Ambition [Chapter 9A] – by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny – Freddie

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Personal Blog : https://sehunbee.wordpress.com

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5] Lie [6] I Got You [7] –

Goodbye Rain [8]

NO! [Now]

.
.

-Ambition-

Istana dan gedung megah berdiri kokok di tengah budaya global. Sebuah kota metropolitan menjadi wajah Eropa dengan segala hal menarik untuk disimak. Terlalu melelahkan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki, kota ini bising dengan suara mesin mobil. Aura peninggalan masa silam tak lagi sama, Paris merangkak menjadi kiblat mode dunia. Rumah bagi para designers high fashion, di mana Hermes, Chanel, Louis Vuitton lahir di sini. Jangan lupakan L’Oréal, produk kecantikan terkemuka yang didirikan oleh salah seorang simpatisan NAZI, Eugene Schueller, juga menetas di negeri ini.

Semua yang ada terlalu mewah dan tak sebanding dengan apa yang digambarkan kata. Segala macam pujian ternyata memang pantas diterima oleh negara yang digandang-gandang sebagai negara teromantis di dunia tersebut.

Paris, Perancis.

Hanna berada di sini sekarang. Menuntut ilmu di INSEAD, sekolah bisnis terbaik di Eropa bahkan dunia. Menikmati waktu lajangnya dengan hal-hal positif dan pekerjaan baru. Kakinya bersilang dengan fokus lurus pada layar proyektor LCD yang menampilkan statistik perkembangan Hotel Ritz di masa kepemimpinannya. Semuanya terlihat memuaskan sampai seluruh peserta rapat tersenyum bangga pada gadis yang masih memertahankan wajah kerasnya itu. Bagi Hanna, besarnya indeks angka yang terlihat itu tidaklah cukup. Hanna ingin kata sempurna sebagai hasil dari kerja kerasnya. Ia lantas berdiri, mengambil alih tugas presentator yang tak henti memuji pencapaiannya.

“Aku ingin lebih!” katanya, tegas. “Menarik pelanggan memang tidak mudah di saat hotel bintang lima tak bedanya sebuah toko pinggir jalan yang bisa di temukan di mana saja. Pendatang dengan kantong tebal yang membutuhkan tempat bermalam akan memilih yang terbaik dan sesuai selera. Posisi kita memang berada di jantung kota, namun tak menutup kemungkinan kita kalah dalam segi daya tarik. Itu masalah pertama yang harus kita garis bawahi karena pesaing menginginkan apa yang kita inginkan. Hotel Ritz berdiri sejak tahun 1898, kita sudah terkenal tanpa perlu melakukan promosi. Namun, itu tidak cukup. Aku ingin tempat kita berada saat ini terkenal karena apa yang kita miliki. Mengerti?”

Ada satu hal lagi yang perlu digaris bawahi oleh seluruh petinggi Hotel Ritz Paris, Hanna adalah seorang yang perfectionist. Bahasa tubuhnya yang terkesan high class dan angkuh sungguh sesuai dengan pribadinya. Mereka harus bekerja ekstra untuk mengambil peran guna kata sempurna yang diinginkan sang pemimpin, laksana.

Ini menarik sekaligus menantang. Darah keturunan Cesar Ritz, sang pendiri The Hôtel Ritz Paris dan Carlton London begitu kental mengalir dalam tubuh gadis itu. Tak heran, Ritz-Carlton -yang merupakan nama gabungan dari kedua hotel tersebut- masih bisa berkuasa meski dalam kukungan Marriott. Mereka bahkan memiliki kekuasaan untuk melarang Marriott mengakuisisi saham Ritz dan Carlton sehingga hanya kedua hotel tersebut yang tak berada dalam kuasa Marriott.

Alasannya klasik, Jo Khaza hanya tak ingin hotel legendaris peninggalan keluarga besar Ritz berada dalam kuasa orang lain. Bahkan, seorang Hanna yang merupakan darah keturunan harus rela menganggur selama tiga bulan hanya untuk membuktikan diri bahwa ia pantas menduduki kursi kepemimpinan. Tak hanya sulit didapatkan, menjalankannya pun tidaklah mudah. Hotel Ritz terlalu tua dan jauh dari kesan modern. Semua kamar bergaya klasik, khas kerajaan Eropa. Tak jarang kepala Hanna migrain memikirkan perkembangan hotel ini, meski sudah empat bulan menjalankannya.

Sayang, Hanna berada di Paris hanya untuk sepuluh bulan. Dan sekarang sudah jalan tujuh bulan ia berada di sini. Tiga bulan lagi, Hanna menuntaskan pendidikan di INSEAD. Itu berarti, tiga bulan lagi pula Hanna harus rela melepas hasil jerih payahnya mendapatkan kursi yang pernah diduduki buyutnya itu.

Sedikit tak rela, namun mimpi Hanna akan sulit digapai jika hanya duduk diam di satu tempat. Ia ingin melebarkan sayap dan fokus pada tender proyek pembangunan di kota-kota metropolitan. Rencana untuk memisahkan diri dari Marriott pun melintas. Gadis itu ingin membangun kerajaannya sendiri di bidang real estate, seperti yang sedang Sehun lakukan saat ini. Mantan kekasihnya itu mendirikan anak perusahaan baru dan memisahkan diri dari kegiatan Bertelsmann. Melakukan pembangunan besar-besaran seluas sepuluh blok di tanah Manhattan dan menyediakan segala macam kemewahan untuk mereka yang memiliki kantong tebal. Hebat!

Hanna tahu, Sehun bukanlah pria sembarangan, hanya tingkahnya saja yang kadang sedikit konyol jika sedang bersamanya. Namun di luar sana, Sehun tetap menguarkan pesona kepemimpinan yang luar biasa. Oh, ya, Tuhan! Memikirkan itu membuat Hanna cemburu. Rapat telah usai lima belas menit lalu dan Hanna masih bertahan di ruangan yang sama dengan segala macam pikirannya.

“Nona?” Suara riang itu datang mengusik. Sella, sekretaris barunya berdiri dengan senyum mengembang di dekat pintu masuk. Wajahnya kental dengan pesona barat. Begitu cantik, namun tak menghilangkan kesan lugu. “Kali ini, Wonderfully Sunshine,” katanya, menyebutkan nama rangkaian bunga karya Madame Florist, di tangan.
 
wonderfully sunshine
 
Hanna tersenyum tipis melihat susunan apik bunga yang didominasi warna biru itu. Begitu cantik, menyegarkan mata. Tanpa ragu, Hanna memeluk buket bunga berdiameter cukup besar tersebut dari tangan Sella. Note kecil yang terselip di antara kerumunan bunga pun segera dibuka dan dibaca.
 
