[Freelance] JOAH -Beautiful Voice #1

JOAH -Beautiful Voice Chapter One

Title

JOAH –Beautiful Voice “Chapter One”

Author

Miss Fox

Main Casts

Park Chanyeol || Choi Jieun (OC)

Support Casts

Kai a.k.a Kim Jongin || Yuki Haibara (OC) || SM Entertainment’s familly

Genre: Romance || Length: Chapter || Rating: General

Desclaimer

This story is mine ^^

Warning

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Beberapa kesoktahuan tentang SM Familly khususnya EXO. Dan, bahasa asing yang mungkin tidak sesuai penulisannya.

-Chapter One-

Manajer EXO-K –Lee Seunghwan –tidak pernah puas mengutak-atik frekuensi radio di dalam mobil yang mereka gunakan. Suara gemerisik yang muncul saat frekuensi yang dia masukkan tidak menemukan apapun membuat dia berdecak kesal. Pria yang duduk di sebelahnya hanya menggelengkan kepala perlahan melihat tingkah rekan kerjanya. Sesekali dia juga akan mengintip melalui cermin yang tergantung di bagian atap mobil untuk melihat keadaan penumpangnya yang lain.

Hyeong…. tolong berhenti di mini market 24 jam terdekat,” pinya  Manajer Seunghwan.

Arasseo.”

Yak… kalian,” Manajer Seunghwan menoleh ke belakang. “Kalian mau makan sesuatu? Apa perlu aku belikan kalian susu agar bertenaga atau vitamin?”

Sehun mengacungkan tangannya dari kursi belakang –paling belakang. “Aku mau bubble tea!”

“Kamu ini aneh,” Jongin  mendelik kesal. “Mana ada bubble tea di mini market 24 jam?”

“Yey… siapa tahu ada,” cibir Sehun.

“Junmyeon­-ah, kamu mau sesuatu?” tanya Manajer Seunghwan lagi.

Junmyoen –Suho– mengucek-ucek matanya. “Apa saja yang bisa membuatku segar. Kalian?”

Baekhyun, Kyungsoo –D.O–dan Chanyeol hanya memberi isyarat kalau mereka mengikuti apapun keinginan leader. Tepat setelah mereka memutuskan akan  dibelikan sesuatu, mobil yang mereka tumpangi berhenti di mini market 24 yang di maksud.

“Aku akan ke toilet sebentar,”ucap Sang Supir dan berlalu pergi.

Hening beberapa  detik. Chanyeol dan Baekhyun tidak henti-hentinya menguap lebar. Waktu di dasbor mobil menunjukan pukul 11 malam. Tidaklah terlalu larut. Namun mereka sangat lelah untuk terus terjaga hingga jam segini. Mereka butuh bantal dan guling mereka.

“Nyalakan sesuatu, Hyeong. Bulu kudukku merinding karena terlalu sepi,” pinta Sehun sembari mencolek  Kyungsoo.

“Baiklah… radio saja, eoh?”

Sehun dan yang lain mengangguk kompak.  Chanyeol menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan mata besarnya. Sedangkan Jongin –Kai, memilih untuk kembali bersandar di sudut mobil.  Mereka semua terlihat seperti pemalas. Kyungsoo telah kembali  ke posisinya di antara Chanyeol dan Baekhyun yang duduk di depan . Tiga pemuda lainnya duduk di belakang.

“Akh… aku menyukai EXO-K?” suara yang muncul saat radio menyala membuat mereka menegakkan punggung mereka. “Tentu saja, aku menyukai EXO. Walau aku hanya mengenal mereka sebagai rookie yang dikeluarkan SM tahun ini. Kalau tidak salah konsep mereka seperti memiliki kekuatan supranatural, bukan?”

“Wah, DJ itu mengenal kita cukup baik,” celetuk Sehun melebih-lebihkan.

“Sssst…,” member yang lain  menyuruhnya diam.

“Yap… aku punya informasi tentang mereka bagi kalian yang ingin tahu. Aku akan memberitahu kalian setelah kita memutar salah satu lagu mereka. Ne… aku juga sangat berharap mereka yang memperkenalkan diri mereka sendiri. Tetapi ayolah! Radio ini tidak sehebat itu,” tawa renyah DJ radio itu mengudara. “Baiklah, aku mulai ngelantur. Bagi semua fans EXO-K, EXO-M atau EXO secara keseluruhan, ini dia ‘MAMA’ oleh EXO-K  untuk kalian. Semoga menyukainya, pyong!”

Musik mulai mengalun perlahan dan lama kelamaan semakin membesar. Mereka –EXO-K- terlihat  memejamkan mata, menikmati suara mereka sendiri yang memenuhi seluruh ruang di dalam mobil. Sehun dan Jongin memeraktikan dance mereka dalam gerakan- gerakan kecil. Junmyeon yang bersama mereka di belakang terpaksa menempel pada dinding mobil agar memberi ruang yang cukup bagi adik-adiknya bersenang-senang.

“Berapa frekuensi radio ini?” Chanyeol menjulurkan tubuhnya mendekati dasbor mobil di depan sana.

“Chanyeol-ah… apa yang kamu lakukan?” pekik Baekhyun kesal.

“Park Chanyeol!” pekik Kyungsoo juga karena Chanyeol merusak acara menyanyinya.

Mwo? Aku hanya ingin tahu frekuensinya,” Chanyeol menajamkan penglihatannya pada layar berkedip benda elektronik serba fungsi itu. “103,3 FM,” gumamnya.

“Kamu kenapa, eoh?Mengganggu saja,” omel Baekhyun.

“Tidak ada,” jawab Chanyeol singkat dengan senyum terkembang.

Sehun cekikikan di belakang. “Hyeong menyukai suara DJ tadi ‘kan?”

Nde?” Chanyeol memutar badannya agar dapat melihat Sehun.

Hyeong menyukai suara gadis DJ tadi ‘kan?”

Anii…,” bantahnya.

