Beware

Joelle Park story present.

beware

B E W A R E

Staring Krystal Jung and Sulli Choi.

Support cast Choi Yuri, Choi Minho, Kim Myungsoo.

|| Vignette | AU! Gore, Violent, Thriller | +17 ||

Last review by Mizuky.

.

.

Sebuah kesalahan besar jika kamu meremehkan-nya.

Gadis itu bahkan lebih berbahaya dari yang pernah Engkau duga.

Sekali Kau melawan, hal buruk akan terjadi padamu.

Dan, seharusnya Jinri tak membuat masalah dengan gadis yang bernama,

Jung Soojung.

.

Because she’s dangerous….

Suasana duka nan mencekam menyelimuti para penghuni sekolah menengah atas yang terletak di kawasan Busan.  Beberapa polisi dari pusat kota mengerubungi sebuah gedung penyimpan alat olahraga. Palang penghalang police line pun terpasang di sekitarnya. Hari ini kabar mengejutkan menggemparkan seisi sekolahan –bahkan warga sekitarnya. Dengan ditemukannya seonggok mayat, cukup membuat para siswa menggidik ketakutan sekaligus was-was. Tak jarang, ada pula siswa yang menangis tatkala mengetahui identitas sang korban tersebut. Dia adalah Choi Yuri, gadis yang menempati ruang kelas tingkat akhir. Mayatnya dijumpai sekitar pukul lima dini hari oleh petugas yang berjaga dalam keadaan yang sangat mengenaskan dengan dua luka tusukan di dada dan perutnya.

Namun, ada satu gadis dingin yang tidak terlalu memedulikan keadaan atmosfer di sana. Ia adalah Jung Soojung, gadis di tingkat dua yang kini tengah asyik membaca novel misteri di sudut kelas sembari mendengarkan irama mengalun dari i-pod-nya. Soojung memang bersifat cuek dan santai, terlebih lagi ia pun sudah tahu semua kejadian pembunuhan itu sejak kemarin malam. Kala itu, Soojung baru akan pulang setelah menyelesaikan jam tambahannya dan secara tak sengaja melintasi tempat kejadian peristiwa. Di sana, Soojung melihatnya. Gadis idaman yang terkenal akan kepolosannya tengah menancapkan sebuah pisau panjang tepat di jantung sang korban. Tapi, Soojung tetaplah Soojung, ia hanya menyapa singkat, lalu meninggalkan pelaku pembunuhan yang pada saat itu mulai merasa cemas jika kedoknya diketahui orang-orang; terutama para polisi.

Soojung hanya dapat tersenyum miring saat mengingat kejadian tersebut, ia cukup tertarik, tetapi tak begitu mau ikut campur tangan dengan si pelaku maupun pihak kepolisian. Sesekali iris kelamnya melirik sekeliling kelas, mencari seorang gadis berambut sebahu yang sampai detik ini tak kunjung datang.

Cih, penakut,’ Batin Soojung menghina. Hingga suara nyaring milik Lee Jieun memanggil sosok yang sedari tadi Soojung tunggu.

“Choi Jinri, aku turut berduka atas kepergian Yuri eonni. Sungguh, apa kamu baik-baik saja?”

Soojung berseringai senang dan menatap intens Jinri yang berpenampilan berantakan. Kedua matanya sembapnya dihiasi kantung kehitaman.

“Aku tidak baik-baik saja. Ini….Ini menyakitkan, Jieun-a.” Tangisan yang menggetarkan hati menggema pada penjuru kelas. Membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa iba. Sedangkan, Soojung hanya dapat mencibir tak percaya akan peran ‘sok polos’ yang Jinri lakoni.

Para sahabat Jinri mulai berkumpul, menenangkan keadaan gadis malang itu. Bahkan, ada pula yang turut menangis bersama air mata palsu milik Jinri.

Maaf, aku membohongi kalian.” Jinri membatin dalam kepedihan. Ia bukan menangisi kematian Yuri, tetapi gadis itu meratapi perilaku buruknya juga penyesalan yang menggerogoti hatinya. Terlebih, Jinri pun harus berhati-hati jika saja sang saksi mata melaporkan perbuatan kejinya. Jinri baru akan mencari sosok Soojung dan berniat untuk membungkam mulut gadis itu, namun semua terpaksa diurung tatkala dua polisi memasuki ruang kelasnya.