Wonderfully Sunshine. Cantik, bukan? Sepertimu. Madame Florist membuat ini setelah melihatmu … Dia bilang, kau mengagumkan!
 
Aku tak salah mencintaimu … Selamat beraktivitas sayang, semoga harimu menyenangkan.
 
Your love,
 
B
 
Lagi-lagi, Hanna tersenyum lantaran makna bunga yang dirangkai khusus untuknya itu, sebelum beralih mencium aroma yang menguar dari kelopaknya. Wangi dan segar, Hanna menyukainya! Punggungnya lantas bersandar kembali ke bantalan kursi. Note kecil berwarna biru langit pun diselipkan lagi di antara keindahan baby breath dan hydrangea.
 
“Sudah menemukan siapa pengirimnya, Nona? Sudah satu bulan Anda selalu mendapat paket kiriman bunga setiap tiga hari sekali di hari yang sama.”
 
Hanna menggeleng pelan. Jemarinya bermain di kelopak mawar tosca yang mengembang dengan begitu indah. Enam bulan berada di Paris, hidupnya terasa normal tanpa adanya pengganggu. Namun lewat tiga hari setelahnya, Hanna mulai mendapat paket kiriman bunga dari seseorang berinisial ‘B’. Hingga menginjak bulan ketujuh Hanna berada di sini, sang pengirim tak kunjung bosan mengungkapkan rasa cintanya lewat rangkaian bunga.
 
“Dia tahu, aku mengunjungi La Madame Florist untuk mencari tahu,” ujar Hanna, kalem.
 
Sella tersenyum penuh arti. Sang pengirim memang mengetahui semua aktivitas Hanna. Tak jarang, pengagum rahasia tersebut membahas kegiatan yang telah dilakukan atau bahkan belum dilakukan oleh Boss-nya itu. “Anda yakin tidak memiliki teman dengan inisial B di kampus?” tanyanya, memastikan. Untuk rekan kerja, Sella tahu Hanna tidak memilikinya.
 
“Ada satu, namanya Ben … tapi aku rasa, bukan dia orangnya.”
 
“Mengapa Anda berpikir seperti itu?”
 
Karena aku mengharapkan orang lain. “Perasaanku saja. Sudah sana, kembali bekerja!” Hanna meredam kalimat pertamanya dalam hati. Ia belum siap menceritakan masalah pribadinya pada orang baru karena memang Hanna tak mudah berbagi kepercayaan—meski Hanna tahu, Sella gadis baik yang bahkan terhitung amat lugu. Tak ayal, sikap tertutupnya itu membuat orang lain semakin sulit mendekati apalagi mengenal sosoknya.
 
“Jika benar Ben orangnya, maka jangan menyesal sudah menyangkalnya karena Anda begitu menyukai semua bunga pemberiannya.” katanya, menggoda. Tubuhnya merunduk hormat sebelum berlalu, namun kembali berbalik seolah melupakan sesuatu. “Nona?”
 
Hanna mengalihkan perhatian dari bunga di pangkuan demi menatap wajah bule Sella. “Saya senang melihat Anda tersenyum setiap kali menerima bunga dari orang itu,” katanya membuat tubuh Hanna kaku dalam diam. Sella tersenyum sebelum benar-benar berlalu dari ruangan tersebut.
 

-Ambition-

 
Kai tahu, menjadi seorang CEO itu tidak mudah, tapi Kai tidak tahu menjadi CEO akan sesulit ini. Tak jarang, malamnya dihabiskan dengan berkas di meja hingga pagi menjelang. Pikirnya penuh dengan ini dan itu demi menghasilkan pundi-pundi Dollar. Pantas Hanna pendiam, mungkin karena banyak sesuatu yang harus dipikirkan sepertinya saat ini. Bahkan, Kai harus rela menunda rencananya untuk melamar Jenny karena kesibukan menjadi seorang pemimpin. Dan ketika kesempatan itu ada, Sehun justru datang mengacau.
 
“Jadi, kau ikut Jenny tak semata untuk mengantarnya pulang?” Sehun bertanya setelah turun dari dalam mobil. Ritz-Carlton Seoul adalah tempat mereka berada saat ini.
 
Ritz-Carlton Seoul
 
“Ya, dan kau mengacaukannya!” Kai mengapit lengan Sehun. Itu kebiasaan barunya setiap kali berjalan dengan pria itu.
 
sehun kai
 
“Terlambat! Seharusnya, kau mengatakan itu sebelum kita berangkat ke Korea karena aku tak mau pulang sendirian ke New York.”
 
Ck! Kekanakan. Kai berdecak sebal tanpa diungkapkan. Bukankah dia yang merengek manja memaksa ikut ke Seoul pada Jenny saat Kai mengatakan akan ikut. Dan Jenny -si naif- tentu tak tega membiarkannya apalagi saat Sehun mengatakan, “Aku akan kesepian di sini. Hanna meninggalkanku dan kau juga akan pergi meninggalkanku.”
 
“Kenapa tidak pergi ke Paris saja? Si batu pasti menunggumu. Bukankah kau selalu ke sana setiap Minggu? Mengapa sekarang mendadak ingin ikut denganku.” Kai masih tak bisa menerima kehadiran orang ketiga tersebut beserta alasannya. Kai gemas saat rencananya untuk menginap di rumah kedua orang tua Jenny pupus lantaran Sehun memintanya untuk menemani tidur di hotel.
 
“Aku bahkan tak pernah menghampirinya, Kai.”
 
“Apa?” Kai menekan tombol lift sebelum beralih menatap pria di sampingnya.
 
“Kau tuli ya? Apa bodoh?”
 
Kai mendengus kasar hingga asap mengepul keluar dari lubang hidung minimnya. “Jadi, kau datang setiap Minggu ke Paris hanya untuk memerhatikannya dari jauh? Kalau begitu, kau yang bodoh!” balasnya, tak habis pikir.
 
“Aku sangat mencintainya dan aku tak ingin merusaknya,” bela Sehun.
 
