[CHAPTER] DAY DREAM – TOUCH #7 (APPLYO)

day-dream-copy

Title: Day Dream – Touch #7 by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life, Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-17

Poster by ken-ssi @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4 – Chapter 5 –Chapter 6A – Chapter 6B 

I see myself in your reddened eyes
You drive, I’ll put my hands up to the sky
Yeh baby dancing with me you’re my star
[PLAY -> SISTAR – TOUCH MY BODY]

**

Jihyun melihat pintu kereta api itu terbuka dan dengan pandangan kosong kakinya bergerak memasuki gerbong itu segera tanpa peduli kemana kereta api itu akan membawanya. Yang jelas ia harus kembali ke hotel tempatnya menginap sekarang. Tak peduli jika ia harus berdiri di dalam gerbong itu karena banyaknya penumpang saat itu.

Kakinya masih terasa sangat sulit bergerak, ia tak mengerti dengan cara kerja ototnya yang tiba-tiba kaku seperti ini, seolah tenaga nya tersedot habis dalam pikirannya sendiri, dan yang lebih buruknya lagi, Jihyun tak pernah berhenti melupakan perkataan Hyunjo barusan. Semuanya terpatri jelas dalam memorinya.

Jihyun masih mengingat dengan jelas bagaimana Hyunjo berbicara padanya, matanya berkilat-kilat penuh dengan kebencian dan makian, dadanya terasa sesak setiapkali Hyunjo menghinanya tapi untuk alasan apa Hyunjo seperti itu?

Apa karena Hyunjo tahu bahwa dirinya bersama Jongin? Benarkan? Tapi jika Hyunjo tau kenapa ia tidak mengatakan hal apapun? Kenapa ia diam, jika ia memang tahu?

Terlalu sibuk dengan spekulasi-spekulasi di dalam kepalanya membuat Jihyun tidak sadar jika kini kereta Express yang ia tumpangi tengah berhenti disebuah stasiun, lalu membiarkan beberapa orang yang barusaja masuk mendorong-dorong tubuh kecilnya hingga terpental kesana-kesini, Sungguh menyesakkan karena kini tubuhnya harus berdiri dalam himpitan orang-orang asing itu. Rasanya sesak dan Jihyun hanya mampu memeluk perutnya sendiri dalam kerumunan orang-orang itu,

Hanya untuk melindungi malaikat kecilnya dari himpitan orang-orang itu.

Perjalanan yang menempuh waktu kurang lebih 25 menit itu membawa Jihyun turun di sebuah stasiun, dan dengan langkah sedikit diseret Jihyun berusaha lolos dari kerumunan orang-orang yang menyesakkan itu.

Hingga akhirnya Jihyun bisa kembali bernapas sepuasnya setelah benar-benar keluar dari gerbong kereta api itu, tapi tiba-tiba kegelapan menyelubunginya saat itu juga hingga tubuhnya jatuh dalam pelukan seorang pria begitu saja. Dan yang hanya ia ingat sebelum kegelapan itu datang adalah wajah  pria itu dengan tuxedo hitamnya yang terlihat sangat pas dibadan dan pria itu jelas-jelas mengenalnya.

“Yoon Jihyun!”

“Apa maksudmu tidak bersama Jihyun? Jelas-jelas tadi pagi aku melihatmu pergi bersamanya ?!” Luhan mencengkram kedua bahu Hyunjo kuat-kuat. Menggoyangnya dengan tak sabar karena gadis itu seolah lupa dengan apa yang terjadi.

Hyunjo hanya menundukan kepalanya, tak sanggup melihat wajah Luhan yang benar-benar murka menatapnya.  “Aku tak tahu Luhan. Tadi pagi kami memang pergi bersama tapi Jihyun memilih pulang duluan dan ia tak bersamaku sejak itu.—”

“Jadi maksudmu Jihyun menghilang?!” potong Luhan berteriak ke arah Hyunjo, mencengkram pundak gadis itu semakin keras, dan Hyunjo hanya meringis pelan.

Hyunjo merasakan sesak di dadanya, sungguh ia benar-benar merasa benar-benar terluka dan sial nya luka itu semakin parah dengan teriakan Luhan yang lagi-lagi menyangkut pautkan Jihyun didalamnya.

Lagi dan lagi, Jihyun. Selalu Jihyun.

