Strange Feeling (Chapter 2)

Strange Feeling

Poster By Zesavanna @ saykoreanfanfiction.wordpress.com

Title : STRANGE FEELING

Author : Kiranti23

Cast  : Kim Jong In (EXO), Song Da Na (OC), Oh Sehun (EXO), Lee Jae Hee (OC),

Genre                   : Romance

Rating                   : General

Length                  : Chapter

Disclaimer           : The whole of story is originally made by me dan dengan sisa – sisa imajinasi yang ada

voila~~ jadilah FF ini, maaf banget kalo jalan ceritanya kependekan atau ngaco. Big thanks and hugs for the SKF artworker Zesavanna for make this beautiful poster, thanks juga buat seluruh admin yang masih menjadikan aku Author tetap meskipun bayangannya jarang terlihat. I’ll try and working hard, so enjoy the Fan Fiction!!

Keesokan harinya dikampus, tidak seperti biasanya mahasiswa sibuk dengan kegiatannya masing- masing tanpa memperdulikan Da Na. Tapi hari ini saat Da Na berjalan menuju lokernya, semua orang dilorong itu memperhatikan dirinya, entah itu dengan raut kesal, iri atau kagum. Saat beberapa langkah lagi dia sampai didepan lokernya, disana berdiri seorang pria dengan wajah dingin dan angkuhnya bersandar didepan loker Da Na. Dia adalah Kim Jongin. Manusia terakhir yang ingin dia lihat dalam daftar kehidupannya setelah insiden itu.

“kau datang terlambat hari ini?” Da Na tertegun, masih berfikir bahwa yang ada didepannya hanya ilusi semata, karena tidak mungkin Jongin mengajaknya berbicara dikampus. Selama ini Jongin hanya bersikap tidak peduli padanya dikampus, tidak mengajaknya berbicara, melihat pun tidak.

“ingat kau masuk dalam masa percobaan kedua mu, setelah kau melanggar batas pribadiku yang kedua nona Song” bisik Jongin tepat ditelinga Da Na, sementara mahasiswa yang kebanyakan perempuan ditempat itu memekik merasa iri dengan perlakuan Jongin. Da Na hanya memejamkan matanya pasrah dengan apa yang dilakukan Jongin. Tanpa Da Na sadari, jantung Da Na berdegup kencang mengingat jaraknya dengan Jongin sangat dekat sekarang.

Setelah mengatakan itu, Jongin langsung berlalu pergi dari sana meninggalkan Da Na yang masih tertegun dan beberapa mahasiswi yang menatap Da Na dengan tatapan sinis. Da Na baru akan membuka lokernya saat tiga orang wanita menghampiri dan menepuk pundaknya.

“Ya, neo nuguya? Kenapa kau bisa sedekat itu dengan Jongin?” tanyanya sinis, mahasiswi didepannya ini adalah Kang Sooyoung. Mahasiswi popular, dia juga bisa disebut sebagai sasaeng Fans Jongin. Darimana Da Na tahu? Siapa lagi kalau bukan Ahra, sahabatnya satu itu memiliki mata dan telinga yang tajam, jadi wajar saja jika selulusnya dia dari uniersitas ini, Ahra diterima sebagai detektif di Korea.

“Ck, kau bahkan bukan mahasiswa popular di universitas ini, ah matda, kau bukannya mantan kekasih Oh Sehun? Jangan- jangan setelah Sehun, kau juga mengincar Jongin?” Da Na hampir saja membalas kata- kata yang keluar dari mulut Sooyoung jika saja Sehun tidak datang kesana.

“Ya Kang Sooyoung, lebih baik kau pergi! Ganggu saja Jongin-mu itu, jangan ganggu Da Na!” usir Sehun, sementara Sooyoung hanya mendecakkan lidahnya dan pergi bersama dengan kedua temannya.

“gwaenchana?” Tanya Sehun lembut, Da Na hanya menyunggingkan senyumnya. “kau mengenal Jongin? Jangan terlalu dekat dengannya, arra! Ini bukan permintaan tetapi perintah!” ujar Sehun dengan raut wajah serius, sebenarnya ada apa dengan Sehun. Dia tidak pernah memerintah Da Na untuk menjauhi siapapun sebelumnya. Bahkan dulu Sehun selalu mengatakan pada Da Na untuk banyak bergaul dengan lingkungan universitasnya.

“kau tidak dalam kapasitas untuk memerintahku, hun. Tidak akan terjadi apa- apa juga jika aku berdekatan dengannya, jadi jangan khawatir, eoh” Da Na menyunggingkan senyumnya sekali lagi dan berjalan menuju kelasnya. Sementara Sehun seperti mendapat tamparan atas kata- kata Da Na. Kata- kata Da Na barusan seperti membuatnya kembali tersadar dalam kenyataan bahwa Da Na sudah bukan miliknya lagi dan mengingatkannya pada hari pertunangannya yang akan berlangsung tidak lama lagi.

-o-

Malam ini latihannya dengan Taeoh berakhir lebih cepat dari biasanya. Da Na juga tidak tahu, tiba- tiba saja Taeoh ingin mengakhiri jam latihan tidak seperti biasanya. Seperti biasa, Da Na merapikan peralatan dan buku- buku musiknya.

