[Freelance] Beautiful Maid #1

bm

Beautiful Maid

Author : cloverqua (@cloverqua) || Main Cast : Han Sena (OC), Park Chanyeol

Support Cast : Byun Baekhyun, Kris Wu, Xi Luhan,

Kim Jongin, Oh Sehun and others

Genre : AU, Campus Life, Friendship, Romance || Rating : PG 15 || Length : Chaptered

2015©cloverqua

(https://dreamin92.wordpress.com/)

Poster by : lightlogy @ Art Fantasy

Previous : TEASER+Introduce Cast

Seorang gadis melangkah keluar dari gedung apartemen yang terletak di kawasan Myeongdong. Langkah gontai, wajah tertekuk bercampur frustasi. Tak ada yang lebih buruk dari itu selain kondisinya sekarang. Gagal melunasi biaya sewa bulan ini, Han Sena—gadis bersurai cokelat itu, terpaksa angkat kaki dari apartemen yang sudah ditempatinya selama 1 tahun ini.

Kebingungan memenuhi pikiran mahasiswi penerima beasiswa di Seoul University itu. Sena tidak tahu harus melangkah ke mana untuk mencari tempat tinggal.

“Sial!” Sena mendesah frustasi. Mengusap wajahnya dengan kasar. Sambil menarik koper di tangannya, Sena berjalan menyisiri jalanan yang tampak lengang. Tak peduli bagaimana teriknya matahari yang begitu menyengat. Secepatnya Sena harus mencari tempat tinggal. Atau malam nanti dirinya akan berakhir dengan tidur seperti gelandangan.

Rasa lelah membuat langkah Sena melambat. Bangku umum yang berjejer di tepi jalan serasa oase di tengah padang pasir. Sena mendaratkan bokongnya dengan mulus di salah satu bangku. Ia butuh istirahat. Tak ada lagi tenaga untuk melangkah. Bahkan otaknya pun butuh istirahat. Paling tidak bisa membuatnya berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah ini.

Dari dalam tas ransel, tangan Sena mengeluarkan sebotol air minum. Ia teguk minuman itu sampai nyaris habis. Gadis itu tersenyum lega ketika cairan itu berhasil melewati kerongkongannya yang kering.

DRRT!

Suara dering ponsel membuat Sena terkesiap kaget. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Bola mata Sena membulat sempurna ketika membaca nama kontak yang tertera di layar.

Yeoboseyo.”

Sena, apa eomma mengganggumu?”

“Tidak, eomma. Ada apa meneleponku?” Sena gugup.Sebisa mungkin ia berusaha bersikap tenang.

Eommahanya ingin mendengar suaramu. Sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini.”

Sena tertegun. Gurat kesedihan bercampur rasa bersalah mendominasi wajahnya.

“Maafkan aku, eomma. Aku belum sempat menghubungi eomma setelah liburan semester kemarin,” Sena menunduk. Tanpa sadar matanya sedikit berair. Sena buru-buru mengusap cairan bening itu sebelum turun membasahi pipinya. “Aku juga minta maaf belum sempat mengunjungi eomma.”

Tak apa, Sena. Eomma tahu kau sangat sibuk di sana. Paling tidak kita masih bisa berkomunikasi, walaupun hanya melalui ponsel seperti ini.”

Ne, eomma,” Sena tersenyum. Suara wanita yang dipanggilnya ‘eomma’ itu terdengar menenangkan. Hati Sena jadi merasa lebih baik sekarang.

Ya sudah, jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk memberitahu eomma. Mengerti?

Ne,” Sena menjawab singkat. Begitu obrolan selesai, Sena hanya menatap sendu pada layar ponselnya yang sudah kembali dalam mode normal.

Wanita yang dipanggil ‘eomma’ oleh Sena, sebenarnya bukan ibu kandung gadis itu. Lee Jieun—pemilik panti asuhan yang menjadi rumah Sena saat usianya 10 tahun. Sekedar informasi, Sena tinggal di panti asuhan milik Lee Jieun bukan karena dibuang oleh orang tuanya. Namun, ia menjadi korban kecelakaan saat berlibur ke Busan, di mana orang tuanya tewas dalam kecelakaan 9 tahun silam. Sena menjadi yatim piatu, kemudian diasuh dan ditampung oleh Lee Jieun di panti asuhan yang ia dirikan. Akibat trauma yang dialami pasca kecelakaan, Sena sama sekali tidak ingat apakah dirinya memiliki sanak saudara.

Sena memutuskan hijrah ke kota Seoul, setelah mendapat beasiswa pendidikan di Seoul University. Tahun ini memasuki tahun ke-2 pendidikannya di perguruan tinggi ternama di negeri Ginseng tersebut.

.

“TOLONG!”

Sena terkesiap kaget. Suara teriakan itu begitu kencang sampai-sampai membangunkan Sena yang nyaris tertidur. Gadis itu masih setia bertahan di bangku umum tepi jalan.

“Ada apa?” gumamnya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sena berdiri, lalu melongokkan kepalanya guna mencari seseorang yang baru saja berteriak.

Sena sedikit menyipit setelah melihat dua orang sedang berebut sebuah benda. Sebuah tas. Pandangan gadis itu tertuju pada wanita yang bersusah payah mempertahankan tas miliknya. Sosok pria berbadan besar, berusaha keras mengambilnya dengan paksa. Seperti yang sudah diperkirakan, pria itu berhasil membawa kabur tas milik wanita itu. Lagi, Sena mendengar teriakan wanita itu meminta tolong.

Entah dorongan dari mana, Sena merasa tak tega membiarkan kejadian pencurian tas itu berjalan mulus. Dengan sengaja, Sena berdiri menghadang pria itu ketika berlari ke arahnya.

“Apa-apaaan kau?!” pria itu menggertakkan bibir. Matanya menyiratkan kemarahan yang besar.

“Kembalikan tas itu!” tanpa rasa takut, Sena mengedikkan dagunya ke arah wanita yang sudah berjalan lemas ke arah mereka.

“Ck, jangan menghalangiku, gadis tengik!” pria itu mencibir dengan matanya yang melotot.

Sena ikut melotot. “Kau mengataiku gadis tengik?!”

