[Freelance] THAT XX (Chapter 2)

THAT XX chapter 2

THAT XX

(chapter 2)

 

-Also known as Bad Guy-

 

2015 ® HYERINKIM07

 

Author: Lynn Luhan (https://www.facebook.com/profile.ph…)

Editor: @Mrskim88_

Cast : Main Role = Park Hanmi (OC), Kim Jongin of EXO, Oh Sehun of EXO || Supporting Role = Luhan, Park Hyungshik of ZE:A, Do Kyungsoo, Lee Taemin, Kang Seungyoon of WINNER, Yook Sungjae of BTOB, Haruma Miura Actor, Luna F(X), Park Hyerin (OC) and other roles will you find inside story.

 

Genre: Romance, Psychologi, Dark, Angst

Rating : PG +17

Length : Multichapter

 

Disclaimer : FF ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjelekkan salah satu member EXO dan atau yang lainnya yang ada di dalam FF.

Dilarang mengcopy paste sebagian/seluruh isi tulisan di FF ini. Cukup sertakan link nya saja.

 

 

Chapter Sebelumnya: Chapter 1

 

 

xxx

 

 

FLASHBACK

Suncheon Maesan Middle School.

Suncheon, South Jeolla, South Korea. 2003.

 

My eyes are far Since the beginning, the glint that can make any which light be in shame You are a strong flashlight

Still yet your figure forever is left as an afterimage flashback

I walked through a long maze Through a vision that looked like you

Your figure that seemed that I can reach with my hand Whisking my hand in the air

-Heart Attack-

 

Seorang anak laki-laki meringkuk ketakutan dibawah meja. Beberapa anak laki-laki lainnya terlihat berkerumun disekitar meja tempat berlindung anak laki-laki yang ketakutan tadi. Mereka menyuruh anak itu keluar. Kata-kata kasar, cacian dan makian bahkan hinaan keluar dari mulut polos mereka seakan menandakan bahwa mereka bukanlah anak berusia 7 tahunan yang belum mengerti apa-apa.

 

“Hei! Kau bodoh! Keluar dari sana! Kau pikir bisa melarikan diri dari kami!”

 

“Dasar hitam! Kau itu berbeda dengan kami! Masih berani mau bermain dengan kami. Lihat dulu dirimu yang aneh itu. Apa kau tidak punya kaca dirumahmu, hah!”

 

Anak laki-laki itu semakin menyembunyikan dirinya di bawah meja. Ia tutupi kedua telinganya dengan tangan, berharap ia tak lagi mendengar hinaan dan cemoohan mereka yang menganggapnya berbeda dan aneh. Tapi tetap saja, ia masih bisa mendengarnya dengan jelas. Seperti puluhan genderang yang dipukul bertalu-talu mengelilinginya. Membuat telinganya terasa berdengung dan kepalanya seperti mau pecah.

Seorang anak laki-laki lainnya menendang meja itu kuat hingga sedikit bergeser dari tempatnya semula dan menarik tangan anak laki-laki yang bersembunyi tadi keluar. Ia lalu menghujani kepala anak tadi dengan sentakan-sentakan kasar dari tangannya, membuat anak-anak lainnya ikut memukuli anak tadi tanpa ampun, seolah mereka bukanlah anak kecil berusia delapan tahunan yang masih polos dan lembut.

 

“Tolong! Hentikan,, sakit sekali, hiks,” anak laki-laki itu mulai menangis tersedu-sedu sambil terus berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutupinya. “Tolong. Hiks.. Apa salahku.”

 

“Dia masih bertanya apa salahnya. Apa dia tuli?”

 

“Begitu saja sakit! Begitu saja menangis. Kau ini laki-laki atau anak perempuan, eoh?!! Dasar aneh!”

 

“Kau memang lebih cocok bermain dengan anak perempuan. Bukankah kau suka menari? Pantas saja kau tidak pandai berkelahi. Seharusnya kau ganti celanamu itu dengan rok!”

Lalu tiba-tiba seorang gadis kecil yang cantik memegangi lengan salah satu dari mereka yang baru saja memukul kepala anak laki-laki itu dan menariknya kuat hingga anak itu mundur beberapa langkah ke belakang. “Apa sih yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan hal itu? Kau tidak boleh melakukannya,” ujarnya dengan suara lantang dan cempreng khas anak perempuan yang marah bercampur kesal. “Gwaenchana?” tanyanya pada anak laki-laki yang tadi bersembunyi di bawah meja.

 

“Putri! Kenapa kau kesini. Ini kan bukan kelasmu,” ujar anak yang ditarik mundur lengannya tadi, mencoba meraih lengan gadis kecil itu, menjauhkannya dari anak laki-laki yang sudah sangat berantakan.

 

Gadis kecil itu lalu berdiri, menatap marah kearah anak yang memanggilnya putri tadi. “Memangnya kenapa? Kau tidak boleh menyakiti temanmu sendiri. Bagaimana bisa kau menyuruh teman-teman melakukan hal jahat itu padanya,” ujarnya dengan bibir yang mengerucut lucu. “Kalian semua juga kenapa diam saja dan tidak melaporkannya pada Sonsaengnim?” lanjutnya sambil memutar tubuhnya menghadap ke sekumpulan anak yang hanya menonton dan tak berusaha menghentikan mereka yang menyakiti anak laki-laki tadi.

 

“Tapi,, tuan putri—”

 

“Aku benci padamu! Kau jahat sekali!” teriaknya kencang kemudian membantu anak laki-laki yang dipukuli tadi dan memapahnya keluar dari ruang kelas yang mulai ramai itu. “Ayo kita pergi dari sini,” ajaknya yang hanya dijawab anggukan kecil anak laki-laki itu.

 

Gadis kecil itu membawa anak laki-laki tadi ke atap sekolah, menyuruhnya duduk di kotak kayu disamping pintu masuk. Ia duduk dibawah, membuka kotak pensil di tasnya, mengeluarkan ban aid dari sana dan menempelkannya di lutut anak laki-laki itu setelah sebelumnya ia bersihkan dengan air mineral yang ia bawa. Anak laki-laki itu tidak menangis lagi. Ia hanya menatap lekat gadis berambut hitam panjang sebatas pinggang dengan poni tebalnya di dahi itu tanpa mengatakan sepatah katapun.

 

“Begini lebih baik..” ujar gadis kecil itu sambil melempar senyum manisnya kearah anak laki-laki itu. “Ibuku bilang dengan ini lukanya akan membaik. Dan lagi, tidak akan ada kuman yang bisa masuk. Apa kau baik-baik saja sekarang?” tanyanya.

Anak laki-laki itu mengangguk ragu-ragu.

 

“Ah.. Syukurlah,” gadis itu tersenyum, matanya mengerjap lucu menatap anak laki-laki itu.

 

“Kau.. Murid pindahan, kan? Siapa namamu?”

 

Cukup lama anak laki-laki itu memberi jeda. Tapi kemudian ia menegakkan tubuhnya. “Aku.. Kim Tae Oh,” jawabnya dengan suara yang masih serak dan berat.

 

Gadis kecil itu mengangguk cepat. “Oh. Hallo Tae Oh.. Aku—”

 

“Park Hanmi,” potong anak laki-laki itu, Kim Tae Oh, seraya melirik kearah Han Mi yang membulatkan matanya terkejut. Bingung.

 

“Waah.. Bagaimana kau bisa tahu namaku? Aku bahkan belum menyebutkannya. Kita juga tidak satu kelas..”

 

Tae Oh tersenyum kecil. ‘Aku tinggal di depan rumahmu. Aku selalu melihatmu, meski kau tidak pernah melihat kearahku. Aku berada di sekolah yang sama denganmu. Aku selalu mengikutimu, meski kau tidak pernah tahu aku melakukannya karenamu. Aku berada di tempat ini juga karena kau, karena bagiku, hanya ada kau di manapun. Meski kau tidak memikirkan hal yang sama denganku. Aku tidak peduli. Aku tetap akan terus melihat dan mengikutimu kemanapun,’ batinnya seraya mencuri pandang kearah Hanmi yang kini beralih memejamkan kedua matanya, menengadahkan wajah bulat kecilnya keatas, menikmati silir angin sore yang membawa aroma manis dan hangat perpaduan maehwa, canola dan cherry blossom.

 

xxx

 

07.45 KST.

 

Jongin terbangun. Lamat-lamat ia mulai membuka kedua matanya yang terkatup sempurna beberapa saat yang lalu. Ia meggerakkan kepalanya, merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena semalaman tertidur di kursi kayu di depan meja cetak foto di ruangan pribadinya itu. Entah apa yang ia lakukan hingga ia ketiduran di tempat paling favorit dari seluruh bagian rumahnya ini.

Ia beranjak dari kursi kayu itu dan berjalan pelan menaiki tangga untuk keluar dari ruangan, meninggalkan banyak foto bertebaran di meja yang ia gunakan sebagai alas tidurnya tadi, hingga berserakan tak beraturan di lantai.

Begitu melihat lebih dekat ke puluhan foto yang berserakan, sosok seorang gadis terlihat jelas tertangkap lensa kamera dengan berbagai ekpresi dan tempat. Cukup jelas juga untuk tahu siapa gadis yang wajahnya banyak menghiasi potongan-potongan kertas foto di ruangan pribadi milik Jongin itu. Seorang gadis cantik bersurai hitam panjang sebatas pinggang, namun tanpa poni yang menutupi dahinya.

 

..Park Hanmi..

 

Dan, satu foto usang yang tertempel lekat di dinding yang berbatasan langsung dengan meja yang ditiduri Jongin tadi. Foto seorang anak laki-laki berambut sedikit bergelombang, dengan double eyelid di kedua matanya, dan warna kulitnya yang sedikit berbeda dari orang keturunan asli Korea kebanyakan. Anak laki-laki yang sama dengan yang ada di mimpi Jongin. Anak laki-laki yang meringkuk ketakutan di bawah meja di kelasnya. Anak laki-laki yang lututnya tergores dan diobati gadis kecil bernama Park Hanmi 12 tahun yang lalu di sekolah dasar di daerah Jeolla Selatan.

Kim Tae Oh. Atau kini harus mulai membiasakan diri memanggilnya Kim Jongin? Atau Kim Kai?

 

.

.

.

 

08.45 KST.

 

Hanmi keluar dari kamarnya, perlahan berjalan menuju ruang tengah seraya mengusap rambutnya panjangnya yang basah dengan handuk berwarna merah muda di tangannya. Bau harum masakan yang menggugah selera tercium hidungnya yang tajam. Ia hanya tersenyum kecil seraya mempercepat langkahnya yang tadi melambat.

 

“Aku sudah menyuruhmu pulang, kenapa masih disini, eoh?” tuturnya begitu sudut matanya melihat Hyungshik tengah asyik berkutat dengan sup daging sapinya di dapur.

Hyungshik tidak menjawab. Ia malah mengayunkan tangannya kearah Hanmi, menyuruh gadis itu mendekat padanya. Hanmi mengerucutkan bibirnya kesal, tapi akhirnya mau mendekat juga pada Hyungshik meski terpaksa. “Apa, heum?” tanyanya.

 

“Cobalah.. Aku tidak tahu apa kau cocok dengan ini,” jawabnya seraya meniupi sesendok kuah sup di tangannya pelan, lalu menyodorkannya pada Hanmi yang perlahan membuka mulutnya. “Bagaimana?”

 

Hanmi menahan senyumnya, membuat pipinya sedikit menggembung di kanan dan kirinya.

 

“Enak sekali,” ujarnya cepat. “Ayo cepat selesaikan dan kita makan. Oke?”

 

“Kau ini! Seharusnya kau yang memasak semua ini. Kau kan wanita. Aku sangsi bagaimana kau bisa menjadi seorang istri yang baik kalau menanak nasi saja tidak bisa. Mau kau beri makan apa suamimu, huh?” oceh Hyungshik sambil menekan hidung mancung Hanmi dengan jari telunjuknya. “Duduklah dan tunggu sebentar,” Hyungshik berbalik dan mematikan kompornya, mengambil mangkuk-mangkuk kecil di almari dan mengisinya dengan sup sementara Hanmi menuruti perkataannya, duduk dengan tenang di kursi ruang makan. “Kka.. Ayo makan,” Hyungshik menyajikannya dengan cepat, lalu duduk disamping Hanmi. “Sudah baikan?”

