Ambition [Chapter 9B] – by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny – Freddie

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster by Apinslaster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Personal Blog : https://sehunbee.wordpress.com

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5] Lie [6] I Got You [7] Goodbye Rain [8] – NO! [9A][9B]

NO! [Now]

.
.

-Ambition-

“Aku salah. Maafkan aku! Dan aku tahu ini tak bisa dibilang singkat, namun sungguh … aku masih sangat mencintaimu, Sehun.”

Deg.

Napas Sehun tercekat di tenggorokan. Bola matanya menatap lurus dengan kilatan tak percaya. Seolhyun kembali menunduk menyembunyikan rona merah lantaran malu. Namun perasaannya tak bisa lagi ditahan selama enam tahun kehilangan. Seolhyun lelah mencintai seseorang yang hanya bisa dilihatnya dari majalah bisnis. Ia ingin datang menemui langsung ke New York, namun keberanian tak ada. Dan ketika sang lelaki dilihatnya berada di Korea, Seolhyun merasa ini adalah kesempatan. Seolhyun hanya ingin menyampaikan perasaannya, tak apa jika Sehun menolaknya—Seolhyun tak peduli.

Sehun menutup mata, mencoba untuk tetap tenang dan mencerna. Tak lama, di detik kesepuluh, Sehun membawa Seolhyun ke dalam sebuah dekapan. Matanya kembali tertutup berbanding terbalik dengan Seolhyun yang membelalak. Napas Seolhyun bahkan terhenti saat Sehun mulai menghirup dalam aroma tubuhnya. Di detik ketiga, Seolhyun tersenyum lantas membalas pelukan pria sempurna ini.

“Maafkan aku, Seolhyun-ah ….”

Ketika ego menguasai dan menghancurkan semuanya, hanya kata maaf yang bisa terucap. Tak ada yang berubah dari susunan masa yang telah berlalu, setidaknya ada yang bisa diperbaiki untuk masa yang akan datang. Sehun merasa bodoh karena tak ingin mendengar dan semuanya telah berubah saat ego itu melunak.

“Hm … tak apa, Sehun. Aku mengerti,” Seolhyun menghirup tamak feromon yang menggelitik hidung. Sehun hanya diam, tak nyaman. Hatinya sakit memberikan penolakan di saat jantungnya berdebar mengharap wanita lain.

“Maaf telah melukaimu …,” ucap Sehun, lagi. Tangannya semakin erat mengukung Seolhyun—ada hal yang Sehun takutkan setelah ini.

“Bukankah sudah kubilang, enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan aku mengerti, sangat mengerti jika perasaanmu untukku telah hilang.” Seolhyun tetap memertahankan senyum. Hatinya sakit—tentu saja—namun juga lega di saat yang bersamaan.

Sehun sendiri merasa begitu bodoh sekaligus pengecut, tak berkutik karena kesalahan di masa lalu. Mementingkan ego saat Seolhyun berkata pisah dan pergi meninggalkannya tanpa ingin tahu apa yang terjadi setelahnya. Lihatlah sekarang, luka yang telah ia berikan justru dibalas dengan kelembutan.

Merasa cukup, Seolhyun melepas pelukan. Menatap wajah penuh rasa bersalah pria itu dan menenangkannya dengan senyum. Andai saja Seolhyun tak terlambat membatalkan kontrak, mungkin Sehun tak akan pernah pergi meninggalkannya. Ia mengaku salah dalam kisah ini. Menutup mata pada ketulusan cintanya dan mengakhiri di saat Sehun menjanjikan kebahagiaan untuknya.

“Terima kasih sudah berkenan meluangkan waktumu untukku,” kata Seolhyun dengan nada bercanda. Ia ingin memerjuangkan apa yang dulu mereka jalani, namun kedua orang tuanya tak pernah mengajarkan bagaimana cara memaksakan kehendak. Seolhyun tahu, Sehun tidak akan menolaknya jika bukan karena adanya kehadiran wanita lain. Ini menyakitkan, tapi Seolhyun tak ingin memaksa Sehun untuk kembali dan memperbaiki semuanya.

Guna menenangkan suasana hati, Sehun berusaha tersenyum. Terdiam sejenak, lalu mengalihkan pembicaraan, “Bagaimana kabar Ibumu?” setelahnya, cahaya di wajah Seolhyun meredup.

-Ambition-

Sehun benci bau rumah sakit dan Seolhyun membawanya kemari. Ia sempat tak mengerti mengapa, namun apa yang dilihatnya saat ini sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Apa yang bisa Sehun lakukan sekarang, selain mengelus punggung mungil gadis itu.

“Tak apa, Sehun. Eomma sudah dua Minggu berbaring di sana. Sebelumnya pun Eomma memang sering mengunjungi rumah sakit.” Seolhyun kembali menenangkan lewat senyum.

