Trying to Deny – Angelina Triaf

hann

Angelina Triaf ©2015 Present

Trying to Deny

Luhan & Park Cheonsa (OC) | Hurt | G | Ficlet

0o0

Tak ada seorang pun yang pernah menebak bagaimana seorang bongkahan es berjalan bernama Luhan menjadi sosok pria idaman seperti ini. Dengan senang hati ia duduk tenang di depan laptop sembari mengawasi gadis di sampingnya yang sedang mengerjakan lembaran soal yang cukup banyak. Tak ada yang pernah tahu, apa yang merasukinya sampai bisa seperti itu.

Lain hal lagi di suatu malam musim panas. Menonton pertunjukkan musik jalanan di taman adalah satu dari banyak kegiatan menyenangkan yang ingin dilakukan oleh orang banyak, apalagi dalam kasus mahasiswa tingkat akhir yang cukup stres mengerjakan skripsinya. Luhan bukanlah salah satu orang dengan minat seperti khalayak umum lainnya. Ia akan lebih memilih tidur di rumah atau meminum kopi di balkon kamarnya dalam diam.

Satu hal mengejutkan lainnya, semua mata malam itu terfokus pada Luhan yang datang ke acara musik di universitasnya. Tak hanya itu, dalam genggamannya terlihat jemari lentik yang cantik. Itu Park Cheonsa, mahasiswi baru pindahan dari London sejak satu tahun yang lalu. Luhan tak suka keramaian, tapi?

Juga, suatu hari saat Cheonsa terkilir karena salah menapakkan kakinya ketika latihan Cheers. Kala itu di saat bersamaan Luhan sedang menghadadapi quiz dari dosen super killer yang paling terkenal di kampusnya. Mendengar kabar tidak menyenangkan seperti itu, ia mengerjakan quiz tanpa minat sama sekali.

Hanya butuh waktu lima belas menit baginya untuk mengerjakan dua puluh soal esay yang sangat rumit dan cukup menguras logika. Dengan langkah cepat, kakinya membawanya langsung menghadap pintu ruang kesehatan, yang mana terdapat beberapa pasang mata menatapnya heran. Bagaimana Luhan bisa datang sedangkan siapapun tahu jika Luhan tengah menghadapi ujian?

Tapi di luar perkiraan, Luhan adalah satu-satunya mahasiswa yang mendapatkan nilai sempurna untuk mata kuliah itu. Sebuah keajaiban dari ketulusan yang ia berikan untuk orang lain.

“Luhan?”

Lamunannya buyar mendengar suara lembut itu memanggilnya pelan. Ia menatap Cheonsa yang masih melihat ke arahnya. Pandangannya khawatir, seolah Luhan adalah seorang penyakitan yang waktu hidupnya hanya tinggal beberapa menit lagi.

“Sudah malam, ayo kita pulang.” Cheonsa menarik tangan Luhan, yang langsung ia lepaskan lagi dengan tiba-tiba. “Tubuhmu sangat panas. Pasti kau belum meminum obatmu.”

Memang benar adanya. Luhan hanyalah seorang pemuda penyakitan yang tak bisa melakukan apa pun sesuai dengan kehendaknya.

Luhan tersenyum kecil, berusaha menampik kekhawatiran Cheonsa yang tergambar jelas di wajahnya. Diusapnya rambut Cheonsa perlahan, Luhan selalu merasa segalanya akan baik-baik saja jika Cheonsa ada di sisinya.

“Nanti akan kuminum obatnya. Ayo kita pulang.”

Keluar dari area perpustakaan, mereka berdua berjalan beriringan membelah taman kampus yang cukup sepi. Senja telah turun dan hanya terdapat beberapa mahasiswa kelas malam yang masih berkeliaran. Angin musim gugur berembus cukup kencang, membuat Luhan diam-diam mengeratkan jaketnya.

“Ingat dengan tempat ini?” tanya Cheonsa memecah keheningan. Luhan yang sibuk dengan jaketnya mau tak mau langsung memberikan atensinya pada Cheonsa. Segalanya tentang Cheonsa selalu membuatnya ingin terlibat, entah apa pun itu.

“Tentu saja. Kau menamparku di depan orang banyak.”

“Dan setelahnya kau dengan seenaknya memelukku seolah aku adalah gadis manja yang tengah merajuk dengan kekasihnya.”

Cheonsa tertawa pelan, mengingat bagaimana awal mula mereka menjadi dekat seperti ini. Luhan melakukan hal yang sama, menerawang jauh di hari saat ia mendapati Cheonsa yang tengah menguntitnya. Wajar saja jika Luhan marah dan membentaknya. Namun di luar dugaan, Cheonsa langsung menamparnya dan entah apa yang merasuki Luhan sampai ia dengan beraninya memeluk Cheonsa, menenangkan gadis itu sembari berbisik maaf beberapa kali.