 

Hanmi mengangguk seraya meniupi supnya. “Lumayan. Aku punya dokter, koki, kakak, dan semua yang orang lain butuhkan, jadi kenapa aku harus selalu tidak baik-baik saja. Benar, kan?”

 

Hyungshik terkekeh. “Kata-katamu terlalu berbelit, Nona. Aku harus menagih gajiku besok kalau kau sudah jadi desainer terkenal dan terbaik seantero Jeolla, ah tidak. Kau harus sampai ke luar negeri. Dengan begitu, kau tidak akan kelabakan mencari uang untuk menebus jasaku selama ini.”

 

“Cih! Dasar kau.. Apa kau sudah kehabisan uang sampai jasa pun kau perjual-belikan, huh?”

Hyungshik terkekeh pelan kemudian menyuap nasinya besar-besar kemulutnya. Hanmi bilang sebentar lagi Sehun akan datang, jadi sebaiknya Hyungshik segera menyelesaikan makannya dan pergi. Hyungshik menggeleng, ia menjawab kalau ia akan tinggal sampai Sehun datang dan memastikan bahwa Sehun menjemput Hanminya baru kemudian ia akan keluar setelah mereka pergi.

 

“Terserah kau saja,” ujar Hanmi cepat seraya meneguk air putihnya banyak-banyak lalu mengurut kakinya yang masih terasa pegal dan kaku di bawah meja.

 

.

.

.

 

Hanmi berlari pelan sambil memberikan kode pada Hyungshik untuk naik ke kamarnya. Ia tahu Sehun takkan berani dan mau masuk ke area pribadinya itu, jadi ia menyuruh Hyungshik menunggunya disana. Ah ya ampun, bukankah sekarang ia terlihat seperti seorang gadis yang menyembunyikan selingkuhannya saat kekasihnya datang?

 

“Good morning, Baby,” sapa Sehun dengan senyum manisnya begitu Hanmi sudah membukakan pintu untuknya.

 

Hanmi hanya membalasnya dengan senyuman. Cukup membuat Sehun terpana hingga buru-buru masuk lalu menutup pintunya yang menimbulkan suara berdebum cukup keras. Ia langsung meraih pinggang kecil Hanmi yang berbalut gaun siffon dibawah lutut gadis itu, pelan. memaksa Hanmi sedikit berjinjit mengikuti gerakan mengangkat Sehun dipinggangnya.

 

“Apa?” tanya Hanmi dengan tatapan menantangnya.

 

Sehun menggeleng cepat, seperti seorang anak kecil yang merengek sesuatu pada Ibunya. “Poppo?” tanyanya seraya mengeluarkan aegyo andalannya pada Hanmi. “Sekali saja. Di sini,” tunjuknya ke pipi tirusnya dengan jari telunjuk. “Ayolah..”

 

Hanmi terkekeh pelan lalu berjinjit untuk mencium pipinya, tapi Sehun dengan cepat menolehkan kepalanya dan meraup bibir kemerahan Hanmi dengan bibirnya. Pekikan kecil sukses lolos dari bibir Hanmi, terkejut dengan perlakuan jahil Sehun padanya. Bukannya melepaskan ciumannya setelah beberapa detik bertautan, Sehun malah semakin memperdalam ciumannya, membawa Hanmi lebih jauh kedalam apartemen.

Hanmi mengikuti permainan Sehun, membalas lumatan-lumatan kecil Sehun dilidahnya. Tapi begitu ia tak sengaja menatap ke depan, ke jendela kamarnya dilantai atas yang memperlihatkan dengan jelas Hyungshik yang menatapnya sambil tersenyum, ia buru-buru melepaskan tautan bibirnya dengan Sehun. Meskipun Hyungshik takkan keberatan menyaksikkan kegiatan ini, tapi ia tentu harus menjaga perasaan sahabatnya itu.

 

“Wae?” tanya Sehun begitu Hanmi melepaskan ciumannya, mengusap bibirnya yang masih basah liurnya dan Hanmi.

 

“Aniya,” jawab Hanmi cepat.

 

“Menciumku.. Apa rasanya sudah tidak seperti dulu? Setelah sekian lama kita berciuman, dan,, hari ini kau sudah bosan?”

 

“Ada apa denganmu? Aku tidak tahu seorang Oh Sehun bisa berubah menjadi bad boy juga sekarang.. Kau berusaha terlalu keras. Ini bukan gayamu,” desis Hanmi seraya mencubit kecil dagu lancip Sehun yang berada tepat di hadapannya.

 

Sehun mengerucutkan bibirnya kesal, masih enggan melepaskan Hanmi dari pelukannya.

Hanmi terkekeh kecil. “Ada apa denganmu pagi ini? Kita baru saja bertemu kemarin. Kau memeluk dan menciumku seolah kita tidak bertemu satu tahun, Tuan..”

 

“Bagiku,, satu hari itu sama saja hitungannya dengan satu tahun dikalenderku,” balas Sehun cepat. “Di kampus aku tidak leluasa menyentuhmu.. Hmm.”

 

“Yak!! Ada apa dengan kata menyentuh itu!? Aku sangat tidak nyaman mendengarnya. Tsk..” gerutu Hanmi kembali berusaha lepas dari pelukan Sehun.

 

Tentu saja Sehun takkan semudah itu melepaskan Hanmi. Dengan sigap ia membawa tubuh Hanmi mundur beberapa langkah ke belakang dan menggesernya sedikit hingga tubuh ramping gadis kecintaannya ini menempel sempurna di dinding lorong kecil disamping pintu masuk. Hanmi menaikkan satu alisnya, tidak lagi terkejut menghadapi perlakuan Sehun ini padanya.

 

Sehun menghembuskan napasnya. “Aku kecewa reaksimu tidak seterkejut kemarin. Apa sekarang rasanya sudah biasa?”

 

“Hentikan, Hun.. Ini menggelikan,” ujar Hanmi yang kemudian berbalik meninggalkan Sehun, tapi Sehun buru-buru menariknya lagi dan membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya. “Apa? Ini masih pagi. Hentikan pikiran gilamu itu dan ayo kita ke meja makan. Kau pasti belum sarapan, kan?”

 

“Aku hanya merindukanmu. Aku hanya butuh kau dan bukannya sesuatu untuk ku makan. Kalaupun iya, bisakah atau maukah kau berubah jadi nasi? Agar aku bisa melahapmu sampai habis. Dengan begitu aku dan kau, bisa menjadi kita.. Heum?”

 

“Rayuanmu membuatku ingin muntah rasanya,” protes Hanmi yang kemudian melepaskan pelukan Sehun. “Aku akan ambil tas dan cardiganku di kamar. Tunggulah sebentar, oke?”

“Arraseoyo,,” balas Sehun sambil berjalan kearah ruang tengah dan menghidupkan televisinya.

 

Hanmi membuka pintu kamarnya, menemukan Hyungshik yang kini merebahkan tubuh menjulang diranjang berukuran single yang bealaskan warna biru langit cerah dengan banyak garis vertical putih bersih itu santai. “Aku akan pergi sekarang,” ujarnya sambil sibuk memasukkan beberapa barang kedalam tas dan mengenakan cardigan berwarna peach-nya cepat.

 

Hyungshik beranjak dari ranjang dan menghampiri Hanmi. “Aku akan keluar setelah kau pergi,” balasnya sambil merapihkan cardigan yang dipakai Hanmi dan mengusap bibir Hanmi yang lisptiknya sedikit bercecer. “Lain kali lihat dulu bagaimana wajahmu baru pergi. Kalau seperti ini orang akan tahu apa yang baru saja kau lakukan,” ujarnya datar tanpa penekanan.

 

“Kka! Pergilah,” Hyungshik mendorong tubuh Hanmi mendekati pintu.

Hanmi mengerjapkan matanya cepat. Tetap saja ia masih merasa gugup dengan perhatian yang Hyungshik tujukan padanya ini tiap kali mereka bertemu. Meski ia hanya menganggap pria bermarga Park ini sebagai sahabatnya. Sebagai seorang wanita, bukankah normal saja kalau ia merasa berbunga-bunga dan terkesan dengan perhatian kecil seperti itu dari seorang pria?

 

“Daah.. Hati-hati dengan lututmu, okay?” pesannya seraya melambaikan tangannya pada Hanmi yang perlahan menutup pintu kamarnya.

 

Hyungshik langsung menjatuhkan dirinya dikursi belajar Hanmi, memutarnya cepat sambil menutup matanya erat. Entah apa yang dipikirkannya tapi sepertinya ia sedang sangat bingung dan kalut sekarang. Sementara Hanmi baru saja berlalu dari ruang tengah menuju pintu keluar.

 

.

.

.

 

Di kampus..

10.45 KST.

 

“Kau terlihat begitu bahagia sekarang,” Jongin menutup pintu lokernya setelah sebelumnya mengambil bola basket miliknya pribadi dari dalam sana. Loker bernomor pintu 88, masih sama seperti saat ia meninggalkan kampus ini untuk pergi ke New York tiga tahun yang lalu.

Jongin berbalik memunggungi deretan loker itu seraya memantul-mantulkan bola basketnya ke lantai beberapa kali kemudian menyandarkan tubuhnya ke pintu loker, sesekali melirik kearah Sehun yang mematung beberapa meter darinya.

 

Sehun menggerakkan tangannya kaku, setenang mungkin melanjutkan niat awalnya memasukkan beberapa buku ke dalam loker dan menutup pintu lokernya lagi. “Begitukah yang terlihat? Aku bahagia karena aku merasa bersyukur. Dan kau, apa kau bahagia?” tanyanya dengan nada bicara sebiasa mungkin meski sejujurnya ia terkejut karena beberapa saat yang lalu ia tak menyadari kehadiran Jongin disana.

 

Jongin menyeringai. “Aku tidak merasa bersyukur tentang apapun. Jadi mungkin itu yang menyebabkan aku tidak bisa bahagia sepertimu.”

 

Sehun tersenyum sinis lalu ikut menyandarkan tubuhnya di pintu loker, membalas tatapan Jongin hati-hati. “Aku kira kau tidak akan kembali dari Amerika, Kim.”

 

Jongin tergelak. Hampir saja tawanya pecah, tapi sesuatu menahannya, dan hanya memaksanya mengeluarkan gelakan kecil yang hanya terdengar seperti desahan kesal dengan tempo dipercepat. “Sepertinya aku menghancurkan harapanmu, tapi aku tetap tidak bisa meminta maaf tentang hal itu. Hemm.. Aku kira aku juga tidak akan kembali. Tapi ku pikir itu tidak adil jika aku membiarkan seorang penjahat hidup tenang dan bebas berkeliaran sementara aku selalu tidak baik-baik saja dimanapun aku berada.”

 

Sehun tersenyum getir dan bertanya pada dirinya sendiri. ‘Apa aku melakukannya?’ batinnya seraya meremas ujung kemejanya erat.

 

Jongin mendengus. “Apa kau sedang bertanya pada dirimu sendiri? Apa aku melakukannya? Apa aku yang membunuhnya?” sindir Jongin.

 

Cukup lama Sehun terdiam hingga Jongin harus menghela napas berat seolah jengah menunggunya angkat bicara. “Jadi kalau kau bertanya padaku bagaimana rasanya hidup di penjara untuk beberapa lama.. Mm.. Itu tidak terlalu buruk. Kau bisa mencobanya kalau kau mau,” ujar Jongin dengan nada bicara yang terdengar ringan namun menusuk ulu hati Sehun yang jelas sudah berteriak kesakitan kalau ia bisa berbicara.

