[Freelance] Falling Love with a Rich Man (Chapter 10) – END

falling-love-with-a-rich-man-copy1

Cr : poster by springsabila by http://cafeposterart.wordpress.com

 

Title     : Falling Love with a Rich Man (Chapter  10) – END

Author   : Ndkhrns (Twitter : @Nadiakhair_) 

Main Cast: Kim Joon Myun a.k.a Suho (Exo-K)    Lee Jieun (IU) as Park Jieun

Support Cast  : Exo-K members

                        Find by yourself ^^

Genre  : Romance, Friendship

Rating : PG-15

Disclaimer: This is the final! Don’t be a silent readers, no bash, and don’t forget to leave a comment. Hope you like it, readers ❤ Thankyou^^

TeaserChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9

 

“Tetaplah bersamaku, jadilah teman hidupku, tempatku berbagi suka dan duka. Kita hadapi dunia ini bersama-sama.” -Kim Suho-

 

“Jika di depan nanti banyak cobaan untuk kisah kita, kumohon jangan menyerah. Kita akan mengarungi semuanya bersama. ” -Park Jieun-

 

 

 

 

Chapter 9 Preview-

“Aku juga sudah menemui keluargamu, aku menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Bahkan rasanya aku seperti sedang diinterogasi di Kantor Polisi. Aku sudah meminta restu kepada keluargamu. Restu untuk menjadikanmu sebagai…”

“Kekasihmu? Suho-ya, siapapun berhak untuk menentukan pilihan. Mungkin saja pilihanmu akan berubah di waktu berikutnya. Kekasih belum tentu bisa menjadi istri atau suami kita juga, kan?”

“Bukan.”

Jawaban Suho membuat Jieun menegakkan posisi duduknya. Lalu kalau bukan meminta restu untuk menjadikanku kekasihnya, restu untuk apa? Jangan bilang dia

“Aku sudah tidak mau main-main lagi. Tahun depan aku sudah lulus kuliah, lalu aku akan mewarisi hotel milik keluargaku. Bukan waktunya untuk bermain-main lagi,” nada bicara Suho terdengar serius.

“Lalu?” Hanya itu yang sanggup Jieun katakan saat ini. Ia terlalu tegang untuk mendengar jawaban Suho selanjutnya.

“Mari kita jalani hubungan yang serius, Park Jieun.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~00~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Serius? Maksud…”

“Permisi, dua porsi Spaghetti with Beef and Red Wine Sauce dan dua Mango Soda,” tiba-tiba datang dua orang pelayan membawa nampan di tangan mereka masing-masing. Kemudian keduanya menghidangkan menu yang dipesan oleh Suho dan Jieun.

“Selamat menikmati,” kedua pelayan itu membungkuk kemudian pergi.

“Sebaiknya kita makan dulu,” ucap Jieun yang kini sudah memegang garpu di tangan kanannya. Gadis itu makan dengan tenang, seakan tak peduli kalau barusan Suho mengajukan permintaan yang tidak biasa padanya.

“Ya.” Kini Suho pun mulai menyusul Jieun, lelaki itu akhirnya harus menerima rasa kecewa akibat para pelayan yang datang pada momen yang tidak pas.

Menit demi menit berlalu, Jieun dan Suho menikmati makan malam dalam diam. Jieun makan sambil sibuk menyiapkan jawaban yang tepat, sedangkan Suho makan sambil memikirkan apa jawaban yang akan diberikan Jieun.

“Suho-ya, aku masih tidak mengerti apa yang kau maksud barusan. Bisakah kau menjelaskannya lebih detail?” akhirnya Jieun membuka obrolan mereka.

Suho yang tengah membersihkan bibirnya dengan sapu tangan pun tersenyum. Suho yakin, pasti Jieun akan sangat terkejut dan menyangka kalau sekarang ini dia sedang melamarnya untuk menikah. “Tenang saja, aku tidak akan mengajakmu menikah dalam waktu dekat ini.”

“Jadi, maksudmu bagaimana? Jawab dengan jelas, jangan sepotong-sepotong,” Jieun rupanya kurang puas dengan jawaban Suho.

Suho kembali tersenyum, kini ia menegakkan posisi duduknya dan kedua tangannya ia letakkan di atas meja. “Aku sudah membuktikan keseriusanku padamu. Aku sudah menemui keluargamu dan meminta restu. Sekarang kau percaya, kan, kalau aku memang memilihmu untuk menjadi pendampingku di masa depan?”

“Park Jieun, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi yeojaku?” lanjutnya.

Tiba-tiba kinerja otak Jieun menjadi melambat, gadis itu hanya diam membisu setelah mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Suho. Kalimat terakhir dari Suho terus terngiang di telinganya. Jieun seperti orang bodoh sekarang.

“Ak… Akk… Aku…bersedia,” jawab Jieun.

Oke, kini giliran kinerja otak Suho yang melambat. Jantungnya serasa melompat keluar dari tulang rusuknya. Hanya karena mendengar Jieun menjawab ‘Aku bersedia’, itupun masih terbata. Coba bayangkan kalau Jieun menjawab dengan nada lembut tapi tegas, ditambah dengan senyum manis di wajahnya. Mungkin Suho sudah pingsan dan butuh nafas buatan.

Ne.”

Tunggu, respon macam apa itu? Oh. Rupanya Suho masih belum bisa mengembalikan kondisi psikologisnya saat ini. Ia masih shock karena Jieun bersedia menerima cinta yang ia perjuangkan mati-matian itu.

“Kenapa kau jadi aneh, Suho-ya?” Jieun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Suho. Tanpa perlu waktu lama, akhirnya lelaki itu tersadar kembali.

Gomawo, Jieun-ah. Sarang–“

“Tapi aku ingin mengajukan satu syarat padamu,” potong Jieun dengan cepat. Sesungguhnya ia malu mengatakan hal ini, tetapi di sisi lain ia juga sangat membutuhkan pertolongan Suho.

“Apa itu?”

“Bisakah kau membantuku untuk mencari beasiswa melanjutkan program kuliah S1?”

Sebuah permintaan yang aneh buat Suho. Biasanya perempuan mengajukan syarat ingin dibelikan sesuatu, ingin pasangannya melakukan sesuatu, atau hal-hal romantis lainnya. Tetapi Jieun berbeda, ia justru ingin dibantu untuk mencari program beasiswa.  

“Aku ingin mengambil jurusan perbankan. Bisakah kau membantuku untuk itu?” tanya Jieun untuk kedua kalinya.

“Akan kuusahakan. Ayahku punya banyak kenalan dosen di berbagai universitas di Korea Selatan, kurasa itu bisa membantu. Tetapi kenapa kau tiba-tiba ingin melanjutkan kuliah?”

