#9B HAMARTIA (OBSEDE FULL)

hamartia

Tittle : Hamartia (Fatal Flaw)

Main Cast : Kim Jongin (EXO’s Kai), Song Jiyoon (Original Character)

Minor Cast : Oh Sehun (EXO’s Sehun), etc

Rating : PG14 for this part

Genre : Psychology, Romance, Angst

Author : Jongchansshi (http://thejongchansshi.wordpress.com)

Prev Part : [#Teaser] [#1] [#2] [#3] [#3,5] [#4] [#5]  [#6] [#7] [#8] [#9a]

***

Sebelum baca part ini, mending baca ini dulu bagi yang belum baca : https://thejongchansshi.wordpress.com/2015/07/24/amour-obsede-final-part/ (maksudku, mereka sudah sedekat ini gitu)

***

Jongin tahu bahwa sesuatu dalam dirinya terasa terbakar ketika dia tiba di restaurant itu, mata tajamnya yang memerah sudah menelusuri seluruh isi ruangan, berkali kali karena cemas. Tapi nihil yang ia temukan. Orang yang ia cari tidak ada disana, pun pengawal Lee yang ia suruh untuk menjaga Jiyoon. Dia mengepal tangannya yang masih menggenggam handphone kuat kuat. Beberapa saat yang lalu, pesan dari pengawal Lee mengatakan kalau Song Jiyoon kabur bersama Jinwoo, membuat Jongin merasa kalau monster yang tengah tidur dalam dirinya barusaja dibangunkan kembali. Kenapa gadis itu susah sekali sih mendengar perkataannya?

Pria itu segera membuka handphonenya ketika keluar dari restaurant yang sedang sepi karena bukan waktunya jam makan. Cuaca mulai memburuk dan salju perlahan mulai turun. Tanpa sabaran, dia mencari aplikasi Get Tracker pada Iphonenya. Well, mana mungkin Jongin tidak meretas ataupun tidak menyambungkan aplikasi pelacak pada handphone gadis itu. Jiyoon bisa berada dalam bahaya  kapan saja, jadi dia sudah menyiapkan segala hal yang bisa meminimalisir hal itu terjadi dari awal.

Jongin mengutuk beberapa kali ketika aplikasi itu memerlukan loading yang cukup lama. Kata demi kata penuh serapah tak henti keluar dari bibir sexynya yang memucat, ayolah, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sampai akhirnya aplikasi itu menunjukkan suatu titik pada peta, pria berkulit tan itu langsung berlari tidak peduli sedingin apapun cuaca siang tanpa matahari itu. Dia bersumpah dalam hati, kalau terjadi apa apa pada JIyoon, Kim JInwoo tidak akan ia biarkan selamat kali ini.

Napasnya tidak beraturan ketika dia tiba di persimpangan dengan beberapa gang sempit. Badan Jongin berputar, tidak memperdulikan rasa lelah yang menusuk pergelangan kakinya.

“Jongin…” Pria itu sontak menghadap kebelakang ketika namanya dipanggil oleh suara yang ia butuh dengar pada detik itu. Jiyoon berdiri dihadapannya, berjarak hanya 2 meter. Jongin tidak bisa baca apapun pada ekspresinya yang datar. Yang paling penting, dia tampak baik baik saja dan sudah berada di jangkauan mata Jongin. Pria itu berjalan cepat, mendekati gadis yang tidak tampak raut bersalah apapun pada wajahnya, “Kau tidak apa apa?” Jiyoon bertanya polos sembari membalas tatapan menusuk Jongin yang seperti ingin menghabisi nyawa orang, benar benar penuh ancaman. Well, apakah gadis itu tidak sadar kalau dia sedang berhadapan dengan siapa?

Seriously Song Jiyoon. Do I look okay?

Jongin serius ingin melampiaskan seluruh kemarahan yang menumpuk dalam hatinya untuk gadis yang telah dengan kurang ajarnya membuat dia khawatir, sekarang juga. Tapi Jongin tentu pernah mendengar nasihat seperti, ‘jika kau marah, kau lebih baik diam. kau akan menyesal apabila mengeluarkan kata katamu ketika marah’ maka dari itu, pada akhirnya dia memilih menghembuskan napas beratnya dan merangkul bahu Jiyoon, melemaskan tangannya yang dingin dan sejak tadi terkepal kuat.  “Ayo pergi. Disini dingin.”

Jiyoon menurut. Dia mengikuti Jongin yang membawanya menuju Mercedes hitam yang terpakir di halaman restaurant tempat dia bertemu dengan Jinwoo tadi. Gadis itu menegak air liurnya mengingat keberadaan Jinwoo. Tapi ‘orang itu’ menjamin dia tidak akan menyentuh Jinwoo barang seincipun jika Jiyoon tidak macam macam.

“Kemana kau tadi?” Jongin bertanya ketika mesin penghangat pada mobilnya sudah dinyalakan.

“Aku hanya ingin melihat keluar…sebentar.” Jawaban Jiyoon putus putus, membuat Jongin tidak mau melihat kearahnya. Oh ayolah, bahkan semudah ini untuk menebak kalau Jiyoon tengah berbohong.

“Kau keluar bersama JInwoo, kan? Dimana dia?”

Jiyoon menggelengkan kepalanya beberapa kali, ragu ragu terlihat jelas dalam gerak geriknya. “Dia pulang duluan.” Bohongnya, sekali lagi. Tentu gadis itu berharap banyak kalau Jongin akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Jongin hampir menyalurkan pertanyaan berikutnya ketika handphonenya memuat satu pesan baru. Dia membacanya sekilas, ekspresinya tidak berubah.

“You hide something from me.” Itu kalimat terakhir Jongin sebelum dia melajukan mobil pada jalanan bersalju itu, yang sampai sekarang belum bisa ditanggapi oleh Jiyoon.

Gadis itu sama sekali tidak bisa mengungkapkan kebenaran tentang apa yang terjadi padanya tadi untuk Jongin. Dia takut, dia selalu menjadi yang paling ketakutan. Dan setiap kali dia ketakutan, dia selalu melarikan diri. Seperti sekarang.

“Kau sedang marah.” Jiyoon berkata lirih tiba tiba, tidak tahan dengan keheningan dalam mobil yang diam diam membuatnya gelisa.

Pria yang tengah mengendarai mobilnya itu melirik gadis disebelahnya sekilas. Jongin ingin sekali menjawab kalimat dugaan Jiyoon itu dengan pelarian paling basi seperti ‘aku tidak marah’ lalu  semua selesai. Tapi dia tidak dapat memungkiri kalau dari tadi dia merasa panas sendirian. “Jika kau jadi aku, apakah kau tidak akan marah?”

Jiyoon tidak merubah ekspresinya ketika mendengar pertanyaan skakmat Jongin barusan, yang secara tidak langsung membenarkan dugaan nyata dari gadis itu. “Jadi, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi?”

Jongin tanpa sadar mengeluarkan senyum tertahannya.  Daripada mengatakan maaf, dia selalu memberikan Jongin tawaran yang sangat menarik seperti itu. Sayangnya, handphone Jongin berbunyi tanda panggilan masuk sebelum ia sempat mengutarakan keinginannya pada Jiyoon. Pria itu segera memasang headset Bluetooth pada telinganya. Tidak sampai beberapa detik dia memberikan sapaan pada telponnya, kaki Jongin tanpa sadar menekan pedal gas semakin dalam, membuat baik dirinya maupun Jiyoon hampir terpental mengenai dashboard.

Sorry.” Ucapnya. Tapi setelah itu dia lebih fokus pada jalanan yang ramai, membuat mobilnya melaju dua kali lipat lebih cepat dari yang tadi. Rautnya yang dingin tampak khawatir. Jiyoon bahkan tidak mampu mengungkapkan pertanyaan mengganjal perihal apa yang sedang terjadi. Jadi, dia memilih menyandarkan tubuh agar lebih tenang dari setiran Jongin yang ugal ugalan dan memegang erat safetybelt di dadanya.  “Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kita kerumah sakit dulu, ok?”

