Breakable Heart (Chap 15)

image

Seandainya ia memiliki pisau saat ini mungkin ia sudah menancapkan nya berkali-kali tepat di jantung pria yang kini terlihat tidur dengan tenang di hadapannya. Jung Hyo Rim mendengus. Lihatlah, bahkan pria ini dapat menghirup udara bebas setelah apa yang ia lakukan. Pernahkah pria ini merasakan penyesalan atas kesalahannya dulu? Tentu tidak, mungkin ia tak pernah menganggap apa yang ia lakukan kesalahan. Cho Seunghwan tak pernah menganggap membunuh dan menghancurkan sebuah keluarga merupakan kesalahan. Bagi nya, nyawa manusia tak lebih berharga jika dibandingkan keselamatan kerajaan bisnisnya.
Hyo Rim memandang nanar Seunghwan yang masih memejamkan mata, ia meraih selang oksigen di samping Seunghwan. Hanya memerlukan kurang dari tiga detik, ketika selang ini Hyo Rim potong maka berakhir pula kehidupan Cho Seunghwan yang agung. Ya, dalam dirinya kini sebuah dorongan besar memerintahkan Hyo Rim untuk melakukan apa yang ia pikirkan. Dengan begitu mereka impas. Mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa.
“…ia akan segera pulih. Setelah itu, semua akan kembali seperti semula”
“Brengsek!” Umpat Hyo Rim bergerak mundur dari tempat tidur Seunghwan.
Ketika bayangan percakapan Hyo Rim dan Kyuhyun di lift melintas, seolah ada aliran listrik yang menyengat jemarinya. Sungguh tak adil, bahkan untuk membalas dendam pun ia tak mampu.
“Tidak,” Hyo Rim menggeleng dan menghapus air matanya, “Aku tak mengijinkanmu mati sekarang, kau berhutang kata maaf padaku.”
000ooo000
Dua bulan. Enam puluh satu hari dalam hitungan kalender matahari dan Cho Seunghwan masih dalam keadaan yang sama. Pria itu tetap terlelap dalam koma ditemani mesin-mesin yang menunjang kehidupannya. Sesekali memang anak menantunya datang berkunjung, terutama pada akhir pekan. Tapi hanya satu orang yang selalu datang di setiap hari menemani Seunghwan, menggunting kuku Seunghwan ketika kuku-kukunya memanjang dan membacakan kisah dari novel untuk Seunghwan.
“Langkah kakinya menderap,  dengan nafas tersengal, sekuat tenaga gadis itu menghunuskan pisau ditangannya tepat di dada pria itu. Dua puluh centi menembus jantung. Darah membuncah keluar. Crashhh!! Anne, menyeringai ketika tangannya berubah merah semerah darah yang mengalir dari tubuh Dwayne.” Jong Woon berhenti membaca dan mengernyit tak suka, “Memangnya bunyi nya akan seperti itu? Crashhh!! Sepertinya ia mengada-ada. Lebih mungkin kalau Byur! , atau Srokkh!”
Kim Jong Woon melirik mata Seung Hwan yang tetap terpejam, “Lain kali kita akan membuktikannya, apakah bunyi nya seperti itu atau bukan. Karena itu cepatlah sadar.”
Ponsel di atas meja berdering keras menghentikan gerakan Jong woon yang tengah membuka kembali halaman yang ia baca. Jong Woon mendesah kesal melihat caller id yang terpampang.
“Dasar anak ingusan, tak pernah bisa mandiri. Apa lagi yang ingin ia keluhkan?” Gerutu Jong Woon sebelum menempelkan ponsel ke telinga kiri.
“Jong Woon-ssi, kau ada dimana?”
“Saya sedang mengunjungi Tuan Besar,”
Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana, Jong Woon memutar matanya bosan lalu melirik jam yang melingkar di tangannya. Seharusnya anak ini ada di Shanghai sekarang, apa ia kesulitan dengan bahasa mandarin?  Batin Jong Woon.