“Sebenarnya sudah dari dulu aku ingin melanjutkan kuliahku, tetapi aku tak punya biaya yang cukup. Pernah kakek menawarkanku untuk melanjutkan kuliah, tetapi aku menolak karena kebutuhan keluargaku masih banyak yang harus dipenuhi. Aku juga pernah mengikuti program beasiswa, tetapi saat itu aku kurang beruntung. Di kamar aku mengoleksi buku-buku referensi untuk kuliahan seputar perbankan. Yah, sedikit banyak aku bisa belajar dari buku-buku itu. Aku menyisihkan sebagian hasil kerjaku untuk ditabung dan untuk membeli buku-buku itu,” jelas Jieun.

“Ini sudah saatnya aku mendapatkan nasib yang lebih baik. Jika aku berhasil mendapatkan beasiswa, aku akan kuliah dengan serius dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Setelah itu aku bisa bekerja dan membantu menghidupi keluargaku.”

Suho merasa terenyuh mendengar jawaban yang diberikan Jieun. Gadis itu benar-benar luar biasa, tidak seperti gadis-gadis pada umumnya yang hanya mementingkan penampilan dan hal-hal tidak penting lainnya.

“Aku pasti membantu, kau tenang saja.”

Jieun mengangguk dan tersenyum penuh arti, “Gomawo, Suho-ya.”

“Anything for you, sweetheart,” balas Suho setengah menggoda Jieun.

“Eewhh.”

Selesai makan malam, keduanya memutuskan untuk menghabiskan malam berdua. Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju kawasan pertokoan ternama di Seoul. Jieun tidak mengerti kenapa Suho mengajaknya kesana, namun ia juga enggan bertanya. Lagipula Suho tidak akan menjawab.

“Kenapa kita kesini?” tanya Jieun saat mereka baru keluar dari mobil.

“Sebentar lagi eomma berulang tahun, bantu aku mencari kado untuknya. Tidak ada penolakan,” jawab Suho dengan tegas.

Ulang tahun?

“Astaga!” Jieun menepuk dahinya. “Ibuku juga berulang tahun besok!” ujar Jieun antusias. Bagaimana ia bisa lupa kalau ibunya akan berulang tahun besok? Kalau tadi ia tidak bertanya pada Suho, mungkin ia tak akan ingat.

“Ya ampun, kau ini keterlaluan sekali. Ibuku berulangtahun lusa.”

“Bodohnya diriku.”

“Yasudah, sekarang kita jalan saja. Kajja.”

Tiba-tiba tanpa memohon izin terlebih dahulu, Suho sudah mengambil tangan kanan Jieun kemudian ia genggam erat dan ia masukkan ke dalam saku kiri mantelnya.

“Ya… Apa yang kau lakukan?” omel Jieun.”Aku kedinginan,” jawab Suho singkat.

“Dingin atau modus, huh?”

Suho hanya tertawa dan tidak menggubris pertanyaan Jieun. Ini pertama kalinya Jieun maupun Suho berpegangan tangan erat. Mereka seperti anak SMA yang masih malu-malu kucing saat menghabiskan waktu berdua. Jieun merasa tubuhnya menegang dan lagi-lagi jantungnya berdegup kencang. Sedangkan Suho malah bersikap santai sambil terus berjalan menyusuri pertokoan. Hingga akhirnya mereka masuk ke toko yang menjual perlengkapan musim dingin. Indera penglihatan keduanya terus mengamati berbagai barang yang dijual di toko itu.

“Menurutmu, apakah coat merupakan pilihan yang cocok?” tanya Suho.

“Ah, kau pintar, Anak Muda.”

Suho menatap Jieun tak percaya. Nada bicaranya barusan nampak seperti mengejek, dan ia tak menyangka kalau Jieun bisa bersikap seperti itu. “Apa kau bilang?”

“Sudahlah, pilih saja. Sepertinya ini koleksi terbaru.” Jieun berbicara dengan wajah tanpa dosa, ia asyik mengamati berbagai coat wanita di hadapannya. Hal itu membuat Suho makin gemas. Andai saja dia sudah berstatus sebagai istriku, tentu aku tak ragu untuk menciumnya saat ini juga, batin Suho.

Setelah kurang lebih setengah jam mereka sibuk memilih, akhirnya mereka menjatuhkan pilihan. Pelayan toko itu membawa barang mereka ke kasir. Sambil menunggu Suho membayar, Jieun melihat-lihat kembali. Ia masih belum menemukan kado yang cocok untuk ibunya.

“Hmmm… Coat terlalu mahal. Kira-kira apa, ya?” gumamnya sambil melihat-lihat sweater. Ia terus menyusuri deretan sweater itu sampai akhirnya…

“Ah, syal!”

Jieun melihat berbagai macam syal yang tersusun rapi. Saat mengecek harganya, cukup mahal tetapi masih dapat ia jangkau. Jieun mulai sibuk memilih-milih syal yang cocok untuk ibunya. Semuanya bagus-bagus.

“Silahkan, hari ini sedang ada promo. Beli dua syal, gratis satu syal,” ujar seorang pelayan toko yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Jieun.

“Oh ya?” Jieun jadi makin semangat memilih syal, naluri kewanitaannya langsung keluar begitu mendengar ‘Hari ini sedang ada promo’. Setelah cukup lama akhirnya ia menemukan syal yang cocok. Masing-masing satu untuk ibu, nenek, dan dia sendiri. Jieun pun segera membawanya ke kasir. Saat di kasir ia kembali bertemu Suho yang sedang menunggu kadonya dibungkus dalam kotak kado.

“Hey, apa semua itu untuk ibumu?”  

Jieun menggeleng, “Yang merah itu untuk ibuku. Sisanya untuk aku dan nenek.”

 

Acara membeli kado pun telah selesai. Jieun dan Suho melangkahkan kaki keluar toko. “Setelah ini kita kemana lagi? Sudah, kan?” Jieun bertanya dengan antusias seperti anak kecil.

“Aku perlu membeli satu hadiah lagi,” Suho kembali menggenggam tangan Jieun dan mengajaknya berjalan lagi. Jieun hanya bisa bersabar menghadapi sikap Suho yang suka sekali membuat kejutan.

“Toko boneka? Kali ini hadiah untuk siapa?”

“Untuk yeoja cantik di sampingku ini,” jawab Suho sambil tersenyum pada Jieun. Tentu saja itu membuat Jieun gugup setengah mati.

“Tidak usah banyak bertanya, pilih saja yang kau suka.”

“Tidak usah repot-repot. Sungguh,” tolak Jieun halus. Sejujurnya ia memang sangat suka boneka, tetapi kali ini ia tidak mau menyusahkan Suho. Lelaki itu sudah sering menghamburkan uangnya untuk membelikan Jieun ini itu.

“Sudahlah, pilih saja.”

Kali ini Jieun tidak bisa menolak, perlahan tapi pasti ia melangkahkan kakinya menuju salah satu rak. Sejak masuk ke toko ini, Jieun sudah menemukan boneka idamannya. Boneka itu adalah boneka karakter koboi dalam kartun favoritnya, Toy Story. Boneka itu berukuran cukup besar, cocok sebagai teman tidur. Rupanya pilihan Jieun itu membuat Suho heran, “Kenapa tidak memilih teddy bear atau boneka lain saja? Ini boneka untuk anak-anak, Jieun-ah.”

