CAMPUS SCANDAL – First Impression [PG17] — by Neez

campus-scandal1

CAMPUS SCANDAL

“FIRST IMPRESSION”

Oh Jaehee / OC || Profesor Kim / EXO Suho || Others

Alternative Universe, Adult, Campus Life, Comedy, Romance

1.900 Words || PG 17 

BETA : IMA

Related To :

CAMPUS SCANDAL (NC-17)

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

Pertemuan pertama Jaehee dan Profesor Kim adalah keesokan hari setelah Dosen Kwon, yang menjabat sebagai Dosen pembina akademiknya memergokinya sedang berciuman dengan the smart a*s Rap Monster di sebuah kelas kosong. Sepele, Jaehee dan RapMon tidak berkencan, namun semua orang menantangnya apakah dia mampu membuat pita dari tangkai ceri menggunakan lidah.

   Dan RapMon setuju untuk menjalani tantangan. Sayangnya, Dosen Kwon—yang kebetulan adalah kakak kandung dari ibu Jaehee sendiri, tentu saja melaporkannya pada Dekan Fakultas, dan pada kedua orangtuanya, semua berjalan buruk dari kedua orangtuanya yang memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang pria, yang katanya adalah dosennya sendiri dan akan menggantikan Dosen Kwon atau Bibi Ahreum sebagai Dosen pembina akademiknya. Orangtuanya memutuskan demikian, karena bukan satu atau dua kali saja Jaehee tertangkap sedang melakukan aktivitas seksual, sigh~

   Shit always happens. Dan herannya kenapa hanya dia yang sering tertangkap di seluruh kampus hingga titel slut, bitch, atau whore sudah melekat pada dirinya—meski tidak ada yang berani mengatakannya terang-terangan tepat di depan wajahnya.

   Ayahnya menyebutkan prestasi calon suaminya saat menjabarkan profil lengkap laki-laki itu. Baru mendapatkan gelar Profesor dari Harvard, karena penemuannya dalam entah apa—Jaehee tidak tertarik mengetahuinya, kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana hingga master di Sungkyukwan, dan pindah ke Amerika untuk mendapatkan gelar Doktor.

   Jika bagi ayahnya itu semua adalah prestasi yang membanggakan, dan merupakan standar untuk menjadi menantu, maka reaksi berbeda dipikirkan oleh Jaehee. Setelah menolak dengan sekuat tenaga mengenai pernikahan ini, Ayahnya memberikan ancaman dan akan benar-benar dilakukan jika Jaehee tidak mau bertunangan atau entah apa namanya dengan pria itu. Ayahnya akan memutus segala fasilitas dan tunjangan hidup yang sudah Jaehee dapatkan sejak kecil.

   Jadi pilihannya, Jaehee mau kelaparan diluar sana dan tetap single, atau menikah dan mendapatkan uang dari suaminya.

   Ayah yang kejam!!! Bisa-bisanya ayahnya mengancamnya seperti ini. Meniup-niup poninya, Jaehee hanya bisa membayangkan bagaimana tampang calon suaminya yang sudah memiliki berderet-deret gelar seperti itu. Ayah dan ibunya mungkin salah jika menjodohkannya dengan pria ini. Harusnya Bibi Ahreum yang dijodohkan dengan pria itu, bukan Jaehee! Mereka sama-sama senang belajar, mungkin mereka akan senang meninggal di dalam tumpukan buku-buku, pikir Jaehee sinis.

   Pintu ruangan dosen mendadak terbuka, dan seluruh suara tawa mendadak menghilang saat sesosok laki-laki muncul dari sana. Jaehee mengangkat alisnya, geek macam apa yang dijodohkan kepadanya. Ia sangat penasaran. Seharusnya ia tahu kalau kutubuku itu pasti sudah ada di dalam ruangannya. Pria macam ini pasti selalu tepat waktu, tipe yang lebih baik datang lebih dulu, daripada terlambat.

   Dan Jaehee akan menghabiskan waktunya dengan pria bodoh nan membosankan seperti itu? Hah~ tak apalah, selama pria itu bisa dibodoh-bodohi, yang penting uang masuk, dan ia bisa bersenang-senang sendirian. Ya itulah tekad Jaehee semenjak sang ayah menunjukkan tanda-tanda bahwa keputusannya takkan pernah bisa diganggu gugat.

