Four Painful Sanity – Angelina Triaf

rain1

Angelina Triaf ©2015 Present

Four Painful Sanity

Kim Jongin/Kai (EXO) & Kim Dasom (Sistar) | Hurt | G | Ficlet

“Adakah cinta seperti ini?”

0o0

Aku hanya punya hati…

 

Bagi seorang Kim Jongin, menatap turunnya hujan di sore hari adalah hal paling menyenangkan dalam hidup. Mendengarkan senandung rintikan air yang mengenai dedaunan juga jendela. Terkadang ia menuliskan sesuatu di kaca itu, apa pun yang menurutnya indah.

Pernah sekali saat itu, hujan lebat yang bertahan sampai tiga jam. Selama itu pula ia berdiam diri, duduk menghadap jendela dengan teh panas yang lama-kelamaan mendingin karena tak tersentuh oleh jemarinya. Memikirkan sebuah nama, Jongin selalu seperti itu. Bingung, haruskah ia menuliskan sebuah nama itu?

Segala hal hanyalah tentang bagaimana ia bisa menyebut nama itu. Melalui lagu yang sering terputar di radio ataupun mendengar lantunan piano sang kakak dari lantai dasar. Terkadang Jongin hanya terdiam memikirkan segalanya, sembari hanyut dalam melodi indah yang hanya mampu ia ingat. Rindunya terlanjur melekat, sepertinya sudah tak dapat dihilangkan lagi.

Kau dengan yang lain, ku tetap setia…

 

“Jongin-ah, kurasa segalanya harus berakhir.”

 

Senja selalu turun dengan indah. Entah mengapa hujan tak kunjung bertandang seminggu ini, membuat Jongin hanya tertidur dalam diam di kamarnya, memikirkan sebuah nama yang melekat dengan sangat kuat. Tidak, bukan nama itu yang membuatnya terdiam membatu.

Kenangan. Segalanya hanyalah tentang semua kenangan manis yang terasa semu.

Layaknya embun pagi yang cantik, senyum mentari memudarkannya dengan sangat cepat hingga tak mampu lagi tertangkap oleh mata. Kecantikan yang semu, namun tidak dengan dirinya. Bukan sebuah kesemuan jika hal itu dapat bertahan cukup lama dalam kegelapan dunia. Jongin tahu itu. Ia mengetahui segalanya bahkan sebelum tirai terbuka di pagi hari.

Jongin hanya tak sadar, bahwa ia tahu terlalu cepat. Gegabah hanya membuahkan silat lidah yang lebih mengoyak hati, dan Jongin tertunduk kaku saat sadar bahwa waktu tengah mempermainkannya. Bahkan tersenyum pun percuma, Jongin seperti robot yang tidak memiliki jiwa.

Kau tinggalkan aku, ku tetap di sini…

 

“Tenang saja, aku masih tetap di sini. Dasom, jangan pergi terlalu lama―”

 

“Jongin, apa kau masih tak mengerti arti kata berpisah?”

 

Burung membisikkan sesuatu pada angin, mengabarkan bagaimana sebuah hati yang merindu tertutupi oleh sesal yang menyesakkan dada. Angin menjalin sebuah cerita pada pepohonan tentang sebuah kisah yang mungkin hanya akan menjadi sebuah omongan belaka. Manusia hanya tak tahu tentang semua itu. Mungkin tak semua manusia, karena nyatanya ia masih ada di sini, menunggu bibirnya terbuka mengucap sebuah nama.

Jingga senja berganti, kelabu malam mendekati hati yang bersandar lirih pada kewarasan yang mati. Setidaknya Jongin masih di sini, terdiam dalam sepi menunggu kerinduannya terbalas walau hanya detik yang berbicara. Tak apa, Jongin masih di sini, dan akan terus di sini.

Kamu lukai aku tak peduli…

 

“Aku menikah minggu depan, Jongin-ah.”

 

“A-ah? Selamat kalau begitu.”

 

Pintalan kain putih masih menutupi tubuhnya, menemaninya bermimpi tentang apa yang selalu ingin ia impikan. Lantunan manis kembali terdengar dari bawah. Sang kakak masih setia memainkan melodi indahnya. Tidak, nada itu bukan miliknya. Sebuah nama masih menggantungkan kepemilikannya atas kemerduan melodi yang dimainkan. Suara indah terdengar di belakangnya, agak samar namun masih bisa terdengar dengan jelas. Sang pemilik nama menyanyikan lagunya dengan sangat indah.

