[FINAL] HUSBAND #9th — by noonapark

HUSBAND

¶ Title : HUSBAND | Cast : Park Chanyeol, Shin Eunsoo (OC/YOU), Kim Hayoung, Park Yoora, Kim Jongin, etc. | Genre : Drama, Marriage Life, Romance, Hurt | Ratting : 19 | Lenght :  Chaptered ¶

-noonapark@2015-

(http://noonapark.wordpress.com/)

Previous : [#Prologue] [#1st] [#2nd] [#3rd] [#4th] [#5th] [#6th] [#7th] [#8th]

.

***

.

Ruangan yang tidak cukup luas itu bercat serba putih. Aroma obat-obatan yang khas yang menggelitik indra penciuman tidak lagi Eunsoo hiraukan meskipun setengah mati sebenarnya Ia sangat membencinya. Ya, Eunsoo benci semua hal yang berbau rumah sakit. Namun kali ini, Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu karena Park Chanyeol terlanjur memenuhi isi kepala, bahkan jiwanya.

Di bagian tepi ranjang rawat, Eunsoo duduk berdampingan bersama Chanyeol. Mereka membiarkan suasana hening terus menyelimuti dan membiarkan mata merah mereka terus bertemu, saling memandang dengan sorot mata yang dalam.

Eunsoo mendapati bibir Chanyeol melengkung indah. Seperti biasa, pria itu tersenyum tulus padanya. Namun entah mengapa, kali ini Eunsoo merasa senyuman itu begitu menyakitkan dihatinya. Eunsoo pun memutuskan untuk menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Chanyeol dan beralih memperhatikan punggung telapak tangan kanan Chanyeol yang dibalut perban putih. Eunsoo meraihnya. Lalu dengan hati-hati Ia membawa tangan Chanyeol ke atas pangkuannya. Mengelusnya lembut.

“Chanyeol-ah, mengapa kau membuat tanganmu terluka seperti ini?” Tanya Eunsoo dengan nada gumaman. Masih mengarahkan fokusnya pada tangan Chanyeol, Eunsoo melanjutkan. “Seharusnya kau tidak boleh melukai dirimu sendiri. Apapun alasannya, kau tetap tidak boleh melakukannya.”

“Eunsoo-ya.”

Eunsoo kembali mendongak menatap Chanyeol, mendapati pria itu masih tersenyum padanya.

“Tadi dokter sudah selesai memeriksamu. Dokter juga sudah selesai mengobati lukaku. Apa kita boleh pulang sekarang?” Tanya Chanyeol, seolah tak peduli dengan kata-kata Eunsoo yang barusaja wanita itu lontarkan padanya. Eunsoo menatap Chanyeol dengan mata semakin memerah sementara Chanyeol kembali bersuara. “Aku ingin pulang. Aku ingin memasakkan makanan yang enak untukmu. Kau harus makan yang banyak setelah ini. Eunsoo tidak boleh sakit lagi.” Senyum Chanyeol semakin mengembang di akhir kalimat. Ia bahkan memberikan kecupan hangat dikening Eunsoo—cukup lama, membuat kelopak mata Eunsoo kemudian tertutup perlahan.

Chanyeol menarik wajahnya kembali, Eunsoo pun membuka mata perlahan. Dua detik kemudian pintu ruangan dibuka. Mereka berdua menoleh ke arah pintu dan mendapati Nyonya Shin kini berjalan mendekati mereka.

Setibanya di hadapan Eunsoo dan Chanyeol, Nyonya Shin memandangi kedua orang itu bergantian. Kemudian Ia memfokuskan irisnya pada Chanyeol dan berkata. “Chanyeol-ah.” Panggilnya dengan nada yang sarat akan amarah. “Apa kau tidak tahu bahwa tindakanmu mencelakai Jongin seperti tadi, itu sangat berbahaya? Kau seharusnya bersyukur karena Jongin hanya pingsan. Bagaimana jika Jongin sampai meninggal? Kau pasti bisa masuk penjara karena kejadian ini.”

“Ibu.” Tegur Eunsoo. Nyonya Shin kemudian menatapnya. Eunsoo barusaja akan melanjutkan bicaranya namun Chanyeol lebih dulu menyentuh tangannya.

“Eunsoo-ya.” Panggil Chanyeol. Saat Eunsoo dan Nyonya Shin kini menatapnya, Chanyeol melanjutkan. “Aku ingin pulang. Aku ingin pulang ke rumah kita. Apa kita bisa pulang sekarang, heung?”

“Ya Tuhan..” Nyonya Shin menatap Chanyeol tak percaya. Mengapa Chanyeol bisa menunjukkan wajah setenang itu setelah apa yang Ia lakukan pada Jongin? Nyonya Shin benar-benar bingung dibuatnya. “Ya! Park Chanyeol. Bagaimana kau bisa setenang ini setelah—“

“Ibu.” Eunsoo kembali menegur. Kali ini dengan nada yang lebih tegas begitupun dengan tatapan matanya. Nyonya Shin bahkan langsung terdiam menatapnya. “Sebaiknya Ibu keluar.” Kata Eunsoo. Ia menatap Ibunya semakin serius. “Tinggalkan kami berdua. Kumohon.”

Nyonya Shin hanya diam. Ia kembali melirik Chanyeol dan kali ini Chanyeol membalas tatapannya. Nyonya Shin menatap Chanyeol dengan sorot mata terkesan meneliti hingga Chanyeol merasa tidak tenang dibuatnya.

Lalu, Chanyeol memilih menatap Eunsoo, meraih telapak tangan Eunsoo, menggenggamnya erat-erat lalu kembali bersuara dengan nada pelan. “Eunsoo, ayo pulang. Aku ingin pulang bersamamu. Ke rumah kita.”

Eunsoo membalas tatapan Chanyeol seraya menunjukkan senyuman tipis. “Ya, kita akan pulang. Kau tunggu saja.”

Chanyeol mengangguk dan tersenyum. “Hm.”

Eunsoo kembali menatap Ibunya yang masih terdiam menatap Chanyeol.

Tiga detik kemudian, Nyonya Shin mendengus kasar, lalu membalas tatapan Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan kalian.” Gumam Nyonya Shin, kemudian berbalik, melangkah pergi meninggalkan Eunsoo dan Chanyeol berdua di ruangan itu.

Setelah Nyonya Shin keluar dan pintu ruangan ditutup kembali, Eunsoo menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol seraya irisnya menatap pria itu lekat-lekat. “Chanyeol-ah.”

Masih tersenyum, Chanyeol menyahut. “Hm?”

“Mengapa kau melukai Jongin? Mengapa kau memukulkan benda itu pada Jongin?” Tanya Eunsoo, membuat senyuman Chanyeol memudar dari wajahnya. Chanyeol kemudian menundukkan wajahnya, menunjukkan ekspressi wajah yang sedih hingga Eunsoo menggunakan nada lebih hati-hati saat Ia kembali bersuara. “Aku tahu kau hanya ingin melindungiku. Aku juga tahu bahwa.. kau melakukan itu karena kau tidak ingin Jongin menyakitiku. Tapi Chanyeol, kau tidak boleh menggunakan cara kasar seperti itu. Aku tidak menyukainya.”

Chanyeol kembali menatap Eunsoo. “Kau tidak menyukainya?”

Eunsoo mengangguk. “Ya, aku tidak menyukainya.” Jawab Eunsoo. Ia kemudian mendekat, mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol, meletakkan dagunya di atas pundak Chanyeol dan membawa pria itu dalam pelukan hangatnya. Eunsoo tersenyum tipis sebelum akhirnya bergumam. “Aku yakin Chanyeol-ku adalah pria baik-baik. Chanyeol-ku tidak menyukai kekerasan. Dan Chanyeol-ku tidak mungkin tega menyakiti orang lain. Karena itu.. aku menyukainya, dan aku mencintainya.”

Chanyeol hanya diam. Ia turut meletakkan dagunya di atas pundak Eunsoo. Kedua tangannya pun melingkar di pinggang Eunsoo untuk membalas pelukan yang wanita itu berikan padanya.

“Tidak apa-apa, aku akan memaafkanmu kali ini. Aku mengerti keadaanmu.” Kata Eunsoo lagi. “Tapi.. Chanyeol, kau tidak boleh mengulangi kejadian seperti ini lagi. Kau tahu? Apa yang kau lakukan itu membuatku sangat takut. Ya, aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk padamu. Saat kau melakukan perbuatan itu pada Jongin, aku juga merasa bahwa.. aku tidak mengenalmu. Aku tidak melihat Chanyeol-ku yang sesungguhnya.” Eunsoo mempererat pelukannya. “Chanyeol-ah, kau harus ingat, kau tidak boleh menyakiti orang lain apapun alasannya. Karena itu salah, dan aku tidak menyukainya. Kau tenang saja, mulai sekarang aku akan menjaga diri dengan baik, jadi kau tidak perlu khawatir lagi padaku.”

Chanyeol juga mempererat pelukannya. “Maafkan aku.” Ujarnya dengan nada pelan, dengan nada penuh penyesalan. “Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, karena itu salah, dan Eunsoo tidak menyukainya. Aku berjanji aku tidak akan membuatmu takut lagi. Maafkan aku, Eunsoo-ya. Maafkan aku..”

Eunsoo tersenyum lega. “Hm, tidak apa-apa.” Ia kemudian melepas pelukannya, menangkup wajah Chanyeol dengan kedua tangan lalu memberikan kecupan hangat di bibir pria itu. Setelah menarik wajahnya kembali, Eunsoo mengelus pipi Chanyeol sembari berkata. “Chanyeol-ah, tunggu di sini sebentar. Aku ingin bertemu dengan Ibuku diluar.”

Ketika Eunsoo menarik tangannya dari wajah Chanyeol, pria itu segera menahannya. “Jangan pergi.” Ujar Chanyeol dengan raut wajah yang cemas. “Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu. Jangan pergi, Eunsoo.”

