[Freelance] PLAYBOY (Series 1st)

PLAYBOY

PLAYBOY

[Series 1st]

 

Title : PLAYBOY
Author : Azalea
Cast : Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena (OC/You)
Genre : Romance, Sad, School-Life
Rating : 17
Length : Series
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri.

 

Suara dering panggilan handphone memecahkan kesunyian di tengah malam itu. Lagi dan lagi suara nyaring tersebut hampir setiap hari berdering di jam segitu selama sebulan ini. Untuk kali ini aku mencoba untuk mengabaikan panggilan tersebut. Rasanya begitu lelah, disaat orang lain sedang menjelajahi alam mimpinya aku di sini harus berusaha menutup mata dan mengabaikan panggilan tersebut. Tapi disaat panggilan tersebut datang memanggil untuk ke sekian kalinya, rasa jengah tiba-tiba muncul.

Suara itu akhirnya berhenti mengalun dari handphone ku, tapi seakan tidak menyerah orang yang berada di seberang telepon sana kembali mencoba untuk menghubungiku hingga suara nyaring tersebut kembali terdengar. Ku lihat layar handphone ku yang memunculkan satu nama orang yang selalu mengisi hari-hariku selama 3 bulan ini.

‘kenapa aku khawatir padanya? Padahal dia tidak pernah mengkhawatirkan ku sama sekali?’ pikirku sambil menatap layar handphoneku hingga kembali suara dering itu mati. Ku tatap layar handphoneku yang kembali mati. Tiba-tiba aku tersentak akan panggilannya yang seakan tidak mengenal kata menyerah. Baiklah akan aku beri kesempatan kali ini buat dia berbicara.

“Yeobseyeo..” terdengar suara lain yang tidak aku kenal di seberang sana.

“Ne, Yeobseyeo..” aku menjawabnya ragu-ragu.

“Akh, akhirnya anda menjawab juga panggilan ini nona.” Terdengar nada lega dari suaranya. “Saya petugas bar di dari Galaxy Club. Tuan Byun Baekhyun sudah tidak sadarkan diri dan dia terus meracau untuk menghubungi anda dan meminta anda supaya menjemputnya di sini.” Hah..aku hanya bisa menghembuskan nafas dalam saat mendengar penuturan karyawan bar tersebut.

“Ne, baiklah saya akan menjemputnya. Saya tiba sekitar 30 menit lagi.”

“Akh, ne. Gamsahamnida Agasshi.”

Tut..tut…tutt….

Sambungan telepon terputus secara sepihak. Ku lirik jam yang terpasang di dinding kamarku. Ternyata sudah jam 1 pagi batinku. Ku langkahkan kakiku menuju lemari untuk mengganti pakaian tidurku dengan pakaian yang lebih sopan. Karena tidak mungkinkan aku pergi ke sebuah club malam dengan memakai pakaian tidur.

Setelah selasai berganti pakaian, dengan langkah tergesa aku keluar dari apartemenku dan pergi menuju ke basement tempat di mana mobilku di parkir. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi ku lajukan mobilku dengan kecepatan penuh.

Untungnya jalanan sudah sepi jadi aku bisa mengendarai mobilku secepat yang aku mau. Tidak butuh waktu lama buatku menemukan club malam ini, karena hampir setiap malam aku ke sini untuk menjemput seseorang yang merupakan pelanggan tetap dari club malam ini. Bisa-bisanya aku selalu dimanfaatkan olehnya sebagai tukang jemput dia dalam keadaan mabuk seperti sekarang ini.

Emangnya aku ini supir pengganti yang mau antar jemput ke manapun dan kapanpun dia inginkan. HUH….ingin rasanya aku mengabaikan dia saja dalam keadaan apapun. Tapi hati ini berkata lain dan tak mampu untuk mengabaikannya begitu saja dan pada akhirnya aku sudah ada di dalam club mewah ini.

Begitu tiba di dalam, aku melihat ke sekeliling untuk mencari sosoknya yang selalu membuat aku repot selama sebulan terakhir ini. Ku akui tempat ini begitu mewah, suara musik yang berdengung keras yang memekakan telinga membuat telingaku sakit saat mendengarnya, tapi beda halnya dengan yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang berdansa di lantai dansa yang berada di tengah-tengah bangunan ini, mereka begitu menikmati aluanan musik yang aku tak tahu jenis musik apa ini.

Aku menatap jijik ke seluruh ruangan karena banyaknya adegan dewasa yang disuguhkan oleh para pengunjung club ini tanpa ada rasa malu sedikitpun di diri mereka saat melakukannya. Sampai pada akhirnya aku menemukan sosok yang aku cari sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke bar dengan seorang wanita dengan pakaian yang sangat kekurangan bahan di mana-mana.

Mereka melakukan hal yang tidak jauh beda dengan para pasangan lain yang ada di club ini. Melihat dia melakukan itu semua membuat aku merasa mual. Ya ampun apa salahku hingga bertunangan dengan orang yang seperti dia.

Karena tidak tahan dengan kelakuannya yang hampir setiap hari seperti ini dengan wanita yang berbeda-beda, akhirnya aku berjalan mendekat ke arahnya yang sedang asyik bercumbu dengan salah satu wanita penghibur di sini. Begitu aku sampai di belakangnya.

PLAKK…

Tanganku begitu gatal ingin memukul kepalanya yang dari tadi sibuk menciumi leher wanita di hadapannya itu. Pukulan itu begitu efektif untuk menghentikan kegiatan panas mereka. Wanita yang ada di hadapannya itu mendelik kesal ke arahku karena mengganggu kegiatan panasnya itu karena mungkin hari ini dia tidak akan mendapat setoran tambahan kali ini.

Begitu juga lelaki yang aku pukul tadi, melirik ke belakang untuk menatapku dengan pandangan kesalnya. Namun setelah melihat siapa yang berani-beraninya mukul dia dengan keras, dia hanya bisa tersenyum dengan raut muka manjanya seperti kejadian tadi tidak pernah terjadi sama sekali.

Dia melepaskan rangkulan tanganya pada pinggang wanita penghibur itu dan beralih untuk merangkul pinggangku dengan santainya. Lihatlah muka bodohnya saat ini, dia memberikan senyum konyol dan bodohnya dengan menunjukan deretan gigi rapihnya membuatku bergidik ngeri melihatnya.

Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan mata yang menyiratkan kekesalan dan kemarahan yang begitu ingin kuluapkan padanya tapi apa yang aku dapat darinya, dia hanya tersenyum seperti itu ke arah ku tanpa mengalihkan tatapannya dari mataku dan sepuluh detik setelahnya semua kemarahanku hilang begitu saja entah ke mana perginya itu rasa marah. Tapi tetap saja aku harus mempertahankan aktingku ini biar dia tahu kalo aku sedang marah padanya.

“Oppa…kamu harus membayarku untuk yang tadi” tiba-tiba terdengar suara rengekan manja dari wanita penghibur itu guna meminta bayaran dari pekerjaannya tadi, menghancurkan suasana yang sudah susah payah aku bangun. Ukh dasar pengganggu.

“Issh. Berisik!” gerutunya.

“Ya!! Kau harus membayarku dulu!”

Dengan tidak sabaran akhirnya dia, Baekhyun, mengeluarkan uang sebanyak yang bisa dia ambil dari dompetnya untuk membayar wanita penghibur tersebut.

“Baiklah, baiklah. Apa segini cukup untuk bayaranmu buat yang tadi?”

“Omoo!!” pekiknya saat melihat jumlah uang yang disodorkan oleh Baekhyun. “Gomawo Oppa.” Katanya sambil mengambil uang uang dari tangan Baekhyun dengan ucapan manjanya. Kenapa juga wanita itu harus memanggilnya oppa, padahal kan sekali lihat juga sudah tahu kalo Baekhyun itu lebih muda dari pada dia. Ukh dasar penjilat.

CHU..

Mataku terbelalak saat melihat dia dengan manjanya mencium bibir laki-laki yang ada dihadapanku ini tanpa ada rasa malu. Kemudian mengerling nakal ke arah Baekhyun sebelum dia beranjak pergi dan di balas senyuman menggoda oleh Baekhyun.

Ya ampun, bisa-bisanya mereka saling menggoda padahal di situ sudah jelas-jelas ada aku. Bisa mati muda aku kalo begini cara Baekhyun terus memperlakukan aku. Kemarahan yang tadi sempat hilang akhirnya muncul kembali. Ingin rasa aku congkel mata jelalatannya Baekhyun, biar dia tidak bisa lihat wanita lain selain aku.

Tidak lama kemudian dia kembali menghadapku. Dan seperti yang tadi dia lakukan kepadaku, Baekhyun kembali menampilkan senyuman manjanya kepadaku. Melihat itu aku hanya bisa memutarkan bola mataku dan berbalik memunggungi dia. Oke sudah cukup kelakuannya hari ini yang sudah membuatku cukup gila karena semua perbuatannya padaku. Mulai dari yang manis sampai yang pahit sekalipun hari ini aku sudah mengalaminya.

Aku tak mau terpikat lagi dan lagi akan pesonanya yang sangat luar biasa itu. Tidak untuk hari ini, tapi mungkin besok aku akan jatuh dan jatuh lagi padanya. Aku berjalan meninggalkan dia untuk keluar dari tempat terkutuk ini. Bisa-bisanya dia hampir setiap malam ada di sini dan pada akhirnya malah membuat aku marah setengah mati.

