A Crime – Angelina Triaf

lock

Angelina Triaf ©2015 Present

[Trespass] A Crime

Park Chanyeol (EXO), Kim Mingyu (Seventeen), Park Cheonsa (OC) | Romance | PG-17 | Drabble, Series

“Let us bet for her first kiss.”

0o0

M I N G Y U

Paper dari Dosen Kim selalu membuatnya hampir kehabisan akal untuk mengerjakannya. Entahlah, menurut Cheonsa ada sebuah titik kesulitan tersendiri di tiap tugas yang diberikan dosen dengan rambut hampir botak itu. Walaupun begitu, bersyukurlah ia karena selalu dapat memecahkan titik kesulitan tersebut.

Tapi selalu ada pula risiko yang ia ambil dari hal itu; Cheonsa harus pulang malam dan masih berjalan di koridor fakultas kesenian yang sepi. Bisa dibayangkan bagaimana menyeramkannya hal itu.

Kini ia melewati ruang pentas, sebelum menyadari ada yang aneh dengan ruangan itu. Pintunya sedikit terbuka, agak mencurigakan mengingat biasanya ruangan itu selalu terkunci rapat lantaran banyak properti berharga yang bisa saja dicuri. Jujur, Cheonsa bukan jenis orang yang pemberani namun bukan juga seorang penakut. Ia memutuskan untuk tak ambil pusing mengenai ruangan itu.

Namun sialnya, ada seseorang yang tiba-tiba menarik Cheonsa untuk masuk ke dalam, diikuti suara pintu tertutup yang cukup keras. Cheonsa hanya bisa terdiam. Ruangan ini sangat gelap dan sepi, dan itu membuat Cheonsa cukup takut. Bahkan lebih dari takut, Cheonsa pobia dengan kegelapan.

Ia meraba-raba sekitar, berharap menemukan dinding untuknya bersandar. Setidaknya Cheonsa tak takut dirinya akan limbung jika bisa meraih dinding ruangan ini. Kakinya terus melangkah mundur hingga ia bisa merasakan eksistensi dinding itu di punggungnya. Napasnya menjadi tak teratur. Sungguh, ia benar-benar ketakutan.

Terdengar pula suara langkah seseorang, semakin mendekat dan menimbulkan suasana yang kian mencekam. Panik, hal itu menguasai Cheonsa dan bahkan membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain tiba-tiba menghilang dan muncul lagi di kamar rumahnya. Hanya itu yang ia inginkan untuk saat ini.

Suara langkah itu terhenti, digantikan dengan aura kehadiran seseorang di hadapannya. Samar dalam kegelapan Cheonsa bisa melihat bayangan tinggi orang di hadapannya, bisa saja laki-laki―oh, atau mungkin dia ini pencuri?

Hingga segala prasangka dalam diri Cheonsa menghilang saat ia merasakan sesuatu yang menyentuh bibirnya. Sangat lembut pada awalnya, bisa dibilang memainkan perasaannya sampai menimbulkan sensasi jantung berdebar. Siapa ini?―Ani, sebenarnya apa maksud dari semua ini?

Cheonsa sangat mengutuki kondisi gelap ini yang menjadi kelemahannya. Ia tak suka kondisi seperti ini, apalagi ada orang asing misterius yang dengan seenaknya menciumnya―ah, ini hari terburuk yang pernah Cheonsa lalui seumur hidupnya.

Masih memejamkan mata―bahkan sejak lampu mati pun ia sudah refleks memejamkan matanya―ia merasa bahwa sekitarnya menjadi terang. Namun ciuman ini sama sekali belum berakhir, justru semakin menjadi dan membuat Cheonsa masuk dalam tahap ketakutan.

Ruangan sudah terang, Cheonsa. Beranikanlah dirimu!

 

Dengan keyakinan dirinya itu, Cheonsa mendorong siapapun orang di hadapannya ini. Matanya terbuka, mendapati seseorang yang sepertinya tak asing baginya. Siapa, ya? Cheonsa agaknya pernah melihat pemuda ini; postur tinggi dengan rambut dicat abu gelap.

“Mingyu-ssi?”

Suaranya hampir tercekat, kehabisan napas ditambah rasa gugup yang tiba-tiba menjalar. So, what was that? Kenapa pemuda bernama Mingyu ini harus menculiknya dan dengan tanpa izin menciumnya seperti tadi?

Was that your first kiss?” tanya Mingyu, tanpa basa-basi, tanpa apa pun bahkan tanpa penjelasan atas apa yang telah ia lakukan.

Demi Tuhan, pertanyaan itu membuat Cheonsa syok sampai kakinya terasa seperti jeli. Bagaimana bisa ada orang segila ini yang tak meminta maaf atau memberikan penjelasan lalu seenaknya saja bertanya seperti itu?

Sial, pertanyaan Mingyu membuat Cheonsa kembali mengingat kejadian sore tadi, membuat Mingyu dapat menyimpulkan satu jawaban atas pertanyaannya sendiri.

He’d lost before the war.

0o0

C H A N Y E O L

Chanyeol sedang duduk di ruangannya saat terdengar suara ketukan pintu. Ia menyuruh orang di balik pintu itu masuk dan mendapati seorang gadis yang cukup tak asing dalam pandangannya. Park Cheonsa, mahasiswi semester tiga jurusan seni. Dengan senyum Chanyeol mempersilahkan Cheonsa untuk duduk di hadapannya.

