Change Me | 26th Chapter [ENDING]

change-me-awknisa-by-primaveraartfantasy15

Title :

:: Change Me ::

나를 변경

 

Author : awknisa (twitter : @awknisa)

Main Cast :

Oh Sehun (EXO) || Byun Hyerin (OC/You)

∞ Support Cast : Various Artist & OC’s || Genre : Family, Marriage Life, Romance || Rating : PG-15 || Length : Chaptered ∞

 

Sorry for Typo(s)

 

Previous Chapter ↓↓↓

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || CHANGE ME SIDE STORY || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || Chapter 12 || Chapter 13 || Chapter 14 || Chapter 15 || Chapter 16 || Chapter 17 || Chapter 18 || Chapter 19 || Chapter 20 || Chapter 21 || Chapter 22 || Chapter 23 || Chapter 24 || Chapter 25 ||

 

 

HAPPY READING 😀

 

 

 

Ini sudah hampir lima belas menit sejak Sehun mengatakan keputusannya pada dr. Lee untuk menyelamatkan anaknya terlebih dahulu.

Dan selama itu pula, Baekhyun tak henti-hentinya melayangkan tatapan tajam pada Sehun. Ia sungguh kecewa dengan pilihan Sehun. Baekhyun pikir, Sehun akan lebih memilih keselamatan adiknya—Hyerin. Namun Baekhyun salah, ku tegaskan sekali lagi Sehun benar-benar membuatnya kecewa.

Ya! Brengsek kau, Oh Sehun!! Kenapa kau selalu saja membuat adikku menderita, huh?!” pekik Baekhyun sembari meraih kerah kaos polo berwarna biru turkis yang dikenakan Sehun. Namun Sehun diam, ia tetap menunduk dengan padangan kosongnya itu.

“Jawab aku!! Kau tahu? Selama ini ia selalu mempertahankan dirinya hanya demi dirimu, ia bahkan melakukan segala macam cara untuk membahagiakanmu, dan yang benar-benar harus kau tahu, Hyerin selalu menomorsatukan dirimu daripada dirinya sendiri, dan sekarang? Kau bahkan tak memperjuangkan keselamatannya sama sekali. Brengsek!!” ujar Baekhyun lagi yang sudah siap menghantam wajah Sehun. Tapi untungnya ada Jiyoung yang dengan cekatan menahan lengan suaminya itu.

Tuan Byun dan Nyonya Byun kini sedang berdo’a di salah satu gereja terdekat dari rumah sakit. Maka dari itu tak ada siapapun selain Jiyoung yang bisa menengahi Baekhyun dan Sehun.

“Kau tidak tahu apa-apa, Hyung,” balas Sehun datar.

Perkataan Sehun yang terdengar seperti merendahkan Baekhyun berhasil membuat lelaki bermata sipit itu tak bisa menahan emosinya untuk tidak melayangkan sebuah tinjuan pada Sehun. Namun lagi-lagi dengan santainya Sehun hanya memegangi pipinya yang ditinju oleh Baekhyun lagi.

“Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Hyerin, ku pastikan kau tidak bisa menginjakkan kakimu di bumi ini lagi, Tuan Oh Sehun,” tegas Baekhyun.

“Semuanya akan baik-baik saja. Ya, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya Hyerin akan menepati janjinya. Ia akan bertahan, ya aku yakin.” Perkataan Sehun barusan justru lebih terdengar untuk menyemangati dirinya sendiri, untuk memupuk kembali keyakinannya yang berangsur-angsur mulai runtuh.

“Bagaimana bisa kau sepercaya itu, eo? Kemungkinan Hyerin dan anaknya selamat secara bersamaan itu sangat kecil, Sehun-ah. Bahkan bisa dibilang mustahil!!” seru Baekhyun lagi sembari menunjuk kasar wajah Sehun dengan telunjuknya.

Oh sungguh, Baekhyun tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Baekhyun tekenal dengan hatinya yang lembut, dan selalu tenang dalam menghadapi situasi. Bahkan Jiyoung sedikit kaget melihat sisi Baekhyun yang ‘ganas’ seperti ini.

“Cinta. Aku yakin cinta kami bisa menguatkan Hyerin…” jawab Sehun lagi.

“Ck, dasar orang gila. Cinta? Hei, dengar ya. Tidak selamanya cinta bisa menguatkan seseorang, tidak selamanya cinta bisa menyelamatkan situasi, dan tidak selamanya… cinta bisa bertahan. Ingatlah, ini dunia nyata, bukan sekedar fiksi maupun dongeng!! Sialan!!” ujar Baekhyun lagi. Bahkan Baekhyun hampir meludahi wajah Sehun.

Hyung, aku mohon. Hormatilah keputusanku, aku yakin ini pilihan yang terbaik.” Sehun memberanikan diri untuk meletakkan tangannya di pundak Baekhyun dan menatap ke arah kakak iparnya tersebut. Namun dengan cepat Baekhyun menepis kasar tangan Sehun dari pundaknya. Ia terlalu muak dengan Sehun.

“Sehun benar, Baekhyun-ah. Setidaknya kau hormatilah keputusannya. Lagipula, ia suami Hyerin, dan ia juga ayah dari janin itu. Jadi kurasa… ia yang pantas memutuskan dalam masalah ini,” ujar Jiyoung yang mulai menarik Baekhyun untuk menjauh dari Sehun agar suaminya itu tidak kelepasan memukul Sehun lagi. Oh ayolah, kekerasan bukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah, right?

“Tapi aku kakaknya!! Aku kakak kandungnya!! Darah yang mengalir di tubuh Hyerin sama dengan darah yang mengalir di tubuhku!! Aku telah hadir di samping Hyerin selama ia hidup di dunia ini, sedangkan dia? Dia baru datang ke hidup adikku dan mulai menghancurkan segalanya!!” Lagi-lagi Baekhyun menunjuk wajah Sehun dengan lancang. Melayangkan tatapan yang seakan-akan menganggap Sehun hanyalah seonggok sampah, tidak ada gunanya.

“Byun Baekhyun jaga perkataanmu!! Dia adik iparmu. Bagaimanapun juga Sehun adalah pria yang dicintai adikmu, pria yang membuat adikmu lebih semangat dalam menjalankan hidupnya. Sehun juga… pria yang membuat Hyerin bahagia, membuat Hyerin merasa bahwa ia adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini. Sebagai sesama wanita, aku tahu betul bahwa perasaan Hyerin pada Sehun sama persis seperti perasaanku padamu!!” pekik Jiyoung yang kini sudah geram karena Baekhyun terus saja memojokkan Sehun. Bahkan kini Jiyoung sudah ikut meneteskan air matanya.

Bukannya berniat membela Sehun, namun Jiyoung rasa Baekhyun sudah kelewatan. Ini bukan Baekhyun yang ia kenal, bukan Baekhyun yang penuh sopan santun. Yeah, Jiyoung mengerti bagaimana perasaan Baekhyun sekarang, tapi Baekhyun juga tidak bisa bersikap seperti itu. Karena Jiyoung yakin… Sehun lebih terpukul sekarang. Fakta bahwa anak dan istrinya tidak bisa diselamatkan bersamaan pasti membuat Sehun terpukul, bagaimanapun juga.

M–mian… Jiyoung-ah. Aku tidak bisa menahan emosiku!! Aku sedih, perasaan ini… perasaan dimana kau harus bersiap kehilangan adik yang paling kau sayangi lebih dari apapun… benar-benar membuatku sakit,” jawab Baekhyun sembari memukul-mukul kasar dadanya yang sesak.

“Kemari, tenangkan dirimu dulu.”

Jiyoung menarik tangan Baekhyun untuk duduk ke salah satu kursi tunggu dan mulai memeluk Baekhyun. Menyandarkan kepala Baekhyun di dadanya. Membiarkan pria yang paling dicintainya itu untuk menangis, meluapkan semua kesedihan, ketakutan, serta emosinya tersebut. Baekhyun menangis setidaknya jauh lebih baik daripada Baekhyun melukai orang lain.

Di sisi lain, Sehun masih berdiri mematung sembari menggigit bibirnya keras-keras. Melampiaskan semua kemarahan serta kesedihannya. Kemarahan? Ya, Sehun marah pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia berkata bahwa ia memilih untuk menyelamatkan anaknya terlebih dahulu daripada Hyerin.

Sebenarnya, jujur, Sehun ingin berkata bahwa ia lebih memilih Hyerin pada dr. Lee tadi. Namun perkataan Hyerin tentang janji mereka tadi tiba-tiba terngiang jelas di benak Sehun. Hyerin bahkan sempat-sempatnya mengingatkan Sehun akan janjinya disaat-saat sebelum akhirnya wanita itu tak sadarkan diri, dan dari situlah Sehun sadar… bahwa Hyerin berharap banyak padanya. Hyerin benar-benar berharap bahwa Sehun akan menepati janjinya untuk menyelamatkan anak mereka. Maka dari itu, dengan tegas Sehun menjawab pertanyaan dr. Lee tadi seperti itu.

Sehun tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Hyerin. Akankah Hyerin meninggalkannya—ah tidak, Hyerin pasti menepati janjinya untuk bertahan, aku yakin, batin Sehun terus berkata seperti itu sedari tadi. Dengan satu tujuan, agar kepercayaannya tidak goyah.

Sudah lebih dari satu jam operasi dilangsungkan. Kata penyemangat serta beberapa do’a tak henti-hentinya keluar dari bibir Sehun. Tangan itu… selalu terkatup untuk meminta permohonan pada Tuhan, memohon akan suatu keajaiban, keajaiban yang benar-benar sangat diharapkan Sehun kehadirannya saat ini.

Lampu merah di atas pintu ruangan operasi yang sedari tadi menyala tiba-tiba saja mati, dan itu artinya… operasi telah selesai. Dengan langkah yang bergetar, Sehun mendekat ke arah pintu operasi, menunggu penjelasan dari dr. Lee mengenai kondisi Hyerin dan juga anaknya.

Begitu dr. Lee keluar dari ruangan operasi tersebut, Sehun langsung mendatangi dokter muda berambut sepundak yang super cantik itu. “Ba–bagaimana… hasilnya, Dok?” tanya Sehun yang sebenarnya tak siap sama sekali mendengar jawaban dari dr. Lee. Namun, ia juga butuh kepastian.

“Selamat Tuan Oh Sehun, anak Anda berhasil diselamatkan, dan kini ia sedang dibersihkan dan akan segera dipindahkan ke ruangan bayi,” ujar dr. Lee. Sehun sebenarnya lebih penasaran dengan kondisi Hyerin daripada anaknya, kalau boleh jujur.

“Bagaimana dengan… Hye–hyerin?” Kali ini bukan Sehun yang bertanya, melainkan Baekhyun.

“Sesuai dengan perkiraan awal, kami tidak berhasil menyelamatkan Nyonya Byun Hyerin….” jawab dr. Lee dengan raut wajah penuh menyesal.

“Jadi Hyerin… Hyerin… tidak mungkin!!” pekik Nyonya Byun yang lagi-lagi berteriak histeris sembari menangis sejadi-jadinya.

“Sekali lagi maaf, Nyonya, Tuan. Kami benar-benar tak bisa melakukan usaha apapun lagi. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun sepertinya Tuhan berkata lain…” ujar dr. Lee.

“Kalau begitu saya permisi sebentar, karena ada yang harus saya urus. Kalian bisa menemui Nyonya Hyerin sebelum semua alatnya dilepas dan ia dipindahkan,” ujar dr. Lee seraya melanjutkan langkahnya, menjauh dari ruang operasi.

BUGH

Lagi-lagi Baekhyun tak bisa menahan emosinya untuk tidak melayangkan tinjuan pada Sehun. Baekhyun semakin menjadi-jadi kali ini, sungguh, ia sudah benar-benar emosi. Hyerin… Hyerin adiknya benar-benar meninggal, dan ini semua karena Oh Sehun!!

“Kau lihat ‘kan sekarang apa yang terjadi pada adikku?! Bahkan ia kehilangan nyawanya karenamu, Oh Sehun!! Brengsek!! Yang harusnya mati itu kau, bukan adikku!!” ujar Baekhyun seraya melayangkan sebuah tamparan lagi pada Sehun.

Namun Sehun langsung beralih untuk masuk kedalam ruangan operasi, melihat keadaan Hyerin. Ia tak percaya Hyerin benar-benar meninggalkannya sebelum ia melihatnya secara langsung.

Benar saja, Hyerin kini sudah terbujur kaku di atas kasur dimana tempat ia melahirkan tadi. Tidak ada lagi senyuman tipis Hyerin yang selalu membuat Sehun meleleh, semuanya suram sekarang. Ia merasa deja vu, ini semua persis seperti saat dimana ia melihat Chanyeol beberapa bulan lalu, namun sepertinya… ini lebih sakit.

Sehun lihat suster hendak melepaskan alat-alat yang masih terpasang di tubuh Hyerin, namun Sehun tiba-tiba mencegah suster tersebut, “Berhenti, Suster. Jangan lepaskan alatnya!!” ujar Sehun seraya menarik tangan suster itu untuk menjauh dari Hyerin.

Baekhyun yang menyaksikan apa yang dilakukan Sehun tersebut lagi-lagi hanya bisa memaki ke arah Sehun, “Sekarang apa lagi yang kau lakukan, huh?! Kau ingin menyiksa adikku dengan alat-alat tersebut? Sebenarnya kau benar-benar mencintai adikku atau tidak, huh?!” ujar Baekhyun lagi. Untung saja kini Jiyoung menggenggam tangan Baekhyun, kalau tidak, mungkin Baekhyun sudah melayangkan tinjuan lagi pada Sehun.

Sehun tidak menghiraukan perkataan Baekhyun sama sekali, ia justru berkata lagi pada suster tadi, “Jangan lepaskan alat ini dan pindahkan Hyerin ke ruangan rawat inap. Ia masih hidup!! Tolong jangan sangkal omongan saya, ini keputusan saya, Suster.”

“Tapi, Tuan…”

“Sudah saya katakan, jangan sangkal omongan saya, Suster. Yang sekarang harus Anda lakukan adalah pindahkan Hyerin ke ruang rawat inap seperti pasien lainnya dan terus pasangkan alat ini,” ujar Sehun lagi sembari menunjuk ke arah bedside monitor yang sudah berdengung panjang tanpa jeda, yang artinya detak jantung Hyerin sudah tak terdeteksi lagi.

“Baik… Tuan,” ujar suster tersebut dan mulai mendiskusikan permintaan Sehun dengan rekan-rekannya yang lain.

“Apa yang kau lakukan, Nak?” tanya Tuan Byun sembari menautkan alisnya tak mengerti.

“Aku yakin… Hyerin tidak akan pergi semudah itu, Abeonim. Hyerin pasti bertahan…” ujar Sehun sembari menganggukan kepalanya berkali-kali dan menggenggam tangan Hyerin kuat-kuat.

“Sehun-ah… sadarlah, Hyerin sudah pergi. Kau sudah lihat sendiri dengan mata kepalamu,” ujar Tuan Byun yang kini sudah meneteskan air mata. Ia tak bisa lagi membendung kesedihannya. Biarlah orang berkata apa tentang dirinya yang begitu mudah mengeluarkan air mata, saat ini ia benar-benar sedih.

“Tidak, Abeonim. Hyerin… pasti menepati janjinya padaku…” ujar Sehun lagi sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Hyerin.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Sesuai dengan permintaannya, kini Hyerin telah dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa, bukannya ke kamar mayat. Sehun tidak perdulu lagi dengan bedside monitor yang terus berdengung panjang sedari tadi. Yang ada dipikirannya, Hyerin pasti bertahan.