“Chagiya…chagiya..chagiya…tunggu aku..!!” panggilnya yang tidak aku tanggapi sama sekali. Huh..dasar laki-laki menyebalkan. Aku terus berjalan menuju pintu keluar dari club ini, dan begitu sampai di luar aku langsung disambut dengan tiupan angin malam yang begitu menyegarkan yang berbanding terbalik dengan kondisi udara di dalam sana, begitu menyesakkan karena dipenuhi oleh asap rokok di mana-mana dan panasnya suasana di dalam club.

“Hoek…hoek..uhuk…uhukk!!” terdengar suara muntahan dari arah belakangku yang membuatku langsung menoleh ke belakang untuk melihat situasi di sana. Aku melihatnya yang sedang berjongkok di dekat taman kecil yang ada di sepanjang dinding club itu untuk memuntahkan semua isi lambungnya. Tak tega melihatnya seperti itu, pada akhirnya aku dekati dia, menepuk-nepuk pelan punggungnya untuk memudahkan dia memuntahkan semuanya.

Sepuluh menit berlalu, akhirnya dia berhasil mengeluarkan semuanya sampai asam lambungnya pun ikut keluar. Satu hal yang aku heran dari dirinya, kenapa dia tetap minum alkohol padahal dia memiliki penyakit maag? Kenapa dia selalu bersikap seenaknya saja? Memangnya dia punya nyawa 9 seperti kucing? Kalo sudah sakit kan aku juga yang repotkan? Kenapa pula hobinya itu menyusahkan aku? Memangnya aku pembantunya? Tak sadarkah dia kalau aku ini tunangannya?

“Terimakasih” ucapnya memotong semua pikiranku mengenai dirinya. Akhirnya dia berdiri dari jongkoknya, dan tidak lama kemudian aku merasakan beban berat menimpa tubuhku. Aku agak terjengkang ke belakang karena kaget yang tiba-tiba tertimpa dia yang jatuh pingsan. Segera ku peluk tubuhnya supaya dia tidak jatuh ke kotornya jalan. Kebiasaannya yang pingsan sehabis mabuk itu selalu membuat aku benar-benar kerepotan, untung saja mobil yang aku bawa di parkir tidak jauh dari pintu masuk ke club.

Aku membopong dia dengan sedikit menyeretnya menuju ke mobilku karena kalau terlalu lama menahan dia dipelukkanku hanya akan membuang percuma tenagaku. Ku buka kunci mobil dan begitu mobil terbuka, langsung saja aku buka pintu belakang dan menggeletakkan dia begitu saja di kursi penumpang, menutup pintunya dan kemudian berjalan ke arah kursi pengemudi. Aku tidak ingin lama-lama di sini, segera saja ku nyalakan mobil dan menekan pedal gas untuk meninggalkan tempat terkutuk ini.

Sesampainya di garasi apartemen, aku langsung membawanya menuju lift yang tersedia. Suasana begitu sepi karena sekarang waktu di mana orang-orang sedang sibuk dengan alam mimpinya. Dengan susah payah aku membopongnya kembali menuju apartemenku yang berada di lantai 15 di gedung ini. Segera ku tekan tombol angka yang berada di dinding lift dan pintu lift langsung tertutup sehingga lift bergerak ke atas ke lantai tujuanku.

Kulirik Baekhyun yang sedang tertidur pulas di pelukanku. Ingin rasanya aku tinggalkan saja dia di dalam lift ini, tapi hatiku berkata lain. Melihat muka polosnya saat tidur membuatku tak tega melakukan ide gila itu kepadanya. Tapi kalau ingat ekspresi muka menjijikannya pada setiap wanita yang dia temui, ingin rasanya aku menghancurkan wajah tampan nan polos ini supaya tidak ada lagi wanita yang terhipnotis oleh wajah tampannya itu.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di lantai tujuanku. Kembali aku harus menyeretnya menuju apartemenku. Begitu sampai di depannya, langsung saja aku masukkan kode sandinya dan membuka pintunya. Aku berjalan menuju kamarku untuk membaringkannya di atas kasur empukku. Sebenarnya di apartemen ini ada 2 kamar, yang satu kamar utama dan yang satunya lagi kamar tamu.

Aku lebih memilih apartemen yang minimalis ini untuk aku tempati sendirian, karena kalau aku membeli apartemen yang lebih besar lagi, aku takut apartemenku tidak akan terurus dengan baik olehku karena aku kurang suka menggunakan jasa sewa pembantu.

Setiap kali Baekhyun menginap di sini baik itu karena mabuk atau karena kemauannya sendiri, dia pasti akan tidur di kamarku, alasannya hanya karena dia tidak bisa tidur di tempat selain kamarnya tapi begitu melihat kamarku dia langsung betah untuk tidur di sana. Pernah suatu ketika dia mabuk, aku menidurkannya di kamar tamu, tapi pada keesokan harinya dia sudah ada di sampingku, tertidur sambil memelukku. Dan begitu dia bangun dia marah besar padaku karena membiarkan dia tidur di kamar lain selain kamarku.

Setelah itu aku di hukum olehnya dengan cara yang menyenangkan dan kami hampir melewati batasan yang sudah ada. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi, dan pada akhirnya di sinilah kami berada. Baekhyun tertidur dengan sangat lelapnya sampai-sampai dia meracau tidak jelas dalam tidurnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat sikapnya yang seperti itu dan melupakan sifat menyebalkannya.

Aku membuka sepatunya, kaos kakinya, jaket yang dia kenakan, dan yang terakhir aku membuka sabuk yang dia gunakan. Begitu sabuk terbuka, aku langsung melepaskan kancing celana jeansnya dan aku berusaha melepaskan celana jeans hitam itu dari tubuh bagian bawahnya. Hal ini aku lakukan karena aku tidak mau dia kesulitan tidur karena pakaian yang tidak nyaman yang dia pakai. Setelah terlepas, tanpa sadar Baekhyun berguling ke samping dan tangannya meraba-raba tempat tidur seperti mencari-cari sesuatu, kemudian dia bergumam tidak jelas kembali dengan dahi yang mengkerut.

Aku hanya bisa tertawa geli melihatnya yang seperti itu. Ini sudah sangat malam bahkan menjelang pagi. Aku segera membereskan pakaiannya ke sudut kamarku. Menaruh sepatunya di dekat sofa , dan menggantungkan celana dan jaketnya di gantungan bajuku. Dengan tergesa-gesa ku ganti kembali bajuku dengan gaun tidur yang tadi sempat aku pakai sebelum pergi menjemput Baekhyun. Aku melirik jam dinding. Akh, ternyata sudah jam 3.

Aku segera naik ke tempat tidur memposisikan tubuhku di samping Baekhyun yang kosong. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Ku tatap sekali lagi wajah Baekhyun, dan entah dorongan dari mana, ku cium bibir Baekhyun dengan singkat sebagai ucapan selamat malamku, walaupun waktu sudah tidak menunjukan waktu malamnya. Segera ku rebahkan tubuhku memunggungi tubuh bagian depannya.

Tidak berapa lama kemudian, ku rasakan sebuah tangan besar memelukku begitu erat dari belakang. Kembali rasa nyaman ku rasakan saat aku sedang bersamanya. Dan tidak membutuhkan waktu lama untukku menutup mata kembali, melanjutkan mimpi yang tadi sempat tertanggu karena ulah seseorang yang sedang memelukku dengan erat ini.

 

~

Aku sangat terkejut saat merasakan sepasang tangan kekarnya memelukku dari belakang seperti yang tadi malam ia lakukan.

“Hmm, baunya wangi. Kau masak apa?” tanyanya sambil mengecup tengkuk dan leherku yang terekspos sempurna karena aku mengikat rambut panjangku dengan gaya ekor kuda.

“Berhentilah merayuku. Aku sedang memasak. Lagi pula ini hanya sebuah pancake biasa, apanya yang wangi menurutmu?” tanyaku heran dengan kelakuannya ini.

“Tubuhmu. Dan juga tentu saja pancake buatanmu. Sepertinya aku memang tidak salah memilih calon isteri.” Jawabnya yang membuat bibirku melengkungan senyum malu karena pujiannya. Hah, sebenarnya aku sudah tahu semua gelagatnya apabila dia memujiku.

“Apa yang kau inginkan?”

“Hmm…Good Girl.” Katanya sambil mengenduskan hidungnya di leherku. “Jatah pagiku belum kau berikan hari ini. Kau mau aku mengambilnya sekarang atau nanti di sekolah?” jawabnya yang otomatis membuat seringaiannya muncul walaupun aku tidak langsung menatapnya. Aku hanya bisa memutar mataku mendengar itu semua. Dasar laki-laki mesum.

Tidak butuh waktu lama, aku langsung memutar wajahku untuk menghadapnya dan menciumnya tepat di bibirnya secepat kilat begitu aku menemukan wajahnya. Setelah itu aku langsung memutar tubuhku kembali menghadap pancake yang sedang aku masak untuk menyembunyikan rona merah yang muncul akibat dari kejadian tadi. Selalu seperti ini. Walaupun aku sudah sering melakukan kontak fisik dengannya, namun selalu berakhir dengan aku yang merona malu. Sial.