“Apakah ada yang bernama Choi Jinri di sini?” Tanya seorang petugas yang terlihat masih muda sembari menilik rupa para siswa satu persatu. Hingga Jieun membuka suara.

“Dia adalah Choi Jinri,” Ujar gadis berkucir kuda itu dengan telunjuk yang mengarah pada Jinri. Kini, ia mulai bergelagat tak nyaman.

Ah, sebelumnya kami turut berduka atas meninggalnya kakakmu. Tujuan kami ke mari untuk menanyai Anda perihal sosok saudari Choi Yuri.”

Jinri meneguk saliva dengan susah payah. “Baiklah, sa–saya akan membantu,” jawabnya sedikit tergagap.

“Pertama, apakah saudari Yuri memiliki seorang musuh di sekitar sekolah?”

“Yang saya ketahui, Yuri eonni merupakan siswa teladan dan terkenal. Jadi saya rasa untuk memiliki seorang musuh amatlah mustahil.”

“Baik, lalu bagaimana dengan mantan kekasih? Mungkin ada yang berniat membalas dendam terhadap kakak Anda? Selain itu, apakah keluarga Anda tidak merasa curiga ketika saudari Yuri tak pulang ke rumah?”

“Itu…” Jinri terdiam sejenak, memikirkan beberapa alasan yang masuk akal. “Eonni hanya memiliki dua mantan kekasih dan sebelum kematiannya ia menjalin hubungan dengan Minho. Selain itu, kurasa hubungan eonni dengan mantannya sangatlah baik. Dan, untuk urusan khawatir, eonni sempat berpamitan untuk menginap di rumah sahabatnya.”

“Kami memperkirakan hal tersebut terjadi saat Yuri usai melakukan pelajaran tambahan. Dan, kami pun mendapat informasi jika Anda juga memiliki jadwal ekstrakulikuler yang sama dengan kegiatan Yuri. Apakah sebelum peristiwa terjadi, Anda tidak bertemu dengan Yuri?” Pertanyaan dari petugas semakin membuat Jinri kewalahan, maniknya bergerak ke sana-kemari, hingga ia secara tak kebetulan bertemu tatap dengan Soojung yang tengah menampilkan senyumannya.

“Aku bertemu Yuri eonni yang sedang berjalan bersama dengan Soojung. Mereka berada dalam pelajaran tambahan yang sama. Ya, mereka beriringan menuju gudang perlengkapan. BODOH! Mengapa aku bisa melupakan hal ini. Soo…Soojung, jadi apa kamu?” Jinri meronta tak terkendali, jemarinya mengarah pada Soojung sementara telapak tangan kirinya membekap mulut. Lagi-lagi, ia terpaksa bersandiwara di hadapan semua orang. Demi kebaikan dan keselamatan dirinya.

“Jinri, tenanglah,” Ujar Jieun sembari memeluk erat Jinri. Para pihak polisi pun mulai menghampiri keberadaan Soojung sekarang. Dan, dengan kasar menarik lengan gadis itu.

“Saudari Soojung, mohon ikut kami ke kantor pusat untuk diinterogasi.”

WHAT?! Tapi, aku tidak bersalah!” Soojung berteriak membela dirinya. Kini, ia menatap Jinri penuh kebencian. “KAU! Perempuan sialan. YAAA! Jelaskan pada mereka bahwa ini hanya kepura-puraanmu saja. Shit!

Jinri semakin terisak, membuat polisi semakin memercayai perkataannya. Maka, tanpa ampun, mereka segera menyeret Soojung keluar dari ruang kelas.

“Simpan semuanya untuk nanti, Soojung.”

Soojung tertatih bersama para polisi yang menggenggam erat lengannya, memberi tanda kemerahan di sana. Dan, dengan tajam Soojung menatap penuh dendam ke dalam manik Jinri, seakan mengatakan jika ia akan membalas semuanya setelah urusan ini selesai.

Lihat saja nanti, Choi Jinri!”

.

.