Yang ada di ruangan Hyerin ini hanyalah Sehun seorang. Awalnya Baekhyun bersikeras untuk masuk, ingin menyaksikan bagaimana kegilaan Sehun. Namun Tuan Byun memberitahu putranya tersebut untuk tidak mengganggu Sehun dulu karena ia sangat terpukul saat ini. Buktinya… ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Hyerin telah pergi.

“Hyerin-ah…” Akhirnya Sehun mulai berbicara. Namun jelas saja tidak ada yang menjawab, right?

“Aku tahu kau kuat…” ujarnya lagi.

“Kau tidak mungkin pergi meninggalkanku ‘kan? Ya, kau bukan wanita jahat yang tega meninggalkanku sendirian di dunia ini. Aku yakin itu.”

“Ayo bangun, Sayang. Aku mohon…” air mata Sehun mulai menetes.

Tidak, Sehun bukannya sedang gila, berkhayal, atau semacamnya. Ia sudah tahu bahwa Hyerin telah meninggal. Namun… harapan tersebut masih melekat kencang di hatinya. Maka dari itu, ia sampai bertingkah seperti ini karena ia percaya Hyerin akan bangun lagi. Oke, ralat sedikit, bisa kita katakan Sehun sudah sedikit ‘terganggu’.

“Hyerin-ah. Kemana kekuatanmu yang biasanya? Keluarkanlah kekuatanmu itu, Byun Hyerin!! Aku mohon bertahanlah… demi aku dan anak kita!!” pekik Sehun di sela-sela tangisannya.

“Aku telah menepati janjiku padamu!! Aku telah menyelamatkan anak kita!! Dan sekarang… sekaranglah saatnya kau menepati janjimu juga!! Kau berjanji akan bertahan demi aku dan anak kita ‘kan? Aku tahu kau bukan pengingkar janji, maka dari itu… sadarlah Hyerin….” ujar Sehun yang semakin meronta-ronta.

Namun usahanya tidak membuahkan apapun. Detak jantung Hyerin tetap tiada, nafasnya juga sudah tidak berhembus lagi. Bahkan kini dapat Sehun rasakan bawah tangan Hyerin sudah benar-benar dingin.

“HYERIN AKU TIDAK AKAN MENYERAH!! AKU AKAN MENAGIH JANJIMU SAMPAI KAPANPUN!! KAU HARUS TETAP DI SISIKU, KAU HARUS BANGUN AGAR KITA BISA MERAWAT ANAK KITA BERSAMA-SAMA!! AKU MEMBUTUHKAN DIRIMU DISINI, HYERIN. KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN KU SENDIRI!! KARENA…”

“… KARENA AKU MENCINTAIMU!! AKU SUNGGUH MENCINTAIMU, BYUN HYERIN,” bisik Sehun dengan lembut tepat di telinga Hyerin.

PEEP PEEP PEEP

Ajaib!!! Bedside monitor milik Hyerin yang sedari tadi berdengung panjang dan menampilkan garis lurus kini menunjukkan perubahan. Kini bedside monitor tersebut mulai menunjukkan grafik detak jantung lagi—meskipun masih tergolong lemah. Bahkan dengungan panjang itu sudah tidak terdengar lagi.

Hyerin memang masih belum tersadar, namun… jantungnya kembali berdetak!! Ia kembali menghembuskan nafasnya!! Apakah… ini semua karena perkataan cinta dari Sehun? Apakah Hyerin mendengarnya? Ya, pasti Hyerin ingin menepati janjinya pada Sehun bahwa ia akan bertahan.

Sontak Sehun memencet bel yang berada di kepala kasur Hyerin berkali-kali hingga dr. Lee dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan Hyerin. Bahkan Tuan dan Nyonya Byun juga ikut masuk kedalam ruangan Hyerin. Oh jangan lupakan juga Tuan dan Nyonya Oh yang baru tiba di Korea kini juga berada di ruangan Hyerin, dan mereka semua terkejut melihat jantung Hyerin kembali berdetak!!!

“Dokter, tolong periksa Hyerin!! Ia masih hidup, Dok. Ia bernafas lagi!!” pekik Sehun dengan nafas yang memburu. Ia benar-benar tak tahu harus bereaksi apa lagi. Intinya, ia benar-benar berterimakasih pada Tuhan.

“Maka dari itu, semuanya diharapkan untuk keluar sebentar, Tuan,” ujar dr. Lee.

“Tidak. Saya tidak akan keluar. Jika di ruangan operasi tadi saya setuju untuk keluar, maka saat ini saya tidak akan keluar. Karena saya… saya harus memastikan keadaan Hyerin. Saya tidak ingin mengulang kesalahan saya untuk kesekian kalinya,” jawab Sehun cepat.

Dr. Lee terlihat terkesiap dengan perkataan Sehun yang terdengar begitu menghanyutkan, “Baiklah, Anda bisa tetap di sini, Tuan. Tapi untuk yang lainnya, dimohon untuk keluar,” ujar dr. Lee dengan sopan. Tanpa banyak permintaan, seluruh anggota keluarga mereka keluar dari ruangan Hyerin.

Setelah itu dr. Lee segera mengeluarkan stetoskopnya serta beberapa alat lainnya untuk memeriksa keadaan Hyerin. Dr. Lee juga membuka kedua kelopak mata Hyerin sebentar untuk melihat pergerakan bola mata Hyerin.

Dan setelah merasa cukup, Hyerin dinyatakan SELAMAT, dan kini yeoja itu sedang dalam keadaan koma. Entah kapan ia akan tersadar. Satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun lagi sekalipun Sehun akan tetap bersyukur karena setidaknya Hyerin masih hidup.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Sudah delapan jam berlalu, tapi Hyerin masih belum menunjukkan tanda-tanda apapun. Ia masih bertahan dalam keadaan komanya.

Dan selama delapan jam itulah, Sehun tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Hyerin sama sekali. Air mata juga sudah tidak mengalir lagi dari sudut mata Sehun. Kini sebuah senyum tipislah yang menghiasi wajah tampannya.

Yeah, walaupun Hyerin masih belum terbangun dari komanya, setidaknya Sehun tersenyum karena Hyerin berhasil bernafas lagi. Sehun bahkan sampai tidak sempat melihat keadaan anaknya yang kini berada di ruangan bayi karena ia benar-benar tak mau melepaskan Hyerin.

Tiba-tiba, tangan Hyerin yang berada di genggaman Sehun mulai bergerak. Sehun yang tadinya hampir terlelap seketika langsung membuka matanya dengan sempurna.

Ya!!! Hyerin mulai sadar!! Bahkan kini Sehun dapat melihat mata wanita itu terbuka perlahan-lahan.

“Hyerin-ah…” ujar Sehun dengan nada senang luar biasa. Hyerin tidak langsung menoleh, wanita itu kini sedang mengerjapkan matanya beberapa kali. Menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya sekitar.

Sampai pada akhirnya, Hyerin menolehkan kepalanya ke kanan, dimana Sehun berada. “Oh Sehun?” ujar Hyerin dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Ya, ini aku Sehun…” Sehun langsung meletakkan telapak tangan Hyerin diwajahnya. Membiarkan gadis itu meraba-raba wajahnya.

“Kenapa aku di sini? Bagaimana… dengan anak kita?” tanya Hyerin perlahan. Sehun tidak menjawab, pria itu justru melemparkan senyuman lebarnya pada Hyerin. Bukannya tidak mau menjawab, hanya saja otak Sehun masih belum mencerna semuanya dengan baik karena ia terlalu senang Hyerin sudah sadar.

“Kenapa kau diam? Anak kita… baik-baik saja ‘kan?” tanya Hyerin lagi. Bedanya, kini nada suara Hyerin terdengar sedikit bergetar.

Perlahan Sehun yang sudah mulai tersadar mengangguk. “Ya, dia baik-baik saja, Sayang. Anak kita sedang beristirahat di ruangan bayi sekarang,” jawab Sehun sembari tersenyum.

“Kau tidak bohong ‘kan? Neo jinjja?” tanya Hyerin lagi.

Ia… masih kurang percaya dengan apa yang dikatakan Sehun. Pasalnya, Hyerin benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, bukan? Yang ada di ingatannya hanya sebatas dimana ia kehabisan tenaga untuk mengejan saat persalinan dan setelah itu… semuanya gelap.

“Tidak, Byun Hyerin. Aku tidak berbohong, sumpah Demi Tuhan.”

“Kalau begitu, aku ingin memastikannya dengan mataku sendiri. Bisakah aku melihatnya sekarang?” ujar Hyerin yang mulai berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Namun Sehun langsung menahan pergerakan Hyerin.

“Tidak sekarang. Kau baru siuman dan anak kita juga sedang beristirahat. Tidakkah kau lihat ini pukul berapa? Pagi nanti, suster pasti akan membawa anak kita ke sini dan membiarkanmu untuk memberikannya asi pertama,” ujar Sehun sembari menunjuk ke arah jam dinding yang ada di ruangan Hyerin yang kini menunjukkan pukul empat dini hari.

“Tapi aku—“

“Kumohon turutilah aku, Hyerin-ah. Sekarang lebih baik aku memanggil dokter dulu untuk memeriksamu,” ujar Sehun.

Lalu Sehun memencet bel di kepala kasur Hyerin agar dokter jaga yang ada di rumah sakit sekarang langsung datang memeriksa Hyerin. Yeah, pukul segini pastilan dr. Lee sudah pulang kerumahnya.

Tak lama kemudian seorang dokter pria ber name tag ‘Kang Minhyuk’ masuk kedalam ruangan Hyerin dan memberikan beberapa pertanyaan pada Hyerin sebelum akhirnya ia mengeluarkan stetoskopnya dan mulai memeriksa tubuh Hyerin.

“Kondisi Anda sudah mulai membaik, Nyonya. Beristirahatlah yang cukup agar seluruh organ tubuh anda bisa kuat seperti biasanya,” ujar dr. Kang terakhir kalinya sebelum ia pamit untuk keluar dari ruangan Hyerin dan kembali menyisakan Hyerin dan Sehun di dalam.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Paginya saat waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi, Baekhyun dan Jiyoung yang baru tiba di rumah sakit memutuskan untuk masuk dan langsung melihat kondisi Hyerin dengan mata mereka sendiri.

Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk adik kesayangannya itu. Bahkan Hyerin hampir terjungkal kebelakang karena Baekhyun menyentakkan tubuhnya cukup kuat. Untungnya pria mungil itu segera mendekap Hyerin dengan kuat, seakan-akan tak ingin terpisahkan sedikitpun dengan Hyerin.

“Apa kau baik-baik saja, eo? Apa kau sedang menginginkan sesuatu? Katakan pada oppa, Sayang.” Baekhyun langsung menangkup wajah Hyerin dan mengecek tubuh Hyerin dari kaki hingga ke kepala.

Hyerin tertawa kecil menyikapi Baekhyun yang over-protektif padanya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Hyerin di perlakukan seperti ini pada Baekhyun. Hanya saja… ia cukup geli melihat dirinya yang sudah sebesar ini namun Baekhyun masih menganggapnya seperti anak balita.

Oppa, aku baik-baik saja. Lihatlah, aku benar-benar seha—auuucch!!” tiba-tiba Hyerin memegang perutnya. Baekhyun dan Sehun seketika langsung mendekat ke arah Hyerin dan sama-sama berkata, “Ada apa? Dimana yang sakit?”

“Pe –perutku sakit…” lirih Hyerin sembari memegangi perutnya.

“Ahh, Hyerin-ah. Ada bekas jaitan di perutmu karena operasi kemarin, jadi wajar saja jika itu sakit. Apa perlu aku panggilkan dokter?” ujar Jiyoung yang kini mengambil posisi di sebelah Baekhyun.

“Tidak perlu, Unnie. Lagipula sakitnya juga hanya sebentar kok. Sekarang sudah tidak lagi. Hehe,” jawab Hyerin.

Setelah itu Hyerin melihat ke arah Baekhyun dan Sehun yang kini saling melemparkan tatapan canggung satu sama lain. Hyerin menangkap ada keganjilan di antara Baekhyun dan Sehun. Pasalnya, Sehun dan Baekhyun biasanya sangat akrab, tapi sekarang? Mereka terlihat canggung.

“Apa… ada yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri? Sepertinya ada yang aneh dengan Sehun dan Baekhyun oppa,” ujar Hyerin sembari memicingkan matanya bergantian ke arah Sehun dan Baekhyun.

“A–ah, ti–tidak ada apa-apa kok…” jawab Baekhyun yang tiba-tiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali itu.

“Bohong. Mereka kemarin bertengkar,” sela Jiyoung sembari tersenyum berang ke arah Sehun dan Baekhyun. Seketika pertengkaran sengit kedua lelaki ini kemarin terlintas di benak Jiyoung.

Ya!” bisik Baekhyun dengan wajah mirisnya.

“Mereka bertengkar? Karena apa? Eii, aku bahkan baru pertama kali mendengar Sehun bertengkar, dengan Baekhyun oppa pula,” ujar Hyerin sembari menautkan alisnya.

Akhirnya Jiyoung menceritakan secara detail apa yang terjadi semalam. Bahkan ucapan yang Baekhyun lontarkan pada Sehun pun masih teringat jelas di benak Jiyoung. Hyerin terkesima mendengar cerita dari Jiyoung. Ia benar-benar terharu dengan Baekhyun yang begitu mengkhawatirkannya, dan yang lebih membuat Hyerin terharu lagi adalah saat Jiyoung berkata bahwa Sehun memilih untuk menyelamatkan anak mereka saat dr. Lee menyuruhnya untuk memutuskan. Artinya… Sehun benar-benar menepati janjinya, bukan?

Jinjja? Apakah kau benar-benar berkata seperti itu, Sehun-ah? Kau berkata pada dr. Lee untuk mengutamakan anak kita?” tanya Hyerin sembari tersenyum bangga. Perlahan Sehun mengangguk.

“Kau benar-benar menepati janjimu, Oh Sehun!! Aku mencintaimu…”

Hyeri tiba-tiba saja menarik tangan Sehun untuk mendekat dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan Sehun. Tanpa basa-basi Sehun membalas pelukan Hyerin dan bahkan ia memeluk Hyerin lebih erat. Baekhyun dan Jiyoung kini merasa menjadi obat nyamuk di antara pasangan melankolis satu ini.

Ya! Ya! Kami masih ada di sini!!” sahut Baekhyun. Sontak Hyerin melepaskan pelukannya pada Sehun.

Ja, kalau begitu kalian harus bermaafan satu sama lain dulu.” Hyerin menatap bergantian pada Baekhyun dan Sehun.

Namun tak ada satupun dari Baekhyun dan Sehun yang berbicara lebih dulu. Mereka hanya saling pandang satu sama lain. Mungkin mereka gengsi?

Sampai akhirnya Baekhyun berujar, “Ya! Hormatlah sedikit pada Hyungmu.” Cara Baekhyun berkata benar-benar canggung, membuat geli.

“Tapi Hyung yang lebih dulu menyerangku dan mengatai aku brengsek,” protes Sehun tak terima dirinya disalahkan. Aigoo, sejak kapan Sehun jadi banyak omong seperti ini?

“A–aku sedang emosi semalam. Habis, bisa-bisanya kau—ah sudahlah, aku yang salah. Aku minta maaf, oke?” ujar Baekhyun yang akhirnya mengalah dan mengulurkan tangannya pada Sehun.

Dengan cepat Sehun menyambut uluran tangan Baekhyun dan berkata, “Ya, maafkan aku juga, Hyung.” Lalu mereka berdua saling berpelukan ala pria setelahnya.

Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah dua orang perawat dengan salah satu perawat membawa seorang bayi digendongannya. Bayi siapa lagi kalau bukan Sehun dan Hyerin.

Sontak Hyerin langsung menatap tak sabaran ke arah suster yang sedang berjalan ke arahnya. Ia ingin melihat anaknya secepatnya!!!

“Saatnya pemberian asi pertama, Nyonya.” Perawat yang menggendong bayi Hyerin tersebut langsung menyerahkan bayinya kedalam gendongan Hyerin.

Hyerin tak bisa menahan lelehan air mata bahagianya begitu ia melihat wajah jagoan kecilnya yang masin memerah. Bahkan kini bayi kecil itu sedang mengerjapkan matanya berkali-kali dan menggeliat lucu dalam gendongan Hyerin. “Aigoo, kyeopta!!” gumam Hyerin sembari mendaratkan sebuah kecupan di pipi bayinya.

Hyerin bersiap memberikan asi untuk bayinya, namun seketika ia teringat bahwa kini ada beberapa pria di sekitarnya. Siapa lagi kalau bukan Sehun dan Baekhyun. Its okay jika Sehun, karena bagaimanapun juga Sehun adalah suaminya, bahkan Sehun sudah melihat keseluruhan tubuh Hyerin. Tapi Baekhyun? Oh walaupun ia adalah kakak kandung Hyerin, tapi tetap saja… yeah, kalian tahulah.

“Baekhyun oppa, apa kau tidak berniat untuk keluar atau berbalik badan sebentar selama aku memberikan asi pada anakku?” tanya Hyerin to the point.

Seketika Baekhyun menjadi salah tingkah. “A–ah ya, aku lapar. Sepertinya a–aku harus ke ka–kantin. Ya, kantin,” ujarnya lagi sebelum akhrinya mengajak Jiyoung untuk keluar dari ruangan Hyerin dan menuju ke–entahlah, mungkin kantin?

Setelah Baekhyun keluar, kedua perawat tersebut memberitahukan Hyerin tentang beberapa hal terlebih dahulu, “Selama dua jam ini Anda dipersilahkan untuk menikmati waktu dengan bayi Anda, Nyonya. Dua jam lagi kami akan kembali dan membawa bayi Anda kembali ke ruangan bayi, terimakasih,” ujar perawat itu dengan ramah sebelum akhirnya mereka berdua juga keluar dari ruangan Hyerin.

Hyerin langsung menyusui bayinya dengan telaten. Jujur, Hyerin masih sedikit merasa canggung karena kini ada seseorang yang sedang menyusu padanya. Oh ayolah, ini pertama kalinya ia menyusui seorang bayi. Wajar ‘kan kalau ia masih belum terbiasa? Untungnya, walaupun tidak melahirkan dengan mudah, air susu Hyerin cukup deras.

By the way, kita harus memberikan nama apa pada anak kita ini, Sayang?” tanya Sehun yang kini duduk di tepi ranjang Hyerin.

Yeah, selama ini Sehun dan Hyerin belum pernah memikirkan apalagi mempersiapkan soal nama. Bahkan Hyerin tak ingin membahasnya saat ia masih hamil dulu. Setiap Sehun bertanya, pasti Hyerin hanya menjawab dengan jawaban, “Ada.”

“Aku ingin… memberikannya nama Chanyoung, Oh Chanyoung,” jawab Hyerin cepat sembari tersenyum.

“Chanyoung? Kedengarannya bagus, tapi kenapa kau bisa memilih Chanyoung?” tanya Sehun.

Chan aku ambil dari nama mendiang Chanyeol oppa, dan untuk young, aku mengambil kata young dalam bahasa inggris yang artinya muda. Jadi intinya, Chanyoung adalah Chanyeol versi muda. Karena aku ingin, kelak anak ini bisa cerdas, ceria, ramah, dan dewasa seperti Chanyeol oppa,” jelas Hyerin sembari mengelus lembut kepala anaknya yang masih cukup lunak itu.

“Ide bagus, Sayang. Aku juga ingin anak kita tumbuh hebat seperti mendiang Chanyeol hyung. Oke, call, kita beri nama anak kita Chanyoung, Oh Chanyoung.” Sehun tersenyum lebar setelah itu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Chanyoung dan di kening Hyerin secara bergantian.

Setelah merasa Chanyoung cukup kenyang, Hyerin melepaskan mulut Chanyoung dari dadanya dan merapikan kembali letak pakaiannya. Lalu ia melihat ke arah Sehun yang sedari tadi sepertinya ingin sekali menggendong Chanyoung, namun pria itu juga terlihat sedikit ragu.

“Kau ingin menggendongnya? Gendonglah, sepertinya ia ingin merasakan gendongan dari ayahnya,” ujar Hyerin.

Sehun terkejut atas perkataan Hyerin, tepat sasaran sekali, Sehun memang ingin sekali menggendong Chanyoung. Namun ia takut ‘salah’ dan justru menyebabkan Chanyoung tersakiti.

“Bo–bolehkah? Tapi aku takut salah posisi…” ujar Sehun dengan wajah bodohnya.

Akhirnya Hyerin mengajarkan Sehun bagaimana posisi menggendong yang baik lalu setelah dirasa Sehun mengerti, dengan perlahan Hyerin memindahkan Chanyoung kedalam gendongan Sehun.

Saat Chanyoung benar-benar di dalam gendongannya, Sehun merasakan rasa bahagia menjadi ayah yang amat menyeruak dari dalam dirinya. Oh lihatlah, bahkan Sehun tidak bisa berhenti tersenyum lebar sekarang.

“Kalian terlihat cocok bersama,” ujar Hyerin.

“Yeah, dua manusia tampan bermarga Oh ini sudah siap menaklukan dunia,” ujar Sehun dengan percaya dirinya.

“Tumbuhlah dengan baik, Chanyoung-ah. Banggakan kedua orang tuamu, arrachi? Dan yang terpenting, jangan pernah sakiti eomma-mu, kau harus tahu bahkan eomma sampai hampir kehilangan nyawanya demi mempertahankanmu!!” ujar Sehun sembari mencubit kecil pipi gembul Chanyoung. Yeah, Chanyoung termasuk kedalam kategori bayi yang cukup besar. Beratnya 3,7kg.

Arraseo, Appa.” Hyerin menjawab dengan suara yang dibuat-buat menyerupai suara anak kecil.

Tiba-tiba pintu ruangan rawat Hyerin terbuka dan menampakkan Jira—sahabat dekat Hyerin di kampus—masuk dengan parsel buah di genggaman tangannya. Hyerin langsung memekik girang karena ia akhirnya bisa bertemu lagi dengan Jira setelah sekitar dua bulan terpisah. Pasalnya, semenjak kehamilannya memasuki masa-masa tua, Hyerin memutuskan untuk cuti kuliah dan otomatis ia dan Jira jadi jarang bertemu.

“Jira-ya!! Bogoshipo!!!” pekik Hyerin yang kini merentangkan tangannya lebar-lebar, dan rentangan tangan Hyerin langsung disambut oleh Jira. Kini Jira sudah memeluk sahabatnya tersebut erat-erat.

Nado, Hyerin-ah. Aigoo, kau sudah kembali langsing ya sekarang, hahaha,” ujar Jira sembari melihat ke arah tubuh Hyerin yang sudah kembali mengecil. Tidak ada lagi perut buncit yang menghiasi tubuhnya.

“Kau ini bisa saja.”

“Ah, itu anakmu? Siapa namanya?” tanya Jira.

“Namanya Oh Chanyoung,” jawab Hyerin.

Aigoo, nama yang bagus!!” puji Jira.

Tak lama kemudian, Hyerin kembali kedatangan tamu. Kini Luhan lah yang datang ke ruangan Hyerin. Luhan juga membawa parsel buah dan sebuah buket bunga mawar putih di tangan kirinya.

Yeah, Luhan langsung terbang ke Korea begitu ia mendengar Hyerin melahirkan. Bahkan Luhan sampai melewatkan sebuah rapat penting di China, ini semua demi Hyerin.

GEGEEE!!!” pekik Hyerin riang ke arah Luhan yang kini sedang tersenyum manis ke arahnya.

“Apa kau baik-baik saja? Kudengar sempat ada masalah dengan persalinanmu kemarin ya?” tanya Luhan setelah memberikkan buket bunganya pada Hyerin.

Gwenchana, seperti yang kau lihat.”

“Ah ya, bolehkah aku menggendong anakmu, Hyerin-ah?” tanya Jira yang sekarang jadi sedikit gugup karena Luhan tiba-tiba saja hadir di hadapannya. Bahkan kini Luhan berdiri di sebelahnya!!

“Tentu saja. Ja, Sehun-ah, berikan Chanyoung pada Jira,” perintah Hyerin. Sehun langsung mendekat ke arah Jira dan mulai memindahkan Chanyoung kedalam gendongan Jira.

Chanyoung langsung menangis begitu Sehun memindahkannya ke gendongan Jira, dan itu berhasil membuat Jira panik. “Chanyoung-ah, kenapa kau menangis, eo? Apa kau tidak senang dengan noona?” tanya Jira yang entah kenapa menyebut dirinya ‘noona’ bukan ‘imo’ apalagi ‘ahjumma’.

Spontan Luhan yang ada di sebelah Jira langsung ikut menenagkan Chanyoung dengan cara menepuk-nepuk punggung Chanyoung sembari mendesis, “Ssst… tenanglah anak manis,” ujar Luhan dengan lembut.

Dan ajaib!! Chanyoung langsung kembali tenang dan bahkan kini bayi merah itu terlihat memejamkan matanya dengan nyaman. Mungkinkah ia menyukai Luhan? Atau menyukai Luhan bersama Jira? Hihihi.

“Kalian terlihat cocok bersama,” celetuk Sehun tiba-tiba dengan wajah datarnya.

Perkataan Sehun barusan sukses membuat keduanya salah tingkah, khususnya Jira. “Akan lebih baik jika kalian saling berkenalan dan mulai berkencan. Kalian sama-sama single ‘kan?” tambah Sehun lagi.

Ya! Bicara apa kau, huh?!” Luhan mendelik tajam ke arah Sehun.

Hyung, jangan salah tingkah begitu. Ingat umur, Hyung.” Sehun tertawa terbahak-bahak dengan Hyerin karena berhasil menggoda Luhan dan Jira.

“Dasar adik durhaka!!” ujar Luhan dengan geram karena Sehun tak kunjung berhenti.

“Tidak ada yang namanya adik durhaka, Hyung. Yang ada anak durhaka, benar ‘kan, Sayang?” tanya Sehun sembari merangkul pundak Hyerin. Hyerin hanya tertawa kecil sembari mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ah, bagaimana kalau kalian berkenalan secara resmi dulu?” kini Hyerin ikut menimpali.

M–mwohaneungeoya?” ujar Jira yang wajahnya semakin memerah malu.

“Hai, aku Luhan, kau bisa panggil namaku dengan nyaman. Ah, berhubung sepertinya kau seumuran dengan Hyerin, kau bisa panggil aku oppa,” ujar Luhan yang lebih dulu mengulurkan tangannya sembari tersenyum manis.

“Whoa, gentleman!!” pekik Sehun yang kembali membawa Chanyoung kedalam gendongannya agar Jira bisa membalas uluran tangan Luhan.

Dengan malu-malu Jira membalas uluran tangan Luhan dan keduanya melakukan hand-shake beberapa saat. “Aku Han Jira, kau bisa panggil aku Jira, Lu–Luhan Oppa,” balas Jira.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

 

Japan.

August, 18th 2015.

 

Seorang wanita cantik berkulit putih bersih serta rambut cokelat tua yang berterbangan karena tertiup angin itu sedang berjalan dengan santainya di pedestrian. Kaki-kaki kecilnya melangkah tanpa arah, mengikuti moodnya. Bibir mungil itu tak berhenti menyenandungkan lagu kesukaannya sejak tadi.

 

SENA'SAAA

 

Gadis itu adalah Sena, Oh Sena.

Sena kini sedang menikmati waktu luang sepulang kuliahnya seorang diri. Ia sengaja mengutus Joy dan Sungjae–ajudan pribadinya—untuk tidak mengiringinya hari ini. Karena Sena benar-benar ingin menghabiskan waktunya sendirian sore ini.

Sebenarnya Sena sedikit kecewa karena ia tak bisa kembali ke Korea sekarang juga. Padahal ia benar-benar ingin bertemu dengan Hyerin yang kabarnya baru saja melahirkan. Tapi karena ujian tengah semesternya sedang berlangsung, ia tidak bisa tidak masuk kuliah.

Saking asiknya berjalan, Sena tidak sadar kalau ia menabrak dada seorang pria, dan menyebabkan beberapa buku komik yang ada di genggaman tangannya terjatuh begitu saja ke permukaan lantai.

“Ah, Sumimasen,” Sena membungkukan kepalanya beberapa kali sembari membereskan bukunya.

“Kau masih sama, Oh Sena. Benar-benar ceroboh,” ujar sebuah suara itu. Suara yang sangat dikenali Sena. Suara yang sudah lama tidak Sena dengar secara langsung.

Sena mengadahkan kepalanya ke atas dan lagi-lagi ia harus dibuat terkejut karena kini… seseorang yang sangat ia rindukan sedang berada di hadapannya. “Kris?” ujar Sena.

“Aku kira kau sudah lupa dengan wajah tampanku ini,” ujar Kris sembari membantu Sena kembali berdiri.

“Aku sih inginnya begitu. Tapi kau selalu muncul di pikiranku sehingga aku tidak bisa melupakanmu, walaupun hanya sedetik.” Sena mengerlingkan sebelah matanya ke arah Kris. Membuat Kris tidak tahan untuk tidak mencubit gemas pipi Sena.

So cheesy. Oke, mau berkencan denganku sore ini, Nona Sena?” tanya Kris sembari menekuk tangannya. Membuat bentuk setengah lingkaran dengan tangannya sehingga Sena bisa menggandeng tangannya.

Shall we?” jawab Sena yang kini sudah melingkarkan tangannya di tangan Kris dan menarik pria itu untuk berjalan menyusuri pedestrian bersamanya.

Sepanjang jalan Sena dan Kris selalu bergandengan tangan. Bahkan sesekali Kris memasukkan tangan Sena kedalam saku jaketnya. Yeah, selama lima bulan berpacaran, baru ini Kris sempat mengunjungi Sena di Jepang. Jadi wajar saja jika mereka saling melepaskan rasa rindu di sini.

“Apa kau lapar?” tanya Kris saat mereka mulai memasuki kawasan yang dikelilingi oleh berbagai macam restaurant di daerah Ginza ini.

“Hm, tidak. Tapi bagaimana jika kita menikmati secangkir kopi sore ini?” tanya Sena.

Good idea.”

Kris langsung merangkul bahu Sena dan mereka langsung berjalan menuju ke salah satu coffee shop yang direkomendasikan oleh Sena. Sena bilang kopi di tempat ini benar-benar yang terbaik di Jepang. Yeah, walaupun harganya juga cukup fantastis.

Mereka memilih kursi yang berada di halaman coffee shop agar memudahkan mereka untuk menikmati pemandangan sore di Ginza.

“Berapa lama kau di sini?” tanya Sena setelah ia menyesap latte yang dipesannya.

“Aku akan berada di sini sampai kau yang menyuruhku pulang,” jawab Kris. Sena hanya mendecih malas saja mendengar jawaban dari Kris.

“Kapan kau tiba?”

“Hm, sekitar dua jam yang lalu,” jawab Kris sembari melirik ke arah jam tangannya.

“Lalu, dimana kau menginap? Hotel? Atau kau punya apartemen di sini?” tanya Sena.