Eunsoo berusaha menunjukkan senyuman meyakinkan pada Chanyeol. “Hanya sebentar. Aku berjanji akan segera kembali, dan setelah itu kita pulang. Aku juga tidak ingin berpisah lagi denganmu. Jadi kau tunggu saja, hm?”

Chanyeol akhirnya hanya diam saat Eunsoo menarik tangan dari genggamannya. Eunsoo kemudian turun dari ranjang rawat, menatap Chanyeol sekali lagi sebelum akhirnya melangkah pergi dari ruangan itu. Menyisakan Chanyeol yang hanya bisa memandang kepergiannya dalam diam.

.

.

Eunsoo menemui Ibunya yang tengah duduk di kursi tunggu tak jauh dari kamar rawat yang Ia dan Chanyeol tempati. Setibanya di sana Eunsoo duduk di samping Ibunya seraya mengarahkan pandangannya lurus ke depan.

“Eunsoo.” Panggil Nyonya Shin seraya menghadapkan tubuhnya ke arah Eunsoo. Ekspressi wajahnya nampak cemas. “Apa kau yakin Chanyeol baik-baik saja? Aku merasa dia seperti..” Nyonya Shin menundukkan pandangan, menunjukkan sorot mata terkesan meneliti seraya memori otaknya kembali mengingat tingkah laku Chanyeol yang terlihat oleh matanya di ruangan tadi. “Psikopat?”

Eunsoo langsung menatap Nyonya Shin. Nyonya Shin pun kembali menatap Eunsoo dan melanjutkan. “Ya, apa sebenarnya Chanyeol adalah seorang psikopat? Bagaimana bisa dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi setelah dia melukai Jongin seperti itu, huh?”

“Ibu.” Eunsoo menatap Ibunya dengan tatapan seperti biasanya—dingin. “Chanyeol bukan seseorang yang seperti itu. Jadi jangan bicara macam-macam tentang dirinya.” Eunsoo kembali menatap lurus ke depan, pandangannya menunduk. Sebenarnya, Eunsoo pun masih sulit menerima perubahan sikap Chanyeol seperti yang tengah dibicarakan Ibunya. Pertama, Chanyeol sudah berani melukai dirinya sendiri, Chanyeol juga mengatakan pada Eunsoo bahwa Ia berlari dari rumah menuju apartemen. Dan kejadian saat Chanyeol memukulkan vas bunga itu ke kepala Jongin, membuat Eunsoo kini berpikir, apa seperti ini Park Chanyeol yang sesungguhnya?

Entahlah, Eunsoo bingung.

“Tapi Eunsoo.” Nyonya Shin semakin mendekat ke arah Eunsoo. “Kau lihat sendiri, sampai sekarang Chanyeol bahkan bersikap tidak peduli pada keadaan Jongin. Apa dia tidak takut terjadi apa-apa pada Jongin? Apa dia tidak takut jika Jongin sampai menuntutnya atau—“

“Ibu.” Sela Eunsoo sambil menatap Ibunya dengan serius. “Bisakah Ibu untuk tidak membahas kondisi Chanyeol saat ini? Biarkan Chanyeol menjadi urusanku. Kumohon, sebaiknya Ibu jangan ikut campur.”

Nyonya Shin hanya bisa diam.

“Lagi pula..” Eunsoo kembali menundukkan pandangan. “Jongin juga mencari masalah. Untuk apa dia datang? Dan dari mana dia mengetahui alamat apartemen kami?”

“Ah, itu..”

Eunsoo kembali menatap Ibunya, mendapati Ibunya tengah menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan.

“Ibu tidak sengaja bertemu Jongin disebuah bar kemarin malam. Dia menanyakan tempat tinggalmu, jadi..”

“Ibu yang memberitahunya?” Sahut Eunsoo marah.

“Maafkan Ibu, Eunsoo.” Mohon Nyonya Shin. “Ibu pikir.. Jongin hanya ingin berbincang-bincang denganmu. Jadi.. Ibu memberitahu tempat tinggalmu. Maaf, Ibu tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini.”

Eunsoo mendengus kasar sembari mengalihkan wajahnya ke arah lain. Mendadak merasa muak menatap Ibunya.

“Dengarkan Ibu, Eunsoo.” Kata Nyonya Shin sambil menyentuh lengan Eunsoo. Eunsoo masih enggan menatapnya namun Nyonya Shin tetap bersuara. “Ibu sudah menelfon Ayahmu di rumah dan kami sudah membahas ini. Kau tidak ingin terjadi apa-apa pada Chanyeol, bukan? Karena.. kau mencintainya?”

Kali ini, Eunsoo menatap Ibunya.

“Ya, Ibu tahu kau mencintainya. Kau yang mengatakannya sendiri pada Ibu.” Kata Nyonya Shin tersenyum tipis. “Kau tenang saja, Jongin tidak mungkin menuntut Chanyeol. Percaya pada Ibu. Meskipun Jongin menuntut sekalipun, itu tidak akan berakibat terlalu buruk bagi Chanyeol. Karena.. Ya, kau pasti tahu alasannya, kondisi Chanyeol saat ini terlalu sulit untuk disalahkan.”

Eunsoo menghembuskan napas berat seraya menundukkan pandangan. Perkataan Ibunya mengenai Chanyeol membuatnya merasa sedikit lega. Tiga detik kemudian, Eunsoo kembali menatap Ibunya dan bersuara. “Apa Ibu sudah menceritakan masalah ini pada keluarga Chanyeol?”

Nyonya Shin menggeleng. “Belum. Kenapa? Apa kau ingin Ibu memberitahu mereka? Ibu akan pergi ke rumah mereka sekarang juga jika kau yang menginginkannya.”

“Tidak perlu.” Sahut Eunsoo cepat. “Ibu dan Ayah sebaiknya merahasiakan masalah ini terlebih dahulu pada keluarga Chanyeol. Biarkan aku yang mengatakan sendiri pada mereka nanti.”

Nyonya Shin mengangguk pelan. “Ya, baiklah.”

“Lalu.. bagaimana keadaan Jongin sekarang?” Tanya Eunsoo penasaran. “Dia tidak mengalami luka serius ‘kan?”

“Kau tidak perlu cemas.” Sahut Nyonya Shin. “Dokter mengatakan bahwa Jongin mendapatkan beberapa jahitan dikepalanya. Tapi kau tenang saja, dia baik-baik saja dan sudah sadar sekarang. Ibu juga sudah menelfon keluarganya.”

Kulit kening Eunsoo berkerut samar. “Keluarga?”

Nyonya Shin mengangguk. “Hm.. sepertinya. Ponsel Jongin masih ada pada Ibu. Tadi Ibu memeriksa speed dial dan menemukan satu kontak di sana. Kupikir itu keluarganya. Atau.. pacarnya? Kim Hayoung.”

Eunsoo tertegun. “Kim Hayoung?”

“Ya, nama di kontak itu tertulis Kim Hayoung.”

.

.

.

“Kim Hayoung?”

Perawat wanita itu mengangguk menanggapi perkataan Jongin yang terbaring di ranjang rawat rumah sakit. Tubuh Jongin dibalut dengan pakaian rumah sakit dan terdapat perban putih yang melilit kepalanya.

“Ya, dia barusaja datang. Dia ingin bertemu dengan Anda.”

Jongin mendesah malas, Ia menatap lurus ke depan—ke arah langit-langit ruangan—lalu menjawab dengan nada pelan. “Biarkan dia masuk.”

“Baiklah.”

Perawat itu kemudian keluar. Tidak lama kemudian Hayoung pun masuk ke dalam ruangan. Wanita yang membalut tubuhnya dengan dress merah yang dilapisi mantel hitam nan elegan itu langsung mendekati sisi ranjang rawat, lalu menatap Jongin dengan cemas.

“Jongin-ah, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Jongin menoleh kesamping, membelakangi Hayoung. “Jangan pura-pura peduli padaku.”Jawab Jongin dengan nada dingin.

Hayoung menatapnya tak percaya. “Ya! Sampai kapan kau akan bersikap kekanakan seperti ini, huh? Akhir-akhir ini orang tuamu sering menghubungiku. Mereka menanyakan keberadaanmu. Mengapa kau tidak pulang saja ke rumahmu dan bicara baik-baik pada mereka?”

Jongin tersenyum miring. Kemudian menoleh membalas tatapan Hayoung. “Kim Hayoung, wanita bejat sepertimu jangan berlagak menasehatiku.”

Hayoung mendengus. “Aku serius.” Katanya tegas. “Aku berbicara seperti ini karena aku peduli padamu.”

“Peduli?” Sejenak, Jongin tertawa meremehkan. Kini, tatapannya pun terkesan meremehkan saat Ia kembali bersuara. “Kau masih tidak sadar juga rupanya.”

Hayoung menatap Jongin tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Maksudku?” Sahut Jongin. “Maksudku bahwa..” Seketika tatapan Jongin berubah menjadi tajam. “Apa kau masih tidak sadar bahwa aku seperti ini karena dirimu?”

Hayoung mengerjap pelan, masih bingung dengan perkataan Jongin yang baru saja pria itu lontarkan padanya.

“Ya, aku merasa kau adalah satu-satunya alasan mengapa hidupku menjadi hancur dan berantakan seperti saat ini.” Kata Jongin dengan nada penuh penekanan. Matanya mulai memerah karena amarah. “Dulu, bukankah aku selalu mengatakan bahwa aku serius saat menjalin hubungan denganmu? Ya, aku benar-benar mencintaimu. Tapi lihat, saat kita menjalin hubungan, kau masih saja bermain dengan pria-pria hidung belang itu dan menyamakanku dengan mereka. Apa kau pikir aku serendah itu?”

