Breakable Heart (Chap 13)

breakable

Chapt 1,, Chapt 2,, Chapt 3,, Chapt 4,, Chapt 5,, Chapt 6,, Chap 7,, Chapt 8,, Chapt 9,, Chapt 10,, Chapt 11,, Chapt 12

“Kyuhyun-ah, tunggu sebentar!” Seru Hyo Rim panic,

Hyo Rim menjerit tertahan ketika sebuah mobil hampir saja menghantam pria itu. Untunglah pengemudi mobil cepat menginjak rem, setelah membayar ongkos taksi Hyo Rim segera mengejar Kyuhyun yang sudah berlari lebih dulu memasuki rumah sakit. Hyo Rim mengerti suaminya tengah kalut setelah menerima kabar tentang Seunghwan, tapi tetap ia tak boleh ceroboh dan mengabaikan keselamatannya sendiri seperti tadi.

Lari Kyuhyun sangat cepat, beruntung Hyo Rim masih mengingat nomor kamar rawat yang disebutkan Park Bo Young di telepon beberapa jam yang lalu. Memasuki lantai lima tempat Seunghwan di rawat, sejumlah pria bersetelan hitam berjajar rapi di sepanjang koridor, mengingatkan Hyo Rim pada tiga orang yang mengawasi mereka di Jeju tempo hari. Kyuhyun berdiri di depan pintu yang tertutup, di samping nya berdiri Kim Jong Woon dan Park Bo Young. Sepertinya mereka sedang menjelaskan kondisi Seunghwan pada Kyuhyun.

Hyo Rim berusaha memelankan langkah kakinya tak ingin mengganggu, namun hak sepatu tak tahu diri itu menimbulkan bunyi ketika beradu dengan lantai marmer membuat ketiga orang itu menoleh. Kyuhyun tersenyum lemah dan merentangkan tangan kirinya meminta Hyo Rim mendekat.

“Kami ingin menemui dokternya,” Kata Kyuhyun ketika Hyo Rim telah berada di dekatnya,

Bo Young mengangguk patuh dan menuntun mereka menuju ruang dokter di lantai empat. Hyo Rim mengikuti Kyuhyun yang tak melonggarkan sedikit pun rangkulannya di pinggang Hyo Rim. Suaminya tengah membutuhkan dukungan darinya untuk melewati semua ini, dan itu sama sekali tak mengganggu Hyo Rim. Justru ada hal lain yang membuat Hyo Rim terganggu, sepersekian detik ketika mereka menjauhi kamar rawat Seunghwan, Hyo Rim merasa tengah diawasi dan tiba-tiba saja bayangan-bayangan menakutkan yang telah lalu kembali muncul silih berganti. Dimulai dari petugas kepolisian yang membawa kantung-kantung berisi jenazah orang tuanya. Suasana kelam di rumah duka lalu tangisan Sa Eun ketika kehilangan janin.

Hyo Rim menggeleng pelan dan mengusap kasar wajahnya, “Sudah berlalu-semua sudah berlalu.

Kyuhyun menoleh menyadari Hyo Rim berbisik pelan, “Ada apa?”

Hyo Rim tersenyum, dan menatap lembut Kyuhyun. Bayangan-bayangan itu muncul karena kondisi ayah mertuanya mengingatkan Hyo Rim pada kehidupannya yang dulu, Hyo Rim meyakinkan dirinya sendiri. Kyuhyun membutuhkannya sekarang, ia tak boleh lemah demi Kyuhyun.

“Tidak apa-apa.”

000ooo000

Masih segar dalam ingatannya beberapa hari yang lalu, Hyo Rim-lah yang terbaring di kamar rumah sakit dan kini ia melihat ayahnya sendiri yang tak berdaya dikelilingi selang-selang mengerikan di sekujur tubuhnya. Demi apapun, Kyuhyun mulai membenci aroma pembersih ruangan yang menjadi cirri khas rumah sakit . Meski Kyuhyun dan Seunghwan tak seperti kebanyakan ayah dan anak lainnya, tetap saja Kyuhyun tak menyukai melihat Seunghwan nampak lemah seperti sekarang. Kyuhyun pun semakin membenci dirinya sendiri, selama ini Kyuhyun mengira Seunghwan hanya mengutamakan dirinya sendiri dan tak pernah mau peduli pada orang lain namun nyatanya, dirinya sendiri yang egois.