***

 “Hi.” Jiyoon mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara tidak asing itu tengah menyapa. “Kenapa tidak masuk?”

Didalam bau obatnya parah sekali.” Jawab gadis itu seadanya. Seseorang yang menyapanya barusan tersenyum miring. Tanpa meminta izin, dia langsung duduk disebelah gadis itu.

Kau tahu? Aku merasa dejavu dengan kejadian ini. Kau di kursi tunggu rumah sakit melihat keluar jendela kemudian aku duduk disebelahmu. Tapi bedanya waktu itu diluar penuh  Cherry Blossom, sedangkan sekarang masih badai salju. Dan kau terlihat jauh lebih baik saat ini.” Ucap Sehun panjang belagak ramah, dia menebak kalau dia akan berbicara banyak lagi dengan gadis ini. “Then, bagaimana keadaan Yura?”

“Dia sudah siuman.”

“Bunuh diri menggunakan obat tidur memang payah sekali, kan? Itu jarang berhasil.” Sehun berkata asal. Seperti halnya menyesali kegagalan dalam percobaan bunuh diri yang dilakukan Yura, yeah, alasan kenapa mereka berada dirumah sakit saat ini.

Jiyoon berdecak, apakah pria di sebelahnya ini bermaksud melucu atau mulutnya memang kejam? “Tapi janinnya tidak selamat.” Lanjut gadis itu. Lirih sekaligus dalam.

“Kenapa? Kau menduga kalau Yura hamil anak Jongin kemudian Yura memutuskan untuk coba coba bunuh diri karena Jongin tidak mau tanggung jawab?” Pertanyaan Sehun semakin asal, membuat Jiyoon sontak menatap kearahnya. Oh ayolah, kenapa menyenangkan sekali mengganggu seorang Song Jiyoon? Sehun nyaris terbahak menyadari kalau gadis ini punya eksresi lain dibalik raut datarnya. “Raut terkejutmu boleh juga. Membuatmu terlihat lebih cantik omong omong.” Lanjut pria itu bergurau. Jiyoon berdecak sekali lagi, kali ini kentara kalau dia mulai sebal dengan kata demi kata yang keluar dari mulut Sehun. “Well, aku berani bertaruh 100 juta Won kalau itu bukan anak Jongin. Kau mau tahu alasannya?”

Entah sadar atau tidak, mungkin dia sudah terbawa retorika pembicaraan Sehun sehingga Jiyoon pada akhirnya mengangguk polos. Membuat Sehun memberikan senyuman nakalnya untuk gadis itu yang langsung mengubah raut wajahnya kembali datar. Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga Jiyoon, yang kalau Jongin tahu tentang hal ini mungkin dia akan ditendang menjauh. Jongin tidak bisa diajak tidur dengan siapapun selain kau. Dia memang begitu, selalu menjadi yang paling khawatir terhadap semua orang.” Bisinya ditelinga Jiyoon. Tapi tidak seperti dugaan, tatapan mata yang ditunjukkan Jiyoon makin tidak tertebak.

“Apakah kita akrab sebelumnya?” tanya gadis itu, tanpa melihat kearah Sehun. Apakah dia marah dengan lelucon Sehun barusan? Ah, itu bukan sekedar lelucon omong omong, itu fakta.

“Tidak sama sekali. Aku hanya akrab dengan Jongin. Tapi kau pernah mengungkapkan rahasia terbesarmu padaku.”

“Rahasia apa?”

“Tentang kebenaran.” Balas Sehun. Kali ini suaranya terdengar lebih berat, mungkin dia mulai serius. Sejak dia memutuskan untuk menemani Jiyoon diluar daripada masuk kedalam untuk menjenguk Yura, dia sudah menebak kalau dia akan berbicara hal yang penting lagi dengan gadis itu.  “But I cant tell you this. Kau harus mengingatnya sendiri. Karena ini sudah menjadi rahasia antara aku dan Jiyoon yang belum hilang ingatan.” Lanjutnya, membuat penyataan langsung kalau dia tidak akan membuka apa apa. Masalahnya, Sehun hanya tidak mau mengingatkan Jiyoon tentang betapa menyedihkannya dan putus asanya masa lalunya.

“Apakah Jongin mencintaiku?” Sehun baru ingin mencelah pertanyaan Jiyoon yang mudah sekali untuk dia jawab dengan ‘Tanyakan saja pada Jongin.’ tapi Sehun tidak dapat berkata apa apa lagi ketika Jiyoon melanjutkan pertanyaannya, “atau membenciku?”

“Did you remember something?” tanya Sehun langsung. Kali ini matanya tidak bisa lepas dari gadis yang kembali dengan tatapan kosongnya itu, penasaran. Well, kenapa semua orang bertingkah kalau dia ingat maka sesuatu yang buruk akan terjadi?

“Aku tidak tahu.” Gadis itu menjawab seadanya, seperti dia tidak punya jawaban lain yang lebih konkrit dan bisa dimengerti. Jawabannya barusan terlalu luas, terlalu tidak bisa ditebak oleh Sehun yang terlanjur penasaran. Mungkin benar apabila Jiyoon mulai mengingat sesuatu. Karena kalau tidak, bagaimana dia bisa mendapatkan dugaan kalau Jongin membencinya? Well, Sehun tahu bagaimana kelakuan Jongin terhadap orang yang ia benci. Tapi dia juga tidak lupa apa saja yang akan diperbuat Jongin demi orang yang ia cintai.

“Apa yang kalian berdua lakukan disini?” Suara berat itu sontak membuat Jiyoon dan Sehun langsung terdiam dan hening. Jongin berjalan mendekati mereka setelah keluar dari ruangan Yura, “kenapa kau tidak kedalam, Sehun?”

“Aku tidak mungkin membiarkan gadis cantik sendirian disini.” Jawab Sehun santai, jawabannya tentu saja membuat Jongin langsung mengeluarkan kata kotor untuknya.  Well, Jongin mana mungkin membiarkan Jiyoon benar benar sendirian. “Dia cemburu pada Yura karena kau mengabaikannya.” Lanjut Sehun sambil melirik Jiyoon dengan senyuman nakal.

Jiyoon menggeleng gelengkan kepalanya cepat. “Tidak. AKu tidak pernah bilang begitu!” Tegasnya. Dia melirik Sehun untuk meminta penjelasan sekaligus pembelaan. Sehun tidak akan memfitnahnya lebih jauh lagi, kan?

“Jadi, apakah Yura memberitahumu dia hamil dengan siapa?”

“Ya.” Jongin menjawab singkat dan dingin di lorong VIP rumah sakit yang tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Dari tatapan matanya pun kelihatan kalau dia semarah itu dengan siapapun yang telah membuat Yura begini. Well, mungkin ini merupakan hari paling buruk untuk Kim Jongin, dia memiliki begitu banyak masalah, bagaimanapun.

“Dengan siapa?”

“Kau tidak perlu tahu.”

Sehun melirik Jiyoon, kemudian langsung beralih pada Jongin yang sudah berdiri dihadapannya dengan pandangan tajamnya. “Yeah, aku mengerti.” Ucap Sehun pelan. Dia berdiri dari kursinya, sempat membisikkan, “aku tetap menjamin kalau itu bukan anak Jongin meskipun dia terlihat sekhawatir ini.” ke telinga Jiyoon sebelum masuk keruang inap Yura. Jiyoon hanya menatap punggung Sehun yang menjauh menggunakan tatapannya yang tidak memiliki definisi

Jongin mengulurkan tangan kanannya yang kemudian diraih Jiyoon. “Kau mau melihat Yura sebentar?” tanyanya. Jiyoon mengangguk, matanya tak lepas dari wajah Jongin yang tampak pasih. Pria itu membawanya ke dalam ruangan Yura, masih menggenggam tangan gadis itu yang terasa dingin.

