Breakable Heart: to get your heart

Backsound: Seperti yang Kau Minta -Chrisye

[OC, Oh Sehun: Hurt, Angst, Little bit of psychology]

Personal page: http://www.andwhenitrain.wordpress.com

Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian. Mencoba mencari celah dalam hatimu…”

“Tanda tanganilah surat perceraian ini. Lebih baik kita akhiri saja semua ini sampai di sini.”

Bagai gemuruh petir  dan badai yang melanda bumi. Dingin. Menusuk. Tak berperasaan. Dua kalimat itu lolos. Menghujam jantung. Dan membuat nyeri hingga ke ulu hati.

Mimpi buruk itu akhirnya datang juga. Memilih untuk menjemput takdir hari ini, pada detik ini.

Aku menghentikan kegiatanku sejenak. Kesepuluh jemari ini mencengkram erat ujung celemek yang ku kenakan, bermaksud meredakan pilu yang memupuk. Dengan hati yang memang sudah lama remuk, ku kuatkan diriku untuk mengalihkan pandanganku menilik pada si pemilik manik kelabu.

Dia berdiri di sana. Bersandar pada lemari pendingin dengan angkuhnya. Seolah rangkaian kata yang baru saja ia torehkan bukanlah duri yang menyakiti.

Wajahnya menyaratkan lelah yang kentara. Guratan tipis serta kantung mata yang menghitam telah menjadi jawaban. Seolah kebahagiaan dirinya telah terenggut sejak awal.

Awal semua ini terjadi. Aku tahu betul apa penyebab semua itu.

Dalam hati, aku bertanya Seberat itukah hidup denganku, Oh Sehun?

Pertanyaan bodoh, sebenarnya. Tentu saja sangat berat. Kau si penghancur kebahagiaannya, perlu kau ingat, jalang.

Ku buang jauh-jauh semua pemikiran itu. Lalu kutarik sudut-sudut bibirku membentuk seulas senyum palsu. Lagi, egoku dan sifat tak tahu malu yang aku miliki, mendominasi.

“Kau pasti lelah, bukan? Makanya kau berbicara ngelantur. Ayo makan dulu dan kemarikan jas-mu biar aku rapikan.”

Aku menghampirinya masih dengan senyum palsu yang bertengger di bibirku. Kubuka perlahan jas yang ia kenakan dengan maksud akan mencucinya. Diapun tak menolak. Dia hanya terdiam mematung akibat jawaban yang aku berikan. Mungkin otaknya sedang berpikir betapa menjijikan dan tidak tahu malunya aku ini.

Baru saja aku ingin mengambil satu langkah pergi, tetapi jemarinya mencekal, mencengkram lengan atasku cukup keras. Kemudian satu kalimat menyakitkan kembali terlontar

“Aku tidak sedang melantur. Bahkan, kau yang tahu betul kalau aku tidak sedang main-main dengan ucapanku ini.” Ucapnya dingin, dan menusuk.

Aku tahu berengsek. Aku tahu betul. Tidak perlu kau ingatkan.

“Lebih baik kau makan dulu. Aku tahu kau sangat lelah. Dan tolong, bisakah kau lepas cengkramanmu? Aku mau ke kamar dulu. Aku masih butuh waktu untuk semua ini.”

Cengkramannya pada lenganku mengendur. “Butuh waktu hingga kapan lagi, nona? Kau yang tahu sendiri, bukan? Hubungan ini sejak awal memang tidak memiliki pondasi.

Jangan egois, Chae. Kau pelakunya disini. Jika saja dul-“

Cukup! Berhenti! Aku tidak mau dengar lagi!

Aku memotong perkataan Sehun dengan menutup kedua telingaku dan dengan langkah lebar, aku berlari menuju kamarku lalu mengunci pintu dengan cukup keras. Meninggalkan dirinya yang masih memanggil-manggil namaku dengan frustrasi. Mungkin lelah dengan sifatku yang seperti ini. Tetapi aku tak mau peduli.

Tubuhku luruh di balik daun pintu. Air mata yang sedari tadi aku tahan, tumpah. Rasa sesak, kesal, iri, dan perih semuanya bercampur menjadi satu. Aku menutup mulutku guna menahan isakkan. Tetapi bukannya berkurang, isakkan itu malah semakin keras. Mungkin, akibat puncak dari semua rasa sakit hati yang selama ini aku pendam terlalu lama dan dalam.