“Sakit apa?”

“Gagal ginjal kronis. Butuh transplantasi ginjal dan …,” Seolhyun menjilat bibir. Sedikit ragu untuk mengatakan alasan kedua.

“Segera tanda tangani persetujuan untuk operasi jika pendonor memang sudah ada. Jangan memikirkan biaya untuk itu—“

“Tidak. Aku sudah mengumpulkan uang untuk itu, Sehun. Hanya tinggal menunggu gajiku turun bulan depan, maka operasi akan segera dilakukan. Terima kasih.” sela Seolhyun, mengerti. Itulah yang membuatnya ragu untuk mengatakan alasan kedua. Ia kekurangan uang dan jika Sehun tahu, maka semuanya tidak akan menjadi masalah lagi. Di sini, Seolhyun hanya tak ingin dikasihani. Itu saja!

Sehun mengulum senyum. Ini alasan mengapa ia begitu menyukai Seolhyun semasa sekolah dulu. Gadis itu berbeda. Ia tetap menjadi diri sendiri, meski semua temannya memakai barang mewah. Gadis itu kuat, meski tatapan merendah dari teman-teman satu sekolah menjadi makanan sehari-hari. Seolhyun bahkan sangat bangga bisa mendapatkan beasiswa di sekolah dengan akreditas terbaik. Tak heran, jika gadis ini menolak pemberiannya secara langsung.

“Gagal ginjal kronis hanya bisa bertahan selama tiga bulan. Aku mengerti jika ini masalah harga diri, tapi di sini, Ibumu yang membutuhkan.” Sehun mengambil jalan tengah, “Kau bekerja sebagai designer fashion, bukan?” lanjutnya bertanya. Seolhyun mengangguk ragu. Ia sendiri yang mengatakan pekerjaan yang sedang dilakoninya itu kepada Sehun dalam perjalanan tadi.

“Bagus. Cukup desain baju kerja untuk semua karyawanku, maka aku akan membayar untuk itu. Pikirkan tawaranku! Aku beri waktu tiga detik untuk berkata ‘Ya’, karena Ibumu sudah cukup menderita.”

“Hei—” Seolhyun baru akan protes, namun Sehun sudah menghitung, “Satu … Dua …,” di hitungan ketiga, Seolhyun menatap wajah sang Ibu dan menyerah.

“Bagus,” Sehun mengusak tatanan rambut sang wanita sampai matanya menangkap pergerakan jarum jam di tangan.

11

Itu angka yang ditunjuk jarum kecil. Buru-buru, Sehun mengambil ponsel di saku demi melihat jadwal terbangnya untuk hari ini. Senyum dan ucapan terima kasih Seolhyun pun tak dihiraukan. Gadis itu bahkan mengerutkan alis sebelum Sehun menjelaskan perubahan sikapnya.

“Aku ada jadwal penerbangan ke Paris pukul satu dini hari, dan aku belum berkemas untuk itu …,” Sehun menatap Seolhyun. ” Sepertinya, aku tak bisa menunggu Ibumu sampai bangun esok pagi. Maafkan ak—“

“Tak apa. Jangan kecewakan rekan bisnismu,” potong Seolhyun. Ia mengerti kesibukan pria yang satu ini, tanpa tahu Sehun pergi ke sana bukan untuk urusan bisnis.

Sehun sendiri dengan raut menyesalnya mencoba untuk tersenyum. “Tentu, sampaikan salamku pada Ibumu.” Tangannya bergerak mengeluarkan dompet dan menyerahkan secarik kertas pada Seolhyun. “Itu kartu namaku, jika Ibumu sudah membaik. Kau bisa langsung datang padaku dan orang kepercayaanku yang akan mengurus semua yang dibutuhkan Ibumu.”

-Ambition-

Hôtel Ritz Paris

Place Vendôme, amb el Hotel Ritz a l´esquerra

Duduk di atas Aventador putih dengan jarak aman. Kamera DSLR sudah di tangan, Sehun hanya tinggal menunggu sampai pukul 1.30. Itu artinya, hanya tinggal lima menit lagi gadisnya keluar gedung. Sehun tak sabar, rindunya sudah melebihi kadar. Memantau semua kegiatan Hanna dari jauh saja tak cukup. Sehun ingin lebih, lebih dari sekedar datang menghampiri, mengucap rindu, lalu memeluk. Ia ingin mematenkan hak milik akan gadisnya yang begitu gila kerja tersebut. Tapi, Sehun tak bisa melakukannya sebelum Hanna menjadi istrinya. Percuma saja!

Ah, itu dia.

Sehun memerhatikannya sesaat sebelum mengarahkan lensa ke arahnya. Lalu, memerhatikannya lagi yang kini berhenti di dekat mobil demi menerima sebuket bunga mawar biru Ekuador. Sehun lantas tersenyum melihat Hanna tersenyum, moment itu pun segera diabadikannya lagi dengan kamera sebelum Hanna menghilang di dalam tubuh mobil.

