[Freelance] Our Perfect Family ( Sequel of Falling Love with a Rich Man )

ourperfectfamily-by-peniadts

 

Poster by PENIADTS BY HTTPS://CAFEPOSTERART.WORDPRESS.COM

 

Title                 : Our Perfect Family ( Sequel of Falling Love with a Rich Man )

Author                        : Ndkhrns (Twitter : @Nadiakhair_)

Main Cast         : Kim Joon Myun a.k.a Suho Park Jieun or Kim Jieun Rachel Kim (Suho-Jieun’s daughter)

Support Cast  : Exo members and many more

Genre              : Marriage Life, Family, Comedy (maybe)

Rating             : PG-16

Disclaimer       : Annyeong, chingu! Kali ini author kembali dengan SEQUEL dari FF sebelumnya, Falling Love with a Rich Man. Cerita ini murni hasil kreatifitas author, jadi SAY NO to PLAGIAT. Dont be a silent readers, no bash, and enjoy the story. Cekidot~

 

 

 

“You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them.

Desmond Tutu-

 

Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk Timur, namun seorang wanita cantik telah sibuk di dapur menyiapkan beberapa hidangan. Dia adalah Park Jieun yang kini marganya telah berganti menjadi Kim Jieun, istri dari Presdir Kim’s Hotel, yakni Kim Joon Myun. Wanita beranak satu itu kini tengah mencuci piring, gelas, sendok, garpu, dan peralatan memasak lainnya. Tak hanya itu, sesekali dia juga mengaduk-aduk sesuatu yang sedang dimasak di dalam panci dan sesekali mencicipinya.

KLIK!

Jieun mematikan kompornya setelah supnya matang. Kemudian ia menyiapkan dua kotak bekal dan mengisinya dengan beberapa potong buah, sayuran, nasi, dan lauk pauk. Ia memberi lebih banyak buah dalam kotak bekal berwarna hitam, sedangkan pada kotak bekal berwarna pink ia beri porsi yang tidak terlalu banyak. Setelah dirasa selesai, ia menata semuanya di meja makan. Kini saatnya ia melaksanakan tugas berikutnya, yaitu membangunkan anak dan suaminya. Jieun memilih untuk membangunkan anaknya terlebih dahulu karena putrinya itu lebih mudah dibangunkan ketimbang suaminya. Itu membuat Jieun sanggat bangga karena sifat Suho yang susah bangun itu tidak menurun pada Rachel.

Jieun telah sampai di sebuah kamar bernuansa putih dan pink dengan beberapa tempelan wallpaper bunga-bunga di dinding-dinding kamar. Ia tersenyum saat melihat putri kecilnya masih terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Perlahan Jieun duduk di pinggir kasur putrinya. Tangannya dengan lembut menepuk-nepuk pelan tubuh gadis kecil itu.

“Rachel, sudah waktunya bangun, sayang.”

Panggilan pertama belum berhasil. Jieun menarik selimut putrinya dengan perlahan, “Rachel, sudah waktunya bangun. Hari ini kau harus berangkat sekolah.”

“Eunghhh…” gadis kecil berambut panjang itu menggeliat pelan sambil mengucek matanya. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka sempurna. Lalu ia bangun dan duduk.

CHU~

Sebuah kecupan singkat ia berikan untuk ibunya. “Good morning, Eomma.”

“Good morning, Princess Kim Rachel.”

Tanpa perlu disuruh, gadis kecil bernama Rachel itu langsung melesat ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Jieun merasa sangat bangga karena putrinya adalah anak yang manis dan penurut. Saat Rachel sudah masuk ke kamar mandi, Jieun pun segera keluar kamar dan menuju kamarnya dengan sang Suami.

“Huhhh,” Jieun menghembuskan nafas pelan saat melihat suaminya masih terlelap dengan tenang di ranjang mereka.

Oppa, ireona…” Jieun menggoyang-goyangkan tubuh Suho. Tetapi pria itu tetap saja enggan membuka matanya.

Oppa, kau bilang hari ini ada pertemuan penting dengan tamu dari Jepang itu, kan? Cepat bangun,” ujar Jieun sekali lagi. Kini ia sudah menarik paksa selimut yang masih melekat di tubuh Suho.

Oppa..”

Karena Suho tak kunjung bangun, dengan amat sangat terpaksa Jieun harus menggunakan ‘senjata’ untuk membangunkan Suho. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil sejumlah air menggunakan botol bekas parfum miliknya. Lalu ia cipratkan air itu ke wajah Suho dan mengguyurnya sedikit demi sedikit. Tega? Yah, mau tidak mau.

“Kyaaa!!!” Suho langsung terlonjak kaget. “Jieun, kenapa kau lakukan ini padaku?”

Jieun yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada hanya tersenyum sinis. “Aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku untuk berlama-lama membangunkanmu. Pekerjaan ibu rumah tangga itu banyak. Memasak, cuci piring, menyapu, mengepel, mengurus anak, mengurus suami, menyiapkan ini dan itu. Dari pagi sampai malam, pekerjaanku itu banyak.”

Suho mendengarkan celotehan Jieun sambil melipat selimut. Ia sudah terbiasa dengan celotehan istrinya itu, hampir setiap pagi Jieun berbicara seperti itu.