Kyuhyun sama sekali tak pernah tahu Seunghwan mengidap penyakit jantung, bahkan dokter sempat memberikan vonis usia Seunghwan tak akan lama lagi jika Seunghwan tak segera mengambil istirahat total dan melakukan operasi. Dan Seunghwan tak pernah melakukannya, jika Seunghwan mundur maka tak ada pilihan lain selain Kyuhyun yang menjadi penggantinya. Kyuhyun tak menginginkan itu, Seunghwan mengetahuinya karena itulah akhirnya Seunghwan menyembunyikan penyakit nya selama ini.

“Kyu, aku akan pulang sebentar mengambil pakaian ganti dan makanan. Apa kau ingin aku membawakanmu sesuatu?” Tanya Hyo Rim, Kyuhyun memutar tubuhnya membelakangi tempat tidur Seunghwan.

“Aku ikut.” Tegas Kyuhyun menghampiri Hyo Rim namun Hyo Rim menahan lengan Kyuhyun,

“Lalu siapa yang akan menemani Aboenim? Tak perlu mengkhawatirkanku, ada Paman Han yang menjemput.”

Tapi Kyuhyun seakan tak mendengar apa yang Hyo Rim ucapkan, ia tetap menarik Hyo Rim keluar dari kamar rawat Seunghwan. Keluar dari pintu, Park Bo Young, Han Sae Jung serta Kim Jong Woon telah menunggu mereka.

“Paman Han, antar Nona Park pulang.” Kata Kyuhyun lalu ia beralih pada Jong Woon, “Jong Woon-ssi, segera kabari aku bila terjadi sesuatu pada ayah.”

Baik Han Sae Jung, Park Bo Young maupun Kim Jong Woon tak membantah perintah Kyuhyun, detik ini di mata Hyo Rim, Kyuhyun tiba-tiba saja nampak seperti Seunghwan, mungkinkah?

“Aku akan bekerja di kantor, mulai besok.” Kata Kyuhyun setelah mereka tinggal berdua di dalam lift, Kyuhyun seakan dapat membaca pertanyaan Hyo Rim yang tak terucap.

“Kau yakin?” Hyo Rim tahu, sejak dulu Kyuhyun tak menyukai dunia bisnis meski memiliki gelar di bidang itu, Kyuhyun hanya mengikuti keinginan Seunghwan agar tak menghentikan aliran dana dalam rekeningnya.

“Tak ada pilihan lain, ada ribuan pekerja dan ratusan kepala keluarga yang menggantungkan kehidupannya di sini. Aku tak mungkin mengabaikan mereka.” Kyuhyun menatap bayangan khawatir Hyo Rim yang terpantul dari pintu lift, “Mungkin akan lain ceritanya, seandainya kita telah memiliki Cho Junior.”

Hyo Rim ikut memandang pantulan Kyuhyun di pintu lift, “Tak masuk akal, setidaknya ia sudah harus berusia dua puluh tahun!”

Kyuhyun terkekeh melihat pipi Hyo Rim yang bersemu merah, ia meremas jemari Hyo Rim menenangkan, “Jangan khawatir, semua ini hanya sementara. Pria tua itu tak serapuh kelihatannya, ia akan segera pulih. Setelah itu, semua akan kembali seperti semula.”

Semoga. Kyuhyun mengatakannya berusaha menghilangkan kekhawatiran Hyo Rim. Namun sia-sia. Keduanya mendengar dengan baik apa yang dokter jelaskan tadi, Seunghwan koma atau mengalami kematian otak. Keadaan dimana syaraf-syarafnya berhenti bekerja semenatar organ-organ penting lainnya berfungsi dengan baik. Tak ada yang dapat dilakukan, selain berdoa dan memohon keajaiban datang.

