I’ve Lost You – Angelina Triaf

lost

Angelina Triaf ©2015 Present

I’ve Lost You

Wen Junhui (Seventeen) & Lee Hyeri (Girl’s Day) | Hurt | PG-17 | Ficlet

“Awaken my sleeping heart, this night when I’m thinking of you.”

0o0

Tempat sampah di sudut ruangan itu telah penuh oleh tumpukan kertas yang kubuang. Terbilang satu jam sejak aku terpaksa kembali ke butik dan mengunci diri di dalam ruang kerja, mengerjakan sketsa pesanan yang tiba-tiba menghilang padahal harus segera kuberikan pada sang penjahit. Dunia memang tak adil.

Tidak, nyatanya semua ini tidak berguna. Sudah berulang kali aku menggambar yang sama persis dengan sketsa sebelumnya, namun nihil yang kudapat dalam pandangan. Kurasa aku ingin menyerah, atau setidaknya mungkin aku perlu berusaha untuk menemukan sketsa lama itu dan bukannya seperti orang bodoh memutar rute yang cukup jauh untuk kembali lagi ke sini. Ah, damn it!

Menggambar di bawah tekanan bukanlah keahlianku. Aku selalu bekerja dalam tenang, tak bisa diganggu oleh apa pun dan siapapun. Aku terbiasa bekerja sendiri, dan demi Tuhan sekarang sudah pukul satu malam sedangkan aku masih duduk di sini seperti orang bodoh. Hah, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Bisakah waktu berputar lebih cepat hingga aku tahu apa yang nantinya akan terjadi karena aku kehilangan sketsa itu?

Bruk!

Hell, mengapa tangan ini tak bisa diam dan malah menjatuhkan―hey, apa itu? Kuambil kotak yang jatuh akibat tanganku itu dari lantai. Aku buka isinya dan kudapati segalanya berputar. Dunia memang tak adil.

Mengapa benda itu harus muncul di hadapanku di saat seperti ini? Mengapa?

Mencoba mengabaikannya, aku kembali fokus dengan pensil dan kertas di hadapanku. Ayolah, selesaikan ini sekarang juga atau aku tak akan bisa hidup lagi untuk esok hari―tau lebih tepatnya pagi nanti.

Namun tak bisa, mataku ini malah semakin menatap penuh pada kotak itu. Mungkinkah kotak itu memiliki magnetnya tersendiri? Menyerah, aku menaruh pensilku sembarang di atas meja dan membawa kotak itu ke sofa. Aku duduk dalam diam sembari tangan membuka kotak itu perlahan.

Segala kenanganku bersamanya. Segalanya ada di dalam kotak itu.

Nuna, mau pulang sekarang?”

 

Aku tanpa sadar tersenyum melihat gantungan kunci kelinci yang tengah kupegang. Gantungan kunci mobilnya yang kuberikan di hari pertamanya bekerja. Ia sangat menyukainya, walaupun sebenarnya hal itu sangat kekanakan.

“Kenapa masih di sini? Ayo pulang.”

 

Kuingat ia yang dulu datang menghampiriku pukul sepuluh malam saat deadline membunuhku. Ia yang dengan setia menemaniku walau kantuk melandanya. Kuingat pula wajahnya yang lucu saat tertidur pulas di sofa. Ia merupakan anugerah yang Tuhan berikan dengan sempurna untukku. I was being grateful.

Nuna, apakah kau sangat mencintaiku?”

 

Ketika malam datang, biasanya ia akan menjadi lebih melankolis dari biasanya. Selalu saja hal tak penting berbau cinta itu ia tanyakan padaku. Apakah ia tak bisa berpikir? Tentu saja aku mencintainya, jika tidak untuk apa aku bersamanya?

“Entah mengapa melihat wajahmu rasanya hatiku sangat tenang.”

 

Mengapa aku tersenyum bodoh saat ini? Hanya dengan melihat foto-foto lama kami. Mengapa aku seperti ini? Bukankah tak seharusnya? Ya, seharusnya aku tak boleh seperti ini.

Ia mengkhianatiku.

Jangan pernah menilai sesuatu dari tampilan dan kata-kata manis menyebalkan, itulah yang selalu kutanamkan dalam pikiranku.

Namanya Wen Junhui, pemuda asal Cina yang merantau di Korea karena mendapatkan beasiswa saat kuliah. Kami satu universitas namun beda jurusan. Ia adalah junior yang baru masuk saat aku menjejaki semester lima. Kami terpaut tiga tahun.

Jangan pernah menilai sesuatu dari tampilannya. Ia sangat lucu dan manis, cantik dan tampan di saat bersamaan. Banyak gadis yang menyukainya dulu, namun entah mengapa takdir berkata lain. Kami tak sengaja saling mengenal, di perpustakaan sore itu. Seperti drama, ia membantuku mengambil buku di rak yang cukup tinggi.

Hingga saat aku lulus, he asked me out. Menjalin hubungan selama ini bukanlah perkara mudah. Ia masih terlalu muda untukku, sebenarnya. Tapi itulah, lidahnya bersilat manis di hadapanku. Selalu seperti itu. Lidahnya terlampau lihai untuk membutakanku dengan kata-katanya. Pembohong.