Hayoung tertegun.

“Aku tahu. Dibelakangku, kau sering berjalan dengan pria-pria hidung belang itu. Sudah cukup lama aku mencoba untuk bersabar tapi kau malah semakin tidak tahu diri.” Nada bicara Jongin makin sarat akan amarah. “Karena itu, aku sengaja menyuruhmu untuk datang ke apartemenku pagi itu. Dan kau melihatnya, bukan? Bagaimana? Bagaimana perasaanmu saat melihat Eunsoo bersamaku pagi itu?”

Hayoung menatap Jongin tak percaya, kedua tangannya kini mengepal erat di sisi tubuh. “Jadi kau sengaja melakukan itu?”

Jongin tersenyum miring. “Setidaknya, saat itu kau tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu masuk ke dalam kamar hotel bersama laki-laki lain. Jadi, kita impas, bukan?”

Hayoung tak mampu berkata-kata. Terkejut. Bagaimana Jongin bisa mengetahui semuanya? Hayoung mengaku, semua yang dikatakan Jongin tentang dirinya memang benar. Dulu, dia memang menganggap Jongin layaknya pria-pria lain yang bisa Ia ajak bersenang-senang sesuka hatinya. Hayoung tidak menayangka jika Jongin benar-benar serius mencintainya. Tapi sungguh, semenjak Hayoung melihat Eunsoo bersama Jongin di apartemen pagi itu, Hayoung benar-benar marah. Ia cemburu. Demi apapun Hayoung tidak pernah cemburu seperti itu sebelumnya. Sejak saat itu pula, Ia baru sadar bahwa Ia benar-benar menginginkan sosok Kim Jongin di sampingnya. Ia tidak ingin ada wanita lain yang mendekati Kim Jongin selain dirinya. Untuk alasan itulah, Ia membenci Eunsoo setengah mati.

Dan sejak saat itu, Hayoung tidak pernah bermain dengan laki-laki seperti yang Ia lakukan sebelumnya. Ia berusaha keras agar Jongin kembali padanya. Meskipun usahanya selalu gagal karena Ia malah sering melihat Jongin berjalan dengan wanita yang berbeda-beda setiap saat.

“Aku berharap setelah kejadian itu kau menyadari kesalahanmu.” Kata Jongin. “Tapi apa yang terjadi? Kau justru terus menerus menyalahkanku. Setiap kali kita bertemu kau selalu menyebutku bajingan dan menyamakanku dengan pria-pria bejat lainnya. Dan kau puas sekarang?” Jongin kembali menyunggingkan senyuman miring. “Aku mencoba untuk menjadi lelaki bejat seperti yang kau katakan, Kim Hayoung. Kau melihatnya dengan jelas, bukan? Siapa diriku yang sebenarnya. Ternyata kita tidak jauh berbeda, kurasa kita sama-sama bajingan sekarang.”

“Jadi..” Hayoung tidak tahu harus berkata bagaimana. Matanya memerah. “Kau seperti ini karena..”

Mungkin dugaan Hayoung benar, Jongin melampiaskan amarahnya dengan cara-cara seperti yang Jongin lakukan selama ini memang karena dirinya. Dan yang membuat dada Hayoung sesak adalah selama ini Ia sama sekali tidak menyadarinya.

Jongin kembali mengalihkan wajahnya ke arah lain—membelakangi Hayoung. “Sebaiknya pergi.” Ujarnya pelan namun dengan nada penuh penekanan. “Jangan coba-coba untuk muncul lagi dihadapanku. Aku membencimu.” Jongin menutup mata setelah itu, menyembunyikan matanya yang semakin memerah. Dadanya pun semakin sesak.

Sementara itu, Hayoung tetap berdiri di tempatnya. Matanya berkaca-kaca. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik kemudian, air bening yang semula menggenang di pelupuk mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. “Maafkan aku.” Ujar Hayoung pelan. Suaranya bergetar. “Maafkan aku.. Jongin-ah.”

Jongin tetap diam. Menutup mata semakin rapat tanpa menyadari setitik liquid bening barusaja jatuh dari sudut matanya, dan mengalir membasahi pelipisnya.

“Pergi, Kim Hayoung.” Gumam Jongin. “Aku membencimu.”

***

Kamar itu diselimuti cahaya temaram dari dua lampu meja yang terdapat di meja nakas di masing-masing sisi tempat tidur. Di atas tempat tidur, Chanyeol dan Eunsoo tengah duduk dengan punggung yang sama-sama bersandar pada bagian kepala tempat tidur. Selimut tebal berwarna putih juga menyelimuti kaki hingga batas perut mereka. Sementara mata mereka terus bertemu ditengah-tengah keheningan yang melingkupi ruangan itu.

Eunsoo melihat bibir Chanyeol tiba-tiba melengkung menahan senyuman. Eunsoo pun tersenyum melihatnya. “Kenapa kau tersenyum?” Tanya Eunsoo membuka percakapan.

Chanyeol menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menunduk malu. “Aku hanya.. senang, karena malam ini aku bisa tidur bersamamu.” Chanyeol menunduk semakin dalam, tangan kanannya yang masih dibalut dengan perban pun mulai memilin-milin ujung kaos putih yang Ia kenakan saat ini.

Masih tersenyum tipis, Eunsoo menatap wajah Chanyeol lekat-lekat. “Chanyeol-ah.”

Chanyeol langsung mendongak menatap Eunsoo. “Ya?”

Eunsoo tidak menjawab. Ia justru semakin mendekat, kedua tangannya menangkup pipi Chanyeol lalu mengelusnya dengan lembut. Saat Chanyeol menatapnya dengan senyuman semakin mengembang, Eunsoo melepas kaca mata Chanyeol membuat senyuman Chanyeol sedikit memudar.

“Eu-Eunsoo-ya.” Gumam Chanyeol saat Eunsoo kini meletakkan kaca matanya di meja nakas di sisi tempat tidur.

Eunsoo kembali menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol setelah itu. “Apa kau bisa melihatku dengan jelas?” Tanya Eunsoo.

Chanyeol mengangguk pelan. “Hm. Jika kau berada di dekatku, aku bisa melihatmu denngan jelas. Tapi jika kau berada jauh dariku, aku tidak bisa melihatmu dengan jelas.”

Eunsoo tersenyum tipis. “Sayang sekali. Menurutku.. kau lebih tampan jika tidak menggunakan kaca mata.”

Senyuman Chanyeol kembali mengembang. “Benarkah? Apa kau menyukainya?”

Eunsoo tersenyum tipis dan mengangguk. “Ya, aku menyukainnya. Tapi jika tidak menggunakan kaca mata bisa mengganggu pandanganmu, mau bagaimana lagi?”

Chanyeol semakin mendesak ke arah Eunsoo. “Eunsoo-ya.” Chanyeol meraih kedua telapak tangan Eunsoo lalu membawanya ke pangkuan. “Ibu pernah mengatakan padaku bahwa mataku bisa sembuh jika dokter melakukan operasi pada mataku.”

Mata Eunsoo membulat. “Kau serius?”

Chanyeol mengangguk cepat. “Eum! Tapi aku tidak mau karena aku takut dioperasi. Tapi.. jika kau menyukainya, bagaimana jika aku melakukan operasi pada mataku? Setelah itu aku tidak akan memakai kaca mata lagi. Apa kau akan semakin menyukaiku?”

Eunsoo tersenyum kecil. “Terserah kau saja. Memakai kaca mata ataupun tidak, aku akan tetap menyukaimu.”

Senyuman Chanyeol semakin tampak bahagia. “Aku ingin menciummu.” Ucapnya. Lalu tanpa menunggu jawaban apapun dari Eunsoo, Chanyeol langsung mendaratkan bibirnya di bibir Eunsoo. Menutup mata, mencium bibir Eunsoo lamat-lamat membuat mata Eunsoo pun akhirnya tertutup perlahan. Eunsoo kemudian membalas ciuman yang Chanyeol berikan padanya.

Hingga beberapa saat kemudian, Chanyeol memisahkan bibir mereka lalu menarik wajahnya kembali.

“Sudah malam, kau ingin tidur?” Tanya Chanyeol.

Eunsoo mengangguk pelan. “Hm.”

Mereka kemudian merebahkan tubuh mereka dan menutupkan selimut hingga batas dada mereka. Saling berhadapan, Eunsoo adalah yang pertama memeluk pinggang Chanyeol hingga pria itupun akhirnya balas memeluknya. Lalu, Chanyeol kembali mendaratkan kecupan hangat di bibir Eunsoo dan tersenyum hangat setelah itu.

“Aku lelah, aku ingin tidur sekarang.”

Eunsoo mengangguk. Mengelus rambut dan pipi Chanyeol lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir pria itu. “Baiklah. Selamat malam, Chanyeol.”

Chanyeol tersenyum lembut. “Selamat malam, Eunsoo-ya.”

***

Pagi ini, ruang televisi tiba-tiba diselimuti suasana tegang setelah Eunsoo membawa Tuan Park masuk ke ruangan itu. Chanyeol yang semula duduk di sofa depan televisi langsung berdiri dan menatap Ayahnya dengan sorot mata penuh kebencian.

“Chanyeol-ah.” Panggil Tuan Park.

Chanyeol hanya diam. Perlahan, napasnya mulai memburu. Ia kemudian melirik Eunsoo yang berdiri di samping Ayahnya, lalu mendekati Eunsoo untuk kemudian menarik tangan Eunsoo dan membawa wanita itu menjauh dari Ayahnya.

“Aku tidak mau pulang!” Seru Chanyeol sambil menggenggam tangan Eunsoo erat-erat.

Eunsoo menatap sisi wajah Chanyeol lekat-lekat. “Chanyeol-ah.”

