[Freelance] That XX #1

badguy

THAT XX

(chapter 1)

 

-Also known as Bad Guy-

2015 ® HYERINKIM07

 

Title : That XX (chapter 1)

Author: Lynn Luhan (https://www.facebook.com/profile.php?id=100005401515108&fref=nf)

Editor: @Mrskim88_

Cast : Main Role = Park Hanmi (OC), Kim Jongin of EXO, Oh Sehun of EXO || Supporting Role = Luhan, Park Hyungshik of ZE:A, Do Kyungsoo, Lee Taemin, Kang Seungyoon of WINNER, Yook Sungjae of BTOB, Haruma Miura Actor, Luna F(X), Park Hyerin (OC) and other roles will you find inside story.

Genre: Romance, Psychologi, Dark, Angst

Rating : PG +17

Length : Multichapter
Disclaimer :  WARNING!! PG 17+!!

FF ini berisikan kekerasan, adegan diatas 17 tahun yang dijelaskan secara detail, dan beberapa hal yang tidak patut dicontoh lainnya.

FF ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjelekkan salah satu member EXO dan atau yang lainnya yang ada di dalam FF.

Dilarang mengcopy paste sebagian/seluruh isi tulisan di FF ini. Cukup sertakan link nya saja.

 

Inspired by Jay Park _ I Got You Back

“At any age, the human heart is open to him also an

open heart..” – Maria Edgeworth

2015 ® HYERINKIM07

Danyang-gun, Chungcheong- buk, South Korea. 17.05 KST.

 

”Tolong… Lep-as.. Lepasskan ini.. Aakhh!!” gadis ini menjerit kecil, kemudian menggigiti bibir bawahnya kuat, mencoba meredam lenguhan dan desahan menjijikkan yang bisa saja lolos dari bibirnya jika ia tak menahannya.

Ia memutar matanya, mengerjap cepat. Pandangannya kabur. Seluruh isi ruang kamar yang hampir setengahnya didominasi kaca berukuran 10×10 meter ini serasa berputar mengelilinginya. Tak ada satu objek pun yang terlihat jelas tertangkap matanya yang tak dapat membuka seluruhnya, bengkak akibat terlalu sering mengeluarkan air mata. Ia mencoba lepas dari penderitaan ini, tapi ia tak bisa melakukannya. Untuk sekedar berbaring dengan nyaman pun ia tak bisa.

Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tangan dan kakinya terikat di tiap-tiap sudut ranjang bertype king size itu kencang. Tangannya dibentangkan ke kiri dan kanan, membuat simpul mati yang sudah tentu tak akan bisa ia lepaskan sendirian. Sementara kedua kakinya sengaja diikat dengan posisi mengarah keatas, mengikatnya di tiap-tiap ujung tiang penyangga kelambu yang dibiarkan terbuka begitu saja.

Ia tak mengenakan sehelai pakaian pun di tubuhnya yang penuh lebam kebiruan dan bekas luka goresan di beberapa bagian. Gadis itu terus meronta memohon untuk dilepaskan. Kakinya menjejak tak beraturan, berharap sebuah vibrator berukuran cukup besar yang menancap di tubuhnya bisa terlepas. Tapi semua usahanya sia-sia. Benda nista itu bukannya terlepas, tapi malah semakin jauh melesak ke dalam tubuhnya.

Seseorang mengawasi gerak-gerik gadis itu. Pria berambut pirang sebahu yang merebahkan tubuhnya di sofa beludru besar berwarna cokelat itu menghisap rokok ditangannya pelan, tidak bereaksi sedikitpun mengingat gadis tadi masih mencoba memohon kepadanya untuk dilepaskan. Setidaknya, membiarkannya bebas dari benda pemuas sex itu barang sebentar.

Pria ini, Lee Taemin, menghela napasnya berat, kemudian mematikan rokoknya. Ia mengalihkan pandangannya yang semula melihat matahari yang hampir tenggelam lewat jendela besar di ruangan itu untuk kemudian menatap gadis cantik yang ada di ranjang pesakitannya tadi.

Taemin mengusap wajah penuh peluhnya kasar, matanya masih mengawasi gadis itu. “Berhentilah bergerak, Baby. Kau bisa tambah menderita nanti,” ujarnya lembut, suara rendah yang berat dan serak, sedikit mengingatkan gadis itu pada seseorang yang dirindukannya beberapa waktu ini.

Gadis itu menangis tanpa suara. Tidak banyak air mata yang mengalir di pipinya yang tirus. Taemin yang tahu gadis itu sedang menangis dalam diam kemudian menghampirinya. Dengan lembut duduk di samping tubuh polos gadis itu yang terlihat mengenaskan jika dilihat dari sudut manapun.

“Ssttt… Jangan menangis, Baby,” Taemin mengusap rambut panjang berantakan itu lembut, kemudian beralih menyeka air mata gadis itu. “Kau tidak akan semenderita ini jika kau bersamaku lebih dulu dan bukannya bersama bajingan itu,”

Gadis itu memberanikan diri menatap Taemin. “Tolong.. Kumohon.. Lepaskan..” pintanya seperti berbisik di telinga Taemin.

Taemin menyeringai puas. Ia menarik napas kuat-kuat sebelum menjawab permohonan gadis ini. Ia mendekatkan wajahnya tepat di samping wajah sang gadis, membisikkan sesuatu. “Apa kau pikir kekasihmu itu mau repot-repot datang kemari dan menyelamatkanmu, huh?” tanyanya seraya mengusap lembut bongkahan pipi gadis cantik itu yang mulai menirus itu dengan ibu jarinya.

Gadis itu tak bersuara. Ia menggigiti bibir bawahnya kuat ketika merasakan sesuatu yang tidak asing lagi hendak keluar dari tubuhnya. Taemin terkekeh pelan. “Rasanya sungguh nikmat bukan?” tanyanya lagi, kali ini mulai menciumi wajah penuh peluh gadis itu.

Gadis itu memalingkan wajahnya, menolak perlakuan Taemin. Bukan Taemin namanya jika ia tak melakukan praktek pemaksaan dan penahanan dalam kamusnya. Tanpa perlu meminta persetujuan, ia menahan kepala gadis itu, mengarahkannya agar menatap matanya yang setajam elang. “Diamlah.. Kau tidak perlu menyakiti dirimu. Aku janji ini akan lebih lembut dari yang tadi. Heum?”

Gadis itu menggeleng lemah, enggan mengikuti saran Taemin. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia benci dirinya yang sekarang. Yang tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi mahkotanya, harga dirinya. Seluruh persendiannya seakan lepas begitu Taemin menjulurkan tangan kanannya, menempatkannya di sela-sela paha gadis itu yang terangkat tinggi-tinggi. Pria itu mulai meraih benda yang dibenci gadis dihadapannya, memaju-mundurkan benda bernama vibrator itu cepat, yang memaksa gadis itu semakin kuat menahan diri agar tak mengeluarkan suara-suara menjijikkan dari bibirnya yang masih terasa pedih akibat ciuman paksa Taemin pagi tadi.

“Hentikan.. Ssh.. jeball..”

“Tidak sebelum kau meninggalkan bajingan itu. Dan tidak sebelum kau menyebut namaku saat kita sedang bercinta,” katanya seraya merangkak naik ke atas tubuh gadis itu, menempatkan tubuh bagian bawahnya tepat di ceruk leher sang gadis dengan posisi berjongkok.

Gadis itu mendelik. “Apa yang kau lakukan?!!” hardiknya sekuat tenaga mengeluarkan suaranya yang tercekat.

“Kau butuh sesuatu untuk kau minum, sayang..” jawab Taemin enteng seraya menahan kepala gadis itu dan memaksanya membuka mulut. Kemudian pria itu secepat kilat melesakkan batang kejantanannya yang sudah setengah menegang ke dalam sana.

Gadis itu memejamkan matanya erat. Tubuhnya bergetar hebat, menggelinjang tak karuan saat cairan kewanitaannya keluar dari dalam tubuhnya seiring gerakan menyodok Taemin di mulutnya yang jelas menimbulkan rasa sakit dan ngilu luar biasa. Rasanya sungguh lebih baik ia mati saja. Entah sudah keberapa puluh kalinya ia mencapai puncak kenikmatan ini dengam benda-benda tak lazim, maupun batang kejantanan Taemin sendiri. Apapun itu, ia berharap ini adalah kali terakhirnya disetubuhi Taemin. Untuk selanjutnya, ia ingin Tuhan mencabut nyawanya saja.

SLAK!!

PLOK!!

Suara gesekan itu menggema keseluruh isi kamar yang kosong. Taemin terus memaju mundurkan miliknya sambil mendesah hebat. Tangannya belum mau lepas dari kepala gadis itu. Gadis itu beberapa kali terlihat hampir memuntahkan isi perutnya saat cairan putih itu memenuhi rongga mulutnya, tapi gadis itu urung melakukannya karena Taemin belum juga melepaskan miliknya dari mulut gadis itu. hanya cairan kejantanan Taemin bercampur air liurnya saja yang memenuhi sekitaran bibir hingga turun ke pipi gadis itu.

Seseorang lain datang dari arah pintu masuk,  pria bernama Do Kyung Soo itu menghela napasnya kesal melihat Taemin memaksakan diri lagi menyiksa gadis itu. “Hentikan, bodoh!! Kau bisa membunuhnya,” desisnya tajam kemudian meletakkan kantung plastik bawaannya di meja dan berjalan kearah ranjang, melepaskan vibrator berwarna merah muda yang masih bergetar kencang itu dari tubuh sang gadis. Setidaknya penderitaan gadis itu berkurang satu. Tapi tetap saja, iblis ini belum mau mengakhiri aktivitas tak normalnya dari mulut gadis itu.

Taemin mendecakkan lidahnya kesal. “Aku baru saja memulainya, Soo,” keluhnya masih menggerakkan pinggulnya cepat, kali ini dengan gerakan memutar.

Kyungsoo tak menghiraukan keluhan Taemin. Ia menyuruh Taemin segera turun dan berhenti menyetubuhi gadis itu saat ia tak ada disana. Gadis itu sudah hampir pingsan, ia tak sanggup lagi menerima paksaan Taemin.

Taemin mengerang. “Kenapa berhenti, brengsek!!” teriaknya menarik rambut gadis itu agar mendongak dan menampar wajahnya keras. Amat keras hingga tubuhnya tersentak sekali kemudian pingsan. Taemin mengumpat. “Sial!” ujarnya seraya turun dari ranjang dengan terpaksa, mengurut batang kejantanannya yang masih setengah ereksi.

“Bocah itu belum kemari? Aku kira responnya akan cepat begitu tahu kekasihnya ada di tanganku,” Kyungsoo mengambil selembar selimut baru dari almari kecil di pojok ruangan dan menyelimuti gadis itu, entah karena merasa kasihan melihat keadaannya, atau karena ia jijik menatapnya.