“Cantik.” gumam Sehun saat melihat hasil jepretannya. Hanna memakai dress polos berwarna soft pink tanpa lengan dengan belt dipinggang. Jangan lupakan coastal blue dalam pelukan dan senyum di bibirnya. Satu lagi, jangan tanyakan seberapa bahagia seorang Oh Sehun melihat Hanna tersenyum karenanya. Ia yakin, Hanna tak bodoh untuk mengetahui siapa pengirim bunga itu.

Seperti seorang idiot, mengira hanya dengan berlandaskan apa yang dilihat. Senyum tipisnya menghilangkan segala bentuk label pria dingin yang selama ini disandang. Pesona Hanna terlalu hebat sampai membuatnya bertekuk lutut mengemis cinta. Semula, hidupnya tak pernah mengenal kata kurang, tapi kehadiran Hanna membuatnya rela meninggalkan segala bentuk aset. Waktu yang terjepit mengingat esok hari Senin pun hampir Sehun lupakan. Ada rapat para petinggi Bertelsmann di hari itu, Ayahnya akan marah besar jika ia sampai terlambat menghadiri. Mau tak mau, Sehun harus kembali ke New York.

-Ambition-

48 jam tidak tidur memersiapkan ini dan itu untuk membeli kembali saham Sony Music Entertainment Inc., rencananya, Bertelsmann akan kembali melakukan merger dengan perusahaan musik terbesar kedua di dunia tersebut. Dan mengubah namanya dengan menyertakan kembali nama besar Bertelsmann, Sony-BMG Music Entertainment. (read: BMG – Bertelsmann Music Group)

Sehun yang diberi kepercayaan untuk menguasai jalannya rapat tak henti memijat pelipis. Nama besar Bertelsmann dipertaruhkan dan kemampuannya mengumbar omongan untuk menjatuhkan lawan akan dibuktikan di sini. Sedikit kesal sebenarnya, di saat Sehun sibuk mendirikan Random House Tower, para petinggi Bertelsmann justru menunjuknya untuk membuat Sony Music Entertainment tunduk.

Kadang Sehun berpikir, tidak cukupkah aset yang sudah dimiliki Bertelsmann saat ini? Bertelsmann bahkan keluar sebagai perusahaan media terbesar di Eropa dan memiliki Random House sebagai penerbit buku terbesar di dunia. Sekarang di Amerika, Bertelsmann tak hanya ingin keluar sebagai perusahaan yang bergerak di bidang media, tapi juga perusahaan rekaman berkelas internasional. Ya, Tuhan, kepala Sehun pusing.

“Sayang, maafkan aku,” katanya, bermonolog ria dengan telunjuk bermain di atas bingkai kaca, di mana ada foto Hanna di dalamnya. “kau pasti menunggu,” lanjutnya. Sehun tak lupa ini hari Rabu, dan ia tak sempat menghubungi Madame Florist untuk membuatkan Hanna ungkapan cinta lewat rangkaian bunga.

Salahkan saja rapat di hari Senin! Semua rencana Sehun untuk melamar Hanna Minggu depan kacau karena keputusan para dewan di hari itu. Bahkan, untuk dua Minggu ke depan jadwal Sehun penuh. Semuanya diisi oleh kegiatan Bertelsmann yang begitu ingin mengakuisisi saham beberapa perusahaan ternama. Sehun yang awalnya hanya ingin fokus pada kegiatan real estate pun harus rela menuruti keinginan sang Ayah sebagai calon ahli waris perusahaan pusat.

Di hari Sabtu, Sehun biasa mengawali kegiatannya dengan senyum. Karena di hari itu, ia akan terbang ke Paris untuk bertemu dengan Hanna di hari Minggu. Namun kini, jadwal terbangnya ke Vancouver dan baru akan kembali Jumat depan. Sekali lagi, Sehun hanya bisa meminta maaf pada Hanna yang berada dalam foto di ponselnya.

Hal yang sama terjadi di Minggu ke tiga, di hari Rabu. Saat, di mana apa yang telah Sehun siapkan selama dua Minggu dipertaruhkan. Pertemuan dengan orang-orang dari Sony Music Entertainment dijadwalkan hari ini. Dan baru kali ini, Sehun dituntut untuk mengalahkan mereka yang bergerak di bidang entertainment, bukan real estate.

Awalnya cukup menantang, namun senyumnya mengembang di akhir dengan tangan membuka kancing jas sebagai bentuk tata krama keterbukaan. Lantas, menjabat tangan semua peserta rapat yang juga melakukan hal yang sama. Sehun tak menyangka akan semudah ini. Kerja kerasnya yang hanya memejamkan mata empat jam per hari tak sia-sia. Ia bisa pulang dengan membawa aset baru untuk Bertelsmann sekarang, Sony-BMG.

