Complicated (Sequel A Game, huh? #8) — by BARLEEY

4b5ac2fd8e050e6abcc0017010113012

₰ Title: Complicated | Author: dobivirus (@Viorin_Ollin) | Cast: Byun Baekhyun, OC | Word: +3k | Rate: PG-17 | Blog: dobivirus.wordpress.com

 

***

Previous : [A Game, huh?] | [It’s Not Your Game] | [I’m The Loser] | [Sibling Complex?] | [Decoy?] | [Disappointed] | [Fixed] | [Your Brother]

 

Baekhyun membenturkan kepalanya beberapa kali kemeja makan. Kepalanya mendadak sakit ketika pertanyaan yang paling ia hindari sekarang bertubi-tubi datang padanya. Dan terparah, orangtuanya lah yang sedang membondong Baekhyun dengan pertanyaan-pertanyaan sialan itu.

Baekhyun tidak menyalahkan orangtuanya yang terdengar sangat terkejut, tetapi setidaknya mereka bisa bertanya satu persatu padanya. Demi apapun, Baekhyun benci diinterogasi seperti ini.

“Kenapa Baekna bisa sangat kacau, Baekhyun-ah? Apa dia sedang memikirkan sesuatu? Apa yang terjadi padanya ketika kalian liburan?”

Tak satupun pertanyaan Nyonya Byun terjawab oleh Baekhyun.

“Kau melakukan sesuatu pada adikmu? Apa maksud Baekna dengan ‘mencintai’? Dia mencintaimu? Demi tuhan, kakak macam apa dirimu Baekhyun?”

Dan tuduhan-tuduhan itu lah yang membuat Baekhyun membenturkan kepalanya ke meja makan. Tidak keras, tetapi berkali-kali. Hingga Tuan Byun menghela nafas dan menahan dahi Baekhyun agar anak sulungnya tidak melakukan hal bodoh itu lagi.

Baekhyun menatap raut wajah Tuan Byun. Ia berharap sang Ayah tidak terkejut ataupun shock dengan apa yang dikatakan Baekna beberapa jam yang lalu dikamar tidur gadis itu. “Ayah tidak apa-apa?” Baekhyun bertanya seperti orang linglung.

Tuan Byun menatap Baekhyun khawatir. “Harusnya Ayah yang bertanya, Baekhyun-ah.”

Setelah Tuan Byun melepaskan tangan dari dahinya, pria itu mengusap wajahnya frustasi. Ia menatap orangtuanya bergantian, lalu menunduk.

Tuan Byun yang melihat anaknya kacau lantas memberikan tepukan menenangkan pada bahu Baekhyun. “Kuharap apa yang aku dengar hanya kesalah pahaman.”

Baekhyun mengangkat wajahnya. Ia menghembuskan nafas, merasa bersalah. “Maaf.” gumamnya pelan.

Kedua orangtuanya hanya diam, menanti penjelasan Baekhyun atas permintaan maafnya.

“Semua yang dikatakan Baekna benar. Ia mencintaiku sebagai seorang pria, bukan sebagai kakak.” Baekhyun menatap sendu kedua orangtuanya.

Baekhyun dapat melihat raut wajah Tuan Byun yang menegang. Dalam hati Baekhyun hanya dapat berdoa, semoga saja Ayahnya tidak terkena serangan jantung mendadak.

“Sejak.. kapan?” tanya Tuan Byun yang masih berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.

Baekhyun mendesah, “Baekna mengaku padaku dua minggu sebelum liburan musim panas. Tetapi dia mengatakan jika ia sudah mencintaiku sejak kami duduk di middle school.”

Rahang wanita yang dipanggil Baekhyun dengan sebutan Ibu itu terkatup rapat, “Selama itukah?”

Baekhyun mengangguk. “Maaf aku baru memberi tahu kalian. Awalnya kurasa aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa membebani kalian. Tetapi saat ini kurasa kalian juga berhak tahu apa yang terjadi.”