Taemin berdehem. “Mungkin ia sudah punya incaran lain. Lagi pula, kau sudah mendapatkan gadis ini. Mau apalagi, huh?” tanyanya seraya menyambar handuk cokelat besar di sofa yang ia duduki tadi kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. “Aku mandi dulu.”

Kyungsoo hanya berdehem kemudian mengambil satu cup kopi yang tadi dibelinya di perjalanan, menyesapnya sedikit demi sedikit sambil menatap jauh ke perbukitan tempat matahari hampir tenggelam, dan menikmatinya.

Sudah sejak lama setelah ia memutuskan pindah ke Seoul dan meninggalkan rumah masa kecilnya ini. Ya. Rumah ini milik Kyungsoo. Sesekali ia kemari jika sedang ada urusan atau hanya sekedar mengenang masa lalunya yang menyakitkan. Seperti saat ini, hanya saja kali ini ia yang akan membuat masa lalu seseorang menjadi momok yang menakutkan bahkan hanya untuk sekedar diingat.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya setelah memastikan bahwa senja sudah menghilang di ufuk timur. Ia meletakkan cup kopinya dan berjalan pelan menghampiri gadis itu, mengusap wajah menyedihkannya lembut dengan satu tangannya yang masih jelas terlihat bekas luka entah karena apa yang ia biarkan begitu saja tanpa penanganan. Ia tidak mengatakan apapun dan hanya semakin lekat menatap gadis cantik yang tak berdaya di dihadapannya ini.

Sesaat kemudian ia menyeringai. Entah apa yang ada di pikiran Kyungsoo. Yang jelas, itu bukan sesuatu yang akan terdengar baik-baik saja melihat air mukanya yang tak tertebak. Ia melepaskan ikatan simpul mati yang melilit pergelangan kaki gadis itu, membebaskannya untuk kemudian ia pakaikan pakaian yang baru dibelinya tadi untuk menutupi tubuh gadis ini.

X X X

 

Korea University of Arts
Hwarang-ro, Seongbuk-gu, Seoul , 136-716, South Korea. 2015. 10.30 KST.

 

Awal musim semi di Korea. Kehidupan nyata bagi para pelajar, mahasiswa dan para pekerja yang kembali pada aktivitas normal dan menjemukan mereka seperti hari-hari sebelumnya. Meski kuntum bunga mulai bermekaran disisi kiri dan kanan jalan, tapi kenyataannya semua orang tampak acuh, tidak ada yang menikmati keindahan yang hanya terjadi setahun sekali itu. Mereka hanya melewatinya seolah itu hal yang biasa dan tak penting untuk diperhatikan.

Kehidupan masyarakat di Seoul yang sebenarnya bukan seperti yang sering kau lihat pada drama di televisi. Kebanyakan dari mereka tentu bukan orang yang bersedia bersantai-santai hanya untuk mengamati kuntum bunga atau dedaunan yang jatuh ke trotoar. Apalagi beramah-tamah pada orang asing yang sama sekali tidak mereka kenal, itu tidak akan terjadi. Individualis memang. Tapi, itulah kenyataannya.

Tapi sedikit pengecuali untuk gadis manis bersurai kecokelatan panjang ini, yang baru saja menjejakkan kakinya turun dari bus. Tidak ada yang spesial dari penampilan gadis itu. Ia bukan type gadis pesolek yang senang berpakaian sexy dan ber-makeup tebal seperti kebanyakan gadis sebayanya di luar sana, hanya jeans berwarna keabuan dan kemeja kotak-kotak berwarna biru tua bercampur muda yang melekat ditubuhnya yang tinggi semampai dan kurus itu. Walaupun begitu, tidak akan ada yang membantah jika seseorang me-label-i-nya sebagai gadis yang cantik. Meski hanya menggunakan pakaian casual, kecantikan gadis itu tak sedikitpun meredup karena ia memiliki kepribadian yang hangat. Senyumnya yang manis dan sifatnya yang periang menjadikan gadis itu mudah membaur dengan orang lain.

Ceria dan juga bersemangat. Dua dari sekian banyak penilaian yang kau lihat darinya pertama kali. Kecuali jika kau melihatnya saat dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia bisa berubah menjadi gadis yang dingin dan ketus. Dan ia adalah Park Hanmi.

“Eonnie, apa liburanmu berjalan lancar? Kudengar kau pergi ke Jepang bersama Sehun Oppa. Apa itu benar?” seorang gadis memaksakan diri mengalengkan lengannya pada Hanmi yang hanya tersenyum simpul mendapati dirinya dihadang sekumpulan gadis yang menyebut diri mereka HunHan shipper itu ketika ia baru saja memasuki gerbang Korea University of Art tempatnya menempuh pendidikan tiga tahun belakangan ini.

HunHan? Ah, baiklah, jadi Sehun adalah kekasih Hanmi. Dan nama HunHan diambil dari singkatan nama mereka, SeHun dan Hanmi. Sebuah nama fanbase yang mengikrarkan diri mereka sebagai adik tingkat yang mendukung hubungan kakak tingkat. Haha. Menggelikan memang, tapi Hanmi senang karena itu artinya banyak yang mendukung dan mendoakan hubungannya dengan kekasihnya yang sudah tentu memiliki banyak penggemar karena banyak faktor T yang ada di dirinya.

T untuk tampan, terpopuler, terpintar, terkeren dan ter-ter lainnya yang takkan cukup waktu jika ia menjelaskannya satu persatu.

Hanmi melipat kedua tangannya didada. “Tidak. Siapa yang bilang?” tanya Hanmi bingung, ada saja rumor yang berkembang begitu saja sejak ia menjalin hubungan dengan pria tampan bermarga Oh itu dua tahun yang lalu.

Mereka bertemu pertama kali saat sama-sama menjadi mahasiswa baru di kampus ini, 3 tahun yang lalu. Tapi saat itu perasaan saling menyukai di antara mereka belum terlalu menggebu seperti setelah mereka sering bertemu beberapa bulan kemudian, Sehun si tampan yang sempurna dan Hanmi si gadis periang yang beruntung. tentu saja itu sebutan yang di berikan oleh HunHan Shipper. Jarak yang tidak terlalu jauh bukan?, untuk bersanding dengan pria setampan dan sepintar Oh Sehun? Hanya saja mungkin penampilan fisik Hanmi yang kelewat sederhana yang membedakannya dengan Sehun yang notabene mau tak mau sudah dilabeli dengan harga “mahal” untuk wajah dan penampilannya yang terkesan Chaebol. Well, Sehun memang anak orang kaya. That’s true.

“Kau tahu kan, Eonnie,, banyak sekali mata-mata disekitarmu dan Oppa? Jadi jangan heran kalau kami tahu semuanya. Ayo mengaku saja dan beri kami beberapa foto. Aku akan mengunggahnya di blog,,” Minah, sang pemimpin kelompok mencoba merayu Hanmi.

Hanmi menggeleng cepat.”Tidak,” jawabnya singkat. “Aku bekerja paruh waktu di beberapa tempat, jadi bagaimana aku bisa pergi untuk berlibur? Jangan percaya gosip yang beredar, Okay?”

Minah nengerucutkan bibirnya kecewa. “Jadi itu hanya gosip??” ujarnya sambil menghela napas berat. “Tapi kalian baik-baik saja kan, Eonnie? Tidak putus?”

Hanmi terkekeh. “Tidak. Bagaimana dengan liburan kalian?” tanya Hanmi mengalihkan pembicaraan.

Baru saja Minah akan menjawab pertanyaan Hanmi, tapi pria pemeran utama dalam drama romantis yang baru beberapa saat yang lalu mereka bicarakan itu keburu datang dan memaksanya diam. Entah karena terpesona, atau karena tidak mau pria itu, Oh Sehun, tahu apa yang mereka bicarakan dengan Hanmi. Ia

dan kelompoknya tahu dari Hanmi jika Sehun tak begitu suka jika hubungannya diumbar ke publik.

“Ada apa ini?” Sehun memotong pembicaraan Hanmi dan sekumpulan HunHan shipper yang diketuai Minah itu dengan berdiri disamping Hanmi.

“Kau sudah datang?” sapa Hanmi dengan senyuman khasnya.

Sehun mengerutkan keningnya hingga kedua alis rapihnya hampir saja bertautan jika Hanmi tak menaruh telunjuknya tepat di bagian titik temu alisnya. “Ada apa dengan kata itu? Kau – sudah – datang?” eja Sehun dengan menaikkan satu alisnya sedikit.

Hanmi melirik kearah Minah dan teman-temannya yang asyik mengambil gambarnya dengan Sehun. Sehun menghela napasnya kesal kemudian menariknya menjauh dari sana. Hanmi tersenyum lalu melambaikan tangannya kearah Minah dan yang lainnya sebelum akhirnya mengikuti langkah lebar Sehun yang membawanya lebih dalam ke area kampus.

Ia tahu Sehun benci keramaian, ia tidak suka berlama-lama dikerumuni banyak gadis. Menurut pria itu, mereka (para penggemarnya) sangat berisik dan tidak penting. Mereka suka menguntit kemanapun oh sehun pergi dan membuatnya tidak nyaman. Apalagi jika mereka mulai bertanya tentang dirinya dan Hanmi. Bagi Sehun, hubungannya dengan Hanmi adalah privasi yang orang lain tak harus dan boleh tahu.

“Bisakah pelan-pelan saja. Kau menarik tanganku terlalu kuat, Tuan Oh,” sela Hanmi menepuk bahu kiri Sehun dengan tangannya yang lain saat dirasanya Sehun menariknya terlalu kuat. “Kita sudah cukup jauh.”

Sehun belum berniat menghentikan langkahnya. Ia sibuk memikirkan pertanyaan apa saja yang akan ia lontarkan untuk menghakimi gadis cantik yang mengurai senyumnya sepanjang jalan ini. Sehun baru berhenti saat mereka sudah sampai di lorong kecil tepat dibelakang ruang musik.

“Kau tidak bilang akan masuk hari ini setelah berminggu-minggu menghilang dari penglihatanku. Kau sengaja tidak beritahu aku tentang hal ini?” dengan kesal Sehun menyerang Hanmi dengan sangkaan-sangkaan tak berdasarnya. “Aku kira kau tidak punya jadwal perkuliahan hari senin. Apa aku salah melihat jadwalnya? Atau kau sengaja merubahnya?”

Hanmi terkekeh. Ia tidak menyangka reaksi Sehun semenderita ini mengingat ia memang sengaja tidak menghiraukan Sehun sejak kemarin dan rencananya hari ini ia akan mengejutkan Sehun dengan datang ke kampus setelah liburan musim dingin usai. Tapi pria tampan dengan dagu super lancipnya itu keburu marah-marah dan menuduhnya macam-macam.