Hingga lift tiba di lantai dasar, tak ada lagi kata yang terucap baik dari Hyo Rim maupun Kyuhyun, keduanya membisu namun mata mereka saling bicara. Dan melalui mata, pembicaraan mereka lebih jujur. Kyuhyun jelas tak dapat menyembunyikan rasa kalut dari istrinya, semakin hari Hyo Rim semakin memahami Kyuhyun. Hyo Rim tahu, mengambil alih posisi Seunghwan bukanlah ketakutan terbesar Kyuhyun –ada banyak anak buah Seunghwan yang akan membantu Kyuhyun nanti –melainkan kepergian Seunghwan.

Sebesar apapun kebencian yang ia simpan untuk Seunghwan, pria itu tetap ayahnya. Tak akan ada yang dapat mencuci darah yang mengalir dalam tubuhnya.

000ooo000

Bunyi elektrokardiograf menjadi melodi indah di pendengaran Jong Woon mulai malam itu. Jong Woon bahkan mengetuk-ngetukan jemarinya ke kepala tempat tidur Seunghwan seirama elektrokardiograf. Selain kenyataan bahwa Kyuhyun dan Hyo Rim selamat dari kebakaran di Daegu, Jong Woon merasa hari ini adalah salah satu hari terbaiknya selama tiga belas tahun terakhir. Keterpurukan Seunghwan alasan terbesar kebahagiaan Jong Woon, ia tak akan pernah melupakan wajah memelas Seunghwan ketika ia membuka kedoknya.

“Dokter mengatakan otak mu mati. Apa itu karena kau berpikir mereka sudah mati? Jadi kau juga tak ingin hidup, hah?” Desis Jong Woon sambil memainkan selang infuse, “Keputusanmu salah, mereka masih hidup. Aku heran, apa yang membuat kalian begitu beruntung selama ini?”

Jong Woon bangkit dan berjalan menuju jendela, ia menyibak tirai melihat Kyuhyun dan Hyo Rim keluar dari rumah sakit.

“Tapi ini bagus untukku, aku memiliki waktu lebih banyak. Teruslah seperti ini, dan anak itu akan kehilangan pegangan. Jiwanya akan semakin rapuh, dan itu akan memudahkanku mencapai apa yang kuinginkan,” Jong Woon berbalik dan menatap dingin Seunghwan, “Sekali ini, kau nampak seperti ayahku.”

0000ooo000

Rasanya baru sedetik yang lalu ia terpejam, namun suara bising ponsel membuat Hyo Rim memaksakan diri untuk bangun dan bergegas mengangkat panggilan di pagi buta sebelum seluruh penghuni rumah ini bangun.

“Ha—“

            “Hyo, dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?” Belum sempat Hyo Rim tuntas mengucapkan salam, seseorang di seberang sana memotong Hyo Rim.

Hyo Rim mengerutkan kening mengecek caller id di layar ponsel –Kyuhyun menepati janjinya memberikan Hyo Rim ponsel baru begitu mereka menginjakan kaki di Seoul, dengan satu syarat jangan memberikan nomor ponselnya yang baru pada Choi Siwon –Lee Hae Ri, Hyo Rim menepuk dahinya pelan karena Seunghwan masuk rumah sakit mereka benar-benar lupa tentang ulang tahun Ha Myung.

“Hae Ri-ya, maaf sepertinya kami tak dapat hadir di ulang tahun Ha Myung besok. A-“

Sudahlah, itu tak penting. Sekarang aku hanya ingin tahu, kau ada dimana?” Desak Hae Ri lagi-lagi menyela Hyo Rim.

“Di Seoul, di tengah perjalanan kami terpaksa memutar arah. Ayah Kyuhyun masuk rumah sakit.”

Syukurlah.”

            “Hae Ri-ya, bagaimana mungkin kau bersyukur?” Tegur Hyo Rim dengan suara pelan, dan keluar meninggalkan kamar setelah sebelumnya memastikan Kyuhyun masih terlelap. Mereka semua tahu tabiat Cho Seunghwan, tapi rasa syukur tetap bukan respon baik

Bukan itu maksudku, Hyo. Aku bersyukur karena kalian selamat dari kebakaran.”

            “Kebakaran?”