“Tipe gadis Park Chanyeol,” eja Jongin. “Memiliki suara indah yang mampu membuat  jantung seorang Park Chanyeol berdebar kencang.”

Mwo?”

Semua member memperhatikan Chanyeol dengan seksama. Mereka tersenyum menggoda. Apalagi Chanyeol mulai salah tingkah. Pipinya memerah dan  matanya terus menerus berkedip karena gugup.

“Oke… itu dia ‘MAMA’. Seperti janjiku, aku akan memberitahu kalian profil lengkap seluruh member EXO,” radio itu kembali mengudarakan suara DJ yang dengan jelas berjenis kelamin perempuan. “Bagaimana kalau mulai dari urutan abjad teratas? Nah… ini dia, Chanyeol EXO-K –.”

Deg…!

“Chanyeol-ah, kamu kenapa?”

-Chapter One-

Jungmyeon Hyeong dan Jongin terus menggumamkan kata-kata aneh. Mereka  tengah  mengidap sindrom gugup tingkat dewa. Kris  Hyeong terus berusaha untuk menenangkan Junmyeon Hyeong. Sedangkan Sehun dan Luhan Hyeong mengurusi Jongin. Biasanya Jongin akan tenang jika Kyungsoo memintanya. Tetapi sedari tadi aku tidak melihatnya dan Baekhyun.

Hari ini adalah awal promosi untuk album pertama kami. Semua merasa gugup, tidak terkecuali aku. Namun aku  tidak boleh terlihat gugup karena akan mempengaruhi member  yang lain. Aku sebagai ‘pencipta tawa’ di EXO harus membuat mereka merasa tenang.

“Di mana Kyungsoo dan Baekhyun?”  tanya Jongdae –Chen.

Aku mengangkat bahu sepersekian detik. “Tidak tahu. Mungkin mereka pergi untuk menghindari aura negatif ini,” aku nyengir kuda.

“Aish… mereka berdua,” gerutu Jongdae sembari berlalu menuju tempat Jongin terpuruk.

Aku menghela napas berat. Rasa gugup ini terus menerus membuncah. Rasanya seluruh tubuhku penuh oleh rasa gugup ini. Membuatku merasa demam dan sedikit gemetar. Kami tidak di tuntut tampil dengan sangat sempurna. Ayolah. Kami tetap harus menampilkan yang sempurna, sesempurna mungkin.

Lelah juga mencoba menenangkan yang lain. Aku akhirnya memutuskan untuk sedikit memejamkan mata seperti Kris Hyeong di sudut ruang latihan. Setengah jam lalu kami melakukan latihan terakhir untuk melihat ada tidaknya kesalahan dalam gerakan kami. Junmyeon Hyeong dan Jongin masih baik-baik saja waktu itu. Tetapi sekarang sudah jauh berbeda.

Setelah menyandarkan punggungku di dinding, aku mulai memejamkan mata. Napasku kuatur sedemikian rupa sehingga mampu  memenuhi diriku dengan aura ketenangan. Cara yang biasanya efektif, tetapi sekarang tidak.

“Mau mendengarkan musik?” tawar Kris  Hyeong yang duduk di sebelahku.

Aku menggelang pelan. Tepat saat dia menawarkan earset putih miliknya, sebuah ilham muncul di otakku. Aku beranjak dan berlari kecil menuju belakang pintu. Tas hitam milikku bermukim di sana. Dalam kecepakan kilat, aku membuka kantung terdepan tas itu untuk mengambil ponsel dan earset di kantung yang sama.

Hal yang terakhir yang bisa membuatku tenang adalah mendengarkan suara itu. Suara yang sudah hampir setahun belakangan ini seolah menjadi suplemen bagiku. Aku mencoba untuk tidak sekalipun tertinggal edisi tawa dan senandungnya. Hanya suara itu, ya, aku hanya tahu tentang suara indah itu.

Mianhaeyeo…,” suara itu menyentuh gendang telingaku melalu earset. “Aku rasa ini adalah hari terakhirku untuk menjadi DJ di sini. Bagi semua pendengar setiaku, aku akan merindukan kalian.Wuah… kenapa aku ingin menangis? Untuk kalian semua, SHINee… Neul Geujarie. Pyong.”

Aku menghembuskan napas dengan berat. Itu adalah suara terakhir yang aku rekam sekitar setengah tahun lalu. Suara seorang ‘gadis DJ’ yang secara tidak sengaja menjadi suara yang aku idolakan. Tidak gampang memang menemukan frekuensi radio yang dia bawakan. Namun aku melakukan segala cara untuk bisa mendengar suaranya setiap hari.

Entah bagaimana aku merasakan hal aneh saat mendengar suara itu. Suara indah yang terkadang membuat aku tenang dan tidak jarang membuat diriku bergejolak. Aku tidak tahu perasaan seperti apa yang aku rasakan saat mendengar suara itu. Aku hanya yakin, suara itu indah.

“Jongin­-ah!” panggil Youngjun Hyeong.

Ne…,” jawab Jongin.

Youngjun Hyeong melirikku sejenak yang terduduk di dekat pintu sebelum kembali fokus mencari sumber suara Jongin. Ketika dia menemukannya, dia segera menggerakan tangannya memanggil Jongin.

Kajja… kita harus mengurus rambutmu sekarang.”

“Oh, Ne.”

“Seunghwan menunggumu di parkiran, cepatlah!” Youngjun Hyeong menepuk perlahan pundak Jongin.

Jongin berpamitan pada kami semua sebelum dia pergi. Kris Hyeong membisikan sesuatu sesaat setelah Jongin mengambil tasnya yang kebetulan berada di dekat Kris Hyeong. Wajah Jongin berubah setelah itu. Dia tersenyum seperti orang gila dan terus menerus menatap Kris Hyeong.

“Yak… kalian bersiap-siaplah. Sebentar lagi kita akan pergi, setelah aku menyelesaikan beberapa urusan. Arasseo?”

Ne…,” teriak kami kompak.