Setelah selesai dan mematikan lampu studio, Da Na menuruni tangga menuju lantai satu. Dilihatnya sebuah ruangan yang berseberangan dengan tangga yang sedikit terbuka dan membuat suara orang yang berada didalamnya terdengar hingga keluar. Da Na melambatkan langkahnya, sedikit merasa tergugah untuk mengetahui pembicaraan orang yang ada didalam sana, yang sepertinya sedang marah.

Plak!

“Kim Jongin! Ayah sudah berapa kali bilang padamu untuk menghentikan saja mimpi konyolmu itu menjadi penari dan serius mempelajari bisnis!! Kau masih tidak mengerti?!” Da Na sedikit tersentak mendengar seseorang sedang memarahi Jongin bahkan menamparnya dan sepertinya Jongin tidak merespon apapun yang dikatakan Ayahnya.

Tak berapa lama, Jongin keluar dari ruangan itu dengan wajah dingin dan datarnya. Jongin sedikit terkejut saat mendapati Da Na tengah berdiri diujung anak tangga itu. Da Na yang tersadar tertangkap basah mencuri dengar langsung menundukan wajahnya dan beranjak dari sana. Namun, Jongin langsung menangkap lengan Da Na dan menahannya. “biar aku antar, sudah menjadi kewajibanku mengantarmu pulang bukan”.

Didalam mobil suasana menjadi sangat canggung. Disatu sisi Da Na inign sekali tahu apa yang terjadi dengan Jongin. Namun, disisi lain Da Na merasa sudah terlalu jauh dalam mencampuri urusan Jongin.

“Aku lapar, kita pergi ke tempat makan terlebih dahulu, oke?” Tanya Jongin tanpa menatap kearah Da Na.

“Jika aku menolak, kau juga tetap akan membawaku kesana bukan?” omel Da Na seolah telah menghafal sifat- sifat Jongin. Sementara Jongin hanya tersenyum kecil menanggapi omelan Da Na. Ya, Jongin memang akan tetap membawa Da Na ke tempat yang dia mau jika Da Na menolak.

“kau sedang dalam masa percobaan nona Song, kau tidak diperbolehkan menolak permintaanku, arra”.

-o-

Mereka akhirnya sampai disebuah kedai makanan dipinggir pantai. Daerah ini cukup jauh dari pusat kota. Da Na pun tidak menyadari bahwa Jongin akan membawanya hingga sejauh ini. Jongin dan Da Na keluar dari mobil, kemudian memasuki kedai itu. Jongin memilih duduk dibagian luar kedai itu yang memiliki pemandangan pasir pantai dan laut yang luas.

“Jika saja setiap mau makan, kau mengajakku kesini. Mungkin aku sudah mati kelaparan dijalan” omel Da Na dan tidak dipedulikan oleh Jongin. Entahlah, Jongin seperti sudah terbiasa dengan setiap omelan dan ocehan yang selalu Da Na lontarkan. Belum pernah ada wanita yang mengomelinya seperti itu sebelumnya, kecuali noona-nya tentu saja. Biasanya wanita- wanita yang Jongin temui hanya melontarkan kalimat- kalimat pujian, betapa tampannya seorang Kim Jongin.

“tidak bisakah sehari saja kau tidak mengomel nona Song? Diam dan nikmati saja makananmu” balas Jongin tidak mau kalah. Jongin memperhatikan Da Na yang memakan, makanannya dengan lahap sepertinya dia benar- benar kelaparan. Mereka sedang menikmati makanan laut yang menjadi makanan khas daerah itu. Jongin sesekali menyunggingkan senyumnya saat melihat Da Na berkali- kali mengoceh tentang betapa enaknya makanan itu.

“ck, jangan berbicara saat makan dan lihatlah kau bahkan tidak sadar ada saus dihidungmu” Jongin mengelap saus yang menempel diujung hidung Da Na menggunakan tissue. Lagi- lagi jantung Da Na berdegup kencang oleh tindakan kecil dari Jongin. Da Na menatap kearah Jongin, kali ini bukan wajah angkuh atau dingin yang diperlihatkannya. Melainkan raut wajah sendu seperti sedang memikirkan sesuatu.

Da Na mengulurkan tangannya menunjuk kearah pipi sebelah kiri Jongin yang sedikit memerah, “i.. igo, gwaenchana?”.

“umm… apa terjadi sesuatu? Uum… maksudku, aku bukannya ingin mencampuri urusanmu, tapi…”.

“aniya, hanya seseorang sudah meng-upload video-ku yang tengah mengikuti audisi menari dan ayah melihatnya” Jongin dengan ajaib menceritakan masalahnya kepada Da Na. Malam itu, Jongin menceritakan semuanya kepada Da Na, mulai dari mimpinya menjadi seorang penari terkenal sampai pada paksaan ayahnya yang mengharuskannya belajar tentang bisnis dan meneruskan bisnis keluarga. Membuat Da Na mengerti satu hal tentang mengapa tidak boleh ada yang mengetahui tentang studio tari yang berada diruang latihan Taeoh.