Chanyeol menoleh, membalas tatapan Eunsoo dan kembali bersuara. “Mengapa kau membawa Ayah masuk ke rumah kita? Bagaimana jika Ayah memaksaku untuk pulang? Aku tidak mau.” Chanyeol menggeleng. Ia ingin menangis. “Aku tidak mau berpisah lagi denganmu, Eunsoo. Aku tidak mau.” Kemudian Chanyeol menarik tubuh Eunsoo dan memeluknya erat-erat. “Aku tidak mau pulang ke rumah Ayah, Eunsoo. Aku tidak mau.” Ujar Chanyeol terdengar lirih.

Sembari membalas pelukan Chanyeol, Eunsoo menoleh ke arah Tuan Park yang berdiri terdiam tak jauh di samping tubuh mereka. Sebenarnya, hari ini Eunsoo sengaja bangun pagi-pagi untuk menelfon Tuan Park dan menceritakan kejadian kemarin malam.

Tuan Park tentu saja terkejut atas apa yang dilakukan Chanyeol terhadap Jongin. Namun pria paruh baya itu memilih menanggapinya dengan kepala dingin, meskipun istrinya dan Yoora malah menyalahkan Eunsoo atas insiden pemukulan itu. Maka dari itu Tuan Park tidak mengijinkan istrinya dan Yoora ikut berkunjung ke apartemen Eunsoo dan Chanyeol pagi ini. Tuan Park bisa menebak, jika Ia membawa kedua orang itu, keributan yang tidak diinginkan pasti akan terjadi.

Melihat Chanyeol yang memeluk Eunsoo semakin erat, sesekali Chanyeol meliriknya dengan ekspressi wajah yang benci bercampur takut, membuat Tuan Park merasa bahwa yang berada di hadapannya saat ini bukanlah Park Chanyeol putranya. Sosok lugu dan penurut yang selama ini Ia kenal melekat di diri Chanyeol seolah lenyap begitu saja. Di mata Tuan Park saat ini, Chanyeol seperti sosok yang tidak dikenal oleh dirinya. Sorot mata asing yang penuh dengan rasa takut dan benci itu membuat hati Tuan Park terasa hancur melihatnya. Ia baru sadar, karena keputusan bodoh yang Ia buat saat itu, ternyata mampu merubah putranya menjadi seperti ini.

Dada Tuan Park sesak, Ia mencoba mendekat sembari bersuara. “Chanyeol-ah.”

“Jangan mendekat!” Seru Chanyeol sembari membawa Eunsoo menjauh dari Ayahnya. Chanyeol tidak melepas pelukannya, Chanyeol justru memeluk Eunsoo semakin erat. “Aku tidak mau pulang, Ayah.” Mohon Chanyeol, Ia mulai menangis. “Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku ingin di sini. Aku hanya ingin hidup bersama istriku.”

“Chanyeol.” Eunsoo mencoba menenangkan Chanyeol dengan mengelus punggung pria itu. “Ayah tidak akan membawamu pulang. Percayalah padaku.”

“Tidak.” Chanyeol menggeleng. Wajahnya kini tertunduk dalam. “Aku tidak percaya. Aku tidak percaya lagi padanya.”

Eunsoo akhirnya melepas pelukannya. Kedua tangannya menangkup wajah Chanyeol sembari membersihkan sisa-sisa air mata di pipi pria itu. “Kau tidak boleh seperti ini, aku tidak menyukainya.”

Tangis Chanyeol langsung berhenti. “Kau tidak menyukainya?” Tanyanya pelan.

Eunsoo mengangguk. “Hm. Chanyeol-ku bukan pria yang seperti ini. Chanyeol-ku tidak pernah membenci orang lain apalagi Ayahnya sendiri.”

“Tapi, Eunsoo..”

“Dengarkan aku, hari ini Ayah membawa seseorang untukmu.”

Chanyeol menatap Eunsoo dengan tatapan bingung. Lalu Ia menatap Tuan Park juga dengan tatapan bingung, sementara Eunsoo mengangguk pelan pada Tuan Park seolah memberi isyarat.

“Aku akan menyuruhnya masuk.” Kata Tuan Park pada Eunsoo. Tuan Park menatap Chanyeol sekali lagi. Setelah itu Ia berbalik, lalu berjalan menuju pintu apartemen untuk menemui wanita umur empat puluh tahunan yang berdiri dibalik pintu apartemen.

“Dokter Jung, silahkan masuk.” Kata Tuan Park.

Dokter Jung; seorang psikiater sekaligus sahabat Tuan Park, tersenyum seraya mengangguk menanggapi ucapan Tuan Park. Ia kemudian melangkah masuk dan berjalan berdampingan bersama Tuan Park menuju ruang televisi. Sesampainya mereka di sana, mereka mendapati Chanyeol masih berdiri di samping Eunsoo seraya menggenggam tangan wanita itu erat-erat.

Dokter Jung menyunggingkan senyuman ramah pada Chanyeol. Lalu membungkuk sopan. “Selamat pagi.”

Eunsoo balas membungkuk. “Selamat pagi.” Jawab Eunsoo, sementara Chanyeol memilih membungkuk singkat tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Chanyeol-ah.” Eunsoo menatap Chanyeol dengan senyuman. “Dia adalah dokter Jung. Dan dokter Jung ingin berbicara padamu. Jadi aku dan Ayah akan menunggu diluar.”

Saat Eunsoo berniat menarik tangannya dari genggaman Chanyeol, pria itu menahannya.

“Tidak.” Ujar Chanyeol. “Kau tidak boleh pergi. Apalagi bersama Ayah.” Chanyeol melirik Ayahnya sejenak. Kembali menatap Eunsoo lalu melanjutkan. “Bagaimana jika Ayah membawamu pergi? Bagaimana jika kita tidak bisa bertemu lagi?”

Eunsoo tersenyum kecil. “Chanyeol. Tidak mungkin. Aku tidak akan—“

“Tetap di sini saja, eoh?” Pinta Chanyeol. “Aku mau berbicara pada orang itu jika kau bersamaku.”

Eunsoo menatap Chanyeol selama beberapa saat. Ia kemudian menoleh ke arah Tuan Park dan Tuan Park mengangguk menanggapinya.

“Tidak apa-apa.” Kata Tuan Park. “Aku akan menunggu sendiri di luar.” Sebelum pergi, Tuan Park menatap Chanyeol disertai senyuman miris. “Maafkan Ayah, Chanyeol.” Ia membatin, menunduk, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Setelah Tuan Park pergi, dokter Jung melangkah mendekati Chanyeol dan Eunsoo. Dokter Jung mengenakan setelan santai hingga Chanyeol tidak khawatir berada di dekatnya. Apa lagi ada Eunsoo di sampingnya, jadi Chanyeol hanya menurut saat Eunsoo mengajaknya duduk di sofa. Setelah itu, dokter Jung duduk di samping Eunsoo karena Chanyeol sempat menolak saat dokter Jung ingin duduk di sampingnya.

“Baiklah, saudara Chanyeol.” Kata dokter Jung. “Tidak perlu khawatir, aku berharap kita bisa saling bicara layaknya teman. Bagaimana, hm?”

Bukannya menjawab, Chanyeol malah melirik Eunsoo. Saat Eunsoo tersenyum dan mengangguk menanggapinya, Chanyeol kembali menatap dokter Jung. “Ya, jika Eunsoo mau.. aku juga mau.” Jawab Chanyeol, lalu bibirnya melengkung tipis.

.

.

.

Sudah lebih dari satu jam, Tuan Park terus berdiri di luar, di sisi pintu apartemen dengan punggung yang bersandar pada permukaan dinding. Ketika terdengar suara pintu yang dibuka, Tuan Park langsung berdiri tegap, lalu menghadapkan tubuhnya ke arah pintu dan mendapati dokter Jung muncul dari balik pintu.

Setelah mentup pintu, dokter Jung mendekati Tuan Park.

“Bagaimana?” Tanya Tuan Park, wajahnya nampak cemas. “Bagaimana keadaan putraku? Apa dia baik-baik saja?”

Dokter Jung tersenyum. “Ya, anakmu baik-baik saja.” Jawabnya. “Keluhanmu yang kau ceritakan padaku tentang kemungkinan terdapat kelainan dalam diri Chanyeol, aku benar-benar tidak menemukannya. Chanyeol baik-baik saja, baik jiwa maupun raganya.”

“Tapi.. Mengapa Chanyeol bisa berontak, dan melukai orang lain hingga seperti itu?” Tanya Tuan Park tak mengerti.

“Kurasa hal itu wajar-wajar saja jika dilakukan oleh lelaki dewasa yang normal.” Jawab dokter Jung. “Chanyeol melakukan hal itu hanya untuk melindungi istrinya, tidak lebih. Selama ini Chanyeol lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Jadi dia kurang dalam hal bersosialisasi dengan orang lain. Hal itu yang membuat pandangannya mengenai watak orang lain menjadi sempit. Yang Chanyeol tahu, selama ini hanya keluarganya-lah yang selalu bersikap baik padanya.”

Tuan Park menatap dokter Jung dalam diam, mencoba mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir wanita itu.

“Maka dari itu, saat kau dan keluargamu memperlakukan Chanyeol secara tidak adil menurutnya, Chanyeol menunjukkan amarahnya. Chanyeol pasti sangat kecewa dengan sikap kalian yang terkesan jahat padanya. Bukankah kalian tidak pernah menentang Chanyeol sebelumnya? Jadi wajar jika Chanyeol berontak. Chanyeol merasa harus melawan karena untuk pertama kalinya, dia merasa kalian telah merusak kebahagiaannya. Dan menghancurkan isi kamar dan melukai dirinya sendiri saat itu adalah satu-satunya cara yang bisa Chanyeol lakukan untuk berontak.”

Tuan Park tertegun.