Aku kembali  berkonsentrasi untuk menikmati suara indah tanpa wujud itu. Aku mencari pada daftar putar  rekaman-rekaman terdahulu. Rekaman yang menangkap tawanya.  Tawa nyaring yang lepas tanpa beban itu. Mungkin akan lebih membahagiakan apabila bisa melihat bibirnya yang melengkung membentuk tawa itu.

Seandainya aku bisa bertemu dengannya. Aku tidak akan ragu menyatakan bahwa  aku sangat  menyukai suaranya. Tidak. Kata ‘suka’ tidak cukup  untuk menggambarkan  perasaanku saat mendengar suara itu. Kagumkah? Terpesonakah? Mengidolakannyakah? Mungkin aku  harus membuka kamus besar bahasa korea untuk menemukan kata yang lebih tepat.

“Mendengar suara gadis itu  lagi?” suara samar Kris Hyeong menerobos menyentuh gendang telingaku.

Nde?” tanyaku untuk memastikan.

Kris Hyeong melepas salah satu earset-ku. “Apakah suara gadis itu berhasil membuatmu tenang?”

“Tentu saja, tidak pernah sebaik ini,” aku menjawab dengan bangga.

“Baguslah… asalkan kamu tidak gila saja,” tambah Baekhyun yang entah kapan bergabung lagi dengan kami.

“Mana Kyungsoo?” aku mengalihkan pembicaraan.

Baekhyun tersenyum jahil, “Dia di lobi bersama seorang gadis.”

Mwo?” pekik Jongdae tiba-tiba. “Siapa?”

Baekhyun mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Dia sepertinya kenalan Kyuhyun Hyeong. Pacarnya atau entahlah. Yang pasti Kyuhyun Hyeong takut pada gadis itu. Emm… aku rasa pernah melihatnya juga. Wajah gadis itu sangat familiar.”

“Begitukah?” tanyaku kompak dengan Kris Hyeong.

“Lalu kenapa kamu kembali sendiri?” Jongdae menatap penuh selidik.

“Ey… aku membantu Jongin untuk mengantar seorang gadis yang dia kenal. Kkamjong harus segera ke salon ‘kan? Katanya  yeodongsaeng-nya Jin Hyeong.”

Mwo?” Jongdae tersenyum aneh. “Di mana dia sekarang?”

“Aku mengantarnya ke ruangan Jin Hyeong, lantai enam.”

Joah,” Jongdae meraih pundak Kris Hyeong dengan susah payah. “Gege… mau bertemu gadis yang dulu aku ceritakan itu tidak?”

Nde?” Kris Hyeong terlihat bingung.

Jongdae berdecak kesal, “Gadis yang memberikanmu anting-anting itu. Aish… jangan bilang Hyeong lupa. Hyeong pernah bilang ingin sekali bertemu dengannya kan?”

“Oh, anting-anting ini?” tunjuk Kris Hyeong pada anting-anting bundar yang melekat di daun telinganya. “Kajja…!”

Annyeong!” Jongdae melambai dengan girang sesaat sebelum lenyap di balik pintu.

-Chapter One-

Mereka berdua memang biangnya masalah. Akulah yang kena marah Junmyeon Hyeong karena membiarkan Kris  Hyeong dan Jongdae pergi begitu saja. Kemanakah aku harus mencari mereka? Aku sudah mencari mereka ke lantai enam seperti saran Baekhyun karena sepertinya mereka akan ke sana. Tetapi hasilnya nihil, mereka tidak ada. Aku bertanya pada  keryawan di sana dan jawaban mereka membuatku sedikit kesal.

Sepuluh menit sudah aku berkeliling tidak tentu arah. Aku bukannya bodoh  karena tidak menghubungi ponsel mereka. Kedua ponsel mereka tertinggal di ruang latihan. Lima  belas menit lagi kami harus berkumpul dan bersama-sama menuju lokasi penampilan panggung pertama kami, Mnet.

Kesabaranku hampir habis. Apalagi kakiku mulai lemas akibat terus menerus gemetaran dan berjalan kesana-kemari mencari mereka. Sepertinya mereka punya kekuatan teleportasi seperti Jongin –dalam music video MAMA –sehingga aku tidak bisa menemukannya di manapun.

Aku benar-benar tidak kuat mencari lagi. Karyawan yang sempat melihat mereka hanya membuat aku bingung. Mereka  berkata melihatnya di lantai tujuh, saat aku ke sana mereka sudah tidak ada. Terus menerus seperti itu, membuat asap mengepul di ubun-ubunku. Mungkin dengan mengistirahatkan kakiku sejenak, otakku juga akan dingin.

“Hah…,” aku menghempaskan tubuhku di salah satu kursi tunggu yang mirip dengan kursi tunggu di setiap klinik dokter gigi.

Aku memejamkan mataku sejenak setelah sempat melirik jam dinding di hadapanku.  Dua jam lagi sebelum aksi kami di tangkap oleh kamera. Satu jam mungkin akan cukup untuk mendandani kami. Kami semua benar-benar tampan, apa adanya. Jadi, kami tidak memperlukan terlalu banyak hiasan bubuk-bubuk menakjubkan itu.

Hontou desu ka?1” (1Benarkah?)

Aku membuka mataku. Suara seorang gadis dengan bahasa yang tidak aku mengerti maksudnya membuatku sedikit penasaran. Aku hanya tahu –kalau tidak salah dengar, bahasa yang dia gunakan adalah bahasa Jepang.

Ie.. Nani mo? Oh… Karera wa hansamudesu, totemu hansamu.2” (2Tidak… Apa? Oh… mereka tampan,   sangat tampan.)

Gadis berambut lurus tidak sampai sebahu itu mendekat ke arahku. Aku memperbaiki posisi dudukku. Siapa tahu dia salah satu fans EXO dari Jepang. Tidak ada salahnya bertingkah sedikit keren di hadapannya.

“Emm… Sayonara!3” gadis itu mengakhiri pembicaraan di telepon. (3Emm… sampai jumpa!)