“Orang tua bisa menjadi tidak adil bukan terhadap anaknya” ujar Jongin diakhir ceritanya.

“Eoh, sudah lama juga aku tidak pernah bertengkar dengan ayahku, biasanya selalu saja ada hal yang membuat kami bertengkar, terutama jika aku tidak berlatih music dengan benar”.

“Silahkan bertukar denganku kalau begitu”.

“Andai saja bisa” Da Na terkekeh dan tatapan mata Da Na seperti menerawang kembali disaat ayahnya masih bersamanya. Kenangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Da Na. Jongin melihat wajah Da Na sendu dan untuk pertama kalinya Jongin dapat merasakan kesedihan yang sama dengan Da Na. Jongin mengenggam tangan Da Na seolah memberikan kehangatan yang dapat menenangkan.

“tapi kau juga masih memiliki seorang ibu bukan? Kau bisa berlindung padanya jika kau mau” Da Na menyuap sesendok nasi kedalam mulutnya, sementara Jongin bergidik melihat nafsu makan Da Na yang bisa dikatakan besar.

“eomma? Eumm…. Sebenarnya Taeoh dan aku memiliki ibu yang berbeda, entahlah aku juga tidak tahu siapa ibu kandungku, tapi noona selalu berkata jika aku bisa bertemu dengan ibu kami jika terus berlatih menari” terangnya, sementara Da Na menganggukan kepalanya mengerti sekaligus merasa bersalah karena menanyakan tentang itu. Da Na tidak ingin bertanya lebih jauh lagi mengingat itu bukan kapasitasnya.

Waktu menunjukkan pukul 12 malam saat mereka sudah sampai didepan apartement Da Na. Jongin melihat kearah Da Na yang tampak tidur pulas, sepertinya dia kelelahan akibat perjalanan jauh mereka. Jongin memperhatikan wajah pulas Da Na yang tampak damai dan tanpa sadar tangannya membelai poni rambut Da Na.

Da Na perlahan membuka matanya saat merasa sesuatu membelai kepalanya. “eoh, kita sudah sampai? Um.. gomawo Jongin-ssi, ah, dan jangan lupa kompres wajahmu dengan es batu agar tidak memar, eoh” Jongin menahan Da Na saat dia sudah ingin keluar dari mobilnya, sementara Da Na memberikan tatapan bertanya- Tanya.

“Gomawo Da Na-a” Jongin memberikan senyum tulusnya untuk pertama kali dan disambut baik oleh Da Na yang membalas senyumnya lalu segera memasuki apartementnya.

-o-

Da Na tengah berjalan menuju lokernya, sepertinya Da Na masih menjadi perbincangan dikalangan mahasiswi karena sedari tadi masih ada beberapa mahasiswi yang berbisik- bisik saat Da Na tengah berjalan. Da Na membuka lokernya dan menemukan sebuah note disana “Gomawo” hanya tulisan itu yang tercetak dinote tersebut. Da Na menyunggingkan senyumnya dan memasukan note itu kembali ke lokernya.

Da Na berjalan tergesa- gesa menuju kelasnya saat secara tidak sengaja dirinya menabrak seseorang sehingga membuat dirinya limbung dan jatuh. Lutut Da Na mengalami luka sobekan yang cukup pajang karena dia mengenakan rok dan lututnya jatuh tepat diatas lantai yang keramiknya sudah rusak.

“Eoh, Da Na-a, mianhae” Sehun membantu Da Na untuk berdiri dari tempatnya, dengan di bantu Sehun, Da Na berdiri dan sedikit meringis akibat dari nyeri yang ditimbulkan oleh luka goresan tersebut.

“Kau berdarah Da Na-a, biar aku bantu membawamu ke uks” Sehun pun melingkarkan tangannya pada pundak Da Na dan membantunya berjalan hingga ke uks untuk mendapat pengobatan. Tidak jauh dari tempat kejadian, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan raut wajah yang geram.

Setelah mendapat mengobatan, Sehun masih belum juga beranjak dari  tempatnya. Padahal pengobatan Da Na sudah selesai beberapa menit yang lalu. “kau sebaiknya masuk ke kelas hun, aku sudah tidak apa- apa” pinta Da Na merasa tidak enak karena mengganggu jam kelas Sehun.

“Aniya, aku akan menemanimu, lagi pula kau terluka beginikan karena aku”.

“Akulah yang menabrakmu terlebih dahulu, karena terlalu terburu- buru dan tidak memperhatikan jalan, jadi sebaiknya kau kembali kekelasmu selagi ada waktu” Sehun menuruti permintaan Da Na untuk kembali ke kelasnya, meskipun dalam hatinya dia masih ingin menemani Da Na, bahkan mungkin sampai mengantarkannya kembali ke apartementnya. Namun, Da Na terus saja meminta dirinya untuk kembali ke kelas dengan alasan dirinya sudah tidak apa- apa dan ini bukan kesalahannya.