“Ckk, hanya itu?” terdengar suara decakan tanda kurang puas dengan sikapku tadi padanya.

“Yang penting aku sudah memberikan jatahmu.” Jawabku setak acuh mungkin dan dengan suara setenang mungkin walaupun di dalam sana detakan jantungku semakin berpacu cepat tapi aku harus bisa menormalkannya supaya dia tidak besar kepala. Kembali pada rutinitasku yang sedang memanggang pancake dan bacon sebagai sarapan kami.

Tiba-tiba dia memutar tubuhku supaya aku menghadapnya dengan sempurna. Dengan cepat dia menempelkan bibirnya pada bibirku. Kemudian melumatnya secara perlahan dengan kelembutan yang luar biasa. Aku hanya bisa membulatkan mataku dengan apa yang ia lakukan. Tangan kananku masih memegang spatula dan tangan kiriku memegang piring berisi pancake ku.

Aku tak bisa bergerak sama sekali masih terkejut dengan apa yang ia lakukan. Walaupun dia sudah sering melakukannya dengan tiba-tiba tapi buatku ini seperti baru pertama kalinya dia melakukan itu padaku.

Karena merasa kesal tidak mendapat responku. Baekhyun menjauhkan wajahnya dari wajahku. Dan otomatis dia bisa melihat wajahku yang sekarang sudah seperti kepiting rebus. Dia tersenyum lembut dengan responku yang selalu seperti ini. Kemudian secara perlahan dia mematikan kompor yang ada di belakangku tanpa mengalihkan tatapannya yang masih menatapku begitu dalam.

Seakan terhipnotis, ketika dia mendekatkan lagi wajahnya dengan wajahku, mataku menutup dengan sempurna, dan entah bagaimana caranya spatula dan piring berisi pancake itu sudah tidak ada lagi di genggamanku sehingga aku bisa mengkalungkan tanganku pada lehernya.

Aku bisa merasakan senyumannya diantara ciuman panas kami pagi ini. Waktu terus saja berjalan tanpa kami hiraukan. Kami begitu sibuk dengan kegiatan kami. Sampai pada entah menit ke berapa akhirnya kami memutuskan kontak kami. Itu juga dikarenakan kami kehabisan napas dan aku begitu lemas dibuatnya sampai-sampai dia menopang tubuhku dengan kedua tangannya yang kuat. Kami berdua terengah-engah karena kehabisan napas.

Saling menempelkan dahi dan hidung satu sama lain, berusaha meredam hasrat yang sedang memuncak dengan mengambil napas sedalam-dalamnya. Kami tidak mau sesuatu terjadi sebelum waktunya. Kurasakan helaan napasnya yang kembali normal menghantam wajahku dengan lembut. Wangi napasnya begitu menyegarkan, berbau mint. Hmm, aku suka baunya. Tanpa sadar aku tersenyum sambil memejamkan mata guna meresapi moment indah ini dengannya.

“Kenapa kau tersenyum?” tanyanya dengan suara seraknya.

“Entahlah.” Ku jawab seadanya karena otakku masih belum bisa berpikir. Malah setiap kali berdekatan dengannya otakku tidak bisa berpikir jernih, selalu saja konslet entah kenapa.

“Mari kita sarapan, kalau tidak kita akan terlambat. Aku tidak mau kita dihukum mengelilingi lapangan olahraga lagi atau membersihkan toilet sekolah yang begitu menjijikan itu. Mau ditaruh dimana mukaku kalau semua orang melihat kejadian itu.” Katanya sambil menjauhkan wajahnya dari wajahku.

Mendengarnya mengatakan hal itu membuatku tertawa dengan keras mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat Baekhyun dihukum membersihkan toilet siswa karena untuk kesekian kalinya dia terlambat. Dengan memasang muka masam sambil mengerucutkan bibirnya karena tidak terima dengan hukuman itu begitu menggemaskan tapi dia tetap mengerjakan hukumannya itu. Dia merasa harga diri yang selalu ia junjung dengan tinggi-tinggi itu terinjak-injak begitu saja.

Bagi seorang pangeran sekolah, hukuman itu begitu merendahkan harga dirinya. Untung saja kejadian itu hanya aku yang melihatnya. Ekspresinya saat itu sangat lucu dan membuatku tertawa begitu senangnya. Ekspresi itu jarang ia tunjukan kepada orang lain, dia biasanya menunjukan ekspresi muka datar, dingin atau mesum di hadapan orang lain.

“Berhentilah menertawakanku dengan mengingat kejadian yang memalukan itu atau aku akan menyumpal bibirmu itu dengan ciuman yang lebih panas dari tadi aku dan aku berjanji hal itu tidak akan berhenti walaupun kita di atas kasur sekalipun.” Mendengar ucapannya tadi membuatku otomatis berhenti tertawa. Ku tatap mata hitamnya untuk mencari kebohongan atas ucapannya. Namun yang aku dapatkan adalah tatapan tajamnya dan seringaian yang semakin gelap guna memperkuat ucapannya tadi. Sial. Ternyata dia sungguh-sungguh.

“K-kau tidak akan berani melakukan hal itu.” Ku katakan dengan setenang mungkin, mencoba untuk menutupi ketakutanku akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Aku takut dia benar-benar serius dengan ucapannya. Kalaupun itu hanya sebuah gertakan semata, tapi itu tidak lucu sama sekali.

“kau pikir aku hanya sedang menggertakmu saja?” jawabnya dengan tingkat keseriusan yang amat sangat terlihat dengan jelas di wajahnya. Lidahku kelu mendengarnya berkata seperti itu. Tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Berbagai pikiran seakan menyerbuku secara tiba-tiba, aku tidak bisa berpikir jernih. Itulah yang aku rasakan saat ini.

Matanya masih menatapku,mengukur reaksiku. Bingung. Aku takut padanya. Tapi aku tahu kejadian itu pasti akan terjadi suatu hari nanti karena aku calon isterinya. Kami sudah bertunangan, kedua pihak keluarga sudah setuju dengan pernikahan kami. Dia bermalam di apartemenku saja tidak akan membuat pusing kedua orang tua kami. Karena cepat atau lambat kami akan menjadi sebuah keluarga.

Setelah beberapa waktu berselang, ku dengar suara tawanya yang begitu nyaring.

“Hahhaaha….” Baekhyun tertawa begitu puas saat melihat ekspresi bingung bercampur takut di wajahku. Ku tatap dia dengan ekspresi bingungku.

“Kau benar-benar percaya dengan semua ucapanku tadi?” ucapnya dengan suara yang berusaha menahan tawanya lebih lama lagi.

“Hah…” Baekhyun membuang napasnya dalam, untuk menetralkan suaranya kembali. Namun semuanya sia-sia. Pada akhirnya dia kembali tertawa.

“Kau begitu lucu Sena-ya. Kenapa kau begitu polos, eoh?” aku masih menatap dia dengan bingung.

“Aku hanya bercanda. Aku belum mau menjadi seorang ayah diusiaku yang masih sangat muda ini. Nanti aku akan beri makan kalian apa? Cinta? Memangnya kamu bisa kenyang hanya dengan memakan cinta? Tentu saja tidak. Walaupun orang tua kita kaya, tapi aku hanya mau memberi makan keluarga kecilku dengan hasil dari jerih payahku sendiri. Jadi, singkirkan semua pikiran kotormu itu sekarang juga karena aku tidak akan melakukannya dalam waktu dekat ini. Arachi? “ kemudian dia mencubit pipiku dengan gemas sambil tersenyum begitu manisnya dengan mengabaikan responku. Dia menarikku ke meja makan dan meletakkan pancake beserta bacon di atas meja.

Sambil menatapnya yang sedang membereskan peralatan makan, otakku berusaha mencerna semua kata-katanya itu. Berarti untuk sekarang ini aku aman. Lagi-lagi aku dipermainkan olehnya. Dan aku kalah lagi dalam permainanya itu. Tanganku begitu gatal ingin memukulnya karena sudah berani-beraninya dia mempermainkan aku di pagi hari. Ku berjalan mendekat kearahnya. Dan…

PLLAAKK…

Kupukul kepala belakangnya dengan sangat keras. Kemudian berteriak sekencang-kencangnya.

“Sekiyaa!!!” bisa kurasakan wajahku memanas karena rasa kesal yang benar-benar memuncak di kepalaku. Baekhyun meringis sambil memegang kepalanya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan? Kalau aku amnesia bagaimana?” protesnya tidak terima dengan pukulanku.

“Biar saja kamu amnesia sekalian. Berani-beraninya kamu mempermainkan aku seperti ini di pagi hari. Aiish, nappeun neom!!” geramku kesal padanya. Kupukuli lagi dia dengan tanganku pada tubuh bagian depannya.

“Y-ya!! Ya!! Hentikan!! Aww…kau menyakiti ku. Aww…Ya!! ini KDRT!! Byun Sena berhenti!!” protesnya tetap ku abaikan. Ku pukul dia dengan lebih kencang.

“Ya!!” teriaknya. Kemudian tangannya menangkis pukulanku. Menahannya supaya tidak bergerak lagi. Aku terengah-engah karena luapan emosi sesaatku.

