Affairs of the Heart [Chapter 13]

Affair of the Heart(9)

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myeon

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Previous Chapter :

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4] [Chapter 5] [Teaser Chapter 6][Chapter 6] [Chapter 7] [Chapter 8] [Chapter 9] [Chapter 10] [Chapter 11] [Chapter 12]

.

.

.

C H A P T E R  T H I R T E E N

.

.

.

Chen menemukan Baekhyun sedang duduk di kursi yang terdapat di lorong saat ia keluar dari lift. Chen mengambil bernapas dalam-dalam, matanya menutup sebentar seakan mempersiapkan dirinya.

Chen berjalan perlahan ke arahnya. Kepala Baekhyun bahkan tidak mendongak ketika Chen duduk di sampingnya.

“Bayi itu sudah mati,” ucap Baekhyun pelan setelah beberapa menit diam. “Dokter berkata padaku mereka tidak bisa menyelamatkan janinnya. Janin itu sudah mati ketika mereka membuka rahim Seona.”

Chen menggigit lidahnya, menahan dirinya untuk tidak mengatakan sumpah serapah. Tidak seperti Baekhyun, Chen ia dapat mengontrol perasaannya. Wajah Chen kosong, tapi kemarahan mengguncang . Kemarahan dan rasa bersalah.

Sebelumnya Baekhyun telah menghubunginya dan mengatakan bahwa Nyonya Kim berada di rumah sakit dengan beberapa luka tusukan, mungkin disebabkan oleh Joon Myeon sendiri.

Mungkin disebabkan oleh foto yang ia kirim pada Joon Myeon.

“Apakah mereka menghubungi keluarganya?”

“Belum. Mereka tidak bisa menghubungi kakaknya langsung. Dongwook tinggal di Kanada, dan kalau mereka tidak dapat menghubunginya, itu mungkin karena dia sedang dalam perjalanan kembali ke sana. Kakaknya sangat protektif, kau tahu?”

“Bagaimana dengan kerabatnya?”

“Mereka tidak memiliki nomor kerabatnya, terutama Eye Avenue sudah ditutup.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Chen dengan suara tegang.

“Mereka menempatkannnya di ruang perawatan. Aku belum bisa melihatnya.” Kepala Baekhyun yang tadinya menunduk akhirnya mendongak menatap Chen. “Ini semua kesalahanku.”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Bai Xian.”

“Mengapa tidak? Aku membunuh bayi itu.”

“Kau tidak membunuhnya. Akulah yang memberikan Joon Myeon foto-”

“Karena akulah yang menyuruhmu melakukan itu. Aku mengancammu,  itu semua karena aku ingin dia terluka. Aku tidak ingin dia bahagia, seperti apa yang telah aku perkirakan. Aku ingin dia sendirian dan sengsara.” Baekhyun tertawa keras. ” Dan yang bodoh adalah kenyataan bahwa aku ingin dia menjadi sengsara karna ia melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan padanya. Aku munafik, berpura-pura bahagia dengan Hyera dan bayi kami. Tidak pernah terpikir olehku bahwa Seona berpura-pura juga. Beberapa saat yang lalu, aku melihatnya di jalan bersama Joon Myeon dengan sebuah senyuman di wajahnya. Aku tidak tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan belaka dan aku tidak tahu bahwa Joon Myeonlah yang memukulinya.”

“Bagaimana kau tahu Joon Myeonlah yang memukulinya?”

“Karena aku ingat beberapa bulan yang lalu ada memar di pipinya. Itu waktu kami masih bersama. Aku bertanya  siapa yang memukulinya tapi dia berbohong dan mengatakan bahwa tidak ada yang memukulnya. Aku tidak percaya padanya dan sekarang aku tahu siapa yang telah menyebabkan memar itu di pipinya.”

Wajah Baekhyun kosong saat ia menatap dinding putih di depannya. “Aku bersalah. Aku membunuh bayinya. Aku menyakiti Seona. Aku hanya membuatnya kehilangan satu-satunya hal yang mungkin berharga dalam hidupnya. Aku. . . ”

Aku mencintainya . . .

Baekhyun jatuh cinta dengannya. Ia berkedip saat menyadari kebenaran tentang perasaannya. Ia mencintai Seona. Betapa ironisnya ia baru menyadari hal itu di waktu yang sangat tidak tepat.

Jadi itu sebabnya ia merasa sangat dikhianati, mengapa ia ingin menyakitinya. Karena ia mencintainya, dan rasa sakit karena pengkhianatan itu begitu dalam, sangat pahit, yang membuatnya tidak tahan. Dan ketika ia melihat Seona  dengan perut yang membesar, rasa sakitnya tenggelam lebih dalam karena Seona telah hamil dengan anak yang bukan miliknya. Melainkan dengan anak Joon Myeon.

“Aku mencintainya, Chen,” lirih Baekhyun. “Aku mencintainya.”

“Aku tahu,” ucap Chen. Ketika Baekhyun menatapnya, ia menjelaskan, “Itu jelas dari caramu bertindak. Kalau kau tidak pernah jatuh cinta padanya, pasti sekarang kau sudah melupakannya. Ini sudah enam bulan, itu waktu yang lebih dari cukup bagimu untuk melupakan semua hubunganmu dengannya kalau kau tidak mencintainya. Tapi bahkan setelah enam bulan, kau mau ingin menyakitinya, membuatnya terpuruk karena sebuah pengkhianatan yang kau ketahui begitu lama. Kau jatuh cinta dengannyalah satu-satunya penyebabnya.”

“Tapi bagaimana bisa aku mencintai dua wanita?”

“Percaya atau tidak, Bai Xian, itu sangat mungkin jatuh cinta dengan dua orang sekaligus. Pertanyaannya adalah, mana yang pantas untuk diperjuangkan?”

Kemudian mereka diam. Mereka diam dan menunggu selama setengah jam penuh sebelum Dr. Goo kembali. Lantas Baekhyun berdiri. Dokter Goo melirik Chen penasaran sebelum menatap Baekhyun. “Nyonya Kim sudah bangun, dan dia berada di kamarnya.”

“Apakah kau menceritakan tentang bayi?”

“Ya. Kita tidak bisa merahasiakan darinya.”

“Bagaimana dia menerimanya?” tanya Chen.

Dokter Goo menatap Chen dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.  “Ia terlihat hancur setelah mendengarnya. Seorang perawat di sana mencoba untuk menenangkannya. Ketika perawat keluar, kau bisa menemuinya.”

Baekhyun mengangguk, rasa ketidaksabaran menghampirinya. Ia ingin menemui Seona sekarang, tidak ingin menunggu perawat keluar terlebih dahulu. Tapi akankah Seona mau bertemu dengannya? Terutama ketika ia mengatakan bayinya sudah mati karena semua merupakan kesalahannya?

Itu satu setengah jam sebelum perawat keluar, mengangguk ke arahnya dan mengatakan kepadanya tanpa kata-kata dia bisa masuk.

Baekhyun menatap Chen, sedikit takut. “Aku tidak tahu harus berkata apa…”

“Aku tidak tahu apa yang kau katakan juga, Bai Xian. Tapi terkadang, berbicara tanpa persiapan merupakan satu-satunya yang terbaik untuk meminta maaf. Hanya saja berbicaralah dari hati. ”

“Bagaimana kalau ia tidak ingin melihatku?”

Chen hanya menggeleng. “Aku tidak tahu.” Ia tidak bisa membantunya. Bagaimana bisa Chen tahu, ia tidak mengenalnya, tidak tahu kepribadiannya. “Kau hanya perlu pergi ke sana dan melihat apa yang akan terjadi. Aku akan tetap berada disini.”