Kupukul dadaku bertubi-tubi, bermaksud mengurangi rasa nyeri tak terhingga pada bagian yang ada di dalam sana. Kenapa sakit sekali, Tuhan?! Aku pikir aku sudah tahan banting, tetapi aku salah.

Aku tidak bisa menyalahkan takdir. Semua ini memang salahku, sebenarnya. Dari awal semuanya memang sudah salah.

Aku Si Jalang perusak kebahagiaan lelaki pemilik hatiku dan juga kakak perempuanku, Jung Nayeon.

Semua ini tidak akan sejauh ini kalau saja dulu aku tidak kekanak-kanakkan. Semua ini tidak akan sesakit ini kalau saja dulu aku mengalah.

Semuanya berawal dari kecemburuanku pada kakak perempuanku. Awalnya, aku tidak begitu mempersalahkan semua yang dimiliki oleh Nayeon eonnie.

Dia cantik, dia pintar dan popular, dia anggun, dia menawan. Aku sadar akan hal itu. Dan itu bukan masalah bagiku. Aku sendiripun mengakui dan mengagumi pesona kakakku itu.

Hingga suatu hari, kenyataan menyadarkanku. Nayeon eonnie terlalu banyak merebut seluruh perhatian dari keluarga dan juga teman-teman terdekatku. Hingga membuat mereka lupa akan eksistentisku.

Aku memang tidak secantik dan sepintar Nayeon eonnie. Aku sadar, aku sangat lemah di seluruh bidang akademik. Nilaiku selalu pas pada standart kelulusan. Tapi bukan berarti aku bodoh. Aku pintar dalam bidangku sendiri. Aku suka musik. Aku mencintai musik, dan aku cukup berprestasi pada bidang itu.

Tetapi Ayah dan Ibu sekalipun tidak pernah melihat itu. Melirikpun tak mau. Selalu Nayeon, Nayeon dan Nayeon yang ada di pikiran mereka. Apa mereka lupa bahwa anak mereka tidak hanya satu?

Pernah suatu hari aku mengikuti satu kompetisi. Aku mengundang Ayah dan Ibu agar mereka mau sekali saja untuk datang melihat penampilanku. Aku ingin sekali membuat mereka juga bangga padaku. Seperti mereka bangga pada Nayeon eonnie.

Aku menunggu mereka datang sedari awal hingga sampai pada saat penampilanku datang. Waktu itu, ku arahkan pandanganku pada setiap penjuru ruangan. Mencari-cari apakah mereka datang. Namun, nihil. Tak satu batang hidung dari Ayah ataupun Ibu yang aku temukan. Bahkan, hingga sampai di penghujung acarapun, mereka tak datang.

Aku kecewa saat itu. Namun, kemenanganku hari itu mampu menghapus sedikit kekecewaanku. Dengan semangat yang masih membara, aku pulang dengan membawa sebuah trophy kebanggaan.

Namun, lagi-lagi pemandangan yang aku lihat ketika sampai dirumah membuat hatiku mencelos.

Hancur.

Jatuh.

Jauh.

Hingga ke dasar jurang.

Tak berujung.

Ayah dan Ibu sedang memeluk Nayeon eonnie. Senyum merekah di bibir keduanya. Aku tahu betul apa penyebab senyum kebanggaan itu. Mendali emas yang dikalungkan di leher Nayeon sudah menjadi jawaban yang akurat.

Ayah dan Ibu tidak datang di kompetisiku karena mereka menghadiri kompetisi sains kakakku.

Aku menangis lagi kala itu. Tapi mereka tidak pernah tahu. Seketika, Piala kebanggaan yang aku bawa saat itu berubah menjadi benda kosong tak bermakna.

Dari dulu, hanya aku yang selalu mengalah. Membiarkan semuanya terlihat baik-baik saja. Padahal hatiku meronta begitu tak terima. Aku sempat marah pada Tuhan. Tuhan, mengapa aku hadir di dunia jika tidak pernah dianggap?