Sungguh Hyunjo tak tahu jika Jihyun belum kembali ke hotel malam ini, gadis itu berpikir bahwa Jihyun sudah kembali sejak tadi pagi. Dan ia tak menyangka bahwa Luhan akan memborbardir dirinya sekarang. Ia bersumpah tak tahu bahwa Jihyun menghilang dan seharian ini yang Hyunjo lakukan hanyalah berjalan-jalan sendirian, mencoba menetralisir perasaan hancurnya terhadap Jihyun dan Jongin.

“Luhan, maaf—“

“Tanyakan pada yang lain sekarang! aku akan mencari Jihyun lebih dulu disekitar hotel.” Potong Luhan lalu mengusap wajahnya frustasi dan dengan segera berlari ke sekeliling hotel.

“Apa Jihyun sudah kembali?”

Hyunjo menghampiri Chanyeol, Kyungsoo dan Jongin yang tengah menikmati makan malam mereka di restauran hotel, awalnya Hyunjo tak yakin harus menanyakan hal ini pada Jongin, pikirannya seolah bertolak belakang dan berharap Jihyun benar-benar menghilang dan tak usah kembali lagi, sungguh pikiran jahat yang melintas begitu saja di kepalanya.

“Bukankah Luhan bilang tadi dia pergi bersamamu?” ujar Jongin yang tiba-tiba saja menyaut dan bangkit dari kursinya.

“Tadinya kami pergi bersama sarapan di pantai Furano, tapi Jihyun memilih pulang duluan karena ia tak enak badan dan—“

Jongin menatap Hyunjo tak percaya dan memotong penjelasan Hyunjo begitu saja “Kenapa kau mengajaknya pergi begitu jauh hah? Apa kau bodoh! kau membiarkannya pulang sendiri dalam keadaan sakit? Bagaimana kalau ia pingsan di jalan lalu ia menghilang saat ini!!!” bentak Jongin dengan nada suara yang terdengar benar-benar marah.

“Jongin, aku..”

“CUKUP!” potong Jongin berteriak, dan detik berikutnya yang Jongin lakukan adalah berlari ke arah luar restauran untuk mencari Jihyun. Meninggalkan Hyunjo dan teman-temannya yang masih terpaku di tempatnya.

Hyunjo sontak terdiam, masih tak percaya bahwa kini Jongin meninggalkannya setelah berteriak di depan kedua teman-temannya dan bodohnya Jongin seolah membela Jihyun yang notabennya adalah temannya sendiri di banding dirinya yang jelas-jelas kekasih Jongin. Demi Tuhan,  Hyunjo tak pernah berpikir bahwa Jongin akan menyalahkannya seperti ini. Bahkan sekalipun Jongin marah ia tak pernah berteriak memaki Hyunjo dengan menyebutkan bahwa ia bodoh.

Hari ini benar-benar hari terburuk dalam hidup Hyunjo, seberapa kesal ia pada Jihyun ia tak mungkin membuat Jihyun menghilang seperti ini, sekalipun otaknya sempat berpikir Jihyun tak usah kembali lagi kesini tapi hati kecilnya berkatalain dan sama seperti yang lainnya, Hyunjo merasa cemas, takut dan bersalah. Walau notabennya Hyunjo bukanlah satu-satunya orang yang harus disalahkan atas hilangnya Jihyun.

Tapi hatinya terasa perih di bentak oleh Jongin seperti itu, hatinya terasa kecewa saat tahu Jongin berteriak padanya hanya untuk Jihyun dan itu artinya Jongin mencemaskan Jihyun. Memangnya Jihyun siapa bagi Jongin hingga pemuda itu harus mencemaskannya dan memakinya dengan kasar. Jelas-jelas Jongin bukanlah siapa-siapa untuk Jihyun kecuali jika Jongin memang benar-benar terlibat suatu hubungan dengan Jihyun.

Dan spekulasi terakhir membuat Hyunjo tanpa sadar meneteskan airmatanya, merasakan perasaan hancur di dalam hatinya saat mengetahui bahwa Jongin mungkin saja terlibat suatu hubungan dengan Jihyun dibelakangnya.