Baekhyun mengangguk dan perlahan-lahan berjalan menuju kamar rawat Seona. Dia mungkin telah tidak sabar, tapi sekarang dia tidak begitu yakin apakah ia ingin melihatnya atau tidak.

Terutama karena ia takut bahwa Seona tidak ingin melihatnya.

Dia membuka pintu dan melihat ke dalam. Matanya lantas menatap sesosok wanita berada di tempat tidur yang menghadap jendela dan punggung wanita itu menghadap ke arahnya.

“Kumohon,” bisik Seona sedikit tersendat. “Siapa pun kau, pergilah.”

Baekhyun mengambil napas dalam-dalam. “Aku tahu kau mungkin tidak ingin melihatku Seona-”

Ucapannya terputus ketika Seona secara tiba-tiba terbangun dalam posisi duduk dan menatap Baekhyun dengan membelalak matanya. Bahkan dari ambang pintu, Baekhyun bisa melihat mata Seona yang merah dan membengkak.

“Baekhyun!” seru Seona. Ia mencoba untuk berdiri dari tempat tidurnya.

“Tidak!” Baekhyun menutup pintu dan bergegas ke sisi Seona lalu mendorongnya kembali di tempat tidur dan menutupi tubuh Seona dengan selimut yang sebelumnya telah Seona singkirkan.

Baekhyun terkejut ketika Seona mencengkram kemejanya dan mulai menangis. Lantas Baekhyun memeluk dan duduk di atas tempat tidur tepat di samping Seona. Baekhyun membisikkan kata-kata menenangkan di telinga Seona seraya mengusap punggung Seona, meskipun ia sebenarnya cukup tegang. Baekhyun tidak ragu-ragu menenangkan Seona karena ia tahu itu merupakan kesalahannya yang menjadi penyebab Seona menangis. Ditambah lagi, Baekhyun benar-benar terasa sangat nyaman memeluk Seona. Sampai saat ini, Baekhyun tidak menyadari betapa ia merindukan dan hanya ingin memeluk Seona. Tanpa sadar Baekhyun memererat pelukannya saat tubuh Seona bergetar karena isakan tangisnya.

“A-Aku kehilangan b-bayiku,” isak Seona. “J-Joon Myeon t-tahu tentang k-kita dan membunuh b-bayiku.”

“Hanya karna aku yang membuat Chen mengirim foto-foto itu padanya,” pikir Baekhyun.

“Aku perlu mengatakan sesuatu padamu, Seona,” bisik Baekhyun ketika isak tangis Seona mulai tenang. Ia tidak yakin apakah ini adalah waktu yang tepat atau tidak. Tapi Baekhyun merasa  jika ia tidak mengatakan pada Seona sekarang, ia tidak akan pernah mengatakan padanya. “Satu-satunya alasan mengapa ia tahu tentang kita. . . ”

Seona terlihat tenang, meskipun ia sedikit terengah-engah. “Ya?” Baekhyun hampir meringis ketika mendengar suara Seona yang parau.

“Itu karena aku membuat temanku mengirim foto-foto itu padanya.”

Seona terdiam dalam pelukan Baekhyun. Karena Baekhyun hanya bisa melihat bagian atas kepala Seona, ia tidak tahu apa yang Seona rasakan. Baekhyun berniat untuk mengatakan yang sebenarnya dan berharap Seona tidak akan menyalahkannya. Tapi jika Seona mengusirnya keluar, maka ia pantas mendapatkannya.

“Aku dan temanku telah membuat rencana untuk mendapatkan kembali uang kami kembali darinya, karena ia mencuri uang kami. Chen, temanku, merupakan orang yang mengikutimu kemanapun kau pergi dan mengambil fotomu dengan kekasihmu, kalau kau punya. Tapi kita tidak tahu bahwa kekasihmu sendiri adalah aku, karena aku tidak tahu bahwa kau dan Joon Myeon menikah. Setelah enam bulan mengetahui siapa kau, aku sangat ingin menyakitimu karena kau tampak begitu bahagia. Aku begitu sangat sengsara tanpamu, tapi aku berpura-pura bahagia. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa kau mungkin berpura-pura bahagia. Jadi Chen mengirim foto-foto itu karena aku mengancamnya. Aku tidak tahu Joon Myeon akan menyakitimu. Aku hanya berpikir dia akan menceraikanmu.”

Baekhyun menghela napas. “Jika ada orang yang harus disalahkan tentang kematian bayimu, salahkanlah aku, Seona.”

Seona tidak mengatakan apa-apa, dia bahkan tidak bergerak. Tangannya masih mencengkram kemeja Baekhyun, dan deru nafasnya juga normal, tapi selain itu dia melakukan apa-apa.

“Seona?” tanya Baekhyun pelan, terdengar tidak yakin. Baekhyun tidak suka Seona hanya terdiam. Ia ingin mendengar jawaban, jeritan, tangisan, serangan, apapun itu. Tapi ia tidak tahan melihat Seona hanya terdiam. “Kumohon katakanlah sesuatu.”

Perlahan Seona mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun. Mata cokelatnya bersinar seraya air mata meluncur di pipinya. Baekhyun membenci fakta bahwa Seona menangis dan ia ingin menghapus air mata nya tapi Seona mungkin tidak ingin ia melakukan hal itu. Jadi Baekhyun hanya terdiam.

“Joon Myeon lah yang perlu disalahkan,” ucap Seona dengan parau. Baekhyun berkedip dengan keterkejutan.

“Aku sudah begitu lama menunggu dia menyakitiku, tapi dia tidak pernah melakukannya. Semua yang pernah ia lakukan adalah memaksaku berhubungan seks dengannya. Aku harus pergi, tapi aku tidak melakukannya karena aku begitu takut. Ya, foto-foto itulah yang memicu kemarahannya dan menyebabkan bayiku-”

Seona menelan ludah dan kemudian menghela napas dengan gemetar.”-kematian bayiku, tapi itu bukan kesalahan kau, Baekhyun. Joon Myeon seharusnya tidak meyiksaku bahkan menyakitiku, tidak peduli apa yang aku telah lakukan. Tidak peduli kalau aku pantas mendapatkannya karena telah mengkhianatinya.”

“Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Kau tidak pantas mendapatkannya. Kau tidak pantas kehilangan bayimu. Dan Joon Myeon tidak patut disalahkan. Akulah yang seharusnya disalahkan. Aku mengirim foto-foto itu dan menyebabkan kau terluka. Karena akulah yang menyebabkan bayimu meninggal.”

Baekhyun pikir ia tidak ingin Seona menyalahkannya, tapi ia justru memberikan alasan pada Seona untuk menyalahkan dirinya. Baekhyun tidak ingin Seona memaafkannya, diamnya Seona pasti menyatakan bahwa itu merupakan kesalahan Joon Myeon, karena kemudian ia akan berakhir memaafkan dirinya sendiri, dan ia tidak ingin memaafkan dirinya sendiri. Dia ingin Seona membencinya, mengumpatnya, menamparnya. Tuhan tahu ia pantas mendapatkannya. Hampir putus asa, ia bertanya, “Mengapa kau tidak marah padaku? Berteriak padaku dan menamparku?”

“Karena kau mengatakan bahwa kau telah sengsara, kau tidak bahagia, dan aku percaya bahwa situasi ini adalah membuat kau lebih sengsara. Menyalahkan diri sendiri adalah hukuman terberat dari semua hukuman yang pernah ada, meskipun aku tidak menyalahkan kau dan aku tidak berpikir kau harus menyalahkan dirimu sendiri juga. Dan karena. . . ” Bibir Seona sedikit bergetar.

