[1] Kleptomania Alert!

wpid-picsart_1443702842826.jpg

Author : Chanscreamy
Title :

Kleptomania Alert!

Cast :

Kang Serin as Kang Serin

Oh Sehun as Oh Sehun

Kim Jongin as Kim Jongin

Genre : Slice of Life, romance, school.

Rated : T

STORY BEGIN

Don`t worry if you kleptomaniac, U can always take something for it.

Busan.

Piip

T-money Scanning itu berbunyi beberapa kali sejak aku duduk di bangku bus ini.

Mengapa itu sangat menggangu?

‘Ahhh’

Desahku pelan. Beberapa halte lagi aku akan sampai. Syukurlah.

1 Halte. 2 Halte. 3 Halte. Sampai.

Ku pijakan kaki ku pada aspal abu.abu dan menaikannya ke jalanan berbatu. Searah dengan sekolah ku.

Langit di atas ku mengisyaratkan akan hujan dengan awan-awan yang bergelung hitam.

Kulirik tangan kiri ku. Disana lah bertengger sebuah payung cantik berwarna hijau. Aku tersenyum dan melanjutkan langkahku.

Satu langkah. Dua langkah. Berhenti.

“Tunggu.”

Aku kembali melirik tangan kiriku. Kali ini lebih seksama.

“Aishh! Hari ini kan aku tidak bawa payung. Tangan nakal! Tangan nakal!”

Tak ku pedulikan murid sekolah ku yang sedari tadi berlalu lalang. Menurut mereka hal ini sudah biasa.

Hampir setiap pagi.

“Serin-a!” Kepala ku menoleh dengan reflek.

“Eung?” Balasku.

Itu Jongin. Sahabatku sejak TK. Kami serumah, tapi kami memutuskan untuk berangkat pada jam yang berbeda, agar diriku tak diterkam oleh fans-fans Jongin.

“Sedang apa kau?” Seraya menahan tangan kanan ku.

Aku mendekatkan bibirku pada telinganya.

“Aku mencuri payung ini, secara tidak sengaja. Jinja.” Bisik ku pelan.

“Ne. Aku tahu jika kau melakukan hal itu pasti bukan karena kemauanmu.” Ia tersenyum.

“Kajja masuk!” Dengan sergap ia merangkul pundak ku dan menariknya secara paksa. Benar-benar.

“Ya! Apa kau tidak malu berteman dengan seorang klepto?” Entah berapa kali aku menanyakan hal ini kepadanya. Tapi jawabannya selalu sama.

“Entah itu klepto, kelpo (merek sereal spongebob ), krabto (Restaurant kepiting favorit Jongin) dan sebagainya. Aku tak peduli.” Sambil menyinggungkan senyum giginya, ia menatapku.

Reaksi ku hanya menatapnya datar dan tidak tertarik.

Kami masuk ke kelas yang sama. Hanya tempat duduk kami yanga berjauhan.

“Ya! Simpan barang-barang kalian! Burung gagak telah datang!”

“HAHAHAHA.” Tawa sekelas pecah begitu melihat ku datang.

“Kemarin burung camar sekarang burung gagak. Ini sangat lucu.” Sahut yang lainnya.

“Apa payung itu hasil buruan-nya juga?”

Segera ku sembunyikan payung ini di belakang ku.

“Ije keuman.” Jongin membantu ku.

“Mwo? Ah ne, aku lupa. Kau kan namja chingu nya. Jadi berhak untuk marah.”

“Ya! Sumong! Kata siapa jongin namja chingu nya, eoh? Aish.”

Ku lanjutkan jalan ku ke tempat duduk milik ku. Waktu nya masih 10 menit sebelum pelajaran di mulai. Ku ambil sketch book bergambar pemandangan di covernya dari dalam tas. Ku edarkan pandangan ke sekitar untuk mencari sebuah ide. Ketemu.