Sepeninggalan Sehun, Da Na beranjak dari tempat tidur yang berada di uks tersebut. Da Na berniat untuk kembali ke kelasnya. Sedikit demi sedikit Da Na membiasakan kakinya untuk berjalan walaupun sesekali Da Na harus meringis menahan nyeri yang datang disaat kakinya digerakan. Da Na menyusuri lorong hingga sampai ke kelasnya, namun, sesampainya disana dosen tidak mengizinkannya untuk masuk dengan alasan Da Na sudah terlambat lebih dari 30 menit.

Da Na menyandarkan dirinya sebuah bangku panjang yang terletak ditaman kampusnya. Ini benar- benar hari tersialnya, kenapa dia harus mendapat kecelakaan disaat mata kuliah dosen killer itu. Da Na menghela nafas, menenangkan dirinya.

Dengan penuh usaha akhirnya Da Na sampai didepan kediaman keluarga Kim. Dengan keadaan lututnya yang cidera saat ini membuat energinya terkuras dua kali lipat untuk berjalan sampai kesini. Da Na bisa merasakan lututnya lebih nyeri dari yang sebelumnya, mungkin karena factor lukanya yang belum mengering. Sesampainya didalam rumah, Da Na masih harus menaiki anak tangga menuju kelantai dua tempat dia dan Taeoh memulai latihan. Dengan perlahan Da Na menaiki anak tangga itu.

Sesampainya di ujung anak tangga itu, Da Na bertemu dengan Jongin yang baru saja keluar dari kamarnya. Da Na menyunggingkan senyumnya, namun tidak dibalas oleh Jongin yang hanya melengos saja kembali masuk kedalam kamarnya. Da Na sedikit bingung dengan sikap Jongin karena kemarin Jongin bersikap baik padanya, tapi hari ini sikapnya berubah.

“kau semakin mahir menguasai permainan piano klasik Taeoh-a, aku jadi sedih. Karena sepertinya kau sudah tidak memerlukan latihan dariku” Da Na menunjukan raut wajah sedihnya yang dibuat- buat.

“Aniya, aku tidak yakin akan bisa bermain sebagus ini jika tidak ada noona”.

Malam ini tidak seperti malam biasanya pula, karena yang mengantarnya pulang bukan Jongin melainkan Jian. Entah kenapa, hal tersebut sedikit membuat Da Na merasa sedih dan bingung. Apa dia berbuat kesalahan terhadap Jongin? Seingatnya dia tidak pernah membantah apapun yang dikatakan Jongin. Da Na duduk disebelah Jian dengan gelisah mencoba mengingat apa yang dia perbuat sehingga membuat Jongin marah padanya. Tapi tunggu, kenapa hal itu menjadi penting bagi Da Na sekarang?

“kau tampak gelisah nona Song?” Jian yang menyadari gelagat Da Na yang gelisah seperti ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.

“umm.. ani, hanya… “.

“kau kecewa karena bukan Jongin yang mengantarmu pulang?” pertanyaan Jian sangat tepat sasaran dan membuat Da Na menjadi salah tingkah. “kau orang yang mudah ditebak, nona Song”.

“umm… boleh aku bertanya sesuatu?” Jian bergumam memperbolehkan. “kau tahu kenapa Jongin dilarang untuk menari? Aku sudah melihat video audisinya dan dia menari dengan sangat baik”.

Jian tersenyum mendengar penuturan Da Na, namun tersirat kesedihan juga karena hal tersebut juga menyangkut dengan dirinya. “bagaimana jika kita berbicara sambil makan malam?”.

Mereka berhenti disebuah restaurant jepang disekitar kawasan apartement Da Na. Mereka duduk berhadapan dengan diam sambil menikmati makan malam mereka. “jadi apa yang ingin kau ketahui dari adikku yang satu itu nona Song?”.

“umm… baru- baru ini aku mendengar ayahmu memarahi Jongin karena dia melihat video Jongin mengikuti audisi menari. Jongin tampak sangat sedih saat itu, aku hanya bingung kenapa ayahmu menentang Jongin, dia penari yang baik, menurutku dan lagi ada apa dengannya hari ini? dia mengacuhkanku padahal aku tidak melakukan apa- apa” Da Na menjelaskan panjang lebar hal yang menganjal di hatinya tentang Jongin sekaligus keresahannya terhadap sikap Jongin padanya hari ini.

“wah, kau sangat hebat nona Song” Da Na mengerutkan keningnya. “kau tahu, Jongin adalah tipe orang yang dingin dan tidak mudah menceritakan masalahnya pada siapapun, tidak terkecuali aku”.

“aku lebih penasaran seperti apa hubunganmu dengan Jongin. Aku mengenal Jongin dengan baik nona Song. Aku tidak pernah melihatnya tertawa lepas sebelumnya, tapi dia akhir- akhir ini selalu melakukan itu. Menertawakanmu saat dia mengerjaimu tentu saja” entah kenapa mendengar hal itu membuat Da Na sedikit senang. “sepertinya Jongin menyukaimu”. Perkataan terakhir Jian membuat pipi Da Na mengeluarkan semburat merah, sementara Jian hanya tersenyum melihat Da Na yang semakin salah tingkah.

“ani, mana mungkin dia menyukaiku, dia bahkan hanya bisa mengerjai dan memerintahku setiap hari dan hari ini dia bahkan mengacuhkanku” protes Da Na.