“Aku mendaftar kelas mrs. Lee hari ini,” jawab Hanmi santai sambil memainkan kancing kemeja Sehun, memaksa namja itu untuk sedikit menjauhkan tubuhnya agar tak terpancing rayuan Hanmi yang sudah pasti membuatnya lupa ia punya urusan lain selain melepas rindu dengan gadis nakal ini.

Sehun berkacak pinggang, menuntut penjelasan. “Lalu? Apa itu sebuah alasan? Jawaban? Atau pembelaan diri?” Sehun tak mau mengalah, masih ingin mencecar Hanmi-nya dengan banyak pertanyaan yang melilit otaknya layaknya benang kusut.

Hanmi tersenyum kecil, menyentil pelan dagu Sehun gemas. “Karena kekasihku yang tampan ini ada jadwal perkuliahan hari ini jadi aku putuskan untuk datang,” kata Hanmi dengan nada bicaranya yang khas. Suara cempreng serak dengan sedikit bumbu lengkingan. “tadinya aku berniat ingin memberikannya kejutan. Tapi sepertinya ia sudah lebih dulu salah paham dan malah menuduhku macam-macam,” lanjutnya dengan nada bicara seolah kecewa dan terluka melihat Sehun memarahinya beberapa detik yang lalu.

Sehun mendengus. “Itu bukan kejutan dan itu tidak lucu, Hanmi-ya. Kau tidak tahu betapa rindunya aku padamu, dan lagi, kau seenaknya tidak menghubungiku sejak kemarin. Sekarang? Kau tiba-tiba muncul tanpa memberitahuku. Kau tahu, sejak kemarin aku terus memandangi ponsel menunggu balasan pesan atau teleponmu sampai mataku sakit. Aku bahkan tidak menyentuh makananku sedikitpun karena kau. Oh ya ampun.. Betapa jahatnya kau..”

Hanmi menahan senyumnya yang tertahan, menutupi bibirnya yang selalu berkedut saat menahan tawa. “Maaf.. Aku kan, tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin memberimu kejutan. Sebenarnya aku melihatmu di ujung gang pagi tadi, tapi aku sengaja mengambil jalan memutar untuk sampai kemari.”

Sehun berkacak pinggang, memasang ekspresi datar andalannya, semakin kesal karena lagi-lagi Hanmi mengujinya.

“Jadi gadisku ini sudah mulai berani mempermainkanku sekarang, hum?”

Hanmi terkekeh, tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak tertawa melihat ekspresi marah Sehun kali ini yang malah terlihat sangat lucu baginya.

“Kenapa tertawa? Menurutmu ini lucu, eoh?” tanyanya kesal.

Hanmi memasang aegyonya, sesekali menyentuh lengan Sehun yang terbalut kemeja berwarna senada dengan yang dikenakannya, kotak-kotak dengan kombinasi warna biru dan putih itu dengan ujung jari telunjuknya, tidak mau berhenti menggoda Sehun yang kini mulai terhanyut gurauannya.

“Selalu ada hukuman untuk orang yang bersalah. Kau tahu itu, kan?”

Hanmi memutar matanya malas, pura-pura kesal. “Hari ini Park Hanmi sedang tidak ingin di hukum. Simpan hukumannya untuk besok, bagaimana?”

Sehun mengangkat tangannya, mengibaskannya di depan Hanmi yang mengerucutkan bibirnya lucu. “Tidak bisa, Nona,” balas Sehun cepat. “Kemari! Ku beritahu hukuman apa yang pantas untuk gadis nakal dan jahil sepertimu.”

Hanmi tersenyum kecil lalu mendekatkan wajahnya, mensejajarkan letak telinganya dengan bibir merah Sehun. Begitu Hanmi mendekat, Sehun meraih kepala Hanmi dan memutarnya kearahnya, memaksa Hanmi mensejajarkan wajah mereka. Bisa ditebak. Wajah Hanmi sukses memerah sekarang. Sehun tersenyum puas melihatnya.

“Hun-ah.. Apa yang kau lakukan?” panik Hanmi begitu Sehun memundurkan langkah Hanmi hingga membawa mereka berdua lebih jauh ke lorong sepi dibelakang ruang musik yang tak terpakai. “Hun-ah..” lirih Hanmi dengan nada suara yang bergetar.

“Sssttt,,” Sehun menyuruh Hanmi diam, lalu meletakkan telunjuknya di bibir gadis itu.

Sesaat kemudian, Sehun mengganti telunjuknya yang masih menempel di bibir Hanmi dengan bibirnya sendiri, mengecup bibir kemerahan itu cepat, tangannya masih menahan kepala Hanmi agar tidak banyak bergerak. Hanmi yang awalnya sedikit terkejut kemudian berangsur tenang, mengikuti permainan yang Sehun sebut ‘hukuman’ ini dengan perasaan membuncah di dadanya. Ia ikut menutup kedua matanya begitu Sehun menutup mata serta memperdalam ciuman lembut itu dengan meraih pinggang rampingnya, menuntut Hanmi berjinjit dan membuka mulutnya agar Sehun punya akses lebih luas lagi untuk “menjelajah”.

Segala sesuatu didalam dirinya seakan lepas begitu saja saat bibir lembut Oh Sehun melekat sempurna dibibirnya, menjelajahi tiap sudut bibirnya, mengabsen satu persatu gigi putihnya yang rapih, menautkan lidahnya cepat pada lidah gadis itu. Bagaimana ia menjelaskannya jika rasa manis dan basah itu selalu menguasai ketika Oh Sehun menariknya lebih jauh, menahan tengkuknya dengan telapak tangan sedingin esnya agar bisa mengimbangi permainan pria tampan ini.

Hanmi bersyukur ia tidak lupa bernapas lagi kali ini. Biasanya Sehun harus menghentikan ciumannya sejenak untuk mengingatkannya bernapas. Dan kali ini tidak. Hanmi melenguh kecil tatkala sesuatu yang aneh dan menggelitik di dalam dirinya menginginkan lebih dari sekedar ciuman itu kepada Sehun. Ia menahannya sekuat mungkin, tidak ingin ‘hukuman’ ini menjadi keluar dari zona aman dan melewati batas. Ia masih harus menjaga dirinya dan Sehun sampai pria itu memilikinya secara utuh nanti. Ya, tentu saja nanti, jika mereka ditakdirkan bersama sampai ke jenjang pernikahan.

“Eeunghhh,” lenguh Hanmi kecil tatkala Sehun menarik lidahnya dari aktivitas lumatan pria itu pada lidah hanmi. Gadis itu sedikit kecewa ketika Sehun perlahan melepaskan tautan bibirnya, tapi ia menutupi rasa kecewanya dengan melempar senyum manis pada Sehun yang malah terkekeh kecil menatapnya. Hanmi menunduk, membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan sekaligus menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karena perlakuan Sehun padanya beberapa detik yang lalu itu.

“Masih mau menunda hukumanmu sampai besok pagi?” Sehun menggoda Hanmi yang menyembunyikan wajahnya dibalik rambut panjang yang sengaja gadis itu uraikan ke bawah demi menutupi rasa malu bercampur tersipunya. “Cherry, eoh? Aku suka yang ini,” goda Sehun menyinggung lipgloss transparan dengan rasa cherry yang gadisnya kenakan seraya mengusap pipi Hanmi lembut dengan ibu jarinya, terlampau lembut hingga membuat Hanmi bisa saja limbung dan jatuh pingsan jika ia tidak ingat harus tetap terjaga karena kelas mrs. Lee akan dimulai sebentar lagi.

Hanmi mengerucutkan bibirnya lucu. “Boleh aku memintanya lagi nanti?” tanyanya cepat lalu buru- buru menutup bibirnya dengan kedua tangan dan berbalik, berlari kecil meninggalkan Sehun yang mengusap sisa air liurnya dan Hanmi di sekitar bibirnya.

“Aku takut itu membengkak kalau aku melakukannya lagi nanti, Hanmi-ya..” Sehun sedikit berlari mengejar Hanmi yang sesekali menoleh menatapnya dengan surai pangjangnya yang terurai ke segala arah. “Jangan berlari nanti kau terjatuh, baby!”

Hanmi bukannya berhenti untuk menoleh tapi malah semakin cepat berlari meninggalkan Sehun yang malah memperlambat langkah kakinya. “yak, Aku lelah, baby. Berhentilah dan jalan bersamaku,” panggil Sehun sedikit keras namun hanya dibalas senyuman manis Hanmi yang menghilang di balik dinding ruang kesehatan.

Ia selalu suka saat-saat seperti ini. Tingkah lucu dan menggemaskan Hanmi selalu bisa membuatnya melupakan sejenak semua masalah maupun beban pikiran yang mengganggunya. Ia bersyukur memiliki Hanmi dihidupnya. Ia sangat mencintai Hammi. Sangat mencintainya.

X X X

Seorang pria baru saja melewati gerbang kampus. Langkahnya tegap dan mantap. Ia tidak mengenakan pakaian yang berbelit di tubuhnya yang nampak atletis dengan kulit berwarna kecokelatan yang mencolok. Hanya celana jeans hitam, kemeja polos berwarna biru gelap dengan rambur kecokelatannya yang ditata acak menyamping.

“Bukankah itu Kai?? Iya benar,, itu Kai. Ia sudah pulang dari New York?” seorang gadis menunjuk kearah pria tadi, disusul dengan bisikan beberapa gadis lainnya yang berada di sekitar sana.

“Aku tidak tahu Jongin setampan itu sekarang. Haruskah aku memutuskan Eunhyuk?”

“Apa dia akan memulai S2-nya disini? Dia memenangkan banyak kompetisi dance di New York, kenapa dia memilih kembali ke Seoul?”

“Apa aku perlu merubah bentuk hidung dan melebarkan dahiku lagi untuk menariknya (perhatian)?”

Pria itu, Kim Jongin, memilih untuk berlalu dan meninggalkan mereka yang mulai saling bergosip. Memang benar ia pernah mengenyam perkuliahan selama satu tahun di kampus ini. Tapi kemudian ia berhenti dan memutuskan pergi ke New York untuk mendalami tari di Broadway Dance Center sampai ia kembali dengan mengantongi banyak penghargaan dari hasilnya melancong ke negeri Paman Sam itu tiga tahun yang lalu.

Ia sudah banyak dikenal orang. Entah dari banyaknya video official maupun fancam yang beredar luas di dunia maya, atau dari mulut ke mulut orang yang mengenalnya atau tahu tentangnya. Cukup menuliskan nama Kai Kim di situs pencarian Naver dan kau akan menemukan banyak informasi tentang pria berkharisma ini disana. Ia tak perlu repot-repot menjalani trainee bertahun-tahun untuk menjadi seorang idol. Tanpa itu pun ia kini seorang yang sudah banyak dikenal, khususnya para anak muda yang menggilai musik dan dance.