Pulpen ku mulai menari-nari di atas kertas  putih itu, membuat goresan-goresan permanen yang abstrak pada awalnya. Sesekali aku melihat objek yang kupilih untuk memastikan gambarnya serupa.

10 menit berlalu. Gambar ini hampir selesai. Ku lirik Jongin yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Belum lama melihatnya, aku merasakan sedang di tatap dengan sengit dari arah belakang. Aigoo, bulu kuduk ku meremang.

Ku lanjutkan gambarku. Sisa waktunya tinggal 5 menit. Cukup untuk mengarsir bagian-bagian yang lebih detail lagi.

Selesai.

Ku tarik simpul di bibirku. Sepertinya kemampuan menggambar ku semakin hari, semakin meningkat.

Sebuah gambar yang lagi-lagi sama telah masuk ke salah satu koleksi gambar-gambar ku.

“Annyeonghaseyo, apa kabar semua?” Mr.Kwang akan mengawali pelajaran hari ini, dengan mata pelajaran bahasa inggris. Sambil menaruh setumpuk buku di meja depan, Mr. Lee mengedarkan pandangannya memastikan seluruh muridnya telah hadir.

“Ok, pelajaran hari ini bisa kita mulai. Buka halaman 34.”

“Ne.”

“Serin-a, ingin ke kantin?” Ajak jongin disaat aku sedang membereskan buku-buku ku.

“Kau traktir?” Jawabku singkat.

“Dasar kau ini, kajja!” Ia langsung merangkul bahu dan menarikku pergi dari kelas.


Di kantin.

“Kau ingin apa?” Tanya-nya sambil melihat-lihat menu.

Aku mengikuti apa yang ia lakukan, sudah lama aku tak melihat menu, biasanya jongin hanya memesankan sesuatu untuk ku. Sampai sekarang pun aku tidak tahu apa yang selama ini aku makan.

“Eoh? Kau ingin apa?” Ia mengulang pertanyaannya.

“Molla. Terserah kau saja. Aku cari tempat untuk duduk ya.” Kata-ku sambil beranjak pergi.

Kantin hari ini tampaknya cukup ramai. Oh iya, hari ini diadakan rapat orang-tua seluruh siswa, sehingga banyak orang-tua yang mengobrol dan makan disini. Aku tak melihat ada kursi kosong, sepertinya aku harus lebih jelly. Setelah melewati sebuah meja dengan seorang yang sibuk bermain gadget, dia atasnya terdapat sebuah kalung indah yang dibiarkan. Hati-hati dengan tanganku.

Itu dia.

Aku harus lebih cepat, sebelum tempat itu di ambil alih oleh orang lain.

[Author]

Serin mempercepat langkahnya agar bisa mendapatkan meja tersebut. Ternyata untuk sampai di meja tersebut tidak semudah dengan apa yang Serin pikirkan. Tiba-tiba saja Serin di dorong oleh seorang murid hingga terjatuh. Ia mehanan tubuhnya dengan siku, yang otomatis menyakiti siku nya sendiri.

“Sedang apa pencuri berada disini? Ingin mencuri uang? Atau makanan kita?” Jiyoon namanya. Ia yang mendorong sekaligus mencaci Serin.

Memang benar disekolah ini tidak ada yang ingin bersamanya, kecuali Jongin seorang. Sejak teman-temannya mengetahui Serin mempunyai kleptomania, mereka mulai menjauh. Terlebih, dulu Serin sempat mempunyai teman dekat bernama Ahn Ri. Tapi kemudian ia meninggal karena suatu hal. Dan teman-temannya menuduh Serin yang membunuhnya. Sejak saat itu Serin di jauhi dan di anggap bahaya.

Em. Serin pun tidak mengelak dan mengiyakan saat polisi bertanya padanya mengenai kematian Ahn Ri karena Serin lah orang yang terakhir kali bersamanya. Hal itu juga yang menguatkan dugaan teman-temannya bahwa Serin lah yang membunuhnya. Karena alasan Serin masih di bawah umur dan ia juga tak membalas satu pun pertanyaan polisi, akhirnya ia di bebaskan.