“Oh Tuhan,” bisiknya, dan menyeka matanya dengan satu tangan. “Aku pikir kau tidak akan peduli kalau aku pernah bilang ini… Ini mungkin tidak akan terjadi kalau aku mengatakan. . . ”

“Mengatakan apa?”

Seona tersedu dan menatap Baekhyun tepat di manik matanya. Baekhyun melihat semua kesedihan yang Seona rasakan dan kegugupannya. Mengapa Seona gugup?

“Bayiku . . .” Seona berhenti dan Baekhyun mendengar Seona bergumam pada dirinya sendiri. Sebuah umpatan. Baekhyun tidak pernah mendengar dia mengumpat seburuk itu. Baekhyun akan tersenyum, jika bukan karena perasaannya yang terus mengatakan kepadanya untuk mempersiapkan diri untuk mendengar apa yang akan Seona katakan.

Seona mendesah “Ada kemungkinan bahwa bayi yang berada dikandunganku bisa saja milikmu…”

Baekhyun bersumpah bahwa jantungnya terasa berhenti berdetak pada saat mendengar ucapan Seona. Matanya melebar. “Bayi itu… Bisa jadi milikku?”

Berapa kali Baekhyun harus mempertanyakan dirinya jika bayinya adalah miliknya? Dan berapa kali harus ia menolak gagasan itu?

Dan untuk mencari tahu bahwa selama ini bayi itu bisa saja miliknya…

Seona mengangguk pelan. Ketika Baekhyun tidak mengatakan apa-apa,  itu gilirannya untuk menjelaskan. “Aku pikir kau begitu senang dengan istrimu dan bayimu. Aku tidak ingin mengganggu dalam kebahagiaanmu dengan mengatakan bahwa bayiku bisa jadi milikmu. Ditambah lagi, aku sangat takut kalau kau tidak akan peduli sama sekali. Aku hanyalah wanita simpananmu, jadi aku berasumsi bahwa kau hanya akan menghiraukanku.”

Jantung Baekhyun berdebar dibalik dadanya, dan tiba-tiba ia merasa tenggorokannya tersumbat, matanya terasa terbakar. Baekhyun ingin menangis. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjak usia dewasa, ia ingin menangis. Untuk Seona, untuk dirinya sendiri, untuk bayi. . . untuk bayinya. . .

“Aku sangat menyesal,” ucap Baekhyu tanpa berpikir dan ia tahu ia tidak berhasil menahan air matanya. Baekhyun bisa merasakan  pipinya yang basah. “Aku sangat menyesal” ucap Baekhyun ulang namun kali ini dengan berbisik.

“Jangan menangis…” Seona melingkarkan lengannya di leher Baekhyun dan memeluknya. Ia meletakkan tangannya di belakang kepala Baekhyun sehingga wajah Baekhyun berada di antara lehernya dan wajahnya. Lengan Baekhyun melingkari pinggang kecil Seona dan memeluknya dengan erat seakan membiarkan semua apa yang ia rasakan keluar dari benaknya.

Semuanya hanya terlalu berlebihan bagi Baekhyun untuk ditanggung. Baekhyun tidak peduli apa yang Seona katakan. Ia membunuh bayi Seona dan ia mungkin telah membunuh anak sendiri. Segala sesuatu yang salah mulai terlihat saat Hyera mengadakan pestanya.  Lagipula mereka akan mengetahui tentang pasangan mereka masing-masing, tapi mungkin dengan cara yang berbeda dan tanpa keramaian. Dan mungkin bayi itu akan tetap hidup, mungkin ia akan cepat menyadari bagaimana perasaanya pada Seona, mungkin ia akan cepat menyadari bahwa Joon Myeon menyiksa Seona. . .

Begitu banyak kata ‘mungkin’, begitu banyak kemungkinan, tapi tak satupun ada yang penting.

Tak satu pun kecuali hal-hal yang sudah terjadi.

Kemudian keinginan di dalam dirinya menguat yang membuatnya tidak bisa mengabaikannya.Ia hanya tidak bisa. Baekhyun mengangkat kepalanya dan menempelkan bibir Seona dengan miliknya. Baekhyun sangat mencintainya bahkan ia tidak bisa mengerti mengapa hal itu bisa terjadi padanya.

Seona biarkan Baekhyun menciumnya, bahkan mengizinkan Baekhyun memperdalam ciumannya. Seona ingin ini, ia telah menginginkannya begitu lama.

Baekhyun tidak membunuh putrinya. Ia tidak membunuhnya.

Perawat mengatakan jenis kelamin bayi itu setelah mereka memberitahu bahwa bayinya sudah meninggal. Seona hanya mengingat sangat sedikit mengenai kejadian itu, ia bahkan tidak ingat ketika ia menelepon polisi setelah Joon Myeon pergi. Satu hal yang sangat ia ingat adalah ketika Joon Myeon menikam perutnya seraya menggumamkan kalimat yang sama berulang-ulang.

Mungkin menurut Joon Myeon bayi itu tidak seharusnya lahir, karena bayi itu mungkin bukan miliknya. Tujuan Joon Myeon tidak untuk membunuhnya, tapi membunuh bayinya.

Dan Joon Myeon berhasil.

Seona tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya dan ia tidak peduli lagi.

Ketika Seona selesai menangis, ia mengatakan kepada perawat bahwa ia ingin segera melakukan tes DNA. Semua yang mereka butuhkan adalah sampel DNA dari Joon Myeon, dan ia tahu bahwa Joon Myeon memiliki luka sehari sebelumnya dan membuang plester yang telah ia gunakan di tempat sampah kamar mandi mereka. Seona mengatakan pada perawat untuk memberitahu polisi bahwa mereka bisa mengambil plester itu dan menggunakan darah yang telah mengering itu sebagai sampel. Seona tidak peduli bagaimana ia akan mendapatkan DNA Baekhyun, tapi saat itu ia benar-benar tidak peduli.

Perawat itu kebingungan, tapi ia tetap melakukan apa yang dikatakan Seona.

Seona benar-benar terkejut ketika Baekhyun datang ke ruang perawatannya. Pada awalnya ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun tapi ketika ia mendengar suara Baekhyun, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak memanggil nama Baekhyun. Ia bahkan berusaha untuk berdiri dari tempat tidur hanya karena ia sangat ingin memeluk Baekhyun.

Ketika Baekhyun mengaku tentang foto-foto itu dan mulai menyalahkan dirinya sendiri atas kematian bayinya, hanya satu kalimat yang menjadi fokusnya yaitu Baekhyun telah menderita. Baekhyun tidak bahagia seperti apa yang ia pikirkan. Baekhyun sama menderita seperti dirinya. Ia tahu saat itu juga bahwa ia tidak bisa menyalahkan Baekhyun.

Mengapa dan kapan ia bisa selalu tahu Joon Myeon akan memukulinya? Baekhyun tidak mengetahui seperti apa suaminya, dan Baekhyun berasumsi bahwa ketika Joon Myeon melihat foto-foto itu, Joon Myeon akan melakukan apa yang pria lain seharusnya lakukan yaitu menceraikannya. Tapi Joon Myeon bukan pria lain, dan Baekhyun tidak tahu itu karena ia tidak pernah mengatakan sepatah katapun tentang hal itu. Satu-satunya yang tahu adalah keluarganya yang telah mecoba untuk membuatnya meninggalkan Joon Myeon.

Jika Baekhyun sudah bahagia, menikmati hidupnya, maka ia akan berteriak sekencang mungkin padanya karena mungkin akan membuat Baekhyun datang ke sini, mencoba untuk menebus kesalahannya, munkin menyalahkan dirinya sendiri, dan kembali ke istrinya-meninggalkannya yang semakin menderita dibandinkan sebelumnya. Ia akan menyalahkan semuanya pada Baekhyun.