 

“Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku juga tidak mengira kalau kau—”

 

“Kalau aku datang dan membantumu melarikan diri? Aku berniat membunuhmu saat itu juga, tapi karena niat jahatku padamu itu, malah aku yang sendirian dan mati-matian menerima hukuman yang seharusnya bukan aku yang dapatkan,” sela Jongin tajam, tatapan matanya begitu menakutkan hingga rahang Sehun mendadak mengeras tanpa disadarinya.

 

“Tidak ada gunanya lagi. Ia sudah pergi. Kita hanya harus melihat ke depan, Kim.”

Kali ini Jongin membuang napasnya kasar, terlalu kasar hingga seringaiannya seakan ikut keluar menusuk jantung Sehun yang berdebar semakin cepat tiap detiknya. Ia ( Sehun ) memang pernah menjadi laki-laki yang tidak baik. Tapi melihat lebih jauh ke dalam diri Jongin, ia merasa kekhawatiran itu normal saja diposisinya saat ini. Bukan masalah ia takut, atau ia tak punya keberanian untuk menghadapi Jongin. Tapi ia punya alasan kenapa ia hanya diam dan tidak ingin berurusan lebih lanjut dengan Jongin.

 

“Jadi, begitukah caramu? Memaksa seseorang mati dan meninggalkannya (melupakan) seolah tidak terjadi sesuatu diantara kalian?” tanyanya ketus dengan bibir yang bergetar menahan amarah. “Oh, baiklah. Melihat ke depan, ya? Kau mau tahu apa yang akan terjadi jika aku melihat ke depan?”

 

“Hentikan, Kai. Kau membuat semua ini semakin rumit.”

 

‘Semakin rumit? Hah! Ia berlagak seperti pernah merasakan dingin dan kerasnya kehidupan penjara,’ batin Jongin seraya menyeringai, entah merasa marah, kesal atau muak.

Jongin menggerakkan iris mata hitam legamnya lurus ke depan, bergeser sekitar satu meter dari Sehun yang berada tepat disisi kanan tubuhnya, lalu merubah senyuman yang tercetak jelas di bibirnya dan menjadikannya sebuah seringaian menakutkan yang sudah tentu membuat Sehun merinding karenanya.

 

“Melihat ke depan (masa depan)?” tanyanya sekali lagi, kali ini secara tidak langsung memaksa Sehun mengikuti arah pandangnya jauh ke depan. “Aku sedang melihatnya (masa depan),” bisik Jongin mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sehun.

 

Sehun menegang. Ia tahu siapa yang Jongin lihat dengan kedua mata elangnya, siapa yang memaksa pria berkulit kecokelatan ini mengatakan sesuatu yang mengkhawatirkan baginya. Hanmi. Park Hanmi kekasihnya.

Hanmi menuruni tangga pelan, berjalan dengan langkah satu-satu sambil mencari sesuatu entah apa di dalam tasnya tanpa memperhatikan langkahnya yang oleng kesana-kemari. Jongin meninggalkan Sehun dan berjalan dengan langkah tegas menghampiri Hanmi yang kini berhenti beberapa meter di depannya.

 

Jongin berhenti tepat di depan Hanmi, menempatkan ujung sepatu ketsnya di ujung sepatu Hanmi. Gadis itu mengerutkan keningnya bingung, ketika hidungnya mencium bau parfum yang aneh, atau mungkin khas. Ia lalu mengalihkan pandangannya dari dalam tas dan beralih menatap ujung sepatu miliknya yang menempel dengan ujung sepatu kets seorang pria.

Ia mendongakkan kepalanya cepat, terkejut melihat leher jenjang nan polos Jongin yang begitu dekat dengan wajahnya. Hanmi sontak memundurkan tubuhnya, gugup. Jika saja ia tak mengenakan wedges ia takkan setinggi ini dan tak perlu meneguk liurnya sulit melihat jakun Jongin yang menonjol maskulin di depan matanya sendiri.

 

Jongin tersenyum lalu mendekat lagi, menyingkirkan anak rambut panjang Hanmi yang menghalangi matanya menatap wajah cantik gadis itu dan menyelipkannya di belakang telinga. Hanmi menahan napasnya sejenak, tidak tahu karena suasananya mendadak tidak mengenakkan atau karena hal lain, jantungnya seperti berdesir saat napas Jongin menyapu sisi wajahnya yang terekspos jelas begitu Jongin menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinganya.

 

Hanmi mengerjapkan matanya cepat, sementara Jongin masih belum menurunkan tangannya dari belakang telinga Hanmi.

 

“Temui aku di ruang latihan belakang gedung olah raga setelah kelasmu berakhir,” bisik Jongin lembut ditelinga Hanmi. “Kau punya hutang yang harus kau bayar.”

Hanmi menoleh cepat, tapi Jongin sudah berlalu dari pandangannya, melangkah pergi melewatinya tanpa menoleh untuk sekedar memberikan penjelasan atau apapun itu.

Sehun yang masih berdiri di tempatnya tadi kemudian menghampiri Hanmi, memaksa gadis itu menatap matanya, mengalihkan pandangannya yang tertuju pada punggung tegap pria berkulit tan yang mulai menjauh dari pandangannya itu.

 

“Aku serius, Hanmi-ya. Larilah jika kau melihatnya mendekat kearahmu. Jangan menatap matanya sekalipun kau terpaksa atau dipaksa melakukannya. Berusahalah tidak bertemu dengannya bagaimanapun caranya. Aku tidak mau kehilanganmu, jadi tolong menjauhlah dari jangkauannya. Kau mengerti?”

 

Hanmi mengerutkan keningnya bingung. “Apa yang kau bicarakan, Hun-ah? Kau membuatku takut.”

 

Sehun tidak mengatakan apapun dan menarik Hanmi ke pelukannya, menenggelamkan kepala Hanmi di dadanya yang masih bergetar. Ia benar-benar takut. Takut kehilangan Hanmi. Berkali-kali ia menciumi puncak kepala Hanmi, meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

“Hun-ah.. Ada apa?” tanya Hanmi pelan masih dipelukan Sehun.

 

“Hanya tetap berada disisiku apapun yang terjadi. Kau bisa berjanji tentang hal itu?”

 

Hanmi mengangguk. “Aku janji,” jawab Hanmi pelan meski sebenarnya ia tidak yakin apa ia akan benar-benar menepati janjinya pada Sehun ini dikemudian hari.

 

Perlahan Hanmi mengalihkan pandangannya dari dada Sehun, mengikuti sosok Jongin yang berjalan santai melewati koridor lantai dua dengan pandangan tegasnya. Apa ia harus menemuinya nanti? Baru beberapa detik yang lalu ia berjanji dan nanti ia langsung akan melanggarnya? Ia sungguh tidak mengerti tapi ia juga ingin sekali tahu apa yang terjadi diantara dua orang ini. Apa ia harus mencari tahu sendiri jawabannya?

 

.

.

.

 

12.45 KST.

 

Sehun mendatangi kelas Hanmi dengan tergesa-gesa dan langsung menarik gadis itu keluar dari sana begitu ia sudah berada disamping meja Hanmi. Beberapa orang melihati mereka, penasaran apa yang sedang terjadi diantara pasangan yang membuat banyak orang iri itu. Tidak biasanya mereka bertengkar, pasti ada sesuatu yang besar hingga air muka Sehun yang memang biasanya tanpa ekspresi mendadak berubah memerah seperti sekarang.

 

“Hun-ah! waegeurae?” bisik Hanmi dibelakang Sehun seraya mempercepat langkahnya mengikuti Sehun.

 

Tidak ada jawaban. Pria jangkung berkulit putih susu itu malah semakin mempercepat langkahnya, ia bahkan mengeratkan cengkeraman tangannya ke pergelangan tangan Hanmi yang sedikit memerah akibat perbuatannya itu sekarang. Sehun membawa Hanmi menjauh dari ruang kelas yang mulai ramai oleh mahasiswa Desain Mode, ke tempat dimana ia menghakimi Hanmi kemarin pagi. Tempat yang cukup jauh dan tersembunyi dari banyak jalan alternatif yang biasa dilalui para mahasiswa jurusan musik itu.

Sehun mengurung tubuh ramping Hanmi dengan tubuh menjulangnya di taman belakang dekat perpustakaan begitu mereka menjauh dari ruang kelas.

Pria berdagu lancip itu menghela napasnya kasar, alisnya bertautan saat menatap lekat mata kecokelatan Hanmi yang kentara. “Ini pertama kalinya atau sudah keberapa kali kau melakukannya (berbohong) padaku?” tanyanya sedikit menekan Hanmi dengan nada suara penuh kekecewaan dan kekesalan.

 

Hanmi mengerjapkan matanya cepat. “Apa Luna mengatakan sesuatu padamu?” ia balik bertanya, apa Luna benar-benar mengadu pada Sehun tentang pertemuan tak sengaja mereka di pusat perbelanjaan malam tadi? yeah, meskipun sebenarnya ia sudah bisa memastikan bahwa gadis itu jelas mengadu pada Sehun.

 

Sehun mendongakkan wajah lalu mengurut keningnya lelah, atau mungkin kesal karena ia merasa kecolongan kali ini. Entah kenapa rasanya sakit sekali saat tahu Hanmi membohonginya. Rasanya ia ingin sekali memarahi dan meneriaki gadis ini jika ia tidak ingat Hanmi-nya ini adalah seorang gadis dan juga kekasihnya. Baru kali ini Hanmi-nya ini berbohong. Dan ia tidak tahu mengapa gadis ini melakukannya.

“Jadi benar? Kau berbohong padaku dan pergi keluar tanpa memberitahuku? Begitu?”

 

Hanmi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia tidak bisa memberikan alasan apapun jika ia tahu dan sadar ia memang salah. Lagipula, Sehun juga tidak akan menerima penjelasan apapun yang keluar dari bibirnya. Ia sudah berbohong, jadi ia lebih baik diam dan tidak membantah, atau masalahnya akan semakin rumit dan melebar kemana-mana.

Hanmi menghela napasnya berat, memasang wajah semenyesal mungkin agar Sehun tak semakin marah padanya. “Maaf.. Maafkan aku.”

 

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau berbohong dan bilang kau mengerjakan tugasmu semalaman? Kau mengatakan semua itu dengan lancar. Bisa-bisanya aku tidak tahu dan tidak merasa curiga sedikit pun padamu..”

 

“Aku tidak menemukan apapun di otakku. Jadi, aku..”

 

“Jadi kau berbohong dan pergi keluar sendirian. Kau mengaku padaku kalau kau mengerjakan tugas semalaman hingga kau tak sempat menghubungiku padahal kau sedang tidak ada di rumah. Aku tidak yakin kemarin kau masuk kelas itu untuk mengejutkanku. sepertinya ada hal lain.”

 

Hanmi mengerutkan keningnya, sedikit tidak nyaman dengan tuduhan Sehun yang baru saja ia dengar. “Apa maksudmu?”

 

“Kau tahu siapa yang ku maksudkan dengan jelas. Bukankah ia selalu ada disampingmu? Bahkan kau lebih memilih klub fotografi bersama pria itu daripada klub theater bersamaku, bukankah itu juga karena kau ada sesuatu dengannya?”

 

“Hun.. Berhentilah menuduhku dan dengarkan dulu penjelasanku. Kenapa kau selalu membawa-bawa orang lain dalam masalah kita?” Hanmi mulai kesal. “Aku masuk klub fotografi karena aku sudah pasti akan membutuhkannya nanti. Kau juga tahu aku mengambil jurusan desain di kampus ini.”

 

Sehun mendecih, tak kalah kesal dengan Hanmi. “Kau pikir klub theater juga tidak membutuhkan desain? Kau pikir mereka juga akan telanjang diatas panggung? Dan lagi, orang lain yang kau maksud itu adalah seseorang yang kau sebut sahabat dekatmu, Hanmi-ya.. Apa kau percaya dalam hubungan persahabatan antara wanita dan pria tidak akan terjadi apa-apa? Kau percaya itu? Aku bahkan mulai berpikir kalau semalam ia menemanimu dan kau mengecualikanku..”

