Ambition [Chapter 11] – by Sehun’Bee

AmbitionSehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny – Freddie

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster by Apinslaster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Personal Blog : https://sehunbee.wordpress.com

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5] Lie [6] I Got You [7] Goodbye Rain [8] – NO! [9A][9B]Eiffel [10]

Love Means Protect [Now]

-Ambition-

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

The Detroit Marriott at Renaissance Center

Detroit, pusat kota salah satu negara bagian Amerika Serikat, Michigan, keluar sebagai kota industri modern dengan menggantungkan keberuntungan pada besar-kecilnya permintaan terhadap industri mobil AS. Sejatinya, Jo datang kemari bukan untuk duduk diam menatap beningnya hijau tosca Sungai Detroit, melainkan untuk memenuhi panggilan salah satu Presiden Marriott International yang menggawangi keberhasilan Ritz-Carlton Hotel Company L.L.C., David Willard.

Ya, David. Tapi, bukan untuk membahas pekerjaan atau lain sebagainya, melainkan untuk membahas kembali rencana kedua keluarga menyatukan putra dan putri mereka. Bukan hanya itu, yang membuat Jo bungkam adalah selembar kertas putih berisi pengalihan kekuasaan atas nama dirinya ke tangan orang lain. David sendiri yang memberikan itu—sulit dipercaya.

Dan Jo hanya bisa meremas udara hampa di atas tumpuan paha. Matanya terpejam, menimang keputusan. Kepalanya pusing memikirkan setiap resiko. Ini seperti berada di ujung tanduk, di mana pilih kanan ataupun kiri tetap akan berakhir jurang. Masalahnya bukan ada pada kebahagiaan diri sendiri sebagai bahan pertimbangan berkata ‘Ya’ atau ‘Tidak’, tapi ini menyangkut kebahagiaan putri semata wayang—yang jika diibaratkan—Jo rela menukar nyawanya untuk melihat senyum manis putrinya. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan bahwa putrinya jauh lebih berharga dari kekayaan tujuh turunan yang diwariskan kakek buyut.

Jadi, dengan segala bentuk sopan santun, penolakan halus tanpa merendahkan martabat pria yang duduk terhalang meja darinya pun diutarakan. “Aku sudah mengatakan ini sebelumnya …,” Menjeda sejenak. Melirik lagi kertas putih bercetak tinta sebagai pusat pertimbangan. Menimang lagi antara memertahankan kepercayaan menjaga harta keluarga besar Ritz atau memberikan kebebasan pada putrinya untuk bahagia. Oh, ini sulit. Namun Jo adalah orang tua yang dituntut untuk bijak dalam memilih, jadi “—keputusan ada di tangan Hanna, putriku.” rampungnya, tak terbantah.

“Jika aku berniat mengambil keuntungan dari ini, maka Hanna bukan gadis yang akan kupilih untuk putraku.”

“Aku mengerti, David. Aku sangat senang kau begitu menyukai putriku. Seperti yang kau tahu, Hanna adalah putriku satu-satunya. Dia adalah kebahagiaanku, kebanggaanku, surgaku. Sudah cukup aku merampas mimpinya untuk menjadi seorang arsitek karena tuntutan tahta warisan yang akan digenggamnya untuk dijaga. Dan Hanna menurut bahkan tak membantah sedikitpun saat aku memintanya memilih pendidikan berbasis bisnis, karena ia begitu menghormatiku sebagai orangtuanya.” Sungai Detroit kembali menjadi peraduan netra bercahaya lembut itu.

“Jika aku kembali memintanya untuk memilih sesuatu yang tidak ia kehendaki, maka aku tak pantas lagi dipanggil Ayah olehnya.” Jelas sudah, ini yang Jo pilih. Tak peduli jika Hanna menolak dan posisi Executive Chairman Ritz-Carlton Hotel Company L.L.C., harus dilepas. Asal Hanna bahagia, maka Jo pun akan ikut bahagia.

“Jadi kau menolaknya?”

“Aku tidak menolaknya, Dav. Aku hanya menyerahkan segala keputusan kepada putriku.”

“Dan aku rasa, kita sama-sama tahu Hanna tidak memilih Skandar. Itu berarti, kau sudah siap untuk kehilangan segalanya, Jo. Di sini, aku tidak main-main karena apa yang kulakukan juga demi kebahagiaan putraku.”

Ya. Tentu! Jo tahu putrinya sudah memiliki pilihan lain. Jangan lupakan posisinya sebagai orang tua Hanna di sini. Segala aktivitas putrinya itu bahkan tak pernah lepas dari pengawasannya. Termasuk, kedekatannya kembali bersama seorang putra Thomas Bertelsmann, Sehun Bertelsmann. Maka dari itu, membiarkan putrinya bahagia bersama pilihannya ikut menjadi pilihan Jo. “Itu tak masalah, selagi hal tersebut tak membuatku kehilangan senyum putriku. Tujuan kita sama, bukan? Aku harap, ini tidak memengaruhi ikatan persahabatan keluarga yang telah terjalin sejak lama.”

“Baiklah, kita lihat reaksi putrimu setelah mengetahui ini.”

-Ambition-

rc

Ritz-Carlton Tower, Battery Park City

Mengabaikan indahnya Sungai Hudson dan lebih memilih menjadikan pemandangan kota peraduan netra. Rindu dan kecewa ada menanti kabar dari seorang gadis yang menyandang status sebagai satu-satunya sahabat yang dimiliki. Apa yang bisa Kai lakukan sekarang? Selain memanjakan mata dengan keindahan lain yang ditawarkan gedung pencakar langit ini. Lalu, membiarkan kecewanya tertelan mentah-mentah bersama saliva tanpa mampu diungkapkan.

Sebenarnya, ingin sekali Kai menyambung komunikasi dengan sahabatnya itu setelah ditinggalkan begitu saja, tapi keinginan untuk membuat Hanna sadar dan memulai lebih dulu jauh lebih besar. Jadi, beginilah akhirnya. Tak ada komunikasi yang terjadi di antara mereka setelah sekian lama tak jumpa. Terdiam dengan ego dan ambisi masing-masing, membiarkan jarak merenggangkan hubungan yang telah terjalin. Gengsi bahkan ada pada diri Kai untuk tetap diam sampai Hanna meminta maaf.

Tapi, apa yang terjadi? Asanya kosong. Hanna batu. Gadis itu tidak akan melakukannya, meski sadar atas kesalahan yang sudah diperbuat. Ya. Setidaknya itu yang Kai tahu, tapi tetap berharap Hanna menghubunginya lebih dulu. Bodoh!

java-coffee

“Java Coffee, your favourite coffee beans product from the Indonesian Island of Java.”

Ugh!

Kai tersentak di tengah lamunan. Secangkir kopi di depan mata lengkap dengan senyum manis seorang Jenny Kim menjadi kejutan siang itu. Ia tidak ingat membuat janji dengan Jenny hari ini, tapi tunangannya itu datang mengunjungi. Menularkan senyum manis yang masih betah bertahan di wajah imutnya sampai Kai ikut tersenyum melihatnya. Usakan lembut di puncak kepala pun Jenny rasa, sebelum kopi di tangannya diambil alih. “Kenapa tidak menghubungi akan datang berkunjung, hm?”

“Memangnya harus?”

“Tidak. Aku milikmu dan kau bebas untuk itu.” Sedikit menggoda, melupakan masalah batinnya untuk sejenak, dan menarik Jenny yang sudah merona ke kursi santai. Kai ingin mencairkan suasana hatinya dengan menyambut kedatangan tak terduga tunangannya ini. Karena biasanya, Kai yang akan datang ke kantor Sehun untuk sekedar mengunjungi gadisnya, tapi kali ini, Jenny yang mempunyai inisiatif itu.