“Apa sulitnya mengontrol hormon,” cibir Kai seraya menyerahkan kunci kamar Sehun. Mereka hanya tidur di hotel yang sama dengan kamar yang bersebelahan.
 
“Sudah kulakukan! Selama sembilan bulan mengenal Hanna, aku tak pernah meniduri wanita lain. Aku hanya tak yakin Hanna akan aman, jika aku langsung menemuinya setelah berbulan-bulan berpisah.” Sehun berlalu memasuki kamarnya setelah mengatakan itu tanpa melihat senyum tulus Kai yang tercipta.
 
“Kita lihat, sampai berapa lama kau akan bertahan tidak menarik Hanna dalam kuasamu.” Kai ikut memasuki kamar hotelnya. Mengistirahatkan tubuh barang sejenak sebelum beraksi nanti malam.
 
Sayang, rencana yang telah disusun matang harus kembali kacau lantaran Sehun mengundang Paman dan Bibinya yang merupakan kedua orang tua Jenny untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Unamjeong—nama restoran mewah khas kerajaan Korea Selatan tempat mereka berada saat ini. Semua menu makanan terbaik yang dimasak oleh koki handal berpengalaman selama lebih dari 15 tahun pun dipilih. Ruang makan khusus kelas VIP, Sehun sewa tanpa peduli nominal yang akan dikeluarkan. Makanan seharga 200.000 hingga 350.000 Won yang berbaris rapi di atas meja saja sudah cukup membuat Kai menghitung isi dompet. Sehun sungguh mengacaukan rencana makan malam sederhananya di rumah Jenny. Menyebalkan!
 
Dan lebih menyebalkannya lagi saat harus menunggu Sehun yang tak kunjung datang. Kai bahkan nyaris memaki saat menerima pesan singkat dari pria itu.
 
Makan saja. Aku sudah membayarnya, jangan khawatir! Aku tidak akan mengganggumu lagi, kamar hotel ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
 
Oh Sehun. Kau. Hah. Menyebalkan! Kai menutup kedua bola matanya pasrah akan ulah pria yang satu itu. Sedikit kesal karena Sehun baru menghubungi setelah membuat mereka menunggu selama sepuluh menit.
 
“Ada apa Kai?” Jenny bertanya. Gadis itu terlihat amat cantik dalam balutan dress berwarna biru tua dengan halterneck. Sedikit membuat Kai terkejut di awal karena dirinya juga memakai kemeja dengan warna senada. Namun, kecantikan Jenny tetap yang utama sampai Kai gelisah ingin memilikinya. Sekarang, Kai mengerti mengapa Sehun begitu takut merusak Hanna.
 
“Sehun tidak akan datang. Ayo, kita makan!” jelas Kai, sedikit kikuk kala mendapati tatapan lembut dari kedua orang tua Jenny.
 
“Kenapa?” Jenny kembali bertanya.
 
“Tak ingin meninggalkan kasur, katanya.” Jenny tertawa mendengar penjelasan kekasihnya, pun dengan kedua orang tuanya.
 
“Anak itu tak berubah, masih saja menyebalkan!” Tuan Kim berucap, tak habis pikir. Tega-teganya Sehun membuat Paman dan Bibinya menunggu. Kai sendiri membenarkan kekurangajaran pria itu sebelum berdeham kikuk.
 
“Em … Sebenarnya,” Kai menginterupsi tawa. Setelahnya, pria itu mati kutu kala mendapati seluruh fokus hanya tertuju padanya. Senyum canggung pun tercipta hingga membuat Tuan dan Nyonya Kim menunggu penasaran. “Saya tak semata mengantar Jenny untuk berkunjung. Seperti yang Tuan dan Nyonya tahu, kami sedang menjalin hubungan.”
 
Jenny mengerjap. Untuk apa Kai berkata seperti itu, ‘kan sudah jelas kedua orang tuanya telah mengetahui siapa Kai.
 
“Belum lama, baru sebelas bulan kami terikat dalam sebuah status tak resmi. Namun, saya merasa begitu nyaman bersama putri Anda.” Kai menggenggam jemari lentik Jenny dengan lembut tanpa mengalihkan perhatian dari Ayah kekasihnya itu. “Dan di sini, saya sebagai seorang pria memohon izin Anda untuk membiarkan Jenny melangkah lebih jauh bersama saya.” Kai kembali menjeda. Tuan Kim mengerti ke mana arah pembicaraan pria yang satu ini. Gerakan canggung pun dilihatnya sampai sebuah kotak beludru berukuran kecil digenggam anak lelaki itu.
 
“Saya begitu mencintai putri Anda, izinkan saya mengikat putri Anda sampai Anda yakin bahwa saya orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.” Kai membuka kota kecil itu, lantas menunjukkan bagian dalamnya pada Jenny.
 
ring
 
Sang wanita membungkam suara tak percaya. Tuan dan Nyonya Kim tersenyum bangga. Jantan. Itu kesan pertama yang didapat kedua orang tua Jenny kala melihat kesungguhan pria ini. Kai bahkan baru mengenal mereka tadi pagi saat tiba. Namun, keseriusannya sudah di ubun sampai begitu berani menaklukan hati kedua orang tua kekasihnya itu di hari yang sama. Kini, Kai menunggu jawaban pria awal lima puluh tahunan tersebut. Tak perlu baginya menunggu jawaban Jenny karena gadisnya itu pasti akan menerimanya dengan senang hati. Restu orang tua-lah yang paling ditunggunya saat ini. Bahkan, jantungnya tak henti berulah di dalam sana sampai Kai sesak dalam diam.
 
“Aku ingin yang terbaik untuk putriku dan jika kau bisa memberikan yang terbaik untuknya, maka berhentilah memanggil kami dengan sapaan formal.”
 
“Pa!” Jenny terharu mendengarnya. Air matanya jatuh di malam yang istimewa itu. Nyonya Kim tersenyum lembut melihatnya dan anggukan kepala Tuan Kim berikan pada pria berkulit tan tersebut.
 
Kai senang bukan main. Ingin sekali ia berteriak, namun sadar harus menjaga wibawa. Dengan sedikit gemetar dan senyum merekah di bibir, Kai memasangkan cincin berlian itu pada jari manis kekasihnya. Tidak, bukan lagi kekasih; Jenny kini tunangannya. Wanita yang paling berharga untuknya dan akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Dan dengan gerakan canggung, namun dengan niat yang tulus, Kai mengecup kening putih Jenny lembut -tepat- di depan kedua orang tuanya.
 