“Kalung ku hilang! Aku hanya menaruhnya sebentar di sini.” Salah seorang wanita dari belakang berteriak panik sambil menunjuk meja makannya, manakala kalung kesayangannya hilang.

Spontan Serin dan murid-murid yang mengerubunginya melihat ke arah genggaman tangan-nya. Sebuah kalung bertengger di antara jari-jari lentik nya. Kalung yang sama dengan yang ada di meja yang tadi ia lewati. Ia segera melemparkan jauh-jauh kalung tersebut dan bergerak mundur.

“A-aniyo-” Ia berdiri dengan ragu.

“Apa ini punya anda?” Jiyoon mengambilnya dan mengangkat tinggi-tinggi agar si pemilik kalung melihatnya.

“Ah! Ya. Aigoo, kalungku!” Katanya bergegas menghampiri Jiyoon.

“Dia yang mengambilnya.” Tunjuk Jiyoon tanpa ba-bi-bu kepada Serin.

“Ani- aku ti-” Serin menghentikan bicaranya, para wali murid mulai berbisik. Serin tahu betul itu mengenai dirinya.

“Jeosonghamnida.” Ia membungkuk kemudian berlari keluar kantin. Acara makan bersama Jongin harus batal sepertinya.

‘Maaf ya, Jongin. Lain kali saja.’ Batinnya.

“Ini tak bisa di biarkan. Mengapa sekolah ini menyimpan seorang pencuri?”

“Dia mengidap kleptomania, bu. Dia melakukanya tanpa sadar. Dan terlebih lagi kalung ibu sudah kembali. Hukuman itu terlalu berat.” Sudah berapa kali pak kepala sekolah menjelaskan, tetapi wali tersebut tetap saja bersikukuh.

“Saya tak peduli, entah itu klepto atau apapun itu, saya tidak peduli. Kalau tidak sekolah ini akan saya bubarkan. Mengapa sekolah bermutu seperti ini menyimpan pecuri.” Pak kepala sekolah mulai panik dengan ancaman tersebut. Terlebih lagi ia ketua komite dan suaminya seorang tertinggi di sekolah tersebut.

“Jeosonghamnida.” Serin. Serin masuk kedalam ruang kepala sekolah setelah di panggil. Ia sudah siap menerima apapun konsekuensinya.

“Silahkan duduk Serin-a.”

“Ne.”

“Lebih baik saya keluar, permisi.” Dan wali tersebut pun keluar setelah melihat Serin masuk.

“Serin-a, bapak ingin memberitahu kau sesuatu.”

Ceklek.

“Serin-a kau tak apa?” Jongin langsung menyambutnya begitu Serin keluar dari ruang kepala sekolah.

“Maaf ya, kita tidak jadi makan.” Serin memaksakan senyumnya. Ia lelah untuk hari ini.

“Waeyo? apa yang terjadi di dalam? kau dihukum? hukuman apa?” Jongin langsung menyerbunya dengan pertanyaan, dilihatnya wajah Serin yang terlihat kelelahan.

“Aniyo. jibe kajja.”

“Ne. Ini tas mu.” Sambil menyodorkan tas Serin.

“Hm. Kau duluan pergi ke halte, aku akan mengambil barang-barang yang ingin aku bawa pulang. Terima kasih tas-nya.” Ujar Serin sambil tersenyum, kali ini lebih ikhlas.

“Baiklah. Cepat ya ”

[Back]

“Serin-a, bapak ingin memberitahu kau sesuatu.”

“Ne.”

“Kau murid yang berprestasi kan? Selalu juara satu dari sekolah dasar. Bapak sudah mengenalmu 10 tahun terakhir dan sudah menganggapmu anak bapak sendiri.” Serin menerka apa yang sedang terjadi.

“Bapak ingat waktu kau kelas satu SD dan bermain bersama bocah laki-laki itu hingga sekarang satu SMA. Tak ada yang berubah dari mu. Kau seorang yang tabah dalam hal apapun.” Lanjutnya.

