, Tuhan! Hanna memanggil namanya. Bukan main, Sehun mabuk kepayang. “—pulanglah! Langit mendung, sebentar lagi turun hujan.” Hanna kembali menjeda. Tak bohong jika Hanna khawatir melihat pria itu sampai tak sadar telah terdiam cukup lama hingga Sehun memanggilnya tak kalah lembut, “Sayang?”

“Aku … aku tak bisa melanjutkan apa yang sudah kita mulai.” Itu yang selanjutnya Sehun dengar, namun bukan itu jawaban yang ia harapkan. Detik berikutnya, tubuh Hanna yang menjauh dari balkon dilihatnya. Sehun terus memanggil dalam sambungan telepon genggam, namun Hanna seolah tuli sampai tak kunjung menjawab. Sambungan itu belum putus, Sehun tahu. Ia tak menyerah untuk terus memanggil bahkan tubuhnya siap berlari jika saja kedua sahabatnya dan teman barunya tak menghalangi.

“Tidak, Sehun. Cukup!” Itu Freddie. Pria itu mencekal bahunya hingga Sehun hampir putus asa lantaran takut kehilangan cintanya.

“Ya, Sehun. Cukup untuk malam ini. Biarkan Hanna memikirkan ucapannya.” Kai larut dalam emosi. Ia tak menyangka Hanna benar-benar egois bahkan terhadap perasaannya sendiri. Apa sih maunya? Kai memijat pelipis. Ambisi Hanna untuk berada di titik kepuasan itu terlalu tinggi sampai melupakan keinginan hati untuk mencintai karena menganggap itu hanya akan mengganggu. Bagi Hanna, cinta yang memberikan luka hanya akan mengganggu konsentrasinya meraih mimpi. Itu yang Kai tahu.

“Kami berakhir!” Sehun melemas bersamaan dengan adanya luminositas cahaya yang dihasilkan dari pelepasan kutub positif ke bumi. Cahaya yang begitu terang pun tercipta hingga membuat seisi bumi menyala dalam sekejap mata. Berikutnya suara gemuruh akibat tubrukan antar awan semakin sering terdengar hingga membuat takut anak kucing di bawah pohon. Dan keempat pria dewasa itu masih bertahan di tepi sungai dengan angin kencang yang berhembus. Hingga rintik hujan turun, mereka tetap bergeming di tempat tanpa berniat berteduh di bawah pohon. Sehun jatuh dengan kaki kiri terlebih dahulu, tangan kirinya pun ikut menahan agar tak limbung.

sehun1

Mereka yang melihat hanya bisa menatap iba pria berkulit putih susu itu. Cintanya begitu tulus, namun hanya karena satu kesalahan ketulusannya harus terluka. Dan Skandar benci melihat itu hingga emosi yang sedari tadi ditahannya melebur bersama rintik hujan.

Bugh.

Suara pukulan yang diterima di pipi Sehun membuat dua orang lain yang berada di sana membelalak terkejut. Baru saja Freddie akan berteriak memaki melihat Sehun yang tergeletak, namun suara sang tersangka terdengar hingga membuatnya terpaksa menelan kembali untaian silabelnya.

“Kau lemah Bertelsmann! Jika Hanna mengakhiri dan kau menganggap semuanya telah berakhir, maka semuanya akan benar-benar berakhir. Tidakkah kau sadar itu? Dan jika kau menyerah, maka aku tak akan segan mengambilnya darimu!” Kilatan amarah di mata cokelat Skandar seolah menjadi satu kesatuan dengan gemuruh di langit. Hinaan dan ancamannya terdengar sangat nyata hingga membakar adrenalin Sehun.

sehun3Maka dengan sedikit semponyongan, Sehun mencoba bangkit dari posisi lantas berdiri dengan fokus lurus menatap pria berdarah Lebanon itu. “Tidak. Hanna milikku! Dan akan aku pastikan, acara pertunangan kalian tidak akan pernah terjadi.”

“Lakukan jika kau mampu! Ingat, pertunanganku dan Hanna akan dilaksanakan setelah gadis itu kembali,” tantang Skandar. Senyum lembut Sehun pun tercipta hingga Freddie dan Kai bisa bernapas lega.

