#9 HAMARTIA (OBSEDE A)

hamartia

Tittle : Hamartia (Fatal Flaw)

Main Cast : Kim Jongin (EXO’s Kai), Song Jiyoon (Original Character)

Minor Cast : Oh Sehun (EXO’s Sehun), etc

Rating : PG14 for this part

Genre : Psychology, Romance, Angst

Author : Jongchansshi (http://thejongchansshi.wordpress.com)

Prev Part : [#Teaser] [#1] [#2] [#3] [#3,5] [#4] [#5]  [#6] [#7] [#8]

***

 

Itu menyedihkan bagaimana kau merasa berada pada titik terbawah sementara orang yang paling kau benci berada jauh diatasmu.  Mereka bahagia dan ia merasa jijik melihat kedua orang itu begitu bahagia. Seharusnya, semuanya tidak jadi begini. Seharusnya, Song Jiyoon berada dipihaknya juga untuk menghancurkan Kim Jongin. Matanya yang berwarna kemerahan menunjukkan bahwa alcohol telah menguasai 80 persen kerja otaknya. Dia harus segera pergi sebelum kemarahannya merusak sesuatu, apalagi sesuatu yang sudah ia susun rapi dari lama.

“Jung Yunho…” seorang pria yang tidak lebih tinggi darinya membuat ia membalikkan badan. Adalah Kim Jinwoo, partner kerjanya di Kejaksaan Negeri Seoul. Yunho mendekati Jinwoo yang dibalut oleh tuxedo topman berwarna hitamnya. Ketika jarak mereka cukup untuk mengatakan hal hal yang rahasia, Yunho menunjukkan senyum monsternya kepada Jinwoo.

“Aku kecewa padamu, kawan.” Yunho berkata dengan nada rendah, kemudian ia tertawa bagai baru saja mendengar humor paling lucu.

Satu alis Jinwoo terangkat, tidak mengerti maksud perkataan Yunho. Tapi berikutnya dia menyadari bahwa Yunho sudah terlalu mabuk untuk mengatakan hal hal yang masuk akal.

“Kubantu kau kembali ke mobilmu,” ucap Jinwoo. Dia membopong badan Yunho yang lebih tinggi agar bisa keluar dari keramaian di ballroom hotel tersebut. Satu hal yang tidak diketahui Jinwoo, mata elang Yunho tidak pernah lepas menatap emosi kearah yang sama sejak tadi. Song Jiyoon.

Well, Jinwoo terlalu naïf untuk menebak bahwa dia tidak hanya dianggap sebagai ‘parnert kerja’ oleh Jung Yunho. Dia lebih dari itu, sesuatu yang seharusnya sangat berguna untuk dijadikan sebagai alat. Dia yang memberitahu Jinwoo perihal perbuatan Jongin terhadap Jinwoo yang terbilang tidak manusiawi, berikut bukti yang sudah ia persiapkan dari awal. Jika bukan karena Yunho yang mempengaruhinya, Jinwoo tidak akan tahu menahu tentang hal ini sampai sekarang. Tapi rupanya Jinwoo sama tidak becusnya seperti Jung Daehyun, adik laki lakinya yang terlalu manja sekaligus bodoh. Jadi wajar jika pada akhirnya Daehyun berakhir mati seperti itu.

“Kau harus hati hati, Jinwoo. Kau bisa saja bernasib sama dengan adikku.” Ucapnya ringan, masih disertai tawa licik. Jinwoo tidak terlalu mendengarkan kata kata Yunho yang sebenarnya sebuah ancaman. Oh andai Jinwoo mencurigai sedikit saja bahwa saat ini Jung Yunho tengah menunjukkan wajah aslinya. Ia membiarkan Yunho yang mabuk berat pergi bersama supirnya, meninggalkan Jinwoo seorang diri dengan beberapa tanda tanya.

Jika para perajurit sudah tidak mampu untuk menghancurkan benteng lawan, ini merupakan saat paling tepat dimana raja harus maju.

“Mungkin, satu satunya yang bisa menandingimu hanya aku, Kim Jongin.” dia berkata licik, membuat pernyataan tanpa ragu bahwa ia siap untuk perang.

***

Bukankah itu sangat non sense ketika pemilik acara memilih untuk berbicara dengan temannya di sudut ruangan disaat tamu sedang ramai ramainya? Jadi, wajar jika sekarang Hyena hadir diantara Sehun dan Jongin, menampakkan wajah kusut yang begitu kentara dibalik make up tebalnya.