“Rachel saja sudah siap sedari tadi.”

Selalu begitu, Jieun selalu membandingkan dirinya dengan Rachel, putri sematawayang mereka. Suho kerap merasa iri karena istrinya itu sering memuji-muji Rachel, entah itu penampilannya, gayanya, mungkin semuanya. “Segera mandi, lalu sarapan. Aku akan menyiapkan baju kerjamu.”

Suho pun berjalan menuju kamar mandi pribadi di kamar mereka dengan langkah gontai. Saat akan melewati Jieun, terbesit sesuatu di benak pria tampan itu.

CHU~

Suho mengecup bibir manis Jieun singkat kemudian langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi.

“YAK! KIM JOON MYUN!”

==00==

Kini keluarga kecil Kim itu tengah menikmati sarapan pagi mereka. Suho sudah rapi dengan setelan jas beserta dasinya. Begitupun Rachel yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya, tak lupa hiasan rambut berupa bandana berwarna senada dengan seragamnya.

Eomma, hari ini aku ingin membawa susu cokelat,” pinta Rachel pada Jieun yang sedang memasukkan kotak bekal ke dalam tas miliknya.

“Oke, ada lagi?”

Rachel menggeleng lalu melanjutkan sarapannya.

Setelah semuanya beres, Jieun pun mengantar anak dan suaminya ke halaman rumah.

Eomma, kami berangkat dulu, ya,” pamit Rachel.

Jieun mensejajarkan tubuhnya dengan sang Anak kemudian mengecup pipinya. “Hati-hati di jalan. Belajarlah dengan baik, ikuti perintah Ibu Guru di sekolah.”

“Siap!”

Kini giliran Suho yang berpamitan, ia mengecup kening sang Istri. “Kami berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik di rumah.”

Ne, hati-hati di jalan, Oppa. Semoga harimu indah.”

Jieun melambaikan tangannya dan memberikan senyum termanisnya saat mobil yang ditumpangi anak dan suaminya mulai meninggalkan garasi rumah. Pintu pagar mereka tertutup secara otomatis saat mobil Suho sudah keluar dari halaman. Keluarga Suho tinggal di sebuah kawasan perumahan elite di Seoul. Rata-rata penduduknya adalah para pengusaha, pejabat, dan orang-orang kaya lainnya. Seluruh pagar rumah merupakan pagar otomatis yang diatur dengan kode dan setiap blok dijaga oleh satpam. Pengamanan di kawasan ini pun sangat ketat, oleh karena itu Suho memilih untuk membeli rumah disini karena ia ingin istri dan anaknya selalu aman.

Selepas kepergian anak dan suaminya menuju rutinitas mereka, Jieun kembali masuk ke rumah. Saatnya Jieun bersantai sambil menunggu pembantu rumah tangganya datang. Jieun memiliki seorang pembantu yang hanya bertugas untuk bersih-bersih rumah, menjemur, dan membersihkan halaman. Untuk urusan memasak, menyetrika, mencuci pakaian, Jieun menanganinya sendiri. Pembantu itu pun tidak menginap, setelah pekerjaannya selesai ia diperbolehkan pulang. Jieun tidak mau menyerahkan semua tugas rumah kepada pembantu.

DRRTT! DRRTT!

Ponsel milik Jieun yang terletak di meja ruang TV bergetar, sebuah panggilan masuk. Tertera nama yang sudah tak asing bagi Jieun di layar ponselnya. “Yeoboseyo?”

“Unnie, apa kau sedang ada di rumah?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu? Aku kesepian.”

“Tentu saja, kebetulan aku juga sedang bersantai-santai. Kutunggu, ya.”

Sambungan telepon pun terputus. Tak sampai sepuluh menit, kini Jieun sudah tidak sendirian lagi di rumah. Ada seorang wanita hamil yang menemaninya, dia adalah Jihye, istri Oh Sehun. Nah, perlu kalian ketahui bahwa Suho and The Gank tinggal satu komplek dan hanya berbeda blok saja. Kecuali Sehun dan istrinya yang tinggal tepat bersebelahan dengan rumah Suho.

“Bagaimana kandunganmu, Jihye? Kudengar bayinya laki-laki, ya?” tanya Jieun sembari mengelus-elus perut Jihye yang besar itu. Ia sedang mengandung anak pertamanya dengan Sehun.

“Iya, aku sudah tak sabar.”

“Oh iya, sebentar lagi Sena datang. Hari ini aku berencana membuat Rainbow Cake dengannya.”

Mata Jihye nampak berbinar, “Jinjja? Wah, aku ingin membantu. Boleh?”

“Boleh-boleh saja, sih, tetapi kau mengerjakan yang ringan-ringan saja, ya?”

Jihye mengangguk.

Saat sedang asyik bercengkerama, ponsel Jieun kembali bergetar. Rupanya Sena sudah sampai dan ia minta tolong untuk dibukakan pintu pagar karena dia (tentu saja) tidak tahu kata sandinya. Jieun pun bergegas membukakan pintu untuk Sena dan mobilnya. Sena menggunakan mobil karena ia baru saja mengantar si Kembar Ahreum dan Ahyoon, buah cintanya dengan Baekhyun. Lalu mereka masuk ke rumah.