Hyunjo melihat punggung Jongin menghilang dari restauran hotel, sementara dirinya masih sibuk meratapi kehancuran hatinya, hingga Kyungsoo menghampirinya lalu mengusap punggung Hyunjo perlahan.

“Mungkin Jongin mencemaskan temanmu, dan tanpa sadar dia berteriak padamu. Sebaiknya kau tak usah memasukannya kedalam hati. Dia memang orang seperti itu jika sedang marah.” gumam Kyungsoo menguatkan, sungguh Kyungsoo dan Chanyeol tak menyangka jika Jongin berani berteriak pada Hyunjo demi membela gadis lain.

Jongin berlari ke tempat yang memang bisa ia jangkau dengan kedua kakinya, ia tak peduli jika udara malam hari begitu dingin menusuk sela-sela permukaan kulitnya. Karena yang terpenting sekarang adalah menemukan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.

Tak ayal Jongin menubruk beberapa orang yang tengah berjalan di sekitar hotel, pemuda itu tak peduli dengan desisan orang-orang yang ia tubruk, telinganya seolah tuli, matanya seolah buta hanya karena mencari sosok Jihyun. Ya—karena Jihyun. Alasan utama yang membuat napasnya tiba-tiba sesak saat mendengar Jihyun menghilang.

Dan tanpa sengaja tubuhnya menubruk tubuh Luhan yang sama-sama tengah sibuk mencari Jihyun. Kilatan marah itu seolah terpancing melihat sosok Luhan di hadapannya. “Kenapa kau tak menjaganya hah?!” teriak Jongin murka lalu menarik kerah jaket yang Luhan gunakan.

“Apa maksudmu?” Ujar Luhan terkejut karena tiba-tiba Jongin menarik kerah jaketnya dan membuat tubuh kecilnya terseret untuk mendekat.

“JIHYUN! KENAPA KAU MENGAJAKNYA KESINI! KENAPA KAU MENDEKATINYA? KENAPA KAU TAK MENJAGA NYA!!…” Jongin berteriak di depan wajah Luhan lalu mendaratkan sebuah pukulan di ujung bibir pria itu hingga menimbulkan bercak darah dari dari ujung bibir Luhan.

Luhan yang tak mengerti lalu balas memukul Jongin berkali-kali hingga tubuh Jongin tumbang dengan wajah babak belur sepertinya, kedua pemuda itu saling terus memaki satu sama lain dan melayangkan sebuah pukulan terhadap lawannya.

Jongin yang tersulut emosi dan Luhan yang awalnya tak mengerti kini mulai paham pokok permasalahan yang Jongin maksud. “—Ah, jadi Jihyun salah satu kekasihmu juga? Itukah-alasan kau merebut Jihyun-saat di klub-waktu itu?” tutur Luhan sedikit terbata bata karena luka di bibirnya yang terasa perih.

Jongin kembali melayangkan sebuah tinju ke arah pipi Luhan. “Berhenti berbicara omong kosong!”

Luhan yang kembali mendapat pukulan hanya meringis tanpa niatan untuk membalas, tenaganya terasa lemas. “Haa..hebat sekali kau! Merebut semua orang yang aku suka. Apa tak cukup dengan Sena dan Yejin Hah?! Apa kini Jihyun juga harus kau ambil dariku???” Luhan berteriak lalu mendorong tubuh Jongin kasar dan cukup membuat Jongin terdorong ke belakang.

“AKU SUAMINYA! DAN JIHYUN ADALAH ISTRIKU. BERHENTI MENDEKATINYA MULAI SEKARANG!.” Teriak Jongin dengan jelas dan membuat Luhan kini terpaku diam di tempatnya, tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu yang terasa seperti petir di siang bolong.

Ini terlalu mengejutkan mengetahui bahwa selama ini suami dari Jihyun adalah… Jongin.

**

Yoon Jihyun mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha meyesuaikan cahaya matahari yang kini mengenai wajahnya—menerobos masuk dan memaksanya bangun dari tidur serta membuka matanya lebar-lebar.

Hidungnya sayup-sayup menghirup aroma parfum yang tak asing, dan perlahan matanya terbuka dan mendapati sang pemilik bau tengah berdiri di sampingnya, menghalau cahaya matahari yang sebelumnya menusuk-nusuk matanya untuk terbangun.

“Selamat pagi, Yoon Jihyun. Bagaimana keadaanmu?”

