[SERIES] HAPPILY OF MARRIAGE (CHAPTER 5)

HOM5|| Author : Demon’s Black Angel ||

Tittle : Happily of Marriage (Chapter 5: Love Me Like You Do)

Main Cast : Oh Sehun, Kim Jihyun, etc

Genre : Romance, Marriage life

Rated : PG-17

Dislaimer : This is my story! Please your comment 😀

Hai, masih ingat dengan FF ini, demon harap masih ya. Maaf banget karena baru bisa ngepost sekarang, demon butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru (kampus), dan itu ngebuat demon malah melalaikan ff ini. Demon minta maaf banget. Semoga kalian bisa mengerti dan memaklumi ya. LOVE YOU GUYSS.

Oh ya, Sekarang Demon ada di jurusan BAHASA & SASTRA INGGRIS di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang anak Sastra Inggris tunjuk tangan dong. Biar kita bisa sharing.

Perhatikan keterangan waktu agar tidak bingung dengan jalan cerita!!!

 

( TEASERCHAPTER 1CHAPTER 2CHAPTER 3TEASER CHAP. 4 CHAPTER 4 )

Happily of Marriage

Chapter 5

(Love Me Like You Do)

.

.

Menebak perasaan manusia menjadi salah satu kegiatan yang mungkin sangatlah sulit dilakukan. Bahkan jika kau menjadi orang terdekatnya sekalipun. Menerka sesuatu yang terus berubah itu membuat kepala berdenyut sakit. Bahkan dengan mengurut pelipis untuk mengurangi kerutan yang timbul disana tidak akan berpengaruh apa-apa.

“Jadi kenapa aku harus menerimamu kembali?”

Jongin tampak bersekedap setelah menyesap pelan kopi pesanannya. Wanita dihadapannya tampak mengkerut dan menunduk. Tak berani bahkan sekedar untuk melihat wajah sahabatnya satu ini. Atau mungkin mantan sahabat? Entahlah. Ia tak pernah berpikir bahwa bertemu teman lama di negeri orang akan jadi suatu yang rumit seperti ini. Mereka sudah berubah. Jelas. Menjadi orang yang asing satu sama lain dan sekarang wanita ini kembali muncul di hadapannya untuk menawarkan kembali sebuah persahabatan. Tidakkah itu terlalu busuk?

“A-aku. Aku punya alasan untuk menghi-”

“Setelah menghancurkan rumah tangga orang lain? Aku bahkan tak pernah berpikir kau mampu melakukan itu.”

Wanita itu semakin menundukkan wajahnya. Menahan sesuatu yang mungkin akan segera keluar dari pelupuk matanya, ia memilih untuk menatap sepatunya. Jarinya saling bertaut dan giginya gemeretuk. Mengingat ini pertemuan pertamanya setelah beberapa bulan menghilang, membuatnya ragu apakah lelaki ini masih mau memaafkannya.

“Kau bukan Suzy yang aku kenal. Kau bahkan keluar jalur hanya untuk membalaskan dendammu padanya yang tidak tahu apa-apa. Kau berusaha menghancurkan kebahagiaan yang ia dapat supaya ia merasakan-”

“Aku membencinya jongin!!!” Napasnya naik turun dan kilatan merah menghiasi mata beningnya. Ia tak peduli jika air mata telah mengalir di pipinya. Ia hanya perlu mengeluarkan semua perasaan yang selama ini ia pendam, dan semua akan jelas. Ya, ia hanya perlu bicara.

“Aku benci selalu dibandingkan dengannya. Aku benci ketika semua lebih memilihnya dan mencemoohku. Aku benci ketika kau lebih perhatian padanya. Aku benci ketika ia merebut mimpiku. Aku benci ketika aku jatuh dan ia tak pernah ada untukku. APA ITU YANG DINAMAKAN SAHABAT HAA?”

Napas Suzy naik turun setelah teriakan tersebut menggema di seluruh sudut cafe, tidak mempedulikan kemungkinan mereka akan di usir karena mengganggu pengunjung lain. Sedangkan didepannya Jongin bungkam. mencerna kalimat yang barusan keluar dari bibir sahabatnya. Jongin masih menatap Suzy intens membuat wanita itu kembali menunduk.