“Kau benar-benar berharap hal itu terjadi sekarang, eoh?” aku masih belum bisa menjawabnya, ku tatap dia dengan sengit mengabaikan ucapannya.

“Geurae. Kita lakukan seperti apa yang kau inginkan.” Tanpa aba-aba dia memikul tubuhku di atas pundaknya hingga posisi tubuh bagian atasku berada di bawah seperti membawa sebuah barang di pundaknya. Seakan mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku segera berteriak memintanya untuk menurunkan aku.

“Turunkan aku!!!” sekarang giliran dia yang mengabaikan protesku. Seakan menulikan telinganya, dia tetap berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar tidurku yang sudah rapih. Aku mencoba sekuat tenaga dengan menggerak-gerakkan tubuhku agar bisa terlepas dari cengkramannya. Memukul punggungnya untuk memberikan protes padanya, namun hasilnya tetaplah nihil.

Baekhyun membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa, kemudian menguncinya dan memasukkan kunci kamar ke dalam saku celananya. Rasa panik mulai menyerangku tentang apa yang akan Baekhyun lakukan selanjutnya. Kemudian dia menurunkan aku dengan tidak sabaran. Ya ampun dia begitu serius dengan ucapannya tadi. Wajahnya begitu gelap, entah itu karena amarah karena kau memukulnya dengan begitu keras atau karena memang hasratnya yang menggebu-gebu.

Baekhyun berjalan mendekatiku dengan perlahan, secara naluriah kakiku melangkah mundur mendapati bahaya yang akan segera datang. Baekhyun terus menatapku dengan begitu dalam, tanpa sadar kakiku membawaku melangkah menuju pojok ruangan dengan dinding yang sekarang sudah menempel di punggungku. Aku benar-benar ketakutan melihatnya seperti ini.

“Kau tertangkap Chagi dan kau tidak bisa pergi dari sini selama aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan.” Ucapnya dengan suara seraknya.

“Hen-Hentikan semua ini. Aku tidak menginginkannya!” jawabku dengan terbata-bata. Rasanya begitu menakutkan melihatnya seperti ini.

“Jangan bertingkah seperti orang munafik lagi chagi. Bukankah kau tadi begitu marah saat kau tahu bahwa ternyata aku hanya mempermainkanmu saja? Berarti kau juga menginginkanya. Sebenarnya aku tidak keberatan kalau memang harus menjadi seorang ayah di usiaku saat ini.” Katanya dengan seringaian yang mengerikan kembali muncul. Kali ini dia benar-benar serius dengan ucapannya. Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari laki-laki mesum ini. Ku pejamkan mata erat-erat dan berdo’a dalam hati semoga Baekhyun tidak jadi merealisasikan ucapnya tadi.

Ku rasakan tangannya yang halus membelai wajahku dengan lembut, menelusuri setiap lekuk wajahku dengan hati-hati dimulai dari bulu alisku, turun ke bulu mataku, menelusuri hidungku, ke pipiku, dan yang terakhir menulusuri bibirku dengan ibu jarinya. Kemudian sentuhannya berhenti di bibirku. Aku tak sanggup untuk membuka mataku hanya untuk melihat seperti apa reaksinya terhadapku.

“Buka matamu!” perintahnya. Tapi aku terlalu takut untuk sekedar membuka mata sekalipun.

“Buka matamu, Byun Sena!” perintahnya sekali lagi dengan suara yang agak serak dan dingin. Aku tahu dibalik itu semua dia sedang memendam sesuatu. Aku bertanya dalam hati, kenapa pagi ini dia begitu sensitif sekali. Tidak mau membuat dia lebih marah lagi, ku buka mataku perlahan.

Saat ku buka mataku, ku lihat tatapan matanya yang seperti sedang meyakinkan sesuatu padaku tanpa mengucapkannya dan aku tidak tahu dia sedang meyakinkan entah itu apa padaku. Sesaat aku melihat sebuah harapan yang begitu besar, dan ketulusan terpancar jelas di matanya. Tatapan itu begitu menenangkan buat ku, menghilangkan semua keraguan dan ketakutanku selama ini.

Seakan kembali terhipnotis saat memandang mata hitam kelam itu, entah sadar atau tidak aku menganggukkan kepalaku padanya walaupun aku tidak yakin dia melihatnya atau tidak karena anggukkanku yang tidak kentara sama sekali. Kemudian Baekhyun tersenyum hangat padaku seakan menangkap sinyal yang aku berikan padanya walalupun dalam frekuensi yang begitu lemah.

Baekhyun mendekatkan kembali wajahnya padaku. Sedikit memiringkan wajahnya ke kiri untuk mendapatkan posisi yang nyaman saat kami melakukannya.

“Gomawo.” Ucapnya dengan lembut. Kembali kurasakan sesuatu yang lembut sedang mencumbu bibirku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyambut cumbuannya yang begitu memabukkan itu. Kaki ku terasa berubah menjadi jelly saat kami memperdalam cumbuan kami. Seakan mengerti apa yang terjadi padaku.

Baekhyun langsung menggendongku dengan cara bridal style, menuju kasur yang ada di tengah ruangan. Ku eratkan lilitan tanganku pada lehernya saat ku rasakan kakiku sudah tidak berpijak di lantai lagi. Baekhyun terus saja mencumbuku sambil membawaku ke arah kasur.

Dia merebahkanku di atas kasur empuk ini. Aku berbaring terlentang di atasnya. Kemudian Baekhyun merebahkan tubuhnya di atasku dengan sikunya berada di kedua sisi kepalaku untuk menyangga berat tubuhnya. Dia menatapku begitu dalam, dan ku balas dengan tatapan yang sama dalamnya. Di dalam matanya aku bisa melihat tatapan memuja yang jarang dia tunjukan padaku.

“Kau begitu cantik. Ani, bahkan selalu cantik. Aku selalu kehilangan kontrolku saat bersamamu. Bagiku kau seperti narkoba dengan candu yang begitu kuat padaku.” Ucapnya dengan tulus sambil tersenyum manis menatapku.

“Aku benar-benar gila karenamu. Kau adalah milikku. Selamanya hanya milikku. Mine.” Ucapnya begitu lembut. Kemudian dia menurunkan wajahnya dan menciumku dengan kelembutan seperti suaranya. Kemudian dia menjauhkan wajahnya lagi dariku.

“Yours.” Balasku sambil tersenyum semanis mungkin. Kurasakan luapan emosi yang begitu membuncah di dalam rongga dadaku. Mendengar jawabanku, aku bisa milihat raut bahagia di matanya. Matanya memang tidak pernah bisa berbohong kepadaku. Baekhyun mendekatkan lagi wajahnya padaku, dimiringkan kembali wajahnya ke sebelah kiri, kemudian menciumku begitu dalam. Suara decapan begitu menggema di kamar ini. Kami memiringkan kepala kami ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang nyaman dan mengambil oksigen tanpa melepaskan tautan kami.

Sesekali dia akan mencumbu leher sampai ke bagian belakang telingaku, bahkan terkadang dia kan menggigit gemas telingaku saat mendengar lenguhan nikmat dan manja yang keluar dari mulutku tanpa bisa ditahan. Dengan begitu lihainya, dia melepaskan apron yang aku kenakan, kemudian membuka sebagian kancing atas kemejaku memperlihatkan tubuh bagian atasku di hadapannya.

Entah keahlian dari mana, tanganku bergerak dengan sama lihainya membuka semua kancing kemeja yang Baekhyun kenakan. Tubuh bagian atas Baekhyun begitu sempurna, otot dadanya yang sudah terbentuk begitu kekar, otot perutnya yang mulai terbentuk sempurna terasa begitu mempesona di mataku saat ini.

Tanganku begitu gatal ingin menyentuhnya. Saat ku sentuh itu semua dengan lembut, aku mendengar geraman tertahan yang keluar dari tenggerokkan Baekhyun saat dia sedang asyik mencumbu leherku karena dia merasakan sentuhanku pada tubuhnya. Kemudian ia menghentikan kegiatannya dan menatapku.

“Kau menyukainya?”

“Hmm…kau memang selalu mempesona.” Jawabku dengan malu-malu tidak berani menatapnya dan hanya menatap pada otot-otot yang ada pada tubuhnya. Aku yakin, sekarang wajahku benar-benar seperti kepiting rebus.

“Kau juga begitu mempesona Na-ya. Lebih mempesona dari semua khayalanku tentang dirimu.” Ucapnya jujur.

“Kau selalu membayangkanku dalam keadaan seperti ini??” tanyaku bingung dengan ucapanya tadi.

“Kau tidak akan bisa membayangkan apa yang ada dipikiran seorang laki-laki Sena, termasuk juga diriku. Saat melihatmu sedang dalam pakaian yang tidak sexy sekalipun aku selalu bisa membayangkan apa yang ada di balik itu semua. Jadi, jangan pernah berpikir untuk memakai pakaian sexy kemanapun kamu pergi. Karena dirimu begitu menarik dan mempesona untuk dipandangi. Aku tidak akan rela jika ada lelaki lain yang juga membayangkan tubuh indahmu ini, Ara?”

Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar ungkapan tulus dan posesifnya padaku. Hal itu pertanda kalau dia memang peduli padaku.

