[Freelance] Crossed Paths (Chapt.1)

crossed-paths

Title  : Crossed Paths
Author : Gecee (Twitter @GC_Christina)
Main Casts : Kris Wu (EXO’s Kris), Victoria Song (Fx’s Victoria)
Supporting Casts& Cameos : Zhang Yixing (EXO’s Lay), Xi Luhan (EXO’s Luhan), etc
Length : Chaptered
Genre : Hurt/Comfort, romance, friendship
Rating : PG-17 (and there’ll be a little NC too!)
Poster by KRYZELNUT @ INDO FANFICTIONS ARTS
Disclaimer : The casts are belong to God, their families, and their agencies. I just own the story line

 

CHAPTER ONE

 

 

“The wind passed by my eyes, telling me to cry if I want to, pretending it’s the wind’s fault.”

–Story (Park Shin-Hye)

 

~~Happy reading~~

 

PINTU apartment unit 2014 yang berwarna abu-abu itu akhirnya terbuka setelah Kris Wu memencet bel sampai lima kali. Seorang laki-laki berambut cokelat yang mengenakan kaos putih dan celana kotak-kotak pendek menyambutnya dengan sebuah senyum lebar. Lelaki itu bernama Xi Luhan – sahabat Kris.

Luhan menyuruh Kris masuk dan dengan isyarat tangan ia menyuruh Kris untuk mengikutinya ke kamar. Kris melemparkan tubuhnya ke tempat tidur Luhan. Luhan tertawa sejenak sambil melemparkan sekaleng bir dingin yang telah ia siapkan sebelumnya di meja belajarnya. Kris menangkapnya dengan dua tangan.

“Jadi…” Luhan membuka kaleng birnya. “Apa yang membawamu kemari?”

“Faktor bosan, mungkin?” sahut Kris sambil mengangkat bahunya. “Kau tahu betapa sepi rumahku, kawan.”

“Memangnya orangtuamu kemana?”

Kris tersenyum mengejek. “Papa sedang berada di London untuk urusan bisnis. Cih. Orang tua bangka itu memang selalu lebih mementingkan bisnis dibandingkan diriku. Mama? Hah… Entahlah.” Kris kembali meneguk birnya. “Mungkin sekarang sedang bercinta di hotel bintang lima dengan salah satu kolega bisnisnya.”

Luhan hanya mengangguk, tidak berniat berkomentar. Ia takut komentarnya akan membuat suasana hati Kris yang buruk – meskipun ia tidak menunjukkannya – menjadi tambah buruk. Sahabatnya itu memang telah bercerita banyak tentang kehidupan kedua orangtuanya kepada Luhan. Tuan dan Nyonya Wu yang terlalu sibuk dalam pekerjaan dan menelantarkan putra semata wayang mereka membuat kehidupan Kris hampir tidak ada bedanya dengan Luhan yang yatim piatu. Kris memang berlimpah akan harta, tetapi kekurangan kasih sayang orangtua.

“Tak usah terlalu dipikirkan,” ujar Kris yang sejak tadi tidak mendapat respon apa-apa dari Luhan, menyebabkan keheningan sejenak yang terasa tidak nyaman di antara mereka. Kris melempar bantal ke arah Luhan, membuat bir lelaki itu sedikit muncrat keluar.

“Hei!” seru Luhan. Kris hanya tertawa.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan sebelum aku datang?” tanya Kris sambil berjalan ke arah meja belajar Luhan.

“Belajar.”

Kris menoleh. “Belajar?”

Luhan menunjuk meja belajarnya dengan dagu. Lampu belajar masih menyala dan di atas meja tersebut terdapat sebuah buku tebal yang terbuka. Kris mengenali buku itu sebagai diktat kuliah mereka. Kris mengambil buku tersebut, membacanya, kemudian menggelengkan kepala dan mendecakkan lidah.

“Kau memang anak rajin,” kata Kris sambil menutup buku tersebut. Ia menatap Luhan. “Untuk apa belajar?”

Luhan tersenyum seraya kakinya melangkah menghampiri sahabatnya. “Besok ada tes mingguan, Tuan Wu. Kau tidak tahu?”

Sesaat, Kris hanya menggeleng bingung. Namun beberapa detik kemudian, ia seperti teringat sesuatu. “Ah, tes sialan itu. Tenang saja kawan. Setidaknya Profesor Wang harus merasa bersyukur karena aku sudah mau datang.”

Luhan menatap Kris lekat-lekat. “Mungkinkah… besok kau berencana akan membolos lagi?”