Konicihwa,4” sapaku saat dia tepat di hadapanku, sebagai sopan santun. (4Hai.)

Dia menatapku  dengan aneh. “Oh… Konichiwa,” balasnya. “Shitsurei shimasu?!5” (5Permisi!)

Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya karena aku hanya tahu kata yang barusan aku ucapkan. Aku hanya mencoba mengangguk sebagai jawaban. Dia tersenyum padaku dan mengucapkan terima kasih, masih dalam bahasa Jepang. ‘Arigato’, tidak mungkin aku tidak tahu satu kata simpel dan sudah cukup mendunia itu. Bayi yang baru bisa bicara saja mengerti arti  kata itu.

Dia ternyata meminta izin untuk duduk di sampingku. Baiklah. Jadi, arti kalimat itu adalah meminta izin  untuk  duduk. Satu lagi tambahan pembendaharaan kata bahasa Jepangku. Aku meliriknya –mencuri pandang–untuk sekedar menebak-nebak siapa dia. Mungkin trainee dari  Jepang. Siapa tahu? Ingin rasanya aku bertanya, tetapi bagaimana? Akankah dia mengerti jika aku bertanya dalam bahasa Korea?

“Jieun-ah!”

Gadis itu menegakan kepalanya saat sebuah suara merambat di sekitar kami. Aku juga menegakan kepalaku karena suara itu sudah sangat aku kenal. Aku melihat Jongdae dan Kris Hyeong di kejauhan melambai ke arahku. Aku melebarkan senyumku dan membalas lambaian tangannya.

Oppa!” pekik gadis di sebelahku.

Aku membulatkan mata. Apakah dia baru saja menggunakan bahasa Korea? Dia juga melambaikan tangannya sepertiku ke arah Jongdae. Namun selang beberapa detik dia menurunkan  tangannya dan mulai bertingkah aneh. Entah kikuk  atau malu, apalah  sebuatannya salah satu tingkah yang biasanya dilakukan gadis-gadis.

“Chanyeol-ah… apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Jongdae sembari mendekat ke arahku.

“Yak… aku mencari kalian berdua. Kita harus  berangkat sekarang!”

Jongdae menggaruk tengkuknya. “Maaf… lima menit lagi, eoh?”

“Apa  lagi?” tanyaku kesal.

“Aku mau menyapa teman lama dulu.”

Aku mengikuti arah telunjuk Jongdae. Dia menunjuk gadis di sebelahku. Gadis Jepang yang mungkin sudah fasih berbahasa  Korea.

“Lama tidak bertemu, Jieun-ah.”

“Emm… lama tidak bertemu. Sejak hari di mana Oppa debut, aku rasa,” gadis itu tersenyum manis.

Tunggu dulu. Gadis ini sangat fasih. Pelafalannya sangat sempurna, logat yang dia gunakan juga begitu familiar. Dan juga, bukankah Jongdae memanggilnya dengan nama yang umumnya di  gunakan orang Korea. Apa aku salah mengira dia orang Jepang?

Jongdae mendekati gadis itu. “Kamu berubah sekarang. Ada apa dengan suaramu? Mengapa terdengar begitu aneh?”

“Aku terkena radang tenggorokan. Jadi, beginilah. Dalam beberapa hari pasti kembali normal,” jawabnya malu-malu.

“Ah… syukurlah. Aku sempat khawatir,” Jongdae tertawa renyah. “Hampir aku lupa. Perkenalkan Kris Hyeong. Wu Yi Fan atau Wu Fan, sama saja. Kamu tahu ‘kan?”

Gadis itu tertunduk malu. Aku sempat melihat pipinya sedikit memerah. Dia pasti fans Kris Hyeong. Tega sekali dia tidak mengenaliku. Apakah dia hanya tahu Kris Hyeong? Apakah member EXO terlalu banyak sehingga dia tidak mau repot-repot mengenali kami satu per satu?

Annyeong haseyeo,” sapa Kris Hyeong plus senyum menawannya.

Gadis itu hanya mengangguk dan menjawab dengan bisikan. Dia masih tetap melipat wajahnya tanpa berani menatap Kris Hyeong yang bertanya beberapa hal tentangnya. Ya. Sopan  santun saja. Salah satu bagian dari fans service.

“Park Chanyeol imnida,” aku memperkenalkan diriku sendiri tanpa diminta.

Dia menoleh ke arahku.  Dia kembali menatapku dengan aneh. “Emm… Choi Jieun imnida. Bangapseumnida!”

“Apa yang kamu lakukan di sini?” pertanyaan Jongdae membuatnya segera mengalihkan tatapannya dariku.

“Jin Oppa memintaku untuk datang. Katanya perusahaan meminta bantuanku segera.”

“Ah… Bantuan apa?”

Molla… aku belum bertemu Jin Oppa. Dia masih ada urusan,” jelasnya.

Sial. Mereka tak acuhkanku. Lebih baik aku kembali duduk dan bersandar dengan nyaman seperti beberapa saat lalu. Memejamkan mata namun tetap menajamkan indra pendengaranku agar dapat menangkap pembicaraan mereka. Siapa tahu mereka membicarakanku.

Entah ke mana arah pembicaraan mereka. Setahuku hanya membahas Kris Hyeong dan anting-anting, entah anting apa. Hening beberapa saat, hanya terdengar cekikikan Jongdae. Aku tidak berniat membuka mataku. Biarkanlah mereka menikmati perbincangan mereka tanpa mempedulikanku.

Mwo? Dia mengira kamu _?”

“ _Mungkin,” suara  gadis itu terdengar begitu  jelas. Suara yang serak namun tetap  lembut.

Jongdae tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawanya begitu mengganggu dan membuatku penasaran. Aku akhirnya memutuskan untuk membuka mataku, bergerak cepat untuk menyeret mereka. Instingku mengatakan, mereka menertawakanku yang mengira gadis itu adalah orang Jepang.