Sejenak Jongin merasak sakit di ulu hatinya. Sahabatnya ini tampak sangat berbeda dari terakhir ia bertemu. Wajah dan tubuhnya tampak lebih tirus dan lingkar hitam dibawah matanya membuat wanita itu tampak sangat lelah. Jangan lupakan air mata yang masih mengalir di pipinya. Jongin jadi merasa sangat jahat pada sahabatnya satu ini.

“Apa yang membuatmu berpikir aku lebih memilihnya daripada kau?” Sahut Jongin melembut. tak mau membuat suasana makin keruh dengan sikap keras kepalanya. Semua tidak akan usai jika mereka sama-sama meninggikan ego mereka bukan. Maka dari itu Jongin memilih untuk mengalah. Toh tidak ada salahnya.

Jongin tersenyum di seberang meja memandang keseluruhan wajah Suzy. Senyumnya makin lebar ketika Suzy mangalihkan pandangannya. Entah apa yang ia pikirkan sekarang.

Suzy bukanlah ornag yang harus dihakimi, Jongin tahu itu. Tapi setidaknya memberi wanita ini sedikit pelajaran menjadi salah satu tanggung jawabnya sebagai seorang sahabat.

“Hei, kau tahu-” Jongin memajukan tubuhnya dan menopang dagu menatap intens Suzy. “Kalimatmu tidak menunjukkan bahwa kau membencinya.”

Suzy menolehkan pendangannya ke luar cafe. Hari mulai beranjak sore dan lalu lintas mulai padat oleh kendaraan para pegawai yang telah pulang kerja dan para pejalan kaki berebut untuk menyebrangi jalan. Hiruk pikuk kota China terasa sangat menyesakkan jika dilihat dengan saksama. Namun percakapan mereka tak juga menemui ujungnya. Ia sudah merasa sesak sedari tadi. Ia merasa terlalu menjadi asing untuk Jongin.

Di lain sisi, Jongin terus menatap Suzy. Sejujurnya Jongin merasa sakit ketika Suzy menjadi terasa begitu jauh dan ia tak bisa menggapainya kembali. Jongin rindu wanita itu, tentu. Ia rindu ketika Suzy bermanja-manja padanya layaknya dulu. Tapi suasana begitu canggung hanya untuk memulai kata-kata.

“Apakah kau mau mendengar sesuatu?” Suzy tampak tak bergeming dihadapannya. Namun Jongin terus melanjutkan kalimatnya, tahu bahwa Suzy memasang telinganya dengan tajam walaupun tampak enggan. “Mungkin saja bisa mengubah pandanganmu terhadap Jihyun.”

Jongin mulai bercerita walaupun Suzy masih terus menatap jalanan di luar sana. “Kau ingat saat pemilihan untuk kontes nasional saat itu?” Suzy tampak berpikir dan mengangguk pelan. “Sebenarnya Jihyun ingin memberikan kesempatan itu padamu, tapi ia tak punya hak atasnya. Dan karena ia memikirkanmu, ia menolak kesempatan emas itu. Ia menolak karena menghargaimu sebagai sahabatnya yang tidak mendapat kesempatan terebut. Ia hanya terlalu menyayangimu, Suzy.”

.

20 MEI 2009

.

Keadaan sekolah menengah atas itu tampak begitu sesak. Beberapa siswa berlari mondar-mandir di koridor untuk melakukan persiapan kontes menyanyi nasional yang diadakan di sekolah tempat Suzy, Jihyun dan Jongin menimba ilmu. Semua persiapan sudah mulai dilakukan seminggu sebelum pertunjukan. Dimana pemenang dari berbagai daerah yang telah mengikuti kontes sebelumnya bertarung, dan bagi dia yang menang akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu penyanyi papan atas. Sangat menggiurkan mengingat menjadi artis saat itu sangatlah sulit.

Di tengah hiruk pikuk itu, Jongin dan Jihyun sedang terduduk lemas di dalam ruang dance. Mereka baru saja berlatih dan peluh masih mengalir dari pelipis masing-masing mereka.

“Kau tahu, kontes nasional akan dilaksanakan minggu depan.” Jihyun mengangguk semangat. Ia tak sabar untuk mengikuti kegiatan itu bersama sahabat-sahabatnya. Mereka terus berbincang, diselingi candaan dari Jongin yang kadang membuat perut Jihyun sakit karena kegaringannya. Tak menyadari bahwa Suzy melihat itu semua dari balik pintu.