Ruangannya lumayan ramai. Pandangan Jiyoon menelusuri semua orang yang berada didalam sana. Ada Sehun dan beberapa orang lainnya yang tidak ia ketahui, sekitar 4 orang. Jiyoon mengeluarkan senyum kikuknya karena mereka semua tak henti melihat kearahnya bagaikan terdapat sesuatu yang aneh, membuatnya semakin merasa awkward dan tangan Jongin yang ia genggam pun menjadi korban. Gadis itu sama sekali tidak sadar kalau ia meremas tangan Jongin kuat sekali.

“Cepat sembuh.” Ucap Jiyoon seramah mungkin ketika berada di dekat Yura, tapi tetap terdengar dingin. Yura tersenyum tipis menanggapi ucapan Jiyoon, tidak merespon dengan kata apapun. “Aku pamit pulang.” Lanjut gadis itu pelan. Yura langsung melihat kearah Jongin yang berada tepat di belakang Jiyoon.

“Kau juga pulang?” tanyanya pada Jongin. Jiyoon sontak melihat kearah Jongin. Berharap banyak kalau pria itu akan mengatakan ya. Tapi bagaimana kalau tidak?

Tapi Jongin tentu mengangguk. Dia tidak mungkin membiarkan Jiyoon pulang sendirian setelah apa yang terjadi hari ini. “Kau akan menemaniku kan malam ini? Aku tidak punya teman.” tanyanya sedih. Jiyoon menatap beberapa orang yang berada diruang itu satu persatu dengan bingung. Lantas mereka apa? Bukan teman? Untung Jiyoon tidak membiarkan mulutnya betulan menanyakan hal itu. Karena apabila dia melakukannya, itu berarti dia terang terangan mengajak Yura perang dingin.

Jongin pada akhirnya menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Well, pria itu takut apabila Yura akan mengulangi perbuatan buruknya itu lagi. Jadi, apapun keinginannya sekarang mungkin akan ia turuti.

***

“Kau mau pergi sekarang?”

Jongin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia baru keluar dari kamar mandi beberapa saat yang lalu,  buru buru menggunakan kaos polo berwarna putih beserta celana jeans yang sudah ia siapkan dari awal. Well, tentu dia tidak lupa ini musim dingin. Dia mengambil random mantel di ruang penyimpanan pakaiannya.

“Tidak makan malam dulu?” tanya Jiyoon lagi. “Kau belum sempat makan malam.” Yeah, ini semua gara gara Jongin yang langsung sibuk dengan tetek bengek pekerjaan kantornya yang harus ia periksa sejak tadi.

Jongin menghentikan aktivitasnya sementara untuk membereskan barang barangnya, dia saja baru ingat kalau dia belum makan. “Tidak. Sepertinya aku akan makan disana.”

“Oh.” Balas Jiyoon singkat.

Setelah semuanya beres, Jongin duduk disebelah Jiyoon di kaki tempat tidur. “aku boleh pergi kan?”

“kenapa bertanya padaku?”

“aku meminta persetujuanmu.”

Jiyoon memandang Jongin yang berada disebelahnya, “Kalau misal tidak boleh, apakah kau tidak jadi pergi?”

“Ya, tentu saja.”

Jiyoon berpikir sebentar. Dia ingin menjadi egois dan mengatakan kalau Jongin tidak boleh pergi. Jongin harus berada disini dan menemaninya. Tapi untuk apa? Dia tidak punya alasan rasional untuk meminta Jongin melakukan itu.

“Aku tidak punya alasan untuk mengatakan tidak boleh.”

Kedua sudut bibir Jongin terangkat. Dia tersenyum sembari memandang Jiyoon yang wajahnya tidak pernah bisa ia tebak apa maunya itu. well, Jongin juga tidak tahu apa maksudnya bertanya seperti itu pada Jiyoon tiba tiba. Dia tipikal orang yang akan melakukan apapun yang ia mau tanpa izin ataupun persetujuan siapapun. Masalahnya, dia hanya membayangkan apabila dia berada diposisi Jiyoon. Itu harga mati kalau Jongin tidak akan memberikannya persetujuan. Apalagi setelah kejadian siang ini dimana Jiyoon masih memilih untuk menutupi segalanya.

“Yasudah, aku pergi dulu.” Pamitnya. Pria itu sempat mencium puncak kepala Jiyoon sebelum dia berjalan menuju pintu.

Ekor mata Jiyoon mengikuti punggung Jongin yang menuju pintu. Setelah pria itu menghilang, dia langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap langit langit yang terang sekali karena cahaya lampu puluhan watt. To be honest, she wants to tell him everything. But some things are too scary and some things that she doesnt even understand.

Gadis itu memainkan kancing piyamanya kemudian, tangannya tidak henti bergerak karena gelisa. Otaknya membuatnya teringat dengan kejadian tadi siang, ketika dia bertemu dengan pria yang memukul kepala Jinwoo hingga ia pingsan. Pria yang ia pikir akan membahayakannya juga. Pria yang memberitahunya sesuatu yang tidak mau ia ketahui.

“Apakah otak naifmu berpikir Kim Jongin mencintaimu? Dia membencimu, asal kau tahu. Kau adalah orang yang paling ia benci di dunia. Tapi kau menyelamatkan nyawanya. Maka dari itu sekarang dia hanya mencoba untuk membalas budi baikmu.” Pria itu berkata dengan nada dingin nan sinis, sarat akan kebencian pada suaranya yang rendah. “Dan kau mencintainya? Hahaha ini lucu sekali!”

“Aku tidak akan mempercayai lelaki gila yang berbicara omong kosong sepertimu.” Jawab Jiyoon datar. Perkataan menyakitkan yang dikeluarkan pria itu seperti tidak membuatnya ciut sama sekali. Oh ayolah, beberapa saat yang lalu dia baru saja menggigit kuat tangan kanan pria itu, membuatnya tidak bisa menyentuh Jiyoon lagi.

“Lihat dirimu. Kau rusak, kau berantahkan. Nobody will ever love a broken girl like you. Tapi aku bisa menolongmu. Asal kau mau diajak bekerja sama denganku.” Lanjutnya santai, seperti kata katanya memang pantas ia tujukan untuk Jiyoon.

“Don’t hurt him!” Gadis itu berdesis, tatapan matanya yang tertuju pada lelaki dihadapannya tak kalah dingin, menantang. Tidak memperlihatkan kalau dia takut kepadanya.

“Kau mencintainya?”

Jiyoon tidak memberikan respon apapun pada pertanyaan itu. Membuat Jung Yunho semakin yakin kalau pertanyaannya barusan mendapatkan pembenaran. “Uh, apa yang diberikan Kim Jongin padamu hingga kau dengan sukarela mau menjadi bonekanya seperti sekarang?”

“Don’t hurt him.” Jiyoon mengulangi perkataannya tadi, dengan suara yang lebih seperti memohon.

“Aku bukan orang jahat, Jiyoon. Jongin yang penjahat. Ah, meskipun aku orang jahat sekalipun. Aku tidak akan menyakitimu. Tapi Jongin menyakitimu. Dia yang menghancurkan hidupmu, jika kau masih munafik untuk tidak bisa mengingatnya.” Jung Yunho berkata dengan nada yang jauh lebih kalem daritadi. Tidak ada kesinisan lagi dalam suaranya yang berat. Dia menatap Jiyoon dengan pandangan penuh iba, yang membuat Jiyoon semakin ingin menghilang dari sini dan mengurung diri ditempat yang sempit, yang hanya ada dia seorang diri.

Kata kata Jung Yunho hanya omong kosong, kan? Jongin mana mungkin melakukan segala hal busuk seperti yang Yunho katakan padanya. Jongin bukan penjahat, pria ini hanya mencoba mencuci otaknya dengan segala fitnah yang ia berikan kepadanya. Jiyoon melihat dan merasakan sendiri kalau Jongin itu baik hati, bahkan terlalu baik untuk melakukan apapun untuknya. Tapi disaat yang bersamaan, dia tidak tahu…ucapan Yunho terasa benar untuknya.