Sementara di tempatnya, Hanna ikut tersenyum mendengar percakapan itu. Ponselnya masih tersambung hingga tak ada satu pun suara terlewatkan. Dengan senyum manis yang tak lepas, Hanna menggeser tanda merah pada layar hingga sambungan itu terputus sepenuhnya.

Ya, Sehun … buktikan jika kau mampu! Bawa aku kembali dalam genggamanmu. Aku hanya menginginkan pria sejati untukku bernaung. Dan jika kau menyerah, maka semuanya akan berakhir. Aku hanya tak ingin melibatkanmu dalam mengejar mimpi, karena melibatkan cinta dalam bisnis hanya akan berakhir dengan orientasi bisnis. Tunggu aku, jika memang kau menganggapku cinta sejatimu seperti yang kau ungkapkan lewat Tulip merah itu.

tulip merah

-Ambition-

Cupid bersayap tanpa baju dengan busur panah dalam genggaman menjadi lukisan langit-langit ballroom milik Rockefeller. Kesan modern klasik pun terlihat pada bangunan bergaya Eropa itu. Sementara, dresscode berwarna merah menyala dipilih pihak penyelenggara untuk para tamu wanita dan tuxedo hitam dengan kemeja merah untuk tamu pria. Kata elegan dan berkelas pun menjadi kesan pertama bagi siapa saja yang melihat kerumunan bangsawan dalam pesta tahunan keluarga besar Rockefeller tersebut.

Di sana, tak hanya para pemilik saham saja yang datang menghadiri, tetapi juga para pengusaha besar yang memiliki hubungan baik dengan Rockefeller Group, termasuk Bertelsmann dan Marriott. Acara megah nan mewah itu menjadi perantara pertemuan kembali tiga orang eksekutif muda yang selalu disibukan dengan berkas di meja. Tak terasa sudah enam bulan berlalu sejak pertemuan terakhir mereka di bawah hujan. Sayang, Nona Ritz-Carlton yang diharapkan hadir tak menampakkan batang hidungnya di sini.

“Sudah menemukannya?” Freddie bertanya setelah meneguk habis Blue Agave Tequila-nya. Sehun menggeleng sebagai jawaban. Pikirnya larut memerhatikan botol berlapis batu mulia di tangannya. “Hanna pernah mabuk saat menenggak minuman ini, padahal kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi,” ujarnya dengan senyum kecil di bibir. Freddie ikut tersenyum melihatnya.

“Ini minuman favoritnya karena memang kandungan alkoholnya tidak terlalu tinggi, tapi Hanna selalu mabuk setiap kali meminumnya. Tubuhnya lemah terhadap alkohol, asal kau tahu!” jelas Freddie. Skandar mengangkat alis, ingat akan pertemuan pertamanya dengan Hanna di Macau dan saat bersama Sehun. Saat itu, Hanna memang tak menyentuh satu pun minuman beralkohol … Jadi, karena itu alasannya. Skandar mengangguk paham, “Lemah terhadap alkohol berarti mudah ditiduri,” katanya, asal.

“Hm … Jika aku tidak tulus mencintainya, mungkin Hanna sudah melepas purity ring-nya. Percayalah, Hanna amat polos dan mudah dijebak. Ia menutupi itu dengan wajah datarnya. Tak heran, Hanna sangat marah saat aku menganggukkan kepala setuju untuk membawanya ke kamarku.” Freddie membenarkan.

Sehun pun ikut membenarkan ucapan si Mr. Rockefeller itu. Mengingat kelakuan bejatnya saat melepas lapisan kimono Hanna dan ikat rambutnya kala gadis itu tak sadarkan diri. Beruntung akal sehatnya kembali dan segera membawanya untuk menjauh dari gadis itu dengan mencuci wajah di wastafel kamar mandi. Kimono Hanna yang masih berada dalam genggaman pun Sehun buang begitu saja ke dalam keranjang pakaian kotor. Sementara, butuh waktu puluhan menit baginya untuk mendinginkan kembali gairah yang bergejolak panas akibat melihat tubuh setengah polos Hanna itu. Namun, Sehun tak menyesali perbuatannya karena menganggap Hanna akan menjadi miliknya nanti. Dan itu adalah alasan mengapa Hanna bangun dalam keadaan kacau di pagi hari. Jika Freddie tahu—ia pernah selancang itu pada Hanna—mungkin pipinya akan kembali berakhir lebam.