“Mungkin.. ini juga menjadi yang pertama kali bagi Chanyeol.” Kata dokter Jung, senyumnya semakin mengembang setelah itu. “Jatuh cinta. Ya, aku yakin Eunsoo adalah wanita pertama yang berhasil membuat Chanyeol merasakan jatuh cinta. Aku bisa melihat itu di matanya. Bagaimana Chanyeol memandang istrinya, bagaimana Chanyeol berbicara pada istrinya, dan bagaimana Chanyeol selalu bersikap manis pada istrinya. Aku bisa melihat kebahagiaan terpancar jelas di matanya.”

“Chanyeol.. seperti itu?” Tanya Tuan Park setengah tak percaya.

Dokter Jung mengangguk pelan. “Benar, itulah yang kulihat. Kehidupan Chanyeol sebelum menikah, saat dia terus menerus berada di dalam rumah selama ini mungkin terasa biasa saja baginya. Tetapi menjalani kehidupan baru di dalam rumah tangga bersama seorang wanita yang dijodohkan dengannya, dan Chanyeol jatuh cinta pada wanita itu, mungkin menjadi satu hal yang sangat menarik bagi Chanyeol. Chanyeol menikmatinya. Chanyeol sangat menikmati kehidupan yang Ia jalani bersama istrinya. Bahkan sepanjang percakapan kami tadi, Chanyeol terus membicarakan istrinya. Chanyeol bahkan sudah berani merancang masa depan yang indah bersama istrinya. Menurutku itu sangat normal.” Dokter Jung mengangguk-angguk pelan. “Aku yakin, nantinya Chanyeol bisa belajar banyak hal dari istrinya untuk menjadi pria dewasa yang sesungguhnya. Sepertinya… yang membuat Chanyeol berpikir lamban selama ini adalah faktor lingkungannya. Ternyata Chanyeol hanya butuh satu hal. Chanyeol hanya butuh seseorang yang mengerti sekaligus bisa mengajarinya. Ya, kurasa Eunsoo adalah jawaban yang tepat untuknya.”

Tuan Park menatap dokter Jung lekat-lekat. “Jadi.. sekarang bagaimana menurutmu?”

“Menurutku?” Sahut dokter Jung. “Menurutku Chanyeol tidak perlu pengobatan atau perawatan apapun. Dokter yang tepat untuk Chanyeol saat ini adalah Eunsoo, istrinya sendiri. Untuk saat ini, memang Chanyeol masih belum bisa mengontrol emosinya akibat kejadian beberapa hari yang lalu, saat kau memisahkan mereka secara paksa. Itu wajar, karena ini merupakan pertama kalinya dia mendapatkan masalah yang cukup berat. Tapi kau tenang saja, karena Chanyeol sudah merasakan tekanan hidup yang sesungguhnya, aku yakin dia akan terbiasa dan menjadi lebih kuat jika mengalami masalah kedepannya nanti.”

Tuan Park mengangguk pelan. “Ya, mungkin kau benar.”

“Kenapa kau terlihat masih ragu?”

“Ya?” Sahut Tuan Park.

Dokter Jung tersenyum kecil. “Kuncinya hanya satu, jika kau ingin Chanyeol menjalani kehidupan yang lebih baik, kau harus percaya padanya. Pada mereka, Chanyeol dan istrinya. Dengan begitu Chanyeol akan merasa bahwa dia harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan membuktikan pada keluargannya bahwa dia bisa. Bahwa dia mampu hidup seperti orang-orang diluar sana. Chanyeol hanya butuh dukungan dan kepercayaan dari kalian, bukannya tekanan dan paksaan. Biarkan Chanyeol menjalani kehidupannya sendiri bersama istrinya. Aku yakin Chanyeol lebih tahu apa yang harus dia lakukan agar dia dan istrinya bisa hidup bahagia.”

Tuan Park tersenyum tipis. Menghembuskan napas lega lalu mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan mengikuti kata-katamu. Aku juga akan memberikan pengertian pada istriku dan Yoora nanti.”

Dokter Jung mengangguk. “Ya, itu harus.” Jawabnya. Kemudian melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, kembali menatap Tuan Park dan melanjutkan. “Oya, aku harus segera pergi sekarang.”

Tuan Park tersenyum dan mengangguk. “Ya, silahkan. Terima kasih sudah membantuku.”

Dokter Jung mengangguk sekali lagi. “Tidak masalah.” Setelah itu Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan Tuan Park yang memandangi jejaknya dengan senyuman tipis yang masih terukir di bibir.

Setelah sosok dokter Jung tidak tampak lagi dalam jangkauannya, Tuan Park mendesah panjang. Ia kemudian memandangi pintu apartemen Chanyeol lekat-lekat sembari bergumam pelan. “Baiklah Chanyeol, Ayah akan mencoba untuk percaya padamu. Ya, Ayah percaya kau bisa bahagia dengan jalanmu sendiri.”

Senyuman Tuan Park mengembang. Setelah terdiam cukup lama, Ia berbalik, berniat pergi namun suara pintu yang dibuka membuatnya mengurungkan niat untuk pergi. Tuan Park pun kembali menoleh ke arah pintu dan mendapati Chanyeol dan Eunsoo muncul dari sana, mereka berdiri berdampingan dengan tangan yang saling bergandengan.

“Chanyeol?” Panggil Tuan Park.

Chanyeol diam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “Ayah.”

Tuan Park kemudian hanya menatap Chanyeol dalam diam.

Sementara itu, Chanyeol memutuskan untuk membuka suara. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa.. Eunsoo bukan wanita jahat, Ayah. Eunsoo wanita baik-baik dan aku mencintainya.”

Bibir Eunsoo melengkung tipis, bola matanya kini menatap sisi wajah Chanyeol lekat-lekat.

“Dokter Jung bilang, semua manusia pasti memiliki masa lalu yang buruk, begitu juga Eunsoo. Dan aku.. tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Aku ingin hidup bersama Eunsoo karena.. aku ingin memiliki masa depan yang indah bersamanya, bukan mengulang masa lalu yang buruk yang pernah terjadi dahulu. Aku ingin menjadi suami yang baik untuknya, untuk Eunsoo.” Chanyeol menoleh, membalas tatapan Eunsoo lalu tersenyum lembut. “Aku hanya ingin.. Eunsoo-ku hidup bahagia.”

Senyum Eunsoo semakin mengembang begitupun dengan Tuan Park.

“Ya, Ayah mengerti.” Kata Tuan Park. Saat Chanyeol dan Eunsoo menatapnya, Tuan Park melanjutkan. “Maaf, karena diriku kalian harus melewati masa-masa yang sulit. Semua ini salahku. Aku minta maaf.”

“Semua orang pernah melakukan kesalahan.” Ujar Chanyeol, kemudian mendekat ke arah Tuan Park dan memeluknya. “Begitu juga dengan Ayah. Aku.. juga minta maaf, Ayah.”

Tuan Park membalas pelukan Chanyeol seraya satu tangannya mengelus punggung Chanyeol, lalu menepuknya pelan. “Ya, Chanyeol.” Gumam Tuan Park, lalu menatap Eunsoo yang kini tersenyum menatapnya. “Berjanjilah pada Ayah bahwa kau akan menjadi suami yang baik untuk istrimu. Jangan pernah menyakiti hatinya. Karena pria sejati tidak akan pernah melukai hati wanita yang dicintainya. Kau mengerti?”

Chanyeol mengangguk. “Eum! Aku mengerti, Ayah.”

Tuan Park membuang napas lega. “Ayah bangga padamu, Chanyeol. Ayah bangga memiliki putra sepertimu.”

Senyuman Chanyeol semakin mengembang, Ia mempererat pelukannya sementara Eunsoo memandangi punggungnya dengan tatapan bangga.

“Terima kasih, Chanyeol.” Eunsoo membatin. “Terima kasih karena kau telah mencintaiku..”

***

Tuan Shin tengah duduk di sofa ruang televisi sambil membaca koran ketika Nyonya Shin berjalan menghampirinya.

“Kau sudah menelfon Eunsoo?” Tanya Tuan Shin setelah sang istri duduk di sampingnya.

Nyonya Shin menatap lurus ke depan—ke arah televisi yang sedang dalam keadaan mati—dengan sorot mata yang terkesan menerawang. “Belum. Aku belum menelfonnya.” Sahutnya pelan.

Masih sibuk membaca koran, Tuan Shin bertanya. “Kenapa?”

Nyonya Shin menghembuskan napas yang terdengar berat sebelum akhirnya menjawab. “Entahlah.. aku merasa.. apa tidak aneh jika tiba-tiba aku bertanya tentang keadaannya?”

Tuan Shin lansung menoleh menatap istrinya. Ia pun melipat koran ditangannya lalu meletakkannya di meja. “Maksudmu?” Tanyanya kemudian. Ketika Nyonya Shin menoleh menatapnya, Tuan Shin baru sadar jika mata istrinya tengah basah, memerah, wanita itu seperti barusaja selesai menangis.

“Maksudku.. karena aku memang tidak pernah mengkhawatirkan keadaannya selama ini.” Kata Nyonya Shin, pandangannya kemudian menunduk. “Apa kau tahu? Melihat Eunsoo menangis untuk orang lain saat itu, aku merasa hatiku sangat sakit rasanya. Aku Ibunya. Tapi selama ini Eunsoo tidak pernah menangis seperti itu untukku. Dia bahkan tidak pernah mengatakan bahwa dia menyayangiku.” Nyonya Shin tersenyum hambar, bersamaan itu pula air bening yang semula menggenang dipelupuk mata kembali jatuh membasahi pipinya. “Ya, aku sadar, jika selama ini kita tidak pernah melakukannya dengan baik. Sebagai orang tua kita tidak pernah memberikan apa yang seharusnya kita berikan untuk anak kita. Selama ini.. kita hanya bisa memanfaatkannya. Kurasa karena itu. Kurasa karena itulah Eunsoo memilih untuk lebih peduli pada orang lain daripada orang tuanya sendiri. Aku benar-benar malu.” Nyonya Shin menunduk semakin dalam. “Sebagai Ibu aku benar-benar tidak berguna. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Tuan Shin menatap istrinya lekat-lekat. Saat isakan sang istri kini mulai terdengar, Ia mendekat, lalu kedua tangannya merengkuh tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukan hangat.

