#8 HAMARTIA (MISTAKE)

hamartia

Tittle : Hamartia (Fatal Flaw)

Main Cast : Kim Jongin (EXO’s Kai), Song Jiyoon (Original Character)

Minor Cast : Oh Sehun (EXO’s Sehun), etc

Rating : PG13 for this part

Genre : Psychology, Romance, Angst

Author : Jongchansshi (http://thejongchansshi.wordpress.com)

Prev Part : [#Teaser] [#1] [#2] [#3] [#3,5] [#4] [#5]  [#6] [#7]

Itu gampang sekali untuk mendorong seorang hingga jatuh ke dasar jurang, tapi untuk menolongnya kembali ke permukaan, jauh lebih sulit dari yang terlihat. Pasalnya, jika gagal, kau bisa saja ikut terjatuh, tapi itu merupakan risiko dari sesuatu yang dinamakan tanggung jawab.

Ketika kau berbuat salah, apa yang harus kau lakukan? Meminta maaf, bukan? Yeah, hanya itu. satu kata itu, maaf. Tapi apakah maaf ada maknanya apabila itu hanya diucap dari bibir saja? Tidak sayang, sama sekali tidak, itu omong kosong namanya. Well, jika kau merasa salah dan ingin meminta maaf, pastikan kau memperbaiki apa yang telah kau rusak. Meskipun itu tak bisa kembali utuh seperti sedia kala, setidaknya kau telah mencoba, agar pada akhirnya kau tidak lagi bodoh untuk melakukan kesalahan yang sama.

Dan dalam masa perbaikkan tersebut, selalu ada harga mahal yang harus kau bayar. Seperti halnya kesabaran, perjuangan serta waktu. Tidak semua orang mampu melewati itu, jika kau berhasil bertahan hingga waktunya berhenti, kau harus ucapkan selamat pada dirimu sendiri, karena meskipun kau tidak dapatkan apa apa, setidaknya dirimu pasti telah menjadi manusia yang lebih baik. Bukankah itu hebat?

Jongin merasa bahwa dirinya tengah menjalani proses, proses memperbaiki diri, baik untuk dirinya, untuk Jiyoon ataupun kesalahan fatal yang pernah ia lakukan. Sementara Song Jiyoon, tetap menjadi orang yang paling clueless, dia masih tidak mengetahui sepenuhnya tentang dirinya, tentang masa lalunya. Bagi gadis itu, Jongin seperti malaikat sungguhan yang berasal dari surga. Pria itu terlalu indah, terlalu sempurna dimatanya. Si malaikat suci yang tidak memiliki dosa, yang ia percayakan tidak mungkin menyakiti siapapun.

Oh bayangkan saja, beberapa detik yang lalu, gadis itu mendapati dirinya tidak sengaja menekan jendela close pada laptop Jongin. Dia juga secara tidak sadar memilih ‘tidak’ ketika tulisan pada benda itu menanyakan ingin disimpan atau tidak, mungkin karena dirinya yang kelewat ngantuk, tapi masih memaksakan diri untuk terjaga. Yeah, terhapus sudah. Secara permanen. Tidak ada cara untuk mengembalikannya kecuali dibuat ulang. Gadis itu lalu hanya menatap kosong kearah layar laptop tipis tersebut, agak lama hingga suara pintu terbuka lagi.

Jongin muncul dari balik pintu dengan satu tangannya membawa secangkir kopi hangat. Dia tampak lelah dan sesekali memejamkan mata sambil berjalan kearah tempat tidurnya kembali. Jiyoon masih duduk ditempat tidur, ditempatnya semula, gadis itu memiliki terlalu banyak alasan kenapa masih terjaga pada pukul segini. Setelah berada dijarak yang cukup dekat dengan Jiyoon, Jongin mendapati gadis itu menatapnya kosong dan memiliki kesan horror. Wajahnya bahkan sudah memucat.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Jongin bertanya ngeri. Dia meletakkan kopi panas yang ia bawa di meja sebelah tempat tidur, mendekati Jiyoon untuk membujuknya agar segera tertidur, walaupun gadis itu berkemungkinan akan keras kepala.

Jiyoon menggeleng, tapi sorot matanya tidak lepas dari Jongin, membuat pria itu merasa makin ngeri. Ada apa sebenarnya? Ayolah, dia bahkan sudah berpikir kemungkinan terburuk saat ini.

“Jiyoon?” panggilnya.

Beruntung, gadis itu berekspresi. Dia menegak salivanya, tampak sulit. Matanya kemudian memandang kearah benda persegi panjang berwarna silver tersebut, Jongin juga ikut memandang kesana. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya pria berkulit tan itu mulai menatap horror kearah laptopnya, tidak perlu mengutak atik untuk menyadari apa yang terjadi.