“Polos untuk masalah dikelabui mungkin ‘iya’, tapi aku rasa, Hanna tahu banyak tentang …,” Skandar menggantung kalimatnya lantas mengedikkan bahu penuh arti. Kedua temannya mengerti hingga tawa ketiganya pecah.

“Seks bukan hal tabu di Amerika. Anak kecil saja sudah tahu, apalagi seorang Khaza Hanna yang memiliki ambisi dan rasa ingin tahu tinggi.” Freddie membenarkan.

“Dia penggoda yang ulung, namun justru membuat lelaki rela mengeratkan ikat pinggang.” Sehun ikut menanggapi.

“Kau benar, selama 14 bulan menjalin hubungan aku tak pernah berani menyentuhnya. Bahkan tak jarang aku lari pada jalang untuk menuntaskan kebutuhan.”

“Hanna tahu soal itu?” Skandar terlihat tak percaya akan pengakuan Freddie.

“Hm, dia tahu dan mengerti. Itu membuatku malu hingga tak lagi mengulangi. Bagaimana denganmu, Sehun?”

“Aku tak pernah menyentuh wanita lain semenjak mengenalnya. Aku ingin belajar setia pada satu wanita, meski wanita yang kucintai itu pergi entah ke mana.” Sehun menandaskan isi gelasnya setelah berucap. Mengenal Hanna delapan bulan lalu, lantas mendekatinya selama tiga Minggu, kemudian memilikinya selama tiga jam, lalu berakhir dengan ditinggalkan tanpa kepastian selama satu bulan, dan bertemu kembali dalam radius ratusan meter dengan harapan bisa memeluknya kembali, namun nyatanya Hanna benar-benar mengakhiri dengan pergi tanpa jejak. Dan sekarang sudah enam bulan berlalu semenjak Hanna membiarkan panggilannya di malam yang mendung. Hujan yang turun seolah membawa sosok gadis itu pergi dalam fokusnya.

“Bagaimana bisa kau memertahankan perasaanmu pada gadis yang telah lama tidak kau lihat? Jujur saja, aku bisa memertahankan perasaanku pada Hanna karena masih bisa melihatnya di Battery Park setelah hubungan kami kandas. Tapi setelah tak melihatnya lagi selama enam bulan, perasaan itu mulai semu.” Freddie mulai terlihat serius. Ia jujur, namun tak yakin perasaan itu tidak akan kembali jika melihat Hanna lagi. Entah mengapa, Freddie merasa Hanna selalu mempunyai pesona yang berbeda di setiap pertemuan. Dan hal itu selalu mampu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Sayang, mantan gadisnya itu mencintai sahabatnya sehingga kebahagiaan gadis itu pun diprioritaskan ketimbang ego untuk memilikinya. Terdengar pengecut, tapi memang seperti itu caranya mencintai Hanna. Lagi pula, memaksakan kehendak itu tidak baik dan Freddie tak ingin terus-terusan dibenci oleh gadis yang begitu dicintainya itu.

“Aku memiliki ini!” Sehun menyodorkan ponsel pintarnya ke tengah meja. Freddie dan Skandar tersenyum melihat gambar yang ditampilkan di sana.

KHanna

“Aku mendapatkannya dari, Kai. Ia bilang, Hanna tak pernah sudi berfoto. Kai memotretnya saat sedang berjalan di taman. Beruntung, Hanna terlambat menyadari saat Kai mengarakan kamera ke arahnya hingga senyum itu tertangkap lensa,” jelas Sehun, mengulang kembali cerita teman barunya saat memberikan itu padanya. Foto itu sendiri diambil sebelum mereka (Sehun dan Hanna) saling mengenal. Dan itu merupakan foto satu-satunya yang Sehun miliki.