“Jongin tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan nona Song, bisa jadi dia cemburu? Apa kau sedang dekat dengan seseorang?” Tanya Jian semakin penasaran dengan hubungan antara adiknya dengan gadis dihadapannya.

“cemburu? Kepada ku? Aku tidak punya apapun untuk membuat Jongin cemburu, aku bahkan tidak memiliki banyak teman, hanya Ahra dan…. Sehun” nama terakhir yang Da Na ucapkan sedikit mengubah raut wajah Jian.

“sehun? Pantas saja jika hari ini Jongin mengacuhkanmu. Kau tahu, Jongin dan Sehun memiliki hubungan yang tidak baik, sangat”.

“Wae? Kami hanya berteman” Da Na membantah Jian dengan keras, merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran dari seorang Kim Jongin.

“Karena dia tertarik padamu, apa lagi? Kau harus membuka mata mu nona Song, sepertinya adik ku sudah jatuh cinta padamu” kata penutup terakhir dari Jian itu membuat perasaan Da Na seolang terombang- ambing. Bagaimana bisa Jongin jatuh cinta padanya, sedangkan sikap dia selama ini sangat bertolak belakang dengan sikap orang yang sedang jatuh cinta.

Semua perbincangan itu membuat Da Na mengingat kejadian dimana Jongin tiba- tiba saja menciumnya. Itu merupakan ciuman pertamanya, dia tidak pernah berciuman sebelumnya meskipun sudah pernah berpacaran dengan Sehun selama 4 bulan. Tapi seorang Kim Jongin yang tidak memilik hubungan special apa- apa dengannya, telah merebut ciuman berharganya.

-o-

Keesokan harinya Da Na datang lebih cepat dari biasanya, karena hari ini dia tidak memiliki kelas kuliah apapun hari ini dan Taeoh juga tidak memiliki les matematika setelah pulang sekolah. Da Na memasuki ruangan itu secara perlahan dan menuju sebuah kursi yang menjadi tempat duduknya selama ini. Tanpa sengaja Da Na menoleh kearah bilik rekaman dan menemukan Jongin berada disana tengah melihat kearahnya juga. Tanpa disadari, Da Na malah menabrak kursi yang ada didepannya. Da Na meringis karena sudut bangku itu mengenai lututnya yang kemarin terluka, menyebabkan perban yang membalut luka itu menimbulkan warna merah karena luka tersebut belum mengering.

Da Na merunduk mengibas- ngibaskan tangannya kearah luka tersebut, berharap nyerinya berkurang. Jongin yang melihat dari dalam bilik itu Nampak sedikit khawatir karena melihat raut wajah Da Na yang sedang menahan rasa sakit. Jongin segera keluar dari dalam bilik itu dan menghampiri Da Na, betapa terkejutnya Jongin saat mendapati lutut Da Na yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.

“Ya, kau bodoh atau apa? Apa menurutmu dengan kau mengibas- ngibaskan tangan seperti itu bisa membuat luka mu membaik?” tiba- tiba saja Jongin mengeluarkan suara nada tingginya. Meski terlihat marah namun Da Na bisa merasakan ada ke khawatiran disana. “ikut aku!” Jongin segera menarik pergelangan tangan Da Na menuntunnya menuju ruang tarinya. Setelah mendudukan Da Na disebuah sofa disana, Jongin bergegas mengambil kotak P3K yang berada diruangan itu.

Dengan telaten Jongin mengangkat kaki Da Na, membuka perbannya pelan- pelan dan membersihkan darah yang ada dilututnya. Da Na terus saja memperhatikan wajah Jongin, hatinya tiba- tiba saja menghangat karena perlakukan Jongin. Da Na memperhatikan bagaimana telatennya Jongin mengobati lukanya.

“apa ada sesuatu yang menempel diwajahku? Kau melihatnya seolah ingin menelannya” merasa tertangkap basah, Da Na langsung memalingkan pandangannya kearah lain. Namun, otak dan tubuhnya seolah tidak bekerja sama dengan baik, Da Na kembali memperhatikan wajah Jongin.

“aku akan menciummu sekarang juga jika kau masih menatapiku seperti itu nona Song”. Da Na menelan ludahnya, membayangkan Jongin akan menciumnya lagi, dia langsung memalingkan wajahnya memperhatikan studio tari ini.

“mmm… kemarin, kenapa kau mengacuhkanku? Apa aku berbuat kesalahan?” dengan mengumpulkan tekat dan suara yang diberani- beranikan, Da Na melontarkan pertanyaan kepada Jongin.

“apakah aku terlihat seperti itu?”. Da Na hanya menganggukan kepalannya seperti anak kecil  dan menatap Jongin dengan tatapannya yang tadi. Sementara Jongin masih fokus dengan pekerjaannya, membersihkan dan mengganti perban pada lutut Da Na.