Kris mengangkat bahu. “Mungkin.”

“Yah. Lagipula masuk jurusan bisnis bukanlah bagian dari keinginanmu. Kau dipaksa oleh papamu agar anak semata wayangnya bisa meneruskan perusahaan, benar?”

Kris menepuk pundak Luhan dua kali. “Kau mengenalku dengan sangat baik, kawan.”

“Cih,” Luhan mencibir, tetapi Kris hanya tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong, ada apa dengan pipimu?” tanya Luhan ketika melihat sebelah pipi Kris yang terlihat memerah.

“Pipiku?” Kris mengulurkan tangannya dan meraba pipinya. Pipi kanannya yang terasa memanas saat di sentuh membuat Kris teringat sesuatu. “Ah..ini. Sesuatu terjadi tadi sebelum aku datang ke sini.”

“Sesuatu? Apa?”

“Aku ditampar. Oleh seorang wanita.”

Respon pertama yang Luhan berikan adalah terbatuk-batuk karena tersedak birnya sendiri. Kris tertawa terbahak-bahak tapi tak urung juga ia membantu Luhan dengan menepuk-nepuk punggungnya.

“Serius?” tanya Luhan saat batuk-batuknya mereda. Ia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

“Serius!”

How?

Kris menerawang sejenak. “Sebelum ke apartmentmu, aku mampir sejenak ke bar Blue Qian. Ada seorang gadis yang tertidur di meja bar. Di dekatnya ada sebuah jaket hitam yang tergeletak, jadi aku mengasumsikan bahwa itu adalah jaket miliknya. Aku menyampirkan jaket itu di pundaknya, namun ia terbangun dan entah mengapa ia marah-marah padaku, berteriak-teriak. Belum cukup, ia juga menamparku. Sangat keras.”

Luhan berusaha untuk menahan tawa ketika mendengar cerita Kris. “Lalu?”

“Dia bahkan mengatakan bahwa aku adalah penguntit, penculik, dan sebagainya. Astaga… memangnya wajahku terlihat seperti orang-orang bajingan itu? Untunglah, setelah itu ia mengambil tas tangannya lalu segera pergi meninggalkan bar sambil menghentakkan kaki.” Kris menggelengkan kepala.

She must be drunk.

Absolutely.”

“Tapi, kau baik-baik saja, kan? Maksudku, kau butuh es untuk menghilangkan bengkak atau semacamnya?”

“Kau berlebihan,” sahut Kris. “Ini tidak bengkak. Besok pagi juga akan sembuh.”

“Baiklah…” Luhan melempar kaleng birnya ke tempat sampah di bawah meja belajarnya, kemudian mematikan lampu belajarnya. “Berhubung aku sudah selesai belajar, apa yang akan kita lakukan malam ini?”

Kris menatap sahabatnya dengan mata berbinar. “Kau punya blue film?”

“Dasar mesum!” Luhan melempari Kris dengan bantal. Kris hanya tertawa-tawa.

“Serius… kau punya kan?”

***

“Papa!”

Victoria Song berusaha sebisa mungkin berjalan dengan anggun tetapi sekaligus menyusul langkah ayahnya. Suara sepatu hak tingginya terdengar mengetuk lantai marmer gedung kantor ayahnya. Terlihat jelas bahwa ayahnya sedang mengacuhkan Victoria. Tuan Song menyapa serta membalas sapaan setiap orang – bahkan cleaning service sekalipun! – tetapi mengabaikan panggilan putri semata wayangnya. Hak sepatunya yang cukup tinggi dan rok hitamnya yang bermodel span membuat gadis itu sedikit kesulitan untuk menyusul langkah ayahnya yang lebar-lebar, apalagi jika gadis itu masih ingin mempertahankan kehendaknya untuk berjalan dengan anggun.

Fuck this stupid lady-like walk, batin Victoria. Ia pun memutuskan untuk setengah berlari menyusul ayahnya, tidak peduli bahwa suara dari hak sepatunya mulai menarik perhatian orang-orang di sekitar. Victoria berhasil meraih tangan ayahnya. “Papa, tunggu sebentar!”

“Ada apalagi?!” Tuan Song akhirnya membalikkan badan dan menatap putrinya dengan kesal.

Victoria menyilangkan tangan di depan dada. “Papa, jelaskan padaku mengapa aku harus ikut rapat bodoh yang membosankan itu?!”