“Wah, ada Jihye juga. Kita tetangga tetapi jarang bertemu, ya,” sapa Sena.

“Hehehehe, iya, Unnie.

“Lebih baik kita mulai sekarang saja. Ayo ke dapur!” ajak Jieun. Sena dan Jihye pun mengekor berjalan ke dapur. Sesampainya di dapur, mereka mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue. Jihye yang sedang hamil besar hanya duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan kedua Unnienya sibuk menyiapkan bahan. Jihye diberi tugas untuk membersihkan dan mengoles loyang dengan margarin. Selebihnya dilakukan oleh Jieun dan Sena. Ketiga ibu rumah tangga itu kini tengah asyik melakukan kegiatan membuat kue. Nampaknya mereka terlalu antusias.

Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah selesai dan tinggal menunggu kuenya matang. Sambil menunggu, mereka pun berbincang-bincang di meja makan.

TING! Oven berbunyi menandakan kue mereka sudah matang. Sena dan Jieun pun segera membuka oven dan mengambil kuenya. Aroma khas kue pun menyeruak, sangat menggiurkan. Namun tiba-tiba…

Unnie, perutku mulai tidak enak,” lirih Jihye.

Sena dan Jieun yang sedang mengeluarkan loyang-loyang dari dalam oven pun langsung terkejut. “Gawat,” gumam Sena.

“Jihye, kita ke Rumah Sakit sekarang, ya.”

“Ya, tetapi aku perlu mengambil beberapa barangku di rumah. Aku sudah menyiapkan semuanya, kok,” ujar Jihye.

“Jihye, kau masih sanggup berjalan? Sena, kau antar Jihye, ya. Aku harus mengambil tasku dulu,” titah Jieun.

Sena mengangguk kemudian membantu Jihye untuk berjalan menuju mobilnya kemudian mengantar wanita itu ke rumahnya. Sedangkan Jieun langsung melesat menuju kamarnya untuk berganti baju dan mengambil tasnya. Ponsel, dompet, dan barang berharga lainnya tak lupa ia masukkan ke dalam tas. Saat ia keluar kamar, nampak Lee-ahjumma, pembantu rumahnya datang.

“Oh, syukurlah anda sudah datang. Saya harus ke Rumah Sakit karena istri Sehun akan melahirkan, tolong titip rumah.”

“Baik, Nyonya. Hati-hati di jalan.”

Jieun pun langsung menyusul Sena yang sedang berada di rumah Jihye.

 

 

 

At Seoul Hospital-

Unnie, rasanya semakin sakit,” keluh Jihye yang kini sedang terkulai lemas. Sena dan Jieun selalu berada di sampingnya, mereka ikut membantu para suster mendorong kasur kecil beroda untuk membawa Jihye ke ruang persalinan.

“Bersabarlah, Jihye, tenanglah. Atur nafasmu,” ujar Sena.

Kini Jihye sudah berada di ruang bersalin, sedangkan Sena dan Jieun menunggu di luar. Jieun sedang berusaha menghubungi Sehun menggunakan ponsel milik Jihye. Pria itu baru saja mendarat di bandara Incheon sehabis melakukan dinas ke Italia. Sena juga nampak sibuk menelepon seseorang, tetapi entah siapa.

“Oh Sehun, ini aku Jieun. Kau dimana sekarang? Istrimu sedang di Rumah Sakit, ia akan melahirkan.”

“Oh, ya, dia memang sedang hamil besar. APA?!! MELAHIRKAN?!! DIMANA KALIAN SEKARANG?!!”

“Di Seoul Hospital, cepat kemari!”

PIP! Sambungan telepon terputus. Jieun dan Sena sedang dalam keadaan panik sekarang, mereka tak henti-hentinya berdoa agar Jihye diberi keselamatan dan Sehun juga bisa sampai tepat waktu dengan selamat.

Tak lama kemudian, datang tiga orang wanita yang berjalan tergesa-gesa. Melihat pemandangan tersebut, dahi Jieun berkerut. Ia heran kenapa ketiga wanita itu bisa tahu kalau ia dan Sena sedang berada disini. “Sena, kenapa mereka datang?”

“Aku… Entah kenapa tadi aku spontan memberi tahu mereka,” jawab Sena polos.

Ketiga wanita itu adalah Sooyou istri Chanyeol, Naeri istri Kyungsoo, dan Yunji istri Jongin. Mereka langsung menyerbu Jieun dan Sena dengan berbagai pertanyaan. Mereka nampak sama khawatirnya.

“Dimana Sehun? Seharusnya dia berada disini,” tanya Yunji.

“Dia sedang dalam perjalanan,” jawab Jieun.

“Permisi, apaka–“ seorang pria yang rupanya seorang dokter tiba-tiba keluar dari ruang persalinan. Beliau hendak bertanya namun ucapannya terhenti karena beliau mendapati lima orang wanita cantik menunggu di depan ruang persalinan. Jadi dimana suaminya? batin dokter itu.

“Bagaimana keadaan Jihye, Dok?” koor mereka bersamaan.