“Tenang. Tenanglah.” Gumam Tuan Shin, mendadak dadanya sesak saat Ia mencoba mencerna deretan kata yang dilontarkan oleh istrinya barusan.

“Aku merindukannya, suamiku.” Kata Nyonya Shin sambil terisak. Ia membalas pelukan suaminya. “Aku ingin memeluk anakku. Tapi apa yang harus kulakukan? Sudah jelas dia sangat membenciku. Aku tidak berguna. Aku tidak pantas disebut Ibu olehnya.”

Tuan Shin mempererat pelukannya. “Sudahlah, tenangkan dirimu. Jangan menangis seperti ini.” Tuan Shin mencoba menenangkan meskipun matanya sendiri mulai memerah saat ini. “Kita akan mengunjunginya nanti, dan bicara baik-baik padanya, huh?”

Tangis Nyonya Park perlahan mereda. Tuan Shin kemudian menepuk-nepuk pelan pundaknya.

“Kau benar.” Gumam Tuan Shin sembari menatap lurus ke depan. “Sepertinya kita telah gagal menjadi orang tua. Aku merasa begitu buruk sekarang. Sepertinya aku juga tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuknya. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri.”

Nyonya Shin tidak menanggapi, namun Ia memeluk suaminya semakin erat begitupun sebaliknya. Mereka terdiam setelah itu, larut dalam penyesalan masing-masing seraya mengingat apa-apa saja yang telah mereka lakukan pada Eunsoo selama ini. Mereka sadar mereka terlampau jahat. Licik. Hingga sekedar mengingatnya pun membuat dada mereka semakin sesak rasanya.

***

Yoora tengah menikmati sarapan paginya di dapur ketika terdengar bel pintu rumahnya berbunyi. Setelah meneguk air putih dari dalam gelas, Yoora bergegas bangkit, berjalan mendekati pintu utama lalu membuka pintu itu lebar-lebar.

Yoora mengurungkan niat untuk menyapa saat mengetahui sosok tinggi yang berdiri di hadapannya saat ini; suaminya, Shim Changmin yang tengah menyunggingkan senyuman tipis padanya.

“Yoora-ya.” Panggil Changmin, dengan nada pelan yang terdengar lirih.

Yoora hanya diam. Dalam sekejap matanya mulai terasa memanas. Dadanya pun terasa sesak. Perasaan rindu bercampur amarah yang Ia tahan selama beberapa bulan ini seolah siap meledak detik ini juga.

“Yoora.” Changmin mendekat ke arah Yoora. Perlahan, kedua tangannya menarik tubuh wanita itu lalu membawanya dalam dekapan yang erat. “Maafkan aku.” Gumam Changmin. “Aku ditipu. Perusahaan yang menjadi saingan kami sengaja mengirim seorang wanita untuk menggodaku. Dan maaf sekali lagi, karena aku sempat kehilangan kendali.”

Yoora menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya yang masih terjuntai di sisi tubuh pun mengepal erat.

“Aku tidak bisa menyelesaikan proyek yang dipercayakan oleh perusahaan kepadaku. Kami mengalami kerugian besar, dan aku dipecat.” Adu Changmin.

Sekuat tenaga Yoora menahan agar air matanya tidak jatuh. Namun nihil, usahanya sia-sia. Air bening itu akhirnya jatuh dan meleleh membasahi kedua pipinya.

“Lepaskan aku.” Yoora berujar dengan nada pelan, namun penuh penekanan. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan Changmin namun pria itu justru memeluknya semakin erat.

“Yoora, maafkan aku.” Mohon Changmin. “Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tahu aku salah. Kau boleh menghukumku. Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, Yoora. Aku sangat mencintaimu.”

Yoora terisak. Ia masih mencoba berontak namun Changmin juga masih tetap menahan tubuhnya.

“Yoora-ya..” Panggil Changmin terdengar lirih. Lalu membenamkan wajahnya di sisi leher Yoora, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam karena Changmin sangat merindukannya. “Maafkan aku, kumohon.”

Pergerakan tubuh Yoora akhirnya terhenti. Ia terus terisak sementara Changmin memeluknya semakin erat. Yoora marah. Ia benci. Ia merasa dikhianati. Ia benar-benar tidak terima. Namun di saat bersamaan, Ia merasa bahwa Ia merindukan pria itu setengah mati. Yoora merindukan pelukan suaminya, aroma tubuh suaminya, sentuhan suaminya, dan semuanya. Sungguh, Yoora tidak bisa menampik bahwa Ia masih mencintai suaminya. Kalau bukan karena cinta itu, untuk apa Yoora masih setia menunggu selama ini? Setiap hari. Bahkan setiap waktu, Yoora berharap agar Changmin setidaknnya menelfon dan memberikan kabar padanya. Meskipun Changmin tidak pernah melakukannya, Yoora tetap menunggunya. Karena satu alasan, yaitu karena Yoora sangat mencintainya.

Perlahan, kedua tangan Yoora akhirnya bergerak, melingkar di pinggang Changmin dan membalas pelukan pria itu padanya.

Merasa Yoora membalas pelukannya, Changmin pun langsung menghadapkan wajah mereka, memberikan kecupan hangat di bibir Yoora, lalu kembali memeluk Yoora seraya bibirnya melengkung tipis.

“Aku mencintaimu, Yoora. Aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kali. Aku janji.”

Yoora tidak menjawab, Ia menutup mata lalu memeluk suaminya semakin erat.

Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di apartemen Jongin. Pria itu masih terbaring di atas tempat tidur dengan mata yang tertutup, meskipun sebenarnya Jongin tidak benar-benar tidur. Perban putih yang membalut luka bekas jahitan masih terlihat melilit di kepalanya. Kemudian suara bel pintu apartemen yang terdengar berhasil mengusik ketenangan Jongin pagi ini.

Jongin membuka kelopak matanya perlahan, menunjukkan tatapan kosong kontras dengan ekspressi wajahnya yang terlihat dingin. Suara bel apartemen yang kembali terdengar kemudian membuat Jongin mendesah pelan. Jongin memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Dengan celana trening berwarna hitam serta kaos putih polos yang membalut tubuhnya, Ia berjalan lemah menuju pintu kamar, keluar, mendekati pintu masuk apartemen lalu membukanya.

Jongin terdiam, saat mendapati Hayoung-lah yang kini berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang tidak main-main. Saat Jongin berniat membuka suara, tiba-tiba Hayoung merangkul lehernya lalu mempertemukan bibir mereka. Hayoung menutup mata, mencium Jongin dalam-dalam membuat mata Jongin kini membola.

Hayoung kemudian mendorong tubuh Jongin tanpa melepaskan pangutan bibir mereka. Memojokkan Jongin di permukaan dingin untuk kemudian memperdalam ciumannya. Melumatnya. Menyesapnya dalam-dalam membuat mata Jongin kini tertutup perlahan.

Kedua tangan Jongin yang semula terjuntai di sisi tubuh perlahan mulai bergerak, melingkar di pinggang Hayoung, meremas dress Hayoung lalu memeluk wanita itu erat-erat. Jongin membalas ciuman Hayoung. Jongin bahkan membalik posisi mereka hingga kini punggung Hayoung lah yang bersandar pada dinding. Hayoung menarik tengkuk Jongin, satu tangan yang lain meremas rambut Jongin saat pria itu memperdalam ciuman mereka, dengan kepala yang sesekali bergerak ke kanan dan ke kiri.

Lewat pangutan bibir, pelukan, membuat mereka sama-sama mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka saat ini. Mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka masih sama-sama menyimpan perasaan itu. Perasaan untuk memiliki satu sama lain. Perasaan yang selama ini berusaha mereka tutupi namun faktanya mereka tidak bisa melupakannya.

Ya, Jongin masih mencintai Hayoung. Jongin menginginkan agar wanita itu kembali padanya. Begitupun dengan Hayoung, yang masih menyimpan cintanya untuk Jongin dan menginginkan agar pria itu kembali padanya.

***

Chanyeol melepas kaca mata dari wajahnya, lalu meletakkannya di atas meja nakas di sisi tempat tidur. Ia kembali duduk menyandar pada bagian kepala tempat tidur dan tersenyum puas setelah itu.

Malam ini, Chanyeol merasa sangat bahagia. Pasalnya sore tadi Ayah dan Ibunya berkunjung menemuinya. Sesuai harapan Chanyeol, mereka akhirnya bersedia menerima Eunsoo tetap menjadi istri Chanyeol. Disaat itu pula kedua orang tua Eunsoo juga datang, dan akhirnya mereka membicarakan hal-hal menyenangkan bersama-sama. Termasuk saat Ayah Chanyeol mengusulkan agar Chanyeol bekerja di kantor beliau.

Chanyeol tentu saja menerimanya. Ia tahu, seorang suami harus bekerja demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Tapi Chanyeol membutuhkan waktu untuk mengerti dan mempelajari hal-hal yang berbau kantor seperti itu. Untuk itu, Tuan Park memberikan waktu bagi Chanyeol selama enam bulan ke depan, Tuan Park berniat mengirimkan seseorang yang khusus ke apartemen Chanyeol, seseorang yang setiap hari bisa datang untuk mengajari Chanyeol tentang hal-hal yang berbau pekerjaan kantor.