“Di rumahmu.”

Mwo? Andwae!!” tolak Sena dengan cepat.

“Sayangnya, ayah dan ibumu sudah mengizinkanku untuk menginap di rumahmu.” Kris menjulurkan lidahnya ke arah Sena.

“Oh ya, kapan kau lulus kuliah?” tanya Kris.

“Masih dua tahun lagi, wae?

“Aku harap dua tahun ini cepat berlalu karena aku tidak sabar untuk menjadikanmu milikku seutuhnya,” jawab Kris enteng.

“Ma –maksudmu?”

“Ya, setelah kau lulus kuliah kita akan menikah? Bagaimana? Apa terlalu cepat? Ah, baiklah kita bisa bertunangan dulu,” ujar Kris seraya menimang-nimang dengan pikirannya sendiri.

“Bagaimana bisa kau memutuskan semua itu dengan dirimu sendiri?” protes Sena tak terima.

“Memangnya kenapa? Kau tak setuju? Jangan-jangan… kau tak berniat serius padaku ya? Atau lebih parahnya lagi… kau diam-diam masih menyukai si Suho Suho itu?” tanya Kris yang kini bertingkah begitu posesif. Oh lihatlah bagaimana wajah tampannya itu terlihat begitu imut sekarang.

“Teruslah berkata seperti itu maka latte ini dengan senang hati membasahi wajahmu. Apa kau lupa kalau Suho oppa itu juga kakakku, eo?” balas Sena yang kini melemparkan tatapan tajam pada Kris karena membawa-bawa Suho kedalam pembicaraan mereka.

“Oke, oke, sorry. Tapi… apa kau benar-benar tidak ingin lebih serius denganku?” tanya Kris yang mulai kembali ke topik awal.

“Lihat kedepannya nanti, kalau kau benar-benar bisa membuatku bahagia, kenapa tidak?”

 

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

 

Ini adalah kali pertamanya Jongin melihat Minho–anaknya–secara langsung. Selama lima bulan belakangan ini, Jongin hanya melihat Minho melalui foto-foto yang di tunjukkan Soojung saat istrinya itu mengunjunginya di penjara. Yeah, selama ini Soojung tak pernah membawa Minho saat mengunjungi Jongin karena Minho masih terlampau kecil.

Jongin tak bisa menahan senyuman bahagia serta air mata harunya saat ia melihat Minho yang kini sedang terlelap di gendongan Soojung. Bayi berusia enam bulan itu terlihat begitu menggemaskan, terutama saat bibirnya bergerak-gerak seakan-akan ia sedang menyusu.

“Ini anak kita? Astaga…. aku senang sekali bisa melihatnya!!” ujar Jongin yang menyentuhkan telapak tangannya di kaca pembatan tersebut. Yeah, walaupun tidak bisa menyentuh Minho secara langsung, bisa melihat Minho dari dekat saja sudah suatu keajaiban besar bagi Jongin.

“Maka dari itu, cepatlah keluar dari sini, arra? Karena Minho benar-benar membutuhkan kasih sayang dari ayahnya,” ujar Soojung sembari tersenyum pada Jongin.

“Pasti, Sayang.”

By the way, kenapa kau memberinya nama Minho?” tanya Jongin.

“Agar sama dengan nama mantan kekasihku. Minho, Choi Minho,” ujar Soojung enteng.

Mwo?! Ya! Bagaimana bisa kau memberikan nama anak kita terinspirasi dari nama mantan pacarmu, eo? Apa kau masih menyukainya? Baiklah kalau kita memiliki anak perempuan aku akan memberikannya nama mantan pacarku juga,” ujar Jongin tak mau kalah dengan wajah merajuknya.

“Ah, kalau begitu aku tak ingin mempunyai anak perempuan. Lagipula, mantan pacarmu sangat banyak Tuan Kim, pasti kau akan kebingungan memilihnya.” Soojung menyeringai.

“Hm, kalau begitu, saat aku bebas nanti aku akan langsung mengganti nama anak kita,” balas Jongin yang masih tak mau kalah.

“Kalau kau mengganti nama anak kita, maka aku juga akan mengganti margaku menjadi Jung lagi,” ujar Soojung. Skak mat. Jongin tidak bisa berkata apa-apa lagi dan akhirnya ia menerima dengan lapang dada nama Minho.

“Yeah, aku memang selalu kalah darimu.”

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

5 Years Later…

 

Hyerin terbangun dari tidurnya dan seperti biasa, ia langung melihat pemandangan yang selalu ia lihat selama hampir enam tahun belakangan ini, wajah tampan Sehun.

Hyerin mengecup bibir Sehun singkat–yang sudah menjadi kebiasaannya–sebelum akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Yeah, Hyerin memang selalu menjadi orang pertama yang membuka mata setiap paginya di antara keluarga kecilnya ini. Tugasnya sebagai ibu dan istri-lah yang membuatnya harus bangun lebih pagi daripada suami dan anaknya.

Setelah mandi dan menggunakan pakaian rumahan yang santai, Hyerin mendekatkan dirinya ke arah Sehun dan mengguncangkan tubuh pria berkulit pucat itu dengan pelan, untuk membangunkan sang pangeran dari tidur tampannya.

Tak butuh waktu lama untuk membangunkan Sehun. Lihatlah, bahkan hanya dalam waktu satu menit namja itu sudah terduduk di atas kasurnya dengan wajah khas bangun tidur yang begitu menggemaskan.

“Kenapa cepat sekali, eo? Bukankah ini hari Minggu?” tanya Sehun sembari mengucek-ngucek matanya.

“Banyak yang harus di persiapkan hari ini Tuan Oh, apa kau lupa kalau adikmu hari ini akan bertunangan?” tanya Hyerin yang sudah duduk di sebelah Sehun sembari menyisir pelan rambut Sehun dengan jarinya.

“Acaranya masih nanti malam bodoh,” jawab Sehun sembari mendorong pelan kening Hyerin dengan jari telunjuknya.

“Ya, tetap saja kita harus bersiap-siap. Bahkan kita belum mengambil pakaian kita di butik Jiyoung unnie. Lagipula kita akan mengunjungi Irene ‘kan hari ini?” ujar Hyerin lagi.

Namun Sehun tidak menjawabnya, pria itu justru menarik tangan Hyerin sehingga Hyerin jatuh kedalam pelukannya lalu menjatuhkan kembali tubuh mereka berdua ke atas kasur. Oh lihatlah, bahkan Sehun kini memeluk Hyerin dengan erat layaknya guling kesayangan.

“Kenapa kau bau sekali, huh?! Mandi sana!!” pekik Hyerin dari balik dada Sehun sembari memukul-mukul punggung pria itu.

“Bukankah kau menyukai aroma tubuhku yang seksi ini, eo?” ujar Sehun yang lagi-lagi semakin mempererat pelukannya.

Ya! Ini sesak sekali, bodoh!! Bisakah kau melonggarkan pelukanmu?” gerutu Hyerin, masih memukul-mukul punggung Sehun.

“Tapi cium aku yang lama, oke?” ujar yang kini melepaskan pelukannya dan menyeringai nakal ke arah Hyerin.

“Kenapa kau semakin lama semakin mesum sih? Pasti karena akhir-akhir ini kau sudah bergaul dengan Jongin lagi ‘kan? Lelaki hitam satu ini memang tidak berubah,” Hyerin berdecak sebal dan melemparkan tatapan berangnya pada Sehun.

“Ini bukan salah Jongin, ini semua kesalahanmu.”

“Aku? Kenapa jadi aku?” Hyerin mengerutkan dahinya tak mengerti.

“Ini salahmu karena setiap harinya kau selalu bertambah cantik, apalagi seksi, ahh aku benar-benar mencintaimu!!” Sehun kembali menarik Hyerin kedalam dekapannya.

“Aku juga mencintaimu, tapi kalau begini caranya… kupastikan aku akan segera membencimu!! Karena kau benar-benar pemaksa!!” Hyerin semakin memberengutkan wajahnya.

“Aku harap hari itu tidak akan pernah terjadi, karena aku bisa gila jika kau membenciku…” Sehun memaju-majukan bibirnya seperti anak kecil, berniat aegyo mungkin? Sungguh, Sehun benar-benar telah berubah!!

Chessy, menggelikan, dan norak!!” ujar Hyerin yang kini mendorong tubuh Sehun jauh-jauh, namun apa daya, Sehun terlalu banyak fitness dengan Baekhyun akhir-akhir ini sehingga kekuatannya benar-benar fantastis!!

“Sudahlah, ayo lepas, aku akan mengabulkan keinginanmu tadi, sungguh,” ujar Hyerin yang mulai jengah karena Sehun tak kunjung melepaskannya.

Call. Ingat, cium yang lama!!” Sehun melepaskan pelukannya dan kini ia memajukan bibirnya, menyuruh Hyerin untuk segera menciumnya.

Hyerin mulai memajukan wajahnya dan akhirnya bibirnya dengan Sehun menempel. Sehun tak tinggal diam, ia langsung menahan tengkuk Hyerin untuk memperdalam ciuman mereka. Bahkan lumatan-lumatan kecil tadi kini berubah menjadi ciuman yang lebih menggebu.

Hyerin sepertinya juga sudah mulai terpancing, lihatlah, bahkan ia diam saja saat tangan Sehun mulai masuk kedalam kaos kebesaran yang ia kenakan dan mulai membelai punggungnya.

Ciuman itu berlanjut, kini Sehun sudah tak bermain dengan bibir Hyerin lagi, ia mulai bermain dengan leher Hyerin namun tidak berniat untuk meninggalkan jejak disana. Karena nanti malam Hyerin akan mengenakan gaun di depan orang banyak saat pertunangan Sena, tidak mungkin ‘kan jika Sehun meninggalkan jejaknya di leher Hyerin? Hyerin pasti marah!!

Desahan-desahan halus mulai lolos begitu saja dari bibir mungil Hyerin, dan itu semakin menambah hasrat di dalam diri Sehun. Kaos yang dikenakan Hyerin sudah terangkat sampai dadanya. Bahkan tangan Sehun juga sudah mulai membelai permukaan dada Hyerin. Hyerin tak menyangkalnya, bahkan ia menarik kepala Sehun untuk memperdalam ciuman mereka yang sudah kembali ke bibir.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata sudah memperhatikan apa yang mereka lakukan sejak tadi. Ya, Chanyoung juga berada di dalam kamar mereka dan pastinya anak kecil itu menyaksikan apa yang dilakukan kedua orang tuanya sejak tadi.

 

chan younga

 

Saat Sehun yang sudah mulai lupa diri hendak membuka kaitan bra Hyerin, Chanyoung akhirnya mulai bersuara, “Eomma, Appa? Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian berpelukan tidak mengajak Chanyoung?” tanya Chanyoung yang mulai berjalan mendekat ke arah Hyerin dan Sehun.

Sontak Sehun menarik tangannya dari tubuh Hyerin dan kembali menurunkan kaos yang dikenakan Hyerin. Hyerin juga langsung menarik dirinya untuk menjauh dari Sehun dan bangkit dari kasur, menghampiri Chanyoung.

“Se–sejak kapan kau bangun, Sayang? Kenapa tidak memanggil eomma?” tanya Hyerin yang kini jadi salah tingkah.

“Chanyoung sudah cukup lama berdiri di sini, tapi Eomma dan Appa tidak sadar dan justru asik berpelukan tanpa mengajak Chanyoung,” jawab Chanyoung yang kini menggembungkan pipinya.

“Eii, jagoan eomma sedang merajuk, eh? Kemarilah, kita berpelukan bersama,” ujar Hyerin sembari menggendong Chanyoung dan naik ke atas kasur. Meletakkan Chanyoung di antara dirinya dengan Sehun.

Sehun langsung mencubit gemas serta memeluk tubuh Chanyoung begitu anaknya yang gembul itu berada di sebelahnya. Bahkan kini jari-jari Sehun mulai menggelitiki perut buncit Chanyoung agar anaknya tersebut kembali tersenyum.

Hyerin juga tak mau ketinggalan, ia memeluk juga memeluk Chanyoung dan Sehun dengan cekatan langsung memindahkan tangannya untuk memeluk Hyerin juga.

“Sudah puas, Sayang?” bisik Hyerin pada Chanyoung yang kini tersenyum bahagia, menunjukkan deretan gigi kecilnya yang mirip seperti Chanyeol.

“Sangat!!” Chanyoung mengacungkan ibu jarinya ke udara.

“Bagaimana kalau kita berfoto?” ujar Hyerin. Sehun dan Chanyoung langsung mengangguk setuju. Hyerin segera bangkit dari ranjang dan mengambil ponsel serta selca-stick miliknya.

Pose pertama, Sehun dan Hyerin bersamaan mencium pipi Chanyoung. Hyerin di kanan sedangkan Sehun di kiri. Sedangkan Chanyoung membuat ekspresi lucu dengan memajukan bibirnya. Click! Foto diambil!!

Pose kedua, Sehun bersandar pada kepala kasur, lalu Hyerin bersandar pada dada Sehun dan yang terakhir, Chanyoung bersandar pada Hyerin. Mereka bertiga tertawa lebar bersama ke arah kamera. Click! Foto kedua diambil!

Pose ketiga, mereka bertiga sama-sama membuat V sign dengan jari mereka. Click! Foto ketiga juga berhasil diambil!!

Pose keempat, Hyerin dan Sehun sama-sama berpose seakan-akan mereka hendak mengigit kepala Chanyoung. Sedangkan Chanyoung memasang ekspresi wajah berpura-pura menangis sembari menangkupkan kedua tangannya. Click! Foto ke empat pun sukses!!

Pose kelima sekaligus yang terakhir, Sehun dan Hyerin membuat sebuah love-sign dengan salah satu tangan mereka dan Chanyoung meletakkan kedua tangannya di pipi Hyerin maupun Sehun sehingga membuat wajah ketiganya menempel sejajar. Click! Setelah foto kelima diambil mereka langsung tertawa bahagia bersama.

“Aku akan menguploadnya di instagram, weibo, dan juga path!!” ujar Hyerin sembari mengotak-atik ponselnya dan mulai menambahkan caption-caption saat ia ingin memposting gambarnya.

By the way, kalian berdua belum mandi ‘kan? Ayo mandi sekarang setelah itu kita sarapan, sepertinya sebentar lagi sarapan sudah siap,” ujar Hyerin sembari menarik tangan Sehun dan Chanyoung untuk segera bangkit dari kasur dan menuju ke kamar mandi.

Saat keduanya sudah masuk kedalam kamar mandi, tiba-tiba Sehun menahan tangan Hyerin sebelum pria itu menutup pintu kamar mandi. “Apa Eomma tidak ingin ikut mandi bersama kami? Sepertinya asik jika kita mandi bersama juga setelah berpelukan bersama,” ujar Sehun sembari tersenyum konyol.

Perkataan Sehun barusan berhasil membuat Hyerin melayangkan tatapan tajam pada Sehun, “Ini masih terlalu pagi untuk berpikir kotor, suamiku sayang.”

Di dalam kamar mandi, saat Sehun sedang melepaskan satu persatu pakaian Chanyoung dan juga pakaiannya, Sehun berkata, “Chanyoung-ah, bagaimana bisa kau tumbuh menjadi anak setampan ini, eo? Appa benar-benar menyayangimu.”

“Chanyoung juga menyayangi Appa. Tapi… mana yang lebih Appa sayangi, Chanyoung atau eomma?” tanya Chanyoung dengan wajah datarnya. Bahkan pria kecil itu tak menyadari bahwa kini Sehun menjadi salah tingkah sendiri akibat pertanyaan mendadak darinya.

