ABNORMAL [Chapter 5 : Revenge ] – By Byunniexo

abnormal

Tittle : Abnormal || Author : Byunniexo || Main Cast : Byun Baekhyun ‘EXO-K’ and Sung Ha Ra ‘OC’ || Other Cast : Oh Se Hun, Park Chanyeol, Xi Lu Han, Oh Shin Yeong ‘OC’ , and etc. || Genre : School Life, Romance, Mistery || Rate : PG15

Previous Chapter : [Teaser] | [#1 : Meet Mr. Byun] | [#2 : Beginning] | [#3 : The First Woman] | [#4 : My Decision]

credit by : BumbleBee @ Poster channel

Disclaimer : Ide cerita dan OC murni karangan saya, dan bukan hasil jiplakan. Semua tokoh dalam ff ini milik Tuhan YME dan keluarga mereka.

Sorry for typo(s)

*

Baekhyun memukulkan tangannya ke atas setir. Rahangnya mengeras dengan mata yang menyala penuh kemarahan. Mobil sportnya berjalan di jalanan yang cukup sepi dengan kecepatan di atas rata-rata. Pria itu harus memutarbalikkan mobil ke kantor untuk memastikan keadaan kantor. Tadi Luhan menelpon bahwa para investor dari China membatalkan investasinya secara tiba-tiba. Hal itu tentu saja membuat Baekhyun kelabakan, karena proyeknya membutuhkan banyak investasi. Baekhyun juga harus segera menyelesaikan masalah ini demi kelancaran proyeknya.

Setelah menyelesaikan urusan di kantor, kini ia harus menemui seseorang yang sejak tadi berputar-putar di atas kepalanya. Sung Daehwan. Ya, siapa lagi yang membuat para investor menarik investasi mereka secara bersamaan, kalau bukan rencana dari seorang pria tua yang berengsek itu. Baekhyun menggeram tertahan, pria tua itu ternyata menyerangnya lebih cepat dibanding dugaan Baekhyun selama ini. Bahkan ketika Luhan menelfon sekretarisnya, pria itu dengan cepat menerima tawaran Luhan untuk bertemu dengan Baekhyun. Jadi Baekhyun mengambil kesimpulan jika Daehwan sudah memiliki rencana lain hingga ia menerima tawaran bertemu Baekhyun dengan cepat dan tenang.

Sebenarnya Luhan juga sudah menawarkan diri untuk ikut Baekhyun menemui Daehwan. Tapi Baekhyun keras kepala menolaknya. Lagipula, Daehwan pasti berpikiran bahwa Baekhyun hanya seorang lelaki pengecut yang selalu bersembunyi di punggung sekretarisnya. Tidak, itu bukan gayanya!

Baekhyun membenarkan jas hitam dan juga dasi merah yang dipakainya. Kemudian berjalan cepat memasuki sebuah restoran megah yang berdiri dengan kokoh dihadapannya.

“Tuan sung sudah menunggu anda di dalam, tuan.” Baekhyun mendecih. Restoran besar ini memang milik pria tua itu. Daehwan yang meminta untuk bertemu di restoran ini. Tapi, hey, itu sama saja Daehwan memancing Baekhyun masuk ke kandangnya. Jadi, siapa tahu jika di dalam sana Daehwan sudah menyiapkan banyak jebakan untuknya. Tapi sayangnya Baekhyun bukan pria penakut yang akan melarikan diri begitu saja sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia harus membalas perbuatan pria itu. Dan tidak ada seorangpun yang bisa menghalanginya.

“Akhirnya kau datang, tuan Byun terhormat.” Baekhyun menatap tajam pada seorang pria paruh baya yang berdiri dengan senyum lebar tak jauh dari tempatnya. Baekhyun akhirnya bisa melihat secara langsung bagaimana wajah seorang pembunuh itu. Dan Baekhyun hanya menyunggingkan senyum tipis yang terlihat seperti mengejek. Ia melihat ruangan itu sejenak. Tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. Dan Baekhyun yakin jika pria tua itu sudah mengosongkan restoran ini hanya untuk pertemuan mereka berdua.

“Tentu saja, aku bukan seorang pengecut yang menyerang musuh di istanaku sendiri.” Baekhyun bermaksud menyampaikan kata-kata itu untuk menyindir tuan Sung. Daehwan tentu saja mengetahui maksud pria yang lebih muda dua puluh lima tahun darinya itu.

“Tenang tuan Byun, kau tidak perlu takut. Aku bukan seseorang yang seperti itu.” Senyumannya lebar, lebih terlihat seperti seringaian.

Baekhyun duduk dengan tenang di hadapan Sung Daehwan. Matanya tidak lepas dari mata milik musuhnya itu. Mereka bahkan selisih dua puluh lima tahun. Tapi Baekhyun tidak pernah takut dengan pria yang duduk dihadapannya ini.

“Kau mau memesan makanan terlebih dahulu?” Daehwan memulai pembicaraan. Membuat Baekhyun mendesah kasar dengan topeng yang dimiliki pria tua itu.

“Aku tidak berniat makan di sini. Aku hanya ingin bertanya padamu.”

Daehwan tertawa sekilas. Kemudian memfokuskan tatapannya pada Baekhyun. “Ah, rupanya tuan kita yang satu ini tidak suka berbasa-basi.” Daehwan menaruh kedua tangannya di atas meja, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Baiklah. Jadi apa yang ingin kau tanyakan?”

Baekhyun terdiam sebentar. Ia benar-benar muak melihat senyum dari bibir itu. Rasanya ia ingin segera merobek bibir itu agar tidak bisa mengeluarkan senyum licik di sana.

“Apa alasanmu membunuh ayahku?”

“Wah, rupanya kau sudah tahu, ya? Jadi, apa aku harus mengatakan bahwa ini sangat terlambat? Kau terlalu lama mencari tahu ini semua, tuan muda Byun Baekhyun.” Baekhyun mengepalkan kedua tangannya. Namun ia harus menahan kepalan itu agar tidak melayang begitu saja di wajah pria tua itu. Ia butuh penjelasan, kemudian memberikan hadiah sebuah pukulan di akhir nanti.

“Kau tahu sendiri, aku tidak suka berbasa-basi.” Baekhyun menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak punya banyak waktu untuk menahan kepalan tangannya sampai pria tua itu menjawab pertanyaannya.

“Ck! Ternyata kau sama saja dengan ayahmu yang keras kepala itu. Hei, jika kau ingin tahu, ayahmu juga pembunuh, sama sepertiku.” Baekhyun menahan emosinya yang kian memuncak. Daehwan semakin tidak bisa menjaga ucapannya. Pria tua itu sangat ahli memancing emosi Baekhyun.

“Aku membunuhnya karena dia seorang pembunuh.” Lanjut tuan Sung dengan seringaian di bibirnya. Baiklah, itu sudah tidak penting lagi untuk Baekhyun. Baekhyun sama sekali tidak peduli lagi dengan apa alasan pria gila ini membunuh ayahnya, karena masih ada satu lagi yang ingin ia tanyakan.

“Lalu, apa maumu?”

Tuan Sung lagi-lagi tertawa dengan angkuh. Membuat Baekhyun lagi-lagi harus menahan emosi.