Gadis itu selalu mengelak jika ia dibilang menguntit Luhan waktu itu. Ia hanya kebetulan menemukan kotak obat kecil yang terjatuh dari tas Luhan. Ia bukan gadis sembarangan. Ibunya adalah dokter ahli dan ia sangat tahu obat apa yang sedang dipegangnya saat itu.

“Nyatanya kau memang kekasihku, Cheon.”

“Memangnya aku kekasihmu?”

Hening, tak ada satu pun dari mereka yang ingin membuka suara lagi. Luhan hanya berjalan dalam diam dan Cheonsa tengah sibuk memukuli bibirnya sendiri karena bercanda kelewatan.

Ini merupakan hal yang sangat sensitif bagi Luhan. Secara harfiah, Cheonsa tak pernah menjawab iya saat Luhan mengajaknya kencan. Kedekatan mereka selama ini, entah apa yang dirasakan keduanya. Luhan terlanjur mencintai Cheonsa, namun gadis itu masih bingung dengan perasaannya sendiri.

Cheonsa bukanlah gadis yang bisa dengan mudah jatuh cinta. Terhitung banyak gadis yang iri padanya karena bisa dekat dengan Luhan, namun ia tak merasakan hal apa pun. Ia bingung. Kenal dengan Luhan saja adalah sebuah ketidaksengajaan. Ia takut salah dalam membaca hatinya sendiri.

Cinta kah? Atau hanya perasaan kasihan sebagai seorang teman?

“Cheon, ayo masuk―”

“Luhan, mian.”

Luhan mengerutkan kening dengan masih memegang pintu mobil yang terbuka. Lain hal dengan Cheonsa yang berdiri dalam diam, menundukkan kepalanya seperti orang bersalah. Kenyataannya, ia memang merasa sangat bersalah.

Luhan kembali menutup pintu mobilnya, berjalan memutar untuk meraih Cheonsa dalam pelukannya. Tak pernah terbayangkan oleh gadis manis itu jika Luhan bisa menjadi setegar ini. Cheonsa agak menyesal mengapa ia bisa masuk begitu saja dalam kehidupan Luhan yang cukup rumit.

Harusnya Luhan hanya perlu fokus dengan kuliahnya dan juga penyembuhannya. Tapi sering kali Cheonsa mendapati Luhan bolos dari jam kuliah dan mengerjakan quiz asal-asalan―walaupun nilainya selalu bagus dan dosen tak pernah mempermasalahkan hal itu. Luhan juga sering kali tak mengikuti jadwal terapinya, membuat Cheonsa membujuk pemuda itu dan berakhir dengan ia yang menunggui Luhan semalaman di rumah sakit.

Jujur, Cheonsa cukup lelah dengan semua ini. Rasanya seperti ada seseorang yang menggantungkan hidupnya di tanganmu dan kau tak tahu harus berbuat apa untuknya. Luhan terlanjur percaya pada Cheonsa, menyerahkan hatinya yang mungkin tak akan pernah bisa merasakan cinta yang lain dalam hidupnya.

Luhan sudah pasrah dengan berbagai macam vonis yang dokter katakan pada kedua orangtuanya. Luhan sudah tak peduli lagi dengan usianya dan juga rasa sakit yang menyiksanya. Selama ada Cheonsa di sisinya, Luhan masih bisa tersenyum dan bernapas dengan baik.

Pemuda itu mencoba menenangkan Cheonsa. Gadis manja itu memang sering kali menangis tanpa sebab saat Luhan dengan tiba-tiba memeluknya.

“Aku selalu berpikir bahwa menanggung segalanya sendirian akan menjadi lebih baik. Tapi aku salah.”

Baru dua kalimat, namun Cheonsa sepertinya sudah melancarkan aksi drama queen andalannya. Berbanding terbalik dengan Luhan yang tenang dan tak mempedulikan apa pun kecuali Cheonsa, malaikat manis itu hanyalah gadis manja yang selalu berusaha tegar di depan semua orang. Tapi aneh, entah mengapa Cheonsa selalu menjadi lebih melankolis jika hal itu menyangkut tentang Luhan.

I can’t take this pain lonely, Cheon. Maaf telah membebanimu selama ini.”

“Luhan…”

Akhirnya Cheonsa mulai membuka suaranya. Namun urung, ia memutuskan untuk diam saja, membiarkan hanya Luhan yang bicara untuk malam ini.

I know exactly what you’d say. Aku tak pernah memaksamu untuk melakukan apa pun yang tak kau sukai. Hanya satu hal, just take your hesitation away.”

Luhan mencium kening Cheonsa, membuat tangis gadis itu semakin menjadi dan pelukannya pada Luhan mengerat. Cheonsa sudah tak tahu lagi harus berkata apa. Kebingungannya sirna, ketakutannya perlahan memudar. Hanya ada air mata yang bisa ia keluarkan malam itu, tak ingin mengatakan apa pun lagi.