Rumah peristirahatan kalian di Daegu terbakar, kami sangat takut kalian sudah tiba di sana saat kebakaran terjadi. Ya, Tuhan…. Hyo aku tak dapat membayangkan kalau itu sampai terjadi. Kami yang membuat kalian datang ke sini. Kakiku lemas sekali, kalau kau ingin tahu. Tapi syukurlah kalian selamat, itu yang terpenting.”

            “Terbakar. Apa maksudnya, Hae?”

“Baiklah, akan kukirimkan fotonya sebentar lagi. Di sini berita nya sangat cepat menyebar, rumah itu rumah terbesar di sini. Kurasa belum ada yang memberi kabar hingga ke Seoul. Tapi sudahlah, keluarga suamimu tak akan jatuh bangkrut hanya karena satu rumah, yang terpenting kalian selamat. Dan untuk ayah Kyuhyun, sampaikan—“

Hyo Rim tak begitu menyimak lagi kalimat Hae Ri, begitu foto yang menampilkan api melalap habis sebuah rumah besar yang dikelilingi hutan buatan muncul, Hyo Rim hanya memikirkan suaminya. Kejadian di Jeju, Seunghwan terkena serangan jantung dan yang terbaru tempat yang seharusnya sekarang mereka tempati habis terbakar membuat Hyo Rim mengambil satu kesimpulan. Kyuhyun tak perlu tahu tentang kebakaran ini, setidaknya tidak dalam waktu dekat ketika kondisi psikologisnya masih tertekan seperti sekarang.

Setelah bicara dengan Hae Ri hingga telinganya panas, Hyo Rim kembali ke kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur merapikan selimut Kyuhyun, akhirnya Hyo Rim mengerti kenapa Kyuhyun bersikeras ingin berhenti di kedai jjajangmyun saat di Daegu semalam. Kyuhyun menghabiskan tiga mangkuk mie hitam itu, dan memerlukan waktu satu jam bagi Hyo Rim membujuk Kyuhyun agar kembali ke mobil. Entahlah, jika bukan karena keinginan Kyuhyun yang aneh mungkin mereka kini hanya nama.

“Kau sudah bangun, jam berapa sekarang?” Tanya Kyuhyun dengan suara parau,

Hyo Rim melirik jam analog di samping tempat tidur, “Jam lima, kembali tidur. Masih terlalu pagi untuk bersiap-siap.”

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan mata, berguling dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, “Aku harus berangkat pagi sekarang, banyak yang harus kupelajari.”

“Baiklah, aku akan menyiapkan pakaian dan sarapan untukmu.” Hyo Rim menghela nafas, Kyuhyun benar-benar berniat menggantikan Seunghwan. Ia membuka lemari dan mencoba mencocokan warna yang pantas suaminya kenakan hari ini.

“Tunggu,” Tiba-tiba Kyuhyun sudah berdiri di belakangnya, tanpa permisi pria itu memutar tubuh Hyo Rim menghadapnya dan mengecup singkat Hyo Rim. Ketika melihat Hyo Rim memucat, Kyuhyun hanya menyeringai jahil.

“Yak! Setidaknya cuci dulu wajahmu.” Pekik Hyo Rim saat ia mendapatkan kembali kesadarannya.

“Baiklah, akan kuingat besok!” Ujar Kyuhyun ringan dan berlalu kembali menuju kamar mandi.

000ooo000

Selamat Pagi! Kim In Joo tersenyum menyambut matahari pagi begitu ia membuka jendela dan membiarkan udara pagi berhembus melewatinya memenuhi apartemen Choi Siwon. Sepekan terakhir, In Joo kembali hilir mudik di kediaman pria itu, melakukan kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika mengatur jadwal Siwon. Perbedaannya, In Joo tak lagi mengatur jadwal seorang actor melainkan mengurus kebutuhan sehari-hari Choi Siwon sang komikus. Mulai dari berbelanja isi kulkas, mengambil pakaian di laundromart, bahkan hingga mengambil uang tunai di mesin anjungan. Meski berita tentangnya telah mereda, belum aman bagi Siwon untuk keluar rumah terlalu sering.