“Kau yang membuatnya?” Kai menyesap kopi favoritnya hati-hati, menghindari panas yang bisa saja membakar lidahnya. Anggukan pun dilihat, Kai tersenyum setelahnya. “Enak sekali. Racikannya pas, seperti buatan café. Jadi, kau ke pantry dulu sebelum naik ke atas untuk ini?”

“Hm. Bagaimana pekerjaanmu?” Jenny mencari topik lain, tak ingin terus-terusan dibuat merona oleh pujian prianya. Kai sendiri tak lekas menjawab, malah sibuk menikmati secangkir kopi di tangan. Efek kafein berhasil menenangkan pikirannya dan itu sangat membantu sampai membuat Kai candu.

“Baik, tapi aku belum bisa sebaik Hanna.” ungkapnya. Kembali menjeda dengan menyesap kopinya lagi. “Setidaknya, aku bisa lebih baik dari sebelumnya dalam menangani ini dan itu,” sambungnya, dengan senyum bulan sabit. Kopi pun diletakan di atas meja kecil samping tubuh. “Bagaimana denganmu, Sayang? Apa Sehun menyusahkanmu selama berlibur?”

“Ada banyak laporan dan proposal yang datang untuk Sehun. Aku harus mengatur ulang semua jadwal kerjanya selama pria menyebalkan itu sibuk berpacaran.”

Pacaran? Kai tersenyum geli, mengingat Sehun yang memang tak lagi menghubungi setelah terbang ke Paris minggu lalu. Pikiran kotor tentang kebersamaan pria itu dengan sahabatnya pun menguasai. Apa yang sedang mereka lakukan sampai lupa ada sepasang kekasih yang dibuat susah di sini? Aah, jangan bilang mereka sibuk berbagi tempat tidur setiap saat—eeii, pikiran macam apa itu? Hu-hu. Kai semakin geli, menyadari otak mesumnya.

“Senang sekali melihatku menderita.”

Eh? Kai berkedip dua kali. Gelengan kuat Jenny lihat, lalu tarikan di tangan membawanya duduk di atas pangkuan si pria. “Bukan begitu, Sayang. Aku hanya geli membayangkan wajah bahagia Sehun bersama gadis impiannya.”

Ah-ha, benarkah? Jenny mengangkat sebelah alis, penuh selidik. Namun juga membayangkan wajah bodoh Sehun lengkap dengan Hanna di sampingnya. Bahu kanannya lantas ketiban massa ketika Kai mendaratkan dagunya di sana. Pelukan erat di pinggang pun dirasa sampai Jenny tertarik untuk menatap wajah tunangannya tersebut. “Memangnya kau yakin, Hanna langsung menerimanya kembali?”

“Entahlah, aku tidak tahu dan tak ingin tahu.” Kai mengedikkan bahu masa bodoh. Wajahnya merangsek maju, membiarkan hidungnya beradu lembut dengan milik Jenny. “Yang ingin kutahu hanyalah kemantapan hatimu untuk menjadi istriku, Jen,” godanya. Tak peduli efek hebat yang ditimbulkan. Rona merah di pipi bening gadisnya bahkan terlihat, dan Kai malah menikmati kecantikan gadis Korea ini.

Lalu dengan gerakan canggung, Jenny mengambil jarak. Hening pun meraja barang sejenak. Kai lantas melancarkan manuver guna menata anak surai Jenny ke belakang telinga. “Jen?” panggilnya, meminta jawaban. Mata mereka pun bertemu lagi di satu titik, lebih lama. Seakan memberi kebebasan pada keinginan hati akan wajah terkasih. Angin yang berasal dari kota hanya membuat mereka larut dalam jalinan cinta, disusul dengan jarak yang tak lagi tercipta. Maka dari itu, diam sejenak mereka lakukan untuk sekedar berbagi. Lalu membiarkan bibir beradu lembut, berlomba mengambil peran dalam lumatan tanpa nafsu.

Dengan ini, Kai tahu Jenny lebih dari siap untuk membangun kehidupan baru berdua dengannya. Menjadikan atap rumah tangga sebagai tempat untuk berbagi dan berlindung. Lalu menguatkannya dengan cinta yang mereka miliki bersama sebagai tiang kokoh penyangga. Dan saat merasa jawabannya cukup, Jenny mengambil jarak lagi lengkap dengan senyum manisnya.

“Kai, hubungi Sehun!” pintanya, keluar alur. Yang dipintai malah merangsek maju lagi—belum merasa cukup dengan yang tadi. Lumatan sama dengan rasa berbeda pun kembali melumpuhkan kesadaran Jenny.

“Untuk apa menghubunginya?” tanya Kai, usai melepas. Jemari panjangnya bergerak, meraup sebelah rahang Jenny. Lalu membawanya mendekat hingga kening mereka beradu. Sang wanita memejamkan mata, namun juga menolak dan menjauh.

“Aku hanya merindukan bocah sialan itu,” katanya. Ikut membelai rahang tegas milik si pria. Lalu beralih merapikan surai cokelat gelapnya yang direcoki angin, namun berakhir sia-sia karena mereka selalu datang dan pergi.

Kai sendiri hanya diam menikmati belaian tangan Jenny, juga merogoh ponsel di bagian dalam jas hitamnya. Mencari kontak dengan inisial S, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga. Ketika sambungan sukses, alis Kai justru bertaut lantaran dibuat menunggu lama. Ponsel pun segera dijauhkannya demi memastikan sambungannya masih berjalan, lalu segera menempatkannya kembali ke telinga saat detik panggilan mulai berjalan. Kai pun siap mencecar satu nama.

“Hei, Se—“

“Kai, ini aku ….”

-Ambition-

 

paris

Memiliki zona waktu berbeda—terpaut 6 Jam lebih cepat dari New York—langit Paris sudah berwarna jingga dengan banyaknya lampu kota. Aktivitas malam baru akan dimulai bersamaan dengan kepakan sayap burung yang kembali ke peraduan. Dan Hanna baru saja kembali ke tempat semula setelah mengelilingi isi apartemen dengan kruk untuk sekedar menekan saklar lampu. Lalu mengambil posisi telungkup di karpet bulu bertekstur lembut dengan bantal sofa sebagai penopang dada. Melirik sekilas pada Sehun yang terlelap di sampingnya tanpa alas, lantas tersenyum melihat wajah tampan itu.

sehun

“Sudah dua jam, Sehun. Sampai kapan kau akan terus tidur?” Hanna mengubah posisi, menyamping menghadap si pria. Tangan kirinya dengan senang hati membentuk sudut siku-siku demi menopang kepala. Tangannya yang lain merangsek maju, membelai rahang tegas dengan ukiran sempurna tersebut. Tanpa tahu hal yang dilakukan justru semakin memerdalam mimpi indah Sehun bersamanya.

Aku mencintaimu. Batin Hanna, tak mampu mengungkapkan. Ia hanya bisa bersyukur telah menjadi wanita pilihan pria ini, karena memang tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain itu. Ia masih terlalu pasif, tak seagresif Sehun dalam melancarkan manuver untuk sekedar mengungkapkan cinta. Hanna bahkan hanya bisa mengagumi wajah tampannya dalam diam, seperti saat ini.

Memerhatikan satu per satu ukiran wajah Sehun yang sedang tertidur. Dimulai dari alis tebalnya yang menukik tajam, selaras dengan mata elangnya yang memukau. Lalu beralih ke hidung bangirnya yang melengkung dengan begitu sempurna. Lantas turun ke bibir mungilnya yang lucu setiap kali berucap. Naik lagi ke surai hitamnya yang begitu halus bak rambut bayi, dan berakhir dengan menelisik kulit wajahya yang bening dan lembut. Tampan. Perpaduan apik nan sempurna ada pada wajah pria ini. Hanna memang pantas bersyukur telah memilikinya meski belum seutuhnya.

