[Freelance] Beautiful Inside

PhotoGrid_1442231661196

Tittle : Beautiful Inside

Author : Oh Saera (twitter : sementara belum ada)

Cast : Luhan, EXO, and other artists

Genre : Fantasy, School Life, Drama

Rating : PG – 15

Disclaimer : All cast belong to God, their parents, and their entertainments. The original story’s tittle is ‘Lookism’ and belong to Park Tae-Joon. I just remake that awesome webtoon. This story is an absolute mine.

 

Summary : Luhan yang biasanya tertindas sekarang bisa menikmati kehidupannya yang baru tanpa rasa takut. Ia merasa sangat bebas dan bisa melakukan apapun sesuka hatinya, tanpa beban lagi. Namun lama-kelamaan, ia dihadapkan ke pilihan yang sulit.

_

WARNING! TYPOS! OOC! GS!

BYURR

“Hahahaha..”

Tawa-tawa kejam itu menggema di toilet wanita Hannyoung High School. Salah satu dari mereka tidak tertawa. Ya, ia adalah korban dari bullying para queenka. Korban atas fitnah dan ketidakadilan. Tubuh mungilnya basah kuyup dan berbau tak sedap karena baru saja disiram air pembuangan oleh salah satu queenka.

“Iuh… Benar-benar menjijikkan. Benar, tukang bohong?” Jessica, pemimpin dari para queenka yang juga merupakan pelaku utama dari bullying. “Itu akibatnya jika berbohong! Kris-ku, tidak mungkin menggodai wanita menjijikkan sepertimu! Lihat saja dirimu. Kau jelek, pendek, tak berdaya. Memangnya apa yang kau pikirkan sampai-sampai mengucapkan kebohongan tak masuk akal tadi?”

Luhan tetap berjongkok sambil memeluk tubuhnya kuat-kuat. Kulitnya yang putih bertambah semakin pucat karena kedinginan. Tubuhnya gemetar hebat.

“A.. Aku tidak bohong.. Aku tak mendekati Kris. Dia.. Dia sendiri yang..”

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Krystal, adik Jessica, menyiram Luhan kembali. Kali ini bukan dengan air, melainkan dedaunan yang basah. Semua kembali tertawa menyaksikan kejadian itu.

“Itu balasanmu, dasar wanita penggoda!” Jessica menendang wajah Luhan sebagai penutupan. “C’mon Girls!”

Queenka lainnya mengikuti Jessica keluar, meninggalkan Luhan yang malang dan meratapi nasibnya.

____________

“Xi Luhan, apa yang terjadi?!”

Nyonya Xi hampir saja terkena serangan jantung saat melihat sosok putrinya yang ringkih, kotor, dan berantakan. Sudah dipastikan keadaan Luhan sama sekali tidak baik. Tak mempedulikan bau aneh yang menguar dari tubuh Luhan, Nyonya Xi dengan lembut memeluk putrinya dan menuntunnya ke dalam.

“Sayang, kau dingin sekali..” Nyonya Xi mengatup pipi Luhan. Terdapat luka lebam di sudut pelipisnya. Dan juga ada jejak-jejak air mata disana. “Se.. Sebaiknya kau mandi dulu.. Pakailah air hangat dan jangan lama-lama di kamar mandi. Nanti kau masuk angin. Mama akan siapkan pakaianmu.”

Bahkan untuk mandi pun Luhan membutuhkan waktu hampir setengah jam karena ia terlalu lemah dan kedinginan. Selesai mandi, ia pergi ke dapur. Meski masih pucat, tapi setidaknya ia jauh terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Nyonya Xi menyuruh Luhan duduk dan dengan lembut menyuapi Luhan dengan sup jamur hangat. Ia takkan bertanya dulu, karena ia tahu Luhan masih terpukul. Namun baru tiba di suapan kedua, Luhan berucap.

“Ma, aku ingin pindah sekolah.”