“Kemana file ku?” tanya Jongin datar, nyaris berdesis. Jiyoon merasa bergidik dengan suara Jongin barusan. Ya Tuhan apa yang akan terjadi padanya setelah ini? Pada detik itu pula, Jiyoon merasa ingin segera melarikan diri dari kamar itu. “Kau – menghapus – nya?” Jongin melanjutkan dengan nada suara yang penuh intimidasi, persis seorang hakim yang sedang mengadili terdakwa hukuman mati.  Apalagi sekarang? Sepertinya Song Jiyoon tidak bosan untuk membuatnya berada pada masalah yang tidak perlu. Tapi, entah kenapa untuk yang ini, Jongin sepertinya tidak bisa sabar lebih jauh lagi.

Jiyoon membisu. Jongin sudah tahu jawabannya. Ayolah, dokumen yang sudah ia lanjutkan dari tadi sore hingga dinihari begini, hilang begitu saja. Hilang tak bersisa! Itu merupakan hasil pemeriksaan dan untuk pertanggungjawaban kepada pemilik saham untuk rapat tahunan yang dilaksanan besok. Yeah besok! Dia tidak punya banyak waktu. Jadi, tidak salahkan jika dia mengeluarkan beberapa serapah dihadapan gadis itu?

“Kau tahu betapa pentingnya dokumen itu untukku?” Jongin bertanya keras, dia sedang tersulut emosi. Kentara sekali pada rahangnya yang mengeras serta tangannya yang mulai terkepal. Matanya juga mulai memerah, memancarkan amarah yang haus untuk dilampiaskan segera.

Yeah, itu pasti penting, penting sekali. Jiyoon tahu. Dia sudah memperhatikan Jongin dari tadi sore. Pria itu begitu serius dengan apa yang ia kerjakan, bahkan melewati makan malam karena itu. Pasti menyakitkan sekali setelah mengerjakan sesuatu secara sungguh sungguh dan hampir selesai, kemudian semuanya menjadi sia sia karena orang lain.

Jiyoon ingin membuka mulutnya, ingin memberikan pembelaan. Tapi pembelaan seperti apa? Dia jelas salah telak soal ini. Karena gadis itu masih bungkam dan menunduk, Jongin memejamkan matanya erat erat. Menghitung satu sampai sepuluh. Setelah dia merasa lumayan tenang, dia mengambil laptopnya dan keluar dari ruangan itu. Tanpa berkata apapun lagi.

Mungkin bekerja di ruang kerjanya jauh lebih baik daripada disini.

***

Jongin akhirnya bisa mengeluarkan helaan napas lega hari itu. Meskipun dia tidak yakin apakah hasil kerjanya ini sempurna, yang penting semuanya sudah dikoreksi dan selesai. Sekarang sudah pukul setengah 8 dan dia hanya memiliki waktu kurang dari satu jam untuk bersiap siap. Mana ada waktu makan pagi apalagi istirahat.

Dia baru saja ingin mendorong pintu kamarnya yang terdiri dari dua pintu. Tapi pria itu menahannya sebentar, tiba tiba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Jongin menghela napas kasar.

Pria itu kemudian masuk secara buru buru. Dia mendekati tempat tidur mewah yang berada ditengah ruangan luas  berdinding wallpaper classic tersebut. Untung Jiyoon masih disana, baik baik saja tanpa melakukan perbuatan nekat yang sempat terpikir barusan oleh Jongin. Tapi mungkin, dia hanya kelihatan baik baik saja.

Jongin tetap pada pendirian awalnya bahwa Jiyoon sangat menyebalkan. Dia mendelete file penting Jongin kemudian pura pura tidak berdosa setelah itu. Meskipun hilangnya file tersebut tidak menyebabkan kiamat, tetap saja banyak yang akan ia pertaruhkan jika pemeriksaannya asal asalan dan tidak ada bukti konkret. Oh ayolah, gadis itu bahkan tidak mengatakan maaf sama sekali!

Well, walau Jiyoon amnesia, terkadang dirinya yang dulu tetap tertinggal pada dirinya yang sekarang.

Melihat kondisi kantong mata Jiyoon yang menghitam, Jongin menduga bahwa gadis itu juga tidak tidur sama sekali. Jiyoon melihat lurus kearah dinding, entah apa yang ia perhatikan. Sampai akhirnya Jongin mengatakan, “aku minta maaf.” Ucapnya kalem sembari duduk di sisi ranjang, dibelakangi Jiyoon. Dia tahu dia salah karena marah marah kepada gadis ini semalam. Oke, dia tahu dia hampir melakukan kesalahan fatal lainnya, beruntung masih dapat ia control. Ia sama sekali bukanlah orang yang pandai menahan marah.

Jiyoon diam, bagaikan tak mengindahkan permintaan maafnya. Apakah perbuatannya sudah separah itu? Uh, seharusnya Jongin tidak lupa apa yang tengah dialami gadis ini. Dia belum bisa diperlukan bagaikan manusia normal. Jiyoon masih sangat sensitive. Bagaimanapun juga, separah apapun yang dilakukan Jiyoon padanya tetap lebih parah perbuatannya dulu kepada gadis itu.

“untuk apa?”

“Karena sudah marah dan membentakmu tadi malam.”