Ya. Belum seutuhnya.

Mereka sama-sama memiliki batasan untuk tidak benar-benar saling memiliki, meski seringkali melakoni ciuman panas di tempat-tempat rawan seperti kamar dan sofa. Salahkan Sehun untuk masalah ini, tapi juga tepuk tangan untuknya karena begitu menghormati Hanna meski jelas sangat ingin lebih dari sekedar ciuman basah. Pria ini memang begitu jantan. Tak banyak menuntut, meski kadang menyebalkan.

Seperti hari ini, Hanna hampir mengumpat jika saja tak ingat status pendidikan dan martabat yang dimiliki. Berawal dari kedatangan Sella yang kemudian meninggalkan setumpuk pekerjaan untuk ia kerjakan seorang diri. Lantaran Sehun memintanya—lebih tepatnya—mengusir Sella untuk kembali ke hotel. Dilanjut dengan kata-kata manis pria itu yang katanya akan membantu dan menggantikan tugas Sella, namun pada akhirnya hanya menjadi nyamuk pengganggu yang tak henti menggoda kulit mulusnya dengan bibir mungil itu.

Bahkan, memaksanya untuk mengerjakan semua pekerjaan di lantai beralas karpet, yang katanya akan terasa jauh lebih menyenangkan ketimbang mengerjakannya di atas meja. Namun nyatanya, itu hanya siasat guna memperlancar manuver pada gadisnya. Lantaran Hanna menolak keras untuk duduk di atas pangkuannya selama bekerja di balik meja.

Sungguh licik pria ini.

Sekarang, Sehun kelelahan setelah seharian mengganggu Hanna dengan segala macam tindak-tanduknya, yang tak jarang mendapat tatapan tajam sebagai balasan. Tadinya, hanya berniat membiarkan Hanna menyelesaikan pekerjaannya, namun pada akhirnya benar-benar tertidur sampai matahari tenggelam. Hanna yakin, setelah ini, Sehun akan mengeluh pegal atau sakit kepala karena tidur dengan posisi seperti itu dalam waktu lama.

Gemas pun ada saat sentuhannya tak kunjung mengusik pria ini sampai tak segan menjawil hidung mancungnya, lama. Setelah itu, barulah tanda-tanda kehidupan terlihat. Sang empunya engap dan tangan Hanna dicekal agar berhenti.

“Bangun!” titah Hanna untuk yang terakhir, sebelum kembali pada posisi semula dan menyibukkan diri dengan laptop di depan mata. Respon Sehun hanya mengerjap pelan dengan fokus lurus pada wajah gadisnya. Senyum tipis ada mendapati mimpi sorenya nyata akan sosok cantik itu.

“Aku tidak tahu, sejak kapan mimpi dan kenyataan bisa terjadi dalam satu waktu?” katanya. Lalu mengubah posisi hingga terlentang. Bantal di bawah dada Hanna pun ditarik paksa untuk kemudian ia gunakan. “Leherku sakit, Sayang.” Belum sempat Hanna membuka mulut, Sehun sudah mengeluh. “Kepalaku pusing!”

“….” Hening. Seakan tak peduli, namun nyatanya bergerak mendekati lalu menggantikan tangan Sehun untuk memijat pelipis. Gadis ini tak sadar, posisi miring tubuhnya membuat Sehun hanyut dalam ungkapan kasih sayang tak langsung itu. Dan menengok sedikit saja, wajah Sehun langsung berhadapan dengan … bagaimana menjelaskannya, ya? Sehun saja hanya bisa menjilat bibir, namun pada akhirnya goyah juga sampai tak segan ikut mengubah posisi, lalu menarik erat pinggang gadisnya.

“Manja!” cibir Hanna, tapi tetap membiarkan Sehun melakukan apa yang diinginkan. Ia sendiri hanya menempatkan kepala pada sedikit bagian bantal yang tersisa. Memberikan Sehun kebebasan untuk menenggelamkan wajah tampannya di perpotongan leher miliknya. Lalu membelai sayang rambut hitam legam prianya itu dengan lembut. Penuh rasa. Kemudian menelusupkan tangan kirinya ke bawah leher berjakun tersebut guna mempernyaman posisi.

Baru kali ini, Sehun mendapat perlakuan lembut penuh akan kasih sayang hanya karena mengeluh sakit kepala. Sisi hangat Hanna benar-benar membuatnya nyaman sampai tak rela melepas. Terus seperti itu sampai 15 menit lamanya hingga rasa kantuk datang lagi. “Sudah lebih baik?” suaranya saja begitu lembut, tanpa ada nada dingin di dalamnya. Sehun sampai ingin terbang rasanya, begitu bahagia menerima perhatian gadisnya ini. “Apa Freddie pernah kau perlakukan seperti ini?” tanya Sehun, penasaran.

“Tidak. Freddie tidak manja sepertimu.” Ada bahagia sampai ke ubun mendengar jawaban Hanna. Sehun semakin merasa istimewa mendapatkannya beserta semua kehangatannya. “Aku mencintaimu.”

Hanna tersenyum tipis. “Ada roti dan cemilan ringan di dapur. Makan dulu saja, tapi jangan minum obat. Pusing seperti ini akan reda jika perutmu sudah diisi.”

“Nanti saja. Aku masih ingin kau peluk.” Sehun semakin menelusup ke perpotongan leher beraroma memabukkan itu. “Tanganku kebas, Sehun.” Namun, mendengar keluhan kecil Hanna membuatnya seketika mengangkat kepala. Hal tersebut segera Hanna gunakan sebagai kesempatan untuk menjauh dan bangkit.

Kini, bisa dilihat, sebelah tangan Hanna berada di antara kedua paha guna menghindari lubang yang terbentuk pada dress cream tanpa lengan yang digunakan. Dan sebelahnya lagi tarik-ulur demi merenggangkan otot. Sehun yang melihat itu segera meraihnya. Mencium punggung tangannya lembut dan lama. Lalu merambat naik ke lengan, bahu, leher, rahang, dan berhenti tepat di depan wajahnya.

Saat itulah, punggung Hanna menyentuh sofa untuk kemudian menerima ciuman pertama Sehun di hari ini. Menikmati cintanya yang diungkapkan lewat kecupan ringan dan berulang. Kemudian meledak saat lumatan lembut nan dalam menarik bibirnya. Menghanyutkan segala macam kesadaran hingga ke hulu. Lalu mengunci kelumpuhan syaraf pada satu titik berlandas cinta dan mengacaukan segalanya saat lidah mulai mengambil peran. Naluri dewasa sama-sama menginginkan lebih, namun nyatanya saling mengakhiri di menit ke-3.

“Tidak kebas lagi, ‘kan?” goda Sehun.

“Pusingmu juga sembuh, ‘kan?” balas Hanna, tak mau kalah. Tawa kecil keduanya lantas pecah, tak tertahan.

“Tidak. Aku masih sakit,” dusta Sehun, kemudian. Paha Hanna menjadi bantalnya sekarang. Menunjang akting dengan mencari keuntungan lain.

“Jangan tidur lagi—“

“Hanya tiduran.”

“Kau sungguh manja.”

“Hanya padamu.”

Hanna tersenyum kecil merasakan pergerakan Sehun di sana. Sedikit geli saat pria itu memilih menghadap perut dan memejamkan mata lagi. Namun dengan sabar, tangannya memijat lembut bagian belakang kepala pria itu guna mengendurkan saraf tegang di sana. Juga memberikan kenyamanan sebisa semampunya sampai Sehun kepayang keenakan. Pekerjaannya sendiri masih belum beres sepenuhnya lantaran diganggu oleh pria ini seharian. Hanna bahkan sempat menyesal meminta Sehun untuk menginap di sini ketimbang di hotel miliknya.