“Tapi sepertinya bapak tak bisa membubarkan sekolah ini. Benar-benar tak bisa. Bapak minta maaf.” Serin sudah tahu kemana arah pembicaraan ini akan berakhir. Ia akan memilih tetap diam sampai perasaannya benar.

“Mengapa kau diam saja dari tadi?”

“Ne. Algetsseubnida. Saya akan mulai membereskan barang-barang saya.” Serin berdiri, hendak meninggalkan ruangan tersebut.

“Chakkaman. Bapak tau kondisi mu, benar-benar minta maaf. Kau akan tetap sekolah.”

“Ye? Saya masih bisa bersekolah?”

“Ne. Tapi tak disini. Tunggu sampai minggu depan sampai kau dapat info dimana sekolah baru mu.”

-☆[Serin]

Dan Sepatu. Sudah.

Aku hanya memasukan beberapa buku dan Sepatu olah raga ku. Memang tak banyak barang-barang ku di sekolah. Sisanya ada di rumah Jongin semua.

Sekarang aku harus cepat pergi ke halte dan menghampiri Jongin.

“Untuk apa kotak itu?” Jongin melihat kotak yang ku pegang, ia terlihat bingung.

“Hanya kotak.” Jawabku, dan dibalas oleh mengkerucutnya bibir Jongin.

Jesss. Bis nya sudah datang.

“Hey! Aish tunggu aku.”

Sudah hampir seminggu dan aku belum memberitahu apapun pada Jongin Soal kepindahan ku. Aku hanya tak ingin mengganggunya.

“Serin-a kau di panggil ke ruang kepala sekolah.” Ujar Ms. Jang saat pelajaran selesai.

Jongin mengalihkan pandangan pada ku, mengisyaratkan ‘ada apa?’. Aku hanya membalasnya dengan menggidikan bahu dan meraih tas-ku. Sejujurnya aku tahu, itu pasti tentang sekolah baru ku.

“Sekolah ini sudah bapak survey. Banyak anak-anak berprestasi. Ini termasuk sekolah favorit di Seoul.”

“Ne? Seoul?” Serin yang awalnya diam ambil bicara setelah mendengar kata Seoul.

“Hm, ada masalah?” Matanya berpindah dari brosur sekolah ke arah Serin.

“Ani, tapi apa itu tidak sedikit jauh?” Serin menatap lekat pria paruh baya di depannya.

“Hahaha.” Ia malah tertawa, membuat Serin kebingungan.

“Memangnya busan dan Seoul seperti Korea-Amerika? Tidak-kan?” Serin sedikit terkejut, kemudian terdiam.

“Jadi? Sepakat?” Serin berfikir lagi. Ia harus bisa meninggalkan Jongin sendiri. Sepertinya tak ada pilihan lain.

“Ne.” Jawabnya mantap. Pak kepala sekolah merasa puas dan tersenyum.

“Kau bisa pindah Lusa. Barang-barang mu sudah beres kan disini?”

“Ye? Lusa?”

“Iya, Lusa. Tepatnya hari sabtu.”

Serin menggigit bibirnya. Bagaimana cara ia mengatakannya pada Jongin? Ia memutuskan untuk memikirkannya nanti.

“Ne, saya paham.” Dan ia beranjak dari kantor sekolah. Ia akan memberitahukan tanggalnya pada Ibu Jongin.

“Bagaimana?”

“Eh! Gapjagiya! Aish- Aniyo, Jongin-a”

“Ya~ kau bohong, lihat wajah itu, hm.”

“Aniyo.”

“Jebal.. apa kau dihukum terlalu berat? Mwo? Mwo? Mwo?!”

“Ya! Keumanhae!” Jongin terdiam. Baru kali ini Serin berteriak padanya. Sepertinya hukumannya sangat berat, pikir Jongin.

“Ah, mian. Jongin-a.”