Disisi lain, Ketika membuka pintu, Suzy mendengar suara tawa yang sangat ia kenal. Itu suara Jihyun dan Jongin, mereka tampak sangat bahagia disana. Dengan pandangan sendu ia menutup pintu dan terduduk disana. Bahkan mereka dapat tertawa tanpanya. Benarkah yang orang-orang katakan? Benarkah ia telah tersisih oleh Jihyun dan Jongin?

.

.

.

Jihyun mendengar semuanya. Guru-guru telah memilihnya tanpa ada pertimbangan dan tanpa memikirkan Suzy sebagai peserta.

Perdebatan terdengar sengit di dalam sana. Tampaknya itu antara Kang seonsaengnim dan Jung seonsaengnim. Ah, mereka berdua adalah salah satu panitia penyelenggara kontes ini. Tapi apa yang mereka perdebatkan disana, pikir Suzy. Ia makin mendekatkan telinganya ke pintu.

“Kita akan mengirim Kim Jihyun sebagai kontestan.” Itu suara Kang seonsaengnim. Suzy mengernyit mendengar nada yang penuh akan perintah itu. Ia tahu Jihyun adalah murid kesayangan Kan seonsaengnim, tapi ini tidak adil.

“Tidak. Ini tidak adil Kang seonsaengnim. Bagaimana nasib Suzy yang juga memenangkan kontes kemarin. Tentu dia juga ingin mengikuti kontes satu ini. Ini tidak bisa saya biarkan.” Suzy sedikit lega ketika Jung seonsaengnim membelanya. Namun hatinya kembali berdenyut sakit ketika Kang seonsaengnim menyatakan dengan tegas bahwa yang akan di kirim adalah Kim Jihyun.

“Bae Suzy itu tidak mempunyai bakat. Ia hanya beruntung dapat memenangkan kontes itu, bahkan jika ia bukan anak dari salah satu donatur penting di sekolah ini, dia tidak akan lolos audisi.” Kata-kata itu terus berputar si otak Suzy. Benarkah semua itu? Tapi kenapa? Kenapa harus Jihyun yang dipilih? Dengan berat Suzy beranjak dari sana. Hatinya terasa remuk redam karenanya.

.

.

.

Berbanding terbalik dengan Suzy, nasib baik terus mendatangi Jihyun, setelah mendapatkan beberapa penghargaan dalam bidang menari, kini ia di tunjuk untuk ikut dalam bidang menyanyi. Namun Jihyun merasa ada yang salah dalam hal ini. Setahunya, yang akan di kirim sebagai perwakilan sekolah adalah ia dan Suzy, namun sekarang hanya ada gambarnya seorang di salah satu banner yang terpajang. Ini terasa tidak benar di benak Jihyun.

Manusia memang makhluk yang keras kepala dan jahat. Jihyun yakin akan kata-katanya itu. Setelah berdebat panjang dengan kepala sekolah dan di ketahui bahwa Suzy tidak jadi ikut karena dirinya, ia tampak berang. Bahkan ia mengancam tidak akan ikut pertandingan itu jika Suzy tidak ikut serta, namun malang bagi Jihyun karena kepala sekolah yang menurutnya metrealistis itu balik mengancam akan memperburuk image Suzy di sekolah. Dan hal itu adalah satu-satunya yang tidak Jihyun inginkan. Jadilah ia dengan berat hati mengikuti lomba yang menurutnya sialan itu.

Hubungan persahabatan yang mereka miliki tidaklah sekuat batu karang. Hal itu terbukti dengan Jihyun dan Suzy yang sudah tidak pernah berinteraksi satu sama lain. Hal itu membuat Jongin sebagai pihak ketiga merasa serba salah. Menurutnya Jihyun tidak berani memulai percakapan karena sangat merasa bersalah pada Suzy. Dan Suzy merasa di khianati oleh Jihyun. Berkali-kali Jongin berusaha memperbaiki keadaan keduanya, namun hasil yang dicapai nihil. Tidak ada satupun dari mereka yang hendak memulai atau meminta penjelasan. Hingga mereka tamat dari sekolah itupun masalah tak juga selesai. Bahkan Suzy makin menumpuk dendamnya pada Jihyun yang tidak mengetahui apa-apa.

.

09 FEBRUARI 2014

.