“Segera pergi ke bandara, Nona Park sudah menunggumu untuk menggantikanku.”
“Ye?” Kali ini Jong Woon benar-benar terkejut.
“Hyo Rim sakit, aku tak mungkin meninggalkannya sendirian sekarang. Lagipula kaulah yang lebih mengetahui tentang perkembangan anak cabang di Shanghai. Nona Park telah mengatur semua kebutuhanmu selama di Shanghai, kau hanya perlu mengambil paspormu lalu pergi ke Bandara.”
“Baik, saya mengerti.” Ujar Jong Woon, tak lama sambungan terputus.
Jong Woon melonggarkan simpul dasi dan membanting ponsel ke atas sofa. Ia melangkah tergesa menghampiri Seunghwan lalu mencengkeram kerah piyama pasien Seunghwan. Tak lama setetes air mara membasahi Seunghwan. Hanya satu tetes.
“Ini terakhir kalinya aku membiarkan kalian menginjak kepalaku.” Desis Jong Woon sebelum meninggalkan kamar rawat Seunghwan.
000ooo000
Kediaman Cho mendadak sunyi pagi itu. Tak ada yang berani mengeluarkan suara atau bunyi-bunyian sekecil apapun. Para pelayan diam di tempat, selain Lee Ahjumma tak ada yang berani naik ke lantai atas untuk melihat apa yang terjadi setelah Nyonya rumah mereka jatuh pingsan di ruang makan beberapa menit yang lalu.
Sementara itu, di kamar utama Kyuhyun mematung memerhatikan dr. Lee memeriksa istrinya. Kejadiannya begitu cepat, ia tak sempat melihat Hyo Rim yang jatuh tak sadarkan diri. Kyuhyun hanya mengetahui bunyi benturannya cukup keras dan ketika ia memutar tubuhnya Kyuhyun menemukan Hyo Rim sudah terlentang di lantai ruang makan dengan remah roti di sekelilingnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Kyuhyun ketika kesabarannya sudah habis, ini lebih dari sepuluh menit Lee Hyukjae memeriksa Hyo Rim, tapi pria itu belum mengatakan apa apa.
Hyukjae merapikan peralatannya, bangun dan berbalik menghadap Kyuhyun dengan senyum terkembang, “ Tak perlu risau kawan, semua baik-baik saja. Istri dan anak mu sehat. Hanya saja tekanan darahnya cukup rendah. Ia kurang tidur dan terlalu banyak berpikir.”
Otak Kyuhyun membeku begitu mendengar penjelasan Hyukjae. Lehernya juga tiba-tiba berubah seperti engsel pintu yang kekurangan pelumas, bergerak kaku dari senyum konyol Lee Hyuk Jae beralih ke tubuh lemas istrinya yang terbaring di tempat tidur.
“Anak?”Bisik Kyuhyun tak percaya
“Benar kawan, anakmu baik-baik saja—“Hyukjae berhenti ketika menangkap kejanggalan dalam ekspresi Kyuhyun, “Tunggu, jangan katakan kau belum mengetahui istrimu tengah mengandung.”
Kyuhyun memfokuskan perhatiannya pada Hyukjae, “Sayangnya, iya.”
“Oh My God!” Pekik Hyukjae berlebihan, ia menekap mulutnya yang menganga lebar, “Tunggu-tunggu, Kyu. Jauhkan semua pikiran burukmu. Mungkin Hyo Rim lupa tak memberitahumu, lagipula sejak pemeriksaan pertama ia belum pernah datang lagi untuk melakukan check up rutinannya.”
“Itu-itu sering terjadi. Kau tahu, kehamilan pertama. Kadang perempuan tak menyadari mereka sedang mengandung. Yah, ia lupa. Bisa saja.” Tambah Hyukjae gugup menyadari ia hampir saja menyulut pertengkaran hebat di rumah itu.
“Berapa usianya?” Tanya Kyuhyun, ia mengalihkan pandangan pada Hyo Rim.