Shireo, ini adalah boneka favoritku. Lihat, dia sangat tampan, kan?” Jieun menggerak-gerakkan bonekanya dengan semangat.

“Lebih tampan mana? Aku atau dia?” tanya Suho.

“Hmm…” Jieun berpikir sejenak, sementara Suho menunggu jawabannya. “Permisi, aku pilih boneka yang ini. Dimana kasirnya?” tanpa diduga-duga Jieun malah menghindar dan menghampiri salah satu petugas toko.

Astaga, gadis ini! Umpat Suho dalam hati.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~00~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam kali ini terasa berkali-kali lebih indah bagi Suho. Pertama, ia sudah mendapatkan cinta Jieun. Kedua, mereka bisa menghabiskan waktu bersama sebagai sepasang kekasih. Usaha Suho selama ini tidak sia-sia rupanya, dan ia sangat bersyukur.

“Maaf dulu aku bersikap kasar padamu, maaf kalau aku kerap merepotkanmu, Suho-ya,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jieun saat mereka sedang berjalan menuju parkiran. Kata-kata yang sudah lama ia pendam.

“Lupakan saja, sekarang kau sudah menjadi milikku. Terima kasih karena sudah percaya padaku, Jieun.”

Jieun mengangguk, ia pun mengamit lengan kiri Suho semakin erat. Kini mereka sudah mulai terbiasa dengan hal itu.

“Ehm… Jieun, kenapa tadi kau tidak terkejut saat aku bilang kalau aku sudah menemui keluargamu?” tanya Suho.

“Mereka sudah cerita sebelumnya. Tetapi mereka bilang kau datang menjenguk ibu saja. Ternyata kau datang untuk minta restu?”

“Kau yang bilang sendiri kalau kau butuh bukti. Ya itulah buktinya.”

“Dan kau bersekongkol dengan Baekhyun dan Sena agar mereka mengajakku dan aku tidak bisa langsung pulang ke rumah, kan?” Jieun teringat saat selesai acara makan bersama di panti, Sena dan Baekhyun mengajaknya makan eskrim. Ternyata itu semua adalah bagian dari rencana Suho, di malam itu juga Suho datang untuk meminta restu pada keluarganya.

“Dan berhasil,” Suho terkekeh.

Jieun tersenyum tulus, “Tetaplah menjadi Kim Joon Myun yang kukenal selama ini.”

“Tentu saja. Jadi… sekarang semuanya sudah selesai, kan?”

“Satu hal lagi,” seru Jieun. “Apa lagi?”

“Berhentilah membuatku mudah salah paham padamu, Suho-ya.”

Suho tertawa cukup keras, “Kau cemburu pada Hani, ya?”

“Tidak.”

“Benarkah? Lalu kenapa wajahmu jadi memerah seperti itu?”

“Tidak. Jangan mengada-ada.”

“Sungguh, wajahmu merah sekali. Aigooo…”

“Diam! Kau menyebalkan!” Jieun melepas tangannya yang sedari tadi bergelayut di lengan Suho. Kemudian gadis itu berjalan cepat mendahului Suho untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan cemburu.

“Hey, kau mau kemana?” pekik Suho.

Jieun tidak berbalik, ia terus saja berjalan dan temponya semakin cepat. Karena merasa Suho semakin dekat dengannya, maka gadis itu memutuskan untuk berlari. “Kejar aku kalau kau bisa!”

Merasa tertantang, Suho pun menuruti keinginan gadisnya itu. Jieun tidak tahu kalau Suho bisa berlari cepat dan ia pernah mewakili sekolahnya dalam perlombaan lari marathon semasa SMP dulu.

HAP!

“Masih ingin menantangku, Kim Jieun?” Suho berhasil menyusul Jieun dan kemudian merangkul gadis itu.

“Namaku Park Jieun, bukan Kim Jieun!”

“Di masa mendatang, margamu akan berubah menjadi Kim.”

Jieun hanya tertawa, ia sudah malas berdebat dengan kekasihnya itu. Lagipula ia juga masih dalam keadaan lelah sehabis berlari tadi.

“Jieun,” panggil Suho.

“Hmm?”

“Aku mencintaimu.”

Ucapan Suho terdengar sangat tulus. Jieun lantas menghentikan langkahnya, kemudian ia meraih kedua pipi milik Suho dan mencubitnya gemas. “Wah, kau pintar merayu rupanya. Nado saranghae, JoonMyunnie~”

Kemudian keduanya tertawa bahagia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~00~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

5 years later..

 

Jieun menyisir rambut panjangnya itu kemudian menguncirnya seperti ekor kuda. Kemudian ia menyemprotkan parfum beraroma mixberry ke tubuhnya. Setelah dirasa cukup, Jieun turun ke bawah untuk berpamitan pada keluarganya. Kini kehidupannya sudah berubah 180 derajat. Lima tahun lalu ia berhasil melanjutkan kuliahnya dan mendapatkan beasiswa di sebuah universitas ternama, tentu saja berkat bantuan dari Suho. Setelah lulus dengan gelar sarjana S1, ia melamar pekerjaan di sebuah bank besar di Korea Selatan. Hingga saat ini, Jieun masih bekerja disana. Gajinya ia gunakan untuk membantu kondisi keuangan keluarganya, dan hasilnya sungguh menakjubkan. Toko kue milik kakek dan neneknya sudah direnovasi dan kini bisnis itu berkembang pesat. Ibunya sudah tidak bekerja di lembaga asuransi, kini beliau membantu kakek dan nenek Jieun untuk menjalankan bisnis mereka. Toko kue keluarganya mulai terkenal dan jika uang hasil penjualan sudah cukup, mereka akan menyewa tempat yang lebih besar di pusat kota.

“Wah, kau cantik sekali, Jieun,” puji ibunya.

“Bukankah aku mirip dengan eomma? Berarti eomma jauh lebih cantik,” Jieun balas memuji ibunya, dan beliau pun tertawa.

“Apa hari ini Suho libur? Biasanya dia selalu sibuk.”

“Entahlah, mungkin kali ini saja. Sekarang kan, kami ada janji dengan ibunya.”

Tiba-tiba muncul sang Nenek membawa kotak bingkisan berisi kue-kue kering. Jieun yang sudah hafal dengan kebiasaan neneknya hanya bisa tersenyum, pasti untuk Nyonya Kim. “Untuk calon besan.”

Dugaan Jieun tepat sasaran. “Baiklah, nanti akan kuberikan.”

Kemudian ibu dan neneknya kembali ke toko untuk melayani pelanggan yang tidak ada habisnya. Tinggallah Jieun sendirian duduk di sofa ruang TV. Sesekali ia melirik jam tangannya, kemudian pandangannya tertuju pada cincin berlian yang melekat di jari manisnya. Sedetik kemudian ia tersenyum.