Tapi itu semua tidak penting baginya. Popularitas hanyalah pemanis, bonus untuknya yang menggilai dunia musik dan dance. Ada yang lebih penting dari sekedar menikmati gemerlap lampu sorot di stage atau teriakan kencang dan bersahutan para penggemarnya, atau lebih nyaman ia sebut penikmat seninya.

Menjawab salah satu pertanyaan gadis tadi, kenapa ia memilih kembali ke Seoul, tentu ia punya alasan tersendiri. Ada sesuatu yang harus ia ambil. Ah, bukan! Tapi sesuatu yang memang seharusnya kembali ke tangannya.

Jongin menyeringai kecil, lalu memasang earphone ditelinganya, berjalan santai kearah ruang practice dance yang dulu paling sering ia kunjungi, hampir setiap hari, menemui beberapa kawan lama yang sudah lebih dulu mengajaknya bermain.

Bichnaneun geotdeuleun manha
Geu ane jinjjareul bwabwa
Call me baby Call me baby
Call me baby Call me baby
Myeoch beonirado Call me girl

Seungyoon merebahkan tubuh menjulangnya di lantai ruang dance, mengulurkan sebotol air mineral disampingnya pada Jongin yang masi duduk menyandarkan tubuhnya di dinding yang berbalut kaca.

“Kau benar. Ada hasilnya kau memutuskan pindah dan kembali dengan banyak label (penghargaan) dibahumu. Apa kau baik-baik saja selama disana?” tanya Seungyoon pada Jongin seraya mengatur napasnya yang masih tak beraturan, kehabisan tenaga mengimbangi performa Jongin yang kelewat maksimal mengingat ini hanya untuk bersenang-senang.

Jongin tersenyum, menampakkan gigi putih sempurnanya kearah Seungyoon sambil meneguk air mineral ditangannya.
“Pasti banyak wanita sexy disana, kan, Hyeong? Makanya kau betah sekali tinggal disana tanpa sehari pun menjenguk kami disini,” sang magnae bersuara emas, Yook Sungjae menginterupsi yang langsung dilempari handuk basah oleh Haru, satu-satunya orang Jepang yang nyasar ke komplotan penggila dance ini di sini.

“Kau ini, masih kecil sudah berani bicara soal wanita,” desis Haru yang hanya dibalas kekehan kecil Sungjae.

Jongin mau tak mau ikut terkekeh melihat tingkah Sungjae dan Haru yang selalu saja bertengkar, tidak berubah, masih sama. “Dimana Bobby?” tanya Jongin.
Seungyoon menutupi wajahnya dengan handuk kecil yang ia sampirkan di bahu tadi. “Ia bilang ia dapat tawaran bergabung dengan salah satu agency besar. Entahlah mungkin ia ada disana untuk audisi,” kata Seungyoon yang dibenarkan Haru dan Sungjae yang masih sibuk saling menggelitik satu sama lain, kekanakan sekali.

Jongin mengangguk kemudian berdiri. Haru bertanya mau kemana Jongin buru-buru pergi. Jongin hanya menunjuk perutnya yang keroncongan dengan ekspresi lucu yang dibuat-buat. Sungjae mengernyit. “Hentikan, Hyeong,, jangan mencoba ber-aegyo, kau membuatku mual,” keluhnya.

Jongin hanya tertawa kemudian berbalik pergi seraya melambaikan tangannya. “Aku hubungi kalian nanti,” ujarnya sebelum membuka pintu keluar dan pergi.

“Apa Hyeong tidak berpikir merubah bentuk hidungnya yang mancung ke dalam itu? Benar, dia memang sudah tampan seperti itu. Tapi apa tidak sebaiknya..”

“Sungjae diamlah, aku sedang mencoba tidur sekarang,” Seungyoon melempar botol bekas air mineralnya kearah Sungjae. Sungjae menangkapnya dan langsung menembakkannya ke tempat sampah yang ada di pojok ruangan dan masuk.

“Aku memang jenius,” gumamnya.

“Hei!!”

“Aku dengar, Hyeong, iya. Aku diam,” lirihnya seraya meringkukkan tubuhnya di samping Seungyoon, menggunakan lengan kekar Seungyoon sebagai bantalan kepalanya.

X X X

Hanmi pergi ke kantin dan memesan makan siang untuknya dan Sehun begitu ia keluar dari kelasnya. Gadis itu duduk manis di salah satu bangku yang terletak paling ujung dari kantin berukuran cukup besar, seraya mengaduk isi saladnya di piring dengan malas, menunggu Sehun menyelesaikan kelasnya.

Jongin yang juga baru datang -atau memang sudah datang sejak tadi tapi belum menemukan tempat duduk?- kemudian berjalan santai menghampiri meja Hanmi. Beberapa orang memperhatikannya, mencoba mengosongkan tempat duduk di samping mereka untuk Jongin duduk. Tapi pria itu melewatinya begitu saja, menoleh pun tidak.

“Boleh aku duduk disini?” tanya Jongin sesaat setelah ia sampai di tempatnya berpijak, berdiri tepat di belakang kursi meja makan di depan Hanmi.

Hanmi tidak menjawab. Atau mungkin belum karena ia tak memperhatikan (tidak mendengar Jongin berbicara padanya) dan menyadari kehadiran Jongin yang tiba-tiba. Ia malah sibuk menyingkirkan potongan-potongan mentimun yang tercampur dengan beberapa jenis sayur dan buah yang tergabung dalam ‘menu makan siang vegetarian’nya itu dengan serius.

Tentu ia bukan vegetarian dalam artian sebenarnya. Ia hanya sedang berusaha menurunkan bobot tubuhnya yang kemarin melonjak naik karena beberapa hari terakhir masa liburan menyantap banyak daging dan makanan berkarbohidrat tinggi tak terkendali. Lagi, ia sedang malas pergi ke gym atau untuk sekedar jogging di pagi dan sore hari seperti yang biasanya ia lakukan setiap harinya.

Satu lagi yang semakin membuat hari ini tidak masuk daftar hari favoritnya selain kelas pertamanya tadi yang menyebalkan. Ada banyak mentimun di piringnya. Ia tak suka mentimun. Ia membenci jenis sayuran satu ini, entah karena apa, tapi ia sungguh tak ingin memakannya, melihatnya pun ia tidak mau. Kecuali jika terpaksa atau dipaksa, itu pun ia akan menutup matanya, atau menjepit hidungnya dengan jepitan untuk menjemur pakaian karena mual.

Jongin menghela napasnya, mencoba sekali lagi bertanya pada Hanmi. Ia tidak biasa diacuhkan, apalagi oleh wanita. Sesuatu di dalam dirinya hampir saja mencuat keluar jika saja ia tak ingat siapa gadis berparas dewi yang duduk di hadapannya ini. Ia bisa saja langsung duduk di sini, tapi ia pikir ia harus melakukannya. Yeah, setidaknya ini adalah salah satu caranya menarik perhatian Hanmi.

“Maaf apa aku boleh duduk disini?” tanyanya lagi, kali ini sambil sedikit membungkukkan badannya, melihat Hanmi dari jarak yang lebih dekat. “Nona..” panggilnya dengan suara yang lebih keras.

“Hoh!” Hanmi terlonjak kaget begitu bayangan wajah Jongin muncul jelas di piringnya, ia bahkan tak sadar sudah berdiri dengan satu tangannya memegangi garpu yang masih tertancap sepotong mentimun berlumuran mayonaise. “Ah,, maaf.. Aku.. Aku hanya.. terkejut,” lanjutnya sambil menurunkan acungan mentimunnya cepat.

Jongin mengembalikan posisi tubuhnya, masih memegangi nampan berisi air mineral dan nasi ayamnya. Menahan senyum yang hampir tercetak di bibirnya yang tebal ketika melihat reaksi lucu Hanmi saat terkejut. “Aku yang mengejutkanmu. Aku yang minta maaf. Apa kursi ini kosong?” tanyanya memaksa Hanmi menatap kursi didepannya yang masih menempel disisi meja.

Hanmi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mungkin masih terkejut dan gugup, atau ia sedang mencari alasan termasuk akal untuk menolak Jongin?

Jongin menyimpan seringaiannya kali ini, ia menahan diri untuk tidak menerapkan metode ‘pemaksaan’ yang biasa ia lakukan pada orang lain itu untuk menghadapi Hanmi.

“A.. Sebenarnya..”

“Ya?” Jongin meyakinkan, mulai tidak sabar. “Aku tidak menerima penolakan,” ujarnya dalam hati.

Hanmi meneguk liurnya sulit. Ia sih, tidak masalah jika harus berbagi meja dengan Jongin. Hanya saja, ia ingat Sehun sebentar lagi datang dan sudah pasti akan semeja dengannya. Ia tidak tahu apa Sehun akan mengijinkannya berbagi atau tidak mengingat kekasihnya itu tidak suka ada orang lain yang mengganngu mereka saat sedang berdua. Tunggu! Mengganggu? Sepertinya pria ini tidak bermaksud begitu, pikir Hanmi.

“Sepertinya kau harus mencari tempat duduk yang lain,” suara seorang pria yang tak kalah rendah dan datar dari Jongin menginterupsi, datang dari arah belakang Hanmi.

Tanpa menunggu lebih lama, pria itu, Oh Sehun, menjatuhkan pelan tubuh Hanmi kembali ke kursinya. Tak peduli Jongin yang melihat kedatangannya dengan pandangan tidak suka, ia menggeser kursi disamping Hanmi dan duduk disana dengan santainya, sedikit menggebrakkan tasnya ke meja hingga menimbulkan berbagai reaksi tak tertebak dari orang-orang yang berada di sekitar mereka. “Ia bersamaku,” lanjutnya, kali ini menatap Jongin dengan tatapan seolah menunjukkan sesuatu seperti ‘gadis ini milikku!’, atau, ‘enyahlah dari sini!’.

Hanmi menoleh kearah Sehun, lalu menyentuh tangan Sehun yang menggantung disisi tubuhnya. “Hun,” panggil Hanmi pelan, meremas tangan Sehun yang entah karena apa mendadak berubah sedingin es.

Jongin memutar matanya, melihat ke sekeliling. “Tidak ada tempat kosong. Lagipula Nona ini juga tidak akan keberatan jika berbagi meja denganku. Bukankah begitu, Nona?” tanya Jongin datar yang hanya dibalas anggukan kepala Hanmi meski ragu-ragu.

“Tapi aku tidak berpikir begitu.” Hanmi semakin menekankan remasan tangannya pada tangan Sehun di bawah meja, tak ingin percakapan aneh ini terus terjadi dengan posisi Jongin masih berdiri memegangi nampan di
tangannya sementara ia dan Sehun sudah duduk manis di kursi. Rasa-rasanya ia seperti sedang menginterogasi seseorang sekarang.