“Itu bukan kesalahan.”  Gumam gadis itu membalas. Suaranya lirih sekali. Jiyoon sama sekali tidak kesal karena Jongin berbicara kasar ataupun memarahinya. Siapa yang tidak begitu jika berada pada posisi Jongin? Setidaknya, gadis itu bisa melihat Jongin yang begitu manusiawi, nyata.

“Kau sakit?” Jongin  bertanya khawatir. Ayolah, sejak kapan Jiyoon sudah sembuh?

“Tidak.” Balasnya yakin. Cukup lama sampai akhirnya dia melanjutkan, “aku sedang berpikir.” Yeah, dia sudah berpikir dan berada dalam posisi seperti itu sejak Jongin meninggalkannya semalam. Dan tidak ada yang lebih melelahkan daripada berpikir tanpa henti. Wajar jika dia tampak lebih lelah daripada Jongin. “What should I do?” tanyanya kalem.  Tapi Jongin tidak jelas dengan lingkup pertanyaan Jiyoon. Gadis itu membalikan tubuh tertidurnya, menghadap Jongin, memperjelas dengan, “kau bisa mengatakan padaku apa yang harus aku lakukan. Apa saja. Aku akan melakukannya.”

Uh, apakah Song Jiyoon semerasa bersalah itu? Baiklah, Jongin nyaris melihat Jiyoon yang dulu pada wujud gadis itu yang sekarang, mungkin beberapa hal tetap sama, tidak berubah sama sekali. Jiyoon bukanlah orang yang pandai meminta maaf, dia bahkan tidak pernah mengatakan itu secara langsung, kecuali terpaksa, membuat dia tampak seperti gadis sombong yang tidak punya rasa malu. Tapi dibalik segala keangkuhannya tersebut, tidak seorangpun menyadari bagaimana dia berpikir keras untuk selalu memperbaiki sesuatu.

Song Jiyoon memang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Bahkan Kim Jongin yang mengaku padanya sebagai seorang penyihir sekalipun.

“Don’t remember anything, then.” So, you can stay with me. Forever.

“Hah?” Jiyoon meminta Jongin memperjelas maksud ucapan abstrak Jongin

Tapi pria itu hanya mengeluarkan senyum simpul. “Just forget it. Aku akan menagih padamu suatu hari nanti.”

Jiyoon tersenyum juga. Darimatanya terlihat bahwa dia merasa cukup puas, tidak lagi dihantui oleh rasa bersalah terhadap Jongin akibat yang ia lakukan semalam. Dia memang keterlaluan, terkadang. Tapi sekali lagi, tidak semua hal buruk yang ia lakukan diperbuatnya dengan sengaja.

***

“Kenapa kau menghindariku, Jung laura?” Sehun bertanya to the point terhadap Laura ketika perempuan itu menyetujui ajakkan makan siangnya. Di restaurant daerah Hongdae, kedua orang itu makan siang dalam keheningan sejak tadi, sampai akhirnya Sehun mengeluarkan isi pikirannya. Tiba tiba dia jadi tidak menyukai basa basi.

“Siapa yang menghindarimu?” Laura membalas santai, pura pura tidak berdosa. “Aku sibuk, Sehun. Kau juga pasti sibuk.”

“Kau menemui Jongin lebih dulu sebelum aku. Apa apaan?”

Laura memutar bola matanya malas. Well, sudah hampir 27 tahun sementara Oh Sehun masih berkelakuan seperti anak TK yang kekanak kanakan. “Terkadang aku berpikir lebih dewasa Stefan daripada kau.”

“Kenapa kau tidak mengajak suamimu kemari?”

Laura mencibir, “Untuk apa? Kau mau memukulnya lagi?”

Sehun tersenyum menyeringai, “itu salah satunya.”

“Dia tidak punya salah kepadamu, tahu.”

“Jelas jelas dia salah. Ayolah Laura, dia merebut kau dariku. Itu kesalahan paling besar yang pernah ia perbuat didunia.”

Laura menghentikan twirlingnya pada spageti yang ia makan. Dia menatap Sehun sebentar. Bahkan ketika dia sudah menjadi istri orang dan punya anak satu sekalipun, Sehun tetap saja suka menggodanya dengan rayuan tak berisi. Setelahnya, Sehun pasti akan mengejek raut Laura yang memerah kemudian berkata ‘aku kan hanya bercanda.’. Ketebak sekali.

Tapi sekarang wajah perempuan itu sama sekali tidak memerah seperti sebelum sebelumnya. Dia malah menatap datar kearah Sehun. “merebut aku darimu? Yah! Sejak kapan aku jadi milikmu?”

“Kita lebih baik ganti topic.” Balas Sehun asal.

“Gadis yang kemarin bersamamu, siapa namanya? Kau tampak begitu mencintainya sampai sampai mau dijadikan kurir angkut barang.” Ucap Laura mengejek, dia terbiasa tumbuh dengan saling melempar sarkasme dengan Sehun. Tapi tidak satupun yang berhasil membuat salah satunya terlalu sakit hati sampai bermusuhan.