“Apa yang kau lakukan disini, Oh Sehun?” tanya Hyena dingin.

“Aku hanya mengobrol dengan Jongin sebentar.”

“Setengah jam tidak pernah sebentar.” Hyena membalas sewot. “Kau tahu? Aku seperti perempuan menyedihkan yang ditinggalkan kekasihnya di hari pertunangan.” Lanjutnya melebih lebihkan. Ia memasang raut sedih seperti mau menangis.

Sehun menghela napas berat, ia paling benci melihat wanita menangis dihadapannya, “baiklah, mari kita hadapi tamu tamu itu.” jawabnya akhirnya, mengalah.

Jongin hanya tersenyum sedikit melihat kelakuan kedua orang itu, ia meminum habis cocktail ditangannya. Mata tajamnya sibuk mengamati keramaian dari sudut yang tidak diminati, mencari keberadaan Jiyoon. Sampai akhirnya ia merasakan seseorang memeluk tubuhnya erat. Dia bahkan berpikir bahwa seseorang tidak pernah memeluknya seerat ini sebelumnya. Dan seketika itu juga, Jongin merasa seluruh retakkan pada dirinya tersusun rapi kembali.

Jongin membuka mulutnya, tapi tidak satu katapun yang keluar. ia tidak mengerti, sangat tidak mengerti dengan perbuatan Jiyoon yang begitu tiba tiba. Apa terjadi sesuatu lagi dengannya? Disatu sisi dia aneh, tapi disisi lainnya dia merasa begitu hangat. Jadi, dia memilih untuk meletakkan gelas cocktailnya pada meja kosong yang ada dibelakangnya, kemudian melingkarkan tangannya juga pada tubuh ramping gadis itu juga.

What happened?” bisiknya lembut.

“Let me hug you. I just want to hug you.” Gadis itu membalas dengan suaranya yang rendah. Well, tidak perlu meminta izin. Jongin akan dengan senantiasa membiarkan Jiyoon memeluknya, dimanapun dan sampai kapanpun. “Don’t leave me.” Lanjutnya memohon. Jongin terdiam, tubuhnya terasa melemas. Well, kata kata Jiyoon sangat tidak masuk pada logikanya.

“I promise you I won’t.” balasnya meyakinkan.

Tapi Jongin tahu pasti bahwa satu satunya yang akan meninggalkannya suatu hari nanti adalah Song Jiyoon sendiri.

Gadis itu melepaskan pelukannya pada Jongin. Ia menatap mata pekat pria itu dalam dalam, mata yang menurutnya begitu penuh dengan rahasia.

“Jangan biarkan siapapun menyakitimu.” Pintanya, lagi,

Astaga, apakah Jiyoon tidak tahu bahwa satu satunya yang bisa menyakiti Jongin hanya gadis itu? Jongin merasa benar benar terjadi kesalahan pada gadis itu. Tapi Jiyoon lebih memilih bungkam daripada memberitahunya.

“Apa yang terjadi sebenarnya, Jiyoon?” gadis ini begitu tidak terbaca. Jongin bahkan tidak punya clue sama sekali tentang apa yang sedang ia pikirkan. Pria itu masih menatapnya lekat lekat sampai akhirnya Jiyoon mengatakan satu kalimat lagi yang terdengar penuh frustasi pada suaranya yang lembut.

“I am scared that somebody will hurt you.”

Kalau saja dia tidak melihat raut serius dari wajah cantik Song Jiyoon, mungkin dia sudah tertawa lebar pada saat ini juga. Ayolah, dia sangat berharap bahwa Jiyoon sedang main main, bahwa gadis itu hanya bercanda, bahwa ini hanya lelucon tidak lucu lainnya. Song Jiyoon mengkhawatirkannya? Oh, bahkan Jongin selalu berpikir bahwa itu tidak akan pernah tertulis dalam catatan takdir hidupnya.

Bisakah Song Jiyoon tidak membuatnya merasa sebahagia ini jika pada akhirnya dia akan membuat Jongin terluka kembali?

***

Jongin mengangkat handphonenya yang berdering pada pukul lima pagi. Siapa yang tidak punya kerjaan sehingga menghubunginya di jam segini?