Ayahnya membalikkan badan lagi, membelakangi anak gadisnya. “Kau tahu sendiri jawabannya, Victoria.” Dan beliau mulai berjalan lagi.

Victoria yang belum merasa puas dengan jawaban ayahnya, berjalan cepat lalu berhenti persis di depan ayahnya, menghalangi arah jalan beliau. Ayahnya menatapnya dengan alis terangkat.

“Papa, aku tahu aku adalah satu-satunya penerus perusahaan ini, dan mungkin aku harus mulai mempelajari bagaimana caranya bersikap sebagai direktur. Tapi papa, aku adalah gadis yang baru berumur dua puluh dua tahun. Aku belum siap memasuki daerah itu, papa. Bagaimana kalau aku tertidur di tengah rapat karena mati kebosanan?

Ayahnya menatap Victoria lurus-lurus. “Tepat seperti katamu. Kau sudah harus mengenal seluk-beluk perusahaan sejak usia dini, agar suatu saat ketika kau memimpin perusahaan ini, kau dapat menjalankan kepemimpinanmu dengan baik dan makin membawa perusahaan ini ke arah sukses. Tidak ada bantah-membantah lagi. Kau harus mengikuti rapat kali ini.”

Victoria mendengus. “Yah, aku memang tidak pernah bisa menang melawan papa. Tapi izinkan aku pergi ke café yang ada di gedung selatan untuk membeli iced green tea latte. Papa bilang di gedung selatan ada sebuah café, kan? Tenang saja, aku tidak akan terlambat. Papa bisa memastikan satu detik sebelum rapat dimulai aku sudah berada di sana.” Dan tanpa menunggu jawaban ayahnya, Victoria berbelok ke kanan menuju gedung selatan.

Setelah sedikit menjauh dari ayahnya, langkah Victoria melambat. Gadis itu mendesah. Pandangan matanya kosong. Kalau boleh jujur, ia mulai lelah dengan kehidupannya. Ia mulai jenuh dengan kehidupannya yang selalu diatur. Bisa dibilang Victoria hampir tidak punya hak untuk menentukan pilihan atas kehidupannya sendiri. Ayahnyalah yang mengatur ia sekolah dimana, mengambil jurusan apa, tidak peduli apakah itu sesuai bakat dan minatnya atau tidak. Sikap ayahnya yang dominan membuat Victoria tidak bisa membantah.

Bunyi ponsel yang berdering menyadarkan Victoria dari lamunan sejenaknya. Victoria cepat-cepat merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan ponsel yang meraung-raung itu. Tulisan ‘Yixing Gege’ tertera di layar ponsel. Victoria tersenyum. Perlu diketahui, Zhang Yixing adalah sahabatnya sejak kecil. Selain orang tua gadis itu, Yixing adalah orang yang mengenal Victoria luar-dalam.

“Zhang Yixing!” seru gadis itu riang. “Kemana saja kau? Kenapa tidak jadi menjemputku di bandara?”

“Maaf,” sahut suara di seberang telepon. “Meilian memintaku untuk menghantarkan ibunya ke rumah sakit. Aku sudah memberitahukanmu sebelumnya, kan?”

“Huh…” Victoria mengerucutkan bibirnya, kesal. Sejak berpacaran dengan Jiao Meilian, teman Yixing di klub tari, Victoria merasa ada yang berubah dari sahabatnya itu. Walaupun ia tahu Yixing berusaha keras untuk membagi perhatiannya dengan sama rata, tetapi tetap saja Victoria merasa sejak itu ia tidak bisa terlalu mengandalkan Zhang Yixing. Entah mengapa fakta itu membuatnya kesal.

Yixing sepertinya tahu bahwa gadis itu merajuk, dan ia mencoba untuk menghibur Victoria. “Bagaimana penerbanganmu? Apa rasanya kembali ke Beijing setelah cukup lama tinggal di Paris?”

Dengan isyarat tangan dan mulut yang berkomat-kamit Victoria berkata pada resepsionis café bahwa ia hendak memesan satu cup iced green tea latte. Setelah itu, ia baru menjawab pertanyaan Yixing. “Baik. Aku baru sadar bahwa sepertinya aku sudah terlalu lama tinggal di Paris ketika menyadari bahwa Beijing telah banyak berubah.”

Terdengar suara tawa di seberang telepon. “Aku ingat detik-detik sebelum keberangkatanmu ke Paris, kau memelukku erat dengan air mata berderai. Huhuhu…. Aku akan merindukanmu, Zhang Yixing… Huhuhuhu…..