“Kau yakin, menanyakan apa mau ku?”

“Sekali lagi, saya peringatkan bahwa saya tidak suka berbasa-basi, tuan Sung terhormat.”

“Begitukah? Baiklah. Mau ku adalah menghancurkan kalian. Aku ingin melihat keluargamu hancur. Jadi bagaimana? Kau masih penasaran dengan itu? kau mau bertanya lagi?”

Baekhyun mengepalkan tangannya. Kemudian berdiri dengan tegap. Tidak. Ini sudah cukup. Sudah cukup jelas dan juga sudah cukup membuat emosi Baekhyun meletup-letup. Baekhyun menyeringai sebentar, sebelum akhirnya mencondongkan tubuh mendekat ke arah Daehwan dan mencengkeram kerah kemeja milik pria paruh baya itu.

“Sayangnya saya sudah cukup puas dengan jawaban anda, tuan Sung. Jangan salahkan saya jika keluarga anda juga hancur karena ulah saya.” Ucapan Baekhyun diakhiri dengan satu pukulan di pipi tuan Sung. Baekhyun segera melepaskan cengkramannya dan menghempaskan Daehwan di kursi.

“Lakukan saja, karena aku tidak akan membiarkan keluargaku kau sentuh. Aku tidak takut dengan ancaman seorang anak laki-laki.” Sahut Sung Daehwan sambil membenarkan kerah bajunya dan mengusap sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.

Baekhyun tersenyum tipis, kemudian membungkukkan badannya sembilan puluh derajat—bermaksud untuk memberikan salam. “Baiklah. Saya akan pergi, tuan Sung. Dan, oh, maafkan saya karena tidak sopan telah memukul pria yang lebih tua dari saya. Saya permisi dulu.”

Baekhyun kembali membungkukkan badan setelah menyelesaikan kalimatnya. Dengan begitu, ia melangkah pergi dengan menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.

Baekhyun melangkah dengan cepat menuju mobilnya ketika ia berhasil keluar dari restoran megah itu. Kemudian membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras. Pria itu lantas menarik dasi merahnya dengan kasar sambil mendesah kesal. Sung Daehwan sangat berengsek! Sayangnya Baekhyun tidak bisa memukul pria itu hingga pingsan, karena bagaimanapun mereka berada di tempat umum. Namanya bisa jatuh jika ia dituntut karena melakukan kekerasan pada seorang pria yang tidak kalah kaya darinya.

Semua emosinya meluap ketika suara ponsel terdengar dari dasbor mobilnya. Ia melirik sejenak kearah layar yang berkedip itu sebelum akhirnya menerima panggilan tersebut.

“Maaf saya mengganggu anda, tuan. Tapi nona Ha Ra sudah menunggu anda sejak tiga jam yang lalu. Ia terus memaksa untuk membiarkannya pulang jika anda tidak segera datang.”

Suara dari seberang sana membuat Baekhyun menghela nafas panjang. Oh, ia bahkan melupakan janjinya dengan Ha Ra maupun sang ibu. Mereka pasti sama-sama menunggu.

“Tahan dia sebentar lagi, aku akan tiba di sana dalam sepuluh menit.” Setelah mendapat sahutan dari sana, Baekhyun segera menutup sambungan teleponnya. Dan benar saja, ketika ia berhasil memutus sambungan tersebut, banyak notifikasi yang ada di ponselnya.

From : Chanyeol

‘Aku dengar dari Luhan, kau menemui tuan Sung. Hei, kau gila? Kenapa kau menemuinya, Byun? Aku akan sangat bersyukur jika kau bisa keluar dari sana dengan selamat.’

‘Astaga, kau baik-baik saja kan? Kenapa tidak membalas pesanku, huh?’

 

Baekhyun tersenyum samar, kemudian mengembalikan tampilan ponsel ke layar awal. Yeah, ia memang berniat untuk tidak membalas pesan dari Chanyeol, karena ia tau jika Chanyeol pasti juga memantaunya. Ia kemudian menatap nama ‘eomma’ yang terpampang di notifikasi salah satu pesan lainnya. Kemudian membuka pesan itu dengan gelisah. Ia tahu pasti sang ibu menagih janjinya. Ya, selalu seperti itu.

From : Eomma

 

‘Hei, anak nakal. Kalau tidak salah, kau berjanji padaku untuk menemuiku dengan membawa seorang gadis. Kau tidak lupa kan?’

Baekhyun malas mengetikkan jarinya di atas layar ponsel, jadi ia segera menekan tombol panggil dan menunggu hingga ada sahutan dari seberang sana. Setelah beberapa detik, ia tersenyum sekilas mendengar suara lembut sang ibu yang terdengar dari ponselnya.

“Aku akan tiba disana sebentar lagi, eomma. Jadi kau harus sabar menungguku.” Hanya dua kalimat yang begitu jelas. Setelah itu Baekhyun memutuskan sambungan dan menaruh ponselnya di saku jas. Kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Ha Ra mengetukkan high heelsnya di lantai marmer yang ada di ruangan itu. Ia beberapa kali mengeluarkan sumpah serapahnya pada Baekhyun dengan nada yang begitu pelan. Sebenarnya sejak tadi ia sudah mencoba kabur dengan berbagai cara. Tapi sayangnya sopir pribadi Baekhyun menjaganya dengan ketat. Oh, andai saja ia bisa berteriak-teriak pada pria tua itu, tentu saja ia sudah banyak memberontak sejak tadi. Tapi apa? Ia hanya bisa diam dengan kikuk ketika si sopir memaksanya untuk tetap tinggal.

Baekhyun melanggar janjinya.

Ia bilang, sepulang sekolah setelah Ha Ra selesai merias diri, ia akan segera datang dan menjemputnya untuk pergi ke rumah orang tua Baekhyun. Tapi sekarang? Ini sudah tiga jam berlalu! Dan Baekhyun menyuruhnya menunggu disini selama itu! sungguh membosankan.

Kali ini Ha Ra malas menolehkan wajahnya ke arah langkah kaki yang mendekat padanya. Tentu saja itu sopir Kim. Siapa lagi? Sejak tadi Ha Ra berharap yang datang adalah Baekhyun. Tapi berkali-kali ia harus mendesah kecewa ketika ia mendapati sosok pria paruh baya yang ternyata adalah sopir pribadi pria itu.

“Apa kau tidak ada kegiatan lain, selain menghentakkan kaki seperti itu?”

Namun suara yang sudah tidak asing itu memaksanya mendongakkan kepala dan menatap pria yang sekarang berdiri tepat dihadapannya. Ha Ra membuang nafasnya kasar, kemudian berdiri dari duduknya dan menatap pria—yang dengan santainya berdiri tanpa wajah berdosanya—itu dengan tatapan tajam. Uh, tapi itu sama sekali tidak membuat nyali Baekhyun menciut. Lagipula tatapan matanya justru terlihat begitu polos.

“Apa kau tidak pernah diajari kata untuk meminta maaf? Kau bahkan sudah membuat kesalahan padaku berulang kali, tapi kau sama sekali tidak mengatakan maaf. Oke, untuk yang kemarin aku memang tidak mempermasalahkannya. Tapi hari ini kau berbuat kesalahan lagi, dan sekarang kau berdiri dihadapanku tanpa rasa berdosa sedikitpun? Ya! apa kau tidak merasa bersalah padaku?”