“Ah, ye, nado mian. Jibe kajja.”

“Ne.”

-☆[Jongin]

‘Mengapa wajahnya sangat murung?’ Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Biasanya wajahnya sangat lucu dan aku sangat menyukainya, kalau wajah yang sekarang, aku merasa. Sakit. Entahlah.

Sudah saatnya kita turun. Ia masih melamun, sepertinya tak sadar kita sudah sampai.

“Serin-a.”

– Tak ada respon

“Kang Serin!”

“Eh? Ne?”

“Kita sudah sampai.”

“Oh iya. Kajja.”

“Ehm.”

Sepanjang perjalanan Serin hanya terdiam. Sebenarnya bukan karena diam nya yang aku permasalahkan. Melainkan wajahnya yang begitu murung. Ingin sekali aku bertanya, tapi sepertinya ia hanya akan menjawab jawaban yang sama. Sudahlah.

Ia melepas sepatu dan masuk kedalam. Aku mengekornya. Bukannya naik ke atas, ke kamarnya. Ia malah berbelok dimana kamar eomma berada.

“Eum, Jongin. Aku ingin mengobrol dengan eommo-nim. Jangan ikuti aku ya. Sebentar saja.” Ia berbalik dan tersenyum.

“Ne, arraseo.” Aku pun naik ke atas dan  mengganti baju. Setelah itu aku mulai merasa bosan. Kuputuskan untuk pergi kebawah, sekedar mengambil makanan ringan.

Sesampainya di bawah, aku mendengar eomma menangis. Karena penasaran aku mendekati kamarnya. Serin masih disana. Aku berusaha menguping pembicaraan mereka berdua.

‘Mengapa cepat sekali?’ -menahan isakan tangis.

‘Apa kau sudah memberitahu Jongin?’

‘Belum, rencana besok.’

‘Aigoo..’ -mendengus.

‘Maafkan aku ne eommo-nim,  terima kasih yang sangat banyak.’

Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Walaupun aku mendengar sedikit tetap saja aku tak mengerti. Apanya yang di beritahukan kepadaku. Ku dengar langkah kaki mulai mendekati pintu, aku cepat-cepat pergi dan segera duduk di sofa dan membuat diriku terlihat senyaman mungkin. Ku ambil remote TV dan menyalakannya.

“Eh Jongin. Sudah ganti baju nak?”

“Ne, eomma mengapa?” Bersikap seolah-olah tak tahu.

“Gwenchana.” Dan hilang menuju dapur.

Dibelakannya ku lihat Serin keluar dengan mata yang tak kalah sembab. Sebenarnya ada apa sih. Ini membuatku bingung.

Saat makan malam pun sama. Suasananya masih dingin bak salju di malam natal di tambah appa yang belum pulang. Biasanya kami akan mengobrol tentang banyak hal, tapi eomma terlihat enggan berbicara, begitu pula Serin.

Hanya ada suara sendok dan garpu yang terantuk piring. Aku benar-benar tak tahan.

“Eomma, hari sabtu kita jalan-jalan ya. Dengan Serin juga.” Ku lihat wajah eomma sekilas. Raut muka nya berbeda. Aku tak tahu mengapa. Tapi dua perempuan di depan ku ini menatapku.

“Waeyo-?”

“Aniyo, teruskan makan mu.” Serin tersenyum dan kembali fokus pada makanannya. Tak lama, eomma berdiri dari tempat duduknya, beranjak ke arah dapur dan mencuci piring. Tak biasanya eomma diam seperti itu.

Kami selesai makan berdua. Giliran ku mencuci piring kami. Serin hanya memberikannya dan pergi begitu saja. Aku benar-benar tak mengerti situasi nya.

Setelah selesai, aku naik ke atas. Sebelum ke kamar ku, aku melewati kamar Serin. Sedang apa ya dia. Ingin mengetuk kamarnya, tapi takut mengganggu. Lebih baik ke kamar saja.