Aku benar-benar melakukan apa yang aku katakan dalam hati sebelumnya.  Tanganku dengan kecepatan kilat merangkul pundak Jongdae dan menyeretnya pergi. Dia meronta-ronta, tetapi tidak sedikit pun mampu mengusik pitinganku. Aku hanya melakukan hal itu pada Jongdae, karena aku yakin Kris Hyeong akan mengikuti kami tanpa diminta. Dia cukup penurut.

Hěn gāoxìng jiàn dào nǐ,6” ucap Kris Hyeong  sebelum menyusul kami. (6Senang bertemu denganmu.)

Wǒ yě.7” (7Aku juga.)

Luar biasa, gadis itu bahkan bisa berbahasa mandarin dan terdengar cukup fasih. Aku masih bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas dari jarak sejauh ini. Walaupun percakapan mereka hanya terdengar seperti ba-bi-bu di telingaku dan tentunya aku tak mengerti sama sekali, tetapi aku tetap tidak ingin terlewat sedikitpun.

Sepertinya Kris  Hyeong tengah  menggoda gadis itu dengan rayuan alanya. Buktinya pipi gadis pucat itu merona merah. Gerak-geriknya pun aneh. Dia tersipu malu. Sebegitu sukanyakah dia pada Kris  Hyeong? Siapa dia? Fans fanatiknyakah? Atau seseorang yang disukai Kris Hyeong?

Hyeong… ayo cepatlah! Apa kamu mau Youngjun Hyeong mengomel sepanjang perjalanan nanti?” teriakku demi mengintrupsi percakapan mereka selanjutnya.

“Baiklah…,”  Kris  Hyeong mengangkat tangannya sejajar dengan kepala. Wǒ huì kàn dào nǐ de.8 (8Sampai berjumpa lagi.)

Shì de, wǒ yào kàn dào nǐ,9 jawab gadis itu terbata. (9Iya, sampai berjumpa lagi.)

-Miss Fox storyline-

Beruntunglah kami karena Youngjun Hyeong belum muncul. Bisa dikatakan kami kembali tepat waktu. Walaupun sebenarnya tidak karena Youngjun Hyeong memiliki urusan tambahan tadi. Dia  harus menunda keberangkatan kami untuk beberapa menit.

Jongdae segera berlari menghampiri Minseok–Xiumin–Hyeong sesaat setelah memasuki ruang latihan. Dia sepertinya tidak sabar untuk menceritakan pertemuannya dengan gadis itu. Maaf, aku lupa namanya. Aku terlalu terfokus pada kehebatannya itu. Dia hebat dalam berbagai bahasa  selain Korea. Jadi, aku menyimpulkan dia adalah seorang penerjemah SM Entertainment merangkap fans fanatik Kris Hyeong. Dia bisa bekerja di SM Entertainment karena dia memiliki hubungan kekerabatan dengan Jin Hyeong. Simbiosis yang selalu terjadi pada era ini.

“Oh… dia kembali? Kenapa tidak memberi tahuku?” protes Minseok Hyeong.

“Maaf, aku terlalu antusias untuk mengenalkannya pada Kris Hyeong. Hyeong mungkin tidak akan mengenalinya. Gaya berpakaiannya jauh berbeda dengan dulu.”

Aku perlahan berjalan mendekati mereka. Keingintahuanku lebih jauh tentang gadis itu menuntunku untuk menjadi ‘pemuda yang ingin mengetahui pembicaraan orang lain’ alias ‘penguping’. Aku ingin tahu sehebat apa gadis itu. Lalu ada hubungan apa dia dengan Kris  Hyeong dan juga Jongdae. Mereka terlihat begitu dekat, mungkin tidak hanya sebatas fans.

“Kamu tahu…  Chanyeol mengira dia adalah orang Jepang,” bisiknya dengan suara yang cukup  besar untuk di tangkap  daun telingaku yang super lebar ini.

Wae?”

“Dia kebetulan tengah berbicara dengan teman sekampusnya, kebetulan orang Jepang. Jadi, Chanyeol menyapanya dengan  bahasa Jepang saat bertemu tadi,”   Jongdae cekikikan.

Aku tidak bisa membiarkan mereka menertawakanku. “Yak… apakah itu lucu?” protesku.

Ne…  dia jadi merasa tidak enak padamu.”

Mwo?” aku tertawa dibuat-buat. “Ey… aku tahu dia  orang Korea. Aku hanya mau melatih bahasa Jepangku.”

Seseorang memegang pundakku. “Chanyeol-ah… kita tidak promosi di Jepang. Lebih baik melatih bahasa mandarin kita.”

“Tidak ada salahnya berlatih bahasa Jepang ‘kan?”

“Baiklah…,” Baekhyun mengangguk pasrah.

Ternyata tindakan mengalahnya itu bukanlah akhir. Dia mulai melancarkan aksinya untuk membuatku sebagai bahan tertawaan. Di mulai dari kebiasaan anehku  yaitu mataku tidak terpejam seluruhnya saat tidur hingga betapa takutnya aku terhadap serangga dan dokter gigi. Dan juga hobi baruku, tersipu sembari tersenyum-senyum aneh saat mendengarkan sesuatu melalui earset sebelum tidur.

Aku akui Baekhyun benar akan semua itu. Kami tidur sekamar, jadi  wajar saja. Tetapi  aku tidak ingin hobi baruku yang satu itu diketahui siapapun.  Aku bahkan tidak mengkategorikannya sebagai hobi. Menjadi pengagum  sebuah suara tanpa tahu siapa pemiliknya, bahkan sampai mengoleksi rekaman suara itu. Tidak masalah jika mereka-mereka saja yang tahu, tetapi jika sampai orang lain ataupun fans. Aku pasti terlihat seperti orang yang sangat aneh.

“Baekhyun-ah… hentikan!” aku membekap mulutnya saat dia akan menjelaskan kebiasaan baruku itu lebih jauh lagi.

Guys… kajja, Youngjun Hyeong menunggu di depan,” panggil Kris Hyeong.

Ne!” teriakku dan Baekhyun.