 

“Berhenti. Kau sudah keterlaluan. Kau bahkan belum mendengarkan penjelasanku, Hun..” Hanmi terpaksa mempersiapkan alasan daripada ia terus di tuduh Sehun yang tidak-tidak.

 

“Tidak masalah kalau kau mau pergi tapi beritahu aku. Kenapa kau harus berbohong padaku? Apa sekarang seperti ini hubungan kita? Kau terus berbohong padaku.”

 

“Hun.. Kau tahu, kan.. Aku tidak sepintar dan sebrilian dirimu. Aku butuh banyak usaha untuk mendapatkan ide di otakku yang tak begitu encer ini. Aku tahu apapun alasanku itu pasti tidak akan membuatmu percaya. Tapi aku terpaksa melakukannya. Hanya itu caranya mendapatkan satu rancangan yang akan ku serahkan nanti. Bisakah kau mengerti satu hal itu? Bagaimana kau bisa begitu percaya pada kata-kata orang lain dan tidak bertanya dulu padaku baik-baik, huh?”

 

Sehun menghela napasnya berat, enggan menatap mata Hanmi yang sejak tadi fokus mengamati air mukanya yang memerah. “Kita bertemu nanti. Masuklah,” Sehun melepaskan kurungan tangannya kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi pada Hanmi.

 

 

Hanmi menghela napasnya yang berat kemudian kembali ke kelas. Luna membunyikan permen karetnya keras hingga Hanmi menoleh ke belakang. Ia menyeringai mengejek Hanmi yang menekuk wajahnya malas sekaligus lelah usai berbicara dengan Sehun, ah, dimarahi Sehun lebih tepatnya. Hanmi hanya menatap kesal kearah Luna yang menyeringai puas.

 

“Apa terjadi sesuatu?” Jihyun, teman semeja Hanmi bertanya setelah sebelumnya ikut menoleh menatap Luna yang menjulurkan lidah dengan ekspresi menyebalkannya.

 

Hanmi menggeleng. “Tidak. Hanya sedikit kesalah pahaman,” jawab Hanmi seraya memasang senyum kecilnya agar Jihyun tak bertanya lebih lanjut tentangnya dan Sehun. Ia sedang malas membahas perihal pertengkarannya ini. Entah kenapa dari kemarin ia dan Sehun seakan ditimpa masalah besar dan beruntun. Semoga saja semua akan baik-baik saja, gumam Hanmi di benaknya.

 

“Hyungsik kemari tadi, ia mencarimu. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Ia terlihat sangat mengkhawatirkanmu.”

 

“Benarkah?” tanya Hanmi seolah terkejut meski sebenarnya tidak.

 

Jihyun mengangguk. “Kenapa tidak pacaran saja dengannya? Dia manis, kan?”

 

“Kau mau aku berselingkuh, eoh? Tsk.”

 

Jihyun terkekeh. “Aku hanya bercanda. Haah,, coba saja ia pewaris tahta, atau setidaknya keluarganya punya perusahaan yang dikelola sendiri. Aku yakin pasti sudah banyak sekali gadis yang menempel padanya. Bahkan, dengan ketampanannya yang juga tidak biasa itu, ia seharusnya sudah punya pacar, kan?”

 

“Apa kau bercanda? Dia tidak seperti yang pikirkan.”

 

“Heum? Apa maksudmu?”

 

Hanmi menggigit bibir bawahnya cepat. Hampir saja ia keceplosan mengatakan pada Jihyun jika Hyungshik bukan orang biasa seperti yang dipikirkan Jihyun. Ia buru-buru mengalihkan perhatian. “Kau sudah menyelesaikan desain musim semimu?”

 

Jihyun mengangguk cepat. “Nde. Bagaimana denganmu? Apa semalam berjalan dengan lancar?” tanyanya antusias.

 

Hanmi mengangguk. “Dengan susah payah aku mendapatkannya. Aku hampir saja mati karena desain ini,” keluh Hanmi membuang napasnya berat.

 

“Hoh! Ada-ada saja,,” sahut Jihyun yang kemudian mengeluarkan desain buatannya dan mendiskusikannya dengan Hanmi.

 

.

.

.

 

15.30 KST.

 

Hyungsik mendecakkan lidahnya kesal ketika sudut mata bulan sabitnya menangkap sosok Hanmi menuruni tangga yang terletak disamping pintu masuk ruang theater itu pelan. Ia menyuruh gadis itu datang setengah jam lalu dan ia baru saja muncul setelah sekian lama? Hyungsik berkacak pinggang, memicingkan sebelah matanya menunggu Hanmi sampai dihadapannya. “Kenapa lama sekali, eoh? Aku memintamu datang setengah jam yang lalu, Nona,,” ketusnya setelah Hanmi sudah berdiri tepat dihadapannya.

 

Hanmi mengulum senyumnya kecil kemudian duduk disamping Hyungsik, meletakkan beberapa bukunya di sisi kanan tubuhnya yang masih kosong. “Maaf. Kau tahu aku harus memastikan Sehun masuk kelas dulu baru bisa kemari,” balasnya tak kalah kesal. “Lagipula kenapa menyuruhku kemari? Biasanya kan, kau yang datang ke kelasku, Hyungie-ya!”

 

“Kalau aku yang datang,, bisa-bisa Sehun langsung menyeretmu keluar dan menjauhkanmu dariku. Bukankah kalian sedang bertengkar?” Hyungsik meraih lengan Hanmi dan membimbingnya duduk di kursi kayu di bawah pohon gingko yang mulai menguning.

Hyungshik berdehem lalu duduk bersila dibawah Hanmi, mengangkat kaki jenjang Hanmi dan meletakkan di atas pahanya sendiri, persis seperti yang Jongin lakukan semalam di mobilnya. “Masih sakit? Seharusnya kau tidak menggunakannya untuk banyak berjalan dulu. Luka di lutut seperti ini tidak akan sembuh dengan cepat kalau kau tidak beristirahat cukup. Akan lebih sulit mengering karena kau terus bergerak,” ocehnya seraya membubuhkan obat luka berbentul gel di kedua lutut Hanmi yang masih belum mengering betul lukanya.

 

Hanmi menarik napasnya kuat. Ada sensasi menggelitik di perutnya yang memaksa ia mengumpulkan pasokan oksigen sebanyak mungkin. Pria ini selalu saja melakukan hal-hal tak terduga yang bahkan terkadang Sehun pun tidak pernah melakukannya untuk Hanmi.

 

“Kenapa kau seperti ini? Baik sekali padaku,,” tanyanya sekaligus memberi pernyataan betapa baiknya seorang Park Hyungsik padanya, yang mungkin sudah lebih dari 100 kali menolak permintaan hubungan pria yang memiliki senyuman khas di bibirnya tersebut.

 

“Kenapa kau masih saja menanyakan pertanyaan yang sama padaku, huh?” Hyungsik menengadahkan kepalanya, menunjuk dahi Hanmi yang berkerut dengan ujung jari telunjuknya. Seraya melempar senyum terindahnya, pria bermarga Park ini melontarkan pernyataan yang lagi-lagi membuat Hanmi membeku. Membeku untuk takjub atas kegigihan pria ini yang tak pernah menyerah untuk mencoba membuka hatinya. “Aku sudah bilang aku menyukaimu. Tidak peduli apa yang terjadi. Aku tidak akan membiarkanmu terluka atau sakit. Apa kau selalu melupakan kata-kataku ini hingga masih saja bertanya hal yang sama? Atau kau suka mendengar kata suka dan cinta keluar dari bibir manisku ini, hmm?”

 

Hanmi terkekeh kecil, tapi kemudian menundukkan kepalanya dalam. Perlahan sesuatu tiba-tiba saja menetes dari kedua matanya yang mengatup rapat, ia menangis tanpa suara, tapi segera ia hapus dengan punggung tangannya, enggan Hyungshik tahu ia sedang menangis.

 

Hyungshik mendongakkan kepalanya pelan, ia sudah tahu sejak Hanmi menundukkan kepalanya tadi, tapi ia sengaja mendiamkannya agar Hanmi nyaman menuangkan emosinya.

Hyungshik menghembuskan napasnya berat lalu beranjak duduk disamping Hanmi setelah selesai mengoleskan gel luka dan mengelap tangannya dengan tissue basah.

 

“Apa rasanya sangat sakit? Aku menekannya terlalu kuat, heum?” tanyanya seraya menepuk pelan punggung Hanmi yang mulai sesenggukan. “Gwaenchana,, semua akan baik-baik saja setelah lukanya mengering,” lanjutnya mengalihkan perhatian Hanmi.

Ia menurunkan rambut panjang Hanmi kebawah agar Hanmi tak perlu menunjukkan wajah menangis disampingnya. Ingin sekali rasanya ia memeluk Hanmi sekarang ini, tapi ia juga tahu resikonya jika ia melakukan itu di area kampus. Jika ada orang yang melihat, sudah pasti Hanmi lagi yang kena masalah dan bukannya dirinya.

 

“Sstt.. Sudah,, diamlah.. Ingusmu keluar terlalu banyak. Apa kau tidak takut kehabisan stok ingus, eoh?” ujarnya menenangkan Hanmi yang oleh Hanmi langsung dihujani pukulan bertubi-tubi di lengannya yang kekar.

 

.

.

.

 

16.50 KST.

 

Hanmi mematut dirinya di kaca toilet kampus sebelum menemui Jongin di ruang latihan. “Ash.. Sial.. Kenapa bengkaknya seperti ini,” keluhnya sambil mengurut kantung matanya yang membesar usai menangis tadi. “Bagaimana aku bisa menemuinya dengan wajahku yang seperti ini? Hufft.”

 

Hanmi mengetukkan jarinya di wastafel berderet itu, kemudian mencari sesuatu didalam tasnya, menemukan sesuatu yang mungkin bisa menyamarkan kantung mata besarnya.

“Untung saja aku selalu membawamu kemana-mana. Ternyata ini sangat berguna,” ocehnya sambil memakai kacamata minus setengahnya, merapihkan rambutnya yang tadi kusut karena diusap Hyungshik saat menangis.

 

Hanmi memoles lip tint-nya tipis. Tapi kemudian menghapusnya lagi.

“Apa aku gila!! Aku bukan akan menemui Sehun, tapi pria lain. Ya Tuhan!! Aku gila,” racaunya kemudian menghapus polesan lip tint-nya cepat dan pergi.

Tapi ia kembali lagi dan memakainya lagi. Masih sambil menggerutu ia berkaca dan mengatupkan bibirnya, meratakan polesan lip tint berwarna merah muda itu hati-hati.

“Lagipula kan, setelah bertemu dengannya aku akan pulang bersama Sehun. Tidak ada bedanya. Aku akan tetap berdandan juga,” ocehnya memberikan alasan yang ia buat-buat sendiri untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja.

 

.

.

.

 

Ia berjalan pelan menyusuri lorong menuju ruang latihan paling belakang kampus itu sambil sesekali merapikan dirinya. Ia berharap Jongin malah sudah pulang saat ini. Tapi harapannya itu langsung sirna begitu mendengar suara debuman musik up-beat dari dalam ruangan latihan. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pintunya hati-hati.

Jongin sedang menari disana. Diikuti alunan musik keras dan menghentak. Dengan balutan kaus dan celana hitam juga topi yang menutupi rambut cokelatnya. Ia terlihat sangat serius dan tak menyadari kehadiran Hanmi yang menatapnya tak berkedip diujung ruang latihan. Tiba-tiba saja ia mulai menyukai seorang pria yang menari dengan enerjik ini di hadapannya.

Padahal, boy grup Korea seperti Shinee dan Super Junior saja ia tak begitu menghiraukannya. Biasanya ia lebih suka pria yang bermain bola atau rugby daripada pria yang menari. Biasanya ia juga tak seantusias ini saat melihat Sehun menyanyikan lagu atau melakukan rap di beberapa part-nya. Tapi melihat Jongin sedang meliuk-liukkan tubuhnya seperti sekarang rasanya.. Uh! He’s so sexy, right?