“Namanya Kim Hyena. Ngomong ngomong, sekalian kuberitahu. Aku akan bertunangan dengannya minggu depan. Meskipun kau tidak mengundangku ke acara pernikahanmu, aku tetaplah Oh Sehun baik hati yang akan mengundangmu keacara pertunanganku.” Sehun berkata lancar, bak seseorang yang tengah memberitahukan kabar baik kepada sang teman lama.

Laura tersenyum sekilas. Dia ingat saat pertama kali dia bertemu dengan Sehun ketika mereka masih kecil sekali bahkan untuk mengeja nama satu sama lain. Pria itu tampak pendiam, sangat pendiam sampai sampai Laura mengira bahwa Sehun itu bisu, Sehun hanya mengangguk atau menggeleng setiap kali pengasuhnya mengajak Sehun berbicara. Jadi, wajar jika Laura kecil lumayan kaget ketika Sehun berbicara padanya untuk yang pertama kali. Dia bagaikan menemukan keajaiban dunia yang kedelapan.

Hari berganti dan ketika mereka tumbuh, Laura menydari dia memiliki kesan pertama yang sangat salah ketika bertemu Sehun. Jauh dari dugaan awal, anak itu begitu cerewet. Dia  akan berucap panjang lebar kepada Laura, menceritakan banyak sekali kejadian kejadian bahkan sampai mimpi aneh yang ia lalui tiap malam. Tapi suatu hari Laura menyadari satu hal, Sehun hanya cerewet terhadap orang orang tertentu, ia salah satunya. Bagaimanapun, dia pernah begitu dekat dengan Oh Sehun.

“Apakah kau juga cerewet kepada Hyena?”

Sehun mengingat. Jawabannya satu, tidak sama sekali. Yang benar saja, selama dia dengan Hyena, gadis itu selalu berbicara tiada henti sampai sampai Sehun tidak memiliki kesempatan untuk berbicara. “terkadang.” Balasnya, sedikit berbohong. “kenapa kau penasaran dengan calon istriku?”

“Memangnya tidak boleh aku penasaran dengan calon istri sahabatku?”

“Siapa tahu saja kau punya rencana busuk untuk membatalkan pernikahan kami.” Sehun berkata sarkastik.

Laura tertawa mencibir. “Tidak akan, bodoh. Kau pikir aku sejahat itu?”

Sehun meminum Greentea blendednya kemudian mencibir, “siapa tahu saja kau cemburu.”

Sekali lagi Laura memutar bola matanya, “mana mungkin.” Dia berkata dengan raut sinis untuk menyelamatkan harga diri. “Lagipula aku tidak  bisa datang minggu depan.” Katanya pelan. Dia buru buru memberitahukan alasannya, “anakku tidak ada yang menjaga.” Sebelum Sehun membuatnya skakmat dengan kata kata yang bisa membuatnya terdiam.

“Berapa umur anakmu?”

“7 tahun.” Masih kecil sekali. Ayolah, itu menyedihkan bagaimana dia cepat atau lambat harus memberitahukan semua orang yang ia kenal pada masa lalu persoalan menikah dan hamil muda.

“Siapa namanya?”

“Stefan. Stefan William Hudson.” Hudson merupakan nama keluarga suaminya.

“Kau tidak pernah cerita kepadaku jika hamil kemudian punya anak.”

“Untuk apa?”

“Kau menceritakan tentang  menstruasi pertamamu lebih dulu kepadaku dibanding ibumu, Laura sayang.”

Laura sayang, katanya. Seharusnya Sehun harus segera menghentikan ucapan penuh rayuannya terhadap Laura, kecuali jika ia ingin perempuan itu tersakiti lebih parah.

“Aku kan sudah punya suami, untuk apalagi menceritakannya pada kau?”

“Yeah, benar juga.” Sehun menjawab masam.

Sehun melihat kearah jam tangannya, sudah jam 1 siang. “Aku harus mengantar Hyena kerumah ibunya.”

“Oh. selain kurir, kau juga supir rupanya.” Laura mengejek Sehun disertai senyum manisnya. “Aku juga harus menjemput Stefan.” Perempuan itu melanjutkan kikuk.

Sehun mengambil  paper bag berwarna merah yang tadi dia bawa dan menyerahkannya kepada Laura. “Untuk stefan.” Ucapnya. “Aku hanya ingin membelikannya sesuatu.”

“Apa isinya?”

“Mobil mobilan remote control.”

Laura baru saja ingin menanyakan darimana Sehun tahu jika anaknya suka mobil mobilan, tetapi Sehun melanjutkan lebih dulu, “anak laki laki biasanya selalu suka mobil mobilan.” Yeah, tentu saja Sehun memberikan itu karena mobil mobilan selalu disukai anak laki laki, bukan karena dia tahu jika Stefan begitu menyukai mobil.

“Terimakasih, Sehun. Kebetulan Stefan suka sekali dengan segala hal yang berbau mobil.”

“Oh benarkah? Kalau begitu kapan kapan aku akan mengajaknya ikut balapan.”

“Well, tidak akan kuizinkan.” Laura membalas galak. Jelas saja dia tidak akan mengizinkan anaknya dicuci otak oleh Sehun , bisa jadi pria ini mengajarkan anaknya untuk balap liar dan hal yang tidak benar lainnya.