“Delapan minggu. Baiklah, ini hasil pemeriksaan pertama Hyo Rim.” Hyuk Jae mengeluarkan amplop putih dari dalam tas kerjanya dan mengulurkannya pada Kyuhyun.
Kyuhyun menatap kosong amplop di tangannya, ia membukanya perlahan. Sungguh ia sangat bahagia sekarang, tapi sebuah pertanyaan besar bercokol di kepalanya membuat Kyuhyun tak mampu mengungkapkan kebahagiaan yang ia rasakan dengan seharusnya.
“Aku sebaiknya pergi. Jangan sungkan untuk menghubungiku jika kau memiliki pertanyaan.” Pamit Hyukjae segera mengamankan diri dari perang dunia ketiga.
Sepeninggal Hyukjae, Kyuhyun duduk menjeplak di samping tempat tidur. Tangannya mengelus halus punggung tangan Hyo Rim. Ribuan pertanyaan hilir mudik di kepalanya. Hyo Rim menyembunyikan kehamilannya, itu pasti. Sangat tak mungkin Hyo Rim lupa mengatakan hal sepenting itu. Jelas sejak awal hubungan mereka membaik, Kyuhyun selalu mengatakan ingin segera memiliki keturunan, bahkan hampir setiap waktu mereka berbincang topic itu tak pernah dilewatkan. Ataukah karena waktu kebersamaan mereka yang kini berkurang banyak membuat Hyo Rim enggan menyampaikan berita bahagia itu?
Dua bulan terakhir Kyuhyun menyadari, ia tak lagi dapat menemani Hyo Rim seperti dulu. Hampir setiap pekan Kyuhyun memiliki jadwal ke luar kota atau luar negeri, selama berada di rumah pun Kyuhyun tak pernah lepas dari gadget-gadget yang menghubungkannya dengan urusan pekerjaan. Tapi selama ini Hyo Rim tak sekali pun mengeluh tentang kesibukannya, yang Kyuhyun tahu  kini Hyo Rim bahkan sibuk mengembangkan Honeybear dan itu tak membuat Kyuhyun khawatir Hyo Rim kesepian.
Terkadang justru Kyuhyun yang merasa kesepian. Jika di awal pernikahan meski hubungan mereka belum terbuka, Hyo Rim selalu menunggu Kyuhyun selarut apapun Kyuhyun pulang ke rumah. Sepetang apapun Kyuhyun terbangun karena kelaparan, Hyo Rim tak pernah merasa lelah untuk menyiapkan makanan. Tetapi akhir-akhir ini, Kyuhyun menemukan lampu kamar telah padam ketika ia pulang. Kyuhyun juga lebih sering membangunkan Lee Ahjumma untuk menyiapkan makan malam, Kyuhyun tak tega melihat wajah kelelahan Hyo Rim. Bahkan kebiasaan mereka bercengkrama di balkon kamar nyaris menghilang, karena di sana hanya Kyuhyun yang bicara, persis drama monolog.
Mungkinkah Hyo Rim kesal karena tak mendapatkan perhatian yang layak? Mustahil. Kyuhyun mengenal Hyo Rim bukanlah jenis perempuan manja yang senang merajuk hanya karena kurang perhatian. Tapi bukankah hormone ibu hamil itu labil, mungkin saja hormone kehamilan yang mempengaruhi sikap Hyo Rim sekarang. Benar. Itu kemungkinannya, Kyuhyun mengangguk menyetujui pemikirannya sendiri. Ia menatap perut Hyo Rim tempat bayinya tengah berkembang.
“Hai, ini ayah.” Lirih Kyuhyun menyapa bayinya, “Aegi-ya, sehat dan jangan menyulitkan ibu disana, OK?”
Pergerakan halus jemari Hyo Rim membuat Kyuhyun bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Hyo Rim telah sadar, ia mengernyit menyesuaikan dengan cahaya kamar. Kyuhyun membantu Hyo Rim bangun dan membetulkan bantal di belakang Hyo Rim, agar istrinya dapat duduk dengan nyaman.