Lelah. Itulah yang seorang Choi Jinri rasakan saat ini. Dia begitu frustrasi. Batin dan fisiknya terguncang terlalu hebat, membuat gadis itu ingin menghampiri ajal secepat mungkin. Kini, ia tengah terduduk lemas di taman sekolah. Masih dengan seragam yang lusuh dan kusut. Rambutnya bahkan terlihat begitu acak-acakan akibat tangannya yang sedari tadi menjambak pelan surai hitam kecokelatannya.

Jinri tak berniat untuk pulang malam ini. Mungkin, ia akan menginap di rumah Jieun atau bermalam di sekolahan. Yang pasti, gadis itu terlalu malas untuk bertemu kedua orang tuanya, ia hanya tidak ingin semakin merasa bersalah tatkala melihat sang ibu menangis, meraung memanggil nama Yuri. Ia tak tega.

Ia baru akan beranjak dari duduknya, berencana untuk mengunjungi rumah Jieun yang tak begitu jauh dari sekolahan. Namun, sebuah bayangan hitam menghadang jalannya. Sesosok manusia yang berseringai itu pun segera membekap Jinri dengan sebuah sapu tangan yang terlumuri obat bius. Membuat, Jinri merasa pusing yang tak keruan, hingga pandangannya mulai mengabur, dan detik berikutnya ia sudah tak sadar diri. Sementara bayangan tersebut hanya tertawa jahat sembari menyeret raga Jinri menuju sebuah gudang usang.

Ini akan menjadi malam yang menyakitkan bagimu, Jinri.’

.

.

Gelap menyapa kala Jinri mulai tersadar dari tidurnya. Mata yang terasa berat itu, sesekali ia kerjapkan, lalu memandang sekeliling dengan tatapan bingung dan seketika takut pun menghampiri. Bagaimana tidak, kini ia berada di sebuah tempat yang begitu kotor dan berantakan. Puluhan kardus berserakan di mana-mana, meja yang usang pun sudah tak beraturan tata letaknya. Debu yang tertiup angin beterbangan di udara, membuat Jinri terbatuk karenanya.

Tapi, hal yang paling mengejutkan adalah saat manik bulat milik Jinri menangkap sesosok gadis bersurai panjang tengah menatapnya secara intens. Bibir tebal yang biasa tersenyum itu kini bergetar hebat ketakutan.

“Soo–Soojung?”

Gadis yang terpanggil itu pun menyunggingkan seulas senyum sembari melambaikan tangannya. “Hai Jinri. Akhirnya kita bisa bertemu lagi.”

“Apa? Apa mau kamu, Soojung? Kenapa kamu menyekapku di sini?” Jinri bertanya dengan nada memekik; menuntun jawaban atas perilaku Soojung terhadapnya. Dan, hanya sebuah tawaan mengejeklah yang membalas semua pertanyaan Jinri.

“Jangan berlagak polos, Jinri. Tentu kau tahu alasannya,” Ujar Soojung sarkastik. Kaki jenjangnya kini melangkah pelan, mendekat ke arah Jinri yang terikat pada sebuah kursi kayu.

Jinri terdiam, ia merasa kalut. Jinri sudah menduga bahwa ini semua dikarenakan oleh tuduhannya terhadap Soojung saat pemeriksaan tadi. Dan, yang lebih membuatnya tercengang adalah saat melihat Soojung mendekatinya dengan sebuah paku berkarat pada tangan kanan gadis itu. Jinri mulai kewalangan sembari memberikan tatapan memohon kepada Soojung.

“Ada apa, Jinri cantik? Kau takut, huh?” Jarak mereka yang kini semakin menipis, membuat Soojung dengan mudah mengelus pipi Jinri dengan ujung pakunya. Begitu pelan dan lembut, namun hal tersebut semakin membuat Jinri khawatir setengah mati; cemas jika sewaktu-waktu Soojung dengan kejinya menusukkan benda tajam itu pada dirinya.

“Tenangkn dirimu, Choi Jinri. Aku tidak akan berbuat apa-apa untuk saat ini. Aku masih ingin bermainmain denganmu,” Bisik Soojung santai sembari menjauhkan paku itu dari pipi Jinri. Membiarkan gadis itu bernapas sedikit lebih leluasa. Dan kini, Soojung menempatkan diri pada sebuah bangku yang tidak begitu jauh dari Jinri.