“Aku sendiri hanya memiliki tiga foto bersamanya saat masih menjalin kasih. Sampai saat ini, aku tak pernah tahu alasan mengapa Hanna tak suka mengambil foto.” Freddie mengambil alih ponsel itu, namun Skandar merebutnya dengan segera. “Aku minta,” katanya tanpa menunggu persetujuan.

“Usaha sendiri!” Sehun mengambil alih kembali ponselnya lantas mengamankannya ke dalam saku jas. Itu aset berharganya, Sehun tak rela berbagi. Foto itu selalu mampu membuatnya kepayang seakan ditemani oleh orang yang berada di dalamnya. Ia tak ingin Skandar merasakan hal yang sama karena itu, meski ia tahu, Skandar masih senang bermain dengan wanita untuk sekedar menuntaskan hasrat.

Jujur saja, sampai saat ini, Sehun tak mengerti cara Skandar mencintai Hanna. Pria itu mencintai dan berusaha untuk mendapatkan, namun tak masalah jika Hanna kembali padanya. Skandar menganggap ini layaknya bisnis. Jika kalah, maka tak akan menjadi masalah, jika menang, maka akan menjadi kebanggaan. Itu caranya membuktikan diri bahwa ia lelaki. Sedikit aneh menurut Sehun, tapi itu memberikannya keuntungan. Setidaknya, hubungan persahabatan yang telah mereka jalin tak rusak karena satu wanita.

“Jika kau tidak mau memberikannya, maka aku tidak akan memberitahu di mana Hanna berada!” Ancam pria berdarah Lebanon itu. Sehun menaikkan sebelah alis menantang, “Memangnya apa yang kau tahu, hm? Sudah enam bulan aku mencarinya dengan melihat daftar mahasiswa baru di seluruh universitas terbaik Amerika, namun hasilnya nihil. Tak ada nama Hanna di mana pun.”

“Jelas kau tidak menemukannya, Hanna tidak berada di Amerika!” pancing Skandar.

“Tidak di Amerika?” Freddie menyelidik; senyum kecil Skandar pun dilihat. “Hm …,” hanya gumaman menggoda yang diberikan sebagai jawaban.

“Lantas?” Freddie memicingkan mata, mencari tipu muslihat Skandar.

“Eropa,” jawabnya singkat, lantas beralih pada segelas Tequila.

“Dari mana kau tahu?” Sehun ikut menyelidik dengan mimik ambigu—ada tak percaya, sedikit kesal, dan bahagia di sana.

“Paman Jo,” jawab pria Lebanon itu sok lugu.

“Keluarganya menyembunyikan keberadaan Hanna dari kita.” Freddie menegaskan.

“Aku memaksa Paman Jo untuk mengatakan di mana Hanna saat berangkat menuju kemari.” Nada sok imut itu masih keluar dari mulut Skandar. Sehun sang korban pun semakin muak dibuatnya. Sialnya, Sehun tak menemukan kebohongan dari rayuan maut karibnya itu. “Paman Jo duduk di meja ke dua dari punggungmu, Sehun. Aku bisa—“

“Satu foto untuk satu informasi, deal!” Sehun menyerah dan percaya, senyum cerah Skandar tercipta.

“OK. Deal!” Dengan gerakan cepat, Skandar meraih ponsel Sehun. “Hanna menjadi salah satu mahasiswa di universitas terbaik Eropa. Tepatnya, di sebuah negara mode dengan berbagai situs kebudayaannya yang mendunia. Hanya itu yang dikatakan Paman Jo!” lanjutnya, jujur.

Sehun terdiam. Negara mode di Eropa? Sedikit ambigu karena ada Italia dan Perancis yang sama-sama kiblat mode. Situs kebudayaan? Di Eropa banyak negara dengan situs kebudayaannya yang mendunia. Namun, Sehun sudah menemukan jawabannya. Kata ‘terbaik’ adalah kuncinya.

“Tidak sulit. Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Sehun?” Freddie bahkan tak kalah cepat menemukan negara yang dimaksud.