“Apa ada yang sakit?”
Hyo Rim tak segera menjawab, ia melirik tangan Kyuhyun yang masih bertengger perutnya. Kyuhyun sudah tahu.
“Kalau ingin marah, marah saja.” Tanpa dapat dikendalikan kata-kata dingin itu yang keluar dari mulut Hyo Rim.
“Marah untuk apa?”
Hyo Rim menggigit pipi bagian dalamnya dan memalingkan wajah melihat pemandangan di luar jendela. Musim telah berganti, dedaunan kini berubah warna menjadi kuning dan coklat. Udara panas pun digantikan angin dingin yang menusuk. Seandainya suasana hatinya juga dapat ikut mendingin, tak lagi meletup-letup setiap kali melihat wajah suaminya. Pria yang ia cintai sejak remaja, yang seharusnya menjadi musuh terbesar di hidupnya.
“Kau ingin aku marah karena tak segera memberi tahu tentang kehamilanmu?” Tebak Kyuhyun, ia menangkup wajah Hyo Rim memaksa Hyo Rim memerhatikannya. “Dengar, dibalik kau mengatakannya atau tidak. Aku tak peduli. Bukan itu yang penting bagiku, aku hanya bahagia. Kau tahu, akhirnya keinginan kita terkabul.”
Kyuhyun berusaha memberikan senyum terbaiknya, namun gagal ia malah nampak meringis di mata Hyo Rim. Perlahan Hyo Rim melepaskan diri dari Kyuhyun, dan beranjak turun. Namun belum juga kedua kakinya menapak di lantai, Hyo Rim kembali terhuyung ke belakang dan jatuh di samping Kyuhyun.
“Tekanan darahmu rendah, jangan terlalu banyak bergerak. Aku akan meminta Lee ahjumma membuatkan sesuatu yang dapat menaikan darahmu. Tunggu sebentar.”
Tanpa menunggu tanggapan Hyo Rim, Kyuhyun berlari keluar dan memanggil Lee Ahjumma. Debaman pintu kamar membuat Hyo Rim memejamkan mata, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar juga. Jauh di dalam hatinya, Hyo Rim merasa bersalah sekarang. Melihat wajah tersiksa suaminya secara otomatis menyakiti hatinya juga. Tapi bukan keinginan Hyo Rim untuk menyakiti Kyuhyun dengan sikapnya sendiri. Semua terjadi secara natural.
Setiap malam, ketika Kyuhyun mengira Hyo Rim telah terlelap. Hyo Rim akan mengunci diri di kamar mandi, menyalakan keran air dan meluapkan perasaannya melalui tangisan. Pergi meninggalkan Kyuhyun, keinginan itu berkali-kali terlintas dalam benaknya. Tapi tidak, Hyo Rim tak mampu. Demi bayi dalam rahimnya, Hyo Rim tak mungkin lari begitu saja. Tumbuh dan besar tanpa orang tua, Hyo Rim tahu persis bagaimana rasanya dan ia tak ingin anaknya mengalami hal yang sama.
“Ayah, Ibu apa yang harus kulakukan?”Bisik Hyo Rim lirih.
OooO
Empat puluh lima menit kemudian, Hyo Rim telah menghabiskan dua mangkuk sup kacang merah buatan Lee Ahjumma. Selama itu, Kyuhyun yang menyuapi Hyo Rim. Tanpa kata. Masing-masing sibuk dengan pikirannya dan bagi Hyo Rim inilah yang terbaik. Kyuhyun yang tak mengajaknya bicara membuat Hyo Rim mudah mengendalikan lidahnya agar tak mengeluarkan kata-kata tajam lagi.
Kyuhyun membereskan peralatan makan dan menyerahkannya pada Lee Ahjumma. Ia kembali dengan sepiring kecil buah potong. Hyo Rim menggeleng, halus menolak buah-buahan itu, perutnya sudah terlalu penuh. Kyuhyun menghela nafas panjang dan kembali keluar kamar. Ketika itulah, ponsel Hyo Rim berdering. Sebuah pesan masuk.
