You Fox – Angelina Triaf

thehun2

Angelina Triaf ©2015 Present

You Fox

Oh Sehun (EXO) & Park Cheonsa (OC) | Psychology | PG-17 | Ficlet

“Don’t pretend to be innocent, you fox.”

0o0

Rebuild my mind, there’s another face behind you.

“Sehun, are you okay?”

Ia mendekat ke arahku. Langkah kakinya pelan dan wajahnya terlihat panik. Sebisa mungkin kugerakkan kaki kananku. Sial, gerigi besi ini menancap terlalu dalam. Aku tak bisa bergerak sama sekali. Mencoba membantuku, kini wajahnya terlihat setengah ngeri saat mencoba melepaskan besi-besi itu dari kakiku.

“Tak apa, tolong panggil saja seseorang untuk membantu,” ucapku setengah meringis.

Ini sebenarnya salahku yang meneliti terlalu jauh padahal sudah diperingatkan sebelumnya. Nasi sudah menjadi bubur, yang kuperlukan adalah tenaga medis secepat mungkin atau kakiku benar-benar harus diamputasi.

Cheonsa mengangguk dan langsung berlari meninggalkanku. Seharusnya kami mengerjakan tugas ini bertiga, aku tak tahu ke mana perginya Jongin sejak setengah jam yang lalu. Ia hanya bilang jika harus melakukan sesuatu dan kembali ke camp sendirian, meninggalkan aku dan Cheonsa di sini.

Ah itu dia, dari kejauhan kulihat Jongin berlari ke arahku. Tak lama, terdengar suara langkah kaki lain. Terlihat Dosen Han dan dua orang teman sekelasku yang membawa bidai dan pembalut luka seadanya.

“Tenanglah dan jangan buat kakimu tegang atau darahnya akan semakin banyak keluar.”

Aku sudah tak mendengarkan suara apa pun lagi saat kurasakan sentuhan jarum di tanganku. Obat penenang, sepertinya. Hanya pusing setelahnya, lalu aku tak sadarkan diri. Hanya bisa berharap semoga semuanya akan menjadi baik-baik saja.

0o0

I’ve never felt this before. Just hiding out from the reality that I don’t wanna believe.

I leave for a while.”

Cheonsa berlari kecil meninggalkanku yang masih berkutat dengan laptop di salah satu sudut perpustakaan. Tugas seperti tak ada habisnya menggerogoti tubuhku, harus diselesaikan atau kami tak akan bisa mengikuti ujian lebih cepat. Lagipula, ke mana Jongin? Aku tak melihatnya sedari tadi.

Kulihat jam tangan sekilas, sudah pukul enam sore dan tak ada tanda-tanda Jongin akan datang. Ia seharusnya datang sejak satu jam yang lalu karena aku tahu ia ada latihan basket juga hari ini. Akhirnya aku dan Cheonsa yang mengalah dan mengerjakan tugas ini lebih dahulu jadi Jongin hanya perlu mengerjakan finishing-nya saja. Namun nihil, malah kini aku sendirian di sini.

Kembali kupakai kacamataku dan melihat layar laptop di hadapan. Aku masih membutuhkan banyak bahan lagi untuk kasus ini. Tadi Cheonsa sepertinya mengatakan satu judul buku beserta penerbitnya. Ah, ayolah otak jangan lupakan hal penting itu saat ini. Aku tak mungkin menunggu Cheonsa kembali karena sepertinya ia akan sangat lama. Dasar perempuan.

Kubangkit dari kursi dan menyusuri rak buku-buku Sastra lama terbitan tahun 80-an. Aku sudah mulai sedikit mengingat apa yang Cheonsa katakan tadi. Setelah menyusuri rak ini cukup lama, kurasa aku menemukan bukunya. Hanya tinggal satu-satunya dan sedikit jadul menurutku. Kuambil perlahan buku itu―

Sret!

 

“Akh!”

“Sehun!”

Aku tak tahu apa-apa lagi, hanya rasa perih di leher kananku dan rasanya tenggorokanku kering sekali. Kurasakan seseorang mengguncang bahuku. Dari suara panggilannya, aku tahu jika ini adalah Jongin.