Pria itu menatap tajam, kemudian mendorong tubuh Sena agar menyingkir dari hadapannya. Dorongan keras pria itu sempat membuat keseimbangan tubuh Sena goyah, namun gadis itu tidak menyerah. Ia kembali berdiri tegak, sejurus kemudian memasang kuda-kuda di hadapan pria itu.

“Minggir!” pria itu berteriak keras sambil melayangkan pukulan ke arah Sena.

BUGH!

Tanpa diduga, Sena menangkis serangan pukulan yang ditujukan padanya. Sebaliknya, Sena justru berhasil melayangkan pukulannya—tepat mengenai ulu hati pria itu. Sontak saja pria itu terbatuk dan merintih kesakitan sembari memegangi perutnya. Tas rampasan di tangannya, dalam sekejap sudah berpindah ke tangan Sena.

Sena mengambil barang miliknya, kemudian mengerahkan langkah seribu, menghampiri wanita yang baru saja menjadi korban pencurian itu. Sejujurnya Sena takut jika tiba-tiba pria itu memberikan balasan. Berlari menghindarinya adalah jalan terbaik yang harus dipilih Sena.

“Hhh … hhh …” napas Sena terengah-engah. Gadis itu masih berdiri membungkuk dengan keringat yang mengucur di kepalanya. Ia melirik ke belakang. Dilihatnya pria itu sudah melarikan diri meski dengan langkah tertatih-tatih.

Agasshi, kau baik-baik saja?”

Sena mendongak. Ia lalu menegakkan posisi berdirinya sambil menyeka keringat di wajah. Untuk beberapa detik, Sena terkagum dengan penampilan wanita itu. Usianya sekitar 40an—begitulah tebakan Sena saat mengamati garis wajahnya. Namun wanita itu telihat awet muda dengan penampilannya yang anggun dan fashionable.

Agasshi?”

Sena merasa malu karena sudah memandangi wanita itu dalam waktu cukup lama. Terkesan tidak sopan. “Ah, maafkan saya,” ucapnya seraya membungkuk.

“Kau baik-baik saja?”

Sena mengangguk, “Saya baik-baik saja. Nyonya sendiri bagaimana?”

“Aduh, kau tidak perlu memanggilku seperti itu,” wanita itu tersipu, “Panggil saja ahjumma, dan bisakah untuk tidak terlalu formal?”

“Baiklah, a-ahjumma,” Sena merasa canggung. Ia bisa menebak jika wanita di depannya itu berasal dari kalangan berada. Terlihat jelas dari pakaian dan aksesoris yang ia kenakan. Bahkan tas yang sekarang dipegang Sena pun bisa dikatakan tas dari brand ternama.

“Ini. Aku berhasil merebutnya dari pria tadi,” Sena segera menyerahkan tas milik wanita itu.

“Woah, kau berhasil merebutnya? Bagaimana bisa?” tanya wanita itu. Sorot mata berbinar yang bercampur bingung itu membuat Sena mengulum senyum. “Bahkan supir pribadiku saja tidak berdaya melawannya.”

“Ngg … kebetulan aku pernah belajar hapkido. Walaupun hanya sedikit, tapi itu cukup menolongku jika terjebak dalam situasi seperti ini,” jawab Sena seadanya.

Lagi, Sena bisa melihat mata berbinar yang menyiratkan kekaguman wanita itu terhadap dirinya.

“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, ngg … maaf, siapa namamu?”

“Han Sena. Panggil saja aku Sena, ahjumma.”

Wanita itu kembali tersenyum. “Baiklah, Sena. Namaku Park Jihyun. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah menolongku. Sebagai gantinya, aku akan memberimu imbalan. Katakan apa yang kau inginkan?”

“Tidak usah, ahjumma. Aku tulus membantumu tanpa mengharapkan apa-apa,” tolak Sena secara halus.

“Tidak bisa begitu,” Ny. Jihyun mengerucutkan bibirnya. “Kau tahu, kau baru saja menyelamatkan benda yang sangat penting. Di dalam tas ini terdapat dokumen penting milik perusahaan yang dikelola suamiku. Kalau tadi kau tidak menolongku, aku tidak tahu bagaimana nasib perusahaan suamiku.”

Sena terdiam, pikirannya menerawang. Ia memandangi wanita itu dengan seksama.

“Ngomong-ngomong … apa kau berencana pergi?”

Sena tersadar dengan kondisinya sendiri yang tengah menenteng koper besar. Gadis itu menunduk. Tidak berani menatap Ny. Jihyun yang masih berusaha membujuknya untuk menerima imbalan. Mendadak ia teringat dengan kebutuhannya sekarang yang sangat mendesak. Apakah Ny. Jihyun akan mengabulkan permintaannya?

“Sebenarnya … saat ini aku membutuhkan tempat tinggal dan juga pekerjaan, ahjumma,” Sena menggigit bibir bawahnya. “Aku tidak bisa melunasi biaya sewa apartemen untuk bulan ini. Karena itu aku terpaksa meninggalkan apartemenku sebelumnya. Tapi sekarang, aku tidak tahu harus pergi ke mana dan besok aku sudah masuk kuliah.”

Ny. Jihyun merasa iba dengan “Benarkah?”

Sena mengangguk, “Maaf jika aku terkesan lancang. Apakah ahjumma bisa memberiku tempat untuk menginap? Hanya untuk malam ini saja, ahjumma. Setelah itu, aku akan pergi untuk mencari tempat tinggal baruku.”

Ny. Jihyun terdiam, berpikir keras untuk memecahkan masalah yang dialami Sena. Mendadak ia teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum lebar.

“Ah, begini saja!” Ny. Jihyun bertepuk semangat, “Sebelumnya, apa kau bisa melakukan pekerjaan rumah tangga?”

“Pekerjaan rumah tangga?”

“Ya, seperti memasak, membersihkan rumah. Semacam itu,” Ny. Jihyun memandangi wajah Sena lekat. Ia baru menyadari jika gadis di depannya itu memiliki paras yang cantik. Tidak seperti gadis kebanyakan yang sangat menyukai make up tebal. Gadis itu memoles wajahnya dengan make up tipis sehingga tampak natural.

“Aku biasa melakukannya, ahjumma. Sejak usiaku 10 tahun, aku sudah tinggal di panti asuhan dan biasa melakukan pekerjaan itu bersama teman-temanku,” jawab Sena tertawa kecil.