Kalau begitu, siapa yang salah? Rasa rindunya yang salah. Ia terlalu haus akan wajah tampan ini sampai tak rela ditinggal pergi. Beruntung, Sehun mengatakan sedang dalam masa cuti dan masih ada sisa cuti untuk satu minggu ke depan. Ia juga mengatakan akan ada untuknya selama itu. Namun baru dua hari pria itu menetap bersamanya, Hanna sudah harus menerima resikonya. Huh. Ia akan bekerja lembur untuk malam ini tanpa bantuan Sella, pun untuk satu minggu ke depan.

“Kau pernah ke Maldives?” tanya Sehun tiba-tiba, lalu mengubah posisi. Pijatan Hanna pun terhenti, berganti dengan belaian sayang di rambut legamnya. Susah payah, Sehun menahan diri untuk tidak memejamkan mata agar bisa menatap hazel cantik Hanna. Sementara gerakan tangan gadisnya itu begitu membius, menggodanya untuk kembali tertidur di dalam pangkuan beraroma sakura tersebut.

“Kenapa memangnya?” Bukannya menjawab, Hanna malah balik bertanya. Sehun tersenyum lembut, membelai rahang sempurnanya tak kalah sayang. “Aku bermimpi kita menikah di sana, sayangnya, kau membangunkanku sebelum kita pergi berbulan madu.”

“….”

“Kau sangat cantik dengan gaun pengantin putih bertabur berlian. Kau berjalan ke arahku dengan senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dan aku bersumpah akan mewujudkan mimpi sore hariku itu.”

“….”

“Hanna?” Melihat Hanna yang hanya diam, membuat Sehun bangkit demi menelisik wajah datarnya dari dekat. “Ada apa? Kau tidak senang?” Dengan segera, Hanna mengalihkan perhatian ke segala arah selepas mendengar pertanyaan Sehun. Ia memang tak nyaman setiap kali Sehun menyinggung masalah pernikahan. Bukan berarti tak mau, hanya saja Hanna belum siap untuk menikah dalam waktu dekat ini. Bodohnya, ia tak bisa menolak dan malah membiarkan batu kecil mengganjal hatinya.

Akan tetapi, ini menyangkut mimpi dan masa depan. Jika terus diam, maka usahanya melanjutkan pendidikan akan sia-sia. Hanna harus memutuskan sekarang, atau tidak sama sekali. Dengan menghilangkan segala keraguan, bibir mungilnya mulai bergerak kecil. Namun terkatup lagi kala mengingat janjinya pada diri sendiri untuk tidak melukai perasaan Sehun lagi.

“Jangan ragu, katakan saja!”

Hanna tak lantas menurut. Jemarinya mencari tangan hangat Sehun untuk kemudian digenggam lembut. “Dua bulan lagi, aku lulus.” katanya, sambil menatap canggung manik elang Sehun. Otaknya bekerja cepat guna mengolah kata sehalus mungkin demi menjaga perasaan prianya ini. “Aku merasa terlalu cepat jika kita langsung menikah, Sehun.” Tak kuasa, hazel Hanna berpendar ke sekeliling, ke mana saja asal tak menatap lurus manik elang itu. “Dan aku ingin mewujudkan mimpiku sebelum berumah tangga—“

“Aku mengerti.” Sehun membalik posisi tangan, guna membalas genggaman Hanna. “Aku hanya akan menikahimu, bukan mengekangmu. Kau jangan khawatir, karena aku tidak akan membatasi semua aktivitasmu.”

“Bukan begitu, Sehun. Aku hanya ingin fokus pada satu hal saja. Jika sudah menikah, aku ingin menjadi seorang wanita yang selalu ada untuk keluarga. Tidak untuk sibuk mengurus berkas di belakang meja dan meninggalkan kesibukan di rumah.”

“Itu sama saja dengan kau melepas apa yang sudah susah payah kauraih.”

“Tidak begitu juga,” aduh, sulit sekali. Hanna membatin kalut. “—jika aku sudah mencapai kesuksesanku, maka kesibukanku hanya sebatas mengurus dan memertahankan, bukan lagi mengejar. Kau mengerti, ‘kan?”

“Tidak.” Sehun menyatukan cuping hidungnya dengan milik Hanna. Menggoda gadisnya agar tidak gugup dalam mengungkapkan isi hati. “Aku tidak ingin mendengar penolakan lagi, apa pun itu alasannya.”

Hanna berpaling. Mencoba untuk tidak menghiraukan pergerakan lembut bibir Sehun yang beralih ke rahang dengan kembali memberikannya pengertian, “Sehun, kita bisa saling mengenal lebih jauh sebelum memutuskan untuk menikah. Tunggu aku, satu atau dua tahun lagi, maka aku akan benar-benar siap untuk melangkah lebih jauh—“

“Sudah kubilang tidak, Hanna.”

“Em—serius sedikit, kumohon!” Hanna setengah merutuk kesal dalam hati tatkala lenguhan kecil itu keluar kendali. Bahu Sehun pun didorong dengan sedikit tidak rela agar menjauh dari ujung rahang bawah telinganya. “Menikah, lalu punya anak. Katakan, bagaimana bisa aku mengejar mimpi setelah itu!?”

“Untuk masalah anak, kita bisa menundanya, Hanna. Asal kau sudah menjadi milikku, aku tak masalah dengan semua aktivitas kerjamu.”

“Kau pikir orang tuaku akan mengerti? Bagaimana juga dengan orang tuamu? Kita ini anak tunggal Sehun. Setelah menikah, mereka pasti akan berharap kehadiran anggota keluarga baru dalam waktu cepat.”

Sehun tersenyum, menyadari pemikiran Hanna yang teramat jauh. “Lalu, kau akan membuatku menjadikanmu milikku tanpa sebuah ikatan, begitu?”

“Apa?”

“Kau pikir aku bisa bertahan selama itu, Hanna? Sudah kubilang, ‘kan? Aku ini laki-laki.”

“Kau sudah mengatakan, tak akan membuatku melepas ini sebelum waktunya.” Hanna mengangkat tangan kirinya, Sehun tersenyum lagi.

“Aku hanya manusia yang memiliki batasan dalam menahan diri. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, termasuk apa yang akan kita lakukan nanti malam.”

“Sehun!”

“Aku serius, Hanna. Suatu saat nanti, kau sendiri yang akan membuatku kehilangan kendali. Tak hanya itu, terikat dalam sebuah hubungan sederhana bersamamu dalam waktu lama, sama halnya dengan aku memberikan kebebasan pada Willard untuk menjadikanmu menantunya.”

Hazel Hanna membulat sepersekian detik, lalu teringat Skandar yang merupakan sahabat baik Sehun. Tak heran, jika pria itu tahu bahwa Ayah Skandar yang paling berambisi dalam hal ini.

“Itu tidak akan terjadi. Ayah memberikanku kebebasan untuk menentukan pilihan—“

“Kau pikir, Willard sudi kau permalukan begitu saja, hm?” Sehun mengecup bibir Hanna sekilas. “Ternyata kau masih sangat naif, Sayang.”

“Apa maksudmu?”

“Bisnis. Sebelum mengenalmu, aku senang sekali bermain-main sebelum menaklukan lawan. Pola pikir orang seperti Willard bukanlah hal sulit untuk kubaca. Tinggal kau pilih, menikah denganku atau Skandar setelah lulus nanti?”

“Sehun—” Terpotong. Fokus Hanna keburu tertarik pada getar ponsel di atas meja samping sofa. Dengan malas, Sehun meraih ponselnya, membaca ID caller sekilas, lalu memberikannya pada Hanna.