Lalu, menagih janji pada sang Ayah untuk membebaskannya dari kegiatan Bertelsmann selama dua Minggu ke depan. Hu-hu, Sehun tak pernah sesemangat ini hanya karena menang bicara. Sekarang, tak ada lagi yang bisa menghalangi jalannya untuk menemui Hanna di Paris, Minggu nanti.

Setibanya di kantor, ruang kerja menjadi tujuan. Berjalan dengan aura jantan seperti biasa dan disambut Jenny di depan pintu dengan senyum khas. “Kau berhasil Jagoan!”

“Tentu. Aku tak ingin mengecewakan calon istriku.” Sehun mengerling jenaka.

“Dasar! Hanna bahkan tidak tahu semua kegiatanmu.” Jenny tak habis pikir akan semua khayalan tingkat tinggi Sehun. Tapi, Hanna pantas berbangga hati dicintai sepupunya tersebut. Semua pencapaian Sehun selama ini atas dasar cintanya pada gadis itu. Permainan kotor yang seringkali dilakoni demi menjatuhkan lawan pun tak pernah lagi dilakukan. Semuanya murni atas hasil kerja kerasnya yang begitu ingin menjadi pria mapan nan sejati untuk seorang Hanna.

“Hanna tahu, aku yakin itu.” Sehun tersenyum penuh arti. Ia yakin, Hanna akan mencari tahu tentangnya demi menemukan alasan mengapa ia tak lagi mengirim bunga—itu dasar keyakinannya.

“Percaya diri sekali kau! Sudah sana masuk, ada Seolhyun di dalam.” Jenny menyembunyikan tawa gelinya. Sehun memang gila akhir-akhir ini, dan Jenny memaklumi itu.

Seolhyun? Batin Sehun membeo, lantas berlalu memasuki ruangan. Wanita berambut panjang dengan setelan formal pun dilihatnya duduk di sofa. “Aku tidak tahu kau akan datang hari ini,” sapanya, mengalihkan perhatian gadis itu dari ponsel di tangan.

“Oh, hei … Maaf tak memberi kabar, dan maaf baru sempat berkunjung.” Seolhyun berdiri, menjabat tangan Sehun. Di sini, ia datang untuk bekerja, sedikit formalitas pun diperlukan.

“Aku mengerti. Bagaimana kabar Ibumu?” Tak perlu dijelaskan pun Sehun sudah tahu alasan mengapa Seolhyun baru datang setelah tiga Minggu. Gadis itu merupakan Kakak dari satu orang adik dan Ibunya seorang janda. Ayahnya telah tiada saat Seolhyun kelas dua SMA, dan Seolhyun harus memastikan Ibunya sembuh total pasca operasi sebelum terbang ke Amerika.

“Eomma jauh lebih baik sekarang. Terima kasih … karenamu, Eomma sembuh lebih cepat.”

“Aku bukan Tuhan,” sela Sehun cepat. Seolhyun tersenyum bersamaan dengan pintu ruang yang kembali terbuka.

“Hei, Se—Seolhyun …” Nama Sehun terganti dengan nama seorang wanita kala mata menangkap sosok lain. Freddie—si pendatang—jelas terkejut melihat ada wanita di ruang kerja sahabatnya. Alisnya bertaut, bingung membaca situasi.

Kedua pasang mata di sana menatap bingkai pintu. Dan tak butuh waktu lama untuk mendapati senyum menyambut dari sang pemilik ruang. Namun, Freddie masih diam dengan ekspresi sama tanpa berniat membalas senyum tipis sahabatnya tersebut. Ia tak lupa, bahkan sangat ingat pada gadis yang ditemuinya tiga Minggu lalu di Korea. Freddie juga tidak lupa, gadis itu menyandang status sebagai mantan kekasih sahabatnya. Lantas, untuk apa Seolhyun berada di sini? Di Amerika, di ruang kerja Sehun?!

Seolhyun sendiri hanya tersenyum, lantas berdiri dengan tubuh merunduk sopan. “Senang bisa bertemu dengan Anda kembali, Tuan,” sapanya sopan, mendahului Sehun yang hanya duduk diam.

“Aku senang kau masih mengingatnya, Die. Sekarang, Seolhyun bekerja untukku.” Selepas sapaan Seolhyun yang hanya dibalas sunyi, Sehun justru menggoda.

“Apa?”

Freddie kembali terdiam, mencerna. Jadi, karena itu Sehun tidak menemui Hanna selama tiga Minggu terakhir? Ah, Freddie tak perlu lagi bertanya untuk masalah ini. Kedatangannya kemari untuk mencari tahu alasannya terjawab sudah.