Mereka terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya Nyonya Byun bersuara, “Kau juga mencintainya?” kali ini tatapan Nyonya Byun terlihat sangat terluka, matanya berkaca-kaca.

Baekhyun tersenyum pahit. “Aku mencintainya.” ucapnya, “Seperti aku mencintai kalian, aku mencintai Baekna karena dia keluargaku, tak lebih.”

Baekhyun dapat melihat airmata Nyonya Byun yang meleleh dipipi wanita itu. Baekhyun memejamkan matanya sejenak. “Aku.. Berusaha untuk tegas pada Baekna. Aku mengatakan jika ia seharusnya tak mempunyai perasaan seperti itu padaku.

“Aku bahkan bersikap dingin dan acuh padanya. Tetapi tanpa kusadari tindakanku membuat Baekna hampir saja kehilangan nyawanya. Aku tak melindunginya dengan baik saat kami liburan dan sekarang Baekna mengalami trauma.”

Tepat setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, suara pecahan keramik dilantai atas membuat Baekhyun dan orangtuanya melebarkan mata. Setelah itu mereka mendengar umpatan dan kata-kata kasar yang tak pantas mereka dengar dari suara Baekna.

Baekhyun merasakan matanya memanas. “Aku tak tahu harus bagaimana lagi.”

Tuan Byun menghela nafas. Ia membuka kacamata yang sedari tadi bertengger dibatang hidungnya. “Aku benci mengatur-atur kehidupan anakku sendiri. Tetapi, aku harus mengambil tindakan tegas.”

Baekhyun menatap mata teduh sang Ayah. Dari dulu hingga sekarang, Pria yang berstatus kepala keluarga Byun itu memang tak suka mengatur-atur Baekhyun dan Baekna. Menurutnya, hidup anaknya adalah milik mereka, bukan miliknya. Bahkan ketika Baekhyun memutuskan untuk bergabung didunia bisnis menolong pekerjaannya, ia menyuruh Baekhyun untuk mempertimbangkan mimpinya yang dari dulu ingin menjadi dokter.

Baekhyun tersenyum amat tipis mengingat sifat sang Ayah. Ia mengangguk ketika melihat Ayahnya menunggu reaksinya.

“Kalian harus dipisahkan. Baekna akan terbiasa tanpamu jika kalian tidak berdekatan.”

Baekhyun terdiam. Artinya aku akan hidup sendiri lagi. Gumam Baekhyun dalam hati.

Melihat Baekhyun yang terdiam, Tuan Byun melanjutkan ucapannya. “Diantara kalian akan kukirim ke Jepang.”

Mata Baekhyun melebar.

“Atau salah satu diantara kalian harus dijodohkan.”

__________________

Jongin mendongakkan kepalanya ketika sepasang sepatu sneakers menghadang jalannya. Ia mendapati wajah dingin Sehun yang menatapnya dengan tatapan datar.

“Kau seperti mayat hidup, Jongin.” ucapnya.

Jongin hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Membuat Sehun serta-merta mendengus kesal.

“Cepat katakan apa maumu.” ujar Jongin.

Sehun menghembuskan nafas, cukup sabar untuk menghadapi Jongin kali ini. “Aku ingin kau bangkit lagi.” Sehun diam sejenak. “Aku tidak mengenal Jongin yang seperti mayat hidup. Yang aku tahu, Kim Jongin adalah seseorang yang berkulit hitam, bukan pucat seperti mayat.”

Jongin mengetuk kepala Sehun dengan kesal, “Jangan bawa-bawa warna kulit bodoh.” ucapnya tetapi tidak bisa dipungkiri jika saat ini ia sedang menahan tawanya.

“Hey. Kau tersenyum!” ujar Sehun sambil menunjuk wajah Jongin yang langsung ditepis olehnya.

“Sudahlah, kau tidak lihat aku sedang sibuk? Kau mengganggu urusanku.” ucap Jongin sambil melangkahkan kaki meninggalkan Sehun.