 

Hanmi tersenyum-senyum sendiri, tanpa sadar Jongin sudah menghentikan gerakan dance-nya dan beralih menatap Hanmi. “Kau sudah datang?” tanyanya yang belum membuat Hanmi tersadar dari lamunannya. Jongin tersenyum kecil lalu mematikan musiknya yang menghentak itu. “Kau datang?” ulangnya.

 

“Ah! Ya.. Aku.. Aku disini,” sahut Hanmi tergagap begitu Jongin mematikan musiknya dan berjalan ke tengah ruangan sambil mengusap wajahnya yang penuh peluh dengan handuk kecil yang mengalung di leher jenjangnya. “A—ada apa kau menyuruhku kemari?” tanyanya hati-hati sambil membenarkan posisi berdirinya yang tak dirasa nyaman.

Jongin membuang napasnya kesal. “Aku kira kau tidak akan datang. Kenapa kau menurut saja dan datang kemari saat aku memintamu datang, heum?”

Hanmi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Aku.. Aku hanya merasa harus datang. Jadi..”

 

“Pergilah,” ujar Jongin memotong pembicaraan, membuat Hanmi sedikit membulatkan mata saking terkejutnya.

 

“Apa?”

 

“Pergilah. Kau sudah datang, jadi, kau boleh pergi,” jelas Jongin tanpa menatap Hanmi yang pandangannya jelas tertuju darinya. Bisa dilihat dari kaca besar yang mengelilingi ruangan itu.

 

Hanmi masih membulatkan matanya. Jadi hanya seperti ini saja? Ia kelabakan menyembunyikan mata pandanya dan bolak-balik memoles dan menghapus lip tint di bibirnya hanya untuk beberapa menit? Tidak, bahkan hanya beberapa kata yang baru ia ucapkan. “Apa-apan ini?” kesal Hanmi.

 

“Akan ada yang datang sebentar lagi. Aku tidak mau mereka salah paham,” lanjut Jongin.

 

‘Seharusnya aku yang bilang begitu,’ batin Hanmi. “Ya. Aku akan pergi sekarang,” ujarnya penuh kekecewaan bercampur kesal lalu berbalik dan membuka pintu ruang latihan itu untuk pergi dengan langkah beratnya.

 

“Bodoh. Apa dia selalu seperti itu selama ini? Mengikuti apa yang orang lain suruh,” batin Jongin seraya menyunggingkan senyum miringnya menatap pintu ruangan yang baru saja menutup rapat.

 

Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Seseorang masuk sambil memperhatikan arah belakangnya beberapa kali, terlihat menimbang-nimbang apa yang barusan dilihatnya itu benar atau memang halusinasinya saja.

 

“Hyung,, bukankah itu tadi Park Hanmi?” Sungjae meletakkan tas punggungnya di kursi panjang ujung ruang latihan itu dan kemudian menghampiri Jongin yang masih setengah merebahkan dirinya di lantai, menggunakan kedua tangannya untuk menahan bagian belakang tubuhnya. “Ada urusan apa ia kemari? Oh Sehun tidak ada disini, kan?” tanyanya penasaran. Lagi.

 

Jongin hanya tersenyum kecil. Tanpa memberikan jawaban pada Sungjae yang terlihat menunggunya, ia menjatuhkan tubuh menjulangnya lagi di lantai, menggunakan satu tangannya sebagai bantal kepala, sementara satu tangannya lagi ia biarkan tergeletak begitu saja disisi tubuhnya yang lain. “Dimana yang lain?” ia balik melempar pertanyaan pada Sungjae, mengalihkan perhatian remaja berusia 19 tahunan itu dari pertanyaannya menyangkut “kunjungan” Hanmi di markas mereka ini.

 

Sungjae menghembuskan napasnya berat kemudian ikut merebahkan dirinya disamping Jongin, menggeser tangan Jongin yang terkulai bebas tadi dan menggunakannya sebagai alas kepala. Persis seperti yang biasa ia lakukan jika bersama Seungyoon. Baginya, lengan Jongin dan Seungyoon sama nyamannya, sama hangatnya dan sama memberikan rasa aman.

“Seungyoon Hyung sepertinya ikut ujian musik, Haru Hyung mungkin sedang bermesraan dengan kekasihnya yang baru, Bobby bilang akan menyusulku kemari tapi ia belum juga sampai. Padahal ia bilang sedang menuju kemari sejak setengah jam yang lalu, Hyung.”

 

Jongin berdehem pelan. “Ia benar-benar menjadi trainee di sana?”

 

“Mollayo.. Ia belum memberitahuku, Hyung. Mungkin saja. Kau tahu kan bagaimana ia bersaing ketat dan tidak mau kalah dari Hanbin?”

 

“Apa mereka belum juga berbaikan?”

 

Sungjae menggeleng kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Jongin, menggunakan satu tangannya untuk menumpukan kepalanya menggantikan lengan Jongin. Niatnya, sih, ingin menjawab pertanyaan yang Jongin ajukan padanya tentang Bobby, tapi ia malah melihat sesuatu yang mengejutkan di kening Jongin yang terekspos jelas di depan matanya. Luka lebam yang masih kentara di kening Jongin mengalihkan perhatian Sungjae.

“Hyung!! Apa itu di keningmu!” pekiknya histeris buru-buru menyibakkan rambut Jongin yang setengahnya masih menutupi kening Jongin. “Apa kau berkelahi? Dengan siapa? Apa yang terjadi?” ocehnya tak mau menurunkan nada suaranya meski sang empunya luka hanya diam dan menyeringai tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

 

.

.

.

 

Top of Form

17.45 KST.

Hanmi berjalan cepat menuju taman parkir kampus untuk masuk ke mobil Sehun setelah menemui Jongin di ruang latihan secara kilat tadi. Biasanya Sehun akan menunggunya didepan kelas, tapi karena masalah semalam mau tak mau ia harus pergi sendiri ke taman parkir dan siap menerima amukan yang mungkin saja masih bisa Sehun keluarkan nanti. Ada untungnya juga, karena ia tak perlu mencari alasan untuk bisa menemui Jongin di ruang latihan.

Untungnya lagi, Sehun mengikuti banyak kelas musik setiap hari selasa ini, jadi ia tak perlu khawatir Sehun menunggunya terlalu lama di mobil.

Hanmi mengetuk pintu kaca mobil Sehun pelan, kemudian masuk kedalam begitu Sehun membuka pintunya dari dalam. Ia mencoba membuka pembicaraan dengan Sehun, tapi pria itu hanya diam dan tak menanggapi sepatah katapun pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Hanmi. Hanya desahan berat yang beberapa kali terdengar meloloskan diri dari bibirnya yang entah sejak kapan ia gigiti kecil-kecil.

“Kau tidak mau mengatakan sesuatu padaku?” Hanmi mulai kesal karena Sehun masih saja mendiamkannya meski ia berulang kali meminta maaf atas kejadian tadi malam.

Seolah tuli, pria berdagu super lancip itu hanya diam dan tetap fokus menatap ke depan meski sebenarnya pandangannya kosong. Gelisah. Ia tidak tega sebenarnya, mendiamkan kekasihnya ini. Tapi rasa tidak percaya dan kemarahannya yang belum mereda masih saja menggelayut manja di sisi keegoisannya. Ia belum bisa bersikap seolah biasa saja dan tidak terjadi apa-apa saat menatap wajah Hanmi yang terlihat lelah.

“Ada apa denganmu? Masih tidak mau memaafkanku? Tidak mau bicara denganku?”

Sekali lagi, gadis bersurai panjang itu bertanya. Menyingkirkan sejenak rasa kesal dan amarah yang membubung di dadanya karena diabaikan Sehun itu demi menghindari pertengkaran lebih lanjut. Sementara Sehun hanya menghela napasnya berat. Ia masih marah, tentu saja. Ia lebih memilih diam dan tidak menanggapi pertanyaan Hanmi ketimbang menjawab tapi malah semakin memperkeruh suasana hatinya yang memburuk tiap detiknya.

“Tidak ada?” ulang Hanmi sekali lagi. Sekali terakhir yang lagi-lagi dibalas helaan napas berat seorang Oh Sehun yang sangat dikenal angkuh dan tak mengenal kata kompromi itu.

“Pasang sabuk pengamanmu, aku antar pulang sekarang,” Sehun mengalihkan pembicaraan, enggan mengingat kejadian yang membuatnya naik pitam beberapa jam lalu.

“Kau masih belum memaafkan aku, huh?” tanya Hanmi sekali lagi. “Baiklah. Pulanglah. Tidak perlu mengantarku,” lanjut Hanmi ketus lalu turun dari mobil Sehun dan berjalan cepat meninggalkan Sehun yang mengurut keningnya pelan.

Sehun menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi, menarik napas sedalam-dalamnya, tidak berniat menyusul Hanmi dan malah menekan pedal gasnya pergi meninggalkan parkiran kampus yang mulai sepi sore itu, saat ia sudah menegakkan kembali tubuhnya.

Hanmi mengikat rambut panjangnya kuncir kuda seraya terus berjalan tergesa menuju halte bus yang masih berada di satu area kampus. Ia juga tidak menoleh lagi ke belakang, atau ia memang tak mengharapkan Sehun menyusulnya dan menyuruhnya masuk lagi ke mobil. Lagipula, ia sudah sangat hapal bagaimana bersikap saat suasana hati Sehun memburuk seperti sekarang ini.

Hanmi berkali-kali melihat kearah jam di tangannya. Ia berharap semoga saja bus masih mau melewati halte kampus dan membantunya segera tiba di rumah. Ia sudah sangat lelah dan mengantuk. Pertengkaran itu sungguh memperparah rasa lelah dan kantuknya. Kakinya sudah gelisah bergerak kesana-kemari. Tapi ini lebih baik dari pada harus semobil dengan pria yang sedang mendiaminya itu.

‘Duduk diam di sepanjang perjalanan pulang,’ batinnya. Sesaat kemudian mengacak rambutnya kasar, meloloskan beberapa helai rambutnya dari ikatan karena terlalu keras mengacak. ‘Kim Jongin’ tiba-tiba nama pria itu melintas begitu saja dalam benak hanmi. “Kenapa aku memikirkan pria itu, huh? Lupakan Hanmi-ya,, ini karena lukamu belum sembuh jadi kau mengingatnya saat menolong dan mengantarmu pulang. Itu saja. Okay,” racaunya menenangkan diri seraya kembali berkutat melihat jam tangan berwarna emas di tangannya yang putih pucat mulai kedinginan.

Sementara tak jauh dari tempat Hanmi menghabiskan waktunya menunggu, sebuah mobil sport berwarna putih mengkilat dengan kaca hitam pekatnya terlihat memelankan lajunya kemudian berhenti. Itu mobil Jongin. Ia sengaja menunggu Hanmi. Ia juga melihat Hanmi keluar dari mobil Sehun tadi. Ia beruntung karena pertengkaran itu

“Dia pikir aku terpaksa melakukannya? Apa dia kira aku ini pintar? Kalau aku pintar, aku sudah menyelesaikan semua tugasku tanpa melewatkan makan malam. Aku juga tak perlu repot-repot datang ke pusat perbelanjaan dan membahayakan diriku sendiri. Kenapa dia selalu seperti itu?” gerutu Hanmi seraya terus melihat jam di tangannya yang entah mengapa berputar terlalu lambat baginya.

Hanmi mengacak rambutnya kasar. Tanpa disadarinya, seseorang sudah berdiri di hadapannya.

“Nona.. Ikutlah dengan kami..”

Hanmi mendongakkan kepalanya pelan kemudian mengerjapkan matanya cepat. Ia terkejut melihat beberapa pria bertubuh tinggi tegap berdiri mengelilinginya.

“Sial!” batin Hanmi menggigit bibir bawahnya kuat.

“Nona.. Tolong ikut dengan kami.”