“ah, ngomong- ngomong, aku mendengar cerita ini dari Jian unnie, benarkah kau dan Sehun…” mendengar nama itu Jongin yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dengan Da Na langsung menyambar bibir Da Na, hanya mengecupnya kemudian menatap wajah Da Na “bisa tidak membahas laki- laki itu jika sedang bersama denganku?” Da Na mengedipkan matanya beberapa kali, merasa masih shock dengan apa yang dilakukan Jongin kepadanya. Dia sudah menciumnya dua kali dan masih bisa berbicara sesantai itu dengannya? Kau pasti benar- benar playboy tuan Kim gumam Da Na dalam hati. Tanpa mereka sadari seseorang melihat mereka dan dengan perlahan menutup pintu ruangan itu secara perlahan.

-o-

Setelah keluar dari ruangan studio, Jongin menuju kamarnya dengan santai meninggalkan Da Na yang masih syok dengan kejadian barusan. Ini sudah kedua kalinya Jongin menciumnya. Jongin memasuki kamarnya dan tersontak kaget melihat seseorang sudah berada dikamarnya sedang memainkan PSP-nya.

“ish, noona, seharusnya kau meminta ijinku dulu untuk masuk kedaerah pribadiku, bagaimana kalau nanti kau masuk disaat aku sedang berganti baju, atau….”.

“atau sedang apa? Berciuman?” Jian meletakan PSP Jongin dan beranjak mendekat kearah Jongin yang terlihat salah tingkah. Jian terkekeh melihat tingkah laku adiknya yang tertangkap basah.

“m.. mwoya.. ap.. apa maksud noona, mana mungkin aku menyukainya” Jongin tergagap dan salah tingkah.

“kau tidak pandai berbohong Mr. Kim dan aku noona-mu, aku sudah mengenalmu semenjak kau lahir didunia ini” Jongin mendudukan dirinya disudut tempat tidur, Jian mengikuti sambil merangkul adiknya yang satu itu. “kau jatuh cinta Mr. Kim, seluruh tubuhmu mengatakan itu”.

“tidak noona, ada alasan mengapa aku berada didekatnya” raut wajah Jongin berubah menjadi serius sementara Jian mengerutkan keningnya. “apa karena Sehun? Karena gadis itu berteman dengan Sehun?” Jian menebak.

“mereka bukan hanya berteman noona, aku bisa merasakan dari cara Sehun menatapnya” Jongin menerawang kejadian dimana Sehun terliat begitu khawatir saat menolong Da Na. “Kau tidak bermaksud mempermainkan Da Na kan Jong?” Tanya Jian selidik.

“Molla, sebaiknya noona keluar dari kamarku, aku ingin istirahat” Jongin mendorong lengan Jian supaya dia segera pergi dari kamarnya, namun, Jian membalas dengan memukul belakang kepala Jongin “awas saja jika kau sampai mempermainkan Da Na, kau akan ku jadikan pembantuku selama seumur hidup!” ancam Jian sambil berlalu menghilang dibalik pintu kamar Jongin.

-o-

Jongin masih terpaku disebuah bangku taman yang ada dipinggir lapangan basket kampusnya. Pandangan matanya tetap menuju kearah depan dan tubuhnya tidak bergerak sedikitpun dari sana. Sorotan matanya jelas bukan sorotan hangat namun dingin dan tajam, tapi dapat membuat semua wanita yang melihatnya terpana. Diseberang sana Da Na dan Sehun tengah duduk berdua mendiskusikan sesuatu. Terlihat mereka berdua sangat akrab dan itu entah mengapa dibenci oleh Jongin. Setelah hampir satu jam Jongin memperhatikan mereka, tiba- tiba seseorang datang menghampiri mereka berdua. Seorang wanita berparas cantik datang dan membawa Sehun pergi. Setelah itu yang Jongin lihat adalah raut wajah Da Na yang menggambarkan kesedihan.

Sehun berjalan berdampingan dengan Jae Hee yang hari ini Nampak sangat cantik menggunakan dress selutut berwarna putih. Tangan mereka saling menggenggam seolah tidak ingin saling berjauhan, tapi berbeda dengan Sehun. Jauh didasar hatinya, Sehun sangat tertekan karena harus berpura- pura didepan Jae Hee dan keluarga mereka.

Da Na masih belum bergerak dari tempatnya semula, masih menatapi buku komunikasi yang menjadi makanannya sehari- hari. Dia bahkan tidak menyadari ada seseorang yang menungguinya dengan bosan disebelahnya.

“Ya! Apa matamu tidak sakit membaca buku itu terus- menerus? Aku bahkan sudah mual dengan apa yang dijelaskan dosen mengenai buku itu tadi dan sekarang, kau bahkan masih betah membacanya” Ahra mencebikkan bibirnya, memandang heran kearah Da Na yang selalu saja tahan dengan segala materi dan teori- teori komunikasi yang mereka pelajari. Da Na tidak menjawab ocehan Ahra, seolah dia sudah terbiasa dengan segala macam ocehan itu.

Namun, disudut lain seseorang juga masih tidak beranjak dari tempatnya untuk memandai Da Na. Jongin masih setia memperhatikan Da Na dari kejauhan, dia bahkan menghiraukan pekikan dan pujian- pujian yang terlontar dari setiap wanita yang melewatinya. Jongin masih saja memandangi Da Na tanpa menyadari seseorang duduk disebelahnya.