Aku selalu mengalah dan terus mengalah. Hingga, pada akhirnya aku tidak mampu lagi membendung semua. Kala aku melihat satu kenyataan yang menamparku. Oh Sehun, sahabatku, sandaran hidupku, tempatku berbagi cerita, Si Pencuri Hatiku, jatuh cinta pada kakak perempuanku, Jung Nayeon. Aku melihat mereka berciuman di pinggir kolam renang dengan mata kepalaku sendiri.

Kala itu aku benar-benar marah. Marah pada takdir. Aku sangat kecewa. Sejak saat itu monster yang bersarang di dalam tubuhku mendominasi. Aku berubah dari seorang Chae yang manis yang tidak pernah mengeluh sesulit apapun hidup yang ia jalani, menjadi Chae Si Keras Kepala dan Pemberontak. Balapan liar, tawuran, alkohol, semuanya sudah pernah aku jalani. Aku sudah seperti jalang yang tak tahu malu.

Lebih tak tahu malu lagi, aku memaksa Sehun untuk menikahiku ketika sebenarnya ia dan Nayeon sedang merencanakan pesta pertunangan mereka saat itu. Sudah kubilang aku berubah menjadi Si Pemberontak, bukan? Aku bahkan sudah berancang akan memotong urat nadiku di depan keluargaku dan keluarga Sehun saat itu jika mereka tidak mengabulkan permintaanku.

Dan semua terjadi begitu cepat. Aku memotong urat nadiku di depan mereka. Pandanganku seketika gelap gulita. Dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya. Yang kutahu ketika aku membuka mata, aku mendapati diriku yang sudah menyandang status sebagai nyonya dari seorang Oh Sehun.

Dan sekarang di sinilah aku berada. Aku si Antagonis perebut kebahagiaan dua orang yang saling mencinta. Menangis, meratapi kehidupan yang begitu pelik yang pernah kuhadapi. Terus menangis dan tanpa sadar membuatku tertidur di atas lantai. Hingga Sang Fajar tiba memamerkan Sang Mentari pada langit berawan.

—οΟο—

Hari-hari berlalu begitu cepat. Sejak pertengkaran kecil waktu itu, aku dan Sehun semakin menjauh. Kami berdua terlihat saling menghindar. Atau hanya aku saja yang menghindar di sini? Biasanya, pagi-pagi sekali aku akan menyiapkan sarapan untuk Sehun lalu pergi dari apartmentnya begitu saja sebelum dia terbangun untuk berangkat kerja. Dan kembali ketika dia sudah terlelap tidur.

Aku masih ingin menata hatiku sebelum hati ini akan benar-benar mengambil satu keputusan nantinya. Sementara Sehun, aku tak tahu apa saja yang ia kerjakan selama terakhir kali kami bertatap muka.

Tetapi, hari ini kuputuskan diriku untuk mengikuti kemana Sehun akan pergi seharian ini. Hanya ingin tahu dan karena firasatku mengatakan sesuatu. Dan lagi-lagi firasat ini memang tidak pernah salah. Sehun memarkirkan mobilnya pada salah satu gerai kopi yang aku ketahui adalah tempat favorit kami untuk saling bertukar cerita dulu.

Dan kalian juga pasti sudah bisa menebak siapa yang ia temui, bukan? Ya. Sehun menemui kakak perempuanku, Jung Nayeon.

Dari yang kulihat dari balik kaca, mereka tengah bertukar cerita. Sesekali tertawa, terlihat begitu mesra. Tawa yang tak pernah lagi Sehun tunjukkan padaku sejak kejadian itu. Seolah tawa yang ia punya lenyap begitu saja, termakan Raksasa ketika kami sedang bersama. Dan aku benci untuk mengakui ini, tapi mereka ternyata memang benar-benar terlihat serasi.

Aku sedikit tersentak kala melihat pemandangan yang saat ini tersaji di depan mata. He kissed her on the lips.

Hah! Sudah biasa. Cerita lama.

Dan lagi-lagi aku sadar. Bahwa aku benar-benar terlalu bodoh. Memaksakan kehendakku akan sesuatu. Mencoba merebut hati yang bukan berlabuh padaku. Bahkan sejak awal aku tahu, tetapi mataku di butakan oleh kedengkian. Masuk di antara kehidupan mereka dengan cara yang benar-benar menjijikkan. Mencoba mencari celah pada Si Hati yang memang tidak pernah sedikitpun membukanya untukku.