Baekhyun memutar bola matanya kesal. Gadis ini sangat banyak bicara. Suaranya bahkan terdengar melengking dan menggelikan di telinga. Berulang kali juga Baekhyun menanggapinya hanya dengan gumaman kecil, atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Tapi Ha Ra dengan keras kepalanya terus mengomel tanpa henti.

“Memangnya keslahan apa yang sudah ku perbuat?”

Kali ini Ha Ra yang menggeram kesal. Rasanya ia ingin memukulkan sebuah batu di kepala Baekhyun agar pria itu tahu apa kesalahannya. Hey, dia bahkan seorang pria dewasa yang sudah bisa berpikir. Lalu hanya untuk memikirkan sebuah kesalahan pun ia tidak bisa? Heol, tak bisa dipercaya! Ha Ra bahkan enggan hanya sekedar melihat wajah polos yang dibuat-buatnya itu.

“Kufikir kau orang sukses. Namun ternyata kau tidak lebih dari seorang pria bodoh yang memasang wajah sok polos seperti itu. Ya! kau sudah membuatku tidak pulang ke rumah sejak kemarin malam. Hari ini aku bahkan tidak pulang ke rumah dan langsung ke tempat ini. kau berkata kau akan segera menjemputku untuk pergi ke rumah ibumu. Tapi apa yang kau lakukan? Ini bahkan sudah lewat dari tiga jam! Seharusnya aku sudah pulang ke rumah. Tapi kau membuatku tidak bisa pulang hingga petang ini.”

“Aku hanya ingin mendapat istirahat sebelum mendengar omelanmu yang seperti ini. Jadi kufikir, lebih baik jalan-jalan sebentar sebelum makhluk berisik mengusik ketenanganku.”

“Mwo? Ya!”

Sebelum Ha Ra melayangkan protesnya, Baekhyun segera menarik pergelangan tangan gadis itu dan membawanya keluar dari ruangan yang penuh dengan beberapa pasang mata yang menatap heran kearah mereka berdua.

Shinyeong menuruni anak tangga dengan langkah malas. Akhir-akhir ini kepalanya pusing. Terkadang ia juga mual tanpa sebab. Bahkan ia juga mengalami susah bernafas beberapa kali. Oh, entahlah. Ia hanya malas memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya. Ia berkali-kali mengabaikan kondisi yang terjadi pada tubuhnya.

Ia menghentikan langkahnya sejenak ketika menangkap siluet tubuh seorang pria yang berdiri tak jauh dari pintu utama. Pria itu sedang menutup pintu layaknya pemilik rumah. Terlihat begitu santai seperti seorang pemilik rumah yang sedang masuk ke rumahnya sendiri. Padahal jika boleh berkata, pria itu bukan siapa-siapa di rumah ini. Ah, lebih tepatnya ia adalah teman Oh Sehun. Hanya seorang teman dan tidak punya hubungan saudara apapun.

“Baby?”

Dan pria itu adalah Kim Jongin, kekasihnya. Shinyeong hanya mendesah kesal, kemudian kembali menuruni anak tangga dengan malas ketika mendengar suara Jongin yang memanggilnya tanpa rasa bersalah. Yeah, akhir-akhir ini hubungan mereka memang kurang baik.

“Kau sudah bangun? Tadi aku menelfon Sehun sebelum kesini, dan dia berkata kau sedang tidur. jadi aku datang tanpa berniat mengganggu tidurmu.”

“Kalau kau tahu aku sedang tidur, kenapa datang?” Shinyeong berkata dengan nada sinisnya. Gadis itu menarik kursi meja makan di samping tangga, kemudian duduk disana.

“Aku hanya ingin memasakkan makan malam untukmu.”

“Jam makan malam masih lama, asal kau tahu.”

“Selagi menunggumu bangun tidur dan juga menunggu jam makan malam, aku bisa menonton televisi disini. Tak ada yang salah kan?” Jongin mengikuti Shinyeong untuk duduk di samping gadis itu. Menatap kekasihnya dengan lembut dan juga teduh.

“Tentu saja salah. Ini bukan rumahmu. Tapi kau seenaknya sendiri keluar masuk rumah ini.”

Jongin menghela nafas dalam-dalam. Gadisnya ini memang sangat sensitif kalau sedang marah padanya. Jongin sudah hafal dengan sifat kekanakan milik gadisnya. Tapi bagaimanapun juga, Shinyeong tetap satu-satunya seorang gadis yang ia cintai. Sebelumnya ia belum pernah seperti ini. Ia selalu memiliki lebih dari satu orang yang ia sukai. Tapi kali ini hanya Shinyeong seorang. Dan tidak ada gadis lain.

“Aku sudah meminta ijin pada Sehun, baby.” Ucapnya dengan nada yang begitu lembut serta tatapan mata yang teduh.

“Kau meminta ijin padanya sedangkan dia tidak ada di rumah. Sama saja kau sembarangan masuk ke rumah orang.”

“Kau masih marah padaku?” Kali ini nada suara Jongin terdengar datar dan serius. Tatapan matanya masih lembut memang, tapi Shinyeong sangat tahu kalau Jongin sudah lelah menanggapi sifat kekanakannya. Dan jika sudah seperti ini, biasanya Shinyeong akan berhenti dan meminta maaf. Namun kali ini Shinyeong terlalu malas untuk melakukan hal itu.

“Ya. Itu semua karena kau menuduhku berselingkuh.”

Jongin mengambil nafas dengan pelan. Ia tahu jika akhirnya Shinyeong akan membahas hal ini. Meskipun Jongin berulang kali meminta maaf dan menjelaskan semua, gadis itu tetap keras kepala dan masih mengungkitnya. Hingga membuat Jongin geram mendengar semua kata yang keluar dari mulut gadisnya.

“Aku tidak menuduhmu. Tapi itu kenyataan.”

“Apa bukti yang kau miliki hingga kau menyebut itu semua kenyataan?”

“Aku tidak mau membahasnya. Aku sudah memaafkanmu. Lebih baik kita melupakan ini.” Jongin berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan ke arah sofa yang berhadapan langsung dengan televisi. Namun lagi-lagi Shinyeong tidak membiarkan pertengkaran mereka berhenti. Dengan cepat gadis itu mengikuti langkah Jongin dan duduk di sebelah Jongin.

“Katakan saja kalau kau tidak memiliki bukti. Kau hanya ingin hubungan kita berakhir kan?” Shinyeong terus memancing Jongin untuk meluapkan emosinya. Tapi kini pria itu justru terdiam di tempat sambil mengganti channel televisi tanpa menggubris ucapan Shinyeong.

“Katakan Jongin. Apa yang membuat kau berpikir aku berselingkuh? Aku bahkan tidak melakukannya!”

“…”

“Jika kau terus diam. Berarti memang benar. Kau mencari suatu alasan agar kita bisa berpisah. Bukankah begitu?”