   Jaehee menguap terang-terangan, malas untuk menyaksikan seperti apa tampang bodoh calon suaminya. Ia berharap mendengar seruan-seruan atau gumaman, atau bahkan celoteh lucu hingga mengejek yang biasa dilontarkan beberapa teman sekelasnya yang terkenal sebagai tukang huru-hara macam Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun.

   Namun ia tidak mendengar apa-apa. Malah ia mendengar beberapa gadis di sekitarnya seperti terkesiap, termasuk dua sahabatnya, Jinmi dan Hana yang mengeluarkan suara seperti memekik. Jaehee mendesah berat.

   Apa calon suaminya seburuk itu hingga Jinmi dan Hana menekap mulut?

   ”Pagi.”

   Barulah kali ini Jaehee mendongak untuk melihat siapa yang berdiri di depan. Dan mau tak mau, suka tak suka ia harus mengakui bahwa pria di hadapannya… well, tidak buruk.

   No, scratch that! He’s hella handsome.

   Tapi jangan harap Jaehee mau mengakuinya, atau bahkan berekspresi bahwa ia sedikit tertarik pada pria di hadapannya, meski setiap sel di tubuhnya meneriakkan ketertarikan yang kuat pada pria di hadapannya ini.

   Pria itu tingginya sedang-sedang saja, (well, it’s perfect since I’’m so tiny), mengenakan sweater berwarna pearl aqua diatas kemeja yang kerahnya menyembul, serta ia mengenakan kacamata dengan bingkai hitam. Kulitnya seputih susu, sehingga Jaehee nyaris mempertanyakan keeksisan Putri Salju di dunia ini jika melihat kulit pria di hadapannya ini. Pria itu memiliki wajah luar biasa tampan, namun rahangnya yang terlihat kaku menunjukkan ketegasan, ditambah lagi dengan dua mata cokelat yang indah, namun… entahlah, berbahaya?! Tak bisa dipungkiri, Jaehee seolah tersesat saat memandangnya.

   ”Saya Kim Joonmyun, kalian bisa panggil saya Professor Kim. Mulai sekarang, saya akan mengajari kalian Teori Perbandingan Politik. Dosen Kwon sudah mengirimkan kepada saya sampai dimana kalian belajar, dan bagaimana standar kalian… yang harus saya akui, sedikit mengecewakan untuk ukuran Universitas yang bagus.” Katanya, dengan dua mata cokelatnya menyapu setiap sisi kelas. Datar, dingin, namun tanpa emosi. ”Sekarang saya mau tanya, ada yang bisa jelaskan teori-teori yang muncul setelah perang dingin?” seolah dengan malas, ia menelusuri daftar hadir di tangannya, ”Hmm… Kim Jongdae?”

   ”Ne…” sahut Jongdae, sementara bisa dipastikan seluruh murid mulai berkeringat dingin.

   ”Bisa Anda sebut dan jelaskan, teori-teori dalam hubungan internasional yang muncul setelah perang dingin?”

   Jongdae menelan ludahnya, sementara Profesor Kim, si kutubuku (tapi sensual) itu menggunakan sebelah tangan untuk menyandarkan tubuhnya ke meja, sementara matanya memfokuskan diri pada Jongdae yang kemudian menyebutkan Teori Politik Hijau dengan terbata-bata.

   Profesor Kim tidak memberikan reaksi apa pun setelah Jongdae dengan susah payah menjawab pertanyaannya, matanya beralih pada daftar hadir dan memanggil nama-nama lainnya untuk diberikan pertanyaan. Beberapa diantara mahasiswa ada yang bisa menjawab seperti Jongdae, namun tak sedikit juga yang dengan lemah menggeleng dan tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Namun, tak sekalipun ia memberikan reaksi, baik memuji atau bahkan menegur mahasiswa dan mahasiswi di hadapannya itu.