“Duduklah,” Hanmi menengahi. Perasaannya mendadak tidak enak begitu melihat lebih dalam ke iris mata kecokelatan Sehun yang perlahan tercetak jelas gurat-gurat kemerahan di permukaannya yang putih. “Kita bisa berbagi meja. Kau benar. Tidak ada meja kosong,” jelasnya lagi bahkan menggeser kotak tissue di hadapannya agar Jongin bisa menempatkan nampannya disana.

Jongin berterima kasih pada Hanmi dan menggeser kursi itu ke belakang untuk ia duduki. Sekali lagi, melempar seringaian mematikan kearah Sehun yang masih menatapnya tajam.

“Sehun-ah, makanlah,” Hanmi meraih paksa dagu Sehun agar menatapnya dan menyuapinya sesendok sup jamur yang ada di nampan Sehun, mengalihkan perhatian prianya itu. “Kau sudah selesai? Setelah ini kita pulang?”

Sehun tersenyum kecil lalu mengusap bongkahan pipi bersemburat kemerahan milik Hanmi itu dengan ibu jarinya lembut. “Hmm.. Aku sudah selesai,” balasnya. “Kenapa menyisihkan itu?” tanyanya pada Hanmi yang kini memindahkan potongan mentimun dari piringnya ke piring Sehun. “Tidak mau?”

“Kau tahu aku tidak suka mentimun, Hun. Jangan paksa aku memakannya.”

Sehun terkekeh pelan lalu membantu Hanmi memindahkan potongan itu ke piringnya sambil sesekali masih mengawasi Jongin yang terlihat acuh menyantap makan siangnya tanpa suara.

“Kau bukannya tidak menyukainya. Kau hanya berusaha menyingkirkannya. Jika kau tidak mau makan ini cobalah makan nasi. Kau tidak perlu menurunkan bobot tubuhmu. Kau tidak pernah menjadi berbeda dimataku, baby..”

Ucapannya kali ini berhasil menghentikan suapan tangan Jongin ke mulutnya, sedikit terganggu dengan kata ‘baby’ yang keluar dari bibir Sehun, Jongin mengumpat sejadinya di dalam hati. ‘Bajingan ini.. Ia mengujiku.’

“Mm.. Ini lezat. Cobalah,, sekali saja.”

“Hentikan, Hun. Aku enek. Jangan sekali-sekali menyuruhku memakannya. Aku tidak suka.”

“Tentu saja. Kau kan, hanya menyukaiku.”

Lagi-lagi Sehun mengulanginya. Tapi kali ini Jongin hanya tersenyum menanggapinya. Sesekali mengerjapkan matanya agar terlihat biasa di hadapan Sehun.

Sehun meletakkan sendoknya, melirik tajam Jongin yang sibuk menguliti ayam di tangannya. “Apa kau merasa nyaman berada diantara kami, eoh? Aku tidak leluasa membicarakan banyak hal dengan kekasihku karena kau ada disini.”

Jongin mendecih. “Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak peduli. Aku sama sekali tidak tertarik.”

Hanmi mengerutkan keningnya, tidak mengerti ada apa dengan dua pria yang duduk satu meja dengannya ini. Apa Sehun bersikap seperti ini karena tak suka semeja dengan orang lain, atau karena hal lain, ia sungguh tak mengerti. Sehun masih berusaha mengusir Jongin secara halus, meski Jongin tidak menanggapinya dan masih dengan santainya terus mengunyah ayam goreng di tangannya. Hanmi yang semakin kesal dan merasa terganggu karena semua orang menatap mereka kemudian meletakkan sendoknya keras ke meja, lalu berdiri seraya meraih tasnya di kursi lain disampingnya lalu beranjak pergi. Sehun ikut berdiri mengejar Hanmi sementara Jongin tidak bergeming, masih menyelesaikan makan siangnya dengan tenang.

Tapi itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangannya yang semula menatap makan siangnya lalu beralih menatap punggung gadis cantik itu yang mulai menjauh diikuti Sehun dibelakangnya.
“Apa sih yang kau lakukan, Hun! Itu tidak sopan! Aku tidak suka caramu memperlakukan orang lain
seperti tadi. Tidak apa kalau kau tak suka semeja dengan orang lain tapi tolong tahan sebentar. Bukan kau atau aku pemilik kampus ini jadi mengertiah.”

Sehun meraih tangan Hanmi, menahannya agar mau berhenti dan mendengar penjelasannya. “Dengarkan aku, Hanmi-ya. orang itu tidak seperti yang kau pikirkan!”

Hanmi berhenti dan menatap mata Sehun. “Memangnya apa yang ku pikirkan? Sebelumnya kau tidak seperti ini, Hun. Ada apa denganmu hari ini?”

Sehun mengurut keningnya bingung, bagaimana harus menjelaskannya pada Hanmi-nya tentang Jongin?
Hanmi membuang napasnya kesal. “Semua orang menatap kita. Apa kau tidak merasakan itu?”

“Maaf. Aku hanya.. Maafkan aku,” lirih Sehun meraih tangan Hanmi lalu menggenggamnya erat. Aku hanya tidak bisa menjelaskannya padamu hari ini,” batinnya.

Hanmi melepaskan paksa tangan Sehun. “Aku mau sendiri. Aku tunggu di depan nanti setelah kelasmu selesai,” kata Hanmi lalu berbalik meninggalkan Sehun yang kemudian menyandarkan tubuh menjulangnya di dinding di sampingnya.

X X X

Sehun mengantarkan Hanmi pulang meski di perjalanan Hanmi masih sedikit kesal karena kejadian tadi. Sehun berusaha mencairkan suasana dengan menceritakan hal-hal lucu yang hanya di tanggapi senyuman kecil oleh Hanmi.

Sehun tahu ia salah, tapi ia punya alasan kenapa ia melakukan itu. Ia hanya takut pria itu (Jongin) melakukan sesuatu yang buruk padanya dan gadisnya itu. Mereka berdua punya masa lalu yang buruk. Sehun sebenarnya bisa melupakan kejadian itu saat bersama Hanmi, tapi tiba-tiba saja Jongin kembali dan memaksanya mengingat kejadian itu hingga ia harus lebih protektif pada Hanmi-nya. Ia yakin Jongin pasti datang untuk balas dendam atas apa yang terjadi di masa lalu.

“Apa kau akan langsung ke rumah sakit?” tanya Hanmi membuyarkan lamunan Sehun seraya meraih tasnya di kursi belakang mobil dan memasukkan ponselnya pintarnya disana saat sudah sampai di depan gang kecil menuju apartemennya di pinggiran kota Seoul.

“Ya. Aku harus menyerahkan beberapa dokumen penting ke rumah sakit, setelah itu pulang dan pergi ke kantor untuk bekerja,” balas Sehun lembut.

“Kau tidak apa-apa, kan? Aku tidak bisa menemanimu untuk sementara ini sampai keadaan Ayah membaik.”

Hanmi menggelengkan kepalanya dan bilang Sehun tak perlu mengkhawatirkannya karena ia akan baik-baik saja selama mereka masih bisa bertemu seperti hari ini.

“Sudah sana, hati-hati, ya?”

“Kau juga. Jangan pergi kemana-mana setelah ini. Tinggallah dirumah sampai besok pagi dan aku akan menjemputmu. Kau mengerti?”

Hanmi mengangguk paham. “Aku mengerti,” ujarnya sambil mengusap pipi Sehun lembut lalu membuka pintu mobil, melangkah keluar sementara Sehun menggeser tubuhnya sedikit kekiri, mendongakkan kepalanya menatap Hanmi yang sudah berdiri diluar mobilnya.

“Aku akan menghubungimu nanti,” pesannya. Hanmi tersenyum lalu menutup pintunya, membiarkan mobil Sehun berlalu setelah sebelumnya menekan klakson dua kali dan menghilang dibalik belokan. Hanmi berbalik dan berjalan cepat menuju gedung apatemennya dengan langkah terburu-buru.

Hanmi menjatuhkan kepalanya di meja. Lalu menegakkan tubuhnya lagi. Jatuh lagi dan kemudian tegak lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya ia mengacak kasar rambut panjangnya putus asa karena tak mendapatkan apapun yang bisa membantunya menyelesaikan tugas. Otaknya benar-benar tidak mau bekerja sama dengannya hari ini.
Mrs. Lee memberikan tugas yang berat di hari pertamanya masuk kelas dan itu membuatnya sakit kepala seharian ini. Ia bahkan melupakan jadwal makan malam yang sudah lewat beberapa jam lalu hanya untuk menemukan satu konsep pakaian musim semi rancangannya yang sudah harus selesai besok pagi. Tidak salah semua yang ikut kelas dosen super galak itu mengeluh setiap harinya. Salahkan dia yang awalnya tak serius mendaftar dan akhirnya diterima?

Ia masih dalam keadaan tidak baik-baik saja saat Park Hyungsik meneleponnya.

“Ya, Hyungie.. Ini aku,” jawabnya dengan malas-malasan.

“Apa kau sudah mulai menggambar? Atau sudah menyelesaikannya? Aku dengar kau masuk kelas dosen killer dan langsung dapat tugas yang berat di hari pertamamu. Aku bertaruh kau pasti tidak bisa tidur semalaman nanti. Haha..”

Hanmi mengerucutkan bibirnya, kesal karena Hyungsik hanya menelepon untuk mengejeknya dan membuatnya semakin stress. “Aku tidak dapat apapun,, Isshh,” keluhnya seraya mengacak kasar rambut panjangnya yang sudah acak-acakan.

“Aku sudah menduganya. Ini pasti karena Oh Sehun merubah mood-mu jadi buruk juga, kan? Aku melihatnya tadi siang. Tsk. Possessive boyfriend, huh? Are you okay, dear?”

Hanmi berdehem. “Much better than I was with you, Hyungsik-ah,” balasnya ketus.

Hyungsik tertawa diujung telepon. Ini sudah ke seratus satu kalinya ia ditolak Hanmi. Entah dengan kata-kata semanis madu atau kata-kata setajam samurai. Hanmi terlalu menggemaskan untuk ia tinggalkan. “Kenapa tidak coba ke pusat perbelanjaan dan membaca banyak majalah fashion edisi terbaru disana? Ku dengar banyak orang yang dapat inspirasi di tempat itu. Dan lagi, kau bisa langsung dapat banyak konsep saat melihat rancangan busana musim semi. Ada pameran disana.”

Kali ini Hanmi menghembuskan napasnya berat.

“Kenapa? Oh Sehun melarangmu? Lagi?”

“Ya. Aish! Bagaimana ini!”

“Apa aku perlu menjemputmu?” tawar Hyungsik yang ditanggapi dengusan Hanmi.

“Aku takut kau akan membawaku pulang kerumahmu dan bukannya ke pusat perbelanjaan. Aku tahu apa yang kau pikirkan! Tsk.”

Hyungsik terkekeh. “Kau yang terlalu pintar atau aku yang bodoh? Membaca pikiranku. Itu tidak sopan, Nona..”