“Byuntae!!” ucapku karena tidak tahu menanggapinya seperti apa. Kutarik kembali wajahnya supaya mendekat ke arahku. Dan menciumnya terlebih dahulu melanjutkan ciuman kami yang tertunda. Ciuman kami berubah lagi menjadi lebih panas dari sebelum-sebelumnya. Mungkin ini disebabkan oleh kulit kami yang tak tertutupi kain saling menggesek satu sama lain, menghantarkan genyalar aneh pada diri kami.

Sesekali ku remas gemas rambut di kepalanya, membuatnya menjadi lebih berantakan dan itu memperlihat semakin bertambah sexy dan tampannya dia, membuatku tidak bisa berhenti dengan kegiatan kami. Dan aku tahu mungkin kegiatan kami ini tidak akan berhenti sampai kami benar-benar puas satu sama lain, walaupun kami tahu apa yang kami lakukan ini salah.

Tanpa sadar ku lengkungkan punggungku untuk memperdalam cumbuannya pada payudaraku. Oh tidak, ini benar-benar sudah melewati batas. Ku rasakan alarm menyala di kepalaku untuk menghentikan semua ini. Ku kumpulkan suaraku, untuk memanggilnya.

“Ba-Baek…” aku mencoba untuk berpikir jernih kembali. Mencoba menghentikan semuanya sebelum benar-benar terlambat. Tapi yang keluar hanya lenguhan manja dari suaraku. Sial .

“Hmm..” dia menjawab dengan bergumam karena masih asyik dengan aktifitasnya di atas dadaku.

“Ber-hen-tii..!!” ku ucapkan sekuat tenaga untuk menahan semua hasrat ini. Seakan tuli, Baekhyun tetap melakukan aktifitasnya padaku.

“Akh…” aku menjerit pelan saat Baekhyun menggitku dengan gemas meninggalkan bekas merah di sana. Menandaiku sebagai miliknya. Mengabaikan protesku, dia membungkamku dengan ciumannya yang begitu menuntut, kembali mencumbu bibir, leher, telinga, bahkan payudaraku.

~ KLIK ~

Terdengar suara pintu luar apartemenku terbuka. Ada seseorang yang masuk ke sini. Aku harus memberitahu Baekhyun kalau ada orang lain di apartemen ini. Dengan sekuat tenaga, ku kumpulan kembali suaraku agar yang keluar dari mulutku bukan lenguhan manja yang akan semakin membuat Baekhyun gelap mata.

“Baek…ber – shh…hen .. tii..lah” ucapku dengan susah payah tapi masih saja diabaikan olehnya. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.

“A..da seseorang di apartemen ini.” Ucapku kembali dengan susah payah menahan desahan yang akan kembali muncul karena perlakuannya padaku. Ku coba untuk mendorong dadanya sekuat mungkin untuk melepaskan kontak di antara kami, tapi itu sia-sia karena Baekhyun begitu berat padahal jika dibandingkan dengan Chanyeol sahabatnya itu Baekhyun kelihatan lebih kecil dari Chanyeol.

“BAEEKKII…SEENNAA….KALIAN DI MANA??” terdengar teriakan yang berasal dari ruang tamu di apartemenku. Seakan menyadari sesuatu, Baekhyun menghentikan aktifitasnya dan menatapku dengan tatapan bertanya, siapa yang datang pagi-pagi sekali ke apartemen? Aku hanya bisa menjawabnya dengan mengendikkan bahuku pertanda kalau aku tidak tahu sama sekali.

“AKU TAHU KALIAN BELUM BERANGKAT SEKOLAH. KALIAN INGIN AKU YANG MENGHAMPIRI KALIAN ATAU KALIAN YANG MENGHAMPIRI AKU SEKARANG JUGA?”

Wajah Baekhyun langsung pucat saat mendengar teriakan yang berasal dari luar sana.

“Noona?” tanyanya bingung dan aku hanya bisa mengganggukkan kepalaku pertanda aku setuju siapa yang datang saat ini.

“AKU HITUNG SAMPAI 10, KALAU KALIAN TIDAK MUNCUL JUGA AKAN AKU LAPORKAN APA YANG TELAH KALIAN PERBUAT KEPADA AYAH DAN IBU SUPAYA MEREKA SEGERA MENIKAHKAN KALIAN!!!”

“SATU…”

Kami saling menatap masih mencerna apa yang diucapkan oleh kakaknya Baekhyun itu.

“DUA…”

“TIGA…”

Proses menghitung masih terus berlanjut. Baekhyun mengumpat pelan menyadari kalau ucapan kakaknya tidak pernah main-main.

“Sial.” Umpatnya atas kelakuan kakaknya sendiri.

“EMPAT…”

Dengan secepat kilat dia bangkit dari atas tubuhku. Berdiri untuk mengambil kemejanya yang tergeletak di lantai. Melemparkan kemajaku ke arahku yang masih terduduk di tempat tidurku.

“LIMA…”

Dengan terburu-buru dia memakaikan kancingnya kembali. Wajahnya begitu pucat saat Noonanya masih saja menghitung. Pemandangan yang begitu lucu buatku, dan tanpa sadar aku terkikik geli melihatnya yang begitu panik itu. Setelah semua kancing terpasang sempurna, dengan terburu-buru dia menuju kamar mandi untuk merapikan rambutnya yang aku buat acak-acakan tadi.

“ENAM….”

Setelah merasa rapih, dia kembali ke kamar. Menatapku bingung, karena aku belum mengenakan pakaianku sama sekali.

“Kenapa kau belum berpakaian sama sekali?”

“TUJUH…”

“Aku tidak bisa memakai pakaianku sendiri, aku perlu bantuanmu untuk mengikatnya kembali.” Jawabku tanpa rasa bersalah sama sekali. Ku lihat dia yang sedikit mengacak rambutnya. Kemudian berlari ke arahku dan memasangkan kembali benda yang tadi dia lepas.

“DELAPAN…”

Setelah berhasil memasangnya kembali, kemudian dia membantuku mengenakan kembali kemejaku. Aku mulai mengancingkan satu persatu kancing kemejaku. Dai membantuku merapikan helaian rambutku yang sama acak-acakannya dengannya tadi.

“SEMBILAN…”

Kami memasang dasi kami masing-masing, karena tidak mungkin saat ini aku memasangkan dasi padanya. Setelah selesai, aku buru-buru menuju kamar mandi untuk mencuci muka ku agar tidak kelihatan kusut.

“SEMBILAN SETENGAH…”

Dengan secepat kilat, Baekhyun mengambil kunci dari saku celananya. Memasukkannya ke lubang kunci yang terasa sangat sulit untuk masuk saat dia melakukannya dengan tergesa-gesa.

“SEPULUH….”

“Noona!!!”

Pintu akhirnya terbuka, menampilkan Noonanya Baekhyun yang sedang beridiri di ruang keluarga dengan handphone berada di tangannya. Baekhyun terengah-engah karena panik yang menderanya tadi. Aku segera menyusul Baekhyun untuk menghampiri noonanya. Aku tepat beridiri di sebelah Baekhyun saat ku lihat senyuman miring tercetak jelas di wajah cantiknya.

“Ckk,, kalian seperti pengantin baru yang sedang ke tangkap basah sedang melakukan hal-hal mesum saja!”

Baekhyun menarik napas dalam untuk menetralkan rasa paniknya tadi.

Tutt..tutt…

“Yeobseyeo.. Nahyun-a”

Terdengar suara seseorang dari dalam telepon yang sedang di genggam oleh Nahyun eoni.

“Eoh, eomma.”

Wajah Baekhyun langsung pucat dan mengeras secara bersamaan. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Ku lirik Baekhyun yang sedang mengepalkan tangannya menahan amarah yang sudah memuncak di kepalanya.

“Apa Baekhyun ada di apartemen Sena?”

Wajah Nahyun eoni menampilkan serangain liciknya sambil menatap adik kesayangannya itu.

“Eoh, mereka sedang sarapan eomma.”

“Baguslah kalau memang dia benar di sana. Suruh dia pulang untuk hari ini. Jangan biarkan dia menginap lagi di apartemen Sena. Itu sebagai hukuman dia karena sudah seminggu ini dia tidak pulang ke rumah. Kalau dia masih tetap pulang ke sana lagi, maka hari pernikahan mereka akan dipercepat.”

“Eommaa….” terdengar rengekan manja sebagai tanda protes Baekhyun akan hukumannya tadi.

“Arraseo eomma. Akan aku sampaikan hal itu padanya. Eomma tidak perlu khawatir lagi.”

“Baguslah kalau begitu. Sampaikan salamku pada menantu kesayanganku. Dan buat Baekki, jangan lupa makan yang banyak. Eomma tutup teleponnya.”

“Eoh, akan aku sampaikan salamnya buat Sena. Akan aku pastikan Baekki, makan dengan banyak eomma.”

“Geureu. Sampai nanti makan malam, jangan lupa ajak Sena buat makan malam bersama malam ini.”

“Arraseo Eomma.”

Tutt..tutt…tutt…

Teleponnya terputus secara sepihak. Setelah panggilan singkat itu, Nahyun eonni segera memasukkan handphonenya ke dalam tas yang ia pakai. Kemudian menatap adik kesayangannya dengan perasaan geli bercampur bahagia karena telah berhasil membuat Baekhyun kesal setengah mati.