-Ambition-

tour eiffelTour Eiffel

Ada sejak tahun 1889, Menara Eiffel tetap berdiri kokoh di atas rumput hijau Champ de Mars dengan rupa yang sama meski abad terus berganti. Restoran Jules Verne di lantai dua menjadi titik peredaran Sehun yang berdiri tidak jauh dari struktur besi berpaku tersebut. Senyumnya tak hilang semenjak melihat hasil kerja keras orang-orangnya untuk menguasai Menara Eiffel dalam satu malam. Sehun tak sabar menyeret Hanna untuk makan malam romantis di sana. Tubuhnya segera berbalik dengan tujuan The Hôtel Ritz demi menjemput bidadari kutub kesayangan.

Dengan Aventador putih, Sehun melesat menggesek aspal Paris. Semua persiapan setelah diliburkan dari kegiatan Bertelsmann untuk mengikat Hanna telah matang sempurna. Menara Eiffel berhasil dikosongkan untuk malam ini berkat uang yang telah ia berikan. Hanna akan nyaman bersamanya menatap indahnya cahaya Paris di malam hari. Sehun pastikan, malam ini, Hanna tidak akan menemukan alasan untuk kembali menolaknya. Keseriusannya akan Sehun buktikan dengan segala hal yang akan ia berikan pada gadis itu malam ini.

Tiba di depan hotel, Sehun tak lagi bersembunyi layaknya seorang penguntit. Ia menampakkan wajah dengan percaya diri menuju meja receptionist sebelum melihat Hanna turun dari tangga.

Hotel-Ritz

Sehun tersenyum tipis, sayang Hanna tak menyadarinya. Gadis itu terus melangkah ke bagian belakang hotel. Sehun mengikuti tanpa berniat memanggil namanya. Ia ingin tahu, mau pergi ke mana gadisnya itu dengan pakaian—Hei, tunggu … tidakkah dress itu terlalu jauh jatuh di atas lutut. Oh, shit! Rahang Sehun mengeras. Ia suka melihat Hanna berpakaian seksi—tentu saja—namun tidak untuk di depan umum.

Tangannya mengepal bersamaan dengan langkah Hanna yang mulai memelan setibanya di taman. Sehun menghentikan langkah, matanya menangkap fostur tinggi tegap yang tak asing. Alisnya bertaut sebelum tubuhnya refleks bersembunyi saat pria tersebut membalikkan badan.

“Hanna …,”

“Die.”

Benar, Sehun tak salah mengenali orang. Ia lekas memutar jalan demi mencari tahu dari jarak aman. Kurang lebih tiga puluh meter dari keduanya, Sehun memerhatikan. Hanna yang terdiam seolah canggung menjadi pusat perhatian. Hatinya tak tenang melihat gerak-gerik gadisnya tersebut di kala perasangka buruk mulai menguasai. Bahkan semakin buruk saat melihat Freddie mengusak rambut gadisnya yang hanya direspon dengan gerakan malu.

Oh, lihat. Hanna menunduk dengan senyum kecil. Sehun melihat jelas mimik manis tersebut sampai tubuhnya panas. Belum cukup sampai di situ, mereka masih bercengkrama sampai Hanna menatap penuh rasa ke arah Freddie. Hidung Hanna yang dijawil pun menjadi pemandangan panas berikutnya.

Satu hal yang Sehun tahu, Hanna masih menyimpan amarah pada Freddie di akhir pertemuan mereka. Tapi sekarang? Mereka kembali bersama di belakangku. Sial. Sehun memaki sampai tak sadar memukul batang pohon yang tak berdosa. Lihatlah, sikap Hanna bahkan sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa ia tak lagi menyimpan amarah pada pria masa lalunya tersebut.

Hebat!

Di saat Sehun memerjuangkan cintanya sampai lupa bahwa ia butuh napas untuk hidup, di sini, Hanna justru bermain api bersama sahabatnya. Ah, sekarang apa lagi? Sehun melihat Freddie menyentuh kening dan pipi Hanna. Hatinya semakin panas terbakar api cemburu. Melangkah menjauh pun menjadi pilihan.

Sehun muak!

Namun butuh penjelasan. Mobil yang dibawanya dengan membabi-buta menuju bandara berbelok di tikungan ke dua. Apartemen Hanna menjadi tujuan baru. Sehun memarkir mobilnya asal saat sampai, kemudian keluar dengan mata mengedar mencari mobil berwarna merah menyala milik Hanna.

Tidak ada.

Gadisnya belum pulang. Oh, tentu! Dia sedang bersama Freddie. Tubuh Sehun semakin panas mengingat hal itu, apalagi saat membayangkan kedekatan keduanya. Argh! Masa bodoh. Sehun akan menunggu di sini—di dekat pintu masuk loby apartemen.