“Sehun? Bagaimana bisa seperti ini? Siapa juga psikopat yang menyiapkan pisau beracun terbang di belakang buku?!”

Kurasa Jongin sedang meracau atau apa, tapi aku menangkap beberapa poin dari omongannya. Leherku tergores pisau yang katanya beracun itu, pantas saja leherku perih, sangat perih.

God, Sehun!”

Kini suara Cheonsa yang memenuhi pendengaranku. Kurasa ia menjerit histeris dan menyuruh Jongin untuk segera membawaku keluar dari perpustakaan. Benar saja, Jongin menggendongku. Bayangkan saja bagaimana Jongin menggendongku. Pandanganku buram, aku berharap jika racun itu bukan jenis racun yang bisa membuat orang lain buta atau sakit parah lainnya.

“Bawa Sehun langsung ke rumah sakit!” Kurasa kali ini adalah teriakan Dosen Kwon, ia memang selalu berjaga di jam malam kalau-kalau ada kejadian seperti ini.

Sepertinya sekarang tubuhku terbaring di mobil milik Jongin―aku hafal pewangi mobilnya. Kepalaku masih diusap dengan lembut oleh Cheonsa dan samar kudengar ia membisikkan beberapa kalimat yang tak kutangkap penuh maknanya. Mungkin ia khawatir denganku. Dua insiden parah dalam satu bulan terakhir ini. God, bahkan sakit di kakiku masih belum sepenuhnya pulih. Terkadang masih sangat nyeri saat malam. Aku juga terpaksa membatalkan keikutsertaan dalam event dance kemarin.

Sekali lagi, aku hanya bisa terus berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.

0o0

Until that day, I believe a fact that makes my heart pounding abnormally. It’s you.

Terhitung dua minggu sejak insiden pisau itu dan untungnya racun itu tak sampai pada titik syaraf mataku. Namun tetap saja, mataku jadi lebih sering lelah jika digunakan untuk melihat jauh atau terlalu lama menatap sesuatu dengan jarak terlalu dekat. Singkatnya, mataku jadi lebih sensitif dari sebelumnya, dan itu sangat amat mengganggu.

Oppa…”

Suara itu dengan cepat memasuki pendengaranku. Hanya Cheonsa yang memiliki suara semanis itu seingatku, dan memang benar. Ia menghampiriku yang masih duduk diam di sofa ruang tengah. Aku tinggal terpisah dengan orangtuaku karena malas jika harus selalu ikut berpindah tempat dikarenakan dinas membosankan mereka. Cheonsa memang tahu kode pengaman apartemenku, sehingga aku tak kaget melihatnya yang tiba-tiba datang kemari.

Nun-eui eottae? Apeuni?” tanyanya sembari memegang mata kananku dengan hati-hati. Aksen lucunya itu membuatku hanya bisa tersenyum.

It’s okay.”

Ia ikut mengangguk mendengar jawaban pelanku. Sebenarnya terasa agak perih jika boleh jujur, tapi melihat wajahnya yang selalu khawatir karena insiden tanpa henti yang kualami membuatku malah balik mengkhawatirkannya. Ia terlalu lembut hatinya untuk selalu mengalami kekhawatiran seperti ini, apalagi hanya karena diriku yang ceroboh.

Want some coffee or anything else?”

Ia sudah akan berdiri jika saja aku tak menarik tangannya dan membuatnya kembali duduk, yang kini duduk di pangkuanku. Tugas kuliah tanpa henti membuatku stres, I think I need refreshing for a while.

I want you,” bisikku tepat di telinganya, menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga dengan perlahan.

Really?” balasnya dengan senyum menggoda, dan aku seketika melupakan segalanya saat Cheonsa menciumku, memberikan sensasi menyenangkan yang tak dapat diungkapkan bagaimana rasanya.