“Apa yang noona lakukan di sini?” Baekhyun bertanya tanpa memperdulikan ekspresi kakaknya itu.

“Aku datang hanya untuk mengecek keadaan kalian. Aku merasa takjub pada kalian berdua. Kenapa orang tua kita tidak langsung menikahkan kalian saja kalau pada akhirnya kalian tetap tinggal serumah. “

“Itu bukan urusan noona.”

“Heol. Kau berani berkata seperti itu pada kakakmu sendiri?”

“Tsk…noona memang selalu menyebalkan!”

“YA!! Kau berani mengatai-ngataiku, eoh?? Padahal dulu kau sering menangis dipagi hari karena selalu pipis di celanamu saat kau tidur,eoh? “

“YA!! “ Baekhyun terlihat benar-benar kesal dengan ungkapan rahasia kecilnya dihadapanku. Hal itu berbanding terbalik dengan Nahyun eonni yang begitu menikmati pemandangan di hadapannya.

“Apa kau malu pada calon isterimu gara-gara aku mengungkapkan rahasia kecilmu?”

Aku terkikik geli melihat pertengkaran kecil kakak beradik ini. Mereka sungguh manis. Mereka mengungkapkan rasa sayangnya dengan caranya sendiri. Seandainya saja aku mempunyai seorang saudara, aku pasti tidak akan kesepian seperti sekarang ini.

“Aiisshh…kau begitu menyebalkan noona!!” keluh Baekhyun sambil berjalan menuju meja makan. Kemudian dengan kesal dia memakan pancake yang tadi aku buat untuk sarapan. Kami berdua menyusul Baekhyun ke meja makan, Nahyun eonni duduk di depan Baekhyun dan aku sendiri mengambil tempat duduk di sebelah kirinya Baekhyun. Kami bertiga sarapan bersama dengan menu pancake, bacon, dan segelas susu.

Sesekali Nahyun eonni menggoda Baekhyun dan hal itu berhasil membuat Baekhyun kembali kesal setengah mati. Aku hanya bisa terkikik geli saat melihat raut kesalnya karena godaan kakaknya sendiri. Di depan Nahyun eonni, Baekhyun berubah sifatnya menjadi seorang adik yang manja kepada kakaknya. Aku senang melihat sifatnya yang menggemaskan seperti ini, karena sekali-kali dia akan mengerucutkan bibirnya tanda kalau dia sedang merajuk pada kakaknya.

Sarapan kali ini berlangsung cukup lama karena Baekhyun dan Nahyun eonni saling melempar godaan ataupun ejekan. Setelah selesai sarapan, kami segera menuju basement apartemen untuk pergi ke sekolah. Nahyun eonni pamit terlebih dahulu untuk pergi bekerja. Kami berdua pergi ke sekolah dengan menggunakan mobilku.

Hal ini dilakukan karena motor kesayangan Baekhyun masih di tempat parkir club yang semalam ia datangi. Lagi pula pernah suatu ketika Baekhyun membawa motornya untuk pergi ke sekolah pada pagi harinya padahal semalam ia sudah mabuk berat, alhasil kami tidak jadi ke sekolah dan malah dibawa ke rumah sakit karena tiba-tiba kepala Baekhyun sakit dan ia tidak bisa mengontrol motornya sendiri, akhirnya kami menabrak pembatas jalan.

Sudah menjadi kebiasaan, saat Baekhyun habis mabuk, pagi harinya aku yang membawa mobil untuk kami berdua. Hari sudah semakin siang, dan jalanan sudah mulai ramai dengan lalu lintasnya seperti biasa karena waktu sudah menunjukan saatnya masuk kantor. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di sekolah di saat jam-jam sibuk seperti ini.

Dan untungnya gerbang masih dibuka hingga kami bisa masuk walaupun di detik-detik terakhir. Sudah menjadi kebiasaan kalau hampir semua siswa yang memiliki kendaraan pasti membawanya ke sekolah. Di sini semua itu sudah menjadi hal yang lumrah karena hampir semua siswanya berasal dari kalangan atas.

Walaupun ada siswa dari kalangan menengah ke bawah pasti itu berkat ada beasiswa yang mereka terima. Kyunghee High School bukan hanya sebagai sekolah pada umumnya, tapi di sini juga banyak siswa yang memamerkan harta kekayaan yang mereka miliki. Mereka juga berlomba-lomba dalam segalanya, baik dalam fashion, kendaraan, bisnis, maupun prestasi. Jadi tidaklah heran, mereka bersekolah dan juga saling menjalin mitra bisnis.

Walaupun mereka berasal dari kalangan atas tapi mereka juga memiliki otak yang cerdas-cerdas. Kalau kamu tidak bisa bersaing dengan kekayaan mereka setidaknya kamu harus bisa bersaing dengan otak mereka kalau kamu masih ingin tetap sekolah di sini.

Tempat parkir siswa dan guru memiliki tempatnya masing-masing. Begitu sampai di tempat parkir, segera ku cari tempat yang masih tersedia karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Ku parkirkan mobilku di ujung tempat parkir ini. Hah, ini semua karena Baekhyun sialan itu, kalau saja tadi pagi dia tidak menggodaku mungkin kita tidak akan terlambat masuk sekolah dan aku bisa mendapatkan tempat parkir yang lebih dekat menuju pintu masuk gedung sekolah. Segera ku matikan mesin, dan membuka sabuk pengamanku.

Aku bertekad untuk tidak terlambat masuk kelas lagi hari ini, mau ditaruh di mana mukaku kalau sampai telat. Bisa-bisa jabatan sebagai ketua OSISku akan dicabut kalau hal ini sampai terjadi. Shireo!! Aku tidak mau kalau sampai itu terjadi padaku. Langsung saja aku buka pintu untuk keluar dari mobil. Namun ada yang aneh, kenapa Baekhyun tidak keluar dari mobil?

Ku menghampirinya, dan membuka pintu mobil di samping tubuhnya. Ku lihat dia masih memejamkan matanya. Apa dia sedang tertidur? Atau hanya pura-pura tertidur? Ku goyangkan tangannya untuk membangunkan dia.

“Baek…Baek..bangunlah kita sudah sampai di sekolah!” ku coba untuk membangunkan dia. Tapi badannya tidak bergerak barang secentipun. Aiissh, menyebalkan. Ku goncangkan lagi tubuhnya lebih keras tapi tidak terjadi perubahan sama sekali. Ku coba untuk membuka sabuk pengamannya supaya bisa dengan leluasa membangunkannya.

Saat ku condongkan tubuhku ke tubuhnya, tiba-tiba dia menarik wajahku dan menciumku tepat di bibirku. Aku hanya bisa terbelalak kaget dengan perlakuannya yang seperti ini. Dia hanya menempelkannya tanpa menggerakkannya. Kemudian dia menjauhkan wajahnya dariku dan menatapku tepat di mataku.

“Kamu begitu tidak sabaran Sena-ya untuk melanjutkan kegiatan yang tadi pagi…makanya, kamu berbuat mesum padaku seperti tadi, eoh? Tapi sayangnya aku tidak bisa meladeni pikiran mesummu sekarang karena kita sedang ada di sekolah. Tapi kalau sudah di rumah sepertinya aku tidak keberatan sama sekali untuk melanjutkannya.” katanya dengan senyum miring tercetak jelas diwajahnya yang menyebalkan itu.

“S-siapa juga yang mau berbuat mesum pada laki-laki yang di dalam otaknya hanya ada pikiran mesum, eoh? Aku hanya bermaksud untuk membangunkan laki-laki pemalas yang pernah aku kenal!” jawabku dengan nada suara yang sedikit gugup karena Baekhyun sialan itu mengingatkan aku pada kejadian tadi pagi. Aku yakin, mukaku ini sudah benar-benar matang dan siap untuk dimakan seperti kepiting rebus.

Langsung saja aku jauhkan badanku dari jangkauannya, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena ini di sekolah.

“Cepatlah turun!! Aku tidak mau terlambat lagi seperti kemarin-kemarin mau ditaruh dimana mukaku sebagai ketua OSIS yang tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada semua orang!” protesku sambil cemberut kearahnya.

“Arraseo, arraseo. Aku keluar dan aku sedang tidak mau mendengar semua ocehan mulutmu itu sekarang karena kepalaku sedang pusing.” Kemudian Baekhyun keluar dari mobil dengan wajah yang agak sedikit kusut, mungkin karena efek dari bangun tidur juga tapi itu semua tidak melunturkan kadar ketampanannya. Lihatlah ke arah gedung sekarang, aku yakin semua siswi yang ada di sekolah ini sedang teriak-teriak tidak jelas karena pangeran kesayangan mereka sekarang sudah tiba di sekolah.

“Jangan cemberut seperti itu atau ku cium kau sekarang juga di sini!” ku segera tersadar dari lamunanku.

“Mwo?? Kau mau mati ya??” protesku lagi tidak terima dengan ancamannya itu.

“Kalaupun kau membunuhku sekarang, aku tidak masalah. Karena aku yakin kau akan menyesalinya suatu hari nanti karena tidak akan ada lagi lali-laki setampan aku yang memperlakukan dan mencintaimu seperti aku memperlakukan dan mencintaimu.” Jawabnya dengan percaya dirinya yang tinggi.