Selama menjadi actor, Siwon menggambar secara sembunyi-sembunyi dan melakukannya di sela kesibukannya bermain peran. Tak ada yang mengetahui pekerjaan sampingan nya itu, termasuk Hyo Rim. Tapi semenjak Siwon hengkang dari dunia keartisan Siwon tak merasa perlu melakukan itu lagi.

“In Joo-ssi, kopi!” Teriak Siwon dari dalam ruang kerja,

In Joo menoleh dan bergegas menuju dapur. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, setidaknya kini ia memiliki alasan untuk berada di dekat pria yang ia cintai. Kebanyakan orang mungkin akan mengatakan In Joo bodoh bahkan gila, karena kini ia tak lebih dari asisten rumah tangga dimana uang yang ia terima tak sebesar dari pekerjaan sebelumnya. Tapi hanya In Joo yang mengetahui, justru kedamaian ia dapatkan sekarang.

Dua hari bekerja tanpa pria itu membuat In Joo mengerti apa yang pantas ia perjuangkan dan rasanya tak perlu In Joo menjelaskan pada setiap orang yang mempertanyakan keputusannya meninggalkan pekerjaannya terdahulu. Biarlah mereka dengan pemikiran mereka sendiri tentangnya. Tak ada yang dapat mengendalikan pikiran orang lain, karena yang manusia miliki hanya kehendak untuk mengendalikan pikirannya sendiri. Tuhan juga hanya memberikan manusia dua buah tangan, tak akan cukup menutup mulut setiap orang. Manusia hanya mampu menutup kedua telinga mereka dengan dua tangan yang Tuhan berikan.

“Siwon-ssi, kau ingin kubuatkan sesuatu untuk makan siang?” Tanya In Joo ketika ia selesai menaruh cangkir kopi di meja Siwon.

“Telur dadar.”

“Kau sudah makan telur kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Itu tidak baik.”

“Apa saja, kalau begitu.” Tegas Siwon tak ingin memperpanjang topic yang baginya membosankan, ia mendorong kursinya menjauh dan keluar menuju kamar mandi meninggalkan In Joo yang menatap kesal punggung Siwon.

In Joo lalu memilih membersihkan ruang kerja Siwon yang lebih mirip kapal pecah. Jarang sekali Siwon mengijinkan In Joo masuk ke ruang kerjanya kalau bukan untuk meminta diambilkan sesuatu seperti tadi. Setelah memastikan semua sampah masuk ke dalam tempatnya dan tak ada debu yang terlihat, In Joo melirik sekilas layar computer Siwon. Satu hari setelah In Joo menemukan Siwon terkapar di dapur, mereka menandatangani kesepakatan kerja dan karena itulah In Joo mengetahui profesi Siwon yang sekarang, tapi hingga kini tak sekalipun In Joo mengetahui komik jenis apa yang Siwon buat.

In Joo segera menyesali keputusannya untuk mencuri pandang isi komik Siwon, sekali lihat pun ia tahu siapa tokoh utama perempuan dalam komik itu. Jung Hyo Rim. Meski dengan nama lain, namun penggambaran karakter dan penampilan yang Siwon buat meyakinkan In Joo, gadis dalam layar memang Hyo Rim. Ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka, In Joo bergegas meraih kotak sampah dan keluar. Di depan pintu, In Joo berselisih jalan dengan Siwon dan mereka seperti tengah melakukan tarian salsa karena di saat In Joo ke kiri Siwon mengikuti begitupun ketika In Joo ke kanan, tanpa sengaja Siwon bergeser ke arah yang sama.

“Ya Tuhan,”Desah In Joo lalu menyamping memberikan Siwon cukup ruang untuk berjalan lebih dulu.

Siwon mengangkat bahu tak peduli, lalu tanpa sengaja ia melihat mata In Joo yang berkaca-kaca dan menahan bahu In Joo ketika In Joo baru akan melangkah.

“Apa?”Tanya In Joo ketus.

“Aku ingin pizza,” Siwon menambahkan ketika In Joo nampak tak mengerti, “Makan siang hari ini pesankan aku pizza.”