Chanyeol berharap apa yang terjadi hari ini akan menjadi awal yang baik dalam hidupnya. Dalam kehidupan rumah tangga dan seluruh orang-orang yang dikasihinya. Chanyeol juga turut senang saat mendengar berita dari Ayahnya bahwa suami Yoora sudah pulang dari Jepang. Bukankah hari ini begitu sempurna?

“Hah!” Chanyeol menghembuskan napas lega lewat mulutnya. Kedua kakinya yang terbujur tanpa ditutupi selimut itu Ia goyangkan perlahan. “Aku sangat senang hari ini, kuharap Eunsoo juga.” Gumam Chanyeol. Bicara soal Eunsoo, Chanyeol kemudian menoleh ke samping dan mendapati kasur di sampingnya masih kosong. Ternyata Eunsoo belum keluar dari kamar mandi, pikirnya. Lantas, Chanyeol melirik pintu kamar mandi lalu berseru. “Eunsoo-ya! Kenapa lama sekali?”

Di dalam kamar mandi, Eunsoo terkesiap saat mendengar suara Chanyeol dari luar sana. Detak jantungnya pun berdentum lebih cepat dari sebelumnya. Di hadapan cermin di atas washtafel, Eunsoo memandangi pantulan dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Surainya yang masih setengah basah itu Ia biarkan tergerai bebas, sementara satu tangannya kini tengah meremas handuk kimono di depan dadanya.

Eunsoo menunduk. Ketika suara Chanyeol kembali terdengar memanggil namanya, Ia menghembuskan napas yang terdengar jelas. Kemudian Ia mendongak, menatap pantulan dirinya dengan serius lalu mengangguk pelan. “Ya, aku akan melakukannya.” Gumam Eunsoo, kemudian melangkah keluar.

Chanyeol tengah merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman menurutnya, Chanyeol tersenyum puas. Detik berikutnya, terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka, hingga Chanyeol langsung melirik ke arah sana.

“Eunsoo?” Panggil Chanyeol. Senyumnya memudar perlahan, saat Ia melihat Eunsoo yang masih mengenakan handuk kimono berwarna putih itu berjalan mendekati dirinya. Ketika Eunsoo tiba di sisi ranjang di samping Chanyeol, Chanyeol pun kembali bangkit dan duduk, lalu mendongak menatap Eunsoo. “Eunsoo-ya.” Panggilnya pelan.

Eunsoo tidak menjawab. Eunsoo kemudian naik ke atas tempat tidur, berjalan diatas kedua lututnya lalu mendekati Chanyeol dan duduk di atas pangkuan pria itu.

Chanyeol mengerjap cepat saat wajah Eunsoo kini berada tepat di depan wajahnya. Ketika Eunsoo mengalungkan kedua tangan di leher Chanyeol, entah mengapa Chanyeol merasakan jantungnya mulai berpacu dengan cepat di dalam sana.

“Eu-Eunsoo..”

Eunsoo menatap Chanyeol tepat di matanya. Perlahan, Ia mendekatkan wajahnya pada Chanyeol, menutup mata, lalu mempertemukan bibir mereka dan mencium pria itu dengan lembut.

Chanyeol menutup mata, lalu membalas ciuman yang Eunsoo berikan padanya. Ditengah-tengah kegiatan mereka saling memabalas ciuman, Eunsoo menurunkan kedua tangannya ke pinggang Chanyeol, lalu menyelipkan kedua tangan itu dibalik kaos putih Chanyeol dan mengelus punggung Chanyeol dengan lembut.

Detik itu juga, mata Chanyeol terbelalak. Dengan gerakan tiba-tiba, Chanyeol melepas ciumannya lalu menatap Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. “Eu-Eunsoo..” Gumam Chanyeol pelan. Ini adalah kali pertama kulit lembut Eunsoo menyentuh tubuhnya. Entah mengapa, sentuhan Eunsoo membuat Chanyeol langsung merasakan sensasi aneh yang menegangkan di dalam dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Anehnya lagi, Chanyeol merasa hal itu sangat menyenangkan.

Ya, menyenangkan. Tapi hal ini juga terlalu asing untuknya.

“Kenapa?” Eunsoo tersenyum lembut. “Suami istri biasa melakukan hal seperti ini, kau tidak ingin melakukannya?”

Chanyeol mengerjap pelan. “Ma-maksudmu?”

Eunsoo tidak menjawab, tangannya yang masih berada di dalam kaos Chanyeol itu perlahan naik, menarik ujung kaos Chanyeol dan pria itu hanya menurut saat Eunsoo melepaskan kaos itu dari tubuhnya. Eunsoo kemudian menjatuhkan kaos itu di lantai kamar. Setelah bagian atas tubuh Chanyeol kini tidak terbalut apa-apa, Eunsoo menatap mata Chanyeol dengan tatapan yang lembut.

“Aku yakin kau bisa mengikuti nalurimu.”

“A-apa?” Chanyeol menatap Eunsoo tak mengerti. “Na-naluri? Naluri apa maksud—“ Chanyeol tidak melanjutkan ucapannya ketika bola matanya menyadari sesuatu. Chanyeol pun menundukkan pandangan, terkejut saat mendapati kedua tangan Eunsoo tengah melepas tali handuk kimono di depan perutnya. Chanyeol kembali menatap wajah Eunsoo dan mendapati wanita itu masih tersenyum padanya.

Hingga beberapa detik kemudian, handuk kimono itu akhirnya lepas dari tubuh Eunsoo. Sama seperti Chanyeol, bagian atas tubuh Eunsoo kini tidak lagi terbalut dengan sesuatu apapun. Saat Chanyeol kini menatap Eunsoo dengan mata tak berkedip, Eunsoo kembali merangkul leher Chanyeol, memberikan ciuman hangat di bibir Chanyeol membuat sesuatu yang aneh terasa membuncah di dalam diri Chanyeol.

Chanyeol menutup mata rapat-rapat. Kulit Eunsoo yang terasa lembut, halus, dan hangat yang bersentuhan dengan tubuhnya membuat jantung Chanyeol semakin tak terkendali di dalam sana. Eunsoo terus menarik tengkuk Chanyeol, meremas rambut Chanyeol sembari memperdalam ciumannya.

Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Perasaan aneh itu seolah mendorong Chanyeol untuk melakukan sesuatu.

Ya, Chanyeol melakukannya. Ia seperti tak mau kalah hingga bibirnya kini berhasil menguasai bibir Eunsoo secara penuh. Melumatnya. Menggigitnya. Lidah mereka bahkan mulai saling menyapa. Kedua tangan Chanyeol yang semula mengepal erat pun mulai berani menyentuh pinggang Eunsoo. Mengelus kulit putih wanita itu dan Chanyeol bisa merasakan bagaimana kulit tubuh wanita itu terasa begitu halus dan hangat. Sungguh, Chanyeol menyukainya.

Chanyeol menarik pinggang Eunsoo ke arahnya hingga tidak ada lagi sedikitpun jarak yang memisahkan tubuh mereka. Sembari mengelus punggung Eunsoo dengan lembut, Chanyeol merebahkan tubuhnya, membiarkan Eunsoo tetap berada di atas tubuhnya dan membiarkan pangutan bibir mereka tetap berlanjut.

Setelah beberapa saat, Eunsoo menghentikan pergerakan bibirnya, lalu menarik wajahnya dan menatap Chanyeol disertai helaan napas yang terdengar jelas. Begitupun dengan pria itu. Sejenak, mereka larut dalam keheningan, membiarkan napas mereka saling beradu dan membiarkan mata mereka bertemu ditengah-tengah cahaya redup dari lampu meja yang menerangi ruangan itu.

“Aku mencintaimu.” Ujar Eunsoo kemudian.

Chanyeol tetap menatap Eunsoo dalam diam. Chanyeol menunjukkan sorot mata serius yang tidak pernah Eunsoo lihat sebelumnya. Chanyeol pun tidak mengerti. Perasaan aneh itu terlanjur menguasai dirinya membuat Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Eunsoo barang sedetikpun. Dan perasaan aneh itulah yang membuat Chanyeol terdorong untuk kembali meraup bibir pink milik wanita itu.

Chanyeol memeluk Eunsoo erat-erat, lalu mendorong tubuh Eunsoo dan membalikkan posisi mereka hingga kini tubuh Eunsoo berada di bawah tubuhnya. Chanyeol memperdalam ciumannya. Menahan kedua tangan Eunsoo di sisi kepala membuat pergerakan wanita itu menjadi terbatas.

Puas bermain dengan bibir Eunsoo, wajah Chanyeol kini turun dan terbenam di leher jenjang Eunsoo. Kemudian bibir yang lembut serta lidah yang penasaran itu mulai menjamahi kulit leher wanita itu.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Eunsoo merasakan sensasi aneh yang sangat mendebarkan seperti yang Ia rasakan saat ini. Dadanya bergemuruh. Napasnya memburu. Tubuhnya bergerak gusar. Dan matanya tertutup rapat hingga sebuah lenguhan pun akhirnya lolos dari bibirnya.

Suara lenguhan itulah yang kemudian membuat Chanyeol semakin mendesakkan tubuhnya ke arah Eunsoo. Ia kembali menjamahi bibir Eunsoo dan mencium wanita itu lamat-lamat. Chanyeol kemudian melepaskan tangan Eunsoo hingga wanita itu langsung memeluk tubuhnya. Jari jemari Eunsoo kini tertanam di punggung Chanyeol yang bidang, sementara Chanyeol menumpukan kedua tangannya di permukaan kasur di sisi kepala wanita itu.

Pergerakan bibir Chanyeol akhirnya terhenti. Perlahan, Ia memisahkan bibir mereka. Sedikit mengangkat wajahnya lalu menatap Eunsoo lekat-lekat. “Aku mencintaimu.” Ujar Chanyeol dengan nada pelan.