Dia mengangkat dengan suara serak khas orang bangun tidur yang berupa gumaman.

‘Song Joohyung terkena serangan jantung. Kurasa ia harus segera dibawa kerumah sakit.’ Suara diseberang sana terdengar begitu tenang, ia hanya meminta persetujuan dari orang yang yang seharusnya menjadi pemberi perintah.

Jongin diam saja untuk sesaat, dia mendudukkan tubuhnya yang masih terasa lelah, merenggangkan otot otot pada lengan dan lehernya kemudian.

“Mungkin memang saatnya dia untuk mati.” Jawabnya acuh, langsung mematikan handphonenya. Lagipula Song Joohyung tidak memiliki guna apapun lagi untuk tetap dibiarkan hidup.

Jongin sudah tidak minat untuk melanjutkan tidur. Jadi yang ia lakukan malah menikmati  keindahan gadis yang terlelap di tempat tidurnya. Kegiatan yang tidak pernah bosan ia lakukan. Ia merapikan rambut Jiyoon yang berantahkan pada wajahnya, sehingga ia bisa serakah untuk menikmati wajah gadis yang selalu ia klaim sebagai miliknya.

“You hate your father, right?” dia kembali melakukan kebiasaannya, menanyakan sesuatu yang tak mungkin dijawab oleh seseorang yang tidak mendengarkan. “Aku tidak salah jika membiarkan dia mati seperti itu, kan? He hurt you. Aku akan menyakiti siapa saja yang telah menyakitimu.”  Lanjutnya lagi, dengan nada sendu tanpa ragu.

Jongin merasa bahwa ia telah memberikan keputusan yang benar, tidak seharusnya dia mempedulikan si bajingan Song Joohyung. Ia sama sekali tidak berguna dan yeah, yang terpenting, Jongin tidak akan lupa bahwa Joohyung telah menyakiti Jiyoon. Tapi, kenapa dia malah merasa sangat tidak nyaman?

Ia menghela napas berat, mengacak acak rambutnya. Ingin mengeluarkan segala teriakkan yang berhasil ia tahan. Sesaat kemudian ia mengambil handphonenya kembali, menghubungi nomor yang tadinya menghubunginya lebih dulu.

“Bawa ia kerumah sakit dan pastikan ia mendapatkan penanganan yang baik.” Ucapnya cepat, mengganti perintahnya yang sebelumnya. Jongin merasa bahwa ia sudah gila, otaknya tidak lagi dapat bekerja dengan seharusnya. Oh ayolah, tidak ada salahnya untuk melakukan hal hal manusiawi. Tapi, dia bukan orang yang seharusnya memiliki rasa manusiawi, tidak lagi.

“Jongin…” suara lembut itu memanggilnya, menghentikan lamunannya, Jongin langsung menoleh ke gadis yang sudah ia pindahkan agar tertidur dipangkuannya. Matanya masih tertutup, tapi Jongin yakin bahwa Jiyoon masih setengah terbangun.

“Hmmm?”

“Aku akan bertemu Jinwoo hari ini. Jam 10,” gadis itu memberikan gumaman singkat yang sebetulnya sudah ingin ia katakan dari kemarin.

“For what?” tanyanya, hampir menggunakan nada tinggi. Jiyoon membuka matanya, mendapati mata tajam Jongin berada tidak begitu jauh diatasnya. Menatapnya insten.

Aku hanya ingin bertemu dengan Jinwoo.” Jawab Jiyoon santai, dia terlalu tidak peka untuk sadar bahwa Jongin tidak suka mendengar keinginannya tersebut, Jongin tidak akan pernah suka.

Kau tidak boleh kemana mana.” Tegas pria itu kemudian.

“Kenapa?”

“Tidak boleh.” Balasnya lagi. Jongin memiliki alasan yang cukup rasional kenapa ia tidak memperbolehkan Jiyoon kemana mana tanpanya, apalagi bertemu dengan Jinwoo. He is just too afraid. But she won’t understand.

Kening gadis itu berkerut. Dia mendudukkan tubuhnya, menyender juga disebelah Jongin. Jiyoon sebenarnya hanya ingin memberitahu Jongin, bukan meminta izin. Tapi pada akhirnya, dia mempertimbangkan kekeraskepalaannya dengan mengatakan, “beri aku satu alasan yang masuk akal kenapa tidak boleh. Aku tidak pernah marah jika kau pergi seharian dan pulang ketika aku sudah tertidur.” Sayangnya, nada suaranya berkata lain.