“apa kabarmu?”
Alis Hyo Rim terangkat, nomor tak dikenal. Hyo Rim mengabaikannya, mengingat kemungkinan ini adalah terror lain dari fans gila Choi Siwon. Dua hari terakhir Hyo Rim selalu mendapatkan  pesan yang sama dari nomor tak dikenal. Tentu, Hyo Rim tak pernah mengatakannya pada Kyuhyun. Cepat-cepat Hyo Rim menekan tombol hapus ketika pintu kamar berderit terbuka.
OooO
Musim gugur benar-benar menyelimuti Seoul sekarang. Jalanan sudah didominasi warna coklat, angin dingin pun tak malu-malu lagi berhembus. Kyuhyun menaikan suhu pemanas ruangan, memastikan Hyo Rim tak kedinginan. Lewat dua hari sejak Kyuhyun mengetahui Hyo Rim hamil, dan belum ada perubahan sikap dari Hyo Rim. Mereka masih saling mendiamkan tanpa alasan yang jelas bagi Kyuhyun. Penasaran? Tentu saja. Tapi entah kenapa Kyuhyun merasa enggan dan takut untuk mencari tahu. Ia lebih suka membiarkan keadaan seperti apa adanya. Mensugesti pikirannya sendiri, bahwa sikap dingin Hyo Rim hanya pengaruh dari hormone kehamilannya. Hatinya mengatakan ini yang terbaik.
Hari ini hari minggu, biasanya Kyuhyun akan menemani Hyo Rim di Honeybear jika ia ada di rumah, tapi tidak dengan sekarang. Diamnya Hyo Rim membuat Kyuhyun merasa ia perlu memberi sedikit jarak bagi mereka. Kyuhyun berjalan menuju meja rias Hyo Rim dan menarik laci teratas meraih foto usg bayi mereka. Lama ia memerhatikan foto hitam putih itu hingga tanpa sadar matahari beranjak turun ke peraduan. Hampir pukul enam, tapi Hyo Rim belum juga pulang dari Honeybear.
Kyuhyun merogoh ponsel dari saku celananya dan menekan tombol satu hingga nomor Hyo Rim muncul di layar ponsel. Kyuhyun menempelkan ponsel ke telinga kiri sambil berjalan menuju balkon kamar. Matanya memicing ketika melihat Hyo Rim turun dari sebuah mobil biru metalik, tak lama Choi Siwon ikut turun dan berlari kecil membimbing Hyo Rim berjalan hingga pintu gerbang. Segera Kyuhyun memutuskan sambungan dan bergegas turun, menyambut istrinya pulang.
OooO
Angin sore berhembus begitu Hyo Rim keluar dari dalam mobil, Hyo Rim mencengkram perut bagian bawahnya ketika kram itu datang lagi. Di belakangnya, Hyo Rim mendengar pintu ditutup dan langkah menderap. Siwon meraih lengan Hyo Rim dan membimbingnya berjalan menuju pintu gerbang.
“Siwon-ah, terima kasih. Tapi lebih baik kau pulang.” Kata Hyo Rim ia menepis halus pegangan Siwon.
Siwon diam menatap Hyo Rim, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
“Kau takut suami mu melihat kita bersama? Kalau begitu, aku akan bicara padanya dan meluruskan semua kesalahpahaman.”
“Bukan seperti itu, hubungan kami sedikit tidak baik sekarang. Dan aku tak ingin kau ikut terseret dalam masalah kami.”
Lebih tepatnya, Hyo Rim tak ingin menambah rumit permasalahan rumah tangganya yang sudah seperti benang kusut.
“Dengar, Hyo—“
“Siwon-ah, kau sangat baik tapi maafkan aku dan –terima kasih untuk semuanya.” Hyo Rim membungkuk dalam dan berjalan meninggalkan Siwon menaiki undakan.