Appa sangat menyayangi kalian berdua, jadi jangan paksa Appa untuk membuat pilihan, oke?” jawab Sehun sembari mulai menghidupkan shower miliknya dan shower milik Chanyoung yang sengaja di pasang lebih rendah.

Ternyata Hyerin yang masih berada di depan pintu kamar mandi mendengar percakapan ayah dan anak itu, ia pun hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya, “Eomma juga menyayangi kalian berdua, sangat.”

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Kini ketiganya sedang menyantap sarapan pagi mereka bersama anggota Keluarga Oh lainnya. Begitu keluar dari kamar, Sena langsung membawa Chanyoung kedalam gendongannya. Ah, Sena memang benar-benar menyayangi Chanyoung, begitupun dengan Tuan dan Nyonya Oh.

“Kau sudah besar ya sekarang. Di ulang tahunmu nanti, ingin harabeoji belikan apa, eo?” tanya Tuan Oh sembari menatap senang ke arah Chanyoung yang kini sedang memakan cumi goreng tepung kesukaannya dengan lahap.

“Chanyoung ingin dibelikan sepeda beroda satu, Harabeoji,” jawab Chanyoung cepat.

 

channnnn

 

Seketika seluruh anggota Keluarga Oh yang sedang menyantap makanan mereka tertawa mendengar jawaban dari Chanyoung. Ya, sejak Sehun dan Hyerin membawa Chanyoung menonton pertunjukan sirkus, Chanyoung terus saja merengek meminta dibelikan sepeda beroda satu seperti yang pernah di gunakan oleh salah satu atraksi di sirkus kala itu.

Aigoo, memangnya kau bisa mengendarainya, eo?” kini Nyonya Oh yang berbicara.

“Sekarang Chanyoung memang belum bisa, tapi pasti Appa nanti mau mengajarkanku. Ya ‘kan, Appa?” ujar Chanyoung pada Sehun.

“Eh? Ya, nanti appa ajarkan,” jawab Sehun yang jelas saja berbohong. Oh ayolah, bahkan Sehun sendiri tidak bisa mendengarai sepeda beroda satu, bagaimana bisa ia mengajarkan Chanyoung?

“Baiklah, baiklah. Nanti akan harabeoji belikan.” Tuan Oh masih tertawa kecil melihat cucu kesayangannya itu.

“Jangan di anggap serius, Abeonim. Lagipula Chanyoung sebentar lagi pasti akan melupakan keinginannya untuk mengendarai sepeda beroda satu,” ujar Hyerin. Yeah, Hyerin tahu setidak masuk akal apapun permintaan Chanyoung, Tuan Oh akan dengan senang hati memenuhinya.

Bahkan kala itu Chanyoung merengek berhari-hari meminta dibuatkan rumah terbang dengan balon seperti di serial kartu UP yang baru ia tonton. Namun begitu menemukan keasikkan lainnya, Chanyoung langsung melupakan keinginannya yang ‘cukup gila’ itu.

Waktu itu Chanyoung juga merengek ingin di belikan badut setelah datang ke ulang tahun Minho–anak Jongin dan Soojung. Saking sayangnya pada Chanyoung, Tuan Oh sampai menyewa badut selama satu minggu untuk menemani dan menghibur Chanyoung di rumah mereka.

Oh jangan lupakan juga kejadian dimana satu hari penuh Keluarga Oh mengenakan pakaian adat Korea karena permintaan Chanyoung!! Ya, lagi-lagi karena menonton. Ia ikut menonton drama korea bertema kerajaan bersama Sena kala itu, dan setelah menonton drama korea bertema kerajaan itu, ia merengek ingin memakai pakaian adat Korea, bahkan seluruh penghuni kediaman Keluarga Oh harus turut mengenakannya.

Maka jadilah hari itu Nyonya Oh, Tuan Oh, Sehun, Hyerin, Sena, Chanyoung, serta seluruh pekerja yang berada di kediaman Keluarga Oh mengenakan hanbok dalam satu hari penuh.

By the way, seluruh persiapan nanti malam sudah siap semua ‘kan, Sena-ya?” tanya Hyerin pada Sena yang duduk di hadapannya.

Ne, Unnie. Setelah ini aku hanya perlu mengambil cincin yang baru karena yang lama kemarin ternyata terlalu kebesaran di jariku. Ah, apa Unnie mau menemaniku mengambilnya nanti siang?” tanya Sena. Hyerin langsung menyetujuinya, lagipula sudah lama ia tak jalan-jalan bersama Sena.

“Ah, ya. Aku dengar Irene dipindahkan ke rumah sakit jiwa, ya?” tanya Nyonya Oh.

Ne, Eomma. Kehadirannya di penjara dikhawatirkan akan menganggu keselamatan rekan satu selnya,” jawab Sehun.

Ya, Irene divonis mengalami gangguan jiwa akut. Maka dari itu ia dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Sepertinya Irene benar-benar terpukul karena ia tejerat hukuman penjara yang cukup lama, dan kabarnya, pikiran Irene memang sudah terganggu oleh obsesinya. Yeah, obsesi untuk memiliki Sehun. Bahkan beberapa kali Irene sempat hampir membunuh rekan satu selnya sembari terus menggumamkan nama Hyerin.

“Baguslah, setidaknya semua jadi lebih aman. Gadis itu memang pantas di tempatkan di sana,” ujar Tuan Oh.

Bagaimana dengan Suho? Ah, Suho sepertinya sudah bertaubat. Bahkan pria tampan itu sudah mengirim permintaan maaf resminya pada Keluarga Oh dan Keluarga Byun. Yeah, syukurnya Suho masih memiliki hati dan juga akan yang sehat.

“Aku berencana untuk melihatnya hari ini, apa itu ide yang bagus?” tanya Hyerin.

“Kau serius, Hyerin-ah?” tanya Sehun yang langsung menoleh dengan wajah khawatirnya.

“Ya, karena bagaimanapun dia adalah sepupuku, Sehun-ah, jangan lupakan fakta itu. Lagipula, saat aku berkunjung ke rumah eomma kemarin, Jihyun bilang padaku bahwa ia merindukan Irene,” jawab Hyerin.

“Baiklah, aku akan menemanimu. Ingat, jangan pernah nekat mengunjunginya tanpa aku, oke?” ujar Sehun lagi. Hyerin hormat pada Sehun sembari mendecakkan lidahnya dengan centil.

“Memangnya Irene itu siapa, Appa?” tanya Chanyoung tiba-tiba.

“Ah… dia… dia—“

“Dia kakak sepupu eomma, Sayang…” jawab Hyerin lembut sembari tersenyum ke anaknya yang super menggemaskan itu.

“Ah begitu, lalu kenapa dia masuk rumah sakit jiwa? Memangnya itu tempat apa, Eomma?” tanya Chanyoung lagi.

“Itu tempat… hm… Irene Ahjumma sedang sakit, maka dari itu ia dirawat di rumah sakit. Sudah, sudah, habiskan dulu makananmu,” ujar Hyerin lagi yang segera mengalihkan pembicaraan. Karena menurutnya, Chanyoung masih terlalu kecil untuk mengetahui Irene secara detail, dan juga itu memang bukan bagian dari urusan hidup Chanyoung, right?

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Di waktu yang sama, di kediaman keluarga kecil Kim Jongin dan Jung Soojung juga terlihat sangat bahagia. Terdengar cekikan tawa dari beberapa suara dari arah kolam berenang berukuran sedang yang berada di bagian belakang rumah baru mereka.

Yeah, dapat kita lihat kini keluarga kecil yang terlihat sangat harmonis ini sedang menghabiskan waktu minggu pagi mereka bersama-sama dengan cara berenang.

By the way, Jongin sudah keluar dari penjara satu tahun yang lalu, dan kini ia benar-benar memulai hidupnya dari awal.

Ia pindah ke rumah yang ia beli dari hasil jerih payahnya bekerja di perusahaan Lego Company—milik Sehun, selama satu tahun belakangan ini. Mengapa Jongin bekerja di perusahaan Sehun? Ya, perusahaan Keluarga Kim sudah bangkrut semanjak kasus Jongin di ketahui publik. Bahkan Tuan Kim—ayah Jongin, kini telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Tuan Kim mati bunuh diri. Ia frustasi karena perusahaannya bangkrut dan hidupnya jadi berantakan.

Kini Jongin sudah hidup normal kembali dengan dua orang yang sangat dicintainya, Jung Soojung dan Kim Minho. Ya, memang posisi Jongin di perusahaan Sehun tidak setinggi posisinya saat di perusahaannya sendiri dahulu. Ia hanya sebatas general manager, tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Jongin.

Semenjak Tuan Kim meninggal dunia, tadinya Tuan Oh berencana untuk mengadopsi Jongin secara resmi. Namun Jongin menolak, ia merasa sangat tidak pantas untuk menjadi bagian dari Keluarga Oh. Ya, kesalahannya di masa lalu masih membuatnya merasa bersalah sampai sekarang. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengabdikan seumur hidupnya pada Keluarga Oh untuk menebus rasa bersalahnya.

Appa, lemparkan bolanya padaku!!” pekik Minho pada Jongin. Dengan cepat Jongin melemparkan bola karet berwarna biru laut tersebut ke arah Minho.

“Ah, apa kalian sudah lapar? Kalau begitu eomma akan membuat sarapan dulu, oke? Kalian bisa lanjut berenang,” ujar Soojung seraya berjalan ke pinggir kolam berenang.

Ne, Eomma,” jawab mereka serentak lalu kembali bermain-main kecil lagi di kolam berenang.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Hyerin dan Sehun kini sudah berdiri di depan bangunan besar yang tak lain adalah rumah sakit jiwa tempat Irene dirawat. Sesuai dengan kesepakatan mereka, siang ini mereka langsung menjenguk Irene di rumah sakit.

Hyerin dan Sehun tidak hanya berdua, mereka juga bersama dengan Bae Jihyun—adik Irene. dan juga Chanyoung—yang sebenarnya merengek ingin ikut.

Setelah menanyakan keberadaan Irene pada pihak resepsionis, akhirnya kini mereka telah sampai di depan ruangan Irene. Dapat mereka lihat Irene sedang termenung sembari berujar, “Aku akan membunuhmu…” berulang kali.

Perlahan-lahan perawat yang mengantarkan Sehun dan Hyerin tadi membukakan pintu ruangan Irene dan langsung masuk kedalam ruangan Irene bersama dengan Sehun, Hyerin, Jihyun dan Chanyoung di belakangnya.

Unnie…” Jihyun tak bisa menahan tetesan air matanya begitu ia melihat kakak kandugnnya kini dalam keadaan yan tidak baik. Usia Jihyun sudah sebelas tahun sekarang, dan ia sudah cukup besar untuk mengerti apa yang terjadi.

Unnie, na-ya (ini aku)…” ujar Jihyun yang mencoba untuk mendekat ke arah Irene. Namun Irene tetap membeku di tempatnya walau kini dapat kita lihat sebuah tetesan air mata mengalir dari kedua matanya.

Jihyun berusaha untuk menyentuk pundak Irene, namun dengan segera Irene menepis tangan Jihyun kasar dan membuat gadis kecil itu hampir terhempas kalau saja Sehun tak menangkapnya.

Unnie sadarlah, aku adikmu… Bae Jihyun…” lirih Jihyun yang tangisannya semakin menjadi-jadi.

Sehun langsung membawa Jihyun kedalam pelukannya, seketika ia teringat hari dimana Hyerin menolaknya kala itu. Menolak untuk bertemu dengannya dan membencinya. Sehun tahu betul bagaimana sakitnya hati Jihyun saat ini karena dia pernah merasakannya.

“Oh Sehun?” ujar Irene yang kini sedang menatap ke arah Sehun.

Bagaimana bisa Irene mengingat Sehun serta nama pria ini? Bukankah dokter berkata bahwa ingatan serta kejiwaan Irene sudah terganggu? Apa hatinya… masih terlalu sulit untuk melupakan Sehun?

Semua yang ada di ruangan Irene langsung terperangah begitu mendengar suara Irene, termasuk perawat tadi yang masih berada di dalam ruangan Irene untuk menjaga keselamatan pengunjung, karena bisa saja Irene menyerang pengunjung ‘kan? Perawat tersebut bahkan baru kali ini mendengar Irene berkata selain, “Aku akan membunuhmu…”

“Kau mengingatku, Irene?” tanya Sehun yang kini sudah tidak memeluk Jihyun lagi.

“Oh Sehun… aku… merindukanmu.” Irene langsung turun dari ranjangnya dan langsung memeluk Sehun begitu saja.

Sehun membeku di tempatnya dan refleks ia langsung menoleh ke arah Hyerin sembari menautkan alisnya dan berkata tanpa suara, “Aku harus apa?”. Hyerin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah Sehun dan berkata tanpa suara, “Biarkan dulu,” ujar Hyerin.

Ya, Hyerin tahu betul betapa sepupunya itu terobsesi pada suaminya. Melihat fakta Irene yang masih mengingat Sehun di saat kondisinya sudah separah ini membuat Hyerin terharu. Hyerin tahu betul Irene sangat sakit begitu mengetahui fakta bahwa pria yang ia cintai justru suka pada dirinya, dan Hyerin rasa, Irene memeluk Sehun sebentar bukanlah masalah untuknya. Yeah, setidaknya sebagai sarana hiburan kecil untuk Irene.

Memaafkan Irene? Hyerin rasa belum sepenuhnya. Berbeda dengan Jongin, ia telah benar-benar memaafkan Jongin. Tapi dengan Irene dan Suho, Hyerin tidak mau bersikap sok suci dengan mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Irene dan Suho. Jujur, ia masih menyimpan rasa kecewa dan marah sedikit pada kedua orang tersebut walaupun lima tahun sudah berlalu.

Ini bukan karena Hyerin bersikap pendendam atau apa. Oh ayolah, di perlakukan seperti itu sampai rahimmu hampir rusak dan kau hampir kehilangan kejiwaanmu serta mengidap trauma parah adalah perbuatan yang sangat keji, bukan? Jadi wajar saja jika Hyerin belum bisa sepenuhnya memaafkan Irene dan Suho.

“Oh Sehun…” panggil Irene lagi, Sehun memilih untuk tidak menjawab. Ia tak mau membuat Irene semakin terobsesi padanya. Sehun juga tetap membeku di tempatnya, di membalas pelukan Irene atau sejenisnya. Oh ayolah, ia saja masih merasa tak enak karena dipeluk wanita lain di hadapan istrinya sendiri.

“Kau datang kesini karena kau merindukanku ‘kan?” tanya Irene lagi. Tetap sama, Sehun tetap diam.

Eomma, kenapa dia memeluk appa seperti itu?” tanya Chanyoung pada Hyerin.

“Tidak apa-apa, Sayang.”

Tiba-tiba Chanyoung mendekat ke arah Irene dan Sehun yang sudah cukup lama berpelukan, entah apa yang akan di lakukan bocah kecil itu.

“Lepaskan appaku, Ahjumma. Kau memeluknya terlalu lama!!” ujar Chanyoung. Astaga, Chanyoung menarik tubuh Irene untuk menjauh dari Sehun!!!

Tapi apalah daya tenaga bocah berusia lima tahun. Irene langsung menepis tangan Chanyoung dan kali ini Chanyoung bahkan sampai terhempas ke dinding kamar rawatnya. Untung saja kepala Chanyoung tidak terbentur sesuatu.

Terhempas ke dinding jelas saja membuat bocah berusia lima tahun seperti Chanyoung merasa kesakitan, kini Chanyoung sedang menangis di gendongan Hyerin yang terus mengelus punggung anaknya yang tadi membentur dinding.