   ”Baik, sekarang buka buku Teori Perbandingan Politik kalian, sementara saya menyiapkan slide…” katanya sambil bergerak ke balik meja untuk memasang MacBook-nya dengan proyektor. Membiarkan mahasiswa dan mahasiswinya bergerak tanpa suara untuk mengambil buku-buku teks tentang perbandingan politik.

   Biasanya Jaehee tidak pernah mendengarkan, dan tidak akan mau mendengarkan jika yang berdiri di depan kelas adalah Dosen Kwon, si perawan tua yang suaranya bak penyedot debu. Jaehee pun biasanya lebih memilih memainkan ponsel dan mengecek SNS-nya. Tetapi kali ini, entahlah, rasanya Jaehee tidak dapat mengalihkan seluruh indra yang ia miliki dari seorang Profesor Kim, sekeras apa pun ia berusaha.

   Profesor Kim berjalan mengitari kelas, membawa pointer di tangannya, sesekali mengacungkannya ke arah sensor agar slide demi slide bergeser, sembari ia menerangkan materi dengan nada datar.

   Tapi, betapa datar pun suaranya, bulu kuduk Jaehee meremang mendengarnya. Seolah-olah ia dapat meleleh begitu saja! Belum pernah, sekalipun belum pernah ada laki-laki yang bahkan tanpa menyentuhnya sudah bisa membuatnya lemas seperti ini. Dia bahkan tidak berbicara secara langsung dengan Profesor Kim, tapi pria itu dengan aura dan bahasa tubuhnya dikombinasikan dengan getaran suaranya sudah bisa mengalahkan pesona seluruh pria tampan di kampus ini.

   ”Sekian penjelasan saya, sekarang berikan saya analisa mengenai teori-teori yang barusan saya bicarakan, tidak perlu panjang lebar, cukup beberapa paragraf.” Profesor Kim kembali ke mejanya di depan dan memeriksa daftar hadir, ”Oh Jaehee-ssi, ikut saya ke ruangan.”

   Jaehee tersentak, hampir semua kepala milik teman-teman sekelasnya menoleh untuk memandangnya.

   ”Sementara saya mengatur mahasiswa bimbingan akademik saya yang baru, saya tidak mau mendengar ada suara apa pun yang gaduh dari dalam kelas ini. Kim Jongdae, saya serahkan ketertiban kelas padamu. Jaehee-ssi, ikut saya ke kantor!”

   ”Ah, si Nenek Tua itu akhirnya menyerah menjadi pembimbing akademikmu?” bisik Baekhyun geli.

   Jaehee hanya mengedipkan sebelah mata, sebelum berdiri dan mengibaskan rambutnya. Bagi sebagian orang, yang sudah mengenal Jaehee dengan baik, hal itu biasa dilakukan Jaehee jika ia sedang dalam sassy mode, namun yang mereka kini tidak tahu, Jaehee hanya melakukannya untuk menutupi kegugupannya saja. Profesor Kim sudah menghilang di balik ruangannya, sementara Jaehee tidak bisa menahan angan-angan liar yang entah kenapa menyeruak memasuki pikirannya, untuk membayangkan sesuatu yang indah di dalam sana, di balik bilik jati berkilat tersebut.

   Mengetuk pintunya perlahan, Jaehee bisa mendengar gumaman datar ala Profesor Kim yang mempersilakannya masuk sebelum ia membuka pintunya, dan menutupnya kembali. Andai saja Profesor Kim kini berdiri dekat dengannya, pria itu pasti sudah dapat mendengarkan bunyi debaran jantungnya yang menggila.

   Astaga, Demi Setan, bahkan berada di dalam ruangannya saat ini saja, Jaehee sudah dapat mencium parfum khas yang dikenakan oleh dosen yang kini tengah duduk dan membaca sesuatu dengan serius di kursi kerjanya. Profesor Kim tetap diam, tidak mengatakan apa pun, masih meneruskan kegiatannya membaca sesuatu, namun Jaehee juga bukanlah orang yang dapat bersabar.

   Meski ia sangat berdebar-debar, dan ya salah satu kelemahannya adalah pria dengan penampilan bersih, dan memiliki wangi yang khas, tetap saja ia paling benci jika harus menunggu. Apalagi seorang dosen! Maka ia menghentakkan sebelah pump toe merah Christian Louboutin-nya dengan keras, menandakan bahwa ia lelah menunggu.