“Aku tidak percaya padamu!” dia mengulang jawaban yang sama seperti sebelum sebelumnya. Sayangnya Jung Yunho menyadari itu. Jiyoon mulai terpengaruh dengan doktrin yang sudah ia tanamkan, dalam waktu secepat ini. well, cepat atau lambat, dia merasa yakin kalau Jiyoon akan berada dipihaknya.

“Jika kau sudah mengingat semuanya. Kurasa kau akan menyukai ideku ini. Tapi karena kau belum ingat, kuharap kau bisa cepat mengingat. Karena apapun dasarnya, kau pasti tahu sendiri kalau Jongin tidak menginginkanmu.” Ungkapnya lagi, kembali disertai senyum mereng memuakkan yang membuat Jiyoon ingin mencakar cakar wajah tampan pria tinggi dihadapannya ini dengan pisau. Jung Yunho berjalan mendekatinya yang tadinya mundur beberapa langkah. Ia mencengkram rahang Jiyoon, memaksa mata gadis itu agar menatap kearah mata elangnya yang penuh ancaman, “jangan katakan apapun tentang pertemuan kita pada siapapun. Apabila kutahu kau melakukannya, Jinwoo tidak akan selamat. I always watch you!”

Kata demi kata yang diucapkan Jung Yunho padanya tidak ada yang terlupakan sama sekali. Hal itu terus menghantui pikiran sepinya. Disatu sisi, dia sama sekali tidak mau mempercayai Jung Yunho, yang entah siapa dan apa maksudnya tiba tiba menghampirinya, mengatakan kalau dia mengetahui segala masa lalu Song Jiyoon tanpa kebohongan ataupun manipulasi sama sekali, seperti yang orang orang disekitarnya lakukan padanya. Dia tidak dapat mengingat apapun tentang Jung Yunho, tapi perasaannya merasa kalau mereka kenal. Dan cukup dekat.

‘Jongin membencimu…’

‘Dia menyakitimu…’

‘Dia akan menyakitimu lagi.’

‘Dia yang merusak hidupmu.’

‘Aku akan melindungimu.’

‘Aku bisa menyelamatkanmu darinya.’

Tapi disisi lainnya, Jung Yunho seperti memberinya puzzle pelengkap atas mimpi mimpi buruknya selama ini, mimpi mimpinya yang sangat mengerikan. Tiba tiba, semuanya terjadi masuk akal dan sangat mengganggu disaat yang bersamaan. Ayolah, Jiyoon merasa bahwa hidupnya masih baik baik saja tadi pagi, semuanya terlihat lancar dan tidak ada yang terlihat salah. Dia mulai meyukai hidupnya yang sekarang. Dan mungkin, dia mulai menyukai Jongin. Atau mungkin sudah. Jongin berhasil membuatnya membutuhkannya dan berhutang banyak, bagaimanapun.

Lalu kemudian Jung Yunho datang. Memberitahukan sesuatu yang tiba tiba membuat segala hal terlihat salah. Membuatnya kembali terjebak dalam labirin menyakitkan yang tidak memiliki ujung. Dan itu kembali membuatnya merasakan terjatuh dalam rasa sakit yang sama dan lebih parah. Tapi kali ini, dia memilih menyimpan rasa sakitnya sendirian.

*

Jiyoon masih melakukan kegiatan seperti sebelumnya. Memainkan kancing piayamanya sambil melihat kearah langit langit ruangan kamar mewah itu, kadang kadang dia membuka handphonenya entah untuk apa. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Seperti yang diingkan Jongin, dia ke meja makan untuk makan malam. Meskipun dia hanya pura pura memakan sesuatu. Well, dia sudah merasa kekenyangan karena pikirannya sendiri.

Dia merasa mengantuk. Tapi tidak bisa tertidur. Berkali kali dia memejamkan matanya, tapi tetap saja dia terbangun karena terlalu banyak bayangan menakutkan yang tiba tiba lewat tanpa bisa ia control. Tidak ada yang mengerti bagaimana semua ini terasa sangat membuatnya kacau.

Gadis itu membuka handphonenya sekali lagi. Siapa tahu dengan memandang layar itu bisa membuatnya mengantuk. Sampai akhirnya, dia memainkan kakaotalk dan membuka kontak Jongin. Jongin tidak menggunakan avatar apapun pada profile kakaotalknya. Well, Kim Jongin memang selalu menjadi misterius dimata siapapun. Gadis itu pada akhirnya mengirim sticker setelah bermenit menit memandangi chat kosongnya dengan Jongin.

Tidak lama kemudian, muncul pesan, ‘kenapa belum tidur?’

Jiyoon tidak berharap banyak kalau pesannya akan dibaca, apalagi dibalas secepat ini. well, salahkah jika dia merasa…senang? Mungkin daritadi dia terus merasa kesepian dan sendirian, makanya kesulitan untuk tidur.

‘Kau juga belum tidur.’ Ia mengetik seadanya. Jam setengah 1 malam. Mungkin Jongin juga terserang insomnia akibat sering terganggu oleh Jiyoon yang biasanya terjaga di jam segini.

‘Mimpi buruk lagi?’

‘Tidak. Aku hanya tidak bisa tidur.’

‘Aku juga tidak bisa tidur.’

‘Apakah Yura sudah tidur?’

‘Ya, dia sudah tidur. Kondisinya sudah semakin baik. Besok malam sudah bisa pulang.’

‘Kenapa Yura ingin bunuh diri?’

Pesan itu sudah dibaca beberapa menit yang lalu, tapi belum ada balasan sampai sekarang. Apakah Jongin sudah tertidur? Atau dia memang tidak mau menjawabnya? Atau karena Jiyoon tidak boleh tahu? Gadis itu masih berada di chatroom dengan Jongin, matanya tidak henti memandang layar yang belum ada pesan baru tersebut. Ketika Jiyoon sedang menuliskan beberapa kalimat baru, balasan dari Jongin sudah lebih dulu tiba dihalamannya.

‘Luhan.’ Jongin memberikan jawaban nama itu tanpa penjelasan apapun lagi. 

Kini giliran Jiyoon yang tidak tahu harus menjawab apa. Pertama, gadis itu tidak menyangka kalau Jongin akan memberitahunya. Jiyoon tahu jika Luhan merupakan kakak tirinya, Jongin juga memberitahunya kalau itu benar. Apa yang dilakukan Luhan pada Yura? Luhan sama sekali tidak kelihatan jahat dimata Jiyoon. Tapi kenapa dia bisa membuat Yura berpikir untuk mati dengan begitu mudah?’

‘Ji? Kau sudah tidur?’

‘Belum. Aku hanya terkejut.’

‘Apa yang akan kau lakukan pada Luhan?’

‘Aku tidak mau memikirkannya sekarang.’

Well, Jiyoon baru sadar kalau Jongin sudah punya banyak sekali masalah. Seharusnya, Jiyoon tidak perlu menambah masalahnya menjadi semakin banyak dan beranak pinak. Karena demi apapun, dia merasa sangat berdosa telah mencari masalah dengan Jongin tadi siang. Seharusnya, dia menuruti saja perkataan Jongin, tidak usah cari gara gara dengan melakukan sesuatu yang tidak pria itu sukai. Dan yeah, dia harus menerima akibatnya. Memang bukan dari Jongin, tapi dari Jung Yunho.

‘Jongin.’

‘Ya?’

‘Aku merindukanmu.’

‘Kenapa?’ Jongin membalas dengan kalimat tanya yang singkat seperti itu. Seandainya Jiyoon bisa menebak apa yang sedang Jongin pikirkan disana.

‘Apakah aku tidak boleh merindukanmu?’

‘Kita baru berpisah 3 jam yang lalu.’ ingatnya.

‘Aku takut terjadi apa apa denganmu.’

‘Aku akan menjaga diri.’  

‘Aku akan menjagamu juga.’

‘Jangan khawatir.’

‘Dan tidurlah.’