Sehun tidak bisa diam saja saat ia melihat Irene melukai anaknya. Spontan, emosinya naik dan ia menghempaskan Irene yang sedang memeluknya sembari berkata, “Jangan berani-beraninya kau menyakiti anakku lagi!!”

Sehun langsung mengambil alih Chanyoung dari gendongan Hyerin dan memeluk anak laki-lakinya yang sedang menangis kencang itu erat-erat. “Dimana yang sakit, Sayang?” ujar Sehun sembari mencium puncak kepala Chanyoung.

Appa, ahjumma itu sangat jahat dan kasar!! Chanyoung membencinya,” ujar Chanyoung sembari menunjuk ke arah Irene.

Irene langsung melangkah maju dengan sebuah garpu plastik di tangannya. Ia melemparkan tatapan membunuh itu pada Chanyoung yang berada di dalam gendongan Sehun. Untungnya Sehun berhasil menjauh dan menghindar dari Irene. Sehun juga langsung mengakhiri kunjungannya dan tak lupa untuk mengajak Jihyun dan Hyerin juga keluar dari ruangan Irene. Melihat bagaimana Irene melukai anaknya, Sehun semakin… membenci Irene!!

Padahal… tanpa Sehun dan yang lainnya sadari, Irene sebenarnya bukan ingin menyakiti Chanyoung atau siapapun dengan garpu yang di pegangnya. Bahkan dapat kita dengar bahwa Irene bergumam kecil dengan suara sendu, “Maafkan aku… Oh Sehun, Byun Hyerin…” tapi suara Irene terlalu kecil untuk sampai ke indera pendengar orang lain.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

            Seorang pria bermata bulat sedang asik berkutat dengan monitor macbook pro yang ada di hadapannya. Mata bulat itu terlihat begitu serius dengan apa yang sedang dikerjakannya. Pria itu adalah Do Kyungsoo.

Kyungsoo menghentikan pekerjaannya sebentar lalu menyesap hot latte yang sudah ia pesan untuk menemani malamnya dan monitornya kali ini.

“Kyungsoo oppa?” panggil sebuah suara lembut namun tegas.

Kyungsoo mengadahkan kepalanya ke arah sumber suara, dan jujur ia cukup terkejut melihat orang yang ada di hadapannya saat ini.

“Suzy-ah?” ujar Kyungsoo, masih dengan ekspresi tercengangnya.

“Boleh aku duduk disini?” tanya Suzy sembari menunjuk kearah sebuah kursi kosong yang ada di hadapan Kyungsoo.

“Silahkan,” balas Kyungsoo sembari tersenyum tipis.

Seketika keheningan mengisi mereka sebelum akhirnya Kyungsoo kembali bersuara, “Kau sendirian saja?”

“Tidak, aku tidak sendiri,” jawab Suzy.

“Mungkinkah kau… bersama Myungsoo?” tanya Kyungsoo hati-hati.

“Ah, Oppa tidak tahu ya kalau kami sudah tidak berhubungan lagi? Ya, aku memang tidak sendirian disini, kan aku bersama Oppa,” ujar Suzy.

“MWO?! KAU SERIUS?!” pekik Kyungsoo tanpa sadar, menyebabkan perhatian seluruh pengunjung cafe terpusatkan pada mereka sejenak.

Suzy tertawa kecil melihat reaksi Kyungsoo, “Kenapa Oppa seterkejut itu? Memangnya hal mustahil ya jika aku putus dengan Myungsoo oppa?

“Ya, bisa dibilang begitu. Karena kau dan Myungsoo ‘kan sudah cukup lama bersama, dan kalian juga sudah bertunangan ‘kan?” celoteh Kyungsoo.

“Semua reaksi orang pasti sama, haha. Tapi kembali lagi ke dunia nyata, masih ada Tuhan yang mengatur semuanya diatas. Yeah, mungkin aku belum atau memang tidak berjodoh dengan Myungsoo oppa,” ujar Suzy dengan reaksi sedikit murung, Kyungsoo bisa merasakannya.

“Kau… masih mencintainya ya? Kenapa tidak mencoba untuk kembali membina hubungan kalian lagi saja? 7 tahun itu bukan waktu yang sebentar, Suzy-ah. Jadi kurasa, kalian sudah sangat banyak mengetahui dan mengerti satu sama lain,” ujar Kyungsoo. Jujur, Kyungsoo ikhlas mengatakannya, setelah bertahun-tahun menyimpan rasa tak terbalas untuk Suzy, kini Kyungsoo sudah mulai bisa melupakannya, walaupun belum seluruhnya.

“Ingin aku jawab jujur atau tidak?” Suzy memicingkan matanya sembari tersenyum simpul.

“Aku tidak suka dibohongi,” balas Kyungsoo.

“Oke, jujur aku masih menyimpan sedikit rasa pada Myungsoo oppa. Oh ayolah, aku tidak ingin munafik. Tidak semudah itu melupakan perasaanku yang sudah tertanam dihati ini selama 7 tahun lebih tersebut. Tapi perlu kalian ketahui, aku sudah tidak menyimpan harapan lagi pada hubungan kami. Ya, aku memegang prinsip bahwa mencoba membina kembali sebuah hubungan yang sudah pernah kandas sama saja membaca buku yang sama berulang-ulang kali. Yang artinya, mau sebanyak apapun kalian mengulang membaca buku tersebut, endingnya akan tetap sama,” jawab Suzy mantap.

“Baguslah…” gumam Kyungsoo pelan tanpa ia sadari.

“Apa?” ulang Suzy.

Kyungsoo seketika terkejut dan langsung bertingkah canggung sembari menggaruk tengkuknya, “Tidak… aku hanya hmm… melihat hasil editanku yang menurutku bagus hehehe,” jawabnya dengan senyum canggung.

“Oh begitu.”

Mata Suzy menangkap sebuah undangan berwarna biru pastel dengan kombinasi silver yang ada di sebelah macbook Kyungsoo. “Kau diundang ke pesta pertunangan Sena dan Kris juga ya, Oppa?” tanya Suzy sembari menunjuk ke arah undangan tadi.

“Ah, ya.”

“Kau pergi dengan siapa kesana?” tanya Suzy lagi.

“Kemungkinan besar… aku pergi sendiri, hehe. Bagaimana denganmu?” tanya Kyungsoo balik.

Nado.”

Kyungsoo terlihat berpikir sejenak lalu menghirup nafas dalam-dalam dan menhembuskannya, “Bagaimana… jika kau berangkat bersamaku? Apa kau keberatan?” ujar Kyungsoo hati-hati. Ia bahkan sudah mempersiapkan dirinya jika Suzy menolak ajakkannya ini.

“Ide bagus, oke aku setuju. Kita berangkat bersama. Pukul setengah tujuh malam kau jemput aku di sini, oke?” ujar Suzy sembari menyerahkan sebuah kertas yang bertuliskan alamat rumahnya pada Kyungsoo sembari tersenyum girang.

“O—oke…” jawab Kyungsoo yang masih gugup dan tak percaya Suzy menerima ajakannya.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

“Chanyoung-ah?” panggil Hyerin yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia baru saja menyelesaikan mandi sorenya. Namun ia tak menemukkan Chanyoung yang tadi sedang bermain di kamarnya. Yeah, di kamar Hyerin dan Sehun terdapat sebuah pintu yang langsung menghubungkan kamar mereka dengan kamar Chanyoung. For your information, Chanyoung menempati kamar Chanyeol dulu, dan kini kamar mendiang kakak mereka itu telah diubah menjadi kamar bernuansa anak-anak.

“Sehun-ah, kemana Chanyoung?” tanya Hyerin pada Sehun yang baru kembali ke kamar mereka setelah mengambil tuksedonya di walk in closet milik mereka berdua di sebelah kamar Chanyoung.

Sehun menggedikan bahunya, “Tidak tahu. Tadi saat kau mandi, dia bilang dia ingin menemui Paman Jo lalu dia turun ke lantai satu,” jawab Sehun.

Aigoo, anak itu benar-benar nakal!!” ujar Hyerin yang segera memakai pakaian santai sementara sebelum ia berganti pakaian menjadi gaun yang telah ia siapkan untuk acara malam ini.

“Persis seperti ibunya.” Sehun tertawa kecil.

“Apa kau bilang?! Apa kau tidak tahu waktu kau kecil dulu kau sangat nakal, huh?! Mataku ini korbannya!!” Hyerin mendelik tajam ke arah Hyerin.

Ya! Ya! Itu masa lalu, sudah tidak pantas lagi kita membahas hal itu,” protes Sehun.

“Kenapa tidak pantas? Bahkan rasa sakitku puluhan tahun yang lalu itu masih terasa sampai sekarang!!!” balas Hyerin lagi.

“Aigoo, istriku berlebihan sekali, huh?!” Sehun mendorong pelan kepala Hyerin.

TOK…

TOK…

TOK…

Belum sempat Hyerin membalas Sehun lagi, pintu kamar mereka tiba-tiba diketuk dari luar. Hyerin menunda pertengkaran mereka sejenak dan langsung membuka pintu kamar mereka. Hyerin menemukan Bibi Shin lah yang mengetuk pintu kamar mereka.

“Ada apa, Ahjumma?” tanya Hyerin.

“Itu, Nyonya Muda… Chanyoung merengek meminta untuk berenang bersama bebek-bebeknya sekarang. Padahal Jo ahjussi sedang menghias kolam berenang dengan lilin aromateraphy untuk acara malam ini,” ujar Bibi Shin yang tampak panik.

MWOYA?! Dimana dia sekarang?” tanya Hyerin yang langsung memekik terkejut.

“Dia sedang berenang, Nyonya Muda. Kami semua telah merayunya untuk segera menepi, tapi Chanyoung justru menyembunyikan dirinya di dalam kolam,” jawab Bibi Shin lagi.

“Aigoo, anak nakal itu!!” Hyerin langsung keluar dari kamar dan langsung menuju ke lantai satu, tepatnya kolam berenang.

Saat Hyerin sampai di kolam berenang yang ada di bagian belakang rumah Keluarga Oh, ia menemukan bahwa anak sulungnya itu sedang asik bermain dengan bebek-bebek karet kesukaannya yang tersedia dalam berbagai macam ukuran tersebut.

Terlihat beberapa pelayan di kediaman Keluarga Oh sedang membujuk Chanyoung untuk segera menepi dan respon anak itu? ia justru memeletkan lidahnya sembari mengacungkan jempolnya ke bawah ke arah orang-orang yang memanggilnya. Anak satu ini… benar-benar nakal.

Ya! Oh Chanyoung, apa yang kau lakukan, huh?!” Hyerin langsung mendekat ke arah kolam berenang dan mengulurkan tangannya, mengistruksikan Chanyoung untuk segera naik ke atas kolam berenang.

“Berenang di sore hari, Eomma, Chanyoung juga sedang memandikan bebek-bebekku. Apa Eomma mau bergabung dengan kami?” jawabnya dengan raut wajah datar, persis Sehun sekali.

Mwo?! Apa kau lupa kalau malam ini kita akan berpesta, huh?! Kemari, kau harus mandi, Sayang,” ujar Hyerin lagi.

“Kenapa kalian semua bersikeras meminta Chanyoung untuk menepi sih? Apa kalian iri karena Chanyoung bisa berenang dengan bebek-bebek imut ini? Kalau begitu, besok Chanyoung akan membelikan untuk kalian, tapi jangan ganggu Chanyoung lagi ya!!” ujar anak polos namun sangat nakal tersebut.

“Oh ayolah, Chanyoung-ah. Ini bukan waktunya untuk bermain-main, oke? Acara akan dimulai sebentar lagi dan kau malah membuat gaduh? Ayo kemari, Sayang,” ujar Hyerin lagi yang semakin mendekat ke arah kolam berenang.

Eomma, memangnya aku salah? Aku hanya ingin berenang…” ujar Chanyoung dengan wajah sedihnya yang sepertinya hanya pura-pura.

“Kalau kau ingin berenang, besok pagi kita bisa berenang, Sayang. Ah ya, malam ini Kris samcheon akan menginap di sini ‘kan? Kau bisa mengajaknya berenang nanti malam,” ujar Hyerin lagi.

Ya, untuk informasi, Chanyoung dan Kris benar-benar dekat. Bahkan terkadang Chanyoung lebih memilih Kris – Sena ketimbang orang tuanya sendiri. Karena apa? Karena Sena dan Kris dengan senang hati selalu menuruti keinginan Chanyoung. Bahkan merek rela berubah menjadi anak bodoh sekalipun demi menyenangi Chanyoung. Lagipula, Sena dan Kris sama-sama penyuka anak kecil, maka dari itu mereka mudah dekat dengan Chanyoung.

Chanyoung terlihat menimang-nimang perkataan Hyerin sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan memutuskan untuk berjalan ke tepi kolam berenang.

Good boy,” ujar Hyerin sembari mengangkat Chanyoung dari dalam kolam berenang.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Malam pun tiba, kediaman Keluarga Oh perlahan-lahan mulai dipadati oleh para tamu yang diundang ke acara pertunangan Sena dan Kris ini. Mobil-mobil mewah dengan berbagai macam harga yang fantastis sudah terparkir satu persatu di halaman rumah dan juga di lahan yang di sediakan oleh Keluarga Oh.

Yeah, Tuan Oh tadinya berniat untuk mengadakannya di ballroom hotel atau di party venue, tapi Sena menolak dan berkata bahwa ini hanya sebatas pertunangan, jadi ia tak mau mengadakannya terlalu mewah dahulu.

Para pelayan yang bertugas malam ini juga telah siap dengan seragam mereka untuk melayani para tamu yang hadir. Kediaman mewah Keluarga Oh ini juga sudah di dekorasi sebaik mungkin sehingga kelihatannya justru lebih menganggumkan daripada diadakan di ballroom hotel!!

Hyerin dan Sehun sudah siap dengan setelan tuksedo putih mereka, begitupun dengan Chanyoung. Si bocah nakal ini akhirnya bersedia di pakaiakan tuksedo setelah ia merengek meminta mengenakan pakaian iron man nya.

Hyerin baru saja selesai menata rambut anak semata wayangnya itu, dan setelah itu Hyerin memutarkan film kartun kesukaan Chanyoung di kamarnya agar anak lelakinya itu tak keluar dari kamar lebih dulu dari kedua orang tuanya, dan kalian juga tahu kan bahwa Chanyoung punya segala macam ulah untuk menciptakan kekacauan? Maka dari itu Hyerin dan Sehun tak mau membuat kesalahan malam ini dengan melepas Chanyoung begitu saja.

“Kau jadi ingin pakai dasi yang mana?” tanya Hyerin pada Sehun yang sedang mengepaskan tuksedonya di depan kaca besar kamar mereka.

“Yang polos saja. Hitam, silver, atau gold juga boleh,” jawab Sehun.

Gold, oke?” Hyerin mengambil dasi berwarna emas dan mulai memakaikannya pada Sehun. Saat Hyerin sedang memakaikan dasinya, seperti biasa, Sehun juga langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hyerin.

Ja, sudah selesai semua ‘kan?” tanya Hyerin yang kini sudah berdiri berdampingan dengan Sehun di depan kaca besar tadi. Mereka terlihat benar-benar serasi!! Apalagi sekarang Sehun melingkarkan tangannya di bahu Hyerin dan Hyerin membalas dengan cara melingkarkan tangannya di pinggang Sehun.

“Chanyoung-ah…” panggil Hyerin. Ia memasuki kamar Chanyoung dan tak menemukan siapapun di sana, hanya ada televisi yang menyala dan sedang memutarkan film Thomas and Friends, kesukaan Chanyoung.