“Dia membutuhkan suaminya,” jawab dokter. “Tetapi kenapa disini hanya ada wanita?” lanjutnya.

“Kami sahab–“

“Saya suaminya, Dok,” tiba-tiba Sehun muncul dengan wajah panik namun ia masih terlihat tampan. Kedatangan Sehun langsung disambut oleh hembusan nafas lega dari Jieun dan yang lainnya. Tanpa berbasa-basi Sehun dan sang Dokter langsung masuk ke ruang persalinan. Sedangkan yang lainnya menunggu diluar sambil berdoa.

 

Sementara itu seorang gadis manis tengah duduk sambil menikmati semilir angin di bangku ayunan sekolahnya. Sebuah Taman Kanak-Kanak bertaraf Internasional dengan bangunan yang megah. Gadis itu adalah Rachel. Ia tengah menunggu ibunya yang tak kunjung datang menjemputnya, padahal biasanya ibundanya tidak pernah terlambat satu detik pun. Hari semakin siang dan sekolah semakin sepi. Rachel masih setia menunggu kedatangan ibunya sambil bermain-main, kira-kira sudah dua jam ia menunggu.

“Kenapa eomma belum datang juga, sih,” gerutu Rachel yang sudah bosan menunggu. Ia sudah berkali-kali mencoba semua mainan yang ada di halaman sekolahnya ini, namun ibunya tak kunjung datang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap menemukan sosok Jieun. Betapa kecewanya Rachel saat ia tidak berhasil menangkap sosok ibunya, yang ia lihat justru seorang pria berseragam guru sedang berjalan menghampirinya. “Henry-seonsaengnim,” gumamnya. Pria bermata sipit itu semakin dekat dengannya, Rachel pun menghampiri gurunya itu.

“Rachel? Kau belum pulang?”

“Belum, eomma tak kunjung datang. Hmmm… Bolehkah aku pinjam ponselmu, Seonsaengnim?” Rachel berbicara langsung pada intinya.

“Oh, tentu saja,” Henry mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Rachel. Gadis itu pun memencet nomor milik ayahnya karena ia tidak hafal nomor ibunya. “Appa!” pekik Rachel saat teleponnya tersambung.

Rachel? Ponsel siapa yang kau pakai, Nak?”

“Punya Henry-seonsaengnim. Appa, bisa jemput aku? Daritadi eomma tidak datang, aku sudah bosan menunggu.”

“Hah? Eomma tidak menjemputmu? Oke, tunggu disana, jangan kemana-mana.”

Ne, Appa!” kemudian Rachel memutus sambungan teleponnya. Ia pun mengembalikan ponsel itu kepada gurunya, tak lupa ia mengucapkan terimakasih.

25 minutes later…

Suho memasuki gedung sekolah putrinya yang megah itu. Suho memilih menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf Internasional yang bermutu paling baik di Korea. Meskipun awalnya Jieun keberatan, namun Suho tetap ingin menyekolahkan Rachel di sekolah ini karena ia ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Uang tidak menjadi masalah baginya.

Appa!” Seulas senyuman tergambar di wajah Suho saat melihat putrinya melambaikan tangan. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menemui putrinya itu. Sejujurnya sekarang Suho dalam keadaan kesal karena istrinya, Jieun, tidak datang menjemput Rachel. Padahal itu adalah tugasnya. Tetapi ia berusaha bersikap tenang dan tidak menampakkan kekesalannya.

Rachel menyambutnya dengan ramah dan langsung menghambur ke dalam pelukannya. Rachel juga memperkenalkan gurunya dengan semangat. “Ini Henry-seonsaengnim, tadi aku meminjam ponselnya,” ujar Rachel.

Annyeonghaseyo, Henry Lau-imnida. Saya adalah salah satu guru disini.”

“Joon Myun-imnida, ayah Rachel. Terima kasih karena sudah membantu menjaga putriku,” ucap Suho tulus sambil berjabat tangan dengan Henry.

“Tidak masalah, itu sudah kewajiban saya.”

“Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu. Annyeong.”

Annyeong, Henry-seonsaengnim,” Rachel melambaikan tangannya kepada gurunya itu. Kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil sang Ayah.

Sepanjang perjalanan, Suho terus memikirkan alasan Jieun tidak datang menjemput buah hati mereka. Istrinya adalah tipe orang yang selalu menepati janji dan tepat waktu, tidak biasanya dia seperti ini. Berbagai dugaan negatif mulai timbul dalam benaknya. Mulai dari Jieun keasyikan pergi dengan Sena dan para istri sahabatnya yang lain, sampai dugaan terburuk pun sempat terbesit dalam pikiran Suho.

 

Beralih kepada Jieun yang masih berada di Rumah Sakit. Wanita itu kini tengah berada di sebuah ruang perawatan VVIP bersama Sena dan yang lainnya. Mereka tengah asyik bercengkerama dengan Jihye yang baru saja melewati proses persalinannya, dia melahirkan bayi laki-laki yang tampan. Jieun merasa sangat senang karena sahabatnya itu berhasil melahirkan dengan lancar. Untung saja tadi ia segera membawa Jihye ke Rumah Sakit.