Nyeri kembali melanda hati. Tetapi kali ini tanpa air mata lagi. Terlalu lelah untuk sesuatu yang mungkin sudah jutaan kali aku alami. Maka, kukenakan kaca mata hitam milikku. Lalu, kulajukan mobil pribadiku menuju ke apartment milik Sehun.

Sesampainya di sana, aku memilih membersihkan diriku sebelum menyiapkan sajian untuk aku dan Sehun nanti ketika ia kembali. Aku sudah mengambil satu keputusan. Dan malam ini akan aku utarakan.

Berjam-jam kutunggu dirinya sampai kembali pulang. Hingga waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam, suara tombol pintu apartment itu berbunyi. Pertanda satu orang akan memasuki ruangan. Yang tak lain dan tak bukan adalah, Oh Sehun.

Pria itu sedikit tersentak ketika melihatku yang sudah menunggunya lengkap dengan semua makanan yang tersaji. Perlahan, kutarik lagi senyum palsu yang selama ini menjadi andalanku.

Aku perempuan, dan aku sudah terbiasa berpura-pura.

“Hai.” sapaku masih dengan seulas senyum palsu.

“Hai.” jawabnya singkat.

“Dari mana saja? Kenapa baru pulang? Kau lembur?”

“Iya. Hari ini pekerjaanku dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.”

Pembual.

“Ohya? Kalau begitu, kau pasti lelah? Duduk dan makanlah. Sudah kusiapkan semuanya.”

Sehun hanya mengernyitkan alis karena tingahku yang mungkin mengejutkannya. Tetapi ia tidak menolak, lalu menarik satu kursi untuk ia duduki.

Aku hanya memandanginya ketika ia sedang memakan semua masakkanku. Hingga ia menyadari kalau sedari tadi aku tengah memperhatikannya. Dia memandangku datar “Kau tidak makan?”

Aku hanya menggelengkan kepala. “Sudah kenyang. Aku memasak ini memang special untukmu. Habiskanlah. Dan setelah ini aku ingin berbicara sesuatu.” timpalku panjang lebar.

Dia hanya mengangguk, menanggapi. Lalu melanjutkan melahap semua makanan yang aku sediakan. Hingga habis tak tersisa. Aku rasa dia memang sedang kelaparan.

Sehun menyelesaikan semuanya dengan cepat hingga tatapannya kini menilik tepat ke manik mataku. “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”

Ya. Akhirnya saat ini datang juga. Aku akan mengutarakan semuanya malam ini, pada detik ini.

Perlahan, kutarik nafasku lalu kubuang pandanganku pada langit-langit dapur yang saat ini kami tempati. Lagi-lagi, senyum ku terlukis di bibir. Senyuman yang berbanding terbalik dengan kenyataan hati.

“Oh Sehun?”

“Hmm?”

“Apa kau masih ingat kenangan-kenangan kita yang pernah kita lewati dulu?”

Sehun terlihat memutar bola matanya jengah “Itu sudah tidak penting lagi. Jadi, apa maksud pertanyaanmu sekarang?”

Aku tersenyum pedih “Bagimu, itu mungkin sudah tidak penting lagi, Sehun. Tapi bagiku, itu masih sangatlah penting.” lirihku.

“Sudah cukup! Aku muak dengan semua itu. Aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu lagi!” tukas Sehun sembari bangkit dari duduknya.

“Kau egois, Oh Sehun.”

Kalimat itu sukses membuat Sehun menghentikan langkahnya. Dia tersenyum sinis, tetapi masih dengan posisi membelakangiku.

“Egois? huh, bukankah kata itu lebih cocok jika disandingkan untuk Si Antagonis sepertimu?”

Si Antagonis? Sungguh tidak ada yang lebih menyakitkan dari dua kata itu yang terlontar dari bibirnya. Sahabat dan si pencuri hatiku yang selama ini aku anggap berharga.