Membaca itu membuat Jiyoon merasa tenang seketika, Jongin seperti memberikannya jaminan kalau dia ataupun Jiyoon akan baik baik saja. Dan Jiyoon percaya itu. Dia percaya Jongin. Dia ingin hanya mempercayai Jongin didunia ini.

 ‘Jongin.’

Apakah kau membenciku?

Dia ingin menanyakan itu, tapi entah kenapa, saat ini dia begitu takut untuk tahu jawabannya.

‘Ya?’

Sleep well.’

‘Yes, you too. AKu janji akan pulang sebelum kau bangun.’

***

Ini adalah hari ke lima setelah pertemuannya dengan Yunho. Jinwoo masih berada dengan pria asing itu, entah bagaimana keadaannya. Selama itu pula, Jiyoon merasa bersalah terhadap Jinwoo. Tapi, bukankah Jung Yunho telah berjanji untuk tidak pernah menyentuh Jinwoo jika Jiyoon tutup mulut? Sampai sekarang, dia belum membeberkan apapun pada Jongin. Dia ingin sekali bertemu dengan Yunho, tapi pria itu berkata Jiyoon hanya bisa menemuinya setelah gadis itu sembuh dari amnesianya.

Sekarang Jiyoon sedang berada dirumah sakit, dia terpaksa masuk keruang rawat pasien meskipun dia sangat benci bau obatnya. Jongin meminta Jiyoon menemani Yura sebentar dan memastikan kalau gadis itu tidak melakukan hal hal yang nekat lagi, karena beberapa hari yang lalu, dia kembali mencoba melakukan bunuh diri. Sementara Jongin sedang keluar untuk membeli makan sebentar, Yura tidak suka makanan rumah sakit. Siapa yang suka?

Well, masalahnya, Jongin tidak tahu menahu kalau Yura dan Jiyoon diam diam memiliki hubungan yang kurang baik. Jadi, ketika hanya ada dua orang itu dalam ruangan, bukankah kesempatan yang baik untuk menunjukkan wajah sebenarnya?

“Berhenti memperhatikanku seperti itu.” tegas Yura untuk Jiyoon yang tak henti menatap kearahnya.

“Aku hanya melakukan hal yang dipinta oleh Jongin.”

“Kau membuatku risih. Bisakah kau keluar saja?”

“Aku akan disalahkan jika kau bertindak bodoh lagi.”

“Tidak usah sok peduli. Kau tahu sendiri kalau kita tidak pernah memiliki hubungan yang baik. Oh, apakah kau masih amnesia? Kuharap kau bisa mengingat semuanya secepat mungkin. Agar Jongin berhenti dengan tanggungjawabnya untuk menjagamu.” tungkas gadis itu tajam. Satu alis Jiyoon terangkat, dia menatap datar Yura yang tak henti menampakkan wajah sinis kearahnya.

“Kau bunuh diri…karena menginginkan perhatian Jongin, kan?”

“Yeah, seperti cara licikmu waktu itu.”

Jiyoon cukup kaget menyadari bahwa ucapan asalnya ternyata benar, “Kau membuatnya sekhawatir itu hanya demi perhatian.”

“Jangan bertingkah seperti kau tidak pernah melakukannya. Kau merebut Jongin dariku.”

“Bukannya sebaliknya?”

“Wow, apakah kau merasa sudah hebat sekali sampai merasa telah memiliki Jongin?”

“Dia bukan milik siapa siapa.” Balas Jiyoon akhirnya, tapi itu bukan berarti kalau dia mengalah. Manusia bukan milik siapa siapa kan? Yang bisa dimiliki hanyalah benda mati, binatang ataupun tumbuhan. Jiyoon merasa kalau pemikirannya itu benar.

“Terserah. Aku bisa membuktikan padamu kalau dia berbuat baik padamu hanya karena kau menyelamatkannya waktu itu. Asal kau tahu, waktu itu Jongin rela mengorbankan nyawanya demi aku, tapi kau datang tepat waktu dan menggantikan posisinya. Itu bagus sekali karena dengan begitu, Jongin tidak akan terluka. Kau lebih pantas untuk terluka.”

Sebentar, kenapa kalimat Yura yang ini mengingatkannya pada ucapan Yunho, yang kurang lebih bermakna sama?

“Aku kasihan padamu.” Balas Jiyoon singkat, bagaikan tidak tertarik dengan kata demi kata yang diucapkan Yura untuk merendahkannya. “Kurasa aku adalah orang paling menyedihkan. Tapi sepertinya kau jauh lebih menyedihkan daripada aku.”

“Diam kau jalang!”

Jiyoon tersenyum miris, “Wanita yang membunuh janinnya sendiri jauh lebih jalang.” Dia mengucapkan itu tanpa pikir panjang.

“Well, ah ya, pelacur sepertimu memang tidak tahu malu, ya?” Yura membalas dengan nada kesalnya yang kentara sekali, dia yang awalnya ingin membuat Jiyoon yang naik darah, malah dia yang merasa begitu. Senjata makan tuan! Jiyoon benar  benar sialan, melihat wajah tenang gadis itu membuat Yura ingin menjambak rambutnya atau mencakar wajah cantiknya. “Dasar perempuan gila. AKu tidak mengerti kenapa Jongin masih menahanmu ketika kau bahkan sempat hampir membunuhnya.”

“Aku? Hampir membunuhnya?” Satu alis Jiyoon terangkat, terkejut sekaligus meminta penjelasan lebih tentang ucapan Yura barusan, yang membuat suasana hatinya tiba tiba menjadi sangat tidak baik.

“Yeah, kau si gila yang menusuk perut Jongin dengan pisau didepan semua orang. Kalau aku jadi kau, aku akan menusuk perutku juga!”

“Aku tidak pernah melakukannya.”

Yura memutar bola matanya sembari tersenyum meremehkan, “Tidak pernah? Ckckck ayolah Song Jiyoon, kau bahkan tidak ingat namamu sendiri waktu itu. Sengaja melupakan semua dosa dosamu, eh? Kau tidak termaafkan, tahu.”

Jiyoon diam. Dia merasa mulai panas karena kata kata Yura. Apakah yang dikatakan gadis ini benar? Tidak mungkin, kan? Dia pasti hanya berbohong.

“Apa maumu sebenarnya?”

“Mauku? Kau cukup tahu tempat dan menjauhi Jongin. Dia selalu sial apabila didekatmu.” Tekan gadis itu dengan suara sinisnya. “Kau selalu menyakitinya tiap kali bersamanya. Kau tidak pantas dengan Jongin.”

“Apakah menurutmu kau pantas?” Jiyoon melihat tubuh Yura yang masih terlentang ditempat tidur dengan pandangan meremehkan. “Lihat? Siapa yang pelacur? Kau hamil dilaur nikah dan tidak jelas siapa ayah dari anakmu.”

Jiyoon tidak tahu bagaimana kata kata itu bisa keluar dari bibirnya. Mungkin dia kelewat kesal atau mungkin dia tahu kalau yang dikatakan Yura sebelumnya benar. Maka dari itu dia mengatakan hal hal jahat itu untuk melindungi dirinya agar tidak terlihat bodoh dan menyedihkan dihadapan wanita ini. Yura yang tadinya terlentang, sekarang mendudukan tubuhnya. Dia sakit hati dan tersinggung sekali atas kata kata Jiyoon barusan, gadis itu melayangkan tangannya untuk menampar Jiyoon, beruntung berhasil ditepis olehnya. Dan Jiyoon terlalu kalap untuk melayangkan tangannya juga ke wajah Yura. Tapi Yura tidak menghindar. Lebih tepatnya, dia sengaja untuk tidak menghindar.

“Song Jiyoon, what the hell are you doing?” Jiyoon menghadap kebelakang dan mendapati Jongin menatapnya dengan dingin. Pria itu mendekatinya, lebih tepatnya mendekati Yura yang sedang menangis terisak.

“Aku..hiks…bukan..hiks pelacur.” Yura berkata begitu ketika Jongin berada diantara mereka. Mulut Jongin sedikit terbuka, dia kemudian menatap kearah Jiyoon untuk meminta penejalasan atas perbuatan dan ucapan penghinaanya pada Yura?