Sang pemilik aroma X Limited itu bertanya dengan nada yang tak kalah lembut dengan aroma tubuhnya. Bahkan beberapa saat Jihyun sempat berpikir bahwa penglihatannya salah, ia salah menebak orang yang berdiri di depannya dengan setelan tuxedo nya yang khas.

“Kim Junmyeon!”

suho-in-a-black-suit

Pemuda bernama Kim Junmyeon itu mengulas senyum pasi nya. “Lama tak bertemu, nampaknya kau berubah.” Ujarnya pelan dan cukup membuat Jihyun rindu dengan suara halus itu.

“Hm.. kenapa kau bisa disini?” tanpa basi-basi dengan segera Jihyun bangun dari tidurnya lalu mendudukan dirinya di ujung tempat tidur, merasa canggung dengan suasana yang terjadi dan entah kenapa ia bisa kembali bertemu dengan Junmyeon.

“Saat aku di hokkaido tanpa sengaja aku melihatmu baru keluar dari sebuah kereta, dan aku hendak meyapamu karena sudah lama tak bertemu tapi tiba-tiba tubuhmu pingsan di depanku. Lalu..”

“Dimana aku?” potong Jihyun, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut ia bisa tau apa yang selanjutnya terjadi.

“Osaka. Ini rumahku. Kau bisa beristirahat disini dan mungkin beberapa pelayanku akan membantumu jadi-“

“Aku harus kembali ke Hokkaido, suamiku pasti mencemaskanku disana.” tutur Jihyun halus lalu bangkit dari tempat tidur dan hendak menghampiri pintu, tapi dengan segera Junmyeon mencegahnya.

“Kau sudah menikah?” tanya nya penasaran dengan kedua alis yang kini menyatu.

Jihyun menganguk tegas. “Ya, aku sudah menikah.” ucapnya lalu berlalu pergi melepaskan jemari Junmyeon di tangannya.

Sebuah kejutan mengetahui bahwa orang yang menolongnya adalah mantan pacarnya sendiri dan ia lupa jika Junmyeon sering pergi ke Jepang untuk bisnisnya, sungguh miris mengetahui kenyataan bahwa sikap Junmyeon masih sama seperti dulu. Begitu lembut dan perhatian.

Jongin mendudukkan dirinya di salah satu kursi di sebuah taman, ia mengusap wajahnya gusar lalu sesekali meringis karena banyaknya luka lebab di sekitar wajahnya. Tapi rasa sakit di wajahnya tak seberapa dibanding rasa sakit hatinya karena tak menemukan Jihyun dimanapun.

Kakinya terasa lemas setelah berjalan semalaman bahkan kini keadaanya benar-benar berantakan, kaos putih yang lusuh lalu wajah babak belur yang nampak terlihat seperti seorang berandalan jalanan. Tapi Jongin seakan tak peduli dengan keadaanya, yang ia pedulikan sekarang adalah keadaan istrinya.

“Jihyun…Jihyun…Jihyun…”

Pemuda itu terus menyebutkan nama Jihyun berulang kali, merasa frustasi sekaligus kecewa pada dirinya sendiri yang bahkan tak berdaya hanya untuk menjaganya, melindungi gadis itu dan anaknya agar baik-baik saja. Ia merasa gagal dan merasa bersalah.

Matahari sudah hampir terik tapi Jihyun belum juga ditemukan, dan dengan sisa tenaga yang Jongin miliki ia kembali berdiri lalu berjalan dengan langkah beratnya lalu kembali bertanya pada orang-orang yang berlalu-lalang dengan bahasa inggris nya yang benar-benar kaku,

“Excuse Me, you look a girl korean in here? She’s so beautiful with long hair and eye smile?”

Namun orang-orang itu terus menggeleng tak mengerti dengan apa yang Jongin cari. Tak ayal  beberapa orang menatap Jongin dengan tatapan iba, merasa kasian melihat wajah babak belur Jongin ditambah tubuhnya yang terlihat benar-benar lemas.

Excuse Me, sir” Lagi, Jongin menahan seorang pria yang tengah berjalan lalu bertanya seadanya. “You looks a korean girl  in here? She’s so beautiful with long hair and eye smile. Jihyun. Yoon Jihyun’s name

Pria  itu hanya menggeleng pelan lalu menatap wajah Jongin prihatin. “I’m sorry, no.”. Jongin hanya tersenyum kecil lalu melepaskan lengan pria itu dan membiarkannya pergi.