Jieun melirik jam tangannya, jarum pendek berada di angka 3. Jieun membelalakkan matanya. Pukul 3 lebih? Berarti aku sudah empat jam disini dan aku lupa menjemput Rachel! Ceroboh sekali diriku ini!! Jieun mengutuk dirinya karena ia telah membuat kesalahan fatal hari ini. Ia benar-benar bingung, bagaimana kalau anaknya diculik? Oh, tidak mungkin!

“Jihye, maaf aku harus pulang sekarang. Pasti Rachel sudah menunggu di rumah,” pamit Jieun.

Ne, Unnie, hati-hati di jalan. Terima kasih banyak atas bantuanmu hari ini.”

Jieun mengangguk, ia pun berpamitan pada yang lainnya dan segera mengambil langkah seribu. Kira-kira dua jam lagi suaminya pulang, jika ia sampai tahu maka tamatlah riwayat Jieun. Beruntung saat keluar dari Rumah Sakit ia langsung mendapat taksi. Selama di dalam taksi ia mengecek ponselnya, terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Suho dan sebuah pesan. Jieun bisa sedikit lega saat membaca pesan dari Suho bahwa Rachel sedang bersamanya, namun tetap saja ia merasa bersalah karena melupakan tugasnya. Rasanya Jieun ingin menangis sekarang, sesampainya di rumah nanti pasti ia akan dimarahi habis-habisan oleh suaminya.

 

 

At Home-

Jieun turun dari taksi sambil membawa beberapa kantung plastik berisi beberapa bahan makanan. Rupanya ia sampai di rumah bersamaan dengan Suho dan Rachel. Nampak Lee-ahjumma yang menyambut mereka saat masuk ke rumah. Beliau membawakan belanjaan Jieun ke dapur, sementara Jieun langsung menghampiri Rachel dan memeluknya erat.

“Rachel, maafkan eomma, Nak,” ucap Jieun sambil mengelus-elus punggung putrinya. Rachel pun membalas pelukan Jieun dengan erat, “Eomma kemana saja? Aku menunggu lama, lho.”

Jieun melepas pelukannya kemudian mengelus pipi chubby Rachel. “Kita masuk dulu, ya, nanti eomma ceritakan. Ada kabar baik untukmu, tetapi ceritanya nanti saja kalau Rachel sudah selesai mandi.”

“Siap, Eomma.”

“Nyonya, tadi saya melanjutkan menghias kuenya. Sayang kalau dibiarkan begitu saja, tidak apa-apa, kan?” Lee-ahjumma tiba-tiba muncul di hadapan Jieun.

“Tidak apa-apa, justru aku sangat berterima kasih. Oh iya, tolong antarkan kue yang satunya ke rumah Sena, ya. Ahjumma tahu, kan? Rumah Tuan Byun.”

“Iya, Nyonya. Kalau begitu saya sekalian pulang saja, ya. Semua pekerjaan sudah beres,” pinta Lee-ahjumma.

“Silahkan.”

Setelah selesai dengan Lee-ahjumma, Jieun masuk ke kamarnya dan berniat untuk membersihkan diri. Nampak Suho tengah memainkan ponselnya sambil duduk di kasur. Jieun pun menghampiri Suho dan berniat untuk menjelaskan semuanya pada suaminya itu. Namun saat Jieun baru membuka mulut, Suho sudah memotongnya.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau sudah membuat kesalahan fatal, Jieun,” ucapan Suho membuat hati Jieun seperti tertusuk ribuan pedang tajam, sangat sakit. Baru kali ini Suho bersikap dingin padanya. Pria itu langsung berlalu menuju kamar mandi tanpa memberi Jieun kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Mau tidak mau Jieun harus menunggu sampai suasana benar-benar pas. Intinya, Suho marah padanya.

 

 

Waktu makan malam pun tiba, Jieun sudah menghidangkan chicken bulgogi dan ikan salmon sebagai menu makan malam. Keluarga kecil itu makan malam dalam keheningan, padahal biasanya Suho selalu membuka obrolan kecil di sela makan malam mereka. Jieun takut Rachel akan curiga dengan keanehan ayahnya malam ini, umurnya masih belum cukup untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Setelah makan malam, Jieun menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan Rachel. Kini ia sedang menemani Rachel makan Rainbow Cake buatannya tadi siang sambil menonton kartun kesukaan Rachel. Suho tidak ada di tengah-tengah mereka, pria itu memilih untuk tidur lebih dulu.

“Oh iya, katanya tadi ada berita bagus untukku. Berita apa, Eomma?” tanya Rachel sambil menyendok kuenya.

“Jihye-imo sudah melahirkan anak pertamanya, bayinya laki-laki. Tadi Jihye-imo dan Sena-imo main kesini, kami membuat kue bersama. Tapi tiba-tiba Jihye-imo mengeluh kalau perutnya sakit, otomatis eomma langsung membawanya ke rumah sakit. Sehun-ahjussie sedang dalam perjalanan pulang dari Italia, jadi tidak ada yang mengantar,” jelas Jieun.

“Wah, bolehkah aku bertemu dengan bayi Jihye-imo?” Rachel langsung antusias.

“Tentu saja, nanti kita pergi bersama Appa juga.”

“Yeay!” seru Rachel. Jieun tersenyum melihatnya.