“Jongin-a, kau sedang apa?” Sooyoung merangkul manja lengan kiri Jongin dan menyandarkan kepalanya pada bahu Jongin. Sementara Jongin tidak memperdulikannya dan matanya tetap fokus kearah Da Na. Sooyoung yang merasa diabaikan berdecak kesal, kemudian mengikuti arah tatapan mata Jongin.

“Ck, hebat sekali memang wanita satu itu, setelah Sehun, sekarang kau juga terpikat padanya?” Jongin mendelikkan matanya tidak suka kepada apa yang dikatakan Sooyoung tadi. Bahkan dia belum mengenal Da Na tapi, kenapa bisa berbicara seperti itu. Sooyoung seolah mengerti tatapan mata Jongin mencoba menjelaskan. “aku bukannya sok tahu, tapi memang benar dia pernah berpacaran dengan Sehun dan putus baru- baru ini, disaat Sehun sudah memiliki kekasih baru, sekarang dia malah mendekati Sehun kembali”.

“apa aku terlihat ingin tahu tentang masalah itu?” Jongin langsung pergi meninggalkan Sooyoung yang terpaku dengan kalimat menyebalkan Jongin. Setibanya di tempat parkir Jongin tidak langsung menjalankan mobilnya, karena perkataan Sooyoung barusan masih terngiang ditelinganya. Ternyata ada fakta baru yang dia ketahui tentang Da Na. Fakta yang membuatnya merasa sedikit cemburu. Fakta bahwa ternyata Da Na adalah mantan kekasih dari Sehun. Musuhnya.

-o-

Suasana di dalam studio sedikit mencekam hari itu, bukan karena adanya aura mistik namun aura itu datang dari seseorang yang berada didalam studio rekaman. Jongin tengah memperhatikan Da Na dengan sorotan mata tajam dan aura yang menakutkan. Taeoh saja sampai tidak berkonsentrasi dengan latihannya hari itu sehingga membuat Da Na terpaksa menghentikan latihannya. Jongin segera menghampiri Da Na saat Taeoh sudah keluar dari dalam studio. Tangannya menyambar lengan Da Na cepat dan membawanya menuju studio tari. Da Na yang merasa kesakitan dan bingung dengan perbuatan Jongin mencoba melepaskan diri namun, Jongin malah semakin mencengkramnya.

Sesampainya didalam studio tari, Jongin menyudutkan Da Na disalah satu dinding ruangan itu. “apa yang kau lakukan kim jongin-ssi?” Da Na sedikit meringis kesakitan saat Jongin melepaskan cengkraman tangannya.

“tidak bisakah kau menjauh dari pria itu?” Jongin menekankan setiap perkataannya terutama pada kata terakhir, sementara Da Na hanya mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Jongin. Pria? Pria mana? Da Na bahkan tidak punya banyak teman pria. Ya, kecuali Sehun karena memang hanya dia teman pria Da Na.

“kau pasti mengerti siapa yang ku maksud nona Song, kau bahkan tidak memiliki banyak teman di kampus, jadi kau pasti mengerti siapa yang ku bicarakan”.

“Sehun? Ada apa dengan Sehun? Dan, kenapa aku harus menjauhinya?” Tanya Da Na dengan nada yang sedikit menantang, membuat Jongin geram. Tidak bisakah dia hanya bilang ya dan menuruti semua perintah Jongin?

“kau hanya perlu menurutinya nona Song, ingat kau sedang dalam masa percobaan. Atau kau lebih memilih untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Taeoh?” oke, itu merupakan pilihan yang sangat buruk. Ya, tidak ada yang bagus dari kedua pilihan tersebut ngomong – ngomong.

Da Na dengan keras kepalanya terus saja menanyakan alasan kenapa dia harus menjauhi Sehun, karena setahunya Sehun tidak memiliki masalah apapun dengan Jongin. Da Na bahkan meragukan kalau keduanya saling mengenal walaupun mereka berada dalam universitas yang sama.

“aku tidak memiliki alasan untuk menjauhinya tuan muda Kim, jadi jangan menyuruhku untuk menjauhinya dan berhentilah mengancamku seperti itu” Da Na menaikan suaranya merasa sangat frustasi dengan keadaan saat ini. Bagaimana tidak, dia hanya bekerja baik- baik dirumah itu, tapi kenapa semuanya menjadi terasa sulit.

“ini bukan ancaman nona…”.

“kau mungkin berhak untuk memecatku, tapi kau tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupanku tuan muda Kim” perkataan Da Na seolah membuka kembali pikiran Jongin. Memang benar, Jongin tidak memiliki hak apapun atas kehidupan Da Na.

Jongin menarik rambutnya frustasi, wanita dihadapannya satu ini benar- benar keras kepala rupanya. Haruskah Jongin menegaskan bahwa dirinya cemburu sekarang? Oh, tentu itu tidak akan terjadi, gengsi yang kelewat tinggi itu melarangnya mengatakan hal itu. Tapia pa barusan? Cemburu? Sejak kapan kau memiliki rasa cemburu terhadap Song Da Na tuan Kim? Entahlah Jongin hanya muak melihat Da Na berdekatan dengan Sehun.

