As a Friend? – Angelina Triaf

jung

Angelina Triaf ©2015 Present

As a Friend?

Yoon Jeonghan (Seventeen) & Ryu Hana (OC) | Hurt | G | Ficlet

“Do you still remember our promise as a friend?”

0o0

“Ryu, ayo pulang!”

Mataku terfokus padanya yang tengah melambaikan tangan di kejauhan. Kubalas lambaian tangannya dan merapikan tasku dengan cepat. Setelah berpamitan dengan anggota yang lain, aku berlari secepat mungkin menaiki anak tangga untuk mencapainya. Cahaya senja menyinari rambutnya, membuatnya berkilau cantik.

Hehe, terkadang aku lupa bahwa Jeonghan itu laki-laki. Ia sangat cantik.

“Bagaimana harimu?”

Selalu seperti itu. Kami berjalan santai keluar dari area kampus, berbelok ke kanan menuju stasiun yang jaraknya memang lumayan jauh. Tangan kami saling terkait, dan itu membuatku nyaman. Tak jarang pula kami tertawa karena hal-hal yang kami bicarakan. Atmosfer di sekitar kami berbeda, dan itu menyenangkan.

Namanya Yoon Jeonghan, bisa dibilang ia adalah teman kecilku. Dulu wajahnya tidak seperti itu. Ia tampan dan masih kuingat jelas rambutnya yang tipis itu selalu dipotong sangat pendek. Berbanding terbalik dengan sekarang, ia memanjangkan rambutnya, bahkan terlihat lebih cantik dariku.

Kami berpisah saat lulus Sekolah Dasar. Orangtuanya menetap di Jepang karena pekerjaan. Mungkin budaya di sana membuatnya terinspirasi untuk memanjangkan rambutnya seperti salah satu tokoh anime. Hah, Jeonghan ini memang ada-ada saja.

Hingga di sinilah kami, aku bertemu dengannya tanpa sengaja. Kami dipilih sebagai best couple saat hari terakhir orientasi. Hebatnya, ia masih mengenaliku padahal aku sudah banyak berubah. Ia memang hebat.

“Mau main ke taman? Biasanya di malam Rabu ada kumpulan pemusik jalanan dan anak-anak yang bermain kembang api. Kita bisa beli eskrim juga.”

Aku hanya mengangguk setuju. Benar, kan? Jeonghan bahkan tahu hal-hal semacam itu. Ia selalu membawaku jalan-jalan ke manapun. Tangannya masih terkait denganku, membuatku teringat dengan kenangan kami semasa kecil.

Dulu aku adalah anak perempuan yang manja dan cengeng. Rambutku hitam panjang hingga banyak anak lain yang bilang bahwa aku mirip sadako, belum lagi karena kulitku yang putih pucat. Kukira aku memang ditakdirkan untuk menjadi anak penyendiri. Tapi kala itu Jeonghan yang menggendong tas berwarna kuning terang datang menghampiriku, memberikan satu kotak kecil susu stoberi.

“Hai, namaku Jeonghan.”

Ia yang selalu menemaniku. Ia teman terbaik yang kumiliki.

Nah, kami sudah sampai di taman yang Jeonghan katakan tadi. “Eskrim stoberi, kan?” tanyanya padaku. Aku lagi-lagi hanya mengangguk, hingga ia memberikan satu cone besar eskrim stoberi untukku dan di tangannya juga ada eskrim yang sama, namun rasa vanila.

Kami kembali berjalan untuk mencari spot yang bagus. Katanya beberapa menit lagi para pemusik jalanan akan memulai nyanyian mereka. Sudah lima menit mungkin kami berkeliling, hingga akhirnya menemukan satu bangku taman yang jarak pandangnya memang bagus untuk melihat kumpulan pemuda di dekat air mancur yang tengah menyiapkan alat musik mereka. Kami terdiam cukup lama, khusus untukku karena mataku terlalu sibuk memerhatikan para pemuda itu dan mulutku yang masih asyik dengan eskrim.

“Akhir-akhir ini kau selalu pulang sore.” Ia menatapku penasaran, wajahnya sangat lucu seperti itu.

“Jisoo sedang kerepotan karena banyak junior yang kurang bagus kinerjanya, makanya aku membantunya. Pensi tahun ini harus jadi yang paling meriah. Ini tahun terakhir kita, kan?”

Aku tersenyum padanya, dan ia hanya mengangguk. Kembali fokus dengan eskrimku, lagi-lagi kami larut dalam keheningan. Perlahan suara musik mulai terdengar, mengalun dengan indah membuatku tenang. Hari ini memang melelahkan karena deadline yang semakin dekat. Hah, aku tak tahu apakah masih bisa hidup untuk seminggu ke depan. Tubuhku sangat lelah.

Hingga diriku dikagetkan oleh sesuatu yang menempel di bibirku; ibu jarinya yang mengusap eskrim di bibirku. “Dasar anak kecil,” ucapnya kemudian lalu tertawa, membuatku memukulnya karena telah mengagetkanku.