Gadis itu berdeham pelan, lalu bertanya, “Hei, Choi Jinri. Aku memiliki satu pertanyaan untukmu, sangat sederhana, aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. Jadi, alasan apa yang membuatmu dengan kejam membunuh Yuri sunbae-nim? Bukankah dia satu keluarga denganmu, yah meski dia hanya anak yang diadopsi oleh orang tuamu.”

Mendengar pertanyaan itu, Jinri bungkam sejenak. Memutar kembali beberapa kejadian yang menyebabkan dirinya dengan tega membunuh seorang Choi Yuri; kakak tirinya sendiri dan seketika tangisan pilu memecahkan keheningan.

“Dia….” Ucap Jinri terbata, ia merasa enggan untuk bercerita, namun juga tak kuasa untuk menahan sakitnya seorang diri, maka Jinri pun kembali melanjutkan perkataannya, “D–dia terlalu sempurna. Yuri eonni memiliki segalanya. Dia dikasihi oleh banyak orang dan sangat berbeda dengan diriku. Eonni selalu dipuja para lelaki, termasuk Minho. Aku sudah bertahan selama mungkin, tapi aku tidak tahan lagi, jadi–“ Jinri mengambil napas sejenak sembari membiarkan tetesan air mata itu membasahi pipi.

“ -Aku berencana membunuh Yuri eonni di hari peringatan satu tahun kisah cintanya bersama Minho. Aku sudah buta karena rasa iriku pada eonni. Dan, aku sangat membencinya.”

Soojung berseringai; menghina Jinri. Sebelum mendengar jawaban dari Jinri pun ia sudah menebaknya terlebih dahulu dan kini semua nyata kebenarannya. Cinta memang membuat orang kehilangan akal sehatnya, begitulah yang selalu Soojung pikirkan saat mendengar kata manis tersebut.

“Kata polos sudah tidak bisa digunakan untuk mendiskripsikan dirimu lagi, Jinri. Kau lebih tepat dipanggil sebagai gadis kotor. Apa kau tahu berapa banyak gadis yang merasa iri pada dirimu? Apa kamu tahu banyak lelaki di luar sana yang menginginkan gadis cantik sepertimu untuk menjadi kekasih mereka? Kamu sungguh tidak pernah menyadari betapa kamu dipuja oleh orang-orang. Mereka selalu berkata bahwa sangat beruntungnya pasangan keluarga Choi yang memiliki dua putri dengan pesona mereka tersendiri. Dan, kini kamu masih tak mensyukurinya? Bukankah itu sangat keterlaluan, Jinri?” Sindir Soojung yang semakin menampakkan senyuman iblisnya. Sedangkan, Jinri hanya dapat terdiam, mencerna perkataan Soojung yang benar apa-adanya, kemudian kembali terisak; penuh penyesalan.

“Aku tahu itu! Aku memang menjijikkan. Aku menyesal, sungguh….”

“Tapi bagaimana dengan dirimu? Bukankah kau sama jahatnya dengan diriku?” Tanya Jinri sedikit membela diri dan Soojung pun semakin melebarkan senyumannya.

“Ya, mungkin aku akan sedikit membongkar identitasku di sini. Aku memanglah orang jahat. Pembunuh berdarah dingin yang haus akan darah. Sebenarnya, aku memang berniat untuk membinasakan kakak tirimu itu karena suatu hal yang tak perlu kau ketahui, tapi beruntungnya diriku saat melihatmu menusuk Si Gadis sempurna itu. Awalnya, aku berpikir untuk segera pergi dari kota ini, karena semua telah selesai, bahkan aku tak perlu mengeluarkan tenanga. Tapi, sayang sekali, kau malah memfitnahku, jika saja rekan sepekerjaanku tak segera datang, mungkin aku akan membusuk di penjara.”

“Jadi kau? Astaga….” Jinri benar-benar ketakutan setelah mengetahui semuanya, dan hal ini menarik hasrat keji seorang Jung Soojung.