Tak terasa malam semakin larut, waktunya Rachel untuk beristirahat. Jieun mengantarnya ke kamar dan membacakan dongeng sebelum tidur. Setelah buah hatinya terlelap, Jieun pun kembali ke kamarnya. Saat memasuki kamarnya, ia melihat Suho sedang berkutat dengan laptopnya. Pria itu duduk di meja kerja yang terletak di sudut kamar. Jieun masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya sebelum tidur. Baru setelahnya ia menuju tempat tidur.

Suho masih terfokus dengan layar laptopnya seolah tidak peduli dengan kehadiran istrinya. Jieun memutuskan untuk tidak langsung tidur, ia memilih untuk menunggu suaminya selesai dengan laptopnya. Bahkan ia sekarang masih duduk di pinggiran kasur. Suho langsung mematikan laptopnya beberapa menit setelah istrinya datang. Saat ia melihat Jieun sudah duduk manis di kasur, ia langsung menghampiri istrinya.

“Darimana saja kau?” tanya Suho, tatapan matanya mengarah lurus ke arah Jieun.

“Maafkan aku…” Jieun langsung menundukkan kepala karena takut dengan tatapan tajam suaminya.

“Kau membuat Rachel menunggu selama dua jam! Aku sampai membatalkan pertemuanku dengan tamu penting dari Jepang, semua itu karena ulahmu!” nada bicara Suho mulai meninggi.

Oppa, aku bisa jelaskan. Tadi itu aku–“

“Menjadi ibu yang baik saja kau belum bisa. LALU BAGAIMANA KAU BISA MENJADI ISTRI YANG BAIK, HUH?!!!”

Tes.. tes… tes…

Bulir-bulir airmata jatuh membasahi pipi mulus Jieun, ia merasa sangat menyesal. Badannya kini gemetaran, ia tidak berani menjawab perkataan Suho barusan. Setelah enam tahun mengarungi bahtera rumah tangga, baru kali ini Suho membentaknya dengan keras. Bukan berarti mereka tidak pernah bertengkar, tetapi baru kali ini Suho semarah itu.

“Kesalahanmu fatal, Jieun. Kau membuatku kecewa!” Suho memberikan penekanan pada kata ‘kecewa’ lalu pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian ia meninggalkan Jieun dan naik ke kasur, ia tidur dengan posisi memunggungi Jieun. Sedangkan Jieun masih terdiam seribu bahasa, ia menangis tanpa mengeluarkan suara.

 

Keesokan harinya keluarga kecil Suho kembali diliputi suasana canggung. Pagi mereka terasa sangat hambar. Tetapi semua rutinitas berjalan seperti biasa, hanya saja tak ada tingkah jahil Suho yang curi-curi kesempatan untuk mencium Jieun saat dirinya tengah menyiapkan baju kerja untuk Suho. Jieun merasa sangat sedih, ini adalah hari jadi pernikahannya yang keenam. Biasanya setiap hari jadi mereka tiba, Suho akan memberikan kejutan-kejutan manis untuk Jieun, meskipun Suho sedang berada di luar negeri sekalipun. Tetapi kali ini mereka melewatinya tanpa perayaan apapun.

Appa, aku tunggu di luar, ya,” si Kecil, Rachel, menyembul dari balik pintu kamar Suho dan Jieun. Suho hanya mengangguk sambil terus terfokus dengan kancing kemejanya. Setelah dirasa rapi, Suho pun mengambil jasnya lalu berjalan keluar. Saat ia baru berjalan beberapa langkah dari kamar, Jieun mencegahnya.

“Kau lupa memakai dasimu, Oppa.”

“Hm.”

Suho hendak mengambil dasi yang ada di tangan Jieun, namun istrinya itu malah langsung memakaikan dasinya. Jarak keduanya menjadi sangat sempit sekarang, Suho dapat mencium aroma tubuh istrinya. Dengan susah payah ia menjaga dirinya agar tetap tenang, padahal saat ini ia sangat ingin memeluk dan mencium istrinya, Jieun.

“Nah, selesai. Oh, jangan lupa kotak bekalmu juga.”

Suho menerima kotak bekalnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saat ia hendak berjalan, Jieun kembali mencegahnya dengan mendaratkan kecupan di pipi kanannya. “Hati-hati di jalan, Oppa. Hari ini aku pasti menjemputnya,” kata Jieun. Kemudian wanita itu berlalu dan menghampiri Rachel yang sudah menunggu di luar.

==00==

Suho memasuki ruangannya kembali setelah mengadakan pertemuan dengan salah satu tamu penting dari Jepang. Ia langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya dan menyalakan laptop, namun ia tidak bisa fokus dengan layar laptopnya. Tiba-tiba ia teringat dengan pertanyaan polos Rachel saat mereka dalam perjalanan tadi.

Appa marah sama eomma, ya? Tadi pagi aku lihat eomma murung sekali, aku jadi ikut sedih. Apa semalam appa memarahi eomma? Kemarin eomma sudah minta maaf ke Rachel kok, jadi appa tidak usah marah lagi ke eomma. Kasihan eomma. Katanya appa sayang sama eomma…

Suho tidak menyangka kalau anaknya akan bertanya pertanyaan seperti itu. “Huuhhh…” Suho menghembuskan nafasnya, kini rasa lapar mulai melanda. Suho tergerak untuk membuka kotak bekalnya, mengintip apa yang Jieun bawakan untuknya hari ini. Ternyata Jieun membawakan makanan kesukaannya, dan juga terdapat sebuah kertas kecil berwarna merah muda.