-☆[Author]

Jongin merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan seprei galaxy nya. Menutup mata dengan lengan kanannya sambil menghembuskan nafas berkali-kali. Sudah jadi kebiasaannya jika dirinya merasa risih. Ia menghentikan kegiatannya saat mendengar suara ketukan.

Tok-tok-tok

“Ne?” Balasnya tanpa memindahkan tanpa pergerakan apapun.

Naya. Aku boleh masuk?” Serin.

“Boleh.” Ia membetulkan posisinya bersamaan dengan masuknya Serin.

“Kau sedang apa?” Tanya-nya lembut.

“Aniyo, aku baru saja akan mencari kegiatan.”

“Oh begitu.”

-hening.

“Jongin-a.”

“Ye?”

Serin duduk tepat di samping Jongin. Entah mengapa Jongin merasa ada sesuatu yang akan terjadi.

“Kalau aku tidak tinggal disini lagi bagaimana? Apa kau akan merindukanku?” Celetuknya tanpa melihat ke arah Jongin, arah pandangnya mengarah pada foto mereka berdua yang berada di salah satu bingkai di dinding kamar Jongin.

Jongin menatap lekat gadis yang berada di sampingnya. Serin yang merasa di abaikan menatap balik Jongin, membuatnya merasa gugup dan mengalihkan pandangannya.

“Ayo jawab.” Sudutnya lagi.

“Apa sih maksudmu?” Jawab-nya sambil menjatuhkan badannya ke kasur. Ia kembali menutup mata dengan lengannya.

Serin hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Ia pasti tak nyaman jika di tanya soal ini. Tapi tak ada pilihan lain, toh lusa ia benar-benar harus pergi.

Serin mengikuti kegiatan Sehun. Bedanya Serin tak menutup matanya. Ia memandang langit-langit kamar Jongin. Banyak bintang yang akan menyala kalau lampu kamarnya dimatikan. Serin bangun dan berjalan ke arah saklar. Jongin yang mengintip bertanya-tanya.

Ceklek-

Lampunya mati.

Serin kembali ke samping Jongin dan merebahkan dirinya.

“Ya! Coba buka mata mu.”

Jongin masih tampak enggan membukanya. Tapi mau tak mau ia membukanya karena Serin sudah memaksanya dengan tangannya sendiri.

“Nah. Begitu dong. Sekarang lihat itu?” Matanya mengikuti arah tunjuk Serin.

“Kau ingat kan, kita memasangnya saat kita umur 10. Benar-benar susah saat itu, kau sampai menggendongku padahal sudah naik tangga. Akibatnya kita berdua jatuh dan kau mengalami patah tulang. Hahaha. Pasti saat itu aku sangat berat.” Jongin mengalihkan pandangannya ke wajah Serin, bukan lagi bintang-bintang itu.

“Saat kau di rumah sakit, aku menangis seharian karena merasa bersalah. Lalu kau pura-pura mati membuatku takut setengah mati. Dan kau menertawakan ku dan mengatakan wajah ku sangat jelek saat menangis. Bagaimana pun juga aku sangat merindukan masa-masa seperti itu-”

Serin menangis. Laki-laki di sebelahnya pun panik, ia tak tahu harus berbuat apa. Walaupun gelap ia tetap mengetahuinya kalau Serin sedang menangis.

“Ya! Mengapa tiba-”

Serin segera membelakangi Jongin yang kebingungan akan-nya.

“Ah, mianhae. Aku sangat cengeng bukan? Haha- mian.” Ia benar-benar frustasi menanggapi kejadian-kejadian hari ini, di tambah lagi dengan menangisnya Serin di kamarnya.

“Ya. Ada apa sih? Mengapa kau seperti ini?” Ia berbicara pada punggung Serin yang naik turun karena menangis, mendekatkan tangan pada punggung Serin. Dan mejauhkannya kembali. Bergegas ke arah saklar lampu dan menyalakannya. Dilihatnya Serin yang membenamkan wajahnya pada guling.