“Kau pernah tinggal di panti asuhan?”

Sena mengangguk. Perlahan pancaran matanya meredup, “Ya, sejak kecelakaan yang aku alami hingga merenggut nyawa orang tuaku.”

“Ah, maaf. Aku turut berduka cita atas apa yang menimpa orang tuamu,” Ny. Jihyun menggenggam tangan Sena. “Kau tahu, kau gadis yang sangat tangguh dan mandiri. Aku salut padamu.”

“Terima kasih, ahjumma,” ucap Sena senang.

“Nah, kita lanjutkan topik pembicaraan sebelumnya,” Ny. Jihyun tersenyum lebar, “Aku ingin kau bekerja sebagai pelayan di rumahku.”

“Pelayan?”

Ny. Jihyun mengangguk, “Kau bahkan bisa tinggal di sana selama bekerja sebagai pelayan. Bagaimana? Hanya ini yang bisa kuberikan padamu.”

Sadar atas kondisinya yang sedang terdesak, tak ada alasan bagi Sena untuk menolaknya.

//

Sangji Retzville, kawasan perumahan elit yang terletak di distrik Gangnam. Salah satu rumah mewah dihuni oleh putra bungsu dari pemilik Park Corp. Ia tak sendirian, masih ada kelima temannya yang sudah dianggap seperti saudara ikut menempati rumah tersebut.

Park Chanyeol, kini lelaki itu sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. Namun pandangannya tidak fokus ke layar televisi, melainkan ke layar ponsel. Sebuah pesan yang masuk membuat matanya nyaris tak berkedip.

“Ada apa, Yeol?”

Chanyeol menoleh. Raut datar masih mendominasi di wajahnya, hingga membuat laki-laki yang memiliki jari jemari lentik hanya menatapnya heran.

Belum sempat Chanyeol menjawab, ia justru dikejutkan dengan dering ponselnya. Tak ingin mengganggu aktivitas menonton kelima temannya, lelaki Park itu mengungsi sejenak ke ruang makan.

Yeoboseyo.”

Apa sekarang kau di rumah?

Suara itu terdengar sangat khas—suara ibunya.

Ne, eomma. Aku di rumah. Menonton televisi dengan yang lainnya,” jawab Chanyeol.

Ah, jadi kalian semua sedang di rumah sekarang? Bagus. Sebentar lagi eomma akan tiba di sana.”

“Memangnya eomma ada perlu apa?”

Eomma sudah mendapatkan seseorang yang akan menggantikan tugas Song-ahjumma untuk mengurus rumah. Kami sekarang dalam perjalanan ke sana sekarang.

“Maksud eomma seseorang yang akan bekerja sebagai pelayan di rumah kami?”

Ne. Oh iya, karena dia masih kuliah, dan saat ini tidak mempunyai tempat tinggal lantaran tak bisa melunasi biaya sewa apartemen sebelumnya, dia akan tinggal bersama kalian. Tidak masalah, ‘kan?

“Benarkah?” Chanyeol sedikit kaget mengetahui ada orang lain yang akan tinggal di rumahnya, selain kelima temannya. Tapi jika sang ibu sudah berkata demikian, Chanyeol tak bisa menolak..

“Emm … tidak masalah jika dia akan tinggal bersama kami. Lagipula, masih ada kamar kosong di sebelah kamarku. Dia bisa menggunakannya, eomma,” jawab Chanyeol. Sudut bibirnya tertarik saat mendengar teriakan senang dari ibunya.

Ne, eomma. Sampai bertemu nanti,” Chanyeol mengakhiri obrolan dengan ibunya, lalu kembali ke ruang tengah.

“Ibumu yang menelepon?”

Chanyeol mengangguki ucapan Baekhyun, lelaki yang sebelumnya bertanya lebih dulu namun belum sempat ia jawab.

“Ada apa, hyung? Apa terjadi sesuatu?” kali ini giliran Sehun, laki-laki termuda alias magnae di antara mereka.

“Ah, tidak terjadi apa-apa,” Chanyeol mengusap tengkuknya seraya meringis lebar.

“Lalu?”

“Kita akan kedatangan seseorang,” Chanyeol berjalan ke salah satu sofa. Kelima temannya masih menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian untuk saat ini.

“Seseorang? Siapa?”

Chanyeol melirik Luhan yang baru saja bertanya. Lelaki berdarah China itu tampak penasaran, bisa dilihat dari raut wajahnya yang sangat antusias. Berbeda dengan sepupunya—Kris, laki-laki yang memiliki tinggi badan lebih unggul dari Chanyeol. Obrolan mereka seolah tak menarik perhatiannya, sampai ia lebih memilih kembali menonton televisi. Tangannya menyambar remote yang sebelumnya berada di tangan Jongin.

“Dia akan tinggal dan bekerja sebagai pelayan di rumah ini,” lanjut Chanyeol.

“Benarkah? Apa dia seorang gadis?” tiba-tiba saja pancaran mata Jongin terlihat terang. Nalurinya sebagai cassanova sejati muncul, dan itu membuatnya tak sabar untuk segera melihat anggota baru di rumah mereka.

PLAK!

Sebuah pukulan ringan melayang di kepala Jongin.

“Ish, buang pikiran kotormu itu, Kim Jongin!” Baekhyun menggelengkan kepala, lalu tersenyum lebar karena melihat Jongin meringis kesakitan.

“Kau ini apa-apaan, hyung?” Jongin mendengus kesal, “Aku hanya bertanya pada Chanyeol-hyung, apakah dia seorang gadis.”

“Mungkin saja usianya tak jauh berbeda dari Song-ahjumma. Orang itu akan menggantikan tugas Song-ahjumma, ‘kan?”

Chanyeol mengangguki penuturan Luhan. “Tapi, sepertinya dia masih muda. Kata eomma, dia masih kuliah.”

“Benarkah?” semua orang terlihat takjub, semakin tidak sabar ingin segera menyambut seseorang yang tengah mereka bicarakan.

“Kalau pun memang masih muda, mungkin saja dia laki-laki,” celetuk Kris yang langsung membuatnya mendapat tatapan tajam dari seisi rumah. Dasar perusak suasana.