Hanmi mendengus. “Sudah, ya? Jangan ganggu aku. Selamat malam, Hyungie.. Sampai jumpa besok.” Hanmi memutus teleponnya sepihak tanpa mendengarkan jawaban Hyungsik yang menggerutu karena lagi-lagi Hanmi menutup panggilannya sepihak. “Apa aku harus pergi kesana?

XXX

Hanmi benar-benar pergi ke pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota dengan taxi. Ia tiba pukul 7 malam dan tak menghabiskan waktunya untuk hal lain selain mengamati model busana dan artikel di toko buku. Beberapa kali Sehun mencoba menghubungi ponselnya yang tertinggal di rumah tanpa tahu jika Hanmi sedang pergi keluar.

Di sisi lain, Jongin sedang berada di sebuah bar tak jauh dari lokasi pusat perbelanjaan.
Ellui Club.
Gangnam-gu.

Jongin berkeliling. Matanya tak lepas mengawasi setiap sudut klub malam terbaik di Seoul ini. Sudah sejak 3 tahun yang lalu ia tinggalkan tempat ini dan tidak banyak yang berubah. Hanya saja sekarang ia tak begitu tertarik datang kemari jika bukan karena pria China yang notabene adalah sahabat baiknya itu ada di sini. Ia menaikkan satu alis tebalnya tinggi-tinggi begitu matanya menangkap sosok pria bertubuh mungil dengan kulit putih pucat yang menjatuhkan dagunya di meja bar, memandangi ponsel berwarna putih ditangannya dengan bibir yang mengerucut lucu. ‘Pria itu, sama sekali tidak berubah. Ia berhenti di usia 18,’ ujarnya mendecakkan lidah sesaat sebelum bergegas menghampiri pria itu, mengejutkannya dari arah belakang.

Pria itu menegakkan tubuhnya malas, lalu memutar kursinya kebelakang. Ia pikir mungkin gadis-gadis biasa yang menggodanya atau mungkin teman gila-gilaannya yang sering mengejutkannya. Begitu berhasil memutar tubuhnya, matanya membelalak cepat ketika mendapati pria berkulit tan dan berhidung tak terlalu mancung ini sudah berdiri di hadapannya. Sontak ia turun dari kursinya dan memeluk Jongin erat, menepuk punggungnya keras dengan kepalan tangannya yang kecil.

“Hey, Bro! Kau datang? Kenapa tidak beritahu aku kalau kau pulang? Aku bisa berikan pelukan selamat datangku di bandara,” ujarnya meninju pelan lengan kekar Jongin yang terbalut kemeja biru navy yang dipadukan dengan jeans yang lebih gelap untuk menutupi kaki jenjangnya itu gemas.

Jongin tersenyum lalu duduk disamping Luhan, nama pria China yang memiliki kelopak mata ganda dan belahan bibir khasnya ini begitu ia kembali duduk di kursi yang ia tinggalkan tadi. Luhan memesankan Jongin minuman yang sama dengan miliknya pada bartender lalu banyak bertanya apa saja yang dilakukan Jongin di Amerika selain belajar menari dan tak lupa meminta sesuatu yang mungkin Jongin bawakan dari sana untuknya (oleh-oleh).

Jongin terkekeh. “Aku menemukan banyak gadis sepertimu (chinese) disana. Aku pikir mereka adalah keluargamu, jadi aku bertanya apa kau baik-baik saja di Seoul tapi mereka bilang tidak mengenalmu. Apa kau sudah ditendang keluar dari keluarga besar Lu?” gurau Jongin membuat Luhan mengukir huruf o sebesar lingkaran dalam kue donat di bibrnya yang berbentuk hati.

“Dasar gila,” desis Luhan menggelengkan kepalanya. “Oh ya.. Bagaimana Amerika? Ku dengar gadis disana lebih murah. Sudah berapa gadis yang kau tiduri? Bergonta-ganti setiap malamnya.. Apa penismu baik-baik saja? Tidak bengkak?” Luhan menunduk, mencoba membuka retsleting Jongin untuk memeriksa kepunyaannya. “Coba kulihat!” paksanya.

Jongin menepis tangan Luhan dan menarik rambutnya keatas, kembali ke posisi semula. Luhan menjerit kecil kemudian mengusap puncak kepalanya cepat, sedikit berjengit ketika Jongin menarik rambutnya lebih seperti mencabuti bulu ayam. Kasar dan tak berperasaan.

Jongin menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria China bertampang kelewat cantik ini. Dengan tampangnya yang manis dan lucu ini gadis manapun akan tertipu, menganggapnya pria yang baik padahal ia adalah seorang pria dewasa yang mengerti “segala”nya, memiliki selera humor kelewat batas dan lagi otaknya terlampau mesum untuk ukuran pria dengan kecerdasan diatas rata-rata.
Beruntung Luhan berkecimpung di dunia bisnis dan bukannya kedokteran, apalagi jika ia adalah seorang dokter kandungan. Bisa-bisa semua Ibu hamil dimesuminya jika ia benar-benar jadi dokter kandungan. Mencuri kesempatan dalam kesempitan dengan dalih “memeriksa” dan “menyembuhkan”. Bukannya menyembuhkan, ia malah akan membuat pasien wanita kesakitan yang meninggalkan bekas hingga 9 bulan lamanya. Tsk!

“Tutup mulutmu, rusa gila! Ingin sekali rasanya aku menjahit mulut berbisamu itu di pantat babi agar aku tak perlu mendengarkan kata-kata kotor yang terlontar dari sana setiap hari. Tsk!,” gerutu Jongin menggelengkan kepalanya sambil berdecak.

Luhan tertawa lepas. Ia senang mengganggu Jongin yang sudah seperti adiknya sendiri ini. Ia merindukan selera humor Jongin yang kelewat minim saat ia menggodanya. Sedikit kemajuan, sepulang dari New York, Jongin perlahan berubah. Tidak begitu dingin seperti dulu sebelum ia memutuskan pergi ke negeri Paman Sam itu untuk merampungkan sekolah tari modern-nya.
Satu hal yang Luhan sangat hapal dari seorang Kim Jongin yang memesona. Jongin sangat menyukai dance. Ia adalah don juan versi Korea yang menaklukkan para wanita dengan gerak tubuhnya yang sexy dan menggairahkan. Itu sudah pasti.

“Apa kau terlalu banyak menghabiskan waktumu bersama gadis-gadis sexy disana sampai otakmu bergeser begitu, huh? Guruanmu terdengar menakutkan dan bukannya lucu, bocah!”

Jongin terkekeh kemudian mengambil gelas bir yang entah sejak kapan sudah bertengger manis dihadapannya lalu meneguknya beberapa kali dan diakhiri helaan napasnya yang terdengar lelah.

“Ada apa?” tanya Luhan.

Jongin menggeleng. “Aku menemukannya. Dan ia bersama bajingan itu.”

Luhan mengerutkan keningnya bingung.

“Bajingan? Siapa? Dia siapa?”

Jongin menghela napasnya kesal. “Heii..”

“Iya iya.. Aku hanya bercanda, Jjong! Sifat aslimu sudah kembali, ckck. Baiklah.. Dia itu gadis itu dan bajingan itu pasti pria berkulit pucat yang membuatmu masuk penjara, kan? Siapa namanya? Oh Sehun? Ya, benar, itu dia.”

Penjara. Jongin mendecih lalu mengangguk. Ia masih enggan mengingat masa lalunya yang buruk. Kalau bisa, ia malah ingin hilang ingatan agar tak perlu lagi terbayang kelamnya kehidupan di sekelilingnya beberapa tahun yang lalu.

“Aku bisa gila. Ini di luar dugaanku. Aku hanya pergi sebentar dan semuanya menjadi tak terkendali. Sungguh sial aku mengambil langkah yang salah.”

Ya, memang benar gadis yang dimaksudkan Jongin disini adalah Park Hanmi. Entah bagaimana dan kapan tepatnya Jongin mengenal Hanmi. Tapi dari nada bicaranya tadi, sepertinya ia sudah sangat hapal dan mengenal gadis cantik kekasih Sehun itu sejak lama. Dan ia jelas menyukainya, atau mungkin malah, mencintainya.

“Culik saja dan perkosa dia. Buat dia hamil anakmu. Pasti si brengsek itu akan meninggalkannya dan mau tak mau gadis itu harus tinggal bersamamu. Masalah selesai, kan? Kau selalu memikirkan hal- hal yang sulit dan tidak praktis. Itu sebabnya kau tak kunjung mendapatkan gadis itu.”

Jongin mendecakkan lidahnya kesal. “Bisakah kau tidak mengatakan hal-hal yang membuatku kehabisan kata-kata, huh? Kau terlalu cantik bahkan untuk satu pukulan di hidungmu yang mungil itu,” ujar Jongin kesal lalu memutar kursinya, turun dari sana dan merangsek ke tengah lantai dansa diikuti Luhan yang sedikit kesulitan merangsek karena banyaknya gadis yang menghalanginya.

“Yak! Jongini!!” teriak Luhan kencang kelabakan menyusul Jongin.

Sementara itu, park hanmi baru saja keluar dari sebuah butik terkenal di deretan toko di pusat perbelanjaan itu. Sudah lebih dari setengah jam gadis itu mengamati busana-busana terbaru yang tergantung rapih pada manekin-manekin yang berjajar rapih di dalam butik itu. Tapi masih tetap sama, tak ada inspirasi apapun yang hanmi dapat dari busana-busana yang terpajang rapih disana. Tiba-tiba seseorang menarik lengannya.

“Woah.. da Park Hanmi disini,” Luna menahan lengan Hanmi, memaksanya berhenti begitu sadar Hanmi melewatinya yang baru keluar dari salah satu toko pakaian brand terkenal di tempat itu.

Sedikit terkejut tapi Hanmi menutupinya dari Luna, enggan gadis kecil berkulit kecokelatan ini tahu bahwa ia ketahuan. “Ya?” jawabnya berusaha acuh, sedingin mungkin. Ia tak pernah merasa cocok dengan Luna meski mereka adalah teman satu sekolah sejak SMU.

Luna terkekeh. “Dimana Oh Sehun? Aku tidak melihatnya. Kau pasti melarikan diri kan? Aku tahu ia takkan membiarkanmu pergi sendirian. Kalau sekarang ia tak ada di sini berarti kau memang lari darinya. Tsk,, apa dia tahu kau kemari?”

“Dan kau mau mengadukanku, kan?” tanya Hanmi jengah.

“Oh ya ampun,” Luna menepuk tangannya malas. “Tentu saja. Ini kejadian langka, melihat kalian bertengkar. Itu saat yang paling aku nantikan,” kata Luna mengibaskan rambutnya sekali.

“Urus saja urusanmu sendiri, Sunyoung-ssi,” geram Hanmi memanggil Luna dengan nama aslinya.