“…”

“Memangnya apa yang kurang dariku, Kim Jongin? Kau sudah bosan denganku? Kau lelah dengan sifat kekanakanku? Aku bahkan selalu ada jika kau membutuhkanku. Aku juga siap kapanpun untuk membantumu jika kau sedang dalam masa kesulitan. Dan kau juga sudah mengambil apa yang kupunya, Kim Jongin. Kau merebut segalanya! Kau sudah menjadikan aku milikmu seutuhnya. Termasuk—”

“Apa kau tidak bisa diam?!” Kali ini Jongin yang berucap dengan keras. Rahangnya mengeras dan matanya berkilat marah. Pria itu mencengkeram bahu Shinyeong dengan keras. Membuat Shinyeong meringis kesakitan.

“Aku tidak memintamu untuk memberikan segalanya, Oh Shinyeong! Kau yang memberikannya padaku. Dengar! Awalnya aku tidak ingin mempercayai jika kau berselingkuh dengan pria lain. Tapi semua orang di sampingku berkicau. Mengatakan jika kau jalan berdua dengan pria lain. Masuk ke bar dengan pria lain, dan masih banyak yang lain. Sayangnya apa yang tidak ingin aku percayai, akhirnya harus aku percayai karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau sedang berpelukan dengan pria lain di sebuah caffee.”

“Hari itu aku membiarkanmu, dan memilih pergi dari sana. Tapi sekali lagi aku harus dibuat sakit hati karena melihatmu bergandengan dengan seorang pria di sepanjang sungai Han. Dan aku bisa apa jika tidak bertanya langsung padamu? Tapi kau justru mengira aku menuduhmu! Kau tidak terima dan justru marah-marah padaku seperti tadi. sebenarnya aku juga ingin melupakan semuanya dan memaafkanmu. Tapi kau terus memojokkanku seperti itu. Sekarang aku jadi berfikir, atau mungkin kau yang memang sudah bosan denganku?”

“Jongin-ah..” Lirih Shinyeong ketika tangan Jongin sudah terhempas—melepaskan cengkeramannya di bahu gadis itu.

“Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu. Aku sangat mencintaimu sehingga berniat melupakan semuanya. Tapi kau justru mengungkit ini semua layaknya kau sedang berusaha mengajakku bertengkar dan mengakhiri hubungan kita.”

“Kim Jongin, aku—”

Belum sampai Shinyeong menyelesaikan ucapannya. Jongin sudah terlebih dahulu berdiri sambil membelakangi tubuh gadis itu.

“Kupikir kau belum benar-benar sembuh. Sebaiknya kau kembali istirahat. Aku akan pulang. Aku akan membelikanmu makanan sebagai ganti karena tidak jadi memasak untukmu.” Setelah kalimatnya selesai. Jongin pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari Shinyeong. Pria itu sudah sangat lelah. Padahal emosinya belum terluapkan semua.

Sedangkan Shinyeong hanya menatap sendu punggung pria itu hingga akhirnya punggung itu hilang di balik pintu. Shinyeong menangis dalam diam. Ia menenggelamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangan.

Tidak lama ia seperti itu hingga ia merasakan ada yang menarik-narik bajunya. Shinyeong menjauhkan kedua tangan dengan malas. Hingga kini ia menemukan seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di sebelahnya sambil membawa boneka berwarna pink milik Shinyeong.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya wanita itu dengan senyuman di ujung bibirnya. Shinyeong menggeram kesal hanya dengan melihat wajah wanita itu. Ia segera berdiri dan mensejajarkan tubuh mereka.

“Kau membuat mood ku lebih buruk ketika melihat wajah mu. Apa yang kau lakukan dengan boneka ku? Kenapa kau membawanya lagi?” Bentak Shinyeong pada wanita itu dengan tatapan tajam miliknya.

“Kau harus beristirahat.”

Bukannya menjawab pertanyaan Shinyeong, wanita itu justru menyuruh Shinyeong dengan perkataan sama seperti apa yang dikatakan oleh Jongin tadi. Dan hal ini membuat Shinyeong makin geram dan mendorong tubuh wanita itu hingga ia terjatuh di atas sofa.

“Memangnya apa yang diketahui oleh orang gila sepertimu? Kau hanya orang gila yang tahu mana yang buruk dan mana yang benar. Seharusnya kau diam saja ditempatmu!” Shinyeong mengambil boneka yang dibawa wanita itu dengan kasar. Kemudian berjalan menuju kamar miliknya di lantai atas.

“Siapa namamu, nak?” Ha Ra hanya menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah ketika suara itu masuk kedalam indera pendengarannya. Astaga, lidahnya masih saja kaku! Kenapa bisa seperti ini? Bukannya Ha Ra lancar-lancar saja ketika Baekhyun bertanya padanya? Kenapa sekarang menjadi kaku lagi?

Ha Ra masih belum menjawab pertanyaan seorang wanita paruh baya yang ada dihadapannya ini. Hingga ia merasakan sebuah kaki yang menyenggolnya dari bawah meja. Ia menoleh sekilas dan mendapati Baekhyun yang sedang memberikan kode padanya agar menjawab pertanyaan sang ibu.

“Oh, kurasa kau masih malu padaku. Tenang saja, nak. Aku bukan seseorang yang menakutkan seperti pria di sampingmu itu.” Nyonya Byun menyeringai karena berhasil menggoda Baekhyun yang sekarang sudah menatapnya dengan kesal.

“Eomma.”

Ha Ra segera menoleh ke arah Baekhyun ketika mendengar suara rengekan yang keluar dari mulut pria itu. Uh, itu terdengar begitu menggelikan di telinga Ha Ra. Seorang Byun Baekhyun merengek manja seperti itu kepada sang ibu? Sangat tidak bisa dipercaya!

“Hei, jangan merengek seperti itu Byun. Lihatlah, kekasihmu bahkan terkejut mendengar kau manja seperti itu padaku.”

Baekhyun merutuki ucapan yang keluar dari mulutnya. Ia hampir lupa jika ada seorang gadis asing di sampingnya. Dan itu sangat memalukan bagi Baekhyun.

“Baiklah nak. Sebutkan siapa namamu. Tak perlu takut seperti itu.”

Ha Ra menarik nafas dalam-dalam. Dengan kekuatan hatinya, ia mencoba menjawab pertanyaan nyonya Byun. Ayolah Ha Ra, wanita itu tidak menakutkan bagimu. Dia cukup baik hati untuk ukuran orang yang baru kau kenal. Hilangkan rasa takutmu!

“Sung Ha Ra.” Ucapnya dengan begitu lirih. Nyonya Byun mengerutkan keningnya ketika mendengar nama itu terucap dari bibir tipis milik Ha Ra. Namun setelah itu tersenyum dengan begitu lembut.

“Ah, namamu begitu cantik. Sama seperti pemiliknya.” Ha Ra tersenyum kecil dengan pujian yang keluar dari mulut nyonya Byun. Gadis itu menoleh sebentar kearah Baekhyun, dan ia dapat menangkap jika pria itu juga sedang menatapnya dengan dahi yang berkerut. Ha Ra tidak terlalu menggubrisnya karena nyonya Byun kembali memberikan sebuah pertanyaan padanya.

“Berapa umurmu?”

“Sembilan belas tahun.” Jawab Shinyeong dengan ragu-ragu. Dan kini terlihat nyonya Byun yang begitu terkejut dengan pernyataannya.