Hanmi menggaruk tengkuknya, mencari cara yang paling efektif untuk kabur. Hanmi menarik napasnya dalam-dalam kemudian menyuruh mereka membukakan pintu untuknya. Salah satu dari mereka terlihat tidak percaya dan bersiap menarik lengan Hanmi. “Bukakan saja pintunya dan aku akan masuk,” ucap Hanmi tegas.

“Baiklah, Nona,” jawab pria tadi. “Bukakan pintunya,” perintah pria itu. “Silakan, Nona..”

“Bagaimana aku bisa kesana kalau kalian tidak membukakan jalan untukku?” tanya Hanmi kesal karena salah satu pria itu menghalangi pintu masuk mobil. “Minggirlah. Apa kau mau menghalangi jalan masuk?”

Begitu pria itu menggeser tubuhnya, Hanmi langsung berlari kencang meninggalkan tempat itu. Ia bersyukur ia mengenakan flatshoes dan bukannya wedges hari ini, jadi setidaknya ia bisa berlari tanpa berpikir akan terjatuh di tengah pelariannya.

Beberapa pria tadi mengejar Hanmi, mempercepat langkah mereka menyusul Hanmi yang sudah menghilang dibalik belokan. Jongin dengan santai memutar kemudia moblnya dan melaju berlainan arah dengan Hanmi dan beberapa pria berbadan tinggi besar tadi.

Sementara Hanmi terus mempercepat larinya tanpa menghiraukan lututnya yang serasa mau lepas karena lukanya masih belum mengering dan malah bertambah mengelupas karena ia gunakan untuk berari kencang.

Jongin menghentikan mobilnya tepat di depan Hanmi saat mereka bertemu, berlainan arah. Ia menyuruh Hanmi masuk tapi Hanmi malah diam. Jongin keluar dari mobil dan memaksa Hanmi masuk. Beberapa orang tadi masih mengejar Hanmi dengan dua mobil lain di belakang mereka. Jongin menancap pedal gasnya dalam-dalam begitu ia sudah kembali ke kursi pengemudinya.

“Apa kau punya masalah dengan gangster!” teriak Jongin sambil menyetir secepat mungkin menghindari kejar-kejarannya dengan beberapa orang tadi.

Hanmi ikut menoleh kebelakang dengan napas terengah-engah. Ia tidak menjawab teriakan Jongin dan malah menggigiti kuku tangannya gugup.

“Apa kau baik-baik saja?”

Hanmi menggigit bibir bawahnya erat. Jongin menyuruh Hanmi memasang sabuk pengaman dan berpegangan agar tak terpental. Ia akan mempercepat laju mobilnya karena mereka masih mengejar di belakang. Hanmi menurut meski dengan tubuh yang bergetar.

Jongin mengebut, melesat kencang meninggalkan mobil-mobil pabrikan biasa yang mengejarnya dan Hanmi jauh di belakang.

“Bagaimana bisa mereka menemukanku,” racau Hanmi. “Bagaimana ini? Aku harus bagaimana sekarang..”

Jongin membiarkan Hanmi bergulat dengan pikiran kalutnya dan fokus melajukan mobilnya membelah jalanan pinggiran Seoul yang mulai gelap meninggalkan sore.

Jongin membawa Hanmi ke tepi sungai Han. Berhenti sejenak untuk menenangkan Hanmi yang masih terkejut bercampur takut. Jongin menghentikan mobilnya begitu ia menemukan tempat yang cukup tenang dari hiruk pikuk kendaraan. Sebuah arena skate yang masih sepi di pinggiran sungai Han yang membelah kota Seoul. Ia turun dari mobil dan membeli sesuatu di toko kecil tak jauh dari mobilnya berhenti. Ia lalu kembali dan mengetuk kaca mobilnya tempat Hanmi duduk terpaku. “Keluarlah,” perintahnya.

Hanmi mengangguk lalu mengikuti Jongin yang berjalan pelan menuruni anak tangga menurun yang mengarah ke sebuah arena skate dibawah sana. Jongin kemudian duduk di beberapa anak tangga sebelum mencapai arena itu dan menyuruh Hanmi duduk disampingnya.

Ia menyerahkan satu botol air mineral ketangan Hanmi. “Minumlah.”

“Gomawo.”

“Apa kau kenal mereka?”

Hanmi berdehem. “Ya? Oh.. Ya, aku mengenalnya.”

“Sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Jongin memastikan, yang dijawab dengan anggukan pelan park hanmi. Lalu mengajak gadis itu kembali ke mobilnya setelah beberapa lama duduk diam di sebelah gadis itu dan tidak bertanya lebih jauh tentang siapa orang-orang yang mengejar Hanmi.

“Maaf. Aku selalu merepotkanmu.” lirih gadis itu.

“Aku yang menempatkan diriku sendiri dalam semua kerepotan yang kau buat,” kata Jongin seraya memasang sabuk pengaman di tubuhnya. “Tidurlah. Aku bangunkan begitu sampai.”

Hanmi hanya mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arena skate yang bersebrangan dengan jembatan Yanghwa yang membelah distrik Mapo dengan Yeongdeuongpo di bagian selatannya. Hanmi tidak mau atau tidak bisa menatap lebih dalam sosok Jongin yang dingin dan sedikit menakutkan itu disampingnya jadi ia lebih memilih diam dan menatap kearah lain.

Sedikit banyak ia masih mengingat perkataan Sehun tentang Jongin tadi pagi padanya. Bukankah ia harus menjaga jarak dengan pria disampingnya ini? Sesaat kemudian Hanmi menggelengkan kepalanya frustasi.

Jongin menoleh. “Ada apa? Kepalamu sakit?” tanyanya datar.

“Ah.. Tidak. Tidak apa-apa,” jawab Hanmi cepat kemudian kembali mengalihkan pandangannya, bingung harus menjaga jaraknya atau tidak, karena lagi-lagi, Jongin-lah yang ada disampingnya saat ia sedang dalam kesulitan.

Sementara Jongin perlahan menyunggingkan senyumnya yang tersembunyi dibalik jaket berwarna hitam yang dikenakannya sambil meneguk sekaleng milkis ditangannya santai.

 

xxx

 

FLASHBACK

Suncheon Maesan Middle School.

Suncheon, South Jeolla, South Korea. 2003

“Kenapa kau tidak mau berbicara denganku di sekolah?” Hanmi meletakkan tas punggung bergambar hello kitty disampingnya lalu menoleh kearah Tae Oh yang sibuk memainkan jari-jarinya diatas paha. “Apa kau malu berbicara dengan anak perempuan?”

Tae Oh menggeleng. Ia membuka tasnya, mengambil sesuatu dari dalam sana dan memberikannya pada Hanmi kecil. Sebuah penjepit rambut berwarna merah muda yang cantik. Ia mengulurkannya pada Hanmi, malu-malu. “Ini untukmu,” ujarnya seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Whoa.. Benarkah ini untukku?” tanya Hanmi meyakinkan yang dijawabi anggukan pelan Tae Oh. “Cantik sekali.. Terima kasih,,” girang Hanmi yang kemudian menerima penjepit rambut itu dan menyisipkannya dihelaian rambut panjangnya, menjepit poni tebalnya dengan posisi menyamping. “Cantik tidak?”

Tae Oh melirik sekilas ke arah Hanmi lalu mengangguk pelan, masih enggan mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Hanmi yang perlahan merubah ekspresi wajahnya.

“Oppa,,” panggilnya.

Tae Oh menoleh. “Mm?”

“Ayah bilang minggu depan kami akan pindah ke Incheon,” Hanmi mendesah pelan, kepalanya menunduk sedih meski air matanya tak tampak menetes di pipi bakpaunya.

Tae Oh mengerjapkan matanya cepat, terlalu terkejut dengan apa yang diucapkan Hanmi beberapa detik yang lalu. Ia tercekat. Pasokan udaranya seakan menipis drastis begitu menatap sosok gadis kecil bermantel cokelat berbulu itu disampingnya. “Benarkah itu?” tanyanya. “Kau akan pergi? Tapi bukankah Incheon itu sangat jauh dari sini?”

Hanmi mengangguk. “Kata Ayah kami tidak akan kembali lagi kemari. Jadi Ayah menyuruhku berpamitan dengan teman-teman disekolah sebelum pergi.”

Tae Oh terdiam. Tangannya mengepal erat disisi kiri tubuhnya yang tak tertangkap indera penglihatan Hanmi. Baru beberapa waktu ia bisa bertemu dan berbicara langsung dengan gadis kecil yang disukainya ini, tapi tiba-tiba saja gadis ini mengatakan akan pergi? Pergi ke tempat yang jauh dari Jeolla? Apa seperti ini akhir kisahnya dengan gadis pujaannya itu?

Hanmi menggoyangkan tubuh kecil Tae Oh yang entah sejak kapan mematung tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “Oppa! Oppa.. Waeyo?” tanyanya khawatir melihat Tae Oh yang hanya diam menatap ujung sepatunya lekat. “Oppa, apa kau marah?”

Tae Oh menghembuskan napas beratnya satu-satu, mungkin saja ini kesempatan terakhirnya. Perlahan ia menolehkan kepalanya, melihat paras cantik Hanmi kecilnya yang terhalang rambut panjang yang terkibas kesana-kemari tertiup angin sore kala itu dengan tatapan tajamnya.

“Oppa,, waeyo?” tanya Hanmi sekali lagi.

Tae Oh menarik napas dalam-dalam. “Hanmi-ya,,” panggilnya pelan dengan suara yang tertahan.

“Heum?”

“Apa kau menyukaiku?” tanya Tae Oh dengan lantang, berbeda dengan saat ia memanggil Hanmi tadi. Gadis kecil itu mengerjapkan matanya cepat. Tae Oh mengulang pertanyaannya. “Apa kau menyukaiku? Karena kalau kau menyukaiku, aku akan selalu bersamamu. Karena kalau kau menyukaiku—”

“Aku juga menyukaimu, Oppa,” potong Hanmi malu-malu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Karena kalau kau menyukaiku, kau harus menungguku kembali saat dewasa kan, Oppa?” tanyanya tanpa melepaskan kedua tangannya yang menutupi wajahnya.

Tae Oh menurunkan telapak tangan Hanmi yang menutupi wajah mungilnya pelan, lalu menggeleng. “Karena kalau aku menyukaimu, itu berarti aku harus menemuimu, karena aku laki-laki. Jadi, tunggulah aku. Aku akan menemuimu disana,” ujarnya lancar, yang diangguki cepat oleh Hanmi.

“Yaksok?”

Tae Oh mengangguk yakin, mengulurkan jari kelingkingnya kearah Hanmi. “Yaksok.”

 

xxx

 

Asan medical center, 88 Olympic-ro 43-gil, Songpa-gu, Seoul.

20.30 KST.

Sehun melangkahkan kakinya pelan menyusuri lorong salah satu rumah sakit terbaik di Seoul ini seraya menenteng sekantung plastik besar keperluan harian Ayahnya yang memang di rawat disini dan Ibunya yang setiap hari menunggui.

Ia tadi memutar kemudi mobilnya kembali ke kampus, berniat berbaikan dengan Hanmi, tapi gadis itu sudah pergi, mungkin ia sudah sampai dirumah, pikir Sehun. Jadi ia putuskan untuk pulang berganti pakaian dan langsung kerumah sakit menemui Ayahnya.

Sehun membuka pintu ruang rawat Ayahnya yang berada di kelas VVIP itu pelan, lalu menutupnya lagi. “Aku datang, Ayah, Ibu..” sapanya sambil meletakkan kantung plastik bawaannya di meja.

“Ah ya.. Kau sudah pulang,” sahut Tuan Oh yang kemudian meminta tolong Nyonya Oh untuk membantunya bersandar di sandaran ranjang. “Mendekatlah kemari,” ujarnya mengayunkan tangannya kearah Sehun.

Sehun mengerjapkan matanya cepat. “Nde..”

“Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu. Ini mengenai masa depan perusahaan kita,” Tuan Oh menggenggam tangan Sehun yang menggantung disisi tubuhnya. Mengamati dengan seksama perubahan air muka putra pertama dan satu-satunya yang ia dan istrinya miliki itu tanpa berkedip. Entah apa yang akan terjadi jika ia memberitahukan sesuatu yang tentu akan menimbulkan polemik berkepanjangan di keluarganya itu saat ini. Bahkan, putranya ini baru saja “membuat pengakuan dosa” dan berjanji akan berubah demi dirinya dan sang Ibu yang entah sedang melakukan apa di sisi kiri tubuhnya yang terbujur kaku di ranjang pesakitan.

Pria bernama lengkap Oh Sehun yang juga putra tunggal yang disebutkan Tuan Oh ini mengerjapkan matanya cepat. Ia punya firasat buruk mengingat Ayahnya tak pernah berbicara dengan nada rendah dan terdengar putus asa seperti ini jika tidak ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Ia ingat sekali, Ayahnya terakhir kalinya berbicara dengan intonasi yang sama saat Ibunya hampir meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Ia juga tahu perusahaan yang dibangun dan dipimpin langsung oleh Ayahnya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja saat ini. Sejak Ayahnya jatuh sakit, tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk mengelola perusahaan dengan baik.

Sehun? Ia tidak belajar tentang bisnis, atau mungkin belum. Ia baru mengejar impiannya menjadi seorang musisi sebelum akhirnya ia melanjutkan pendidikan bisnis setelah perkuliahannya di bidang musik selesai. Tapi bahkan jauh sebelum ia menyelesaikan perkuliahannya, Ayahnya jatuh sakit dan memaksanya untuk mengurus perusahaan meski ia tidak tahu menahu soal bisnis.

Nyonya Oh hanya menundukkan kepalanya dalam disisi lain ranjang, menyibukkan dirinya sendiri agar tak perlu mendengar atau melihat ekspresi yang akan dikeluarkan anak semata wayangnya nanti jika ia tahu yang sebenarnya. Ia tidak merasa ini akan berjalan lancar seperti yang suaminya katakan tadi, sesaat sebelum Sehun datang.

Sehun memaksakan nada bicaranya tak berubah hanya karena perasaannya yang mendadak tidak enak. “Ada apa, Ayah..”

Tuan Oh menarik napasnya sebentar, menghembuskannya pelan sekaligus mengaturnya agar tak terlalu kentara jika ia gugup dan takut.

“Perusahaan kita, terancam bangkrut,” Tuan Oh mendesah, memegangi kepalanya yang berdenyut itu dengan satu tangannya yang masih tersambung dengan selang infus.

Deg!

Sehun tersentak. Meski ia tahu ini akan terjadi tapi ia masih saja terkejut begitu mendengarnya langsung dari mulut Ayahnya. Tuan Oh menatap wajah Sehun yang jelas menunjukkan keterkejutan itu sayu. Ia lalu meminta Sehun mendekat.

“Ini salahku, Ayah.. Ini.. Ini semua..”

“Bukan, Nak. Ini karena Ayah tidak punya orang kepercayaan yang bisa Ayah andalkan saat Ayah sedang tidak ada di sana. Ini bukan salahmu..”

“Tidak, Ayah. Kalau saja, kalau saja aku belajar bisnis dari dulu, kalau saja..”

Tuan Oh mengusap lengan Sehun. Menutupi rasa frustasinya demi menjaga agar Sehun tak merasa bersalah atas kejadian ini.

“Ada satu cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Tapi Ayah tak yakin bisa melakukannya.”

Sehun mendongakkan wajahnya. Penasaran.

“Perusahaan bisa kembali normal kalau saja Ayah dapat pinjaman dari investor Chaebol yang masih mau percaya pada Ayah. Hanya saja, ia (investor) mengajukan penawaran lain yang Ayah yakin tak sanggup lakukan.”

“Maksud Ayah?”

Tuan Oh kembali mengatur napasnya yang kian memberat. “Presdir dari Grup Ssangyyong bersedia meminjamkan berapapun dana yang kita butuhkan asal Ayah mau menikahkanmu dengan putrinya. Putrinya, ia teman sekolahmu di SMU. Ia bilang pada Ayah, putrinya sangat menyukaimu. Itulah mengapa ia bersedia menggelontorkan berapapun dana yang kita butuhkan.”

Sehun mundur ke belakang. Tercekat. Tubuhnya menegang seolah tak bisa digerakkan sesuai keinginannya begitu ia mendengar kata pernikahan itu keluar dari bibir Ayahnya yang masih membiru. Nyonya Oh meletakkan vas bunga di tangannya cepat dan beralih menghampiri Sehun, mengusap dadanya yang jelas bergemuruh, bermaksud menenangkan Sehun agar tak meledak-ledak.

“Maksud Ayah? Ayah memintaku menikah?” tanya Sehun tak percaya.

Sehun mengerjapkan matanya cepat. Di sisi lain ia mengerti posisi Ayahnya yang kini sedang sakit dan masalah perusahaan yang pelik. Tapi di sisi lain ia tidak bisa mengorbankan Hanmi untuk masalah ini. Ia tidak bisa membiarkan pernikahan ini terjadi, ia tidak sanggup dan tidak mau melihat Hanmi-nya pergi dari sisinya.

“Bukan. Tidak, tentu saja tidak sekarang. Hanya pertunangan. Setelah itu Ayah akan berusaha membayar hutangnya agar kau tak perlu menikah dengannya.”

Sehun mendecih. Ia bukannya tidak mau melakukannya. Ia merasa bersalah karena menyebabkan semua kekacauan ini. Sejak kecil ia sudah banyak menghabiskan uang Ayahnya untuk bermain, bahkan hingga ia lulus SMU, ia masih belum bisa berhenti menghamburkan uang. Ia suka berpesta dan mengikuti balapan liar di jalanan.

Dan sekarang, saat ia akan berubah menjadi anak yang baik dan berbakti, ia malah terperosok makin jatuh. Ia baru saja akan menjalani hubungan yang serius dengan Hanmi dan kini ia harus menerima kenyataan pahit jika Ayah memintanya menikah dengan orang lain demi menyelamatkan perusahaan.

What the hell?

“Kau tidak perlu melakukannya kalau kau tidak bisa lakukan, Nak. Ayah baik-baik saja jika harus melepas perusahaan. Hanya saja, uang kuliah dan biaya hidup kita yang semakin meningkat, Ayah tak yakin sanggup. Kau tahu Ayah tak bisa lagi berdiri seperti dulu, Ayah akan tetap seperti ini. Dan lagi, hutang yang tak terhitung jumlahnya akan terus mengejar Ayah. Ayah tak bisa membiarkanmu dan Ibumu hidup tidak baik. Itu semua terserah padamu.”

Sehun mengepalkan tangannya yang menggantung di sisi kiri dan kanannya kuat. Entah apa yang harus ia lakukan. Meskipun Ayah bilang akan berusaha membayar hutangnya agar ia tak perlu menikah, tetap saja itu bukan jaminan kalau ia tak harus menikah. Semua bisa berubah. Dan ia tak mau meninggalkan Hanmi-nya. Tak akan pernah.

Nyonya Oh mengusap punggung Sehun lembut, masih berusaha menenangkannya. “Aku akan memikirkannya dulu.”

“Ayah tidak memaksamu, Nak. Itu semua terserah padamu.”

“Aku mengerti, Ayah. A—aku harus pergi,” ujarnya dengan terbata lalu berbalik pergi meninggalkan ruang rawat Ayahnya dengan langkah gontai seraya menutup pintunya pelan.

“Apa kau berbohong padanya? Kau bisa berjalan dan dokter bilang, kau bisa pulih dalam beberapa waktu..” Nyonya Oh menatap khawatir kearah putranya yang baru beberapa detik lalu masuk ke dalam lift itu, lalu menutup pintunya lagi, berjalan menghampiri Tuan Oh yang duduk dengan sehatnya tanpa memasang wajah sendu seperti tadi saat Sehun masih berada disana.

Tuan Oh turun dari ranjangnya, memakai sandal rumah sakit sambil melepaskan kantong cairan infus dari tempatnya untuk ia bawa. Ia menoleh kearah Nyonya Oh yang menatap keluar jendela. “Apa ia bahkan mau menerima perjodohan ini kalau aku tidak menggunakan cara ini? Kau tahu ini satu-satunya jalan untuk tetap menjadi kita yang sekarang. Ia akan baik-baik saja, Min Jung-ah. Kau tenanglah,” ujarnya berusaha menenangkan istrinya yang jelas sedang berkecamuk hatinya.

“Aku mengabaikan kebahagiaan Sehun untuk tetap menjadi aku yang sekarang. Apa itu yang terbaik?”

Tuan Oh mengiyakan lalu masuk ke dalam kamar mandi sambil menenteng infus ditangan kanannya, seperti seorang pasien rumah sakit yang sudah boleh pulang kerumah besok pagi. Sementara Nyonya Oh mengurut keningnya gusar, tampak gurat-gurat kekhawatiran jelas tercetak di wajah mulusnya yang tak termakan usia itu.

 

xxx

 

706-13 Yeoksam-dong, Gangnam-gu, Seoul.

22.30 KST.

Hyungsik membuka pintu rumahnya pelan. Tidak biasanya ia pulang ke rumahnya selarut ini. Biasanya ia akan langsung ke apartemen dan bukannya ke rumahnya. Seorang wanita langsung menghambur kedalam pelukannya begitu ia menutup pintu rumah. Wanita itu enggan melepaskan tautan tangannya dari perut Hyungsik, memeluknya erat dari arah belakang.

“Hei! Lepaskan! Orang lain bisa salah paham,” ujar Hyungsik mencoba melepaskan tautan tangan wanita cantik yang mengenakan kaus ketat berpotongan dada rendah itu, Kang Seul Gi. “Ah.. Kau ini! Selalu saja menyelinap kerumah orang. Apa kau tidak takut diteriaki pencuri, huh?” ketus Hyungshik menatap kesal kearah Seul Gi yang tersenyum jahil di sampingnya.

“Apa kau setega itu sampai berniat meneriakiku sebagai pencuri? Apa aku terlihat seperti seorang pencuri?” tanyanya seraya mengerucutkan bibirnya lucu menatap iris mata kecokelatan Hyungshik yang tajam. “Bibi benar. Kau terlihat sangat tampan sekarang. Whoaa..”

Hyungshik tersenyum kecil, mengacak kasar puncak kepala gadis berambut pirang ini gemas. Gadis ini, Seul Gi, baru beberapa hari yang lalu pulang dari New York, dan Hyungshik memang sengaja belum menemuinya karena ia baru akan mengejutkannya nanti di akhir pekan. Tapi sepertinya gadis berpipi tembam ini tak mau menunggu waktu selama itu untuk bertemu dengan sepupunya ini.

Seul Gi adalah putri tunggal dari adik laki-laki Ibu Hyungshik. Yang artinya ia adalah anak dari Paman Hyungshik. Sedangkan Hyungshik mengikuti marga Ayahnya, Park Hyeon. Orang tidak akan ada yang tahu mereka adalah sepupu jika Seul Gi atau Hyungshik tidak memberitahukannya karena perbedaan marga mereka. Itu normal untuk banyak sekali silsilah kekeluargaan di Korea, bukan?

“Kau pulang malam sekali. Apa di kampus Korea jam perkuliahan normal pulang selarut ini, heum?” tanyanya seraya mengalengkan tangannya di lengan Hyungshik yang memasukkan satu tangannya ke saku hoodie yang dikenakannya.

Hyungshik menyentil pelan hidung mancung Seul Gi. “Aku murid yang pintar dan rajin. Tidak sepertimu yang menghabiskan banyak waktu dan uang dengan sia-sia dan tak berguna. Apa yang kau dapat setelah empat tahun kau belajar, huh? Adakah? Tidak ada, kan?”

“Hah! Kata-katamu masih saja sama menyakitkannya dengan dulu. Sepupu macam apa kau ini. Menyakiti hati gadis yang baik dan lembut sepertiku. Jahat sekali, huh..”

“Kau memang butuh banyak asupan kritikan seperti itu. Supaya kau lebih giat dan semangat mengejar impianmu. Kau terlalu lama berkutat dengan kesenangan yang tidak penting. Mulailah belajar dan bekerja dengan baik.”