Tapi Baekhyun tidak pernah menikmati hidup. Ia tidak menikmati berada bersama istrinya, dan walaupun semengerikan seperti kedengarannya, Seona senang, karena itu berarti Baekhyun berada di sini untuknya, untuk membantunya melalui masa krisisnya, membuktikan bahwa ia cukup penting bagi Baekhyun untuk meninggalkan semuanya dan berada di sini bersamanya lalu menciumnya.

Ia berarti bagi Baekhyun dan itu menghapuskan semua amarahnya yang pernah ia rasakan padanya. Bahkan yang membuat rasa amarahnya semakin terhapuskan ketika Baekhyun tidak berada disini hanya untuk membuatnya memaafkannya jadi ia bisa kembali ke Hyera dan rasa bersalahnya pun sudah tidak ada. Ia bisa mengatakan hal itu dilihat dari bagaimana cara Baekhyun menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi padanya, menginginkannya untuk menyalahkan dirinya juga bukannya mencoba meminta maafnya. Mungkin ia seharusnya marah pada Baekhyun untuk mencoba menghancurkan rumah tangganya, tapi untuk apa? Jika Baekhyun telah menghancurkan rumah tangganya, Baekhyun hanya akan memberikan padanya jalan keluar dan alasan baginya untuk pergi ke Kanada tanpa rasa takut.

Selain itu, ini adalah kesalahannya maupun kesalahan Baekhyun, karena ia tidak mengatakan yang sebenarnya pada saat ia mengetahui bahwa dirinya hamil dan bisa saja Baekhyun merupakan ayah bagi bayinya. Ia tidak meninggalkan suaminya, seperti yang seharusnya ia lakukan. Ia tidak melakukan apa-apa kecuali tinggal dengan suaminya, membiarkan suaminya mengendalikan dirinya.

Karena itu, Baekhyun tidak seharusnya menyalahkan dirinya sendiri.

Satu-satunya orang yang harus disalahkan atas apa yang terjadi padanya adalah Joon Myeon.

Baekhyun menarik kepalanya kembali, menatap Seona dengan matanya yang terlihat basah. “Aku mencintaimu,” ucapnya dengan penuh keberanian. Seona terengah-engah kemudian matanya melebar saat ia menatap manik mata Baekhyun. “Demi apapun, Seona, aku sangat mencintaimu.”

Baekhyun tidak mungkin mencintainya. Baekhyun hanya sangat marah karena ia tidak tahu apa yang ia katakan. Ia memang berarti untuk Baekhyun, tapi cinta? Mustahil.

Seona menggeleng sedih. “Tidak, kau tidak mencintaiku.”

“Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”

Kenapa Baekhyun mengatakan hal bodoh seperti itu? Ia mencintai Baekhyun, dan ia tahu bahwa semua yang ia inginkan adalah Baekhyun juga mencintainya. Tapi ia tidak ingin cinta yang palsu. Ia tidak ingin Baekhyun mencintainya hanya karna terbawa suasana. Dan ia pastinya tidak ingin Baekhyun mencintainya hanya karna kasihan.

“Baekhyun, kumohon pikir baik-baik apa yang kau ucapkan.”

“Aku mencintaimu.”

Seona benar-benar berharap Baekhyun akan berhenti mengatakan hal itu. “Kumohon berhentilah,” pinta Seona dengan. Ia tidak berani dirinya untuk memercayai ucapan Baekhyun.

Baekhyun tidak bisa mengerti mengapa Seona tidak percaya padanya. Dia tahu itu dalam hatinya ia mencintai Seona, mungkin sudah mencintainya sejak hari dimana ia bertemu dengannya. Ia harus membuat Seona percaya padanya.

“Tidak,” bisik Baekhyun dan menangkup pipi Seona. “Ini bukan sesuatu yang aku katakan hanya karena aku marah. Aku mengatakannya karena itu benar. Aku menyadari bagaimana perasaanku padamu—. Tidak ada wanita lain telah membuat jantungku berdegup kencang seperti ini.” Baekhyun meraih salah satu tangan Seona dan meletakkannya di dadanya yang berdebar kencang seperti apa yang ia katakan.

“Tidak ada wanita lain yang telah membuatku menjadi setengah gila hanya karena menginginkannya seperti aku menginginkanmu. Dan tidak ada wanita lain yang telah membuat hidupku menjadi berarti kecuali kau. Percayalah Seona, Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”

Seona sangat ingin memercayainya, tapi bagaimana dengan istrinya?

“Bagaimana dengan istrimu?”

Baekhyun menggeleng. “Dia tidak pernah membuat aku merasa seperti ini. Tidak pernah.” Itu adalah kebenarannya, ia tidak peduli apakah Seona percaya atau tidak.

Chen mengatakan manakah yang pantas untuk diperjuangkan dan ia tahu bahwa Seona pantas untuk diperjuangkan. Ia sudah merasakan bagaimana hidup tanpa Seona selama enam bulan terakhir ini. Ia tidak pernah ingin merasakannya lagi.

Baekhyun menyadari bahwa ia tidak mencintai dua wanita sekaligus. Selama hubungannya dengan Hyera, ia pikir ia mencintai Hyera. Namun, satu-satunya wanita yang ia cintai adalah Seona. Seona memiliki seluruh hatinya bahkan jiwanya.

Seona adalah hati dan jiwanya.

“Kumohon Seona, percayalah. Aku tidak mencintai Hyera. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu bahkan rasanya hatiku seperti ingin meledak.”

Seona tidak ingin percaya padanya. Tapi apa yang akan terjadi di antara mereka jika mereka berdua mengakui perasaan masing-masing?

Mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Seona tidak ingin cintanya Baekhyun kalau yang akan terjadi justru ia kehilangan hal itu.

Tapi Seona percaya padanya. Itu terlihat jelas di matanya. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada keragu-raguan. Baekhyun menceritakan bagaimana perasaannya langsung dari hatinya.

Ia memercayainya.

“Aku juga mencintaimu,” ucap Seona pelan, akhirnya mengakui perasaannya pada Baekhyun. Baekhyun tersenyum dan membungkukkan badannya untuk mengecup bibir Seona.

Seona menghentikannya dengan menempatkan dua jari di bibir Baekhyun. “Tapi kita tidak bisa bersama-sama.”

Baekhyun berkedip, dan ia terlihat kebingungan. “Mengapa?”

“Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”

“Aku akan meninggalkan Hyera.”

Seona mendorong tubuh Baekhyun menjauhinya. “Kau tidak bisa!” seru Seona.

“Kenapa tidak?”

“Karena dia istrimu! Dia hamil! Dia membutuhkanmu!”

“Tapi aku tidak bisa bersamanya kalau aku tidak mencintainya.”

“T-Tapi kau tidak bisa meninggalkannya tiba-tiba dan juga sendirian sementara dia hamil.”

“Aku akan menceraikannya. Aku masih akan menjadi ayah bagi bayinya. Aku akan membuat kesepakatan dengannya bahkan setelah perceraian, aku akan membayar tunjangan anak itu. Aku akan memberinya rumah, mobil, apa pun yang dia inginkan. Tapi aku tidak bisa bersamanya. Aku hanya ingin bersamamu.”

Seona menggigit bibirnya. Baekhyun akan meninggalkan istrinya sehingga ia bisa bersamanya. Tapi Baekhyun tidak bisa melakukan itu. Baekhyun tidak seharusnya melakukan itu.

Terutama ketika ia dan Baekhyun masih memiliki masalah yang belum diselesaikan.