Sehun lantas mengikuti langkah Jongin, “Sibuk apanya? Aku melihatmu berkeliling komplek sudah 5 kali, itu kau bilang kesibukan?” Sehun mendengus. “Oh ya, bagaimana dengan lukamu? Sudah kau obati?”

Jongin menjawab dengan gumaman. Ia masih melangkah dengan lebar dan seperti sengaja mengacuhkan Sehun yang berada disampingnya.

“Kau tahu? Menurutku kau terlalu bodoh.” gerutu Sehun. Jongin menoleh sekilas padanya dengan wajah berlipat, ia tak kunjung menghentikan langkahnya. “Kecelakaan Baekna bukan karena kesalahanmu. Tetapi kau malah minta maaf pada Baekhyun hyung.”

Jongin menghentikan langkahnya hingga Sehun ikut berhenti. Ia menoleh dengan tatapan tidak mengerti.

“Kami menginterogasi Baekhyun hyung sebelum pulang ke Seoul. Ia berkata jika saat itu kau hanya jadi pelampiasan amarahnya. Kau tidak bersalah sama sekali.” jelas Sehun. “Ia memukulmu bukan karena kau yang menyebabkan Baekna tenggelam, tetapi karena janji yang tidak kau tepati.”

Jongin menghela nafas, “Tetap saja, Baekna.. kecelakaan karena kecerobohanku.”

Sehun mengangkat bahu. “Kami dan Baekhyun hyung bahkan juga mengakui jika kami semua ceroboh.” Sehun diam sejenak. “Pukulan itu hanya pelajaran bagimu. Baekhyun hyung sedang kacau saat itu.”

Melihat Jongin hanya diam, Sehun meletakkan tangan kanannya dibahu Jongin, menepuknya beberapa kali. “Yang harusnya kau dekati adalah Baekna, bukan Baekhyun hyung.” ucap Sehun. “Kau harus merebut hati Baekna dahulu, urusan Baekhyun hyung bisa belakangan.”

Jongin tertawa kaku, “Aku bahkan sudah ditolak sebelum bertindak.” ucapnya. “Ia mencintai orang lain. Lebih tepatnya terobsesi memiliki orang lain.”

Sehun menganga. “Apa?” ujarnya lalu mengatupkan rahangnya. “Setahuku Baekna tidak pernah dekat dengan pria manapun. Kecuali kau dan Baekhyun hyung tentunya.”

Jongin hanya tersenyum pahit. Orang lain yang dimaksud Jongin tentu saja Baekhyun. Tetapi ia tidak mungkin secara lantang mengatakan jika Baekna terobsesi dengan kakak kandungnya sendiri.

“Lalu.. Apakah orang yang dicintai Baekna juga suka padanya?” tanya Sehun. Sikulit seputih susu itu tampak menggaruk kepalanya bingung.

Jongin diam sejenak. “Ia pernah mengatakan jika ia tidak mungkin mencintai Baekna sebagai wanita.” ucapnya. “Tetapi ia sangat menyayangi Baekna.”

“Bukankah sayang dan cinta beda tipis?” celetuk Sehun.

Seketika Jongin membeku. Sebenarnya ia juga memikirkan apa yang diucapkan Sehun barusan. Bagaimana jika Baekhyun juga mencintai Baekna? Lihat saja dari perlakuan Baekhyun pada Baekna. Ia tak pernah mengabaikan Baekna bahkan setelah Baekna membuatnya kecewa. Apalagi ketika Baekna tenggelam dilaut, ia seperti orang yang sangat frustasi.

Satu lagi, bahkan Baekhyun tak segan-segan memberi nafas buatan pada Baekna. Oh, mungkin ini berlebihan, tapi sungguh sampai saat ini Jongin masih cemburu mengingat Baekhyun memberikan nafas buatan pada Baekna.