“Hei! Aku tidak seheboh itu!” protes Victoria tidak terima, tetapi perlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Ketika iced green tea latte pesanannya datang, Victoria memindahkan ponselnya ke tangan kiri dan mengambil cup pesanannya dengan tangan kanan. “Ngomong-ngomong, gege, kau dimana sekarang?”

“Memangnya kenapa?”

“Bisa kau jemput aku di kantor papa?”

“Papamu menyuruhmu mengikuti rapat lagi?”

Victoria mengangguk.

“Tidak mau, ah! Aku sudah pernah kena damprat papamu karena diam-diam ‘menculikmu’ dari tempat les saat kelas 3 SMP dulu. Kau memang selalu menyeretku ke dalam masalah, Victoria.”

“Ah…. Gege… Please….” ujar Victoria memohon.

“Yakinkan dulu aku bahwa papamu benar-benar mengizinkanmu pergi dari situ, barulah aku mau menjemputmu. Bagaimana? Bisa, tidak?”

Victoria mengerucutkan bibirnya lagi. Ia tidak yakin ia bisa melakukannya.

Yixing yang menyadari kebisuan Victoria hanya tertawa kecil. “Sudahlah. Ikuti saja rapat itu. Kalau kau sudah selesai rapat dan sudah benar-benar free, hubungi aku. Aku akan mentraktirmu makan siang.”

Gadis itu mengangguk. “Baiklah, aku akan menghu – Aduh!”

Seseorang menabrak Victoria dan menyebabkan ponsel serta cup iced green tea latte gadis itu terlepas dari pegangannya. Tidak hanya itu, iced green tea latte tersebut tumpah ke bajunya, membuat noda hijau yang cukup besar di kemeja putih ketat gadis itu.

Victoria panik menyadari keadaan bajunya sekarang. Mengusap-usap bajunya dengan tissue adalah hal pertama yang terlintas di pikirannya. Victoria mengangkat kepala, mencoba melihat sosok yang berani-berani mengacaukan penampilannya. Seorang laki-laki rambut hitam dengan jaket hitam dan anting-anting di telinga kirinya. Victoria mendengus. Huh, pasti itu adalah kurir yang biasa membawa kiriman paket, batinnya.

“Hei, jangan diam saja! Ayo bantu! Kau harus bertanggung jawab atas kekacauan ini!” seru Victoria.

Lelaki itu hanya menatap Victoria dengan alis terangkat. “How? Dengan membawamu ke toilet wanita dan menggantikan bajumu?” sahutnya acuh tak acuh.

Mata Victoria membulat mendengar jawaban itu. Sesaat mukanya memerah karena marah. Namun gadis itu memutuskan untuk menahan amarahnya karena ia tahu tidak ada gunanya marah-marah pada orang yang berbeda derajat dengannya. Lagipula, Victoria tidak ingin menimbulkan kesulitan bagi ayahnya karena statusnya di sini sebagai pewaris tunggal dari Song-Zhiping Group. Jadi, Victoria hanya mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai – sebelum pemuda bodoh itu juga memutuskan untuk menginjak ponsel mahalnya tersebut, memberikan tatapan tajam penuh amarah pada lelaki itu – yang dibalas dengan seringai yang terlihat menyebalkan, dan segera berlalu dari tempat itu. Persetan dengan pakaiannya, yang penting ia harus cepat-cepat beranjak dari situ sebelum ia menjadi gila.

***

Rapat direksi baru berlangsung selama empat puluh lima menit, tetapi bagi Victoria rasanya bagai seabad. Gadis itu sudah melakukan berbagai cara untuk mengusir kantuknya, dari mulai cara diam-diam nan sopan seperit bersenandung pelan sambil mengetukkan kaki ke lantai dengan perlahan, diam-diam membalas pesan singkat dari teman-temannya, diam-diam membaca novel, sampai tindakan yang mungkin kurang menghormati sopan santun seperti mengecat kesepuluh kuku jarinya di tengah rapat. Oh, yang benar saja. Untuk apa ayahnya membawanya ke rapat yang hanya membahas soal saham, kurs, keuntungan, kerja sama, sedangkan Victoria belum mengerti apa-apa? Gadis itu bahkan tidak peduli kalau ia sempat tertidur dengan posisi terduduk dalam rapat itu. Biar saja ayahnya menanggung malu. Siapa suruh memaksanya mengikuti rapat itu.

Intinya, Victoria sudah hampir mati kebosanan.