Ia mengkhianatiku.

Nuna, apa yang kau lakukan?! Jangan lakukan itu lagi atau aku akan marah padamu.”

 

Ia hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa. Saat aku stres dan rasanya ingin memuntahkan apa pun yang membuatku muak dengan dunia. Aku menyulut api di depannya, dan dengan seenaknya ia mematikan rokok itu dan menatapku lekat. Apa masalahnya? Aku hanya butuh ketenangan, yang bahkan tak pernah ia berikan padaku saat itu.

“Aku hanya lelah, Jun. Jangan terlalu kekanakan, aku bukan anak kecil lagi.”

 

Kala itu aku menatapnya tajam, tak mengerti dengan jalan pikirannya. Ia bertingkah manis di hadapanku, berucap mesra di telingaku, menciumku dengan lembut untuk menenangkanku. Tapi apa? Sekarang pun ia sudah tak ada lagi di hadapanku. Aku membencinya.

Ada perasaan marah tiap mengingatnya. Namun sialnya, he lingers in my head frequently and I hate it so much. Rasanya melelahkan.

Aku bekerja gila-gilaan selama setahun ini untuk melupakannya. Aku menjadi introvert akhir-akhir ini juga untuk menghindari munculnya perasaan pada siapapun seperti yang kualami dengannya. Sudah satu tahun―God, please set me free now

Let me be, and I’ll do everything to live properly.

Sudah cukup dengan semua flashback konyol ini. Aku berjalan menuju meja kerjaku dan mengambil sesuatu dari laci; satu bungkus rokok dan pemantik. Kembali kududuk di sofa dan menyalakan satu buahnya. Memejamkan mata, mencoba merilekskan diri dari semua tekanan ini. I can’t be underpressure for everything, entah itu pekerjaan ataupun masalah cinta. Aku tak bisa.

Nuna?”

Tidak, flashback ini harus segera dihentikan. Sungguh, tak ada yang lucu dari ilusi ini. Ia berjalan ke arahku, merebut rokok yang terjepit di kedua jariku dan langsung mematikannya dengan kedua jarinya pula. He’s crazy!

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak melakukan hal-hal konyol lagi?!”

Ia meledak di hadapanku. Hey dude, ada apa dengannya ini? “What’s wrong with you? Lagipula, untuk apa kau di sini? God, it’s two a.m dan apa yang kau lakukan di sini?”

Aku belum dalam tahap emosi, hanya kesal dan lelah. Aku masih duduk diam, menunggu ia bicara. Ayolah, bicara atau aku akan mengira jika kau hanyalah hantu iseng yang kebetulan lewat atau tidak kau hanyalah imajinasiku. Tak mungkin Jun bisa ada di sini jam dua pagi.

“Memangnya apa yang salah dengan jam dua pagi?” Ia menarik tanganku, membuatku ikut berdiri di hadapannya. Ia menatapku lekat. “Ibumu mencarimu dan ia meneleponku berkali-kali. Tidakkah Nuna bilang jika kita telah berakhir? Aku masih memiliki hati nurani untuk mencari Nuna kalau-kalau terjadi sesuatu denganmu.”

Tidak, jangan seperti ini. Kenapa Jun harus muncul sekarang di saat aku sedang lemah seperti ini? I can’t be underpressure for everything, dan pekerjaan serta kisah picisan ini membuatku ingin pergi sejauh mungkin.

Aku menarik napas panjang, balik menatapnya dengan pandangan jengah. “Seperti yang kau bilang, kita telah berakhir. Untuk apa kau masih mau datang ke sini―”

God, aku tak butuh adegan peluk-memeluk seperti ini. Yang kubutuhkan hanyalah ketenangan, karena jujur aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Aku tak ingin melihatnya lagi jika hanya mampu membuat sakit di hatiku semakin menjadi.

“Maaf.” Ia mengucapkannya dengan pelan, namun dapat terdengar jelas olehku dalam kesunyian ini. Maaf? Untuk apa?

“Maaf karena telah membuat Nuna kecewa dan lelah. Tolong istirahatlah, kumohon.”

Ia melepas pelukannya, berlajan ke arah lemari dan mengambil dua buah selimut tebal yang memang kusimpan di sana. Ia mengatur sofa sedemikian rupa dan menyuruhku berbaring di sana. Kebaikannya memang tak akan pernah luntur, bahkan ia menyelimutiku dengan nyaman. Namun semuanya terasa sia-sia bagiku.

Ia telah mengkhianatiku.

Good night, sweetheart.” Ia mencium keningku, dan kesadaranku menghilang begitu saja.

Aku terlalu lelah.

0o0

Kulihat jam dinding yang disorot oleh sinar mentari. Sial, sudah pukul tujuh dan aku harus memberikan sketsanya pada penjahit pukul sembilan nanti.

Eh? Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku tertidur di sofa dan―

Jun, ia hanya mimpi.