Jongin menghela nafas, “Kurasa dia juga mencintai Baekna.” ujar Jongin. “Tetapi satu-satunya halangan yang sangat besar bagi mereka adalah..”

“Adalah?” Sehun bertanya.

Jongin menggeleng dan tersenyum kecil. “Nothing. Aku hanya terfikir kenapa mereka tidak bisa bersama.” bohongnya. Jongin tahu jika ia salah bicara, maka Sehun juga akan mengetahui rahasia Byun bersaudara itu.

Sehun memutar bola matanya. Lalu tiba-tiba seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Jika diperhatikan, aku merasa jika Baekna sangat menyukai Baekhyun hyung.”

Mata Jongin melebar, sesaat kemudian ia bisa mengendalikan ekspresi wajahnya setenang mungkin. “Benarkah?”

Sehun mengangguk. “Tatapan Baekna pada Baekhyun hyung seperti tatapan seorang gadis yang menyukai pacarnya.” ia tertawa. “Aku curiga jika yang kau maksud dengan orang lain itu Baekhyun hyung.”

Yeah, walaupun Sehun adalah orang yang kekanak-kanakan tetapi kemampuan menganalisisnya tidak bisa diremehkan. Jongin baru ingat jika Sehun mengambil jurusan psikologi diuniversitasnya. Satu lagi yang Jongin salutkan dari Sehun, Sikulit putih itu juga bisa mengendalikan ekspresinya dengan baik.

“Satu-satunya halangan yang sangat besar bagi mereka adalah..” Sehun mengulang kalimat Jongin, “Sibling. Mereka bersaudara.”

 

Bagus, sekarang Sehun mengetahuinya. Sialan. Gerutu Jongin dalam hati.

Sehun tertawa melihat ekspresi tak senang dari Jongin, “Aku sudah mengetahuinya ketika kita menjenguk Baekhyun hyung seminggu sebelum kita liburan.” Sehun melenyapkan sisa tawanya. “Dan berani bertaruh, waktu itu Baekhyun hyung jatuh pingsan karena terlalu memikirkan Baekna.”

Jongin hanya diam. Membuat Sehun menepuk bahunya beberapa kali. “Ayo Jong, kau punya misi baru.” ucapnya. “Baekhyun hyung hanya menyayangi Baekna sebagai adiknya. Kau masih bisa merebut hati Baekna.”

Jongin hanya menatap Sehun dengan tatapan tak mengerti. Hingga akhirnya Sehun menyeret Jongin kearah mobilnya yang terparkir beberapa meter dibelakang mereka.

“Aku yakin Baekhyun hyung akan mengusirku jika berkunjung ke sana.” ucap Jongin setelah memasang seat belt ditubuhnya.

Sehun mendengus, “Tenang saja, jika ada aku kau tak akan diusir.” jawabnya.

Jongin hanya menggidikkan bahunya. “Lihat saja nanti.”

_________________

Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati kamar Baekna yang saat ini telah sunyi. Mungkin saja tak ada barang-barang lain yang hendak dilempar Baekna makanya gadis itu terdengar tenang. Orangtuanya sudah pergi kekantor beberapa saat yang lalu.

Pria bermata sipit itu memejamkan matanya sesaat ketika mengingat betapa marahnya Baekna padanya setelah ia mengatakan jika ia tak akan pernah menjadi pendamping hidup Baekna. Bahkan Ayah dan Ibunya yang berusaha menenangkan Baekna dibentak dan diusir saat itu olehnya.

Baekhyun meraih gagang pintu dan memutarnya. Ia melangkah masuk kedalam dan kembali menutup pintunya. Ia bisa melihat Baekna yang menatapnya dari sudut kamar.

Gadis itu memeluk lututnya sambil menatap Baekhyun tak berkedip. Sedangkan Baekhyun mengedarkan pandangannya keseluruh bagian kamar Baekna hingga akhirnya matanya bertemu pandang dengan mata Baekna.

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Baekhyun seraya tersenyum tipis pada adiknya.