 

-FLASHBACK ON-

Jieun melangkahkan kakinya memasuki sebuah restoran yang sudah tidak asing baginya. Restoran milik Park Chanyeol, sahabat baik kekasihnya, Suho. Malam ini Suho mengajaknya makan malam untuk merayakan hari jadi mereka yang sudah memasuki tahun kelima. Suho meminta Jieun untuk memakai pakaian yang cantik, tentu saja itu membuat Jieun harus pulang terlebih dahulu untuk berganti baju. Beruntung hari ini ia bisa pulang cepat.

“Apakah Anda Nona Park Jieun?” seorang pelayan yang menyambutnya bertanya.

Ne,” jawab Jieun singkat.

“Mari saya antar, Tuan Kim sudah menunggu.”

Jieun pun mengikuti langkah pelayan itu menuju meja tempat Suho menunggu. Berhubung restoran ini luas, maka cukup sulit bagi Jieun untuk menemukan Suho. Ternyata Suho duduk di sebuah meja yang berada di tengah-tengah.

“Sudah lama menunggu?” tanya Jieun.

Suho menggeleng, “Aku juga baru datang sekitar tujuh menit yang lalu. Tadi aku ada meeting dengan salah satu investor, untungnya aku masih bisa mempertahankan dandananku yang rapi ini.”

“Kau ini sibuk, tapi masih saja memaksakan. Kita bisa merayakannya hari Minggu nanti, tidak harus tepat waktu seperti sekarang.”

“Kalau begitu feelnya kurang. Tidak masalah kok.”

Obrolan mereka terhenti saat seorang pelayan datang untuk menghidangkan makan malam mereka. Rupanya Suho telah memesankan menu steak untuk makan malam mereka. Jieun sudah tak heran, kekasihnya itu memang memiliki selera yang tinggi.

“Selamat makan,” ucap Suho.

Jieun hanya tersenyum dan langsung memotong daging steaknya. Mereka pun makan dengan lahap, sesekali mereka melontarkan komentar tentang makanannya, juga cerita-cerita singkat tentang pekerjaan mereka hari ini.

“Jieun, aku ke toilet sebentar, ya.”

“Ya.”

Suho pun bangkit dari kursinya dan pergi. Piring pria itu sudah bersih, berbeda dengan piring Jieun yang masih menyisakan beberapa buah french fries. Dengan santai gadis itu menghabiskan french fries yang masih ada di piringnya itu. Sesekali ia melihat ke sekeliling, restoran sedang ramai malam ini. Setelah selesai menghabiskan makanannya, Jieun memutuskan untuk bermain dengan ponselnya. Samar-samar telinganya dapat mendengar alunan musik romantis di restoran ini. Tetapi tiba-tiba ia merasa aneh, musik itu bukan berasal dari sound system yang ada di restoran. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Para tamu serentak meletakkan ponselnya di atas meja mereka dan memutar musik yang sama.

Ada apa ini? Batin Jieun.

Disaat ia sedang dilanda kebingungan, Suho telah kembali dari toilet dan kini pria itu sudah duduk di hadapannya. Ia tampak merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan ponsel hitamnya. Pria itu menunjukkan sesuatu yang ada di layar ponselnya kepada Jieun.

“Cincin?” tanya Jieun.

Namun Suho tidak memberikan jawaban apapun, ia hanya merespon dengan sebuah senyuman. Jieun semakin tak mengerti, apa maksud kekasihnya itu. Ia menatap Suho meminta penjelasan, tetapi Suho malah menyuruhnya untuk tetap memandang layar ponsel itu. Perlahan Suho meletakkan tangan kanannya di bawah ponselnya. Betapa terkejutnya Jieun saat gambar di layar ponsel Suho berubah, kini kotak cincin itu seperti sedang dipegang oleh Suho. Detik berikutnya Suho menggeser ponselnya dan…

Omo!” tenggorokan Jieun seperti tercekat saking kagetnya.

Tangan kanan Suho tadi benar-benar memegang kotak cincin yang terbuka, sama seperti gambar di layar ponselnya tadi. Sekarang cincin itu nyata. Jieun tak kuasa menahan rasa takjubnya, spontan ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Airmatanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.

Happy 5th anniversary, sweetheart. Terima kasih sudah setia menemaniku lima tahun belakangan ini. Terima kasih sudah mencintaiku setulus hati, menerimaku apa adanya, berada di sampingku setiap saat, dan selalu bersedia mendengar keluh kesahku,” ucap Suho lembut.

Jieun tidak mampu berkata-kata, tubuhnya lemas seketika.

“Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku memintamu untuk menjadi teman hidupku, menjadi ibu bagi calon anak-anakku, dan menjadi seseorang yang akan kulihat pertama kali saat aku bangun tidur. Will you marry me, Park Jieun?”

Setetes airmata turun membasahi pipi Jieun. Ia sungguh terharu, pantas saja Suho menyuruhnya untuk berdandan cantik malam ini. Ternyata Suho berniat untuk melamarnya. Entah pria itu dapat ide darimana hingga sukses membuatnya terharu. Jieun akui ini adalah bentuk melamar paling romantis yang pernah ia temui, dan ini terjadi pada dirinya.

Suho meraih tangan kanan Jieun dan menggenggamnya erat. Pria itu tersenyum, tentu ia tahu kalau wanitanya itu sedang shock. Tetapi itu pertanda bahwa rencananya sangat sukses, kan?

Of course, I do.”

It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do

Hey, baby, I think I wanna marry you

Ternyata tak hanya sampai disitu. Setelah Jieun memberikan jawaban, tiba-tiba terdengar suara seseorang menyanyikan lagu Marry You. Jieun lantas mencari sumber suara. Betapa terkejutnya dia saat melihat Kyungsoo berpakaian rapi, dialah yang menyanyikan lagu itu.

“Kau memang penuh kejutan, Kim Joon Myun.”

-FLASHBACK OFF-

 

Jieun tersenyum mengingat kejadian lima bulan yang lalu itu. Kekasihnya, Suho, melamarnya dengan cara yang tak terduga dan itu sangat romantis. Jieun merasa menjadi wanita paling bahagia di hari itu. Bahkan Suho juga memberinya hadiah sebuah ponsel keluaran terbaru yang sama persis seperti ponsel milik Suho, hanya berbeda warna saja. Kekasihnya itu memang penuh kejutan, itulah yang membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.

Tak terasa sebentar lagi ia akan menikah, semua sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, gaun, menu makanan, undangan, dan yang lainnya. Bulan depan acara sakral itu akan digelar.

“Jieun, Suho sudah datang,” suara milik ibunya membuyarkan lamunan Jieun. Dengan segera ia bangkit dan berjalan keluar untuk menemui Suho. Tak lupa ia pamit terlebih dulu pada keluarganya.

Jieun langsung masuk ke dalam mobil mewah milik Suho, menaruh bingkisan kue di jok belakang dan kemudian memasang seatbelt. Setelah memastikan tunangannya itu sudah memakai sabuk pengaman dengan benar, Suho kembali menjalankan mobilnya.