“Astaga… anak nakal itu kemana lagi?!” Hyerin berdecak kesa karena anak laki-lakinya yang satu itu benar-benar susah di atur!!

“Sehun-ah, bisakah kau turun lebih dulu? Cari Chanyoung dan cegah dia melakukan hal-hal yang akan membuat masalah,” ujar Hyerin yang kini sudah kembali ke kamar mereka lagi. Sehun segera mengangguk dan keluar dari kamar.

Saat Sehun sampai di lantai satu, mereka menemukan Chanyoung yang sedang asik dengan steak wagyu di hadapannya. Ah lihatlah, bahkan mulutnya sudah benar-benar kotor karena saos di segala sisi.

“Kau lapar, hm?” tanya Sehun yang langsung mendekat ke arah Chanyoung dan kini ia sedang membersihkan wajah Chanyoung dengan sebuah tissue.

“Sini, biar appa suapkan, nanti pakaianmu bisa kotor, Sayang.” Sehun segera mengambil alih pisau serta garpu dari tangan Chanyoung dan mulai memotong daging steak tersebut menjadi beberapa bagian kecil.

Sehun menyuapkan satu persatu potongan daging steak itu hingga kini Chanyoung telah menghabiskan semuanya, dan bertepatan dengan itu, ada sebuah suara kecil yang memanggil nama anaknya.

“Chanyoung-ah!!” Refleks Sehun dan Chanyoung menoleh ke arah datangnya suara tersebut.

 

oh chanyoung

 

“Minho Hyung!!” balas Chanyoung sembari terburu-buru menuruni kursinya dan langsung berlari ke arah Minho, anak Jongin dan Soojung.

“Aigoo, kau tampan sekali, Chanyoung-ah,” ujar Soojung sembari menunduk sedikit untuk mengelus pelan pipi gembul Chanyoung.

Jinjja? Pasti aku akan lebih tampan lagi jika menggunakan pakaian iron man tadi, tapi eomma tidak mengizinkannya, Aunty,” jawab Chanyoung sembari memanyunkan wajahnya.

“Tidak, Sayang. Eommamu benar, kau lebih tampan mengenakan pakaian ini, percaya pada aunty,” ujar Soojung lagi.

“Ah, baiklah. Kalau begitu, Minho Hyung, ayo kita bermain!!” Chanyoung langsung menarik tangan Minho untuk mengikutinya, entah kemana.

Selepas kepergian dua bocah tampan itu, Soojung dan Jongin langsung mendekat ke arah Sehun yang sedang memberikan piring bekas makan Chanyoung itu pada salah satu pelayan yang lewat.

“Hei, Bro!!” Jongin langsung melakukan fist-bump dengan Sehun.

“Hyerin dimana, Sehun-ah?” tanya Soojung.

“Dia masih di kamar. Ah, ya. Dia memintamu naik ke kamar kami sebentar apabila kau sampai, katanya ada yang ingin dia bicarakan padamu,” ujar Sehun sembari menggedikan bahunya.

“Baiklah, kalau begitu aku keatas dulu, oke? Ingat, jangan minum terlalu banyak, Oppa,” ujar Soojung pada Jongin dan Sehun sebelum akhirnya wanita cantik itu menuju ke lantai dua kediaman Keluarga Oh.

“Haruskah kita minum sepuluh gelas malam ini?” ledek Sehun sembari meletakkan telapak tangannya di bahu Jongin sembari tertawa mengejek.

“Siapa takut, Tuan Oh. Bukankah kau berjanji tidak ingin menyentuk alkohol lagi?” balas Jongin sembari menaikkan sebelah alisnya, menyeringai pula.

“Untuk malam ini, aku ingin melupakan janji itu sebentar,” bisik Sehun pada Jongin. Setelah itu keduanya tertawa bersama sembari meraih satu gelas minuman dari pelayan yang lewat.

First cheers for tonight,” ujar mereka bersamaan sembari mengadu mulut gelas mereka.

 

-awknisa’s-

(jangan lupa baca author’s note di akhir ya)

 

Acara utama yaitu pertunangan Sena dan Kris sudah di mulai, Sena dan Kris juga sudah saling bertukar cincin di hadapan para tamu.

Dan kini, seluruh tamu berkumpul di bagian belakang kediaman Keluarga Oh untuk menikmati pemandangan taman yang indah serta kolam berenang dengan lilin yang bertebaran sembari menanti pesta kembang api yang sebentar lagi akan di gelar.

Kini dapat kita lihat semua orang sudah berdiri bersanding dengan pasangannya masing-masing.

Ada Sena dan Kris, sang pemeran utama kita malam ini pastinya. Lalu Soojung dan Jongin juga sudah berdiri di salah satu sudut ruangan sembari bertautan tangan satu sama lain.

Baekhyun dan Jiyoung juga kini sudah berdiri di sebelah Tuan dan Nyonya Byun sembari menggendong anak perempuannya yang sudah berusia empat tahun, Byun Haru.

Dan ah… Jangan lupakan juga Jira dan Luhan!! Yeah, pasangan yang telah mengikat janji suci mereka satu tahun yang lalu di kampung halaman Luhan, Beijing. Bahkan kabarnya, kini Jira sudah mengandung anak Luhan yang berusia empat bulan.

Jira dan Luhan terlihat begitu serasi dengan tangan Luhan yang sedari tadi telah bertengger dengan manis di pinggang Jira.

Pesta kembang api sebentar lagi akan dimulai, namun… sepertinya kita belum melihat satu pasangan lagi ‘kan?

Sehun dan Hyerin.

Yeah, keduanya kini sedang menanti pesta kembang api dari balkon kamar mereka yang kebetulan langsung menghadap ke arah kolam berenang.

Hyerin dan Sehun kini berdiri berhadapan di balkon kamar mereka dengan tangan Sehun yang sudah mengunci pinggang Hyerin.

“Tak ku sangka… sudah hampir enam tahun berlalu dan banyak sekali perubahan yang terjadi!!” ujar Hyerin sembari memekik senang.

“Ya, yang pasti, semuanya menjadi lebih baik…” jawab Sehun yang kini menggunakan sebelah tangannya untuk mengelus pipi Hyerin.

“Sehun-ah… aku harap kita bisa selalu bersama-sama sampai kapanpun….” ujar Hyerin lagi. Kini Hyerin menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah Sehun dan menatap tepat di bola mata suaminya itu.

“Pasti, Sayang. Kita tidak akan pernah berpisah karena Tuhan mempertemukan kita untuk selalu bersama-sama selamanya. Tuhan tidak pernah menyinggung kata perpisahan sedikitpun dalam hubungan kita karena Beliau sudah menakdirkan kita untuk hidup berdampingan…” ujar Sehun yang langsung menjatuhkan sebuah kecupan hangat di dahi Hyerin setelah ia menyudahi kalimatnya.

“Terimakasih karena telah menjadi istriku, Byun Hyerin,” ujar Sehun yang kini sudah kembali ke posisi awal mereka.

“Terimakasih juga karena kau sudah menjadi suamiku, Oh Sehun,” jawab Hyerin yang kini matanya sudah berkaca-kaca.

“Terimakasih karena telah mengajarkanku apa arti cinta yang sesungguhnya, Byun Hyerin…”

“Terimakasih karena telah membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, Oh Sehun…” balas Hyerin.

“Terimakasih telah menguatkanku, menjagaku, membahagiakanku, merawatku, membuat hidupku berwarna, dan mencintaiku, Byun Hyerin…” ujar Sehun yang sekali lagi mendaratkan sebuah kecupan di dahi Hyerin. Sehun semakin menarik Hyerin untuk mendekat ke arahnya sehingga tubuh mereka saling bersentuhan sekarang.

“Terimakasih telah membuatku merasakan rasanya menjadi istri, dan juga  membuatku merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu…” balas Hyerin sembari melingkarkan lengannya di leher Sehun karena Sehun mulai memajukan wajahnya.

Sehun mengehentikan pergerakannya saat wajahnya dan Hyerin hanya berjarak tiga sentimeter saja, ia lagi-lagi menatap tepat di bola mata Hyerin dan tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata, “Yang terakhir… terimakasih karena kau telah mencairkan bukit es yang ada di dalam diriku, Byun Hyerin. You had change me a lot…”

 

Senyuman manismu membawa tawa, tawa membawa cerita, cerita cinta yang indah diantara kita. Kau… membuatku bahagia, kau… membuatku tertawa di saat hati ini terluka, dan hati ini… perlahan-lahan mulai terbawa oleh cinta yang kau berikkan untukku…

[ Sehun – Hyerin ]

 

Setelah menyudahi kalimatnya, Sehun langsung memiringkan kepalanya dan berhasil mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Hyerin bersamaan dengan dimulainya pesta kembang api. Dengan cepat Hyerin membalas ciuman Sehun. Saling berbagi lumatan penuh cinta, bertukar saliva, dan bahkan saling membelitkan lidah satu sama lain di malam yang indah ini, hanya berdua.

Ciuman itu terus berlanjut meski mereka sempat mengehentikannya beberapa detik untuk sekedar menghirup oksigen. Tubuh Hyerin semakin menempel pada tubuh Sehun karena Sehun terus saja menarik tubuh istrinya itu untuk semakin mendekat ke arahnya. Hyerin juga semakin memperkuat rangkulannya pada leher Sehun untuk meminta penopang karena ia rasa kakinya kini berubah menjadi jelly.

Sehun menghentikan ciumannya sebentar lalu mendekatkan bibirnya di telinga Hyerin, “Aku mencintaimu, I love you… Byun Hyerin,” ujar Sehun dengan seduktif.

I love you too… Oh Sehun, my lovely husband…” balas Hyerin sebelum akhirnya bibir mereka kembali menyatu.

Menikah dengan keterpaksaan pada awalnya dan berakhir dengan pernikahan bahagia. Kedengarannya memang biasa. Namun, apabila kita lirik kembali ke belakang, perjalanan mereka menuju ke akhir yang bahagia seperti ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ini bahkan lebih sulit daripada menyentuhkan ujung lidah ke hidung sendiri, asal kalian tahu.

Keduanya bahkan rela mempertaruhkan apapun–bahkan nyawa mereka–demi kebahagian ini.

Tapi, dengan adanya liku-liku kehidupan yang rumit ini dalam kehidupan rumah tangga mereka, berhasil membuat mereka selalu kuat dalam menjalani hidup dan sadar bahwa cinta tidaklah mudah dan bisa dianggap remeh. Tetapi, ketidakmudahan cinta tidak bisa menutupi fakta bahwa cinta itu indah, sangat indah, bahkan lebih indah dari apapun.

Sehun dan Hyerin tidak pernah menyesal sedikitpun dengan awal pernikahan mereka yang tidak cukup baik, mereka justru bersyukur karena lewat itu juga mereka dapat memiliki kisah perjalan cinta yang tidak biasa dan akan selalu terkenang sampai kapanpun. Perjalanan cinta yang awalnya tak mungkin berakhir bahagia justru menjadi akhir yang sangat bahagia seperti ini. Kenyataan yang indah.

Bagi Sehun, Hyerin memang bukan wanita pertama yang singgah dan pernah mengisi hatinya. Begitu juga dengan Hyerin, Sehun juga bukanlah pria pertama yang singgah dan mengisi hatinya. Namun… mereka sama-sama menjadikan satu sama lain sebagai tambatan terakhir di hati mereka, sampai kapanpun itu.

Setelah menyaksikan bagaimana perjuangan Sehun dan Hyerin dalam mempertahankan cinta mereka hingga tetap bertahan dan berakhir bahagia seperti ini, masihkan kalian berniatan untuk menyerah pada cinta kalian masing-masing.

Ku harap tidak.

Baiklah, selama bertemu di lain kisah, selamat mengejar dan mempertahankan cinta kalian juga!!! Fighting!!!

 

 

 

= THE END =

 

 

 

| Author’s Note |

 

HAAII KAGET YAH KARENA TIBA-TIBA FF INI KELUAR TANPA PASSWORD? TAPI SENENG KAN KARENA GA PERLU REPOT-REPOT INSERT PW DLL HAHAHHA 😀 BERTERIMAKASIHLAH KALIAN PADA KAI DAN ASHER YANG TERLIHAT SANGAT COCOK JADI PASANGAN AYAH DAN ANAK SEHINGGA MEMBUATKU LULUH DAN BERBAIK HATI MEMBAGIKAN ENDING INI TANPA PW HAHAHAH (fyi : sekarang aku pindah bias, ultimate-ku jadi Kai hehe)

HUAAAAA AKHIRNYA FF PERTAMAKU INI BERAKHIR JUGAAA!!! AKU SENENG TAPI AKU JUGA SEDIH HUAA!!!!

GIMANA?!?! PUAS GAK SAMA ENDINGNYA?!?! AKU HARAP KALIAN PUAS KARENA AKU UDAH BUAT INI SAMPIE 11.700++ WORDS HUHUHUHU, PANJANG BANGET ‘KAN?!?! 😀 OH YA JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMEN TERAKHIR KALIAN UNTUK FF INI GUYS, MASA IYA SIH DI CHAPTER TERAKHIR PUN KALIAN (para siders) MASIH GA MAU BERI AKU APRESIASI KECIL?

YEAAHH SEPERTI YANG KALIAN DUGA, FF INI BERAKHIR DENGAN AKHIR YANG BAHAGIA WKWK, PADA SENENG KAAANN?!?!

Ya, aku tuh mikir, gak adil aja kalo ini di buat gak bahagia. Kalian tahu ‘kan kalo Sehun – Hyerin tuh udah puas tersiksa di FF ini? Mulai dari nikah di jodohin – salah paham tentang foto – Hyerin di culik – Hyerin di kasih perusak rahim – Hyerin trauma berat – bahkan di akhri Hyerin hampir meninggal karena ngelahirin Chanyoung(?) wkwk 😀

Btw aku baru sadar kalo skf udah ganti template wkwk tapi aku makin suka sama template skf yang baru ini, keliatan lebih rapiiii…., saking lamanya kaga ngebuka dunia perfiksian, jadilah aku kudet 😀 yaahh maklum, label anak sma yang sekarang melekat di aku bener-bener bikin aku stress, sumpah yah.. kerasa banget bedanya dari yang di smp nyantai bangeettttt di sma ini kayak di tekan ya Allah, kuatkanlah hamba (jiah malah doaa) apalagi aku ambil jurusan ipa, benar-benar tidak ada kata nyantai guys!!! Bahkan weekend pun susah keluar karena tugas 😦

OH YA AKU MAU UCAPIN TERIMAKASIH YANG SEBANYAK-BANYAK UNTUK PARA READERS YANG UDAH IKUTIN CHANGE ME SEJAUH INI!!! TANPA KALIAN CERITAKU INI GAK AKAN BERARTI APA-APA GUYS, AKU SAYANG KALIAN!!!