Butuh waktu lama untuk kami kembali tenang jika sudah asyik tertawa seperti ini. Kuhabiskan suapan eskrim terakhirku dan menetralkan wajah, kembali tenang atau akan ada banyak orang yang memerhatikan kami nantinya. “Ryu, malam ini bintangnya banyak, ya?”

Mendengar itu membuatku refleks mendongakkan kepala untuk melihat langit. Memang tak terlalu banyak lampu yang menerangi taman ini, sehingga aku bisa melihat banyak bintang menggantung di langit. Sangat indah. Jam berapa sekarang?

“Sekarang jam berapa?” tanyaku pada Jeonghan. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya padaku. Tak terasa sudah pukul delapan malam. Mengapa waktu berjalan sangat cepat jika aku bersama Jeonghan?

“Ayo pulang…” ujarku sambil menarik lengannya seperti anak kecil. Biasanya Jeonghan akan langsung luluh dengan tingkahku yang seperti ini.

Ia mencubit pipiku lalu kami pun pergi dari taman, tak lupa melewati pemusik yang tadi dan memberikan sejumlah uang. Mereka memainkan lagu dengan sangat bagus malam ini.

Kami kembali mengaitkan jemari bahkan sampai stasiun. Kakiku rasanya ingin langsung menempel di tempat tidur dan melupakan sejenak bagaimana caranya berdiri. Namun Tuhan berkata lain, kereta malam ini sangat penuh dan kami terpaksa harus berdesakan agar bisa masuk.

“Kya!” Aku hampir terjatuh jika saja Jeonghan tak menahan pinggangku. Tangan kirinya masih berpegangan pada pegangan kereta, dan tangan satunya menahan tubuhku, membuatku terpaksa memeluknya karena tinggi kami yang tak imbang.

“Dasar pendek,” katanya sambil menjulurkan lidah. Ya, jika saja kereta ini tak penuh mungkin aku sudah menendang kakinya. Tapi dengan aku menendang kakinya sama saja dengan membuat tubuhku terjatuh.

Hah, waktu lima belas menit pun terasa sangat lama bagiku. Mungkin aku sudah terlalu lelah malam ini. Setelah ini kami masih harus berjalan menembus dua kompleks untuk sampai di rumah. Rumahku dan Jeonghan itu berseberangan, orangtuanya memang tak pernah menjual rumah lama mereka karena mereka yakin akan kembali ke Seoul suatu saat, dan itu adalah tiga tahun yang lalu.

Malam ini memang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Suasana hening dan terasa damai, jika saja tubuhku tak terlalu lelah mungkin malam ini akan menjadi salah satu malam favoritku. Juga, tangan Jeonghan sama sekali tak ada tanda-tanda untuk melepaskan kaitannya dari tanganku. Hal ini memang sudah biasa terjadi di antara kami. Tapi―ah, sebaiknya aku harus memberitahunya nanti.

“Sudah sampai,” katanya begitu langkah kaki kami menginjak rerumputan di halaman rumahku. Kukira Jeonghan akan langsung pergi seperti biasanya, namun tangannya malah menggenggamku semakin kuat. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Aneh, tak biasanya Jeonghan seperti ini. Bahkan rambutnya tertiup angin―dan aku baru menyadarinya. Tak biasanya ia membiarkan rambutnya terurai. Hm, ada sesuatu dengannya.

“Apakah kau masih ingat dengan janji kita saat kelas enam?”

Janji? Saat kelas enam?

“Jeonghan-ah, aku benci dengan Miyoung!”

 

Ah! Kuingat saat itu hari selasa sore. Aku dengan tiba-tiba menghampirinya yang sedang membaca buku di halaman rumahnya. Wajahnya menyiratkan kebingungan saat aku datang dan langsung marah-marah tak jelas.

“Memangnya kenapa?”

 

Siang sebelumnya aku bermain dengan beberapa anak perempuan teman sekelasku. Mereka memang kurang suka padaku karena aku sering bermain dengan anak laki-laki, terutama Jeonghan. Mereka selalu mengejekku jika aku adalah kekasih Jeonghan. Ya namanya saja anak kecil yang polos, saat itu aku marah dan langsung menghampiri Jeonghan, meminta pembelaan.

“Jeonghan bukan kekasihku, kan? Kita kan sahabat.”

 

Kuingat wajah Jeonghan kala itu, entah mengapa wajahnya sama persis dengan ia yang kini masih menatapku dalam diam. Hah, sepertinya aku terlalu lama berpikir. “Iya, aku ingat,” jawabku akhirnya.

“Pita itu… Apakah aku boleh mengambilnya sekarang?”

Deg!

Tidak mungkin Jeonghan…

“Tentu saja bukan. Kita kan sahabat.”

 

“Jeonghan harus berjanji padaku.”