-Ambition-
 
coffee bean
 
Bohong jika Sehun mengatakan tak ingin meninggalkan kamar hotel. Pria itu bahkan sudah berdiri kaku selama lima belas menit di depan Coffee Bean tanpa masuk ke dalamnya. Tampilannya casual dengan kemeja denim dan jeans hitam, tak lupa kacamata hitam bertengger tanggung di hidung bangirnya.
 
sehun
 
Tampangnya terlihat konyol dengan mulut terbuka sebesar jari kelingking. Kacamata gaya bahkan dipakainya ala profesor di kampusnya dulu. Entah untuk apa fungsinya jika Sehun tetap membiarkan mata elangnya berpendar tanpa halangan. Beruntung, wajahnya rupawan sehingga style konyolnya termaklum di mata kaum hawa yang melirik nakal ke arahnya. Pipinya yang mengembung sesekali menandakan bahwa ia mulai bosan. Ternyata menunggu bukanlah opsi yang menyenangkan. Namun, jika Hanna yang ditunggu mungkin Sehun akan rela tanpa perlu berdecak bosan beberapa kali. Sayang, yang ditunggu berjenis kelamin sama dengannya.
 
“Sehun!” Itu dia. Sehun segera mencari asal suara tanpa memberikan senyum menyambut pada orang tersebut. “Lama sekali,” protesnya.
 
“Aku sempat tersesat, jika tidak ada Chanyeol mungkin aku tidak akan pernah menemukanmu.” Pria itu, Skandar. Napasnya tak teratur lantaran sedikit berlari untuk menggapai tempat yang Sehun maksud. Matanya berpendar memerhatikan muda-mudi yang juga menghabiskan malam di Hongdae. Begitu ramai mengingat ini malam Minggu, pantas banyak lawan jenis yang bertautan tangan.
 
“Kenapa berlari?” Seorang lagi datang hingga berdiri di samping asisten pribadi Skandar.
 
“Kau bilang tak bisa datang?” tanya Sehun sambil membuka kacamatanya. Freddie hanya bersandar di bahu Chanyeol tanpa menjawab. Ia panik saat Skandar tiba-tiba saja berlari meninggalkannya yang sibuk memerhatikan jajanan. Freddie pikir ada hantu. Tidak tahunya, Skandar memang sengaja. Sialan!
 
“Kau tahu tidak?” tanya Freddie, masih terengah. “Semenjak ditinggal Hanna, otakmu bergeser!” katanya hingga pokerface Sehun tercipta. “Kita tinggal di New York dan bisa membuat janji untuk bertemu di tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal, ‘tak harus’ sampai terbang ke Korea. Tapi kau? Ah, sudahlah …,” Freddie mengibas tangan di depan wajah.
 
“Aku hanya ingin mencari suasana baru. Ayo, jalan!” Sehun masa bodoh. Melihat kedua sahabatnya memenuhi ajakannya untuk bertemu saja sudah cukup membuatnya terhibur. Ia bahkan tak menyangka, mereka akan datang dengan suka rela di tengah-tengah kesibukan mencari nafkah. Meskipun Freddie sempat menolak di awal, namun pada akhirnya pria itu datang juga.
 
Setelah berjalan cukup jauh diselangi obrolan ringan, street food pun menjadi tujuan. Sehun terlihat bingung memilih, kedua temannya apalagi, Chanyeol pun menjadi korban. “Kau tahu kedai makanan enak di sini? Aku sudah sangat lama tidak kemari.” Sehun menatap pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu. Sementara yang ditanya mengernyit bingung mengingat ketiga pria di sana bukanlah pengusaha dengan penghasilan minim. Namun, mereka memilih kedai pinggir jalan untuk mengisi perut.
 
“Anda tak ingin mencari tempat lain, Tuan? Di sini—“
 
“Tidak. Di sini saja! Pakaian kami tidaklah formal, tak masalah jika harus makan di pinggir jalan.”
 
Chanyeol memerhatikan dalam diam, ketiganya memang hanya memakai kemeja pas badan dengan style yang begitu santai. Tak akan ada yang menyangka bahwa mereka pemimpin perusahaan ternama dengan harta melimpah. Dengan ragu, Chanyeol menuruti dan membawa ketiga orang tersebut untuk mampir ke kedai terbaik yang ia tahu.
 
“Aku tak pernah makan di kedai pinggir jalan. Sepertinya menarik, jika mengajak kencan seorang wanita dengan suasana merakyat seperti ini.” Skandar membuka pembicaraan setelah mengambil tempat duduk. Empat botol soju pun telah tersaji lebih dulu sebelum memesan makanan.
 
“Ini soju, ya?” Freddie memutar-mutar botol berwarna hijau itu.
 
soju
 
“Ya, Tuan. Itu minuman keras khas Korea yang terbuat dari beras. Bisa juga dibuat dari gandum, ubi jalar, atau kentang.” Chanyeol menjawab sambil membantu Skandar yang kesulitan membuka tutup botolnya. Sehun melakukan hal yang sama pada botol yang sebelumnya berada di tangan Freddie, lantas kembali memberikannya setelah berhasil terbuka.
 
“Ada yang ingin aku bicarakan.” Sehun memulai.
 
“Apa?” Skandar bertanya.
 
“Soal wanita,” jawab Sehun, enteng.
 
“Hanna?” itu Freddie yang bertanya.
 
“Hm, aku akan melamarnya setelah ini.”
 
Uhuk.
 
Uugh. Sehun menatap iba kemejanya yang basah. Reaksi Skandar sungguh berlebihan sampai mengeluarkan kembali soju dari dalam mulutnya. Freddie yang duduk di samping Sehun pun hanya bisa menelan ludah, sabar. Wajahnya bahkan sedikit basah akibat terkena hujan lokal dadakan tersebut. Sayang, pria Lebanon itu tak peduli bahkan lupa melontarkan kata maaf.
 
“Secepat itu? Aku bahkan belum memulai,” katanya, sedikit shock. “kau tidak sedang mempermainkan kami lagi, ‘kan?” tanyanya kemudian, teringat akan pertemuan terakhir mereka di gedung Rockefeller.
 
“Kali ini, tidak. Aku serius karena aku hanya memiliki waktu tiga bulan sebelum Hanna kembali. Dan sudah satu bulan aku mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya agar tak berakhir ‘melukainya’.” Sehun memberikan penekanan pada kata terakhir kalimatnya.
 