“Ah, kufikir umurmu masih tujuh belas tahun. Astaga! Anak nakal ini. kenapa kau memacari anak kecil? Oh, lihatlah bagaimana polosnya wajah kekasihmu, Byun! Sedangkan wajahmu terlihat begitu tua.”

“Ya! eomma! Bagaimana mungkin kau mengatakan wajah tampan ini dengan wajah yang tampak tua!”

“Mengapa kau tidak terima? Wajahmu memang terlihat begitu tua untuk gadis mungil seperti Ha Ra. Kau harus menjaganya baik-baik Byun. Jangan biarkan otak polosnya tercemar oleh hal-hal kotor darimu.”

“Astaga eomma. Aku juga tidak mungkin mencemari otaknya.”

“Jaga janjimu, Byun.” Nyonya Byun kemudian mengalihkan pandangannya pada Ha Ra. Gadis itu belum menyentuh makanannya sama sekali. “Apa kau tidak menyukai masakanku? Kenapa kau belum memakannya?”

“A-ah. Aku menyukainya, nyonya.” Ha Ra benar-benar gugup. Pasalnya ini juga pertama kalinya ia bercakap-cakap dengan orang asing, setelah sekian lama ia berdiam diri di dunianya.

“Kenapa kau memanggilku nyonya? Panggil aku eomma.” Sahut nyonya Byun dengan nada lembut yang tak pernah luntur.

“Ba-baiklah, eomma.” Ha Ra hanya menurut. Yah, lalu apalagi? Ia tidak mungkin menolak apa yang diperintahkan nyonya Byun. Bisa-bisa Baekhyun marah dan mengurungnya di apartemen lagi. Uh, itu tidak mungkin.

“Setelah makan malam, apa kau akan langsung pulang?”

Ha Ra yang tidak tahu akan menjawab apa, kini justru menoleh kearah Baekhyun sambil menaikkan alisnya. Pria itu seperti tahu apa yang Ha Ra bingungkan, sehingga ia menjawab pertanyaan sang ibu.

“Iya, eomma. Sudah hampir larut. Ha Ra harus segera pulang.”

“Baru pukul tujuh malam, dan kau bilang ini larut, Byun? Hei, Ha Ra-ya. Bagaimana dengan mengobrol di halaman sebentar? Aku ingin mengenal lebih jauh tentangmu. Lagipula aku jarang mengobrol dengan anak gadis. Pria itu sangat kaku jika diajak bercanda.” Nyonya Byun melirik sekilas kearah Baekhyun, kemudian mengeluarkan smirknya.

“Ba-baiklah, eomma.”

Seorang pria paruh baya terduduk dengan tenang di meja kerjanya. Ini sudah pukul sepuluh malam, dan ia tidak berniat untuk pulang ke rumah. Lagipula, ini sudah sering ia lakukan. Berdiam diri di ruang kerja hingga akhirnya tertidur di ruangan itu. Terkadang ia akan tidur di hotel miliknya, atau jika tidak, ia akan menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja. Bukannya ia tidak ingin pulang. Tapi melihat seorang wanita yang selalu marah ketika melihatnya, membuat pria itu lebih memilih tidak pulang. Walau ia harus jujur, jika ia sangat merindukan wanita itu. Dari dulu ia ingin membawa wanita itu ke pelukannya hingga segala cara ia lakukan. Dan sekarang, ketika semua sudah berada di depan mata, hanya sekedar untuk menatapnya pun ia tak sanggup. Ia merasakan sakit yang begitu dalam melihat wanita yang dicintainya bertingkah seperti itu—bertingkah layaknya orang gila. Tapi ia sadar, itu adalah kesalahannya.

Sung Daehwan—pria itu mendongak menatap pintu yang diketuk, setelahnya berdehem pelan dan seseorang dari balik pintu pun menunjukkan wajahnya. Pria dengan jas hitam yang melekat ditubuh berjalan kearah Daehwan. Kemudian membungkukkan badan sebelum akhirnya memulai pembicaraan.

“Maaf harus mengganggu waktu istirahat anda, tuan. Tapi tadi ada sedikit masalah hingga kami terlambat mengantarkan ini.”

Pria itu memberikan sebuah map coklat kepada Daehwan dengan hati-hati. Kemudian kembali berdiri tegak sebelum menjelaskan apa yang terjadi.

“Setelah pertemuan anda dengan Byun Baekhyun tadi, kami mengikuti mobil yang ditumpanginya sesuai apa yang anda perintahkan, tuan. Tapi apa yang saya dapatkan ini sangat diluar dugaan.”

Begitu pria itu menjelaskan, Daehwan segera membuka map coklat yang sudah ditangannya. Daehwan membelalakkan mata lebar begitu melihat apa yang ada di dalam amplop itu. Sebuah foto. Ah tidak, bukan sebuah, lebih tepatnya beberapa foto. Foto pertama, sekilas memang tampak biasa saja. Ada beberapa mobil yang terpakir di sebuah gedung besar dengan halaman yang luas. Tapi siapa sangka, jika ada suatu objek yang begitu menyita perhatian mereka.

Byun Baekhyun. Pria yang tadi sempat bertemu dengannya dan memberikan sebuah pukulan itu, ada disana—sedang duduk di belakang setir mobil. Dan yang lebih membuat terkejut, adalah seorang perempuan di sampingnya. Dia Sung Ha Ra. Gadis yang notabene adalah putrinya juga disana. Duduk di mobil yang sama dan tepat di sebelah Baekhyun.

“Kami masih mencari kepastiannya, tuan. Tapi saya kembali dibuat kaget ketika pria itu membawa putri anda ke rumahnya.”

Saat kalimat itu terucap, Daehwan sudah melihat sebuah foto yang menampakkan Baekhyun sedang menggiring putrinya masuk ke sebuah rumah besar yang merupakan rumah Baekhyun. Pria paruh baya itu segera meremas kertas foto yang ada ditangannya.

“Dia sudah bergerak, bahkan sebelum aku melancarkan aksiku yang selanjutnya.” Ucap Daehwan dengan mata yang berkilat marah.

“Tenang, tuan. Dia hanya bocah kecil yang belum tahu apapun. Biarkan dia bertindak sesuka hatinya, sebelum kesengsaran menjemputnya.”

“Tapi bocah itu menyentuh keluargaku, Kim. Aku tidak akan membiarkannya jika dia melukai salah satu dari keluargaku.” Ucapnya dengan tegas dan penuh penekanan. Pria tadi—sekretaris Kim hanya menyimak pernyataan dari tuannya. Itu bukan pernyataan, tapi itu adalah sebuah perintah.

“Percayakan itu semua pada kami, tuan.”

“Awasi mereka. Jangan sampai Ha Ra mengetahuinya.”

Baekhyun berdiri di balkon kamar sambil menyeruput kopi. Matanya menerawang jauh ke pemandangan yang ada dihadapannya. Sebenarnya yang menarik bukanlah pemandangan itu, tapi sesuatu yang ada dipikirannyalah yang menarik.

Sung Ha Ra.