Jongin melirik Jiyoon sekilas, gadis itu menundukkan kepalanya. Well, apakah ini pengakuan tidak langsung bahwa Jiyoon sebetulnya keberatan dengan Jongin yang terlalu sibuk di kantor? “Ini tidak akan lama. Paling hanya 40 menit dan aku akan disini sebelum kau pulang kantor.” Lanjutnya.

Jongin menghela napas berat. Song Jiyoon selalu tahu bagaimana caranya menghancurkan pikirannya. “Silahkan. Tapi kau tidak pergi sendirian.”  Dia akhirnya berkata pelan, membuat Jiyoon tersenyum simpul. At least, she is happy.

***

Jinwoo tidak menyangka bahwa Jiyoon sudah berdiri dihadapannya dengan dress berwarna pink pastel selutut berikut coat musim dingin dan sepatu boot. Pria itu bahkan memandangnya dari atas sampai bawah beberapa kali untuk memastikan bahwa ia benar Song Jiyoon. Well, menurut persepsinya, dia yakin sebanyak 80 persen bahwa Jiyoon tidak akan kemari, Jongin tidak akan membiarkan gadis itu keluar dari rumah mewahnya tanpa ada dia disebelah gadis itu. Tapi, yeah, Jiyoon datang, meskipun bersama satu orang pria lain yang duduk di dua meja belakang mereka. Setidaknya, penilaian Jinwoo tentang Jongin belum berubah.

Jiyoon sudah duduk di hadapan Jinwoo sementara mata besar pria itu masih menatapnya lekat lekat. “Kau yakin Minah tidak marah aku bertemu denganmu?”

Jinwoo nyaris tertawa mendengar pertanyaan Jiyoon. “You seriously have changed.” ucapnya takjub. “Song Jiyoon yang dulu suka sekali membuat Minah marah.”

Gadis itu tersenyum tipis, “aku mengerti alasan kenapa Park Minah begitu membenciku.” Dia berkata kalem, lalu memesan Apple juice pada waiter sebelum melanjutkan, “aku nyaris merebut tunangannya dihari mereka bertunangan.” Lanjut Jiyoon, nada suaranya mengisyaratkan dia menyesal pernah melakukan hal tersebut.

“Jadi, kau sudah ingat?” Jinwoo bertanya, bagaikan ia baru saja mendengar sesuatu yang paling mustahil.

“Sedikit.”

Jawaban Jiyoon membuatnya sedikit kecewa. Yeah, lagipula, kalau Jiyoon mengingat semuanya, seharusnya dia sudah tidak lagi bersama Kim Jongin. Tidak mungkin. Kecuali Jongin memaksanya ataupun melakukan segala cara untuk membuatnya tetap tinggal.

“Aku tidak menyukainya dan kau hanya membantuku waktu itu.”

“Kau mencintainya, Jinwoo.” Jiyoon menekankan perkataannya barusan. Yeah, Jinwoo mencintainya, maka dari itu hingga detik ini ia tidak pernah bisa melepaskan Park Minah, terlepas dari ribuan alasan bahwa gadis itu menyebalkan ataupun suka berlebihan.

“Tidak, kau tidak tahu aku mencintai siapa sebenarnya.” Jawab Jinwoo yakin, membantah tebakkan Jiyoon barusan. Dia melipat kedua tangannya diatas meja, kemudian mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Jiyoon, “Uh, berhenti membahas ini. Lalu, apalagi yang kau ingat?”

“Aku ingat kita berteman dekat.”

Itu tidak penting, ayolah!

“Apakah kau ingat sesuatu tentang Jongin?” tanya Jinwoo tidak sabaran.

“Dia pria baik.”  Jawab gadis itu santai.

Jinwoo tentu terkejut dan tidak terima dengan jawaban Jiyoon. Well, dia semakin yakin bahwa gadis ini sudah termakan doktrin maupun dipengaruhi gila gilaan oleh pria brengsek itu.

“Kau belum mengingat apapun kalau begitu.”

Jiyoon ingin menanyakan banyak hal pada Jinwoo sebetulnya. Namun, dia lebih memilih untuk menyimpan hal tersebut terkubur dalam pikirannya sendiri. Bukan berarti Jiyoon ia mempercayai Jinwoo, dia hanya takut mendengar jawabannya. Takut apabila dugaannya tentang beberapa hal merupakan kebenaran.