“Aku akan mendapatkannya kembali dan membuatnya tak bisa lari lagi dariku. Jangankan lari, aku bersumpah akan membuatnya kesulitan berjalan karena cintaku. Itu hukuman yang layak, bukan?” tanya Sehun dengan senyum penuh aura kejantanan. Freddie bahkan sudah memasang pokerface andalannya, dan Skandar melipat tangan di bawah dada.

“Tidak untuk itu!” Keduanya kompak menentang dengan kepala menggeleng pelan. Sehun menahan tawa menyadari pikiran kotor kedua sahabatnya itu. Otak mesumnya pun semakin menjadi menggoda keduanya.

“Ayolah! Aku hanya ingin membuat Hanna berpikir dua kali sebelum meninggalkanku dan hanya itu yang bisa aku lakukan.”

 

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Aku kena wabah WB, maaf ya jadi lama. Maaf juga kalau hasilnya ga memuaskan. Dan terima kasih buat kalian semua yang masih mau baca dan komen.

Oh, iya, Special Thanks buat kalian semuaa yang udah tau hari ini, hari jadi aku yang ke-20 … Terima kasih buat semua doanya … Ada yang ngasih kado juga … Huhu makasih^^

Lobee you,

Sehun’Bee

P/S : yuk Follow Sehun’Bee wp untuk updet FF terbaru karya aku.

779 responses to “Ambition [Chapter 8] – by Sehun’Bee

  1. Seru liat persahabatan mereka brtiga, Hanna keren d perebutin cwok2 cakep, hehe.. Mkin keren ceritanya, good buat ff ini,,

  2. frustasi juga ya suka sama hanna, cinta pun dia lepas kalo menurut logikanya salah. bener sih cuman sakit..

    bersyukur sahabat2 sehun mau ngelepas hanna sebelumnya aku mikir freddie ga akan gampang urusannya. ternyata kalo masalah sahabat lain ceritanya

  3. susah ya rebutin 1 cewe sama sahabat sendiri…
    udah hanna sama sehun aja, gausah sama yg lain
    biarkan sehun menjadi cinta terakhirmu #cailahhh
    keep writing kak…!!!

  4. susah banget ditaklukkan,
    tapi hanna masih berharapkan sama sehun,
    nexttt.

    SCH eonni🙂 maaf telat

  5. cukup melegakan karna persahabatan mereka gak hancur gitu aja
    kalimat sehun diakhir itu sukses bikin aku berfntasi liar hahhaa..
    fighting kak ^^

  6. Di chapter ini ada comedy nya… aku ngakak pas bagian Skandar terlihat seperti perempuan yg dipaksa nikah sama pria berkepala botak :v

  7. Ih lucu bgt deh persahabatan 3 cowo ituuuu…

    Hanna ngilang kemana coba:( emang yg jadi pacarnya hanna kudu sabar.. tp sekalikali aku pengen liat hanna kelimpungan kayak si sehun kelimpungan. Wkwm pasti lucu bgt deeh

    Ngomong2 bee, kayaknya ada kata yg kurang tepat deh dari kalimat ini, “tapi tetap saja Hanna merasa pria itu jauh lebih menyayangi asetnya yang baru merintis di tanah Manhattan.” Mungkin harusnya dirintis kali ya…

  8. Gregetann sama hana.. salut juga sama sehun rela nungguin hana walaupun digantung gtu kekeke hwaiting🙌

  9. Hanna kamu beruntung nak di rebutin cowok cowok cakep…
    Bagi satu sama aku poo..hahaha
    Aku gila…sehun so sweet amet ya…cinta mu begitu memabukkan hun hahaha…hanna maafin sehun plis…btw poto sehun buat aku salpok melulu eh hahaha
    Kedepannya moga hubungan mereka bisa membaik ya amin…hahaha

  10. disini kasian sehun disalah artiin sm hana, salut sm hana yg ga kemakan hidup bebas amerika (y) haha makin ga sabar baca part finalnya huhu

  11. kasihan sehun, hanna kembalilah pada sehun, dia benar benar mencintaimu. alu gak ngerti sama sikafnya skandar.
    next chapter.