Mereka berpisah ketika satu sama lain mengucapkan salam. Kemudian handphone Laura bordering, panggilan masuk dari nomor yang tersimpan.

“Hallo?” dia mengangkat cepat, firasatnya tidak enak.

‘Stefan…Stefan terjatuh dan pingsan. Dia sekarang sudah berada dirumah sakit Hannam.’ Suara perempuan muda yang menelpon Laura penuh nada panic. Tidak mau melewati waktu lebih banyak, Laura langsung berlari keluar restaurant, tidak peduli dengan sepatu tingginya yang membuat cepat letih. Dia menghentikan taksi yang lewat dengan raut cemas kentara, sebelumnya, dia sempat melihat punggung Sehun yang berjalan kearah mobilnya.

“I am sorry Sehun. Aku belum siap memberitahumu apa apa.”

***

Joohyung terus memikirkan satu hal di ruangan gelap berbau busuk itu. Bagaimana cara keluar dari tempat ini sebelum Kim Jongin menyiksa dan membuatnya benar benar mati? Dia memikirkan Jiyoon, anak gadisnya itu masih hidup bersama Kim Jongin. Mana mungkin hidupnya baik baik saja, kan?

Dia bukan orang yang cukup perasa untuk menyalahkan dirinya atas akar masalah yang terjadi pada dia, anak gadisnya, Jongin dan masih banyak lagi nama yang masuk kedalam lingkaran menyakitkan itu. Melihat dirinya yang sekarang benar benar mencerminkan betapa kejamnya sebuah karma bekerja.  Well, setahun yang lalu ketika dia ingin menghabisi Jongin tapi malah berakhir membuat nyawa anaknya sendiri yang hampir melayang, membuat mentalnya tersiksa bukan main. Joohyung sudah cukup tua untuk memikirkan tentang dosa, oh andai saja kejadian itu tidak membuatnya trauma. Dia pasti tetap saja si tua Bangka yang tak punya rasa malu.

Tapi sekarang, dia tak ingin apapun…apapun itu selain menyelamatkan Song Jiyoon. Menyelamatkan anak gadisnya dari monster monster sepertinya, seperti Jongin dan beberapa penjahat lagi yang masih menggunakan topeng malaikat. well, dia tidak sendirian dalam menyusun rencana untuk membunuh Jongin waktu itu. dia bersama orang lain yang masih berkeliaran sekarang. Orang lain yang tentu bisa menghancurkan putrinya juga.

Sayangnya, di gedung tua dan buruk rupa ini, tak seorangpun yang mau dengarkan rintihan menyedihkannya.

***

Kim Jongin terlalu sibuk untuk membaca email dari perusahaan asing yang merupakan kolega sampai tidak menyadari bahwa seorang perempuan cantik sudah duduk di sofa ruang kerjanya.

Ketika dia mendongak, dia cukup terkejut melihat Yura sudah duduk di sofa ruangan. “Aku kemari untuk meminta perizinan.” Yura mengatakan maksudnya sebelum Jongin bertanya. Pria itu kemudian mematikan Ipad dan berjalan mendekati Yura.

“Kau sudah lama diruanganku?”

“Hanya 10 menit tanpa kau sadari.” Yura menjawab ramah, memaklumi Kim Jongin yang begitu sibuk dengan segala tetek bengek pekerjaan CEO. Well, Jongin sudah mengetahui bahwa devisi Human resource perusahaannya memilih Yura sebagai pengisi menejer keuangan. Tapi selama satu bulan Yura bekerja diperusahaan yang dipimpin Jongin, ini merupakan kali pertama mereka bertemu di gedung kantor itu. “When did the last time you slept?” Yura bertanya dengan rautnya yang terlihat kalem. Jongin selalu berhasil membuatnya khawatir.

“Aku lupa.”

Yura tertawa mendengar jawaban Jongin. dimatanya, pria itu selalu menjadi anak kecil yang polos dan lugu. Yura kemudian memberikannya maps yang berisikan dokumen yang harus ditandatangani Jongin. “Untuk kerjasama dengan Jungsoo Property.”

Jongin membuka map yang berisikan berlembar lembar kertas laporan tersebut. “Kau harus sering sering berlibur, Jongin.” Saran Yura.

“Apakah aku terlihat sekacau itu dimatamu?”

“Yeah. Di mata semua orang.”

Jongin tersenyum kecil. Apakah dia terlihat selelah itu? dia merasa baik baik saja. “Ngomong ngomong, aku terkejut mendengar kabar seorang Oh Sehun akan segera bertunangan.” Yura membuka percakapan, dia tahu ini sangat tidak professional membahas hal pribadi di kantor. Tapi tidak salah kan jika dia memberitahukan Jongin perasaannya.

“Ajaklah Luhan datang bersamamu.”

“Kenapa harus Luhan?”

“Kalian cocok. Luhan pria yang baik, apalagi untukmu” Balas Jongin tulus.

Yura melihat kearah lain pada ruangan itu. Kenapa harus Luhan? Kenapa tidak Jongin saja?