Suasana rapat yang serius diinterupsi sejenak oleh suara ketukan di pintu ruang rapat. Pintu terbuka dan seorang pemuda berjaket hitam masuk. Mendadak semua mata peserta rapat tertuju padanya. Pemuda itu membungkukkan badan sejenak, kemudian duduk di kursi kosong terdekat, tidak jauh dari Victoria.

Victoria menatap pemuda itu dari atas sampai bawah. Jaket hitam yang dikenakan oleh lelaki itu terasa tidak asing baginya. Gadis itu mulai mengamati wajah si pemuda, sambil otaknya mencoba mengingat dimana mereka pernah bertemu sebelumnya. Perlahan, bayangan tentang insiden iced green tea latte itu muncul di benak Victoria, dan rahang gadis itu mengeras begitu mengingatnya.

Sialan, batin Victoria. Kenapa kurir tolol itu harus berada di sini? Dan bagaimana kurir bodoh seperti dirinya bisa berada di ruang rapat seperti itu?

Akhirnya gadis itu mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu adalah asisten baru dari salah satu peserta rapat yang tidak tahu bagaimana tata krama berpakaian dalam rapat resmi seperti ini.Victoria mendengus. Untuk apa kupikirkan. Gadis itu pun memutuskan untuk kembali menghias kuku jarinya.

Kesepuluh kuku jarinya telah selesai dicat dengan cat kuku berwarna violet, bahkan Victoria telah menempelkan stiker kuku pada masing-masing kuku jarinya, tetapi rapat belum juga berakhir. Demi Tuhan, apa lagi yang harus ia lakukan untuk mengisi waktu? Ia sudah sangat bosan berada di ruangan itu, tetapi tidak mungkin juga Victoria mendengarkan pembicaraan dalam rapat tersebut karena ia sama sekali tidak mengerti apa-apa. Belum lagi keberadaan pemuda berjaket hitam yang duduk tidak jauh darinya itu membuat Victoria merasa risih dan makin ingin cepat-cepat meninggalkan ruang rapat tersebut.

Tidak tahu lagi kegiatan apa yang harus dilakukan, Victoria pun akhirnya hanya bisa memperhatikan pemuda berjaket hitam itu. Lelaki itu mengenakan headphone berwarna biru metalik – tindakan yang Victoria pikir lebih ekstrim daripada yang ia lakukan – dan sepertinya sedang mendengarkan lagu, terlihat dari kepalanya yang mengangguk-angguk kecil dan tangannya yang menepuk-nepuk paha. Victoria mendecakkan lidah. Asisten macam apa yang berani melakukan hal semacam itu dalam rapat resmi?

Beberapa kali Victoria perhatikan lelaki itu mengetik di ponselnya. Sepertinya sama seperti yang Victoria lakukan tadi, lelaki itu sedang membalas pesan yang masuk. Sesekali Victoria melihat senyum tipis yang terukir di bibir lelaki itu.Senyum yang makin Victoria perhatikan, makin menyadarkannya bahwa lelaki itu terlihat tampan.

Tunggu. Apa katanya barusan? Tampan? Oh, astaga…. Sepertinya Victoria harus mulai memeriksakan penglihatannya ke dokter mata. Sejak kapan ia menganggap asisten sialan itu tampan? Asisten bodoh yang notabene telah membuat kekacauan tadi pagi. Demi Tuhan… Victoria merasa dirinya sudah tidak normal.

Untunglah, tidak lama kemudian rapat itu berakhir. Victoria cepat-cepat meninggalkan ruang rapat, bahkan lebih dulu daripada para peserta rapat itu sendiri. Namun suara berat ayahnya membuat gadis itu menghentikan langkahnya.

“Victoria, tunggu sebentar, jangan pergi kemana-mana dulu. Kita akan makan siang bersama.”

Dan tidak ada hal lain yang bisa Victoria lakukan selain menunggu ayahnya dengan tangan terlipat di depan dada dan bibir yang mengerucut.

***

Begitu membuka pintu studio latihannya, hal pertama yang Zhang Yixing temui adalah Victoria yang sedang berdiri dengan wajah cemberut. Tangan gadis itu terlipat di depan dada. Matanya menatap Yixing dengan kesal. Yixing tersenyum kecil. Ia mencoba menerka apa yang telah terjadi yang membuat wajah gadis itu kusut seperti butuh disetrika.

“Apa yang terjadi?” tanya Yixing akhirnya. “Dan ada apa dengan bajumu?”