“Kai?”

“Ya. Angkat saja!”

“Tapi ini ponselmu. Panggilan ini untukmu.”

“Kalian yang perlu bicara. Minta maaf-lah padanya!” Sehun tak menghiraukan. Ia tahu, Kai menghubunginya hanya untuk basa-basi sebelum menanyakan kabar Hanna. Kecupan sayang di kening pun ia berikan, sebelum bangkit berdiri demi memberikan Hanna privasi. Namun, Hanna justru menahannya agar tak pergi. “Sehun, aku tak lagi menghubunginya setelah memberikan surat kuasa kepemimpinan Ritz-Carlton Tower.”

Sehun duduk lagi. Mengerti gelisah Hanna yang merasa tak nyaman jika tiba-tiba mengangkat panggilan Kai setelah sekian lama tak menghubunginya. “Maka dari itu, kau harus meminta maaf Hanna. Kai itu sahabatmu, dia sangat menyayangimu. Apa pun kesalahanmu, dia akan tetap memaafkanmu. Cepat angkat!”

Hanna menatap lagi ponsel di tangan, menghela napas, menjilat bibir cepat, lalu dengan gerakan setengah ragu, warna hijau pun digesernya.

“Hei, Se—“

“Kai, ini aku ….”

“….”

Tak ada suara lagi. Hanna tanpa sadar menggigit kuku telunjuk—kebiasaan yang baru Sehun sadari akan muncul setiap kali gadis ini gelisah. Hazel cantik itu lantas menatap lurus ke arahnya, lalu menggeleng pelan. “Bicaralah!” bisik Sehun di samping telinga, dilanjut dengan kecupan kecil di pipi.

“Aku tahu kau marah.”

“….”

“Aku mengaku salah.”

“….”

“Maafkan aku.”

“….”

“Katakan apa kesalahanmu, Sayang!” bisik Sehun, gemas. Cara Hanna meminta maaf sama saja seperti pada saat meminta maaf padanya. Lirikan sekilas pun didapat, sebelum kancing kemejanya menjadi pelarian gerakan gelisah gadis itu.

“Aku pergi tanpa mengatakan apa pun, aku tak pernah memberi kabar selama menetap di Paris, aku menyusahkanmu dengan posisi penting, dan aku—“

“Aku merindukanmu, Hanna.”

Yang mendapat ungkapan rindu hanya berkedip sekali, lalu bisu.

“Hanna, apa kabar? Aku sangat merindukanmu!” Entah perasaan apa ini, sampai membuat Kai mengecup puncak kepala Jenny berulang. Namun yang pasti, ia amat bahagia mendengar suara Hanna beserta permintaan maafnya. Si batu mulai melebur rupanya. Pikirnya, senang.

“Jadi kau tidak marah?”

Pertanyaan itu terdengar amat lugu saat diucapkan takut-takut. Senyum Kai semakin lebar membayangkan wajah Hanna saat mengatakan itu, tanpa tahu Sehun sudah mencium sahabatnya itu bertubi.

“Awalnya, ya. Tapi, kau sudah meminta maaf. Tak ada alasan untukku tetap marah padamu.” Kai tahu betul tipikal orang seperti apa Hanna. Mendengarnya merendah dan meminta maaf saja sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan segala kekecewaannya selama ini.

“Terima kasih.”

“Hanya itu saja?”

“Aku sedang tersenyum, jika kau ingin tahu.”

“Tak ada ungkapan lain? Kau tidak merindukanku?”

“Aku merindukanmu.”

“Yang lainnya?”

“Aku menyayangimu.”

“Ada lagi?”

“Kai!”

“Ha ha ha ….”

-Ambition-

Le-Meurice-hotel

Le Meurice Restaurant

Terletak di jantung kota Paris dengan suasana gastronomi Galia nan mewah. Lampu kristal, lantai mosaik, tirai damas dengan pemandangan Taman Tuileries menjadi pelengkap. Makanan yang dimasak dengan teknik kuliner klasik antik Escoffier sudah tertata rapi di atas meja bundar. Minimal € 200 harus dikeluarkan untuk satu porsi makan yang bahkan tak lebih banyak dari satu mangkuk makanan hewan.

“Kau mencintai putriku, Nak?”

Lagi. Sebuah pertanyaan sederhana mampu membuat Skandar ingin lari, menghindar. Matanya lantas terpejam, namun bukan untuk memikirkan jawaban. Melainkan untuk sekedar menenangkan diri dari perasaan dasyat yang bergetar samar setiap kali ada orang yang menyinggung gadis pujaan hatinya. Freddie, si obsidian biru, melirik. Keterdiaman Skandar membuatnya heran, pun dengan Jo Khaza yang duduk terhalang meja dari keduanya.

“Ya, Paman. Tapi kumohon, hentikan perjodohan ini!”

Sendu sudah tatapan Freddie mendengar permintaan sahabatnya ini. Hanya tepukan di bahu yang mampu ia berikan, lalu tatapan, “Die, aku melakukan hal yang benar, ‘kan?” Freddie lihat dari Skandar. Ia bahkan tak menyangka, pria ini begitu pengertian sampai meminta dukungannya untuk menemui Ayah Hanna yang baru saja tiba di Paris. Skandar sendiri baru saja tiba tadi pagi, tak sepertinya yang memang sudah satu minggu berada di sini. Freddie tak segera pulang ke New York setelah Hanna berada di tangan Sehun karena memang ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Jadi, keberadaannya di sini bukan semata untuk melihat kemesraan sahabat beserta mantan kekasihnya.

“Sudah kukatakan sebelumnya, Nak. Keputusan ada di tangan putriku …,” Jo meraih gelas berisi air benih di samping kanan tubuh, lalu melanjutkan, “—juga ayahmu.”

“Ayahku tidak akan mendengarkanku, Paman. Aku sudah coba bicara, tetapi Beliau tetap memaksa. Aku mohon, hanya Paman yang bisa menghentikan ini semua.”

“Aku juga tidak bisa, Nak. Ayahmu bahkan memberikanku pilihan. Kau tahu itu, ‘kan?” Jo meneguk pelan air putihnya.

“Pilihan?” Skandar tertarik pada satu kata.

“Ya. Kau tidak tahu soal ini?” Freddie dan Skandar saling tatap tak mengerti. Menyadari itu, Jo bungkam. Namun juga menimang untuk mengatakannya atau tidak, sementara David sendiri tidak memberitahu anaknya. Akan tetapi, merasa Skandar pantas mengetahui ini, keterbukaan pun dipilihnya. “Jika Hanna tidak memilihmu, maka Ritz-Carlton harus kulepas. Itu pilihan yang ditawarkan ayahmu.”

“Apa?” Sontak satu kata keluar dari dua mulut yang berbeda.

“Aku mohon untuk tidak mengatakan ini pada Hanna, jika kalian bertemu nanti. Aku tak ingin putriku melepas kebahagiaannya karenaku. Namun jika sudah saatnya, aku sendiri yang akan memberikan Hanna pengertian.” Jo mengambil pisau dan garpu. Siap menyantap makanannya, jika saja Skandar tak menghentikan.

“Ayahku keterlaluan. Jangan khawatir Paman, aku yang akan bertindak.”

“Tidak.” Jo menggeleng pelan. “Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu menjadi seorang pembangkang. Namun sebaliknya, aku ingin kau menghormati keputusan ayahmu.”

“Tapi Paman—“

Jo menempatkan telunjuk di depan bibir, Freddie mencekal pergelangan tangan sahabatnya. Skandar pun melunak dalam sekejap.