Baekna hanya membuang pandangannya dari Baekhyun.

“Sekarang bagaimana kau akan tidur jika kamarmu berantakan seperti ini?” Baekhyun tertawa, “Aku jadi ingat, kau selalu ingin bertukar kamar denganku.”

“Jangan bicara padaku.” ujar Baekna dingin.

Baekhyun terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia melangkahkan kaki kearah ranjang Baekna dan duduk diatasnya. Ia masih menatap Baekna dengan senyum tipis dibibirnya.

“Kesinilah.” ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk tempat yang kosong disampingnya. “Aku ingin melihat lukamu.”

Baekna hanya diam. Ia memang terluka, lebih tepatnya sengaja terluka. Ia yang menggoreskan pecahan kaca keseluruh tubuhnya hingga darahnya berceceran dimana-mana.

Melihat Baekna hanya diam, Baekhyun melunturkan senyumannya. “Kau ingin aku kembali mengacuhkanmu?”

Baekna tersentak, matanya berlarian tak fokus. Ia hendak berbicara, tetapi ia kembali mengatupkan bibirnya.

“Baiklah aku akan pergi.” Baekhyun turun dari ranjang Baekna. Ia berjalan menuju pintu dan memutar kenopnya.

Ketika ia hampir saja keluar, suara Baekna menghentikan langkahnya.

“Jangan pergi.” pintanya dengan suara bergetar.

Baekhyun menghembuskan nafasnya. Ia kembali menghadap Baekna, “Kalau begitu kau harus mengobati lukamu.”

Baekna mengangguk patuh. Tetapi ia tetap berada pada posisinya tanpa melakukan apapun. “Aku akan mengobati lukaku.”

“Buktikan. Berdiri dari sana dan ambil kotak obatmu sendiri.” ucap Baekhyun.

Baekna bergeming. Ia benar-benar ingin melakukan apa yang Baekhyun perintahkan padanya, tetapi masalahnya ia tidak bisa berdiri.

“Kenapa hanya diam?” Baekhyun menatap Baekna aneh, “Kau ingin aku benar-benar pergi?”

“Tidak!” jawab Baekna cepat. “A-aku.. Aku tidak bisa berjalan, kakiku lemas.”

Baekhyun hanya menatap Baekna beberapa saat. sampai akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Dokter Choi? Bisa kerumahku sekarang?” ucap Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari Baekna. Setelah itu ia memutuskan sambungannya tanpa berbasa-basi sedikit pada dokter pribadinya itu.

Baekhyun berjalan mendekati Baekna lalu mengangkat tubuh gadis itu tanpa mengatakan apapun. Baekna tentunya terkesiap melihat apa yang dilakukan Baekhyun padanya, otomatis gadis itu melingkarkan tangannya pada leher Baekhyun agar ia tidak terjatuh dari gendongan Baekhyun.

Baekhyun membawa Baekna kekamarnya dan membaringkan Baekna diatas kasurnya. Tak peduli jika nanti seprai kasurnya akan terkena bercak darah Baekna, yang penting gadis itu berada ditempat yang nyaman.

“Diamlah disini sebentar. Jangan menghancurkan barang-barangku seperti kau menghancurkan barang-barangmu.”

Baekna mengangguk pelan tanpa menatap Baekhyun. Sikap Baekhyun benar-benar dingin setelah Baekna mengabaikan perintah Baekhyun tadi. Dalam hati gadis itu merutuk, andai saja ia tidak mengabaikan Baekhyun, kakaknya itu pasti tidak akan sedingin ini padanya.

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar kamar. Setelah ia menutup pintu kamarnya, pria itu bersender didaun pintu sambil memejamkan matanya. Bayangan tubuh Baekna yang penuh dengan luka memenuhi otaknya.

Baekhyun mengeluarkan ponselnya ketika merasakan benda persegi panjang itu bergetar. Ia mengangkat panggilan itu dan menjauh dari pintu kamar.