Sahabatnya itu hanya mengibaskan tangan sejenak sambil melangkah masuk. Namun sesaat kemudian langkahnya berhenti. Ia berbalik lalu menatap Yixing lurus-lurus.

“Jangan tanya apa yang terjadi dengan bajuku. Pokoknya jangan memintaku untuk menjelaskannya. Uh… rasanya aku ingin mencakar dan mencabik-cabik wajahnya bila aku teringat kejadian tadi.”

“Eng… kedengarannya seram sekali. Memangnya siapa?”

“JANGAN DIBAHAS!” teriak Victoria.

Yixing mengerjap beberapa kali. “Eng… oke…” Ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Yixing memang tahu kalau Victoria mempunyai tabiat buruk seperti suka berteriak atau tiba-tiba merajuk, tetapi teriakan Victoria tadi sempat membuat Yixing terkejut.

“Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanya Yixing mencoba mencairkan suasana.

Gadis itu mendudukkan bokongnya di atas sofa satu-satunya di studio itu. “Papa mengajakku makan siang bersama. Bukankah aku sudah mengirim pesan singkat padamu?”

“Bukan itu…” sahut Yixing sambil menyodorkan sebotol jus jeruk dingin pada sahabatnya. “Maksudku, kalau kau sampai mengejarku ke sini, itu artinya ada sesuatu yang hendak kau bicarakan. Nah, apa yang ingin kau bicarakan?”

Victoria membuka tutup botol dan meminum jus jeruknya dalam dua tegukan. “Papa menyebalkan,” ujar gadis itu.

Yixing tersenyum maklum. “Memangnya kenapa?”

“Tidak bisakah papa lihat bahwa aku sama sekali tidak punya ketertarikan untuk meneruskan perusahaan? Tak bisakah papa menyerahkan perusahaan pada orang lain? Adiknya, atau mungkin sepupunya, atau siapapun kecuali aku? Sejak dulu hidupku terus menerus diatur papa. Aku menuruti permintaan papa untuk mengikuti sekolah bisnis di Paris selama lima tahun. Ia pasti tidak tahu betapa susah payahnya aku belajar di sana. Tidakkah papa memikirkan perasaanku sebelum bertindak sesuatu, seperti memikirkan bakat dan minatku? Apakah segala sesuatunya harus berjalan sesuai dengan kehendak papa?”

Setetes air mata jatuh menuruni pipi Victoria tanpa gadis itu sadari. Yixing mengusapkan jemarinya ke pipi gadis itu, menghapus air mata sahabatnya. Belum cukup, ia membawa Victoria ke dalam dekapannya. Yixing menepuk-nepuk pundak Victoria, mencoba menenangkan gadis itu. “Aku tahu. Kau banyak mengirimkan e-mail padaku ketika kau masih tinggal di Paris. Jangan menangis, Victoria. Itu tidaklah seburuk yang kau kira. Aku yakin kau pasti bisa menjalaninya.”

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Yixing. “Terkadang aku iri padamu.”

“Huh?”

“Kau tidak perlu mengalami apa yang aku alami. Kau bisa bebas menentukan keinginanmu sendiri, tanpa ada orang yang terus menerus mengaturmu. Kau bisa mengembangkan bakat dan minatmu, dan orangtuamu sangat mendukungmu. Sementara aku?”

Yixing mengelus puncak kepala Victoria. “Itu karena kakak laki-lakikulah yang mengurus perusahaan papa.”

Victoria masih memberengut. “Tetap saja. Kakak laki-lakimu itu tidak merasa terbeban karena bisnis memang minatnya.”

“Sudahlah…” Yixing tersenyum. “Bagaimana kalau kita bahas hal yang lain saja?”

“Hal lain? Seperti apa?”

“Bagaimana dengan Huang Zitao?”

“Huang Zitao?”

Yixing mengangguk. “Ya. Apakah kau sudah bisa melupakannya?”

Victoria tersenyum pahit. “Belum,” ujarnya lirih sambil menggelengkan kepala.

“Tenang saja. Aku yakin perlahan kau bisa melupakannya. Don’t force yourself to do it, just do it slowly. Aku yakin di Beijing ini kau akan menemukan seseorang yang dapat menggantikan posisinya.”

Victoria mengangguk. “Hmm… I hope so….”

Good girl. Kalau begitu…” Yixing berjalan menuju tape yang ada di pojok ruangan. “Shall we dance? Aku baru saja membuat koreografi baru.”