“Semoga saja dia seorang gadis,” ucap Jongin dan Sehun kompak. Dengan konyolnya mereka memejamkan mata, seraya merapalkan doa agar keinginan mereka terkabul. Tentu saja semua orang hanya tersenyum geli melihat kelakuan duo magnae itu.

//

Mobil mewah yang ditumpangi Sena bersama Ny. Jihyun mulai memasuki kawasan perumahan elit yang berada di distrik Gangnam. Sedari tadi mata Sena tak henti-hentinya memandang luar dari balik kaca jendela mobil. Gadis itu dibuat takjub dengan pemandangan di sepanjang jalan kawasan perumahan itu. Membayangkan ia akan tinggal di tempat yang dipenuhi kemewahan itu, Sena merasa dirinya baru saja memenangkan sebuah undian.

“Kita sudah sampai,” suara Ny. Jihyun membuyarkan lamunan Sena. Gadis itu turun dan mengambil kopernya yang diletakkan di bagasi.

“Hanya ini saja?” Ny. Jihyun melirik barang bawaan milik Sena.

“Masih ada beberapa yang aku titipkan di apartemen lamaku, ahjumma. Rencananya setelah mendapatkan tempat tinggal, aku akan mengambil barang-barangku di sana,” jawab Sena.

“Ah, begitu rupanya,” Ny. Jihyun memberi isyarat pada supir pribadinya untuk membantu membawakan barang Sena. Awalnya Sena menolak, namun kemudian menyerah lantaran dibujuk oleh Ny. Jihyun sendiri.

Pintu rumah mewah itu pun dibuka. Dengan perasaan gugup, Sena hanya memainkan jarinya ketika pemilik rumah tersebut keluar untuk menyambut kedatangan mereka.

Eomma sudah datang?”

Ny. Jihyun mengangguk, lalu melirik Sena yang tanpa ia tahu sedang menunduk. Tangannya mengusap punggung Sena sampai gadis itu mendongak. Ia memberi isyarat pada gadis itu untuk melihat ke arah putranya.

“Dia putraku, Park Chanyeol.”

Seketika bola mata Sena melebar. Layaknya gerakan slow motion, gadis itu melirik sosok laki-laki yang sudah berdiri di depan mereka. Selanjutnya hanya terlihat mulut Sena yang menganga lebar.

“Han Sena?” Chanyeol mengerutkan dahinya, lalu memandangi Sena lekat. Ia tak sadar jika sikapnya sudah membuat wajah Sena merona. “Kau mahasiswi penerima beasiswa itu, ‘kan?”

“Eh, kalian sudah saling mengenal?” Ny. Jihyun menatap keduanya dengan raut wajah kaget.

“Kami satu jurusan, meskipun berbeda kelas,” jawab Chanyeol seadanya. Sementara Sena yang masih mematung di sebelah Ny. Jihyun hanya memandang Chanyeol dengan kerutan di dahi. Ia tidak tahu jika Chanyeol mengenalinya, padahal mereka tak pernah berinteraksi.

Ah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Park Chanyeol. Pasti mudah mencari informasi tentang seseorang’—batin Sena.

“Jadi kau juga berkuliah di Seoul University?” Ny. Jihyun berteriak takjub, kembali membuyarkan lamunan Sena. “Tidak kusangka gadis pemberani sepertimu adalah mahasiswi di sana.”

“Gadis pemberani?”

Ny. Jihyun mengangguk, “Kau tahu, Sena baru saja menyelamatkan eomma, Yeol. Tadi eomma hampir saja kehilangan tas yang berisi dokumen penting perusahaan kita. Bagaimana jika tas ini sampai berhasil dicuri oleh pria kurang ajar itu?”

Chanyeol tidak menjawab. Ia pandangi gadis yang tengah menunduk itu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.

“Karena itulah, eomma ingin membalas kebaikannya dengan memberinya tempat tinggal dan pekerjaan. Dia bisa menggantikan pekerjaan Song-ahjumma, jadi kalian tidak perlu khawatir untuk mencari pelayan baru,” lanjut Ny. Jihyun.

Sena mengernyit, mencoba menyelami kata-kata yang disampaikan Ny. Jihyun pada Chanyeol. Kalian? Memangnya ada orang lain lagi selain Chanyeol?—batinnya bingung.

“Oh iya, eomma harus segera pulang ke rumah. Sampaikan salamku pada kelima temanmu ya?”

Chanyeol mengangguk, lalu membalas pelukan yang diberikan sang ibu.

“Sampai jumpa lagi, Sena. Semoga kau betah tinggal di sini,” ucap Ny. Jihyun memberi pelukan hangat untuk Sena. Ia senang bisa mengenal gadis seperti Sena. “Sekali lagi terima kasih.”

“Seharusnya aku yang berterima kasih, ahjumma,” Sena tersenyum, membuatnya terlihat sangat manis. Chanyeol bahkan tanpa sadar terpesona dengan senyuman Sena.

“Ah, satu lagi,” Ny. Jihyun berbalik sejenak, kemudian mengeluarkan tatapan mautnya. “Katakan pada mereka untuk tidak melakukan sesuatu pada Sena. Jika sampai terjadi apa-apa dengan gadis ini—”

“Ya ya ya, aku tahu maksud eomma,” Chanyeol menggaruk rambutnya, “Dia berada di bawah pengawasanku. Aku akan bertanggung jawab penuh atas keselamatannya. Eomma puas?”

Kerutan di dahi Sena semakin kentara. Gadis itu dibuat bingung oleh obrolan pasangan ibu dan anak di depannya itu. Sebelum masuk, Sena sempat memperhatikan mobil yang dinaiki Ny. Jihyun sampai tak terlihat lagi.

“Masuklah,” suara Chanyeol membuyarkan lamunan Sena. “Mereka sudah menunggumu.”

Mereka?

Sena semakin penasaran dan hanya berjalan mengekori Chanyeol. Lelaki itu membawanya ke ruang tengah. Perubahan tergambar jelas di wajah Sena, saat gadis itu melihat lima laki-laki yang berada di ruang tengah.

Chanyeol berdeham yang membuat semua orang menoleh kompak ke arahnya. Melihat arah tatapan Chanyeol, kelima orang itu langsung berdiri dari posisi mereka.