Kim In Joo menganga tak percaya. Ia sempat mengira Siwon akan menanyakan perihal matanya yang berkaca-kaca karena jelas sekali Siwon melihat In Joo hampir menangis tadi. In Joo menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaannya. Sejak awal memang ia sendiri yang mendatangi pria ini, dengan segala resikonya. Baik itu sikap dingin dan kaku Choi Siwon ataupun, perasaan pria itu untuk perempuan lain.

“Baik, akan kupesankan.”

“OK!”

Ooo0000ooO

“Nyonya, apa yang anda lakukan? Biarkan saya yang memasak.” Kata Lee Ahjumma dari ambang pintu dapur.

Sejak satu jam lalu, sepulang dari HoneyBear Hyo Rim menyerbu dapur dan mengusir Lee ahjumma beserta anak buahnya. Berkali-kali Lee Ahjumma meminta Hyo Rim untuk meninggalkan dapur, berulang kali pula Hyo Rim mengancam akan kabur dari rumah jika ia tak diperbolehkan menggunakan dapur. Hyo Rim tersenyum menatap kuah sup yang hampir matang, ia mengecilkan api lalu memutar tubuhnya menghadap Lee Ahjumma.

“Ahjumma, mulai hari ini menu makan malam aku yang akan menyiapkannya sendiri, OK!”

“Maaf Nyonya, tapi bagaimana kalau Tuan mengetahuinya?”

Hyo Rim mengangkat sebelah alis tak mengerti, “Ada masalah apa memangnya?” Hyo Rim kembali berbalik dan mengaduk kuah sup sebelum mematikan api, “Apa ia takut aku meracuninya?”

“Bukan seperti itu, Nyonya. Hanya saja kami diperintahkan untuk selalu menjaga keselamatan Nyonya.”

“Ne, kalian bercanda? Menggelikan, apa yang berbahaya dari memasak?”

Semua pelayan menunduk patuh dan Hyo Rim menyadari tak ada gurauan sama sekali dari kalimat Lee Ahjumma, dan perkara menggunakan dapur merupakan masalah serius di mata Lee Ahjumma. Hyo Rim menggigit bibir bawahnya, setelah mempertimbangkan sebentar akhirnya Hyo Rim memutuskan untuk membicarkan masalah ini nanti.

“Aku mengerti, sementara ini kita akan menyembunyikan masalah hari ini. Setuju?”

“Baik, Nyonya.” Jawab Lee Ahjumma dan anak buahnya,

“Kalau begitu, sebaiknya Nyonya kembali ke atas dan menunggu Tuan pulang.” Lanjut Lee Ahjumma, sambil mendorong pelan punggung Hyo Rim keluar dari dapur.

Hyo Rim yang terkejut hanya dapat menurut begitu saja dan memandang pasrah punggung Lee Ahjumma. Baiklah, setidaknya ada satu menu masakan buatannya malam ini. Setelah kemajuan pesat dalam hubungan mereka, Hyo Rim berjanji akan menjadi istri yang berbakti untuk Kyuhyun. Langkah pertama dengan membuatkan masakan dengan tangannya sendiri. Tapi baru di percobaan pertama, langkahnya sudah terhalang batu sandungan. Hyo Rim tak tahu apakah di keluarga ‘besar’ yang lainnya Nyonya rumah mereka tak pernah menyentuh peralatan masak, karena berapa kali Hyo Rim menangkap ringisan ketakutan dari mulut anak buah Lee Ahjumma setiap kali Hyo Rim menyentuh pisau.

“Berlebihan, aku bahkan belajar memasak di usia delapan tahun!” desis Hyo Rim pada dirinya sendiri.

Hyo Rim melirik jam tangannya, masih dua jam lagi jam kerja berakhir. Meski Hyo Rim tak yakin apakah Kyuhyun akan pulang sesuai jadwal atau tidak. Melihat bagaimana posisi Kyuhyun dan seberapa besar tanggung jawab yang ia emban sepertinya kecil kemungkinan Kyuhyun akan pulang tepat waktu. Sepertinya, ini waktu yang tepat baginya untuk membaca beberapa buku yang baru ia beli –dari tokonya sendiri.