Hyo Rim menutup pintu gerbang tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Ia tahu tindakannya sama sekali tak sopan, terlebih setelah apa yang Siwon lakukan beberapa saat yang lalu. Ketika kram perutnya datang dan membuat Hyo Rim jatuh terduduk di trotoar Siwon-lah yang datang membantunya dan mengantarkan Hyo Rim pulang. Mengingat semua yang telah Siwon lakukan untuknya, membuat Hyo Rim merasa kejam.
“Sudah puas bersenang-senang?” Tanya Kyuhyun datar.
Kyuhyun sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya dingin menusuk, sewajarnya Hyo Rim gentar tapi tidak untuk kali ini. Sebaliknya, Hyo Rim membalas menatap tak kalah tajam Kyuhyun.
“Apapun yang ada dalam pikiranmu, itu salah.” Desis Hyo Rim tak peduli, ia berlalu begitu saja melewati Kyuhyun menuju tangga.
“Aku sudah cukup bersabar selama ini.” Kyuhyun mencekal lengan Hyo Rim, membuat Hyo Rim meringis karena rasanya jemari Kyuhyun menusuk hingga ke daging.
“Aku menutup mata atas semua sikapmu, mengabaikan semua prasangka yang muncul karena itu. Tapi sepertinya itu belum cukup bagimu. Apalagi yang kau inginkan, hah?” Bentak Kyuhyun, nada suaranya tinggi membelah udara, membuat semua yang ada di rumah itu terdiam di tempat.
Hyo Rim memalingkan wajah menyembunyikan matanya yang memerah. Sekuat tenaga Hyo Rim mengunci rapat mulutnya agar tak mengeluarkan kata-kata kasar yang akan memperkeruh suasana. Kyuhyun melihat siapa yang mengantarkan Hyo Rim pulang. Seharusnya memang Hyo Rim menjelaskan apa yang membuatnya bisa satu mobil dengan Choi Siwon tapi tidak, ego Hyo Rim tak mengijinkannya. Hyo Rim hanya ingin diam sekarang.
“Aku berusaha untuk tak meragukanmu Hyo. Tapi kau menghancurkan semua usahaku.” Kyuhyun melepaskan kasar lengan Hyo Rim, sebelum pergi ia berbisik lirih, “Bahkan aku sekarang ragu, apa ia anakku?”
Hyo Rim mengerjap dan terkesiap begitu Kyuhyun berjalan menjauh, ia berbalik dan memandang marah punggung Kyuhyun.
“Tangshin-Kau!” Seru Hyo Rim, sontak Kyuhyun memutar tubuh dan menatap tak percaya Hyo Rim Tangshin? Kata itu hanya digunakan untuk orang asing, dan kini Hyo Rim memanggilnya dengan kata itu.
“Berkacalah pada diri sendiri sebelum mengatakan apa yang ada di kepalamu.”
Kening Kyuhyun berkerut semakin dalam, “Apa kau sedang mengungkit masa laluku?”
Hyo Rim tertawa kecil, ironi ketika hatinya justru ingin menangis sekarang, “Sebaiknya tanyakan hal itu pada dirimu sendiri. Sebelum mengatakan hal buruk tentang orang lain, lebih baik tanyakan apa kau memang satu-satunya orang yang suci? Apa kau berhak untuk mengeluarkan omong kosong seperti itu?”
Kyuhyun gelap mata, ia berjalan cepat menghampiri Hyo Rim tangan kanannya terangkat bebas di udara selama sepersekian detik semua yang melihat pertengkaran itu mengira Kyuhyun akan menghadiahi Hyo Rim sebuah tamparan. Tapi di saat terakhir tangan Kyuhyun berhenti begitu melihat mata Hyo Rim yang memejam. Istrinya tanpa sadar menahan nafas, Kyuhyun membeku. Kesadaran menghampirinya. Hampir saja Kyuhyun membuat kesalahan fatal, ia kalap mendengar kata-kata kasar Hyo Rim tapi tetap hal itu tak memberi hak baginya menggunakan  cara kekerasan. Secepat kilat Kyuhyun menjauh mundur dari Hyo Rim, ia berjalan cepat keluar rumah tak berniat sedikit pun melihat keadan Hyo Rim.