“M-mwo?? Wah..jinjja, sepertinya kamu harus memeriksakan otakmu itu ke psikiater atau ke dokter syaraf, karena aku yakin ada yang konslet dengan otak mesummu itu.” Kataku dengan ketus karena tidak percaya apa yang barusan Baekhyun katakan tentang dirinya itu. Aku segera berlalu dengan menghentakkan kakiku ke tanah dan berjalan cepat meninggalkan Baekhyun dengan tatapan bingungnya atas ucapanku tadi padanya.

“Ya..apa maksudmu tadi? Otakku konslet?? Hahhaha…kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, eoh? Kau tidak suka aku berkata gombal kepadamu? Wae? Padahal semua wanita itu suka dengan kata-kata gombal. Kau memang gadis aneh, Sena-ya.” Omelnya yang tiada henti begitu dia menyusulku menuju kelas. Dia terus saja mengomel sepanjang jalan, mengabaikan fans-fansnya yang sudah menunggu kedatangannya. Sampai dia berada di depan pintu kelasku barulah dia berhenti bicara.

“Kau sudah selesai dengan omonganmu?” tanyaku sambil berbalik menatapnya yang ada di belakangku.

“Ehm..” angguknya sebagai jawaban dari pertanyaanku.

“Bagus, karena sekarang sudah waktunya pelajaran di mulai. Dan aku harap kamu segera ke kelasmu atau kamu bisa dikeluarkan lagi dari kelas karena keterlambatanmu. Jadi sekarang pergilah.” Ku dorong dia agar dia berbalik ke kelasnya. Karena selama ini kami tidak pernah sekelas.

“Arra, arra. Kau tidak perlu mengingatkanku.” Protesnya sambil berbalik, berjalan pergi meninggalkanku. Namun belum sampai tiga langkah Baekhyun berjalan, tiba-tiba dia berhenti dengan pandangan kaku ke arah depannya. Hampir saja dia menabrak seorang siswi dari kelasku. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali seperti ada paku yang memakunya untuk tetap diam di tempat.

Aku tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu, hingga siswi yang tadi hampir ditabraknya berjalan melewati Baekhyun, memberinya anggukkan kepala sebagai tanda salam dan sekarang ada di hadapanku bertatapan sejenak denganmu kemudian memberikan senyum manisnya dan membukukkan sedikit kepalanya sebagai tanda salam padaku.

Melihat senyumnya itu membuatku juga membalas senyuman itu dengan senyuman pula dan anggukkan kepala sebagai jawaban salamku padanya. Kemudian dia berjalan melewatiku menuju kelas kami tanpa berkata apa-apa.

Setelah bersitatap sebentar dengan seorang siswi di kelasku, ku lihat Baekhyun masih berdiri kaku tidak jauh dariku. Ku sentuh pundaknya untuk menyadarkan dia yang sepertinya sedang melamun itu. Kemudian seperti tersadar dari lamunannya, Baekhyun agak sedikit berjenggit menolehkan kepalanya sedikit ke belakang untuk melihat siapa yang menyentuhnya.

“Aku pergi. Sampai bertemu pulang sekolah.” Ucapnya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin, dan berlalu meninggalkanku menuju kelasnya. Tanpa memperdulikan ucapannya yang tiba-tiba dingin itu, aku langsung masuk ke kelas karena sebentar lagi guru akan datang.

 

~~

Pelajaran hari ini berakhir dengan melelahkan. Otot-ototku terasa tegang karena seharian duduk di kursi mendengarkan guru memberikan pembelajaran di depan kelas. Karena hari sudah semakin sore, langsung saja ku masukkan semua barang-barangku ke dalam tas karena aku tidak mau Baekhyun menungguku.

“Sena-ya, habis pulang sekolah ini kamu ada acara?” Tanya Soojung, sahabatku.

“Mian, aku ada acara makan malam bersama keluarganya Baekhyun. “ kataku sambil menyatukan kedua tanganku sebagai permintaan maafku pada sahabatku ini. Ku lihat Soojung hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar jawabanku.

“Ckk, setelah menjadi tunangannya Baekhyun, kau begitu mencurahkan semua waktumu hanya untuknya. Padahal saat kau masih belum bertunangan dengannya, melihatnya saja membuatmu mual, bukan? Tapi lihat sekarang, semuanya hanya ada Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun lagi.” Protesnya, dan hanya aku tanggapi dengan senyuman kecut atas sikapku dulu pada Baekhyun. Sepertinya aku mendapat karma karena dulu sering menjelek-jelekkan Baekhyun.

“Bukankah kau ada rapat OSIS sepulang sekolah Na-ya?” tanya seorang sahabatku lagi. Irene. Ku tepuk dahiku dengan tangan, astaga aku lupa akan rapat itu dan aku juga lupa memberitahu Baekhyun soal rapat itu.

“Ya ampun aku lupa soal rapat OSIS buat acara studytour kita ke Jepang.” Keluhku.

“Kamu seperti nenek-nenek saja, pelupa.” Jitaknya di kepalaku karena aku melupakan acara yang penting itu.

“Aww..Mian, mian. Aku benar-benar lupa dengan rapat itu.” Aku langsung melihat jam tangan yang selalu melingkar di pergelangan tangan kiriku. Oh tidak, sebentar lagi waktunya rapat dimulai. Kalau aku tidak segera sampai di ruangan OSIS mau dikemanakan sifat disiplin waktuku yang selalu aku tekankan pada seluruh staffku.

“Mian, aku harus segera pergi kalau tidak aku akan mati. Aku sayang kalian.” Segera ku gendong tasku, berdiri, kemudian mencium pipi dari kedua sahabatku ini dan langsung berlari menuju keluar kelas.

Seakan terlupa sesuatu, ku tengokkan kembali kepalaku di ambang pintu, kemudian berteriak,“Untuk acara jalan-jalan kita yang tertunda, akhir pekan ini aku tidak ada jadwal apa-apa dan aku harap kalian setuju dengan usulanku ini. Bye-bye.”

“Kali ini kau harus menepati Na-ya kalau tidak kau akan mati ditangan kami.” Seru Soojung. Aku hanya bisa tersenyum bahagia mendengarnya menyambut usulanku ini. Dan aku yakin Soojung dan Irene sama bahagianya denganku, karena sudah lama kami tidak jalan-jalan bersama terhitung sejak aku bertunangan dengan Baekhyun mungkin kami bertiga hanya sempat pergi bersama sebanyak 3 kali, karena rencana kami pasti gagal di tengah jalan karena aku yang membatalkannya dan alasannya sudah pasti karena satu orang yang sudah menjadi tunanganku itu.

Segera aku berlari menuju ruang OSIS, dan untung saja aku datang tepat waktu karena rapat belum bisa dimulai kalau aku tidak ada. Berarti sifat disiplin waktu yang aku junjung tinggi tidak dirusak oleh perbuatanku sendiri. Akhirnya aku bisa bernapas lega untuk kali ini. Pada saat rapat berlangsung, aku baru ingat kalau aku belum memberitahu Baekhyun akan kegiatan yang aku lupakan ini.

Di sela-sela rapat aku mengirimi Baekhyun pesan, memberitahunya kalau aku sedang rapat dan mungkin akan telat. Aku yakin dia pasti akan marah besar karena tidak memberitahunya dari awal. Tapi biarlah, hari ini dia marah padaku karena hari ini dia begitu menyebalkan. Ini sebagai balasan untuknya karena telah menyebalkan untuk hari ini.

Ku lirik handphone siapa tahu ada balasan darinya karena seharian ini dia tidak menghubungiku. Namun, dia tidak membalasnya sama sekali. Sepertinya dia benar-benar marah padaku, pikirku. Ku tarik napas dalam untuk menenangkan diri, kembali fokus pada materi rapat kali ini.

Ternyata rapatnya berjalan lumayan lama, hampir berjalan selama 2 jam dan kami hanya baru mendapatkan tema dari acara ini. Hah..rasanya sangat melelahkan. Ku cek lagi handphoneku untuk melihat apakah ada balasan darinya atau tidak. Dan hasilnya nihil. Ku berjalan gontai menuju parkiran mobilku berharap Baekhyun menungguku di sana.

Namun, begitu sampai di parkiran, aku tidak melihat sosoknya sedang menungguku. Ku lirik ke kanan dan ke kiri mencoba mencarinya di sekitaran tempat parkir. Dan aku mendapati dua mobil sahabatnya Baekhyun, Chen dan Chanyeol, masih terpakir dengan manisnya di tempat biasa mereka parkir.

Ah, mungkin mereka sedang latihan bisbol, karena setahuku Baekhyun adalah kapten tim bisbol sekolah. Segera saja ku berjalan menuju lapangan untuk mengecek keadaannya. Begitu sampai di pinggir lapangan ku edarkan pandanganku mencari sosok yang dari tadi sedang aku cari. Tapi aku tidak melihatnya, aku hanya melihat Chen dan Chanyeol di pinggir lapangan sedang duduk-duduk sambil tertawa melihat ke arah lapangan. Ku hampiri mereka berdua untuk menanyakan keberadaan Baekhyun.