Aku, Baekhyun, Jongdae dan Junmyeon Hyeong berjalan beriringan melewati koridor yang membawa kami menuju lift. Lantai lima dipenuhi dengan  ruang latihan, baik untuk artis SM Entertainment yang telah debut maupun trainee. Sudah sewajarnya jika kami berpapasan dengan para trainee dan harus menyapa mereka agar tidak terkesan angkuh.

Eonni… apakah dalam bernyanyi intonasi dalam pelafalan bahasa mandarin juga harus diperhatikan?”

“Tentu saja, walaupun tidak begitu jelas karena  kita bernyayi dalam nada atau irama.”

Langkah kakiku terhenti saat melewati sebuah ruangan. Pintu ruangan itu sedikit terbuka sehingga memberikan akses untuk suara yang menggema di dalam ruangan keluar. Pintu ruang vokal yang hanya berbahan kaca itu menunjukkan dengan jelas seluruh isi ruangan itu.  Aku tidak berniat melanjutkan langkahku saat mengenali sosok seseorang di dalam sana.

“Bisakah Eonni memberikan contoh?”

Mwo? Suaraku sedang buruk untuk bernyanyi. Lagian di sini aku mengajarkan kalian bahasa mandarin bukannya menyanyi.”

“Ayolah Eonni… sekali saja.”

Ara… jangan tertawa nanti. Aku sudah bilang kalau suaraku jelek.”

Ne,”  teriak mereka kompak.

Neoui sesangeuro, eoh?”  gadis itu berdehem. “Dāng hé zhì chéngzǔfāng… Zài xiāng nī de shì jié luō…,” senandungnya terhenti karena tiba-tiba dia tertawa.

Aku tercengang suaranya saat bernyanyi mirip dengan seseorang. Cara dia tertawanya pun mengingatkanku pada seseorang. Mungkinkah dia  adalah ‘dia’?  Tidak mungkin, dunia tidak sesempit ini. Terlebih lagi, frekuensi radio itu tidak di Seoul. Jadi, ‘dia’ memiliki kemungkinan kecil untuk berada di Seoul. Ini semua hanya fantasiku karena terlalu gugup.

“Bagaimana? Suaranya lebih bagus dari gadis DJ itu?”

Aku mendelik, menatap Baekhyun tidak percaya. “Mwo?Anii… menyamainya pun tidak.”

“Akh… begitukah? Tetapi menurutmu bagaimana suaranya? Emm… cukup bagus, bukan begitu? Kenapa dia tidak jadi penyanyi saja ya? Pasti karena keluarga tidak mengizinkan, iya kan?”

Aku menghela napas. Sebaiknya aku mengiyakan saja pertanyaanya. Aku tidak mau lebih lama lagi mendengarnya mengoceh dan menyudutkanku. Mulutnya itu cukup berbisa. Dia bisa memutarbalikan fakta. Para fans tidak pernah tahu saja  kalau Baekhyun itu biangnya gosip.

Dugaanku memang tidak pernah salah. Baekhyun mulai berkoar-koar kalau aku menyukai adik Jin Hyeong, Choi Jieun. Ya, gadis itu bernama Choi Jieun. Junmyeon Hyeong terus berdecak dan menatapku tidak percaya seolah ingin mengatakan bahwa aku mencari-cari masalah. Ditambah lagi Jongdae yang  mengompori dan meng-‘amiin’-kan semua perkataan Baekhyun.

Aku hampir mati kesal di dalam lift saat menuju lobi. Mulutku mulai pegal karena terus menerus tersenyum dan membantah mereka. Setidaknya aku harus menanggapi omongan mereka sebagai candaan. Lift berisikan delapan orang itu terasa sangat panas, walaupun hembusan pendingin ruangan terasa kencang di ubun-ubunku. Ingin rasanya aku berlutut dan memohon pada  Baekhyun agar menghentikan semaunya.

Ting…!

Lift terbuka saat mencapai lantai satu. Taemin dan Jonghyun  Hyeong berdiri di depan lift.   Taemin tersenyum ke arah kami dan Jonghyun Hyeong terlihat menghitung jumlah penumpang lift. Dia berdecak senang karena dia rasa dia   bisa ikut dengan kami menuju lantai dasar. Namun tiba-tiba Taemin menghalanginya.

“Kamu mau apa, Hyeong?” tanya Taemin dengan wajah polos yang dibuat-buat.

“Ikut mereka, apa lagi? Kamu naik lift berikutnya.”

“Tidak bisa,”

“Yak… aku buru-buru,” bela  Jonghyun Hyeong.

“Tidak bisa,”  bantah Taemin. “Hyeong menggunakan  tangga saja. Biar maknae ini yang ikut mereka.”

Kami hanya melongo menyaksikan perdebatan antara Taemin dan Jonghyun Hyeong. Bukankah akan lebih cepat bagi mereka sampai di lobi jika menggunakan tangga dan tidak berebut seperti ini. Mereka senior kami, tetapi tidak selamanya senior bertingkah layaknya senior.

Hyeong… kami duluan,” Jongdae mengambil keputusan yang tepat.

Lift terus meluncur perlahan menuju lantai dasar –lobi. Aku sangat bersyukur. Karena peristiwa di lantai satu tadi, mereka melupakan topik yang menjadi pembahasan kami sepanjang perjalanan turun lift ini. Akhirnya aku bisa bernapas lega.

“Yak… Lee Taemin!”

Tepat setelah pintu lift terbuka –sampai di lantai dasar, teriakan melengking Jonghyun Hyeong menyambut kami. Ternyata mereka menggunakan tangga  –pada akhirnya. Jonghyun Hyeong terlihat mengejar Taemin. Dia sepertinya ingin memberi pelajaran pada Taemin yang –mungkin- bertindak usil beberapa saat lalu.

Junmyeon Hyeong dan Jongdae terdiam di dalam lift. Mereka tidak berniat untuk keluar. Sebenarnya Jongdae ingin keluar,  namun Junmyeon Hyeong menahannya. Mungkin saja dia melupakan sesuatu di ruang latihan dan hendak kembali untuk mengambilnya. Sebaiknya aku memastikan.