“OMO!”

“Apa dia yang akan tinggal bersama kita?”

“Yes! Doa kami terkabul! Dia seorang gadis!”

Semua teriakan itu sama sekali tak terdengar oleh Sena. Gadis itu terlalu asyik dengan pikirannya sendiri. Selain Chanyeol, rupanya ada penghuni lain di rumah itu. Dan mereka tergabung dalam kelompok mahasiswa populer di Seoul University.

.

“Byun Baekhyun.”

“Xi Luhan.”

“Kim Jongin.”

“Oh Sehun.”

Sena mengangguki salam perkenalan dari empat laki-laki selain Chanyeol. Lalu matanya berhenti pada sosok yang sedari tadi hanya diam. Laki-laki terakhir yang belum memperkenalkan namanya.

“Ish, hyung!” Baekhyun menyikut pelan lengan lelaki itu, yang hanya disambut decakan malas.

“Kris Wu.”

“Sa—salam kenal. Namaku Han Sena,” sebisa mungkin untuk bersikap tenang, nyatanya gadis itu tampak gugup. Bayangkan saja, di depan Sena sekarang ada 6 laki-laki yang berstatus sebagai mahasiswa populer di kampusnya—Seoul University. Seisi kampus memanggil mereka dengan julukan Prince, karena mereka terlihat seperti pangeran yang terdapat dalam negeri dongeng. Agak berlebihan memang, tapi fakta mengatakan demikian.

Tak hanya secara fisik yang mampu memikat banyak lawan jenis, latar belakang keluarga mereka pun turut menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka. Banyak para gadis yang ingin mendekati mereka, bahkan mempunyai impian agar bisa bersanding dengan para prince itu.

Sena mungkin menjadi satu-satunya gadis paling beruntung. Di saat para gadis berusaha keras menarik perhatian dari mereka, Sena justru mendapatkan jalan mudah untuk berinteraksi lebih dekat dengan mereka, ya walaupun dengan bekerja sebagai pelayan.

“Kalau tidak salah, kau satu jurusan dengan Chanyeol dan Baekhyun. Benar ‘kan?” tanya Luhan. “Aku pernah melihatmu sewaktu mengunjungi Chanyeol dan Baekhyun di gedung fakultas Ekonomi.”

“Kami berbeda kelas, hyung,” terdengar suara Baekhyun menyahut. “Tapi, kami satu angkatan.”

“Benarkah?”

Ne, sunbae,” Sena mengangguk pelan.

“Ah, jadi kami harus memanggilmu noona?”

Sehun mengerutkan dahinya, melirik Jongin yang masih asyik memamerkan senyuman lebarnya, “Kami?”

Jongin mendecak, “Tentu saja aku dan kau, bodoh.”

Selanjutnya hanya terdengar kekehan pelan dari Sehun. Tanpa sadar duo magnae itu sudah membuat Sena tersenyum.

“Sebentar lagi makan malam, apa kau tidak keberatan menyiapkannya untuk kami?”

Ne, tentu saja, sunbae. Memang sudah tugasku untuk melakukannya,” jawab Sena seraya mengangguk.

Luhan tertawa kecil melihat reaksi Sena, “Kau tidak perlu bersikap formal kepada kami. Panggil saja kami oppa.”

Jari Luhan menunjuk ke arah Kris. Keduanya adalah yang tertua di antara mereka.

“Kau juga bisa memanggil nama kami saja,” sambung Baekhyun. Tangannya mengarah pada Chanyeol, Jongin dan Sehun.

“Baiklah,” Sena kembali menunduk, kemudian menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Tak pernah ia bayangkan jika sekarang dirinya bisa berinteraksi dengan para prince. Ini berkah yang luar biasa. Bahkan mereka sama sekali tidak keberatan untuk bersikap non-formal.

“Sesi perkenalan sudah selesai. Kau bisa segera melakukan tugasmu,” Chanyeol berdiri dari sofa, kemudian tangannya meraih salah satu koper milik Sena. “Ayo kuantar ke kamarmu. Barang-barang ini harus kau letakkan di sana.”

Sena mengangguk, kemudian berjalan mengekori Chanyeol yang sudah melangkah menaiki tangga menuju lantai 2. Kelima temannya yang masih bertahan di ruang tengah hanya menatap keduanya dengan berbagai macam ekspresi.

//

Sena menatap takjub pada isi kamar yang diperlihatkan Chanyeol. Luas kamar yang lebih besar dari tempat tinggalnya dulu, ranjang berukuran king size, lemari pakaian yang juga dilengkapi meja rias. Di salah satu sudut terdapat meja yang bisa digunakan untuk meja belajar. Di dalamnya juga terdapat kamar mandi sendiri.

“Kau yakin ini kamarnya?” Sena menatap seisi kamar, “Apa tidak terlalu mewah?”

“Emm … sebenarnya ini tidak terlalu mewah, jika dibandingkan dengan kamar kami. Sayangnya, hanya kamar ini yang tersisa,” jawab Chanyeol.  “Kau tidak suka?”

Sena menggeleng cepat, merasa tidak enak dengan pertanyaan Chanyeol. “Bukan tidak suka. Aku hanya merasa tidak pantas. Di sini aku bekerja sebagai pelayan. Apa tidak ada kamar lain yang memang biasanya digunakan oleh pelayan? Misalnya saja kamar Song-ahjumma.”

“Ah, sepertinya ibuku belum memberitahumu semuanya,” Chanyeol tersenyum, membuat Sena mengernyit. “Song-ahjumma adalah kepala pelayan di rumah orang tuaku. Dia hanya datang ke sini seminggu sekali untuk memastikan keadaan rumah. Lalu, pelayan di rumah orang tuaku juga secara bergantian melakukan pekerjaan mereka di rumah ini.”

“Jadi, tidak ada kamar khusus pelayan?”

Chanyeol menggeleng, “Kami ingin hidup mandiri tanpa bergantung pada pelayan. Hanya saja, ibuku tetap memaksa dan aku menyetujuinya. Asalkan mereka tidak ikut tinggal bersama kami.”

“Tapi, sekarang aku ikut tinggal bersama kalian. Apa tidak masalah?”