Ini pertama kalinya ia mendengar Luhan mengucapkan kata-kata itu. Nyonya Xi sering mendapati Luhan yang pulang dengan keadaan tidak wajar. Yang terparah adalah kejadian tahun lalu. Di musim gugur, Luhan pulang dengan rambut berantakan, tidak memakai alas kaki, dan hanya mengenakan seragam dalam yang tipis dan rok yang sedikit sobek. Luhan mendapatkan pelecehan di sekolah karena masalah sepele.

Nyonya Xi ingin sekali menuntut bocah-bocah sialan yang menyakiti putrinya, tapi apa daya? Ia sama sekali bukan keluarga kaya, dan Luhan yang bersekolah di sekolah paling elit di Seoul adalah sebuah keberuntungan karena beasiswa yang diterimanya. Lagi-lagi uang yang menjadi pemenangnya.

Nyonya Xi merasa sangat kalah dan terpukul, tak bisa membela putrinya sama sekali. Ia tak punya cukup kuasa. Sejak dulu Nyonya Xi ingin sekali Luhan pindah sekolah, tapi gadis itu selalu menolak. Luhan tak bisa beradaptasi di lingkungan baru, itu masalah beratnya.

“Kau.. Sungguh ingin pindah?” tanya Nyonya Xi hati-hati. Sebenarnya sejak dulu ia sudah merencanakan sekolah yang akan ditempati Luhan kelak jika ia mau.

“Atau sebaiknya aku tak sekolah saja?” tanya Luhan lirih. Ia memeluk lututnya dan menatap mangkuknya dengan tatapan kosong. Selama ini ia berusaha menyembunyikan semuanya. Namun sekarang? Ia terlalu lemah untuk berpura-pura bahwa ia baik-baik saja. Toh, Nyonya Xi sudah mengetahui semuanya.

“Sayang..” Nyonya Xi membelai rambut Luhan. “Apa ini masalah seperti kemarin-kemarin? Temanmu salah sangka?”

Luhan mengangguk lemah.

“Baiklah jika kau ingin pindah. Mama senang sekali kau akhirnya memutuskan untuk itu. Tunggu sebentar.”

Nyonya Xi berjalan ke kamarnya dan tak lama kemudian ia kembali lagi dengan brosur sekolah di tangannya. Ia memberikannya pada Luhan. Gadis itu tak terlalu fokus, hanya melihatnya sekilas dan pada akhirnya mengangguk.

“Jadi kau serius? Tempat ini bukan di Seoul, lho.. Tapi letaknya di Incheon.”

“A.. Apa?” Luhan membaca lagi kertas di tangannya. Sekolah yang sederhana, sesuai dengan keadaan ekonomi mereka.

“Kalau kau benar-benar mau. Mama akan membelikan apartemen kecil disana. Khusus untukmu. Maafkan Mama tidak bisa menemanimu,” gumam Nyonya Xi sedih. “Mama masih harus menjaga Papamu.”

Ah, benar juga, batin Luhan. Beberapa bulan yang lalu Tuan Xi mengalami kecelakaan parah yang membuatnya koma hingga saat ini. Tentu saja itu menguras sebagian besar harta mereka yang tidak banyak. Luhan yakin bisa hidup sendirian. Tapi.. Ia masih takut dengan sekolah baru. Apakah orang-orang disana baik?

“Mama akan bicarakan ini pada Sehun. Supaya dia mau tinggal denganmu dan menjagamu,”ujar Nyonya Xi lagi.

Sepertinya itu ide yang bagus, lagi-lagi Luhan membatin. Sehun adalah sepupu Kanada-Korea yang sangat dekat dengannya meski tempat tinggal mereka berjauhan. Dulu Sehun tinggal di Kanada dan Luhan di China. Saat SMA, keluarga mereka sama-sama memutuskan untuk pindah ke Seoul. Namun pada akhirnya rumah mereka tidak berdekatan. Memang berbeda sekitar 20 km, meski begitu mereka tetap berhubungan lewat media. Tapi, apa Sehun mau ke Incheon? Bukankah artinya ia harus berpisah dengan keluarganya juga?

Luhan menatap Mamanya dengan sedih. Itu berarti ia juga akan meninggalkan Mamanya sendirian? Ya, meski Papanya masih ada.

“Apa.. Apa Mama tidak apa-apa?” tanya Luhan dengan suara bergetar.