Menyadari keadaan kamar yang sudah terang. Serin menghentikan tangisnya dan duduk dipinggir kasur.

“Mianhae Jongin.”

Jongin berdiri di depan Serin, kemudian berjongkok di hadapannya.

“Sebenarnya ada apa? Mengapa kau tidak mau cerita?”

Bukannya menjawab, Serin malah memeluk dirinya. Hangat. Ia pun kaget dan membeku.

“Besok akan ku beritahu. Kau tidur nyenyak ya.” Dan melepaskan pelukannya. Gadis itu tersenyum dan meninggalkan nya sendiri dengan perasaan bimbangnya.

Cuaca pagi Busan yang hangat tak mempengaruhi pikiran laki-laki itu. Dirinya terlihat malas bersiap-siap ke sekolah. Padahal hari ini hari terakhir pada minggu ini.

Semangat pagi nya terus menyulut setiap mengingat kejadian kemarin malam. Ia benar-benar merasa gagal menjadi seorang sahabat. Ia pikir dirinya selalu ada untuk gadis menyedihkan itu.

Ia turun ke dapur dan beranjak ke meja makan, mendapati Serin yang tak ada membuatnya bingung.

“Eomma, Serin kemana?” Sapa-nya begitu sampai ke dapur. Sambil mengolesi roti tawarnya dengan mentega.

“Akhir-akhir ini kau makan roti terus, liat tubuhmu aigoo. Orang Korea itu harus makan nasi.” Ia mulai merasa aneh dengan seluruh orang di rumah ini, seakan ada yang dirahasiakan pada nya.

“Ya, akhir-akhir ini aku bangun siang. Aku berangkat ya eomma, appa.” Memerkan senyum 2 jari nya dan pergi keluar rumah.

‘Mungkin ia sudah berangkat.’ Pikir Jongin di tengah perjalanan.

Sstt-

Ia memperjelas pendengarannya begitu turun dari bus. Seperti mendengar sesuatu.

Ssttt.. Jongin-a!

Kali ini ia yakin. Ah paling hanya orang iseng. Pikirnya. Kemudian pergi dari halte bergegas ke arah sekolah. Tapi-

“Ya! Mworago?!”

Dirinya di tarik oleh seorang gadis berseragam sepertinya, bedanya ia memakai jaket dan kupluk yang menutupi wajahnya. Jongin tak melihat terlalu jelas siapa itu. Tapi dugaannya adalah gadis dari sekolah yang ‘menyukai’ dirinya.

Lelaki itu masih terus berusaha melepaskan tarikannya, kalau bukan perempuan, ia mungkin sudah mengeluarkan kekerasan.

“Aish! Kau ini berisik sekali.” Mereka berhenti sebentar menunggu lampu penyebrangan menjadi hijau. Ia tak salah dengar. Suara ini familiar di telinganya.

“Serin?” Tebaknya asal.

“Wae? Kajja, lampunya sudah hijau. Aku tak mau mati di hari terakhir ku.” Seraya menarik tangan pria di sampingnya.

Tebakannya benar.

Tapi tunggu. Hari terakhir? Apa maksudnya. Pikirannya bergelut, membuat dirinya pusing.

“Tunggu. Apa maksudnya hari terakhir?”

“Kita pergi dulu dari sini. Aku takut ada yang melihat kita. Ini masih wilayah sekolah.”

“Memangnya kenapa?”

“Aku sedang mengajakmu bolos tahu!”

.

.

TBC

HAEE! Aku baca semua comment kalian di Teaser loh. Terus aku jadi semangat sampe nulis 2 chapter sekaligus hehehe. Di chapter ini emg masih gaje gitu jadi maklumi saja ya. Dan di Chap ini juga Sehun belum muncul. Kalo bisa, nanti malam aku post chap.2 nya, tapi ga janji ya hehe. Dahh para readerrr jangan lupa RCL yaa:) ♡♡

31 responses to “[1] Kleptomania Alert!