“Seona, aku membutuhkanmu dalam hidupku. Kau dan aku harus bersama.”

Seona menggeleng pelan. “Tidak, kita tidak seharusnya bersama. Dan rencanamu tidak akan berhasil.”

“Mengapa tidak?”

“Mengapa tidak? Baekhyun, aku baru saja kehilangan bayiku. Ini bukan waktu, atau tempat bagimu untuk mencoba dan memulai kembali hubungan ini! Ini salah dan ego-”

“Aku tahu,Seona. Aku tahu! Aku tahu aku telah menjadi orang yang brengsek untuk melakukan hal ini padamu sekarang. Aku tahu kau mungkin tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi, bahkan tidak ingin memikirkan untuk memiliki pria lain dalam hidupmu. Tapi ada alasan lain bagi kita untuk kembali bersama sekarang.” Baekhyun memikirkan Haneul ketika ia kehilangan bayinya.

“Aku tidak ingin kau menjadi depresi berat, Seona. Dan setelah mengetahui bahwa bayi itu bisa jadi milikku, aku tidak ingin menjadi depresi berat karena hal itu. Kita saling membutuhkan, Seona. Kita saling membutuhkan dukungan satu sama lain.”

“Baekhyun, apa kau tidak melihat bahwa kita tidak akan pernah memiliki hubungan yang normal?”

Baekhyun menatap Seona dengan ekspresi bingung. Mengapa Baekhyun tidak berpikir mengenai masa depan? Sebaliknya Baekhyun hanya memikirkan saat ini dan hanya memikirkan apa yang mereka butuhkan sekarang. Seona tahu bahwa ia membutuhkan Baekhyun sekarang. Kehilangan putrinya membuatnya hancur dan tidak ada orang yang berada disini untuk bersamanya, untuk menghiburnya.

Kecuali Baekhyun.

Seona akan memberikan apapun hanya untuk mengatakan ‘ya, aku ingin bersamamu’ dan membiarkan Baekhyun memeluknya saat ia menangis lagi. Tapi Seona tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Ketika ia telah berkencan dengan Baekhyun, hubungan yang ia petaruhkan adalah hubungannya sendiri dengan Joon Myeon atau setidaknya itulah apa yang ia pikirkan. Seona tidak tahu bahwa ia merupakan ‘wanita lain’ dalam rumah tangga Baekhyun.

Seona tidak ingin Baekhyun kembali bersama Hyera lagi seperti sebelum ia datang ke dalam kehidupan Baekhyun. Tapi ia tidak ingin untuk merusak hubungan Baekhyun dengan istrinya juga. Ia tidak ingin bertanggung jawab untuk membuat Baekhyun meninggalkan istrinya yang sedang hamil.

“Baekhyun,” ucap Seona pelan, suaranya masih terdengar parau. “Apa kau benar-benar percaya bahwa kita akan bisa saling percaya? Kita mengkhianati pasangan kita dan akan selalu ada rasa kewaspadaan diantara kita seperti ingin tahu kalau salah satu diantara kita akan berkhianat seperti sebelumnya.”

“Seona kita mencintai satu sama la-”

“Apa kau tidak mencintai istrimu? Aku mencintai suamiku. Tapi kita masih mengkhianati mereka. Kita  mengabaikan janji pernikahan kita, cincin pernikahan kita-” Seona berhenti dan menatap tangan kiri Baekhyun. Cincin pernikahan Baekhyun seharusnya berada disana, tapi ia belum pernah melihatnya.

“Malam itu ketika aku menghampirimu, aku telah kehilangan cincinku,” ucap  Baekhyun tenang. “Dan sejak saat itu, setiap kali kita pergi, aku hanya membiarkannya dan tidak mencarinya.”

“Aku kehilangangan cincinku juga,” ucap Seona pelan, mengakui juga. Ia ingat ia melepas cincinya agar ia bisa mencuci piring dan kemudian tidak dapat menemukannya. Ia takut Joon Myeon akan marah jadi ia pergi ke klub untuk menunggunya pulang dari kantor dan berharap Joon Myeon tidak akan menyadarinya dan memutuskan untuk mencarinya nanti.

Mungkin kejadian itu memiliki sebuah arti bahwa keduanya kehilangan cincin pernikahan mereka. Atau mungkin itu hanya kebetulan saja.

Apa pun yang terjadi, mereka masih mengabaikan cincin yang melambangkan cinta mereka untuk pasangan mereka masing-masing.

“Kita mengabaikan segala hal yang melambangkan cinta dan pernikahan kita, dan juga mengkhianati mereka. Kita mencintai mereka, dan masih saja mengkhianati mereka,” ucap Seona.

“Ini tidak akan terjadi pada kita. Aku tahu itu tidak akan terjadi.”

“Kumohon, Baekhyun. Berhentilah bertindak seolah-olah kita akan hidup bahagia, karena kenyataan tidak. Kita tidak pantas mendapatkannya.”

“Aku mungkin tidak pantas mendapatkannya, tapi kau pantas mendapatkannya. Seona, setelah semua yang kau lalui, kau berhak mendapatkan kebahagiaan, dan aku ingin menjadi orang yang memberikan kebahagiaan itu padamu. Aku akan menghabiskan sisa hidupku mencoba untuk menebus kesalahan yang pernah aku lakukan padamu. Tapi Seona, kita pasti tidak akan mendapatkan kebahagiaan itu kalau kita tidak pernah mencobanya.”

Seona rasanya ingin menangis lagi. Ia bisa merasakan matanya yang terasa terbakar. Ia sangat muak menangis lagi, tapi ia tidak bisa menahannya.

“Ya, kita pasti ingin tahu apakah salah satu diantara kita ada yang berkhianat, tapi setiap pasangan pasti juga ingin tahu. Kita hanya harus percaya satu sama lain, Seona.”

“Ada hal yang lebih penting dibandingkan kepercayaan.”

“Ya, kau benar. Kita memiliki hal yang lebih penting dibandingkan kepercayaan, yaitu cinta.”

Seona tidak bisa menahan tawanya saat itu, tapi ia hanya tertawa hambar. “Ya, cinta. Itu akan membantu kita. Kalau kita mencintai pasangan kita seperti apa yang kita katakan dan kita lakukan, kita tidak akan pernah mengkhianati mereka.”

“Kau benar lagi. Kalau kita mencintai pasangan kita seperti apa yang kita katakan dan kita lakukan, kita tidak akan pernah mengkhianati mereka. Itu hanya berarti tidak ada satupun dari kita mencintai mereka seperti apa yang kita katakana. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan tentang hal itu. Yang hanya bisa aku katakan padamu sekarang adalah aku mencintaimu dan kita harus kembali bersama.”

“Apa yang membuat kau berpikir bahwa situasi yang sama ini tidak akan terjadi pada kita nanti? Apa yang membuat kau berpikir bahwa tak satu pun dari kita akan berada di situasi seperti ini lagi dengan orang lain  yang mencoba untuk memberitahu kita bahwa kita tidak saling mencintai.”

“Karena kalau aku tidak mencintaimu, seharusnya aku bisa melupakanmu sekarang juga. Aku tidak akan terus memikirkan tentangmu dan juga mimpikanmu selama beberapa bulan terakhir. Kalau aku tidak mencintaimu aku tidak akan datang ke sini ketika aku melihat bahwa kau terluka dan mengakui apa yang telah kulakukan. Kalau aku tidak mencintaimu, aku tidak akan memberitahumu bagaimana perasaanku padamu.” Baekhyun menggenggam tangan Seona yang gemetar.

“Dan kalau aku tidak mencintaimu, aku tidak akan mengetahui tentang bayi itu begitu lama setelah kita berpisah. Aku tidak akan datang ke sini, mengungkapkan bahwa aku mencintaimu dan aku ingin bersamamu, meskipun kau mengandung anak pria lain.”