Yeoboseo?”

Baekhyun-ah, bagaimana keadaan Baekna?” ujar suara lembut yang sarat akan kekhawatiran milik Nyonya Byun.

“Dia baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir, aku sudah menghubungi Dokter Choi.” jawab Baekhyun tenang.

Baekhyun dapat mendengar helaan nafas lega diseberang sana. “Baiklah Baekhyun-ah. Ibu akan kembali lagi ke rapat. Nanti akan Ibu hubungi lagi.

Baekhyun hanya bergumam menjawabnya. Ia memutuskan sambungan dan kembali menyimpan ponselnya disaku celananya.

Tiba-tiba bel kediaman keluarga Byun berbunyi nyaring. Baekhyun sedikit mengerutkan dahinya, tidak mungkin Dokter Choi datang secepat ini mengingat ia baru saja menelepon dokter kepercayaannya itu beberapa menit yang lalu.

Tak ambil pusing, Baekhyun akhirnya berjalan kepintu rumahnya untuk melihat siapa yang datang. Dari intercom ia bisa melihat Sehun dan Jongin yang sedang berada diteras rumahnya.

Baekhyun hanya diam ditempatnya tanpa membukakan pintu untuk mereka. Detik selanjutnya ia terperanjat kaget ketika Sehun menekan bel rumahnya berkali-kali sambil menyerigai.

Baekhyun berdecak dan akhirmya membukakan pintu untuk mereka. Ia berdiri diambang pintu sambil bersedekap lalu menatap Sehun dan Jongin bergantian. “Ada apa kalian kesini?”

Sehun tersenyum lebar, sedangkan Jongin tetap diam diposisinya. “Aku dan Jongin tadi sedang ada urusan disekitar sini, jadi kupikir apa salahnya untuk sekedar mampir kerumahmu.” jawab Sehun. “Benarkan Jong?”

Jongin hanya bergumam tak jelas. Membuat Sehun memutar bola matanya. Yeah, Jongin sedang tidak ingin diajak kerjasama.

Baekhyun terdiam beberapa saat. Ia menatap Sehun dan Jongin dengan tatapan datarnya. Setelah itu ia melebarkan daun pintu. “Masuk, dan cari apa yang kalian inginkan.”

Jongin dan Sehun bertatapan sejenak. Jongin yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, “Baiklah hyung, dengar. Sebenarnya aku dan Sehun ingin melihat keadaan Baekna. Walaupun aku berfikir kau tak akan mengizinkanku untuk bertemu Baekna, aku tak peduli.”

Baekhyun kembali bersedekap, “Masuk, dan cari apa yang kalian inginkan. Apa kalimatku kurang jelas?”

Sehun menganga, “Kau benar-benar mengizinkan kami melihat Baekna?”

“Kau ingin aku berubah fikiran?”

“Tidak!” sahut Jongin dan Sehun bersamaan. Dengan begitu mereka memasuki rumah Baekhyun dengan gerakan cepat.

Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah ia menutup pintu, pria itu mengikuti Jongin dan Sehun yang saat ini terdiam didepan tangga untuk menuju lantai dua.

Hyung, kenapa rumahmu sangat sepi?” tanya Sehun sambil mengedarkan tatapannya keseluruh penjuru rumah keluarga Byun yang menyerupai istana.

Baekhyun juga ikut mengedarkan tatapannya kesegala arah. Sehun benar, rumah sebesar dan semegah rumahnya ini tampak sepi karena lebih sering ditinggal oleh orangtuanya hingga hanya ia dan Baekna yang menghuninya.

Dulu saat Tuan Byun dan Nyonya Byun belum rujuk, Tuan Byun mempekerjakan beberapa maid untuk mengurus urusan rumah dan urusan dapur. Sampai akhirnya setelah Tuan dan Nyonya Byun kembali menikah, Baekna yang saat itu juga harus tinggal diistana megah ini menyarankan agar para maid dipecat. Gadis itu mengatakan jika ia kurang nyaman diperlakukan seperti anak manja yang tidak bisa apa-apa, jadi saran gadis itu diterima dengan senang hati.