“Tapi aku tidak menyukainya.”

Jongin diam saja, tidak bisa membuat kata untuk membalas, begitu juga Yura.

“Noona…” Jongin memanggil dengan suaranya yang parau.

“Kenapa?”

“Dananya 3 kali lipat lebih besar dari yang disepakati.”

Yura terkejut, dia sesegera mungkin melihat tulisan yang Jongin maksud. Oh sial! Pria ini selalu teliti, bahkan disaat dia tampak selelah dan setidak kondusif ini.

“Yatuhan. Bagaimana bisa? Uh, maafkan aku Jongin. aku akan segera memperbaikinya.”

Yura segera keluar dari ruangan Jongin. Pria itu menghela napas berat. Dia sama sekali tidak mau berprisangka kepada Lee Yura, mungkin gadis itu sedang ceroboh saja, meskipun itu sama sekali bukan tipikal seorang Lee Yura.

Sehun memang benar, dia harus sangat berhati hati. Terlalu banyak orang yang ingin menghancurkannya.

***

“Kau mandi lama sekali.” Protes Jiyoon terhadap Jongin yang dengan santai baru saja keluar dari kamar mandinya. Jongin baru tiba dari Singapore 1 jam yang lalu, nyaris terlambat ke acara pertunangan sahabatnya sendiri. Tapi dia masih bisa bersiul santai dengan celana kain hitam yang menempel ditubuhnya, masih bertelanjang dada.

Di dalam kamarnya, Jiyoon telah mengenakan gaun malam koleksi Fall ’15 Elie Saab berwarna Scarlet, tampak berkilau pada kulit putih pucatnya. Rambut hitam panjang nya dibuat braided bun, sehingga anting cantik Rock Candy membuat wajahnya semakin elegant. Make up merona yang dibuat pelayan pada wajah jelitanya membuat kesan sempurna pada diri gadis itu.

She is too beautiful. Too beautiful to even stand here in front of stunned Jongin.

Jiyoon menarik paksa tangan Jongin yang malah melamun menuju salah satu sudut kamar itu, membawa Jongin masuk kedalam ruangan dimana baju baju resminya tersimpan.

“Kita harus buru buru, Jongin.”

“Kenapa harus buru buru?” Jongin menjawab malas. Dia tidak pernah suka pesta dan selalu terpaksa untuk hadir ke pesta, bagaimanapun. Lagipula Oh Sehun bajingan itu tidak akan repot repot menunggu dirinya hingga hadir dan baru akan memulai acara megah yang ia gelar bersama Kim Hyena.

Jiyoon melihat deretan kemeja yang tergantung rapi. Sesegera mungkin memilah satu persatu kemeja tersebut dan mengambil beberapa helai yang menurutnya mending. Dia kemudian mencocokkan kemeja tersebut pada tubuh Jongin.

“Kau pakai yang ini.” ucapnya sambil menyerahkan Jongin kemeja Armani berwarna peach. Jongin tidak mengambil apa yang diberikan Jiyoon, dia malah menatap gadis cantik dihadapannya dengan pandangan ‘apakah -kau – serius’ miliknya. Jujur saja, seingatnya, dia tidak pernah memakai kemeja itu seumur hidup. Dia mana pernah memakai kemeja berwarna warna aneh. Uh, tidak bisakah dia menggunakan kemeja berwarna hitam atau putih saja? “Jangan lama lama, Kim Jongin.”

Jongin dengan sangat terpaksa melingkarkan kemeja itu pada tubuhnya yang berwarna kecoklatan sementara Jiyoon mengambil setelan jas berwarna abu abu gelap. “Ganti celanamu juga. Aku akan menunggu diluar.”

Sejak kapan gadis ini menjadi tukang perintah? Jongin hanya bisa menatapnya dengan tidak menyangka.

Dia tidak mau memikirkan banyak hal waktu itu sehingga ia buru buru memakai apa yang dipaksa oleh Jiyoon kepadanya. Beberapa menit kemudian, dia keluar dengan kemeja peach serta celana abu abu gelapnya dihadapan Jiyoon dengan tampang suram, sementara jas masih ia tenteng.

Gadis itu mendekati Jongin. ia merapikan lengan kemeja pria itu dan menggulungnya sampai ¾. Dengan jarak sedekat itu, Jongin dapat merasakan aroma parfum chanel No 5 pada tubuh Song Jiyoon. It makes him so turn on, to be very honest. Apalagi dengan tindakkan Jiyoon sekarang yang mengurus kemejanya dengan begitu hati hati. Everything seems too perfect to be true.

“You look so handsome.” Puji gadis itu sembari mengamati Jongin dari atas sampai bawah, meneliti apa yang kurang. Sayangnya, apa yang dilakukan Jongin kemudian membuat Jiyoon terkejut. Bagaimana tidak, jantungnya terasa  nyaris melompat keluar. He kissed her passionately. All of sudden. Berdosakah Jongin jika ia merasa sangat bahagia sekarang?

Ditengah ciuman panasnya yang menghancurkan lipstick cantik Jiyoon, Jongin berkata. “Let’s get married, Song Jiyoon.”  Kedua tangannya liar berada dipinggul gadis itu.