OooO

Keesokan harinya, Hyo Rim sarapan pagi sendirian. Kyuhyun tak kembali ke rumah sejak kemarin sore. Tak ada pesan apalagi panggilan. Hyo Rim pun enggan mencari keberadaannya, ia hanya takut mereka akan kembali bertengkar seperti kemarin.
“Tuan Muda sedang berada di Busan, Beliau meminta saya mengingatkan Nyonya untuk melakukan check up nanti siang.” Kata Lee Ahjumma ketika Hyo Rim selesai dengan sarapannya.
Baiklah, setidaknya Hyo Rim kini tahu suaminya baik-baik saja. Hyo Rim mendorong kursinya ke belakang dan bangkit, tapi getaran dari ponselnya membuat Hyo Rim berhenti. Pesan dari nomor asing yang sama, namun kali ini isi pesan itu lain.
“Apa kau bahagia sekarang Jung Hyo Rim?Ah, tidak sekarang kau pasti sedang bersedih suamimu tak mempercayaimu lagi.”
Jantung Hyo Rim berdegup kencang. Jelas bukan fans Choi Siwon yang mengirim pesan-pesan terror ini. Mata Hyo Rim liar menyisir seisi rumah, hanya orang dalam lah yang mengetahui pertengkaran mereka kemarin dan kemungkinan lain, rumahnya telah disadap. Hyo Rim berlari cepat menuju kamar, ia menyembunyikan diri. Ponselnya kembali bergetar, satu pesan masuk.
“Kau ketakutan sekarang.”
Hyo Rim membanting ponsel ke atas tempat tidur. Ia berjalan menyusuri sudut kamar, mencari-cari kamera tersembunyi yang mungkin dipasang tanpa seijinnya. Nihil, Hyo Rim tak menemukan satu pun. Deringan ponsel membuat Hyo Rim terkesiap, dengan kaki gemetar Hyo Rim meraih ponselnya Sebuah pesan masuk lainnya beserta dua buah foto.
“Bagaimana dengan ini?”
Di bawah pesan itu, terpampang dua buah foto yang menampilkan tiga orang duduk terikat di sebuah ruangan temaram dan kotor. Ruangan itu tak lebih besar dari kamar Hyo Rim  di rumahnya yang lama, tumpukan kardus dan koran bekas berceceran di lantai. Ketiga orang itu, yang menjadi fokus dalam gambar duduk dengan kepala tertunduk karena tak sadarkan diri. Walau wajah mereka tak nampak jelas, perut Hyo Rim mencelos meyakini siapa saja orang-orang itu.
Ponsel di tangan Hyo Rim berdering kencang, panggilan dari nomor tak dikenal .Deringan itu teramat nyaring seakan menyanyikan lonceng kematian di telinga Hyo Rim.
“Selamat Pagi, Nyonya Cho!” Sapa suara serak dari seberang saluran.
Hyo Rim menahan nafasnya agar tak kentara terdengar, dari seberang sana Hyo Rim mendengar latar belakang bunyi berkeresakan dan rintihan orang kesakitan. Dan sialnya, Hyo Rim mengenali pemilik suara itu.
“Kau kenal suara ini?”
“Bicaralah, Nenek Tua!” Teriak suara itu, Hyo Rim tahu teriakan itu bukan untuknya.
“Hyo-ya!”
Hyo Rim jatuh lemas, ia menyandarkan kepalanya di ujung tempat tidur. “Jangan sakiti mereka, apa maumu?”
“Anak pintar, kau membuat ini mudah.”
OooO
Matahari beranjak naik ketika Hyo Rim menyusuri jalan setapak menuju alamat yang dikirimkan si penculik. Keringat dingin tak henti mengaliri pelipis Hyo Rim, tangannya terkepal di kedua sisi tubuh mencoba menyembunyikan ketegangan yang ada.