000ooo000

Makan malam di apartemen Choi Siwon berlangsung hening, selain karena ada Kim In Joo disini –karena hujan lebat, membuat In Joo terpaksa menginap –juga karena berita yang mereka tonton sekarang. Cho Seunghwan terkena serangan jantung, harga saham Cho Corps menurun drastis. Siwon bukan pengamat bisnis, namun ia tahu hal buruk mulai terjadi. Jong Woon telah bertindak, dan itu artinya ancaman Siwon tempo hari tak pernah Jong Woon hiraukan.

In Joo terdiam memerhatikan jemari Siwon yang mengepal di atas meja makan. Sama halnya dengan Siwon, In Joo mengerti apa yang tengah terjadi. Hanya saja kekhawatiran mereka bertolak belakang sekarang.

“Siwon-ssi, besok aku akan membawa Hoon ke salon. Sudah waktunya kuku Hoon dipotong.” In Joo berusaha mengalihkan perhatian Siwon, tapi pria itu tetap menatap lurus layar tv.

“Setelah itu aku juga akan mengambil pakaianmu dari laundry, apakah merepotkan kalau kau menjemputku di laundry besok?”

In Joo menggigit-gigit ujung sendoknya, sepertinya ia harus memutar otak lebih keras untuk mendapatkan perhatian pria itu sekarang. Padahal biasanya Siwon akan segera merespon jika berkaitan dengan Hoon atau kata merepotkan. Tak berapa lama kemudian Siwon mendorong kasar kursinya dan setengah berlari menuju kamarnya. Siwon keluar dengan jaket tebal dan kunci mobil di tangan, perut In Joo mencelos entah kenapa In Joo tahu tujuan Siwon.

“Jangan pergi!” In Joo tiba-tiba berdiri menghalangi langkah Siwon dengan merentangkan kedua tangannya. Suaranya tegas memerintah namun In Joo memejamkan mata rapat-rapat siap jika Siwon akan memarahinya.

“Kim In Joo, apa yang kau lakukan ?” Tebakan In Joo salah, karena Siwon tak memarahinya justru ia sangat heran dengan tingkah In Joo yang tiba-tiba.

In Joo membuka matanya, perlahan mengangkat wajahnya dan melihat Siwon tengah menatapnya heran. Benar, Siwon belum mengetahui bahwa In Joo mengetahui apa yang seharusnya tak ia ketahui.

“Aku tahu kau akan pergi kemana, dan apa yang akan kau lakukan disana. Kumohon jangan pergi dan hentikan semuanya.”

“Kim In Joo, jangan bicara yang aneh-aneh. Apa maksudmu?”

“Aku-aku tahu hubunganmu dengan Hyo Rim Eonni—“

“Semua Korea juga mengetahuinya, lalu?” Sela Siwon tak peduli,

“Dan pria bernama Kim Jong Woon, aku tahu dendam yang ia miliki pada keluarga mertua Hyo Rim Eonni, aku tahu selama ini kau yang selalu melindungi Hyo Rim Eonni darinya, luka-luka itu kau dapatkan setelah berkelahi dengan pria itu. Dan…” In Joo berhenti untuk menghela nafas, tiba-tiba tenggorokannya terasa sangat berat, “Meski kau tak mengatakan apa yang akan kau lakukan sekarang, aku hanya yakin, berhentilah—kumohon—aku tak ingin kau menderita —kumohon….”In Joo akhirnya berhenti karena tanpa sengaja ia tersedak air matanya sendiri.

Siwon terpaku tak percaya melihat Kim In Joo yang menangis hingga tubuhnya bergetar. Sesering atau sekeras apapun Siwon memarahi gadis ini, tak pernah sekali pun In Joo menangis karenanya. Kini, In Joo menangis untuknya dan itu membuat Siwon seperti sedang bercermin. Ketika In Joo menangis untuknya, Siwon seakan melihat dirinya sendiri beberapa pekan yang lalu. Kepedihan itu, masih sangat terasa. Rasa kosong dalam hatinya bahkan belum juga hilang. Siwon mengerti apa yang terjadi pada Kim In Joo, karena ia juga mencintai orang yang tak mungkin membalas perasaannya.