“Tiga bulan?”
 
“Ya, durasi untuk menyelesaikan program MBA di INSEAD hanya sepuluh bulan. Dan aku rasa, Hanna akan kembali setelah itu.” jelas Sehun sambil menandaskan isi gelasnya.
 
“Jika selama tiga bulan kau tidak mendapatkannya—“
 
“Maka aku akan menyerah,” sela Sehun cepat dengan senyum tipis menarik sudut bibir. Hatinya jelas menolak, namun mulutnya tetap berucap. Skandar mengerti, bahkan ikut tersenyum paksa melihatnya. “Baiklah, aku tak akan menemui Hanna lagi selama itu. Selamat berjuang!” katanya, sambil bersulang. Freddie menatap tak yakin pria di sampingnya. Ia tahu, Hanna amat keras kepala dan sangat tak mungkin untuk Sehun mendapatkannya kembali dalam waktu tiga bulan saja.
 
Selanjutnya tak ada percakapan tentang wanita lagi, keempat pria di sana justru sibuk membahas destinasi wisata di Seoul. Sayang, itu hanya menjadi pembahasan karena kesibukan mereka tak mengizinkan untuk datang berkunjung. Bahkan esok pagi, mereka harus kembali ke New York lantaran ada jadwal penting di hari Senin. Sehun sendiri sangat menyayangkan tak bisa berlama-lama di tanah kelahirannya itu.
 
“Sehun?”
 
Keempat pria di sana terdiam lantas kompak menoleh ke asal suara. Kerutan penuh tanya di wajah masing-masing pun terlihat kala melihat seorang wanita cantik berhak tinggi dengan sweater off shoulder berdiri di samping meja.
 
“Seolhyun?”
 
seolhyun
 
-Ambition-
 
Sehun mendadak bisu. Wanita dengan tubuh berisi di sampingnya sedikit membuatnya canggung. Sang wanita sendiri hanya menunduk malu dengan tumit yang menghentak pelan di jalan setapak. Teman-temannya memang iblis sampai memaksanya untuk mengantar wanita cantik ini pulang setelah minum. Sialnya, Sehun tak menggunakan mobil pribadi selama di Korea dan hanya pulang pergi naik taksi. Namun untuk yang satu ini, Sehun harus rela mengantarnya pulang dengan berjalan kaki lantaran rute-nya yang tidak terlalu jauh.
 
“Sehun, bagaimana pekerjaanmu di New York? Sudah enam tahun lebih kau tidak memberi kabar.” katanya, lembut bak buaian angin. Wajahnya lurus menatap lawan bicara.
 
“Kita sudah berakhir, aku pikir tak perlu ada hubungan lagi.”
 
Seolhyun kembali menunduk dalam. Bibir bawahnya digigit tanpa sadar. “Maaf sudah menyakitimu,” cicitnya kemudian, setelah menghentikan langkah kaki. Sehun melakukan hal yang sama. Pria itu menatap mantan kekasihnya dengan kilatan masa lalu. Hingga menit berlalu, namun Seolhyun hanya diam.
 
Sehun segera berpaling kala jantungnya kembali berdebar. Tumitnya lantas bergerak demi melanjutkan langkah, sayang tangan halus sang wanita menghentikan. “Aku mencarimu selama ini …,”
 
Sehun menelan ludah lambat. Seolhyun membalik tubuh sang lelaki hingga kembali berhadapan dengan wajahnya. “Aku tak pernah menjadi model karena kemarahanmu. Aku memilihmu, tapi kau pergi …,”
 
Sehun kaku. Teringat kembali akan alasan perpisahan yang pernah terjadi di antara mereka. Mimpi. Seolhyun memutuskan hubungan karena mimpinya untuk menjadi seorang model. Sehun marah lantaran merasa diduakan hingga memilih pergi melanjutkan sekolah di Amerika dan tinggal bersama kedua orang tuanya di sana. Sejak saat itu, Sehun berubah menjadi seorang pria yang begitu senang mempermainkan wanita lantaran sakit hatinya pada mimpi Seolhyun yang jauh lebih penting dan berharga darinya itu. Lantas, apa bedanya dengan Hanna saat ini? Hanna merasa diduakan, namun pada kenyataannya -di sini- Sehun-lah yang kembali diduakan.
 
“Aku salah. Maafkan aku! Dan aku tahu ini tak bisa dibilang singkat, namun sungguh … aku masih sangat mencintaimu, Sehun.”
 
Deg.
 
Napas Sehun tercekat di tenggorokan. Bola matanya menatap lurus dengan kilatan tak percaya. Seolhyun kembali menunduk menyembunyikan rona merah lantaran malu. Namun perasaannya tak bisa lagi ditahan selama enam tahun kehilangan. Seolhyun lelah mencintai seseorang yang hanya bisa dilihatnya dari majalah bisnis. Ia ingin datang menemui langsung ke New York, namun keberanian tak ada. Dan ketika sang lelaki dilihatnya berada di Korea, Seolhyun merasa ini adalah kesempatan. Seolhyun hanya ingin menyampaikan perasaannya, tak apa jika Sehun menolaknya—Seolhyun tak peduli.
 
Sehun menutup mata, mencoba untuk tetap tenang dan mencerna. Tak lama, di detik ke sepuluh, Sehun membawa Seolhyun ke dalam sebuah dekapan. Matanya kembali tertutup berbanding terbalik dengan Seolhyun yang membelalak. Napas Seolhyun bahkan terhenti saat Sehun mulai menghirup dalam aroma tubuhnya. Di detik ketiga, Seolhyun tersenyum lantas membalas pelukan pria sempurna ini.
 
“Maafkan aku, Seolhyun-ah ….”
 
-Ambition-
 
coastal blue
Coastal Blue
 
Cantik sekali, sampai Hanna tak bisa lepas memerhatikannya. Rangkaian bunga itu tersusun dari 20 mawar biru Ekuador yang begitu langka, 10 mawar merah muda, dan 10 tulip sewarna mawar merah muda. Hingga kesan untuk orang teristimewa menguar dari keindahan kelopaknya. Tak hanya itu, note kecil yang terselip pun membuat Hanna merasa semakin istimewa.
 
Biru, warna yang paling dominan di alam. Ke mana pun kau pergi, warna itu akan selalu kau lihat. Seperti itulah yang kurasakan selama mencintaimu.
 