Ia masih sangat ingat bagaimana gadis itu menyebutkan namanya dihadapan sang ibu. Jujur saja tadi itu adalah pertama kalinya Baekhyun mengetahui nama lengkap Ha Ra. Sebelumnya dia memang mencari tahu tentang gadis itu. Namun hanya sebatas dimana gadis itu bersekolah dan di mana gadis itu bekerja. Maka dari itu, kemarin ia bisa membelikan seragam sekolah untuk Ha Ra. Ia bahkan hanya menyematkan nama ‘Ha Ra’ di nametag seragam yang ia belikan.

Dan setelah nama itu terucap hari ini, ia jadi memikirkan suatu kemungkinan.

Apa mungkin jika Sung Ha Ra adalah putri dari Sung Daehwan?

Baekhyun memang sudah mendapatkan data pria tua itu. Namun data keluarganya belum begitu lengkap karena sangat privasi dan sulit untuk digali. Sebenarnya sudah ada beberapa nama di data keluarga Daehwan. Termasuk nama Sung Ha Ra yang ditempatkan sebagai anak pertama dari keluarga itu.

Baekhyun memang tidak terlalu memperhatikan siapa nama lengkap gadis itu. Tapi sekarang, ia sedikit curiga. Maka dari itu, ketika nyonya Byun dan Ha Ra mengobrol di halaman rumah tadi, Baekhyun memilih menghubungi Luhan agar mencari tahu tentang gadis itu.

Tadi Baekhyun memang menyangkalnya. Nama Sung Ha Ra tidak hanya satu di negara ini, bukan? Jadi banyak kemungkinan yang akan terjadi. Lagipula, Ha Ra adalah pekerja keras. Ia bekerja part time di dua café. Jadi bagaimana mungkin seorang gadis yang memiliki latar belakang keluarga kaya akan bekerja keras seperti itu?

Lamunan Baekhyun buyar ketika suara dering telefon menyapa telinga. Pria itu menaruh cangkirnya di atas meja, kemudian mengambil ponsel yang ada di saku.

“Kau sudah mendapatkannya?” Baekhyun segera berbicara ketika ia mengangkat panggilannya.

“Apa kau sedang bersama dengan Sung Ha Ra?”

 

“Bagaimana kau tahu namanya?”

“Jawab pertanyaanku dulu, apa kau sedang bersama Ha Ra?”

 

“Tidak. Apa Luhan memberitahumu sesuatu?”

“Yeah, dia menyuruhku mencari tahu tentang seorang gadis yang kau perkenalkan kepada ibumu, tadi.”

Baekhyun mendesah. Ia sudah mengira akan seperti ini. Astaga, ia bahkan menyuruh Luhan. Tapi sekretarisnya itu justru menyuruh Chanyeol? Oh, pria gila itu!

“Katakan, apa kau tahu sesuatu.”

“Dugaanmu benar, Byun.”

Baekhyun membeku ditempatnya. Dugaan yang mana? Dia banyak memperkiran suatu hal hari ini.

“Sung Ha Ra. Gadis itu adalah putri Sung Daehwan. Sudah beberapa hari ini aku mencari data tentang keluarganya lebih detail. Dan setelah aku mendapatkannya, aku pikir foto seorang gadis yang ada di data keluarga Sung sama dengan gadis yang kau perkenlkan pada ibumu.”

Baekhyun terdiam. Jadi dugaan pertamanya benar? Jadi Sung Ha Ra memang putri Sung Daehwan? Baekhyun hanya tertawa pahit mengetahui kenyataan ini.

“Byun, kau masih disana?”

 

“Ya. Dan katakan pada temanmu yang bernama Luhan, lain kali jika ingin melimpahkan tugas yang diberikan untuknya kepada orang lain, setidaknya ia harus melaporkan padaku dari mulutnya sendiri agar tidak ketahuan.”

Dan setelah itu, Baekhyun segera menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol.

Baekhyun kembali tertawa hambar. Jadi selama ini, sama saja ia dekat dengan musuhnya. Lalu apa yang tadi? Ia bahkan sudah memperkenalkan gadis itu pada ibunya. Atau mungkin saja, Sung Daehwa memang mengirimkan putrinya sendiri untuk membalas dendam pada Baekhyun? Tawa hambar yang tadi ia ciptakan kini berubah menjadi sebuah seringaian panjang. Setelah itu ia merubahnya dengan wajah datar yang biasa ia tampilkan. Dia tidak akan kalah. Baekhyun tidak akan kalah oleh Sung Daehwan, maupun Sung Ha Ra.

Ha Ra turun dari sebuah mobil dengan raut wajah kesal. Sudah dua hari ia tidak pulang ke rumah. Dan itu semua karena pria gila bernama Byun Baekhyun. Oh, bahkan malam ini ia pulang ke rumah dengan diantar oleh sopir keluarga Byun. Tadi pria itu begitu banyak alasan dan tidak mau mengantarnya pulang. Sekalipun nyonya Byun yang membujuknya.

Gadis itu melangkahkan kaki memasuki rumah. Ia membuka pintu rumah sangat pelan. Oh, ini sudah lebih dari pukul sepuluh malam. Jadi mungkin saja semua penghuni rumah sudah tidur. Ha Ra melangkah masuk dengan mengendap-endap. Suasana gelap di dalam rumah membuat Ha Ra mau tidak mau meraba dinding untuk mencapai kamarnya. Tapi ia harus dikejutkan dengan menabrak sesuatu dihadapannya.

Lampu ruangan itu hidup dengan tiba-tiba. Hingga kini ia dapat melihat apa yang ditabraknya tadi. Seketika Ha Ra harus merutuki dirinya karena Oh Sehun adalah sesuatu yang ia tabrak tadi.

Ha Ra mundur beberapa langkah dengan wajah yang menunduk. Bahkan sekedar menatap pria itu saja, ia tidak berani.

“Kenapa pulang? Bukankah dunia di luar sana lebih menarik?” Suara berat pria itu menggema di telinga Ha Ra. Uh, rasanya ia ingin memukulkan kepalanya ke tembok saat ini juga. Ia memang tidak menatap wajah Sehun, tapi Ha Ra yakin jika wajah pria itu pasti menyeramkan saat ini.

“A-aku hanya..”

“Jadi hobimu sekarang adalah berkeliaran ya? Apa begitu menyenangkan, hum?” Nadanya memang lembut, tapi penuh dengan penekanan. “Aku hanya kasihan dengan Ji Soo, kemarin dia tidak bisa tidur karena menunggumu pulang. Hari inipun ia juga berencana menunggumu, tapi aku sudah memaksanya tidur. kau memang tidak mau tahu seberapa khawatirnya adikmu itu padamu, ya?”

Ha Ra mendongakkan kepala dan menatap Sehun takut-takut. Bukannya tidak mau tahu. Ia bahkan sangat tahu jika Ji Soo pasti akan mengkhawatirkannya, tapi bagaimana lagi? Ia sedang berhadapan dengan pria gila yang mengurungnya. Lagipula ia juga baru tersadar bahwa ada sebuah ponsel yang bisa ia gunakan untuk menguhubungi Ji Soo baru tadi pagi. Dan saat itu juga ia memberikan sebuah pesan pada Ji Soo agar tidak mengkhawatirkannya. Jadi ia harus bagaimana lagi?