“Kau mulai bossy lagi, Park!” protes Seul Gi sambil memperhatikan penampilan Hyungshik yang masih sama sejak ia pergi ke New York. Masih kelewat sederhana dan polos. “Jangan bilang kau masih berlagak seperti orang biasa di kampus,,” tebak Seul Gi yang sebenarnya memang tanpa perlu menebak pun ia sudah tahu.

Hyungshik melengos, memutar bola matanya jengah seakan muak dengan pertanyaan yang selalu Seul Gi lontarkan sejak ia sekolah menengah. Memangnya, apa bagusnya menjadi orang yang punya segalanya? Apa hebatnya menjadi “bukan orang biasa” dibanding yang lain. Ia terlalu sibuk jika hanya untuk menyombongkan diri di depan banyak orang.

Setidaknya, ia takkan dipusingkan oleh para gadis dan orang tua mereka yang akan mencoba mendekatinya jika tahu sebenarnya ia juga salah seorang pewaris. Well, meskipun tidak sekaya orang tua Choi Si Won dari boy grup kawakan Super Junior. Tapi tetap saja, orang tuanya punya andil besar memajukan perekonomian Korea Selatan dengan bisnis retail dan propertinya. Bisnis keluarga yang turun temurun dari sejak kakek buyutnya masih hidup.

Lagi pula, Hyungshik bukan type orang yang suka menyombongkan diri dengan kekayaan dan fasilitas yang orang tuanya berikan untuknya. Ia lebih suka menjalani kehidupan “biasa”nya tanpa terbebani masalah bisnis keluarga yang memusingkan. Untung saja, orang tuanya bukan termasuk jajaran orang tua yang “kolot” dan berpikiran kuno. Jadi ia bisa dengan bebas melenggang kemanapun dan melakukan apapun yang ia inginkan selama masih dalam batas kewajaran dan tidak melanggar aturan-aturan yang sudah mereka sepakati sebelumnya.

Seul Gi mendecakkan lidahnya. “Heii.. Kau ini tampan. Kau juga kaya. Dan lagi, kau ini pria yang baik dan lucu. Seharusnya kau bisa mendapatkan setidaknya satu wanita yang kau inginkan tanpa harus bersusah payah menyamarkan dirimu seperti orang biasa kebanyakan. Kau ini benar-benar aneh. Orang lain pasti akan menggunakan kesempatan itu dengan baik bukannya sepertimu. Dasar aneh,” ocehnya dengan nada seperti penceramah.

Hyungshik menaikkan satu alis matanya, kemudian tersenyum kecil. “Kau pulang untuk meneruskan kuliahmu, bekerja di perusahaan yang dibangunkan Ibumu, atau untuk mengejar cintamu?”

Seul Gi mendecih kesal. Ia heran bagaimana bisa Hyungshik selalu membalikkan kata-katanya dengan mudah. Untung saja pria tampan berlesung pipit ini adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya sejak kecil. Kalau bukan, ia sudah pasti menendangnya keras sejak tadi ia menginjakkan kakinya di rumah besar berarsitektur mediterania ini.

“Selalu saja mengalihkan pertanyaan,” keluhnya sambil mencubit kecil lengan kekar Hyungshik yang tertutupi hoodie. “Oh.. Apa kau sudah menyatakan cintamu pada gadis itu? Ah.. Siapa ya namanya.. Heum.. Park Han Mi? Aku benar, kan?”

“Aku sudah ditolak lebih dari 100 kali. Kau terlambat jika menanyakan hal itu sekarang,” jawab Hyungshik cepat sambil melepaskan tautan tangan Seul Gi dan menanggalkan jaket yang dikenakannya itu untuk kemudian ia letakkan di sofa ruang tengah. “Kau sudah makan?” tanyanya seraya berjalan kearah dapur, mengambil air mineral dingin dari dalam kulkas dan meneguknya cepat.

Seul Gi mengangguk. “Aku punya kejutan untukmu,” ujarnya. “Aku yakin kau pasti akan terkejut kali ini,” lanjutnya.

“Heum? Apa?”

Seul Gi mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Hyungsik. Untuk sesaat Hyungshik terlihat mengerutkan keningnya bingung. Sesaat kemudian ia menolehkan kepalanya cepat menatap Seul Gi yang mengulum senyumnya penuh arti. “Are you kidding me?” tanyanya tak percaya.

Seul Gi menggeleng cepat. “Aniyo!” jawabnya lantang.

Apa yang dibisikkan Seul Gi ditelinga Hyungshik hingga pria tampan yang biasanya sangat humoris dan penuh senyuman itu tiba-tiba saja mengerutkan keningnya serius??

 

To Be Continue

 

Annyeong!!

Aku Lynn.. Dan ini postinganku yang kedua di SKF. Sebenarnya kembaranku yang posting kekeke.. Aku yang nulis dia yang ngedit+posting. Soo big thanks buat kembaranku kiss emotikon kiss emotikon kiss emotikon semoga ga bosen direpotin istrinya Luhan ya.. Hihi

Oh ya,, di chapter 1 kemarin belum banyak ngomong karena aku emang bingungan dan ga bisa bikin note. Jadinya ancur begini note-nya hihi. Terima kasih banyak ya buat kalian yang udah mau baca dan sempetin komentar di That XX ini. Sekali lagi, FF ini ga berpusat ke konten “NC” yang mungkin ada di pikiran beberapa dari kalian. Jadi tolong hilangkan pikiran buruknya dan mulai fokus ke jalan ceritanya, ya..

Dan juga, dibiasakan berkomentar setelah membaca. Itu penting bgt biar aku bisa tahu perasaan dan uneg2 kalian setelah baca FF ini. Kritik dan saran sangat aku butuhkan untuk menulis kelanjutan kisah yang memusingkan ini. Karena pas kalau tiba waktunya di-PROTECT nanti, aku bisa tau mana yang bener2 ngikutin dan mana yang jadi siders. Jadi pembaca yang baik, ya?

Udah ah.. Kebanyakan note jadi ngelantur gini jadinya. Hehe.. Sampai ketemu di chapter 3, semuanya!! Hwaiting!!

Big love,

Lynn

192 responses to “[Freelance] THAT XX (Chapter 2)

  1. Tae oh = Kai/Kim Jongin. Calon Sehun –> Seulgi. Hyunsik tersenyum karena Sehun akan tunangan dengan Seulgi dan otomatis Hanmi akan lajang. Hyunsik belum tahu padahal masih ada Kai yang obsesi banget sama Hanmi dan Sehun juga enggak mungkin ninggalin Hanmi gitu aja.. Btw yang jemput Hanmi itu pengawal bokap nya kan? Apa aku salah?

  2. wahh complicated banget masih banyak yang belum jelas dari hubungan kai sama sehun trus perjodohan ohseh sama kelanjutan kisahnya si hanmi dia bakalan sama jong atau sehun ya? atau hyunsik? penasaran banget nihh hehe

  3. Waaah curiga seulgi yang jadi calonnya sehun, jahat juga ayahnya sehun sampe bohong juga waah gimana nanti sama hanmi coba kalo sehun mau dijodohin dan hubungan semua ini sama awal chap 1 dan cewe itu siapaa aaah excited sekalee sampe gregetan bacanya, complicated juga ceritanyaa banyak flashbacknya juga yaa dan btw jongin pernah dipenjara karna sehun(?) Dan sebabnya kenapaa aaa

  4. wooah sehun mauu dijodohin,sama siapa yah? kesempatan tuh buat joongin kkk sebenernya aq lebih suka hunhan dari pada kaihan ,, btw izin baca chapter selanjutnya ya thor.

  5. Waa sehun di jodohin nasibnya hanmi kek apa (?) sm jongin aja udh 😀 anak kecil yg namanya tae oh itu jongin y kok bisa jd tae oh pas kecil trs udh gede jd kim kai/kim jongin (?) hanmi msh inget gk y sm tae oh kira2 😀

  6. Apa perlu sampai papa nya sehun acting gtu buat jodohin anaknya? :`v
    Gmna nasib hanmi nantii? :”vv
    Lanjuut yaaaa fightinggg^^

  7. Bagua thor, diksinya bagus gak ngebosenin. Thor boleh saran? Buat flashback mungkin kalo dicetak miring lbih bagus deh, biar lbh mudah ngebedainnya. tetal smngat tho

  8. eh kok aku mikirnya ini seulgi yg bakalan ditunangin sama sehun ya? iyakah?
    terus tadi sehun marah marah ke hanmi kenapa? masalah hyungsik kah? gileeee hyungsik nginep di rumahnya hanmi wkwkwkwkwk. terus juga jongin ngapain suruh hanmi nemuim dia tapi udah suruh pulang gitu nyebelin banget sumpaaah -_-
    sm tadi kan ada gangster gitu katanya jongin emg tuh orang siapa addduh penasaran banget sumpah. keep writing ya lynn^^

  9. Di chapter ini feel yang aku dapet lebih bermain2 di sehun. Aku ngerasa sehun posesif banget sama Hanmi tapi di lain sisi wajar juga sih kalo dia ngerasa terancam dengan kehadiran jong in yang bermasalah sama dia dulu. Lebih kasian lagi tau dia mau dijodohin itu kayak kehidupan dia penuh tekanan /poor sehun/ :’)
    Hanmi keren juga ya disukain sama 3 cowok kekeke tapi tetep berharap ntar endingnya sama bang kai hohoho
    Good job deh buat authornya 😀

  10. Baru sadar komen aku ga masuk padahal udah komen sampe chapter 2 ㅠ.ㅠ jadi aku satuin disini yaa :’)
    Di chapter satu sendiri aku dibikin penasaran sama hubungan scene yang awal2 ada taemin itu sama scene2 selanjutnya. Terus juga hubungan kai-sehun yang sepertinya berkonflik juga. Dan terkuak masa lalu tiga tokoh utama ini di chapter 2. Kalau dari segi penulisan, alur, menurut aku udah bagus.
    Sebenernya aku agak kesel juga sih sama sehun kayak posesif gitu sama Hanmi tapi ya disisi lain wajar juga dia nganggap kai sbg ancaman dan hanmi malah sering interaksi sama kai. Well, aku musti baca chapter 3 dulu nih hehehe

  11. Woah. Jadi tae oh itu jongin.
    Manis banget kalo fb pas mereka masih kecil. Ya semoga saja takdir berkata lain. Dua kali hanmi udah di selametin jongin. Sebenernya siapa yang mau dijodohin ama sehun seul gi apa hanmi. Aku curiga pas hanmi dipaksa sekawanan berjas buat ikut mereka. Jangan” dia kabur dari rumah lagi.

  12. Pingback: [Freelance] THAT XX (Chapter 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Hem jangan2 yg mau ditunangin sama sehun itu seulgi ya? Semoga salah deh.. makin pelik aja hubungannya sehun sama hanmi.. tapi ceritanya tetep makin seru kok.. kekeke ^^

  14. hanmi sama kai pernah ketemu pas masih kecil yaa, tapi si hanmi nya ga tau kalau si kim tae oh/? itu kai,, semoga aja hanmi inget sama kai hehe

  15. Sehun ini pakek acara marahan juga :3 kasihan noh hanmi sampek” pulang mau di culik/? Sama gangster untung ada kai yang nolongin kalau nggak mungkin hanmi udah ekk 😀

    tae-oh itu kai?

    Sehun di jodohin oleh bapaknya hanminya gimana nanti apa dia sama kai? Atau hyunsik?

  16. Hanmi belom tau yaa kalo Jongin itu Tae Oh? dan itu Sehun bakalan nikah? ayahnya Sehun bener bener jahat yaa. sikapnya Sehun posesif banget sampe ngediemin Hanmi, terua gimana coba perasaan Hai kalo Sehun bakalan dijodohin…
    aku juga masih penasaran sama chapt 1 yang part nya Taemin, itu ceweknya siapa? huaaaa
    ijin baca next chapt nya ya thor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s