“Obat seperti ini hanya diberikan pada pengidap kanker stadium tiga. Mungkin ia hanya akan bertahan tiga sampai empat tahun lagi, atau bisa saja lebih jika Tuhan berkehendak lain.”

 

Suara ibunya masih terngiang di kepalanya sampai sekarang. Beban berat benar-benar membuat Cheonsa stres dan hampir jatuh sakit tiap kali mengingat betapa Luhan sangat tersiksa dalam hidupnya.

“Sudah berapa lama kau meminum obat itu?”

 

“Berapa, ya? Sepertinya sejak tahun pertama aku di sini.”

 

Tahun keempat dan Luhan masih baik-baik saja. Luhan masih bisa tersenyun ceria di hadapan Cheonsa, namun gadis itu tidak. Ia menghitung detik jam seperti orang sekarat dan selalu berdoa seorang diri. Hidupnya tak tenang.

 

“Cheon, kita harus kembali ke London setelah kau lulus nanti.”

 

Tidak, Cheonsa tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya yang nantinya akan dipenuhi rasa bersalah karena meninggalkan Luhan seorang diri di Seoul. Cheonsa belum siap untuk menjadi penjahat yang dengan tega menghancurkan kepercayaan yang diberikan padanya. Cheonsa belum sanggup untuk menderita seumur hidup dan dipenuhi rasa bersalah.

Take it easy, Cheon. Setidaknya sampai aku pergi nanti.”

Hanya menangis, malam itu semuanya menjadi jelas. Luhan yang menemukan sebuah payung untuk berteduh dari hujan lebat. Namun sayangnya payung itu telah dimiliki oleh orang lain, dan Luhan hanya perlu menunggu waktu sampai sang pemilik asli payung itu datang padanya dan mengambil benda paling berharga itu dari tangannya.

I won’t go back to London!”

 

You have to, Cheon. Junmyeon telah mempersiapkan semuanya. Kalian menikah setelah kau lulus nanti.”

 

FIN

 

 

Based daisyorange’s request about ‘Take Me Away’ from U Kiss. Aaaaaa baru pertama kali dengerin lagunya dan langsung ambil beberapa part aja, hehe. Happy reading^^

28 responses to “Trying to Deny – Angelina Triaf

  1. Dan ternyata Cheonsa mau nikah sama Joonmyeon?? Aaaah Luhan kasian banget sumpah..
    Kayanya harus ada lanjutannya deh..
    Gimana sama keadaannya Luhan..

  2. tragis banget ceritanya😦 udah sakit parah cintanya juga gak di bales sedih jadinya😦 di tinggal juga nikah sama orang laen😦

  3. Au ah gelap -.-
    Kok keren kak?
    Ahh kasian luhan nya
    Cheonsa dijodohin ato apa sih kak?
    Stadium tiga -.- luhannnn
    Ahh keren

  4. Gua mau kayang aja bacanya. Ini kenapa feelnya dalem banget sih setan bikin mau nangis tersedu sedu tapi sayangnya ga bisa. Kenapa harus luhan yang kanker???? Kenapa ga manusia lain aja???? (apa). Ga kebayang sih kalo gua jadi cheonsa, mungkin kalo luhan modar gua ikut gantung diri. Thanks.

  5. kok udah end?? aduh sedih bacanya… luhan sakit dan cheonsa yg udah punya tunangan.. squel nya dong please author-nim ><

  6. Haaah?! Jd cheonsa uda dijodohin gt?! Pantesan cheonsa diem aja pas diajak kencan,
    Hmm, uda sakit parah trs orang yg dicintainya jg mo nikah ma orang lain, nyesek amat siih,
    Yaah, setidaknya dia sempat merasa bahagia di akhir hayatnya, *hikshiks

  7. Waaa ini requesan aq ya tengkyuuu aq terharu. Duuh dini hari dah mewek aj gegara lulu. Sedih bener
    Abis baca ini aq puterin lgsung take me awaynya u kiss makin dah. Sx lg tengkyu y say abs ni boleh request lg kn hihi

  8. huaaaaa sediiiih uda jatuh tertimpa tangga pula. uda saakit parah d tambah org yg d cntainya mau nikah sma org lain. hmmmm nyeseeeeek

  9. Anjirrrr… baper banget bacanya
    Kukira Cheonsa pacaran sama Luhan ehh ternyata enggak trus mau nikah lagi sama Suho
    Sabar ya Luhan, kalau Cheonsa sama Suho kamu sama aku aja(?)
    Keep writting ya Kak ^__^

  10. Waaaaa ini beneran baper. Berasa banget feelnya sampek ikutan nyesek sendiri aku pas baca. Kenapa hubungan mereka bisa kayak gitu sih. Sebenernya cheonsa cinta nggak sih sama luhan. Kalau cheonsa nikah sama joonmyun terus gimana nasibnya luhan. Kenapa endingnya mesti gantung begini sih. Tapi ini beneran keren banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s