“Rumah ini selalu sepi, jika kau ingin tahu. Para maid sudah lama dipecat dan sekarang orangtuaku juga sedang bekerja. Jadi hanya aku dan Baekna dirumah sekarang.”

Sehun mengangguk. Tatapannya beralih kearah Jongin yang sedari tadi mendongak kelantai atas dengan gelisah. Sehun tahu jika saat ini Jongin sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Baekna.

“Jadi.. Dimana Baekna sekarang hyung?” Sehun menolong Jongin untuk mempertanyakan Baekna pada Baekhyun. Sehun bisa melihat tatapan terima kasih dari mata Jongin padanya.

“Dia dikamarku. Jangan terkejut melihat keadaannya.” Baekhyun memperingatkan. Ia berjalan menjauh, memilih untuk menunggu Dokter Choi diruang tengah.

Jongin dengan cepat menaiki tangga yang menghubungkannya kelantai dua, Sehun mengikuti pergerakan Jongin dari belakang.

Pria berkulit tan itu tampak menghela nafasnya sebelum memutar kenop pintu dengan tulisan hangul ‘Baekhyun’ diatasnya. Ketika pintu terbuka, Jongin bisa melihat punggung gadis yang ia cintai sedang meringkuk diatas tempat tidur Baekhyun.

Jongin dan Sehun berjalan masuk. Baekna tampak menyadari kedatangan mereka dan berbalik badan untuk sekedar melihat siapa yang datang. “Jongin? Sehun?”

Sehun mengangguk, sedangkan tatapan Jongin terpaku pada luka-luka menganga yang ada disekujur tubuh Baekna. Baekhyun benar, ia akan sangat terkejut jika melihat keadaan Baekna.

“Ada apa dengan tubuhmu Baekna?” dari nada bicaranya, Baekna sangat yakin jika saat ini Jongin sangat khawatir padanya.

Baekna hanya diam, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya menghindari tatapan kedua orang dihadapannya ini.

“Kau tidak seperti Baekna yang kukenal.” ini suara Sehun. “Baekna yang kukenal adalah seseorang yang periang dan lemah lembut. Tetapi lihat dirimu sekarang, pemurung dan menyedihkan.”

Nada sarkasme dari ucapan Sehun membuat Baekna mengangkat wajahnya. Ia menatap Sehun dan Jongin bergantian, lalu mendengus. “Persetan.” gumamnya.

Jongin menghela nafasnya, tak terganggu sedikitpun dengan ucapan kasar gadis itu. “Baekna-ya, sesuatu terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini padamu?”

Baekna hanya diam, tak menjawab. Hening menyelimuti mereka beberapa saat sampai akhirnya Sehun menepuk pundak Jongin. “Jong, aku akan turun kebawah. Kurasa kalian butuh bicara.”

Jongin mengangguk lalu membiarkan Sehun keluar dari kamar Baekna. Jongin masih menatap sendu kearah gadis yang tengah berbaring didepannya itu, sedangkan Baekna hanya diam tanpa berniat membalas tatapan Jongin.

“Berhentilah terluka Baekna. Kau membuatku khawatir.” ucap Jongin.

Baekna tersenyum pahit. “Jika Baekhyun Oppa lebih perhatian padaku ketika aku terluka, aku akan terluka untuk mendapat perhatiannya.”

Ada perasaan cemburu yang membuncah datang dari dada Jongin. Ia bisa melihat binar dari mata Baekna ketika gadis itu memikirkan Baekhyun.

Jongin memilih untuk duduk disisi ranjang Baekna yang kosong, “Caramu salah.” ujarnya, “Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri, berperan menjadi adik yang baik. Kurasa Baekhyun hyung akan lebih memperhatikanmu.”