“Dia yang memulai lebih dulu.” Jiyoon berkata dengan nada suara ataupun raut wajah tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Aku tidak melakukan apapun padanya, Jongin. Sungguh hiks..” gadis itu masih tersedu sedu. Membuat Jiyoon heran dengan tingkah liciknya ini.

Jongin menghela napas berat, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilakukan Jiyoon terhadap Yura. Apakah gadis ini sudah gila? Beruntung ini Song Jiyoon, dia selalu menjadi sabar apabila berhadapan dengan gadis ini.

“Kau…sebaiknya keluar.” pinta Jongin pelan, yang lebih tepatnya seperti sebuah perintah. Jiyoon, masih dengan tampang tidak berdosanya menuruti Jongin dan pergi keluar ruangan Yura.

*

“Aku tidak menyesal telah menamparnya.” Jiyoon berkata ketika Jongin mulai duduk disebelahnya.

“Kenapa kau melakukan itu?”

“Untuk membela diri.”

“Minta maaflah kepadanya.”

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Aku tidak suka minta maaf.” jawab gadis itu acuh.

“Kau hanya perlu mengucapkannya sedikit. Yura bisa berbuat nekat lagi akibat perbuatanmu.”

“Kurasa, kau tidak mengenalnya sedekat apa yang kupikirkan.” Jiyoon bergumam santai. Dia sama sekali tidak peduli dengan Jongin yang jelas jelas kesal karena perbuatannya.

“Kau harus minta maaf.” nada suara Jongin mulai meninggi, seperti termakan emosi akibat Jiyoon yang tampak sejahat dan setidakpunya hati ini.

“Aku tidak mau. Kenapa kau memaksaku?” tanya Jiyoon dengan nada suara yang hampir mirip. Yeah, Yura harus merasa menang karena Jongin membelanya. Untung Jongin tidak menyudutkan Jiyoon didepan semua orang, yeah ini jauh lebih mending apabila hanya mereka berdua yang membicarakan ini.

“Aku hanya memintamu melakukan hal yang seharusnya kau lakukan.”

“AKu tidak bersalah.”

“Jangan memperbanyak masalahku, Song Jiyoon!”

Jiyoon menghela napas berat mendengar Jongin berkata begitu dengan nada suara penuh penekanan, seperti menyalahkan dia sepenuhnya. “Baiklah. Aku akan minta maaf jika itu membuatmu merasa lebih baik.” Gadis itu berdiri, dia kembali masuk keruangan Yura. Menemui gadis itu dan berkata ‘maaf’ dengan nada suara sedatar yang ia mampu. Melihat wajah dan senyum manis Lee Yura membuat Jiyoon memahami sesuatu.  Mungkin Luhan tidak seburuk apa yang ia ataupun Jongin pikirkan.

***

Saat ketika Jongin memberitahunya perihal Luhan yang telah membuat Yura nyaris mati dan membunuh bayinya sendiri, Jiyoon sudah tahu kalau orang seperti Jongin tidak akan membiarkan Luhan bebas begitu saja tanpa membuat urusan panjang dengannya, tidak peduli kalau Luhan sempat menjadi teman dekatnya sekalipun.

Jiyoon sadar kalau Luhan kurang ajar karena telah lari dari masalah, tidak menghadapinya dan membuat dirinya semakin buruk dimata siapapun, apalagi Jongin yang sekarang seperti tidak segan untuk menghabisinya. Pria bermata tajam itu mencengkram kera baju Luhan, tidak memberikan ampun untuk membebaskannya sama sekali. Mereka berada di salah satu ruangan hotel tidak berbintang, tempat Luhan bersembunyi. Tapi tidak perlu waktu berhari hari untuk orang seperti Jongin bisa menemuinya. Sayangnya, ini bukanlah saat paling tepat. Dia sedang bersama Jiyoon, meskipun Jongin sudah memintanya untuk tetap berada di dalam mobil, gadis itu tetap keras kepala dan diam diam mengikutinya sampai ditempat ini. Sehingga Jiyoon harus menyaksikan sesuatu yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Jongin seperti pria kesetanan yang sudah lepas control. Dia memukul Luhan berkali kali dan mengerluarkan banyak serapah untuk pria yang berbadan lebih pendek darinya itu, tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Luhan untuk memberikan penjelasan kenapa dia menghilang, kenapa dia melakukan itu pada Yura dan yang paling penting…kenapa dia tidak bertanggung jawab?

Sementara Jiyoon ragu ragu. Dia ingin berlari kesana, menghentikan Jongin yang bisa saja membunuh Luhan kalau masih dibiarkan seperti itu. Meminta bantuan Sehun akan menghabiskan waktu, dia baru saja menghubungi Sehun beberapa saat yang lalu. Oh ayolah, dia tidak punya banyak pilihan. Kalau dia masih diam saja, Luhan sudah pasti mati ditangan Jongin.

“Jongin, stop!” pintanya, dia mendekat, tapi tidak terlalu dekat untuk mencelakai dirinya sendiri. Tapi Jongin bertingkah pura pura tidak mendengarnya, dia bagaikan tidak peduli apapun lagi. Yang ada diotaknya hanya satu. Memberikan Luhan pelajaran separah mungkin karena dia telah menyakiti Yura.

“Jongin, kau harus mendengar penjelasanku…” pinta Luhan ketika dia sudah terjatuh. Mulutnya memuntahkan sedikit darah, membuat Jiyoon menatapnya ngeri dari jarak yang tidak terlalu jauh. “ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan!” tegasnya. Tapi Jongin tidak menerima alasan. Untuk sesaat, Jiyoon merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia merasa ketakutan, seperti Jongin baru saja melakukan hal hal menyakitkan itu kepadanya. Kepalanya terasa sakit sekali. Karena pandangannya yang samar serta pikirannya yang sudah pasrah, Jiyoon berlari kearah Luhan sebelum Jongin benar benar mematahkan tulang pria yang bagaikan pasrah itu.

“Jangan ikut campur, Jiyoon!” ucapnya kasar, meminta Jiyoon pergi darisana. Jongin tidak pernah suka apabila ada orang yang ikut campur dalam urusannya, siapapun itu. Tapi Jiyoon tidak bergerak sedikitpun. Pandangannya menatap Jongin, seperti menantang pria yang baru saja memperingatinya itu. Membuat emosi pria itu semakin menumpuk, gadis ini seperti tidak berhenti untuk menguji kesabarannya. AYolah, Jongin sudah cukup marah karena perbuatan Jiyoon pada Yura dirumah sakit. Kemudian ini? APakah tidak ada habisnya? “aku bisa menyakitimu juga.” ancamnya lagi. Berharap banyak kalau Jiyoon tidak membuat masalah ini menjadi semakin pelik. Well, Luhan tahu kalau Jongin hanya mengancam Jiyoon, dia tidak akan betulan melakukannya. Tapi saat ini, entah kenapa Jongin terlihat begitu berbeda. Dia bagaikan seseorang yang akan melakukan apapun tanpa hati nurani dan akal sehat lagi.

Luhan bahkan berbisik pada Jiyoon untuk menyingkir. Tapi gadis itu tidak bergeming. Matanya tidak henti menatap Jongin, disaat itu pula, Jongin merasa kalau ada yang tidak biasanya dari tatapan Jiyoon. “Kenapa kau tidak mau mendengar penjelasannya?” Jiyoon bertanya datar pada Jongin yang berdiri tidak lebih dari 2 meter di hadapannya.

“Semuanya sudah jelas.”

“Kau tidak bisa mengatakan semuanya sudah jelas hanya karena mendengar sesuatu dari satu pihak.”

“Kau tidak mengerti apa masalahnya, Jiyoon.” Jongin membalas bagaikan tidak mau kalah.

“Aku mengerti.” Tekannya. “Aku mengerti lebih banyak dari kau.” Lanjut gadis itu lagi, dia mati matian untuk menahan sesuatu dalam dirinya agar tidak meledak.