***

Pagi itu hanyalah another meeting yang harus ia hadiri. Didalam ruangan besar yang berisikan beberapa orang dengan setelan kemeja mahal, Jongin duduk dikursi tengah paling ujung. Matanya memang terlihat fokus, tapi pikirannya melayang jauh entah kemana.

“Presdir Kim?” Seseorang dari anggota rapat memanggilnya, tapi Jongin tidak dapat mendengar suara apapun dari ruangan itu.

“Presdir Kim?” dia memanggil sekali lagi dengan suara yang lebih keras, berhasil membuat Jongin menolah padanya. Dia pria muda berumur sekitar 20 tahunan akhir, seseorang yang sudah 2 setengah tahun berada di Project Departement.

“Maaf, apa yang anda katakan barusan?” dia bertanya dengan suaranya yang terbiasa tenang. Tapi dalam hati, dia tengah mengutuk dirinya sendiri yang menjadi tidak fokus disaat begini. Dimana dia harus letakkan imagenya yang selalu professional itu?

“Adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan tentang proposal kami?”

Jongin memang tidak memperhatikan rapat sama sekali dari awal, tapi dia sudah membaca dan mempelajari proposal itu sebelumnya. Jadi, tanpa membuat dirinya terlihat bodoh lebih jauh lagi, dengan santai dia mengatakan,“apakah kau ingin membuat perusahaan ini bangkrut karena menggunakan ide yang sama berkali kali?” tanyanya dingin dengan tatapan tajam penuh intimidasi, menatap satu persatu orang orang dari devisi proyek tersebut yang terlihat sangat gugup.

“Tapi…” satu orang lagi mencoba memberikan penjelasan. Sayangnya, mood Jongin terlalu buruk untuk mendengarkan satu katapun lagi.

“Tidak ada tapi tapian. Come again if you have much better idea.” tegasnya. Mungkin maksud sebenarnya, mereka hanya harus datang lagi ketika moodnya dalam kondisi yang lebih baik.

Orang orang yang berada diruangan itu –selain dirinya- menahan napas. Jongin kemudian berdiri, meletakkan kedua tangannya disaku celana hitam mahalnya. Membuat dia terlihat sangat keren sebenarnya. Bahkan pegawai perempuan yang mengikuti rapat ingin berteriak melihat betapa menawannya karisma seorang Kim Jongin. Pria itu menutup macbooknya dengan kasar. “Kurasa rapat hari ini cukup.” ucapnya sebelum keluar ruangan rapat, yang setelah itu, orang orang didalam sana baru bisa menghela napas lega. Aura Jongin ketika sedang dalam mood yang buruk memang bisa menjadi semenakutkan itu.

Jongin memasuki ruangannya yang ditutupi pintu kaca. Beruntung dua security yang menjaga pintu itu langsung sigap untuk menekan remot sehingga pintu otomatis itu terbuka segera, tidak perlu menghancurkan mood Jongin yang sudah buruk menjadi jauh lebih buruk.

Ketika Jongin melihat pesan masuk pada handphonenya, dia langsung melempar handphonenya diatas meja dan menjatuhkan tubuhnya ke pada kursi empuk diruangannya yang sunyi. Kemudian, ia menyender dan memejamkan mata rapat rapat.

“Kenapa aku tidak bisa rela?” dia bertanya untuk diri sendiri. Yeah, kenapa dia sama sekali tidak bisa rela, padahal ia berpikir semua akan baik baik saja pada awalnya? Jiyoon hanya pergi makan siang bersama Jinwoo, gadis itu berjanji tidak akan lebih dari 40 menit. Tapi, kenapa hal itu membuatnya, terutama pikirannya sangat terganggu?

Dia mengambil kembali handphonenya, menghubungi nomor handphone Jiyoon. “Kau harus pulang sekarang!” ia berkata dingin tanpa basa basi.

‘Kenapa?’

“Pulang. Sekarang. juga!” ucapnya tanpa sadar memerintah. Jika Jongin sudah begini, semua orang harus menuruti kemauannya.