“Pagi tadi kau bahkan bisa berangkat sekolah. Tapi untuk sekedar pulang ke rumah, kau tidak bisa?”

Ha Ra meremas jari-jari tangannya dengan gugup. Kemudian kembali menundukkan kepala. “Kau tidak tahu—”

“Ya. Aku memang tidak tahu. Dan karena aku tidak tahu, aku semakin merasa bersalah. Aku bahkan mencarimu kemanapun tanpa tahu dimana tempat yang biasa kau datangi. Aku hanya menebak-nebak dimana kau berada. Dan—”

Sehun terdiam begitu saja ketika mendapati Ha Ra sedang menatapnya dengan tatapan mata yang bingung. Astaga Oh Sehun, kenapa kau mengatakan itu?

Sehun merutuki dirinya sendiri. Pria itu mengacak rambut hitamnya dengan kesal, kemudian menghembuskan nafas dengan kasar. Ia sudah dilanda rasa khawatir sejak kemarin malam. Kemudian pagi tadi ia sduah merasa baikan setelah melihat gadis itu. Lalu kembali khawatir karena gadis itu belum pulang juga hingga hari semakin larut. Dan emosinya kali ini sudah pada puncak. Jadi jangan salahkan Sehun jika ia hampir mengeluarkan semua yang ditahannya.

“Maafkan aku.” Lirih Ha Ra yang masih dapat terdengar di telinga Sehun.

“Memangnya kau meminta maaf untuk apa? Seharusnya kau meminta maaf pada Ji Soo.” Sehun membuang nafas kasar. Kemudian mengalihkan pandangannya dari gadis itu. “Lebih baik kau segera istirahat. Kau bisa meminta maaf pada Ji Soo, besok. Kurasa ia sudah tidur.” Kali ini nada bicara Sehun melembut. Pria itu lantas melangkah menuju lantai atas.

“Se-sehun-ssi.”

Suara Ha Ra yang lembut itu terdengar begitu lirih ditelinga Sehun. Pria itu kemudian menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan.

“Terimakasih sudah menjaga Ji Soo.”

Setelah kalimat Ha Ra berakhir, Sehun kembali melangkah disertai senyum tipis dibibirnya. Untuk pertama kali gadis itu berbicara panjang padanya.

TBC

Haiii. 😀

Gimana Chapter ini?

Ada yang masih bingung dengan jalan ceritanya? Atau mungkin kata-kata ku masih sulit dipahami ya? Maaf banget jika itu masih terjadi. Dan maaf juga kalo aku update nya lama banget. Jujur aja, sekarang sulit kalo mau dapetin feel. Baru dapet satu halaman, berhenti. Nanti tambah satu lagi, berhenti lagi. Yah, jadinya kayak gini deh. Oh ya, mungkin masih ada yang bilang ini pendek? Duh, ini emang pendek. Maaf karena aku bisanya cuman segini. Rasanya pengen cepet-cepet post aja, biar kalian gak semakin nunggu lama.

Yaudah deh, segini aja cuap-cuapnya. Jika ada yang mau kasih kritik dan saran bisa di sampein di kolom komentar. Terimakasih buat yang setia nungguin ff ini.

Regards,

Byunniexo

100 responses to “ABNORMAL [Chapter 5 : Revenge ] – By Byunniexo

  1. Hallo… Ah akhirnya mncul juga…
    Aku smpt lupa smpe hrus baca part sblumnya… Tpi uda ingt lagi… Hehehe
    ok baek udah tahu ha ra anak musuhnya.. Jdi gmna ni..

  2. aduuhhhh….. makin seru nih. tuh kan baekhyunnya salah paham. jadi nggak sabar pengen cepet – cepet tahu kelanjutannya.

  3. Daehwan mau ngancurin keluarga baekhyun buat apaan? Emang ayahnya baekhyun pernah ngebunuh yak? :v
    Penasaran cowo yang jalan sama shinyeong, saking sayangnya si jong in ngelakuin kaya gitu. Abisss.. Si shinyeong juga sih yang salah..
    Omg! Baekhyun udah tau dong kalo si hara anaknya si daehwan? Ko takutnya si hara jadi bahan balas dendam baekhyun :” duh bener-bener ga rela kalo hara yang ga tau apa-apa dijadiin umpan sama baekhyun :”
    Ditunggu ya thor, jangan lama-lama..
    Aku punya saran ya mungkin bisa ngoreksi, sarannya adalah… *jengjeng* kalo cerita lagi rame dan greget jangan main TBC!!!
    Sekian, terimagaji😂

  4. akan terjadi kesalahpahaman antara Baekhyun-Hara-Daehwan
    ugh jangan di bikin terlalu rumit ya konfliknya author.. dan juga banyakin sweet moment Baekhyun-Hara nya ya
    semangat!!

  5. woeoeo..
    sehun jadi mo suka sama hara ya?
    maksudnya bapanya baek juga pembunuh?
    yaoloh baek gabakal ngelakuin hal2 yang aneh byat hara kan? padahalkan hara belum tau apa-apa-,-

  6. Udah bagus kok, mula ngerti jalan ceritanya. Bahasanya jg udh bagus
    Pas tau nama sung daehwan, udh nevak sih kalo itu ayahnya hara. Duhh penasaran bgt lanjutannya. Bngng kenapa ayah baekhyun dsbt pembunuh
    Next ya, keep writing !!! 🙂

  7. Yaaampun gregetan aku bacanya wkwkw, terus terus rumit bangettt si masalahnya yaallah udah ngeshippin mereka padahal malah hara nya anak.dari.musuhnya-____- mudah”an mah baek nya tetep pertahanin yaa sama hara :”V meskipun ada tau ayahnya hara itu musuhnya. Masih blm ngerti juga si sebenarnya kak inti ngebunuhnya itu grgr apa Aaaaaa btw aku kok ga nerimaaa banget yaa jongeeen pacarnya shinyeong abisnya dia gitu banget si ih perannya.nyebelin-_- kasaaar banget. Pokoknya ditunggu banget kaaa next nyaaa agak panjangin yaaa 😀 hehehe tp terserah deh yg penting cepet and fighting:*:*:* ^^

  8. Ha Ra anaknya Daehwan???
    baek mau ngrencana.in apa ke Daehwan??
    ngancurin keluarga Daehwan dengan pacaran ama Ha Ra???
    *serah lah mau pacar kek..ato apa aku cuma perumpaan*
    /pada bingung?? abaikan/
    sehunn seneng amat si Ha Ra ngomong kek gitu aja seneng…
    suka ya ama Ha Ra??
    di tunggu kelanjutannya ya thor,,,
    keep writing…~~

  9. sebenernya masih bingung sama konfliknya, kalo gitu yg ngebunuh appa nya Baekhyun orangnya sama yg nyulik Hara dong? iyah gak sih…
    terus Baek bakal ngelakuin apa sama keluarga Sung lebih tepatnya sama Hara…

  10. Ini ko jadi salah paham gini yah.. Baek nyangka , klo hara itu emng utusan (?) daehwan, dan daehwan , jadi nyangka klo baek itu ,pngen bales dendam dengn cara deketin hara .. Waaahhh.. Patal nih… :v
    .. Ooppps ! Sehun keceplosan.. 😀
    Next chap di tunggu lagi 😀