Pertama kali bertemu denganku ialah ketika Cheonsa kebingungan mencari kelasnya. Kami sama-sama mahasiswa baru kala itu. Ternyata berada di jurusan yang sama dan hampir semua kelas kami pun jadwalnya sama, bermula dari situ aku mengenalnya. Gadis manis yang tingkat kepolosannya melebihi batas kewajaran.

Kurasa aku merasa sedikit berdosa membuat Cheonsa menjadi seperti sekarang ini; sedikit liar di saat-saat tertentu.

Ciumannya memabukkan, bahkan kini ia tengah melepas kancing kemejaku satu per satu. Dasar gadis nakal, kakiku masih terlalu sakit untuk melakukan hal lebih. Hanya bisa menikmati apa yang ia lakukan dan pasrah, ia mendorong tubuhku sampai membentur pinggir sofa dengan cukup keras.

“Akh!”

Yang sayangnya tak pernah kuketahui, ada sesuatu yang sangat tajam tersembunyi di baliknya, menunggu cukup lama sampai darahku mengalir di atasnya.

“Oh, mian Oppa. Apakah terasa sakit?”

Bruk!

“Akh… Cheon―”

“Ssstt, stop talking and just feel the pain quietly, Oppa.”

Senyumnya tak lagi secantik Cheonsa yang kukenal. Kurasa ia iblis dalam kehidupan nyata, menungguku lengah sampai kini saatnya bagiku untuk meregang nyawa. Perih, punggungku terasa terbakar di satu titik menyakitkan. Kurasa ini termasuk salah satu dari pisau beracun seperti―

Jebakan hewan yang kuinjak juga terasa perih seperti ini. Pisau di perpustakaan itu juga disinyalir dilapisi racun serupa yang hampir membuatku buta permanen. Dan kini?

Kurasa Cheonsa adalah dalang di balik semuanya.

“Cheon… why?” Rasa sakit ini menjalar lebih cepat dari yang bisa kubayangkan. Kematian mendekatiku secepat cahaya yang pudar.

Cheonsa tertawa kecil, tawa seorang psikopat. “Nothing, hanya saja melihat Oppa kesakitan seperti itu membuatku merasakan suatu kesenangan tersendiri.”

Ia memainkan jemarinya di wajahku, matanya berubah tajam dengan sangat cepat. Ia bukan lagi Cheonsa yang kukenal dulu.

“Kau yang merusakku. Kau mengambil segalanya. Aku hanya melakukan hal-hal kecil yang menyenangkan. Was I wrong?”

“Akh!”

Tubuhku terdorong semakin dalam hingga pisau di belakangku rasanya sudah masuk sepenuhnya dalam tubuhku. Aku sekarat, dan tak ada kata apa pun lagi yang bisa menggambarkan betapa rasa sakit ini menggerogotiku di tiap sisi. Mengapa hatiku terasa sangat sakit mendengar ucapan menyedihkannya?

Aku merusaknya? Bukankah ia juga menikmatinya?

Good night, Oppa.”

It’s not a nightmare, and I think this demise could be the best way for me to end this pain fastly. I’m tired, and I realize even a fox could have an innocent face for life.

FIN

 

 

Based ladybae’s request about ‘Different’. Not mention directly but I hope you like it and could take some lessons here. Happy reading^^

26 responses to “You Fox – Angelina Triaf

  1. Gila aku suka sama cheonsa, keren, gak di sangka, ini keren beneran, sikap malaikat yg nutupin si iblis, rasanya aneh aku ngomong gini-faktor pr blom kelar ditinggal baca ff-, tapi serius aku beneran suka!! Hahaha*tawajahat* makasih ffnya^^

  2. Lah aku kira si jongin pelakunya -,- abisnya dia datang disaat sehun sekarat mulu -.-
    Ah keren deh, gak ketebak ^^

  3. ahhh endingnya gak ketebak dan pada ngira jongin yg lakuin soalnya dia dtg di saat sehun udh kejebak kesakitan ternyata si cheonsa yg lakuin😮 semacem balas dendam masa😮

  4. Well, saya kira ada psikopat lain yang membuntuti Sehun. Taunya Cheonsa, wajar sih soalnya Cheonsa exists everywhere Sehun got cruelly tormented.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s