“Dan kau tahu. Jihyun menyimpan luka yang lebihh dalam dari luka yang ada padamu. Lukanya lebih dalam ketika ia merasa gagal sebagai sahabat. Jihyun selalu ingin berada di sampingmu, ketika kau mengalami keterpurukan, ia hanya bias meliaht dari jauh, terlalu takut untuk mendekapmu. Wanita itu, menganggap kau adalah salah satu hartanya yang paling berharga Zy.”

Tidakkah itu terlalu dilebih-lebihkan? Yang diucapkan Jongin terasa seperti sebuah kebohongan besar bagi Suzy. Hatinya tidak bisa menerima tanpa memfilter ucapan Jongin. Mana saja yang menurutnya merupakan fakta dan mana yang merupakkan ilusi semata. Dan yang ia dapatkan hanyalah hatinya yang tidak dapat menerima semua ucapan Jongin. Walaupun nyatanya ia sangat berharap apa yang dikatakan Jongin adalah sebuah fakta.

“Kau hanya perlu membuka sedikit mata serta hatimu. Ia tidak seburuk yang kau fikir. Pertimbangkan lagi, dan temui aku jika fikiranmu sudah jernih. Aku akan mengirimkan alamatnya.”

Setelahnya Jongin beranjak meninggalkan Suzy yang masih termenung di kursinya. Terjerat dalam seribu fikiran yang meracuni otaknya. Merasa tak mendapat kejelasan Suzy mengacak rambutnya frustasi. Semua terasa makin rumit dimatanya. Benarkah? Atau hanya ia yang tak dapat membuka hati dan fikirannya?

(Love Me Like You Do)

Seoul tampak sangat padat sore itu. Kemacetan terjadi di berbagai tempat, dan Sehun berharap kemacetan itu segera berakhir. Namun setelah setengah jam, mobil-mobil sial itu tak juga beranjak. Sehun memijit pelipisnya yang pening. Ia tak terbiasa terjebak macet seperti ini, demi Tuhan. Setelah menimbang-nimbang, Sehun memilih turun dari mobilnya dan beranjak menuju cafe pinggir jalan yang ada di dekatnya. Minum kopi setelah bekerja seharian tampaknya tak buruk. Setelah memesan, Sehun memilih tempat duduk di sudut cafe.

Ini sudah hari ke- entahlah, Sehun tidak pernah menghitung, Jihyun dirumah. Kemana sebenarnya wanita itu. Apakah ia kembali bermalam di rumah Jongin? Tapi setelah pertengkaran mereka, ia rasa wanita itu tak akan membawa Jongin masuk lagi dalam masalahnya. Ia cukup tahu sifat Jihyun yang tidak akan mengorbankan orang lain demi diri sendiri.

Sehun menghela napas dan menyesap kopinya yang sudah dingin. Ia edarkan pandangannya keluar cafe, semburat orange masih menyelimuti langit Seoul dan kemacetan yang beberapa saat lalu terjadi sudah mulai terurai. Ia tak tahu sudah berapa lama ia terduduk disana. Terlarut dalam pikirannya tentang Jihyun.

Dahi Sehun mengernyit ketika getaran disaku memgganggu lamunannya. segera ia mengeluarkan benda persegi empat yang tak hentinya bergetar tersebut. Nama Minhyuk muncul disana dan Sehun segera menerima panggilan itu.

“Hyuuung.” Sehun menjauhkan benda tersebut ketika suara menggelegar Minhyuk masuk ke telinganya. Sejenak ia terdiam, sejak kapan ia dekat dengan adik laki-laki Jihyun itu? Bahkan pria yang berumur dibawahnya itu memanggilnya dengan begitu akrab.

“Ada apa kau menelponku?” suara gemerisik terdengar di ujung sambungan. Tampaknya Minhyuk sedang membenarkan posisi duduknya atau apalah, Sehun tak peduli. Ia masih menunggu saudara iparnya ini bicara.

“Aku punya kabar menganai noona.” Mata Sehun berbinar mendengar nama Jihyun dalam pembicaraan mereka. Dengan sigap ia menegakkan tubuhnya dan memasang telinga dengan baik. Setelah Minhyuk menyelesaikan kata-katanya, Sehun segera beranjak menuju mobil dan memacunya dengan cepat.