“Jangan mencoba menghubungi polisi atau meminta bantuan siapapun, demi apapun kau tak akan suka apa yang bisa kulakukan jika kau sampai melanggar perintahku. Datanglah sendirian, kita selesaikan masalah ini maka kujamin kau dapat kembali bersama Nenek, Paman juga Bibimu.”
Sebuah rumah bercat kuning pucat dengan pagar dari kayu yang sudah lapuk menyambut Hyo Rim beberapa saat kemudian. Hyo Rim membuka ponsel dan memastikan ia tak salah alamat. Beruntung, ini kali pertama Hyo Rim datang ke Busan sendirian dan ia dapat dengan mudah menemukan alamat yang sebelumnya tak pernah ia ketahui. Semoga pertanda baik, sugesti Hyo Rim.
Setelah melalui pagar kayu, Hyo Rim menemukan pintu rumah yang terbuka dan menampilkan sebuah ruang tamu dengan aksen oriental. Keningnya berkerut, inikah rumah tempat keluarganya disekap. Karena rumah ini terlihat sangat jauh berbeda dengan apa  yang nampak dalam foto. Hyo Rim mengangkat ponsel ketika benda itu bergetar.
“Masuklah, kau berada di tempat yang tepat.”
Sambungan terputus. Hyo Rim segera memasuki rumah itu, semakin cepat ia datang semakin cepat keluarganya terbebas. Di samping pintu masuk, terdapat sebuah tangga yang mengarah langsung ke lantai dua, tak ada yang dapat Hyo Rim lihat karena di puncak tangga sangat gelap tanpa penerangan. Hanya bunyi-bunyi barang berat digeser yang terdengar, mungkin di sana tempat Nenek, Jung So juga Sa Eun berada. Hyo Rim hampir menaiki anak tangga pertama jika sebuah siluet yang tiba-tiba keluar dari ruangan di samping ruang tamu tak mengalihkan perhatian Hyo Rim.
Taruh saja orang itu di antara barisan ribuan demonstran, maka kurang dari sepuluh detik Hyo Rim dapat dengan mudah menemukan orang itu. Apalagi sekarang,  meski orang itu memunggunginya dengan hanya jarak kurang dari lima meter dimana Hyo Rim bahkan masih dapat menghirup aroma aftershave-nya, Hyo Rim tak mungkin keliru mengenalinya.
Ribuan jarum seperti menusuk-nusuk telapak kakinya ketika Hyo Rim berjalan mendekat. Tangannya terangkat perlahan dan menyentuh pelan bahu orang di depannya, membuat orang itu berbalik dan  menghadap Hyo Rim.
“Kyu…”
TBC
Haii….update nya cepet alnya kenapa coba?? Hhe soalnya ini 2 part terakhir.Well, aku ga bosen-bosen ngucapin makasih banyak atas atensi kalian terutama buat yang komen n like.
Oia jujur-jujuran ya, rada bingung waktu mulai bikin ending ini. Antara sedih soalnya mau pisah sama series ini tapi ga sabar juga pengen cpet kelar. TT__TT #galaukumat
Tapi selayaknya hidup, semua harus terus berjalan (apasee) aku juga harus bisa beresin Breakable Heart biar bisa lunasin utang ff yang lain #Yeaay!! ^^
So, see u  ^^ chu~
#bigkissandhug
Ps: mian buat tampilannya yg acak”an ini publish dr hp jd blm smpet d rapi’in ^^

6 responses to “Breakable Heart (Chap 15)

  1. Kok Kyuhyun ada di sana? masa’ sih?
    Beneran deh Jongwon jahat bgt di sini. Gak mau nglepasin dendamnya sama sekali.
    Lanjut, kak….
    Keep writing…. 😀

  2. What ? Ngapain si ndut ada dsono? Dia ikut di sandera juga yeh? Awehhhh rumit weh rumit bnget nyih persoalan keluarga ckckckck
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s