Jongin lelah. Sudah hampir seharian ia berjalan berputar di furrano tapi tak ada satupun petunjuk yang menyatakan kebaradaan Jihyun. Gadis itu seakan di telan ombak pantai begitu saja. Dia menghilang tanpa jejak apapun.

Kaki Jongin bahkan tak tahan lagi, ia terlalu lelah hingga akhirnya memutuskan untuk berjongkok di depan sebuah toko. Pemuda itu tidak tahu harus mencari Jihyun kemana lagi. Perasaannya hancur dan yang ia bisa lakukan hanya menyesali kepergiannya berlibur ke pulau Hokkaido. Tapi detik berikutnya handphone Jongin berbunyi dan dengan dengan segera Jongin merogok saku celana nya, raut Jongin berubah semakin keruh saat tahu siapa yang menelponya.

“Hallo, ada apa kau—”

      

“Tunggu! Aku akan kesana secepatnya.”

Jongin menyelsaikan percakapan singkat itu lalu dengan segera bangun dari tempatnya dan berlari sekencang mungkin.

**

Setibanya di hotel tempatnya menginap, Jihyun menghela napas karena tak melihat seorangpun rekan-rekan lainnya disana walau notabennya ia tak begitu dekat dengan satupun teman Jongin kecuali Luhan. Gadis itu merasa tak enak karena menghilang semalaman tanpa kabar apapun bahkan handphonenya sendiri menghilang entah kemana.

Karena perutnya merasa  terlalu lapar akhirnya Jihyun memutuskan untuk berkunjung ke restaurant hotel, ia butuh tenaga setelah seharian tertidur. Ada nyawa lain di dalam tubuhnya yang memerlukan makan selain dirinya sendiri.

Keadaan restaurant benar-benar sepi mengingat jam sarapan telah berlalu dua jam yang lalu dan jam makan siang baru akan dimulai sekitar 1 jam lagi- tapi Jihyun tak peduli dan memutuskan memesan sebuah makanan apapun yang memang tersaji saat itu juga.

Sambil menunggu, Jihyun memutuskan untuk memakan beberapa roti kering yang tersaji di meja itu, perutnya seakan meronta meminta banyak makanan sekarang. hingga ia tak sadar seseorang menepuk bahunya dari belakang dan membuatnya terlonjat kaget.

“Yoon Jihyun!”

Jihyun menolehkan kepalanya, sedikit terangkat untuk bisa melihat orang yang memanggilnya. “Luhan.”

Ya, orang itu adalah Luhan yang kini mengambil sebuah kursi lalu mendudukan tubuhnya di depan Jihyun secara buru-buru hingga menimbulkan bunyi berdecik dari kursi yang Luhan tarik.

“Kau darima saja? Kami mengkhawatirkamu, semalaman kami mencarimu disini. Harusnya kau memberi kabar padaku atau yang lainnya-” Tutur Luhan bertubi-tubi, jelas-jelas pria berambut pirang itu mencemaskannya dan Jihyun cukup mengerti apa yang Luhan maksud, ia memang bersalah tak mengkabari yang lainnya tapi apa daya ia pingsan seharian kemarin.

“Aku hanya menginap dirumah temanku yang tinggal di jepang, maaf tidak memberi kabar pada kalian.” Jihyun berbohong, lalu tersenyum seadaanya kearah Luhan. ia tak ingin jika Luhan semakin mencemaskannya jika pemuda itu tahu kalau sebenarnya Jihyun pingsan.

Luhan menganguk paham. “Lain kali kabari aku, Jihyun. Kau membuat kami semua cemas. Kalau begitu aku akan mengabari semuanya bahwa kau telah kembali.”.

“Ya, tentu.” balas Jihyun lalu tertawa kecil dan kembali memakan roti keringnya hingga habis, sementara Luhan hanya memandangnya lalu menemelkan ponselnya ke telinga dan menelpon beberapa teman lainya dalam waktu yang singkat, tapi mata Luhan tak pernah berhenti untuk menatap Jihyun.