Your Love,
 
B
 
Bolehkah Hanna berharap, B untuk Bertelsmann? Namun, harapan itu pupus kala mengingat Sehun bukanlah orang seperti itu, meski Hanna yakin pria itu sudah mengetahui keberadaannya karena Skandar sudah mengetahuinya. Calon tunangannya itu bahkan datang menemuinya tiga Minggu lalu dan mengajaknya makan malam bersama. Dan jika Sehun sudah mengetahui keberadaannya, maka pria itu tidak akan melakukan hal semacam ini. Sehun pasti akan langsung datang menghampirinya, seperti pada saat Hanna pulang dari Macau dulu.
 
Ah, lupakan! Hanna harus fokus mengerjakan tugas kuliah karena hanya di hari Minggu kebebasan ada untuknya. Namun, Hanna tak sabar menunggu hari Rabu. Ia penasaran akan makna rangkaian bunga baru untuknya di hari itu. Sayang, ketika hari yang ditunggunya tiba; rangkaian bunga baru itu tak ada.
 
Wajah datar Hanna kembali di hari yang sama. Hal yang selalu membuatnya tersenyum tak kunjung datang. Bahkan di hari Minggu, rangkaian bunga itu tak lagi datang menghibur. Hanna tak lelah menunggu di hari Rabu yang akan datang, namun tak ada. Ke mana pengagum rahasianya itu? Hanna gelisah dalam diam. Sella sendiri begitu merindukan wajah manis Hanna di hari Rabu karena hanya rangkaian bunga penuh makna yang bisa membuat atasannya itu tersenyum. Sella berharap, pria berinisial B tersebut kembali membawa senyum manis atasannya.
 
Cukup. Hanna berhenti berharap di Minggu ke tiga. Buket bunga itu tak lagi dikirim untuknya. Ia terlalu bodoh jika berpikir itu dari Sehun. Namun entah mengapa, hati kecilnya mengatakan demikian. Akan tetapi, bagaimana bisa? Sehun berada di New York dan itu sangat jauh dari Paris, sementara B mengetahui semua aktivitasnya.
 
Tidak. Itu bukan Sehun, Hanna. Lupakan! Hanna memijat pelipis lembut. Terlalu mencintai Sehun membuatnya mengharapkan hal yang mustahil. Sella yang datang dengan ketukan di pintu pun tak Hanna sadari. Gadis itu hanya bisa menatap khawatir atasannya.
 
“Nona? Anda baik-baik saja?” tanyanya menghampiri. Hanna beralih dari gambar di layar laptop demi menatap Sella.
 
“Aku baik-baik saja,” jawabnya. Namun, Sella keras kepala sampai berani memutar meja demi menyentuh kening putih Hanna.
 
“Panas. Anda sakit, Nona!”
 
“Anggap saja suhu luar yang membuatku panas.” Hanna tersenyum, mimik khawatir Sella pun semakin jelas dilihatnya. “Tidak, Nona. Pulanglah! Saya akan menye—“
 
“Sudah kubilang, ‘kan? Aku baik-baik saja.” suara Hanna berubah tegas. Mata gadis itu bergerak canggung hingga menangkap sebuah gambar di layar laptop.
 
“Tampan. Siapa dia, Nona?” Sella refleks menunjuk layar. Hanna mengikuti arah telunjuknya sampai tergagap sebelum menjawab.
 
sehun
 
“Sehun Bertelsmann, rekan bisnisku dulu,” jelas Hanna singkat. Foto itu didapatnya dari profil pemegang saham 520 Park Avenue dan sangat tak mungkin untuknya menjelaskan lebih detail pada Sella. Jadi, Hanna lebih memilih mematikan daya demi menghindari pertanyaan lain tanpa menyadari hal itu justru membuat Sella tersenyum penuh arti.
 
“B untuk Bertelsmann,” katanya menggoda.
 
“Tidak. Sehun berada di New York.”
 
“Ya, meskipun raganya tidak pergi ke mana pun, akan tetapi uangnya bisa dengan cepat berpindah tempat, Nona!” jawabnya, semakin menjadi. Sella sama sekali tak sadar pernyataannya itu membuat Hanna semakin berharap, diam pun menjadi pilihan. “Sepertinya, Tuan Bertelsmann itu lebih dari sekedar kata rekan.” Sella tersenyum dengan alis naik-turun.
 
“Apa yang membawamu kemari?” Hanna mengalihkan pembicaraan. Sella menepuk kening, lupa akan tujuan awalnya.
 
“Ada seorang pria tampan datang mencari Anda, Nona.”
 
“Siapa?”
 
“Tidak menyebutkan nama, hanya meminta Anda untuk datang menemuinya di taman. Dan semoga panas Anda bisa reda setelah bertemu dengannya.” Hanna terdiam penuh tanya. Lagi-lagi, harapan akan kehadiran Sehun mendominasi. Tatapan penuh arti Sella pun dilihatnya hingga debaran di dada terasa. Sayang, lidahnya terlalu kelu untuk sekedar bertanya, apa orang itu mirip dengan di foto? Ah, tidak. Hanna malu menanyakan itu. Rasa ingin tahu Sella terlalu menyebalkan untuk dibahas.
 
Tanpa memedulikan lagi Sella, Hanna bangkit dari duduknya lantas berlalu keluar ruangan. Dan saat tiba di luar gedung, langkah Hanna mulai pelan bak anak siput. Bola matanya bergilir lincah mencari postur tinggi tegap yang begitu dikagumi. Seseorang berambut cokelat dengan setelan rapi membungkus kemeja biru laut pun Hanna lihat. Tubuhnya lantas kaku sampai sang pria mengetahui keberadaannya. Senyum manis yang pernah Hanna kagumi pun menyapa, sebelum suaranya memanggil lembut.
 
“Hanna …,”
 
“Die.”
 
-Ambition-
 
Saling terdiam di bawah rindang pohon dengan beralaskan kursi taman. Hanna tak lagi menghindar dari pria masa lalunya. Keduanya duduk bersebelahan dengan jarak yang sebelumnya tak pernah ada kala mereka menjalin sebuah hubungan. Freddie terlihat jauh lebih santai seolah tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Berbeda dengan Hanna yang tiba-tiba dihantui oleh rasa bersalah atas prilaku buruknya selama ini.
 