Jongin selalu iba dengan hatinya yang merindu. Jongin selalu rapuh jika pijakannya terjatuh dalam kepalsuan. Tidak, mungkin bukan hanya Jongin yang merasakan semua itu. Keegoisan sempat memeluknya, tak ada yang bisa menghentikan bagaimana monster terbentuk dalam dirinya yang diliputi amarah.

Tapi Jongin sadar, egonya mungkin lebih menyayat hati dibandingkan dengan rasa kecewanya. Jongin tahu, segalanya akan menjadi percuma jika ia hanya bisa melampiaskannya seperti iblis dalam dunia gelap. Tidak, Kim Jongin bukanlah orang seperti itu.

Kamu berbohong, aku pun percaya…

 

“Jadi ia berbohong? Akan lebih baik jika aku melihatnya terbalut gaun cantik dan berdiri di altar bersama orang lain daripada diam membeku dalam sebuah peti!”

 

“Jongin, tenanglah nak…”

 

“Sayang, hentikan permainan pianonya. Jongin sudah tertidur.”

Hening, sang ibu berjalan dengan ponsel dalam genggamannya. Lain hal dengan sang kakak, ia tersenyum pias melihat figura di hadapannya. Foto Jongin dan Dasom dalam senyum bahagia saat bermain di taman dua tahun yang lalu. Figura kedua memperlihatkan foto Jongin kecil yang ia gendong, matanya sipit dan senyumnya sangat lucu.

Yeoboseyo? Appa―hiks… Jongin…”

Pertahanannya runtuh, dengan sang ayah yang hanya bisa menenangkannya lewat suara dalam ponsel. Demikian dengan sang ibu yang hanya bisa mematung di tangga, melihat anak perempuannya menangis tersedu. Jangan tanyakan mengapa wanita paruh baya itu tak menangis. Ia sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata saat melihat Jongin hancur dalam depresi. Mungkin hari ini sudah waktunya Jongin untuk tidur dengan tenang, bertemu sebuah nama yang telah dirindukannya cukup lama.

“Kudengar Dasom membuat lagu ini untukmu.”

 

“Tentu saja, aku tak bisa berhenti mendengarkannya. Nuna, kau harus coba memainkannya dengan piano.”

 

“Jongin-ah… Apa kau bosan mendengarkan Nuna memainkan lagu ini untukmu?”

Tidak, Jongin hanya terlalu lelah. Hatinya terlalu lelah menunggu sebuah kepastian. Kewarasannya menolak untuk percaya dengan kenyataan. Bibirnya terlalu mati rasa hanya untuk mengucapkan nama itu dengan benar. Tidak, Jongin tak pernah tahu apa pun selain sakit di hatinya. Seharusnya ia melihat dari sisi lainnya, bahwa Dasom selalu mencintainya, selalu tersenyum untuknya dan selalu berharap yang terbaik baginya, walaupun kini Jongin telah dikalahkan oleh egonya.

Jongin memilih untuk menyerah, dan tidur panjang ini adalah keputusan terbaik yang Jongin ambil dalam akhir perjuangannya.

0o0

Di sini beristirahat dalam tenang keluarga kami, anak kami, teman kami tercinta

Kim Dasom

Mei 06 1993 – November 21 2015

Di sini beristirahat dalam tenang keluarga kami, anak kami, teman kami tercinta

Kim Jongin

Januari 14 1994 – November 21 2018

Don’t ask anything to him. He just has a heart to feel everything in this life.

FIN

Here they are:

kai1

Kim Jongin

dasom1

Kim Dasom

Penulis harus tahu kapan saatnya ia menjelaskan alur secara detil dan kapan ia boleh menulis alur di atas air, hehe. Happy reading^^

7 responses to “Four Painful Sanity – Angelina Triaf

  1. Jadi dasom ninggal duluan dan jongin depresi ditinggal dasom sampe akhirnya dia ninggal juga…😢😢 sediiih

  2. Dasom… itu meninggal trus… jongin depresi … krn di tingggal dasom yg kata ny mau nikah eh.. ternyata bukan … trus… jongin gk tahan lagi dan… end story of jongin /? …..

  3. Mereka meninggal? Dasom menginggal dan Kai bunuh diri? Feelnya dapat apalagi disaat dengar lagung Ost baru nya Yesung ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s