“Kalian tahu? Jika Hanna marah ataupun tak setuju dengan pendapatku, maka ia akan diam seribu bahasa sampai berhari-hari lamanya ketimbang harus menentangku mentah-mentah. Kenapa? Karena Hanna begitu menghormatiku sebagai orang tuanya, bahkan bicara dengan nada tinggi pun ia tak pernah. Aku pikir hanya kepadaku, namun ternyata itu berlaku pada semua orang. Termasuk padamu …,” Jo menunjuk Freddie. “benarkan, Die? Katakan, apa saat Hanna marah padamu, kau pernah menerima makian darinya dengan nada tinggi tak terkontrol?”

“Tidak. Sekalipun Hanna meledak, ia tetap menganggapku pria dewasa yang tak perlu dimaki dan diteriaki agar mengerti.”

“Kau mengerti, Skandar? Aku mengatakan ini agar kau tak terkejut apalagi sampai mengeluarkan nada tinggi pada ayahmu saat mengetahui langsung dari mulutnya. Jika kau ingin bicara, maka gunakan bahasa sehalus mungkin. Dan jika Beliau tetap pada pendiriannya, maka hormati itu. Jangan khawatirkan aku! Aku memiliki Ritz dan Carlton untuk menunjang masa tuaku. Dan putriku, aku yakin, putra Thomas Bertelsmann tidak akan membiarkannya hidup dalam kekurangan.”

“Aku mengerti, Paman.” Skandar menunduk. “Tapi, sungguh! Aku tak mengerti mengapa ayahku sampai melakukan hal seperti ini.” Nafsu makan Skandar hilang. Kepalanya pusing memikirkan tindakan sang ayah, yang menurutnya tak berdasar. Menganggap demikian karena memang sulit terjangkau nalar, di mana kehendak dipaksakan begitu saja hanya karena sosok sempurna Hanna. Ia yakin, ayahnya melakukan ini tak semata karena ia menyukai gadis itu.

“Memangnya kau tidak tahu, keuntungan apa yang didapat jika kalian sampai menikah?” Freddie bertanya. Skandar melirik dan diam.

“Marriott International memiliki banyak anak perusahaan, salah satunya Ritz-Carlton. Dan jika kau dan Hanna bersama, maka Marriott akan dipandang sebagai perusahaan nan hangat, pandai merangkul anak. Itu akan menarik banyak mata investor, bahkan mengakuisisi ataupun merger dengan perusahaan lain akan semakin mudah dilakukan.” Freddie menjeda. Pola pikir liciknya sebagai darah keturunan Rockefeller berlaku di sini.

“Yang menjadi masalah ada pada penolakan Hanna nantinya. Jika Paman sampai mundur dari jabatan tertinggir presiden Ritz-Carlton Hotel Company L.L.C., maka nama besar keluarga Ritz akan hancur di mata para pengusaha.”

Jo mengangguk paham. Ia sudah memerhitungkan resiko ini dan merasa itu tak masalah asal Hanna bahagia.

“Masalah kedua ada pada keluarga besar Bertelsmann, karena Sehun adalah seorang pewaris. Di sini, garis keturunan-lah yang akan menentukan layak tidaknya Hanna untuk menjadi pendamping penerus Bertelsmann tersebut. Dan jika keluarga Ritz kehilangan kejayaan di tangan Marriott, maka Bertelsmann akan berpikir dua kali untuk merestui hubungan Sehun dengan putri Anda.”

“Tidak, Die. Aku pernah bertemu dengan Ayah Sehun. Beliau bukan orang seperti itu.” Skandar menyela.

“Aku pun pernah bertemu dengan Beliau. Melihatnya sekilas saja langsung mengingatkanku pada Paman Jo. Beliau tak peduli pada harta, martabat, dan kejayaan. Beliau hanya bekerja untuk kebahagiaan keluarganya. Dan yang kubicarakan di sini mencangkup keseluruhan keluarga besar Bertelsmann. Para petingginya tak akan membiarkan Sehun menikahi seorang gadis yang tidak akan memberikan keuntungan berarti untuk mereka. Mengerti?”

Ya. Ini di luar dugaan. Jo hanya memandang Sehun dan ayahnya tanpa memerhitungkan sudut pandang para petinggi Bertelsmann itu sendiri. Mendengar penjelasan Freddie untuk Skandar benar-benar membuatnya sadar bahwa ia hidup di dunia bisnis.

“Jika Hanna sampai tahu, maka dia akan memilihku?”

“Ya. Karena Hanna tidak akan membiarkan ayah dan pria yang dicintainya hancur.”

-Ambition-

kelopak-bunga-warna-warni-jadi-desain-fashion-modern-yang-mengagumkan

Kelopak bunga warna-warni digunakan untuk menggambar pola desain adalah cara unik yang Seolhyun gunakan sejak menjadi seorang desainer. Dan Jenny terlihat antusias melihat gadis ini melakoni hobinya. Pekerjaan yang Sehun berikan sendiri sudah selesai Seolhyun gambar, hanya tinggal menunggu pria itu pulang dan melihat hasilnya.

“Ini sangat cantik, Seolhyun-ah. Caramu sangat unik, pantas kau bisa bekerja di rumah fashion terkenal di Korea.”

“Ini bukan apa-apa, Jen.” Seolhyun mengangkat wajah, lalu tersenyum.

“Ini luar biasa tahu. Hanna pasti akan menyukainya.”

“Siapa Hanna?” tanya Seolhyun, refleks. Tanpa mengangkat wajah.

“Hah-eh … dia sahabat kekasihku. Penggila fashion juga,” jelas Jenny. Seolhyun seketika mengangkat wajah mendapati gelagat anehnya. Senyum canggung pun dilihat sebagai pelengkap perubahan sikap.

“Bisnis seperti apa yang Sehun kerjakan di Paris, Jen?” Seolhyun tiba-tiba keluar alur. Entah mengapa, mendengar nama Hanna membuatnya penasaran akan aktivitas Sehun di Paris. Saling berhubungankah? Seolhyun tidak tahu. Ia hanya merasa Paris dan wanita memiliki hubungan erat akan alasan penolakan Sehun terhadapnya. Ia juga ingat, Sehun pergi ke Paris pada malam minggu saat berada di Korea. Menurutnya, sedikit berlebihan jika bisnis dikerjakan pada hari itu, meski ya memang itu tak menutup kemungkinan. Dan sekarang, sudah satu minggu lebih Sehun berada di sana dengan alasan yang tidak Seolhyun ketahui.

“Em … Sebenarnya, bukan untuk bisnis.” Jenny tersenyum kikuk. Seolhyun menatapnya was-was sekaligus mengutuk debaran di dada. “Gadisnya kuliah dan bekerja di sana, jadi yaa begitulah.” Berniat ingin diam sampai Sehun sendiri yang bicara, namun nyatanya tetap buka mulut juga. Jenny hanya ingin menjaga perasaan Seolhyun. Itu saja. Tapi, tingkah canggungnya setelah menyebut nama Hanna mengacaukan segalanya.

“Jadi, benar? Sehun sudah memiliki kekasih?” lirih Seolhyun. Jenny mengangguk pelan. “Seperti apa gadisnya?” tanyanya, kemudian. Lengkap dengan senyum pembungkus luka. Bodohnya, Jenny mengartikan itu sebagai keikhlasan, sementara tahu Sehun baru saja menolak gadis itu satu bulan lalu.

“Sama seperti Sehun, dia seorang pemimpin perusahaan.”

“Siapa namanya? Pasti cantik!”

“Yang kusebut tadi … Hanna. Khaza Hanna. Untuk masalah cantik tidaknya, aku rasa, kau yang jauh lebih tahu selera Sehun daripada aku, Seolhyun.” Jenny meraih dan menggenggam tangan desainer cantik itu. “Aku mengerti perasaanmu, tapi cobalah buka hatimu. Jangan hanya terpaku pada satu pria. Cukup sudah kau menyiksa dirimu dengan menunggu seorang Oh Sehun. Kau cantik, ah, tidak, kau bahkan sangat cantik Seolhyun-ah.” Sebelah tangan Jenny menyentuh lembut pipi kanan Seolhyun.