“Ada apa, Hyeong?”

Junmyeon Hyeong menegakkan kepalanya. “Ah… aku melupakan sesuatu. Aku dan Jongdae akan mengambilnya,” Junmyeong Hyeong terburu-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas punggung yang dia bawa. “Kalian duluan saja. Kami akan turun dengan mereka yang tersisa di atas.”

“Apa aku harus ikut?” protes Jongdae.

“Tentu saja.”

“Baiklah… cepatlah turun!” pintaku.

Junmyeong Hyeong  mengangguk kencang. Aku masih bisa melihatnya menghela napas  sesaat sebelum pintu lift tertutup. Ada yang aneh. Junmyeon Hyeong terlihat sangat panik. Apakah terjadi sesuatu? Atau dia masih gugup? Aku rasa bukan karena gugup. Dia berubah seperti itu setelah menerima pesan di ponselnya. Aneh.

“Chanyeol-ah, apa yang kamu lakukan? Kajja!” Kris Hyeong melambai-lambai dari jauh.

Ne…,” aku berlari ke arahnya.

Lobi memang tidak pernah benar-benar sepi. Tamu SM Entertainment keluar-masuk. Kesibukan para coordi juga terlihat di setiap sudut. Mereka berseliweran kesana-kemari sembari membawa benda-benda untuk artis yang mereka tangani. Terlihat begitu melelahkan. Beginilah dunia hiburan.

“Jonghyun Oppa!” pekik seorang gadis.

Aku menoleh  ke arah suara itu.  Gadis asing berlari ke arah Jonghyun Hyeong dan Taemin. Jauh di belakanganya Kyungsoo berlari  kecil. Baekhyun  melambaikan tangannya meminta Kyungsoo segera menghampiri kami. Langkah kaki Kyungsoo melambat saat melewati Jonghyun Hyeong dan dua orang lainnya.

Dia terlihat memperhatikan dengan seksama gadis itu. Apakah gadis itu yang diceritakan Baekhyun tadi? Aku berani menebak, Kyungsoo sepertinya menyukai gadis itu. Aku yakin akan tebakanku itu. Lihat saja caranya melihat gadis itu. Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka mungkin akan serasi.

Kyungsoo terus berjalan tanpa memperhatikan di depannya. Dia hampir saja menabrak Kris Hyeong. Namun Kris Hyeong berhasil menghalaunya dan membuatnya berjalan sambil melihat jalan seperti seharusnya.  Kyungsoo hanya nyengir kuda dan segera berjalan sejajar dengan Luhan Hyeong. Takut terlihat pendek rupanya.

“Siapa dia?” Tanya Kris Hyeong.

“Aku tidak tahu,” jawabnya santai.

“Sepertinya aku pernah melihatnya. Tetapi di mana?”

Kyungsoo menatap Kris Hyeong tidak  percaya. Tatapannya seolah mengatakan,  tidak mungkin. Aku juga sependapat dengan Kyungsoo. Kris  Hyeong terkadang mengaku mengenal seseorang padahal sama sekali tidak. Aku tahu dia tampan.  Tetapi haruskah senarsis itu?

“Jungmyeonnie-ah!”

Omo…!” pekikku tertahan.

-Chapter One-

Entah bagaimana lagi kami harus menahan tawa. Aku sudah tidak sanggup lagi, sedangkan Jongdae dan Lay Hyeong tidak pernah bosan. Mereka terus menerus melihat ulang hasil kerja kami tadi, yaitu mengambil foto anak-anak yang lain saat mereka tertidur. Ya. Sebaiknya mereka tertawa sepuasnya sebelum para korban datang.  Hanya kami bertiga yang ada di dalam lift menuju lantai lima. Member yang lainnya masih mengumpulkan ruh mereka dan berjalan setengah sadar menuju lobi –aku rasa.

Ne… aku tidak akan pulang sendiri. Cepatlah Oppa, aku mulai bosan.”

Telinga tajamku menangkap rengek manja seorang gadis. Tepat setelah berbelok di sudut lorong, aku melihat Jieun duduk sendirian. Dia memandangi ponselnya sembari menghela napas. Pundaknya merosot turun sebagai pertanda bahwa dia sangat lelah.

“Jieun-ah!” teriak Jongdae  di belakangku.

Jieun menegakan kepalanya dan tersenyum ke arah kami. Entah bagimana senyum itu menepis semua kepenatan yang sebelumnya tergambar di wajahnya.  Tiba-tiba tawanya meledak dan membuatku sedikit terkejut. Aku melihat sekelilingku, apakah yang membuatnya tertawa seperti  itu? Ternyata aku tidak sengaja  membuat Jongdae jatuh tersungkur. Mungkin dia terjatuh saat berlari kecil melewatiku untuk mendekati Jieun.

“Sakitkah?” tanyaku polos.

Jongdae menatapku dengan kesal. “Tentu  saja.”

“Tsk… kamu ini, memalukan,” Lay Hyeong membantu Jongdae berdiri.

Oppa… tidak apa-apa ‘kan?” Jieun menghampiri Jongdae. “Maaf,” ucapnya. Rupanya dia merasa bersalah karena menertawakan Jongdae tadi.

“Oh… aku baik-baik saja,” Jongdae tersenyum manis. “Apa yang kamu lakukan? Mengapa belum pulang?”

“Menunggu Jin Oppa. Dia melarangku pulang sendirian karena sudah sangat larut.”

“Kamu baru selesai mengajar jam segini?”

Anii... jam sepuluh tadi aku sudah selesai. Tetapi Jin Oppa memintaku untuk membantu coordi menyiapkan barang-barang SHINee untuk besok setelah itu membereskan kantornya dan menyiapkan beberapa kontrak.”

Jongdae berdecak, “Apa kamu di bayar atas semua itu?”