Dan gadis itu menghentikan Kim Jongin untuk menghancurkan lipsticknya lebih parah lagi,
“Why should we get married?”

“Why we shouldn’t?” tanya Jongin balik. Dia juga tidak memikirkan kata kata itu sebelumnya, seperti keluar begitu saja secara alami. Oh ayolah, itu merupakan kalimat lamaran atas hubungan serius pertama yang terucap pada bibirnya. Uh, apakah bisa ini disebut lamaran? Terdengar sangat main main. “But we already married, anyway.” Dia melanjutkan, sebelum semuanya terjadi semakin canggung. Jongin tidak pernah pintar terhadap hal hal seperti ini.

Gadis itu pergi ke meja rias, untuk merapikan listicknya, apalagi? Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Sometimes she remembered. She remembers she even loved Jongin once. And maybe now, right now. She loves him again.

***

“You both look happy.”  Sehun menghampiri Jongin yang berdiri bersama Jiyoon di bagian yang cukup sepi dari hikuk pikuk sosialita kelas atas pada sebuah pesta. Monoton dan membosankan sekali.

“Dan kau terlihat kacau.” Jongin mengungkapkan isi pikirannya terhadap Sehun. “Kenapa disini? Kau harus melayani tamu tamu mu.”

“Biar Hyena saja.”

“Aku tidak melihat keberadaan Laura.” Ujar Jiyoon. Hanya Laura orang yang ia kenal dan tidak tampak batang hidungnya di ballroom hotel bintang lima ini.

“Stefan sedang berada dirumah sakit.” Jongin membalas memberitahu, membuat satu alisnya terangkat.

“Darima kau tahu?” Sehun tidak mengerti bagaimana Kim Jongin yang seharusnya bukan siapa siapa untuk Laura selalu mendapatkan informasi penting tentang perempuan itu lebih dulu daripada dia. Lagipula, bukannya Jongin jauh lebih sibuk daripada Sehun? Kenapa dia selalu lebih tahu? Ah, ya, sayangnya, Sehun juga bukan siapa siapa lagi untuk Laura.

“Kebetulan bertemu dengannya dirumah sakit.”

“Untuk  apa kau kerumah sakit?”

“Check up, Sehun. Stop mewawancaraiku dengan pertanyaan tidak penting.”

“Kenapa kau tidak menghubungi Laura saja?” Jiyoon membuka mulut, aneh dengan kelakukan Sehun beberapa saat yang lalu. “Aku merasa bahwa Stefan anakmu.” Ucap gadis itu asal, yang lengannya langsung dicengkram kuat oleh Jongin, tanpa sadar. Pria itu memejamkan matanya, palanya tiba tiba terasa sedikit berdenyut. Kenapa JIyoon terlalu frontal untuk mengatakan sesuatu yang belum tentu fakta?

Sehun terdiam. Rautnya berubah menjadi jauh lebih kacau. Sementara Jiyoon yang sadar bahwa dia baru saja salah bicara, memutuskan untuk segera menyingkir dari kedua orang pria dewasa itu. “Aku harus menambah minumanku.” Ucapnya kikuk. Dia berjalan sendiri ke tempat meja minuman, tidak mau repot repot menunggu pelayan yang bertugas.  Ini meman ciri khas Jiyoon, selalu melarikan diri dari masalah. Sekarang dia hanya berdua bersama Sehun, memulai pembicaraan yang lebih penting. Sementara mata Jongin tak henti mengikuti arah perginya Jiyoon. Dia berharap banyak semoga Jiyoon tidak berada dalam masalah apapun kali ini, mengingat Park Minah sebelumnya sudah memohon dan meminta maaf kepada Jiyoon, gadis itu juga berjanji untuk tidak mengganggu Jiyoon lagi. berkat ancaman Jongin, tentu saja.

***

Seorang pria dengan tatapan setajam elang tak henti memperhatikan gerak gerik Song Jiyoon semenjak gadis itu masuk pertama kali keruangan yang didesain elegant itu. Dia terus membatin tak suka, merasa benci. Tak seharusnya gadis itu, apalagi Kim Jongin tampak begitu bahagia. Karena dia akan dengan senang hati merebut kebahagiaan mereka.

“Tidak lama lagi kau akan hancur, Kim Jongin.” batinnya keji. Dia menegak habis satu shot sampanye, mulai mabuk. “Dan aku akan menjadikan Jiyoon milikku.”

***

Jiyoon merasa bahwa ia lebih baik diam saja. Alasan mengapa dia ikut bicara pada Sehun dan Jongin tadi itu karena dia merasa benar benar tidak nyaman. Seseorang memperhatikannya daritadi, juga Jongin. meskipun dia terlihat pura pura tidak sadar apapun, dia diam diam memperhatikan orang itu juga. Tatapan orang itu sama sekali tidak menyenangkan, apalagi ketika orang itu melihat kearah Jongin, sarat akan benci.