“Mama akan bahagia jika melihatmu ceria dan tidak lagi mengalami bullying. Mama sudah mencari tahu banyak hal di Incheon. Sekolah yang akan kau tempati itu sama sekali tidak buruk.”

“Xie xie ni, Ma! Wo ai ni!” Luhan memeluk ibunya erat-erat. Baiklah, ia siap ke Incheon. Ia akan menghadapi hidup yang baru. Ia takkan mengalami bullying lagi. Benar, begitu?

____________

Luhan akhirnya tiba di Incheon, di apartemennya yang sangat sederhana tapi layak untuk ditempati. Walaupun kecil, yang terpenting adalah bersih dan nyaman. Selesai menata barangnya, ia pergi untuk berjalan-jalan dan membeli makanan.

Pikirannya melayang lagi kepada kedua orang tuanya. Ia merasa sangat tak tega meninggalkan kedua orang tuanya. Papanya masih kritis dan ia tahu Mamanya sangat sedih akan hal itu. Mengapa Luhan begitu tega meninggalkan mereka menanggung beban yang begitu berat? Tapi Luhan sendiri juga mempunyai beban, dan ia cukup yakin keputusannya kali ini tidak salah.

BRUKK

“Hei! Kau tak punya mata, ya?!”

Sebuah suara yang sangat centil, galak, dan penuh kesewotan terdengar saat Luhan masih sibuk dengan pikirannya. Ia tidak sadar jika ia baru saja menubruk seorang yeoja yang kebetulan berjalan berlawanan arah dengannya.

Luhan membungkuk minta maaf. “A.. Aku minta maaf.”

PLAK

Hati Luhan serasa ikut tersakiti saat yeoja itu tanpa segan-segan menamparnya dengan keras hingga ia terhuyung mundur, menabrak dinding toko. Semua pejalan kaki dan penjual di pinggiran menonton kejadian itu.

Luhan menatap yeoja yang memukulnya itu dengan teliti. Pakaian yang sangat trendy dan pastinya bermerek, rambut cokelat panjang yang Luhan yakini pasti membutuhkan waktu lama untuk merawatnya, tubuh yang seksi dan mulus, serta tinggi karena memakai heels yang tak tanggung-tanggung. Cantik sekali, tapi terlalu berlebihan. Luhan meringis saat mengetahui bahwa yeoja itu memakai pakaian yang memperlihatkan sebagian dadanya. Menyebalkan. Yeoja itu menatap Luhan penuh amarah dan bermaksud menamparnya lagi, ketika..

“Chagi-ya, apa yang terjadi?”

.. seorang namja yang sangat tampan menginterupsinya. Ia menatap Luhan dan yeoja, yang Luhan yakini adalah pacarnya, secara bergantian. Namja itu menatap Luhan khawatir.

“Kau baik-baik saja?” tanya namja itu.

“Chagiya! Jangan dekati yeoja gila dan norak itu! Yeoja miskin itu berani-beraninya menabrakku!”

Luhan sudah sering mendengar kata-kata itu di sekolah, namun tetap saja hatinya masih belum kebal. Ia meremas dadanya kuat-kuat, berharap ia tak menangis dan memalukan dirinya sendiri.

“Chagi, aku yakin dia tak sengaja. Aku kan, sudah bilang berapa kali padamu. Tolong, bersikaplah lebih lembut.” Namja itu menyeret pacarnya pergi, tapi sebelum benar-benar pergi, namja itu menoleh lagi dan tersenyum pada Luhan.

____________

“AKU BENCI HIDUPKU!!!”

Teriakan penuh amarah itu menggema di seluruh apartemen kecil itu. Luhan menangis tersed-sedu di sudut kamarnya. Ia sangat heran. Sejak dulu, hidupnya tak pernah mulus, penuh dengan lika-liku.

Ia sering bertanya dalam hati, menengadah ke atas langit. Kenapa hidupnya tak bisa lebih baik? Kenapa ia tak seperti yang lain? Kenapa ia tak bisa bersikap sesuka hatinya seperti para queenka? Kenapa ia tak memiliki keberanian hingga ia selalu tertindas? Ia sangat membenci hidupnya.