“Begitu mengejutkan ya sampai kau mati kutu?” seloroh Freddie mencoba untuk mencairkan suasana.
 
“Terlihat seperti itu? Aku rasa kau sudah mengenalku, Die.” Suara Hanna terdengar lembut tanpa adanya intonasi datar. Freddie begitu senang mendengar nada bersahabat itu.
 
“Tidak. Aku hanya bercanda … senang bisa bertemu dengan Hanna yang dulu,” katanya, tanpa ragu mengusak tatanan rambut Hanna. Beruntung, gadis itu tak marah dan hanya memberikan senyum tipis dengan wajah menunduk. “Sepertinya katext-align:justify;u sudah memaafkanku?” tanya Freddie (lagi) kala melihat respon kalem gadis itu. Karena jika Hanna masih marah, maka tatapan benci dan suara angkuhnya yang akan ia dengar.
 
“Aku sadar … kenangan hanya bagian dari masa lalu dan tak sepantasnya untuk dibenci.” Hanna beralih mengunci obsidian biru itu dalam hazelnya. “Tak ada yang kudapat selama aku membencimu, Die. Hanya penyakit hati yang tumbuh hingga berakar tunggang.”
 
Freddie tersenyum. “Kesalahan memang tidak untuk dibenci, tapi untuk diperbaiki. Jika hanya didiamkan, kesalahan itu akan meradang dan berubah menjadi amarah, benar? Dan kau, memperbaiki kesalahanku dengan sikapmu hingga membuatku jera sampai tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.”
 
“Kau membuatku merasa bersalah, Die.”
 
“Tidak, Hanna. Kau mengajarkanku banyak hal. Kau membuatku sadar bahwa tak ada yang namanya kesempatan kedua dalam hidup. Dan aku harap, kau tidak lagi mengabaikan keinginan hatimu untuk mencintai. Percayalah, kehilangan itu tidak menyenangkan!” Freddie menjawil hidung Hanna pelan dengan senyum manis di bibir. “Aku mengenalmu lebih dari siapa pun Hanna. Kau bahkan berani membelanya saat itu. Bodohnya, Sehun tak bisa memilih antara cinta dan sahabat.”
 
“M-maksudmu?”
 
“Bukan karena bisnis, Sehun terdiam. Bahkan, sahabatku itu berkata tak peduli jika asetnya hancur di tangan Rockefeller. Ia hanya mengatakan tak bisa memilih di antara cinta dan sahabat. Seharusnya, kau tidak pergi saat itu dan membiarkannya menyusun kata agar tak melukaimu ataupun aku yang notabene sahabatnya.” Freddie beralih demi menatap hamparan bunga di depan sana. Hanna terdiam menunggu untaian kata selanjutnya.
 
“Uang dan bisnis benar-benar membuatmu trauma, ya?” Freddie kembali bertanya tanpa menatap lawan bicara. “Kau mengenal Sehun karena bisnis dan uang, bukan? Kau mengakhiri karena tak ingin hubungan kalian berlandaskan dua hal tersebut, benar? Dan kau ingin Sehun memperjuangkanmu sebagai seorang wanita?”
 
Tak perlu menjawab pun Hanna rasa Freddie sudah tahu jawabannya. Yang menjadi pertanyaan Hanna, mengapa Freddie membahas hal ini setelah sekian lama tak bertemu dengannya? Freddie sendiri tak mengerti. Ia hanya tak ingin Hanna tersakiti setelah mencampakkan Sehun karena ego dan harga diri. Freddie tahu, sudah tiga Minggu terakhir Sehun tak lagi datang ke Paris untuk sekedar melihat keadaan Hanna. Dan semua itu karena seorang wanita yang dibawanya dari Korea. Tak hanya itu, Sehun bahkan memberikan pekerjaan yang layak untuk wanita tersebut di New York.
 
“Jika benar seperti itu, maka kalian bisa membicarakan itu secara baik-baik. Mulailah dari awal jika memang itu perlu.” Tangan Freddie lihai menyelipkan anak rambut Hanna yang jatuh menirai. Perilakunya itu begitu manis sampai menimbulkan kesalahpahaman bagi siapa saja yang melihat. Tak terkecuali, pria berambut hitam yang berdiri di radius 30 meter dari posisi keduanya.
 
-Ambition-
 
Hanna menenteng dompet di tangan dengan wajah lesu. Mobilnya diparkir sembarangan di pelataran parkir apartemen tanpa peduli protes pihak pengelola yang akan diterimanya esok pagi. Blazer hitam pun ditinggalkan begitu saja di dalam mobil dan membiarkan tubuhnya yang hanya berbalut bodycon dress dengan scoop neck diterpa angin.
 
bodycon dress
 
Kepalanya terasa berdenyut nyeri memikirkan semua kata-kata Freddie. Tak jarang jemari putihnya beralih memijat pelipis dengan kepala menunduk. Dan di anak tangga ke dua arah menuju loby apartemen, Hanna berhenti. Napasnya terasa memburu tiba-tiba sampai Hanna harus menekan dadanya sendiri. Terlalu banyak beban pikiran membuat kondisi kesehatannya menurun. Wajahnya bahkan sudah merah padam lantaran suhu tubuh yang tak normal. Butuh waktu lama untuknya menguatkan diri demi menggapai apartemennya sendiri sampai tak sadar sudah berdiri di sana cukup lama.
 
Hentakan pantofel perlahan terdengar menghampiri. Hanna mengangkat wajah demi melihat wajah sang pemilik pantofel tersebut. Seorang pria dengan rambut hitam legam pun menjadi jawaban. Tak ayal, keterkejutan membuat Hanna terpaku hingga lupa cara bergerak. Gadis itu memastikan matanya tak terkena miopi, di mana ia harus menggunakan kacamata cekung untuk melihat objek dalam jarak jauh. Ia juga memastikan matanya tak terkena hipermetropi, di mana lensa matanya terlalu pipih sehingga bayangan jatuh di belakang bintik kuning dan membuatnya tak bisa melihat benda dalam jarak dekat. Sekali lagi, Hanna memastikan matanya tidak sedang dalam masalah untuk mengenali seseorang.
 
Namun, ada yang berbeda dari gesturnya. Pria itu menatapnya dengan kebencian yang tidak Hanna mengerti. Bibir mungilnya terkatup rapat. Rahangnya mengeras dengan napas memburu seolah menahan emosi. Hanna sadar telah mencampakkannya, namun bukan ini yang ia harapkan setelah lama tidak bertemu.
 