Meskipun sesak, berbicara dengan gadis seperti Baekna haruslah dengan lembut. Itulah yang difikirkan Jongin saat ini.

“Aku tak ingin menjadi adiknya. Kau tahu apa yang aku inginkan.”

Jongin terdiam beberapa saat. Ia menatap mata Baekna dengan lekat. “Berhentilah bersifat kekanakan Baekna. Kau tak bisa bertindak sesukamu.”

Baekna membuang muka, “Lalu aku harus apa? Merelakannya?” ia mendengus, “Aku bahkan ragu apakah aku bisa hidup tanpanya.”

“Keras kepala.” sungut Jongin. “Kenapa kau tidak sadar juga jika Baekhyun hyung adalah kakak kandungmu? Kalian tidak bisa bersama. Apapun alasannya, kalian memiliki batas hubungan yang kasat mata.”

Jongin menatap wajah Baekna lekat-lekat. Gadis itu hanya diam sambil memandang kearah lain. Jongin menghela nafas, tangannya meraih tangan kanan Baekna dan menggenggamnya hingga Baekna akhirnya menatap Jongin.

 

“Just be your self, Baekna. Baekhyun hyung akan selalu berada didekatmu walaupun dia bukan kekasihmu. Kau memilikinya bukan sebagai wanita, tetapi kau sudah memilikinya sebagai keluarga.”

Gadis itu hanya menatap Jongin dengan tatapan datar. Tetapi Jongin bisa melihat airmata yang menggenang dimata indah gadis itu.

“Jangan pernah terluka lagi hanya karena hal-hal bodoh.” ucap Jongin. “Atau aku akan menculikmu untuk mengawasi gerak-gerikmu, Baekna.”

Baekna hanya diam. Walaupun begitu, gadis itu sudah berderaian airmata sekarang.

“Mencintaimu dalam diam tidak semudah yang kufikirkan. Kukira cukup dengan mengawasimu dari jauh akan membuatku senang. Tetapi nyatanya tidak begitu.” Jongin tersenyum pahit. “Kau terluka disaat aku tak bisa mengawasimu. Hal yang sangat kusesalkan.”

Jongin menghapus airmata yang ada dipipi Baekna dengan gerakan pelan. Tetapi gadis itu menghentikan gerakan tangan Jongin dengan tangannya yang bebas. Ia menggeleng, “Jangan mencintaiku Jongin. Aku tak bisa membalas perasaanmu. Jadi lupakan saja perasaanmu itu padaku.”

Jongin tertawa. “Benar-benar kepala batu.” ucapnya, “Kau kira perasaanku sedangkal itu? Melupakan perasaanku padamu adalah hal terakhir yang aku inginkan dalam hidupku.”

Jongin mengacak pelan rambut Baekna. “Aku tak bisa menyerah. Sekeras apapun kau menyuruhku melupakanmu, sekeras itu juga aku ingin memilikimu.” ujarnya. “Percayalah, aku punya cara sendiri untuk mendapatkanmu.”

________________

A/N:
Beberapa chapter lagi mungkin udah end. Duh, udah berapa lama yaa gak update? Haha maap pirus sibuk sama dunia perfujo-an(?)

So, wanna review?

84 responses to “Complicated (Sequel A Game, huh? #8) — by BARLEEY

  1. huaaa lama nggak liat ff ini^^
    kak, plis jgn jadiin baekna ama baekhyun yaaa, baekna sama jongin aja baekhyun sama cewek lain (?) kalo boleh

  2. Entah knpa aku maunya Baek sma baekna, dan mereka itu aslinya bkn sodara kandung😆 tapi ya boleh lah baekna sma jongin aja😁

  3. Akhirnya ada titik terang juga /ceileh titik terang😂 jadi makin semangat nunggu next chap!!!! Authornim semangaaaaattttt!!!!!!

  4. Pingback: [FINAL] Game Over (Sequel A Game huh #9) — by BARLEEY | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s