“Setelah fitting baju kita kemana?” tanya Jieun.

“Mengurus hal paling penting dalam list persiapan pernikahan kita, sayang. ”

Ekspresi wajah Jieun mendadak berubah, ia sedang bingung dengan jawaban Suho. Entah kenapa pria itu kerap menggunakan bahasa yang berlebihan saat berbicara. Menurut Jieun itu sedikit menggelikan.

Dalam waktu 30 menit mereka sudah sampai di sebuah butik berkelas milik ibunda Suho. Beginilah keuntungan memiliki mertua seorang desainer hebat, Jieun tidak perlu repot-repot mencari desainer yang cocok untuk merancang gaun pernikahannya.

Annyeonghaseyo, Nyonya Kim sudah menunggu di ruangannya,” seorang pelayan butik menyambut kedatangan Suho dan Jieun dengan ramah. Lalu mereka pun menghampiri Nyonya Kim di ruangannya.

Nyonya Kim menyambut kedatangan anak dan calon menantunya itu dengan baik. Tak lupa beliau juga memuji penampilan Jieun yang sederhana namun tetap anggun.

“Menantuku selalu tampil cantik dan anggun,” puji Nyonya Kim.

Eomma, kenapa Jieun saja yang dipuji? Aku tidak?” protes Suho.

“Aku sudah terlalu sering melihatmu tampil rapi dan tampan setiap harinya.”

Astaga, kasihan benar nasib Suho.

Eomonim, ini ada titipan dari nenek,” ujar Jieun seraya menyerahkan bingkisannya pada Nyonya Kim. Beliau pun menerimanya dengan senang hati.

“Oke, sekarang kita mulai saja fittingnya. Jieun, kau akan dibantu oleh eomma dan pelayan Jung, dan Joon Myun, kau bisa ambil tuxedomu sendiri, kan?”

Suho memutar bola matanya dan menghembuskan nafasnya kasar. “Ne,” jawabnya singkat. “Sepertinya aku mulai dianaktirikan,” desis Suho.

“Joon Myun, eomma dapat mendengar ucapanmu barusan.”

“Ah, dimana letak tuxedonya?” Suho segera mengalihkan topik pembicaraan. Setelah mendapat petunjuk, Suho pun bergegas mengambil tuxedonya dan berganti pakaian.

Kini Suho sudah berdiri di depan kaca besar di ruang utama butik milik ibunya itu. Ia melihat penampilannya sambil membetulkan kancing tuxedonya. Ia merasa ketampanannya sedang maksimal saat memakai tuxedo ini.

“Joon Myun, lihatlah penampilan calon istrimu ini,” terdengar suara merdu ibunya saat Suho tengah asyik bercermin. Lantas Suho mengalihkan pandangannya dan ia mendapati Jieun berdiri tak jauh darinya dengan mengenakan gaun pengantin yang sangat cantik.

GLEK!

Dengan susah payah Suho menelan salivanya. Ia terlanjur terpukau dengan penampilan Jieun. Gaun pengantin berwarna putih yang terlihat anggun, ditambah gaun itu memiliki ekor yang cukup panjang. Gaun itu melekat pas di tubuh Jieun.

Yeppeo.”

Nyonya Kim tersenyum senang, “Sudah kubilang, pasti Joon Myun akan menyukai gaun ini.” Mendengar hal itu, Jieun pun tersenyum malu-malu. Ia juga sangat menyukai gaun ini, walaupun gaun ini membuatnya kesusahan berjalan karena memiliki ekor yang cukup panjang. “Maaf, aku harus menerima panggilan. Jieun, kau boleh bercermin sepuasmu dan jika ada yang perlu dikoreksi, bilang saja pada pelayan Jung,” ujar Nyonya Kim.

Ne, eomonim. Kamsahamnida,” jawab Jieun sopan.

Sepeninggal Nyonya Kim, Jieun dan Suho melanjutkan kegiatan mereka selanjutnya, yaitu bercermin. Jieun meneliti setiap inci gaun yang dipakainya saat ini, rupanya tidak ada yang perlu dikoreksi. Kemudian pandangannya beralih ke Suho, calon suaminya. Suho nampak sangat tampan dan Jieun hampir tidak percaya kalau pria itu adalah calon suaminya.

“Wah, kau tampan, ya.”

“Baru tahu?”

“Iya,” jawaban Jieun membuat Suho gemas. Tiba-tiba terbesit ide jahil dalam benaknya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Jieun. Sontak Jieun terkejut karena hembusan nafas Suho membuatnya merinding. “Kau tahu, kan, kalau bulan depan kita akan menikah?”

Nnn…nne…”

“Kalau dalam waktu sebulan ke depan kau terus bersikap seperti itu, maka kau akan tahu konsekuensinya saat kita sudah menikah nanti. Aku akan–“

“Ah, eomonim, kurasa tidak ada yang perlu dikoreksi.” Kedatangan ibunya membuat Suho gagal melancarkan aksinya menjahili Jieun. Dengan cepat ia menjauhkan wajahnya dari telinga Jieun, ia takut ibunya melihat dan akan berpikir macam-macam.

“Lalu bagaimana denganmu, Joon Myun?”

“Tidak ada, aku terlihat sangat tampan dengan tuxedo ini.”

“Baiklah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~00~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pasangan Suho dan Jieun kini melanjutkan perjalanan mereka. Gaun dan tuxedo sudah beres, katering sudah beres, tempat acara sudah beres, undangan juga sudah beres, bahkan semuanya sudah. Kali ini Jieun tidak mengajukan pertanyaan seperti biasanya, gadis itu sudah malas untuk bertanya pada Suho. Lebih baik aku diam saja, pikirnya.

“Ehm… Menurutmu lebih bagus Eropa, Amerika, atau Asia?” tanya Suho.

“Tentu saja Eropa,” jawab Jieun.

“Perancis, Italia, atau Venezuela?”

“Jerman.”

Suho mendengus. “Hey, tidak ada option Jerman!”

“Ehhmm… Ketiganya sama-sama bagus, tetapi Perancis dan Venezuela sepertinya menarik. Kenapa, sih?”

“Baiklah, kalau begitu dua-duanya saja.”

“Ya… Kim Joon Myun, jawab pertanyaanku.”

Suho tidak memberikan jawaban apapun, pria itu tetap fokus menyetir. Tak lama kemudian, ia membelokkan mobilnya ke sebuah kantor bergaya minimalis. Jieun mencari-cari petunjuk nama kantor itu, dan matanya membulat sempurna saat ia tahu kalau itu adalah tempat agen biro perjalanan.

“Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah persiapan bulan madu,” ujar Suho sambil melepas sabuk pengamannya.

Jieun mengikuti langkah Suho memasuki kantor tersebut. Mereka disambut oleh seorang pria berparas unik –menurut Jieun dan sepertinya ia adalah kepala biro wisata ini.