Matanya terpejam menenangkan amarah. Namun sesaknya tak bisa hilang meski telah mencoba untuk berpikir positif. Mobil yang amat Sehun kenal mulai terlihat memasuki pelataran parkir. Gadisnya melangkah keluar setelah memarkirkan mobil. Sehun masih tetap pada posisi di saat Hanna mulai menghapus jarak di antara mereka.

Rona merah di pipi gadis itu pun semakin jelas terlihat saat jarak tak lagi berarti. Hanna bahkan berhenti di anak tangga ke dua. Tangan rampingnya menekan dada seolah menenangkan debaran di dalam sana setelah bertemu sang kekasih.

Sehebat itukah efek seorang Freddie untukmu, Hanna?

Ya, tentu. Semuanya terlihat jelas dan Sehun tak tahan lagi. Hanna terlihat seperti seorang gadis yang tengah kasmara. Semua penantiannya selama ini sia-sia dan apa yang dilakukannya untuk gadis itu, tak berguna. Sehun melangkah tegas dengan emosi yang diredam sedemikian rupa.

Hanna mendongak, kemudian terkejut. Gadis itu terdiam seolah kaku. Sehun hampir berlari memeluk tubuh mungilnya jika saja ego tak menahan. Semua cinta dan rindu ditepisnya dengan susah payah sampai benci yang dikuasai kesalahpahaman meraja.

“Sehun.”

Bahkan, suara lembut yang begitu ia rindukan menjadi cambuk api tersendiri. Tubuhnya terasa panas, namun hatinya perih. Jantungnya masih bekerja tak normal, namun emosi sudah menguasai. Sehun benci terluka karena seorang wanita.

“Kesalahan terbesarku adalah menunggu seorang wanita yang bahkan tidak mengerti cinta.”

Itu sangat kasar Oh Sehun. Lihat wajah cantik Hanna yang terlihat tidak mengerti. Oh, ya, tentu! Hanna tidak akan mengerti. Sampai kapan pun Hanna tidak akan pernah mengerti, hatinya terlalu keras untuk merasakan kelembutan cinta.

“Aku menyerah. Disakiti oleh seorang wanita membuatku lemah. Dan aku tak ingin mati konyol karena kau campakan.”

Sehun melihat bagaimana mata indah itu memicing dengan alis bertaut. Jelas sekali, Hanna kalut dalam bisu. Dan Sehun paham untuk masalah ini. Mereka tak bertemu selama delapan bulan karena Hanna yang menghindar. Dan kata-kata kasarnya pastilah di luar dugaan gadis itu.

“Sehun!”

Hanna kembali memanggil saat tubuhnya berlalu. Bahkan, menahan lengannya kala berpapasan. Sehun terdiam. Jantungnya hendak melompat dari sarang. Saliva ditelannya dalam tempo lambat, namun egonya menguasai setiap kali mengingat apa yang dilakukan Hanna bersama sahabatnya.

“Ada apa denganmu?”

Hanna bertanya ada apa? Tidak sadarkah atau lupa bahwasanya semua yang terjadi karena egonya? … Argh! Cukup. Sehun lelah. Jika Hanna mencintainya, maka ia tidak akan berjuang sendiri di sini. Sehun melanjutkan langkah dengan amarah, tangan Hanna yang menggenggam lengannya terbawa dengan kasar. “Akh ….” Sehun ingin mengakhiri kebodohannya selama ini, namun urung saat mendengar pekikan.

Di sana, Hanna merendah dengan lutut menyentuh aspal. Rintihan ditahannya, sementara wajahnya jelas terlihat kesakitan. Sehun terkejut bukan main melihat akibat perbuatannya. Hanna sendiri tak menyangka, Sehun akan sekasar itu sampai sebelah pump-nya tergelincir.

Dalam diam, Hanna menggigit bibirnya kuat, engkelnya terasa berdenyut antara linu dan nyeri. Tubuhnya lantas mengambil posisi duduk tanpa peduli debu yang akan mengotori dress mahalnya. Ada lecet di lutut yang kemudian mengeluarkan darah segar. Telapak tangannya juga berdarah lantaran menahan bobot tubuh agar tak tersungkur mencium aspal.

“Hanna,” nada bicara Sehun berubah, berpadu antara khawatir, takut, dan bersalah. Gerak refleks membuatnya bersimpuh di depan Hanna, sayang tangannya ditepis saat hendak menyentuh. “Jangan sentuh aku! Kau kasar,” Hanna terlihat kecewa.

“….” Sehun bungkam, tidak tahu harus bagaimana. Kata-kata Hanna berhasil menamparnya hingga sadar atas kesalahan yang baru saja ia perbuat. Dalam kalut, Sehun memerhatikan lutut Hanna yang lecet mengeluarkan darah. Tak terbantah, hatinya sakit melihat itu, ia bahkan tak bisa membayangkan seberapa besar tenaganya sampai Hanna jatuh menghantam aspal. Tak cukup sampai di situ, telapak tangan Hanna yang juga terluka semakin bangga mengolok rasa bersalahnya.