God, mengapa aku harus memimpikan dia yang―

Lagi-lagi aku harus menghentikan umpatanku. Ada yang aneh di sini. Foto-foto yang semula berantakan di meja tiba-tiba telah kembali dengan rapi ke kotaknya. Bungkus rokok dan pemantikku juga menghilang, hanya menyisakan satu batang rokok mati di atas asbak. Juga, aku tak ingat sempat mengambil selimut saat tertidur di sini.

Hanya ada satu jawaban untuk semua ini. Apakah Jun benar-benar datang ke sini semalam? Ia datang ke sini dan mengucapkan maaf untukku? Dengan mudahnya ia mengatakan maaf sedangkan hatiku terlanjur sakit? Satu kali maaf sama sekali tak bisa membayar sakit hatiku selama ini.

Sial, air mataku jatuh tanpa bisa dibendung lagi.

Satu tarikan napas panjang kulakukan untuk menghentikan tangis konyol ini. Aku berdiri untuk kembali mengerjakan sketsa itu semampuku. Jika tak memungkinkan, aku siap menanggung risiko apa pun atas kecerobohanku yang menghilangkan kertas berharga itu.

Apa ini? Aku mendapati sebuah kertas dengan tulisan tangan aneh yang sangat kukenali. Tulisan tangan Jun.

Maaf telah menghilang selama ini. Aku sama sekali tak menduga jika drama perjodohan harus singgah di hidupku dan membuatku meninggalkan Nuna. Namanya Selin, dan aku tak pernah mencintainya. Ia hanya seorang gadis pengidap kanker yang menginginkan pernikahan sebelum ajal menjemputnya. Sialnya, aku ambil bagian dalam mimpi kecilnya itu. Namun sayangnya, Tuhan lebih menyayanginya ketimbang siapapun. Selin meninggal malam ini, dan dengan ini aku minta maaf karena telah merepotkan Nuna. Nuna tak perlu melanjutkan gambar sketsa itu, karena aku tak akan pernah menikah dengannya.

 

Hah, aku juga tak pernah menyangka bahwa drama picisan ini akan singgah dalam hidupku. Aku butuh segelas air. Ketika aku mengambil air, mataku menangkap satu amplop cokelat yang tergeletak di lantai samping dispenser. Amplop itu berisikan sketsa rancangan setelan dan gaun pernikahan yang kukira telah hilang. Tuhan rupanya ingin menguji kesabaranku.

Aku berjalan menuju meja kerjaku saat nama Jun muncul di layar ponselku. Ia meneleponku. “Yeoboseyo?”

Apa Nuna sudah membaca suratku?

Suaranya terdengar lelah di seberang sana. Sepertinya ia sedang mengendarai mobilnya karena ada suara angin yang menderu kencang. Aku kembali menutup laci mejaku setelah mengambil apa yang ingin kuambil. Aku kembali berjalan menuju sofa dan duduk di sana.

“Sudah. Kau ada di mana?” Suaraku tentu saja tak kalah lelah darinya. Akibat kehilangan kertas bodoh ini aku mengalami malam yang buruk, terutama saat Jun ternyata benar datang kemari.

Namun bukannya menjawab keberadaannya, ia malah kembali meracau. “Maaf untuk segalanya. Nuna boleh marah padaku. Tapi jujur, aku ingin kita kembali seperti dulu.

Mendengarnya mengucapkan hal itu membuatku ingin tertawa. Apa katanya? Kembali seperti dulu?

“Hah, kembali seperti dulu?!”

“Nuna…”

Suaranya memohon, namun hatiku sudah terlanjur tak bisa berfungsi dengan baik. Aku mati rasa.

“Lebih baik kau pulang dan tidur―”

Brak!

Suaraku tercakat di tenggorokan, bersamaan dengan aku yang telah menyalakan pemantik dalam genggamanku. Segalanya bagai mimpi. Tidak, ini pasti mimpi buruk. “Jun? Kau masih di sana?”

Tidak ada jawaban, hanya hening yang kudengar hingga di detik selanjutnya suara ledakan itu menyadarkanku akan sesuatu.

Jun sama lelahnya denganku. Kami berdua terlalu lelah untuk saling berbagi tentang apa yang terjadi. Segalanya menjadi rumit sampai pada batasnya, aku kehilangan Jun. Benar-benar kehilangannya. Apakah aku semiris itu? Hingga kini aku mendengar sendiri bagaimana ajal menjemputnya. Apakah aku sedepresi itu?

Karena amplop dan foto itu telah terbakar dengan sempurna di atas meja, mungkin sama halnya dengan Jun yang kini menghilang sungguhan dari peredaran dunia.

FIN

junk

Wen Junhui

hye

Lee Hyeri

This fic based request from sabrinadya12. Ternyata jadinya ficlet hehe. Happy reading^^

3 responses to “I’ve Lost You – Angelina Triaf

  1. Aiy makasih udah dibikinin^^, aku suka, suka banget!!! Gak bisa komen bayak nih maaf ya, mau ke sekolah, hihi. Ok makasih sekali lagi buat ffnya^^ aku suka

  2. ini…..ini nyesek banget TT yaampun, serius deh aku langsung nahan napas begitu nemu “Brak!” ohmy….gosh…. ending mereka kok begitu banget…. T____T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s