“Permisi, Sunbae. Dosen Kim bilang jika anda akan membantu saya menyelesaikan beberapa tugas yang beliau berikan tadi siang.”

Mendengar itu, Chanyeol hanya mengangguk membenarkan. Dosen Kim memang mengiriminya pesan jika ada mahasiswanya yang akan meminta bantuan pada Chanyeol―ia termasuk salah satu asisten Dosen Kim. Namun Chanyeol tak pernah menduga jika keberuntungan menghampirinya seperti capung di musim hujan.

Setelah membenahi kertas-kertas laporan kegiatan senat yang tadi sempat ia periksa, Chanyeol akhirnya menyuruh Cheonsa untuk pindah duduk di sofa sudut ruangan. Ruangan senat ini memang sangat nyaman sehingga Dosen Kim tanpa ragu meminta Cheonsa agar mengerjakan tugasnya di sini.

Sementara Chanyeol merapikan dokumennya, Cheonsa juga mulai membuka beberapa lembar tugasnya juga buku musik yang telah ia tulisi separuhnya. Dosen Kim meminta Cheonsa untuk membuat salah satu bentuk perpaduan musik sederhana semacam resital, dengan minimal tiga alat musik sebagai instrumennya. Cheonsa sebenarnya menguasai cukup banyak alat musik, hanya saja ia merasa jika gitar adalah pilihan terbaik namun ia tak terlalu menguasainya.

Itulah mengapa Dosen Kim menyarankan agar Cheonsa meminta bantuan Park Chanyeol yang terkenal sebagai jenius musik di jurusannya. Chanyeol juga merupakan salah satu senior populer di kampus jadi Cheonsa tak butuh waktu lama untuk mengetahui profil Chanyeol.

“Jadi, bagian mana yang sekiranya bisa kubantu?”

Chanyeol telah melepas kacamata yang tadi ia kenakan dan telah duduk di samping Cheonsa, dengan gitar di pangkuannya. Ia membaca lembaran melodi yang telah Cheonsa buat lalu memelajari isinya. Setelah membaliknya tiga kali, Chanyeol menaruh buku itu di atas meja dan menatap Cheonsa.

“Kudengar kau bisa bermain harpa,” ucap Chanyeol, yang dibalas dengan anggukan oleh Cheonsa. “Ini hanya saranku, tapi jika kau ingin menyisipkan melodi gitar pada lagu ini sebaiknya kau ganti melodi harmonika dengan harpa saja.”

Itulah awal dari diskusi mereka. Setelahnya hanya ada suara gesekan pensil dan kertas oleh Chanyeol tak lupa dengan beberapa petikan kunci gitar. Ternyata Chanyeol hanya mengandalkan instingnya saja dalam membuat melodi. Ia tak sampai berulang kali memainkan melodinya di hadapan Cheonsa.

Sampai selesai pun, Chanyeol langsung meletakkan pensilnya dan kembali menatap Cheonsa. “Aku sudah membuat melodi gitarnya dari awal sampai akhir. Kau bisa ganti bagian akhirnya jika tak suka, atau kalau kau menyukainya kau bisa langsung masukkan permainan piano dan harpamu,” ujar Chanyeol, tak lupa dengan senyum manis yang membuat Cheonsa terpesona untuk beberapa detik.

“Mau mendengarkannya sebentar?”

Tanpa menunggu jawaban Cheonsa, Chanyeol langsung memulai permainan gitarnya. Entah mengapa, Cheonsa rasa melodi ini sangat indah, bahkan lebih indah dari yang telah ia buat. Ia hanyut di dalamnya.

Sampai permainan gitar itu ditutup dengan manis, Cheonsa membuka matanya yang tanpa sadar ia pejamkan sedari tadi. Terkejut dibuatnya, wajah Chanyeol berjarak sangat dekat dengannya. Cheonsa sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, sampai tangan besar itu memegang tengkuknya bersamaan dengan benda lembut yang menyentuh bibirnya.

Ia hanya diam tanpa suara, tubuhnya kaku dan tak tahu lagi apakah otaknya tersumbat sesuatu atau sejenisnya. Cheonsa tak bisa berpikir jernih, apalagi ketika Chanyeol melumat bibirnya lebih dalam, lembut namun menggairahkan bagi Cheonsa.

Mungkin Chanyeol sudah terbiasa dengan hal seperti ini, namun tidak dengan Cheonsa. It’s her first time for life.

You think it’s a crime, don’t you?”

Cheonsa kembali tersadar pada realitas begitu mendengar bisikkan dengan suara berat khas Chanyeol. Sungguh, Cheonsa tak pernah memimpikan adegan seperti ini dalam hidupnya. Nampak seperti, entahlah, she doesn’t have any idea of it.

But it’s my pleasure for doing that and I hope you’ll be wonted with me then.”

Lagi-lagi senyum manis itu yang Chanyeol tunjukkan, membuat Cheonsa semakin enggan untuk berkata-kata.

Chanyeol bukanlah pemuda sembarangan, dan Cheonsa sadar akan hal itu.

FIN

9 responses to “A Crime – Angelina Triaf

  1. entahlah kak.. kasian yaaa mingyu.. keduluan chanyeol sunbae ihihihihi.. tapi bener kak.. mingyu sama chanyeol sebelas duabelas wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s