Jongin merasa kalau Jiyoon benar benar tengah mengetes emosinya. Pria itu mendekat, dia mencengkram pergelangan tangan Jiyoon. “menyingkirlah dari sini.” Pintanya. Tapi tangan Jongin langsung segera ia tepis untuk tidak menyentuhnya.

“Kau bahkan lebih bajingan dari Luhan.” Mulut Jongin terbuka. Dia yang berada dekat sekali dengan gadis itu bahkan tidak berani mengucapkan apapun lagi. “Jika kau merasa punya hak untuk menghabisi Luhan. Aku bisa membuat Luhan memiliki hak yang sama untuk menghabisimu.” Ancam Jiyoon balik. Jongin menatap gadis itu nanar, sementara Luhan yang masih mengatur napasnya sama sekali tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi sekarang.

“Jiyoon.” Ucapnya pelan, bagaikan kehilangan seluruh kekuatan.

Jongin menatap Jiyoon dalam dalam. Pria itu bagaikan melemah dan tidak berkutik lagi, seperti dia adalah satu satunya yang akan mati ditempat ini. well, meskipun gadis tiu tidak mengatakannya langsung. Jongin tahu kalau Jiyoon sudah mengingat semuanya. Mengingat segala hal hingga cukup untuk menghancurkan pria itu dengan parah setelah ini.

“Lepaskan Luhan. Aku akan diam saja.” Gadis itu melanjutkan, masih dengan nada datar yang sama. Tatapannya tidak kosong, sarat akan kesedihan, itu seperti menunjukkan pada Jongin kalau dia sedang berada dalam kesakitan yang parah seorang diri.

“kau harus ikut aku.” Meskipun terkesan memerintah, tapi Jongin sebenarnya sedang memohon. Jiyoon tidak mau ikut sebetulnya, tapi tubuhnya yang kelewat lemas akhirnya menurut. Meninggalkan Luhan sendirian dengan tanda tanya penuh. Well, dia menyedihkan sekali karena tidak bisa menghentikan Jongin yang membawa Jiyoon pergi. Satu hal yang pasti, Luhan yang bodoh masih yakin kalau Jongin tidak akan menyakiti Jiyoon. Yeah, Jongin bisa menyakiti siapapun didunia ini, tapi tidak dengan Jiyoon. Sayangnya, Luhan sudah tenggelam dalam mindset seperti itu dalam waktu yang sangat lama, hingga dia tidak terselamatkan lagi untuk berpikir kalau yang terjadi adalah sebaliknya.

***

“Lepaskan aku, brengsek!” Teriak Jiyoon pada Jongin untuk yang kesekian kalinya, dia bahkan memukul mukul dada Jongin. Kedua orang itu sudah berada dikamar Jongin, terkurung dengan kunci yang disimpan Jongin entah dimana.

“Tidak akan.” Balas pria itu dengan nada suara egois yang membuat Jiyoon makin frustasi. “Tidak akan pernah.” Lanjutnya lagi.

Hal itu membuat Jiyoon semakin putus asa. Matanya sudah dipenuhi airmata yang berhasil ia tahan dari hadapan Luhan. Wajahnya memerah, itu karena campur aduk perasaan buruk yang tidak bisa ia hilangkan. Kata kata Yunho terbukti benar, ketika Jongin membentaknya tadi, dia sadar kalau Jongin yang ia kenal selama ini tidak sebaik apa yang terlihat. Jongin tidak mencintainya, pria itu bahkan membencinya. Segala kebaikkan yang ia perlihatkan selama ini adalah omong kosong. Semuanya palsu. Menyadari ini membuat Jiyoon merasa rasa sakit yang lebih parah dari apa yang ia rasakan sebelumnya. Apakah Jongin tidak bosan untuk menyakitinya? Apakah segala penyiksaan yang Jongin lakukan padanya sebelumnya belum cukup? Apakah dia seberdosa itu pada Jongin hingga pria ini selalu menyakitinya dengan hal hal yang jauh lebih parah? Kenapa Jongin harus berbuat ini padanya? membuatnya berpikir kalau Jongin adalah orang baik? membuatnya berpikir kalau Jongin akan menjaganya dan tidak akan menyakitinya padahal yang selalu terjadi adalah sebaliknya?

“Aku membencimu.” Tekan Jiyoon untuk Jongin. Berharap kalau kata kata itu bisa menyakiti Jongin. Dan harapannya itu tentu terjadi. “Aku sangat membencimu.” Gadis itu melanjutkan dengan nada suara frustasi, dia mundur kebelakang, menjauhi Jongin. Dia ingin membuat Jongin sadar kalau ia membenci Jongin juga, sangat malah. Ia ingin menunjukkan pada Jongin kalau dia pantas mendapatkan kebencian darinya. Atau kalau ada yang lebih buruk dari kebencian, Jongin pantas untuk mendapatkan itu. “Aku akan membencimu sampai kapanpun.” Tegas gadis itu sekali lagi.

Jongin yang berada dijarak tidak terlalu jauh darinya hanya diam saja, gadis itu terus mundur hingga punggungnya menyentuh meja kayu. Jongin mendengarkan segala cacian penuh benci dari Jiyoon yang mengamuk dengan helaan napas pendek. Jongin ingin bertanya apa yang Jiyoon inginkan, dia akan menurutinya, apapun itu termasuk kalau Jiyoon ingin ia mati. Dia ingin meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya. Dia akan melakukan apa saja untuk Jiyoon. Tapi bodohnya, dia terlalu pengecut untuk mengucapkan satu katapun dikeadaan ini.

“Kau penjahat. Kau tidak pernah menjagaku. Kau menyakitiku.” Jiyoon menangis dan berteriak sehisteris itu. Dia mau melampiaskan rasa sakit yang tidak terbendung pada dirinya, menyalahkan segala hal pada Jongin.”Kenapa kau tidak membiarkanku mati waktu itu?” teriaknya lagi, kali ini putus asa. Gadis itu menjatuhkan badannya dan terduduk dilantai, masih menangis histeris. Melihat Jiyoon menangis seperti ini, membuat Jongin merasa luka dihatinya berdarah kembali.

Ayolah Jiyoon. Apakah kau berpikir bahwa kau satu satunya yang tersakiti disini?

“Maaf.”

“Maafmu tidak menyelesaikan apapun!” balas gadis itu sinis dan datar.

“Kau tidak perlu memaafkanku. Apa yang aku lakukan memang tidak termaafkan. Tapi bisakah kau tidak pergi?” pintanya. Jiyoon dapat melihat kalau tatapan mata Jongin tidak setajam sebelumnya, kali ini terlihat sayu. Dia seperti memohon, meninggalkan harga dirinya yang setinggi langit untuk meminta seseorang mengambulkan permohonannya.

“Aku belum terlalu gila untuk tetap tinggal denganmu!” balas gadis itu.
Jongin menghela napasnya yang terasa berat dan sulit sekali. Sekarang, dia merasakannya lagi. Merasa segala sesuatu begitu rusak hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. “Aku berpikir untuk pergi sejauh mungkin dari kau!”

Well, mungkin Jiyoon sengaja untuk menyiksa Jongin pelan pelan namun pasti. Kata demi kata yang ia ucapkan seperti disengaja untuk menghancurkan pria itu, membalas segala rasa sakitnya. Atau dia pikir dengan begini rasa sakit dikepala dan dihatinya bisa berkurang meskipun sedikit.

“Kau tidak akan pergi.” Balas Jongin tak mau kalah, mendahulukan egonya yang mulai naik. “Kau tidak akan pergi kemanapun.” Lanjutnya lagi. Suaranya dingin sekali, penuh ancaman. Tapi Jiyoon kepalang hancur untuk merasa takut kepada Jongin. Meskipun dia menangis dan tampak begitu lemah, hal itu tak membuatnya berhenti menantang dan mengajukan perang pada Jongin.