“Orang-orang akan berpikir bahwa kau datang ke sini hanya karena aku kehilangan bayiku. Kau pikir itu anak Joon Myeon, dan sekarang ia-” Seona berhenti. “Sekarang anak perempuanku sudah mati.”

“Anak perempuan,” bisik Baekhyun tiba-tiba.

Seona tersenyum sedikit, meskipun merasa sedih. “Ya. Aku belum melihatnya. Aku terlalu takut.”

“Rasa ketakutanmu memberi kita kesempatan.” Baekhyun tiba-tiba menyadari masalahnya. “Rasa ketakutanmu untuk menjadi bahagia dan bisa menikmati hidup kembali.”

“Itu bukan-”

“Itu benar, Seona. Kau tidak ingin hidup lagi karena kehidupanmu menjadi mimpi buruk saat Joon Myeon, si brengsek itu, membunuh bayimu. Kau takut untuk mencoba lagi. Kau takut untuk menjalani kehidupan barumu karena kau pikir itu akan berakhir seperti ini lagi. Tetapi yang terpenting, kau takut untuk menjadi bahagia karena bayimu tidak akan berada di sini untuk menikmati kebahagiaan itu bersama denganmu.”

Seona memalingkan wajahnya. Apakah itu benar? Apakah ia takut untuk menjadi bahagia karena bayinya tidak akan berada di sini untuk menikmatinya bersama dirinya? Apakah ia takut untuk mulai menjalani hidupnya yang baru karena mungkin akan membuatnya kembali sengsara?

“Baekhyun…” bisik Seona. Ia menyenderkan kepalanya ke dada Baekhyun. Tangan Baekhyun mengusap punggung Seona. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin bertanggung jawab atas perceraianmu dengan Hyera, tetapi pada saat yang sama aku ingin kau bersamaku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan ketika Joon Myeon muncul dari tempat persembunyiannya.”

“Percayalah, Seona. Yang harus kau lakukan adalah percaya padaku.”

“Aku percaya padamu. Tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri.” Seona menatap Baekhyun. “Bagaimana kalau aku mengkhianatimu?”

“Seona, kau tidak akan mengkhianatiku.”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“Karena kau mencintaiku. Karena kau masih percaya padaku bahkan setelah aku bilang itu salahku yang menyebabkan anakmu mati.”

“Baekhyun, itu bukan salahmu! Lagipula Joon Myeon akan tahu tentang kita. Ia akan memuliku dan mungkin ia akan memukuli anak kita.”

Tatapan Baekhyun melunak. “Anak kita? Atau anakmu dan Joon Myeon?”

Seona menggeleng pelan dan mengangkat bahu, sudah hampir menangis lagi. “Aku tidak tahu. Aku ingin mengatakan anak itu milik kita, tapi itu berarti bahwa kau kehilangan bayi itu juga. Dan aku tidak ingin mengatakan bahwa itu milik Joon Myeon karena sejak hari dimana aku tahu aku hamil aku meringis setiap kali aku pikir itu bayinya. Aku jadi ingin bayi itu milikmu, Baekhyun.” Seona menghela napas dengan gemetar.  “Aku minta tes DNA. aku ingin mengetahui dengan pasti siapa ayahnya.”

“Entah dia adalah milikku atau tidak, aku akan tetap mencintaimu.”

Baekhyun memeluknya dengan erat dan mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Seona dengan dagunya.

Mereka diam sejenak, memikirkan apa yang akan terjadi sekarang. Apa yang akan terjadi di antara mereka, apa yang akan terjadi jika Joon Myeon muncul dari tempat persembunyiannya. Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Baekhyun dan Hyera.

“Aku tidak peduli apa yang kau katakana.” Baekhyun tiba-tiba berkata. “Kau tidak bertanggung jawab atas perceraianku dengan Hyera. Aku akan menceraikannya, lalu kembali bersamamu.”

“Baekhyun, kau tidak seharusnya-”

“Tidak, Seona. Aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu. Aku tidak akan tinggal bersamanya. Bahkan kalau kau  memerintahku untuk melupakan tentang kita, aku masih akan menceraikannya. Aku tidak bisa tinggal bersamanya kalau aku tidak mencintainya. ”

“Baekhyun-”

Baekhyun menggeleng. “Tidak, Seona. Aku hanya… Aku hanya tidak bisa. Mungkin aku seperti orang brengsek karena melakukan hal ini padanya tapi aku tidak bisa tinggal bersamanya kalau aku tidak mencintainya.” Baekhyun tersenyum.”Aku pikir aku jatuh cinta padamu saat kau berjalan ke klub itu. Tidak ada alasan lain bagiku untuk  menghampirimu dan berkencan denganmu.”

Seona mendesah di dada Baekhyun lalu menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Tangannya begitu pucat dan kecil dibandingkan tangan Baekhyun yang lebih besar dibandingkannya. Begitu banyak perbedaan di antara mereka. . .

Akankah mereka menemukan cara untuk saling menerima perbedaan mereka masing-masing?

“Apakah kau… Apakah kau masih membenciku karena… Karena telah menikah dan tidak…”

Seona mengatakan hal itu begitu pelan, namun Baekhyun sudah memiliki jawabannya. “Tidak, aku tidak membencimu. Aku tidak pernah membencimu.”

Baekhyun melirik bagian atas kepala Seona dan mendengar isak tangis Seona. Baekhyun menutup matanya, meletakkan dagunya di atas kepala Seona. “Menangislah sampai kau tidak bisa menangis lagi, oke? Aku akan berada di sini untukmu. Aku selalu akan berada di sini untukmu.”

Baekhyun merasakan anggukan kepala Seona. “B-Baekhyun?”

“Ya?”

“Terima kasih karena berada di sini bersamaku,” bisik Seona.

Baekhyun mencium bagian atas kepala Seona. “Tidak ada tempat lain yang aku inginkan selain bersamamu.”

.

.

.

Joon Myeon berjalan menyusuri jalan dengan tatapan kosong. Sekarang sedan hujan, dan jalan-jalan terlihat kosong. Mungkin itu yang terbaik, mengingat bahwa ia sangat marah dan mungkin saja akan memukul orang pertama yang ia lihat, apakah itu seorang pria, seorang wanita, atau anak-anak. Usia atau jenis kelamin tidak penting lagi baginya. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk berada di sana dan berdiri diam sehingga ia dapat melepaskan semua amarahnya.

Menikam bayi itu berulang-ulang terasa menyenangkan baginya, tapi itu tidak cukup. Hampir tidak cukup. Dia ingin melakukan lebih dari itu, ia membutuhkan cara lain untuk melepaskan amarahnya.

Ia menatap tangannya. Hujan membantunya membasuh semua darah dan pakaiannya yang terkena darah segar Seona. Itu bagus. Ia tidak ingin siapapun melihat darah pada dirinya. Ia seharusnya mencuci pakaiannya, atau setidaknya mengganti pakaiannya. Tapi itu tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Semua darah itu membuatnya panik.

Begitu banyak darah. . .

Joon Myeon ingat isak tangis Seona karena kesakitan dan juga ketakutan, dan ia ingat perlahan Seona menjauhinya dengan matanya menatap dirinya seakan ia orang asing, saat ia mencoba untuk tetap terjaga, dadanya bergerak naik turun perlahan. . . Perlahan. . . Lalu melambat. . .

Joon Myeon tidak tahu mengapa ia pergi. Mungkin ia tidak ingin melihat Seona mati.