“Kasusmu berbeda. Kata ibuku, kau tidak punya tempat tinggal,” Chanyeol mengusap tengkuknya. “Lagipula, kau sudah menolong ibuku. Jadi, kau pantas menerimanya.”

Bibir Sena melengkung sempurna. Lagi-lagi membuat wajah Chanyeol sedikit merona.

“Terima kasih,” ucap Sena tulus.

“Seharusnya aku yang berterima kasih. Kau sudah menolong ibuku, dan perusahaan ayahku,” balas Chanyeol terkekeh. Senyuman yang ia perlihatkan menambah kadar ketampanannya. Sena berusaha keras mengatur debaran jantungnya yang semakin tak terkendali.

“Selesai menaruh barangmu, kau bisa mulai menyiapkan makan malam,” Chanyeol mulai melangkah menjauhi kamar yang sekarang ditempati Sena. “Ah, ada lagi.”

Sena masih setia berdiri di depan pintu. Memandangi Chanyeol yang kembali berbalik ke arahnya.

“Semoga kau betah tinggal di sini, dan—” Chanyeol tersenyum, “—mungkin nanti kami akan sering merepotkanmu.”

Hawa panas mengitari wajah Sena. Gadis itu hanya menunduk, lalu mengangguk pelan dengan senyumnya yang kian mengembang. Sesekali ia masih mengawasi Chanyeol sampai batang hidung lelaki itu tak terlihat lagi.

Sena menyandarkan punggungnya di dinding kamar. Tangannya menyentuh dada, di mana pusat debaran jantungnya kian terasa. Gadis itu menutup mulutnya, kemudian memekik tanpa suara untuk meluapkan rasa senangnya.

//

Selesai menaruh barang di kamar, Sena segera menyiapkan makan malam. Gadis itu takjub saat melihat isi kulkas yang begitu lengkap dan tersusun rapi. Kondisi dapur pun dalam keadaan bersih dan rapi. Ia bisa menilai jika para prince itu menyukai kerapian dan kebersihan. Well, mungkin saja karena mereka sudah terbiasa demikian ketika sebelumnya masih tinggal di rumah masing-masing.

Tangan Sena meraih apron putih yang tersampir di salah satu sudut dapur. Ia pandangi sekali lagi isi kulkas. Sedikit bingung harus menyiapkan makan malam apa untuk para prince.

“Butuh bantuan?”

Sena mendongak. Ia mendapati lelaki dengan mata rusanya sudah berdiri di sebelah kulkas.

“Oh, sunb—maksudku, Luhan-oppa,” Sena meringis lebar. “Aku hanya bingung harus memasak apa. Aku tidak tahu makanan kesukaan kalian.”

“Masak saja apa yang kau bisa.”

“Masak yang aku bisa?” keraguan sedikit terlihat dari sorot matanya. “Meskipun bukan masakan mewah seperti yang biasa kalian makan?”

“Ya.” Luhan menahan tawanya saat melihat wajah polos Sena. Baru kali ini ia melihat gadis seperti Sena. Sangat berbeda dengan gadis kebanyakan yang selalu mengejar mereka. Dengan berbagai teriakan histeris dan perlakuan berlebihan yang sebenarnya membuat mereka kewalahan.

Sena berbeda. Luhan bisa melihatnya dari cara Sena memandangi mereka. Kekaguman terhadap mereka pasti ada. Hanya saja Sena masih bisa menahan diri, dan itu kelebihannya.

Luhan meraih apron lainnya yang bertengger manis di tempatnya. Sena sedikit bingung ketika Luhan mulai mengambil peralatan memasak dari lemari dapur.

Oppa, mau apa?”

“Tentu saja membantumu memasak,” jawab Luhan santai. Ia tidak sadar jika gadis di sebelahnya sedikit tersipu melihat tampilannya mengenakan apron. Sangat cocok.

“Eh? Tidak perlu, oppa. Aku bisa melakukannya sendiri, dan lagipula ini sudah tugasku,” tolak Sena dengan halus.

“Tidak apa-apa. Waktunya sangat mepet sebelum jam makan malam tiba. Aku tidak mau kau kesulitan mengerjakan sendiri,” Luhan kembali mengeluarkan senyumannya. “Lagipula, jika dikerjakan berdua akan lebih cepat selesai dan menghemat waktu.”

“Tapi, oppa—”

“Ssst … aku tidak mau mendengar penolakan,” Luhan sudah mengambil beberapa bahan makanan yang dikeluarkan Sena. “Kau tidak perlu khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa dengan dapur ini. Aku sudah biasa melakukan pekerjaan ini bersama Chanyeol.”

Sena terdiam sejenak, namun bola matanya yang melebar cukup menyiratkan bahwa dirinya amat terkejut mendengar pengakuan Luhan. “Chanyeol bisa memasak?”

Luhan mengangguk, “Sama sepertiku. Kami senang memasak karena hobi.” Ia menoleh, dan baru menyadari perubahan raut wajah Sena.

“Kenapa? Terdengar aneh ya?” Luhan menunduk malu.

Sena terkesiap lantas menggeleng pelan, “Sama sekali tidak, oppa. Aku justru kagum mendengarnya.”

“Kagum?”

Ne,” Sena menyunggingkan bibirnya. “Ini zaman modern. Semua pekerjaan bisa dilakukan siapa saja, tidak peduli itu laki-laki atau perempuan. Selain itu, tidak kusangka kalian yang berasal dari kalangan atas, sama-sama memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua. Hidup mandiri seperti ini dan sebisa mungkin mengurus semua kebutuhan dengan tangan sendiri. Aku sudah salah menilai kalian.”

Luhan memiringkan kepalanya, memperhatikan cengiran lebar di wajah Sena. “Salah menilai kami?”

“Kukira kalian hanya anak orang kaya yang sok dan manja,” tanpa sadar penuturan itu keluar begitu saja dari bibir Sena. Gadis itu sontak menutup mulutnya dengan tangan, lalu menatap Luhan dengan sorot mata bersalah.

Di luar dugaan, Sena justru mendengar tawa Luhan yang perlahan semakin keras. Gadis itu menatap lelaki itu tak percaya.

Aigo, kau sungguh gadis yang sangat lucu, Sena,” Luhan mengusap matanya yang sedikit berair. “Aku senang bisa mengenalmu.”