“Hanna—” Sehun terkejut melihat Hanna yang mencoba bangkit, namun kembali terjatuh. Pergerakannya itu membuatnya sadar bahwa kaki kanan Hanna tak hanya lecet, tapi juga terkilir karena ulahnya. Ya, Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Sehun panik dalam kebingungan. Tangannya kembali bergerak refleks menyentuh kedua lengan Hanna. Panas. Itu yang dirasakan telapak tangannya saat bersentuhan. Kembali, Sehun terkejut akan kondisi gadisnya ini.

Buru-buru, Hanna menepisnya. Membiarkan hazel-nya berkilat di antara cinta dan kecewa dalam tatapan lurus menghakimi sang pria. “Aku mengaku salah, terima kasih atas balasanmu. Jika ini tidak cukup, kau bisa melakukannya lagi. Tapi aku mohon, tidak untuk di hari yang sama.” Hanna mengusir secara tidak langsung. Hatinya tak kalah sakit menerima perlakuan pria ini di saat tubuhnya sakit merindukan kehadirannya.

Sehun terdiam mendengar titah itu. Matanya menelisik wajah merah padam Hanna dengan raut cemas. Lidahnya yang kelu berusaha menjelaskan, namun terlambat karena adanya kehadiran orang ketiga.

“Hanna, kau terluka!?”

Sehun mendongak, pun dengan Hanna, namun hanya butuh waktu satu sekon untuk Sehun kembali menatap gadisnya.

“Die, bantu aku!”

Argh, Tidak!

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

BERTELSMANN INFO

Bertelsmann Inc. merupakan korporasi yang mulai dirintis oleh Carl Bertelsmann sejak tahun 1835. Didirikan pertama kali di Gütersloh, Jerman, sebagai perusahaan percetakan kecil, Bertelsmann kini telah menjadi salah satu perusahaan transnasional di bidang media paling besar. Perusahaan ini beroperasi di 63 negara dan mempekerjakan lebih dari 100.000 orang. Pendapatan kotor perusahaan ini menjadi € 19,3 billion.

Pada mulanya, Bertelsmann hanya berkonsentrasi pada penerbitan buku-buku misi (agama Kristen), tetapi kemudian di bawah pimpinan Heinrich Bertelsmann, generasi kedua keluarga Bertelsmann, perusahaan ini mulai menerbitkan novel. Pada masa NAZI, perusahaan ini ikut terlibat dalam percetakan dan penerbitan buku-buku nasionalisme-sosialisme (ideologi fasisme Hitler), bahkan buku-buku bernada anti-Semit. Keterlibatan mereka ini diakui ketika Bertelsmann hendak mengakuisisi Random House, sebuah penerbitan besar Amerika, di tahun 1998.

Sejak tahun 1980-an, Bertelsmann memang telah mengembangkan bisnisnya ke level internasional. Tahun 1979, Bertelsmann membeli Arista, sebuah label musik, tahun 1980, Bantam Books, sebuah penerbitan buku, tahun 1986, RCA dan penerbitan Doubleday. Tahun 1996, Bertelsman mengambil kontrol atas Windham Hill Records. Di masa inilah, label musik mereka terintegrasi dengan nama BMG (Bertelsmann Music Group). Label musik Bertelsmann ini melakukan merger dengan perusahaan Sony, membentuk Sony-BMG.

Sekarang ini, Bertelsamann Inc. meliputi perusahaan:

1. RTL Group, grup penyiaran yang beroperasi di Eropa.
2. Gruner + Jahr, penerbit majalah terbesar di Eropa.
3. BMG (Bertelsmann Music Group, perusahaan rekaman musik internasional, memiliki 50% saham Sony BMG).
4. Random House, penerbit buku terbesar di dunia.
5. Direct Group, klu buku dan musik terbesar di dunia.
6. arvato, perusahaan provider komunikasi dan media.

7. Random House Tower (Jajaran Apartemen di Manhattan), di dalam cerita, anak perusahaan ini yang di pimpin Sehun. Di wiki, Random House Tower ini memang sedang melakukan pembangunan besar-besaran seluas sepuluh blok di salah satu kawasan elit Manhattan. (bayangin sepuluh blok!) *okeskip

8. Dan lainnya :

  • FremantleMedia
  • FremantleMedia Indonesia
  • FremantleMedia Australia
  • Grundy
  • Talkback Thames
  • Vin Di Bona Films
  • Rankin-Bass
  • Cosgrove Hall

Author’s Note

Sebelumnya bingung ya ada chapter 9B? Hehe … Kemarin aku lupa pas nulis judul, tapi sekarang udah di tambahin A di chapter sebelumnya.