“Selamat datang, Joon Myun-ssi,” sapa pria itu ramah. Suaranya sedikit cempreng namun merdu, membuat Jieun sedikit tertarik –dengan suaranya.

“Terima kasih, Jongdae-ssi. Perkenalkan, ini tunanganku, Park Jieun.”

Annyeonghaseyo, Park Jieun-imnida,” Jieun tersenyum ramah kemudian sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.

Annyeong, Kim Jongdae-imnida. Bangapseumnida.”

 Setelah acara ‘penyambutan’ selesai, mereka dibawa masuk ke sebuah ruangan di lantai dua. Ruangan kerja pribadi milik pria bernama Kim Jongdae itu. Terdapat tulisan ‘Manager’ tertempel di pintu ruangan tersebut. Pria bernama Jongdae itu mempersilahkan Jieun dan Suho duduk di sofa empuk berwarna coklat muda.

“Jadi bagaimana, Joon Myun-ssi? Apakah kau sudah menentukan pilihan?” Jongdae membuka pembicaraan.

“Sepertinya kami memilih Eropa. Lebih baik Perancis atau Venezuela?” Suho meminta pendapat Jongdae.

“Hmm… Keduanya memiliki keistimewaan tersendiri. Aku bisa memberikan rekomendasi hotel, restoran, dan destinasi favorit di negara tersebut.”

Pandangan Suho beralih pada Jieun, “Bagaimana?”

“Terserah padamu saja.”

“Baiklah, kalau begitu aku pilih keduanya.”

Jieun menyikut lengan Suho pelan, dan saat pria itu menoleh Jieun langsung memberikan tatapan tajam. Matanya seolah berkata ‘Itu terlalu berlebihan, pilihlah salah satu!’. Tetapi Suho hanya tersenyum dan tidak menanggapi aksi protes tidak langsung dari Jieun.

“Oke, kami akan mengurus semuanya,” ujar Jongdae.

Setelah selesai mengurus persiapan untuk perjalanan bulan madu, keduanya melanjutkan kegiatan dengan makan siang di sebuah restoran yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan di Seoul. Mereka juga menyempatkan untuk berjalan-jalan setelah selesai makan siang.

“Tak terasa, ya, bulan depan kita akan menikah,” ujar Suho saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.

“Ya, waktu berlalu begitu cepat.”

“Aku harap semuanya berjalan lancar. Kau tahu? Aku sangat gugup.”

Jieun tertawa. “Kau pikir aku tidak? Aku takut gaunku tersangkut,” kata Jieun sambil terkekeh.

“Apa perlu kau kursus berjalan pada ibunya Baekhyun yang mantan model itu?” gurau Suho.

“Berlebihan sekali.”

Keduanya pun tertawa.

“Aku justru bingung bagaimana cara memulainya,” sebuah kalimat tak terduga keluar dengan lancar dari mulut Suho. Betapa malunya dia saat menyadari kalau ucapannya barusan merupakan kalimat yang… Err~

“Nanti akan ada pendeta yang membimbing kita, Suho. Kenapa harus bingung?”

Suho mati-matian menahan tawanya mendengar komentar Jieun. Dalam hati ia merasa lega karena gadis itu tidak mengerti maksud ucapannya tadi. Sebenarnya bukan memulai mengucap ikrar di gereja, tetapi memulai ‘sesuatu’ seusai pernikahannya nanti. Ah, ia jadi malu.

“Ah, ne,” pungkas Suho. “Kita sudah sampai,” Suho memberhentikan mobilnya tepat di depan toko milik Jieun.

“Terima kasih, Suho-ya. Hati-hati di jalan dan kabari aku saat kau sudah sampai di rumah nanti. Annyeong, chagi,” Jieun berpamitan dan memberikan cubitan di pipi Suho, kebiasaan Jieun setiap Suho mengantarnya.

Ne, beristirahatlah dengan baik. I love you.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~00~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-One month later at Church at 8 a.m KST-

Jieun memandangi pantulan dirinya di cermin, ia tak menyangka kalau waktu berlalu begitu cepat dan ini sudah hari H. Ya, hari ini Jieun akan melangsungkan pernikahannya dengan si Rich Man, Suho. Ia benar-benar gugup sekarang, tak henti-hentinya ia memejamkan mata dan memanjatkan doa. Acara pemberkatan akan berlangsung sebentar lagi.

Eomma,” lirih Jieun saat ibu dan neneknya memasuki ruangan pengantin wanita, tempatnya berada. Ibunya memeluk Jieun erat dan mengelus-elus punggungnya.

“Putriku sudah dewasa, kau akan menjalani hidup barumu bersama pria yang kau pilih. Selamat, ya, sayang.”

“Doakan agar semuanya berjalan lancar dan aku bisa menjadi istri yang baik untuk Joon Myun,” pinta Jieun.

Nyonya Haerin pun melepaskan pelukannya, beliau menatap putrinya lekat-lekat. “Pasti, doaku selalu mengiringi setiap hembusan nafasmu, Jieun.”

Sekarang giliran Jieun memeluk neneknya dengan erat, wanita yang paling ia cintai setelah ibunya. Sang Nenek memeluk Jieun sambil menitikkan airmata haru. Rasanya baru kemarin beliau menangis terharu saat menyambut kelahiran Jieun ke dunia, dan sekarang beliau kembali menitikkan airmata haru melihat cucu kesayangannya akan melepas status lajangnya.

“Jangan sungkan-sungkan untuk berbagi cerita dengan kami, Jieun. Kami selalu di sisimu,” ujar sang Nenek.

“Tentu, doakan aku, Nek.”

CEKLEK!

Pintu ruangan terbuka, nampak seorang pria paruh baya mengenakan jas rapi. Beliau adalah Tuan Park, kakek Jieun. Beliau yang akan mendampingi Jieun menuju altar untuk menemui pengantin prianya. “Jieun, ini sudah saatnya.”

Disinilah Jieun berada. Berjalan sambil mengamit lengan kakeknya sambil membawa sebuket bunga di tangan kirinya. Alunan musik mengiringi langkahnya menuju altar. Senyum selalu terkembang di wajah cantiknya.

Ya Tuhan, rasanya aku gugup sekali.

Benarkah hari ini aku akan menikah?

Ini sulit dipercaya, sepuluh langkah lagi aku akan sampai!

Oh, aku jadi ingin buang air kecil.

Berbagai kalimat konyol diucapkan Jieun dalam hatinya. Ia tak menyangka kalau dirinya akan segugup ini. Punggung Suho yang terbalut tuxedo berwarna putih nampak semakin dekat. Jieun memejamkan matanya sejenak dan memanjatkan doa dalam hatinya. Tuhan, berikan kami kemudahan, batinnya.

Inilah saatnya. Jieun sudah sampai di altar dan tangannya sudah berpindah ke tangan Suho. Mereka sempat saling melempar senyum. Kini tangan mereka saling menggenggam erat.