‘Kau aneh.’ Jiyoon memutuskan panggilan Jongin tanpa berbicara apapun lagi. Membuat Jongin menjadi semakin emosi, tentu saja. Tanpa basa basi juga, Jongin segera mengambil kunci mobilnya yang kebetulan tergeletak diatas mejanya. Siapa yang begitu ceroboh meletakkan benda itu ditempat ini?

***

“Kenapa?” Jinwoo bertanya pada Jiyoon yang rautnya menjadi berubah setelah mengangkat telepon.

“Jongin menyuruhku untuk pulang.”

“Benarkan apa kataku. Pria itu suka seenaknya kepadamu.”

Jiyoon menatap Jinwoo tidak mengerti, “kenapa kau begitu tidak menyukai Jongin? Kau suka sekali mengatakan hal hal tidak menyenangkan tentangnya.”

“Karena dia brengsek.” Jawab Jinwoo tanpa ragu.

“Kau belum mengenalnya.” Jiyoon membalas yakin, membela Kim Jongin, tentu saja.

“Kau tidak mengenal dia yang sebenarnya.” Jinwoo menekankan kalimatnya. Dia menatap pria yang tadi datang bersama Jiyoon beberapa saat, beruntung ia sedang menikmati kopinya. Jinwoo berbisik pelan pada Jiyoon, “Jika kau ingin mengetahui bagaimana Kim Jongin yang sebenarnya. Kau bisa ikut aku sekarang.”

“Kemana?”

Tanpa membalas, dia menarik tangan Jiyoon dan mengajaknya berlari keluar, mumpung pria berbadan kekar yang pergi bersamanya tadi sedang lengah. Gadis itu menunjukkan tanda tanda bahwa ia keberatan. Tapi pada akhirnya menuruti Jinwoo ketika dia menyadari pria yang pergi bersamanya tadi mengejar mereka habis habisan. Jinwoo membawanya berlari melewati lorong sempit. Sampai akhirnya, mereka berhenti untuk mengatur napas.

“Kenapa kita harus berla…” Pertanyaan Jiyoon terpotong ketika dia melihat Jinwoo terjatuh didepan matanya. Seseorang yang menggunakan penutup wajah dan membawa tongkat kayu baru saja memukul kepala pria itu, Jiyoon bahkan sangat terkejut ketika matanya mendapati kepala Jinwoo yang mengeluarkan banyak darah.

Gadis itu reflek mundur beberapa langkah, namun pria asing itu lebih cekatan menahan tangannya dan membuat gadis itu terlempar pada pelukannya. “kau mau kemana, sayang?” suaranya begitu rendah sampai sampai Jiyoon merasa bulu kuduknya terangkat. Jiyoon baru saja hampir mengeluarkan teriakkannya, tapi pria itu menutup mulutnya dengan tangan yang dilapisi sarung tangan hitam. “Bagaimana kalau aku saja yang membuatmu teringat?”

***CUT***

duh ini anggap aja a nya, terus lusa atau kapan aku post yang b nya ya. maaf dipotong haha.. ini dua chapter lagi setelah part b nya di post bakal tamat kok. Hore gak.

Terus aku mau nanya nih.. enakkan yang part sehun laura itu di pisah aja atau tetap digabung? soalnya ceritanya berasa ga sejalan huft.

Advertisements

489 responses to “#9 HAMARTIA (OBSEDE A)

  1. Aku pengen banget jihyun nurut terus sama jongin..
    Siapa lagi sich yg berani ganggu jiyoon emang ga takut sama jongin..

  2. Wadaw itu siapa???
    Makin seneng aku bacanya kak soalnya Jiyoon makin percaya sama Jongin, tapi aku takut kalo ingatan Jiyoon kembali 😢😂

  3. Mau ngapain itu si yunho??????
    Ohhh ya ampun makin complicated aja nih
    Emg perbuatan jongin itu ngga termaafkan tapi klo misalnya jiyoon inget semuanya apa masih ada kata maaf yg terucap?

  4. Huah . . . .nugu . . Nuguya. . Aish. . It emang drencnakan atau engga sih, ksian deh jiyon diculik mulu.

  5. nooo itu siapa? yunho ya..aisss bener2 serumit ini masalah nya kak..pingin cpt2 menuju ending rasanya..kayaknya jiyoon udah ingat yak,tapi sikit..mungkin.
    pengen liat lagi waktu jiyoon ingat semuanya..ok gk usah banyak bacot lsng next..😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s