***

Bunyi ketukan berulang di pintu kamarnya membuat Victoria yang sedang melakukan perawatan wajah harus menghentikan kegiatannya sejenak. Gadis itu mendengus, lalu menaruh dua potong mentimun yang menutupi matanya di mangkok berisi potongan mentimun lain. Victoria bangkit berdiri dari tempat tidurnya, dan sambil menggerutu ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.

“Oh, bibi Li. Apa kabar?”

Li Jiwei, salah satu pelayan yang bekerja di rumah Victoria itu tiba-tiba berteriak dan menutup kedua matanya. Victoria hanya memandang sang pelayan dengan bingung. Beberapa saat kemudian, bibi Li membuka matanya lalu menghembuskan napas lega.

“Astaga, nona. Mengagetkan saja,” ujar bibi Li. “Sedang melakukan perawatan wajah, nona?”

As you can see,” sahut Victoria sambil menepuk wajahnya yang sedang menggunakan masker. Rupanya hal itulah yang mengagetkan wanita paruh baya tersebut karena wajah putri majikannya jadi terlihat aneh.

Victoria membuka lilitan handuk yang menggulung rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai. “Ngomong-ngomong, ada apa sehingga bibi kemari?”

“Oh? Ah… itu… Tuan memanggil nona di ruang kerjanya.”

“Ckckckck….” Victoria mendecakkan lidah. “Padahal setiap ruangan di rumah ini terhubung oleh telepon. Apa susahnya papa menghubungiku dengan telepon? Aku merasa kasihan pada bibi yang harus bersusah payah naik tangga demi mencapai kamarku. Ckckckck…” Gadis itu mengibaskan sebelah tangannya. “Tak usah dipikirkan. Katakan saja pada papa aku akan datang. Mungkin akan memakan waktu sedikit lama, karena aku harus membersihkan wajahku terlebih dahulu.”

Bibi Li membungkukkan badannya. “Baiklah.Kalau begitu saya permisi dulu, nona.”

“Hmm…” Lalu Victoria menutup pintu kamarnya.

Sambil menyeka wajahnya dengan handuk basah, kepala Victoria mencoba menerka hal apa yang hendak dibicarakan oleh ayahnya. Apakah itu tentang bisnis? Oh… Demi Tuhan… Victoria sudah mulai lelah dengan segala tetek-bengek urusan bisnis itu. “That damn thing,” gerutu Victoria kesal. Namun beberapa saat kemudian, senyumnya merekah. Secercah harapan timbul dalam hatinya. Apakah papa bermaksud membebaskanku dari urusan bisnis? Entah mengapa gagasan itu membuatnya bersemangat.

Victoria menuruni tangga putar rumahnya, lalu menghampiri ruang kerja ayahnya. Pintu jati cokelat itu tertutup, seperti biasa. Ayahnya memang bukan tipe orang yang senang diganggu saat bekerja. Beliau tidak mengizinkan siapapun masuk ke ruang pribadinya, kecuali bila ia sendiri yang memanggil atau untuk urusan yang sangat penting.

Tangan Victoria terulur untuk mengetuk pintu jati tersebut. Tidak terdengar jawaban dari dalam, Victoria mencoba membuka pintu itu lalu melongokkan kepalanya ke dalam.

“Papa… Papa memanggilku?”

Ayahnya mengisyaratkan Victoria untuk masuk dan duduk di sofa kulit di ruangan itu. Beliau kemudian meletakkan kacamata yang ia kenakan di meja kerjanya, lalu berjalan ke arah sofa kulit tersebut. Beliau duduk berhadap-hadapan dengan Victoria.

“Apa yang hendak papa bicarakan? Apakah itu ada kaitannya dengan bisnis?” tanya Victoria mencoba memancing. Sepenuh hatinya berharap bahwa kali ini ayahnya akan membahas topik lain di luar urusan bisnis. Semoga tidak… Semoga tidak… Semoga bukan…

Sayangnya, harapan Victoria sirna ketika ia melihat anggukan ayahnya. Gadis itu menghela napas dalam-dalam. Yah, ia sudah terlanjur masuk ke ruangan ini. Setidaknya ia harus mempersiapkan mentalnya karena beberapa saat lagi ayahnya akan menjelaskan tentang tetek-bengek perusahaan yang sama sekali tidak ia mengerti dan ia yakin akan membosankan.

“Ada apa? Apa perusahaan kita dalam masalah?” tanya Victoria pada akhirnya.