  1. bgs kok thor ffny ap reaksi si joingin y kl tau serin bkl pindah ke seoul ditunggu next chapter fighthing

  2. weh weh jongin sehun cast nya. sebenarnya saya gk tau teasernya ato saya lupa teaser nya. ngikut aja ,,, ini seru.

  3. Pingback: [TEASER] KLEPTOMANIA ALERT! | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Serin pindah sekolah? Di seoul? Cast utama cowoknya jongin kan? Harus jongin yah *bbuing bbuing 😉 * Jgn sehun… Please

  5. Nah loh. Kapan Jongin peka. Kapan Jongin dikadih tau kalo gitu. Masa ga nyadar sih gelagatnya serin Jong.
    Penasaran. Next ya

  6. aku nemu typo thor ^^
    tapi nggak apa yg penting ceritanya menarik. serin dipindahin ke seoul? jongin pasti sedih banget ditinggal serin. nggak tega juga sebenarnya. serinnya juga kasian banget 😦

  7. jadi serin ngajakin jongin bolos buat terakhir kalinya momen mereka berdua. nanti di seoul si serin bakalan ketemu sehun. terus si jongin pasti bakalan nyusulin saerin deh ke seoul wkwkakaka…. ditunggu chapter 2 nya

  8. iih kasian serinnya 😦 dia melakukannya tanpa sengaja koo :(.
    aaa ga sabar nunggu sehun munculll :v.

    Di tunggu next chapternya ^^

    Keep Writing ^^

  9. Duh baca dari teasernya jadi nebak kalo sehun bakal jahat sama serin 😭😭
    Ditunggu next chapter!

  10. Kasian banget serin duh penyakit.a ini bikin greget
    Huhu sehun yaa peran utama.a mudahan sehun aja hehe
    Lanjutlanjut yaa thor✌✌

  11. Hehe bener eonn chapt ini masih belum ngefeel deh kayaknya trus ada typo tuh yang harusnya jongin jadinya sehun
    But, so far di bagus kok di tunggu chapt2nya(y)

  12. sehun nya blm muncul…
    padahal nunggu nya sehun-_-
    ya sudahlah,,mau baca yg selanjutnya…bagus thor!!
    keep writing,.

  13. wah kleptomania si serib toh, menarik nih >_< pgn tau klnjutannya nextnya jgn lama" ya hehe btw aku kira orang" yg mempunyai kleptomania itu hanya mengambil benda kayak dompet ajah :3 tp ntahlah mgkn aku jg yg salah hehe

  14. Serin mau pindah ke sekolah Sehun kan ya???? Nanti Sehun benci Serin atau ngbully Serin kan kan kan? Moga Kai ikutan pindah juga dan lindungi Serin nya

  15. Aku kok ngerasa serin nya bakalan jauh banget yaaaa sama jongeeen terus deket sama sehun meskipun sehun nya gasuka sama pencuri terus mereka ketemu disekolah barunya serin Aaaa garelaaaaa.. nanti yg jagain serin siapa? Kalo nanti2 penyakitnya serin kambuh gimana? Terus nasibnya serin gimana? AAAA pusing aku mikirinnya_- wkwk

  16. Pingback: [2] Kleptomania Alert! – What Should I do? | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. Kalo ngidap kelainan itu apa bisa sembuh, jujur aku sering ngalamin itu, ngambil barang tampa sadar, takutnya aku ngidap kek gituan lagi, jangan jangan!!. Nanti pas di sekolah baru dia ketemu sehun, trus jongin nyusul, trus ada cemburu cemburuan oh kisah remaja, hihi gak jelas-_-

    Ok makasih ffnya ^^

    • Hai sabrinadya:) sebenernya aku juga begitu, tapi aku masih bisa ngontrol hal itu. Kalo dikatakan klepto aku gak tau ya, itu ada di tingkatan mana yang jelas gejala nya sama. Kalo kata psikiater ku sih bisa kalo emang kamu ada kemauan. Hehe btw makasih ya udah mau baca^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s