“Buka juga matamu! Masih banyak pria tampan di luar sana yang menginginkan gadis cantik sepertimu. Asal kau tahu, Sehun memiliki dua orang sahabat tampan yang memiliki rupa setara dewa. Mereka sangat menyukai gadis baik-baik. Aku yakin mereka akan menatapmu setelah mengenalmu lebih jauh.”

“Aku tahu, mereka ramah namun sama halnya dengan Sehun. Aku tidak pantas mengenal mereka lebih jauh.”

“Tidak. Jangan seperti itu. Cinta tak memandang status. Mereka berkuasa. Apa pun akan mereka lakukan untuk mendapatkan ataupun melindungi sesuatu yang mereka cintai. Dan kau pantas mendapatkan salah satu dari mereka, percayalah! Hanya tinggal menunggu waktu sampai salah satu dari mereka benar-benar menatapmu.”

“Jangan berlebihan, Jen. Setelah mengerjakan pesanan Sehun, aku akan kembali ke Korea.”

“Dan selama kau sibuk menjahit pola dalam bentuk kain, maka akan ada pria yang tertarik untuk mengenalmu lebih jauh.”

“Jenny, jangan menggodaku!”

-Ambition-

The Pinnacle List

Screenshot 520 Park Avenue di layar laptop tak lelah menarik semua perhatian Sehun. Bola matanya jeli menelisik setiap sisi bangunan dengan kacamata bening di hidung bangir. Gambar tersebut diambilnya dari vidio iklan yang akan digunakan untuk promosi nanti. Bangunannya sendiri sudah 90% selesai dikerjakan, hanya tersisa bagian dalamnya untuk bagian dekorasi desain interior. Itu pun hanya tinggal merapikan beberapa sisi dan menempatkan proferti rumah tangga.

Hebatnya, sudah banyak customer yang menginginkan singgah di apartemen dengan penthouse termahal tersebut. Banyak di antara mereka yang sudah membeli dan meminta desain sesuai keinginan. Tentu, ini sangat menguntungkan puluhan kali lipat dari target para pemegang saham. Dengan ini, mereka harus berterima kasih pada peran aktif Sehun dan peran pasif Hanna dalam menjalankan kuasa kepemimpinan.

Rumor yang beredar sebelumnya juga memiliki pengaruh besar, di mana dua orang pemimpinnya terlibat hubungan asmara. Meski pada kenyataannya, Hanna tak lagi ikut dalam kegiatan para pemegang saham 520 Park Avenue selepas memberikan surat kuasa pada Sehun seorang. Di luar itu, Sehun tak pernah menghapus namanya dari bangku kepemimpinan, bahkan tak pernah berniat untuk membahas selembar kertas itu dengan Hanna. Ia tahu, gadisnya kehilangan kedali sampai tak segan melepas mimpinya. Jadi, biarkan saja semuanya berlalu, toh, semua itu akan tetap menjadi milik Hanna. Masa bodoh dengan tujuan awalnya mendekati gadis itu. Ia terlanjur mencintai dan menginginkan rivalnya itu melebihi apa pun.

Mungkin ini yang dinamakan; diberi jantung, minta hati.

Entahlah. Mana Sehun peduli. Telunjuk kanannya sudah bergerak abstrak mengarahkan kursor pada gambar berikutnya. Seringai tipis pun tercipta mendapati foto Hanna yang didapat dari Kai berbulan-bulan lalu. Sontak telunjuknya mengetuk dua kali, lalu tampilan gambarnya membesar. Sehun segera mengarahkan zoom pada wajah cantik Hanna hingga memenuhi seluruh sisi layar laptopnya.

“Laki-laki mana yang akan rela melepasmu setelah mendapatkanmu, Hanna?” Telunjuk Sehun bergerak lagi, kali ini menyentuh layar. Penuh rasa, seakan tak pernah menyentuh wajah gadisnya secara langsung. Beralih ke bibir yang kemudian berakhir dengan mendamba dan memuja, sampai tergoda ingin melumat habis hingga Hanna melenguh pasrah. Ia sudah gila.

Terlepas dari semua itu, Sehun tahu jalannya untuk memiliki Hanna tidak akan mudah. Ia jenius, tidak bodoh untuk bisa membaca situasi. Apalagi, setelah Skandar mengiriminya sebuah e-mail yang berisi surat pengunduran diri sekaligus pengalihan kepemimpinan Ritz-Carlton Hotel Company L.L.C., atas nama Jo Khaza. Membacanya sekilas saja, Sehun sudah tahu itu bukan atas dasar keinginan ayah dari kekasihnya tersebut. Terlebih, belum ada bubuhan tanda tangan di pojok kanan surat kuasa tersebut. Hingga membuat Sehun mengerti, surat itu digunakan sebagai konsekuensi dari sebuah keputusan.

Tak berselang berapa lama, getar ponsel di nakas samping tubuh pun mengalihkan lamunan singkatnya. “Ya. Aku sudah membacanya.” Sehun lekas berucap selepas menyambung panggilan. Di tempatnya, sang lawan bicara justru mengambil posisi tidur sebelum bertanya. “Apa yang akan kau lakukan, Sehun?”

Sehun melepas tiga kancing kemeja putihnya, panas. “Kau tak bisa menghentikannya sendiri?” tanyanya, ringan. Seakan tak ingin terbawa suasana hati yang mendadak panas bak belerang. Mengalahkan panas di kamar tamu apartemen Hanna yang entah sejak kapan AC-nya tak lagi berfungsi.

“Jika aku bisa, kau tak akan mendapat pesan itu dariku, Sehun,” jawab Skandar. Matanya terpejam, menahan kantuk. Ini sudah lewat tengah malam, namun masalahnya harus segera diselesaikan apalagi sang ayah sudah mendesak. Helaan napas Sehun pun didengar, disusul suara baritonnya. “Akan aku pikirkan.”

“Aku akan menunggu, tapi hanya sampai besok. Aku sedang berada di Paris sekarang, sudah dua hari. Freddie juga baru saja kembali ke New York tadi pagi. Bisakah kita menyusulnya bersama untuk pulang ke New York nanti malam?”

Pulang? Sehun baru empat hari tinggal bersama Hanna, masih ada sisa waktu tiga hari lagi sebelum masa cutinya habis. Akan tetapi, ini permintaan sahabatnya yang juga tak kalah penting dalam hidupnya. Mau tak mau, Sehun harus bisa imbang dalam urusan persahabatan dan cinta jika tak ingin kehilangan keduanya. “Baiklah, kita bicarakan lagi masalah ini setelah tiba di New York bersama Freddie.”

“Hm ….” Hanya gumaman halus penuh rasa kantuk yang Sehun dengar sebelum panggilannya terputus. Lalu, hembusan napas kasarnya mengisi ruang hampa sampai bising. Pelan-pelan, Sehun bangkit dari duduk. Mengemas laptopnya ke dalam tas. Terdiam sejenak, berpikir untuk mengemas bajunya juga. Namun teringat akan kebiasaannya yang selalu datang ke Paris setiap minggu untuk sekedar melihat Hanna.

Biarkan sajalah. Batinnya, tak mau ambil pusing. Ia akan pulang dengan sehelai pakaian saja dan meninggalkan sisanya di sini. Lagipula, semua barangnya tak akan mengusik gadis itu karena mereka tidur di kamar terpisah. Namun masalahnya sekarang, ada pada pendingin ruangan kamar ini. Sehun kepanasan.