Happy 6th Wedding Anniversary, JoonMyunnie~

Suho tertegun membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Ia melirik kalender yang ada di mejanya, memang benar ini adalah hari jadi pernikahannya yang keenam. Terbesit sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Ia meraih ponselnya dan menatap layar ponselnya itu, gambar dirinya dan dua bidadari cantik yang sedang tersenyum bahagia di bawah langit berhiaskan penuh kembang api. Ia berdiri di samping Jieun yang sedang menggendong Rachel. Foto itu diambil tiga tahun lalu, waktu mereka menghabiskan liburan akhir tahun di New York. Suho tersenyum penuh arti saat melihat wallpaper ponselnya.

Oh Sehun calling

Suho langsung menghentikan aktivitasnya dan mengangkat telepon dari sahabatnya, Sehun.

“Hyung, apa kau sedang sibuk?”

“Tidak, ada apa?”

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Jieun. Kemarin kalau tak ada dia, aku tidak tahu bagaimana nasib Jihye. Beruntung Jieun dan Sena langsung membawa Jihye ke Rumah Sakit, jadi istri dan bayiku bisa selamat.”

Suho langsung membeku setelah mendengar ucapan Sehun barusan. Istri? Bayi? Jadi kemarin Jieun mengantar Jihye ke Rumah Sakit? Apakah itu alasan Jieun tidak menjemput Rachel di sekolah? Pikir Suho. “Ohhh… Iya, iya. Selamat atas kelahiran bayimu, ya.”

Gomawo, Hyung. Kau tidak berniat menjenguk dan memberi anakku hadiah?”

“Pampers, cukup?”

“Ish, kau ini! Aku hanya sekedar memberi info, nama bayiku adalah Oh Sejung. Dia sangat tampan seperti aku, lho.”

“Aku harap sifatmu tidak menurun padanya.”

Isshh… Kau ini, Hyung! Sudahlah. Annyeong.”

Akhirnya sambungan telepon terputus. Suho kembali termenung memikirkan istrinya. Ia jadi ingin pulang ke rumah sekarang juga dan meminta maaf pada Jieun. Sayangnya sore ini ia masih harus rapat dengan para orang penting di hotelnya untuk membahas beberapa hal. Ia yakin kalau malam ini ia akan pulang larut.

Suho mengacak rambutnya gusar. “Kenapa aku harus ada acara penting di saat seperti ini?” racaunya.

==00==

Suho memasuki rumahnya dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia mengendap-endap seperti seorang pencuri. Kini hanya satu yang ada di pikirannya, yaitu minta maaf pada istrinya, Jieun. Terlebih dahulu ia mengintip ke kamar Rachel yang berada di samping kamarnya dengan Jieun, ia hendak memastikan kalau buah hatinya itu sudah tidur. Baru setelahnya ia melanjutkan langkahnya ke kamar.

Lampu kamarnya masih menyala. Perlahan Suho membuka pintu dan masuk, ia terkejut saat telinganya samar-samar mendengar suara isakan tangis perempuan. Suho seketika dilanda perasaan was-was. Jieun? Kenapa dia menangis? Batinnya. Suho pun melanjutkan langkahnya menuju sumber suara, pandangannya ia edarkan ke sekeliling kamar untuk menemukan Jieun. Sampai akhirnya ia mendapati istrinya tengah duduk di karpet di samping ranjang mereka. Jieun menundukkan wajahnya, ia masih terisak, sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Suho.

Perlahan Suho mendekat ke arah Jieun, lalu ia memposisikan dirinya berhadapan dengan sang Istri. Tangannya menangkup wajah Jieun, “Jieun? Kenapa kau menangis, sayang?”

Jieun menepis tangan Suho dengan kasar. “Darimana saja kau? Tidak biasanya kau pulang selarut ini,” tanya Jieun dingin.

“Aku ada rapat penting dengan para pengurus hotel. Maaf aku tidak mengabarimu, aku benar-benar sibuk,” jawab Suho dengan penuh penyesalan. Namun istrinya malah menatapnya dengan sangat tajam. Tampak jelas mata Jieun yang sangat sembab dan wajahnya kusut.

“Rapat? Selarut ini? Bukankah kau paling tidak mau mengadakan rapat sampai larut malam?”

“Tadi aku–“

“Oh, atau kau keasyikan menghabiskan waktu dengan para rekan kerja wanitamu yang selalu memakai pakaian kurang bahan itu?”

“Jieun…”

“Kau memutuskan untuk bersenang-senang diluar sana dan pulang larut. Sengaja tidak memberiku kabar dan membuatku menunggu dengan perasaan cemas.”

Suho terdiam.

“Karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik, begitu?” amarah Jieun makin memuncak, ia sudah tidak sanggup lagi. Sedari tadi ia menunggu suaminya pulang dengan rasa khawatir. Suho tidak memberinya kabar sama sekali, tentu saja itu membuat Jieun geram dan ia merasa tidak dihargai sebagai seorang istri.