Ayahnya tidak langsung menjawab. Hening sejenak sementara dalam hati Victoria berusaha menerka apa yang terjadi. Apakah perusahaannya bangkrut, ayahnya kena tipu, atau…

“Begini, Victoria,” ujar ayahnya membuyarkan pikiran semu Victoria. “Kau mungkin tidak mengerti apa yang kami bicarakan dalam rapat waktu itu, dimana saat itu aku membawamu. Kalaupun kau mengerti, kau pasti tidak akan peduli. Jadi, biarkan papa menjelaskannya sedikit kepadamu. Perusahaan kita sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan Wu Leading Garment. Nah, rapat waktu itu adalah salah satu rapat untuk membahas tentang kerja sama kita.”

Victoria asyik mengamati kukunya yang sekarang telah dilapisi cat kuku berwarna rose dengan sedikit kerlap-kerlip. Mendadak kuku jarinya menjadi objek yang menarik untuk diperhatikan saat ini. “Hmm… terus?”

“Nah, selain bentuk kerja sama yang telah dibahas saat rapat, yang tentu saja tidak kau dengarkan, aku dan Tuan Wu juga mempunyai sebuah bentuk kerja sama lain. Tentu saja kerja sama yang ini tidak dibahas di tengah rapat. Kami akan menjodohkan kalian berdua.”

Victoria menoleh. “Menjodohkan? Siapa dengan siapa?”

Terdengar suara ayahnya yang tertawa kecil. “Tentu saja kau dengan putra Tuan Wu, Kris Wu. Pewaris tunggal dari Wu Leading Garment.”

Gadis itu memberi tatapan aku-tidak-pernah-mendengar-nama-itu-sebelumnya pada ayahnya. Tuan Song mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, membuka aplikasi galeri foto, membuka sebuah foto, lalu menyerahkan ponselnya pada putrinya. Victoria menerima ponsel itu dengan ekspresi bingung. Ia menatap sejenak foto lelaki yang sedang bergaya di sepeda motor Harley Davidson itu. “Siapa ini?” tanya Victoria.

“Tentu saja Kris Wu. Bagaimana? Ia tampan, bukan?” sahut ayahnya.

“Jadi ini yang hendak papa jodohkan denganku?” gumam Victoria sambil memperhatikan foto itu sungguh-sungguh. Pandangan Victoria beralih pada senyum lelaki di foto itu. Tunggu sebentar! Rasanya senyum tipis itu terlihat familiar. Victoria mengamati senyum itu sementara kepalanya mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah melihatnya sebelumnya.

Bayangan seorang asisten tidak tahu diri yang berani-berani mengenakan headphone saat rapat direksi muncul di benak Victoria, begitu juga dengan kurir sialan yang menabraknya dan membuat iced green tea latte-nya tumpah serta mengotori bajunya. Mengingat itu, mata Victoria membulat.Rahangnya mengeras. Tiba-tiba ia merasa ingin marah.

WHAT?!Papa menjodohkanku dengan orang ini?!”

TBC

***

A/N
Kepanjangan nggak sih? Aku kok ngerasanya kepanjangan ya? /yaudah/
Hai readers…. Fanfic chaptered kedua yang aku post… Jadi ceritanya di fanfic ini aku bikin Victoria sama Kris tuh seumuran gitu *nggak ada yang nanya* Maafkan untuk semua typo yang kalian temukan di sini ya..

Sekedar mengingatkan, akan ada chapter yang bakal aku protect.. Jadi pastikan kalian review ya guys.. 🙂

13 responses to “[Freelance] Crossed Paths (Chapt.1)

    • aku juga kangen Yifan… ._.
      Hehehe maybe I should say ‘terinspirasi saat sedang pusing di pelajaran ekonomi’ hehheehe enggak deng… 😀 I’m not good yet at writing about business but I’m trying…
      thanks ya sudah baca dan komen 🙂

  1. Nah loh
    Hahahahah nggak ngira aku kalo keduanya bakal di jodohin hihihi…..aku nebak kalo yg di club itu victoria
    Eh ternyata karena perjodohan mereka bakal di satuin
    Oke di tunggu next nya

  2. waaaahh akhirnya baca ff castnya kris lagi heuheu setelah sekian lama. menurutku ini pas kok ga kepanjangan. semangat yaa kutunggu chapt2 nyaa!!

  3. Pingback: [Freelance] Crossed Paths #2 | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Kmren2 aq dh prnah bc ff ini, pas aq baru mw liat komenanny ternyata aq blom komen. Maaf y kak, kmren2 aq jd siders disini.
    Aq baru pertama kali bc ff yg castny kris sm victoria, keren kak
    next y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s