Aku berhasil menemukan noona. Wanita itu sekarang berada di China. Ia tinggal di rumah kecil di sudut kota dan bekerja sebagai pelayan di café shoes pada siang hari. Kau bias menemuinya di café, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Sehun mengingat-ingat apa yang Minhyuk sampaikan. Dalam hati ia sangat berterima kasih pada bocah itu. Jihyun. Nama itu kembali terngiang di benak Sehun. Mungkin hatinya sangat bergembira dan euphoria yang melandanya tak dapat di tahan dan terpatri sebuah senyuman di bibirnya. Jantungnya berdetak dua kali-tidak mungkin ini beribu kali lebih kencang dari biasanya. Akhirnya, setelah pencarian yang memakan waktu, ia akan menemui lagi istri tercintanya.

Tercinta? Ya, Sehun telah menyadari perasaannya semenjak Jihyun menghilang dari rumahnya. Menghilang dari hatinya. Tidak pernah Sehun bayangkan kehilangan seorang Jihyun akan memutar balikkan dunianya. Semenjak tak ada istrinya itu, kehidupannya tak lagi teratur. Tidak ada lagi yang menunggunya pulang, yang memberinya senyum setelah Sehun seharian lembur bekerja.

Dan sekarang? Ia berjanji tidak akan memperlakukan Jihyun dengan buruk. Ia janji. Sepenuh hatinya. Demi Jihyun, demi jiwa raganya.

Namun semua rencana pasti ada penghalangnya. Dan Sehun merutuki ini, tepat di depan matanya, terjadi kecelakaan beruntun dan nyaris saja membawa Sehun kedalamnya. Tidak sampai disitu, setelah pria itu memarkirkan mobilnya di parkiran bandara dan check in, pesawat dengan tujuan China mengalami delay karena cuaca yang tidak bersahabat. Dengan pergulatan batin yang cukup panjang serta kesialannya hari itu, pada akhirnya Sehun sampai di negeri tirai bambu pada dini hari. Tubuhnya terasa remuk selama perjalanan tersebut. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk bertemu sang pujaan hati.

Ya, Hati Sehun masih sanggup untuk menempuh beribu mil jauhnya utnuk menemui Jihyun. Dan hal yang tidak ia sangka terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan Sehun tak dapat beranjak dari tempatnya berdiri. Di sana, di dalam sebuah café bergaya eropa, tepatnya di belakang meja kasir, seseorang yang telah menjungkir balikkan hatinya sedang tertunduk.

Bolehkah sekarang ia senang? Bolehkah Sehun meneriakkan pada dunia jika ia sudah menemukan istri tercintanya? Oh, mungkin saja belum. Ia tidak tahu apakah Jihyun masih mau menerimanya setelah apa yang ia perbuat pada wanita cantik itu. Bolehkan ia berharap bahwa Jihyun akan menerimanya kembali?

Sehun tahu, apa yang telah ia perbuat selama Jihyun menjadi istrinya adalah sesuatu yang sangat bejat menurutnya. Hal tersebut membuat nyali sehun ciut untuk menghampiri istri tercintanya walaupun matanya tak lepas dari makhluk tersebut.

Sehun tidak tahu apa telah ia pikirkan selama beberapa menit ini, hingga ia tak juga beranjak mendekati. Namun hal yang diluar nalar Sehun terjadi, di hadapannya, tepat di depan matanya, wanita yang beberapa saat lalu berada di belakang meja kasir telah berdiri dengan terengah, lalu berhambur menuju pelukannya.

Apakah ia terkena penyakit jantung? Kenapa jantungnya terasa berdetak sangat kencang ketika lengan Jihyun melingkar di pinggangnya. Jihyun menutup matanya dan menghirup aroma yang sangat ia rindukan ini. Tangisnya makin pecah ketika Sehun mencium pucuk kepalanya dengan lembut.

“Aku merindukannmu. Ini- ini benar kau? Ini benar kau. Aku tidak bermimpi lagi. Ini nyata. Hiks . . .Aku- aku sangat merindukanmu hingga jantung ini terasa berhenti jika saja aku tak melihatmu sekarang. Aku- aku . . .”

“Ini aku sayang. Kau tidak bermimpi. Aku lebih merindukanmu sayang. Aku merindukanmu hingga rasanya aku akan gila. Aku menemukanmu. Aku menemukanmu.”

Sehun tidak tahu apa yang ia rasakan. Semua sakit, senang, dan khawatir berbaur jadi satu menjadi sebuah euphoria yang sangat menyesakkan hatinya. Sejenak Sehun melepas dekapannya, lalu kembali ia rengkuh tubuh mungil itu.