“JAWAB AKU, KIM JOON MYUN!”sentak Jieun. Airmata semakin deras mengalir dari kedua pelupuk mata indahnya, badannya juga bergetar hebat.

“Aku mengitari Seoul selama berjam-jam untuk membelikanmu ini,” jelas Suho. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.

Sebuket bunga mawar.

Isakan Jieun seketika berhenti saat matanya disuguhi oleh sebuket bunga mawar yang sangat indah, nampaknya bunganya pun masih segar. Ia mencubit tangannya sendiri, memastikan kalau sekarang ia sedang tidak bermimpi. Dengan ragu ia menerima bunga dari suaminya itu.

“Rapatku selesai pukul 9, kemudian aku langsung bergegas mencari bunga. Rata-rata toko bunga sudah tutup, jadi aku harus berkeliling untuk mencari toko yang masih buka. Maaf aku tidak bisa memberikan hadiah spesial untukmu di hari jadi pernikahan kita, yeobo,” Suho meraih tangan Jieun dan menggenggamnya erat, sedangkan tangan yang lainnya ia gunakan untuk menghapus airmata di pipi Jieun.

“Maaf kemarin aku terlalu keras dan membuatmu menangis. Maaf kemarin aku tidak memberimu kesempatan untuk berbicara. Aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku, Jieun, maafkan aku.” Kini Suho menempelkan dahinya ke dahi Jieun, ia benar-benar menyesal.

“Maafkan aku juga,” ucap Jieun pelan. Tanpa ragu ia memeluk suaminya itu erat-erat, menghirup aroma maskulin yang membuatnya selalu merindukan sang Suami. Jieun sangat lega karena mereka sudah berbaikan.

Setelah puas berpelukan erat layaknya dua insan yang baru bertemu setelah bertahun-tahun berpisah, Jieun melepas pelukannya. “Terimakasih, Oppa, aku suka bunganya.”

Suho tersenyum, “Sama-sama, aku senang kita sudah berbaikan. Aku janji lain kali aku tidak akan bersikap terlalu keras padamu. Itu memang salahku, aku tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Tadi Sehun menelfonku dan menceritakan semuanya. Aku ikut senang mendengarnya.”

Suho tersneyum, “Oh iya, satu hal lagi! Jangan pernah beranggapan kalau aku selingkuh di belakangmu, Jieun. Aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan-perempuan yang selalu memakai pakaian kurang bahan itu. Mereka tidak ada apa-apanya dibanding dirimu. Jadi, jangan pernah menuduhku seperti itu lagi. Arrasseo?” Suho mengakhiri pidato singkatnya dengan mendaratkan kecupan di kening Jieun.

“Sudah? Segitu saja pidatonya?” tanya Jieun dengan wajah tanpa dosa.

Suho memutar bola matanya malas. “Kau menantangku, Kim Jieun?” sedetik kemudian ia langsung menggendong Jieun ala bridal style.

“Hey, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”

“Kau tidak ingin memberiku hadiah?”

“Apa? Aku kan, sudah membawakan bekal makan siang favoritmu. Masih kurang?”

Sebuah seringaian muncul di wajah Suho. “Tadi Sehun menelfonku dan ia bilang kalau bayinya laki-laki, aku rasa menarik juga. Tadi Rachel bilang padaku, ia ingin punya adik, sayang.”

MWO?! KIM JOON MYU–”

KLIK!

The lamp is switched off

 

 

 

 

-FIN-

20 responses to “[Freelance] Our Perfect Family ( Sequel of Falling Love with a Rich Man )

  1. Eaaaa suho holkay bisa gitu juga ya wkwk enak banget ya jadi rachel bapak nya holkay di sekolah’in di sekolah bertaraf internasional gue juga mau kalo gitu, gak nyangka suho juga bisa sweet kaya gitu wkwk

  2. omg ini udah ada sequelnya aja
    padahal aku belum baca endingnya
    huwaaaa
    mereka udah menikah bahakan udah punya anak perempuan

  3. wah….joon myeon co cwiit amat..
    keukeukeu..jadi kepengen di posisi nya jieun..
    terhura pas joon myeon ngasih sebuket bunga ituh!!!!
    co cwiit amat sih,,,
    jieun pasti seneng bener tuh,,
    bagus thor!!
    keep writing yeah!! ~

  4. Junmyeon kalo marah sadis juga kata2nya. Salah paham & gak mau ngedengerin istri. Jadi kesel sama junmyeon. Untung juga akhirnya baikan~

  5. Aaaihhhh bner” pen nangis rsanya pas si jieun cpek” nganter jihye ma kelupaan jmput rachel si joonmyun marah” -_- apalgi marahnya smpe anniv mreka kn nyesek, tpi untunglah mreka sdah brbaikkan wlw di jieun msti darah tinggi dlu, senangnyaaaa aaaaa

  6. sosweet. marahan terus baikan dan y*dong*n hahaha.
    moga rachel dapat adik bayi laki laki,, keren banget sequel nya,, mudahan ada sambungan sequelnya lagi.
    Amin,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s