Ia rasa, pindah rumah pun percuma. Ini baru hari pertama, ia belum mendaftar ke sekolahnya. Tapi ia sudah tertimpa masalah yang sangat menyakitkan.

~sigani jinado malhaji moshago

mamsogeuro samkineun na

mianhadago neol saranghandago

jigeumcheoreom mideodallago~

Masih sesenggukan, Luhan mengambil ponsel yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya. Ponselnya masih berdering, Luhan berusaha menetralkan nafas dan suaranya agar tidak terdengar seperti ‘menangis’ karena Mamanya yang menelepon.

“Wei~” sapa Luhan senormal mungkin.

Sepertinya Mamanya juga menangis seperti dirinya dan dengan tiga kata saja sudah mampu membuat Luhan pingsan seketika.

“Luhan.. Papamu sudah pergi..”

____________

LUHAN POV

Mataku terasa gatal dan basah saat aku menguceknya. Ini pasti karena aku terlalu banyak menangis. Kepalaku sangat berat. Oh, apa yang terjadi sebenarnya?

Ah! Sepertinya aku pingsan.. Aku baru ingat sekarang. Terakhir sebelum semua berubah menjadi gelap, Mama meneleponku. Memberitahu bahwa Papa sudah meninggal. Apa itu benar?

Perlahan aku menegakkan tubuhku dan kembali mengusap mataku karena anak sungai yang kembali mengalir. Tunggu! Aku terkejut setengah mati saat melihat tanganku.

“Tangan kekar?”

Aku langsung menutup mulutku saat mendengar suara laki-laki. Kenapa aku tak bisa mengeluarkan suaraku? Suara siapa itu?! Tidak mungkin ada laki-laki di apartemenku, kan? Aku memandang sekeliling dan terbelalak kaget sampai mulutku menganga lebar saat melihat ada seorang yeoja yang tertidur di sampingku.

Itu aku!

Wajah itu, rambut hitam itu, dan ukuran tubuhnya.. Itu jelas aku! Ditambah lagi yeoja itu mengenakan baju yang sama dengan yang kupakai tadi saat keluar apartemen. Apa-apaan ini? Sama sekali tak masuk akal!

Rasanya, mataku hampir lepas dari tempatnya saat menatap tubuhku sendiri. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan menatap cermin.

“AAAAA!!!!!”

Aku terhuyung mundur saat menatap bayangan laki-laki di cermin. Wajahnya sangat tampan dengan bibir mungil, mata yang agak besar – tidak sipit – hidung mancung, dagu kecil, dan rambut kecokelatan. Laki-laki yang sangat mirip denganku!

Aku menatap otot-otot yang tercetak indah di ‘tubuhku’ dan juga kelamin pria di bawah sana (?).

Ini mustahil!

Ini tak mungkin terjadi!

Apa aku berubah jadi laki-laki?

Aku mengintip dari kamar mandi, ‘tubuh perempuanku’ masih tergeletak disana. Dengan perlahan aku mendekatinya. Aku duduk di sampingnya dan mengambil ponselku. Siapa yang harus kutelepon? Polisi? Rumah sakit? Mama?

Tapi jika pihak berwajib yang kutelepon, bisa saja masalah ini menjadi semakin ruyam.

Atau Mama?

Mama pasti sangat bersedih karena kepergian Papa. Oh, kejadian ini membuatku benar-benar membuatku lupa bahwa Papaku baru saja pergi.

Papa..

Aku kembali teringat. Segera aku merangkak dan mengeluarkan semua barang dalam tas maupun koperku. Tak peduli jika kamarku menjadi berantakan. Akhirnya sebuah buku besar bersampul biru pastel kutemukan. Kubuka lembarannya satu per satu.

Itu adalah album foto kedua orang tuaku saat mereka masih sangat muda. Aku menutup mulutku dan menggeleng tak percaya saat mendapati selembar foto full body milik Papaku saat berusia 18 tahun. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, benar-benar persis dengan bayangan yang kulihat di cermin tadi! Tubuhku yang sekarang!

“Apa yang harus kulakukan?!” Aku mengacak rambutku frustasi.