Luna membuang napasnya kasar. “Hoh, dasar gadis licik,” desis Luna kesal lalu berlalu meninggalkan Hanmi yang sibuk memikirkan kemungkinan besok pagi dihakimi Sehun, lagi. Padahal mereka baru saja berbaikam beberapa jam yang lalu.

“Aah,, pikirkan nanti. Ada hal yang lebih penting,” gerutu Hanmi kemudian berbalik arah untuk menyusuri tempat lain lagi.

Beberapa jam kemudian..

“Aaaakhh.. Sial. Ini sudah hampir tengah malam. Apa yang harus ku lakukan,”

Hanmi menggiti bibir bawahnya kuat, gelisah melihat jarum jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23.40 malam. Ia tidak menyangka sudah berada di tempat itu lebih dari 5 jam.
Hanmi buru-buru membereskan barangnya yang berserakan dan berjalan cepat keluar dari area pusat perbelanjaan.

Ia melihat kesekitar begitu sudah sampai diluar, masih banyak orang berlalu-lalang. “Syukurlah.. Aku kira jalanan akan sepi di jam-jam seperti ini,” ujarnya seraya mengusap lengannya kedinginan.

Hanmi mengambil jalan memutar. Halte utama sudah pasti tutup di jam selarut ini. Ia berjalan cepat melewati gang kecil dibalik bangunan pusat perbelanjaan yang langsung bersinggungan dengan klub malam tempat Jongin menemui Luhan tadi. Beberapa pria yang baru saja keluar dari pintu belakang klub mengikuti Hanmi saat melihat Hanmi melewati mereka. Salah satu dari mereka bahkan mempercepat langkahnya menyusul Hanmi, menghadang langkahnya yang juga semakin cepat. Hanmi sadar ia diikuti.

“Gadis manis.. Apa yang kau lakukan larut malam ditempat seperti ini? Mencari tambahan uang untuk sekolahmu, huh?” tanyanya begitu ia sudah berhasil menahan Hanmi, sisanya membuat lingkaran kecil
mengelilingi Hanmi.

Hanmi tersentak. “Minggir,” desisnya tajam mencoba membuka jalan keluar.

“Wow wow wow.. Galak sekali, eoh? Tapi aku suka gadis yang galak,” kata pria berambut pirang dibelakang gadis itu.

Hanmi menahan napasnya. Sesungguhnya ia bukan gadis pemberani yang bisa melawan orang-orang ini. Tapi ia juga tak mungkin diam saja dan menempatkan dirinya sendiri kedalam bahaya. Ia menyesali keputusan bodohnya yang menolak diantar Hyungsik dan juga kebodohannya yang satu lagi, melanggar perintah Sehun yang menyuruhnya tinggal dan tidak pergi kemanapun tanpat dirinya.

“Minggir atau aku akan teriak,” ancamnya yang hanya dibalas kekehan bersahutan pria-pria ini.

Salah satu dari mereka mencoba menyentuh rambut panjang Hanmi yang terurai tapi gadis itu buru-buru menghindar dan menepis tangannya. Hanmi mengutuki dirinya sendiri, kenapa ia mengenakan rok pendek dan bukannya celana jeans dan hoodie kebesaran untuk melindungi dirinya sendiri disaat seperti ini??

“Hei.. Bawa dia,” pria yang pertama tadi menghadang Hanmi menginterupsi, memberi perintah pada teman-temannya atau mungkin anak buahnya untuk membawanya pergi dari sana. “Kita dapat bonus..” lanjutnya seraya menyeringai puas.

pria berambut pirang di belakang Hanmi langsung menyeret gadis itu lebih jauh ke dalam gang lain yang lebih sempit dan gelap. Sepertinya ini bukan jalan yang biasa dilalui orang karena bau busuk menyengat dan tikus-tikus liar bebas berlarian. Hanmi berteriak mencoba meminta pertolongan.
“Lepas!! Lepaskan!!” Hanmi meronta, minta dilepaskan. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman si pirang tapi tetap saja ia kalah. Hanmi meludahi wajah si pirang itu hingga ia terpaksa dilepaskan. Hanmi berlari menjauh tapi ia tersandung sesuatu hingga jatuh tersungkur.

Mereka mulai tertawa keras seraya mendekati Hanmi yang masih terduduk di tanah. “Jangan mendekat!!!!” teriaknya seraya berusaha berdiri meski kedua lututnya terluka.

Mereka tidak menghiraukan teriakan Hanmi dan memaksanya berdiri, memepetnya didinding, mulai berusaha melucuti pakaian Hanmi. Seseorang muncul dari belakang dan langsung menarik salah satu dari mereka, memukulnya dengan keras hingga tersungkur ke bawah.
“Brengsek!!”

BUGH!

Jongin melayangkan tendangannya, kali ini kearah pria berambut pirang yang mencoba melucuti pakaian Hanmi. Yang lain mulai berbalik dan menyerang Jongin. Jongin meraih tangan Hanmi, menyembunyikan Hanmi dibelakang tubuhnya seraya menangkis pukulan dan tendangan mereka. Jongin menyuruh Hanmi mundur dan menjauh.

Ini tidak imbang karena ia sendirian sementara mereka berlima. Mereka maju bersama-sama dan melawan Jongin yang beberapa kali terkena pukulan. Hanmi hanya menjerit sambil menutupi telinganya, berjongkok.

Dimana Luhan? Bukankah ia tadi bersama Jongin?
Hanmi memegangi erat lengan Jongin yang mundur beberapa langkah karena terkena tendangan si rambut pirang. Tangan Hanmi gemetar hebat karena ketakutan. Ia hampir saja diperkosa beberapa saat tadi. Luhan datang, ia terkejut melihat Jongin yang sudah kewalahan.

“Ada apa ini!!” teriaknya memeriksa
tubuh Jongin.

“Mereka mencoba memperkosanya,” terang Jongin.

Luhan menatap Hanmi sekilas, lalu menelepon seseorang dengan ponselnya. “Kemarilah.. Beberapa bocah ingusan mencoba membuat masalah,” ujarnya ditelepon entah dengan siapa ia berbicara.

“Aku datang. Tunggulah sebentar.”

Luhan mematikan teleponnya dan menyuruh Jongin segera pergi dari sini. Ia yang akan mengurusnya. Jongin mengangguk dan membawa Hanmi pergi dari sana. Luhan memutar kepalanya, merenggangkan otot tangannya. Sudah lama ia tak melatih kemampuan wushu-nya.

“Rasakan ini, nak,,” ujarnya sambil berlari menghampiri mereka dan mulai menghajarnya sekaligus.

“Apa kau sudah gila!” teriak Jongin emosi di dalam mobilnya, meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya yang lecet.

“Jangan beritahu Sehun tentang ini. Kumohon.. Aku tidak mau ia khawatir,” Hanmi meraih lengan Jongin, menggoyangkannya cepat.

Jongin menepis tangan Hanmi, enggan disentuh siapapun saat ini. Emosinya belum sepenuhnya mereda, dan ia sedang mencoba tenang sekarang. Ia tidak menyangka jika gadis yang hampir saja diperkosa itu adalah Hanmi. Jika ia tahu sejak awal, ia takkan menunggu lama hanya untuk memastikan apa ia perlu nenolongnya atau tidak.

Jongin menoleh, menatap Hanmi yang meremas ujung roknya kuat, gemetaran. “Sebegitu takutkah kau pada si brengsek itu? Ini membuatku muak! Seharusnya aku menarikmu lebih cepat dan bukannya membiarkanmu jatuh ke tangannya. Sial!” racau Jongin dalam benaknya seraya melajukan mobilnya pelan meninggalkan tempat itu.

Tidak ada percakapan di dalam mobil Jongin. Hanya Hanmi yang sesekali meringis menahan luka di lututnya seraya melirik Jongin yang tak sedikitpun merintih kesakitan padahal buku jari tangan dan wajahnya terluka akibat perkelahian tadi. Ia hanya diam dan mendengarkan banyak lagu yang diputar di radio yang sengaja distel Jongin untuk memecah keheningan itu tenang.
I still remember when we met
How long is the time has passed
Long and short seasons have gone, Now I’m counting the footprint that left
If we meet again by any chance it’s a destiny.
Surely I’ll say Hello Again

–MYNAME, Hello Again–
Alih-alih melupakan rasa sakit di lututnya, ia malah sibuk membenarkan posisi duduknya yang terlihat kaku itu. Tidak mau Jongin tahu bahwa ia sangat gugup dan merasa aneh berada satu mobil dengan pria yang err.. Tampan ini. Yaa.. Meskipun wajahnya sedikit babak belur karena menyelamatkannya.
Jongin berhenti di sebuah apotik pinggiran kota dan keluar dari mobil, bergegas masuk tanpa mengatakan apapun pada Hanmi. Sesaat kemudian ia kembali lalu mengetuk kaca disamping Hanmi, memaksanya membuka pintu. Hanmi menurut dan membuka pintunya, sedikit terkejut karena mencium aroma parfum Jongin yang lembut sekaligus masjulin itu menusuk indera penciumannya yang tajam.

“Julurkan kakimu disini,” perintahnya seraya membuka pintu lebih lebar, berlutut di depan Hanmi.

“A apa?”

“Kau tidak bisa membiarkan luka itu lebih lama tanpa penanganan. Kemarikan kakimu,” perintahnya sekali lagi tanpa menatap kearah Hanmi yang menggaruk tengkuknya gugup.

“Apa aku harus mengulanginya sampai tiga kali baru kau mengerti?”

“Tidak,” jawab Hanmi kemudian perlahan memutar tubuhnya, menjulurkan kakinya keluar yang langsung ditempatkan Jongin diatas pahanya, memangku kaki jenjang Hanmi tanpa canggung.

Jongin menutup matanya sejenak. Ia benci melihat gadis ini mengenakan rok pendek seperti ini. Bukan saja karena orang-orang akan melihat bagian tubuhnya yang terbuka, tapi ini juga bisa memancing orang-orang brengsek seperti tadi mengganggu Hanmi. Sungguh, ingin sekali rasanya Jongin melepaskan rok ini dan menggantinya dengan hanbok kalau ia boleh.
“Sshh..” Hanmi mengerang. “Bisakah pelan sedikit? Kau menekannya terlalu keras,” Hanmi mengurut sekitaran lututnya, meredakan rasa sakit yang beberapa detik lalu menyerangnya tiba-tiba ketika Jongin terlalu dalam menekankan kapas basah itu ke lukanya.

Jongin menghela napas. “Dimana pria itu?” tanyanya seraya menyingkirkan kapas basah alkohol itu dari lutut Hanmi dan meniupinya pelan sebelum membubuhi salep luka dipermukaan kulit Hanmi yang seputih susu.
“Ya?”

“Oh sehun,” jawab Jongin datar. “Lagipula apa yang kau lakukan malam-malam ditempat seperti itu,” lanjutnya melempar pertanyaan tapi malah terdengar seperti tumpahan kekesalan.
“Aku—”

Jongin menyela. “Sudah. Masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang,” ujarnya seraya menunggu Hanmi mengembalikan tubuhnya ke posisi semula.