  12. Ternyata persahabtan mereka ber 3 indah jg yaaa apalagi klo ditambahin kai…ayo sehun buktikan sama hanna kalo kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua…hanna tegas banget tapi suka…lanjutkan

  13. Knapa klo gue ngebayanginnya tokoh2 yg suka ama hanna tuh exo oppa yg lain *dan ngebayangin klo hanna itu gue*
    Hahahaha parahhh

  14. Apa cuma gue? Yg nangis bombay ~ alayy
    Chap ini 😂😂
    Kasian sehun
    Disalahartikan
    Yodah hun, pindah lapak ke gue aja
    Persahabatannya wooow bgt

  15. Kalau sebelumnya aku mengumpat untuk ke3 sahabat itu, maka sekarang aku ingin memujinya.. die dan skandar yg mencoba untuk melepaskan demi sehun..
    Untuk hanna.. ia hanya terlalu gengsi.. atau mungkin takut dan ragu untuk percaya kepada sehun lagi.. *dimaklumi*
    “…Tapi setelah tak melihatnya lagi selama enam bulan, perasaan itu mulai semu.” Freddie mulai terlihat serius. (Setuju sekali dengan yg dikatakan die. Entah kenapa aku menganggukkan kepala saat membacanya. Rasanya seperti kata2 ini ditujukan untukkan) hehehe..

  16. Kalau sebelumnya aku mengumpat untuk ke3 sahabat itu, maka sekarang aku ingin memujinya.. die dan skandar yg mencoba untuk melepaskan demi sehun..
    Untuk hanna.. ia hanya terlalu gengsi.. atau mungkin takut dan ragu untuk percaya kepada sehun lagi.. *dimaklumi*
    “…Tapi setelah tak melihatnya lagi selama enam bulan, perasaan itu mulai semu.” Freddie mulai terlihat serius. (Setuju sekali dengan yg dikatakan die. Entah kenapa aku menganggukkan kepala saat membacanya. Rasanya seperti kata2 ini ditujukan untukku) hehehe..

  17. Yahh jadi missunderstanding deh wkkw kirain mereka tipe sahabat yg lebih mentingin cewe ternyata nggak wkwkwk
    Andai aja sehun yg di ff ini beneran exist, bisa mati berdiri sayaa hehehe…

  18. Oh god ini permasalahan yg rumit, ketika harus memilih kekasih atau sahabat. Tapi mereka menyikapi nya dgn dewasa. Salut, benar2 sahabat sejati^^

  19. Salut sama hubungan freddie, skandar, sehun. Di real life masih suka gagal paham sama jalan pikiran cowo hmz. Yah walau makhluk jenis mereka lebih bisa menyelesaikan masalah pake otak dingin.

    Good view buat berimajinasi. Thanks buat pict dukungannya thor

  20. Wahh wah klo ada seorang pria brsahabt spert it yah pasti hebat bukan…
    Oh sehunie smpat kasian semua kata” manisnya trhdp hanna tdk dhiraukan sm skli well hanna ujung”ny senang jg sih. Hahaha

  21. sehun is so cheesy….aq bs pingsan dengan kata2nya sehun yg bikin bulu kuduk naik…untung fredy ama skandar gak muntah dengerin kata cinta dr sehun utk hana….

  22. aku kira konflik nya bakalan fokus sama tiga lelaki yg memperebutkan 1 wanita ternyata engga ini jadi perjuangan 1 lelaki aja ya tapi bagus jadi ga terlalu pusing di buatnya:3 Kai kayanya greget banget sama sehun-hanna pengen banget kayanya nyatuin mereka:3 dan aku ga ngerti sama tuan Jo dia kaya setuju aja sama hubungan sehunhanna tapi kenapa dia kaya kecewa kalo tau hanna mau nolak skandar?? Aku ga ngerti-,- Tapi ko hanna gitu sih kasian sehun kan? Sampai segitunya mau pindah? Tapi aku suka banget sama sifat hanna yg menjunjung tinggi kehormatan! Yang mungkin sekarang jarang ada yg sampai segitunya kan? Ah greget pokonya penasaran banget sehun-hanna nanti gimana?? mereka kaya beneran ㅠㅠ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s