Kembali kutatap ‘tubuh perempuanku’. Sepertinya ‘ia’ sedang tidur. Dengan tak sabaran aku mengguncangnya, tapi anehnya semua berubah menjadi gelap. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku merasakan ‘tubuh perempuanku’ bergerak.

____________

Perlahan aku membuka mataku dan saat melihat tanganku, aku langsung terduduk. Kaget. Aku meraba-raba tubuhku dengan perasaan campur aduk. Aku perempuan. Tidak ada yang berubah. Apa tadi hanya mimpi? Apa aku sudah gila sehingga memimpikan masa muda Papaku?

Apa aku setidak waras itu?

Tapi aku menghentikan pemikiranku sata melihat sosok namja tampan bertubuh telanjang tertidur di sampingku.

Itu tubuhku yang tadi!

Ya, ampun.. Ini benar-benar aneh!

“Hei, hei!” Aku mencolek-colek pundaknya. Ia tetap tak bergeming, malah semakin mendengkur halus.

“Bangunlah!!!” Dengan kasar aku mendorong tubuhnya berkali-kali.

Oh, jangan lagi.. Semuanya perlahan menjadi gelap.

____________

“Ini bukan mimpi!” jeritku saat aku kembali sadar di ‘tubuh laki-laki’ ku. Aku sungguh-sungguh ada dua. Perempuan dan laki-laki. Di mataku, ini sama sekali tidak dapat diterima oleh akal sehat.

“Apa ini semua sungguhan?” Aku bangkit dan menatap cermin di kamar mandi. Wajah blasteran Kanada-China itu.. Sungguh tampan. Aku tak bermaksud memuji diri sendiri, tapi ‘ia’ sungguh-sungguh tampan! Apa tubuh ini adalah pemberian Papaku sebelum pergi? Kenapa semua ini bisa terjadi?

“Xi Luhan.. Kau memang gila..” Mendengar suara laki-laki yang tak lain adalah suaraku sendiri, aku lantas tersenyum-senyum seperti orang gila.

Aku ada dua sekarang!

____________

Selama satu minggu aku akhirnya berhasil melakukan ‘adaptasi’ aneh ini. Dalam seminggu, aku akhirnya mengerti akan beberapa hal. Jika aku berada di ‘tubuh laki-laki’, ‘tubuh perempuanku’ tidak bisa bangun sendiri. Jadi harus ada yang membangunkannya secara paksa. Tapi, jika ‘tubuh perempuanku’ itu terbangun karena dipaksa, maka ‘tubuh laki-lakiku’ akan tertidur dengan paksa juga. Seperti orang yang jatuh pingsan.

Tubuhku yang tertidur itu hidup, tidak mati, awalnya aku hampir saja membunuh ‘tubuh perempuanku’ karena masa laluku yang menyakitkan saat menjadi perempuan. Tapi aku kembali berpikir. Bagaimana jika ‘tubuh laki-lakiku’ ikut mati? Itu tidak boleh terjadi! Dan karena tubuhku yang tidur itu hidup, maka tubuhku bisa merasakan lapar dan lelah seperti normalnya jika tidur terlalu lama.

Seminggu yang lalu, aku memutuskan untuk kembali ke Seoul lebih dulu. Mama terlihat sangat kuat dan aku senang melihatnya tetap sehat. Walau ada kesedihan yang membuncah karena kini Papa telah pergi dan Mama sendirian disana. Sampai saat ini, aku tak menceritakan kejadian ini pada siapapun termasuk Mama.

Mungkin, ‘tubuh laki-laki’ itu adalah peninggalan dari Papaku. Kedengaran sangat aneh dan diluar logika, tapi aku bersyukur mendapat tubuh tak ada cacat itu. Papa benar-benar sangat tampan saat muda.

Besok adalah hari pertama aku bersekolah. Dan aku sangat siap!

____________

Incheon Art School

Sekolah seni ternama di Incheon sudah terlihat cukup ramai. Beragam siswa berlalu-lalang di halaman serta koridor sekolah. Ada yang mengenakan seragam dengan sangat rapi, ada yang memakai aksesoris berlebihan, bahkan ada pula siswa yang seragamnya dipakai seenak sendiri hingga tak tampak seperti seragam sekolah.