 

 

| MAIN CASTS |

 

 

[Sehun EXO as Oh Sehun]

 

1441725943200

1441725959937

1441725971610

 

[Lee Sungkyung as Byun Hyerin]

 

[23] [30] [37] [170 

 

Advertisements

197 responses to “Change Me | 26th Chapter [ENDING]

  1. Kyaaaaaaaaa.akhirnya happy end semuanya berbahagia dan semuanya mempunyai pasangan dari yg udah punya anak baru jadia trus balikan ampe tunangan semuanya ada disini…spicles dah ga bisa ngomong apapa bacanya aja udah berbunga…
    See you soon ama project barunya…

  2. ahhh elaaahhh gw dah deg degan tad di awal, pen nangis rasanya 😥
    tapi mereka dah bahagia sekarang hihi
    Chanyoung gemesin banget *plakk

    thanks

  3. yeayy akhirnya happy ending juga ^^
    puasss banget sama ceritanya.
    di kirain Hyerin’nya bener meninggal tau”nya ga meninggal.
    sukaaaaa, akhirnya bisa liat keluarga mereka bahagia, apalagi ada Chanyoung yg lengkapin keluarga mereka 🙂
    pokoknya sukaaaa banget sama endingnya… ^^

    Semangat terus ya Nisa & keep writing 🙂

  4. Hyerin ga jadi meninggal..untungnya
    Chanyoung gemesin buat ketawa terus
    Ini udah chap akhir ya?
    Ada sequelnya ga thor?
    Kalo ada ditunggu ya

    Keep writing ^*^

  5. yeahhh! horeee!! mantap!!! happy ending yeah! wkwkwkwk… puas banget thor sama endingnya… sumpah keren :’D . ditunggu kisah2 buatanmu yg lainnya ya ^^

  6. Ahh… udah ending. Part yg ini lebih panjang aku suka!!
    Chanyoung nakal banget kerja nya nyusahin orang tua:D.
    Ditunggu karya selanjutnya, fighting!!

  7. Annyeong kak.. udah lama bgt gak baca change me..
    Aku seneng sekaligus sedih baca part terakhir ini.. seneng karena sehun hyerin berakhir bahagia, sedih karena ceritanya beres.. 😥😢😢
    Selalu keren cerita buatan kakak.. 👍👍 pokonya tetap semangat buat bikin FF yg lain.. sukses terus baik di dunia perFFan sama dunia nyata.. 😉
    Always Fighting!!! 😊😃😄

  8. hi saeng, ketemu aku lagii ^^/ #sokenalgila
    ini ending nya happy tapi gue malah nangis kejerrr.

    KENAPA HARUS UDAHAAN???!! T.T

    atapi yaudasi, makasi udh mau hibur aku dgn karya fiksi km ini :’) semangat trus ya nak, aku dibelakang mu :’) #pukpuk saeng

    btw, masalah hyerin yg mau mati itu kok aku gk ada feeling dia bakal mati ya? #abaikan
    ah pkoknya kece lah nih ff! semoga bisa trus melahirkan karya2 trbaik ya sayang!!

    aku sayang saeng jugaa!! muah

    eh lupa, aku msh nunggu email km loh smpai detik ini :” #berharapbanyak

    masya allah ini comment lbh panjang dr ff. yasdh, BABAIII!!!
    #tarik kai #kaipunyaku #jgn suka kai! #atau km bakal kyk irene #bhak /?

  9. Akhirnya selesai juga baca ini ff, kok aku malah sedih ya :”) aku udah ikutin ff ini dari awal banget dan tiba tiba ga kerasa udah selsai ajaa :”) aku mau ngucapin makasib bgt sama author ff ini soalnya garagara baca ff ini aku nangis, ketawa, senyum senyum sendiri, gregetan sendiri. Pokoknya makasihbbgt ya thor udah bikin ff yang kaya gini, oh iyaa sukses juha SMAnya. Dan yang paling penting akhirnya sehun sama hyerin itu bahagia. Oh iya aku suka bgt sama katakata nya sehun yang terakhir, keep writing!

  10. Wahhh daebak,daebak,daebak:D maaf selama ini jadi silent readers soalnya mau komen udah ketinggalan jauh,nemu ini ff pas udah chapter terakhir.jadi niatnya sekalian diakhir komennya:-D okehh engga kata selain BERHASIL ,ceritanya bagus banget,apalagi konfliknya yg bikin gregetan tapi itulah bagusnya, bikin baper bacanya.pokoknya KERENn.maaf cuman bisa komen segini.semangat terus thor untuk bikin cerita lainnya.hwaiting,hwaiting,hwaiting!!!

  11. FINALLY~~ Happy Ending!!! Yeay<3
    Puas puas puas banget!!! Akhirnya…selesai juga nih ff, sedih + seneng sih. Kata2 nya daebak, feel nya dapet, pokoknya topp best!

    Makasih banget buat kk nisa, karena ff ini aku jadi lebih sering ketawa, karena sehun-hyerin kalau lagi bertengkar lucu bgt..hihi..
    And ff ini sumpahhh romantis banget!!!!T^T aku ngefly sampe langit ke tujuh/?

    Apalagi yah/?

    Intinya sehun-hyerin bahagia yeayyy!!!!! Semangat terus yaa kk!!!! Keep writing

  12. Sekian lama nunggu.. akhirnya kelar juga ni ff.. jujur, baca ini ff.. terus perjuangan sehun sama hyerin, yang bahkan rela berkorban satu sama lain, walaupun sebelumnya banyak rintangan cukup membuat akunya terharu. Dan mudah mudahan kita semua mendapatkan keluarga (suatu saat nanyi insyaallah) yang diisi dengan senyum dan juga kasih sayang..
    Kok jadi curhat ya…
    Intinya ff kerenn bangett…

  13. waaah ffnya udah habis ya?
    ya gak enaklah, tapi gak apalah, yang penting ini ff baguuuus bangett, alurnya nyambung
    dan makasih ya thor udah buat ff sebagus ini
    semoga author jadi penulis yang sukses yaa;)
    Thank you:)
    dan selalu semangat untuk nulis yaa thor

  14. Ahhh!!! Happy bangt ffnya keluar tanpa pass. soalnya aku udh nunggu dari kapan tau tapi gk dikirim”passnya ku pikir authornya masih sinuk jadi yaudahlah kutunggu aja ehh tapi tiba” keluar tanpa pass itu rasanya seneng gilaa *alay
    duhh feelnya dapet banget ampe netes pas baca yang awal”
    thor di tunggu kelanjuta ffnya yaa.. yang keren juga yang bikin greget juga yang bikin kepo terus dehh…
    thor hwaitingg!! Sukses buat ff selanjutnya
    aku tunggu lohh ^^

  15. huwaaa, happy ending, hiks #usapingus #ih #abaikan. asli seneng banget klo ff ini berakhir happy ending, gk sad ending.
    tpi rada kepo juga sih sama apa yg sebenarnya terjadi sama irene. irene sakit jiwa beneran ato kagak? kok diakhir kalimatnya kayak gitu? tpi y udahlah, abaikan. gk terlalu kepo juga aq nya.
    uwaaa, chanyoung unyu banget sih. ih, pengen banget nyubit pipinya #eh.
    n jga, Sehun sama hyerin sweet banget waktu diending part. percakapan nya mereka bner2 romance banget, sweet banget. jdi iri deh.
    ok, udah cukup ngocehnya. ditunggu karya ff mu yg lainnya. keep writing!

  16. oohhh my gooshh !! untuk siapaa pun pembuaat ff iinii ,, aku akuin ini ff terkeren sepanjangg masaaa perjalannan pembacaan ff ku !! (halah lebay wkwk) tapi aslii loh kak !! keren bgttt !! parahh !!
    keep writting ya kaa !
    saranghae ❤

  17. Finally! Seneng banget udah ngikutin ff ini dari awal sampai last chapter gini :’D
    Dan kabar baiknya juga happy ending 😀
    Seneng banget deh, walaupun dulu mereka tuh bener2 jauh dari so sweet, sampe mereka salah paham, dan hyerin ditinggal sehun buat proyek dan malah diculik :’D kayaknyaa bener2 ujian banget buat mereka. But at least they live happily with Chanyoung 😀 anaknya imut banget sumvah ya tp nakalnya ga ketulungan :’D
    Okeh yang pasti berterima kasih banget sama eonni! Best author who wrote this extremely adorable fanfic 😀 ga bakal bisa lupa sama ff ini, berkesan banget. Kayaknya ga bisa move on dari fanfic ini :’D okay keep writing! 😀

  18. Puas sama ff ini
    Dari awal sampek akhir dibuat senang, sedih, syok, dll sm kamu saeng
    Sukses

    Dan last chapter ini bener” gak mengecewakan, happy ending, semuanya bahagia,
    Gomawo ne, udah buat cerita bgs kayak gini, di tunggu ff kamu yg lainnya 🙂

  19. eonniii….aku nungguin lama bangett ternyata udah di post ffnya aku kirain jadi di pw aku nungguin eonni ngirimin pwnya ternyata udah di post tanpa pw -_- udah dulu deh curhatnya
    untuk cerita aku cuman bisa bilang DAEBAK!!! KEREN!!
    apalagi pas part dimana jongin lagi di penjara pertama kali liat anaknya dan itu sumpahh bikin nangis!….aku bingung mau bilang apaaa soalnyaaa aku sukaa bangettt nggak tau lagi deh…heuheu/:’v….kalo bisa bikinin series keluarga kecil oh dongg eonniiii /senyum senyum/

  20. Kyaaa kereen bgt Endingnya,Eonni sukses buat aku nangis,ketawa ketawa sendiri,deg-degan,dlllah. Endingnya bener bener gak ngecewain Semua berakhir dg Bahagia. Makasih ya Eonni buat karyanya Yg bagus ini, Aku malah sedih FF ini berakhir rasanya pengen liat kelanjutannya terus :v (Masih Belum Ikhlas FF ini Selesai :v) aku Sampe gk mbaca FF lain berbulan bulan demi menjaga Fell mbaca FF ini. Sumpaaaaaah deh Eonni aku duka banget FFnya.
    Keep Writing ya Eonni aku tunggu karya Menakjubkan Eonni yg lain (Aku Yakin kalo Eonni yg buat pasti menakjubkan :v #Allay bgt ni bocah :v) O ya Eonni Sukses buat Masa SMAnya ya!!
    Sudahlah aku akhiri Ocehan ini
    Byee Eonni moga ketemu di karya Eonni yg lainnya :*

  21. Sukses banget buat gua nangis terkadang sampai gua senyum senyum sendiri, ketawa, sampe tegang, sampe penasaran sendiri sama next chapternya wkwk
    Akhirnya happy ending, ini yg gua tunggu tunggu wkwk, tapi gua malah berharap lebih pengen bngt ni ff kalo bisa sampe chapter 30 lebih wkwk habisnya gua suka bngt sama ni ff, feelsnya dapet bngt kan jadi greget sendiri bacanya wkwk
    Ini menurut gua ff yg paling gua suka bngt bngt, paling bnyk chapternya mungkin bisa dibilang paling panjang ceritanya dari ff yg pernah gua baca wkwk. Intinya ff ” change me ” favorite gua dahh rasanya pen gua baca dari awal lagi ampe hbs wkwk nggak bikin bosen wkwk
    ohh iya thor kalau buat ff lagi castnya sehun ama hyerin aja yee wkwk soalnya sehun bias gua thorr wkwk kalau bisa pemainnya sama semua yg kaya ada di ff ” change me ” wkwk habisnya udh dapet bngt feelsnya wkwk dan endingnya happy ending gua kadang kagak terlalu suka kalau endingnya kagak happy ending soalnya greget sendiri kadang suka ngomel’ sendri kenapa harus not happy ending huhu wkwk
    Semangat thorr buat next ffnya yaaa, fighting!!

  22. g terasa udah ending
    yaampun anaknya sehun nakal benget
    pokoknya acungin jempol buat author
    aku tunggu ff buatan author slanjutnya ya

  23. OMOOOO!!!!!! ga nyangkaa bngt bakal happy ending , aku kira bakal sad ending , kerennn bngttt ff nyaaa , bikin nangis waktu chanyeol nya mati *butuh tisu hikss 😭😭*
    Pokokknya cintaa sama ini ff, Ga nyesell bacanyaa ,
    Bikin ff selanjutnya yang seru lagiii yaaa

  24. Duhhh aku kehabisan katakata di ff ini. Maaf yaa di ff sebelumnya aku ga ngasih komentar.. jadi aku lampiasin disini aja deh, aku suka banget sama alurnya menegangkan. Dari mulai yang awalnya kehidupannya tentram trusss DUAR. Susah buat diungkapin… pokonya aku cuma bisa kasih semangat buat penulisnya! FIGHTING THOR!!! 😍 buat karya lebih banyak lagi!

  25. Huaaaa😆 akhirnya happy end!!!😁
    Oh ya!! Annyeong chingu👋 aku readers baru di sini😊 mian baru bisa coment di part end🙏, bukan bermaksud jadi siders ya, soal nya baru kemarin baca ff change me, trus aku pengen ngebut deh ngebaca nya biar 1 hari siap,,sooo akhirnya aku berhasil nyelesaiin baca ff nya dari part 1-26 end dlm 1 hari😀
    Sekali lagi mianhe ya author bukan bermaksud mau jadi siders karena gak coment di setiap part🙇
    Oh ya thor aku mau bilang ff nya KEREN!!!👍 aku sampe ketawa²,,nangis,galau² gak jelas gitu gara² ngebaca nih ff,,pokok nya ff nya author DAEBAK deh👍
    Sooo author harus tetap semangat✊ buat nulis the next ff lain nya ya👌!!!!! Hwaiting!!!!!✊👍

  26. Daebakkkkk 2jempollll buat saenggg!!!
    Dari,senang,sedih,tegang ,emosi, senyum”, sampe ketwa sendr sepert org gila jg perna gr” ff ini sumpah kereeennnnkereeennnn . ap lg chap endx huuufffttt aku smpe specless😊😊😊😊
    Lantran senang dan bhagiax. Hihihi. Semuax bahagia, ap lg sehun hyerin chanyoung.Aduhh chanyong km lucu sekali,,, noona jg greget sm kamu polos amt sih. 😊😊😊😊
    Aishhh tdk twlah hrs brkt ap lagii.. Sedih jg sih ff ini hrs brakhir, 😩😩😩😩
    Tp ttp senengggg bc moment sehun hyerin. 😂😂😂😂
    Ahhh buat saengg keep writing y.

  27. Halo eonni^^
    Ini ffnya kereenn bgtt,sebenernya aku udah baca dri dulu cmn jadi sider,maaf ):
    Ntaah hari inii keinget sama ni ff,tpi cman bacaa parta akhirnya doangg…
    Aku paling ingeet sama ni ff karna pemainnya bintang kpop smua😂😂 kyk rain sama jun jihyun klo gak salah//?/ trs yg palingg sedih itu pass chanyeol meninggal dan ninggalim surat ituu,aku ampe nangiiis bacanya😁
    Pokoknyaa ni ff keren dehhh👍👍 ditunggu karya slanjutnyaa^^

  28. Ah. What an happy ending💞 entah kenapa aku ngerasa chanyoung emang mirip sehun wkwkwk. Oh ya, jujur aja aku seneng kalo otp di ff ini berakhir bahagia, yah meskipun sempet nangis bombay pas chanyeol mati trus pas hyerin ngelahirin :’D

  29. Pingback: Rekomendasi FF terbaik – elvarette·

  30. aaaahh selamaaat yaa cerita ini mengisi waktu luang aku banget dan disaat hetic bgt hheee.. semangat juga buat penulis, karna udh jadi anak SMA manfaatkan waktu sebaik mungkin saat kamu SMA, dek. Karna trnyata ituuuuuu ceppaaaat sekaleeeeeeee. Sukses untuk penulis.

  31. Ahhhhh,akhirnya kisah cinta sehun hyerin berakhir bahagia,seneng banget deh.envy sama kebahagiaan mereka,pengen ngerasain juga
    Semua sudah hidup dengan bahagua,salut sama perjuangan cinta sehun hyerin,biarpun berawal dari tidak suka karena perjodohan sampai lika liku kehidupan,ujian,cobaan,akhirnya mereka bisa hidup bahagia,seneng banget

  32. Smpat ragu mau baca final chapternya gara2 baca chapter sbelumnya haha…ffffiiuuhhhh finally happy ending😄 feeling so happy yeahhh
    Terus berkarya yya saengiiiii^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s