Oh, yaa … masih inget, kemarin aku mau kasih kalian apa? Kalau masih, silahkan langsung aja klik ini :

AMBITION [Chapter 10]

Jangan sampai lupa, itu password-nya

 

Thank you and Lobee youuuu❤

Regards,

Sehun’Bee

857 responses to “Ambition [Chapter 9B] – by Sehun’Bee

  1. Sehun cmburu berat lht hanna dan freddie .. Tenang hun freddie justru dukung kmu untuk dptin hanna .. Akhr nya hanna mengakui cnta nya di dpn sehun.. Jadi lega sndri hihihi

  2. tuh kan salah paham lagi ….. sehun ma gitu …. fighting author … makin keren ceritanya ….

  3. Authornya mana pliss?? aku reader baru disini
    FF nya bagus banget, ampe bikin salah tingkah bacanya
    tapi, chapter 10 nya gimana cara bukanya ya??

  4. Dikira bakal ada konflik lagi, ternyata seolhyun adalah mantan nya sehun yang ga beruntung, btw setau aku chanyeol yang pernah suka sama seolhyun (dunia asli)

  5. Sehun cemburuan lah, coba dengerin dlu ap yg Hanna bilng, gpp deh, tp sehun nya cinta bngt sama Hanna smpe sgtunya, mkin lama, mkin keren ni cerita, semangat Thor!!!

  6. kzl daritadi comment ga masuk mulu, keslahan lokal

    kesel juga sama freddie yg bikin semuanya berantakan, juga sehun yg kadang2 bego, mikir pendek

    ini ff gampang bolak balikin hati yg baca, sukseeees ya kak

  7. Dieee biang kerok bgt sih di chap 9.. sehun kalo udah cemburu ga tanggung2 deh jd kesel juga wkwkwk

    Duh gagal liat hanna kelimpungan, lagi2 sehun yg jd korban wkwk. Kalo udah gini, makin susah aja mereka baikannya…

  8. hah.. kok kai salah faham? pdahal kn freddie bela dia.. tapi mau gmana kagi ? itulah kehendak author🙂

    next chapter diprotect ya ??😦

  9. Huaaanjiiirrrr freddie salah paham. Sehun juga salah paham. Kelar idup hanna 😂😂😂
    Akh kejamnya sehun. Jahatnya sehun sampe hanna terluka hati dan fisiknya.
    Seolhyun bukan PHO kan dsni kak? Bhaks.
    Oke. Lanjut chap 10. Yuhuuuu

  10. aku coment di chapter ini aj ya thor😉 .. aku suka sma ff ini karna ada gambar nya jadi gampang bayangin ceritanya. 🙂
    kirain sehun bakal balik sma seolhyun, eh ternyata enggak. sehun setia ya hehe
    sebelumnya hanna yang slah paham skarang malah sehun. moga2 dpat diselesaikan dengan baik ya

  11. Aaaa yaampun greget bangettt! Kenapa sih harus salah paham gtu yaampun :’ padahal mereka uda mau baikan eh malah salah paham gini hnnggg ;-; btw aku suka bgt sama ffnya. keep writing authornim^^

  12. sehun meskipun kamu sedang emosi, jangan sampai berbuat kasar. dan kenapa fredie harus bertemu dengan hanna pada saant sehun akan menemuinya, tambah kesalahpahaman yang lain.

  13. Busset seolhyun
    Ntah kenapa aku emg ga suka sama seolhyun
    Freddie slh paham dan sehun cemburu buta
    Mungkin bara api cinta kagi berkobar kobarnya nihh

  14. Hahhhh greget baca ff ini
    Kesel sma hanna yg egonya terlalu tinggi.
    Les3l sma sehun yg gampang bgt salah fahammm ahhhhh

  15. yaampun sehun cemburunya bener bener yah,gara gara salah paham nih,,hanna juga kasian tuh jatuhh .
    @94Rini semangat

  16. Di chapter ini terjawab ya knpa bisa freddie sampai berprasangka kyak gtu,dia cmn gmau Hanna menyesal dan tersakiti. Sehun yg udah terkabar cemburu gak bisa kontrol emosi padahal cmn salahpaham.^^

  17. Kiraiinn Sehun beralih ke Seolhyun sampe2 gak inget sama Hanna lagiiii ternyataaaaaa diaa sibukk, Trus Freddie salah paham.
    Ditambah sama cemburu butanya sehun sama kedekatan Freddie-Hanna👌
    Oke fix complicated banget
    Btw mau dapetin pw part 10 gimana ya?

  18. akhirnya seolhyun ga jahat disini aku salah sangka banget abis aku takut sehun direbut:3 nahkan ini berdua maunya apa sih sama sama dibutakan oleh ego coba waktu itu hana mau nerima sehun kan gabakalan kaya gini-_- terus juga seharusnya sehun ga bersikap kaya gitu sama hanna ih aku gregeet maaaak-______- semoga chapter 10 indah yaa?:’3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s