Eunsoo hanya diam. Lalu satu tangan Chanyeol menangkup wajahnya dan mengelusnya dengan lembut. Pria itu kembali menutup mata sembari memberikan kecupan hangat di bibir Eunsoo. Kecupan itu berlanjut menjadi ciuman dalam dan Eunsoo juga ingin membalasnya.

Ya, tidak bisa Eunsoo pungkiri, Ia menikmatinya. Begitupun Chanyeol.

Dan malam itu… mereka melewati malam yang panjang bersama naluri yang timbul dalam diri mereka masing-masing.

Mereka menikmatinya.

Dan mereka bahagia melakukannya.

***

Berjalannya waktu tidak akan terasa jika kita melewatinya dengan perasaan yang bahagia.

Sebagian besar orang mungkin akan merasakan hal itu, termasuk Shin Eunsoo.

Ya, Eunsoo bahagia. Sudah lebih dari satu tahun ini Ia berhasil menjalani kehidupan rumah tangga bersama suami yang sangat dicintainya; Park Chanyeol. Seiring berjalannya waktu, beberapa hal kini telah berubah. Seperti… sejak Eunsoo mengatakan bahwa Chanyeol lebih tampan tanpa mengenakan kaca mata, satu bulan kemudian, Chanyeol menjalani operasi pada kornea matanya, hingga pria itu bisa melihat dengan normal tanpa ada lagi kaca mata dengan lensa minus yang bertengger di hidungnya. Dan benar, Chanyeol semakin tampan bahkan hari demi harinnya.

Sejak enam bulan yang lalu, Chanyeol juga mulai bekerja di perusahaan sang Ayah. Chanyeol sendiri yang meminta untuk menjadi karyawan biasa saja di perusahaan itu. Chanyeol sadar akan batas kemampuannya. Untuk itu Chanyeol membiarkan jabatan direktur kedua di perusahaan itu dipimpin oleh suami Yoora.

Perlahan-lahan Chanyeol bisa menjadi lelaki dewasa yang sesungguhnya, seperti apa yang Chanyeol impikan selama ini. Ya, meskipun bagi Eunsoo, terkadang Chanyeol masih seperti anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan sangat membutuhkan bimbingannya. Terkadang juga, Chanyeol menjadi sosok paling dewasa dimata Eunsoo dengan kata-kata lembut dan manis yang terlontar dari bibir pria itu. Terkadang juga, Chanyeol sangat menjengkelkan saat mulai menagih ciuman pada Eunsoo tanpa henti. Chanyeol memang seperti itu, bukan?

Tapi Eunsoo menikmatinya. Dimata Eunsoo, Park Chanyeol menjadi sosok suami yang begitu sempurna. Karena Chanyeol selalu melindunginya. Menjaganya. Memberikan yang terbaik untuknya. Memastikan keadaannya selalu baik-baik saja. Mencintainya. Dan semuanya. Chanyeol memberikan semua hal yang mampu membuat Eunsoo merasa bahwa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia ini.

Ya, Eunsoo sangat bahagia. Apalagi kehidupan kedua orang tuanya juga mulai membaik. Dengan modal uang warisan milik Eunsoo yang Eunsoo berikan pada mereka, lima bulan yang lalu, mereka memutuskan untuk membuka usaha. Yaitu mendirikan sebuah toko roti yang kini cukup terkenal di wilayah Inceon. Kini kedua orang tua Eunsoo berhasil menjalani kehidupan yan sehat. Tidak ada hutang. Berjudi. Atau meneguk minum-minuman keras.

Yoora dan suaminya juga hidup dengan tentram. Bahkan Jongin dan Hayoung pun memutuskan untuk menikah sekitar satu bulan yang lalu.

Mereka tentu saja tidak menyangka jika mereka akan memiliki akhir seperti ini—tidak. Bukan akhir. Melainkan awal.

Benar. Ini akan menjadi awal bagi kehidupan mereka yang baru. Mereka sama-sama bahagia. Dan mereka berharap Tuhan akan terus melimpahkan kebahagiaan itu untuk kehidupan mereka di masa mendatang.

Bicara soal awal kehidupan yang baru, sepertinya.. hari ini juga akan menjadi awal untuk kehidupan baru bagi Chanyeol dan Eunsoo.

Di dapur, setiap hari Minggu pagi Chanyeol selalu sibuk membuatkan makanan kesukaan istrinya; seperti yang Ia lakukan saat ini. Dengan apron bunga-bunga yang melekat ditubuhnya, Chanyeol memasak dengan sepenuh hati, dengan senyuman yang seolah tak bisa pudar dari wajahnya.

“Kuharap Eunsoo menyukainya.” Chanyeol bergumam pelan sembari mematikan kompor. Ia kemudian mengambil sendok dan mengambil sedikit dari olahan daging lalu mencicipinya. “Hm, rasanya enak.”

“Ya!”

Chanyeol terkesiap saat kedua tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Setelah meletakkan sendok itu ke dalam wajan penggorengan, Chanyeol menoleh ke belakang dan mendapati Eunsoo tersenyum lebar padanya.

“Eunsoo-ya.” Chanyeol cemberut. “Sudah kukatakan jangan membuatku terkejut lagi.”

Eunsoo seolah tak peduli. Ia malah sibuk melepas tali apron di belakang tubuh Chanyeol, kemudian meletakkan apron itu di atas meja konter dapur dan memaksa Chanyeol agar menghadap ke arahnya.

“Chanyeol-ah, aku mempunyai kabar baik untukmu.” Kata Eunsoo menahan senyuman.

Chanyeol langsung menarik pinggang Eunsoo ke arahnya. Mendaratkan kecupan singkat di bibir Eunsoo lalu bertanya. “Apa itu?”

Masih menahan senyuman, Eunsoo mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol, menarik tengkuk Chanyeol, mendekatkan mulutnya pada telinga Chanyeol lalu berbisik. “Aku hamil.”

Mata Chanyeol membola. Ia langsung menghadapkan wajahnya kembali pada Eunsoo. “A-apa?! K-kau hamil?”

Eunsoo mengangguk. “Hm. Satu bulan. Bagaimana? Kau senang?”

Chanyeol terlampau bahagia sampai Ia tidak mampu berkata-kata. Bibirnya kemudian melengkung membentuk senyuman haru bercampur bahagia, sampai akhirnya Ia menarik tubuh Eunsoo dan mendekap wanita itu erat-erat.

“Eunsoo-ya, aku mencintaimu.” Kata Chanyeol. Ia melepas pelukannya. Lalu mengangkat tubuh Eunsoo ala bridal dan membawanya menuju kamar.

Setibanya di kamar, Chanyeol merebahkan tubuh Eunsoo dengan posisi terlentang di atas tempat tidur. Kemudian Chanyeol meletakkan sisi kepalanya di permukaan perut Eunsoo yang masih rata sembari bergumam. “Apa aku bisa mendengarnya menangis?”

Eunsoo mendesis pelan. “Tidak bisa, Chanyeol. Kandunganku masih muda. Lagi pula bayi tidak akan menangis di dalam perut Ibunya.”

Chanyeol beralih mendekatkan wajahnya pada Eunsoo. “Jadi begitu ya?” Tanyanya menahan senyuman. “Tidak apa-apa. Aku akan menunggunya. Aku tidak sabar ingin menjadi Ayah.”

Eunsoo menangkup wajah Chanyeol dengan kedua tangannya, mengelus pipinya dengan lembut lalu memberikan ciuman hangat di bibir pria itu. “Kau bahagia?” Tanya Eunsoo kemudian.

Chanyeol mengangguk. Lalu memeluk Eunsoo dengan hangat dan berbisik di telinga wanita itu. “Terima kasih, Eunsoo. Aku bahagia bisa hidup bersamamu.”

Eunsoo membalas pelukan Chanyeol sembari menanggapi. “Ya, aku juga. Terima kasih, Chanyeol. Karena kau sudah menjadi suami yang hebat untukku. Aku mencintaimu.”

Chanyeol menutup mata, mempererat pelukannya lalu tersenyum lembut. “Ya, aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu, Eunsoo-ya.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*finish*

A T T E N T I O N !

Ngga bisa ngungkapin dengan kata-kata betapa leganya setelah berhasil selesaiin FF ini. Udah ngga tau lagi berapa jam yang udah kuhabiskan untuk menyelesaikan FF ini. Ah, sudahlah. Yang penting sekarang, aku lega se lega-leganya karena ‘hutangku’ terbayarkan pada kalian.

Di sini aku bakal jawab pertanyaan kalian yang hampir disetiap chapter itu ada; Kak, kapan chanyeol jadi normal?

And then, kalian lihat sendiri ternyata Chanyeol menjadi sosok seperti yang kugambarin di atas. Dia tidak benar-benar menjadi pria normal seperti yang kalian harapkan, bukan?

Menurutku, disitulah poin pentingnya dari FF ini. Makanya, aku sengaja nggak jawab pertanyaan kalian yang menyinggung soal ini dichapter-chapter sebelumnya. Aku cuma pengen nunjukin bahwa intinya, dalam hubungan suami istri itu ngga ada yang bener-bener sempurna dari masing-masing pihak. I’m not perfect and you’re not perfect, but we are perfect together.

Semoga kalian paham dan puas dengan ending ini 🙂

Terima kasih untuk siapapun yang sudah bersedia baca cerita ini hingga akhir.

Berharap bisa bertemu kalian lagi nantinya. Thanks a lot ❤

I Love You—noonapark.

Advertisements

319 responses to “[FINAL] HUSBAND #9th — by noonapark

  1. Pingback: Rekomendasi FF terbaik – elvarette·

  2. wahhhhhh baguuussss nonna uhhh sumpahhh ini ff baguuuuuuuuussss bangettt..
    ff ini banyak maknanya juga sihhh..
    ini juga banyak pelajarannya.. sukaaa bangettt
    gaada sequel kah nonna park??
    big love you 😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s