“Kau tetap egois. Kau selalu melihat semua ini dari sudut pandangmu saja, Sehun. Hingga membuatmu buta dan begitu benci padaku. Tapi pernahkah kau melihat semua ini dari sudut pandangku?—”

—Apakah kau tahu apa alasan aku sehingga berbuat seperti ini? Aku juga sakit, Sehun! Aku juga sakit! Tidakkah kau pernah tahu? Dari dulu, aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari Ayah dan Ibu. Semua Nayeon, Nayeon dan selalu Nayeon. Cuma kau satu-satunya yang aku punya saat itu, Sehun. Sahabatku, sandaran hidupku, tempat aku berbagi cerita.”

Tiba-tiba, isakkan yang cukup keras, kemudian terlontar dari bibirku. Sial. Aku harusnya bisa tahan, mengapa bisa lepas kendali seperti ini?! Aku bisa melihat punggung Sehun yang menegang. Lalu kulanjutkan ucapanku.

“Aku begitu hancur saat melihatmu berciuman dengan Nayeon eonnie. Sahabatku, yang aku kira akan selalu ada untukku ternyata jatuh pada pesona kakakku, pula. Dan tanpa sadar menghiraukan aku dan menyakiti hatiku. Aku merasa kehilangan saat itu. Aku marah besar! Aku marah pada takdir, Sehun! Aku marah padamu, aku marah pada diriku sendiri! Merasa tidak berguna sama sekali! Hingga pemikiran picik itu datang dan membuat kita menjadi seperti sekarang ini….”

…Dan aku minta maaf. Aku tahu maaf memang tidak akan cukup. Aku menjijikkan, hina, menghalalkan segala cara demi keinginanku tercapai. Aku sadar itu. Tapi biarlah, biar malam ini kuluruskan semua padamu. Bahwa Aku, yang kau bilang Si Antagonis ini juga punya alasan atas semuanya—”

Air mataku banjir, tak terbendung lagi. Sesakkkk sekaliii rasanya. Perih, dan juga lelah.

—dan satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Sehun. Si Antagonis ini juga memiliki hati.

Kuhapus kasar air mataku yang terlanjur mengalir. Sementara dia masih mematung membelakangiku, tanpa berkata sedikitpun.

Perlahan, aku berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di hadapannya. Dengan air mata yang bercucuran, ku beranikan manikku menatap tepat pada maniknya. Tetapi dia masih menunduk. “Oh Sehun…” panggilku membuat dia mendongakkan kepalanya lalu menatap aku dengan ekspresi yang tidak terbaca.

Sekali lagi, kutarik sudut bibrku membentuk seulas senyum. “Ayo… ayo kita bercerai saja.—”

—Cari kebahagiaanmu yang sejak lama sudah aku renggut. Aku sudah menandatangani surat cerai itu. Dan terimaksih karena sudah memberi aku kesempatan merasakan rumah tangga yang cukup singkat bersamamu.”

Aku mengusap kasar lagi air mata sialan yang tak henti-hentinya terjatuh. Kutepuk pelan pundak bidang milik Sehun sebelum mengucapkan satu kalimat penutup. “Aku pergi. Dan kutunggu surat panggilan pengadilan selanjutnya. Sampai jumpa.”

Aku beranjak dari tempatku berpijak. Tetapi sebelumnya, kudaratkan sebuah kecupan pada bibir cherry-nya. Kecupan selamat tinggal yang cukup lama. Sementara Sehun masih terus membisu, tak berkutik sedikitpun.

Lalu, setelah itu aku benar-benar meninggalkannya. Meninggalkan tempat yang tak pernah aku rasakan sebagai rumah. Memilih untuk mengubur semua luka lama ketika langkahku sudah bulat meninggalkan tempat itu. Aku ingin menata hati di kehidupanku yang baru kedepannya.

Seorang diri. Tanpa keluarga, tanpa orang aku aku cinta. Tetapi ntah kemana.