Ia bertanya-tanya apakah Seona sudah mati. Pikiran itu membuatnya senang. Itu merupakan hukuman yang tepat baginya untuk mati.

Joon Myeon berhenti berjalan dan berkedip menatap sebuah rumah. Rumah Baekhyun. Apakah dia ada di dalam?

Joon Myeon menatap pintu gerbang itu selama beberapa waktu, tidak yakin jika ia ingin masuk ke dalam rumahnya sekarang atau menunggu di hari lain. Bagaimana jika Baekhyun benar-benar berada di  dalam sana?

Apakah ia akan membunuhnya?

Joon Myeon menyeringai. Tentu saja ia akan membunuhnya. Pertanyaan adalah apakah ia merasa sangat terburu-buru ingin membunuh orang lain setelah membunuh bayi yang dikandung istrinya?

Joon Myeon mengangkat alisnya ketika ia melihat seorang wanita berjalan ke arahnya, berhenti di belakang gerbang yang tertutup itu. Dia adalah Byun Hyera yang sedang memegang payung, orang yang sedang hamil dengan bayi milik Baekhyun. Joon Myeon menatap perut Hyera yang membesar, dan bertanya-tanya apakah dia tahu siapa ayah dari bayi itu. Hanya karena seorang wanita tampak innocent bukan berarti bahwa dia innocent.

“Tuan Kim?” tanya Hyera dengan menaikkan alisnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau sekarang ada di  seluruh berita. Mereka mengatakan kau menikam istrimu sendiri dan hampir membunuhnya. Apakah itu benar?”

Jadi ternyata Seona masih hidup. Itu satu-satunya alasan mengapa ia berada di berita secepat itu. Seona pasti telah menghubungi polisi.

“Ia berbohong padaku,” ucap Joon Myeon pelan. “Istriku…Ia berbohong padaku.”

Hyera berkedip melihat Joon Myeon yang semakin mendekatinya. Sekarang satu-satunya penghalang mereka adalah sebuah pagar.

“Bagaimana bisa dia berbohong?”

“Istriku berselingkuh,” ucap Joon Myeon dengan jujur. Kemudian ia menambahkan tanpa memerdulikan apa yang akan Hyera katakan. “Dengan suamimu.”

Payung Hyera jatuh dari tangannya lalu menyentuh tanah yang basah. Hyera menatap Joon Myeon, semua yang berada di dalam tubuhnya menjadi kaku saat hujan mengenai kepalanya. Baekhyun berselingkuh?

Baekhyunnya?

“Itu tidak mungkin!” seru Hyera menyangkal perkataan Joon Myeon. “Suamiku mencintaiku, aku sedang mengandung anaknya-”

“Lalu? Ia tidak peduli.”

Hyera mengangkat tangannya ke kepalanya, tidak yakin apa yang harus ia lakukan. Suaminya tidur dengan wanita lain? Dengan perancang interior itu? Dengan wanita yang ia undang ke pestanya?

“Apakah mereka…Apakah mereka masih bersama?” tanya Hyera, suaranya terdengar parau.

“Istriku mengaku bahwa mereka sudah tidak bersama. Apakah suamimu berada di rumah?”

Hyera menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak. Salah satu pembantu mengatakan padaku ia pergi ke suatu tempat setelah menonton berita.”

Mata Hyera membesar. “Ia pergi menemuinya,” bisik Hyera. “Baekhyun….pergi menemuinya.”

Joon Myeon mengepalkan tanganya. “Istriku hamil, seperti yang kau ketahui,” ucap Joon Myeon tiba-tiba. “Ia tidak tahu siapa ayah bayi itu. Sepertinya ia telah tidur dengan suamimu dan juga aku di hari yang sama.”

Hyera berbalik sedikit menjauh, pikiran berjalan melalui kepalanya. Apa sekarang? Dia terlalu terkejut untuk marah, terlalu khawatir. Jika suaminya berselingkuh, pergi menemui selingkuhannya selama waktu yang dibutuhkan. . . Apakah itu berarti Baekhyun mencintai wanita itu?

Apakah itu berarti Baekhyun akan kembali dan meminta cerai?

Tubuhnya menjadi kaku memikirkan hal itu. Ia hamil tujuh bulan. Hanya dua bulan lagi. Itu adalah waktu yang tinggal ia butuhkan. Baekhyun tidak bisa menceraikannya sekarang. Daehyun akan membunuh dirinya! Tugasnya adalah untuk membuat Baekhyun tetap berada disampingnya sampai bayi ini lahir, itu saja. Menikah, kemudian memiliki bayinya. Itu semua yang seharusnya ia lakukan.

Sialan, Daehyun telah meyakinkannya bahwa Baekhyun tidak akan pernah mengkhianati dirinya. Daehyun mengatakannya dengan begitu percaya diri! Jadi jika pria itu berani menyalahkannya atas peristiwa tak terduga ini, ia hanya akan mengatakan bahwa itu semua salahnya!

Hyera mengepalkan tangannya. Ia harus tenang. Ia tidak begitu yakin jika Baekhyun akan minta cerai. Yang memberikannya sedikit waktu. Atau haruskah ia berhadapan dengan Baekhyun tentang perselingkuhannya?

Sepertinya ia hanya harus bertingkah normal, seakan Joon Myeon tidak datang menemuinya dan mengatakan bahwa suaminya berselingkuh.

Ia harus memberitahu Daehyun tentang hal ini. Mungkin dia akan tahu apa yang harus dilakukan.

Hyera menatap Joon Myeon yang sedang menatapnya dengan mata melebar. Istri Joon Myeonlah penyebab semua ini terjadi. Bagaimana bisa ia percaya pada Seona! Hyera menyambutnya masuk ke rumahnya dan justru ia tidur dengan suaminya.

Ia akan membuat Seona membayar semuanya!

Hyera berjalan ke pintu gerbang dan menekan tombol. Dibuka perlahan-lahan, membuat Joon Myeon terkejut bahwa Hyera membukakan pintu gerbang untuknya.

Hyera berjalan ke arahnya. “Suamiku akan membayarnya, aku dapat meyakinkamu tentang hal itu. Aku hanya bisa berasumsi kau datang ke sini untuk membunuhnya. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu.”

“Kenapa?”

“Karena. Kau sudah membunuh bayi istrimu.”

Joon Myeon tersenyum. “Aku melakukannya? Aku tidak yakin apakah aku telah berhasil melakukannya.”

“Kau berhasil. Dan aku akan menyelesaikan sisanya yaitu membunuh istrimu.”

“Mengapa aku tidak bisa melakukannya?”

“Karena aku ingin membunuhnya. Kau sudah membunuh bayi itu. Sekarang giliranku untuk membunuh ibu dari bayi itu.” Hyera memiringkan kepalanya. “Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku tidak membiarkanmu membunuh suamiku.”

Joon Myeon mengangguk membenarkan perkataan Hyera. Hal itu membuat Hyera menyeringai. “Kalau begitu biarkan aku memberitahumu mengapa.”

Walaupun hujan turun mengenai mereka, mereka mengabaikannya saat Hyera dengan tenang menjelaskan rencana yang telah dibuat dalam benak seorang pria yang Baekhyun kenal dengan baik.

.

.

.

Yi Fan menatap dua orang berbicara dari jendela kamar tidurnya. Ada Hyera, berbicara dengan Joon Myeon. Dan bayi Haru itu terbentuk di dalam tubuh Hyera.

Ia berbalik dan merasa jijik ketika Hyera meraih tangan Joon Myeon dan meletakkannya di perutnya. Orang itu adalah seorang pembunuh. Itu jelas dari berita yang terus mengatakan bahwa bayi Seona tewas dan Joon Myeon dianggap tersangka. Beraninya Hyera mengizinkan pria itu untuk menyentuh anaknya!