“Chen-a, Chanyeol-a” panggilku saat aku yakin sudah berada pada jangkauan pendengaran mereka. Kemudia mereka menoleh ke arahku sebagai respon dari panggilanku. Tersenyum manis ke arahku.

“Hai…Na-ya” sapa keduanya dengan ramah ke arahku.

“Kalian lihat Baekhyun?” tanyaku to the point pada mereka, hal itu ku lakukan karena aku orang yang tidak suka berbasa-basi. Mereka saling pandang selama beberapa detik kemudian menjawab.

“Tidak, apa kau tidak menghubungi handphonenya?” jawab Chanyeol.

“Kalau aku bisa menghubungi handphonenya buat apa aku repot-repot bertanya keberadaan dia pada kalian. Pabo!!”

“Hehehe…kami tadi bersamanya, tapi entah kenapa tadi di tengah permainan dia keluar lapangan dan pergi entah kemana.” Jawab Chanyeol dengan ringannya.

“ Eoh, aku ingat tadi aku melihatnya ke arah UKS. Sedari pagi dia mengeluhkan sakit kepala. Coba kamu cek dia di UKS, mungkin dia masih di sana.” Jawab Chen sambil mengingat-ngingat.

“Hm..baiklah nanti akan aku cek. “ jawabku seadanya. “ Kalian tidak bermain bisbol?” tanyaku bingung melihat mereka berdua yang hanya duduk-duduk di pinggir lapangan sambil melihat junior mereka latihan bisbol.

“Kami sudah latihan tadi dengan Baekhyun, karena kami capek jadilah kami hanya duduk di pinggir lapangan. Jangan dikira kami senior yang selalu seenaknya, eoh! Kami tidak seperti Baekhyun yang datang dan pergi seenaknya!” ucapan protes Chen berikan padaku karena pertanyaanku yang mungkin sedikit menyinggungnya.

“Yah..walaupun Baekhyun bertindak seenaknya, setidaknya dia bisa mempertanggung jawabkan sikapnya itu di pertandingan dengan mempersembahkan kemenangan buat kita.” Keluh Chanyeol dengan senyum masamnya yang hanya aku tanggapi dengan kekehan atas semua sikap Baekhyun pada sahabat-sahabatnya dan timnya ini.

“aku tidak menyangka kalau kalian sebagai sahabatnya bisa mengeluh juga akan sikapnya itu.” Candaku pada mereka. Kemudian kami tertawa bersama mendengar ucapanku.

“Kau tahu ada kalanya seorang sahabat juga bisa jenuh dengan sikap sahabatnya sendiri.” Ucap Chanyeol membuat tawa kami semakin keras.

“Arraseo, arraseo. Sebaiknya aku pergi sekarang melihat keadaanya karena hari sudah semakin sore.” Aku pamit pada mereka berdua.

“Kau harus sabar menghadapi orang seperti dia Na-ya.” Celetuk Chanyeol yang sukses membuat langkahku berhenti. “Buat dia mencintaimu sepenuhnya dan aku yakin kamu akan melihat dia yang sesungguhnya.” Lanjutnya untuk memberikan aku semangat.

“Kau pasti bisa Na-ya. FIGHTING!!!’ sambung Chen. Aku hanya bisa tersenyum dengan dorongan semangat dari sahabat-sahabatnya Baekhyun itu. Ku langkahkan kembali kakiku yang sempat terhenti tadi. Begitu aku sampai di depan pintu UKS. Aku bisa mendengar suara seseorang yang aku kenal dari dalam sana. Tidak. Tidak hanya seorang tapi ada dua orang, dan salah satu suara itu adalah suara wanita.

Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencangnya. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyelimuti relung hatiku. Ku penjamkan mataku sejenak dan mengambil napas sedalam-dalamnya untuk menghilangkan perasaan negatif yang sedang berkecamuk di hatiku. Ku buka pintu UKS dengan tangan bergetar. Dan seperti yang aku prediksi sebelumnya. Ku lihat dua orang yang sedang bergumul dengan panasnya di atas ranjang UKS.

Sakit itulah yang aku rasakan saat melihatnya. Hatiku serasa dicabik-cabik tanpa ampun. Dadaku sesak. Aku tidak bisa bernapas dengan benar. Rasanya begitu berat. Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apa salahku di masa lalu sampai-sampai Tuhan memberikan cobaan seberat ini? Aku ingin menyerah. Sungguh aku ingin menyerah akan semua ini.

Tanpa di rasa air mata ini turun dengan sendirinya. Padahal baru saja aku mendapatkan semangat positif dari sahabat-sahabat Baekhyun. Tapi begitu melihat semua kejadian di hadapanku ini, rasanya semua semangat positif mereka tidak ada artinya sama sekali. Seperti debu yang di terbangakan oleh angin, tidak ada jejaknya sama sekali.

Tubuhku kaku melihat itu semua. Padahal aku sudah sering melihatnya tapi kenapa rasanya masih saja tetap sama, malah semakin menjadi-jadi.Aku tidak bisa menggerakkan kakiku untuk pergi dari sana, untuk mengakhiri penderitaanku ini. Otakku hanya bisa memerintahkan kakiku untuk pergi tanpa diikuti dengan tindakan nyata dari kakiku. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa lagi sekarang korbannya Baek?

“Baek..” entah mendapat kekuatan dari mana, tiba-tiba suara yang sempat hilang itu bisa mengucapkan satu kata dan hal itu berhasil menghentikan kegiatan kedua orang yang sedang berada di hadapanku.

Kaget. Itulah respon yang bisa aku tangkap dari pandangan kedua insan itu.

 

 

~FIN~

 

 

Dan terima kasih karena sudah mau membaca cerita picisan karanganku yang amburadul ini. Kritik dan saran ataupun protes aku terima.

See You :-*

 

Regards,

Azalea

 

 

 

156 responses to “[Freelance] PLAYBOY (Series 1st)

  1. akhirnya aku baca juga yg series satu ini. baekhyun dih udah punya tunangan juga masih bisanya sama cewek lain, aku curiganya sih sama yg di tabrak itu palingan itu temen deketnya dulu atau apa gt; pendapatku sih gatau author gmn hehe. BAEKHYUN MESUM BANGET FIX❗gakuat bgt bacanya kalau dia mulai mesuuum aaaaakkk. goodjob kak!

  2. Hello…cerita picisannya keren loh.
    Hahaha. Slightly smut-nya mayannn juga.. Aku jarang nemu fic berbahasa Indonesia yg ber-genre (agak) smut..ato aku aja yg belum nemu yah. lol. btw umur kamu brp sih? just asking. nggk dijawab nggk papa.
    Sedikit komen yaa…agak gk nyaman aja baca dari ‘kau’ ke ‘kamu’. tapi tak apalah. aku suka gaya tulisanmu.

    Di akhir 1st series ini aku bingung sampe keluar pertanyaan: Ada apa denganmu Baek?? Perlakuan Baekhyun ke Sena itu menunnjukkan kalau dia suka sama Sena tapi kenapa Baekhyun cium cewek lain??? Heol

    Aaaaaaghh…frustasi. hahaha.
    Dah ah..mau lanjut baca next series.

  3. Annyeonghaseyo aku izin buat baca ff ini. Kayanya baek nappeun namja banget disini baru baca ada cekit-cekit gitu kasian naya nya 😦

  4. Baekhyun kok jahat banget? Aku kira dia bener² tulus ngomong yg dia blom siap utk jdi ayah, trus dia mau jdi ayah klo dia udh punya pekerjaan sendiri, sumpah bekyun nyebelin bgt, pisahin aja udh sena nya ama bekyun, buat bekyun nyesel eon! Buat si bekyun nya tobat, pasti itu cewe yg td ditabraknya, sumpah, pen ngamuk ini!
    Next yg cepet ua eon!! Fighting!

  5. Masa aku ngomen gk nyampe disini😭 padahal udh komen panjang kali lebar kali tinggi(nggakpanjangpanjangjugasih) otokek? Aku komen lagi aja deh ” baekhyun nyebelin! Idh buat mereka pisah aja eon!, buat si baekhyun nyesel setengah hati gegara ngianatin si sena! BAEKHYUUN!! IKILLYOU!!”
    udh gitu aja deh eon, gatau pen ngomong apa lagi, btw salam kenal ya eon, eon cepet di next nya ya! Keep writing and fightingg!!!

  6. Pingback: [Freelance] BEAUTIFUL (3rd Series) | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. jaha kao baek gua bilangin mas cahyo lhoo :3 sena yang sabar aja wehhhh. awas kalo baek macem2 lagi gua begal dasar -___- maunya apaaaa –” gua gampol lu

  8. Pingback: [Freelance] WHAT IS LOVE (Part 1) | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Udah aku baca firt series ini. Tapi gatau kapan dan emng sempetnya baru baca 1st sama 2nd doangㅠㅠ trus waktu itu nemu lagi kaka apdet dan pokoknya aku ngehnya itu judulnya pake judul track list exodus dan itu yg bikin aku tertarik baca lagi tapi knpa yg ke3nya ga ketauanㅠㅠㅠㅠㅠ aku jarang bgt cek skf hadi gini nih ketinggalan jauh dan ujug2 baca balik dari awal dan curhat disini😖 mian kak

  10. Pingback: [Freelance] WHAT IS LOVE – Part 2 [4th Series] | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply to Lee Eun Bin Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s