Sena membelalakkan matanya ketika tangan Luhan mengusap kepalanya. Sedikit terkejut, namun ia tak bisa berkomentar banyak setelah melihat Luhan masih setia memajang senyum terbaiknya. Gadis itu menghela napas, kemudian tertawa pelan bersama Luhan.

Tanpa disadari Sena dan Luhan, seseorang sedari tadi mengawasi keduanya dari belakang. Raut datar mendominasi wajah lelaki itu, namun terselip rasa iri melihat temannya itu begitu mudah akrab dengan Sena.

.

Sena sedang menata meja makan yang kini mulai dipenuhi peralatan makan beserta masakan buatannya. Ia mengulum senyum ke arah Luhan yang juga ikut membantu. Benar kata lelaki itu, pekerjaan memasak perdananya berlangsung lebih cepat karena dikerjakan berdua bersama Luhan.

“Woah, apa kalian berdua yang memasak ini semua?”

Sebuah suara mengalihkan perhatian Sena dan Luhan. Kelima laki-laki itu sudah berjalan memasuki ruang makan. Mereka mulai duduk di tempat masing-masing, sambil menunggu Sena dan Luhan selesai menata meja makan.

Hyung, kenapa tidak mengajakku memasak bersama?”

Luhan mengernyit, dipandanginya Jongin yang memasang wajah cemberut.

“Sejak kapan kau tertarik dengan urusan di dapur?” sindir Luhan.

“Sejak ada Sena-noona,” jawab Jongin polos. Ia meringis lebar ketika mendapat tatapan tajam dari segala penjuru. Dasar cassanova sejati!

Sena menunduk malu mendengarkan jawaban Jongin. Wajahnya merona, dan sungguh ia benar-benar gugup berada di sekitar mereka. Mungkin karena ini kali pertama baginya berinteraksi sedekat itu dengan para prince. Selama ini ia hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan. Mendengar informasi tentang kepopuleran mereka dari mulut ke mulut.

“Kau mau ke mana?”

Sena yang baru saja hendak melangkah keluar dari ruang makan, melirik Chanyeol yang ternyata sedang menatap ke arahnya.

“Aku harus membersihkan perlatan memasak di dapur,” jawab Sena.

“Nanti saja. Sekarang ikutlah makan bersama kami,” titah Chanyeol.

“Tapi, aku hanya bekerja sebagai pelayan di sini. Mana pantas aku makan malam bersama kalian,” jawab Sena seadanya.

Hening. Semua orang kini memandang Sena dengan raut wajah datar mereka.

“Ma—maaf. Aku tidak bermaksud—”

“Jangan berpikiran seperti itu, Sena.” Chanyeol memotong kalimat Sena. Ia tersenyum ke arahnya, lalu memandangi sekeliling. “Kau memang bekerja di sini sebagai pe—ah, kuperhalus saja. Membantu pekerjaan rumah tangga di sini. Kami sama sekali tidak berpikir untuk menganggapmu seperti pelayan pada umumnya. Lagipula, usia kita sama dan juga kita satu kampus. Kurasa akan lebih menyenangkan jika kita berinteraksi layaknya teman.”

“Aku setuju dengan pendapat Chanyeol,” Baekhyun ikut menyumbangkan pendapat. “Kau jangan pernah merasa sungkan kepada kami. Sebaliknya, justru kami yang nantinya akan selalu merepotkanmu. Selain itu, aku sudah bosan jika hanya makan berenam saja dengan mereka. Ruang makan akan lebih berwarna jika kau mau ikut bergabung dengan kami.”

“YA!”

Baekhyun terkekeh, kemudian mengulum senyum pada Sena. Gadis itu masih berdiri di posisinya, dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Sena terkesiap ketika Luhan tiba-tiba merangkul pundaknya, menuntun Sena untuk duduk di sebelah Kris. Semua orang menatap kesal ke arah Luhan. Lelaki itu hanya mengangkat bahu, lalu memberi isyarat ‘hanya kursi di sebelah Kris yang kosong’.

Dengan gugup Sena membetulkan posisi duduknya. Ia menoleh ke arah Kris yang sedari tadi lebih fokus dengan makanan. Sena mengawasi Kris yang mulai menyantap makanan—seolah mendahului mereka.

“Masakanmu enak. Aku suka.”

Mata Sena mengerjap lembut. Ia menatap tak percaya ke arah Kris yang kini tersenyum. Bahkan lelaki itu dengan santai mengambilkan lauk ke atas mangkuk nasi Sena.

“Makanlah.”

Ne, oppa. Terima kasih,” jawab Sena seraya menunduk.

“Apa?”

Suara datar Kris membuat Sena mendongak. Gadis itu terbelalak setelah mengetahui semua orang—kecuali Kris, menatapnya dengan beragam ekspresi. Tunggu, pandangan mereka bukan tertuju pada Sena, tapi Kris. Apa ada sesuatu yang salah?

Hyung, kau—mmpppphhhh!” kalimat Baekhyun terhenti ketika tangan Chanyeol membekap mulutnya.

Hyung, kau mencuri kesempat—mmphhhh!” nasib Jongin tak jauh berbeda dengan Baekhyun. Sehun melakukan hal serupa dengan Chanyeol.

Luhan terkikik geli melihat keempatdongsaeng-nya itu. Mereka masih saling melempar tatapan tajam satu sama lain. Luhan lalu beralih menatap kagum pada Kris yang tanpa diduga sedikit melunak terhadap Sena. Padahal sejak kedatangan Sena, Kris tak pernah memperlihatkan ketertarikannya pada gadis itu.

Dalam hati Luhan berpikir, sekarang suasana di rumah mereka akan terasa semakin menyenangkan, dan semua itu berkat kehadiran Sena.

//

Kamar yang ditempati Sena sudah diisi oleh barang-barang yang dibawa gadis itu. Memang belum semuanya, mengingat beberapa barang milik Sena masih dititipkan di apartemen lamanya.

Sena memandangi sekeliling kamar. Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah ia lupakan. Rasanya semua itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Oh, sebenarnya bukan mimpi Sena, melainkan mimpi gadis-gadis yang begitu menginginkan sosok para prince.