   Dan Profesor Kim sama sekali tidak menggubrisnya.

   Hingga Jaehee menguap lebar-lebar dan berdecak pun, Profesor Kim tetap bertahan dengan kesibukannya membaca sesuatu. Barulah ketika Jaehee memutuskan bahwa pemandangan lapangan sepakbola dari jendela kaca di ruangan tersebut jauh lebih menarik dibandingkan pria membosankan yang lebih menyukai membaca dibandingkan menatapnya, Profesor Kim meleparkan dokumen yang ia baca ke atas mejanya dan langsung menarik perhatian Jaehee.

   Pria itu kini menatapnya. Benar-benar menatapnya, seperti yang Jaehee inginkan sejak tadi. Namun ternyata tatapan itu tidak membuatnya merasa lebih baik, melainkan justru merasa semakin buruk. Profesor Kim benar-benar bisa membuat lutut seorang Oh Jaehee lemas hanya melalui pandangan mata yang datar.

   ”Prestasi akademismu tidak seperti yang Dosen Kwon katakan, tidak seburuk yang aku bayangkan,” kali ini bukannya nada datar, tapi bernada malas. Profesor Kim menyandarkan tubuhnya pada kursinya, untuk melihat dengan jelas profil gadis yang menjadi calon istrinya ini. ”Kukira akan parah sekali, ternyata tidak.”

   Tidak tahan untuk tidak menyahut, Jaehee menjawab, ”Well, maaf kalau aku mengecewakanmu.”

   Kali ini Profesor Kim menyeringai, ”Nope. Justru malah lebih mudah bagiku. Aku senang kau tidak berbasa-basi, kau pasti sudah tahu bahwa cepat atau lambat dalam tahun ini kita akan menikah.”

   Jaehee hanya diam saja.

   ”Dan aku tidak bisa bilang  kecewa dengan apa yang orangtuamu tawarkan,” gumamnya sambil tersenyum simpul, meninggalkan wajah datar yang tadi ia pasang di ruang kelas. Dan ketampanannya semakin meningkat, begitu juga dengan detak jantung Jaehee. Astaga, sekarang Profesor Kim tengah menatapnya dengan entahlah Jaehee ingin menggunakan kata lapar, namun ia belum berani. Matanya bergerak dari rambut cokelat terang bergelombang, turun ke wajah Jaehee yang penuh dengan pulasan make up, bibir tebal Jaehee yang dipulas dengan Yves Saint Laurent limited edition yang hanya dipakai oleh Jun Ji Hyun, dan Jaehee sedikit berdebar saat merasakan tatapan pria itu berhenti pada bagian leher hingga nyaris ke ceruk dadanya yang hampir terekspos (Thank you for your dress, Kim Kardashian), dan kaki jenjangnya yang memamerkan kulit cokelat susu.

   Mengepalkan tangannya, Jaehee berusaha menguasai diri. ”Kalau aku yang kecewa dengan tawaran yang mereka berikan?”

   Kali ini, senyuman misterius menghiasi wajah pria tampan yang masih tidak bergerak dari kursinya itu. ”Aku? Kau kecewa padaku?” Jaehee mengangguk, berusaha untuk tampak tidak perduli meski sebenarnya dia sudah terpikat dengan pria di hadapannya ini. ”Kalau boleh aku tahu, kenapa?” tanyanya tanpa bisa menyembunyikan nada geli dalam suaranya.

   ”Just look at yourself.” Ujar Jaehee dengan nada bukankah-sudah-jelas. ”Plain sweater, boring sunglasses… and politics… meh.”

   Kali ini, senyuman di wajah tampan itu menghilang. Digantikan dengan ekspresi dingin yang tidak pernah Jaehee bayangkan. Profesor Kim berdiri, mengitari mejanya, dan setiap langkahnya, kedua matanya tidak lepas dari wajah Jaehee yang perlahan-lahan kehilangan warna. Jaehee kini merasa seperti kelinci yang siap jadi santapan serigala.