“Tunggu! Apa tidak butuh penutup luka untuk ini?”

“Kau tidak perlu benda itu. Kulitmu akan membusuk kalau kau menutupi luka sebesar itu dengan ban aid.” Jongin menutup pintu disamping Hanmi dan mengambil jalan memutar untuk sampai di kursi kemudinya. Ia menurunkan cermin dibagian depan atas mobilnya dan membubuhkan salep luka sendiri ke sudut bibirnya dan sekitaran pelipisnya, tanpa memperdulikan Hanmi yang bertanya apa ia bisa membantu Jongin.
Hal yang sama ia lakukan juga di buku jari tangannya yang terluka, ia mengolesinya tanpa meringis sedikitpun. Seolah itu hanya sebatas luka gigitan nyamuk yang tak berarti. Setelah semuanya selesai, Jongin menekan pedal gasnya lagi pelan, kembali menyisakan keheningan yang dingin dan aneh di dalam mobil.

“Kemana aku harus mengantarmu?”

Hanmi menyebutkan alamat apartemennya yang kemudian hanya ditanggapi deheman singkat oleh Jongin.

“Berhenti disini saja,” kata Hanmi begitu mobil Jongin melintasi gang biasa ia turun dari mobil Sehun.

Jongin mengerutkan keningnya bingung. “Kau yakin turun disini?”

Hanmi mengangguk lalu berterima kasih pada Jongin. Ia juga meninggalkan nomor ponselnya di dasboard Jongin, ia bilang Jongin bisa menghubunginya jika membutuhkan sesuatu. Ia sangat berterima kasih karena Jongin sudah menyelamatkannya. Jongin hanya berdehem dan membiarkan Hanmi pergi.
Ia lalu melajukan mobilnya pelan meninggalkan Hanmi yang baru saja berbalik badan masuk ke gang yang tak terlalu besar itu. Sesaat kemudian mobil Jongin kembali. Jongin keluar dari mobilnya dengan mengenakan topi hitam untuk menutupi kepalanya dan diam-diam mengikuti Hanmi yang berjalan pelan seraya mengusap lututnya yang masih terasa kebas dan perih.
Jongin tersenyum menatap sosok gadis yang dicintainya hampir lima belas tahun itu ada dihadapannya sekarang. Ia tak peduli lagi gadis ini sudah memiliki kekasih. Bukankah ia yang pertama? Ia yang lebih dulu bertemu dengannya dari pria manapun yang pernah bersamanya.

I can’t stop, I’m afraid
I can’t control myself, what do I do?
Look at me, remember me

It happens even when I try
When I’m in front of you
Memories I want to forget come back to life
-Dear Cloud, Remember-
Hanmi memasuki pintu apartemennya pelan, sedikit menahan perih yang masih menjalari lututnya. Ia mengerutkan keningnya bingung, seingatnya ia sudah mematikan televisi tadi sebelum berangkat, tapi kenapa sekarang televisinya malah menyala? Pertandingan bola?
Hanmi melepas sepatunya pelan dan menggantinya dengan sandal rumah. Seseorang keluar dari kamar mandi di sebelah dapur, menggigit sepotong pizza di bibirnya.

“Hyungsik-ah.. Apa yang kau lakukan disini?”

“Oh, sayang.. Kau sudah pulang? Aku khawatir kau benar-benar pergi ke tempat itu jadi aku kemari untuk-” Ia menghentikan ucapannya ketika melihat Hanmi berjalan tertatih dan akhirnya berhasil duduk di sofa dengan susah payah. Ia langsung berlari kecil menghampiri Hanmi. “Apa yang terjadi?” tanyanya penuh kekhawatiran, berjongkok di depan Hanmi.

“Tidak apa-apa Hyung-ah.. Hanya tergores sedikit karena aku terjatuh tadi,” ujar Hanmi seraya menunjuk bagian lututnya.

“Mwo!! Hanmi-ya!!” teriak Hyungsik histeris begitu melihat luka di kedua lutut Hanmi. Ia memeriksa semua bagian tubuh Hanmi yang bisa dilihat dengan mata telanjang, khawatir bercampur kalut takut sesuatu terjadi pada Hanmi. “Apa yang terjadi? Apa sakit? Bagian mana yang sakit? Katakan padaku! Jangan diam saja!”

Hanmi menggeleng. “Inu hanya luka kecil, Hyung-ah.. Sudah.. Ya?” Hanmi menenangkan Hyungsik.

Hyungsik mengacak rambutnya kasar. Hanmi takkan seperti ini kalau tadi ia memaksakan diri untuk mengantarnya. Tidak! Ia juga seharusnya tidak menyarankan Hanmi untuk pergi kesana! Bodoh bodoh bodoh! Racau Hyungsik seraya memukuli kepalanya sendiri kesal.

“Kita kerumah sakit saja, ya?”

“Sungguh ini baik-baik saja, Hyung-ah.. Pulanglah..”

Hyungsik berdiri tapi kemudian jongkok lagi, berdiri lagi dan kembali berjongkok. Ia terlihat bingung. Ia hendak menggendong Hanmi dan memaksanya kerumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut jika ada luka lain yang tak terlihat tapi Hanmi menolaknya. Ia bilang ia baik-baik saja dan menyuruh Hyungsik untuk tidak khawatir dan duduk diam disampingnya, menonton pertandingan bola.

“Apa yang harus kulakukan untukmu, huh?” tanyanya penuh rasa bersalah.
Hanmi mengusap bahu Hyugsik, menenangkannya. “Tolong ambilkan air saja, ya? Aku haus,” rengek Hanmi.

Tanpa menunggu lama, Hyungsik segera beranjak dari tempatnya, berjalan cepat kearah dapur. Tapi ia kembali memundurkan langkahnya ke dekat jendela besar yang mengarah ke taman parkir dibawah, melihat seseorang dengan topi hitam yang menutupi hampir setengah bagian wajahnya di bawah sana.

“Hanmi-ya.. Apa kau bersama seseorang?” tanyanya belum lepas mengawasi pria tadi yang kini juga menatapnya tajam.

“Tidak. Aku sendirian, Hyung-ah.. Ada apa?”

“Tidak. Tidak ada,” sahut Hyungsik pelan kemudian menatap punggung tegap pria bertopi itu yang kini menjauh. Ia jelas tahu siapa pemilik tubuh tinggi tegap berkulit kecokelatan itu.

“Apa yang ia lakukan disini,” lirihnya kemudian menutup gordyn jendela itu dan mengambilkan Hanmi minum sambil masih memikirkan urusan apa yang membawa Kim Jongin ada disini.

‪‎To Be Continue…

Hallo!

Ada yang kenal Lynn Luhan? Kalo belum, salam kenal dari Lynn Luhan dan park hanmi! J

Maaf jika ff ini terlalu vulgar atau sejenisnya, karena dari awal sudah kami tuliskan ff ini ber-rate PG17+!  kami tidak bertanggung jawab jika ada readers yang masih di bawah umur!

Terimakasih sudah membaca ff ini.. ^^ jangan lupa komentar yaa.. kritik dan saran akan sangat membantu untuk kelanjutan ff ini..

Bye ^^

Advertisements

210 responses to “[Freelance] That XX #1

  1. halooo eonni aq, readers baru,,ffnya udah bagus eonni,meskipun masih ada typo’s.izin baca ke chapter selanjutnya.

  2. Keren thor, konfliknya kerasa. Pas lagi seruseru baca taunya abis, kecewa deh dedek hohoho. Thor itu pas Taemin sama d.o flasback atau apa? Masih bingung maaf.

  3. diawal udah greget banget sm kemunculan taemin sm kyungsoo. trs beda scene lagi ada hanmi sama sehun. cieee sehun protektif banget hahahah. trs ada kai juga yg balik ke korea. terus sebenernya hubungan kai sama sehun kenapa sih? ada konflik kah?

  4. Waaah ini cinta segitiga antara kai sama sehun yaa, tapi ada kaitannya sama masa lalu mereka. Hmmm mau baca next chapter dulu deh ^_^

  5. alhamdulillah gua udah 19 hahaha… gila suer ini vulgar beut tapi keren bebangetan hahahha… lanjut baca ya ^^

  6. Hei! Aku mulai baca ngebut nih. Jujur aku tau dari temenku. Gara-gara aku penasaran ama covernya aku tanya deh.

    Jujur pas awal aku gagal paham, sebenernya siapa cewe yang dinistain taemin disini.
    Jongin lebih dulu? Secret admirer dong ya? Secara disini hamni gatau jongin kan?
    Wah. Bisa jadi kesempatan jongin nih kalo gini caranya. Mempermudah lebih tepatnya. Oh seh siap-siap aja. Hyunsik itu sodaranya hanmi? Adik kakak? Twins?

  7. Aku izin ngebut baca ya?

    Aku masih kurang paham diawal baca. Cuman mulai kebawa cerita pas baca scan selanjutnya.
    Jongin secret admirer keknya kenal belasan taun sementara hanmi ga tau dia kan? Sebenernya ada masalah apa ama sehun ko jongin ampe masuk penjara gitu. Hanmi udah ini mah buka akses banget buat jongin deketin dia. Emang lagi hokinya dia.

    Aku salah komen di chapter tiga tadi ga sadar tadi ga kesengaja close tab gehara signal. Maaf ya.

  8. bagus ceritanya… cewek yang sama taemin tuh siapa?? dibawa kaburkah sammma dyo?.. masalah apa yang ada di masa lalu kai sehun? masih bannnyak pertanyaan yang belum terjawab dan bikin penasaran

  9. Pingback: [Freelance] THAT XX (Chapter 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. siapa cewek itu yg digituin sama taemin? kok kejam banget daah taeminnyaa, sehun punya masalah yaa sama kai.. keknya sehun terlalu over sama hanmi sampe ga boleh deket sama kai

  11. Taemin ya ampun :3

    cinta segitiga antara kai sama sehun hanmi ini 😀
    kayaknya masa lalu jongin ini agak menyedihkan ini :3
    izin baca ya 😀

  12. Cwek yang di ‘anu’in Taemin siapa? Masa lalu jongin sama sehun? Jongin dipenjara gara gara sehun? Paling suka pas part hanmi terluka.. Keep writing kak Lynn

  13. Cewek yang disiksa sama Taemin itu siapa? Ini cerita flashback kah?
    Hubungan SeKai dimasa lalu juga bikin penasaran~
    Kenapa Hanmi bisa jaduan sama Sehun. Dan kenapa Jongin yakin kalo Hanmi gadis 15 tahunnya..

  14. Yang bagian pertama ngeri banget sumpeh. semoga yg baca setua aku yg seumuran enhyuk. Tapi penasaran pengen baca terusannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s