“Tuan dan Nona, dengarkan ucapan saya baik-baik,” pendeta di hadapan Suho dan Jieun memulai acara pemberkatan.

“Anda, Kim Joon Myun, bersediakah menerima Park Jieun sebagai pendamping hidupmu dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sehat maupun sakit, dan berjanji melindungi dan mencintainya setulus hati sampai maut memisahkan?”

Jieun mencuri-curi pandang ke arah Suho. Kau tampan sekali, Joon Myun, di suasana seperti ini pun Jieun masih sempat memuji-muji calon suaminya itu.

Ne, saya bersedia.” Sebuah jawaban yang tegas dari seorang Kim Joon Myun.

“Dan Anda, Park Jieun, bersediakah menerima Kim Joon Myun sebagai pendamping hidupmu dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sehat maupun sakit, dan berjanji melindungi dan mencintainya setulus hati sampai maut memisahkan?”

Ne, saya bersedia.”

Ikrar suci di hadapan Tuhan sudah terucap, kini Suho dan Jieun sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Suho menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di kening Jieun. Ini adalah kali pertama Suho mencium Jieun. Bayangkan saja, selama lima tahun mereka berpacaran, Suho tidak pernah mencium Jieun di pipi, kening, hidung, apalagi bibir. Meskipun sekarang mereka sudah resmi menikah, ia tetap tidak mau mencium bibir istrinya itu di depan umum, baginya itu adalah sebuah privasi. Sungguh pasangan yang alim.

Jieun tersenyum saat Suho mendaratkan bibirnya di keningnya. Awalnya ia merasa sangat gugup, takut kalau Suho menciumnya di bibir. Jieun merasa lega sekarang, semuanya sudah berjalan dengan lancar.

“Hey, kenapa kau menangis?” tanya Jieun saat melihat Suho menitikkan airmata.

“Aku terlalu bahagia. Tadi aku mengucapkan ikrar pernikahan dengan sepenuh hati, di hadapan Tuhan.”

“Kau benar-benar penuh kejutan, Tuan Kim.”

Setelah selesai melaksanakan acara pemberkatan, kini saatnya melaksanakan acara resepsi. Acara resepsi diadakan di ballroom hotel milik keluarga Suho. Banyak tamu yang harus mereka temui malam ini. Maklum saja, kedua orangtua Suho merupakan orang penting. Wajar kalau mereka memiliki banyak rekan kerja, ditambah lagi dengan anggota keluarga dan para kerabat.

“KYAAAA!!!! KAKAK KESAYANGAN SUDAH MENIKAAAHHHHH!!!” kelima makhluk pembuat onar menghampiri Suho dan Jieun. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol, Sehun, Baekhyun, Kyungsoo, dan Jongin. Mereka sengaja mengenakan jas yang seragam.

“Jieunku, chukkae,” Sena muncul diantara kelima sahabat Suho itu dan langsung memeluk Jieun. Tentu saja Jieun langsung memeluk erat sahabatnya itu dan tidak memperdulikan suaminya yang saat ini sedang dikeroyok oleh kelima sahabatnya.

“Cepatlah menyusul, Sena-ah.”

Sena pun tertawa lalu menunjukkan sesuatu yang melekat di jarinya. “Dia melamarku kemarin,” bisiknya.

Jinjja? Chukkae!” pekik Jieun kegirangan. Ia merasa senang mendengar kabar gembira itu.

“Kalian, aku turut senang melihat kalian akhirnya resmi menikah. Jangan lupa berikan kami keponakan yang banyak, ne?”  ucap Chanyeol.

“Kalian bulan madu kemana? Jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk kami!” tambah Baekhyun.

“Jieun, bersabarlah menghadapi tingkah laku si Rich Man itu. Dia terkadang konyol,” Kyungsoo memberikan respon yang jauh lebih kalem dibanding yang lainnya.

Hyung, jangan sia-siakan kesempatanmu malam ini,” celetuk Sehun yang diiringi oleh kekehan jahil Jongin.

“YAK! OH SEHUN!”

“JONGIN! BERHENTI MERACUNI SEHUN DENGAN HAL YANG TIDAK-TIDAK!”

Wajah Jieun langsung merah padam, ia merasa sangat-sangat-sangat-sangat malu mendengarnya. Dua bocah tengil itu benar-benar keterlaluan. Jieun jadi tidak berani menatap wajah Suho.

“Berhentilah membuat onar. Pergi sana, nikmati hidangan yang ada! Masih banyak tamu yang menunggu giliran bersalaman. Hushh… Hushhh…” Suho mengusir kelima sahabatnya yang selalu hiperaktif itu. Untung saja mereka datang di saat tamu belum terlalu ramai.

Hyung, kau mengusir kami? Yaa… Ingat, kau belum memberi kami upah! Kalau tak ada bantuan dari kami, acara melamarmu tidak akan sukses,” gerutu Jongin.

“Dengan susah payah aku mengatur ulang tempat duduk di restoranku, hyung. Kau pikir itu mudah? Itu menguras pikiranku, hyung!” keluh Chanyeol. “Itu kulakukan demi dirimu,” lanjutnya.

“Nah, Jieun, kau tahu siapa yang mengurus dekorasi restoran? Itu aku! Aku!” Jongin bicara dengan antusias.

“Kali ini aku ingin ikut-ikutan protes,” kata Kyungsoo. “Menu steak yang kalian makan itu adalah hasil eksperimenku. Suamimu ini terlalu rewel, aku jadi pusing. Ditambah lagi aku disuruh menyanyikan lagu untukmu.”

“Aku dan Baekhyun yang mengkoordinir pengunjung agar menyalakan musik yang sama. Tidak semuanya punya instrumen itu, jadi kami harus mengirim ke ponsel mereka satu-satu menggunakan bluetooth,” tambah Sehun.

Jieun hanya tertawa mendengarnya. Ia tak menyangka kalau sahabat-sahabat suaminya itu memang sangat setia dan baik hati. Meskipun tingkah mereka kerap membuat Suho kesal, tetapi mereka juga dapat diandalkan. “Ne, gomawo atas bantuan kalian,” ucap Jieun.

“Upahnya, kalian boleh makan sepuasnya disini. Sudah, pergi, pergi!” tambah Suho. Mereka pun meninggalkan Suho dan Jieun dengan langkah gontai. Mereka benar-benar lucu.

Setelah kondisi kembali kondusif, Suho dan Jieun kembali menunggu tamu undangan yang hendak menyalami mereka dan memberikan ucapan selamat. Disaat antrian tamu mulai sepi, Jieun dan Suho pun duduk santai untuk melepas rasa pegal di kaki mereka.

“JoonMen!” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Suho dan Jieun lantas mengalihkan pandangan mereka. Nampak sesosok wanita berambut pendek dengan dress hitam selutut dan make up yang natural menghampiri keduanya.

“Hani.”