 

Napasku berhenti sesaat. Kuingat jika saat itu, setelah mendengar jawabannya aku malah melakukan hal konyol; kembali ke kamarku hanya untuk mengambil dua pita rambut kesayanganku, warna biru dan merah muda.

Aku yang memulainya, aku memintanya berjanji padaku bahwa kami adalah sahabat selamanya, apa pun yang terjadi. Tapi janji itu berjalan dengan cara yang lain. Bodohnya, entah mengapa aku menyetujuinya.

“Ayo berjanji untuk menjadi sahabat selamanya. Kita ikat pita ini di pohon ceri milik Appa.”

 

Kami masih terdiam, terutama aku. Aku… Aku tak tahu harus mengatakan apa saat ini. Aku benar-benar tak bisa bicara. Semua kalimat tersangkut di tenggorokanku begitu saja. Hanya angin malam yang masih terus berputar di sekeliling kami.

“Baiklah. Jika sudah besar nanti, kita harus memberikan pita masing-masing kepada orang yang kita sukai.”

 

Memang hanya Jeonghan yang memanggilku dengan nama depan. Memang hanya Jeonghan yang setia menungguku pulang setiap hari. Memang hanya Jeonghan yang kusayang selama ini.

Namun tetap saja, ia adalah sahabatku.

“Ah, Jeonghan menyukai seseorang? Manisnya… Hehe, siapa dia?”

Bukannya menjawab, kulihat matanya hanya terfokus di satu arah; dahan pohon tempat pita merah muda itu masih terikat dengan sempurna. “Kau sudah mengambil pitamu?”

Pandangannya jatuh pada wajahku, membuatku merasakan sesuatu yang menyesakkan. Kenapa wajahnya seperti itu? Apa aku melakukan suatu kesalahan? Aku hanya bisa mengangguk, menghindari tatapannya.

“Siapa?”

Nada suaranya berbeda, sedikit aneh di telingaku mengingat hanya suara keceriaan yang biasanya kudengar dari mulutnya. “Aku… Kuberikan pada Jisoo.”

Bersamaan dengan itu kuangkat tangan kiriku, menunjukkan cincin yang Jisoo berikan padaku dua hari yang lalu. He asked me out, my answer was yes.

Hening, wajahnya tak terdefinisi lagi. Hingga akhirnya satu embusan napas keluar dari mulutnya. Ia tersenyum padaku dan mengacak rambutku.

“Hah, kau ini bagaimana? Masa berita bahagia itu hanya disimpan seorang diri?”

Ia berjalan ke arah pohon, meloncat sedikit untuk meraih dahannya dan langsung melepas ikatan pita di sana. Ia kembali berjalan ke arahku, berdiri tepat di hadapanku dengan tangan yang memegang pita itu ia tunjukkan di depan wajahku.

“Seminggu lagi aku akan transfer ke Osaka, melanjutkan tahun terakhir di sana.”

A-apa?

“Jeonghan, bukannya kau bilang jika tak minat sama sekali dengan itu dan―”

“Aku berubah pikiran,” potongnya cepat. Ia mengeluarkan satu kotak susu stoberi dari tasnya dan memberikannya padaku. Jeonghan…

“Aku akan membawa pita ini untuk diikat di pohon sakura depan rumah nanti. Akan kukabari kau jika ada gadis Jepang yang berhasil mengambil hatiku.”

Tak disangka, ia mencium keningku. Cukup lama, sampai akhirnya matanya kembali menatapku dan ia tersenyum. “Aku akan sangat sibuk seminggu ini, jadi malam ini aku ingin bilang selamat tinggal sebelum tak sempat. Ryu, terima kasih untuk semuanya.”

Sekali lagi ia mengacak poniku lalu langsung pergi berjalan menuju rumahnya.

“Jeonghan! Ya, Yoon Jeonghan!”

Lihat? Bahkan ia masih lanjut berjalan dan tak mau berbalik lagi.

Apa? Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Bukankah memang itulah janji yang kami pernah ucapkan, untuk menjadi sahabat selamanya? Aku… Kukira Jeonghan tak akan seperti itu. Kukira Jeonghan memang menyayangiku karena aku sahabatnya. Aku tak pernah menyangka jika drama seperti ini akan terjadi di hidupku.

Maaf Jeonghan, menyayangimu sebagai sahabat sudah lebih dari cukup untukku. Kuharap kau benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang lain setelah ini. Annyeong

FIN

 

Ini request dari avlentcs hehe, Angel ambil castnya Jeonghan soalnya dia cantik jadinya masuk ke cerita kkk. Happy Reading^^

5 responses to “As a Friend? – Angelina Triaf

  1. Jadu mereka tetap sahabatan,,terkadang status frienship itu membuat kita sukar mengungkapkan perasaan dengan alasan takut persahabatannya gak sama kayak dulu lagi,,bagus ff nya ,,,aku suka
    Di tunggu untuk karya lainnya terutama yang cast nya seventeen terutama joshua a.k.a jisoo ….
    Makasih ….dan semangat authornim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s