“Stop your fucking obsession. Kau tidak berubah sama sekali.” Balas gadis itu kasar. Dia merasa ingin memukul Jongin, menggigit pria itu atau kalau perlu mencakar cakar wajahnya. Tapi, meskipun dia betulan melakukannya, dia merasa itu masih belum cukup untuk meredakan kebenciannya yang kepalang menumpuk.

“Kau juga tidak bisa pergi. Aku punya akta nikah yang kau tandatangani. Secara hukum, kita sah terikat.” Jongin berkata dingin. Kata katanya bagaikan menyiram minyak tanah kedalam api. Membuat semuanya terasa semakin buruk, apalagi untuk Jiyoon yang tidak percaya dengan kata kata Jongin. “Kau ingat dengan surat yang aku minta kau tanda tangani waktu itu? Itu akta nikah. Jadi, berhentilah berpikir untuk meninggalkanku.” Jongin berkata sinis, merasa menang banyak untuk sesaat. Sayangnya dia tahu, dirinya merasa tidak nyaman mengikat Jiyoon dengan cara paksa seperti ini, dia merasa begitu salah. Tapi, apalagi yang bisa ia perbuat? Ia tidak mau kehilangan Jiyoon. Setidaknya jangan sekarang. Dia sama sekali belum siap.

You seriously psychopath, Kim Jongin!” Jiyoon berdesis tajam. Suaranya seperti memberitahu kalau dia tidak menyangka Jongin bisa segila ini. Tapi yeah, gadis itu sudah mengingat semuanya. Dia tidak melupakan apapun yang Jongin perbuat padanya. Sedikitpun tidak. Dan segala hal tersebut sudah menjadi cukup untuk memberitahunya betapa gila seorang Kim Jongin.

“Terserah kau mau menyebutku apa. AKu tidak peduli.” Balasnya acuh.

Jiyoon tersenyum sinis. Entahlah, dia tidak bisa membendung emosinya. Dia marah, dia kesal, dia benci, dia ingin menyakiti Jongin, dia ingin membalaskan dendamnya pada Jongin dan berbuat hal yang sama jahatnya untuk pria itu. Tapi disaat yang sama, dia tidak ingin melakukan apapun selain memeluk Kim Jongin yang tampak begitu rapuh.

“Kau tahu sendiri. Kita berdua tidak pernah baik baik saja.” Suara Jiyoon melunak. Dia tidak mengerti dengan jalan pikir Jongin yang menurutnya tidak terbaca.

“Kita baik baik saja.” Tegasnya. “Tapi ingatanmu yang membuat ini menjadi tidak baik baik saja. Bisakah kau berpura pura masih melupakan semuanya sehingga kita bisa kembali baik baik saja?”

“Aku tidak gila sepertimu!” Gadis itu merasa lelah. Pertengkaran dan perdebatannya dengan Jongin sama sekali tidak ada titik temu. Jiyoon tak henti menunjukkan betapa ia benci Jongin, pun pria itu menjadi orang bodoh yang clueless untuk berbuat apa.

Jiyoon menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis sejadi jadinya tanpa mau melihat mata Jongin yang tidak kalah hancur. Jiyoon merasa tidak sanggup dengan hal ini. Seharusnya, Jongin tidak perlu berbuat baik padanya. Seharusnya, Jongin jangan pernah membuatnya bisa merasakan sesuatu lagi. Seharusnya, Jongin tidak mengajarkannya apa itu ketulusan. Seharusnya, Jongin tidak membuatnya merasa aman apabila didekatnya. Seharusnya, Jongin membiarkannya mati waktu itu. Dan yang paling penting, seharusnya… Jongin tidak pernah membuat Jiyoon jatuh cinta padanya. Hingga dia tidak perlu merasakan kepedihan dan kesengsaraan seperti sekarang.

“Jangan mendekat!” pintanya ketika menyadari kalau Jongin berjalan mendekatinya. Tapi pria itu keras kepala dan tidak mau mendengarkan permintaan Jiyoon tersebut. Dia masih berjalan kearah Jiyoon, ingin sekali memeluk gadis yang rusak akibat perbuatannya itu. “Tolong jangan mendekat.”

Langkah Jongin terhenti ketika Jiyoon berkata dengan nada suara sememohon itu. Sesaat, Jongin ingin menyerah dan menuruti apa permintaan Jiyoon, membiarkan gadis itu pergi darinya. Sayangnya, dia tidak sekuat itu untuk melakukan keinginan hatinya itu. Jongin melanjutkan langkahnya kembali, membuat Jiyoon merasa gelisa karena dirinya yang merasa terancam.

Jongin berada tepat dihadapan Jiyoon ketika mendapati tubuh gadis itu bergetar hebat. Apa yang Jiyoon takutkan darinya? Apakah gadis itu masih berpikir kalau Jongin akan mengulangi perbuatannya dulu? Jongin kemudian membawa gadis itu kedalam pelukannya, tidak sadar kalau ditangan kirinya, Jiyoon tengah memegang sesuatu.

 “You foolish girl.  Apakah kau berpikir aku akan membiarkanmu terluka sendirian?”

Tepat setelah Jongin mengatakan itu, Jiyoon dapat mendengar suara dentuman keras diikuti dengan tangannya yang berdarah. Mata Jiyoon terbelalak ketika mendapati Jongin terjatuh di bahu kanannya dengan napas tersenggal bagaikan hampir berhenti.

“Jongin!” panggilnya panic. Dia ketakutan, rasa takut yang berbeda dari sebelumnya. Airmatanya yang belum berhenti kembali mengalir hebat. Demi apapun, dia tidak bermaksud untuk melukai Jongin seperti ini.

There are two types of regret in this world. One is losing the person you love. The other is seeing your beloved lose happiness

***

2 chpater to go. hehehe

Advertisements

492 responses to “#9B HAMARTIA (OBSEDE FULL)

  1. Tadinya mau ngeship luhan – yura, tp yuranya aja begitu jadi males idih. Jongin-jiyoon itu yg terakhir kenapa sih kok gue ga ngerti;A; jiyoon megang pistol trs nembak jongin atau tbtb yunho dateng trs nembak jongin?-_-

  2. berfikir kalau Yunho ada disana
    sebenarnya belum.yakin kalau jiyoo ingat. Aku befikir dia hanya terpancing emosi. dan gak nyangka yura se jahat itu

  3. Si Yura pikcik banget!! Ogah ngeship dia sama Luhan.
    Yang terakhir rada gak paham hheheheh Jiyoon sebernya pegang apa?? Pistol? Dari mana dia dapet itu semoga happy ending ^^

  4. menegangkan apalagi detik detik pas Jiyoon udah ingat semua. semoga Jiyoon tetap tinggal di sisi Jongin meski udah ingat semua

  5. Yura licik bgt smpe ngelakuin hal yg tidak bermoral buat Jiyoon. bisa ngehina Jiyoon jalang, emang gk mikir dirinya itu ap..??

    Duh gimana tuh nasibnya Jongin..??
    D pukul ama vas ya..??

  6. pasti pistol nya dari yunho???? oh my gmn bisa jiyoon tdk bermaksud melukai jongin tapi ada suara dentumaaan plisssss jiyoon maafin jongin

  7. Siapa yg nembak jongin? Jiyoon kah? Atau jongin sendiri? Emg udah balik tah ingetan jiyoon? Makin rumit aja

  8. Bnar kata kai, smuanya baik baik saja seblum jiyeon ingat. Tak bsakah jiyeon membri kai ksempatan untk brbh? Bkankah smua org pernah salah

  9. I dunno how can jiyoon inget secepat itu, itu terasa dadakan, but masuk akal soalnya jiyoon liat kejadian jongin yg berbuat something yg mirip dg apa yg pria itu lakukan pada jiyoon dulu. Please, satuin mereka 😭

  10. huweeee kok gini sih kak? aku gk ingat ada adegan ini sumpah..😭😭 sedih banget ,finally jiyoon ingat semuanya..gara2 yura sialan..😑 isss kok jadi gini sih kak.. jongin-ah..😭
    so sad kak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s