Sementara, sang pria tetap mencoba mengatur emosi lantaran percikan cemburu yang dilihatnya beberapa jam lalu. Tak menyangka, Hanna memaafkan kesalahan orang lain dengan begitu mudah, namun tidak untuknya. Hatinya benar-benar terluka kali ini. Usahanya bagai ampas yang tak berguna. Semua perhatiannya pada gadis yang telah pergi meninggalkannya untuk mengejar mimpi itu sia-sia.
 
“Sehun.”
 
Bahkan, suara lembut yang begitu ia rindukan menjadi cambuk api tersendiri. Tubuhnya terasa panas, namun hatinya perih. Jantungnya masih bekerja tak normal, namun emosi sudah menguasai. Sehun benci terluka karena seorang wanita.
 
“Kesalahan terbesarku adalah menunggu seorang wanita yang bahkan tidak mengerti cinta.”
 
Apa? Tidak. Bukan kalimat itu yang ingin Hanna dengar. Dalam diam, Hanna memastikan telinganya tidak mengalami gangguan pendengaran konduktif, di mana bunyi tidak terhantarkan dengan baik ke telinga bagian dalamnya. Hanna juga memastikan tak mengalami gangguan pendengaran saraf yang membuat otaknya menolak untuk mencerna kalimat pria itu.
 
“Aku menyerah. Disakiti oleh seorang wanita membuatku lemah. Dan aku tak ingin mati konyol karena kau campakan.”
 
Kali ini, kedua alis Hanna bertaut. Telinganya normal, dan apa yang dicerna otaknya merupakan apa yang didengarnya. Hanna tak mengerti akan kesan pertama yang Sehun berikan di awal pertemuan mereka setelah berpisah. Sekali lagi, Hanna tahu bahkan amat sadar telah melukai pria yang dicintainya itu delapan bulan lalu. Namun, ungkapan kemarahan Sehun tak bisa Hanna cerna. Pria itu mengungkapkan kecemburuan secara tidak langsung dan Hanna tidak tahu apa alasannya. Bahkan, mata elang yang begitu Hanna sukai itu menatapnya di antara cinta dan benci.
 
Kepala Hanna semakin sakit menerka apa yang tak bisa ia baca itu. Mulutnya hendak terbuka melontarkan pertanyaan, namun Sehun dengan emosi yang sudah di ubuh bergerak hingga berlalu melewati tubuhnya.
 
“Sehun!”

.

.

.

 
To Be Cotinued
 

.

.

.

Author’s Note

Sebelumnya maaf untuk keterlambatan dan segala kekurangannya. Akhir-akhir ini aku seringkali kesulitan menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan. Alasannya mungkin dianggap sepele untuk sebagian orang dan Author selalu berada di posisi yang salah untuk masalah ini. Di sini, aku berusaha untuk mengerti, tapi semakin ke sini semakin gak enak. Cuma bisa bilang, terima kasih buat kalian semua yang masih mau memberikanku kehadiran nyata di FF ini. Itu semangatku. Dan jika FF ini tidak sesuai selera kalian dari mulai gaya bahasa dan isi yang buruk rupa, maka silahkan berhenti baca. Itu lebih baik daripada kalian hanya jadi pembaca diam.

Karena dari awal, aku mengajak kalian berteman di sini. Aku mencoba untuk menjadi pribadi yang berbeda di dunia FF. Padahal, sebelumnya aku gak pernah ngajak orang lain berkenalan atau bahkan berteman lebih dulu di-real life—aku biasa dideketin duluan, bicara pun kadang seadannya. Dan di sini, aku mengajak kalian berkenalan lewat FF dan terima kasih buat kalian yang mau menerima bahkan menjadi teman aku dengan kehadiran kalian selama ini. Aku sayang kalian^^

Oh, iya, next chapter … Aku mau kasih kalian cokelat, kebetulan Sehun-Hanna udah ketemu…hahaha

 

Regards,

 

Sehun’Bee

776 responses to “Ambition [Chapter 9A] – by Sehun’Bee

  1. Yuhhhhhuuuuuu….
    Kai nglamar jenny dg jantannya
    Seolhyun datang sbg mantan sehun
    Dan sehun menyerah karna cemburuu.. Omg
    Next ya kak

  2. SEHUN kamu salah pahamm tau…
    Dan kenapa coba ada seolhyun…
    Akh makin penasaran.
    Etttsss satu lagi…
    Oh my god kai jantan bangettt saat ngelamar jenny,,, jadi ingin dilamar kaya gitu deh nannti kl udh gede..
    @94Rini bee semangat

  3. baru aja hanna salahpaham trus udah mulai ngerti , nah lo sekarang malah gantian sehun , haduhhh author kamu bikin aku gemesss bgt ngebuat mereka jadi serba salah paham

  4. Aku suka senyum2 sendiri ngebaca ff ini, Banyak bgt kejutan didalamnya. kai sweet dan gentleman bgt❤
    Aku juga suka cerita persahabatan 3 lelaki tampan itu. Dan, seolhyun? dia akan jadi org ketiga? Lagi2 kesalahpahaman^^

  5. Nahloh cemburu lu hun sama hanna padahal freddie cuma kasi masukan ke hanna biar balik ke elu, eh malahh.. Dan lu hun mending ga usah ngurusin tu seolhyun, udah pernah ngerasain gmn dicampakin hanna kan?!
    Btw sipp deh kak aku terima cokelat nya dgn senang hati xD
    Jjang!

  6. Seolhyun datang sebagai pengganggu dan penyedap dalam kisah Hanna-Sehun
    ikutan sediih krna Sehun yang ngirim Hanna bunga lagii, ini krna Seolhyun
    Segala pake Sehun salah paham lagiii
    makiin rumit deeehhh😧

  7. yaampun kai sweet banget huu:3 aku ketawa gajelas sama kelakuan 3sahabat itu kebayang aja muka-muka konyol mereka haha:v dan siapa lagi itu seolhyun?? Aku mencium aroma ga enak ini-_- lagian kenapa hanna egois banget sih ah kan sehun jadi salah paham juga sama freddie-_- aku keseeel T______T

  8. ternyata sehun pnya mntan d korea biarlah yg penting d hati sehun hnya ada hanna… sehun romantis bnget kirim bunga buat hanna… buat kai &jenny selamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s