Jiyoon terlalu beku karena terus menatap kearah orang itu, kemudian dia membalas tatapan Jiyoon. Gadis itu terkejut melihat bagaimana senyum sinis terukir pada bibir pria itu, membuatnya ngeri. Dia kemudian langsung menegak minumannya juga, pura pura tidak merasakan apapun. Lalu ia langsung kembali ke tempat Jongin beserta Sehun sedang berbincang.

She doesn’t know why. She feels so afraid right now. 

***

Let me know if you find kalimat yang rancu soalnya kuyakin pasti banyak bgt ini(?) btw semoga yang kesembilan di post minggu ini juga. Soalnya lagi enak nulisnya, Jiyoon di part 9 udah ingat. Kalo penasaran orang itu siapa, duh sebenernya dia udah pernah ada kok di ff ini. guess gih

Advertisements

528 responses to “#8 HAMARTIA (MISTAKE)

  1. Muncul masalah baru buat jongin jiyoon, gimana mereka bakalan ngadepinya ya dengan keadaan jiyoon yang mulai ingat sama masa lalunya

  2. siapa lg nih yg mau ngerusuh Jongin-Jiyoon? Jinwoo kah? tp nggk mgkn, Jiyoon td aja nggk knl. masa iya Daehyun hdup lg-,- yah yahh, jd Jiyoon bakal inget, please jgn benci Jongin:(( btw mulutnya Jiyoon ember ya, tp kok bisa bnr bgt nebak stefan wkw.

  3. Penasaran sama orang yg pengen hancurin jongin :(( and btw aku nahan ketawa pas jiyoon dengan innocentnya hapus file jongin 😳

  4. ga suka klo sehun sama hyena, hyena nya kayanya cuma mau hartanya sehun, dan siapa lelaki itu?? aku harap jongin ga pernah hancur

  5. Jongin sabar bgtsih;3; gue kalo jadi jongin mah si jiyoon palanya gue jedotin ke tembok😂 kim jinwoo? Gak mungkin kan si jung daehyun hidup lagi wkwk

  6. duh penasaran sama yang ngamatin jiyoon sama jongin dari pertama dateng di pestanya sehun
    btw waktu jiyoon bilang ke sehun kalo rasanya stefan anaknya sehun kok kai responnya gitu apa karna kai juga tau yaa, gimana reaksinya sehun kalo tau

  7. Gue ngerasain banget gimana jadi jongin tuh, file yang udah cape diketik dan…blurrrrr ga ke save, sakitnya kebangetan deh..
    Btw, siapa lagi sih yang mau gangguin jiyeon.??

  8. Siapa laki laki itu?? Bisa banget author bikin oenasaran readersnya hhihihiji kalau di part selanjutnya Jiyoon inget jangan sampe dia niat buat ninggalin Jongin. Jiyoon pan udah janji sama Jongin bakal terus sama dia.
    Cuss ah ke part selanjutnya ^^

  9. “Don’t remember anything, then.”
    So, you can stay with me. Forever.
    aku setuju dengan mu Jongin.
    makin menarik aja ceritanya nih. itu lamaran pertama jongin yah. meski tanpa bunga ato coklat itu merupakan lamaran romantis menurutku. meski mungkin hanya reflek dari Jongin yg begitu berharap Jiyoon selalu jadi miliknya di sisinya

  10. Siapa lagi yang mau rebutin jiyoo huaaaa makin penasara dan kira2 gimana ya reaksi jiyoon pas udah inget semuanya 😣😣😣 bener2 khawatir ending ini bakal sama kaya ending yg pertama semoga engga deh semoga happy end ya

  11. Itu cowo siapa, plis jangan jadi PHO. Gemetaran mau tahu gimana Yoojin pas ingatannya udh balik. Izin baca next chapter~

  12. Jiyoon ngejengkelin gitu dari pertama dia idup lagi ampe sekarang bikin jengkel mulu. yahh hukum alam sedang berjalan bagi jongin krn perbuatannya.
    Masih ada lagi yg suka sama jiyoon selain jinwo?

  13. Tulisannya gak ada yg rancu sih menurut aku hehe aku sukaaa banget malah sama jalan ceritany :”) gak ada kesan memaksa iiti, mengalir jadi yang baca juga enak

  14. Kesbran kai bnar 2 acungan jempol!
    Siapa lg sih, yg mau ngancurin hbungan merka? Ini lg adem adem nya . . . Aich

  15. Jrng jeng.. and siapa itu orang?
    Part bagian jongin yang filenya dihapus sama jiyoon entah knp jadi paling yang membekas lol. Bayanginn aja uda kerja dari sore sampe dini hari, dan seketika itu ilanng gitu aja. Omfg feelnya kerasa banget sial. Btw aku shock tau jiyoon suddenly berubah, entahlah, dia sampe ngatur2 pakaiannya jongin, but ituu kerasa aw aw aw gmn gitu wkwkw.

  16. kyaaa penasaran banget..ditambah kak bina ngasih spoiler pula..😂😂
    mereka popo lagi kyaaa makin cinta sama ke romantisan kopel ini kak..btw sehun tunangan abal2 keak nya ya..😂 ngasal pilih,mending sama aku hun..❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s