“Hei, lihat! Hari ini Chanyeol menyemir rambutnya menjadi silver, lho!” Puluhan yeoja berbondong-bondong mengikuti sosok tinggi tegap berambut cerah yang sedang berjalan santai di koridor jurusan musik sambil menenteng gitar di pundaknya.

Park Chanyeol, namja tampan itu, menoleh ke belakang dan menampilkan senyuman tampan andalannya. Membuat yeoja-yeoja itu berteriak histeris.

Sedangkan di halaman sekolah, dua yeoja sedang bercakap-cakap mengenai sesuatu yang menarik bagi mereka – dan mungkin bagi yang lain juga –

“Apa kalian tahu? Hari ini ada murid baru di sekolah ini. Katanya sih, Papanya merupakan blasteran Kanada-China dan Mamanya orang Korea. Bisa kau bayangkan betapa tampan laki-laki seperti itu?” ujar Do Kyungsoo, siswi jurusan Musik.

“Ehm.. Apa dia laki-laki? Bukankah waktu itu Kai – anak dari Ketua Yayasan – mengatakan bahwa anak baru yang masuk kesini?” tanya Lay , siswi jurusan Tari, bingung.

“Ne, itu benar. Tapi anak itu membatalkannya. Sehari setelah itu, ada seorang namja yang mendaftar disini karena dapat beasiswa. Dia lulus tes 100 persen. Dengar-dengar, dia masuk jurusan Tari dan juga Musik! WOW! Dia memang hebat dan cerdas, apa dia takkan bingung membagi waktunya?”

BRUKK

“Kyungsoo!” Lay langsung menahan tubuh Kyungsoo yang hampir tumbang karena tertabrak oleh seorang namja yang berjalan berlawanan arah.

“Maaf.. Maafkan aku!” Namja itu membungkukkan tubuhnya berkali-kali dengan suara yang sangat menyesal dan tanpa dibuat-buat. Tanpa ia sadari bahwa dua yeoja itu menatapnya sambil menganga.

Terpukau.

“Apa kau tidak apa-apa?” Wajah namja itu terlihat sangat cemas. “Maafkan aku!”

Wajah Kyungsoo memanas dan merona karena ditatap selembut itu oleh namja luar biasa tampan yang kebetulan menabraknya.

“A.. Aku tidak apa-apa,” ujar Kyungsoo tergagap.

“Syukurlah..” Namja itu menarik nafas lega. “Sekali lagi maafkan aku. Oh, ya, apa kalian bisa beritahu aku dimana ruangan Mr. Kim?”

Setelah memberi tahu arahan-arahan mengenai sekolah, namja itu mengucapkan terima kasih dengan sangat sopan tapi sebelum pergi, Lay bertanya.

“Maaf, kalau boleh tahu siapa namamu?”

Namja itu tersipu – aneh – dan tersenyum malu. “Namaku Xi Luhan. Aku murid pindahan dari Seoul. Terima kasih atas arahannya, aku permisi dulu.”

_

_

_

_

_

TBC

INI ADALAH POST PERTAMA SAERA DI WORDPRESS. BAGI YANG SUKA EXO YAOI AND GS BISA KUNJUNGI https://m.fanfiction.net/u/6683894

MIND TO REVIEW?

GOMAPTA~

16 responses to “[Freelance] Beautiful Inside

  1. FFnya unik, beda sama yang lain.. Biasanya kalo di ff lain pasti memiliki kepribadian/sifat ganda, tapi ini fisiknya bisa jadi perempuan atau laki-laki.. 😀

  2. Yakk!! berarti ntar kedepannya dia itu bakal suka cewe apa cowo?😂😂 krn kan ada 2tubuh yg beda anu(?)

    I hope, lebih baik lgi kedepannya dlm hal kerapian,dan penulisan>< keep writingg~~

  3. waaakkksss.. luhan punya 2 tubuh ??? waah keren.. aku juga mau wkwkkw.. gila ini keren kak..next chapter ditunggu banget kak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s