Merasa risih dipandang terus seperti itu akhirnya Jihyun mendongkakan kepalanya untuk membalas tatapan Luhan, tapi… ada yang berbeda dari wajah Luhan. “Hey.. kau berkelahi? Kenapa wajahmu lebam-lebam seperti ini?”

Jihyun mengulurkan tangannya lalu memegang pipi Luhan yang memar di daerah mata dan terakhir sudut bibirnya yang terlihat robek. Gadis itu merasa khawatir melihat Luhan tiba-tiba seperti ini.

“Aku baik-baik saja.” balas Luhan lalu menggengam tangan Jihyun di wajahnya dan tersenyum sangat hangat ke arah Jihyun. “Ini hanya luka kecil, Jihyun.” lanjut Luhan mengalihkan topik pembahasan.

“—aku benci jika kau tak menceritakan apa yang terjadi padamu.” Jihyun mempoutkan bibirnya lalu menatap Luhan geram. Okey—sifatnya memang seperti ini, suka memaksa dan terlihat kekanak-kanakan.

Luhan terkikik kecil lalu mengacak rambut Jihyun gemas. “Suami mu yang melakukan ini—”

Jihyun melotot ke arah Luhan dan menatap pria itu tak percaya. “Suamiku? A-apa maksudmu?” potongnya tiba-tiba. Di satu sisi Jihyun merasa tertohok karena Luhan menyebutkan kata ‘Suami’ yang berarti itu Jongin tapi seingat Jihyun, Luhan tak pernah tahu bahwa dirinya telah menikah dengan Jongin. Lalu?

“Aku hanya becanda Yoon Jihyun. Kenapa wajahmu syok begitu? Apa suamimu juga ada disini? Hahaha— kemarin seseorang memukulku karena aku salah masuk toilet dan aku yakin kau tau kelanjutan ceritanya..” Ujar Luhan lalu tertawa terbahak dalam kebohongannya sendiri. Pemuda itu tahu kalau suami Jihyun adalah Jongin dan ia cukup mengerti alasan kenapa Jihyun menyembunyikan fakta ini. Ya mungkin—dan Luhan mengeti.

“Dasar, tak lucu tau..” ujar Jihyun acuh, lalu menyantap makanan nya yang baru saja tersaji di atas meja. Seketika lidah gadis itu takjub dengan rasa makanan yang ia makan dan melupakan ucapan Luhan begitu saja, bukan lupa— tapi lebih memilih tak peduli, mungkin.

“Kau cantik saat kau marah.”

“Hey Lu, kau menggodaku? Haha, kau tau aku sudah menikah bukan?”

Luhan terkekeh sekilas lalu kembali menatap Jihyun yang kini sibuk dengan makanannya. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Katakan.”

“Kenapa kau pergi berlibur bersamaku? Apa suamimu tau?” Luhan berbicara dengan nada datarnya, pemuda itu terlalu penasaran dengan kehidupan pribadi Jihyun dan baru kali ini ia merasa simpati pada gadis biasa-biasa seperti Jihyun. Dan Luhan tak mengerti kenapa ia seperti ini.

Jihyun hanya menyipitkan kedua matanya. “Tentu dia ada di Seoul. Dia orang yang sibuk dan aku yakin dia akan mengijinkan jikalau aku pergi.”

“Dengan seorang pria sekalipun?”

Jihyun menganguk dan berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Ten-tu.. dia-akan mengiji-nkanku”

“Apa kau mencintai suamimu?”

Pertanyaan terakhir Luhan membuat Jihyun tiba-tiba saja terdiam. Gadis itu hanya menelan makanan nya bulat-bulat lalu menatap Luhan bingung. “Entahlah, aku tak yakin dengan perasaanku sendiri.”

“Jika kau tak yakin, kenapa kau mau menikah dengannya?”

Lagi dan lagi, Luhan terus melontarkan pertanyaan pertanyaan yang entah harus Jihyun jawab seperti apa. “Bukankah aku sudah bilang jika aku menikah dengan suamiku karena suatu alasan dan pada dasarnya kami tidak saling mencintai, kami hanya menikah untuk menyelamatkan alasan itu. Suamiku memiliki kehidupannya sendiri dan aku memiliki kehidupanku sendiri.” Tegas Jihyun panjang lebar dan entah kenapa tiba-tiba saja selera makannya hilang begitu saja.