Gadis itu menggeleng sembari tersenyum. “Anii… aku hanya di  bayar untuk bagian mengajar hari ini. Ayolah Oppa… apa aku tega membiarkan Jin Oppa bekerja  sendirian?”

“Baiklah… aku mengerti. Sepertinya kondisi tenggorokanmu memburuk, periksalah ke dokter.”

Ne…,” gadis itu mengangguk. “Bagaimana perform hari ini?”

“Sukses besar! Seharusnya kamu ikut pesta kecil kami tadi,” jelas Lay Hyeong.

Jieun tersenyum kecil. “Mungkin lain kali.”

“Ah… aku butuh duduk,” keluh Jongdae.

Lay Hyeong tertawa renyah. “Kajja!”

Lay Hyeong memapah Jongdae menuju kursi tempat Jieun duduk sebelumnya. Kini hanya aku dan Jieun berdiri berhadapan dengan kikuk. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi takut untuk mengatakannya. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Kita tidak jauh berbeda.

“Maaf,” suara seraknya terdengar begitu pelan.

Nde? Seharusnya aku yang meminta maaf karena mengira kamu orang Jepang,” jelasku tanpa hambatan.

Dia menatapku heran. “Ah… Ne. Tetapi bukan itu maksudku. Emm…,” dia memainkan ujung kardigan yang dia kenakan.

“Bukan yang itu?” Sepertinya aku salah menebak maksudnya. Apakah aku harus malu?

“Chanyeol-ssi, bolehkah aku meminta bantuanmu?”

Dia tahu namaku, betapa bangganya aku. “Tentu saja,”  jawabku lantang.

“Bisakah aku meminta tanda tanganmu?”

Pada akhirnya dia adalah fans-ku. “Tentu saja. Sangat bisa.”

Dia segera berlari menuju tasnya di sebelah Jongdae dan Lay. Jongdae dan Lay mengucapkan sesuatu padanya  dan dia menimpali  singkat. Tidak menunggu lama dia kembali berlari ke arahku. Kali ini dia membawa sesuatu di tangannya. Sesuatu berukuran persegi dan berwarna putih. Dia juga membawa benda sebesar telunjuk. Oke. Benda itu adalah spidol.

“Ini, tolong tanda tangani,” pintanya.

Aku menatap dengan bingung. “Hey… aku bukan pengarang buku ini. Mengapa aku  yang tanda tangan?”

“Akh… tidak bisa, eoh?” dia menarik tangannya dan memeluk buku itu.

“Baiklah, aku hanya bercanda,”aku merebut buku itu darinya. “Apa yang harus aku tulis selain tanda  tangan dan namaku?”

Dia tersenyum sumringah. “Cepatlah sembuh, Ai-chan.”

Nde? Ai-chan?”

Ne… Ai-chan,” dia mengangguk kencang.

“Bukankah namamu _?”

Dia kembali memainkan ujung kardigannya. “Itu bukan untukku. Aku akan menghadiahkannya untuk seseorang yang aku kenal. Dia sangat menyukai Chanyeol-ssi.”

Mwo?”

Demi langit dan bumi, inikah namanya patah hati? Aku akan mendiskripsikan rasanya. Beberapa menit lalu dia membawaku naik ke Namsan Tower dengan wajah tersipu. Dia bertingkah begitu manis seolah ingin menyatakan perasaannya padaku. Dia memperlakukanku dengan begitu baik. Tetapi tiba-tiba dia memintaku untuk berdiri di bagian paling tepi Namsan Tower dan memintaku merentangkan tangan dengan mata tertutup. Tangannya perlahan menyentuh punggungku bergerak ingin memelukku. Namun naasnya, bukannya pelukan yang aku dapat melaiankan dia mendorongku sekuat tenaga agar terjatuh dari Namsan Tower.

“Oh… Baiklah. Demi fans-ku,” gumamku setengah kesal.

-Miss Fox storyline-

Kami telah duduk dengan manis di dalam  mini bus dan bersiap menuju dorm.  Tetapi Jongin tidak ikut bersama kami. Setelah rapat tadi dia meminta izin untuk pulang terlambat karena Taemin meminta bantuannya. Awalnya Youngjun Hyeong tidak mengizinkannya. Dan Taemin-lah yang menjadi dewa penolongnya.

“Kamu kenapa?” tanya supir melihat tingkah aneh Yongjun Hyeong.

“Ponselku sepertinya tertinggal. Aigoo... aku sangat lelah,” keluhnya.

Hyeong… aku akan mengambilkan,” usulku

“Oh… joah. Di ruanganku, eoh?”

“Baiklah…!” aku bergerak menuju pintu mobil.

“Cepatlah kembali!” teriak Kris Hyeong.

Aku hanya mengangguk kencang dan segera berlari memasuki gedung  megah itu lagi.  Tidak perlu menunggu lama, aku  bisa menggunakan lift dan meluncur ke lantai lima. Aku melompat dengan girang keluar dari lift. Sudah jam dua pagi, suasana cukup tenang. Cukup untuk membuat bulu kuduk merinding.

Aish… Oppa  gila, eoh? Aku akan pulang sendiri. Selesaikan saja pekerjaan  Oppa dan Taemin,  dan jangan lupa istirahat.”

Aku mendengar suara Jieun lagi. Apakah kami ditakdirkan untuk selalu bertemu seperti ini? Baru saja aku akan mencari sumber suara Jieun, kelebatan bayangan melintas di depanku. Kejadian itu membuatku semakin merinding. Aku memang sempat mendengar desas-desus kalau ada hantu di lantai ini.

Noona…!” suara yang berat itu membuatku terkejut.

“Oh… kamu?” Jieun terdengar tidak kalah terkejut. “Bukankah yang lain sudah  pulang tadi? Mengapa masih di sini?”

“Karena Noona. Aish… rasanya aneh memanggilmu dengan Noona setelah sekian lama,” cekikikan yang begitu familiar itu membuatku mengeryitkan dahi. “Kajja… aku antar pulang!”

To be continued…

4 responses to “[Freelance] JOAH -Beautiful Voice #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s