“Aku- aku mencintaimu Sehun-na. Sangat.” Bolehkah Sehun menangis sekarang? Rasanya seperti ribuan bunga sedang mekar dalam hatinya mendengar ucapan lugu dari istrinya tersebut.

“Aku tahu. Aku lebih mencintaimu- istriku.”

(Love Me Like You Do)

Hidup mungkin akan sangat berarti jika di isi oleh sesuatu yang berharga. Dan salah satu yang berharga bagi Sehun sekarang adalah kebersamaannya bersama sang istri. Setelah merasa lelah berpelukan di pinggir jalan, yang dihadiahi oleh macam-macam tatapan dari orang sekitar, Sehun memaksa Jihyun untuk membawa lelaki itu kerumahnya. Dan berakhir dengan Sehun yang memeluk posesif Jihyun di sofa. Salah satu tangannya mengelus rambut Jihyun.

“Dari mana kau tahu keberadaanku?”

Sehun menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatap Jihyun. Ah, rasanya ia ingin menghabiskan waktunya selalu seperti ini. Ia memasang pose berfikir dan melirik Jihyun yang tampak sangat penasaran. “Aku. . . aku tahu dari Minhyuk.”

Jihyun menghela napas panjang. Sudah ia duga, selalu adiknya itu tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia. Sepertinya Jihyun akan memberi pelajaran pada adik kesayangannya itu. Apa saja yang sudah dibocorkan oleh lelaki itu, pikir Jihyun. Keberadaannya, kondisinya, lalu apa lagi? Jihyun berjengit lalu menegakkan duduknya, mungkinkah Sehun tahu kalau ia sedang . . .

“Sehun, apa kau tahu kalau aku sedang mengandung?”

Terperanjat, Sehun membelalakkan matanya. Duduknya yang semula menyandar menjadi tegak, dan ia menatap Jihyun dengan keterkejutan yang tidak dapat disembunyikan. “A-PAA?? KAU HAMIL???”

: : : TO BE CONTINUE : : :

HAAAAAIIII, its been a long time since I post the previous chapter. Ahh, demon gak tahu kenapa sangat sulit untuk ngelanjut ff ini. Dan akhirnya demon melanjutkan. Nooh, Sehun baru tahu kalo si Jihyun hamil. Oh ya, maaf kalo ada typo ya, demon gak sempet edit lagi, cause lagi drop.

Tahukan sekarang, gimana perasaan mereka masing-masing. Dan sebenernya mereka itu ngga ada yang antagonis, Demon gak tega ngebuatnya. Demon tau ini nggak sesuai harapan mungkin, karena sangat lama. tapi setelah Demon nunggu inspirasi, inilah yang nyangkut di otak Demon. So, semoga kalian puas ya.

Untuk chapter depan, bakal jadi Chapter terakhir. Yeey, akhirnya end juga. Chapter depan bakal bercerita tentang penyelesaian masalah mereka, Jadi terus pantengin yaa.. 

Hope you like & enjoy it.

블렉 포르 아이스 a.k.a Demon’s Black Angel

Author Site :

Twitter              : https://twitter.com/wahyusilvi1

WordPress       : www.demon2507.wordpress.com

Email               : www.ohsilvy2507@gmail.com

BBM               : 54A98355

Advertisements

114 responses to “[SERIES] HAPPILY OF MARRIAGE (CHAPTER 5)

  1. Hai demon, ketemu lagi..
    akhirnya setelah sekian lama, comeback juga ffnya..
    astaga kenapa kita bisa sama yah demon, aku juga di prodi sastra inggris tapi di universitas mulawarman samarinda, wkwk semangat yah jalanin kuliahnya.. wkwk
    akhirnya sehun sama jihyun kembali bersama lagi….
    tapi liat reaksi sehun waktu jihyun bilang dia hamil itu sebenarnya dia bahagia atau malah gak suka, atau sehun malah mikir kalau anak yg dikandung jihyun itu anaknya jongin, astaga… jangan sampai daah, baru aja mesra masa mau marahan lagi, gak seruu dong… ayoo demon di tunggu yah kelanjutannya