Seulas senyuman tersungging di bibir Jieun. Itu adalah Hani, sepupu Suho yang dulu pernah membuatnya cemburu dan salah paham. Kini mereka sudah kenal baik dan Hani kerap membocorkan rahasia-rahasia kecil Suho pada Jieun. “Unnie!”

Hani langsung memeluk Jieun dengan sangat erat. Keduanya berpelukan cukup lama. “Selamat menempuh hidup baru, Adikku sayang!”

“Terima kasih banyak, Unnieku sayang.”

Suho menatap istri dan sepupunya itu dengan tatapan iri. Ia serasa tak dianggap, kedua wanita itu terlalu asyik berpelukan. “Hani, kenapa malah Jieun yang dipeluk duluan? Sepupumu itu kan, aku.”

PLETAK!

“Aww!” Suho dihadiahi sebuah jitakan (?) yang cukup kencang di kepalanya.

“Awas kalau kau membuat Jieun menangis karena ulahmu! Lihat saja, aku tidak segan-segan untuk menculik Jieun ke Amerika,” ancam Hani yang membuat Jieun tertawa geli.

“Cih, tinggal kususul saja. Biaya ke Amerika itu murah, kok,” jawab Suho enteng. “Bahkan kami akan berbulan madu ke Perancis dan Venezuela,” tambahnya.

Hani menatap Suho sinis. “Jieun, dia itu paling susah untuk bangun pagi. Siapkan seember air untuk mengguyur wajahnya kalau dia susah dibangunkan, ya.”

Ne.”

“Dia takut dengan kecoa.”

“Hani, hentikan.”

“Dia tidak suka makanan yang terlalu asin. Nanti dia akan mengomel sepanjang hari kalau makanan yang ia makan terlalu asin. It’s so weird, right?

“Stop.”

“Kalau sedang sakit panas, dia akan mengigau dan memanggil-manggil ibunya. Seperti anak TK.”

“Kim Hani!”

“Oh, dia juga…” Hani membisikkan sesuatu ke telinga Jieun dan membuat Suho semakin kesal, juga penasaran.

“Benarkah? Oke,” Jieun mengacungkan jempolnya lalu berhigh-five dengan Hani. Tentu saja Suho jadi semakin kesal. “Apa yang kau bocorkan pada Jieun, huh?” omel Suho.

“Aku kesana dulu, ya. Sepertinya hidangan disini enak-enak, bye,” Hani langsung melesat pergi.

“Yak! Kim Ha–“

“Suho-ya, jangan berteriak. Kita ini bintang utama disini,” cegah Jieun. Ia tidak mau kalau harus menanggung malu karena teriakan Suho.

“Tapi yeobo…”

“Taeyeon-unnie!” tiba-tiba Jieun memekik kegirangan saat melihat kedatangan Taeyeon, Jongdae, Minseok, Hyunji-ahjumma, dan beberapa anak panti.

Chukkae, Jieun-ah!”

“Chukkae, Jieun. Aku harap pernikahan kalian selalu diberkati oleh Tuhan.”

“Suho-ssi, selamat atas pernikahan kalian. Jaga Jieun baik-baik, ya.”

Jieun dan Suho menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Suho merasa senang karena banyak yang mendoakan pernikahannya, ia berharap doa-doa itu terkabul.

“Jieun-unnie/noona, kau sangat cantik hari ini,” puji anak-anak panti.

“Wah, terima kasih. Kalian juga cantik dan tampan hari ini,” Jieun tersenyum ramah kepada adik-adiknya itu.

Unnie, aku ingin menikah dengan pangeran tampan seperti Suho-oppa,” ujar salah seorang anak panti dengan polosnya.

Ne, ingat ya, hanya aku yang paling tampan di dunia ini.”

“Tidak, aku akan jauh lebih tampan kalau sudah dewasa nanti,” celetuk anak panti lainnya. Jieun langsung tertawa puas saat melihat ekspresi wajah Suho yang seketika berubah. Kena kau, ledek Jieun dalam hatinya.

“Silahkan menikmati hidangan yang ada, jangan sungkan-sungkan,” ujar Jieun kepada tamu ‘istimewa’nya.

“Baiklah, kami wisata kuliner dulu, ya,” canda Minseok dan Jongdae.

Setelah rombongan dari panti asuhan pergi, Jieun dan Suho duduk di kursi pelaminan mereka untuk mengistirahatkan kaki mereka yang pegal karena terlalu lama berdiri menyambut para tamu undangan.  

“Hari kita masih panjang rupanya,” lirih Jieun. Suho pun menoleh dan mencubit pipi istrinya gemas. Jieun nampak sangat cantik hari ini.

“Tapi kau senang, kan?”

“Tentu saja, aku sangat bahagia.”

Suho meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. “Tetaplah bersamaku, jadilah teman hidupku, tempatku berbagi suka dan duka. Kita hadapi dunia ini bersama-sama. Janji?”

“Dan jika di depan nanti banyak cobaan untuk kisah kita, kumohon jangan menyerah. Kita akan mengarungi semuanya bersama. Janji?”

Mereka pun saling menatap satu sama lain dan tersenyum. “Janji,” ucap keduanya bersamaan.

Inilah akhir bahagia dari perjalanan cinta Jieun dan Suho. Park Jieun, gadis sederhana yang terlahir dari keluarga biasa. Kim Joon Myun, atau Kim Suho, pria tampan dari keluarga konglomerat Korea Selatan dengan latar belakang yang jauh berbeda dari Jieun. Keduanya akhirnya disatukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Inilah buktinya. Cinta tidak memandang status sosial, tetapi cinta didasari oleh ketulusan hati. Tak peduli berapa banyak perbedaan yang ada, dengan cinta perbedaan itu akan menjadi sebuah perekat dalam hubungan. Cinta saling melengkapi, dan ingat…

 

Cinta merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

 

 

 

 

 

-FIN-

 

HOLA!!!

AKHIRNYA FREELANCE DIBUKA DAN AKU BISA UPDATE LAGI!!

Fyuh… Akhirnya FF ini tamat dengan ending yang bahagia. Gimana menurut kalian? Bagus? Kurang romantis? Atau… ada komentar lain? Huhuhu… Maaf, ya, kalau ada yang ngerasa kurang puas sama ending ceritanya L

Terimakasih banyak untuk kalian para readers maupun silent readers  yang setia mengikuti perkembangan cerita FF ini. Berkat komentar-komentar dan respon positif dari kalian, aku jadi semangat untuk ngelanjutin FF ini. Mohon maaf kalau selama ini ceritanya kurang bagus, banyak kekurangan dan juga banyak typo. Untuk kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi. Sekian, dan sampai jumpa di FF berikutnya^^

Akhir kata author ucapkan terima kasih dan…

SEQUEL?

10 responses to “[Freelance] Falling Love with a Rich Man (Chapter 10) – END

  1. suho romantisnya bikin diabetes
    beruntung banget jieun jadi istrinya
    tapi masih penasaran juga bagaimana hubungan jieunama appa kandungnya apa bener” mereka putus hubungan
    ditamabah mereka udaa menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s