Karena mulai berkeringat, Sehun melepas seluruh kancing kemejanya. Lalu melempar asal kain putih itu sebelum telungkup di kasur dengan wajah menyamping. Mencoba untuk tidur dengan caranya, meski Sehun yakin ini akan sulit. Ia memang paling tak bisa tidur dalam ruangan tanpa pendingin, namun tak mau mengusik Hanna di kamarnya. Karena mengusik gadis itu di tengah malam sama dengan membangunkan gairahnya. Jangankan malam, hormonnya bahkan selalu bereaksi cepat setiap kali melihat keindahan tubuh Hanna di bagian tertentu. Bahkan, Sehun tak segan melarang Hanna mengenakan baju kurang bahan selama bersamanya. Terhitung, semenjak melihat Hanna menggunakan bodycon dresses berwarna peach di hari kedua pada pagi hari, hingga mengharuskan gadis itu mengganti bajunya dengan dress selutut berwarna cream.

Namun, ketangguhannya kembali diuji. Ketukan dua kali di pintu kamar menariknya untuk membuka mata dan bangkit dari tidur. Kemeja putih di kaki ranjang pun Sehun raih dan pakai tanpa pikir panjang. Lalu, beralih ke handle pintu untuk kemudian dibuka. Alisnya serta merta menukik mendapati punggung Hanna yang berjalan menjauh.

Glup.

“Hanna?”

Kau payah, Oh Sehun! Batinnya ketar-ketir. Melihat tubuh semampai di tengah malam dengan gaun tipis di atas lutut. Model backless dengan halter neck mempertontonkan kulit putih susu Hanna dengan bangga. Sehun mati-matian menahan diri untuk tidak menarik dan menerkam gadis itu sekarang juga. Sayang, Hanna malah berbalik seakan minta dimangsa, meski sedetik kemudian berbalik lagi dengan mata tertutup rapat.

“Sehun, kemejamu!”

Cukup sudah. Sehun menyerah! Sisi naif Hanna benar-benar menantangnya untuk berulah malam ini.

.

.

.

CUT

.

.

.

Author’s Note

Lama lagi, ya? Hee
Atuhlah, aku gak bisa fokus. Tau ngapa. Akhirnya gak percaya diri buat post, padahal Ambition ini FF dengan konflik teringan yang pernah aku buat. Ditambah, kemaren sempet flashback sama Regret gegara dapet puluhan pengaduan dari mereka yang belum bisa move on. Aku jadi ikutan baper *lah

OKE SKIP

Omong-omong, FF ini bakal berakhir 2/3 Chapter lagi. Terus akan ada spesial chapter di akhir yang cuma bisa dibuka dengan “kunci bersyarat” karena rating yang lebih tinggi dari chapter lain, jadi cukup kesadaran masing-masing aja sebelum meminta jawaban dari aku. Intinya, kalau kalian peduli, aku akan lebih peduli, ngertikan?

Terus, udah ada yang nanya project FF baru aku apa? Udah ada kok, cuma belom mateng ide-nya. Jadi, setelah Ambition ini tamat, aku mau ngeremake My Fate dulu. Buat yang lagi baca FF itu mending stop dulu, tunggu versi lebih baiknya dengan kemasan lebih rapi. Tapi alur intinya tetep sama, kok.

Ya, udah. Itu aja, makasih ya masih mau nunggu, baca, dan komen. Makasih buat semua kehadirannya^^

Ini Bonus buat kalian….!!!!

Ambition [EXTRA Chapter]

Lobee you ❤

Regards,

Sehun’Bee

Advertisements

762 responses to “Ambition [Chapter 11] – by Sehun’Bee

  1. Hem….
    Ini sebener.a yg suka sama hanna di pesain apa bapak.a sih,.
    Kenapa malah bapak.a yg ngotot pengen dapetin hanna. Sampe pake cara licik gitu,. -_-

  2. semakin kesini semakin menjadi konfliknya…. jeng…. jengggg….
    bagaimanakah??? kelanjutannya???… Hanna dan Sehun akan tetap bersama atau sebaliknya???? JENG… JENG…. JENGGG….
    kita serahkan kepada Author yang buat, da aku mah apa cuma baca dan coment aja… hahahaha
    #abaikan iya comentan aku yg g penting… hehehe…
    tambah kesini konfliknya bermunculan,,, makin seru…
    buat author.. selamat atas kerja kerasnya membuahkan FF yang keren… #itumenurutakuiya…
    klo g setuju jg gpp.. hehehehe

  3. ngebayangin sehun klo lgi tidur tuh kya apa yeah… ngebacanya sampe senyum” sendiri.. 😀

    iiiihhh… sumpah ayahnya skandar itu loh… bikin kebagiaan orang ilang ajh.. :/

  4. suka banget sama karakter sehun yang licik, possesive, agresif, kekanakan. cemburuan, tapi dia cerdas, tampan, dan penuh kasih sayang terhadap orang yang dicintainya

  5. Disini banyak bgt moment hanna sama sehun apalagi pas baca bagia sehun yg mnja2 gitu ,, sebnernya aku kurang suka ff yg berbau tentang bisnis ya kaya garing gitu tpi krna ff ini pikiran ku tentang ff yg ada berbau bisnis itu garing aku hapus :’v

  6. habis baca part ini tu malah jadi kepikir lanjutan hubungan hanna sama sehun,, babenya scandar tu licik bgt sih, masa cuma gara gara dia sehun jadi mau pisah sama hanna padahal hubungan sehun ma hana lagi membik,, brharapnya di next chapter stelah hanna tau masalah ayahnya hanna tetep milih sama sehun daripada mmprtahnkn nama baik keluarganya,, see you eon, wait me di next chapter ea 😃😃

  7. habis baca part ini tu malah jadi kepikir lanjutan hubungan hanna sama sehun,, babenya skandar tu licik bgt sih, masa cuma gara gara dia sehun jadi mau pisah sama hanna padahal hubungan sehun ma hana lagi membik,, brharapnya di next chapter stelah hanna tau masalah ayahnya hanna tetep milih sama sehun daripada mmprtahnkn nama baik keluarganya,, see you eon, wait me di next chapter ea 😃😃

  8. Suka banget kalo Sehun lagi manja wkwk, dan ya sebenernya konflik di ff ini klasik cuman suka sama penggambarannya keren

  9. iri banget sama persahabatan sehun- skandar- freddy, mereka saling mengalah gak hanya mentingin ego,,
    ak sbenernya rada deg-degan baca chapter ini, gak tau kenapa,,

  10. Eon aku minta pw yg chapter 10 dong eon.penasaran bgt sama kelnjutan ep 9b.aku bacanya lngsung ke chapter11 T.T

  11. Ayah skandar jahat banget sih..btw sehun manja amat yawlaahh curi kesempatan lgi..pokoknya ff ini keren sumpah..aku jdi mw ketemu langsung ama authornya

  12. Bapaknya skandar gemesyiiinn deh! Pengen aku gigit sampe dia jerit2 kyk cewek wkwk
    Setelah aku baca chapter ini aku makin tjintahh sama si skandar, omooo kamu baik banget… Udah bang skandar sm aku aja yah 😁 bye, kok aku punya bad feeling yaa tentang hubungan nya sehun sama hana(?) pliss jangan pisahkan mereka authornim🙏

  13. Iihhhh knp sih appa y skandar gitu bgt…..maksa ampe ngelakuin kaya gitu..kan kasian sehun ma hanna..skandar juga sih…

  14. bapak nya skandar mana?? mau aku suruh naik mobil setnov yang nabrak tiang listrik thor -_- tega amat jadi nenek sihir penghalang hubungan seseorang kek dongeng disney –” smoga sehun sama hanna tetep teguh dan bisa melewati bapak sihir itu euhh , goodjob thor !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s