  2. Baca chapter ini rasanya nyesek banget, so sweet banget bisa liat sehun jihyun bersama lagi…dan tanpa ragu mereka saling mengutarakan rasa cinta, astagaaa ini so sweet banget.
    Gimana ya reaksinya sehun tahu kalo jihyun hamil? Penasaraan banget, ditunggu babget nextnya ya thor…semoga endingnya bahagia 😀

  3. yeyeye akhir nya Jihyun ketemu jga ama Sehun:) Bahagia banget mreka hahaha wahh sehun kaget banget dia?? hahahah d tunggu ya next chapternya semangat^^

  4. Lah… Dikira sehun tau kalo Jihyun hamil. Ehhh.. Malah baru tau. Unrunglah mereka idah ketwmuan. Lega gitu rasanya.
    Oke.. Ditunggu chap depan. Chap end kan? Next ya

  5. Aku udah nunggu lama chapter ini … Kyaaaa akhirnya dipublish juga
    Hohooo sweet moment sehun jihyun… Hoho sehun baru tau kalo jihyun hamil akankah kehidupan mereka berakhir bahagia?? Kyaaa ayoo next next

  6. Fyuhh akhirnya ff ini muncul juga…
    Sudah lama aku tunggu tapi ga muncul, but its okeylaa😁
    Ceritanya masih seru aja,,
    Wkwkwk.. gabisa bayangin ekspresi kagetnya sehun pas dibagian akhir😐

    Ok.. ditunggu next chapnya ya kak, fighting

  7. Nah looh…
    Kemaren yg di chapter 3, yg di apartemen jihyun itu bukan sehun???
    Terus sypa dong…
    Aiiissshh, ini gara2 belum dapet pw-nya nii…

    Tapi seneng banget di chapter ini mereka beneran ketemu,,
    Dan ga nyangka ternyata jihyun-nya nyosor dluan, kirain dya ga bakal nerma sehun dengan mudah…
    Hahahaha, cinta emang buta yaa..

    Chapter depan final ya thor,,,
    Okai, ditunggu yaa..
    Dan bales email aku, aku belum baca chapter 4…

  8. TBC nya gak pas bangeeettt -_- lagi seru” malah muncul si TBC, aiishhh ><
    Semakin keren kak ceritanya, feel dapet banget!! Next chap yg cepet yaaaa

  9. Huwaaa aku bru bca ff ini, n daaeebbaakk thor 😉, penasaran ni gmna reaksi sehun slnjtnya haha, next chap d tggu ya thor
    Keep writing thor 😃

  10. yeeeeeehet,akhirnya dilanjut juga,kkk tuhkan yg nemuin jihyun itu sehun,,huhhuu moga aja suzy percaya sama apa yang jongin jelasain sama dia,trus mreka ber-3 bisa kembali sahabatan deh,kkk ditunggu chapter selanjutnya…..

  11. Sehun kaget banget yak😂😂
    Pengen bgt suzy kembali jd sahabat jongin sm jihyun
    Nah, gini dong sehun sm jihyun jangan berantem muluu
    Aku tunggu chapter 6 nya yaa😆

  12. hallo:’)
    akhirnya dipost juga dan aku pun telat baca:’)
    taukan betapa senengnya aku ^^
    Dituggu banget next chapnya , klo bisa jgn lebih lama dari nunggu chap ini ya:3 hehe
    semangat kuliahnya ya demmon 🙂 hehe

  13. anjay..!! TBC 😑 lagi seru2nya baca tiba2 udah TBC aja hadehh.. 😑😑 next dong eon.. 😄 penasaran nih reaksi jihyun ke sehun, bahwa sehun baru tau kalau jihyun hamil 😂😂 hahaha jujur ya.. ni chap tu yg paling greget gila 😂😂 gue ga sabar nunggu kelanjutannya 😁😆 haha

  14. Kyaaaaaaaaa aku suka bangett.. lucuuu ih
    Ah gatau mau comment a pokoknya ff nya badabes
    Fighting for the next chap and I will wait
    화이팅 author-님

  15. hamil omegat anak siapa yah?! soalnya aku belum baca chp 4 minta pw nya dong kak aku udh mention ke twitternya tpi blm dibls

  16. Jeng jeng udah ketemu ni c istri tercinta…kok sehun kaget bget yaa ktika jihyun bilang ia hamil….haha sehun sehun kaget karna gak lama jadi ayhyaa

  17. Pingback: [Happily of Marriage] Comeback or End ? | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s