000ooo000

Hyo Rim membuka mata ketika merasakan pergerakan di sampingnya.

“Aku membangunkanmu?” Tanya Kyuhyun,

“Sudah pu’ang?” Hyo Rim balik bertanya disertai kuapan lebar,

“Kembali tidur, maaf aku mengganggu tidurmu.” Kyuhyun mengacak rambut Hyo Rim kasar lalu membawa buku-buku yang tadi berserakan di atas tempat tidur ke dalam rak buku.

“Ani, aku sama sekali tak berniat tidur tadi. Aku berencana menunggumu pulang sambil membaca buku yang tadi kubeli. Tapi entah kenapa aku malah tertidur.”

“Apa kau berencana memindahkan Honeybear ke rumah?” Kyuhyun mendecak melihat banyaknya buku dalam pelukannya,

“Aku hanya memastikan Honey Bear hanya menjual buku-buku berkualitas.” Kata Hyo Rim lalu mengambil sebagian buku dan ikut merapikannya ke dalam rak, “Bukankah penjual yang baik adalah penjual yang mengetahui barang yang ia jual dengan baik?”

“Atau kau hanya ingin selalu menjadi pembaca pertama, iya kan?” tebak Kyuhyun

“Sepertinya.” Ujar Hyo Rim tak peduli, “Ah benar, aku sekarang mengikuti saranmu di sekolah menengah dulu.”

“Saran yang mana?”

“Mencoba menyukai genre roman. Tadi siang sekelompok siswi SMA memborong banyak novel roman dan mereka hanya menginginkan novel dari penulis yang sama. Ada satu judul yang tidak mereka beli, mereka bilang itu novel terbaru tapi sayang kita kehabisan stok. Minggu depan mungkin baru aka nada, dan mereka berjanji akan membeli banyak eksemplar. Hebat sekali, fan drama atau Kpop mungkin tak akan aneh. Tapi novel, baru kali ini kulihat. Karena penasaran, aku beli dua judul.” Hyo Rim melihat-lihat buku dalam pelukannya dan menunjukan dua buku pada Kyuhyun.

“See The Sky dan ini The Waves, aku belum sempat membacanya, tapi dari sinopsisnya sepertinya menarik. Ah iya, buku yang waktu itu kau ambil di mobil karangan Mark Han juga.” Hyo Rim mencoba mengingat kembali judul buku sama sekali tak menyadari wajah Kyuhyun yang kehilangan warna begitu melihat dua buku di tangan Hyo Rim.

“Baguslah!” Putus Kyuhyun segera dan merebut buku-buku di tangan Hyo Rim lalu menaruh asal di atas rak. Secepat mungkin setelah Hyo Rim terlelap, Kyuhyun harus kembali menyembunyikan buku-buku itu,

“Ayo kita makan, aku sangat lapar.” Bohong Kyuhyun, padahal belum satu jam yang lalu ia makan malam dengan klien.

Wajah Hyo Rim segera berseri, ia teringat akan sup buatannya tadi sore, “Tentu, aku akan menghangatkan makanan. Bagaimana hari pertama-mu?” Tanya Hyo Rim sambil menuruni tangga diikuti Kyuhyun yang tak henti menghela nafas lega karena berhasil mengalihkan perhatian Hyo Rim.

“Tak begitu menarik, hanya setumpuk kertas berisi angka-angka membuatku teringat pada guru botak kita di SMA—“

Dan begitulah malam itu diakhiri dengan keluhan juga canda tawa pasangan suami istri itu. Tak menyadari badai besar sedang bersiap menghantam rumah mereka.

TBC

5 responses to “Breakable Heart (Chap 13)

  1. Siwon kasian bgt di sini… Kyuhyun juga kasian tapi dia masih punya Hyo rim di sisinya. Jongwon kenapa kau kejam sekali. Tapi emang klo dah dendamnya besar sudah bertahun tahun pula, susah bgt buat diilangin. Keep writing… 😀

  2. Wehh gue cuman berharap smoga hubungan mereka baik” sj ..kasian gue bru baikan trus nnt bklan pisah lg kan gue jd baper ntar hahhaha 😅😅
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s