—οΟο—

PLAY THIS BACKSOUND

Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu,
Membaca dan mengerti isi hatimu.
Ampuni aku yg telah memasuki kehidupan kalian,
Mencoba mencari celah dalam hatimu
Aku tau ku takkan bisa menjadi sperti yg engkau minta,
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba menjadi sperti yg kau minta
Ampuni aku yg telah memasuki kehidupan kalian
Mencoba mencari celah dalam hatimu
Aku tau ku takkan bisa menjadi sperti yg engkau minta
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
Aku tau dia yg bisa menjadi sperti yg engkau minta
Namun selama aku bernyawa aku kan mencoba menjadi sperti yg kau minta
Aku tau ku takkan bisa menjadi sperti yg engkau minta
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
Aku tau dia yg bisa menjadi sperti yg engkau minta
Namun selama aku bernyawa aku kan mencoba menjadi sperti yg kau minta
Seperti yg kau minta, aku kan mencoba menjadi sperti yg kau minta

—οΟο—

Kedua manik madu itu memandang sebuah objek di depannya. Dirinya baru saja tiba, menginjakkan kakinya pada desa kecil yang baru kali ini ia kunjungi. Guna ingin bertemu dengan seseorang yang selama ini ia rindukan. Seseorang yang sudah wanita itu anggap sebagai ibu kandungnya.

Dia, Chaerisa memandang wanita paruh baya yang sedari tadi sudah menjadi fokus lensanya. Wanita paruh baya yang tengah berdiri di halaman sebuah rumah gubuk kecil. Tanpa aba-aba, Chae seketika menghambur begitu saja memeluk wanita paruh baya itu.

“Bibi Kim, Chae rindu!” pekiknya bak seorang anak kecil yang mendapatkan permen kesukaannya.

Wanita paruh baya yang dipanggil Bibi Kim itu pun seketika membalas pelukan Chae begitu hangat. Keduanya masih saling berpelukan, bertukar rindu. Bibi Kim adalah Nanny Chae sejak ia masih bayi. Wajar saja jika keduanya begitu dekat. Bahkan mengalahkan kedekatannya dengan ibu kandungnya sendiri.

Chae menghirup aroma yang terkuar dari tubuh Bibi Kim yang menjadi favoritnya. Favorit kedua setelah wangi yang terkuar dari Sang Masa Lalu. Memberikan ketenangan. Membuatnya merasakan seperti berada di rumah.

Wanita itu menarik nafasnya dalam, masih mendekap Ibu Kedua-nya. “Akhirnya… akhirnya Chae bisa merasakan apa itu rumah.” ucap Chae lirih sekali.

Lirihan yang justri Bibi Kim anggap sebagai rintihan tangis yang menyayat hati. Hingga membuatnya tak mampu membendung air mata. Bibi Kim tahu. Sangat tahu, bahkan. Ia tahu semua yang terjadi pada anak yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya itu. Betapa wanita itu begitu terlupakan dan membutuhkan kasih sayang.

Hingga Ia perpikir betapa teganya orang-orang yang menyakiti hati wanita yang sebenarnya berhati lembut ini. Bahkan disakiti oleh keluarganya sendiri.

“Bibi… Chae lelah…” kembali lirihan yang menyayat hati itu terlontar. Kali ini dengan isakkan yang mengikuti.

“Lelahhhh sekali, Bi…. Hingga rasanya ingin mati…”

Dan tangis keduanya pecah sebagai puncak dari rasa letih dan sakit hati yang selama ini Chae pendam.

—οΟο—

A/N: yaelah WTSSOM aja blm selesai udah buat cerita baru wkwkwk. Tenang aja, yang ini juga cuma iseng kok. Bahasanya aja masih berantakan. Yaudah begitu aja makasih yesss. BTW, silahkan visit blog pribadiku di http://www.andwhenitrain.wordpress.com

119 responses to “Breakable Heart: to get your heart

  1. Udah pernah baca dulu, komen lagi gpp ya.
    Abis baca will the sun shine on me chp 8 jadi pengen baca chae-hun yang lain
    Emang kayaknya chaerisa sama sehun gak bisa bersatu ya thor
    Semua kisahnya sad ending, gak bisa hidup berdua bahagia selamanya. Duhh nyesek

  2. waaaah ini sesak lho ..iya lah wajar chae begitu krna terkadang kan yg bisa nolong hatinya juga dirinya sendiri, klo bukan dia, siapa lagi. Huhu .Sehun sampe bisu gitu mungkin dia serasa tersadar juga kali yaa. Duh galau deh ini pokoknya ihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s