Luhan menganguk kecil. “Lalu, bagaimana kalau suamimu itu mulai menyukaimu?” ujar Luhan datar dan terdengar pelan.

“Itu tidak mungkin”

“Kenapa?”

“Karena suamiku memiliki kekasih lain yang memang ia cintai”

**

Langkah kaki Jihyun seperti diseret-seret oleh Jongin.

Pemuda yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya itu, terus menyeret tubuh kecil Jihyun ke arah kamarnya, tak peduli jika Jihyun terus meringis kesakitan atau terus meronta memukul punggung besar Jongin. Pemuda itu seakan tuli.

Jongin menutup pintu kamarnya hingga menimbulkan bunyi berdebam cukup keras dan menghempaskan tubuh Jihyun tepat di balik pintu kamar hotel nya. Kedua tangannya mencengkram lengan Jihyun amat erat, tatapan matanya gelap, lelah dan penuh ketidaksukaan. Entah apa yang terjadi pada Jongin sekarang, apa pemuda itu barusaja kerasukan suatu roh?

“Disaat aku mencarimu di luar sana, mencemaskanmu, menghkhatirkanmu dan apa yang kau lakukan disini?—tertawa dengan seorang pria begitu saja. Apa kau tak pernah berpikir aku mencemaskanmu?” Kata-kata itu meluncur dari bibir Jongin. Sesuatu yang tak pernah Jihyun perkirakan sebelumnya, pria itu benar-benar terlihat marah.

Jihyun menatap Jongin tak percaya. “Kenapa kau harus mencemaskanku? Kenapa harus mencariku? Kenapa kau mengkhawatirkanku? Kenapa? Jongin, Kau bukan siapa-siapa dalam hidupku dan apa pedulimu.” Ujar Jihyun berteriak terisak dan perlahan butiran-butiran bening itu turun membasahi relung pipi Jihyun; ia menangis. “Aku hanya gadis yang kau kasihani, Aku hanya gadis yang selalu membebani hidupku pada oranglain, a-aku terlalu bodoh dan naif. Harusnya kau membenciku seperti aku membencimu, Jongin!“

“Tapi aku mulai menyukaimu.” potong Jongin cepat lalu memeluk Jihyun, menenggelamkan kepalanya di lekukan leher gadis yang kini menangis itu.

Sementara Jihyun hanya dapat mematung, menghentikan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. “Tapi aku membencimu.

“Aku tau.”

“Berhenti berbicara omong kosong, Kim Jongin”

“Aku serius, Aku benar-benar mulai mencintaimu.”

“Kau tak boleh jatuh cinta padaku.”

“Kenapa?”

“Karena aku menyukai pria lain.”

“Aku tak peduli siapapun yang kau sukai. Karena selama kau disisiku kau akan tetap menjadi milikku.”

“Kau gila!”

“Kau yang membuatku menjadi gila.”

Jihyun mendorong dada Jongin, menyuruh pemuda itu untuk menyingkir dari hadapannya. Tapi dengan segera Jongin menahannya. “Tenagaku jauh duakali kali lebih besar darimu. Diamlah. Aku lelah.”

“Aku benar-benar membencimu Kim Jongin.”

“Aku berpikir itu sebuah ucapan sayangmu padaku.” ujar Jongin pelan nyaris terdengar seperti bisikan.

Dan detik berikutnya yang Jihyun rasakan adalah tubuh Jongin yang mulai memberat bersandar pada tubuhnya. Kedua tangan pemuda itu tiba-tiba terkulai lemas. “Jongin kau baik-baik saja?” ujar Jihyun lalu mendorong tubuh Jongin untuk menjauh, tapi bukannya menjauh, tubuh Jongin semakin merosot dan jatuh ke lantai.

Pemuda itu pingsan dalam pelukan Jihyun dan Jihyun baru sadar, jika wajah Jongin penuh dengan luka lebam dan suhu badan Jongin benar-benar panas. Ia harus membawa Jongin ke rumah sakit secepatnya.

Hyunjo memeluk lututnya dan menunduk, Gadis itu seharian menyibukan dirinya di spa hotel, satu-satu cara yang mungkin bisa mengobati luka hatinya yang benar-benar buruk.