Suara dering ponsel yang berbunyi membuat gadis Han itu terkesiap kaget. Ia merogoh tas miliknya sampai mengeluarkan sebuah ponsel. Model ponsel Sena memang tidak sebagus seperti kebanyakan teman-teman kampusnya. Tapi untuk Sena, itu sudah cukup membantunya berkomunikasi dengan orang lain, apalagi jika ia membelinya dengan uang hasil keringatnya sendiri.

“Jinri?” Sena sedikit gugup saat nama sahabatnya di layar ponsel. Hwang Jinri.

Yeoboseyo.”

Sena, apa yang terjadi? Aku baru saja mendatangi apartemenmu, tapi kata mereka kau sudah pindah.

“Ngg … itu,” Sena menggigit bibir bawahnya. “ Aku tidak berhasil melunasi uang sewa bulan ini, jadi aku terpaksa pindah dari apartemen itu. Maaf, Jinri. Aku tidak memberitahumu sebelumnya”

Astaga! Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku, Sena?Aku bisa membantumu melunasi biaya sewanya.”

“Aku tidak mau merepotkanmu, Jinri. Kau sudah terlalu banyak membantuku,” ucap Sena lalu tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki teman seperti Jinri. Meski berasal dari kalangan atas, Jinri sama sekali tidak keberatan untuk menjalin pertemanan dengan Sena. Gadis Hwang itu justru sangat mengagumi Sena yang merupakan mahasiswi penerima beasiswa. Perlu diketahui, tidak sembarangan orang bisa menerima beasiswa di Seoul University. Hanya orang terpilih saja yang berhak menerimanya.

Terserahmu sajalah. Oh iya, lalu sekarang kau tinggal di mana? Jika belum mendapat tempat tinggal, kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu.”

“Ah, tidak perlu. Aku sudah mendapatkan tempat tinggal,” ucap Sena.

Benarkah? Di mana?

“Ngg … aku belum bisa memberitahumu sekarang,” suara Sena terdengar pelan. “Tapi, aku pasti nanti akan memberitahumu. Aku janji.”

Hhh … ya sudahlah. Semoga kau baik-baik saja dan nyaman dengan tempat tinggal barumu. Ingat, kau harus tetap memberitahuku di mana tempat tinggalmu sekarang. Mengerti?

Ne, eomma,” Sena bisa mendengar dengusan Jinri saat ia memanggilnya ‘eomma’. Sikap Jinri yang kelewat protektif terhadap Sena, kadang bagi gadis Han itu seperti mendapat perlindungan dari ibunya.

Sena memandangi layar ponselnya. Sekarang ia benar-benar merasa pusing di kepala, tidak bisa berpikir dengan jernih. Haruskah ia memberitahu Jinri bahwa dirinya tinggal bersama para prince? Meskipun ia percaya Jinri tak akan menyebarnya, Sena tetap khawatir jika nanti semua orang tahu bahwa dirinya tinggal dan bekerja di rumah Chanyeol sebagai pelayan.

Sudah pasti aku akan berakhir tragis di tangan penggemar mereka.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Halo, akhirnya bisa juga nyelesain part 1. Sebenarnya agak ragu sih, karena aku sedikit bingung nentuin alur pertamanya, hehe. Maaf kalau kurang memuaskan *bow*

Oh iya, di sini karakternya Chanyeol nggak sama seperti yang di EXO Next Door lho ya. Kalau di sana kan dia super dingin, dan yang di sini lebih dingin itu si Kris (dari dulu kan emang julukannya cool guy XD )

Karakter Baekhyun, Sehun sama Jongin juga nggak jauh beda sama yang di END, bisa dibilang 11/12 lah kekeke. Dan Luhan juga aku pikir cocok meranin karakter oppa yang super duper care.

Oke deh, sekian dulu untuk curcolnya. Terima kasih sudah membaca ❤

67 responses to “[Freelance] Beautiful Maid #1

  1. Wah cerita nya bagus dan menarik,bahasa nya juga rapi,seneng banget ama karakter** cast di ff ini
    Terutama sena dan para prince yg lucu
    Cepet di lanjut ya authornim udah penasaran banget ama part selanjutnya

  2. Aku suka thor sama alurnya!! Kmaren pas liat teasernya udh pgn baca langsung sebenernya tapi aku males klo baru ada teasernya doang.. Nanti malah jadi pnasaran makanya aku tunggu Chap.1 kluar dulu baru aku baca 😛 tapi ini bneran seru thor!! Aku tunggu next chapternya!! Fighting!!

  3. Omegat.. ffnya beda ya. biasanya kan klo maid, diperlakukan secara kasar 😦
    tpi di ff ini diceritakan dri sudut yg berbeda. and of course I like it. 😀
    always keep writing ne chingu.. 🙂
    fighting!!!
    salam kenal ^^

    • nggak tega sih kalo karakternya teraniaya hehe
      dan mungkin karena aku lebih suka yg bikin melting macam gini
      alhasil karakter ceweknya mendapat perlakuan istimewa XD

      eniwei, salam kenal 😉
      makasih ya ^^

  4. Wahh aku ngebayangin si sena itu moon gayoung hoho. Kyanya kris naksir sena deh eh gatau juga deng.ditunggu kelanjutannya kak~~~

  5. Seru satu gadis tinggal bersama enam pria tampan. Sudah terbayang akan merepotkan sena soalnya pasti akan terjadi persaingan hati. Pasti itu, sikap kris sepertinya memberikan clue lebih awal. Kira kira pada siapa ya sena menambatkan hatinya nanti.

  6. akhirny kluar jga…..critany mnrik bgt… ngakak pas sehun sma jongin mw debatin soal kris…hehe
    dtggu chapter slnjtny chingu..fighting!!!!!!! we lov u…

  7. Ff part 1 nya bagus, aku suka yhor.
    Jadi mengandai-andaikan kalo itu aku 😂😂😂 *ngarepbanget*
    Ditunggu next chapter thor

  8. aa~

    mau bngt di posisi sena wlaupun playan gwaenchanalah :v yg pnting serumah sma oppa oppa gnteng

    itu yg iri sma luhan kris ya? raut datar kn si ice prince bngt tuh

    semuany kykny tetrik sma sena ya kris aja trtarik sma dia aa~ bruntungnya~

    lnjt part 2nya ya

    keep writing & fighting thor!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s