“kau memang sudah gila Kim Jongin-ssi” Da Na dengan cepat melesat menuju pintu keluar setelah berdebat dengan Jongin. Otaknya sungguh tidak bisa mencerna dengan baik permintaan pria satu itu. Sedangkan Jongin, langsung terduduk lesu berfikir betapa bodohnya dia tadi. Untuk apa Jongin mengatakan hal konyol seperti itu didepan Da Na? Dia akan mengubur wajahnya dalam- dalam setelah ini.

Didalam sebuah bus, Da Na masih terpaku dengan apa yang telah terjadi padanya beberapa menit yang lalu. Di telinganya dia masih bisa mendengar kata – kata yang Jongin lontarkan tadi.

Kau milikku Da Na…

Da Na menggelengkan kepalanya dan tersadar dari lamunannya tadi. Tapi, Da Na malah teringat dengan perbincangannya dengan nona Jian beberapa hari yang lalu.

Mungkin dia cemburu?

Karena dia tertarik padamu

Kau harus membuka matamu nona Song, sepertinya adik ku sudah jatuh cinta padamu.

-o-TBC-o-

Thanks a lot buat semua respon kalian di chapter 1, oh gosh gak pernah ngebayangin ternyata respon kalian baik banget di awal chapter dan aku juga akan terus berusaha untuk bisa FF ini gak mengecewakan buat kalian, hihihi *terharu*

Sebenernya mau ngepost chapter ini rada panjangan tapi aku memutuskan untuk posting segini, please don’t be disappointed at me 😦

Also, I’m so so sorry karena mungkin aku gak bisa memposting per chapter dengan jarak waktu yang berdekatan, yah problemnya tetap sama seperti author2 yang lain daily life problem. karena aku uda semester akhir dan lagi muter2 nyari magang+mikirin tugas akhir.

Jadi mohon bantuannya ya….. see ya on the next chapter!!!

33 responses to “Strange Feeling (Chapter 2)

  1. Sehun tuh agak pengecut kayanya, kalo emang dia masih suka sama Dana ya dia pertahanin lah..
    Jongin ngomong suka ke Dana susah banget haha..
    Tapi Sehun sama Jongin kenapa musuhan??
    Buat moment Jongin Dana, biar Sehun nyesel + cemburu..
    Ditunggu next chapternya ^^

  2. Jongin bilang aja cemburu ngeliat dana sama sehun, jongin sama sehun ada masalah apa, aku pengen liat deh sehun cemburu ke dana sama jongin, ditunggu lanjutannya yaa, fighting

  3. huwaaaa kenapa mesti ketemu sama tulisan tbc ahhh gimana nasib selanjut nyaaaa kepo nih kepoooookkkeren keren ff nyaaaa pokoknya lanjutkan next next

  4. Wah daebak buat chap ini, makin penasaran sm kelanjuta kisah cintanya dana jongin. Oke dech see you on next chap

  5. wawwwwwww rasanya mau teriak beneran ngeliat tingkah jongin cembhru sm dana .. asuh dana polos amat dahh .. udh tau jingin suka sma dia masa ga ngerasa sihh .. yasudah ditunggu kelanjutannya

  6. wawwwwwww rasanya mau teriak beneran ngeliat tingkah jongin cembhru sm dana .. asuh dana polos amat dahh .. udh tau jingin suka sma dia masa ga ngerasa sihh .. yasudah ditunggu kelanjutannya

  7. cie jongin cemburu sama da na. btw si sehun masih suka sama da na ya kak? terus sehun kok kayak gak tulus banget ngejalanin hubungannya sama jaehee,apa dia gak suka sama jaehee? next chapter panjangin ya kak,hehe.Fighting!! 😀

  8. Ceritanya yg ini udah panjang kok menurut aku hehe jongin akuin ajalahh kalau dia suka sm dana gengsi bngt ngakuinnya haha sehun please move on kasian si jaehee😂😂😂

  9. Kai jangan gengsi terus… ngomong aja atuh ke Da Na. Sehun tu kek masih usaha buat ngrebut Da Na. Kan dah ada Jae Hee.
    *ini ngapain kok malah protes gini*
    terserah authornya lah… haha XD
    keep writing…. 😀

  10. Gk ap2 kak… Ff ka selingan kita jngan dbawa sululit hehehheh
    Aq suka crtnya alurnya cepet dn gk bertele2 kerennnn jong in jg bner2 bkin greget hehheheh

  11. ternyata jongin cemburu liat kedekatan da na sama sehun… jujur aja kali jong ke da na kalo km cemburu dan itu tandanya km punya perasaan suka ke da na.

  12. Pingback: Strange Feeling (Chapter 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Jreng jreng hreng
    Bunga-bunga cinta bertebaran di hati Jongin. Kalo cuma segitu mana bisa Da Na ngerti, ngomong kali Mr. Kim

  14. Pingback: Strange Feeling (Chapter 5) | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. Pingback: Strange Feeling (Chapter 6) | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Pingback: Strange Feeling (Chapter 7) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s