Hyunjo masih berharap Jongin akan peduli padanya, setidaknya pemuda itu mencarinya kesini lalu bertanya Apa Hyunjo baik-baik saja setelah pemuda itu berteriak padanya?. Sebuah pengharapan sia-sia yang siapapun akan menyangka bahwa itu mustahil bagi Hyunjo, mengingat kini Jongin tengah pergi mencari Jihyun dengan yang lainnya.

“Hyunjo eonnie.

Kepala Hyunjo yang semula tertunduk, kini terangkat untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. “Sojung…” Hyunjo mendongkak, “Ada apa? Apa Jihyun sudah ditemukan?”

Sojung menganguk lalu duduk di samping Hyunjo. “Em,, sudah. Tapi sekarang bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

“Kim Jongin pingsan dan ia tengah berada di rumah sakit saat ini” ujar Sojung berbicara dalam satu tarikan napas.

“A-apa?” Hyunjo tergagap lalu memandang Sojung tak percaya.

“Aku serius, Chanyeol berkata padaku untuk memberitahumu dan segera pergi ke rumah sakit, jadi… ayo!” Sojung menarik tangan Hyunjo untuk segera pergi.

.

Hyunjo dan Sojung berlari kecil ke arah seorang suster lalu bertanya dimana Jongin dirawat, dan dengan cekatan suster itu menjelaskan arah menuju ruang inap Jongin dengan bahasa jepang nya yang benar-benar kental dan beruntungnya Hyunjo mengerti dengan apa yang suster itu katakan. Keluarga Hyunjo berasal dari jepang jadi tak heran jika Hyunjo sangat pandai menguasai bahasa Jepang dan ia mengetahui spot-spot wisata di daerah Jepang.

“Eonnie, aku akan pergi menyusul bersama Chanyeol dan Kyungsoo. Kau bisa pergi kesana duluan.” ujar Sojung tiba-tiba lalu menyuruh Hyunjo untuk pergi duluan menemui Jongin.

Hyunjo menganguk. “Ah, baiklah.”

Rekan-rekan Jongin juga pasti mencemaskan Pemuda itu jadi tak heran setelah mendapat kabar tentang Jongin dengan segera mereka mendatangi tempat Jongin dirawat.

Hyunjo tiba di pintu ruang inap Jongin, tapi tiba-tiba ia merasa ragu untuk masuk ke ruangan serba putih itu, ia takut jika Jongin akan memakinya atau mengatainya bodoh seperti kemarin, ia takut kehadirannya hanya akan memperburuk kondisi Jongin.

Dan detik berikutnya, tangan Hyunjo memegang knop pintu, memberanikan dirinya untuk masuk dan menemui Jongin. Tapi buru-buru gadis itu mengurungkan niatnya dan malah memilih melihat Jongin melaui celah pintu yang sedikit terbuka olehnya. Dan pandangannya mata Hyunjo langsung tertuju pada Jongin yang sedang duduk di ranjangnya bersama Jihyun. Dan mereka sedang…

Berciuman.

Hyunjo hanya  menutup mulutnya menggunakan tangan, merasakan dadanya yang  lagi-lagi bergemuruh sakit dan sesak. air matanya tumpah begitu saja tanpa sanggup dia cegah dan pasokan oksigennya seakan tersedot habis kedalam relung hatinya. Detik itu amarah Hyunjo mencapai batas klimaks, Jadi selama ini dugaannya tepat. Tanpa menunggu lebih lama dengan segera gadis itu membanting pintu ruang inap Jongin hingga menimbulkan bunyi berdebam dan sontak kedua pasangan yang tengah bercumbu itu terkejut luar biasa.

“Hyunjo……………….!!!”

to be continue…….

**

Bigthanks yang udah kasih saran, komentar, like dan spam nya di chapter-chapter sebelumnya ^^J //Makasih eaaaaa/ #ketjub_basah_buat_semua :*/

Jangan bosen-bosen buat baca daydream nya :v see ya next chapter guys😀

157 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM – TOUCH #7 (APPLYO)

  1. tuh kan mereka berdua udah ada perasaan
    jongin usah ngakuin perasaannya ke jihyun, tapi jihyun nyangkal
    ayo dong ungkapin juga perasaan yang sebenernya
    duh duh apa yang bakal dilakuin hyunjo selanjutnya yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s