“Jinri, apa kau mau kubantu untuk menebus rasa berdosamu itu?”

.

.

Soojung menatap Jinri bak seekor hyena yang siap menyerang mangsanya kapan saja. Sedangkan mangsa-nya itu hanya bergeming sembari berdoa dalam hati; meminta ampun serta pertolongan dari Sang Maha Pencipta. Terlebih kini keadaannya sangatlah mengenaskan. Beberapa luka lembam terpapar jelas di bagian wajah cantiknya. Soojung telah menampar Jinri berkali-kali, namun ia tak kunjung merasa puas. Maka, dengan tega ia mengacungkan pakunya tepat di depan mata kiri Jinri.

“Soojung, kumohon!” Pekik Jinri ketakutan, sementara gadis yang ia panggil hanya tersenyum polos.

“Kau tahu? Mata ini tidaklah pantas bagi seseorang yang selalu melihat ke atas, tanpa pernah melirik sesuatu lebih rendah darinya. Kurasa, Tuhan telah salah menciptakan mata ini untuk dirimu, bukan kah begitu.” Soojung menatap iris Jinri dengan rasa kecewa dan pada detik berikutnya, tangan Soojung mulai menancapkan paku itu dalam-dalam pada mata Jinri. Membuat, gadis malang tersebut merintih kesakitan.

ARGH!!! SOO–SOOJUNG LEPASKAN AKU!”

Darah merah pekat mengalir membasahi pipi pun menetes mengenai seragam putih Jinri. Bola matanya kini tak berupa lagi, telah bolong akibat paku berkarat milik Soojung. Dan, semakin ia berteriak, maka Soojung akan memperkeras tusukannya.

“Pasti sakit sekali rasanya,” Ujar Soojung sembari memasang wajah iba. Genggaman Soojung pada paku tersebut telah terlepas –tanpa mencabutnya terlebih dahulu- dan digantikan oleh sebilah pisau yang terlihat begitu tajam. Gadis itu kembali berseringai, “Kau menangis darah, Jinri. Aku akan membantumu untuk menghapusnya.”

Tangan itu terayun pelan, menyayat pipi Jinri lambat-lambat. Menambahkan kesakitan pada tubuh Jinri. Pipi yang semula mulus bak persolen itu kini memiliki segores luka panjang, menganga besar, dan mengucurkan banyak darah. Tak hanya sampai di situ, Soojung menggesekkan pisaunya hingga benda keras keputihan terlihat di luka tersebut.

“Soo….Soojung, kumohon,” Pinta Jinri tak keruan. Suaranya terlampau serak nan parau; terlalu kering karena kebanyakan berteriak. Dan, lagi-lagi Soojung hanya memberikan tatapan tak bersalah. Pisau itu semakin menyayat hingga ujung bibir Jinri, hingga pada akhirnya menggores bibir bawahnya; seakan ingin memutuskan bibir tersebut dari mulut Jinri. Membuat, gadis yang tersiksa itu harus semakin menahan rasa sakit yang lebih.

Pisau Soojung mulai berpindah tempat. Menuju sumber detakan yang menghidupkan raga Jinri. Ya, Soojung mengincar jantung gadis tersebut; lebih tepatnya nyawa Jinri. Dan, tanpa aba-aba yang pasti, pisau itu telah tertancap seperempatnya. Soojung bergeming sejenak, membiarkan Jinri menjerit kesakitan, mengisi kesunyian malam. Lalu, kembali memperdalam tusukannya. “Selamat tinggal, Kecoak.” Satu detik berikutnya, semua kepedihan, jeritan dan siksaan Jinri telah berakhir seiring dengan berhentinya gadis itu bernapas beserta degup jantungnya. Choi Jinri telah pergi untuk selamanya, ia mati di tangan seorang Soojung yang kini mengukir senyuman lebar nan menakutkan.

Meski telah membunuh mangsanya, Soojung tak kunjung merasa puas. Maka, dengan buas Soojung menarik pisaunya, kemudian menyayat bagian perut Jinri hingga sebuah lubang lebar terpapar di sana, menampakkan organ pencernaan Jinri yang bercampurkan darah segar. Soojung semakin beringasan, tatkala tangan putihnya meraih usus Jinri, kemudian melilitkannya pada leher gadis yang binasa tersebut. Kini, Soojung telah puas sepenuhnya, ia senang saat melihat betapa indah maha karya buatannya.