   Entah bagaimana ceritanya, kini Jaehee disudutkan pada rak buku kayu besar, dengan Profesor Kim yang meletakkan kedua tangannya tepat di samping kepala Jaehee. Kemudian ia memberikan Jaehee sebuah senyuman miring sambil mendekatkan wajahnya, kini jarak diantara mereka hanyalah satu nafas saja.

   Seluruh hormon yang ada di dalam tubuh Jaehee menjerit, dan napasnya mulai memburu. Ia bisa menghirup dengan segar aroma pedas Dior for Men yang dikenakan oleh Joonmyun, dan kombinasi mouthwash ditambah dengan aftershave dari pria di hadapannya ini tidak membuat detak jantungnya lebih baik.

   ”Jaehee-ssi, you don’t know me at all, don’t judge me by my outer view…” ia berbisik tepat di telinga Jaehee, membuat gadis itu bergetar hebat hanya karena deru napasnya saja. ”Find out more and more, and maybe you need to fasten your seatbelt… because mind you, I’m not as tame as you thought.” Dengan kalimat terakhirnya Profesor Kim menarik diri dan memberikan satu senyum misteriusnya sebelum meninggalkan Jaehee yang terengah-engah.

-CUT-

So, sebenernya cerita ini udah sebulan ada di draft, dan aku nggak tau sebenernya ini tipe FF apa, ada yang mau kasih tau aku? Hehehehe, jadi ini semacam prequel dari CAMPUS SCANDAL, tapi aku mau coba bikin FF yang semacam potongan-potongan kisah mereka aja, sekali selesai. Pada paham gak ya maksudnya? Aku bingung juga jelasinnya hahahaha, semacam series gitu lah, tapi lompat-lompat, mungkin aja nanti aku bikin pas mereka nikah, pas sesudah nikah, atau bahkan ke sebelum nikah lagi, begitu lah kira-kira. Makanya setiap part mungkin gak akan panjang-panjang macam Wildest Dream aku yang sebentar lagi tamat.

Daaaannnnnn genre FF ini beda banget sama FF aku yang biasanya yang mellow sangat, genre yang ini akan amat sangat dewasa. Disini, aku mau jujur usiaku sama ama Suho, sudah hampir setengah dari 50 lol, dan banyak bagian kehidupan di dunia ini yang udah aku saksikan #eaaakkkkkgayabener dan salah satunya adalah gaya hidup di FF ini yang mungkin di blog ini jarang kali ya ada FF yang akan sefrontal dan sebrutal /?/ ini. Sebenernya aku males ngeprotek-protek, tapi kalau memang diperlukan di kemudian hari mungkin akan aku protek. Buat yang kurang nyaman baca gaya hidup bebas, mungkin kalian harus stay away from this fic karena aku gak mau dianggap ngajarin yang iya-iya #lho cerita ini murni dari pengalaman dan kesaksian yang pernah aku alami sendiri, dengan berbagai modifikasi pokoknya.

Aku mau liat reaksi readers soal part diatas, dan yang tau nama jenis ff ini apa please ajarkan aku hehehe ^^ dan sampai ketemu di part berikutnya, yang mungkin rate-nya akan naik… mengutip kata Papa Kim di atas : fasten your seatbelt!

cheers,

neez

209 responses to “CAMPUS SCANDAL – First Impression [PG17] — by Neez

  1. Astagaaa chuooooo hahahaha ga nyangka ka neez suho digambarkan seperti ini muahahah jarang2 nih. Tapi suka laah bacanya as always cara ka neez nyampein nya yang bikin suka, suasana nya jadi berasa gossip girl gitu yaa kaaa (maaf bukan ngebandingin) lanjut lah lanjut

  2. Pingback: CAMPUS SCANDAL – SPIN OFF {JONGIN-HANA STORY} 1/? [PG 15] | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Omg… This the first time I see Junmyeon at this stage… Wild and hot as aff…. I’m gonna enjoyed this..

  4. eh gilaaa ini ikutan merinding pas joonmyeon mojokin jaehee ke rak buku ahaha
    ga bisa ngelak lagi udah jaeheee sikattt wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s