  11. ughhhh main tbc aja nih lagi greget gregetnya sama hara-sehun lucu deh bayangin muka sehun yg keceplosan ngmong nyariin hara cieeee tehun
    aduh baek lu salah paham !! hara ga tahu apa2 tentang masalah lu sama bapaknya … please jangan buat baekhyun jahat sama hara biarin dia ttp seperti ini ke hara ,ahh aku jg hampir lupa sama mimpi2 hara kemarin yg hamil itu kira2 beneran ga yah. ihhh gemes ya kalo lihat cinta segitiga mereka padahal baekhyun sama sehun.a aja belum pernah ketemuan gimana kalo udah pada ketemuan.. iya nihh kayanya pendek banget jadi kurang puas tiba2 udah tbc aja tapi sama sekali ga ngebingungin ko paham banget sama ceritanya . pkoknya ditunggu lanjutanya

  12. Baekhyun kayanya mau berbuat jahat sama hara:3 ini konfliknya aga berbelit ya, tapi aku suka, emm sehun kayanya suka ke hara deh..
    Gasabar tunggu kelanjutanya, next chap ditunggu thor fighting!!

  13. aduhhh,, greget aku baca nya, masalahnya tambah rumit ya. tapi aku tetep suka,,
    next chap nya ditunggu ^^ keep writing

  14. ayah baek prnh ngbunuh siapa sih? jdi makin pnsaran sma ff ini . lalu smua jd rumit gni baek jd ngira hara bgian dr rncna daehwan lalu daehwan ngira baek pkai hara jdi pmblasan dndamny #pusing palak barbie

    tpi konflik makin bnyk mkin seru sih wlaupun bkin geram bacanya

    kan bner sehun itu ada rsa sma hara . itu sudah jelas.

    next chap thor fighting!

  15. Maksudnya daehwan appa nya baek juga pembunuh tu apa sih? Daehwan sama baek ngira kalo ha ra yaa gitu deh..aku berharap hara bisa sama baekhyunnnn…keep writing kak

  16. Ah disini udah mulai terjuak twrnytaa,,,apa ntar sung hara bakal jadi korban yaa, jngan dong,,kyaknya sehun bnran suka sma haraaa,,, ceileee jaim bnrrr
    Keep writing kakk

  17. ya ampunnnnn jdi hara itu orang kaya ???? Trussss knapa shinyeong jhat ama mreka ??? Gk sdar apa ama status.y dia ???? Iuuuuuuu
    D tnggu klnjutan.y hwaiting !!!!

  18. Konfliknya nanti kayaknya bakalan riweuh ya?
    salah paham-salah paham gitu?
    bener-bener bikin penasaran ih makin kesini
    Eh iya, itu Shinyeong kenapa sebenernya?
    Terus maksudnya Daehwan kalo istrinya ‘bertingkah seperti orang gila’ tu gimana?
    Istrinya nggak beneran gila ya?

  19. Aku ketinggalan 2 chapter -,- astaga entah gimana caranya aku baru liat ff ini udh sampendi chapter 5…
    Makin seru thor!!! Serius deh.. Makin greget feelnya juga dapet kok!! Kyknya mimpi Hara bakal kenyataan tuh.. Kekekee ditunggu nextnya thor!! Fighting!!

  20. Huaah aku tadi sempet lupa sama alur cerita ini, yang pas aku baca teasernya baru inget><

    Kira" Baekhyun bakal lakuin apa abis tau hara itu anaknya orang yg udh bunuh ortu nya sendiri..
    Tapi sebenernya pekerjaan ayah nya Baekhyun itu apa sih? Kata nya dia juga pembunuh, waduhh ngk sabar nih sama kelanjutanya, Hwaiting kaka*-*

  21. wuih berarti bapaknya hara mungkin cuma mo bales dendam nih ama bapaknya baekhyun?????
    duh jadi makin seru ini mah konfliknya
    trus romance nya Japan niiiih??? udah ngebeet bnget pen liat baek-hara nya eoon :3
    jangan lama2 ya eoon next chpternyaa…
    semangat terusss!!!!

  22. aku masih bingung…sehun sama shinyoung itu anak dari mana?

    keren thor…
    ditunggu nextnya author fighting!!

  23. ahhhhhhhhhhhh sumveh makin seru aja >.< Gilakkkk ceritanya menarik banget, seru banget. sumveh suka banget ama alur ceritanya, wkwkw ada sangkut pautnya ama balas dendam/? jadinya seru kalau ada balas dendam gtu th wkwkw apalgi waktu d teaser aja kalau baek menghamili Hara,bisa jdi Baek balas dendam nya dgan cara seperti itu wkwk. Tapi kasian jga Hara dia gatau apa2 jdi kena imbasnya-____- jdi kasian jga ama s hara nya kalau gtu mh ahhaha gapapa biar seru ceritanya haha.. aku pkir sehun gak suka ama Hara taunya dia nyimpen perasaan ama s Hara ,tpi dia trllu gengsi jdi gamau nunjukin rasa suka nya ama hara wkwk ahhh sumvehh nihhh ff pling d tunggu2 update nya.. favorit banget lahhhhh.. d tunggu ya thorrr next chapter nya semangat ^^

  24. bisa-bisa baekhyun memanfaatkan Hara untuk balas dendam ke ayahnya hara. kesempatan emas tuh… sehun jangan-jangan suka sama hara… ditunggu kelanjutannya ya kak… makin seru ceritanya…

  25. Astagaaa ha ra kasian banget deh
    Baekhyun nih jahat amat sih, awas aja sampe macem macem sama ha ra dia kan gk salah apa apa
    Oh iya btw sehun ada rasa ya sama hara kok rada” beda gitu hehe
    Oke next ya thor

  26. Aku rada lupa gitu sama ceritanya pasa baca di awal tapi sekarang udah inget lagi. Jadi itu baek belum tau kalau hara itu anaknya daehwan dan sekarang dia malah ngira hara itu disuruh ayahnya buat deketin baekhyun dan ini bakalan jadi sumber masalah hubungan mereka lagi. Pasti baek nanti bakal pakek hara buat alat ngancurin ayahnya. Dan buat sehun semoga aja hara makin bisa terbuka sama dia, dan kayaknya sehun juga udah makin perhatian gitu sama hara. Pokoknya semangat terus aja ya buat authornya

  27. hayooo, sehun, lo naksir hara ya??? kok kesannya kayak peduli banget sama hara, tapi dalam versi sehun sendiri perhatiannya. bakal jadi nyamuk kah sehun nanti?? kepo deh.
    itu si daehwan ngapain pengen ngancurin keluarganya baek? bapaknya baek pembunuh? pembunuh apa? apa bapaknya baek pernah ngebunuh salah satu keluarganya daehwan? istrinya kah?
    wuih, si baek udah tau kebenarannya nih. tpi knpa tuh anak malah jadi salah paham? aduh baek, hara jangan diapa2in! kasian dia.
    tpi jujur aja nih ya, aq agak lupa sama previous chapnya. jadi rada bingung n lupa2 ingat deh. pengen baca previous chapnya tapi takut kelamaan. so, lanjut aja. hehehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s