Ia mengintai dari jendela dan duduk di tempat tidur dan berpikir.

Ia tahu di mana Baekhyun berada. Baekhyun pergi untuk menemui Seona di rumah sakit. Baekhyun dan Seona tidak tahu bahwa ia telah mendengar argumen mereka enam bulan lalu. Ia berdiri di samping pintu ketika mereka berdua berlari keluar, terlihat marah besar. Ia bersembunyi di balik tanaman besar yang menyembunyikan tubuhnya dan mendenganya karena mereka berteriak satu sama lain. Itu kejadian yang mengejutkan, tapi ia tidak pernah mengatakan sepatah kata pun.

Sekarang ia bertanya-tanya apakah ia harus pergi ke rumah sakit dan mengatakan Baekhyun tentang kebenarannya. Tentang semuanya. Ia sudah telah membuat rencana untuk menculik bayi yang di kandung Hyera setelah lahir. Ini adalah satu-satunya rencana dia bisa lakukan untuk melindungi anaknya.

Tapi sekarang ia tidak begitu yakin. Tidak diragukan lagi Joon Myeon mengatakan pada Hyera tentang suami Hyera dan istrinya. Untuk apa Joon Myeon datang setelah membunuh bayi istrinya tanpa memberitahu kebenarannya?

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang, tetapi jika ia ingin menyelamatkan bayinya, ia harus memikirkan sesuatu yang cepat, terutama Hyera sekarang mengetahui apa yang telah suaminya lakukan. Dan ketika Hyera mengatakan Daehyun tentang hal itu. . . Oh Tuhan, tidak ada yang tahu apa yang mungkin akan terjadi!

Yi Fan berbaring di tempat tidurnya. Hanya ada satu pemikiran yang terus bermunculan di kepalanya, yaitu mengatakan pada Baekhyun tentang kebenarannya.

to be continued…

.

.

.

Ahra’s Note:

Pertama-tama aku minta maaf kalau ada kesalahan dalam bentuk apapun (termasuk typo) karena akunya yang sudah lima watt sekarang. Bytheway, aku senang banget baca pendapat-pendapat kalian di chapter sebelumnya, walaupun maaf banget belum bisa bales satu-satu /bow/ mungkin udah ada yang lumutan nunggu chapter ini? kuharap tidak. Chapter ini termasuk chapter yang terpanjang karna lebih dari enam ribu words /duniaharustahu._./ Aku juga harap kalian ngga lupa sama Da Xian yang merupakan Daehyun.

Menurut kalian gimana? Apakah Seona dan Baekhyun terlalu egois atau tidak? Tell me what you thought!

See ya!

86 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 13]

  1. ih hyera dan suho bener bener jahat sebel deh mudahan kris bilang ke baekhyun .sebenernya aku udah baca udah lama tap gara labtopnya rusak hampir 3 minngu kalau di hp ga bisa koment .maaf ga bisa koment panjang ,kalau panjang suka ga kepost sebel kan

  2. ih hyera dan suho bener bener jahat sebel deh mudahan kris bilang ke baekhyun .sebenernya aku udah baca udah lama tap gara labtopnya rusak hampir 3 minngu kalau di hp ga bisa koment

  3. ih hyera dan suho bener bener jahat sebel deh mudahan kris bilang ke baekhyun .sebenernya aku udah baca udah lama tai labtop rusak hp ga bisa kome

  4. sebel sama hyera sama suho semoga rencana mereka gagal
    maaf ga bisa koment panjang dari tadi ga bisa kepost melulu

  5. sebenernya udah baca dari lama jadi tinggal koment ff yang belum aku koment soalnya hampir berapa minggu labtop aku rusak terus di hp ga bisa koment

  6. sebenernya udah lama baca .gara gara labtop rusak dan ga bisa koment di hp jadi ya beberapa ff br bisa di koment sekarang .sebel

      • Kakak aku udah lama nunggu nih tapi belum di update2 😂 aku udah kepalang penasaran banger ka. Ff ini ga di berhentiin kan ka ? Sumpah ini ff dengan konflik yang menurut aku berhasil bikin greget + penasaran banget 😂😂

  7. mungkin sedikit terdengsr egois bagi baekhyunxseona , tapi mereka berhak sih mereka sama” cinta dan yeahh percuma aja memertahankan orang yang ga kita cintai /gua ngomong apa sih/
    heran aja si junmyeon psikopat kah , udah jadi buronan eh dia malah ena-ena jalan” di tengah ujan😄

  8. Taik joonmyeon psikopat cuy, dia senang waktu bunuh bayi seona, waktu lukain perut seona dengan pisau, waktu dulu dia nampar seona! Dia bener2 ngga punya perasaan, dan skarang apa? Dia mau kerja sama bersama hyera untuk bunuh seona! Dan akhirnya hyera akan bunuh baekhyun! Mereka berdua –joonmyeon-hyera– benar2 komplotan pembunuh. Tapi sebenarnya atas dasar apa hyera mau bunuh baekhyun? Apa ada kejadian di masa lalu mungkin, sehingga dia memiliki dendam terhadap baekhyun?
    Jjangg!!

  9. baekhyun cowo banget sungguh /? dia ngaku ke seona apa yang dia lakuin dan ngga nyangka seona justru ngga marah ke baekhyun, kupikir setelah tau baekhyun yang nyuruh chen buat kirim foto itu, dia bakal benci banget sama baekhyun taunya malah mereka baikan dan ngakuin perasaan masing-masing. baek-seona, you deserve better! ayo kris, kamu satu-satunya kunci kebohongannya hyera. btw si chanyeol-haneul belum muncul lagi yah setelah tau kebenaran perselingkuhannya baekhyun..

  10. Aku gak tau sekarang yang terbaik buat Seona itu balik lagi sama Baekhyun atau enggak, karena disini rencananya Hyera masih misterius dan dia kerja sama bareng si Joon Myeon mereka makin bahaya aja. Dan disini Daehyun jadi siapa? Dia jahat juga? Berarti gak aman nih keadaan Baekhyun maupun Seona. Aku harap Chanyeol, Haneul dan Yi Fan bisa nyelamatin mereka

  11. aku inget Da Xian, tapi aku ga inget kalo itu Daehyun. berarti daehyun itu siapanya baekhyun dan hyera??
    aku ga berpikir baekseo egois. justru menurut aku mereka harus bener2 bersatu. ada yg mau ngebunuh mereka dan mereka butuh perlindungan dan kebenaran. dan ya, tentu aja yifan harus bilang sama bakehyun yg sebenernya. toh dia mau dapetin anaknya yg dikandung hyera.

  12. Aku gak tau, masalah ini terlalu rumit untuk dipikirkan sndri.
    Tapi aku rasa dua org yg lagi hujan2an itu punya rencana buruk. Daehyun siapa thor? *mian*

    Setelah ini akan semakin banyak peperangan hati dan peperangan fisik

  13. sejujurnya aq msh gak ngerti apa motif dari rencananya Hyera? Dan apa hubungan Daehyun – Hyera – Baekhyun? Apa Daehyun itu kakaknya Baek? tp kenapa pny niatan jahat sm Baek?

    Dan kalo ditanya apa Baek-Seo egois, hmm… aq sendiri jg bgg..😀

  14. Mnrutku mrka brdua tdk egois,,mrka hnya sdg d mabok cinta,,,
    Sbaiknya Yifan cpt2 mnceritakan hal yg sbnrnya pd Baekhyun agr smuanya jd jelas dan Baekhyun tdk usah brtnggng jwb dgn Bayi Hyera krn itu bukn anaknya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s