Soojung sedikit menjauh dari jasad Jinri sembari merogoh saku rok sekolahnya yang ternodai banyak cairan merah pekat. Gadis itu meraih ponselnya, kemudian menekan tombol panggilan. Soojung menunggu cukup lama ditemani dengan bunyi tut…tut dari seberang sana, hingga sebuah suara khas menyapa telingga Soojung.

Hello Krys, what happen?

“Myunggie, tugasku sudah selesai di sini. Bisa, ‘kah kamu menjemputku dan membawaku pergi dari kota sial ini? Sungguh aku hampir tertangkap oleh polisi karena seorang gadis jelek yang tak kalah hina dariku.”

Hahaha, kamu bisa menceritakan semuanya nanti, honey. Aku akan ke sana setelah urusanku yang satu ini tuntas, kamu bisa menunggu di apartemen, okay?

Soojung mendengus pelan, kemudian menjawab, “Baiklah. Jangan terlalu lama, aku sudah muak berada di sini selama berbulan-bulan.”

“Iya, sayang. Sudah berhentilah marah-marah. A-AW Shit! Krys, aku tutup teleponnya, okay? Si Brengsek ini terus melawan. Samapi jumpa nanti, I love you.

Okay, aku juga mencintaimu.” Dan, bertepatan dengan akhir kalimat Soojung, hubungan di antara keduanya pun putus. Soojung melangkah pelan mendekati tas cokelatnya, lalu menyampirkan talinya di bahu. Sebelum ia benar-benar meninggalkan gudang sekolahan, Soojung menghirup napas dalam, meresapi setiap bau yang merangsang saraf penciumannya. Soojung kembali tersenyum diikuti dengan tawa nyaring yang terdengar mengidikkan hati. Kemudian, Soojung melanjutkan derap kakinya sembari menggemu kata selamat tinggal.

.

.

|| E N D ||

P.S : Maaf buat semuanya. Udah lama banget aku engga nge-post cerita baru. Banyak project-project yang numpuk dan belum bisa aku selesaikan. Sekali lagi maaf. Juga buat yang Double Troublemaker, sebisa mungkin bakal aku post episode satunya. Dan ini juga yang bisa aku post baru cerita lama. Semoga kalian suka.

Advertisements

15 responses to “Beware

  1. Nghh, serreeem ya main nya bunuh2an~ mending tak jongkok atau tak benteng gituu *iniapaa?* /abaikan/ Udah ah, ga bisa komen apa2~ cuma mau bilang SEMANGAT, dan trus berkarya;) Good job :3

  2. Sbenarnya krg suka sm ff genre bgnian,aga ngeri gt… tp ga tw knp pngen baca… ternyata bner,ff nya bgus. Pnulisannya jg rapih… good job author ssi 🙂

  3. Oh wowwwww this tonight q bca ginian. Sungguh jinja. Ngeri bgt rsanya tp yahhh untung aja rmhku msh rame jd g sbrapa tkt dehg
    knp gk bikin kyk gni berchapter eon??? Pasti serem buangettttt deh. Q ska

    • Berchapter ya? Hmmm mungkin aku bakal mikir buat cerita lanjutan ini tapi ceritanya ga urut gitu(?) Ya seperti itu lah XD Makasih udah mau baca dan ngaasih komentar ❤

  4. ewwwhh.. krystal itu ngebunuh cuman buat kepuasan dia doang yaa ?? ngeri iih bayangin mayat jinri hheheh.. she’s really a psyco btw..

    keren banget ff nya.. next project ditunggu..

    • Well, sebenernya Krystal ngebunuh juga karena urusan perkerjaan kekeke tapi dia juga suka ngebunuh orang. Makasih udah baca sama ninggalin komen ❤

  5. I love this story ♡ genrenya favorit aku wkwkwkwk XD aku suka dengan alur ceritnya yang mengalir dengan ekspresif cukup menegangkan ;-; good job! Keep writing yes? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s